Anda di halaman 1dari 21

ASKEP Apenidicytis

A. Definisi
Peradangan pada appendiks vermiformis (umbai cacing)
B. Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, faktor yang berpengaruh adalah obtruksi dan
infeksi :
1. Obstruksi : hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalith (35%), Corpus alienum
(4%), striktur lumen (1%).
2. Ifeksi : E.coli an streptococcus.
C. Patogenesis
Ada 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya appendicitis yaitu :
1. Adanya isi lumen.
2. Derajat sumbatan yang terus-mene.rus
3. Sekresi mukus yang terus-menerus.
4. Sifat inelastis (tak lentur) dari mukosa apendiks.
D. Patofisiologi

Appendicitis akut fokal :
Nyeri viseral ulu hati karena
regangan mukosa
Tekanan intra lumen
gangguan vena
trombus
iskemia + kuman


Sumbatan :
sekresi mukus
tekanan intra lumen
gangguan drainase limphe
oedema + kuman
ulserasi mukosa
pus


Appendicitis supuratif :
Nyeri pada ttk Mc Burney
Peritonitis lokal
Tekanan intra lumen
ganguan arteri
nekrosis + kuman
gangren

Appendicitis Gangrenosa
Perforasi

Peritonitis umum
Appendicitis akut setelah 24 jam dapat menjadi :
1. Sembuh.
2. Kronik.
3. Perforasi.



4. Infiltrat abces
E. Pemeriksaan diagnosis
1. Anamnesa
a. Nyeri (mula-mula di daerah epigastrium, kemudian menjalar ke Mc Burney).
b. Muntah (rangsang viseral).
c. Panas (infeksi akut)
2. Pemeriksaan fisik
a. Status generalis
Tampak kesakitan
Demam
Perbedaan suhu rektal >1/2 Celcius
Fleksi ringan art. Coxae dextra
b. Status lokalis
Mc.burney :
Nyeri tekan (+)
Nyeri lepas (+) rangsang peritoneum
Nyeri ketok (+)
Defens muskuler (+) m.rektus abdominis
Rovsing Sign (+) pada penekanan perut bagian kontra Mc.Burney (kiri)
terasa nyeri di Mc.Burney karena tekanan tersebut merangsang peristaltik
usus dan juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan menggerakan
peritoneum sekitar appendix yang sedang meradang sehingga terasa
nyeri.
Psoas sign (+) m.Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik Mc. Burney
9pada appendix retrocaecal) karena merangsang peritoneum sekitar app
yang juga meradang.
Obturator sign (+) fleksi dan endorotasi articulatio costa pada posisi
supine, bila nyeri berarti kontak dengan m. obturator internus, artinya
appendix di pelvis.
Peritonitis umum (perforasi) :
Nyeri di seluruh abdomen
Pekak hati hilang
Bising usus hilang
Rectal touche : nyeri tekn pada jam 9 12
Alvarado score :
Digunakan untuk menegakan diagnosis sebagai appendicitis akut atau
bukan, meliputi 3 symtom, 3 sign dan 2 laboratorium :
Appendicitis pain 2 point
Lekositosis (>10 ribu) 2
Vomitus 1
Anoreksia 1
Erbound Tendeness Fenomen 1
Degre of celcius (>37,5 C) 1
Obsevation of hemogram
(segmen > 72%) 1
Abdominal migrate pain 1 +

