Anda di halaman 1dari 9

PENDAHULUAN

Kesehatan reproduksi pria mengarah pada kemampuan pria untuk membawa


kehidupan. Kesehatan reproduksi pria memiliki pengaruh sosial dan psikologikal pada
kehidupan normal. Pada 50 tahun terakhir, penurunan signifikan pada fertilitas manusia telah
diobservasi. Telah diketahui bahwa 15% pasangan memiliki masalah fertilitas, yaitu sebesar
50%. Di antara pasangan infertil, pria lah yang memiliki kemungkinan besar dalam kasus
infertilitas. Laporan terbaru menunjukkan bahwa insiden infertilitas pada pria meningkat
sebagai hasil dari beberapa faktor seperti polusi lingkungan, stress, dan gaya hidup (Mishra et
al., 2012).
Mengingat kemungkinan infertilitas yang disebabkan oleh istri juga cukup besar,
evaluasi infertilitas pada pasangan harus dilakukan secara komprehensif bersama-sama
dengan seorang spesialis ginekologi.




TINJAUAN PUSTAKA

ETIOLOGI
Penyebab infertilitas pada pria selain dari gen adalah dari stress psikologis, merokok,
minuman beralkohol, dan juga stress pada suhu genitalia. Sistem saraf otonom dan hormone
adrenal yang mengambil bagian dalam respon stress juga dapat mempengaruhi sistem
reproduksi. Selain itu, kebiasaan duduk berlama-lama dan menggunakan celana yang ketat
dapat mempengaruhi suhu optimal dalam pembentukan sperma atau yang disebut
spermatogenesis. Hal ini dapat menyebabkan suhu skrotum meningkat. Merokok dapat
mempengaruhi konsentrasi dalam sperma, motilitas, dan morfologi karena tingginya
konsentrasi bahan kimia di dalam rokok (Mishra et al., 2012).

EPIDEMIOLOGI
Pada 50 tahun terakhir, telah terjadi penurunan yang signifikan pada fertilitas manusia.
Telah dilaporkan bahwa 15% pasangan memiliki masalah fertilitas. Di antara pasangan yang
infertile, 50% penyebabnya berasal dari infertilitas pada pria. Studi menyatakan bahwa 6%
pria yang berumur 15-44 tahun adalah infertile atau fertilitasnya mengalami penurunan yang
signifikan (Mishra et al., 2012).

DIAGNOSIS
Pada anamnesis, pasien ditanya mengenai riwayat keluarganya dan riwayat kehamilan
pasangan setelah menikah. Riwayat pemakaian obat juga dibutuhkan untuk menguatkan
diagnosis. Sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium, mula-mula dilakukan pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan di ruangan yang tidak terlalu dingin untuk
mencegah reflex dartos. Pemeriksaan dilakukan dengan inspeksi dan palpasi pada penis,
skrotum, testis, epididymis, dan vas deferens (Quallich, 2006).
Diagnosis dapat diketahui dari pemeriksaan semen dan pemeriksaan laboratorium
lainnya. Pada pemeriksaan semen, sampel ditampung dengan cara ejakulasi dalam waktu 48
jam setelah ejakulasi terakhir. Dari sampel tersebut dapat diketahui volume ejakulat,
konsentrasi sperma, dan persentase motilitas sperma. Semen smears digunakan untuk
mengetahui morfologi sperma (Guzick et al., 2001). Pemeriksaan hormonal dapat
memberikan petunjuk mengenai etiologi infertilitas. Pemeriksaan awal hormonal dilakukan
dengan mengukur konsentrasi FSH, LH, dan testosterone. Jika abnormalitas endokrin telah
diduga melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik, atau FSH dan testosterone abnormal,
pemeriksaan hormonal dapat dilakukan lebih intensif dengan mengukur prolactin, TSH,
kortisol, dan estradiol (Choy et al., 2012).

