Anda di halaman 1dari 8

Polimer konduktif

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah
dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Polypropylene

Nama IUPAC[sembunyikan]
Poly(propane-1,2-diyl)
Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku
pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)
Sangkalan dan referensi
Umumnya polimer dikenal sebagai materi yang bersifat non konduktif. Penelitian polimer
telah menemukan berbagai polimer yang bersifat konduktif maupun semi-konduktif. Polimer
konduktif adalah polimer yang dapat menghantarkan arus listrik. Hantaran listrik terjadi
karena ada elektron ikatan terdelokalisasi, yang mempunyai struktur pita seperti silikon.
Polimer konduktif kebanyakan semikonduktor, karena struktur pita mirip silicon. Tapi ada
beberapa polimer yang mempunyai gap pita kosong sehingga bersifat seperti logam.
Daftar isi
[sembunyikan]
1 Sejarah
2 Sifat polimer konduktif
3 Konduktifitas listrik cis dan trans polyacetilen
4 Keuntungan dari polimer konduktif
5 Aplikasi polimer konduktif dalam kehidupan sehari hari
6 Referensi
[sunting] Sejarah
Pada oktober 2000 Alan Fleeger dan Shirakawa memperoleh penghargaan nobel kimia
dalam kerjanya dibidang polimer konduktif. Pekerjaan dengan polimer ini dimulai pada
polyacetilen. Polimer banyak dipelajari karena struktur, sifat dan mekanismenya yang unik
dan atraktif. Penemuan polimer yang dapat menghantarkan arus listrik, dikenal dengan
polimer konduktif pada pertengahan tahun 1970-an dan telah melahirkan penelitian yang
intensif yang menunjukkan sifat-sifat elektrik pada polimer yang berkisar dari insulating
(tidak dapat menghantar), semi konduktif sampai konduktif. Material jenis baru yang bersifat
semikonduktif dan konduktif ini dapat disebut gabungan sifat-sifat elektrik dan optic
semikonduktor anorganik dengan polimer yang memiliki kelenturan mekanis. Akan tetapi
mekanisme pembawa muatan dan transport muatan pada polimer semikonduktif memiliki
perbedaan mendasar dengan semikonduktor anorganik.
[sunting] Sifat polimer konduktif
Polimer semikonduktif dan konduktif adalah polimer terkonjugasi yang menunjukkan
perubahan ikatan tunggal dan ganda antara atom-atom karbon pada rantai utama polimer.
Ikatan ganda diperoleh dari karbon yang memiliki empat elektron valensi, namun pada
molekul terkonjugasi hanya memiliki tiga (kadang-kadang dua) atom lain. Elektron yang
tersisa membentuk ikatan , elektron yang terdelokalisasi pada seluruh molekul. Suatu zat
dapat bersifat polimer konduktif jika mempunyai ikatan rangkap yang terkonjugasi. Contoh
dari polimer terkonjugasi adalah plastik tradisonal (polyethylen), sedangkan polimer
konduktif antara lain : polyacetilen, polpyrol, polytiopen, polyaniline dan lain lain.


