Anda di halaman 1dari 9

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2014/2015




MODUL : Sedimentasi
PEMBIMBING :Iwan Ridwan



Praktikum : 24 September 2014
Penyerahan :
(Laporan)




Oleh:


Kelompok : V( lima)
Nama : 1. Meylin 121411018
2. Muhammad Nur Hidayat 121411019
Kelas : 3A
















PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2014
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pencemaran air saat ini sudah semakin tinggi karena limbah diindustri sudah semakin
banyak,limbah domestic maupun bencana alam.Oleh karena itu diperlukan proses pengolahan
air,salah satunya adalah proses pengendapan untuk memisahkan partikel dari cairannya yaitu
sedimentasi .Proses flokulasi dan koagulasi dapat dilakukan sebelum proses sedimentasi
dilakukan untuk memempercepat proses pengendapan.Presipitasi secara kimia mampu
memberikan efisiensi pemisahan total padatan tersuspensi sekitar 80-90%,penghilangan BOD
40-70 %,penghilangan COD 30-60%,dan penghilangan mikroba/bakteri sebesar 80-90%.
Terdapat banyak teknologi pengolahan air limbah. Teknologi pengolahan yang paling tepat
digunakan akan sangat baik dalam mengatasi air limbah tersebut. Salah satunya adalah proses
sedimentasi.


1.2 Tujuan Praktikum
1.Menentukan waktu tinggal pada proses sedimentasi
2.Menentuka flow rate pada proses sedimentasi
3.Menentukan efisiensi bak pengendapan




















BAB II

DASAR TEORI

Sedimentasi adalah pemisahan solid dari liquid menggunakan pengendapan secara
gravitasi untuk menyisihkan suspended solid. Umumnya proses sedimentasi digunakan
setelah proses koagulasi dan flokulasi yang berfungsi untuk destabilisasi dan
memperbesar gumpalan/ukuran partikel, sehingga mudah untuk diendapkan. Proses
koagulasi menggunakan PAC (Poly Aluminium Chloride) untuk mengikat kotoran atau
memutus rantai pada ikatan senyawa zat warna sehingga membentuk gumpalan.
Sedangkan proses flokulasi dengan cara menambah larutan polimer untuk memperbesar
gumpalan, sehingga relatif mudah untuk diendapkan.
Bak sedimentasi ada yang berbentuk lingkaran, bujur sangkar ataupun segi empat.
Bak berbentuk lingkaran umumnya berdiameter 10,7 45,7 m dan kedalaman 3 4,3 m.
Bak berbentuk bujur sangkar umumnya mempunyai lebar 10 hingga 79 m dan kedalaman
1,8 hingga 5,8 m.bak berbentuk segi empat umumnya mempunyai lebar 1,5 6 m,
panjang bak sampai 76 m dan kedalaman lebih dari 1,8 m (Reynold & Richards, 1996).
Bentuk bak sedimentasi :
Segi empat (rectangular). Pada bak ini, mengalir horisontal dari inlet menuju outlet,
sementara partikel mengendap ke bawah.

Lingkaran (circular) center feed. Pada bak ini, air masuk melalui pipa menuju inlet
bak dibagian tengak bak, kemudian air mengalir horisontal dari inlet menuju outlet
disekeliling bak, sementara partikel mngendap ke bawah.


Lingaran (circular) periferal feed. Pada bak ini, air masuk melalui sekeliling
lingkaran dan secara horisontal mengalir menuju ke outlet di bagian tengah lingkaran,
sementara partikel mengendap ke bawah.


