Anda di halaman 1dari 96

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Telaah dan Pengembangan Kurikulum


Dosen Pembimbing:
Muhammad Zaini, MA









Disusun Oleh:
1. INTAN PURNAMASARI (3212113020/ VA)



Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : PBA (Pendidikan Bahasa Arab)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
2013



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Kurikulum, bukan kata yang asing dalam dunia pendidikan. Pendidikan atau pembelajaran tidak
lepas dari istilah ini, karena kurikulum adalah salah satu komponen dari pembelajaran. Dengan
adanya kurikulum proses belajar dan pembelajaran akan berjalan secara terstruktur dan tersistem
demi mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pengembangan kurikulum menjadi sangat
penting sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, seni budaya, dan perubahan pada
masyarakat.
Untuk mencapai tujuan mulia dari pembelajaran tersebut, maka para pengembang kurikulum terus
berbenah dan melakukan evaluasi terhadap kurikulum yang diberlakukan. Sebagaimana yang akan
dibahas di mkalah ini, kurikulum 2013 merupakan hasil pengembangan dari Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan. Kurikulum ini bertujuan tidak lain untuk lebih memperbaiki lagi kualitas
pendidikan yang ada saat ini.
Kurikulum 2013 ini adalah kurikulum terbaru yang implementasinya baru dimulai di lapangan mulai
tahun 2013 ini. Karena kurikulum ini masih sangat baru, maka sosialisasi pada masyarakat pun juga
masih sedang berjalan sekarang ini. Oleh sebab itu, penyusun menyusun makalah yang berjudul
Implementasi dan Inovasi Kurikulum 2013 ini, disamping untuk mememnuhi tugas mata kuliah
Pengembangan Kurikulum, penyusun juga berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi
wawasan kepada pembaca tentang kurikulum 2013.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian kurikulum 2013 itu?
2. Bagaimanakah landasan dan prindsi-prinsip Kurikulum 2013?
3. Apa komponen-komponen Kurikulum 2013?
4. Bagaimana implementasi Kurikulum 2013?
5. Bagaimanan inovasi Kurikulum 2013?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mendeskripsikan tentang kurikulum 2013.
2. Untuk mendeskripsikan landasan dan prinsip-prinsip Kurikulum 2013.
3. Untuk mendeskripsikan komponen-komponen Kurikulum 2013.
4. Untuk mendeskripsikan implementasi Kurikulum 2013.
5. Untuk mendeskripsikan inovasi Kurikulum 2013.




























BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaru yang diluncurkan oleh Departemen Pendidikan Nasional
mulai tahun 2013 ini sebagai bentuk pengembangan dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum
2006 atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang mencangkup kompetensi sikap, pengetahuan,
dan keterampilan secara terpadu. Hal ini senada dengan apa yag ditegaskan dalam pasal 1 ayat 29
Undang-Undang no. 20 tahun 2003 bahwa kurikulum merupakan pengaturan mengenai tujuan, isi,
dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum 2013 ini diberlakukan secara bertahap mulai tahun ajaran 2013-2014 melalui pelaksanaan
terbatas, khususnya bagi sekolah-sekolah yang sudah siap melaksanakannya. Pada Tahun Ajaran
2013/2014, Kurikulum 2013 dilaksanakan secara terbatas untuk Kelas I dan IV Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI), Kelas VII Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
(SMP/MTs), dan Kelas X Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah
(SMA/SMK/MA/MAK). Pada Tahun Ajaran 2015/2016 diharapkan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan
di seluruh kelas I sampai dengan Kelas XII.
Menjelang implementasi Kurikulum 2013, penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya
sebagai pelaksana kurikulum di lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan
Pengembangan Sumberdaya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu
Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013
bagi guru, kepala sekolah, dan pengawas.
Pada tahun 2013 pelatihan akan dilakukan bagi pengawas SD/SMP/SMA/SMK, kepala sekolah
SD/SMP/SMA/SMK, dan guru Kelas I dan IV SD, guru Kelas VII SMP, dan guru Kelas X
SMA/SMK. Guna menjamin kualitas pelatihan tersebut, maka BPSDMPK dan PMP telah menyiapkan
14 Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013, sesuai dengan kelas, mata pelajaran, dan jenjang
pendidikan. Modul ini diharapkan dapat membantu semua pihak menjalankan tugas dalam Pelatihan
Implementasi Kurikulum 2013.
Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kurikulum merupakan salah satu unsur yang
memberikan kontribusi signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya potensi peserta didik.
Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum yang dikembangkan dengan berbasis pada
kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk mengaraakan peserta didik menjadi:
1. Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.
2. Manusia terdidik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
3. Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.[1]
Kurikulum 2013 merupakan langkah lanjutan dari Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi
yang dirintis pada tahun 2004 dan KTSP atau Kurikulum Tingakat Satuan Pendidikan. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan memberikan otonomi penuh kepada lembaga sekolah itu sendiri untuk
mengembangkan kurikulumnya sesuai kemampuan dan kesanggupan masing-masing. Sedangkan
kurikulum 2013 mencoba kembali pada masa pemerintahanMbah Harto, yaitu kurikulum
dikendalikan oleh pemerintah atau bersentral pada pemerintah. Jadi, guru tidak disibukkan lagi
dengan tugas harus membuat silabus dan RPP, karena guru harus lebih berfokus pada bagaimna
proses pembelajaran dan transformasi ilmu bisa maksimal.
Implementasi kurikulum 2013 berbasis kompetensi dan karakter harus melibatkan semua
komponen (stakeholders), termasuk komponen-komponen sistem pendidikan itu sendiri. Pendidikan
karakter dalam kurikulum 2013 diharapkan dapat meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan
yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh dan
seimbang, sesuai dengan standart kompetensi pada setiap jenjang pendidikan.
Karakter adalah gambaran tingkah laku yang dimiliki oleh seseorang yang mencerminkan nilai-nilai
kehidupan dan melekat pada diri seseorang. Orang yang berkarakter memeilki berbagai dimensi
misalnya, dimensi sosial, fisik, emosi, dan akademik. Jika disejajarkan dengan ranah Bloom, berarti
manusia berkarakter memiliki ranah kognisi, afeksi, dan psikomotorik yang baik, ditambah dengan
emosi, spiritual, ketahanan menghadapi masalah dan sosial.[2]
Dengan demikian, perpaduan dua basis antara kompetensi dan karakter dalam kurikulum ini
diharapkan siswa dapat meningtkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji, dan
menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud
dalam kehidupan sehari-hari.
Penddidikan karakter dalam kurikulum 2013 bukan hanya tanggung jawab sekolah semata, tetapi
merupakan tanggung jawab semua pihak. Untuk mengefektifkan program pendidikan karakter dan
meningkatkan kompetensi dalam kurikulum 2013 diperlukan kordinasi, komunikasi dan jalinan kerja
antara sekolah, orangtua, dan pemerintah dalam semua sisi.

B. Landasan dan Prinsip-Prinsip Kurikulum 2013
Dalam setiap pengemangan kurikulum pasti ada landasan-landasan yang digunakan. Berikut ini
landasan-landasan yang digunakan dalam pengembangan kurikulum 2013.
1. Landasan Filosofis
a) Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
b) Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik,
dan masyarakat.
Dari sumber lain menjelaskan mengenai landasan filosofis kurikulum 2013 sebagai berikut:
a) Pendidikan berakar pada budaya bangsa, kehidupan masa kini dan membangun
landasan kehidupan masa depan.
b) Pendidikan adalah proses pewarisan dan pengembanganbudaya.
c) Pendidikan memberikan dasar bagi untuk peserta didik berpartisipasi dalam membangun
kehidupan masa kini.
d) Pendidikan mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki peserta didik
e) Pendidikan adalah proses pengembangan jatidiri peserta didik.
f) Pendidikan menempatkan peserta didik sebagai subjek yang belajar.[3]
2. Landasan Yuridis
Secara yuridis, kurikulum adalah suatu kebijakan publik yang didasarkan kepada dasar filosofis
bangsa dan keputusan yuridis di bidang pendidikan.
Landasan yuridis kurikulum adalah Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, Undang-undang
nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun
2005, dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 23 tahun 2006 tentang Standar
Kompetensi Lulusan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang
Standart isi.
a) RPJMM 2010-2014 Sektor Pendidikan, tentang perubahan Metodologi Pembelajaran dan
Penataan Kurikulum.
b) PP. No.19 tahun 2005 tentang Standart Nasional pendidikan.
c) INPRES No. 1 tahun 2010, tentang percepatan pelaksanaan Prioritas pembangunan Nasional,
penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa
untuk membentuk daya asing dan karakter bangsa.
Beberapa landasan yuridis dari Undang-Undang sebagai berikut:
1. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2. UU nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional
3. UU no. 17 tahun 2005 tentang rencana pembangunan jangka panjang nasional, beserta segala
ketentuan yang dituangkan rencana pembangunan jangka menengah nasional, dan
4. Peraturan pemerintah no. 19 tahun 2005 tentang standart nasional pendidikan sebagaimana
telah diubah dengan PP no. 19 tahun 2005 tentang standart nasional pendidikan.[4]
3. Landasan Konseptual
a) Relevansi pendidikan
b) Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
c) Pembelajaran kontekstual
d) Pembelajaran aktif
e) Penilaian yang valid, utuh dan menyeluruh. [5]
4. Landasan Teoritis
Kurikulum dikembangkan atas dasar teori pendidikan berdasarkan standart dan teori pendidikan
berbasis kompetensi. Pendidikan berdasarkan standart adalah pendidikan yang menetapkan
standart nasional sebagai kualitas minimal hasil belajar yang berlaku untuk setiap kurikulum.
Standart kualitas nasional dinyatakan sebagai Standart Kompetensi Lulusan. Standart Kompetensi
Lulusan tersebut adalah kualitas minimal lulusan suatu jenjang atau satuan pendidikan. SKL
mencangkup sikap, pengetahuan, dan keterampilan (PP nimor 19 tahun 2005).
5. Landasan Empiris
Berbagai perubahan telah terjadi id Indonesia. Kemajuan terjadi di beberapa sektor di Indonesia,
namun di beberapa sektor yang lain, khususnya pendidikan, Indonesia tetap tinggal di tempat, atau
bahkan mundur. Hal-hal seperti ini menunujukkan perlunya perubahan orientasi kurikulum dengan
tidak membebani peserta didik dengan konten, namun pada aspek kemampuan esensial yang
diperlukan semua warga untuk berperan serta dalam membangun negara pada masa mendatang.
Dalam satu sistem pendidikan, kurikulum itu bersifat dinamis serta harus selalu dilakukan perubahan
dan pengembangan, agar dapat mengikuti perkembangan dan tantangan zaman. Namun demikian,
perubahan dan pengembangan kurikulum harus dilakukan secara terarah dan tidak asal-asalan.
Kurikulum 2013 juga memiliki prinsip dalam pengembangannya. Sesuai dengan kondisi negara,
kebutuhan masyarakat, dan berbagai perkembangan serta perubahan yang sedang berlangsung
dewasa ini, dalam pengembangan kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi perlu
memperhatikan dan mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Pengembangan kurikulum dilakukan mengacu pada standart nasional pendidikan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
2. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasin
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
3. Mata pelajaran merupakan wahana untuk mewujudkan pencapaian kompetensi.
4. SKL dijabarkan darintujuan pendidikan nasional dan kebutuhan masyarakat, negara serta
perkembangan global.
5. SI dijabarkan dari SKL
6. Standart proses dijabarkan dari SI
7. Standart Penilaian dijabarkan dari SKL, SI, dan Standart Proses.
8. Standart Kompetensi Lulusan dijabarkan kedalam Standart Inti
9. Kompetensi Inti dijabarkan kedalam Kompetensi Dasar yang dikontekstualisasikan dalam suatu
mata pelajaran.
10. Kurikuklum Satuan Pendidikan dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah, dan satuan
pendidikan
11. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotifasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik.
12. Penilaian hasil belajar berbasis prosse dan produk
13. Proses belajar dengan pendekatan ilmiah (scientific approach).
Untuk menunjang berjalannya sebuah kurikulum dengan baik dan sesuai dengan apa yang
diharapkan tentunya juga sangat berkaitan dengan bagaimana jalannya proses pembelajaran.
Pelaksanaan kurikulum 2013 memiliki karakteristik yang berbeda dari pelaksanaan kurikulum 2006.
Berdasarkan hasil analisis terhadap kondisi yang diharapkan terdapat maka dipeloleh 14 prinsip
utama pembelajaran yang perlu guru terapkan. Adapun 14 prinsip tersebut adalah:
1. Dari siswa diberi tahu menuju siswa mencari tahu.
Pembelajaran mendorong siswa menjadi pembelajar aktif, pada awal pembelajaran guru tidak
berusaha untuk meberi tahu siswa karena itu materi pembelajaran tidak disajikan dalam bentuk
final. Pada awal pembelajaran guru membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu fenomena
atau fakta lalu mereka merumuskan ketidaktahuannya dalam bentuk pertanyaan. Jika biasanya
kegiatan pembelajaran dimulai dengan penyampaian informasi dari guru sebagai sumber belajar,
maka dalam pelaksanaan kurikulum 2013 kegiatan inti dimulai dengan siswa mengamati fenomena
atau fakta tertentu.
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber.
Pembelajaran berbasis sistem lingkungan. Dalam kegiatan pembelajaran membuka peluang kepada
siswa sumber belajar seperti informasi dari buku siswa, internet, koran, majalah, referensi dari
perpustakaan yang telah disiapkan. Pada metode proyek, pemecahan masalah, atau inkuiri siswa
dapat memanfaatkan sumber belajar di luar kelas. Dianjurkan pula untuk materi tertentu siswa
memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan masyarakat. Tentu dengan pendekatan ini
pembelajaran tidak cukup dengan pelaksanaan tatap muka dalam kelas.
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah.
Pergeseran ini membuat guru tidak hanya menggunakan sumber belajar tertulis sebagai satu-
satunya sumber belajar siswa dan hasil belajar siswa hanya dalam bentuk teks. Hasil belajar dapat
diperluas dalam bentuk teks, disain program, mind maping, gambar, diagram, tabel, kemampuan
berkomunikasi, kemampuan mempraktikan sesuatu yang dapat dilihat dari lisannya, tulisannya,
geraknya, atau karyanya.
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi.
Pembelajaran tidak hanya dilihat dari hasil belajar, tetapi dari aktivitas dalam proses belajar. Yang
dikembangkan dan dinilai adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilannya.
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu, mata pelajaran dalam pelaksanaan
kurikulum 2013 menjadi komponen sistem yang terpadu.
Semua materi pelajaran perlu diletakkan dalam sistem yang terpadu untuk menghasilkan
kompetensi lulusan. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran bersama-sama,
menentukan karya siswa bersama-sama, serta menentukan karya utama pada tiap mata pelajaran
bersama-sama, agar beban belajar siswa dapat diatur sehingga tugas yang banyak, aktivitas yang
banyak, serta penggunaan waktu yang banyak tidak menjadi beban belajar berlebih yang
kontraproduktif terhadap perkembangan siswa.
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban
yang kebenarannya multi dimensi.
Di sini siswa belajar menerima kebenaran tidak tunggal. Siswa melihat awan yang sama di sebuah
kabupaten. Mereka akan melihatnya dari tempatnya berpijak. Jika ada sejumlah siswa yang
melukiskan awan pada jam yang sama dari tempat yang berjauhan, mereka akan melukiskannya
berbeda-beda, semua benar tentang awan itu, benar menjadi beragam.
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif.
Pada waktu lalu pembelajaran berlangsung ceramah. Segala sesuatu diungkapkan dalam bentuk
lisan guru, fakta disajikan dalam bentuk informasi verbal, sekarang siswa harus lihat faktanya,
gambarnya, videonya, diagaramnya, teksnya yang membuat siswa melihat, meraba, merasa dengan
panca indranya. Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar, namun dengan menggunakan panca
indra lainnya.
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental
(softskills).
Hasil belajar pada rapot tidak hanya melaporkan angka dalam bentuk pengetahuannya, tetapi
menyajikan informasi menyangkut perkembangan sikapnya dan keterampilannya. Keterampilan
yang dimaksud bisa keterampilan membacan, menulis, berbicara, mendengar yang mencerminkan
keterampilan berpikirnya. Keterampilan bisa juga dalam bentuk aktivitas dalam menghasilkan karya,
sampai pada keterampilan berkomunikasi yang santun, keterampilan menghargai pendapat dan
yang lainnya.
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan siswa sebagai
pembelajar sepanjang hayat.
Ini memerlukan guru untuk mengembangkan pembiasaan sejak dini untuk melaksanakan norma
yang baik sesuai dengan budaya masyarakat setempat, dalam ruang lingkup yang lebih luas siswa
perlu mengembangkan kecakapan berpikir, bertindak, berbudi sebagai bangsa, bahkan memiliki
kemampuan untuk menyesusaikan dengan kebutuhan beradaptasi pada lingkungan global.
Kebiasaan membaca, menulis, menggunakan teknologi, bicara yang santun merupakan aktivitas
yang tidak hanya diperlukan dalam budaya lokal, namun bermanfaat untuk berkompetisi dalam
ruang lingkup global.
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung
tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas siswa
dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani).
Di sini guru perlu menempatkan diri sebagai fasilitator yang dapat menjadi teladan, memberi contoh
bagaimana hidup selalu belajar, hidup patuh menjalankan agama dan prilaku baik lain. Guru di
depan jadi teladan, di tengah siswa menjadi teman belajar, di belakang selalu mendorong semangat
siswa tumbuh mengembangkan pontensi dirinya secara optimal.
11. Pembelajaran berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.
Karena itu pembelajaran dalam kurikulum 2013 memerlukan waktu yang lebih banyak dan
memanfaatkan ruang dan waktu secara integratif. Pembelajaran tidak hanya memanfaatkan waktu
dalam kelas.
12. Pembelajaran menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di
mana saja adalah kelas.
Prinsip ini menandakan bahwa ruang belajar siswa tidak hanya dibatasi dengan dinding ruang kelas.
Sekolah dan lingkungan sekitar adalah kelas besar untuk siswa belajar. Lingkungan sekolah sebagai
ruang belajar yang sangat ideal untuk mengembangkan kompetensi siswa. Oleh karena itu
pembelajaran hendaknya dapat mengembangkan sistem yang terbuka.
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (tIK) untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran.
Di sini sekolah perlu meningkatkan daya guru dan siswa untuk memanfaatkan TIK. Jika guru belum
memiliki kapasitas yang mumpuni siswa dapat belajar dari siapa pun. Yang paling penting mereka
harus dapat menguasai TIK sebab mendapatkan pelajaran dengan dukungan TIK atau tidak siswa
tetap akan menghadapi tantangan dalam hidupnya menjadi pengguna TIK. Jika sekolah tidak
memfasilitasi pasti daya kompetisi siswa akan jomplang daripada siswa yang memeroleh pelajaran
menggunakannya.
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya siswa.
Cita-cita, latar belakang keluarga, cara mendapat pendidikan di rumah, cara pandang, cara belajar,
cara berpikir, keyakinan siswa berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran harus melihat
perbedaan itu sebagai kekayaan yang potensial dan indah jika dikembangkan menjadi kesatuan yang
memiliki unsur keragaman. Hargai semua siswa, kembangkan kolaborasi, dan biarkan siswa tumbuh
menurut potensinya masing-masing dalam kolobarasi kelompoknya.[6]

C. Komponen-Komponen Kurikulum 2013
pada hakikatnya kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan
bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (UU Sisdiknas). Berangkat dari definidi
itu, kurikulum tersebut setidaknya ada tiga komponen penting yang ada dalam kurikulum yaitu
komponen tujuan pendidikan, komponen proses, dan komponen evaluasi.[7]
Pada masa reformasi ini pendidikan lebih diarahkan untuk menghasilkan manusia Indonesia yang
berkarakter unggul. Manusia Indonesia yang memiliki integritas. Ini tentu untuk merespon baerbagai
degradasi moral dan sosial seperti tindak korupsi yang semakin merajalela, penyalahgunaan
narkoba, tawuran pelajaran, dan lain-lain. Selain tujuan pendidikan komponen lain yang harus ada
dalam komponen kurikulum adalah proses pembelajaran. Pembelajaran adalah proses untuk
mencapai tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam kurikulum. Oleh karena itu dalam proses
pembelajaran melibatkan banyak sub komponen seperti metode ataupun teknik pembelajaran,
guru, buku ajara, dan kelengkapan pembelajaran yang lain.
Komponen-komponen inilah yang secara sinergis menentukan tercapainya tujuan pendidikan. Proses
pembelajaran merupakan pusat segala upaya perbaikan kualitas pendidikan nasional. Pleh sebab itu,
seharusnya perhatian lebih dicurahkan kepada upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas proses
pembelajaran. Namun perhatian sepertinya belum optimal terbukti dengan masih banyaknya
sekolah dengan sarana dan prasarana seadanya saja. Sementara itu, komponen terakhir dalam
kurikulum adalah evaluasi. Implementasi kurikulum perlu dievaluasi untuk melihat capaian yang
telah terlaksana. Evaluasi merupakan proses review atas berbagai proses implementasi kurikulum.

