Anda di halaman 1dari 26

RUMAH SAKIT MARINIR CILANDAK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

UVEITIS
REFERAT KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA

Natalia Wiryanto
NIM : 07120100027




Periode: 1 April 2014 2 Mei 2014
Pembimbing: dr. M. Sulaiman. Sp.M
Letkol Laut (K) NRP 10834 / P
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
1
BAB 1. PENDAHULUAN
Uveitis adalah peradangan (-itis) pada uvea yang terdiri dari iris, badan siliar, dan
koroid.
1
Beberapa penelitian terhadap uveitis telah dilakukan di beberapa negara dengan
tujuan untuk menentukan insiden dan penyebab tersering kasus uveitis di negara tersebut.
Seperti halnya di northern California incidence rate kasus uveitis adalah 52.4 / 100,000
orang-tahun. Angka ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan incidence rate yang didapat dari
penelitian di United State. Tidak hanya itu, incidence dan prevalensi terendah ada pada
kelompok umur pediatri dan tertinggi pada kelompok umur > 65 tahun. Secara keseluruhan,
data menunjukkan bahwa penyebab idiopatik sering ditemukan pada anterior uveitis
sedangkan penyebab infectious lebih sering pada posterior uveitis. Adamantiades Behcet
syndrome lebih tinggi prevalensinya di Turkey dan China. Tidak hanya itu, untuk Vogt-
Koyanagi-Harada pun lebih sering di China. Namun, Birdshot Retinochoroidopathy lebih
sering di Western Europe. Untuk di India, tuberculosis tetap menjadi penyebab utama
infectious uveitis. Sedangkan viral uveitis lebih sering di Middle East dan di Perancis, diikuti
oleh toxoplasmosis. Untuk di Indonesia, penulis belum menemukan laporan penelitian terkait
prevalensi dan jenis uveitis terbanyak di Indonesia dari sumber yang terpercaya.
2

Uveitis adalah penyakit yang dapat diklasifikan berdasarkan beberapa hal, seperti
anatomi yang terlibat, perjalanan klinis, etiologi dan histopatologi. Berdasarkan etiologinya,
uveitis dibagi menjadi infectious uveitis dan non-infectious uveitis. Walaupun penyebab
uveitis seringkali idiopatik, genetic, trauma, atau mekanisme infeksi dapat juga menjadi
pemicu terjadinya uveitis. Penyakit yang menjadi predisposisi terhadap uveitis adalah
inflammatory bowel disease, rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematous, sarcoidosis,
tuberculosis, syphilis, dan AIDS. Sedangkan trauma dipercaya menjadi pemicu proses
inflamasi karena kombinasi antara kontaminasi microbial dan akumulasi produk nekrosis
pada lokasi luka. Infeksi juga dapat menjadi pemicu uveitis karena dipercaya reaksi imun
terhadap molekul asing atau antigen dapat melukai pembuluh darah dan sel sel uveal tract.
Namun, jika uveitis dikaitkan dengan penyakit autoimmune, maka mekanismenya dapat
karena reaksi hipersensitivitas menyebabkan deposisi kompleks imun di dalam uveal tract.
4

Belum pernah dilaporkan adanya kematian karena kasus uveitis. Namun, penyakit ini
dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah
katarak, glaucoma, CME, hypotony, calcific band shaped keratopathy, vitreous opacification
dan vitris, retinal detachment, retinal dan koroidal neovascularization. Oleh karena itu,
referat ini dibuat tidak hanya sebagai tugas kepaniteraan klinik bagian mata di RS. Marinir
Cilandak tetapi juga agar dapat memberikan informasi tentang uveitis.
2




Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
2
BAB 2. TEORI
2.1. Anatomi dan Fisiologi

3

Uvea adalah lapis vaskuler di dalam bola mata yang terdiri atas iris, badan siliar, dan
koroid. Perdarahan uvea dibedakan antara bagian anterior dan posterior. Bagian anterior uvea
diperdarahi oleh dua buah arteri siliar posterior longus yang masuk menembus sclera di temporal
dan nasal dekat tempat masuk saraf optik dan tujuh buah arteri siliar anterior yang terdapat dua
pada setiap otot superior, medial, dan inferior, serta satu pada otot rektus lateral. Sedangkan
bagian posterior uvea mendapat perdarahan dari lima belas hingga dua puluh buah arteri siliar
posterior brevis yang menembus sklera di sekitar tempat masuk saraf optik. Persarafan uvea
didapatkan dari ganglion siliar yang menerima tiga akar saraf di bagian posterior. Akar saraf
pertama adalah saraf sensoris yang mengandung serabut sensoris untuk kornea, iris, dan badan
siliar. Akar saraf kedua adalah saraf simpatis yang mempersarafi pembuluh darah uvea dan untuk
dilatasi pupil. Akar saraf yang ketiga adalah akar saraf motor yang akan memberikan saraf
parasimpatis untuk mengecilkan pupil.
1

Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
3
Iris adalah bagian paling anterior uvea yang berfungsi untuk mengatur secara otomatis
masuknya sinar ke dalam bola mata. Hal ini menjadi indikator untuk fungsi simpatis (midriasis)
dan parasimpatis (miosis) pupil.
1
Iris terdiri dari stroma, pembuluh darah, saraf, lapisan
berpigmen anterior dan posterior, otot dilator dan otot sphincter. Otot sphincter iris mendapat
persarafan dari saraf parasimpatis yang berasal dari nucleus CN III. Otot sphincter ini
memberikan respon farmakologis terhadap stimulasi muskarinik.
2

