Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA FARMASI









Disusun Oleh :
Nama : Fika Ardiani
No. Mahasiswa : 12.0310
Tgl Praktikum : 8 Oktober 2013
Hari : Selasa
Dosen Pembimbing : Fransiska Ayuningtyas W., M.Sc.,Apt
Siska Devi, S.Farm, Apt



LABORATORIUM FISIKA FARMASI
AKADEMI FARMASI THERESIANA
SEMARANG
2013
PENENTUAN VISKOSITAS LARUTAN NEWTON
DENGAN VISKOSIMETER OSTWALD

I. Tujuan
1. Mempelajari cara penentuan viskositas larutan newton dengan viskosimeter
Ostwald.
2. Mempelajari pengaruh kadar laruta terhadap viskositas larutan.

II. Dasar Teori
Rheologi, berasal dari bahasa Yunani, mengalir (rheo) dan logos (ilmu),
digunakan istilah ini untuk pertama kali oleh Bingham dan Crawford, untuk
menggambarkan aliran cairan dan deormasi dari padatan. Viskositas adalah suatu
pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas, akan
makin besar tahanannya. (Martin, 1990).
Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan untuk mengalir dari suatu system
yang mendapat suatu tekanan. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang
dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu (Moechtar, 1989)
Pada hokum aliran viskositas, Newton menyatakan hubungan antara gaya
gaya mekanika dari suatu aliran viskos sebagai : geseran dalam (viskositas) fluida
adalah konstan sehubungan dengan gesekannya. Hubungan tersebut berlaku untuk
fluida Newtonian, dimana perbandingan antara tegangan geser (s) dengan kecepatan
geser (g) nya konstan. Parameter inilah yang disebut dengan viskositas. Aliran
viskositas dapat digambarkan dengan dua buah bidang sejajar yang dilapisi fluida tipis
diantara kedua bidang tersebut. Suatu bidang permukaan bawah yang tetap dibatasi
oleh lapisan fluida setebal h, sejajar dengan suatu bidang permukaan atas yang bergerak
seluas A. Jika bidang bagian atas itu ringan, yang berarti tidak memberikan beban pada
lapisan fluida dibawahnya, maka tidak ada gaya tekan yang bekerja pada lapisan fluida
(Dugdale, 1986)
Viskositas mula-mula diselidiki oleh Newton, yaitu dengan mensimulasikan zat
cair.Zat cair terdiri dari lapisan-lapisan molekul yang sejajar satu sama lain.Lapisan
terbawah tetap diam, sedangkan lapisan di atasnya bergerak dengan
kecepatankonstan,sehingga setiap lapisan akan bergerak dengan kecepatan yang
berbanding langsung denganjaraknya terhadap lapisan terbawah yang tetap. (Moechtar,
1990)
Viskometer rotasi tipe Brookfield, dapat dilakukan pengukuran pada beberapa
harga kecepatan geser sehingga diperoleh rheogram yang sempurna. Viskosimeter jenis
ini dapat juga digunakan baik untuk menentukan viskositas dan rheologi cairan Newton
maupun non Newton. Yang termasuk ke dalam jenis viskosimeter ini adalah
viskosimeter rotasi tipe Stormer, Brookfield, Rotovico, dan lain-lain. (Moechtar, 1990)
Viskometer kapiler / Ostwald. Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan
mengukur waktu yang dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda
ketika mengalir karena gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan
yang diuji dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang
viskositasnya sudah diketahui (biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut
(Moechtar,1990).

III. Alat dan Bahan
Alat :
1. Piknometer 5. Stopwatch 9. Tissue
2. Viscometer Brookfield 6. Labu takar
3. Viscometer Ostwald 7. Pipet ukur 5 ml
4. Beakerglass 8. Filler
Bahan :
1. Air
2. Air es
3. Alcohol
4. Larutan gula 5%, 10%, 20%, dan x%

IV. Cara Kerja
A. Cara Kerja Pembuatan Larutan
Ditimbang bahan (gula) yang akan dibuat larutan

Dilarutkan dalam aquadest di dalam labu takar 100 ml

Dihomogenkan

Ditambahkan aquadest ad tanda tera 100 ml

B. Cara Kerja Viskometer Brookfield
Diukur sediaan dalam beakerglass dengan viscometer Brookfield

Dipasang spindle yang sesuai, atur kecepatan (Rpm)

Dicelupkan spindle ke dalam beakerglass yang berisi larutan

Dinyalakan viscometer, dicatat angka yang muncul pada viscometer

C. Cara Kerja Penentuan Volume Piknometer
Ditimbang piknometer kosong yang bersih dan kering dengan seksama.

Diisi piknometer dengan air hingga penuh, lalu rendam dalam air es hingga suhu
2C di bawah suhu percobaan.