D. Implementasi Kurikulum 2013
Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan tentang implementasi kurikulum diantaranya sebagai
berikut:
Pasal 1
Implementasi kurikulum 2013 pada sekolah dasar/ madrasah ibtidaiyah (SD/MI), sekolah menengah
pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs), sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA),
dan sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK) dilakukan secara bertahap
mulai tahun pelajaran 2013/2014.
Pasal 2
(1) Implementasi kurikulum pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK menggunakan
pedoman implementasi kurikulum yang mencangkup:
a) Pedoman penyusunan dan pengelolaan KTSP.
b) Pedoman pengembangan muatan lokal.
c) Pedoman kegiatan ekstrakurikuler
d) Pedoman umum pembelajaran, dan
e) Pedoman evaluasi kurikulum
Implementasi kurikulum adalah usaha bersama antara Pemerintah dengan pemerintah daerah
propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota.
1. Pemerintah bertanggung jawab dalam mempersiapkan guru dan kepala sekolah untuk
melaksanakan kurikulum.
2. Pemerintah bertanggungjawab dalam melakukan evaluasi pelaksanaan kurikulum secara
nasional.
3. Pemerintah propinsi bertanggungjawab dalam melakukan supervisi dan evaluasi terhadap
pelaksanaan kurikulum di propinsi terkait.
4. Pemerintah kabupaten/kota bertanggungjawab dalam memberikan bantuan profesional
kepada guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan kurikulum di kabupaten/kota terkait.
Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas:
1. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu:
- Juli 2013: Kelas I, IV, VII, dan X
- Juli 2014: Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI
- Juli 2015: kelas I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XII
2. Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dari tahun 2013 2015
3. Pengembangan buku siswa dan buku pegangan guru dari tahun
2012 2014
4. Pengembangan manajemen, kepemimpinan, sistem administrasi, dan pengembangan
budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA dan SMK, dimulai dari bulan Januari
Desember 2013
5. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah
implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 2016.[8]
Dalam kurikulum 2013, guru dituntut untuk secara profesional merancang pembelajaran afektif dan
bermakna, mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan pembelajaran yang tepat,
menentukan prosedur pembelajaran dan pembentukan kompetensi secara efektif, serta
menetapkan kriteria keberhasilan. Berkaitan dengan hal tersebut akan dijelaskan lebih lanjut sebagai
berikut:[9]
1. Merancang pembelajaran secar efektif dan bermakna.
Implementasi kurikulum 2013 merupakan aktualisasi kurikulum, dalam pembelajaran dan
pembentukan kompetensi serta karakter peserta didik. Hal tersebut menuntut keaktifan guru dalam
menciptakan dan menumbuhkan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana yang telah
diprogramkan.
Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang sangat kompleks karena melibatkan
aspek pedagigis, psikologi, dan didaktis secara bersamaan.
2. Mengorganisasikan pembelajaran.
Implementasi kurikulum 2013 menuntut guru untuk mrngorganisasikan pembelajaran secara efektif.
Sedikitnya terdapat lima hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan pengorgsnisasian
pembelajaran dalam implementasi kurikulum 2013, yaitu pelaksanaan pembelajaran, pengadaan
dan pembinaan tenaga ahli, pendayagunaan tenaga ahli dan sumber daya masyarakat, serta
pengembangan dan penataan kebijakan.
3. Memilih dan menentukan pendekatan pembelajaran.
Implementasi kurikulum 2013 berbasis kompetensi dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan
berbagai pendekatan. Pendekatan tersebut antara lain pembelajaran kontekstual(contextual
teaching and learing), bermain peran, pembelajaran partisipatif (participative teaching and
learning), belajar tuntas (mastery learning), dan pembelajaran konstruktivisme (constructivism
teaching and learning).
4. Melaksanakan pembelajaran, pembentukan kompetensi, dan karakter. Pembelajaran dalam
menyukseskan implementasi kurikulum 2013 merupakan keseluruhan proses belajar, pembentukan
kompetensi dan karakter peserta didik yang direncanakan. Untuk kepentingan tersebut maka
kompetensi inti, kompetensi dasar, materi standart, indikator hasil belajar, dan waktu yang harus
ditetapkan sesuai dengan kepentingan pembelajaran sehinga peserta didik diharapkan memperoleh
kesempatan dan pengalaman belajar yang optmal.dalam hal ini, pembelajaran pada hakikatnya
adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan
perilaku kearah yang lebih baik. Pada umumnya kegiatan pembelajaran mencangkup kegiatan awal
atau pembukaan, kegiatan inti atau pembentukan kompetensi dan karakter, serta kegiatan akhir
atau penutup.
Implementasi yang efektif merupakan hasil dari interaksi antara strategi implementasi,
struktur kurikulum, tujuan pendidikan, dan kepemimpinan kepala sekolah. Oleh karena itu,
pengoptimalan implementasi kurikulum 2013 diperlukan suatu upaya strategis untuk mensinergikan
komponen-komponen tersebut, terutama guru dan kepala sekolah dalam membudayakan
kurikulum.
Membudayakan kurikulum dapat diartikan bahwa implementasi kurikulum tersebut
masuk dalam budaya sekolah, yang merefleksikan nilai-nilai dominan, norma-norma, dan keyakinan
semua warga sekolah, baik peserta didik, guru, kepala sekolah, maupun tenaga kependidikan lain.



E. Inovasi Kurikulum 2013
Inovasi itu mempunyai makna pembaharuan yang berdekatan dengan perubahan atau perbaikan.
Perubahan adalah pergeseran posisi. Kedudukan, atau keadaan yang memungkinkan membawa
kearah kebaikan, tetapi kadang juga membawa kebaikan.[10]
Perbaikan kurikulum biasanya hanya mengenai satu atau beberapa aspek dari kurikulum, misalnya
metode mengajar, alat peraga, buku pelajaran dengan tetap mengguankan kurikulum yang berlaku.
Perubahan kurikulum mengenai perubahan dasar-dasarnya baik mengenai tujuan maupun alat-alat
atau cara-cara mencapai tujuan itu. Mengubah kurikulum berarti turut mengubah manusia yaitu
guru, pembina pendidikan dan merek-merek yang mengasuh pendidikan. Itu sebabnya kurikulum
dianggap sebagai perubahan sosial, suatu social change. Perubahan kurikulum, juga disebut
pembaruan atau inovasi kurikulum, tentu saja bermaksud untuk mencapai perbaikan.[11]
Perubahan atau pembaharuan kurikulum itu memiliki beberapa faktor atau komponen yang harus
dilibatkan. Tidak mungkin perubahan kurikulum itu bisa berjalan baik tanpa diikuti oleh seluruh
komponen sistem yang mendukung perubahan kurikulum itu.inovasi atau pembaharuan kurikulum
selama ini hampir dapat dipastikan berarti menstrukturisasikan kurikulum yang ada untuk diganti
dengan yang baru, dengan perubahan yang sedemikian rupa sehingga struktur atau topik-topik,
ruang lingkup materi, dan metode pembelajaran ikut diganti.
Dalam kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi, asumsi merupakan parameter untuk
menentukan tujuan dan kompetensi yang akan dispesifikasikan. Bedasarkan asumsi-asumsi
kurikulum 2013, dalam implementasi kurikulum 2013 dilakukan penambahan beban belajar pada
semua jenjang pendidikan sebagai berikut:[12]
Beban belajar di SD/MI
Kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32. 34 sedangkan untuk kelas IV, V, dan VI masing-masing 36 jam
setiap minggu dengan lama belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 40 menit.
Beban belajar di SMP/MTs
Dari semula 32 menjadi 38 jam untuk masing-masing kelas, dengan lama belajar untuk setiap jam
belajarnya yaitu 40 menit.
Beban belajar di SMA/MA
Kelas X menjadi 42 jam belajar, untuk kelas XI dan XII menjadi 44 jam belajar, dengan lama belajar
untuk setiap jam belajarnya yaitu 45 menit.
Kebijakan penambahan ini dimaksudkan agar guru memiliki waktu yang lebih leluasa untuk
mengelola dan mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik atau
mengembangkan proses pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Disamping penambahan
jam pelajaran, dalam implementasi kurikulum 2013 juga rencananya akan dilakukan pendampingan,
terutama pendampingan bagi guru-guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif.
Perbedaan esensial kurikulum 2013 dengan KTSP 2006 mengenai perubahan dan pengembangan
kurikulum mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas
(SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK) dilakukan untuk menjawab tantanagan zaman yang
terus berubah agar peserta didik mamapu bersaing di masa depan, dalam konteks nasional maupun
global. Perubahan dan pengembangan kurikulum 2013 dapat dikaji perbedaannya dengan KTSP 2006
sebagaimana berikut.[13]
Perbedaan kurikulum 2013 untuk sekolah dasar adalah:
1. Tematik Integratif
Pemebelajaran berbasis tematik integratif yang diterapkan pada tingkatan pendidikan dasar ini
menyuguhkan proses belajar berdasarkan temauntuk kemudian dikombinasikan dengan mata
pelajaran lainnya.
2. Enam Mata Pelajaran
Untuk sekolah dasar, saat ini ada sepuluh mata pelajaran yang diajarkan. Namun, dalam kurikulum
2013 mata pelajaran dipadatkan menjadi enam mata pelajaran.
3. Pramuka sebagai Ekstra Kurikuler Wajib
Dalam kurikulum 2013, pramuka merupakan ekstra kurikuler wajib dan itu diatur dalam undang-
undang. Pramuka ini menjadi ekstra kurikuler wajib pada satuan pendidikan dasar dan menengah,
untuk berbagai jenjang pendidikan. Untuk meningkatkan layanan secara profesional, maka dalam
implementasi pramuka kemendikbud bekerjasama dengan kemenpora.
4. Bahasa Ingggris Hanya Ekskul
Sebelumnya terjadi polemik mengenai bahasa Inggris di SD, yaitu bahasa Inggris akan dihapus dari
kurikulum. Rencana penghapusan ini didasari oleh kekhawatiran akan membebani siswa dan
memprioritaskan terhadap penguasaan bahasa Indonesia. Ternyata, dalam kurikulum 2013 ini,
bahasa Inggris menjadi ekstra kurikuler bersama PMR, UKS, dan Pramuka.
5. Belajar di Sekolah Lebih Lama
Penambahan jam pelajaran merupakan isi dari perubahan kurikulum baru yang mulai diterapkan
bulan Juli 2013 untuk anak-anak SD.
Selanjutnya adalah perbedaan esensial kurikulum SMP antara KTSP 2006 dan Kurikulum 2013.[14]

KTSP 2006 Kurikulum 2013
Mata pelajaran tertentu mendukung
kompetensi tertentu
Tiap mata pelajaran mendukung semua
kompetensi
Mata pelajaran dirancang berdiri
sendiri dan memilki kompetensi dasar
sendirian
Mata pelajaran dirancang terkait satu
dengan yang lain
Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
Tiap mata pelajaran diajarkan dengan
pendekatan yang berbeda
Semua mata pelajaran diajarkan dengan
pendekatan yang sama, yaitu pendekatan
saintifik melalui mengamati, menanya,
mencoba , menalar
TIK adalah mata pelajaran sendiri TIK merupakan sarana pembelajaran,
dipergunakan sebagai media pembelajaran
mata pelajaran lain.
Adapun perbedaan esensial kurikulum SMA/SMK dapat dilihat dalam tabel berikut:[15]
KTSP 2006 Kurikulum 2013
Mata pelajaran tertentu mendukung
kompetensi tertentu
Tiap mata pelajaran mendukung semua
kompetensi
Mata pelajaran dirancang berdiri
sendiri dan memilki kompetensi dasar
sendirian
Mata pelajaran dirancang terkait satu
dengan yang lain
Bahasa Indonesia sebagai pengetahuan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi
Tiap mata pelajaran diajarkan dengan
pendekatan yang berbeda
Semua mata pelajaran diajarkan dengan
pendekatan yang sama, yaitu pendekatan
saintifik melalui mengamati, menanya,
mencoba , menalar
SMA ada penjurusan sejak kelas XI Tidak ada penjurusan di SMA. Ada mata
pelajaran wajib, peminatan, antar minat,
dan pendalaman minat.
SMA dan SMK tanpa kesamaan
kompetensi
SMA dan SMK memiliki mata pelajaran
wajib yang sama terkait dasar-dasar
pengetahuan , ketrampilan, dan sikap.
Penjurusan di SMK sangat detail (sampai
keahlian)
Penjurusan di SMK tidak terlalu detail, di
dalamnya terdapat pengelompokan
peminatan dan pendalaman
Untuk menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut, dilakukan langkah penguatan tata kelola dengan
cara menyiapkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Buku pedoman pembelajaran yang terdiri dari buku guru dan buku siswa.
2. Guru dilatih untuk memahami pendayagunaan sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber
lain yang dapat dimanfaatkan.
3. Pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah terhadap pelaksanaan
pembelajaran.[16]





















BAB III
KESIMPULAN

Dari penjelasan yang dipaparkan di atas, penyusun makalah ini menyimpulkan bahwa:
1. Kurikulum 2013 adalah bentuk pengembangan dari kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum KTSP
yang implementasinya dimulai tahun 2013 ini.
2. Landasan kurikulum 2013 meliputi landasan filosofis, landasan yuridis, landaan konseptual,
landasan teoritis, dan landasan empiris. Sedangkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum 2013
adalah:
a. Pengembangan kurikulum dilakukan mengacu pada standart nasional pendidikan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
b. Kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasin
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.
c. Mata pelajaran merupakan wahana untuk mewujudkan pencapaian kompetensi.
d. SKL dijabarkan darintujuan pendidikan nasional dan kebutuhan masyarakat, negara serta
perkembangan global.
e. SI dijabarkan dari SKL
f. Standart proses dijabarkan dari SI
g. Standart Penilaian dijabarkan dari SKL, SI, dan Standart Proses.
h. Standart Kompetensi Lulusan dijabarkan kedalam Standart Inti
i. Kompetensi Inti dijabarkan kedalam Kompetensi Dasar yang dikontekstualisasikan dalam suatu
mata pelajaran.
j. Kurikuklum Satuan Pendidikan dibagi menjadi kurikulum tingkat nasional, daerah, dan satuan
pendidikan
k. Proses pembelajaran diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotifasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik.
l. Penilaian hasil belajar berbasis prosse dan produk
m. Proses belajar dengan pendekatan ilmiah (scientific approach).
3. Ada tiga komponen penting yang ada dalam kurikulum yaitu komponen tujuan pendidikan,
komponen proses, dan komponen evaluasi.
4. Stategi Implementasi Kurikulum terdiri atas:
a. Pelaksanaan kurikulum di seluruh sekolah dan jenjang pendidikan yaitu:
Juli 2013: Kelas I, IV, VII, dan X
Juli 2014: Kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI
Juli 2015: kelas I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, XI, dan XII
b. Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dari tahun 2013 2015
c. Pengembangan buku siswa dan buku pegangan guru dari tahun
2012 2014
d. Pengembangan manajemen, kepemimpinan, sistem administrasi, dan pengembangan
budaya sekolah (budaya kerja guru) terutama untuk SMA dan SMK, dimulai dari bulan Januari
Desember 2013
e. Pendampingan dalam bentuk Monitoring dan Evaluasi untuk menemukan kesulitan dan masalah
implementasi dan upaya penanggulangan: Juli 2013 2016.
5. Terdapat beberapa perubahan kurikulum dari KTSP pada Kurikulum 2013, seperti penambahan
jam pelajaran sesuai jenjang pendidikan, KTSP yang dulunya berbasis kompetensi saja, sekarang
pada kurikulum 2013 berbasis kompetensi dan karakter, standart kompetensi lulusan dan lain
sebagainya.




[1] Muhammad Nuh, Materi Pelatihan Guru Implementasi Kurikulum 213 SD Kelas IV(Jakarta: Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjminan Mutu
Pendidikan, 2013), hlm. 72.
[2] Anisah Izzaty, Inovasi dalam Bidang Kurikulum 2013 dan mutu Pendidikan.,dalam
Http//Izzatyalmuhyi.blogspot.com (on line) diakses pada tanggal 5 Desember 2013.
[3] S. Hamid Hasan, Workshop/ kurikulum 2013 di SMP 19/materi pelatihan IPS kur
2013/penyegaran narsum 2013/milenium 26-28 Juni 2013.
[4] Salinan lampiran Permendikbud no. 67 tahun 2013 tentang kurikulum SD, hlm. 6.
[5] E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2013). hlm. 65.
[6] Tanpa Nama, Empat Belas Prinsip Pembelajaran Kurikulum 2013, dalam
http://gurupembaharu.com, (online) diakses pada tnggal 15-12-2013.
[7] Ahmad Aprillah, Implementasi Kurikulum, dalam http://www.academia.edu(online) diakses pada
tanggal 15-12-2013/14.28.

[8] Workshop Kurikulum 3013 di SMP 19 Malang, 28 Sepember 2013, Dokumen Kurikulum 2013/
KEMENDIKBUD/ Desember 2012, hlm.18.
[9] Mulyasa, Pengembangan..., hlm. 99-125.
[10] Muhammad Zaini, Pengembankugan Kurikulum (Yogyakarta: TERAS, 2009) hlm. 161.
[11] S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 252.
[12] Mulyasa. Pengembangan... hlm. 166.
[13] Ibid., hlm.170-171.
[14] Ibid., hlm. 172.
[15] Ibid., hlm. 172-173.
[16] Mulyasa, Pengembangan ..., hlm. 172-173.

http://intanelmumtaz.blogspot.sg/2013/12/makalah-implementasi-kurikulum-2013.html
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN
KARAKTER PADA
KURIKULUM 2013
DAFTAR ISI
Halaman judul ..1
Daftar Isi 2
Bab I Pendahuluan
1. Latar Belakang 3
2. Rumusan Masalah ..4
3. Tujuan Makalah . 5
Bab II Studi Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Kurikulum 2013
1. Konsep Implementasi Kurikulum 2013 .6
2. Studi Analisis Terhadap Implementasi Pendidikan Karakter Dalam
Kurikulum 2013 .13