Badan siliar berfungsi untuk menghasilkan cairan bilik mata (aqueous humour) yang
dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris di batas kornea dan sklera. Tidak
hanay itu, ia juga berfungsi untuk akomodasi lensa dan pengeluaran aqueous humour. Badan
siliar terdiri atas epithelium, stroma, dan otot siliar. Epithelium dan stroma terdiri atas pars plana
dan pars plicata. Pars plana adalah bagian avaskular di badan siliar yang membentang dari ora
serata hingga ciliary processes. Sedangkan pars plicata adalah bagian yang kaya pembuluh darah
dan terdiri dari ciliary processes. Otot siliar terdiri dari 3 macam otot (longitudinal, radial, dan
circular) yang menjalankan fungsinya sebagai satu unit. Otot ini dipersarafi oleh serabut
parasimpatis yang berasal dari CN III. Sedangkan serabut simpatisnya berperan dalam relaksasi
otot siliar. Otot ini dipengaruhi oleh obat kolinergik yang akan menyebabkan kontraksi otot
sehingga ruang ruang trabekular meshwork terbuka. Hal ini menyebabkan peningkatan aliran
aqueous humour.
2

Koroid berfungsi untuk menutrisi bagian luar retina. Ia terdiri dari 3 lapis pembuluh
darah, yaitu choriocapillaris, lapisan tengah pembuluh darah kecil, dan lapisan luar pembuluh
darah besar. Pencampuran dari choriocapillaris koroid dengan basal lamina dari retinal pigment
epithelium (RPE) menghasilkan PAS-positif lamina yaitu membrane Bruch. Membran ini
membentang dari tepi optik disk hingga ora serata dan terdiri atas basal lamina RPE, lapisan
kolagen dalam, serat elastic dengan lapisan penyerap cairan yang lebih tebal, lapisan kolagen
luar, basal lamina dari choriocapillaris.
2


2.2. Klasifikasi
Uveitis terbagi dalam beberapa kelompok berdasarkan anatomi yang terlibat, perjalanan
klinis, etiologi, dan histopatologi. Berdasarkan anatomi yang terlibat, uveitis dibagi menjadi
uveitis anterior, intermediate, posterior, dan panuveitis. Sedangkan berdasarkan perjalanan
klinisnya dibagi menjadi akut, kronik, dan berulang. Tidak hanya itu, uveitis juga dibagi
berdasarkan penyebabnya (etiologi) menjadi infectious dan non-infectious. Dan berdasarkan
histopatologinya, uveitis dibagi menjadi granulomatous (memiliki epitheloid and giant cell) dan
non-granulomatous (memiliki infiltrate lymphocytic dan sel plasma).
2

Berdasarkan system klasifikasi the Standardization of Uveitis Nomenclature (SUN), bilik
mata depan adalah lokasi peradangan utama uveitis anterior. Ada beberapa jenis peradangan yg
termasuk / terkait dengan uveitis anterior. Pertama adalah iritis, yaitu peradangan yang terbatas
pada bilik mata depan. Yang kedua adalah iridocyclitis, yaitu jika peradangan hingga ke ruang
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
4
retrolental. Ketiga adalah peradangan yang melibatkan kornea yaitu keratouveitis. Sedangkan
yang keempat adalah jika peradangan melibatkan sklera dan uveal tract yang disebut juga
sebagai sclerouveitis.
2

SUN mendefinisikan intermediate uveitis sebagai bagian dari uveitis yang lokasi
peradangan utamanya berada di vitreous. Peradangan bagian tengah mata (badan siliar posterior
dan pars plana) memberikan gejala adanya floaters yang mempengaruhi penglihatan. Kehilangan
penglihatan sebagai hasil kronik CME (Cystoid Macular Edema) / pembentukan katarak.
2

Sistem klasifikasi SUN mendefinisikan posterior uveitis sebagai peradangan intraocular
yang utamanya melibatkan retina dan/atau koroid. Pada pemeriksaan bola mata ditemukan area
retinitis / koroiditis baik focal, multifocal, ataupun diffuse dengan berbagai derajat aktivitas
selular di vitreus.
2

Panuveitis memiliki lokasi peradangan utama di bilik mata depan, vitreus, dan retina /
koroid menurut SUN. Banyak penyakit sistemik yang berhubungan dengan uveitis baik
infectious atau pun non-infectious menghasilkan peradangan intraocular yang difuse dengan
komplikasinya iridocyclitis dan posterior uveitis.
2



Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
5
2.3. Etiologi
Berikut ini tabel penyebab uveitis tersering berdasarkan beberapa penelitian yang
digunakan oleh AAO dan tabel tabel penyebab posterior uveitis dengan keadaan mata yang
menyertai yang berbeda beda.
2


Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
6



Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
7

2.4. Pathogenesis
Uveitis dapat terjadi akibat genetik, trauma, infeksi, atau pun idiopatik. Seringkali
penyebab uveitis adalah idiopatik. Namun, genetic, trauma, atau mekanisme infeksi dapat juga
menjadi pemicu terjadinya uveitis. Penyakit yang menjadi predisposisi terhadap uveitis adalah
inflammatory bowel disease, rheumatoid arthritis, systemic lupus erythematous, sarcoidosis,
tuberculosis, syphilis, dan AIDS.
4

Trauma dipercaya menjadi pemicu proses inflamasi karena kombinasi antara kontaminasi
microbial dan akumulasi produk nekrosis pada lokasi luka. Infeksi juga dapat menjadi pemicu
uveitis karena dipercaya reaksi imun terhadap molekul asing atau antigen dapat melukai
pembuluh darah dan sel sel uveal tract. Namun, jika uveitis dikaitkan dengan penyakit
autoimmune, maka mekanismenya dapat karena reaksi hipersensitivitas menyebabkan deposisi
kompleks imun di dalam uveal tract.
4


