Anda di halaman 1dari 15

PRAKTIKUM ELEKTRONIKA

LAPORAN PERCOBAAN 1

Rangkaian Pembagi Tegangan
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Praktikum Telekomunikasi Analog
Semester 2

PEMBIMBING :
Rachmad Saptono, ST, MT







PENYUSUN :
JTD 1C



Nama No. Absen NIM
Dicky Eka Candra 07 1341160065


JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL
TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2014

Power_Supplay
10 V
R1
1k
R2
10k
R3
4.7k
R4
2.2k
LAPORAN PERCOBAAN 1
Rangkaian Pembagi Tegangan DC, LPF, dan BPF

1.1 Tujuan
Percobaan 1A
1. Mengukur tegangan dan arus pada rangkaian DC
2. Menghitung tegangan dan arus pada rangkaian DC
3. Membuat simulasi untuk menentukan tegangan dan arus pada rangkaian DC
4. Membandingkan hasil pengukuran, perhitungan, dan simulasi
Percobaan 1B
1. Membuat rangkaian LPF dan BPF
2. Mengetahui karakteristik LPF dan BPF
3. Mengukur tegangan output pada rangkaian LPF dan BPF
4. Menghitung frekuensi cut-off dari LPF dan BPF

1.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum, adalah sebagai berikut :
Percobaan 1A
1. Power Supplay : 1 buah
2. Resistor 1k ; 2,2k ; 4,7k ; 10k : 1 buah
3. Protoboard : 1 buah
4. Kabel-kabel penghubung : secukupnya
5. Kabel Aligator : 2 buah
6. Multimeter Digital : 1 buah
7. Software Simulasi (Multisim) : 1 buah
Percobaan 1B
1. Generator Fungsi : 1 buah
2. Osiloskop : 1 buah
3. Resistor 10k : 1 buah
4. Kapasitor 0,1nF ; 1nF ; 10nF : 1 buah
5. Konektor BNC to BNC : 1 buah
6. Konektor BNC to alligator : 2 buah
7. Protoboard dan T : 1 buah
8. Kabel-kabel penghubung : secukupnya
9. Software Simulasi (Multisim) : 1 buah

1.3 Gambar Rangkaian Praktikum
Percobaan 1A





Gambar 1.1 Rangkaian
Percobaan Pembagi
Tegangan DC
Generator_Fungsi
R
10k
C
0.1nF
XSC1
A B
Ext Trig
+
+
_
_
+
_
Generator_Fungsi
R
10k
C
0.1nF
XSC1
A B
Ext Trig
+
+
_
_
+
_

Percobaan 1B







1.4 Teori Dasar :
Percobaan 1A
Beberapa penulisan pesamaan yang telah kita lakukan untuk rangkaianrangkaian seri
dan paralel yang sederhana dapat dihindari. Hal ini dicapai dengan mengganti kombinasi
tahanan (resistor) yang relatif sukar dengan sebuah tahanan ekivalen bila mana kita khususnya
tak berminat menentukan arus, tegangan, atau daya yang berkaitan dengan masing-masing
tahanan di dalam kombinasi tersebut. Semua hubungan yang menyangkut arus, tegangan, dan
daya di dalam sisa rangkaian tersebut akan sama.








Mula-mula kita tinjau kombinasi seri N tahanan, yang diperlihatkan secara skematis
dalam Gambar 1.4. Garis terputus-putus yang mengitari tahanan-tahanan tersebut dimaksudkan
untuk menyarankan bahwa tahanan-tahanan tersebut dikurung di dalam sebuah kotak
hitam, atau barang kali di dalam kamar lain, dan kita ingin mengganti ke N tahanan tersebut
dengan satu tahanan dengan besar tahanan Req sehingga sisa rangkaian, yang hanya hal ini
hanya sumber tegangan tidak menyadari bahwa perubahan telah dilakukan. Arus sumber, daya,
dan tentu saja tegangan akan sama sebelum dan sesudah perubahan tersebut.