Ditutup piknometer, biarkan pipa kapiler terbuka dan suhu air naik sampai mencapai
suhu percobaan lalu tutup pipa kapiler piknometer.

Dibiarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar. Air yang menempel
diusap dengan tissue, timbang piknometer dengan seksama, catat hasilnya.

Dilakukan perhitungan :
Bobot piknometer + air = A (gram)
Bobot piknometer kosong = B (gram)
Bobot air = C (gram)
Kerapatan air pada suhu percobaan (tabel) = air
Volume piknometer (Vp) = C (gram)
air (gram/ml)

Dibersihkan piknometer dengan aquadest dan alcohol, keringkan

Piknometer siap digunakan untuk larutan lainnya


D. Cara Kerja Viskometer Ostwald
Disiapkan viscometer Ostwald yang bersih dan kering

Dipipet 5 ml larutan ke dalam viscometer dengan menggunakan pipet volume
(masukkan ke dalam pipa besar viscometer ostwald)

Dihisap larutan dengan menggunakan filler sampai melewati dua batas

Disiapkan stopwatch, kendurkan cairan sampai batas pertama lalu mulai penghitungan

Dicatat hasil dan lakukan penghitungan dengan rumus

V. Hasil dan Pengolahan Data
A. Viscometer Brookfield
- Larutan air - Larutan gula 20 %
Spindle 61 Spindle 61
0,3 cP 1 cP
50 Rpm ; 04 % 50 Rpm ; 0,8 %
- Larutan Gula 5% - Larutan gula X %
Spindle 61 Spindle 61
0,6 Cp 1,1 cP
50 Rpm 50 Rpm ; 0,8 %
- Larutan gula 10 %
Spindle 61
0,7 cP
50 Rpm ; 0,6 %

B. Penentuan Volume Piknometer pada Suhu Percobaan
Suhu percobaan : 25C
Piknometer kosong (pikno+thermometer+tutup pipa kapiler) = 34,06 gram
Piknometer + air = 58,70 gram
Piknometer + gula 10 % = 59,63 gram
Piknometer + gula 20 % = 60,58 gram
Piknometer + gula X % = 59,40 gram


C. Viscometer Ostwald
Suhu percobaan : 25C
Waktu yang dibutuhkan (detik)
No. Nama Larutan Replikasi
I II III Rata - rata
1 Air 29,31 28,19 28,60 28,7
2 Alcohol 47,87 47,63 48,38 27,51
3 Gula 5 % 28,22 27,19 27,13 27,51
4 Gula 10 % 37,53 36,66 35,96 36,72
5 Gula 20 % 44,62 45 45,36 44,99
6 Gula X % 31,59 31,97 33,75 32,44

Perhitungan :
1. Air
Bobot piknometer + air = 58,70 g
Bobot piknometer kosong = 34,06 g
Bobot air = 24,64 g
Kerapatan air pada suhu percobaan =
air
= 0,99602 g/ml (Anonim,1995)
Volume piknometer (Vp) = bobot air

air

= 24,64 g : 0,99602 g/ml
= 24,74 ml
2. Larutan gula 10 %
Bobot piknometer + larutan gula 10% = 59,63 g
Bobot piknometer kosong = 34,06 g
Bobot larutan gula 10% = 25,57 g
Kerapatan air pada suhu percobaan =
air
= 0,99602 g/ml (Anonim,1995)
Kerapatan gula (
gula 10%
) = bobot gula 10%
Vp
= 25,57 g : 24,74 ml
= 1,03 g/ml
Perhitungan viskositas :
gula 10% =
gula 10%
x t
gula 10%


air
air
x t air
gula = 1,03 x 36,72 x 0,8904
0,99602 x 28,7
= 1,18 cP

3. Larutan gula 20 %
Bobot piknometer + larutan gula 20% = 60,58 g
Bobot piknometer kosong = 34,06 g
Bobot larutan gula 20% = 26,52 g
Kerapatan air pada suhu percobaan =
air
= 0,99602 g/ml (Anonim,1995)
Kerapatan gula (
gula 20%
) = bobot gula 20%
Vp
= 26,52 g : 24,74 ml
= 1,07 g/ml
Perhitungan viskositas :
gula 20% =
gula 20%
x t
gula 20%


air
air
x t air
gula = 1,07 x 44,99 x 0,8904
0,99602 x 28,7
= 1,50 cP

4. Larutan gula X %
Bobot piknometer + larutan gula 20% = 59,40 g
Bobot piknometer kosong = 34,06 g
Bobot larutan gula X% = 25,34 g
Kerapatan air pada suhu percobaan =
air
= 0,99602 g/ml (Anonim,1995)
Kerapatan gula (
gula X%
) = bobot gula X%
Vp
= 25,34 g : 24,74 ml
= 1,02 g/ml