Total point 10
Dinyatakan sebagai appendicitis akut bila score > 7 point
3. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :
Hb normal
Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis)
Hitung jenis : segmen lebih banyak
LED meningkat (pada appendicitis infiltrat)
Rongent :appendicogram
Hasil positif berupa :
Non-filling
Partial filling
Mouse tail
Cut off
Rongent abdomen tidak menolong kecuali telah terjadi peritonitis.
F. Diagnosa banding
1. Kehamilan ektopik terganggu
2. Salphingitis akut (adneksitis)
3. Divertikel Mackeli
4. Batu ureter
5. Enteritis regional, gastroenteritis
6. Batu empedu
7. Pankretaitis
8. Cystitis
9. infeksi panggul
10. Torsi kista ovarii
11. Endometriosis
G. Penatalaksanaan
1. Appendictomi cito (app.akut, abses dan perforasi).
2. Appendictomi elektif (app. kronik).
3. Konservatif kemudian operasi elektif (app.infiltrat).
H. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen injuri fisik, diskontinuitas jaringan
2. Risiko infeksi b.d prosedur invasif
3. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
4. Risiko ketidakseimbangan volume cairan
A. Definisi
Peradangan pada appendiks vermiformis (umbai cacing)
B. Etiologi
Penyebab pasti belum diketahui, faktor yang berpengaruh adalah obtruksi dan
infeksi :
1. Obstruksi : hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalith (35%), Corpus alienum
(4%), striktur lumen (1%).
2. Ifeksi : E.coli an streptococcus.
C. Patogenesis
Ada 4 faktor yang mempengaruhi terjadinya appendicitis yaitu :
1. Adanya isi lumen.
2. Derajat sumbatan yang terus-mene.rus
3. Sekresi mukus yang terus-menerus.
4. Sifat inelastis (tak lentur) dari mukosa apendiks.
D. Patofisiologi

Appendicitis akut fokal :
Nyeri viseral ulu hati karena
regangan mukosa
Tekanan intra lumen
gangguan vena
trombus
iskemia + kuman
pus


Appendicitis supuratif :
Nyeri pada ttk Mc Burney
Peritonitis lokal
Tekanan intra lumen


Sumbatan :
sekresi mukus
tekanan intra lumen
gangguan drainase limphe
oedema + kuman
ulserasi mukosa
ganguan arteri
nekrosis + kuman
gangren

Appendicitis Gangrenosa
Perforasi

Peritonitis umum
Appendicitis akut setelah 24 jam dapat menjadi :
1. Sembuh.
2. Kronik.
3. Perforasi.
4. Infiltrat abces
E. Pemeriksaan diagnosis
1. Anamnesa
a. Nyeri (mula-mula di daerah epigastrium, kemudian menjalar ke Mc Burney).
b. Muntah (rangsang viseral).
c. Panas (infeksi akut)
2. Pemeriksaan fisik
a. Status generalis
Tampak kesakitan
Demam



Perbedaan suhu rektal >1/2 Celcius
Fleksi ringan art. Coxae dextra
b. Status lokalis
Mc.burney :
Nyeri tekan (+)
Nyeri lepas (+) rangsang peritoneum
Nyeri ketok (+)
Defens muskuler (+) m.rektus abdominis
Rovsing Sign (+) pada penekanan perut bagian kontra Mc.Burney (kiri)
terasa nyeri di Mc.Burney karena tekanan tersebut merangsang peristaltik
usus dan juga udara dalam usus, sehingga bergerak dan menggerakan
peritoneum sekitar appendix yang sedang meradang sehingga terasa
nyeri.
Psoas sign (+) m.Psoas ditekan maka akan terasa sakit di titik Mc. Burney
9pada appendix retrocaecal) karena merangsang peritoneum sekitar app
yang juga meradang.
Obturator sign (+) fleksi dan endorotasi articulatio costa pada posisi
supine, bila nyeri berarti kontak dengan m. obturator internus, artinya
appendix di pelvis.
Peritonitis umum (perforasi) :
Nyeri di seluruh abdomen
Pekak hati hilang
Bising usus hilang
Rectal touche : nyeri tekn pada jam 9 12
Alvarado score :
Digunakan untuk menegakan diagnosis sebagai appendicitis akut atau
bukan, meliputi 3 symtom, 3 sign dan 2 laboratorium :
Appendicitis pain 2 point
Lekositosis (>10 ribu) 2
Vomitus 1
Anoreksia 1
Erbound Tendeness Fenomen 1
Degre of celcius (>37,5 C) 1
Obsevation of hemogram
(segmen > 72%) 1
Abdominal migrate pain 1 +