Kita pakai hukum tegangan Kirchhoff
V
S
= V
1
+ V
2
+ ... + V
N
dan hukum Ohm
V
S
= R
1
i + R
2
i + ... + R
N
i = (R
1
+ R
2
+ ... + R
N
)i
Gambar 1.2 Rangkaian LPF
Gambar 1.3 Rangkaian BPF
Osiloskop Osiloskop
Gambar 1.4 : (a) Sebuah rangkaian yang mengandung kombinasi seri dari N tahanan.
(b) Rangkaian ekivalen yang lebih sederhana: R
eq
= R
1
+ R
2
+ ... + R
N
.
dan kemudian membandingkan hasil ini dengan persamaan sederhana yang dipakai
kepada rangkaian ekivalen yang diperlihatkan di dalam Gambar 1.4,
V
S
= R
eq
i
Jadi, harga dari tahanan ekivalen untuk N tahanan seri adalah
R
eq
= R
1
+ R
2
+ ... + R
N
Karena itu kita mampu menggantikan sebuah jaringan dua pintu yang terdiri N tahanan
dalam seri, dengan satu elemen Req berterminal dua, yang mempunyai hubungan v-i yang sama.
Tak ada pengukuran yang dilakukan terhadap kotak hitam tersebut, dapat mengungkapkan
yang mana dari jaringan yang asli. Pemeriksaan persamaan tegangan Kirchoff untuk sebuah
rangkaian seri juga memperlihatkan dua penyederhanaan lain yang mungkin. Tak ada
perbedaan dalam urutan tempat elemen-elemen di dalam sebuah rangkaian seri, dan beberapa
sumber tegangan seri dapat diganti dengan sumber tegangan ekivalen yang mempunyai
tegangan sama dengan jumlah aljabar dari masing-masing tegangan tersebut. Biasanya ada
sedikit keuntungan mengikutsertakan sebuah sumber tegangan tak bebas dalam sebuah
kombinasi seri.
Penyederhanaan yang serupa dapat diterapkan kepada rangkaian-rangkaian paralel.
Sebuah rangkaian yang mengandung N konduktansi yang dipasang paralel, seperti dalam
Gambar 2-17a, menghasilkan persamaan hukum arus Kirchoff,











i
S
= i
1
+ i
2
+ ... i
N

atau i
S
= G
1
v + G
2
v + ... G
N
v = (G
1
+ G
2
+ ... + G
N
)v
sedangkan ekivalennya di dalam Gambar 1.5 memberikan
i
S
= G
eq
v
sehingga
G
eq
= G
1
+ G
2
+ ... + G
N
Dinyatakan dalam tahanan dan bukan di dalam konduktansi,


atau


Persamaan terakhir ini barangkali cara yang paling sering digunakan untuk
mengkombinasikan elemen-elemen penahan yang pararel. Kombinasi pararel sering dinyatakan
dengan tulisan R eq = R1 R2 R3, misalnya.
Hal khusus untuk hanya dua tahanan paralel
Gambar 1.5: (a) Sebuah rangkaian yang mengandung N tahanan paralel yang mempunyai
konduktansi G
1
+ G
2
+ .. + G
N
. (b) Rangkaian ekivalen yang lebih sederhana: G
eq
= G
1
+ G
2
+ ... + G
N
.

atau


seringkali diperlukan. Bentuk terakhir tersebut sangat baik untuk dihafal.
Sumber-sumber arus pararel dapat juga dikombinasikan dengan menambahkan secara
aljabar masing-masing arus tersebut, dan urutan elemenelemen pararel dapat diatur
sesukanya.

Percobaan 1B
Filter adalah sebuah rangkaian yang dirancang agar mengalirkan suatu pita
frekuensi tertentu dan menghilangkan frekuensi yang berbeda dengan pita ini, atau
Filter adalah rangkaian yang dapat memilih frekuensi agar dapat mengalirkan frekuensi
yang diinginkan dan menahan (couple), atau membuang (by pass) frekuensi yang lain.
Berdasarkan sifatnya, filter ada dua macam, yaitu filter pasif dan aktif. Filter pasif
hanyalah berisi tahanan, induktor, dan kapasitor saja. Sedangkan filter aktif terdiri dari
transistor atau op-amp ditambah tahanan, induktor, atau kapasitor.
Berdasarkan jenisnya, filter ada 4 macam. Yang pertama adalah Low Pass Filter
(LPF), adalah sebuah rangkaian yang tegangan keluarannya tetap dari dc naik sampai ke
suatu frekuensi cut-off fc. Bersama naiknya frekuensi di atas fc, tegangan keluarannya
diperlemah (turun). Filter Low Pass adalah jenis filter yang melewatkan frekuensi
rendah serta meredam/menahan frekuensi tinggi. Bentuk respon LPF seperti
ditunjukkan gambar di bawah ini.