Pembuatan Polyacetilen
Polimer konduktif dapat dibuat dari polyacetilen. Polyacetilen merupakan polimer
terkonjugasi sederhana yang mempunyai dua bentuk: yaitu bentuk cis dan trans polyacetilen.
Sedangkan pembuatan polyacetilen dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
1. cara pemanasan
2. cara dopping.
Polyacetilen bentuk trans dibuat dengan kondisi temperatur yang berbeda. Katalis Ti(O-n-
C
4
H
9
)4-(C
2
H
5
)
3
Al.
Temperatur (
o
C) % trans
150 100
100 92,5
50 67,6
18 40,7
0 21,4
-18 4,6
-78 1,9
Temperatur yang menunjukan proses isomerisasi irreversibel dengan bentuk cis terjadi pada
temperatur yang lebih tinggi pada 145
o
C menghasilkan bentuk trans. Bentuk cis secara
termodinamika kurang stabil dibandingkan dengan bentuk trans. Pada temperatur tinggi, dan
secara spontan isomer cis dapat berubah menjadi trans.
Konduktifitas polyacetilen dapat ditingkatkan dengan proses halogenasi. Struktur
polyacetilen dapat mengalami resonansi sehingga konduktifitasnya menjadi lebih besar.
Adanya resonansi pada poliasetilen menyebabkan material dapat menghantarkan arus listrik.
Bila klorin ditambahkan pada film, ternyata tidak menghasilkan spektrum garis, tetapi reaksi
adisi klorin menghasilkan spektrum polyacetilen yang jelas. Sekarang dikenal doping-
induced pita IR yang disusun dari 3 pita yaitu pada 1397, 1288 dan 888 cm
-1
, absorbsi kuat
jelas dibanding undoped polymer.
[sunting] Konduktifitas listrik cis dan trans polyacetilen
Trans polyacetilen mempunyai konduktifitas listrik yang lebih tinggi, karena trans
polyacetilen mempunyai dua degenerasi keadaan dasar. Untuk memperbesar hantaran listrik
polimer terkonjuasi dapat dilakukan dengan cara dopping. Cis dan trans polyacetilen
merupakan semikonduktor dengan konduktifitas relatif rendah. Bahan polyacetilen dapat
didoping untuk membentuk semikonduktor tipe p atau tipe n. Pada doping tinggi tingkat
efektifitas sama dengan bahan logam.
[sunting] Keuntungan dari polimer konduktif
1. Merupakan gabungan dari sifat logam dan plastik
2. Konduktifitas tinggi
3. Terang/ tembus cahaya/ transparan
4. Prosesnya mudah dan tidak rumit
5. Harganya murah
6. Sintesisnya bisa dipilih
[sunting] Aplikasi polimer konduktif dalam kehidupan
sehari hari
1. Full colour display
2. Ink-jet printing
3. Comercial products (Norelco spectra 8894 XL; Philips/CDT)
4. Organic Solar Cells


Sejarah Polimer
Sejarah Polymer
Sebelum awal tahun 1920an, Herman Staudinger, menggagas untuk membuat makro
molekul yang terdiri dari 10,000 lebih atom. Dia membuat dan merumuskan struktur polymetric dari
karet, berdasarkan dari pengulangan unit-unit monomer isoprene..
Dalam hal ini polymer dan monomer terbentuk dari bahasa Yunani yaitu Poly(banyak) dan
merous(bagian). Jadi polymer adalah struktur yang terbuat dari banyak unit. Kita bisa
membayangkan bahwa polymer merupakan sebuah rantai dimana setiap bagian dari rantai tersebut
terdiri dari karbon dan hidrogen. Kemudian bagian rantai tersebut bergabung menjadi
makromolekul yang dinamakan polymer.
Perkembangan teknologi polymer dimulai dari revolusi industri. Dimana Charles Goodyear
berhasil memproduksi bentuk dari karet alami melalui proses yang dinamakan vulkanaizing. Tahun
1930 dengan dikembangkan vinyl, polyester, neoprene dan nylon perkembangan polymer sangat
pesat hingga sekarang.
Fiber seperti silk, wool dan cotton merupakan contoh dari polymer alami yang telah kita
gunakan ribuan tahun. Kemudian perkembangan teknologi polymer pada abad ini, membuat kita
menggantinya dengan fiber sintetic seperti rayon, nylon dan acrylic. Rayon merupakan modifikasi
dari material pembentuk polymer alami yaitu selulose, dimana hasil modifikasinya juga telah
diterapkan untuk membuat plastik dan film komersil. Syntetic polymer seperti polyoleins,polyester,
acrylics, nylons dan epoxy resins diaplikasikanpada plestik, film, adhesive dan lapisan pelindung. Dan
kadang digunakan material biologi seperti proteins, deoxyribonucleic acid DNA, dan
mucopolysaccarides.



Sejarah Konsep Polimer
Kata polimer pertama kali digunakan oleh kimiawan Swedia, Berzelius pada tahun 1833. Sepanjang
tahun 1839 dilaporkan mengenai polimerisasi stirena, dan selama 1860-an dipublikasikan sintesis
poli (eltilena glikol) dan poli (etilena suksinat) bahkan dengan struktur-struktur yang tepat.

Bahan plastik buatan pertama kali dikembangkan pada abad ke-19, dan saat ini di awal abad ke-21
jenis bahan ini telah ada disekeliling kita dalam bentuk dan kegunaan yang sangat beragam.
Cellulose nitrate merupakan salah satu jenis bahan plastik yang pertama dikembangkan. Bahan ini
ditemukan oleh Alexander Parkes dipertengahan abad ke-19 dan pertama kali dipamerkan pada
suatu Pameran Akbar di London tahun 1862 dalam bentuk sol sepatu dan bola-bola biliard. Pada
tahun 1869 John Wesley Hyatt mengembangkan bahan Cellulose nitrate ini lebih lanjut dengan cara
mencampurkannya dengan camphor menjadi bahan baru yang kemudian diberi nama Celluloid.
Bahan ini menjadi sangat populer digunakan pada produk-produk sisir rambut, kancing pakaian dan
gagang pisau.