Bab III Penutup
1. Kesimpulan 23
2. Kritik dan Saran . 23
Daftar Pustaka ..24









IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PADA KURIKULUM 2013


BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan karakter menjadi isu utama dalam kurikulum 2013. Bahkan di antara alasan utama
perubahan kurikulum 2013 adalah alasan karakter. Bahkan jauh sebelum kurikulum bergulir dan
diterapkan, diskursus pendidikan karakter telah ramai dibicarakan. Maka jadilah pendidikan
karakter sebagai program pendidikan nasional. Kita pun mengenal istilah pendidikan karakter,
RPP berkarakter, dan jargon serupa lainnya.
Kurikulum dan pendidikan merupakan dua konsep yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum
membahas mengenai pengembangan kurikulum. Sebab, dengan pemahaman yang jelas atas
kedua konsep tersebut diharapkan para pengelola pendidikan, terutama pelaksana kurikulum,
mampu melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Kurikulum dan Pendidikan bagaikan dua
keping uang, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan tak bisa terpisahkan.
Secara kodrati, manusia sejak lahir telah mempunyai potensi dasar (fit}rah. Fitrah merupakan
potensi dasar manusia yang dibawa sejak lahir yang harus ditumbuh kembangkan agar
fungsional bagi kehidupannya di kemudian hari. Untuk itu, aktualisasi terhadap potensi tersebut
dapat dilakukan usaha-usaha yang disengaja dan secara sadar agar mencapai pertumbuhan dan
perkembangan secara optimal.
Pendidikan, sebagai usaha dan kegiatan manusia dewasa terhadap manusia yang belum dewasa,
bertujuan untuk menggali potensi-potensi tersebut agar menjadi aktual dan dapat dikembangkan.
Dengan begitu, pendidikan adalah alat untuk memberikan rangsangan agar potensi manusia
tersebut berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan berkembangnya potensi-
potensi itulah manusia akan menjadi manusia dalam arti yang sebenaruya. Di sinilah, pendidikan
sering diartikan sebagai upaya manusia untuk memanusiakan manusia. Sehingga mampu
memenuhi tugasnya sebagai manusia dan menjadi warga negara yang berarti bagi suatu negara
dan bangsa.
Pendidikan dapat terjadi melalui interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik
maupun sosial. Proses interaksi tersebut akan berlangsung dan dialami manusia selama hidupnya.
Interaksi manusia dalam lingkungan sosialnya menempatkan manusia sebagai mahluk sosial.
Yakni, makhluk yang saling memerlukan, saling bergantung, dan saling membutuhkan satu sama
lain, termasuk ketergantungan dalam hal pendidikan. Di samping itu, manusia sebagai makhluk
sosial terikat dengan sistem sosial yang lebih luas.
Sekolah, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, tidak dapat dipisahkan dari sistem
kehidupan sosial yang lebih luas. Artinya, sekolah itu harus mampu mendukung terhadap
kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Dalam pendidikan sekolah, pelaksanaan
pendidikan diatur secara bertahap atau mempunyai tingkatan tertentu. Dalam sistem pendidikan
nasional, jenjang pendidikan dibagi menjadi pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi. Masing-masing tingkatan itu mempunyai tujuan yang dikenal dengan tujuan
institusional atau tujuan kelembagaan, yakni tujuan yang harus dicapai oleh setiap jenjang
lembaga pendidikan sekolah. Semua tujuan institusi tersebut merupakan penunjang terhadap
tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Saat ini pemerintah melalui Kemendikbud mengamanatkan kepada seluruh institusional
kelembagaan pendidikan untuk mentrapkan pendidikan berbasis karakter, Dewasa ini
berkembang tuntutan untuk perubahan kurikulum pendidikan yang mengedepankan perlunya
membangun karakter bangsa. Hal ini didasarkan pada fakta dan persepsi masyarakat tentang
menurunnya kualitas sikap dan moral anak-anak atau generasi muda.
Pada saat ini yang diperlukan adalah kurikulum pendidikan yang berbasis karakter; dalam arti
kurikulum itu sendiri memiliki karakter, dan sekaligus diorientasikan bagi pembentukan karakter
peserta didik. Perbaikan kurikulum merupakan bagian tak terpisahkan dari kurikulum itu sendiri
(inherent), bahwa suatu kurikulum yang berlaku harus secara terus-menerus dilakukan
peningkatan dengan mengadopsi kebutuhan yang berkembang dalam masyarakat dan kebutuhan
peserta didik, guna meminimalisir tingkat kriminallitas yang tak jarang lagi hal ini terjadi pada
anak bangsa yang tergolong masih remaja. Usaha pemerintah ini terbukti dengan merancang
munculnya Kurikulum 2013 yang saat ini masih menjadi bahan uji coba public akan
kelayakan kurikulum tersebut.
Dengan adanya deskripsi diatas, penulis mencoba untuk menganalisa kurikulum 2013 tersebut
dengan pendekatan beberapa teori dan Mazhab-mazhab filsafat pendidikan seperti; Idealisme,
Realisme, Materialisme, Pragmatisme, Eksistensialisme, Progresivisme, Perenialisme,
Esensialisme, dan Rekonstruksionalisme.
B. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah dan memberikan batasan pada pembahasan pada paper ini penulis
memberikan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 di SMP Negeri 2
Warungpring?
2. Bagaimana analisis implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 di SMP Negeri 2
Warungpring?
C. Tujuan Makalah
Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan penulis dalam pembuatan makalah ini agar para
pembaca dapat memahami:
1. Bagaimana implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 di SMP Negeri 2
Warungpring?
2. Bagaimana analisis implementasi pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 di SMP Negeri 2
Warungpring?
BAB II
STUDI IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER
DALAM KURIKULUM 2013
1. A. Konsep Implementasi Kurikulum 2013
Konsep kurikulum 2013 berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan,
juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Yang perlu
mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep kurikulum. Berbicara konsep
kurikulum baru 2013 sebenarnya dapat dianggap tidak membawa sesuatu yang baru. Konsep
kurikulum baru ini dinilai sudah pernah muncul dalam kurikulum yang dulu pernah digunakan.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Golkar, Ferdiansyah, mengatakan bahwa konsep proses
pembelajaran yang mendorong agar siswa aktif dalam kegiatan belajar mengajar ini sebenarnya
sudah diterapkan pada puluhan tahun silam dengan nama Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
Namun tinjauan penulis terkait konsepsi kurikulum, stidaknya Ada tiga konsep tentang
kurikulum 2013, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi.[1]
Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi. Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana
kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin
dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan
tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum juga
dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para
penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat. Suatu
kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatu sekolah, suatu kabupaten, propinsi,
ataupun seluruh negara. Konsep ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep kurikulum
sebelumnya, namun dalam kurikulum 2013 ini lebih bertumpu kepada kualitas guru sebagai
implementator di lapangan. Pendapat ini mengemuka dalam diskusi tentang Kurikulum 2013
yang diinisiasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, di Utrecht, Belanda, beberapa
waktu lalu.
Kualitas guru perlu diperhatikan, dan guru juga tidak boleh menjadi pribadi yang malas dan
berhenti belajar, demikian dilansir situs PPI Belanda, Senin (7/1/2013). Menurut peserta diskusi,
yakni pelajar dan masyarakat Indonesia di Utrecht, Belanda, sistem pendidikan perlu harus
mencegah terjadinya kemalasan guru akibat yang bersangkutan telah mendapatkan sertifikasi.
Mereka menilai, alangkah baiknya jika sertifikasi guru tidak dibuat untuk seumur hidup, tetapi
diperbaharui secara berkala layaknya surat izin mengemudi (SIM). Dengan begitu, guru selalu
terpacu untuk meningkatkan kualitasnya secara berkala. Tugas guru adalah memahami, membina,
mengembangkan serta menerapkan kemampuan berkomunikasi secara cermat, tepat dan efektif
dalam proses belajar mengajar. [2]
Satu poin positif yang disampaikan peserta diskusi adalah langkah pemerintah yang berencana
membuat kembali buku panduan utama (babon) bagi siswa dan pedoman pengajaran bagi guru
dinilai tepat. Mereka menyarankan, buku ini juga berisi tautan elektronik (link) tentang beragam
pengetahuan tambahan yang bisa didapatkan guru dan siswa dari internet.
Konsep kedua, adalah kurikulum 2013 sebagai suatu sistem, yaitu sistem kurikulum. Sistem
kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem
masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana
cara menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil
dari suatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem
kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap danamis.
Konsep ini juga dapat dipastikan mengalami prubahan dari konsep kurikulum yang sebelumnya,
sebab wacana pergantian kurikulum dalam sistem pendidikan memang merupakan hal yang
wajar, mengingat perkembangan alam manusia terus mengalami perubahan. Namun, dalam
menentukan sistem yang baru diharapakan para pembuat kebijakan jangan asal main rubah saja,
melainkan harus menentukan terlebih dahulu kerangka, konsep dasar maupun landasan filosofis
yang mengaturnya.
Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum. Ini
merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan
kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem
kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum, mempelajari konsep-konsep dasar
tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan,
mereka menemukan hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi
kurikulum.
Berubahnya kurikulum KTSP ke kurikulum 2013 ini merupakan salah satu upaya untuk
memperbaharui setelah dilakukannya penelitian untuk pengembangan kurikulum sesuai dengan
kebutuhan anak bangsa dan atau generasi muda. Inti dari Kurikulum 2013 ada pada upaya
penyederhanaan dan sifatnya yang tematik-integratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak
generasi yang siap di dalam menghadapi tantangan masa depan. Karena itu kurikulum disusun
untuk mengantisipasi perkembangan masa depan. Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan
agar peserta didik atau siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan :
1. Observasi,
2. Bertanya (wawancara),
3. Bernalar, dan
4. Mengkomunikasikan (mempresentasikan) apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui
setelah menerima materi pembelajaran.
Adapun obyek pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah : fenomena alam, sosial, seni, dan
budaya. Melalui pendekatan itu diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, ketrampilan,
dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif,
sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di
zamannya, memasuki masa depan yang lebih baik. Pelaksanaan penyusunan kurikulum 2013
adalah bagian dari melanjutkan pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang
telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan secara terpadu, sebagaimana amanat UU 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada penjelasan pasal 35, di mana kompetensi lulusan merupakan kualifikasi
kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar
nasional yang telah disepakati.
Paparan ini merupakan bagian dari uji publik Kurikulum 2013, yang diharapkan dapat menjaring
pendapat dan masukan dari masyarakat. Rasionalitas penambahan jam pelajaran dapat dijelaskan
bahwa perubahan proses pembelajaran (dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu) dan
proses penilaian (dari berbasis output menjadi berbasis proses dan output) memerlukan
penambahan jam pelajaran. Di banyak negara, seperti AS dan Korea Selatan, akhir akhir ini ada
kecenderungan dilakukan menambah jam pelajaran. Diketahui juga bahwa perbandingan dengan
negara-negara lain menunjukkan jam pelajaran di Indonesia relatif lebih singkat. Bagaimana
dengan pembelajaran di Firlandia yang relatif singkat. Jawabnya, di negara yang tingkat
pendidikannya berada di peringkat satu dunia, singkatnya pembelajaran didukung dengan
pembelajaran tutorial yang baik.
Penyusunan kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Warungpring yang menitikberatkan pada
penyederhanaan, tematik-integratif mengacu pada kurikulum 2006 yang di dalamnya ada
beberapa permasalahan di antaranya:
1. Konten kurikulum yang masih terlalu padat, ini ditunjukkan dengan banyaknya mata
pelajaran dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui
tingkat perkembangan usia anak;
2. Belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional;
3. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan
pengetahuan; beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan
kebutuhan (misalnya pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif,
keseimbangan soft skills dan hard skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di
dalam kurikulum;
4. Belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat lokal,
nasional, maupun global;
5. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci
sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada
pembelajaran yang berpusat pada guru;
6. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses
dan hasil) dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala; dan
7. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak
menimbulkan multi tafsir.
Konsep kurikulum 2013 di SMP Negeri 2 Warungpring menekankan pada aspek kognitif, afektif,
psikomotorik melalui penilaian berbasis test dan portofolio saling melengkapi. Kurikulum baru
tersebut akan diterapkan untuk seluruh lapisan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar hingga
Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan. Siswa untuk mata pelajaran tahun depan sudah tidak
lagi banyak menghafal, tapi lebih banyak kurikulum berbasis sains, kata Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Mohammad Nuh kepada pers di Kantor Wapres di Jakarta. Dikatakan Nuh, orientasi
pengembangan kurikulum 2013 adalah tercapainya kompetensi yang berimbang antara sikap,
keterampilan, dan pengetahuan, disamping cara pembelajarannya yang holistik dan
menyenangkan. Salah satu arus besar yang menyertai globalisasi adalah homogenisasi
(penyeragaman budaya), di samping neoliberalisasi.[3]
Untuk tingkat SD, katanya, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajari, yaitu pendidikan agama,
pendidikan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, seni budaya dan
keterampilan, pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta muatan lokal dan pengembangan
diri. Tapi mulai tahun ajaran 2013/2014 jumlah mata pelajaran akan diringkas menjadi tujuh,
yaitu pendidikan agama, pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
matematika, seni budaya dan prakarya, pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, serta
Pramuka. Khusus untuk Pramuka adalah mata pelajaran wajib yang harus ada di mata pelajaran,
dan itu diatur dalam undang-undang, kata Nuh. Salah satu ciri kurikulum 2013, khususnya untuk
SD, adalah bersifat tematik integratif.
Dalam pendekatan ini mata pelajaran IPA dan IPS sebagai materi pembahasan pada semua
pelajaran, yaitu dua mata pelajaran itu akan diintegrasikan kedalam semua mata pelajaran.
Dikatakan untuk IPA akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia dan
matematika, sedangkan untuk IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran Bahasa Indonesia
dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Mendikbud mengatakan, kurikulum 2013 itu
diharapkan bisa diterapkan mulai tahun ajaran baru 2013, tapi sebelumnya akan diuji publik
sekitar November 2012. Masyarakat bisa memberikan masukan atas setiap elemen kurikulum
mulai dari standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses hingga standar evaluasi. Adanya
uji publik ini diharapkan kurikulum yang terbentuk telah menampung aspirasi masyarakat, papar
Nuh.
1. B. Studi Analisis Terhadap Implementasi Pendidikan Karakter Dalam
Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 adalah nama baru dari berbagai nama atau istilah yang disandangkan pada
kurikulum sebelum-sebelumnya, istilah baru ini tentunya merupakan upaya pemerhati ahli
terhadap kurikulum untuk kemajuan dan kebutuhan dimasa mendatang. Sebagai alasan mengapa
kurikulum harus berubah adalah, untuk mempersiapkan generasi sekarang agar mampu menjawab
tantangan masa depan Indonesia. Tuntutan masa depan berubah-ubah, maka kita perlu
menyesuaikan kurikulum pendidikan kita. Mengapa harus berubah? Berangkat dari sebuah
pertanyaan ini, maka setidaknya ada empat poin yang ingin penulis tawarkan pada analisis
kurikulum di SMP Negeri 2 Warungpring ini, sebagai jawaban dari pertanyaan mendasar yang
ada dimuka :
a. Kurikulum 2013 harus perlu berubah untuk mempersiapkan generasi sekarang agar mampu
menjawab tantangan masa depan Indonesia. Tuntutan masa depan berubah, maka kita perlu
menyesuaikan kurikulum pendidikan kita.
b. Substansi perubahan kurikulum 2013 adalah perubahan pada: Standar Kompetensi Lulusan,
Standar Isi (kompetensi inti dan kompetensi dasar), Standar Proses, dan Standar Penilaian.
c. Menurut Pak Wamen Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim
Perubahan kurikulum merupakan keharusan. Kualitas pendidikan Indonesia sudah sangat jauh
tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Perubahan kurikulum ini untuk mengatasi
ketertinggalan Indonesia. Jika penerapan kurikulum ditunda, akan lebih lama kita mengejar
ketertinggalan dari negara lain.[4]
d. Dengan kurikulum baru diharapkan menghasilkan lulusan dengan kompetensi tinggi dan
berpikir analitis.
Berikut ini sebagai saran atau keritk kepada perencana atau pemerintah kaitannya dengan
kurikulum 2013:
Pertama, Mengapa kompetensi anak-didik kita tertinggal jauh dari negara-negara lain? Mengapa
mereka tidak mampu berpikir analitis? Mungkin karena metode pembelajaran kita selama
ini: ceramah, menghafal, belajar untuk lulus ujian(termasuk UN). Jadi yang lebih mendesak
adalah (a) memberdayakan para guru untuk mengajar dengan menekankan observasi, analisa,
menalar dan refleksi; (b) memperbaiki sistem evaluasi dalam dunia pendidikan kita: menghapus
pelaksanaanUjian Nasional.
Kedua, Perlu dibuat riset ilmiah: apakah karena kualitas guru-guru atau kualitas kurikulum?
Jangan-jangan kurikulum sudah bagus (CBSA, KBK dan KTSP) hanya tidak didukung dengan
pemberdayaan guru. Juga setiap kurikulum itu tidak ada petunjuk teknis pelaksanaannya. Jadi
masalah dunia pendidikan kita bukan membuat kurikulum baru. Tapi menjalankan dengan baik
kurikulum yang sudah ada. Lebih mendesak adalah pemberdayaan guru (kompetensinya) dan
sekaligus kesejahteraannya.
Ketiga, Pemerintah perlu membuat evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum KBK dan KTSP
lebih dulu. Berdasar ini baru kita mengetahui apa yang perlu diubah lebih awal agar kita dapat
meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Adapun perubahan-perubahan yang ada dalam kurikulum 2013 khususnya di SMP Negeri 2
Warungpring dari kurikulum sebelumnya antara lain adalah
1. Perubahan Standar Kompetensi Lulusan
Penyempurnaan Standar Kompetensi Lulusan memperhatikan pengembangan nilai, pengetahuan,
dan keterampilan secara terpadu dengan fokus pada pencapaian kompetensi. Pada setiap jenjang
pendidikan, rumusan empat kompetensi inti (penghayatan dan pengamalan agama, sikap,
keterampilan, dan pengetahuan) menjadi landasan pengembangan kompetensi dasar pada setiap
kelas.
1. Perubahan Standar Isi
Perubahan Standar Isi dari kurikulum sebelumnya yang mengembangkan kompetensi dari mata
pelajaran menjadi fokus pada kompetensi yang dikembangkan menjadi mata pelajaran melalui
pendekatan tematik-integratif (Standar Proses).
1. Perubahan Standar Proses
Perubahan pada Standar Proses berarti perubahan strategi pembelajaran. Guru wajib merancang
dan mengelola proses pembelajaran aktif yang menyenangkan. Peserta didik difasilitasi untuk
mengamati, menanya, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Sebagai catatan dari
adanya perubahan ini; (1) Perubahan metode mengajar ini hanya mungkin dilakukan ketika para
guru menguasai metode-metode mengajar yang efektif. Jadi guru perlu diberdayakan sehingga
menguasai bidang yang diajarkannya dengan baik sekaligus trampil menyampaikan topik itu
dengan cara yang menarik, sederhana, mengasyikkan dan membuat anak didik paham. (2) Untuk
mencapai perubahan proses ini, guru perlu dilatih terus-menerus (didampingi selama proses
belajar-mengajar). Calon-calon guru yang sedang belajar di Perguruan Tinggi juga dilatih standar
proses ini sesuai dengan bidang yang diampunya.
1. Perubahan Standar Evaluasi
Penilaian yang mengukur penilaian otentik yang mengukur kompetensi sikap, keterampilan, serta
pengetahuan berdasarkan hasil dan proses. Sebelumnya ini penilaian hanya mengukur hasil
kompetensi.
Beberapa Konsekwensi akibat dari perubahan substansi tersebut adalah :
1. Penambahan Jumlah jam belajar di SD
Beberapa perubahan drastis ada dalam kurikulum 2013, di antaranya waktu belajar ditambah,
tetapi jumlah mata pelajaran dikurangi. Di tingkat SD, dari 10 mata pelajaran (mapel) menjadi 6
mapel, yaitu Bahasa Indonesia, Pendidikan Kewarganegaraan, Agama, Matematika, Sosial
Budaya, dan Olahraga.Pelajaran IPA dan IPS ditiadakan, diintegrasikan ke mapel lain. Obyek
kurikulum baru ini adalah fenomena alam, fenomena sosial dan budaya. Dan Kls 1-2 SD:
Jumlah jam pelajaran sebelumnya adalah SD 26 jam/minggu menjadi 32 jam/minggu.
Namun hal ini Perlu dipikirkan secara serius: Apakah ini sungguh membuat anak-anak kita makin
siap menghadapi tantangan masa depan? Judul artikel KOMPAS: Target Kurikulum 2013 tidak
tegas dan abstrak. Dan Anak lebih banyak tinggal di sekolah. Keadaan konkritnya, anak bangun
pagi jam 5, berangkat ke sekolah jam 6 sudah di sekolah jam 7 dan kemudian kembali lebih
lama dari yang selama ini karena ada penambahan jam tinggal di sekolah. Anak juga masih perlu
mengerjakan PR di rumah atau mengikuti les. Jadi perlu dipikirkan bagaimana dampak
penambahan jam pelajaran ini pada anak-anak kita.
1. Penambahan jumlah jam belajar di SMP Negeri 2 Warungpring
Perubahan jumlah jam belajar di SMP Negeri 2 Warungpring adalah; (1) Jumlah jam belajar
siswa SMP berubah dari 32 jam/minggu menjadi 38 jam perminggu. (2) Kalau belajar 5 hari
berarti setiap hari anak belajar 8 jam setiap hari. Apa ini tidak penat? Perlu disiapkan makan
siang anak dan guru. Jika perubahannya demikian, maka; (1) Kemungkinan masalah yang akan
muncul adalah anak-anak makin bosan berada di sekolah. Lebih-lebih kalau cara mengajar guru
seperti yang selama ini. Jalan keluar guru perlu mengajar dengan lebih menarik dan membuat
anak gembira belajar.
Tapi apakah guru mampu berubah cepat? Kita sudah berapa kali berubah kurikulum 1984
(CBSA), 2004 (KBK) dan 2008 (KTSP) cara-cara mengajar guru tidak berubah. Lebih banyak
menatar, meminta murid menghafal dan latihan-latihan (drill) menyiapkan UN. (2) Pemerintah
mengatakan: pelajaran akan menarik dengan metode baru. Tapi apakah guru siap mewujudkan
ideal yang diharapkan pemerintah tersebut? Mungkin perlu penelitian. Kelihatannya ini asumsi
oknum-terterntu yang kebetulan duduk dalam pemerintahan.
1. Penambahan Jumlah Jam Pelajaran Agama
Adapun penambahan jumlah jam pelajaran Agama pada; SD dan yang sederajat bertambah dari 2
jam/minggu menjadi 4 jam/minggu. Jam Pelajaran agama di SMP, bertambah dari 2 jam/minggu
menjadi 3 jam per minggu. Bertambahnya Jam pelajaran agama dan PPKn ini dengan harapan
pembentukan karakter dan moral anak menjadi lebih baik. Apakah ada korelasi penambahan
jumlah pelajaran agama dan PPKn dengan karakater? Proses pembentukan karakter ditentukan
oleh lingkungan hidup anak (keluarga, sekolah dan masyarakat). Apa yang diobservasi anak akan
cenderung ditiru oleh anak. Apa konsekwensi menambah jumlah pelajaran agama dan PPKn?
Bertambahnya jumlah guru agama dan PPKn.
1. Jumlah Mata Pelajaran dikurangi tapi Jumlah Jam Belajar ditambah
Di negara lain, termasuk di Firlandia, jumlah mata pelajaran tetap banyak tapi jumlah total jam
pelajaran per minggu dibatasi. Kurikulum 2013 kurangi jumlah mata pelajaran tapi menambah
jumlah jam pelajaran per minggu (Pak S. Belen dari Pusat Kurikulum). Hal ini masih
memerlukan penelitian bagaimana keadaan emosi anak-anak di sekolah? Dengan jumlah jam
pelajaran yang seperti sekarang ini saja, bagaimana suhu emosi mereka?
Faktor penentu sukses belajar anak adalah anak tertarik dan suka/ senang mempelajari sesuatu, itu
adalah metodologi yang mengaktifkan dan membuat kreatif siswa, bukan lamanya waktu.
Indonesia adalah negara di dunia yang jumlah hari belajar efektif atau jumlah hari siswa ke
sekolah per tahun tertinggi di dunia 220 hari.
1. Materi Pelajaran IPA diintegrasikan dalam Mapel Bahasa Indonesia
Mungkin maksud dari pemerintah dengan poin ini adalah; (1) Menggabungkan Sains dengan
bahasa Indonesia membingungkan fokus materi yang akan diajarkan pada anak. Materi
Pelajaran (Mapel) IPA punya indicator sendiri. Bahasa Indonesia juga punya indikatornya sendiri.
Tidak bisa diintegrasikan. (2) Jika IPA atau IPS diajarkan ke dalam Bahasa Indonesia, perlu
dipertanyakan pengukurannya. Perlu diperjelas apakah pelajaran tersebut berdasar pada kaidah
bahasa atau sains. (Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung). (3) Apa
konsekwensi menghapus IPA dan IPS pada anak-didik kelak? Seharusnya kita mempersiapkan
anak-didik pada bidang sains sejak dini.
Sebagai bahan catatan penulis adalah; (1) Justru pelajaran Bahasa, bisa masuk ke Sains atau IPS.
Tidak boleh dibalik. Bahasa Indonesia memakai konsep sains atau ilmu pengetahuan sosial.
Misalnya teks yang perlu dianalisis dalam sebuah bahasa berisi artikel tentang tatanan
kehidupan sosial (IPS) atau artikel penemuan ilmiah (IPA). (2) Bahasa dapat diterapkan pada
semua mata pelajaran. Sebab kompetensi mendengarkan, beribicara, membaca dan menulis dapat
dikembangkan pada semua mata pelajaran dengan tematik integratif. (Sam Mukhtar Chaniago,
Dosen pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta, (KOMPAS, 4
Desember 2012). (3) Kurikulum tematik dikembangkan oleh guru. Hal itu terjadi di Inggris,
Finlandia, Australia, AS, Singapura.
Pada Kurikulum 2013 pemerintah pusat menentukan tema dan buku pelajaran yang akan
diterbitkan nantinya per tema. Di sini terjadi lompatan yang berisiko. Yakni, tema-tema
tampaknya bisa tidak sesuai dengan konteks. masing-masing sekolah di berbagai daerah dengan
ciri-ciri khas masing-masing.
Kemudian dari berbagai aspek jika di buat bagan tentrdapat keunggulan dan juga kelemahan dari
kuurikulum 2013 berikut analisa penulis
No Indikator Keunggulan Kelemahan
1. Guru - Memenuhi
kompetensi profesi,
pedagogi, sosial, dan
personal
- Motivasi mengajar
tinggi
- Ada rambu-rambu
yang jelas bagi guru
dalam melaksanakan
proses pembelajaran
(buku induk/ babon)
Timbulnya
kecemasan
khususnya guru yang
mata pelajarannya
dihapus (KKPI, IPA,
Kewirausahaan)
terancam
sertifikasinya
dicabut
- Guru berperan
sebagai fasilitator
- Diharapkan
Kreaktifitas Guru akan
semakin meningkat
- Sebagian besar
guru masih terbiasa
mengajar secara
konvensional
- Penguasaan
teknologi informasi
dan komunikasi
untuk pembelajaran
masih terbatas
- Guru yang
mengajar tidak
sesuai dengan
kompetensi
akademik
- Guru tidak
tertantang/tidak siap
dengan perubahan
- Kurangnya
kemampuan guru
dalam proses
penilaian sikap,
ketrampilan dan
pengetahuan secara
holistik
- Guru tidak ada
tuntutan lagi untuk
menyusun modul dan
LKS
- Kreatifitas Guru
berkurang
2. Manajemen - Satuan pendidikan
dalam melaksanakan
kurikulum lebih
terkendali, dan
memudahkan
- Lebih efektif dan
lebih sederhana
- Ada
kemungkinan kurang
sesuai buku teks
dengan kebutuhan
pembelajaran
- Kreatifitas dalam
pengembangan
silabus berkurang