2.5. Manifestasi Klinis
Gejala akut anterior uveitis (iridocyclitis) adalah sakit, photophobia, merah, dan
penglihatan kabur. Sedangkan kronik iridoyclitis menyebabkan penglihatan kabur dapat sebagai
akibat calcific band keratopathy, katarak, atau CME. Namun kronik iridocyclitis pada pasien
dengan JRA (Juvenile Rheumatoid Arthritis) / JIA (Juvenile Idiopathic Arthritis) dapat tidak
menimbulkan gejala apapun (asimptomatik). Recurrent anterior uveitis ditandai dengan henti
obat selama > 3 bulan dan diikuti oleh kembalinya gejala.
2

Intermediated uveitis memberi gejala penglihatan kabur dan adanya floaters. Penglihatan
kabur dapat sebagai akibat CME atau kekeruhan vitreus di visual axis. Sedangkan floaters
sebagai hasil dari shadows cast oleh sel sel vitreus dan snowballs pada retina.
2

Gejala yang muncul pada posterior uveitis adalah penurunan tajam penglihatan tanpa rasa
sakit, floaters, photopsias, metamorphopsia, scotomata, nyctalopia, atau kombinasi gejala
gejala tersebut. Epiphora dan photophobia biasanya ada ketika peradangan melibatkan iris,
kornea, atau iris-badan siliar. Penurunan tajam penglihatan dapat disebabkan oleh beberapa hal.
Penyebab pertama adalah semata mata karena uveitis yang diderita seperti retinitis dan/atau
koroiditis yang secara langsung mempengaruhi fungsi macular. Penyebab kedua adalah sebagai
komplikasi dari inflamasi seperti CME, epiretinal membrane, retinal ischemia, dan choroidal
neovascularization. Penyebab ketiga adalah karena kelainan refraksi seperti myopia / hyperopic
shift yang berhubungan dengan macular edema, hypotony, atau perubahan pada posisi lensa.
Penyebab keempat adalah kekeruhan visual axis karena sel sel inflamasi, fibrin, atau protein di
bilik mata depan. Penyebab lain adalah karena ada keratic precipitates (KPs), katarak sekunder,
vitreus debris, macular edema, dan retinal atrophy. Rasa sakit pada uveitis biasanya dari
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
8
peradangan akut pada iris (iritis) atau glaucoma sekunder. Spasme siliar pada iritis dapat
menyebabkan nyeri alih dengan radiasi ke daerah yang dipersarafi oleh saraf trigeminal (CN V).
2


Pada pemeriksaan bola mata, uveitis anterior menunjukkan adanya keratic precipitates,
cells, flares, fibrin, hypopyon, pigment dispersion, papillary miosis, iris nodule, synechia anterior
dan posterior, band keratopathy, aqueous flare, ciliary flush, dan injeksi konjungtiva / episklera
yang diffuse. Keratic Precipitates (KPs) adalah kumpulan sel sel inflamasi pada endotel
kornea. KPs yang kekuningan disebut juga muttonfat KPs. KPs ini berhubungan dengan tipe
peradangan yang granulomatosa. Dengan peningkatan permeabilitas kapiler, dapat memberikan
beberapa jenis reaksi, yaitu serous (aqueous flare yang disebabkan oleh protein influx), purulent
(polymorphonuclear leukocytes dan necrotic debris yang menyebabkan hypopyon), fibrinous
(plasmoid / intense fibrinous exudates), dan sanguinoid (sel sel inflamasi dengan eritrosit yang
bermanifestasi sebagai hypopyon bercampur dengan hyphema). SUN juga mengembangkan
metode penilaian sel dan flare pada anterior chamber yang terlampir pada table 6.11 dan 6.12.
Keterlibatan iris dapat bermanifestasi sebagai anterior dan posterior synechia, iris nodule
(koeppe nodule pada batas pupil, busacca nodule diantara iris stroma, dan berlin nodule di
sudutnya), iris granuloma, heterochromia (seperti Fuchs heterochromic iridocyclitis) atau stromal
atrophy (seperti herpetic uveitis). Sedangkan keterlibatan badan siliar dan trabekular meshwork
mengakibatkan IOP yang rendah sebagai akibat pengurangan produksi atau peningkatan
pengeluaran aqueous, tetapi IOP bisa menjadi sangat tinggi jika meshwork tersumbat oleh sel
sel inflamasi atau debris atau jika terjadi trabekulitis. Penyumbatan pupil karena iris bombe dan
sudut tertutup sekunder juga dapat menyebabkan peningkatan IOP secara akut.
2

Pada pemeriksaan untuk intermediate uveitis dapat ditemukan sel sel peradangan
vitreal, snowball opacities (which are common with sarcoidosis / intermediate uveitis), exudates
pada pars plana yang disebut juga sebagai snowbank (active: fluffy / shaggy appearance;
inactive: gliotik / fibrotic dan smooth), dan vitreal strands. Uveitis kronik dapat berhubungan
dengan pembentukan membrane cyclitic dengan pelepasan badan siliar sekunder dan hypotony.
2

Sedangkan pada pemeriksaan untuk uveitis posterior dapat ditemukan infiltrat
peradangan koroidal / retinal, peradangan lapisan pelindung arteri / vena, perivascular
inflammatory cuffing, retinal pigment epithelial hypertrophy atau atrophy, atrophy atau
pembengkakan retina / koroid / kepala saraf optik, fibrosis pre- atau subretinal, exudative,
tractional, atau rhegmatogenous retinal detachment (RRD).
2

Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
9




Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
10



Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
11


2.6. Pemeriksaan Penunjang
Dalam mengevaluasi pasien dengan tipe uveitis tertentu pemeriksaan penunjang dapat
sangat membantu, seperti pemeriksaan laboratorium, fluorescein angiography (FA), indocyanine
green (ICG) angiography, ultrasonography, optical coherence tomography (OCT), anterior
chamber paracentesis, vitreus biopsy, dan chorioretinal biopsy. FA adalah untuk mengevaluasi
pasien dengan penyakit chorioretinal dan komplikasi struktural dari posterior uveitis.
2

ICG angiography menunjukkan dua macam pola hypofluorescence pada peradangan
koroid vaskulopati. Tipe pertama menunjukkan peradangan choriocapillaropati yang lebih
selektif dengan gambaran early dan late multifocal area of hypofluorescence dan dapat dilihat di
multiple evanescence white dot syndrome (MEWDS). Tipe kedua menunjukkkan stromal
inflamasi vaskulopati of the choroids dengan gambaran area of early hypofluorescence and late
hyperfluorescence dan dapat dilihat di sarcoidosis, sympathetic ophthalmia, birdshot
chorioretinopathy, dan VKH (Vogt Koyanagi Harada) syndrome. USG membantu dalam
menunjukkan kekeruhan vitreus, penebalan koroidal, pelepasan retina, atau pembentukkan
membrane siklitik.
2

OCT adalah pelayanan standard untuk penilaian objective uveitic CME, penebalan
retinal, cairan subretinal yang berhubungan dengan koroidal neovaskularisasi, dan serous retinal
detachment, tetapi OCT tidak bermanfaat pada pasien dengan uveitic glaucoma. Hal ini karena
nerve fiber layer defect dan defect lapang pandang berpengaruh pada perubahan yang terlihat di
gambaran OCT terhadap kepala saraf optik.
2

Anterior chamber paracentesis diikuti dengan analisa aqueous humour. Pemeriksaan ini
sering dilakukan pada pasien infectious uveitis dengan gejala yang tidak khas atau pasien dengan
kecurigaan terhadap primary intraocular lymphoma. Tidak hanya itu, pemeriksaan produksi
antibody local berdasarkan Goldmann-Witmer (GW) coefficient adalah gold standard untuk
diagnosis toxoplasmosis di Europe. Komplikasi aqueous paracentesis dapat berupa anterior
chamber hemorrhage, endophthalmitis, dan kerusakan pada iris atau lensa.
2

Vitreus biopsy dapat dibutuhkan untuk evaluasi diagnostic pasien dengan kecurigaan
terhadap primary intraocular lymphoma (Reticulum Cell Sarcoma) atau endophthalmitis bakteri /
fungal. Pemeriksaan lain yang biasanya menyertai pemeriksaan ini adalah pemeriksaan
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
12
cytologic, cytofluorographic, dan microbilogis dari cairan vitreus, serta kultur bakteri dan jamur
dari specimen vitreus dan aqueous jika diduga infeksi. Perencanaan yang baik terhadap tes yang
akan dilakukan dapat menjadi sarana yang efektif untuk mengkonfirmasi diagnosis klinis
terhadap pasien intraocular lymphoma, infeksi ocular kronik, dan atipikal korioretinitis.
2

Biopsi korioretinal dapat bermanfaat ketika diagnosis tidak bisa dikonfirmasi dengan
gambaran klinis atau pemeriksaan laboratorium. Contoh kasus yang memerlukan tindakan ini
adalah necrotizing retinitis pada pasien AIDS atau kasus yang dicurigai primary subretinal
intraocular lymphoma. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah penurunan / kehilangan
penlihatan karena komplikasi operasi, retinal detachment, katarak, dan perdarahan vitreus.
2




Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
13

Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
14

Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
15

2.7. Tatalaksana
Pengobatan yang digunakan adalah siklopegik, NSAIDs, dan kortikosteroid. Terapi
immunomodulator dapat diperlukan untuk pasien yang tidak berespon terhadap terapi
kortikosteroid, pasien dengan komplikasi karena kortikosteroid, dan pasien dengan gangguan
yang menunjukkan hubungan dengan hasil akhir yang jelek untuk waktu yang lama ketika
kortikosteroid sudah digunakan sebagai satu satunya terapi modalitas.
2

Midriatik dan siklopegik bagus untuk mencegah dan menghentikan pembentukan sinekia
posterior dan untuk meringankan photophobia sekunder akibat spasme siliar. Contoh short acting
dalam bentuk tetes mata adalah cyclopentolate hydrochloride dan contoh tetes mata yang long
acting adalah atropine. Pasien dengan chronic uveitis dan moderate flare di bilik mata depan
(contoh: JRA/JIA-berhubungan dengan iritis) dapat memerlukan short acting agent untuk
penggunaan jangka panjang untuk mencegah sinekia posterior.
2

NSAIDs bekerja dengan menghambat cyclooxygenase dan mengurangi sintesis
prostaglandin yang memediasi peradangan. Topical NSAIDs dapat berguna pada tatalaksana
pasca operasi peradangan dan CME tetapi kegunaan dalam mengobati endogenous anterior
uveitis belum terbukti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sistemik NSAIDs dapat efektif
dalam pengobatan kronik iridosiklitis (JRA/JIA-berhubungan dengan iritis) dan kemungkinan
CME.
2