Total point 10
Dinyatakan sebagai appendicitis akut bila score > 7 point
3. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium :
Hb normal
Leukosit normal atau meningkat (bila lanjut umumnya leukositosis)
Hitung jenis : segmen lebih banyak
LED meningkat (pada appendicitis infiltrat)
Rongent :appendicogram
Hasil positif berupa :
Non-filling
Partial filling
Mouse tail
Cut off
Rongent abdomen tidak menolong kecuali telah terjadi peritonitis.
F. Diagnosa banding
1. Kehamilan ektopik terganggu
2. Salphingitis akut (adneksitis)
3. Divertikel Mackeli
4. Batu ureter
5. Enteritis regional, gastroenteritis
6. Batu empedu
7. Pankretaitis
8. Cystitis
9. infeksi panggul
10. Torsi kista ovarii
11. Endometriosis
G. Penatalaksanaan
1. Appendictomi cito (app.akut, abses dan perforasi).
2. Appendictomi elektif (app. kronik).
3. Konservatif kemudian operasi elektif (app.infiltrat).
H. Diagnosa keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen injuri fisik, diskontinuitas jaringan
2. Risiko infeksi b.d prosedur invasif
3. Kurang pengetahuan b.d kurang informasi
4. Risiko ketidakseimbangan volume cairan























ASKEP APENDISITIS
Pengertian
Apendisitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan
rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001).

Apendisitis adalah kondisi di mana infeksi terjadi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat
sembuh tanpa perawatan, tetapi banyak kasus memerlukan laparotomi dengan penyingkiran
umbai cacing yang terinfeksi. Bila tidak terawat, angka kematian cukup tinggi, dikarenakan oleh
peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks).
Infeksi ini bisa mengakibatkan pernanahan. Bila infeksi bertambah parah, usus buntu itu bisa
pecah. Usus buntu merupakan saluran usus yang ujungnya buntu dan menonjol dari bagian awal
usus besar atau sekum (cecum). Usus buntu besarnya sekitar kelingking tangan dan terletak di
perut kanan bawah. Strukturnya seperti bagian usus lainnya. Namun, lendirnya banyak
mengandung kelenjar yang senantiasa mengeluarkan lendir. (Anonim, Apendisitis, 2007)

Apendisitis merupakan peradangan pada usus buntu/apendiks ( Anonim, Apendisitis, 2007)
Klasifikasi
Klasifikasi apendisitis terbagi atas 2 yakni :
Apendisitis akut, dibagi atas: Apendisitis akut fokalis atau segmentalis, yaitu setelah sembuh
akan timbul striktur lokal. Appendisitis purulenta difusi, yaitu sudah bertumpuk nanah.