Pada era awal ini, bahan-bahan polimer baru dikembangkan melalui proses modifikasi kimiawi dari
bahan polimer alami, dimana bahan rayon (di kenal juga sebagai sutera buatan) merupakan contoh
yang paling terkenal. Bahan rayon yang tergolong sebagai bahan semi-sintetik ini dibuat dari bahan
dasar selulosa yang dimodifikasi secara kimiawi dan hingga saat ini masih digunakan pada produk-
produk karpet, pakaian dan dapat pula diproses menjadi lembaran yang tansparan (cellophane).
Salah satu bahan sintetik yang pertama kali dikembangkan adalah Bakelite, yang ditemukan pada
tahun 1909 oleh kimiawan kelahiran Belgia Leo Baekelanddan, dan dikenal komersial sebagai
bakelit.Bakelite adalah bahan yang saat ini popular dengan nama Phenol formaldehyde, dibuat dari
phenol dan formaldehyde yang menghasilkan bahan polimer dengan sifat-sifat keras, ringan, kuat,
tahan panas, dapat dicetak dan merupakan isolator listrik yang sangat baik, dan karenanya bahan ini
banyak dipakai dalam berbagai aplikasi di industri listrik. Bahan plastik terus mengalami
perkembangan sepanjang tahun 1920-an dan 1930-an.


Biokimia diawali dengan studi zat yang diambil dari tanaman dan hewan. Pada sekitar tahun
1800 banyak zat demikian diketahui, dan kimia baru mulai membantu fisiologi dalam
memahami fungsi biologis. Sifat prinsip kategori kimia makanan protein, lemak dan
karbohidrat mulai dipelajari pada paruh pertama abad 19. Pada akhir abad ini, peran enzim
sebagai katalis organik ditemukan, dan asam amino dinilai sebagai penyusun protein.
Kimiawan cerdas dari Jerman, Emil Fischer menemukan sifat dan struktur dari banyak
karbohidrat dan protein. Pengumuman ditemukannya vitamin tahun 1912 secara independen
oleh biokimiawan Amerika kelahiran Polandia, Casimir Funk, dan biokimiawan Inggris,
Frederick Hopkins, memulai revolusi biokimia dan nutrisi manusia. Secara bertahap, detail
dari metabolisme perantara cara dimana tubuh menggunakan zat nutrisi untuk energi,
pertumbuhan dan perbaikan jaringan dijelajahi. Mungkin contoh yang paling mengesankan
adalah karya biokimiawan Inggris kelahiran Jerman, Hans Krebs, yang menemukan siklus
asam trikarboksilat atau siklus Krebs, tahun 1930an.

Emil Fischer, penemu banyak struktur dan sifat karbohidrat dan protein
Namun penemuan biokimia abad ke-20 yang paling dramatis adalah pengungkapan struktur
DNA (asam deoksiribo nukleat) oleh genetikawan Amerika, James Watson, dan biofisikawan
Inggris, Francis Crick tahun 1953. Pengetahuan baru mengenai molekul heliks ganda yang
memuat sandi genetik memberi mata rantai dasar bagi kimia dan biologi, sebuah jembatan
yang terus dipadati lalu lintas pengetahuan. Huruf-huruf individual yang menyusun sandi
empat nukleotida bernama adenin, guanin, sitosin dan timin ditemukan satu abad lalu,
namun hanya pada mendekati abad ke-20 bisa diungkapkan urutan huruf ini ada pada gen
yang menyusun DNA secara tepat. Bulan Juni 2000, wakil dari Proyek Genom Manusia yang
didanai pemerintah Amerika Serikat dan Celera Genomics, sebuah perusahaan swasta di
Rockville, Md., secara serentak mengumumkan pemecahan sandi yang hampir lengkap
secara independen atas lebih dari tiga miliar nukleotida di genom manusia. Namun, kedua
kelompok ini menekankan kalau pencapaian monumental ini dalam sudut pandang yang lebih
luas hanyalah akhir dari balapan menuju garis start.
DNA tentu saja merupakan makromolekul. Dan pemahaman kategori penting senyawa kimia
ini di prakondisikan oleh peristiwa-peristiwa barusan. Pati, selulosa, protein, dan karet adalah
contoh makromolekul lainnya, atau polimer yang sangat besar. Kata polimer (berarti bagian
ganda) diberikan oleh Berzelius tahun 1830, namun pada abad ke-19 hanya diterapkan pada
kasus khusus seperti etilen (C
2
H
4
) versus butilen (C
4
H
8
). Hanya di tahun 1920an kimiawan
Jerman, Hermann Staudinger, menekankan dengan pasti kalau karet dan karbohidrat
kompleks tersebut adalah molekul raksasa. Ia memberi nama makromolekul, dengan melihat
polimer sebagai satuan-satuan yang serupa dihubungkan kepala ke ekor oleh ratusan bagian
dan diikat dengan ikatan kimia biasa.

