Anda di halaman 1dari 21

Klorin

Mei4
Untuk mengelola air limbah secara baik diperlukan keterpaduan dari berbagai macam disiplin ilmu pengetahuan
yang baik yang bersifat teknis administratif maupun secara operasional (Santi, 2004). Air limbah yang tidak
ditangani secara benar akan mengakibatkan dampak negatif khususnya bagi kesehatan, sehingga perlu pengelolaan
yang baik agar bila dibuang ke suatu areal tertentu tidak menimbulkan pencemaran yang didukung dengan Instalasi
Pengolahan Air limbah (IPAL) (Rahmawati dan Azizah, 2004, dan Khusnuryani, 2008).
Pengolahan limbah dapat dibagi menjadi pengolahan primer, pengolahan sekunder, dan pengolahan tersier
(Woodard, 2001). Pengolahan primer (pengolahan secara fisika) biasanya dilakukan dengan koagulasi flokulasi atau
penyaringan, sedangkan pada pengolahan sekunder (pengolahan secara biologi), limbah diuraikan dengan bantuan
mikroorganisme. Limbah yang bersifat tidak dapat diuraikan secara biologi (non-biodegradable), diolah dengan
pengolahan tersier. Beberapa contoh limbah non-biodegradable adalah limbah pewarna tekstil, pestisida, herbisida,
organik klor, dan sebagainya (Tang, 2004 dalam Hudaya et al., 2011).
Menurut Zinkus et al., (1998) dalam Hudaya et al., (2011) menyatakan bahwa pengolahan limbah tersier dapat
dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya dengan metode incineration, air stripping, activated carbon
adsorption, dan ozone treatment. Metoda incineration merupakan metoda yang mahal dalam penggunaannya;
metoda ozone treatment hanya menguraikan secara parsial/tidak sempurna di samping penggunaan ozone yang
relatif mahal dan kurang efisien; sedangkan metoda activated carbon adsorptiondan air stripping hanya
memindahkan senyawa-senyawa pencemar ke media atau fasa lain. Metoda lain yaitu Advanced oxidation
process (AOP), memiliki kelebihan utama yaitu dapat mendegradasi/menguraikan secara tuntas senyawa-senyawa
berbahaya bersifat non-biodegradable dalam limbah melalui proses oksidasi (oxidative degradation).
Advanced oxidation process (AOP) merupakan sistem yang didasarkan pada sifat oksidatif yang sangat kuat dari
radikal hidroksil (OH*). Radikal ini dapat terbentuk dari kombinasi antara radiasi UV dan salah satu diantara
komponen berikut: ozon (O3), hidrogen peroksida (H2O2), dan titanium dioksida (TiO2). Selain itu, radikal ini juga
dapat dihasilkan dari kombinasi antara hidrogen peroksida dengan ion fero (Fe
2+
) yang biasa disebut sebagai Fenton
reagent (Legrini et al., 1993; Ray, 1998; dan Heredia et al., 2001 dalam Hudaya et al., 2011). Beberapa contoh
oksidator lain adalah klorin, klorin dioksida, dan permanganate (WEF, 2008).
Karakteristik Senyawa Klorin
Klorin (Cl2) merupakan salah satu unsur yang ada di bumi dan jarang dijumpai dalam bentuk bebas. Pada umumnya
klorin dijumpai dalam bentuk terikat dengan unsur atau senyawa lain membentuk garam natrium klorida (NaCl) atau
dalam bentuk ion klorida di air laut (Hasan, 2006). Klor atau turunannya di perairan berasal dari limbah industri
yang menggunakan klor misalnya sebagai desinfektan atau pelarut yang di buang ke perairan (Enjarlis et al., 2006).
Klorin pertama kali diidentifikasi oleh seorang ahli farmasi dari Swedia, Carl Wilhem Scheele, pada tahun 1774
dengan meneteskan sedikit larutan asam klorida (HCl) pada lempeng mangan oksida (MnO2) yang menghasilkan gas
berwarna kuning kehijauan. Reaksi dari percobaan tersebut adalah sebagai berikut (Keenan et al., 1993):
4HCl(ag)+MnO2(s) -> Cl2(g)+MnCl2(ag)+2H2O(l)
Pada saat itu, Scheele belum dapat memastikan kandungan gas tersebut. Pada tahun 1810 Sir Humprey Davy,
seorang ahli kimia Inggris menyatakan bahwa gas kuning kehijauan pada percobaan Scheele adalah sebuah unsur
dan menamakannya chlorine, yang berarti khloros dalam bahasa Yunani atau hijau. Menurut Scott (1994) dalam
Hasan (2006) menyatakan bahwa klorin dalam suhu kamar berbentuk gas halogen (Golongan VII), bersifat sangat
reaktif dan merupakan jenis oksidator kuat yang mudah bereaksi dengan berbagai unsur lain. Pada suhu -34
0
C,
klorin berbentuk cair dan pada suhu -103
0
C berbentuk padatan kristal kekuningan.
Secara alami, klorin terdapat dalam bentuk ion klorida dengan jumlah relatif jauh lebih besar dibandingkan ion-ion
halogen lainnya. Klorin dalam bentuk garam (misal NaCl) merupakan bentuk paling aman, sedangkan dalam bentuk
gas, klorin dapat diperoleh dengan mengekstraksi larutan garam NaCl dengan cara elektrolisis.
Klorin disamping mempunyai fungsi yang berarti dalam kehidupan manusia, juga berdampak negatif bagi
lingkungan. Untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan akibat pembuangan limbah, termasuk limbah klorin
maka suatu industri diwajibkan mengelola limbahnya terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan, dimana hal
ini sesuai dengan pasal 16 ayat (1) Undang-Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Selain itu untuk mencegah terjadinya pencemaran pada badan air, Pemerintah melalui Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor Kep-51/MenLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri
menetapkan parameter dan batasan konsentrasi yang diizinkan untuk dibuang, salah satunya yakni klorin dengan
batasan 1 mg/L dalam bentuk klorin bebas (Cl2) (Hasan, 2006).
Pemanfaatan Klorin
Dalam kehidupan manusia, klorin memegang peranan penting yaitu banyak benda-benda yang kita gunakan sehari-
hari mengandung klorin seperti peralatan rumah tangga, alat-alat kesehatan, kertas, obat dan produk farmasi,
pendingin, semprotan, pembersih, pelarut, dan berbagai produk lainnya (Hasan, 2006; Retnowati, 2008). Pada
industri tekstil dan kertas, senyawa klorin baik dalam bentuk klorin dioksida (ClO2) atau sodium hipoklorid
(NaOCl). Pemutihan dengan menggunakan klorin, proses oksidasinya selalu melibatkan atom Cl. Jika sebuah
oksidator melepaskan elektron, maka akan terjadi proses oksidasi dan struktur kimia dari molekul tersebut berubah