Apendisitis kronis, dibagi atas: Apendisitis kronis fokalis atau parsial, setelah sembuh akan
timbul striktur lokal. Apendisitis kronis obliteritiva yaitu appendiks miring, biasanya ditemukan
pada usia tua.
Anatomi dan Fisiologi Appendiks merupakan organ yang kecil dan vestigial (organ yang tidak
berfungsi) yang melekat sepertiga jari.
Letak apendiks.
Appendiks terletak di ujung sakrum kira-kira 2 cm di bawah anterior ileo saekum, bermuara di
bagian posterior dan medial dari saekum. Pada pertemuan ketiga taenia yaitu: taenia anterior,
medial dan posterior. Secara klinik appendiks terletak pada daerah Mc. Burney yaitu daerah 1/3
tengah garis yang menghubungkan sias kanan dengan pusat.
Ukuran dan isi apendiks.
Panjang apendiks rata-rata 6 9 cm. Lebar 0,3 0,7 cm. Isi 0,1 cc, cairan bersifat basa
mengandung amilase dan musin.
Posisi apendiks.
Laterosekal: di lateral kolon asendens. Di daerah inguinal: membelok ke arah di dinding
abdomen. Pelvis minor.
Etiologi
Terjadinya apendisitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Namun terdapat banyak
sekali faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Diantaranya obstruksi yang terjadi pada lumen
apendiks. Obstruksi pada lumen apendiks ini biasanya disebabkan karena adanya timbunan tinja
yang keras ( fekalit), hipeplasia jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam
tubuh, cancer primer dan striktur. Namun yang paling sering menyebabkan obstruksi lumen
apendiks adalah fekalit dan hiperplasia jaringan limfoid. (Irga, 2007)
Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat atau tersumbat kemungkinan
oleh fekolit (massa keras dari faeces) atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan tekanan
intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam
beberapa jam terlokalisasi dalam kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya apendiks yang
terinflamasi berisi pus.
Manifestasi Klinik
Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas, yang terdiri dari : Mual, muntah dan nyeri
yang hebat di perut kanan bagian bawah. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah
atas atau di sekitar pusar, lalu timbul mual dan muntah. Setelah beberapa jam, rasa mual hilang
dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. Jika dokter menekan daerah ini, penderita
merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan, nyeri bisa bertambah tajam. Demam
bisa mencapai 37,8-38,8 Celsius.
Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua bagian perut. Pada orang tua
dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu
terasa. Bila usus buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang bertambah
buruk bisa menyebabkan syok. (Anonim, Apendisitis, 2007)
Pemeriksaan diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa pada apendisitis didasarkan atas anamnese ditambah dengan
pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang lainnya.
Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang penting adalah: Nyeri mula-mula
di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah.
Muntah oleh karena nyeri viseral. Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus).
Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan, di perut terasa nyeri.
Pemeriksaan yang lain Lokalisasi.
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri akan terjadi pada seluruh perut, tetapi paling terasa nyeri pada
daerah titik Mc. Burney. Jika sudah infiltrat, lokal infeksi juga terjadi jika orang dapat menahan
sakit, dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney.
Test rektal.
Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah
prolitotomi.
Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh
terhadap mikroorganisme yang menyerang.
Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Hb
(hemoglobin) nampak normal. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis
infiltrat. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal.
Pemeriksaan radiologi Pada foto tidak dapat menolong untuk menegakkan diagnosa apendisitis
akut, kecuali bila terjadi peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut:
Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit
(sumbatan). Pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.
Penatalaksanaan
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV
diberikan sampai pembedahan dilakukan. analgesik dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.
Apendektomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks) dilakukan sesegera mungkin untuk
menurunkan resiko perforasi.
Apendektomi dapat dilakukan dibawah anastesi umum atau spinal dengan insisi abdomen bawah
atau dengan laparoskopi, yang merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
Konsep Asuhan Keperawatan Sebelum operasi dilakukan klien perlu dipersiapkan secara fisik
maupun psikis, disamping itu juga klien perlu diberikan pengetahuan tentang peristiwa yang