Kortikosteroid adalah kunci pengobatan uveitis. Namun, kortikosteroid disimpan untuk
indikasi tertentu seperti mengobati peradangan aktif pada mata, mencegah / mengobati
komplikasi seperti CME, mengurangi infiltrasi peradangan pada retina, koroid, atau saraf optic
karena efek samping yang mungkin ditimbulkan. Kortikosteroid hanya dipakai jika kemungkinan
hasil pengobatan lebih baik dibandingkan dengan komplikasi yang mungkin ditimbulkan. Ia juga
tidak selalu diindikasikan pada pasien dengan kronik flare atau pada spesifik terapi seperti pada
penyakit Fuchs heterochromic iridocyclitis atau pars planitis tanpa macular edema atau dengan
peripheral lesion of toxoplasmosis. Penggunaan kortikosteroid dimulai dengan dosis tinggi
kemudian diturunkan seiring dengan berkurangnya peradangan yang terjadi. Dosis dapat
ditinggikan jika diperlukan tindakan operasi untuk mencegah terjadinya uveitis pasca operasi.
Kortikosteroid dapat diberikan seara topical, periokular, oral, intravena, atau pun intravitreal.
2

Topikal corticosteroid efektif untuk anterior uveitis walaupun bisa juga memberikan efek
yang baik pada vitritis dan macular edema pada pasien pseudofaki atau afakia. Topical
kortikosteroid dapat juga diberikan dalam bentuk salep. Contoh sediaan kortikosteroid topical
yang memiliki efek ocular hypertensive lebih kecil dibandingkan yang lain adalah rimexolone,
loteprednole, dan fluorometholone. Namun, untuk uveitis dengan derajat yang berat prednisolone
menunjukkan hasil yang lebih efektif.
2

Periokular kortikosteroid biasanya diberikan ketika menginginkan efek yang lebih
posterior atau ketika pasien kurang responsive dengan topical atau sistemik kortikosteroid.
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
16
Contoh kortikosteroid yang diberikan secara perikoular adalah triamcinolone acetonide 40mg
atau methylprednisolone acetate 40-80mg. Pengobatan ini sering dilakukan untuk intermediate /
posterior uveitis atau pasien yang dengan CME karena langsung memberikan pengobatan ke
tempat inflamasi dan hanya memiliki sedikit efek samping sistemik pada orang dewasa.
Komplikasi yang mungkin terjadi dari tindakan ini adalah perdarahan periorbital / retrobulbar,
lower lid refractor ptosis, orbital fat prolapsed dengan periorbital festoon formation, orbital fat
atrophy, dan skin discoloration. Suntikan periokular tidak boleh digunakan pada kasus infectious
uveitis dan pasien dengan necrotizing scleritis karena penipisan sclera dan kemungkinan
perforasi. Suntikan periokular kortikosteroid dapat meningkatkan IOP sangat tingi atau untuk
waktu yang lama.
2

Terapi oral / IV dapat membantu atau mengantikan cara masuk obat yang lain.
Korikosteroid sistemik digunakan untuk kronik uveitis yang mengancam penglihatan ketika
topical kortikosteroid tidak memadai atau penyakit sistemik juga membutuhkan terapi. Lama
pengobatan menggunakan kortikosteroid dapat mencapai tiga bulan. Jika terapi diperlukan untuk
lebih dari tiga bulan, makan immunomodulator terapi juga diperlukan. Pasien dengan DM,
hipertensi, tukak peptik, GERD, immunocompromised, dan pasien dengan kondisi kejiwaan
yang beresiko tinggi untuk kortikosteroid induced exacerbation of their systemic conditions
harus dihindari sebisa mungkin terhadap penggunaan kortikosteroid. Pasien dengan oral
kortikosteroid dosis tinggi harus diberikan juga H
2
receptor blocker atau PPI untuk mencegah
gastric dan peptic ulcer. Pasien dengan terapi kortikosteroid jangka panjang khususnya geriatri
dan wanita postmenopausal harus mendapat supplement kalsium dan vitamin D untuk
mengurangi resiko osteoporosis. Test yang dapat digunakan untuk mengevaluasi pasien yang
beresiko untuk corticosteroid-induced bone loss adalah serial height measurements, serum
calcium dan phosphate level, serum 25-hydroxycholecalciferol levels (if vit. D stores are
uncertain), FSH dan testosterone levels (if gonadal status is uncertain), bone mineral density
screening for pasien yang menerima terapi kortikosteroid > 3 bulan. Oleh karena itu, FDA telah
menyetujui penggunaan alendronate untuk pencegahan dan pengobatan kortikosteroid induced
osteoporosis pada laki laki dan perempuan.
2

Intravitreal corticosteroid dapat diberikan melalui suntikan atau implantasi dari sustained
release device. Contoh intravitreal kortikosteroid adalah triamcinolone acetonide / kenalog.
Intravitreal kortikosteroid telah digunakan pada banyak kasus uveitis namun kegunaannya pada
uveitis CME masih terbatas dan keefektifannya terhadap kronik uveitis masih belum jelas.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah endophthalmitis, wound leaks, hypotony, perdarahan
vitreus, dan retinal detachment. Pengobatan ini bukanlah pengobatan untuk uveitis kronik dan
efeknya hanya sementara (jangka pendek yaitu 2-3 tahun).
2

