Anda di halaman 1dari 21

BAB I

LAPORAN KASUS

I.1. Identitas Pasien
A. Identitas Pasien
Nama : By. Ny. Wanggis
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat & tanggal Lahir : Soreang, 21 September 2014
Umur : 4 hari
Suku : Sunda
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
B. Pemeriksaan Fisik
Tanggal : 25 September 2014
Umur : 4 hari
Berat Badan : 1700 gram
Panjang Badan : 44 cm
Tanda Vital :
Kesadaran : Kompos mentis
Denyut jantung : 130 kali/menit
Frekuensi Nafas : 60 kali/menit
Suhu Tubuh : 36,8
o
C
CRT : 3
Kulit : kemerahan, sianosis (-), ikterik (+) Kremer II
Jaringan subkutis : Ada
Kepala : Bentuk : mesosefali
Sefal Hematom : (-)
Kaput suksadeneum : (-)
Rambut : Hitam
Mata : Sklera ikterik (-/-), konjungtiva anemis (-/-), perdarahan sub
konjungtiva (-/-)
Telinga : Simetris, recoil cepat kembali.
Hidung : Pernafasan cuping hidung (-), septum deviasi (-)
Mulut : Simetris, sianosis (-), mukosa bibir basah, celah bibir (-), celah
palatum (-)
Leher : Tortikolis (-), kaku kuduk (-)
Toraks : Bentuk simetris, retraksi ringan (+)
Payudara : Teraba bantalan areola mamae 1-2 mm
Jantung : Normal, reguler
Paru : Suara nafas bronkovesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen : Supel, H/L/M tak teraba, bising usus (+) normal
Genitalia : Perempuan
Anus : (+), mekonium (+)
Ekstremitas : Atas : akral hangat, edem (-/-)
Bawah : akral hangat, edem (-/-)
Tulang belakang : Deformitas (-), spina bifida (-), skoliosis (-)
Tanda-tanda fraktur : Tidak ada
Tanda kelainan bawaan : Tidak ada



I.2. Dari Rekam Medik Didapatkan
Bayi lahir tanggal 21 September 2014 jam 18.25 WIB
Anamnesis
Riwayat Penyakit Sekarang :
Bayi lahir tidak menangis, grunting (+), retraksi suprasternal (+), lemah (+), PCH (+),
warna air ketuban meconium hijau , riwayat kelahiran kepala spontan dengan meconial
staining.
Riwayat Persalinan Kehamilan
Kehamilan
ke
Tanggal/
tahun
kelahi-ran
Jenis Persali
Nan
JK BBL
Hidup/M
ati
Penyakit
Waktu Hamil
1 (ini)
31 Maret/
2013
Spontan P 1700 Hidup -


Keadaan Persalinan Sekarang
Diagnosis Ibu : G
1
P
0
A
0

Jenis persalinan : Spontan dipimpin oleh bidan
Kelahiran : Tunggal
Letak/presentasi bayi : Kepala
Kondisi saat lahir : Hidup
Kondisi air ketuban : hijau pekat berbau
Volume air ketuban : Tak dilakukan pengukuran


Keadaan Bayi Saat Lahir
Penilaian bayi dengan skor Apgar
Tanda 0 1 2
Penilaian
menit ke
1 5
Frekuensi
Jantung
tidak ada < 100 >100 2 2
Usaha bernafas
Tidak
Ada
Lambat
menangis
kuat
2 2
Tonus otot Lumpuh
Ekstremitas
fleksi sedikit
Gerakan
Aktif
0 1
Refleks terhadap
rangsangan
Tidak
Bereaksi
Gerakan
Sedikit
Reaksi
Melawan
1 1
Warna
Biru
/Pucat
Tubuh
kemerahan,
tangan dan
kaki biru
Kemerah-an 1 2
Penilaian 1 menit sesudah lahir lengkap
Penilaian 5 menit sesudah lahir
A. Riwayat Resusitasi
Tindakan/ventilasi :
Perangsangan
Pemberian 0
2
dengan tekanan tidak langsung
Medikasi pada bayi :
- Infus D10% 100 + 8 cc CaCl2
- Ampicilin 2 x 100 mg
- Genta 1 x 6 mg
- Aminofilin 3 x 4 mg
- Pasang OGT dekompresi
- Cek DR + GDS
- Thorax foto

B. Antropometri
Berat badan lahir : 1700 gram
Panjang badan lahir : 44 cm
I.3. RESUME
Nama : By. Ny. Wanggis
Jenis Kelamin : Perempuan
BB/PB/LK : 1700 gram/ 44 cm/ tidak diukur
TL/JL/CL : 21 September 2014 / 18.25 WIB / Spontan
Pemeriksaan Fisik :
Denyut Jantung : 130 kali/ menit
Frekuensi Napas : 55 kali/ menit
Suhu tubuh : 36,8
0
C
CRT : <3 detik
Hidung : pernafasan cuping hidung (+)
Thoraks : simetris, retraksi suprasternal (+)