akan dialami setelah dioperasi dan diberikan latihan-latihan fisik (pernafasan dalam, gerakan
kaki dan duduk) untuk digunakan dalam periode post operatif. Hal ini penting oleh karena
banyak klien merasa cemas atau khawatir bila akan dioperasi dan juga terhadap penerimaan
anastesi.
Untuk melengkapi hal tersebut, maka perawat di dalam melakukan asuhan keperawatan harus
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:
Pengkajian
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama, suku/bangsa, pendidikan,
pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
Identitas penanggung Riwayat kesehatan sekarang.
Keluhan utama Klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan
bawah. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri
di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu.
Sifat keluhan Nyeri dirasakan terus-menerus, dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang
lama. Keluhan yang menyertai Biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah, panas. Riwayat
kesehatan masa lalu Biasanya berhubungan dengan masalah kesehatan klien sekarang
Pemeriksaan fisik Keadaan umum Klien tampak sakit ringan/sedang/berat.
Berat badan Sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat.
Sirkulasi : Klien mungkin takikardia. Respirasi : Takipnoe, pernapasan dangkal.
Aktivitas/istirahat : Malaise. Eliminasi Konstipasi pada awitan awal, diare kadang-kadang.
Distensi abdomen, nyeri tekan/nyeri lepas, kekakuan, penurunan atau tidak ada bising usus.
Nyeri/kenyamanan Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus, yang meningkat berat dan
terlokalisasi pada titik Mc. Burney, meningkat karena berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam.
Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak.
Keamanan Demam, biasanya rendah.
Data psikologis Klien nampak gelisah.
Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. Ada perasaan takut. Penampilan yang tidak tenang.
Diagnosa keperawatan
Resiko berkurangnya volume cairan berhubungan dengan adanya mual dan muntah.
Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh.
Nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal.
Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi kurang.
Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan
Intervensi keperawatan .
Rencana tujuan dan intervensi disesuaikan dengan diagnosis dan prioritas masalah keperawatan.
1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan adanya rasa mual dan muntah,
ditandai dengan : Kadang-kadang diare. Distensi abdomen. Tegang. Nafsu makan
berkurang. Ada rasa mual dan muntah.
Tujuan : Mempertahankan keseimbangan volume cairan dengan
Kriteria Hasil :
Klien tidak diare.
Nafsu makan baik.
Klien tidak mual dan muntah.
Intervensi :
1) Monitor tanda-tanda vital.
Rasional : Merupakan indicator secara dini tentang hypovolemia.
2) Monitor intake dan out put dan konsentrasi urine.
Rasional : Menurunnya out put dan konsentrasi urine akan meningkatkan
kepekaan/endapan sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi dan membutuhkan
peningkatan cairan.
3) Beri cairan sedikit demi sedikit tapi sering.
Rasional : Untuk meminimalkan hilangnya cairan.
2. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh,
ditandai dengan : Suhu tubuh di atas normal. Frekuensi pernapasan meningkat. Distensi
abdomen. Nyeri tekan daerah titik Mc. Burney Leuco > 10.000/mm3.
Tujuan : Tidak akan terjadi infeksi
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi post operatif (tidak lagi panas,
kemerahan).
Intervensi :
1) Bersihkan lapangan operasi dari beberapa organisme yang mungkin ada melalui
prinsip-prinsip pencukuran.
Rasional : Pengukuran dengan arah yang berlawanan tumbuhnya rambut akan
mencapai ke dasar rambut, sehingga benar-benar bersih dapat terhindar dari
pertumbuhan mikro organisme.
2) Beri obat pencahar sehari sebelum operasi dan dengan melakukan klisma.
Rasional : Obat pencahar dapat merangsang peristaltic usus sehingga bab dapat
lancar. Sedangkan klisma dapat merangsang peristaltic yang lebih tinggi,
sehingga dapat mengakibatkan ruptura apendiks.
3) Anjurkan klien mandi dengan sempurna.
Rasional : Kulit yang bersih mempunyai arti yang besar terhadap timbulnya
mikro organisme.
4) HE tentang pentingnya kebersihan diri klien.
Rasional : Dengan pemahaman klien, klien dapat bekerja sama dalam pelaksaan
tindakan.
3. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi jaringan intestinal, ditandai
dengan : Pernapasan tachipnea. Sirkulasi tachicardia. Sakit di daerah epigastrum menjalar
ke daerah Mc. Burney Gelisah. Klien mengeluh rasa sakit pada perut bagian kanan
bawah.
Tujuan : Rasa nyeri akan teratasi
Kriteria Hasil : Pernapasan normal. Sirkulasi normal.
Intervensi :
1) Kaji tingkat nyeri, lokasi dan karasteristik nyeri.
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana tingkat nyeri dan merupakan indiaktor
secara dini untuk dapat memberikan tindakan selanjutnya.
2) Anjurkan pernapasan dalam.