dan warnanya juga berubah (Retnowati, 2008). Penggunaan senyawa klorin sebagai pemutih memungkinkan
terjadinya produk samping atau limbah yang berbahaya bagi lingkungan (Jayanudin et al., 2010).
Penggunaan klorin dalam pengolahan air minum dimanfaatkan sebagai desinfektan. Klor atau klorin merupakan
bahan kimia bersifat oksidator yang berfungsi untuk menghilangkan pertumbuhan mikroorganisme. Bahan kimia ini
akan membunuh mikroorganisme dengan daya oksidasinya. Klorin merupakan bahan kimia yang murah dan
mempunyai daya desinfeksi sampai beberapa jam setelah penambahannya (Lestari et al., 2008).
Kandungan klor yang tinggi dalam air minum dapat menyebabkan racun bagi tubuh, namun apabila klor dalam
konsentrasi yang layak tidak berbahaya bagi manusia bahkan dibutuhkan sebagai desinfektan. Klor dalam air dengan
konsentrasi tinggi apabila berikatan dengan Na
+
akan menyebabkan rasa asin dan dapat merusak pipa-pipa air
(Antara et al., 2008)
Meskipun dalam pengolahan air limbah klor juga dapat digunakan, namun tidak dianjurkan karena menurut
penelitian klor berpotensi menghasilkan Trihalometan (THMs) yang disebabkan oleh adanya reaksi antara senyawa-
senyawa organik berhalogen dalam air limbah dengan klor. Trihalomentan merupakan senyawa yang bersifat
karsinogenik dan mutagenik (Sururi et al., 2008). Beberapa jenis limbah yang dapat diolah dengan menggunakan
oksidator klor adalah limbah yang mengandung sianida seperti pada industri metal plating dan industri tambang
(WEF, 2008). Contoh aplikasi klorin dalam pengolahan limbah adalah sebagai oksidator dalam pengolahan limbah
sianida.
Pengolahan Limbah Sianida dengan Oksidator Klorin
Pengolahan limbah sianida dapat dilakukan dengan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan menggunakan
senyawa klorin. Oksidasi sianida dengan menggunakan klorin merupakan metode yang paling umum digunakan, dan
merupakan metode yang paling efektif (Sari, 2008). Klorin yang bersifat sebagai oksidator paling efektif adalah
NaOCl 5%, namun larutan ini tidak mampu menghilangan senyawa anorganik (Yanti, 2004). Metode ini dapat
dioperasikan pada system batch maupun continue. Metode ini juga cocok dilakukan secara manual dan berjalan pada
kondisi ambient. Oksidasi sianida dengan menggunakan klorin terbagi atas dua tahap. Pada tahap pertama, sianida
dikonversi menjadi sianat; pada tahap kedua, sianat dihidrolisa menjadi karbondioksida dan gas nitrogen. Pada tahap
pertama, gas klorin atau hipoklorit bereaksi dengan sianida untuk menghasilkan sianogen klorida.
NaCN + Cl2 > CNCl + NaCl
NaCN + NaOH + H2O -> CNCl + 2NaOH
2NaCN + Ca(OCl)2 + 2H2O > 2CNCl + Ca(OH)2 + 2NaOH
Reaksi ini tidak tergantung pada pH dan hampir terjadi secara cepat. Sianogen klorida merupakan zat beracun dan
sangat mudah menguap. Maka dari itu, harus langsung dikonversi menjadi senyawa yang tidak berbahaya. Sianogen
klorida terpecah secara cepat di atas pH 10.0 dan suhu 20C. Pada pH yang lebih rendah, konversi sianat sangat
lambat; maka dari itu pH 8.0 merupakan pH minimum untuk pembentukan sianat sianogen klorida. Konversi
sianogen klorida menjadi sianat, yang stabil dan lebih rendah toksisitasnya daripada sianida, terjadi dengan
hidrolisis alkalin seperti berikut:
CNCl + 2NaOH > NaCNO + NaCl + H2O
Reaksi diatas berlangsung dalam 10 30 menit pada pH 8,5 9. Jika pHnya naik hingga 10 11, maka reaksi
dapat selesai dalam waktu 5 7 menit, perlakuan reaksi ini harus pada sisi yang aman untuk mencegah
pembentukan sianogen klorida. Maka dari itu, oksidasi dengan menggunakan klorin dari sianida menjadi sianat
selalu terjadi pada pH lebih tinggi dari 9,5 10 dan nilai pH lebih dari 10,5 sangat dianjurkan.
Pada tahap kedua, sianat dihidrolisa untuk menghasilkan ammonia dan karbondioksida. Reaksi berjalan pada pH
alkali, namun reaksi ini sangat lambat, kecuali jika ada keberadaan klorida bebas. Reaksi berjalan selama beberapa
jam pada pH 10, namun pada pH 8.5 9.9, reaksi juga dapat berjalan dengan durasi yang baik.
3Cl2 + 4H2O + 2Na2CNO > 3Cl2 + (NH4)2CO3 + Na2CO3
Klorin tidak ikut serta dalam reaksi, namun hanya mempercepat proses reaksi. Dengan keberadaan klorin, reaksi
masih membutuhkan 1 1.5 jam untuk bias selesai dengan sempurna. Dengan keberadaan klorin bebas, ammonia
secara cepat terkonversi menjadi gas nitrogen.
3Cl2 + 6NaOH + (NH4)2CO3 + Na2CO3 -> 2NaHCO3 + N2 + 6NaCl + 6H2O
Seperti dengan seluruh aplikasi breakpoint klorinasi, produk lain seperti N2O dan NCl3 juga dapat terbentuk. Cara
lain menghidrolisa sianat dengan menggunakan kondisi asam (pH < 2.5)
2NaCNO + H2SO4 + 4H2O > (NH4)2SO4+ 2NaHCO3
Reaksi ini bisa selesai dalam 5 menit. Tapi metode ini jarang digunakan karena membutuhkan biaya yang tinggi dan
membutuhkan netralisasi pada efluen (Sari, 2008).
Penggunaan klorin sebagai oksidator memiliki dampak negatif yakni terbentuknya senyawa dioksin penyebab
kanker (carcinogen) (Nugroho dan Ikbal, 2005). Menurut Water Research Centre, klorin pada effluent yang dibuang
ke badan air penerima akan dapat menimbulkan efek merugikan terhadap ekologi perairan. Sebaiknya air limbah
terolah dapat dimanfaatkan kembali untuk menyiram tanaman atau mencuci mobil dan tidak langsung dibuang ke
badan air penerima (Djaja dan Maniksulistya, 2006).
http://fitrianameilasari.wordpress.com/2012/05/04/klorin/
KLORIN SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN AIR LAUT
Diposkan oleh Fika Andina at Minggu, 20 Maret 2011
Sebagian besar komponen air laut adalah garam-garam yang beraneka ragam.
Jumlah masing-masing garam yang terkandung di dalam air laut berbeda-beda.
Bahkan, komposisi garam antara air laut di daerah satu dengan daerah lainnya pun
berbeda. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida
(55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potassium
(1%), dan sisanya (kurang dari 1%) terdiri dari biokarbonat, bromida, asam borak,
strontium dan florida.