Efisiensi dalam
manajemen sekolah
contohnya dalam
pengadaan buku,
dimana buku sudah
disiapkan dari pusat
- Penataan ulang
Dokumen KTSP
sesuai dengan
kurikulum 2013
- Restrukturisasi
dan reposisi SDM
pendidik
- Keterlaksanaan
pendidikan lebih
terkontrol
- Beban sekolah lebih
ringan
- Sekolah dpt
memperoleh
pendampingan dari
pusat
- Sekolah memperoleh
koordinasi dan
supervisi dari daerah
- Otonomi sekolah
dalam
pengembangan
kurikulum berkurang
- Sekolah tidak
mandiri dalam
menyikapi
kurikulum
3. Pembelajaran - Pembelajaran
berpusat pada siswa
dan kontekstual (siswa
aktif, lebih kompeten,
suasana belajar
PAIKEM)
- Metode pembelajaran
lebih bervariasi
- Tingkat keaktifan
dan motivasi siswa
belum merata
- KBM saat ini
pada umumnya
masih konvensional
- Masih berpusat
pada kognitif
4.
Penilaian
- Penilaian meliputi
aspek kognitif, afektif,
psikomotorik sesuai
proporsi
- Penilaian test dan
portofolio saling
melengkapi
- membutuhkan
perangkat portofolio
yang lengkap dan
waktu pengamatan
- Belum semua
guru memahami
sistem penilaian
sikap dan
keterampilan
- Belum ada juknis
pembobotan
penilaian
ketrampilan
- Menambah beban
kerja guru
5.
Pendanaan
- Penggunaan dana
lebih terfokus pada
pencapaian tujuan
- Satuan biaya
pendidikan relatif
merata
Kebutuhan dana
menjadi lebih besar
dan tinggi
(khususnya untuk
tingkat SMA/K)





6. Apresiasi dan
tanggapan terhadap
Citra sekolah dan
Guru akan menurun

Tanggapan/umpan
balik masyarakat
sekolah menjadi lebih
tinggi
jika tidak berhasil
menjalankan
kurikulum 2013
7. Sarana dan prasarana Penggunaan sarana dan
prasarana meningkat
Jika tidak hati hati
maka akan cepat
rusak /habis
sehingga
berpengaruh pada
anggaran
8.
Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler wajib
Pramuka meningkatkan
karakter siswa terutama
dalam kedisplinan,
kerjasama, saling
menghargai, cinta tanah
air, dll
Pramuka menjadi
beban bagi siswa
yang tidak menyukai
pramuka, sehingga
ada unsur
keterpaksaan


























BAB III
PENUTUP
1. A. Kesimpulan
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan :
1. Setidaknya Ada tiga konsep tentang kurikulum 2013 khusunya di SMP Negeri 2 Warungpring,
kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi. Sebagai substansi konsep
ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan konsep kurikulum sebelumnya, namun dalam
kurikulum 2013 ini lebih bertumpu kepada kualitas guru sebagai implementator di lapangan.
Sebagai sistem konsep ini dapat dipastikan mengalami perubahan dari konsep kurikulum yang
sebelumnya, sebab wacana pergantian kurikulum dalam sistem pendidikan memang merupakan
hal yang wajar, mengingat perkembangan alam manusia terus mengalami perubahan. Namun,
dalam menentukan sistem yang baru diharapakan para pembuat kebijakan jangan asal main rubah
saja, melainkan harus menentukan terlebih dahulu kerangka, konsep dasar maupun landasan
filosofis yang mengaturnya. Sedangkan Sebagai Bidang Studi Ini merupakan bidang kajian para
ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi
adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum.
2. Jika dianalisa dari berbagai aspek tentu sudah sewajarnya terdapat pro dan kontra dari setiap
perubahan kurikulum juga terdapat kelebihan dan kekuurangan dari masing masing. Namun
sebagus apapun kurikulum jika tidak didukung oleh semua sarana pendukung tentu tidak akan
tercapai sebagaimana yang di harapkan.
1. Kritik dan Saran
Demikian makalah yang kami sampaikan penulis menyadari dengan sepenuhnya bahwa jauh dari
kesempurnaan untuk itu, kritik dan saran yang membangun dari semua pembaca selalu kami
harapkan demi sebuah perbaikan ke arah yang lebih baik. Akhirnya semoga paper ini bermanfaat
bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
http://kampus.okezone.com/read/2013/01/07/373/742518/kurikulum-2013
http://kompas.com.
http://adibazhamutiara.blogspot.com/2011/03/hakikat-fungsi- dan-proses-
pengembangan.html.
http://sawali.infome.ncermati-draft-uji-publik-kurikulum-2013.
Prihatin, Eka, Konsep Pendidikan, PT. Karsa Mandiri Persada, Bandung, 2008.
Sukamdinata, S. Nana. Pengembangan Kurikulum teori dan Praktek. Remaja Rosda karya. 2006:
Bandung.
www.slideshare.net/zethos/pengembangan-kurikulum2013.
Wardana, Yana, Teori Belajar dan Mengajar, PT. Pribumi Mekar, Bandung, 2010.

[1]. http://kampus.okezone.com/read/2013/01/07/373/742518/kurikulum-2013 di unggah pada
hari Rabu 06/02/2013 waktu pukul 15.00

[2] . Wardana, Yana, Teori Belajar dan Mengajar, PT. Pribumi Mekar, Bandung, 2010, hlm. 49
[3] . Prihatin, Eka, Konsep Pendidikan, PT. Karsa Mandiri Persada, Bandung, 2008, hlm. 20
[4]. http://kompas o3 Desember 2012 di unggah pada hari rabu 06 /02/2013 waktu pukul 15.05
WIB

http://yudiavadza.wordpress.com/2013/10/27/implementasi-pendidikan-karakter-pada-kurikulum-
2013/
3
BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Dalam sejarah perjalanan pendidikan di Indonesia, kurikulum sudah menjadi stigma negative dalam
masyarakat karena seringnya berubah tetapi kualitasnya masih tetap diragukan. Kurikulum
merupakan sarana untuk mencapai program pendidikan yang dikehendaki. Sebagai sarana,
kurikulum tidak akan berarti jika tidak ditunjang oleh sarana dan prasarana yang diperlukan seperti
sumber-sumber belajar dan mengajar yang memadai, kemampuan tenaga pengajar, metodologi
yang sesuai, serta kejernihan arah serta tujuan yang akan dicapai. Pelaksanaan suatu kurikulum tidak
terlepas dari arah perkembangan suatu masyarakat. Perkembangan kurikulum di Indonesia pada
zaman pasca kemerdekaan hingga saat ini terus mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan
zaman serta terus akan mengalami penyempurnaan dalam segi muatan, pelaksanaan, dan
evaluasinya.

Perubahan kurikulum dapat bersifat sebagian (pada kompoenen tertentu), tetapi dapat pula bersifat
keseluruhan yang menyangkut semua komponen kurikulum. Pembaharuan kurikulum biasanya
dimulai dari perubahan konsepsional yang fundamental yang diikuti oleh perubahan struktural.
Pembaharuan dikatakan bersifat sebagian bila hanya terjadi pada komponen tertentu saja misalnya
pada tujuan saja, isi saja, metode saja, atau sistem penilaiannya saja. Pembaharuan kurikulum
bersifat menyeluruh bila mencakup perubahan semua komponen kurikulum. Dalam perjalanan
sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada
tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006 dan tak ketinggalan juga kurikulum
terbaru yang akan diterapkan di tahun ajaran 2013/2014. Sebelum pelaksanaan penerapan
kurikulum 2013 ini, pemerintah melakukan uji public untuk menentukan kelayakan kurikulum ini di
mata public. Kemudian pada akhirnya di tahun 2013 akan mulai diberlakukan kurikulum ini secara
bertahap.

Pada Kesempatan ini saya akan membahas kurikulum 2013 yang menjadi pro dan kontra bagi guru
dan masyarakat.

B. Identifikasi Masalah
1. Apa pengertian kurikulum?
2. Apa pengertian kurikulum 2013?
3. Apa kelebihan dan kekurangan kurikulum 2013?



BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Kurikulum
Secara etimologis, kurikulum berasal dari kata dalam Bahasa Latin curerer yaitu pelari, dan curere
yang artinya tempat berlari. Pada awalnya kurikulum adalah suatu jarak yang harus ditempuh oleh
pelari mulai dari garis start sampai dengan finish. Kemudian pengertian kurikulum tersebut
digunakan dalam dunia pendidikan, dengan pengertian sebagai rencana dan pengaturan tentang
sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari peserta didik dalam menempuh pendidikan di
lembaga pendidikan.

Berikut ini beberapa pengertian kurikulum yang dikemukakan oleh para ahli:

Pengertian Kurikulum Menurut Kerr, J. F (1968): Kurikulum adalah semua pembelajaran yang
dirancang dan dilaksanakan secara individu ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di
luar sekolah.
Pengertian Kurikulum Menurut Inlow (1966): Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang
dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah
ditentukan.
Pengertian Kurikulum Menurut Neagley dan Evans (1967): kurikulum adalah semua
pengalaman yang dirancang dan dikemukakan oleh pihak sekolah.
Pengertian Kurikulum Menurut Beauchamp (1968): Kurikulum adalah dokumen tertulis yang
mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui berbagai mata pelajaran,
pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Kurikulum Menurut Good V. Carter (1973): Kurikulum adalah kumpulan kursus
ataupun urutan pelajaran yang sistematik.
Pengertian Kurikulum Menurut UU No. 20 Tahun 2003: Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional.
B. Pengertian Kurikulum 2013
Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang melakukan penyederhanaan, dan tematik-integratif,
menambah jam pelajaran dan bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih
baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan),
apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran
dan diharapkan siswa kita memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan jauh lebih
baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif, sehingga nantinya mereka bisa sukses
dalam menghadapi berbagai persoalan dan tantangan di zamannya, memasuki masa depan yang
lebih baik.

C. Kelebihan dan kekurangan kurikulum 2013.

Kelebihan Kurikulum 2013
1. Lebih menekankan pada pendidikan karakter. Selain kreatif dan inovatif, pendidikan
karakter juga penting yang nantinya terintegrasi menjadi satu. Misalnya, pendidikan budi
pekerti luhur dan karakter harus diintegrasikan kesemua program studi.
2. Asumsi dari kurikulum 2013 adalah tidak ada perbedaan antara anak desa atau kota.
Seringkali anak di desa cenderung tidak diberi kesempatan untuk memaksimalkan potensi
mereka.
3. Merangsang pendidikan siswa dari awal, misalnya melalui jenjang pendidikan anak
usia dini.
4. Kesiapan terletak pada guru. Guru juga harus terus dipacu kemampuannya melalui
pelatihan-pelatihan dan pendidikan calon guru untuk meningkatkan kecakapan
profesionalisme secara terus menerus.

Kelemahan Kurikulum 2013
1. Pemerintah seolah melihat semua guru dan siswa memiliki kapasitas yang sama
dalam kurikulum 2013. Guru juga tidak pernah dilibatkan langsung dalam proses
pengembangan kurikulum 2013.
2. Tidak ada keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil dalam
kurikulum 2013. Keseimbangan sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN) masih
diberlakukan.
3. Pengintegrasian mata pelajaran IPA dan IPS dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
untuk jenjang pendidikan dasar tidak tepat, karena rumpun ilmu pelajaran-pelajaran
tersebut berbeda.


BAB III
KESIMPULAN


Kurikulum 2013 merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, setiap kurikulum pasti
memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. oleh karena kita harus tetap mendukung upaya
pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia demi menciptakan peserta didik
yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia dan sesuai dengan pancasila demi memenuhi
perkembagan zaman.



BAB IV
PENUTUP


Demikianlah makalah yang dapat saya sajikan dan sampaikan, apabila terdapat kesalahan dalam
penulisan maupun pelafalannya saya mohon maaf. Semoga makalah ini bermanfaat.
http://jabercaemdanunyuweb.blogspot.sg/2013/10/makalah-kurikulum-2013.html
JAKARTA - Rencana pergantian kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang
menjadi kurikulum 2013, masih menuai kontroversi. Pasalnya, masih banyak guru yang
kurang memadai integritasnya dalam implementasi kurikulum 2013.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila)
Bujang Rahman menjelaskan, sekolah-sekolah pun disibukkan dengan kabar pergantian
kurikulum ini. Padahal, peraturan resmi tentang hal itu belum ada.

"Ibarat bayi, belum lahir tapi sudah beli ayunan," kata Bujang, seperti dikutip dari laman
Unila, Selasa (30/4/2013).

Bujang menilai, penerapan kurikulum 2013 harus diawali dengan perbaikan atas
berbagai permasalahan pendidikan. Dengan demikian, target kurikulum 2013 bisa
dicapai secara optimal. Salah satunya, menyesuaikan perubahan dalam kurikulum
dengan kemampuan guru mengajar. Padahal, kata Bujang, konsep kurikulum 2013
sebenarnya bagus.

"Tetapi, kondisi sumber daya manusia (SDM) guru yang belum mumpuni, ditambah
infrastruktur yang tidak memadai membuat tujuan kurikulum 2013 ini sulit tercapai,"
imbuhnya.

Dia mengimbuh, saat ini saja, dari sekira tiga juta guru di Indonesia, baru sekira 51
persennya memenuhi kualifikasi minimal sebagai guru. Idealnya, untuk menjadi guru,
seseorang harus berpendidikan minimal S-1. Kemudian, hanya 44 persen guru yang
sudah golongan IV/a.

"Kondisi ini menunjukkan 56 persen guru belum pernah membuat karya ilmiah.
Padahal, guru seharusnya bisa menghasilkan karya-karya ilmiah yang dihasilkan
melalui penelitian," tuturnya.

Masalah lain dalam rencana implementasi kurikulum 2013 adalah masih banyaknya
ruang kelas yang rusak di Tanah Air. Pemerintah, kata Bujang, perlu memerhatikan
infrastruktur pendidikan agar para siswa bisa nyaman belajar.

Selain itu, penerapan kurikulum 2013 juga membuat sekolah harus membiasakan diri
untuk memberikan ruang gerak yang luas supaya siswa bisa mengembangkan diri dan
berinovasi, termasuk mengubah pola ujian objektif menggunakan bentuk soal pilihan
ganda. (rfa)
http://kampus.okezone.com/read/2013/04/30/373/799822/masalah-yang-mengintai-penerapan-
kurikulum-2013

MAKALAH PENGEMBANGAN KURIKULUM
PROFESIONALISASI GURU DAN IMPLEMENTASI
DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
PENDIDIKAN


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Dalam dunia pendidikan, interaksi antara guru (pendidik) dengan peserta
didik pada dasarnya untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang ada. Untuk
memajukan suatu pandidikan yang diharapkan oleh masyarakat, pendidik, peserta
didik, dan tujuan pendidikan merupakan suatu komponen yang sangat erat
hubungannya, karena ketiga komponen ini secara kualitatif maupun kuantitatif.
Pendidik merupakan tenaga yang profesional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan proses pembelajaran, melakukan bimbingan dan pelatihan,
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik di perguruan tinggi. Keterampilan dan pengimplementasian dalam profesi
sangat didukung oleh teori yang telah dipelajari khususnya dalam pengembangan
kurikulum yang telah ditetapkan disekolah masing-masing.
Jadi yang dikatakan seorang yang profesional dituntut banyak belajar dalam
mengimplementasikan pengalaman materi yang digelutinya untuk pengembangan
kurikulum yang ada disekolahnya masing-masing. Hal ini bertujuan untuk
mengembangkan Imu kepada siswa dan merupakan suatu usaha untuk pencapaian
tujuan pembelajaran, secara kualitatif maupun kuantitatif.
Dengan adanya keterangan diatas, maka penulis akan mengangakat judul
makalah ini dengan tema Profesionalisasi Guru dan Implementasi dalam
Pengembangan Kurikulum Pendidikan.


B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis merumuskan permasalahan yang mengangkat:
1. Hal apa saja yang dilakukan profesionalisasi dalam mengimplementasikan
pengembangan kurikulum yang ada disekolah?
2. Bagaimana seorang profesionalisasi, mengimplementasikan dalam
pengembangan kurikulum kepada peserta didik?


C. Tujuan Makalah
Berdasarkan permasalahan diatas, tujuan penulis dalam pembuatan
makalah ini agar para pembaca dapat memahami hal apa saja yang menyangkut
keprofesional, pengimplemantasikan terhadap pengembangan kurikullum yang ada.










































BAB II
PEMBAHASAN


A. Pengertian Profesi Sacara Umum
Menurut Martinis Yamin (2006: 2-3) menyatakan profesi merupakan
seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, tehnik,
dan prosedur berlandaskan intelektualitas. Dengan demikian profesi merupakan
makna, bahwa profesi yang disandang oleh tenaga kependidikan atau guru, adalah
suatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan,
keahlian, dan ketelatenan untuk menciptakan anak memiliki perilaku suatu sesuai
dengan yang diharapkan.
Menurut Nana. S. Sukmadinata (2006: 191) sebagai pendidik profesional,
guru bukan hanya dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga
harus memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional.
Berdasarkan penjelasan diatas, jelaslah seoarang guru dapat dari usaha
keras dan keahlian yang dimilikinya. Hal ini bertujuan untuk tujuan seorang guru
dalam mengupayakan, membimbing, melatih, dan mengajar dengan sepenuh hati
untuk keinginan dan keberhasilan peserta didik yang diterakan dalam penjelasan
tujuan pendidikan. Pada dasarnya pendidikan merupakan interaksi antar pendidik
(guru) dan peserta didik (siswa) untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
Seseorang guru yang dianggap profesional, yaitu guru atau pendidik yang
benar-benar melaksanakan keberhasilan peserta didik (siswa). Tugas pendidik
untuk keberhasilan siswa itu sangat berat, dengan demikian guru harus diberi
kesempatan yang sebanyak mungkin untuk mengembangkan diri dan pekerjaannya
seperti mengikuti kursus, pelatihan, penataran, melanjutkan pendidikan yang lebih
tinggi lagin dan biayanya dibantu oleh pemerintah. Hal ini semua bertujuan untuk
mengutamakan kesetaraan, bahwa profesi yang diemban sebagai guru itu sama
saja dengan profesi yang lain.