I.4. Diagnosis banding
I II III
Preterm
infant
Bayi berat lahir
rendah
Gawat Napas
Sindrom Aspirasi
Mekonium (SAM)



I.5. Hasil Pemeriksaan penunjang
A. Darah rutin
- Hb : 17,1
- Ht : 52
- Leukosit : 42.300
- Trombosit : 421.000
- GDS : 74
B. Rontgen thorax

- Cor tidak membesar
- Sinuses dan diafragma normal
- Hili kasar
- Corakan paru bertambah
- Tampak infiltrat di kedua paru
Kesan : tidak tampak kardiomegali, gambaran meconeal aspiration syndrome
I.6. Diagnosis sementara
I. Preterm infant
II. Bayi berat lahir rendah
III. Gawat nafas e.c. suspek SAM

I.7. Terapi
- Infus D10% 100 + 8 cc CaCl2
- Ampicilin 2 x 100 mg
- Genta 1 x 6 mg
- Aminofilin 3 x 4 mg
- Pasang OGT dekompresi
- Cek DR + GDS
- Thorax foto
- Monitor : Keadaan umum, tanda vital

Follow Up Harian :
21/9/14

Jam 21
S Retraksi (+), grunting (+)
O N : 160 x/menit
R : 54 x/menit
S : 36,7
o
C

21/9/14

Jam 24
S Retraksi (+), grunting (+)
O N : 140 x/menit
R : 61 x/menit
S : 36,9
o
C

22/9/14

S Lemah,
O BB/PB: 1700 gram/ 44 cm
TTV: HR : 145 x/menit
RR : 40 x/ menit
T : 36,5
o
C
CRT : < 3 detik
Pemeriksaan Fisik:
Kepala: mesosefali
Mata: anemis (-/-), ikterik (-/-)
Hidung: PCH (-)
Mulut: POC (-)
Leher: tortikolis (-)
Thorax: retraksi (-/-)
Jantung: murni dan reguler
Paru: Rh (-/-), Wh (-/-)
Abdomen: supel, H/L/M tidak teraba, BU (+) normal



BAB II
ANALISA KASUS

1. Mengapa pasien ini di diagnosis Bayi berat lahir rendah + neonatus kurang bulan +
Gawat nafas e.c. suspek SAM ?
Karena memenuhi kriteria dibawah ini
Bayi berat lahir rendah + neonatus kurang bulan
Bayi berat lahir rendah adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Bayi berat
lahir rendah mungkin disebabkan oleh :
Kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
Pertumbuhan janin terhambat (dibawah persentil ke 10)
Keduanya
Pada bayi ny. W didapatkan hasil pemeriksaan BB 1700 gram dan dari hasil pemeriksaan
new ballard score dan maturitas fisik didapatkan skor 24 yang menyatakan masa kehamilan
32 minggu.


Gawat nafas e.c. suspek Sindrom aspirasi mekonium
Definisi gawat nafas adalah : suatu keadaan meningkatnya kerja pernapasan yang ditandai
dengan :
1. Takipneu : frekuensi nafas > 60 80 x/menit
2. Retraksi : Retraksi : cekungan atau tarikan interkostal atau dibawah sternum (substernal)
selama inspirasi
3. Pernafasan cuping hidung : kembang kempis lubang hidung selama inspirasi.
4. Merintih atau grunting : terdengan merintih atau menangis saat inspirasi
5. Sianosis : sianosis sentral yaitu warna kebiruan pada bibir (berbeda dengan biru lebam atau
warna membran mukosa. Sianosis sentral tidak pernah normal, selalu memerlukan perhatian
dan tindakan segera. Mungkin mencerminkan abnormalitas jantung, hematologik atau
pernapasan yang harus dilakukan tindakan segera.
6. Apneu atau henti nafas
7. Bila takipneu, retraksi, cuping hidung, dan grunting menetap pada beberapa jam setelah
lahir, ini merupakan indikasi adanya gangguan napas
2. Permasalahan apa saja yang dapat ditemui pada bayi berat lahir rendah dan
neonatus kurang bulan ?
Ketidakstabilan bayi kurang bulan memiliki kesulitan untuk mempertahankan suhu
tubuh karena :
a. peningkatan kehilangan panas
b. berkurangnya lemak subkutan
c. rasio daerah permukaan terhadap berat badan yang tinggi
d. berkurangnya produksi panas karena tidak memakai lemak coklat dan
ketidakmampuan untuk menggigil

Kesulitan bernafas
a. defisiensi surfaktan paru yang mengarah ke sindrom gawat pernafasan
b. resiko aspirasi karena refleks tersedak dan batuk yang buruk, pengisapan dan
penelanan yang tidak terkoordinasi
c. thorax yang dapat menekuk da otor pernafasan yang lemah
d. pernafasan periodik dan apneu