Sumber: Marine Chemistry (Horne, 1969) dan The open university,
1996

Komposisi Elemen Mayor di Laut

Komposisi kimia air laut telah diteliti oleh seorang ahli oseanografi
yang sangat terkenal, W. Dittmar pada tahun 1873. Peneliti ini
menggunakan contoh air laut sebanyak 77 contoh yang diambil dari
beberapa perairan di Samudera Pasifik, Hindia, dan Atlantik melalui suatu
ekspedisi yang dilakukan oleh H.M.S. Challenger. Ia mendeterminasi tentang
garam-garam, sulfat, magnesium, kalsium, dan kalium (potassium) dan
jenis kimia lainnya dalam takaran garam per kilogram (ppm).

Penelitian kandungan kimia yang ada di laut terus berlangsung sejak
abad ke-18, dan hasil kajian terakhir yang diberitakan lewat buku yang
dikeluarkan oleh The Open University dan buku Marine Chemistry, komposisi
kimia yang terlarut di dalam air sebanyak 81 unsur. Tabel
diatas menunjukkan delapan unsur yang terdapat paling banyak di lautan.

Kimia yang terkandung di air laut ada yang merupakan unsur utama
(mayor) , unsur tambahan (minor), dan unsur yang langka (trace). Kimia
unsur utama adalah zat kimia yang melekat langsung dengan salinitas.
Komposisi air laut yang konstan tetap dipertahankan karena kebanyakan
unsur utama menunjukkan sifat konservatif, yaitu konsentrasi di air laut
tidak mengalami perubahan yang berarti akibat reaksi biologi dan kimia di
laut. Namun, secara umum di dalam air laut terdapat sejumlah unsur yang
dominan (bagian mayoritas) dan unsur pelengkap(bagian minoritas). Salah
satu unsur dominan komponen penyusun air laut adalah Klorin.

Sebelum kita mempelajari lebih jauh mengenai klorin sebagai salah satu
komponen penyusun air laut, kita kenali dulu sejarah, sifat-sifat unsur klorin ini.

Klorin

http://inspirehalogen.wordpress.com
o

Sejarah

Ditemukan oleh Scheele pada tahun 1774 dan dinamai oleh Davy pada
tahun 1810. Klorin ditemukan di alam dalam keadaan berkombinasi dengan
gas Cl, senyawa dan mineral seperti Karnalit dan silvit.


o

Sifat-sifat

Gas klorin berwarna kuning-kehijauan, dapat larut dalam air, mudah
bereaksi dengan unsur lain. Klorin dapat mengganggu pernapasan, merusak
selaput lendir dan dalam wujud cairnya dapat membakar kulit. Klorin tergolong
dalam grup unsur halogen (pembentuk garam) dan diperoleh dari garam klorida
dengan mereaksikan zat oksidator atau lebih sering dengan proses elektrolisis.
Merupakan gas berwarna kuning kehijauan dan dapat bersenyawa dengan hampir
semua unsur. Pada suhu 10
o
C, satu volume air dapat melarutkan 3.10 volume
klorin, sedangkan pada suhu 30
o
C hanya 1.77 volume.

o

Penanganan

Klorin mengiritasi sistem pernapasan. Bentuk gasnya mengiritasi lapisan
lendir dan bentuk cairnya bisa membakar kulit. Baunya dapat dideteksi pada
konsentrasi sekecil 3.5 ppm dan pada konsentrasi 1000 ppm berakibat fatal setelah
terhisap dalam-dalam. Kenyataannya, klorin digunakan sebagai senjata kimia pada
perang gas di tahun 1915. Terpapar dengan klorin tidak boleh melebihi 0.5 ppm
selama 8 jam kerja sehari-40 jam per minggu.

o

Kegunaan

Klorin digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk sehari-hari.
Klorin digunakan untuk menghasilkan air minum yang aman hampir di seluruh
dunia. Bahkan, kemasan air terkecil pun sudah terklorinasi.

Klorin juga digunakan secara besar-besaran pada proses pembuatan kertas,
zat pewarna, tekstil, produk olahan minyak bumi, obat-obatan, antseptik,
insektisida, makanan, pelarut, cat, plastik, dan banyak produk lainnya.

Kebanyakan klorin diproduksi untuk digunakan dalam pembuatan senyawa
klorin untuk sanitasi, pemutihan kertas, desinfektan, dan proses tekstil. Lebih jauh
lagi, klorin digunakan untuk pembuatan klorat, kloroform, karbon tetraklorida, dan
ekstraksi brom.

Kimia organik sangat membutuhkan klorin, baik sebagai zat oksidator
maupun sebagai subtitusi, karena banyak sifat yang sesuai dengan yang
diharapkan dalam senyawa organik ketika klor mensubtitusi hidrogen, seperti
dalam salah satu bentuk karet sintetis.

http://inspirehalogen.wordpress.com


Klorin di Laut

Komposisi kimia di laut dapat dipengaruhi oleh adanya perubahan bahan
organik, Bahan organik maupun anorganik yang masuk ke dalam perairan laut akan
terlarut di air mengalami proses penguraian membentuk larutan padat dan gas.
Komposisi kimia di perairan laut sangat kompleks bahkan saling berinteraksi
sehingga untuk melakukan determinasi bahan kimia dari alam yang terlarut sangat
sulit karena:

o

Beberapa kelarutan substansi termasuk ion klorida (Cl) dan natrium (Na)
merupakan konsentrasi tertinggi, sementara beberapa logam kecil sulit terdeteksi
di air laut.

o

Dua jenis kimia yaitu natrium dan potasium (K) sangat ulit dideterminasi secara
akurat.

o

Kenyataan bahwa beberapa suspensi gas berikatan dengan fosfat, arsenik, kalsium,
stronsium, klorida, bromida, dan iodium.

Karena kombinasi elemen yang diterminasi ada dalam bentuk bersamaan tetapi
hasil analisanya ha ya terdeteksi satu komponen,
seperti kalsiumdan stronsium dikalkulasi sebagai kalsium (Ca), demikian juga
unsurklorida, bromide, dan iodium dikalkulasi sebagai klorida (Rompas,
Rumampuk, Rompas, 2009 dalam Oseanografi Kimia)

Halogen pada perairan terdapat dalam bentuk ion monovalen,
misalnya ion flourida (F
-
), ion klorida (Cl
-
), bromin (Br
-
), dan ion iodide (I
-
).
Unsur-unsur halogen biasanya ditemukan di perairan laut. Unsur klor dalam
air laut dijumpai dalam bentuk ion klorida. Ion klorida adalah salah satu
anion organik utama yang ditemukan di perairan alami. Ion klorida
ditemukan dalam jumlah besar, sedangkan ion halogen lainnya ditemukan
dalam jumlah yang relatif sedikit. Klorin, Bromin, dan Iodin terkandung pada
air laut dalam bentuk garam-garam halida dari natrium, magnesium, kalium,
dan kalsium. Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium
klorida (NaCl), Kalium klorida (KCl), dan Kalsium klorida (CaCl
2
). Garam
halida yang paling banyak adalah NaCl. Klorida membentuk
kebanyakan garam zat terlarut dalam lautan bumi, kira-kira 1.9% komposisi
air laut adalah ion klorida. Larutan klorida dengan kepekatan lebih tinggi
dijumpai di Laut Mati dan longgokan air garam bawah tanah.

Kadar klorida bervariasi menurut iklim. Pada perairan yang di wilayah
yang beriklim basah (humid), kadar klorida biasanya kurang dari 10
mg/liter; sedangkan pada perairan di wilayah semi-arid dan arid (kering),
kadar klorida mencapai ratusan mg/liter. Keberadaan klorida pada perairan
alami berkisar antara 2-20 mg/liter. Kadar klorida 250 mg/liter dapat
mengakibatkan air menjad asin (Rump dan Krist, 1992). Air laut
mengandung klorida sekitar 19.300 mg/liter (McNeely et al., 1979).

Kadar klorida yang tinggi, misalnya pada air laut, yang diikuti oleh
kadar kalsium dan magnesium yang juga tinggi dapat meningkatkan sifat
korosivitas air. Perairan yang demikian mudah mengakibatkan terjadinya
perkaratan peralatan yang terbuat dari logam.

Kebanyakan klorida larut dalam air, oleh itu klorida biasanya ditemui
secara berlimpah di kawasan beriklim kering, atau bawah tanah. Mineral
klorida biasa termasuklah halit (natrium klorida), sylvite (kalium klorida),
dam karnalit (kalium magnesium klorida heksahidrat).

Hakekatnya kandungan ion klorin dan beberapa ion yang
kandungannya sedikit seperti bromida dan iodium diterah sebagai
klorinitas. Kloronitas adalah jumlah total dari klorin, bromide, dan Iodim
dalam gram yang ada dalam satu kilogram air laut, dengan asumsi bromide
dan yodium ada dalam bentuk klorida (Cl).