TATALAKSANA
Penanganan pada infertilitas diutamakan untuk menangani penyebab utamanya.
Penanganan yang dapat dilakukan adalah pemberian steroid anabolik, operasi, dan secara
farmakologikal. Sebuah laporan menyatakan bahwa dengan penggunaan steroid anabolik,
kualitas sperma dapat meningkat dalam waktu 4 sampai 12 bulan setelah pemberian. Jika
pasien tidak menunjukkan peningkatan dalam waktu tersebut, dapat diberikan kombinasi
hCG dengan HMG yang diketahui memberikan hasil yang lebih baik (Choy et al., 2012).
Infertilitas karena varikokel dapat ditangani dengan operasi varikokelektomi. Hasil
membuktikan bahwa adanya peningkatan pada parameter seminal pada 70% pasien dan
diketahui bahwa adanya penurunan komplikasi pascaoperasi. Vasovasostomi dan
vasoepididimostomi adalah prosedur untuk menangain kasus obstruksi epididimis (Choy et
al., 2012).

(Quallich, 2006)

CONTOH KASUS

Pria berumur 30 tahun datang ke klinik dengan keluhan infertilitas selama 4 tahun.
Tidak ada riwayat keluarga yang memiliki keluhan yang sama. Kedua orang tuanya adalah
saudara sepupu. Tinggi badan pasien adalah 187 cm dengan berat badan 71 kg. Volume
kedua testicular adalah 14 ml. Pengukuran serum hormone menunjukkan LH dalam kadar
normal (4,2 mIU/mL) dan begitu pula dengan testosterone (6,8 ng/mL). Sementara itu, kadar
FSH adalah 21,3 mIU/mL. Analisis seminal menunjukkan oligozoospermia berat dengan
konsentrasi sperma 0,7 x 10
6
/ml, motilitas 24%, dan morfologi normal 5% (El-Dahtory et al.,
2009).

ANALISIS
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada kasus di atas adalah analisis semen dan
pemeriksaan hormonal. Dari data di atas, konsentrasi sperma menunjukkan jumlah yang jauh
di bawah normal dengan nilai normal >20 juta/mL. Motilitas sperma juga di bawah normal
dengan nilai normal >50%, dan morfologi normal di bawah normal dengan nilai normal
>60%. Data tersebut telah menunjukkan bahwa pasien mengalami oligozoospermia berat.
Dari sini, telah terlihat bahwa pasien mengalami infertilitas karena adanya oligozoospermia.
Kadar LH maupun testosterone dapat terlihat normal meskipun pasien mengalami infertilitas.


KESIMPULAN

Infertilitas pada pria memiliki macam-macam penyebab. 15% pasangan mengeluhkan
tidak memiliki anak setelah bertahun-tahun menikah. Penyebab terbanyak berasal dari
infertilitas pria. Infertilitas dapat diketahui dengan pemeriksaan penunjang seperti
pemeriksaan hormonal dan analisis semen. Untuk meningkatkan kadar sperma, seorang pria
yang mengalami infertilitas harus mendapatkan terapi yang sesuai dengan penyebab
infertilitasnya.


DAFTAR PUSTAKA

Choy, Jeremy T. dan Ellsworth, Pamela. 2012. Overview of Current Approaches to the
Evaluation and Management of Male Infertility. Urol Nurs. 2012;32(6):286-294.
El-Dahtory, Faeza dan Elsheikha, Hany. 2009. Male Infertility Related to an Abberant
Karyotype, 47,XYY: four case reports.
Guzick, David S. et al. 2001. Sperm Morphology, Motility, and Concentration in Fertile and
Infertile Men. The New England Journal of Medicine.
Mishra, Raghav Kumar et al. 2012. Male Infertility: Lifestyle and Oriental Remedies. Journal
of Scientific Research, Banaras Hindu University, Vol. 56, 2012: 93-101.
Quallich, Susanne. 2006. Examining Male Infertility. Urol Nurs. 2006;26(4):277-288.



TUGAS JURNAL
INFERTILITAS PADA PRIA



ELINA INDRASWARI
H1A012016




FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MATARAM
2014