Pita Lewat : Jangkauan frekuensi yang dipancarkan
Pita Stop : Jangkauan frekuensi yang diperlemah.
Frekuensi cutoff (fc) : disebut frekuensi 0.707, frekuensi 3-dB, frekuensi pojok, atau
frekuensi putus.

Yang kedua High Pass Filter (HPF), High Pass Filter memperlemah tegangan
keluaran untuk semua frekuensi di bawah frekuensi cutoff fc. Di atas fc, besarnya
tegangan keluaran tetap. Garis penuh adalah kurva idealnya, sedangkan kurva putus-
putus menunjukkan bagaimana filter-filter high pass yang praktis menyimpang dari
ideal. Pengertian lain dari High Pass Filter yaitu jenis filter yang melewatkan frekuensi
tinggi serta meredam/menahan frekuensi rendah. Bentuk respon HPF seperti
ditunjukkan gambar di bawah ini.



Gambar 1.6 Grafik respon LPF








Yang ketiga adalah Band Pass Filter (BPF), Filter Band Pass hanya melewatkan
sebuah pita frekuensi saja seraya memperlemah semua frekuensi di luar pita itu.
Pengertian lain dari Band Pass Filter adalah filter yang melewatkan suatu range
frekuensi. Dalam perancangannya diperhitungkan nilai Q (faktor mutu) dengan:
Q = faktor mutu
fo = frekuensi cutoff
B = lebar pita frekuensi
Gambar Band Pass Filter seperti berikut ini :









Dan yang terakhir adalah Band Stop Filter (BSF), Filter Band Stop yaitu filter
band stop menolak pita frekuensi tertentu seraya melewatkan semua frekuensi diluar
pita itu. Bisa juga disebut Band Reject merupakan kebalikan dari Band Pass, yaitu
merupakan filter yang menolak suatu range frekuensi. Sama seperti bandpass filter,
band reject juga memperhitungkan faktor mutu.









1.5 Prosedur Praktikum
Percobaan 1A
1. Membuat rangkaian seperti Gambar 1.1.
2. Mengukur arus yang mengalir pada rangkaian tersebut.
Gambar 1.7 Grafik respon HPF
Gambar 1.8 Grafik respon BPF
Gambar 1.9 Grafik respon BSF
3. Mengukur tegangan pada V
1k
, V
2.2k
, dan menghitung tegangan pada V
R10k//R4.7k
.
4. Mengukur arus yang mengalir pada R
4.7k
dan R
10k
.
5. Menyimulasikan semua pengukuran arus dan tegangan pada software multisim.
6. Membandingkan hasil pengukuran dengan hasil simulasi.
7. Membuat analisa rangkaian untuk menghitung semua arus dan tegangan serta
memberikan kesimpulan.
Percobaan 1B
1. Membuat rangkaian seperti Gambar 1.2.
2. Mengatur tegangan sumber AC pada 8V
p-p
dan frekuensi pada 500 Hz.
3. Membaca tegangan keluaran (V
o
) pada sinyal yang ditampilkan osiloskop dalam satuan V
p-
p
.
4. Mengulangi langkah 2-3 untuk frekuensi yang lain seperti yang ditunjukkan pada tabel hasil
percobaan.
5. Mengulangi langkah 2-4 untuk kasitor yang lain (1nF dan 10nF).
6. Mencatat hasil pengukuran pada tabel hasil percobaan.
7. Mengulangi langkah 2-6 untuk rangkaian pada Gambar 1.3.
8. Membuat analisa rangkaian serta memberikan kesimpulan.

1.6 Hasil Percobaan
Percobaan 1A
















Pengukuran V
R1k

Pengukuran V
R10k

Pengukuran V
R4,7k
Pengukuran V
R2,2k
















Percobaan 1B




















Pengukuran I
1k
= I
2,2k
Pengukuran I
10k

Pengukuran I
4,7k

Tabel 1B.1 f=0,5 kHz Tabel 1B.1 f=1 kHz Tabel 1B.1 f=2 kHz
Tabel 1B.1 f=5 kHz Tabel 1B.1 f=10 kHz Tabel 1B.1 f=20 kHz















