Pengobatan immunomodulator dibutuhkan untuk pasien yang mengkonsumsi
kortikosteroid lebih dari tiga bulan dengan dosis lebih dari 5 10 mg / hari, pasien dengan
kronik topical kortikosteroid dependence, dan pasien yang memerlukan banyak suntikan
kortikosteroid periokular. Beberapa penyakit seperti Adamantiades-Behcet syndrome, simpatetik
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
17
ophthalmia, VKH, dan necrotizing sclerouveitis membutuhkan immunomodulator sejak awal
terapi untuk mendapatkan prognosis jangka panjang yang kebih baik dan mengurangi tingkat
kehilangan penglihatan. Immunomodulator tersedia dalam beberapa golongan, yaitu
antimetabolite, alkilating agent, inhibitor of limfosit T signaling, dan biologic respond modifier.
Indikasi penggunaan immunomodulator secara umum pada uveitis adalah vision threatening
intraocular inflammation, reversibility of disease process, inadequate response to corticosteroid
treatment (gagal terapi), dan kontraindikasi terapi kortikosteroid karena masalah sistemik atau
efek samping yang tdk bisa ditoleransi (ketergantungan kortikosteroid kronik dan efek samping
kortikosteroid yang tdk bisa diterima). Komplikasi serius yang dapat terjadi adalah renal dan
hepatic toxicity, bone marrow suppression, dan peningkatan kerentanan terhadap infeksi. Tidak
hanya itu, sterility dan resiko terhadap keganasan seperti leukemia atau lymphoma juga
meningkat. Sebelum memulai pengobatan, dokter hendaknya memastikan bahwa tidak ada
infeksi, tidak ada kontraindikasi hepatik dan hematologi, ada follow up yang cermat oleh dokter
yang kompeten, ada objective longitudinal evaluation of disease process, dan ada informed
consent. Dalam masa pengobatan, pasien sebaiknya tidak mengandung / hamil.
2

Antimetabolite (azathioprine / AZA) menunjukkan keefektifan untuk mencegah
keterlibatan mata terhadap penyakit yang tidak disertai dengan penyakit mata dan mengurangi
penyebaran mata yang lain ketika terjadi peradangan unilateral seperti pada Amantiades-Behcet
uveitis. Antimetabolite juga ditemukan efektif untuk intermediate uveitis, VKH, simpatetik
ophthalmia, dan necrotizing scleritis. Berdasarkan evaluasi TPMT untuk mengetahui apakah
pasien tersebut perlu AZA/6-MP atau tidak dan dosis yang diperlukan, ada 3 kelompok pasien.
Kelompok pertama adalah yang low / no TPMT enzymne activity dimana terapi AZA tidak
direkomendasikan. Kelompok kedua adalah intermediate TPMT enzyme activity dimana terapi
AZA diberikan dengan dosis yang dikurangi. Kelompok ketiga adalah normal / high TPMT
enzyme activity dimana terapi AZA diberikan dengan dosis normal / yang lebih tinggi daripada
untuk pasien dengan intermediate TPMT activity. Antimetabolit lain adalah methotrexate dan
mycophenolate mafetil. Methotrexate efektif untuk berbagai uveitis termasuk JRA/JIA-
berhubungan dengan iridosiklitis, sarkoidosis, panuveitis, dan scleritis. Methotrexate adalah obat
yang teratogenik memerlukan pemantauan hasil laboratorium (CBC dan liver function test)
setiap 4-6 minggu untuk memantau efek sampingnya. Obat ini menjadi pilihan utama untuk
pengobatan pada anak anak karena telah banyak tercatat keberhasilannya dalam pengobatan
anak anak dengan JRA/JIA. Mycophenolate mofetil ditemukan efektif sebagai kortikosterid
sparing agent pada pasien dengan kronik uveitis. Profil efek sampingnya menjadikan
mycophenolate mofetil sebagai pilihan utama immunomodulation. Dalam penggunaannya, CBC
diperiksa setiap minggu selama 1 bulan, lalu setiap 2 minggu selama 2 bulan, kemudian setiap
bulan satu kali.
2

Inhibitor T-Lymphocyte signaling adalah cyclosphorine, tacrolimus, dan sirolimus.
Cyclosphorine memiliki beberapa efek samping, yaitu sistemik hipertensi, nephrotoxicity,
paresthesia, gastrointestinal upset, fatigue, hypertrichosis, dan gingival hyperplasia. Tacrolimus
juga memiliki efek samping nephrotoxicity sedangkan sirolimus memiliki efek samping yang
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
18
dipengaruhi dosis dan lebih ke arah gastrointestinal dan cutaneous. Namun, sirolimus masih
dalam penelitian.
2

Alkilating agent (sikloposphamide dan klorambucil) digunakan untuk mengontrol uveitis
jika immunomodulator lain gagal. Tidak hanya itu, alkilating agent juga digunakan sebagai lini
pertama dalam pengobatan necrotizing scleritis yang berhubungan dengan sistemik vaskulitis
seperti Wegener granulomatosis / relapsing polychondritis. Obat ini juga efektif pada
intermediate uveitis, VKH, simpatetik ophthalmia, dan adamantiades behcet. Efek samping yang
paling dikhawatirkan adalah peningkatan resiko terhadap keganasan.
2

Biologic response modifier adalah obat yang menghambat sitokin. Contoh obat ini adalah
etanercept, infliximab, daclizumab, efalizumab, alefacept, dan adalizumab. Pengobatan ini hanya
digunakan ketika semua immunomodulator lain telah gagal / tidak dapat ditoleransi dengan baik.
Obat ini memiliki efek sebagai antiviral, immunomodulator, dan antiangiogenic. Adapun efek
samping pengobatan ini adalah flulike syndrome, leukopenia, thrombocytopenia, dan depresi.
2