Klorida tidak bersifat toksik bagi makhluk hidup, bahkan berperan
dlam pengaturan tekanan osmotik sel. Klorin sering digunakan sebagai
disinfektan untuk menghilangkan mikroorganisme yang idak dibutuhkan,
terutama bagi air yang diperuntukkan bagi kepentingan domestic. Beberapa
alas an yang menyebabkan klorin sering digunakan sebagai disinfektan
adalah sebagai berikut (Tebbut, 1992).

o

Dapat dikemas dalam bentuk gas, larutan, dan bubuk (powder)

o

Relatif murah

o

Memiliki daya larut yang tinggi serta dapat larut pada kadar yang tinggi (7.000
mg/liter).

o

Residu klorin dalam bentuk larutan tidak berbahaya bagi manusia, jika terdapat
dalam kadar yang tidak berlebihan.

o

Bersifat sangat toksik bagi mikroorganisme, dengan cara menghambat aktivitas
metabolisme mikroorganisme tersebut.

Sumber:

Hutabarat, Sahala dan Stewart M. Evans. 1984. Pengantar Oseanografi.Jakarta:
Penerbit UI-Press.

Rompas, Rizald Max; Natalie DC Rumampuk dan Julius Robert Rompas.
2009. Oseanografi Kimia. Jakarta: Sekretariat Dewan Kelautan Indonesia.

Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Supangat, Agus dan Susanna. Pengantar Osenografi. Pusat Riset Wilayah Laut dan
Sumberdaya Non-hayati Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen
Kelautan dan Perikanan

http://inspirehalogen.wordpress.com/category/uncategorized/page/2/

http://masterkimiaindonesia.com/materi-sma/halogen-neni/

http://fika-star.blogspot.com/2011/03/klorin-sebagai-salah-satu-komponen-air_20.html
Klorin

Klorin adalah gas yang sangat reaktif. Ini adalah elemen
alami. Para pengguna terbesar klorin adalah perusahaan yang
membuat ethylene dichloride dan pelarut terklorinasi lainnya,
polyvinyl chloride ( PVC ) resin, chlorofluorocarbon, dan
propilen oksida. Perusahaan kertas menggunakan klorin untuk
kertas pemutih. Air dan perawatan tanaman air limbah
menggunakan klorin untuk mengurangi kadar air dari
microrganisms yang dapat menyebarkan penyakit ke manusia
(desinfeksi).

Paparan klorin dapat terjadi di tempat kerja atau di
lingkungan mengikuti pelepasan ke udara, air tanah,
atau. Orang yang menggunakan pemutih cucian dan bahan
kimia kolam renang yang mengandung klorin produk biasanya
tidak terkena klorin itu sendiri. Klorin biasanya ditemukan
hanya dalam pengaturan industri.

Klorin masuk ke dalam tubuh dengan menghirup udara yang
terkontaminasi atau ketika dikonsumsi dengan makanan yang
terkontaminasi atau air. Tidak tetap dalam tubuh, karena
kereaktifannya.

Pengaruh klorin terhadap kesehatan manusia tergantung pada
seberapa jumlah klorin yang hadir, dan panjang dan frekuensi
pemaparan. Efek juga tergantung pada kesehatan seseorang
atau kondisi lingkungan saat paparan terjadi.

Menghirup sejumlah kecil klorin untuk jangka waktu yang
singkat merugikan mempengaruhi sistem pernapasan
manusia. Efek berbeda dari sakit batuk dan dada, untuk
retensi air dalam paru-paru. Klor mengiritasi kulit, mata, dan
sistem pernapasan. Efek ini tidak mungkin terjadi pada
tingkat klorin yang biasanya ditemukan di lingkungan.

Dampak kesehatan manusia yang terkait dengan pernapasan
atau jumlah kecil jika tidak mengkonsumsi klorin selama
jangka waktu tidak diketahui. Beberapa studi menunjukkan
bahwa pekerja mengembangkan efek samping dari paparan
inhalasi ulangi untuk klorin, tetapi yang lain tidak.
http://rosyidputra98.blogspot.com/2012/03/logam-yang-berbahaya-bagi-kesehatan.html
PENCEMARAN ORGANOKLORIN

Dosen Pembimbing
NOPI STIYATI PRIHATINI, S.Si, M.T


OLEH :
Anshari Agus Framana H1E 109044
Hijratus Syaripah H1E 109011
Janette Debora Toewan H1E 109059
Muhammad Ajrin H1E 109066


DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK LINGKUNGAN
2010










BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kontaminasi organochlorine universal telah terlibat dalam regional dan global epidemi penyakit
pada manusia dan satwa liar, termasuk gangguan reproduksi, pengembangan, fungsi kekebalan
dan perilaku. Inilah memperkuat fakta bahwa organoklorin menimbulkan ancaman serius bagi
kesehatan manusia dan lingkungan.

Pestisida organoklorin telah menyebabkan masalah yang serius karena kestabilan kimianya yang
tinggi. Sebagian organoklorin sukar diuraikan, lantas mengakibatkan masalah pencemaran dan
penumpukan dalam sistem akuatik, rantai makanan dan manusia.

1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu :
1. Memberikan penyampaian tentang Organoklorin.
2. Memahami lebih dalam tentang pengertian, ciri-ciri, struktur aplikasi, tingkat
ketoksisitasannya, serta pengaruhnya terhadap kesehatan dan lingkungan.

1.3 Batasan Masalah
Agar penulisan ini lebih terarah dan memberikan pembahasan yang lebih rinci maka dibuat
batasan studi yang tidak mengurangi sasaran studi. Batasan yang digunakan adalah sebagai
berikut :
1. Pengertian umum Organoklorin.
2. Tingkat ketoksisitasan Organoklorin.
3. Sejarah perkembangan Organoklorin sejak awal muculnya sampai dihentikannya
produksi Organoklorin.
4. Dampaknya terhadap kesehatan Manusia dan pencemaran Lingkungan.
5. Pencemaran Senyawa Organoklorin Jenis PCBs dan DDT.


BAB II
A. ORGANOCHLORINE

Sebuah organochloride, organochlorine, chlorocarbon, diklorinasi hidrokarbon, atau diklorinasi
pelarut adalah senyawa organik yang mengandung setidaknya satu kovalen klorin atom.
Struktural lebar mereka beragam dan berbeda sifat kimia mengarah ke berbagai aplikasi. Banyak
derivatif yang kontroversial karena efek dari senyawa ini pada lingkungan.

2.1 CIRI CIRI FISIK
Klorida substituen memodifikasi sifat fisik senyawa organik dalam beberapa cara. Mereka
biasanya lebih padat daripada air karena kehadiran atom tinggi klorin. Substituen klorida
interaksi antarmolekul menyebabkan lebih kuat dari hidrogen substituen. Efek ini diilustrasikan
oleh tren dalam titik didih: metana (-161,6 C), metil klorida (-24,2 C), diklorometana (40 C),
kloroform (61.2 C), dan karbon tetraklorida (76,72 C). Peningkatan interaksi antarmolekul
tersebut diberikan untuk efek kedua van der Waals dan polaritas.

2.2 KEBERADAAN ALAMI
Meskipun jarang terjadi dibandingkan dengan non-halogen senyawa organik, banyak
organochlorine senyawa telah diisolasi dari sumber alami mulai dari bakteri ke manusia.
Diklorinasi senyawa organik dapat ditemukan di hampir setiap kelas dari biomolekul termasuk
alkaloid, terpene, asam amino, flavonoid, steroid, dan asam lemak.

Organochlorides, termasuk dioxin, yang dihasilkan dalam lingkungan suhu tinggi kebakaran
hutan, dan dioksin telah ditemukan dalam abu diawetkan memicu petir-api yang ada sebelum
sintetis dioksin. Selain itu, berbagai hidrokarbon diklorinasi sederhana termasuk diklorometana,
kloroform, dan karbon tetraklorida telah diisolasi dari ganggang laut.