B. Konsep Profesionalisasi Guru
Menurut Martinis Yamin (2006: 4) keterampilan dalam pekerjaan profesi
sangat didukung oleh teori yang dipelajarinya. Jadi, seorang guru yang profesional
dituntut banyak belajar, membaca dan mendalami teori tenteang profesi yang
digelutinya, suatu profesi bukanlah suatu permanen, ia akan mengalami perubahan
dan mengikuti perkembangan kebutuhan manusia, oleh sebab itu penelitian
terhadap suatu tugas profesi dianjurkan, didalam kegunaan dikenal dengan
penelitian action research.
Menurut Nana. S. Sukmadinata (2006: 191) sebagai pendidik profesional,
guru bukan sja dituntut melaksanakan tugasnya secara profesional, tetapi juga
memiliki pengetahuan dan kemampuan profesional. Dalam diskusi pengembangan
modal pendidikan profesional tenaga kependidikan, yang dselenggarakan PPS IKIP
Bandung tahun 1990, dirumuskan 10 ciri sutu profesi, Yaitu:
1. Memiliki fungsi dan signifikan social
2. Memiliki keahlian/ keterampilan tertentu
3. Keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
4. Didasarkan atas disiplin ilmu ang jelas
5. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama
6. Aplikasi dan sosialisasi nilai -nilai profesinal
7. Memiliki kode etik
8. Kebebasan untuk memberikan judgement dalam memecahkan masalah dalam lingkup
kerjanya
9. Memiliki tanggung jawab profesional dan otanani
10. Ada pengetahuan dan masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya.
Dari perjalanan uraian diatas, meskipun bahan banyak seorang pendidik
melakukan atau menerapkan itu semua pada peserta didik, namun usaha untuk
berupaya untuk meningkatkan keberhasilan peserta didik selalu digalakkan.
Secara konseptual, bentuk kerja guru menurut, Depdiknas (1980) telah
merumuskan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki guru dan
mengelompokan atas tiga dimensi umum keterampilan, yaitu :
1. Kemampuan profesional mencangkup :
a. Penguasaan materi pelajaran, mencangkup bahan yang akan digagaskan dan
dasar keilmuan dari bahan pembelajaran tersebut.
b. Penguasaan landasan dan wawasan kependidikan keperguruan.
c. Penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran siswa
2. Kemampuan sosial, yaitu kemampuan menyesuaikan diri deng tuntutan kerja dan
lingkungan sekitar
3. Kemampuan personal (pribadi) mencakup:
a) Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru, dan
terhadap keseluruhan situasi pendidikan beserta unsur -unsurnya.
b) Pemahaman, penghayatan, dan penampilan-penampilan nilai yang selayaknya dianut
oleh seorang guru.
c) Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para
siswanya.
C. Syarat-Syarat Menjadi Guru Profesional
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang seperti yang
dibayangkan oleh banyak orang, dengan bermodal penguasaan materi dan
penyampaiannya kepada siswa sudah cukup, namun hal ini belumlah dapat
dikatakan sebagai guru yang profesional, maka harus memiliki berbagai
keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode eitk
guru, dan lain sebagainya.
Oemar Hamalik dalam bukunya proses belajar -mengajar (2001: 16),
guru profesional harus dapat memiliki persyaratan, yang meliputi:
1. Memilik bakat seorang guru
2. Memiliki keahlian seorang guru
3. Memiliki keahlian sebagai guru yang baik dan teritregasi
4. Memiliki mental yang sehat
5. Berbadan sehat
6. Memilki pengalaman dan penetahuan luas
7. Guru adalah manusia yang berjiwa pancasila
8. Guru adalah seorang warga Negara yang baik
D. Guru Profesional Dan Kurikulum
Didalam dunia pendidikan guru tidak hanya bermodal pengalaman,
pengetahuan akademis, akan tetapi juga keterampilan (skiil). Kurikulum
mengundang muatan akademis, namun penerapannya berdasarkan teknis dan
membutuhkan banyak pengalaman. David Berlo (dalam Abitar, 1989: 9) guru
sebagai sumber dalam menyampaikan pesan kepada audiens harus memiliki
keterampilan komunikasi, sikap, pengetahuan, dan memperhatikan kontek sosial
budaya.
Disamping itu guru juga memil iki kesepakatan terhadap perubahan-
perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan,seperti perubahan kurikululum satu
kali dalam 10 tahun. Dan guru juga diminta untu cepat beradaptasi dengan
perubahan itu dengan cara penataran, workshop, dan belajar dengan t eman se-
profesi.
Menurut Martinus Yamin (2006: 49) guru menerapkan kurikulum yang telah
dirancang oleh pemerintah dan instansi, dan mereka harus mampu
mengajarkannya walaupun kurikulum baru berbeda dengan kurikulum sebelumnya,
hal ini terjadi karena pengaruh penilaian kemajuan zaman dan untuk kecerdasan
peserta didik sendiri dalam pengembangan pembelajaran.
Dilihat dari perkembangan kurikulum yang ada di Indonesia, menurut
Kenandan (2007: 107) dalam perjalanan detik pendidikan diIndonesia telah
menerapkan enam kurikulum, yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum
1984, kurikulum 1994, kurikulum 2004 atau kurikulum berbasis kompetisi (meski
belum sempat disahkan oleh pemerintah, tetapi sempat berlaku dibeberapa
sekolah piloting project), dan terakhir sampai sekarang kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui Permendiknas nomor
22 tentang standar isi, permen nomor 23 tentang standar kelulusan dan permen
nomor 24 tentang pelaksanaan kedua permen tersebut.
Terjadinya pengembangan kurikulum dapat dikonsepsikan sebagai suatu
siklus lingkaran yang dimulai analisis mengenai maksud didirikannya sekolah.
Kurikulum standar kompetensi menentukan prioritas yang tepat, dan
menmencamkan bentuk konsep program yang merupakan bagian dari
pengembangan kurikulum. Dan dengan pengembangan kurikulum juga dituntut
menerapkan da mengatur perubahan yang ada.
Dan adanya perkembangan kurikulum, guru dituntut harus cekatan dan
tanggap karena guru bekerja dikelas dituntut untuk menyampaikan kur ikulum real,
guru merupakan pengontorl kualitas belajar mulai dari awal sampai berakhirnya
pelajaran, dan berguna juga untuk terciptanya life skiil dikalangan siswa.
Sebagai guru yang profesionalis, maka guru harus dapat mengetahui prinsip
pengembangan kurikulum dan prinsip pelaksana kurikulum.
1. Prinsip Pengembangan Kurikulum
Menurut Kunandar (2007: 139-141) pengembangan kurikulum dijenjang
sekolah dasar sampai sekolah menengah yang dikemangkan oleh sekolah dan
komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan standar isi, serta
panduan penyusunan kurikulum yang dibuat BSNP, HARUS didasarkan perinsip-
perinsip sebagai berikut:
a) Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan
lingkungannya.
b) Beragam dan terpadu
c) Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
d) Rayuan dengan kebutuhan kehidupan
e) Menyeluruh dan berkesinambungan
f) Belajar sepanjang hayat
g) Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
2. Perinsip Kurikulum
Menurut Kunandar (2007: 142-143) dalam pelaksanaan kurikulum disetiap
kesatuan pendidikan menggunakan prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Pelaksanaan kurikulum berdasarkan pada potensi, perkembangan, dan kondisi peserta
didik untuk menguasai kompetensi yang berguna baginya.
b) Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yaitu:
1) Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Belajar untuk memahami dan menghayati
3) Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif
4) Belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain
5) Belajar untuk membangun dan menemukan jati dirinya, melalui proses pembelajaran
yang efektif, kreatif, aktif, dan menyenangkan
c) Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan yang baik
d) Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling
menerima dan menghargai, akrab, terbuka, hangat, dan ber sifat membangun
e) Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia,
yang sumber belajar bersifat keteknoloian.
f) Kurkulum dlaksanakan dengan mendayagunakan, kondisi alam, sosial, dan budaya, serta
kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidik dengan muatan seluruh bahan kajian secara
optimal
g) Kurikulum dilaksanakan berdasarkan komponen-komponen kurikulum yang ada.
E. Peranan Guru Dalam Pengembangan Kurikulum
Menurut Nana S Sukmadinata (2006: 198) dilihat dari segi pengeluarannya,
pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara yang bersifat sentralisasi dan
desintralisasi. Dalam pengembangan kurikulu, yang sentralisasi bersifat uniform
untuk seluruh Negara, daerah atau jenjang jenis sekolah.
Di Indonesia dewasa ini terutama pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah digunakan modal ini. Kurikulum untuk sekolah dasar, sekolah lanjutan
tingkat pertama, sekolah menengah umum, dan sekolah menengah kejuruan pada
prinsipnya sama.
1. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi
Menurut Nana S. sukmadinata (2006: 200) dalam kurikulum yang bersifat
sentralisasi. Guru tidak mempunyai peranan dalam perancangan, dan evaluasi
kurikulum yang bersifat makro disusun okeh tim atau komisi khusus, yang terdiri
atas para ahli, guru menyusun kurikulum dalam bidangnya untuk jangka waktu satu
tahun, satu semester, satu catur wulan, beberapa minggu atau berberapa teori
saja, hal ini juga disebut dengan satuan pelajaran. Program tahunan, semesteran,
satu catur wulan, ataupun satuan pelajaran, metode dan media pembelajaran, dan
evaluasi, hanya keluasan dan kedalamanya berbeda-beda.
Dengan adanya penjelasan diatas jelaslah menjadi tugas gurulah menyusun
dan memutuskan tujuan yang tepat, memilih dan menyusun tahap pembelajaran
yang sesuai dengan kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak memiliki
metode dan media mengajar yang bervariasi, serta menyusun program dan alat
evaluasi yang tepat. Suatu kurikulum tersusun secara sistematis akan
memudahkan dalam pengimplementasiannya, implementasi kurikulum hampir
seluruhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan dan ketekunan
guru. Guru hendaknya
2. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat disentralisasi
Menurut Nana. S Sukmadi nata (2006: 201) kurikulum disentralisasi disusun
oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah atau daerah.
Pengembangan kurikulum semacam ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan,
perkembangan daerah serta kemampuan. Sekolah atau sekolah-sekolah tersebut.
Kurikulum disentralisasi mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan-kelebihannya meliputi:
a) Kurikulum sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat
b) Kurikulum sesuai dengan tingkat dan kemampuan sekolah baik kemampuan
profesional, finannsial, maupun managerial.
c) Disusun oleh guru-guru sendiri dengan demikian sangat memudahkan dalam
pelaksanaannya.
d) Ada motivasi kepada sekolah (kepala sekolah, guru) untuk mengembangkan diri,
mencari dan menciptakan kurikulum yang sebaik-baiknya, dengan demikian akan
terjadi semacam kompetisi dalam pengembangan kurikulum.
Beberapa kelemahan bentuk kurikulum ini, adalah:
a) Tidak adanya keseragaman, untuk situasi yang membutuhkan keseragaman demi
persatuan nasional, bentuk ini kurang tepat.
b) Tidak adanya standar penilaian yang sama,
c) Adanya kesulitan bila terjadinya siswa pindahan siswa kesekolah.
d) Sukar untuk mengelola dan penilaian secara nasional.
e) Belum semua sekolah (daerah) mempunyai kesiapan untuk menyusun dan
mengembangkan kurikulum sendiri.
F. Implementasi guru terhadap kurikulum
Menurut Oemar Hamalik (2008: 237) implementasi merupakan suatu proses
penerapan ide, konsep, kebijakan, atau inovasi dalam bentuk ti ndakan praktis
sehingga membentuk dampak, baik berupa perbuahan pengetahuan, keterampilan,
maupun nilai sikap.
Sedangakan kurikulum menurut M. Joko Susilo (2007: 77) jangka waktu
pendidikan yang harus ditempati oleh siswa yang bertujuan untuk memperoleh
ijazah.
Jadi implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktuyalisasi
kurikulum tertulis (written curriculum) dalam bentuk pembelajaran.
Berdasarkan dari penjelasan diatas, jelaslah bahwa implementasi kurikulum
adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan
dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pealaksanaan dengan
pengelolaan, sambil sementara dilaksanakan penyesuaian terhadap ortuasi
lapangan dan karakteristik peserta didik , baik perkembangan intelektual,
emosional, serta fisiknya.
1. Tahap-Tahap Implementasi Kurikulum
Menurut Oemar Hamalik (2008: 238) implementasi kurikulum mencangkup tiga
halaman pokok, yaitu:
a) Pengembangan program mencakup program tahunan, semester, atau catur wulan,
bulanan, mingguan, harian, dan ada juga bimbingan konseling.
b) Pelaksanaan pembelajaran pada hakikatnya, pembelajaran adalah proses
intelektual antara peserta didik dengan lingkungan, sehingga terjadi perubahan
prilaku yang lebih baik.
c) Evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan sepanjang kurikulum berjalan.
2. Faktor yang mempengaruhi kurikulum
Adapun faktor yang mempengaruhi yaitu:
a) Karakteristik kurikulum, yang mencangkup ruang lingkup bahan ajar, tujuan,
fungsi, sifat, dan sebagaiannya.
b) Strategi implementasi yaitu strategi yang digunakan dalam pelaksanaan kuriulum.
c) Karakteristik penyusunan kurikulum, meliputi pengetahuan, keterampilan, serta
nilai-nilai sikap guru terhadap implementasi kurikulum dalam pembelajaran.
3. Prinsip-Prinsip Implementasi Kurikulum
Dalam implementasi kurikulum, terdapat beberapa prinsip yang menunjang
tercapainya keberhasilan, yaitu:
a) perolehan kesempatan yang sama
b) berpusat pada anak didik
c) menggunakan pendekatan dan kemitraan
d) kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan.
Dari keempat prinsip diatas pada dasarnya ingin menciptakan atau
pelaksanaan dalam pengembangan kurikulum yang dilakukan guru untuk
memperoleh hasil pembelajaran yang menandai baik secara efektif, kejuri tif dan
psikomentarinya.
4. Unsur-Unsur Implementasi Kurikulum
Menurut Oemar Hamalik (2008: 241-244) dalam implementasi kurikulum , terdapat
berbagai unsur terkait sebagai berikut:
a) Pelaksanaan kurikulum
pelaksanaan kurikulum menempatkan prinsip-prisip kesatuan dalam kebijakan dan
keberagaman dalam pelaksanaan standar nasional disusun oleh pusat, dan cara
pelaksanaannya disesuaikan dengan masing-masing daerah atau sekolah.
b) Bahasa pengantar
Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara menjadi pengantar dalam kegiatan
pembelajaran, namun jika diperlukan bahasa dan juga bias digunakan sebagai
pengantar.
c) Hari belajar
Jumlah hari belajar dalam satu tahun pelajaran adalah 204 sampai 240 hari, jumlah
minggu efektifnya adalah 34 sampai 40 hari, dan pengaturannya berdasarkan
semesteran.
d) Kegiatan kurikulum
Kegiatan kurikulum dikelompokan menjadi kegiatan intrakurikulum dan
ekstrakurikulum.
e) Tenaga kependidikan
Guru diharuskan mempunyai kualifikasi dan kompetensi khusus untuk menunjang
pencapaian kompetensi lulusan pada satuan pendidikan.
f) Sarana dan prasarana pendidikan
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan sumber belajar, buku, dan alat
pembelajaran yang disediakan pemerintah dan masyarakat sesuai dengan
kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki.
g) Remedial, pengayaan dan percepatan belajar
Sekolah memberikan layanan bagi peserta didik yang mendapat kesulitan belajar
melalui kegiatan remedial.
h) Bimbingan dan konseling
Sekolah memberikan bimbingan dan konseling kepada peserta didik dalam konteks
pengembangan kepribadian, sosial, karier dan belajar lanjutan.
i) Pengembangan dan penyusunan silabus
Diberbagai daerah, sekolah mengembangkan silabus sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan masing-masing, tetapi tetap dengan komisi standar kopetensi.
j) Pengelolaan kurikulum
Pengelolaan kurikulum disekolah dilakukan dengan memgunakan seluruh unsure
penyelenggra pendidikan, komite sekolah, dewan pendidikan,serta dunia usaha
dan industri dengan kondisi, kebutuhan, dan potensi untuk mewujudkan
pencapaian standar kompetensi
k) Sekolah bertaraf nasional
Sekolah ini diberikan untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing pada
tingkat internasional.
Dari penjelasan beberapa unsur diatas, pada dasarnya merupakan mata
usaha untuk membentuk peserta didik mampu dalam pengimplementasian
kurikulum dalam kehidupan dunia pendidikan dan merupakan suatu usaha untuk
mewujudkan pencapaian kompetensi nasional, dan usaha mendidik peserta didik
agar mampu bersaing dalam bidang skill dibidang masyarakat.
5. Komponen-komponen rencana implementasi kurikulum
Rencana implementasi kurikulum akan mengalami perbedaan dalam sistem
sekolah, tergantung pada struktur organisasi dan ruang lingkupnya. Selain itu,
rencana implementasi seharusnya didasarkan pada rencana kurikulum jangka
panjang, sehingga program yang ada dapat diteliti, direvisi dan di implementasikan
dalam periode waktu (biasanya dibuat dalam jangka waktu lima tahunan).
Adapun komponen rencana kurikulum menyangkut:
a. Studi program baru
b. Identifikasi sumber daya
c. Penetapan peran
d. Pengembangan proporsional
e. Penjadwalan
f. Sistem komunikasi
g. Pelaksanaan monitoring
G. Deskripsi Alternatif model implementasi kurikulum
Menurut Oemar Hamalik (2008: 248) dalam kaitannya dengan fungsi
pengelolaan kurikulum, akan dikemukakan model implementasi kurikulum baru.
Namun, sebelum ada pestulat yang penting dipahami, terlebih dahulu harus dapat
menerapkan model pengembangan implementasi manajemen strategi:
1. Implementasi kurikulum dipandang sebagai sistem. Sedangkan fungsi -fungsi
pengelolaan dipandang sebagai elemen atau subsistem proses dari sistem
implementasi kurikulum.
2. Dalam masing-masing komponen proses terdapat komponen-komponen lain yang
membentuk komponen tersebut.
3. Dalam setiap tahap kegiatan selalu diperhatikan keadaan faktor internal dan
eksternal yang berkaitan dengan pelaksanaan kurikulum.
4. Setiap tahap terdapat pelaksanaan, perencanaan dan evaluasi
5. Arah tujuan pada setiap tahapan proses implementasi ditujukan untuk
menghasilkan produk berkala yang saling berkaitan, dari secara keseluruhan
ditujukan untuk memperbaiki kondisi pelaksanaan (kualitas internal dan eksternal)
Dengan penjelasan diatas jelaslah bahwa tahapan implementasi secara
garis besar ada 3 yaitu: tahapan perencanaan, tahapan pelaksanaan, dan evaluasi.
a. Implementasi dan evaluasi kurikulum
Menurut Nana S Sukmadinata (2006: 177) pengembangan kurikulum yang
menekankan isi, membutuhkan waktu mempersiapkan situasi belajar dan
menyatukannya dengan tujuan pengajaran yang cukup lama. Kurikulum yang
menekankan situasi, waktu, untuk mempersiapkannya lebih pendek, sedangkan
kurikulum yang menekankan situasi, waktu untuk mempersiapkannya lebih pendek,
sedangkan kurikulum yang menekankan organisasi waktu persiapannya hampir
sama dengan kurikulum yang menekankan isi.
Menurut Oemar Hamalik (2008: 250) mengatakan dalam evaluasi implementasi
bertujuan untuk melihat proses pelaksanaan yang sedang berjalan sebagai fungsi
kontrol apakah pelaksanaan evaluasi telah sesuai dengan rencana dan sebagai
fungsi perbaikan jika dalam kekurangan.
Dan tujuan kedua, melihat hasil akhir yang di capai, hasil ini merujuk pada
kriteria waktu dan hasil yang dicapai dibandingkan ter hadap fase perencanaan.
Dan dalam implementasi kurikulum tidak terlepas dari model evaluasi yang
digunakan bertumpu pada aspek-aspek tertentu yang diutamakan dalam proses
pelaksanaan kurikulum.
Dengan demikian, evaluasi dilaksanakan menggunakan suatu metode, sarana
dan prasarana, anggaran personal dan waktu yang ditentukan dalam tahap
perencanaan.
























BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Dalam pengembangan kurikulum profesional guru, dan pengimplementasian
kurikulum sangat diperlukan, hal ini dikarena seorang guru merupakan seorang
figur yang mulia dan dimuliakan banyak orang, upaya guru mendidik, membimbing,
mengajar, dan melatih anak didik dan bentuk upaya memajukan dan mencerdaskan
peserta didik untuk pencapaian. Tujuan yang berdasarkan kualitatif maupun
kuantitatif. Pengembangan kurikulum dapat dikonsepsi sebagai suatu siklus
lingkasan yang dimulai dengan analisis mengenai maksud dicirikan sekolah.
Sebagai guru yang profesional, maka guru harus dapat mengetahui prinsip-
prinsip pengembangan kurikulum, dan peranan guru dalam pengembangan
kurikulum. Hal ini semua bertujuan untuk kemajuan peserta didik dan membentuk
keterampilan peserta didik dalam pemantapan tujuan pendidikan, baik secara
efektif, kognitif, dan psikomotor.
Keprofesioanalan guru dalam pengembangan kurikulum implementasi
sangat diterapkan kepada suatu jenjang pendidikan dan pengklasifikasian kepada
peserta didik itu sendiri, karena implementasi kurikulum adalah penerapan atau
pelaksanaan kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya,
kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil
senantiasa dilakukan penyesuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik
peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional dan bentuk fisiknya.
Dalam pengembangan kurikulum implementasi juga tidak terlepas dari
berbagai komponen-komponen yang mengatur dan mengarah kepada tujuan dalam
dunia pendidikan.