Bagian-bagian bak sedimentasi :
a) Inlet : tempat air masuk ke dalam bak
b) Zona pengendapan : tempat flok/partikel mengalami proses pengendapan
c) Ruang lumpur : tempat lumpur mengumpul sebelum diambil ke luar bak
d) Outlet : tempat dimana air akan meninggalkan bak
Berdasarkan konsentrasi dan kecenderungan partikel berinteraksi, proses sedimentasi
terbagi atas tiga macam:
1) Sedimentasi TIpe I/Plain Settling/Discrete particle
Merupakan pengendapan partikel tanpa menggunakan koagulan. Tujuan dari
unit ini adalah menurunkan kekeruhan air baku dan digunakan pada grit chamber.
Dalam perhitungan dimensi efektif bak, faktor-faktor yang
mempengaruhiperformance bak seperti turbulensi pada inlet dan outlet, pusaran arus
lokal, pengumpulan lumpur, besar nilai G sehubungan dengan penggunaan
perlengkapan penyisihan lumpur dan faktor lain diabaikan untuk
menghitungperformance bak yang lebih sering disebut dengan ideal settling basin.
2) Sedimentasi Tipe II (Flocculant Settling)
Pengendapan material koloid dan solid tersuspensi terjadi melalui adanya
penambahan koagulan, biasanya digunakan untuk mengendapkan flok-flok kimia
setelah proses koagulasi dan flokulasi.
Pengendapan partikel flokulen akan lebih efisien pada ketinggian bak yang
relatif kecil. Karena tidak memungkinkan untuk membuat bak yang luas dengan
ketinggian minimum, atau membagi ketinggian bak menjadi beberapa kompartemen,
maka alternatif terbaik untuk meningkatkan efisiensi pengendapan bak adalah dengan
memasang tube settler pada bagian atas bak pengendapan untuk menahan flokflok
yang terbentuk.
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan efisiensi bak pengendapan adalah:
Luas bidang pengendapan
Penggunaan baffle pada bak sedimentasi
Mendangkalkan bak
Pemasangan plat miring
3) Hindered Settling (Zone Settling)
Merupakan pengendapan dengan konsentrasi koloid dan partikel tersuspensi
adalah sedang, di mana partikel saling berdekatan sehingga gaya antar pertikel
menghalangi pengendapan paertikel-paertikel di sebelahnya. Partikel berada pada posisi
yang relatif tetap satu sama lain dan semuanya mengendap pada suatu kecepatan yang
konstan. Hal ini mengakibatkan massa pertikel mengendap sebagai suatu zona, dan
menimbulkan suatu permukaan kontak antara solid danliquid.
Jenis sedimentasi yang umum digunakan pada pengolahan air bersih adalah
sedimentasi tipe satu dan dua, sedangkan jenis ketiga lebih umum digunakan pada
pengolahan air buangan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju sedimentasi :
Banyaknya lumpur
Luas bak pengendapan
Kedalaman bak pengendapan












BAB III
METODOOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Jenis Alat Bahan
1.Cawan 90 gram Bentonit
2.Turbidy meter 90 Liter air kran
3.Bak sedimentasi
lamela clarifier
45 gram PAC
4.Gelas corong
5.Gelas kimia
6.Tabung erlemenyer
7.Oven
8.Neraca analitik
9.Kertas saring
10.Gelas ukur













3.2 Cara Kerja













































Melarutkan bentonit 90 gram kedalam 90 liter air yang ada di tanki
umpan
Memasukan PAC kedalam tangki koagulan
Menghitung nilai kekeruhan awal dengan Turbidy meter pada bak
sedimentasi lamela clarifier

Menyaring tiap sampel dengan kertas saring kemudian sampel
dimasukan kedalam oven 105 C
Mengambil sampel tiap 5 menit masing-masing sebanyak 100 ml pada
ujung bak sedimentasi yang paling awal dan keluaran akhir
Menimbang berat kering tiap sampel awal dan akhir
Menentukan nilai kekeruhan dengan turbidity meter tiap sampel
3.3 Data ang diambil
Jenis dan kebutuhan koagulan yang ditambahkan PAC sebanyak 45 gram
Kekeruhan awal =35,67 NTU
Kekeruhan awal Kekeruhan akhir

10
15