Tindakan operasi dapat dilakukan untuk diagnosis sekaligus pengobatan. Beberapa
tindakan yang dilakukan adalah paracentesis aqueous humour, biopsy vitreus dan/atau
korioretinal, dan vitrectomy. Paracentesis dan biopsy dilakukan untuk diagnosis dan telah
dibahas sebelumnya pada bagian diagnosis. Indikasi paling umum untuk tindakan vitrectomy
adalah kasus dengan endophthalmitis, primary intraocular lymphoma atau keganasan intraocular
lain, infectious posterior uveitis, dan jika diduga panuveitis. Therapeutic vitrectomy dilakukan
pada kasus uveitis tertentu untuk membersihkan visual axis dari kekeruhan atau perdarahan,
mengangkat epiretinal membrane, mengangkat subfoveal choroidal neovascular membrane pada
kasus kasus tertentu, memperbaiki complex retinal detachments, mengurangi intravitreal
cytokines dan chemokines untuk membantu mengontrol inflamasi, dan mengurangi CME.
Namun, jika terdapat kronik uveitis dengan presentasi yang tidak khas, inconclusive systemic
work up, dan respon yang buruk terhadap terapi konventional, maka dapat dilakukan diagnostic
vitrectomy. Tidak hanya itu, diagnostic vitrectomy juga dipertimbangkan jika biposi dapat
mengubah pengangan terhadap uveitis. Komplikasi yang dapat terjadi adalah retinal detachment,
perdarahan suprachoroidal dan vitreus, perburukan katarak dan inflamasi, dan retinal tears atau
detachment.
2


Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
19

Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
20


Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
21
2.8. Komplikasi
Komplikasi uveitis yang tersering secara umum adalah katarak, glaucoma, CME, dan
hypotony. Komplikasi lainnya adalah calcific band shaped keratopathy, vitreous opacification
dan vitris, retinal detachment, retinal dan koroidal neovascularization. Pasien dengan kronik
uveitis biasanya memiliki deposit kalsium di epithelial basement membrane dan bowmans layer.
Endapan ini dapat ditemukan di zona interpalpebral dan sering memanjang hinggga ke visual
axis. Penanganannya adalah dengan operasi (EDTA scrubs) untuk mengangkat endapan
tersebut.
2

Katarak dapat terjadi karena inflamasi atau pun penggunaan kortikosteroid.
Penanganannya adalah dengan operasi katarak. Namun, syarat operasi intraocular pada mata
uveitis adalah tidak ada peradangan >3 sebelum operasi. Untuk pasien JRA/JIA yang
berhubungan dengan uveitis dengan katarak disarankan untuk melakukan pars plana lensectomy
/ vitrectomy. Bahkan jika perlu, synechiolysis dengan viscoelastic atau iridodialysis spatula
dilakukan dan diikuti oleh capsulorrhexis, standard phacoemulsification dan penanaman IOL.
Komplikasi post operative jangka panjang adalah peningkatan kekeruhan kapsul posterior,
glaucoma, dan CME. Namun, terapi immunosuppressive pre-operative yang lebih lama, control
ketat peradangan perioperative, penggunaan topical corticosteroid selama 3 5 bulan pasca
operasi, dan terapi immunosuppressive perioperative secara agresif dan berkelanjutan dapat
mengurangi resiko komplikasi dan meningkatkan hasil penglihatan.
2

Komplikasi lain yang sering terjadi adalah glaucoma. Uveitic glaucoma hendaknya
dibedakan dengan uveitic ocular hypertension. Uveitic ocular hypertension merujuk pada IOP
>10mmHg tanpa adanya kerusakan saraf optik. Sedangkan uveitic glaucoma adalah peningkatan
IOP sehingga terjadi neuroretinal rim loss dan gangguan lapang pandang yang khas glaucoma.
Penanganan pada ocular hypertension yang terjadi pada awal uveitis adalah dengan pemberian
steroid. Namun jika setelah peradangan menjadi tenang tetapi IOP masih >30 mmHg, dosis
topical corticosteroid boleh diturunkan perlahan lahan dan aqueous suppressant boleh
ditambahkan. Penanganan uveitic glaucoma sudut tertutup akut adalah dengan aggressive
kortikosteroid terapi dan aqueous suppressant, subakut dengan iridotomy dan YAG / argon laser
kemudian diikuti dengan intensive topkial kortikosteroid dan siklopegik terapi, dan kronik
dengan goniosynechiolysis dan trabeculectomy dengan mitomycin C atau glaucoma tube shunt
placement. Sedangkan penanganan uveitic glaucoma sudut terbuka akut adalah dengan topical
siklopegik, kortikosteroid, dan tatalaksana spesifik terhadap agen infeksius, dan untuk yang
kronik adalah dengan topical dan oral glaucoma medication (carbonic anhidrase inhibitors, B-
blocker, dan alpha agonis). Jika gagal, maka diperlukan nonpenetrating deep sclerotomy dengan
atau tanpa penanaman drainage.
2

Hypotony pada uveitis karena penurunan produksi aqueous dari badan siliar dan dapat
terjadi setelah operasi intraocular. Hypotony pada awal uveitis biasanya berespon terhadap terapi
kortikosteroid dan siklopegik intensif, namun untuk kronik hypotony dapat digunakan topical
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
22
ibopamine, nonselective dopaminergic, dan alpha dan beta adrenergic receptor. Vitrectomy,
membranectomy, dan intraocular silicone oil dapat juga diperlukan pada keadaan tertentu.
2

CME biasanya terjadi pada parsplanitis, birdshot retinochoroiditis, dan retinal vasculitis
tetapi dapat terjadi pada uveitis kronik manapun. Tatalaksana CME adalah terapi kortikosteroid
dan immunomodulator.
2