Perhitungan viskositas :
gula X% =
gula X%
x t
gula X%


air
air
x t air
gula = 1,02 x 32,44 x 0,8904
0,99602 x 28,7
= 1,03 cP

A = 23,375
B = 1,117
R = 0,975
y = bx +a
32,44 = 1,117x + 23,375
9,065 = 1,117x
x = 8,12
% sebenarnya = 7,5 %
KR = zat x - % sebenarnya = 8,12 7,5 = 0,085%
% sebenarnya 7,5

VI. Pembahasan
Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari cara penentuan viskositas
larutan newton dengan viscometer Brookfield dan Ostwald, serta mempelajari
pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan.
Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliran fluida yang merupakan
gesekan antara molekul-molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan yang
mudah mengalir, dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan sebaliknya bahan
yang sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang tinggi. Viskositas dalam zat
cair, yang berperan adalah gaya kohesi antarpartikel zat cair.
Besarnya viskositas larutan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tekanan
temperatur, ukuran dan berat molekul, serta kehadiran zat lain. Viskositas cairan naik
dengan naiknya tekanan. Viskositas akan turun dengan naiknya suhu. Besaran
viskositas berbanding terbalik dengan perubahan temperature. Kenaikan temperature
akan melemahkan ikatan antar molekul suatu jenis cairan sehingga akan menurunkan
nila viskositasnya. Selain itu, viskositas naik dengan naiknya berat molekul.
Pada percobaan kali ini larutan yang ditentukan viskositasnya adalah larutan
gula dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu 5 %, 10 %, 20 %, dan X %, dimana
konsentrasi X belum diketahui. Bahan lain yang diukur viskositasnya adalah air yang
berfungsi sebagai pembanding dan alkohol. Guna divariasikan kadar gula yaitu untuk
mengetahui bagaimana pengaruh kadar atau konsetrasi terhadap viskositas larutan
tersebut. Digunakan viscometer Brookfield dan Ostwald untuk menentukan viskositas
larutan, sehingga dapat dibandingkan hasil pengukuran viskositas larutan dengan
menggunakan kedua viskometer tersebut.
Pada penentuan viskositas dengan menggunakan viscometer Brookfield,
langkah awal yakni spindle dipasang pada gantungan spindle untuk
mengukur kecepatan geser (shearing stress) dari suatu larutan. Pemilihan spindle
tergantung pada viskositasnya cairan yang akan di uji, semakin besar viskositas dari
suatu cairan uji maka spindle yang digunakan makin kecil untuk mempermudah
proses pengukuran sifat aliran. Larutan yang akan diukur ditempatkan pada gelas
beker. Turunkan spindle sedemikian rupa pada cairan tadi sehingga batas spindle
tercelup ke dalam cairan tanpa menyentuh dasar maupun dinding dari gelas beker
karena jika spindel menyentuh dasar akan terjadi gesekan yang akan memberi gaya
yang menghambat perputaran spindle dan dapat merusak alat. Hal ini menyebabkan
pengukuran menjadi kurang tepat. Pada percobaan ini didapatkan viskositas larutan
gula 5 %, 10%, 20%, dan X% dengan spindle 61 dan kecepatan 50 Rpm berturut
turut adalah 0,6 cP, 0,7 cP, 1 cP, dan 1,1cP. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka
viskositas akan semakin tinggi pula. Pada percobaan terjadi ketidaktepatan data, yaitu
jika telah diketahui bahwa larutan gula X% memiliki konsentrasi 7,5 %, dan oleh
viscometer Brookfield diperoleh viskositas 1,1 cP, yang justru lebih tinggi dari
viskositas larutan gula 10 % dan 20 % . Hal ini terjadi karena ketidaktepatan
pengukuran, tidak dilakukannya replikasi pengukuran viskositas sebanyak 3 kali
dengan larutan yang baru.
Pengukuran kerapatan dilakukan dengan menggunakan piknometer
untuk memperoleh densitas masing-masing larutan. Pengukuran kerapatan dilakukan
dengan membagi berat dengan volume dari sampel dalam piknometer sehingga didapatkan