Sebagian besar dari chloromethane dalam lingkungan yang diproduksi secara alami oleh
dekomposisi biologis, kebakaran hutan, dan gunung berapi. Alam organochloride epibatidine,
sebuah alkaloid terisolasi dari pohon katak, telah ampuh analgesik efek dan telah mendorong
penelitian menjadi obat penghilang rasa sakit baru.

DARI KLORIN
Alkana dan arylalkanes dapat diklorinasi di bawah kondisi radikal bebas, dengan sinar UV.
Namun, tingkat klorinasi sulit dikendalikan. Aril klorida dapat disiapkan oleh Friedel-Crafts
halogenation, menggunakan klorin dan asam Lewis katalis. Haloform reaksi, menggunakan
klorin dan natrium hidroksida, juga mampu menghasilkan bentuk alkil halida metil keton, dan
senyawa terkait. Kloroform demikian dihasilkan sebelumnya. Klorin menambah beberapa
obligasi pada alkena dan alkuna juga, memberi di-atau tetra-chloro senyawa.
a) REAKSI DENGAN HIDROGEN KLORIDA
Alkena bereaksi dengan hidrogen klorida untuk memberikan alkil klorida:


Alkohol sekunder dan tersier bereaksi dengan reagen Lucas (seng klorida dalam konsentrasi
asam klorida) untuk memberikan sesuai alkil halida; reaksi ini metode untuk mengklasifikasikan
alkohol:


b) DARI AGEN KLOR LAIN
Alkil klorida yang paling mudah disiapkan oleh alkohol bereaksi dengan klorida thionyl ( ),
fosfor triklorida ( ), dan fosfor pentaklorida ( ):




Di laboratorium, terutama thionyl klorida nyaman, karena merupakan produk samping gas atau,
reaksi Appel.


2.3 REAKSI
Alkil klorida adalah gedung serbaguna blok dalam kimia organik. Sementara alkil bromida dan
iodida lebih reaktif, alkil klorida cenderung lebih murah dan lebih mudah tersedia. Alkil klorida
mudah mengalami serangan oleh nukleofil.

Pemanasan alkil halida dengan natrium hidroksida atau air memberikan alkohol. Reaksi dengan
alkoxides atau aroxides memberikan eter dalam sintesis eter Williamson; reaksi dengan thiols
memberikan thioethers. Alkil klorida mudah bereaksi dengan amina untuk memberikan diganti
amina. Alkil klorida diganti oleh halida lebih lembut seperti iodida dalam reaksi Finkelstein.

Reaksi dengan pseudohalida seperti azida, sianida, dan tiosianat yang mungkin juga. Dengan
keberadaan basa kuat, alkil klorida mengalami dehydrohalogenation untuk memberikan alkena
atau alkuna.

Alkil klorida bereaksi dengan magnesium untuk memberikan reagen Grignard, mengubah sebuah
elektrofilik senyawa menjadi nukleofilik senyawa. Para Reaksi Wurtz pasangan reductively dua
alkil halida untuk pasangan dengan natrium.

2.4 APLIKASI
Vinil klorid
Penerapan terbesar adalah organochlorine kimia produksi vinil klorida, pendahulu PVC. Dengan
produksi tahunan pada tahun 1985 sekitar 13 miliar kilogram, hampir semua yang diubah
menjadi polyvinylchloride.

Chloromethanes
Kebanyakan berat molekul rendah diklorinasi hidrokarbon seperti kloroform, diklorometana,
dichloroethene, dan trichloroethane berguna pelarut. Pelarut ini cenderung relatif non-polar;
mereka sehingga tidak bercampur dengan air dan efektif dalam aplikasi seperti membersihkan
degreasing dan dry cleaning. Beberapa miliar kilogram methanes diklorinasi diproduksi setiap
tahun, terutama oleh klorinasi metana.

Yang paling penting adalah diklorometana, yang terutama digunakan sebagai pelarut.
Chloromethane adalah pendahulu untuk chlorosilanes dan Silikon. Historis signifikan, namun
dalam skala yang lebih kecil adalah kloroform, terutama yang pendahulu chlorodifluoromethane
( ) dan tetrafluoroethene yang digunakan dalam pembuatan Teflon.

Pestisida
Banyak pestisida mengandung klorin. Contoh terkenal termasuk DDT, dicofol, heptachlor,
endosulfan, Chlordane, aldrin, dieldrin, endrin, mirex, dan pentachlorophenol. Ini dapat berupa
hidrofilik atau hidrofobik tergantung pada struktur molekul mereka. Banyak dari agen ini telah
dilarang di berbagai negara, misalnya mirex, aldrin.

Poliklorinasi bifenil (PCB) yang umum digunakan sekali insulator listrik dan agen perpindahan
panas. Mereka menggunakan secara umum telah dihapus karena masalah kesehatan. PCB
digantikan oleh polybrominated difenil eter ( ), yang membawa racun yang serupa dan
bioaccumulation keprihatinan.

2.5 TOKSISITAS
Beberapa jenis toksisitas organochlorides telah signifikan untuk tanaman atau hewan, termasuk
manusia. Dioxin, bahan organik dihasilkan ketika dibakar di hadapan klorin, dan beberapa
insektisida seperti DDT adalah polutan organik yang menimbulkan bahaya ketika mereka
dilepaskan ke lingkungan. Sebagai contoh, DDT, yang secara luas digunakan untuk
mengendalikan serangga di pertengahan abad ke-20, juga terakumulasi dalam rantai makanan
perairan. Karena tubuh tidak dapat memecah atau buang itu, dan kalsium mengganggu
metabolisme pada burung, ada parah penurunan populasi beberapa burung pemangsa.
Ketika diklorinasi pelarut, seperti karbon tetraklorida, tidak dibuang dengan benar, mereka
menumpuk di tanah. Beberapa sangat reaktif organochlorides seperti phosgene bahkan telah
digunakan sebagai agen perang kimia.

Namun, keberadaan klorin dalam senyawa organik tidak menjamin toksisitas. Banyak
organochlorides cukup aman untuk dikonsumsi dalam makanan dan obat-obatan. Misalnya,
kacang polong dan kacang-kacangan luas berisi hormon tanaman diklorinasi alam 4-
chloroindole-3-asam asetat (4-Cl-IAA); dan pemanis sucralose (Splenda) secara luas digunakan
dalam produk makanan. Sejak 2004, sedikitnya ada 165 organochlorides disetujui di seluruh
dunia untuk digunakan sebagai obat-obatan farmasi, termasuk antibiotik alami vankomisin, yang
antihistamin loratadine (Claritin), antidepresi sertraline (Zoloft), anti-epilepsi lamotrigine
(lamictal), dan inhalasi anestesi isoflurane.

Rachel Carson membawa isu toksisitas pestisida DDT kesadaran publik dengan buku 1962 Silent
Spring. Meskipun banyak negara telah dihapus penggunaan beberapa jenis organochlorides
seperti larangan AS DDT, gigih DDT, PCB, dan lain residu terus organochloride ditemukan pada
manusia dan mamalia di seluruh planet bertahun-tahun setelah produksi dan penggunaan telah
terbatas . Di Arktik daerah, khususnya tingkat tinggi ditemukan di mamalia laut. Bahan kimia ini
berkonsentrasi pada mamalia, dan bahkan ditemukan dalam air susu manusia. Laki-laki biasanya
memiliki tingkat jauh lebih tinggi, sebagai perempuan mengurangi konsentrasi dengan transfer
ke keturunannya melalui menyusui.