Tabel 1B.1 f=50 kHz Tabel 1B.1 f=100 kHz Tabel 1B.1 f=1000 kHz
Tabel 1B.2 f=0,5 kHz Tabel 1B.2 f=1 kHz Tabel 1B.2 f=2 kHz
Tabel 1B.2 f=5 kHz Tabel 1B.2 f=10 kHz Tabel 1B.2 f=20 kHz
Tabel 1B.2 f=50 kHz Tabel 1B.2 f=100 kHz Tabel 1B.2 f=1000 kHz
Tabel 1B.3 f=0,5 kHz Tabel 1B.3 f=1 kHz Tabel 1B.3 f=2 kHz















































Tabel 1B.3 f=5 kHz Tabel 1B.3 f=10 kHz Tabel 1B.3 f=20 kHz
Tabel 1B.3 f=50 kHz Tabel 1B.3 f=100 kHz Tabel 1B.3 f=1000 kHz
Tabel 1B.4 f=0,5 kHz Tabel 1B.4 f=1 kHz Tabel 1B.4 f=2 kHz
Tabel 1B.4 f=5 kHz Tabel 1B.4 f=10 kHz Tabel 1B.4 f=20 kHz
Tabel 1B.4 f=50 kHz Tabel 1B.4 f=100 kHz Tabel 1B.4 f=1000 kHz















































Tabel 1B.5 f=0,5 kHz Tabel 1B.5 f=1 kHz Tabel 1B.5 f=2 kHz
Tabel 1B.5 f=5 kHz Tabel 1B.5 f=10 kHz Tabel 1B.5 f=20 kHz
Tabel 1B.5 f=50 kHz Tabel 1B.5 f=100 kHz Tabel 1B.5 f=1000 kHz
Tabel 1B.6 f=0,5 kHz Tabel 1B.6 f=1 kHz Tabel 1B.6 f=2 kHz















1.6 Tabel Hasil Praktikum
Hasil praktikum diisikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 1A.1 Percobaan 1A
No
Resisto
r
Pengukuran Perhitungan Simulasi
Tegangan
(V)
Arus (A)
Tegangan
(V)
Arus (A)
Tegangan
(V)
Arus (mA)
1 R
1k
1,60 0,55 1,56 1,56 1,56 1,56
2 R
10k
5,20 0,22 5,00 0,50 4,99 0,49
3 R
4,7k
5,20 0,35 5,00 1,06 4,99 1,06
4 R
2,2k
3,57 0,55 3,44 1,56 3,44 1,56

Tabel 1B.1 Percobaan 1B - Pengukuran V
o
pada LPF dengan R=10k dan C=0,1nF
No V
S
C
1
Frekuensi (kHz) Vo (V
p-p
)
1
8 Vp-p 0,1 nF
0,5 8,00
2 1 8,00
3 2 8,00
4 5 7,99
5 10 7,98
6 20 7,93
7 50 7,63
8 100 6,78
9 1000 1,27

Tabel 1B.2 Percobaan 1B - Pengukuran V
o
pada LPF dengan R=10k dan C=1nF
No V
S
C
2
Frekuensi (kHz) Vo (V
p-p
)
1
8 Vp-p 1 nF
0,5 7,99
2 1 7,98
3 2 7,93
4 5 7,63
5 10 6,76
6 20 4,99
7 50 2,44
8 100 1,27
Tabel 1B.6 f=5 kHz Tabel 1B.6 f=10 kHz Tabel 1B.6 f=20 kHz
Tabel 1B.6 f=50 kHz Tabel 1B.6 f=100 kHz Tabel 1B.6 f=1000 kHz
9 1000 0,13

Tabel 1B.3 Percobaan 1B - Pengukuran V
o
pada LPF dengan R=10k dan C=10nF
No V
S
C
3
Frekuensi (kHz) Vo (V
p-p
)
1
8 Vp-p 10 nF
0,5 7,63
2 1 6,77
3 2 5,01
4 5 2,46
5 10 1,28
6 20 0,63
7 50 0,27
8 100 0,13
9 1000 0,06

Tabel 1B.4 Percobaan 1B - Pengukuran V
o
pada HPF dengan R=10k dan C=0,1nF
No V
S
C
1
Frekuensi (kHz) Vo (V
p-p
)
1
8 Vp-p 0,1 nF
0,5 0,02
2 1 0,05
3 2 0,10
4 5 0,25
5 10 0,50
6 20 1,00
7 50 2,39
8 100 4,26
9 1000 7,91