Rasional : Pernapasan yang dalam dapat menghirup O2 secara adekuat sehingga
otot-otot menjadi relaksasi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
3) Lakukan gate control.
Rasional : Dengan gate control saraf yang berdiameter besar merangsang saraf
yang berdiameter kecil sehingga rangsangan nyeri tidak diteruskan ke
hypothalamus.
4) Beri analgetik.
Rasional : Sebagai profilaksis untuk dapat menghilangkan rasa nyeri (apabila
sudah mengetahui gejala pasti).
4. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan informasi
kurang. Gelisah. Wajah murung. Klien sering menanyakan tentang penyakitnya. Klien
mengeluh rasa sakit. Klien mengeluh sulit tidur
Tujuan : Klien akan memahami manfaat perawatan post operatif dan
pengobatannya.
Intervensi :
1) Jelaskan pada klien tentang latihan-latihan yang akan digunakan setelah operasi.
Rasional : Klien dapat memahami dan dapat merencanakan serta dapat
melaksanakan setelah operasi, sehingga dapat mengembalikan fungsi-fungsi
optimal alat-alat tubuh.
2) Menganjurkan aktivitas yang progresif dan sabar menghadapi periode istirahat
setelah operasi.
Rasional : Mencegah luka baring dan dapat mempercepat penyembuhan.
3) Disukusikan kebersihan insisi yang meliputi pergantian verband, pembatasan
mandi, dan penyembuhan latihan.
Rasional : Mengerti dan mau bekerja sama melalui teraupeutik dapat
mempercepat proses penyembuhan.
5. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake menurun. Nafsu makan
menurun Berat badan menurun Porsi makan tidak dihabiskan Ada rasa mual muntah
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
1) Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien
Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.
2) Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan sampai
minimal
Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada
masalah membuat suasana negatif dan mempengaruhi masukan.
3) Timbang berat badan sesuai indikasi
Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.
4) Beri makan sedikit tapi sering
Rasional : Tidak memberi rasa bosan dan pemasukan nutrisi dapat ditingkatkan.
5) Anjurkan kebersihan oral sebelum makan
Rasional : Mulut yang bersih meningkatkan nafsu makan
6) Tawarkan minum saat makan bila toleran.
Rasional : Dapat mengurangi mual dan menghilangkan gas.
7) Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yang menyebabkan distres.
Rasional : Melibatkan pasien dalam perencanaan, memampukan pasien memiliki
rasa kontrol dan mendorong untuk makan.
Memberi makanan yang bervariasi
Rasional : Makanan yang bervariasi dapat meningkatkan nafsu makan klien.
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan. Kuku nampak
kotor Kulit kepala kotor Klien nampak kotor
Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri
Intervensi :
1) Mandikan pasien setiap hari sampai klien mampu melaksanakan sendiri serta cuci
rambut dan potong kuku klien.
Rasional : Agar badan menjadi segar, melancarkan peredaran darah dan
meningkatkan kesehatan.
2) Ganti pakaian yang kotor dengan yang bersih.
Rasional : Untuk melindungi klien dari kuman dan meningkatkan rasa nyaman
3) Berikan HE pada klien dan keluarganya tentang pentingnya kebersihan diri.
Rasional : Agar klien dan keluarga dapat termotivasi untuk menjaga personal
hygiene.
4) Berikan pujian pada klien tentang kebersihannya.
Rasional : Agar klien merasa tersanjung dan lebih kooperatif dalam kebersihan
5) Bimbing keluarga / istri klien memandikan
Rasional : Agar keterampilan dapat diterapkan
6) Bersihkan dan atur posisi serta tempat tidur klien.
Rasional : Klien merasa nyaman dengan tenun yang bersih serta mencegah
terjadinya infeksi.
Implementasi
Pelaksanaan adalah pemberian asuhan keperawatan secara nyata berupa serangkaian kegiatan
sistimatis berdasarkan perencanaan untuk mencapai hasil yang optimal. Pada tahap ini perawat
menggunakan segala kemampuan yang dimiliki dalam melaksanakan tindakan keperawatan
terhadap klien baik secara umum maupun secara khusus pada klien post apendektomi. Pada
pelaksanaan ini perawat melakukan fungsinya secara independen, interdependen dan dependen.
Pada fungsi independen adalah mencakup dari semua kegiatan yang diprakarsai oleh perawat itu
sendiri sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya Pada fungsi interdependen
adalah dimana fungsi yang dilakukan dengan bekerja sama dengan profesi/disiplin ilmu yang
lain dalam keperawatan maupun pelayanan kesehatan, sedangkan fungsi dependen adalah fungsi
yang dilaksanakan oleh perawat berdasarkan atas pesan orang lain.
Evaluasi.
Untuk mengetahui pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien
perlu dilakukan evaluasi dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
1) Apakah klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dalam tubuh?.
2) Apakah klien dapat terhidar dari bahaya infeksi?.
3) Apakah rasa nyeri akan dapat teratasi?.
4) Apakah klien sudah mendapat informasi tentang perawatan dan pengobatannya.
DAFTAR PUSTAKA