B. Pencemaran Organochlorine

Organoklorin merupakan bahan kimia yang mengandung karbon dan klorin. Banyak
organoklorin yang berbahaya karena mereka tidak rusak dengan mudah. Ini berarti mereka
tinggal di lingkungan dan tubuh kita untuk waktu yang lama. Mereka dapat terkonsentrasi dalam
rantai makanan sehingga hewan-hewan di bagian atas rantai makanan, seperti manusia, akan
memiliki tingkat tertinggi. Ada 12 organoklorin terdaftar sebagai POP (bertahan polutan
organik).

Organoklorin adalah membentuk uap dan dapat dibawa oleh udara untuk jarak jauh. Akhirnya,
mereka mengembun dan didepositkan di daratan atau dilarutkan dalam air. Contoh pestisida
organoklorin yang sering digunakan dalam kehidupan;
Aldrin
Dieldrin dicofol
Endosulfan
Endrin chlordane
DDT
Heptaklor
Lindane
Benzane hexacloride (BHC)

Contoh di atas dapat digolongkan sebagai senyawa aktif yang terkandung pada jenis-jenis pestisida
organoklorin dengan toksisitas yang berbeda. Sedangkan sifat umumnya adalah kelarutan rendah dalam
air, lipofilitas tinggi, persisten dalam lingkungan alamiah, terbioakumulasi dalam makhluk hidup dan
terbiomagnifikasi melalui rantai makanan. Berdasarkan Toksisitasnya dapat digolongkan sebagai berikut:
1. Sangat toksik : aldrin, endosulfan, dieldrin
2. toksik sederhana : Clordane, DDT,lindane, heptaklor
3. kurang toksik : Benzane hexacloride (BHC)

Organoklorin yang telah digunakan termasuk dioxin, poliklorinasi bifenil (PCB), pentachlorophenol
(PCP), dieldrin dan dichloro-diphenil-trichloroethane (DDT). PCB dan PCP bersifat racun dalam hak
mereka sendiri tetapi keduanya juga mengandung dioksin.
Organoklorin telah digunakan sebagai insektisida seperti domba dieldrin mencelupkan, PCP telah
digunakan dalam merawat kayu, dan semprotan DDT telah digunakan di lahan pertanian dan di rumah.
Penggunaan pestisida organochlorine dibatasi oleh serangkaian undang-undang sehingga, pada
pertengahan 1970-an, mereka tidak sedang digunakan dalam pertanian dan hortikultura.
Dioxin adalah organochlorine namun tidak dibuat sebagai adalah PCB, PCP, dieldrin dan DDT. Hal ini
dihasilkan ketika bahan organik dibakar di hadapan klorin. Pembakaran limbah, klorin pemutihan pulp
dan kertas, dan beberapa proses industri semua dapat menciptakan dioksin dalam jumlah kecil. Mereka
mungkin juga dapat terbentuk dari sumber-sumber alam seperti kebakaran hutan.
Kebanyakan dioksin melarikan diri ke lingkungan dari emisi udara. Dioksin dapat tinggal di udara untuk
waktu yang lama dan dibawa jarak yang sangat jauh sebelum menetap di tanah atau air. Jika dioksin
pastoral menetap di tanah, mereka mungkin diambil oleh binatang pemakan rumput dan hewan yang
tersimpan dalam daging dan susu. Dioxin juga dapat memasukkan sungai kami, danau dan muara di
limbah lucutan, di mana mereka dapat diambil oleh ikan dan kerang. Lebih dari 90 persen terpapar
dioksin kita berasal dari makan daging, produk susu dan ikan. Bayi juga dapat terpapar dioxin yang telah
terkumpul di dalam air susu ibu.

Pencemaran Organoklorin di Laut
Laut mempunyai kekayaan alam yang beranekaragam, selain kandungan hayati lautnya, laut juga
memiliki kekayaan bahan non-organik seperti mineral-mineral, minyak bumi dan bahan-bahan tambang
lainnya. Bahan-bahan tersebut terbentuk melalui proses geologi, fisika, kimia dan biologi yang tidak
hanya terjadi di lautan, tetapi juga melibatkan daratan. Misalnya, material letusan gunung berapi yang
terjatuh sampai di laut, atau kikisan material dari darat yang terbawa oleh air sungai. Dengan demikian,
mineral-mineral di lautan memiliki distribusi yang luas.
Terjadinya pencemaran di laut tidak lepas dari masuknya mineral mineral yang terbawa melaluai run
off atau aliran sungai yang membawa berbagai macam logam berat. Ancaman juga datang dari
pencemaran limbah industri, terutama logam dan senyawa organoklorin. Dua jenis bahan berbahaya ini
mengakibatkan terjadinya akumulasi (penumpukan kandungan) logam berat padang melalui proses yang
disebut magnifikasi biologis. Persis seperti penumpukan kandungan merkuri yang menimpa kerang.

Organoklorin Pada Bulu Walet Sarang Putih
Hasil penelitian di Yogjakarta mengenai kandungan organoklorin pada sampel berupa bulu walet sarang
putih menunjukkan bahwa 10% sampel (n=10) mengandung heptaklor dan 40% sampel (n=10)
mengandung pp-DDD. Kandungan heptaklor pada bulu walet sarang putih berkisar antara 0 sampai
0,5855 ppm dan pp-DDD berkisar antara 0 sampai 0,0929 ppm.
Heptaklor yang terdapat pada bulu walet sarang putih adalah epoxide heptaklor yang terakumulasi dalam
jaringan lemak pada ikan dan burung, bahkan dapat ditemukan pula pada hati, otot dan telur burung.
Selain heptaklor, pada bulu mengandung pp-DDD (hasil degradasi yang diturunkan dari dehidroklorinasi
biologis dan deklorinasi reduktif DDT) (Connell & Miller (1995). Senyawa pp-DDD bersifat stabil dan
aktif secara biologis.
Variasi jenis dan jumlah organoklorin pada bulu walet sarang putih disebabkan karena dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama adalah perbedaan daerah jelajah masing-masing walet sarang putih yang
ditangkap. Menurut Mardiastuti et.al., (1998), daerah jelajah walet sarang putih berkisar antara 25
sampai 40 km. Dengan demikian, semakin jauh daerah jelajah walet sarang putih maka kemungkinan
mengalami kontak dengan insektisida semakin besar.
Kemungkinan kedua adalah perbedaan usia masing-masing walet sarang putih yang ditangkap. Hal ini
terlihat pada variasi ukuran tubuh walet sarang putih saat pengamatan di lapangan dan variasi berat
sampel bulu walet sarang putih yang ditangkap. Rata-rata ketahanan hidup walet sarang putih adalah 14
tahun (variasi 10 sampai 20 tahun), sedangkan daya tahan insektisida organoklorin pada jaringan hewan
berkisar antara 3 sampai 5 tahun dan kemudian akan terus mengalami transformasi di dalam jaringan
hewan dalam waktu 5 tahun (Hassal, 1990 ; Connell & Miller, 1995). Dengan demikian, semakin besar
usia walet sarang putih maka kemungkinan akumulasi insektisida organoklorin dalam tubuhnya semakin
tinggi.
Kandungan pp-DDD pada bulu walet dimungkinkan karena masih digunakan DDT. Penggunaan DDT
dilarang oleh Pemerintah Indonesia sejak tahun 1973 (Untung, 1993), namun dijelaskan oleh Anonim
(2000) dan Kusno (1994) bahwa DDT masih dianjurkan penggunaannya di sektor kesehatan hingga
tahun 2000 untuk mengendalikan nyamuk malaria. Alasan larangan tersebut adalah karena sifat
persistensinya yang sangat lama di tanah maupun di jaringan tanaman dan jaringan hewan. Hal tersebut
dijelaskan Untung (1993) bahwa kurun waktu 17 tahun residu DDT dalam tanah masih 39%.
Selain DDT, sejak tahun 1990 penggunaan heptaklor dilarang oleh Pemerintah Indonesia (Untung 1993 ;
Anonim 2001a), sedangkan oleh Pemerintah Amerika Serikat heptaklor dilarang sejak tahun 1983
(Peterle, 1991).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran kandungan heptaklor pada bulu walet sarang putih antara 0
sampai 0,5855 ppm dan pp-DDD antara 0 sampai 0,0929 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
0,5855 mg heptaklor dalam 1 kg bulu walet sarang putih dan 0,0929 mg pp-DDD dalam 1 kg bulu walet
sarang putih.