Vitreus opacification dan vitritis ditangani dengan 3-port pars plana vitrectomy.
Sedangkan RRD ditangani dengan pars plana vitrectomy dan endolaser dengan internal silicone
oil tamponade untuk memperbaiki pelepasan (detachment) dan membuang epiretinal membrane.
Dan untuk retinal dan choroidal neovascularization ditangani dengan kortikosteroid dan/atau
immunomodulator atau scatter laser photocoagulation di daerah iskemik dan area watershed
yang berhubungan.
2

RRD biasanya berhubungan dengan panuveitis, infectious uveitis, pars planitis, dan
posterior uveitis. Retinal detachment yang berhubungan dengan pars planitis dapat ditangani
dengan sclera buckling dan cryoretinopexy. Pars plana vitrectomy dan endolaser treatment with
internal silicone oil tamponade dibutuhkan untuk memperbaiki detachment dan mengangkat
membrane epiretina. Jika terdapatproliverative retinopathy (PVR), kombinasi sclera buckling
dan pars plana vitrectomy sering dibutuhkan untuk menyambungkan kembali retina yang
terlepas.
2

Retinal neovaskularisasi dapat berkembang pada uveitis kronik manapun tetaoi lebih
sering pada pars planitis, sarcoid panuveitis, dan retinal vasculitis. Penanganannya adalah dengan
kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi dan/atau immunomodulator agent / scatter laser
photocoagulation di daerah iskemik dan area watershed yang berhubungan. Sedangkan choroidal
neovaskularisasi (CNV) dapat berkembang pada posterior uveitis, panuveitis, ocular
histoplasmosis syndrome, punctuate inner choroidopathy, idiopathic multifocal choroiditis, dan
serpiginous choroiditis. Metamorphosia dan rapid onset scotoma adalah tanda yang dapat
ditemukan pada pasien. Diagnosis dilakukan berdasarkan keadaan klinis dan angiography.
Penanganan yang dapat dilakukan adalah kortikosteroid, immunomodulator, dan focal laser
photocoagulation of peripapillary, extrafoveal, dan juxtafoveal CNV. Immunomodulator dapat
dikombinasikan dengan vascular endothelial growth factor (VEGF) inhibitor atau dgn ocular
photodynamic therapy. Jika semua langkah tersebut gagal, maka dapat dipertimbangkan untuk
melakukan pars plana vitrectomy dan subfoveal CNV extraction.
2







Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
23
BAB 3. RANGKUMAN

Uveitis adalah peradangan pada uvea dan dapat diklasifikasikan berdasarkan anatomi yang
terlibat, perjalanan klinis, etiologi, dan histopatologi.

Penyebab uveitis tersering:
* Uveitis anterior idiopathic
* Intermediate idiopathic
* Posterior Toxoplasmosis
* Panuveitis Adamantiades Behcet syndrome
Manifestasi klinis uveitis:
Penyakit Gejala Tanda
Anterior
Akut
Sakit, photophobia,
merah, penglihatan
kabur
KPs, cells, flares, fibrin, hypopyon, pigment
dispersion, papillary miosis, iris nodule,
synechia anterior dan posterior, band
keratopathy, aqueous flare, ciliary flush,
injeksi konjungtiva / sklera
Kronik
Asimptomatik atau
penglihatan kabur
Intermediate
Penglihatan kabur dan ada
floaters
Sel - sel peradangan vitreal, snowball
opacities, snowbank, vitreal strands, membran
cyclitic, hypotony
Uveitis
Anatomi
Anterior,
intermediate,
posterior,
panuveitis
Perjalanan klinis
Akut, kronik,
recurrent
Etiologi
Infectious dan
non-infectious
Histopatologi
Granulomatosa dan
non-granulomatosa
Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
24
Posterior
Penurunan tajam penglihatan
tanpa rasa sakit, floater,
photopsias, metamorphopsia,
scotomata, nyctalopia, epiphora,
photophobia
Infiltrat peradangan koroidal / retinal,
peradangan lapisan pelindung arteri / vena,
pervascular inflamatory cuffing, retinal
pigment epithelial hypertrophy / atrophy,
atrophy atau pembengkakan
retina/koroid/kepala saraf optik, fibrosis pre-
atau subretinal, exudative, tractional, atau
rhegmatogenous retinal detachment
Pemeriksaan penunjang:
* Fluorescein angiography (FA)
* Indocyanine green (ICG)
angiography
* Ultrasonography
* Optical coherence tomography
(OCT)
* Anterior chamber paracentesis
* Vitreus biopsy
* Chorioretinal biopsy
Tatalaksana:
Komplikasi:
* Katarak
* Galukoma
* CME
* Hypotony
* Calcific band shaped
keratopathy
* Vitreus opacifiation and vitritis
* Retinal detachment
* Retinal and koroidal
neovaskularization









Referat: Uveitis Natalia Wiryanto (07120100027)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata
RS. Marinir Cilandak - UPH
25
DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas, H. Sidarta, Prof. dr. SpM, Sri rahayu Yulianti, dr. SpM. Ilmu penyakit mata. 4
th
ed.
Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2012.
2. Intraocular Inflammation and Uveitis. Singapore: American Academy of Ophthalmology;
2007.
3. Netter, Frank. H, MD. Atlas of Human Anatomy. 5
th
ed. Philadelphia: Saunders ELSEVIER;
2011.
4. Tsang, Keith, MD. Iritis and Uveitis: Medscape [updated: 2014 January 13; cited 2014 April
23] available from: http://emedicine.medscape.com/article/798323-overview#showall