densitas masing masing bahan yaitu larutan gula 5% sebesar 1,03g/mL, gula 20% sebesar
1,07g/mL, dan glukosa X% sebesar 1,02 g/mL.
Pengukuran viskositas sampel percobaan dilakukan dengan mengukur waktu
yang diperlukan larutan untuk mengalir diantara 2 tanda yaitu garis atas dan bawah.
Besarnya waktu yang diperlukan oleh suatu larutan untuk mengalir dari garis atas ke
bawah dapat menentukan berapa besar viskositas suatu cairan atau fluida. Secara
teori, semakin lama waktu yang diperlukan untuk mengalirnya suatu fluida dari garis
atas ke bawah, maka semakin besar pula nilai viskositas suatu cairan. Hal ini sesuai
dengan data pengamatan yaitu larutan gula dengan konsentrasi yang diperoleh,
dimana larutan gula yang mempunyai konsentrasi besar memerlukan waktu yang
relative lebih lama untuk mengalir dalam pipa viscometer Ostwald dibanding dengan
larutan gula yang mempunyai konsentrasi yang lebih rendah sehingga cairan yang memiliki
konsentrasi tinggi cenderung memiliki nilai viskositas yang besar pula.
Pengukuran tersebut dilakukan sebanyak tiga kali (triplo) agar diperoleh data
yang lebih akurat. Waktu alir dari pengukuran masing-masing sampel yaitu air dengan
waktu 28,7 detik, alcohol dengan waktu 47,96 detik, larutan gula 5% dengan waktu
27,51 detik, larutan gula 10% dengan waktu 36,72 detik , larutan gula 20% dengan
waktu 44,99 detik, dan larutan gula X% dengan waktu 32,44 detik. Masing-masing
sampel memiliki waktu alir yang berbeda. Hal ini disebabkan karena perbedaan
kekentalan atau konsentrasi dari larutan gula, air dan alcohol.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa semakin tinggi konsentrasi
larutan (gula 5 %, 10 %, dan 20 %) maka semakin lama pula waktu alir yang
diperlukan. Menurut teori, viskositas suatu cairan akan bertambah dengan adanya
peningkatan konsentrasi. Waktu alir alcohol yaitu 47,96 detik, lebih besar dari waktu
alir larutan gula 20 %, hal ini karena gaya gravitasi pada alcohol dihambat oleh sifat
alcohol yang mudah menguap. Terjadi ketidaktepatan data pada waktu alir air dan
larutan gula 5%, yang seharusnya waktu alir air lebih rendah dibanding larutan gula
5%. Hal ini terjadi karena ketidaktepatan menekan stopwatch atau karena adanya
cairan lain pada pipa viscometer Ostwald (pipa belum kering) yang dapat
menyebabkan hasil tidak valid.
Dengan mengetahui nilai viskositas dari masing masing sampel dapat
diketahui bahwa viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan
dengan konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena
konsentrasi larutan menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan
volume. Semakin banyak partikel terlarut, gesekan antarpartikel semakin tinggi dan
viskositasnya semakin tinggi pula.


VII. Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan pembahasan pada percobaan ini, maka dapatdisimpulkan bahwa :
1. Besarnya nilai viskositas suatu cairan dapat ditentukan dengan metode viscometer Brookfield
dimana cairan diukur dengan menggunakan spindle tertentu yang berputar, dan viscometer
Ostwald dimana cairan yang akan diukur viskositasnya dimasukkan ke dalam pipa A kemudian
dibawa ke B dan dibiarkan mengalir serta diukur waktu alirnya dari tanda garis atas ke garis bawah.
2. Pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan yaitu berbanding lurus. Semakin tinggi konsentrasi
larutannya, maka akan semakin tinggi pula viskositasnya.


VIII. Daftar Pustaka
Anonim, 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV, Depkes RI, Jakarta
Dugdale, R.H.,1986. Mekanika Fluida, edisi III, Erlangga, Jarkarta
Martin, A., 1993, Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta
Moechtar, 1990. Farmasi Fisik, UGM Press, Yogyakarta



Semarang, Oktober 2013
Dosen Pembimbing Praktikan




Fika Ardiani