Organoklorin dan Kanker Payudara \
Beberapa baris bukti menunjukkan bahwa organoklorin berkontribusi terhadap kanker payudara di
populasi umum. Bukti eksperimental. Ratusan organoklorin telah terbukti menyebabkan kanker pada
hewan laboratorium dan / atau manusia. Dari ribuan yang belum diuji, setidaknya beberapa
kemungkinan besar akan berubah menjadi karsinogenik.
Setidaknya 16 organoklorin atau kelompok organoklorin telah ditemukan secara khusus menyebabkan
kanker payudara di laboratorium hewan, walaupun hanya sedikit telah diuji untuk efek ini. Beberapa
adalah pestisida, seperti DDT, aldrin, dieldrin, dan Chlordane-yang telah dibatasi tetapi tetap Common
kontaminan lingkungan hidup dan masih digunakan di negara-negara lain. Tapi organoklorin lain
diidentifikasi sebagai karsinogen mammae masih umum digunakan, termasuk yang berikut:
Atrazine: salah satu yang paling banyak digunakan herbisida di Amerika Utara dan Eropa dan
kontaminan yang sangat umum air tanah dan air permukaan;
Vinyl chloride, ethylene dichloride, dan vinyledene klorida: bahan baku untuk plastik Common polyvinyl
chloride (PVC, atau vinil) dan polyvinylidene klorida (Saran wrap);
Metilena klorida: pelarut yang umum dan cat-penari telanjang;
Dichlorobenzidines, dichloropropane dan Trichloro-propana: intermediet yang digunakan dalam industri
kimia untuk memproduksi pewarna dan bahan kimia lainnya.

Sebagian besar organoklorin belum diuji untuk membuktikan besar pengaruhnya terhadap kanker
payudara, tetapi kemungkinan bahwa beberapa di antaranya, khususnya mereka yang secara struktural
atau toxicologically serupa dengan yang sudah diidentifikasi sebagai karsinogen mammae, ternyata akan
menyebabkan efek yang sama.
Mekanisme biologis. Penelitian terbaru perilaku organoklorin dalam tubuh menunjukkan bagaimana
bahan kimia ini dapat berkontribusi untuk kanker payudara pada manusia. Organoklorin telah terbukti
menimbulkan mutasi genetik, menekan sistem kekebalan tubuh, dan mengganggu kontrol alami tubuh
pada pertumbuhan sel dan replikasi. Beberapa organoklorin yang dikenal sebagai "hormon aktif": mereka
meniru atau sebaliknya mengganggu tindakan alami alami tubuh hormon seks, termasuk estrogen.
Karena estrogen adalah faktor risiko untuk kanker payudara, zat kimia yang bertindak seperti estrogen
juga cenderung meningkatkan risiko penyakit. Paparan bahan kimia ini selama masa dewasa dapat
menyebabkan estrogen-seperti efek dan mempromosikan kanker payudara. Dan dalam rahim paparan
hormon bahan kimia aktif seumur hidup dapat menyebabkan perubahan dalam sistem endokrin yang
dapat menyebabkan risiko kanker payudara bertahun-tahun kemudian.
Kanker payudara pada wanita dengan eksposur yang tinggi. Perempuan terpapar lebih tinggi dari
tingkat normal sintetis kimia-termasuk organoklorin-telah ditemukan memiliki tingkat tinggi secara
signifikan kanker payudara. Kelompok-kelompok ini termasuk wanita pekerja industri kimia terpapar
dioxin, perempuan yang tinggal di dekat lokasi limbah berbahaya, wanita ahli kimia, dan perempuan
pekerja terkena diklorinasi dan non-diklorinasi pelarut.
Studi jaringan. Penelitian baru yang penting terhubung organoklorin risiko kanker payudara di
kalangan wanita dari populasi umum-mereka yang tidak biasa eksposur kimia. Beberapa studi telah
menemukan hubungan antara tingkat organoklorin tertentu dalam darah wanita, lemak, atau jaringan
payudara dan risiko kanker payudara. Perempuan dengan konsentrasi tertinggi organochlorine tertentu
pestisida dalam tubuh mereka telah ditemukan memiliki risiko kanker payudara 4-10 kali lebih tinggi
daripada perempuan dengan tingkat yang lebih rendah. Jika penelitian masa depan menegaskan bahwa
efek dari bahan kimia ini memang yang kuat, organoklorin akan menjadi di antara yang paling penting
faktor risiko kanker payudara yang pernah diidentifikasi.
Kasus Israel. Di Israel, kebijakan nasional untuk melarang organoklorin tampaknya telah membantu
mengurangi tingkat kanker payudara. Hingga pertengahan 1970-an, baik tingkat kanker payudara dan
tingkat kontaminasi oleh beberapa organochlorine pestisida termasuk di antara yang paling tinggi di
dunia. Setelah tahap yang agresif-program dari orang-orang kimia, tingkat kontaminasi jatuh ke tingkat
yang ditemukan di negara-negara lain, dan kanker payudara kematian segera diikuti, jatuh ke tingkat
yang sama dengan yang di negara-negara lain. Penurunan ini, yang disebarkan di seluruh kelompok usia
dalam "dosis-respons" pola, adalah terutama penting, mengingat peningkatan pesat kanker payudara
yang terjadi di negara-negara lain selama periode yang sama. Selanjutnya, semua makanan dan faktor
risiko reproduksi di Israel benar-benar semakin memburuk selama periode yang bersangkutan.
Terkait efek pada orang dan satwa liar. Bukti yang muncul menyangkut kontaminasi organochlorine
global dalam array efek kesehatan lain di antara manusia dan satwa liar. Saat ini tingkat kontaminan
dalam kisaran di mana gangguan hormonal dan efek lain diketahui terjadi. Paparan senyawa ini telah
dikaitkan dengan ketidaksuburan, kegagalan reproduksi, gangguan perkembangan, penekanan kekebalan
tubuh, dan kemungkinan kanker lainnya kanker testis-terutama-di kalangan mamalia laut, spesies lain
ikan dan satwa liar, dan manusia. Jika tingkat lingkungan organoklorin yang cukup tinggi untuk
menyebabkan efek ini, adalah masuk akal bahwa mereka juga cukup tinggi menyebabkan kanker
payudara.
Kecenderungan di tingkat insiden kanker payudara konsisten dengan meningkatnya kontaminasi oleh
organoklorin. Negara-negara industri, dengan lebih parah polusi, juga cenderung memiliki kanker
payudara lebih tinggi daripada kurang tingkat negara-negara industri.