Hermann Staudinger, menemukan kalau karet dan karbohidrat adalah makromolekul
Karya empiris pada polimer telah lama dilakukan sebelum kontribusi Staudinger.
Nitroselulosa dipakai dalam produksi bubuk mesiu tanpa bau, dan campuran nitroselulosa
dengan senyawa organik lainnya membawa pada penggunaan komersial pertama: collodion,
xylonite dan seluloid. Seluloid sendiri adalah jenis plastik paling awal. Plastik sintetik total
pertama dipatenkan oleh Leo Baekeland tahun 1909 dan dinamakan Bakelit. Banyak jenis
plastik baru muncul tahun 1920an, 30an dan 40an, termasuk versi polimerisasi dari asam
akrilik (sejenis asam karboksilat), vinil klorida, stiren, etilen dan banyak lagi. Nilon
penemuan Wallace Carother menarik banyak perhatian di masa Perang Dunia II berlangsung.
Usaha besar juga diberikan pada pengembangan pengganti karet yang saat itu merupakan
sumber daya alam yang langka karena pasokan yang kecil saat Perang berlangsung. Pada
masa Perang Dunia I, para Kimiawan Jerman memiliki bahan pengganti, walaupun jauh dari
memuaskan. Pengganti karet pertama yang sangat memuaskan dihasilkan awal 1930an dan
menjadi sangat penting di masa Perang Dunia II.
Selama masa antar perang, peran Jerman sebagai pemimpin perkembangan kimia bergeser.
Hal ini terutama akibat perang 1914-18 yang membuat negara sekutu mulai berhati-hati
dalam membangun kerja sama untuk mencegah ketergantungan mereka pada industri kimia
Jerman. Pewarna, obat, pupuk, bahan peledak, fotokimia, kimia makanan (seperti bahan
kimia untuk penyedap makanan, pewarna makanan dan pengawetan makanan), kimia berat,
dan material strategis dari aneka jenis dipasok secara internasional sebelum perang sebagian
besar oleh perusahaan kimia jerman, dan, saat pasokan bahan vital ini terpotong tahun 1914,
negara sekutu harus berusaha mencari penggantinya. Salah satu contoh mengesankan adalah
kemunculan gas klorin dan racun lainnya, di awali tahun 1915, sebagai senjata kimia. Setelah
perang selesai, kimia dipelajari dengan penuh semangat di Inggris, Perancis dan Amerika
Serikat, dan tahun-tahun antar perang menjadi tahun dimana Amerika Serikat bangkit
menjadi kekuatan dunia dalam sains, terutama kimia.
Semua ini menjelaskan mengapa Perang Dunia I sering disebut Perang kimiawan, sementara
Perang Dunia II disebut perang fisikawan, karena penggunaan radar dan senjata nuklir.
Namun kimia adalah partner baik fisika dalam pengembangan sains dan teknologi nuklir.
Sintesis unsur transuranium (nomer atom lebih besar dari 92) adalah konsekuensi langsung
dari penelitian yang membawa pada Proyek Manhattan dalam Perang Dunia II. Ini semua
adalah kejayaan dekan kimiawan Nuklir Amerika, Glenn Seaborg, penemu ataupun anggota
tim penemu dari 10 unsur transuranium. Tahun 1997, unsur 106 diberi nama seaborgium
untuk menghormatinya.

Glenn Seaborg, penemu 10 unsur transuranium
Referensi
1. Donald A. McQuarrie and Peter A. Rock, General Chemistry, 3rd ed. (1991)
2. William R. Stine, Terese M. Wignot, and Edward B. Stockham, Applied Chemistry, 3rd
ed. (1994)
3. Lionel Salem, Marvels of the Molecule (1987)
4. Aaron J. Ihde, The Development of Modern Chemistry (1984)
5. chemistry. (2010). In Encyclopdia Britannica. Retrieved June 20, 2010, from
Encyclopdia Britannica Online:
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/108987/chemistry