B. Saran
Dengan makalah yang sudah penulis selesaikan ini, dengan judul
profesionalisasi guru dan implementasi dalam pengembangan kurikulum
pendidikan, penulis menyadari kalau dalam makalah ini masih banyak terdapat
kesalahan, baik dalam bentuk kata maupun penulisannya. Dan penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca khususnya dosen pembimbing untuk
perbaikan makalah selanjutnya.












































DAFTAR PUSTAKA


Sukamdinata, S. Nana. Pengembangan Kurikulum teori dan Praktek. Remaja Rosda
karya. 2006: Bandung.


Yamin, Martinis. Profesionalisasi dan Implementasi KBK. Gaung Persada Press. 2006:
Jakarta


Hamalik, Oemar. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Remaja Rosda karya. 2006:
Bandung.


Susilo. M. Joko. KTSP, Manajemen Pelaksanaan dan kesiapan sekolah. Pustaka Belajar
Offset: 2007: Jakarta


Kunandiar. Guru Implementasi Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan sukses dalam
sertifikasi guru. Rajawali Press. Devisisi buku Perguruan Tinggi. Raja Grapindo
Persada. 2007: Jakarta.
http://cerdas-beramal.blogspot.sg/2012/12/makalah-pendidikan-kurikulum.html
Misbahur. M.Ag
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan nasional kita masih menghadapi berbagai macam persoalan. Persoalan itu
memang tidak akan pernah selesai, karena substansi yang ditransformasikan selama proses
pendidikan dan pembelajaran selalu berada di bawah tekanan kemajuan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan kemajuan masyarakat. Salah satu persoalan pendidikan kita yang masih
menonjol saat ini adalah adanya kurikulum yang silih berganti dan terlalu membebani anak
tanpa ada arah pengembangan yang betul-betul diimplementasikan sesuai dengan perubahan
yang diinginkan pada kurikulum tersebut.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan kurikulum selalu mengarah pada perbaikan
sistem pendidikan. Perubahan tersebut dilakukan karena dianggap belum sesuai dengan
harapan yang diinginkan sehingga perlu adanya revitalisasi kurikulum. Usaha tersebut mesti
dilakukan demi menciptakan generasi masa depan berkarakter, yang memahami jati diri
bangsanya dan menciptakan anak yang unggul, mampu bersaing di dunia internasional.
Kurikulum sifatnya dinamis karena selalu berubah-ubah sesuai dengan perkembangan
dan tantangan zaman. Semakin maju peradaban suatu bangsa, maka semakin berat pula
tantangan yang dihadapinya. Persaingan ilmu pengetahuan semakin gencar dilakukan oleh
dunia internasional, sehingga Indonesia juga dituntut untuk dapat bersaing secara global demi
mengangkat martabat bangsa. Oleh karena itu, untuk menghadapi tantangan yang akan
menimpa dunia pendidikan kita, ketegasan kurikulum dan implementasinya sangat
dibutuhkan untuk membenahi kinerja pendidikan yang jauh tertinggal dengan negara-negara
maju di dunia.
Banyak wacana yang berkembang tentang kurikulum 2013 ini. Ada berbagai persepsi
dan kritik yang berkembang dan perlu dihargai sebagai bagian dari proses pematangan
kurikulum yang sedang disusun. Selama era reformasi, ini adalah ketiga kalinya kurikulum
ditelaah dan dikembangkan dalam skala nasional setelah rintisan Kurikulum Berbasis
Kompetensi 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah yang terdapat pada makalah ini
yaitu, Bagaimana pengembangan kurikulum baru 2013 ini?

1.3 Tujuan dan Manfaat
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini yaitu untuk mendeskripsikan seperti apa
pengembangan kurikulum baru 2013.
Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh dari makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan studi perbandingan dalam
upaya pembuatan makalah atau penelitian selanjutnya yang dianggap relevan, terutama
terkait masalah pengembangan perubahan kurikulum 2013.
2. Manfaat Praktis
Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi dalam khazanah pengetahuan
tentang pengembangan perubahan kurikulum baru 2013 bagi penulis khususnya dan pembaca
pada umunya.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Ada beberapa tumpuan atau landasan terhadap adanya pengembangan yang terus
dilakukan pada kurikulum. Pengembangan tersebut dapat ditinjau dari beberapa aspek antara
lain sebagai berikut:
1. Aspek Filosofis
Di dalam UU No. 20 Tahun 2003 di sebutkan bahwa sistem pendidikan nasional harus
mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan
efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan
perubahan kehidupan local, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan
pendidikan secara terencana terarah, dan berkesinambungan. UU Sisdiknas kita pun telah
menggariskan bahwa esensi pendidikan adalah membangun manusia Indonesia seutuhnya.
Berdasarkan filisofinya, seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan yang diharapkan
antara lain berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan
masyarakat. Sementara itu, yang perlu diperhatikan juga adalah kurikulum.Kurikulum yang
dimaksud harus berorientasi pada pengembangan kompetensi siswa.
2. Aspek Yuridis

3. Aspek Konseptual

2.2 Rasional Pengembangan Kurikulum
Ada beberapa perbandingan yang bisa dijadikan sebagai tolak ukur dalam
pengembngan kurikulum 2013 ini. Pertama, berdasarkan pengalaman dari kurikulum
sebelumya yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) yang masih menyisakan
sejumlah permasalahan antara lain:
1. Konten kurikulum masih terlalu padat yang ditunjukkan dengan banyaknya mata pelajaran
dan banyak materi yang keluasan dan tingkat kesukarannya melampaui tingkat
perkembangan usia anak.
2. Kurikulum belum sepenuhnya berbasis kompetensi sesuai dengan tuntutan fungsi dan tujuan
pendidikan nasional.
3. Kompetensi belum menggambarkan secara holistik domain sikap, keterampilan, dan
pengetahuan.
4. Beberapa kompetensi yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan kebutuhan (misalnya
pendidikan karakter, metodologi pembelajaran aktif, keseimbangan soft skills dan hard
skills, kewirausahaan) belum terakomodasi di dalam kurikulum.
5. Kurikulum belum peka dan tanggap terhadap perubahan sosial yang terjadi pada tingkat
lokal, nasional, maupun global.
6. Standar proses pembelajaran belum menggambarkan urutan pembelajaran yang rinci
sehingga membuka peluang penafsiran yang beraneka ragam dan berujung pada
pembelajaran yang berpusat pada guru.
7. Standar penilaian belum mengarahkan pada penilaian berbasis kompetensi (proses dan hasil)
dan belum secara tegas menuntut adanya remediasi secara berkala.
8. Dengan KTSP memerlukan dokumen kurikulum yang lebih rinci agar tidak menimbulkan
multi tafsir.

Selain permasalahan yang terdapat pada KTSP 2006, ada juga beberapa alasan seperti
yang dikemukakan oleh Mendikbud mengapa kurikulum mengalami pengembangan. Alasan
tersebut antara lain:
1. Tantangan masa depan seperti: (1) Globalisasi, (2) Masalah lingkungan hidup,
(3) Kemajuan teknologi informasi, (4) Konvergensi ilmu dan teknologi,
(5) Ekonomi berbasis pengetahuan, (6) Kebangkitan industri kreatif dan budaya, (7)
Pergeseran kekuatan ekonomi dunia, (8) Pengaruh dan imbas teknosains, dan (9) Mutu,
investasi dan transformasi pada sektor pendidikan.
2. Kompetensi masa depan antara lain: (1) Kemampuan berkomunikasi, (2) Kemampuan berpikir jernih
dan kritis, (3) Kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan, (4) Kemampuan
menjadi warga negara yang efektif (5) Kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap
pandangan yang berbeda, (6) Kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal (7) Memiliki
minat luas mengenai hidup, (8) Memiliki kesiapan untuk bekerja, (9) Memiliki kecerdasan sesuai
dengan bakat/minatnya.
3. Fenomena negatif yang mengemuka seperti: (1) Perkelahian pelajar, (2) Narkoba, (3) Korupsi, (4)
Plagiarisme, (5) Kecurangan dalamUjian (Contek, Kerpek..) (6) Gejolak masyarakat (social unrest)
4. Persepsi masyarakat terhadap kurikulum sebelumnya antara lain: (1) terlalu menitikberatkan
pada aspek kognitif, (2) beban siswa terlalu berat, (3) kurang bermuatan karakter.

4.2 Elemen Perubahan Kurikulum
Secara umum ada empat elemen perubahan yang akan dikembangkan dalam
kurikulum 2013 tersebut yaitu:
(1) Standar Kompetensi lulusan, dalam hal ini yang diharapkan pada peserta didik yaitu
adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek
kompetensi sikap (meliputi: pribadi yang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan
bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, alam
sekitar, serta dunia dan peradabannya), keterampilan (meliputi: pribadi yang
berkemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan
konkret), dan pengetahuan (mampu menghasilkan pribadi yang menguasai ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya yangberwawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban).

(2) Standar isi,
Kompetensi yang semula diturunkan dari matapelajaran berubah
menjadimatapelajaran dikembangkan dari kompetensi.
Kompetensi dikembangkan melalui:
Tematik Integratif dalam semua mata pelajaran (pada tingkat SD)
Mata pelajaran (pada tingkat SMP dan SMA)
Vokasinal (pada tingkat SMK)


(3) Standar proses pembelajaran
a. Standar Proses yang semula terfokus pada Eksplorasi, Elaborasi, dan Konfirmasi dilengkapi
dengan Mengamati, Menanya, Mengolah, Menyajikan, Menyimpulkan, dan Mencipta.
b. Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat.
c. Guru bukan satu-satunya sumber belajar.
d. Sikap tidak diajarkan secara verbal, tetapi melalui contoh dan teladan
(4) Standar penilaian
a. Penilaian berbasis kompetensi.
b. Pergeseran dari penilain melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil
saja), menuju penilaian otentik (mengukur semua kompetensi sikap, keterampilan, dan
pengetahuan berdasarkan proses dan hasil).
c. Memperkuat PAP (Penilaian Acuan Patokan) yaitu pencapaian hasil belajar didasarkan pada
posisi skor yang diperolehnya terhadap skor ideal (maksimal).
d. Penilaian tidak hanya pada level KD, tetapi juga kompetensi inti dan SKL.
e. Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian.

4.3 Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi Kurikulum
Keberhasilaan pelaksanaan kurikulum 2013 tidak bisa dilaksanakan oleh satu pihak
saja melainkan harus didukung oleh berbagai pihak mulai dari pemerintah, pendidik,
tenaga kependidikan, penerbit buku, dan peserta didik. Selain itu saling bantu membantu
merupakan hal yang penting di antara pihak-pihak terkait agar kurikulum 2013 tersebut
dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan.
Ada beberapa faktor yang bisa mendukung berhasilnya pelaksanaan kurikulum 2013
nanti antara lain:
Pertama, Kesesuaian kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan dengan
kurikulum yang diajarkan dan buku teks yang dipergunakan. Hal itu menjadi pusat
perhatian dalam pengembangan kurikulum ini. Kemampuan guru harus bisa mengimbangi
perubahan kurikulum dan menyesuaikan dengan buku teks yang akan diajarkan pada
peserta didik. Jika kemampuan tenaga pendidik belum memadai maka segera diberikan
pelatihan khusus misalnya: Uji Kompetensi, Penilaian Kinerja, dan Pembinaan
Keprofesionalan Berkelanjutan sehingga dapat mendukung berhasilnya pelaksanaan
kurikulum 2013 tersebut.
Kedua, Ketersediaan buku sebagai bahan ajar dan sumber belajar yang:
a. Mengintegrasikan keempat standar pembentuk kurikulum.
b. Sesuai dengan model interaksi pembelajaran.
c. Sesuai dengan model pembelajaran berbasis pengalaman individu dan berbasis deduktif.
d. Mendukung efektivitas sistem pendidikan.
Ketiga, Penguatan peran pemerintah dalam pembinaan dan pengawasan.
Pemerintah harus benar-benar serius untuk mengimplementasikan kurikulum 2013 ini agar
tidak terjadi kesenjangan kurikulum seperti yang telah terjadi sebelumnya. Sehingga
pengawasan terhadap pelaksanaan kurikulum itu dapat dijalankan pada setiap jenjang
pendidikan di seluruh Indonesia.Keempat, adalah Penguatan manajemen dan budaya
sekolah. Sekolah juga memegang peranan yang sangat penting dalam menetukan
keberhasilan pelaksanaan kurikulum 2013. Untuk itu, sekolah harus mampu menciptakan
iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan dengan berpedoman pada jalur
pelaksanaan kurikulum. sehingga kurikulum 2013 tesebut dapat menjadi arah
pengembangan yang betul-brtul sesuai dengan apa yang diharapkan.

http://ferdikakinestetik.blogspot.sg/2012/12/makalah-kurikulum-2013.html
Pengaruh Penerapan Kurikulum PAI 2013 Terhadap
Pembentukan Akhlak

PENGARUH PENERAPAN KURIKULUM PAI 2013 TERHADAP PEMBENTUKAN
AHKLAK DI SMA SANGATA UTARA

A. Latar Belakang Masalah
Pada sebuah pengembangan kurikulum terdapat beberapa
pembentukan yang ingin di capai untuk memajukan mutu peserta didik,
dalam hal ini guna untuk menjadikan pesrta didik yang berahklak baik,
namun dalam kehidupan nyata ini tidak hanya satu atau dua masalah
saja yang kita temukan di masyarakat, banyak sekali para peserta didik
yang tidak memahami fungsi dan tanggung jawabnya sebagai peserta didik.
Hingga banyak sekali yang sekarang ini mulai terlihat beberapa kejanggalan yang
terjadi di muka bumi ini. Peserta didik yang melakukan pelanggaran tidak hanya untuk
tauran antara sekolah, namun juga pembunuhan yang dilakukan peserta didik karena
ada rasa dendam yang tercipta karena unsur saling olok-
mengolok antara peserta didik, dan mengakibatkan pembunuhan.
Selain itu banyak lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan peserta didik.
Disinilah peran guru dan orang tua untuk mendidik anak-
anak mereka kearah yang lebih baik, dan sangat diharapkan kurikulum disekolah s
elalu mengarah ke ahklak yang lebih baik pula.
Sehingga langkah yang ingin ditempuh didalam pembentukan Ahklak yang bai
k didalam kurikulum 2013. Maka, disetiap sekolah menengah lebih terfokuskan un
tuk pembentukan
kurikulum yang lebih mengutamakan pembentukan Ahklak yang lebih baik. Sehingga
terciptanya peserta didik yang baik pula, Selain itu kinerja dari para guru turut pula
mendukung untuk
pembentukan ahklak yang lebih baik. Setiap guru di haruskan untuk
bertutur kata sopan dan santu dalam menghadapi siswa-siswinya, agar
terciptanya suasana dalam proses ajar mengajar yang harmonis agar mudah pula
siswa-siswinya menerima pelajaran yang diberikan oleh para guru-guru disekolah.
Diharapkan pula setiap sekolah untuk melakukan kegiatan
ekstrakulikuler pengajian rutin, agar peserta didik
terbekali secara dalam dan hati terselimut dengan rasa takut untuk
berbuat salah dalam mengambil sebuah tindakan yang memang
berdampak negatif bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya.
Sekolah menengah atas yang sering disebut sebagai SMA ini merupakan tahap
akhir persekolah menuju bangku perkuliahan, SMA merupan tempat dimana kita
menimba ilmu yang mendominasi kepada pase perjurusan IPA atau IPS. SMA Sangata
utara merupakan sekolah yang berada di bagian Utara sengata. Yang berdiri sejak tahun
1988, memiliki kapasitas murid sebanyak 700 siswa, dan setiap pegawai yang mencapai
25 orang, dan 5 orang untuk guru agama, sehingga total pegawai mencapai 30 orang
pegawai, setiap guru atau pegawai yang berada disekolah SMA Sangta utara sangat
memiliki nilai kompeten dan memiliki rasa solidaritas antara guru maupun siswa
siswinya. SMA Sangata utara sudah pernah mendapatkan gelar sekolah terfavorit untuk
di kawasan Kutai Timur. SMA Sangata Utara merupakan sekolah menegah atas yang
sangat mendominasi dalam bidang akademik maupun non akademik, dilihat dari
kegiatan ekstrakulikuler yang diambil oleh setiap siswa-siswinya. Tidak sedikit yang mau
ikut bergabung didalam kegiatan tersebut, aktif di non akademik tapi mampu
memberikan nilai terbaik di akademinya pula.
Berdasarkan uraian di atas, untuk lebih mengetahui pengaruh kurikulum PAI
2013 maka penulis terlebih dahulu mengetahui isi dari kurikulum PAI 2013 yang telah di
buat. Sehingga dapat menyesuaikan apa yang akan diterapkan oleh setiap guru-
guru dan apa yang diserap setiap para pesrta didik. Dalam hal ini
penulis sangat tertarik dengan keberadaan kurikulum PAI 2013 dalam pembentukan
ahklak. Sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh
Penerapan Kurikulum PAI 2013 Terhadap Pembentukan Ahklak di
Sekolah Menengah Atas Sangata Utara.
Selain itu penulis juga melakukan penelitian apa yang akan terjadi
dengan adanya penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap ahklak peserta didik
selama proses penerapan kurikulum tersebut di pergunakan.




B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan peneliti, dan agar mimiliki arah yang jelas maka terlebih
dahulu penulis menuliskan perumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penerapan kurikulum PAI 2013 di SMA Sangata Utara ?
2. Bagaimana pembentukan ahlak di SMA sangata Utara ?
3. Seberapa pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap ahklak peserta didik ?

C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian saya adalah :
1. Untuk mengetahui apa pengaruh penerapan kurikulum 2013 di SMA Sangata Selatan
2. Untuk mengetahui pembentukan akhlak apa yang terbangun setelah penerapan
kurikulum 2013 di SMA Sangata Selatan
3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh penerapan kurikuluim 2013

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun
secara praktis yaitu sebagai berikut :
1. Secara teoritis
Sebagai salah satu cara untuk memperluas pengetahua peneliti khususnya orang
yang berinteraksi langsung dengan siswa pada umumnya tentang Pengaruh Penerapan
Kurikulum PAI 2013 Terhadap Pembentukan Ahklak SMA Sangata Utara.
2. Secara Praktis
a.) Sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi bagi SMA Sangata Utara dalam pembentukan
ahklak setiap siswa-siswinya.
b.) Sebagai bahan pijakan bagi penelitian lebiah dalam lagi tentang pengaruh penerapan
kurikulum PAI 2013 terhadap pembentukan ahklak di SMA Sangata Utara.
c.) Sebagai bahan referensi bagi guru dan pegawai di SMA Sangata Utara.

E. Kajian Teori
1. Pengertian Kurikulum
Kurikulum bila dipahami memiliki makna yaitu perangkat mata pelajaran dan
program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang
berisi tentang rencana pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik dalam
satu periode jenjang pendidikan. Pengertian tentang kurikulum menjadi dua sudut
pandang yaitu :
a. Pengerian secara etimologi
Secara etimologi, kurikulum (curriculum) berasal dari bahas Yunani, yaitu curir yang
artinya pelari dan curere yang berarti tempat berpacu. Itu berarti istilah kurikulum
berasal dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kono di Yunani, yang mendukung
pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish,
kemudian digunakan oleh dunia pendidikan.
b. Pengertian secara terminologi
Secara terminologi kurikulum dapat diartikan, Tradisional atau sempit dan
moderend atau luas. Tradisional menyebutkan awalnya kurikulum diartikan sebagai
subject atau mata pelajaran atau bidang studi yang harus dikuasai anak didik secara
kognitif untuk lulus mendapat ijazah. menurut Sejumlah mata pelajaran atau trening
yang diberikan sebagai produk atau pendidikan. Pengertian Kurikulum Menurut Kerr, J. F
(1968): Kurikulum adalah semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara
individu ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di luar sekolah.[1] Dan
menurut Menurut Beauchamp (1968): Kurikulum adalah dokumen tertulis yang
mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui
berbagai.[2] Sehingga istilah kurikulum sekarang ini disamakan dengan pedoman
mengajar, silabus atau buku teks yang ditetapkan. Secara modern meyebutkan
keseluruhan pengalaman anak atau peserta didik saat berada di dalam kelas yang
berjadwal, diluar kelas yang tidak berjadwal, diluar kelas (seperti dilaboraturium,
halaman) bahkan luar sekolah (seperti kunjungan wisata, musium) yang mempunyai
tujuan dan dibawah tanggung jawab sekolah. Modern menyebutkan kurikulum
digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang
harus ditempuh atau diselesaikansiswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal
dan dapat di pertanggung jawabkan.
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting dalam menjamin keberhasilan
proses pendidikan, artinya tanpa kurikulum yang baik dan tetap akan sulit mencapai
tujuan sasaran pendidikan yang dicita-citakan.