a. Bahan pencemar senyawa organoklorin jenis PCBs
Polikhorobiphenil (PCB) adalah suatu senyawa suatu senyawa organoklorin yang mempunyai sifat racun
yang sama dengan peptisida dan mempunyai sifat yang persisten atau sukar di pecah dialam di alam.
Ciri-ciri PCBs sebagai berikut; dapat berbentuk cairan atau padat, tidak berwarna dan kuning muda.
Disamping itu PCBs mudah menguap dan mungkin hadir sebagai uap air di udara dan tidak diketahui bau
maupun rasanya. PCBs yang masuk ke lingkungan adalah dalam bentuk gabungan komponen individu
chlorinated biphenyl, yang dikenal sebagai congener-congener artinya sama dengan tidak murni.
Menyadari pentingnya air sebagai media pembawa utama bahan-bahan kimia, maka OEDC kelompok
expert untuk degradation dan accumulation mengrekomendasikan penggunaan ikan sebagai
representative dari spesies hewan uji bioconcentration (Geyer et al.,1985).
Seperti sudah dijelaskan bahwa, untuk mengevaluasi potensial karakter PCBs di lingkungan serta
senyawa-senyawa lainnya, yaitu dengan menggunakan karakteristik physicochemicalnya. Oleh karena
kapasitas suatu bahan kimia untuk bioakumulasi secara umum tergantung pada besarnya
konsekwensinya di lingkungan. Senyawa organochlorine seperti PCB, DDT dan BHC, merupakan bahan-
bahan kimia yang lipophilic, sangat terkenal terakumulasi dalam jaringan tubuh hewan darat maupun air.

b. Bahan pencemar senyawa organoklorin jenis DDT
DDT (1,1,1- Tricloro-2,2-bis(clhorophenil)etane) merupakan insektisida sintetis khususnya dibidang
pertanian. Sifatnya yang sangat berbahaya di lingkungan dan tahan lama di alam, maka senyawa ini di
larang penggunaaannya. Tetapi penggunaannya masih terbatas hanya sebagai obat untuk nyamuk
malaria diberbagai negara. DDT dapat mencapai ekosistem pesisir laut melalai berbagai rute seperti
penggunaan secara langsung di permukaan air, kemudian secara tidak langsung melalui proses deposisi
udara dari proses penguapan atau penguapan yang sudah mengendap di tanah, tanaman dan permukaan
air, (Preston 1989).
Disamping itu sifat - sifat fisika dan kimia seperti daya larut yang rendah dalam air menyebabkan
senyawa DDT mudah terikat dalam sedimen dasar dan terakumulasi dalam jaringan organisme.
Transportasi materi merupakan faktor penting keberadaan DDT di lingkungan dan hampir sebagian
besar terdeposisi dan menghasilkan variabilitas konsentrasi DDT dan derivativennya di sediment,
(Ouyang et al 2003;Hartwell, 2008). Berbagai sirkulasi air seperti aliran sungai dan arus pasang surut
dapat mempengaruhi sebaran deposit yang dapat ditujukan oleh berbagai variasi komposisi ukuran
sediment. Hal ini di sebabkan oleh fraksi halus sedimen umumnya memiliki residen time yang relatif
lama di bandingkan dengan fraksi kasar seperti pasir.
Keberadaan DDT sangat umum di temukan di lingkungan perairan termasuk sedimen. Secara
keseluruhan informasi diatas memberikan indikasi bahwa konsentrasi DDE lebih tinggi dari pada DDD
yang berarti perubahan cenderung dalam kondisi aerobic.


c. Bioremediasi lingkungan tercemar pestisida
Dalam pengelolaannya, ketika pencemaran pestisida sudah terlanjur terjadi, alternatif pengolahan tanah
terkontaminasi pestisida dapat dilakukan dengan pendekatan biologis (bioremediasi). Secara teknis
perkembangan bioremediasi pestisida juga terkendala dengan kurang efektifnya agent biologis
mendegradasi pestisida sebagai akibat dari ketersediaan biologis (bioavaibility) pestisida didalam tanah
terbatas sehingga membatasi keberhasilan mikroba melakukan kontak dan mengurai pestisida target.
Guna memperbaiki performa bioremediasi pestisida, keberhasilan proses yang berlangsung dapat
tergantung pada :
1. Ketersediaan mikroorganisme agen bioremediasi,
2. Kondisi optimal bagi pertumbuhan dan aktifitas agen mikroba, dan
3. Peningkatan bioavaibilitas pestisida di tanah.

d. Mikroorganisme agent
Jenis jenis mikroorganisme lain yang sudah banyak diidentifikasi sebagai agent bioremediasi pestisida
adalah Phanerochaete, Nocardia, Pseudomonas, Alcaligenes, Acinetobacter, dan Burkholderia. Dalam
riset riset bioremediasi pestisida Phanerochaete chrysosporium dikenal mampu mendegradasi ragam
pestisida seperti DDT, DDE, PCB, Chlordane, Lindane, Aldrine, Dieldrine dan lain sebagainya.
Kendatipun tidak selalu ditemui disetiap jenis tanah dan tempat (kayu atau pohon yang lembab).

e. Peningkatan ketersediaan biologis pestisida di tanah.
Peran rumput laut dan/atau limbah hasil olahan rumput laut dalam kajian bioremediasi pestisida adalah
sebagai penyumbang ion Na+ yang ditenggarai dapat meningkatkan dispersi tanah, kedua adanya
senyawa senyawa organik terlarut pada rumput laut dapat meningkatkan kelarutan dari pestisida
sehingga lebih dapat terakses oleh agent mikroba dan terakhir adanya kandungan asam alginit dan
manitol yang dapat berperan sebagai agen pengikat (chelating) serta penggembur tanah. Penambahan
rumput laut ataupun limbah rumput laut dalam proses bioremediasi tanah terkontaminasi pestisida
dapat merubah sifat dari tanah. Rumput Laut dapat membantu penurunan konsentrasi pestisida (e.g.
DDT) melalui mekanisme pelepasan ion ion anorganik seperti Na+, Ca+, Mg+, dan K+ dan material
organik terlarut yang keluar dari ekstrak rumput laut (Kantachote et al., 2004).
Pestisida biasanya terikat dengan ikatan ikatan kimia dengan senyawa humus (humic substances) terlarut
sehingga bioavaibilitasnya menjadi rendah. Lebih lanjut, peningkatan kation (ion ion bermuatan positif,
+) anorganik dapat menyebabkan peningkatan ikatan ion ion pada tanah yang menyebabkan cross-
linking material material humus dengan pestisida tergantikan oleh kation kation tadi setelah didahului
dengan kondensasi humus. Hal tersebut dapat meningkatkan ketersediaan DDT secara biologis dalam
tanah untuk dapat termanfaatkan atau paling tidak terlibatkan didalam suatu reaksi dimana agen biologis
mikroorganisme aktif. Peningkatan degradasi pestisida dapat terjadi secara aerobik (adanya oksigen) dan
anerobik (tidak adanya oksigen).



BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan yang dapat ditarik sebelumnya serta melihat dari tujuan awal penulisan, maka
dapat diambil beberapa kesimpulan dari penulisan makalah Pencemaran Organoklorin ini, yaitu :
Keberadaan organoklorin dapat menimbulkan bahaya serius terhadap kesehatan dan lingkungan.
Sebuah fase-keluar dari produksi, penggunaan dan pembuangan bahan kimia tersebut ke lingkungan
harus dimulai segera.
Sebuah kebijakan kesehatan publik yang menekankan pencegahan penyakit harus mengarah pada
kebijakan lingkungan yang melarang pembuangan lingkungan menyebabkan penyakit-bahan kimia,
terutama organoklorin.

3.2 Saran
Mengingat kondisi yang ada saat ini, dimana seringkali kita menemukan masalah-masalah terhadap
penggunaan Organoklorin yang menimbulkan dampak pada kesehatan manusia sampai pada
pencemaran lingkungan, maka penulis menyarankan :
Perlunya kesadaran diri dari masing-masing individu untuk lebih meningkatkan pengetahuannya akan
penggunaan Organoklorin.
Pemerintah harus membatasi dengan tegas produksi serta penggunaan Organoklorin
Berusaha mengimbangi produksi bahan alami tanpa mengenyampingkannya.

http://penderitaanmahasiswatekniklingkungan.blogspot.com/2010_02_01_archive.html