Tabel 1B.5 Percobaan 1B - Pengukuran V
o
pada HPF dengan R=10k dan C=1nF
No V
S
C
2
Frekuensi (kHz) Vo (V
p-p
)
1
8 Vp-p 1nF
0,5 0,24
2 1 0,50
3 2 0,99
4 5 2,39
5 10 4,26
6 20 6,27
7 50 7,62
8 100 7,93
9 1000 8,00

Tabel 1B.6 Percobaan 1B - Pengukuran V
o
pada HPF dengan R=10k dan C=10nF
No V
S
C
3
Frekuensi (kHz) Vo (V
p-p
)
1
8 Vp-p 10 nF
0,5 2,39
2 1 4,26
3 2 6,26
4 5 7,63
5 10 7,91
6 20 7,98
7 50 8,00
8 100 8,00
9 1000 8,00

1.7 Analisis Data Hasil Praktikum
Power_Supplay
10 V
R1
1k
R2
10k
R3
4.7k
R4
2.2k
Generator_Fungsi
R
10k
C
0.1nF
XSC1
A B
Ext Trig
+
+
_
_
+
_
Generator_Fungsi
R
10k
C
0.1nF
XSC1
A B
Ext Trig
+
+
_
_
+
_
Percobaan 1A





Data Perhitungan :
1.




2.


3.




4.




5.




6.




7.




8.





Nilai arus pada rangkaian seri adalah sama, sehingga pada rangkaian tersebut


Nilai tegangan pada rangkaian paralel adalah sama, sehingga pada rangkaian
tersebut


Hasil perhitungan, pengukuran, dan simulasi software menunjukkan hasil yang
mendekati sama, namun untuk pengukuran arus dengan menggunakan
multimeter hasilnya sedikit melenceng dari hasil perhitungan dan simulasi software.
Hal ini dikarenakan amperemeter pada multimeter kenyataan tidak memiliki
memiliki tahanan dalam sama dengan nol, padahal amperemeter yang ideal harusnya
memiliki tahanan dalam sebesar nol. Maka dari itu terjadi penyimpangan pada
saat pengukuran arus.

Percobaan 1B







Data Perhitungan :
Nilai amplitudo frekuensi cut-off :



Nilai amplitudo frekuensi cut-off dari percobaan tersebut adalah 0,707 atau
70,7% dari amplitudo yang dihasilkan oleh generator fungsi.
Pada LPF, semakin besar frekuensi maka hanya frekuensi rendah saja yang
diloloskan oleh filter. Hal ini tergantung pada ukuran kapasitor, resistor,
frekuensi, dan amplitudo tegangan sumber.
Pada HPF, semakin besar frekuensi maka hanya frekuensi tinggi saja yang
diloloskan oleh filter. Hal ini tergantung pada ukuran kapasitor, resistor,
frekuensi, dan amplitudo tegangan sumber.

1.8 Kesimpulan
Percobaan 1A
Nilai arus pada rangkaian seri adalah sama
Nilai tegangan pada rangkaian paralel adalah sama
Hasil perhitungan, pengukuran, dan simulasi software menunjukkan hasil yang
mendekati sama, namun untuk pengukuran arus dengan menggunakan
multimeter hasilnya sedikit melenceng dari hasil perhitungan dan simulasi software.
Hal ini dikarenakan amperemeter pada multimeter kenyataan tidak memiliki
memiliki tahanan dalam sama dengan nol, padahal amperemeter yang ideal harusnya
memiliki tahanan dalam sebesar nol. Maka dari itu terjadi penyimpangan pada
saat pengukuran arus.

Percobaan 1B
Nilai amplitudo frekuensi cut-off yang dihasilkan oleh suatu LPF dan HPF adalah
0,707 atau 70,7% dari amplitudo yang dihasilkan oleh tegangan sumber.
Pada LPF, semakin besar frekuensi maka hanya frekuensi rendah saja yang
diloloskan oleh filter. Hal ini tergantung pada ukuran kapasitor, resistor,
frekuensi, dan amplitudo tegangan sumber.
Pada HPF, semakin besar frekuensi maka hanya frekuensi tinggi saja yang
diloloskan oleh filter. Hal ini tergantung pada ukuran kapasitor, resistor,
frekuensi, dan amplitudo tegangan sumber.

1.9 Kepustakaan
http://do.convertapi.com/download?a6fdb0b5-7bf6-4b99-875a-30752c4cd02d/
http://kk.mercubuana.ac.id/elearning/files_modul/10199-2-123055506246.pdf