2. Pengertian pendidikan agama islam
Didalam kehidupan bermasyarakat atau pun disekolah tentu kita telah mengenal
tentang pendidikan agama islam. Pendidikan agama islam merupakan salah satu
pelajaran yang sangat wajib diterapkan disetiap sekolah. Untuk lebih memahami tentang
pengertian pendidikan agama islam (PAI), dibawah ini beberapa pendapat mengenai
pendidikan agama islam.
a. Al-syaibany mengemukakan bahwa pendidikann agama islam adalah proses mengubah
tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitar.
Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu
aktivitas asasi dan propesi diantara sekian banyak propesi asasi dalam masyarakat.
b. Muhammad Fadhil Al-Jamaly mendifinisikan pendidikan islam sebagai upaya
pengembangan, mendorong, serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan
berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut,
diharapkan akan terbentuk pribadi peserta didik yang lebih sempurna, baik yang
berkaitan dengan potensi akal, perasaan maupun perbuatannya.
c. Ahmad D. Marimba mengemukakan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan atau
pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani
peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama (insankamil).
d. Ahmad Tafsir mendifinisikan pendidikan islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh
seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran islam.
Dari uraian diatas penulis dapat menyimpulkan bahwa pendidikan islam adalah
suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) agar dapat mengarahkan
kehidupanya sesuai dengan ideologis atau gaya pandang umat islam selama hidup
didunia.
3. Fungsi pendidikan agama islam
Telah kita ketahui bahwa pendidikan agama islam adalah suatu sistem, agar dapat
mengarah kebaikan. Pendidikan agama islam sangat lah besar pengaruhnya terhadap
tingkah laku peserta didik. Jadi, ada beberpa fungsi pendidikan agama islam.
a. Pengembangan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik kepada
Allah SWT, yang telah diterapkan dalam lingkungan kelurga . pada dasar yang pertama
mempunyai kewajiban menanamkan keimanan dan ketaqwaan dilakukan setiap orang
tua terhadap keluarganya. Sekolah berfungsi untuk menumbuh kembangkan lebih
lanjut dalam diri anak melalui bimbingan pengajaran dan pelatihan agar keimanan dan
ketaqwaan dapat berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya.
b. Penanaman nilai sebagai pedoman hidup untuk mencari kebahagian dunia akhirat.
c. Penyesuaian mental yaitu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang dapat
mengubah lingkungan sesuai dengan ajaran agama islam.
d. Perbaikan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan, kekurangan-kekurangan dan
kelemahan peserta didik dalam keyakinannya, pemahaman dan pengalaman agama
dalam kehidupan sehari-hari.
e. Pencegahan untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang
dapat membahayakan diri dan menghambat perkembangan menuju manusia sempurna.
Sesuai dengan misi Rasulullah SAW.
f. Penyaluran untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat khusus di bidang ajaran
agama islam supaya bakat tersebut dapat berkembang secara optimal sehingga dapat di
manfaatkan untuk dirinya sendiri dan orang lain.
Landasan atau pondasi dalam pendidikan agama islam adalah terdiri dari al-Quran dan
sunnah Rasulullah SAW, yang dapat dikembangkan dengan ijma, qiyas masalah
mursalah, suddudzdriaah, urf, ihtisani dan lainnya. Karena pendidikan menyangkut
ruang lingkup muamalah. Al-Quran dan sunnah adalah dua sumber pokok dalam
melakukan ijma pada semua amal perbuatan secara islami.

4. Akhlak
a. Pengertian akhlak
Ahklak adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia karena ahklak mencakup
segala pengertian tingkah laku, tabiat, perangai, karakter manusia yang baik maupun
yang buruk dalam hubungannya dengan khaliq atau dengan sesama mahkluk.
Ada dua pendekatan untuk mendifinisikan ahklak, yaitu pendekatan linguistik
(kebahasaan) dan pendekatan terminologi (peristilahan). Ahklak berasal dari bahsa arab
yakni khuluqun yang menurut loghat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau
tabiat. Kalimat itu mengandung segi-segi persesuaiaan dengan perkataan khalaqun yang
berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan khaliq yang berarti diciptakan.
Perumusan ahklak timbul sebagai media yang memungkinkan adanya hubungan baik
antara khaliq dengan mahkluk dan antara mahkluk dengan mahkluk. Secara terminologi
kata budi pekerti yang terdiri dari kata budi dan pekerti. Budi adalah yang ada pada
manusia, yang berhubungan dengan kesadaran, yang didorong oleh pemikiran, rasio
atau karakter. Pekerti adalah apa yang terlihat pada manusia karena dorongan oleh hati.
Yang disebut behevior. Jadi budi pekerti adalah merupakan perpaduan dari hasil rasio
dan rasa yang terminifestasikan pada karsa dan tingkah laku manusia. Sedangkan pada
terminologi akhlak suatu keinginan yang ada didalam jiwa yang akan dilakukan dengan
perbuatan tanpa intervensi akal atau pikiran. Sikap yang melekat dalam jiwa seseorang
yang menjadikan ia dengan mudah tanpa banyak pertimbangan lagi menurut al-
gazhali.[3] Ada lima ciri yang terdapat dalam perbuatan akhlak.
Pertama, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam dalam jiwa
seseorang, sehingga menjadi kepribadiannya.
Kedua, perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah dan tanpa
pemikiran. Ini berarti bahwa saat melakukan sesuatu perbuatan, yang bersangkutan
dalam keadaan yang tidak sadar, hilang ingatan dan gila.
Ketiga, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri orang
yang mengerjakannya, tanpa ada paksaan atau tekanan dari luar. Perbuatan akhlak
adalah perbuatan yang dilakukan atas dasar kemauan, pilihan dan keputusan yang
bersangkutan. Bahwa ilmu akhlak adalah ilmu yang membahas tentang perbuatan
manusia yang dapat dinilai baik atau buruk.
Keempat, bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan
sesungguhnya, bukan main-main tau bersandiwara.
Kelima, sejalan dengan ciri yang keempat, perbuatan atau akhlak (khususnya akhlak
yang baik) adalah perbuatan yang dilakukan karena keiklasan semata-mata karena Allah.
Disini kita harus dapat membedakan antara ilmu akhlak dengan akhlak itu sendiri.
Dan ilmu akhlak adalah ilmunya yang hanya bersifat teoritis, sedangkan akhlak lebih
bersipat kepada praktis.
b. Penilaian akhlak
Dalam pengukuran akhlak, akhlak dapat dinilai dengan bagaimana penerapan akhlak
yang ada didalam diri. Ketika penerapanya baik. Maka, tergolong akhlak terpuji. Tapi
ketika penerapanya buruk maka akhlak itu tercela.
Akhlak terpuji adalah sesuatu yang telah tercapai kesempurnaannya. Baik (terpuji)
adalah sesuatu yang menimbulkan rasa keharusan dan kata baik (terpuji) bisa juga
diartikan sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan, yang
memberikan kepuasan sesuatu yang sesuai dengan keinginan. Sesuatu yang
mendatangkan rahmat dan memberikan perasaan senang atau bahagia. Kebaikan adalah
sesuatu yang dinginkan, diusahakan dan menjadi tujuan manusia.
Akhlak tercela adalah sesuatu yang tidak baik, biasanya tidak sempurna. Tidak
bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat dijadiakan panutan dan tidak mudah untuk
diterima.
Sedangkan yang menjadi indikator dalam pembentukan akhlak peserta didik adalah
akhlak terpuji, untuk menjadikan generasi yang bermatabat. Kualitas peserta didik yang
baik adalah peserta didik yang mampu menerapkan budi pekerti yang luhur, dan
berasaskan kepada Al-Aquran dan sunnah yang telah ditetapkan.
1) Akhlak terpuji, yaitu belas kasihan, lemah lembut, pemaaf, manis muka dan tidak
sombong
2) Akhlak tercela, yaitu bersipat egois, kikir, pengecut, mengunjing, suka memberontak
dan sombong.
5. Pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap pembentukan akhlak di SMA
Sangata Utara
Berdasarkan deskripsi teori-teori yang ada dapat dikatakan bahwa kurikulum
merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh
suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi tentang rencana pembelajaran
yang akan diberikan kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan.
Kurikulum merupakan alat yang sangat penting dalam menjamin keberhasilan proses
pendidikan, artinya tanpa kurikulum yang baik dan tetap akan sulit mencapai tujuan
sasaran pendidikan yang dicita-citakan.
Pendidikan agama islam merupakan salah satu pelajaran yang sangat wajib
diterapkan disetiap sekolah. Untuk lebih memahami tentang pengertian pendidikan
agama islam (PAI). pendidikan islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang
(peserta didik) agar dapat mengarahkan kehidupanya sesuai dengan ideologis atau gaya
pandang umat islam selama hidup didunia. Sedangkan ahklak adalah bagian terpenting
dalam kehidupan manusia karena ahklak mencakup segala pengertian tingkah laku,
tabiat, perangai, karakter manusia yang baik maupun yang buruk dalam hubungannya
dengan khaliq atau dengan sesama makhluk.
Pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap akhlak di SMA Sangata Utara
adalah pembentukan karakter peserta didik yang memiliki akhlak terpuji, guna
menciptakan sangata yang bermatabat. Pendidikan agama islam merupakan suatu
pengajaran untuk mengarah kebaikan. Dengan pendidikan agama islam, maka secara
tidak langsung akan ada pula perilaku atau akhlak yang akan timbul dalam permasalahan
sehari-hari. Akhlak yang ingin dicapai setelah penerapan kurikulum PAI 2013 adalah
akhlak yang terpuji atau akhlak yang baik, agar dapat membanggakan kedua orang tua,
dan menjadi panutan bagi peserta didik yang lainya. SMA Sangata utara sangat
mengharapkan apa yang diterapkan kurikulum PAI 2013 sangat berdampak positif dan
mudah untuk diterima setiap peserta didik dan mampu pula peserta didik untuk
mengaplikasikan apa yang sudah didapat. Sehinga mengetahui apakah kurikulum PAI
2013 berdampak positif atau tidak berpengaru kepada peserta didik, atau kah cara
penerapanya tidak mudah diterima oleh peserta didik. Karena terkadang teori lebih
mudah dari pada peraktek di lapangannya. Apa lagi banyak dari peserta didik yang tidak
begitu memperhatiaknan apa yang telah diterapkan oleh gurunya. Tidak mudah untuk
mencerna apa yang diterangkan namun sangat sulit pula apa bila apa yang diterangkan
tidak langsung diperaktekan. Tapi, SMA Sangata Utara merupakan sekolah menengah
atas yang memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga memperoleh pengajaran pun
dengan mudah dan penerapanya pun sangat baik. Walau ada segelintir orang saja yang
memang butuh perhatian yang sangat lebih. Selepas itu peserta didiknya memang luar
biasa.
F. Kajian Penelitian yang Relevan
Buku-buku terdahulu sudah pernah ada yang mengaji tentang permasalahan
kurikulum dan penerapannya. Peneliti sebelumnya yang memiliki relevansi dengan
penliti ini antara lain
Seperti penelitian yang dilakukan oleh : pertama Yulianti (2011), dengan judul
kurikulum agama islam dan pengaruh terhadap ahklak di SD No.002 sangata utara
kabupaten kutai timur. Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa akhlak sangat
berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, dengan kontribusi sebesar 30%.
Relevansi antara peneliti diatas dengan peneliti yang penulis lakuakan adalah
keduanya sama-sama membahas tentang pengaruh kurikulum. Perbedaan peneliti
diatas dengan peneliti yang dilakukan penulis adalah pada variabel yang dipengaruhinya
yakin pada ahklak peserta didik untuk Sekolah dasar, sedangkan pada peneliti penulis
lakukan, penulis mengamati antara pesera didik untuk SMA Sangata Utara.
Dari segi tempat dan metedologi penelitian juga berbeda, begitu pula dengan waktu
penelitiannya yang sangat berbeda sekali. Dalam penelitian ini akan lebih fokus
membahas tentang pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap ahklak di SMA
Sangata Utara yang dapat dilihat dari hasil survei dan observasi yang dilakukan oleh
peneliti.
Kedua, Marwiyah Wahab, (2012) dengan judul pengaruh kurikulum terhadap pola
pikir dan tingkah laku di SMK Hasanudin Sangata Selatan. Relevansi antar peneliti diatas
dengan peneliti yang dilakukan penulis adalah pada variabel yang di dipengaruhi yakni
pada pola pikir dan tingkah laku peserta didik, sedangkan pada penelitian yang penulis
lakukan, penulis mengkorelasikan antara pola pikir dan tingkah dengan ahklah peserta
didik.
Dari segi tempat dan metedoligi penelitian juga berbeda, begitu juga dengan waktu
penelitianya yang sangat berbeda sekali. Namun dalam penelitian ini akan lebih
terfokuskan seberapa besar pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap ahklah di
SMA Sangata Utara yang dilihat dari survei dan observasi yang dilakukan peneliti.
G. Hipotesis Kajian
Hipotesis adalah alternatif dugaan jawaban yang di buat oleh peneliti bagi
problematika yang diajkukan dalam penelitian. Dengan jawaban tersebut merupakan
kebenaran yang sifatnya sementara. Yang akan diuji kebenarannya dengan data yang
dikumpulkan melalui penelitian.[4] Menurut Yatim Rianto (1996) sebagaimana dikutip
oleh Nurul Zhuriah (2007) mengatakan bahwa hipotesis dilihat dari katagori rumusnya
dibagi menjadi dua, yaitu (1) hipotesis nihil (null hipotheis) yang bisa disebut dengan Ho,
dan (2) hipotesisi alternatif (alternative hypothesis) biasanya disebut hipotesis kerja atau
disingkat Ha.[5]
Hipotesisi nihil (Ho) adalah hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungan atau
pengaruh antara variabel lain.[6] Hipotesis nihil dalam penelitian ini adalah pengaruh
penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap pembentukan akhlak di SMA Sangata Utara.
Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan ada hubungan atau
pengaruh antara variabel dengan variabel lain.[7]
Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan hipotesis aternatif atau hipotesis kerja
yaitu terdapat pengaruh yang signifikan antara pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013
terhadap pembentukan akhlak di SMA Sangata Utara. Semakin berpengaruh baik maka
semakin terbukti pula bahwa kurikulum PAI 2013 memang benar-benar tersusun untuk
pembentukan akhlak
H. Metode penelitian
1. Jenis dan pendekatan penelitian
Jika di tinjau dari segi tempat penelitian, maka penelitian ini termasuk penelitian
lapangang (field Research), yaitu penelitian yang langsung dilakukan dilapangan atau
pada responden.[8] Data-data yang dikumpulkan dari lapangan langsung terhadap objek
yang bersangkutan yaitu pengaruh penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap ahklak di
SMA Sangata Utara. Sedangkan jika dilihat ini termasuk penelitian kuantitatif, yaitu
penelitian yang menganalisa menggunakan analisa statistik.
2. Waktu dan tempat penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan di mulai dari bulan April-juni 2013,
bertempat di SMA Sangata Utara yang beralamatkan jln. Pendidikan Sangata Utara.
3. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah suatu kumpulan menyeluruh dari suatu objek yang merupakan
perhatian peneliti. Objek peneliti dapat berupa mahkluk hidup, benda, sistem dan
prosedur, fenomena dan lain-lain.[9]
Sedangkan sampel merupakan sebagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh
populasi tersebut. Dalam pengambilan sampel ini harus dilakukan sedemikian rupa
sehingga diperoleh sampel yang sesuai dengan sumber data yang sebenarnya atau dapat
menggambarkan keadaan populasi yang sebenarnya, dengan istilah lain, sampel harus
representif. Ketentuan pengambilan sampel Suharsimi Arikunto yaitu jika subjeknya
kurang dari 100 sebaiknya diambil semua sehingga penelitiannya disebut penelitian
populasi, namun jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-
25% atau lebih.[10]
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik yang sekolah di SMA
Sangata Utara, yang berjumlah 50 responden. Karena dalam penelitian ini jumlah
populasinya kurang dari 700 responden, maka seluruh populasi dijadikan sebagai sampel
penelitian, dan penelitian termasuk penelitian populasi.
4. Variabel dan Indikator Penelitian
a. Variabel penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sipat, atau ukuran, yang
dimiliki atau didapatkan oleh sesuatu penelitian tentang sesuatu konsep pengertian
tertentu. Menurut hubungannya antara satu variabel lain maka macam-macam variabel
dalam penelitian dibedakan menjadi:
1. Varibel independent: Variabel ini disebut dengan variabel antecedent dalam bahasa
indonesia sering disebut variabel bebas. Variabel bebas adalah merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya
variabel dependent (terikat). Variabel independen atau variabel bebas dalam penelitian
ini adalah seberapa pengaruh kurikulum PAI.

TABEL
VARIABEL X DAN INDIKATOR
Variabel X Indikator Penjabaran Indikator



Kurikulum PAI
2013





a. Membelajaran







b. Membimbing

- Guru harus memberikan
pelajaran sesuai dengan
kurikulum 2013 yang
berlaku.
- Guru mampu menjambarkan
setiap persoalan-persoalan
terkait dengan kurikulum
yang akan di pergunakan.
- Guru harus menumbuhkan
tingkat kesadaran dari para
peserta didik, akan
pentingnya belajar
Pendidikan Agama Islam.
- Sebagai bahan pengawas
bagi diri dan sebagai





c. Mengawasi


d. Memfasilitasi
mebentengan diri
- Menyediakan apa yang
sebenarnya sudah menjadi
ketentuan bagi pemerintah,
untuk melakukan sebuah
pengembangan ilmu
Keagamaan di kalangan
peserta didik.


2. Variabel dependent sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen, dalam
bahasa indonesia disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikat merupakan variabel
yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Variabe
independen atau terikat dalam penelitian ini adalah seberapa pengaruh kurikulum PAI.






TABEL
VARIABEL Y DAN INDIKATOR
Variabel Y Indikator Penjabaran Indikator
Pembentukan
Ahklak
a. Terpuji










b. Tercela
- Sikap terpuji, sikap yang
sangat baik untuk di
jadikan suri tauladan.
Dengan sikap yang terpuji
maka akan menjadikan
kita lebih baik dari
biasanya, dan akan
menjadi tokoh panutan di
semua kalangan.

- Sikap yang sangat buruk
untuk di miliki, karena
tidak akan mendapatkan
hal-hal yang baik,
melainkan hal-hal yang
tidak baik pula, dan sikap
ini jarang sekali akan
menuai kebaikan dan
tidak akan menjadi
panutan atau suri
tauladan.



5. Teknik pengumpulan data
Teknik yang peneliti guna dalam pengumpulan datapada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a. Angket
Angket (qustionair) adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada oarang lain
yang bersedia menerima respons (responden) sesuai keinginan pengguna.[11] Angket
diberikan pada para peserta didik yang bersekolah di SMA Sangata Utara tahun
2012/2013 yang dijadikan sampel dalam penelitian ini, yaitu sebanyak 100 responden,
dengan tujuan untuk menjaring informasi tentang Pengaruh Penerapan Kurikulum PAI
2013 Terhadap Pembentukan Ahklak di SMA Sangata Utara. Adapun jenis instrumen
yang peneliti gunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup. Angket tertutup
adalah angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden
diminta untuk memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik dirinya dengan
cara tanda silang (X) atau tanda ( ) cheek list.
b. Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi langsung antara peneliti dengan responden.
Komunikasi berlangsung dalam bentuk tanya jawab dalam hubungan tatap muka,
sehingga gerak dan mimik responden merupakan pola media yang melengkapi kata-kata
secara verbal.[12] Wawancara ditujukan kepada sebagian peserta didik yang menjadi
sampel penelitia, untuk melakukan croos check terhadap jawaban angket yang
diberikan.
c. Observasi
Observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung pada objek peneliti untuk
melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.[13] Observasi atau pengamatan adalah
metode pengumpulan data di mana peneliti atau kolaboratornay mencatat informasi
sebagaimana yang mereka saksikan selam penelitian.[14] Penyaksian terhadap peristiwa
peristiwa itu dilakukan dengan melihat, mendengar, merasakan, yang kemudian dicatat
seobyektif mungkin. Dalam penelian ini peneliti berperan sebagai pengamat yang
berpartisipasi secara penuh, yakni menyamakan diri dengan orang yang diteliti.
Pengamatan dilakukan dengan menggunakan cheek list yaitu suatu daptar yang berisi
nama-nama subyek dan faktor-faktor yang hendak diselidiki.[15]
d. Dokumentasi
Dokumentasi adalah catatan tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa yang
pada waktu yang lalu.[16]Dalam penelitian ini yang dimaksud dokumentasi adalah
metode pengumpulan data dengan jalan melihat catatan yang sudah ada. Metode
dokumentasi diperlukan sebagai metode pendukung untuk mengumpulkan data.
6. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua teknik analisa data yaitu teknik
analisa deskriftif statistik dan teknik analisa korelasi.
Pertama, sesuai dengan jenis penelitian, maka sebelum teknik analisa korelis yang
digunakan untuk menguji hipotesis, terlebih dahulu data dideskripsikan dengan
menggunakan maen, median, modus, dan standar deviasi, juga disajikan daftar
distrubusi frekuensi dan histrogram, sekaligus menjawab rumusan masalah 1dan 2, yaitu
bagaimana pengaruh kurikulum PAI 2013 terhadap pembentukan ahklak di SMA Sangata
Utara. Bagaimana pembentukan ahklak di SMA Sangata Utara termasuk katagori sangat
tinggi, tinggi, cukup, rendah, atau pun sangat rendah dan bagaimana pengaruh
penerapan kurikulum PAI 2013 terhadap pembentukan ahklak di SMA Sangata Utara
termasuk katagori sangat tinggi, tinggi, cukup, rendah atau sangat rendah.
Kedua. Teknik analisis korelasi adalah teknik analisis statistik mengenai hubungan
antara dua variabel atau lebih.[17]Derajat hubungannya bisa diukur dan digambarkan
dengan koefisien korelasi.[18] Teknik analisis ini digunakan dalam menguji besarnya
pengaruh dan kontribusi variabel X (kurikulum PAI 2013) terhadap variabel Y
(pembentukan ahklak). Teknik analisis korelasi PPMC (Pearson Product Moment
correlation) termasuk teknik statistik parametrik yang menggunakan data interval dan
rasio dengan persyaratan tertentu, di antaranya data dipilih secara acak ( random) data
berdistribusi normal, data yang dihubungkan berpola linear, dan data yang
dihunbungkan mempunyai pasangan yang sama sesuai dengan subjek yang sama. Kalau
salah satu persyaratan tersebut tidak terpenuhi maka analisis korelasi tidak dapat
dilakukan.[19] Berdasarkan beberapa persyaratan di atas penelitian ini memenuhi
persyaratan untuk menggunakan analisis korelasi.
Adapun rumus yang digunakan adalah:[20]
Keterangan:


Angka indeks korelasi r Person products moment correlation
N = Jumlah responden
X = Perhatian Orang Tua
Y = Motivasi belajar
XY = Jumlah hasil perkalian antara skor X dan skor Y
X = Jumlah seluruh skor X
Y = Jumlah seluruh skor variabel Y
X
2 =
Jumlah kuadrat variabel X
Y
2 =
Jumlah kuadrat variabel Y
Selanjutnya arti harga r akan dikonsultasikan dengan table r, dengan ketentuan nilai r
tidak lebih dari harga (-1 r +1), apabila nilai r=-1 artinya korelasinya negatif sempurna,r
= 0 artinya tidak ada korelasi, r=1 berarti korelasinya sangat kuat. Dalam melakukan
interpretasi koefisien korelasi nilai r, digunakan pedoman sebagai berikut.[21]
Tabel. Interpretasi koefisien korelasi nilai r koefisien

Interval koefisien Tingkat hubungan
0,80-1,000
0,60-0,799
0,40-0,599
0,20-0,399
0,00-0,199
Sangat kuat
Kuat
Cukup kuat
Rendah
Sangat rendah

Adapun langkah-langkah analisisnya adalah membuat Ha dan Ho dalam bentuk
kalimat, membuat Ha dan Ho dalam bentuk statisti, membuat table penolong untuk
menghitung korelasi, mencari r
hitung
dengan cara memasukan angka statistik dari tabel
penolong ke dalam rumus korelasi PPMC, mencari besarnya sumbangan (kontribusi)
variabel X terhadap variabel Y dengan rumus koefisien determinan:[22]
KD = r
2
x100%
Keterangan: KD =Nilai koefisien determinan
r = Nilai koefisien korelasi
Kemudian menguji signifikansi dengan rumus t
hitungan
:
t
hitungan =
=
Keterangan : t
hitung =
Nilai t
r = Nilai koefisien korelasi
n = Jumlah sampel
Kaidah pengujian:
Jika t
hitung
t
tabel
maka hipotesis yang menyatakan adanya pengaruh
variabel X terhadap variabel Y diterima. Tetapi jika t
hitung
t
tabel
maka hipotesis yang
menyatakan adanya variabel X dan terhadap variabel Y ditolak. Setelah itu, peneliti akan
mencocokkan hasil perhitungan manual dengan program aplikasi SPPS, menggunakan
program aplikasi SPPS 17, dan yang terakhir membuat kesimpulan.
A. Sistematika Penulisan
Tujuan sistematika penulisan skripsi ini adalah untuk lebih memudahkan
memahami dan mempelajari isi penelitian. Adapun sistematika penulisan skripsi ini akan
penulis rinci sebagai berikut:
Bagian pertama berisi halaman judul, abstrak, persetujuan pembimbin,
pernyataan, persembahan, kata pengantar, daftar isi, pedoman transliterasi, daftar
singkatan, daftar tabel, daftar gambar/bagan. Bagian kedua terdiri dari lima bab:
Bab satu, berisi pendahuluan menjelaskan tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, sistematika penulisan skripsi.
Bab dua, berisi landasan teori tentang perhatian orang tua dan motivasi belajar
siswa, kerangka berpikir dan hipotesis penelitian.
Bab tiga, berisi metodologi penelitian berisi jenis dan pendekatan penelitian, waku
dan tempat penelitian, populasi, variabel penelitian dan indikator, teknik pengumpulan
data, dan teknik analisis data.
Bab empat, berisi hasil penelitian meliputi deskripsi data, pengujian hipotesis,
pembahasan hasil penelitian, di dalamnya dibahas hasil ujian korelasi antara perhatian
orang tua dan motivasi balajar siswa, interpretasi hasil penelitian dan keterbatasan
penelitian.
Bab lima, kesimpulan dan saran-saran.
Dibagian akhir penelitian, penulis sertakan daftar pustaka, lampiran-lampiran, data
kuantitatif dan sebagainya. Selain itu penulis juga sertakan biografi penulis sebagai
pelengkap.

DAFTAR PUSTAKA
Mustofa H. 1997. Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia
Nata, Abuddin. 2010 .Akhlak Tasawuf. Jakarta : Rajawali Pers
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Prenada Media Group.
Susilo, Muhammad Joko. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan,
Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya. Yogyajarta: Pustaka
Pelajar Offset.
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. 2007. Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Bandung: IMTIMA
Syeikh Ibrahim Jalhum. 2003. Pelita As-Sunnah Petunjuk Jalan Bagi Kaum
Muslimin. Bandung. Pustaka Setia



[1] Tim Pengembang Ilmu Pendidikan. Ilmu & Aplikasi Pendidikan. Bandung 2007.
hlm 5
[2] Ibid
[3] Hamdani Rizal dan Saifuddin Zuhri, pendidikan akhlak menurut Al-
Gazhali. (surakarta. 2012, universitas muhamadiyah. hlm 10
[4] Suharsimi Arikunto, menejemen penelitian, (Jakarta : Rineka Cipta, 2007,) hlm.
55
[5] Nuruk Zhuriah, metedologi penelitian sosial dan pendidikan (Jakarta : PT. Bumi
Aksara 2007, cet. 2, hlm 163
[6] ibid
[7] ibid
[8] Iqbal Hasan, Analisa Data Penelitian dengan Stastitik, (Jakarta : PT. Bumi Aksara,
2008), cet. 3 hlm 5
[9] Rony Kounter, Metode Penelitian Untuk Penulisan Skripsi dan Tesis. ( Jakarta :
Penerbit PPM,2007, hlm. 145
[10] Suharsimi Arikunto, Metode Penelitian, ( Jakarta : Grafindo, 2004), hlm. 123
[11] Ridwan, Skala Pengukuran Vriabel-Variabel Penelitian (Bandung : Alfabeta,
2008), cet. 5, hlm. 25-26
[12] W. Gulo, Metode Penelitian. (Jakarta : PT Grasindo, 2007), cet, 5 hlm.118
[13] Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian, op. cit hlm. 30
[14] W. Gulo, op.cit hlm.116
[15] Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodelogi Penelitian, (Jakarta : PT. Bumi
Aksara, 2007), cet. 8, hlm. 74
[16] W. Gulo, op.cit, hlm. 123
[17]Anas Sudijono, Pengantar Statistik pendidikan,(Jakarta: Rajawali Press,
2010),cet.21.hlm.179.
[18] John, W. Best, Research In Education, terj., Sanafiah Faisal, Metodologi
Penelitian Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional,1982),hlm.293.
[19] Riduan dan Sunarto, Pengantar Statistik Untuk Penelitian
Pendidikan,Sosial,Kumonikasi, Ekonomi dan Bisnis, (Bandung: Alfabeta,2007),hlm.80.
[20] Ibid.,hlm.80.
[21] Ibid., hlm. 81.
[22] Ibid.
http://duniakampus7.blogspot.sg/2014/03/engaruh-penerapan-kurikulum-pai-2013.html
KELAMAHAN KURIKULUM 2013
KELEMAHAN KURIKULUM 2013

I. Pendahuluan
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang merangkum semua pengalaman belajar
yang disediakan bagi siswa disekolah. Kurikulum disusun oleh ahli pendidikan, pendidik, pejabat
pendidikan serta unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan tujuan memberi pedoman
kepada pelaksana pendidikan dalam proses bimbingan perkembangan siswauntuk mencapai tujuan
yang di cita- citakan siswa sendiri. Dalam melaksanakan pengembangan kurikulum, terdapat
berbagai faktor yang menghambat. Antara lain adalah para guru, masyarakat dan biaya. Hambatan-
hambatan pengembangan kurikulum antara lain adalah :
Pada guru : guru kurang berpartisipasi dalam pengembangan kurikulum disebabkan beberapa hal
yaitu kurang waktu, kekurang sesuaian pendapat, baik dengan sesama guru maupun kepala sekolah
& administrator karena kemampuan dan pengetahuan guru sendiri
Dari masyarakat : untuk pengembangan kurikulum dibutuhkan dukungan masyarakat, baik dalam
pembiayaan maupun dalam memberikan umpan balik terhadap sistem pendidikan ataupun
kurikulum yang sedang berjalan. Masyarakat adalah sumber input dari sekolah.
Masalah biaya: untuk pengembangan kurikulum apalagi untuk kegiatan eksperimen baik metode isi
atau sistem secara keseluruhan membutuhkan biaya yang sering tidak sedikit
Kepala sekolah : dalam hal ini seharusnya kepala sekolah mempunyai latar belakang mendalam
tentang teori dan praktek kurikulum. Kepala sekolah merupakan peranan yang penting dalam
pengembangna kurikulum.
Birokrasi : terdiri dari para inspeksi di Kanwil dan juga orang tua maupun tokoh- tokoh masyarakat.
Kepala sekolah dan stafnya tidak dapat bekerja dalam kerangka patokan yang ditetapkan oleh
Depdikbud.

Usaha perbaikan kurikulum disekolah harus memenuhi langkah berikut ini ; yaitu perlunya
mengadakan penilaian umum di sekolah ( kualitas dan mutu), mengetahui kebutuhan siswa dan
guru, mengidentifikasi masalah yang timbul berdasarkan studi, menyiapkan desain perencanaan (
tujuan, cara mengevaluasi, metode penyampaian, penilaian), menerqapkan cara mengevaluasi/
apakah yang direncanakan itu dapat direalisasikan.




II. Pembahasan
Kurikulum 2013 merupakan respon terhadap perkembangan teknologi dan informasi yang
berkembang pesat yang disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa
depan. Karena itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi perkembangan masa depan, di samping
itu kurikulum 2013 berorientasi pada pengembangan sikap dan tingkah laku sesuai dengan nilai-
moral pancasila.
Dalam penerapan kurikulum 2013 yang paling penting adalah implementasi kurikulum.
Implementasi kurikulum adalah suatu proses penerapan konsep dan kebijakan kurikulum dalam
suatu aktivitas pembelajaran, sehingga peserta didik menguasai seperangkat komponen tertentu,
sebagai hasil interaksi dengan lingkungan secara nyata dalam kehidupan. Model pengembangan
kurikulum di Indonesia dapat menggunakan gabungan dari 4 model pengembangan kurikulum, yaitu
model subjek akademik, humanistis, rekonstruksi sosial dan teknologis. hal ini sesuai dengan
keadaan negara Indonesia dimana masyarakatnya majemuk yang membutuhkan suatu pendidikan
yang lebih mengacu kepada siswa secara subjektif sesuai dengan karakteristik dan latar belakang
sosial budaya siswa tersebut sehingga pendidikan yang diterapkan mampu memberikan proses
pembelajaran yang humanistik sebagai proses mendidik manusia sebagai manusia yang
berlandaskan nilai-nilai kehidupan masyarakat Indonesia dan sesuai nilai-moral Pancasila yang
mampu mencetak output peserta didik yang berbudi pekerti luhur serta mampu menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan. Selain hal tersebut, kurikulum di Indonesia juga sesuai dengan model
rekonstruksi sosial dan teknologis, dimana setiap proses pendidikan yang dilaksanakan di Indonesia
selalu mengkaitkan dengan sejarah kehidupan di masa lalu dengan kehidupan padan saat ini yang
meliputi semua aspek kehidupan serta berbagai macam teknologi yang telah dikembangkan oleh
manusia dalam menjalani proses kehidupan.
Namun dalam penerapannya, kurikulum 2013 juga memiliki kendala dan hambatan yang cukup
serius. Hambatan-hambatan dalam penerapan kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:
1. Rendahnya Kesadaran Guru sebagai Pendidik
Rendahnya kesadaran guru meliputi rendahnya kualitas guru, kurangnya kesiapan guru mengajar,
kepekaan guru dalam menanggapi hal-hal baru termasuk implementasi proses pembelajaran yang
sering terabaikan oleh guru, karena pada realitanya banyak guru yang mengajar hanya sekedar
mengajar tidak ada timbale balik apa-apa antara pengetahuan, perubahan sikap dan perilaku serta
kreativitas peserta didik terkait pelajaran yang sedang dipelajari. Pada dasarnya guru belum siap
melaksanakan kurikulum 2013.
Seorang guru seharusnya menjadi promotor untuk mengembangkan pemikiran, kreativitas,
keterampilan dan yang paling penting adalah potensi dari peserta didik.
2. Banyaknya Pro Dan Kontra Di Masyarakat
Sampai saat ini masih sangat banyak pendapat pro dan kontra terkait penerapan kurikulum 2013.
Hal ini harus mampu dimanfaatkan dengan baik untuk terus mengevaluasi kurkulum 2013, mana
yang perlu direvisi dan mana yang sudah padu, sehingga pelaksnaannya tidak terkesan dadakan dan
dipaksakan.
Pro dan kontra adalah salah satu hambatan yang perlu menjadi perhatian, karena dari sinilah
tergerak pemikiran solusi untuk memecahkan permasalahan terkait penerapan kurikulum 2013.
3. Penambahan Jam Pembelajaran
penambahan jam pelajaran ini dikhawatirkan akan mengesampingkan kebutuhan siswa untuk
mendapatkan pendidikan di lingkungan keluarga dan sosial sekitarnya. Pertimbangan ini mengingat
siswa harus didorong mengembangkan banyak ragam kecerdasan, mulai dari kecerdasan kognitif,
emosional, sosial, hingga spiritual.
4. Belum Adanya Evaluasi dari Kurikulum Sebelumnya
Perubahan Kurikulum 2013 juga tidak didasarkan pada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum
sebelumnya (KTSP) 2006 sehingga dapat membingungkan guru dan pemangku pendidikan dalam
pelaksanaannya.
5. Guru Dipandang Memiliki Kemampuan Sama
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak pernah secara langsung melibatkan
guru dalam merumuskan kurikulum 2013. Kemendikbud seolah melihat semua guru dan peserta
didik memiliki kemampuan yang sama.

III. Simpulan dan Penutup
Dalam pelaksanaannya, kurikulum mempunyai banyak kendala. Salah satu faktornya ialah
bisa dari guru, masyarakat, biaya, kepala sekolah dan birokrasi. Dan daripada itu maka langkah
solusinya ialah ; mengetahui tujuan perbaikan, mengenal situasi sekolah, mengetahui kebutuhan
siswa dan guru, mengenal masalah yang dihadapi sekolah, mengenal kompetensi guru, mengetahui
gejala sosial dan mengetahui perkembangan/ aliran dalam kurikulum.
Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kruikulum 2013 antara lain adalah rendahnya
kesadarn guru sebagai pendidik, pro dan kontra di dalam masyarakat, problema penambahan jam
belajar di sekolah, belum adanya evaluasi dari kurikulum sebelumnya dan semua guru dipandang
memiliki kemampuan yang sama.
Demikianlah pembahasan ini yang bisa saya buat. Tentunya banyak kekurangan yang jauh
dari sempurna karena keterbatasan pengetahuan. Untuk itu kritik dan saran merupakan sumbangan
yang berarti bagi penulis untuk menyempurnakannya.
Diposkan oleh Dicko Zenid di 14.34
http://dickozenid.blogspot.sg/2013/05/kelamahan-kurikulum-2013.html
JAKARTA, KOMPAS.com Penerapan Kurikulum 2013 dianggap hanya
sekadar formalitas. Semuanya tampak dari minimnya persiapan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menerapkan kurikulum
tersebut di semua sekolah.

Ketua Dewan Pertimbangan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Itje
Chodijah menuturkan, Kurikulum 2013 telah menuai protes dan kritik.
Proses penyusunan desainnya dinilai tidak transparan. Selain itu, proses
uji publik juga dinilai asal-asalan serta minim sosialisasi.

Hal ini berbeda dengan perubahan kurikulum pada era Orde Lama dan
Orde Baru. Pada era tersebut, perubahan kurikulum dilakukan sangat hati-
hati melalui proses dialog, analisis, dan uji coba.

"Dari berbagai macam diskusi dan refleksi tentang mereka yang terlibat
dalam desain Kurikulum 2013, tampak jelas tidak ada koordinasi yang baik
antara desain awal dengan tim teknis, baik untuk buku cetak maupun
sistem evaluasi. Persiapan yang tidak matang jelas merugikan pendidikan
nasional," kata Itje dalam acara catatan akhir tahun pendidikan 2013 di
kantor LBH Jakarta, Kamis (2/1/2014).

Selanjutnya, Itje juga membeberkan bobroknya sisi penerapan Kurikulum
2013 yang tecermin dari keterpaksaan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan menurunkan target implementasi, yang semula 30 persen dari
total sekolah menjadi hanya 2 persen (6.213 sekolah).

Selain itu, buku diktat dan buku teks juga terlambat dicetak dan
didistribusikan ke sekolah-sekolah sehingga berdampak pada penundaan
pelatihan guru. Pada tingkat implementasi, kata Itje, banyak guru bingung
saat menerapkan Kurikulum 2013 di kelas. Guru pendamping yang
dijanjikan hadir di kelas ternyata baru hadir pada November 2013, atau
terlambat tiga bulan dari jadwal semula.

Hal ini diperparah banyaknya sekolah yang ditunjuk mengimplementasikan
kurikulum tersebut, tetapi tidak memiliki buku panduan penerapan
Kurikulum 2013. "Ada juga masalah penilaian dan pengisian buku rapor.
Hal itu terjadi karena adanya perubahan model penilaian, tapi
perubahannya tidak diberikan pada saat pelatihan," pungkas Itje.

Sebelumnya, FSGI juga menyatakan banyaknya permasalahan pendidikan
pada 2013. Selain kurikulum, masalah lainnya adalah korupsi dan
pungutan liar, keterlambatan pelaksanaan ujian nasional, ancaman
diberangusnya hak guru dalam berorganisasi, rendahnya kualitas buku
ajar, sampai banyaknya kasus kekerasan di lingkungan sekolah dan
kampus.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Kurikulum 2013
Penulis : Indra Akuntono
Editor : Hindra Liauw
http://edukasi.kompas.com/read/2014/01/02/1611598/Penerapan.Kurikulum.2013.Hanya.Sekadar.
Formalitas
Penerapan Kurikulum 2013 Masih Alami Kendala
Selasa, 24 September 2013 | 13:31
Ilustrasi kurikulum 2013 [google]

Berita Terkait
Kurikulum 2013 Memaksa Pelajar Papua Pahami Internet
Setiap Siswa Dapat Buku Kurikulum 2013
5 SMK di Jakarta, Dibekali Pendidikan Kelas Adira
BPKP Kontrol Distribusi Buku Kurikulum 2013
Buku Peminatan SMA/SMK Ditanggung Siswa
[PALU] Meski telah berjalan dua bulan, penerapan kurikulum 2013 di beberapa sekolah
percontohan di Palu, Sulawesi Tengah (Suleteng), masih mengalami kendala.

Selain karena buku pelajaran yang terbatas, kendala lainnya adalah belum siapnya seluruh
guru dalam menerapkan kurikulum baru. Kepala SMA Negeri 2 Palu, Syarifudin mengatakan
sebagian guru masih kesulitan mencari buku untuk digunakan pada kurikulum 2013. Itu
karena mereka hanya mengandalkan silabus yang diberikan pemerintah. Sedangkan belum
semua buku pelajaran mereka terima.

Secara jujur kami mengatakan penerapan kurikulum ini masih banyak mengalami kendala.
Terutama pemahaman guru tentang konten kurikulum ini. Hal itu karena pada kurikulum ini
metode pembelajarannya agak berbeda dengan kurikulum sebelumnya, yang
mengharuskan siswa untuk berfikir kritis dalam menanggapi pelajaran. Fugsi guru di
kurikulum ini hanya sebagai fasilitator, ujar Syarifudin, Senin (23/9).

Sekolah yang dipimpin Syarifudin menjadi koordinator bagi tujuh sekolah tingkat
SMA/sederajat di Sulteng yang menjadi percontohan penerapan kurikulum 2013.

Diakui, selama penerapan kurikulum 2013, pelatihan yang dilaksanakan pemerintah baru
meliputi tiga mata pelajaran yakni, matematika, Bahasa Indonesia dan sejarah.

Sedangkan pelatihan untuk mata pelajaran lainnya belum dilaksanakan. Pelatihan itu
memang sangat besar manfaatnya bagi guru untuk penyamaan persepsi dalam penerapan
kurikulum 2013, jelasnya.

Sekolah-sekolah yang menerapkan kurikulum 2013 pada tahap awal seharusnya lebih siap
karena bagaimanapun nantinya sekolah itu akan menjadi tolok ukur bagi sekolah lain.
[JDL/N-6]
http://www.suarapembaruan.com/home/penerapan-kurikulum-2013-masih-alami-kendala/42349