Berbagai masalah gastrointestinal dan nutrisi
a. refleks hisap dan menelan yang buruk
b. penurunan motilitas usus
c. penundaan pengosongan lambung
d. penurunan pencernaan dan absorpsi berbagai vitamin yang larut dalam lemak
e. defisiensi enzim laktase pada brush border usus
f. menurunnya simpanan kalsium, fosfor, protein, dan zat besi dalam tubuh
g. meningkatnya resiko NEC

Ketidakmatangan hepar
a. konjugasi dan ekskresi bilirubin yang terganggu
b. defisiensi faktor pembekuan yang bergantung pada vitamin K

Permasalahan hematologi
a. anemia
b. hiperbilirubinemia, terutama indirek
c. koagulasi intravaskuler menyebar (DIC)
d. penyakit perdarahan pada neonatus (HDN)
3. Bagaimana penatalaksanaan bayi dengan berat lahir rendah ?
Bayi dengan Berat Lahir 1750-2499 gram
Bayi dengan berat lahir > 2250 gram umumnya cukup kuat untuk mulai minum sesudah
dilahirkan. Jaga bayi tetap hangat dan kontrol infeksi, tidak ada perawatan khusus.
Sebagian bayi dengan berat lahir 1750 2250 gram mungkin perlu perawatan ekstra, tetapi
dapat secara normal bersama ibunya untuk diberi minum dan kehangatan, terutama jika
kontak kulit-ke-kulit dapat dijaga.
Pemberian Minum
Mulailah memberikan ASI dalam 1 jam sesudah kelahiran. Kebanyakan bayi mampu
mengisap. Bayi yang dapat mengisap harus diberi ASI. Bayi yang tidak bisa menyusu harus
diberi ASI perah dengan cangkir dan sendok. Ketika bayi mengisap dari puting dengan baik
dan berat badan bertambah, kurangi pemberian minum melalui sendok dan cangkir.
Periksalah bayi sekurangnya dua kali sehari untuk menilai kemampuan minum, asupan
cairan, adanya suatu TANDA BAHAYA atau tanda-tanda adanya infeksi bakteri berat. Jika
terdapat salah satu tanda ini, lakukan pemantauan ketat di tempat perawatan bayi baru lahir
seperti yang dilakukan pada Berat Bayi Lahir Sangat Rendah (BBLSR). Risiko merawat anak
di rumah sakit (misalnya mendapat infeksi nosokomial), harus seimbang dengan manfaat
yang diperoleh dari perawatan yang lebih baik.
Bayi dengan Berat Lahir di bawah 1750 gram
Bayi-bayi ini berisiko untuk hipotermia, apnu, hipoksemia, sepsis, intoleransi minum dan
enterokolitis nekrotikan. Semakin kecil bayi semakin tinggi risiko. Semua Bayi Berat Lahir
Sangat Rendah (BBLSR) harus dikirim ke Perawatan Khusus atau Unit Neonatal.


Tatalaksana
Beri oksigen melalui pipa nasal atau nasal prongs jika terdapat salah satu tanda
hipoksemia.
Suhu
Lakukanlah perawatan kulit-ke-kulit di antara kedua payudara ibu atau beri pakaian di
ruangan yang hangat atau dalam humidicrib jika staf telah berpengalaman dalam
menggunakannya. Jika tidak ada penghangat bertenaga listrik, botol air panas yang
dibungkus dengan handuk bermanfaat untuk menjaga bayi tetap hangat. Pertahankan
suhu inti tubuh sekitar 36,5 37,5 C dengan kaki tetap hangat dan berwarna
kemerahan.
Cairan dan pemberian minum
Jika mungkin berikan cairan IV 60 mL/kg/hari selama hari pertama kehidupan.
Sebaiknya gunakanpaediatric (100 mL) intravenous burette: dengan 60 tetes = 1 mL
sehingga, 1 tetes per menit = 1 mL per jam. Jika bayi sehat dan aktif, beri 2-4 mL ASI
perah setiap 2 jam melalui pipa lambung, tergantung berat badan
Bayi sangat kecil yang ditempatkan di bawah pemancar panas atau terapi sinar
memerlukan lebih banyak cairan dibandingkan dengan volume biasa. Lakukan
perawatan hati-hati agar pemberian cairan IV dapat akurat karena kelebihan cairan
dapat berakibat fatal.
Jika mungkin, periksa glukosa darah setiap 6 jam hingga pemberian minum enteral
dimulai, terutama jika bayi mengalami apnu, letargi atau kejang. Bayi mungkin
memerlukan larutan glukosa 10%.
Mulai berikan minum jika kondisi bayi stabil (biasanya pada hari ke-2, pada bayi
yang lebih matur mungkin pada hari ke-1). Pemberian minum dimulai jika perut tidak
distensi dan lembut, terdapat bising usus, telah keluar mekonium dan tidak terdapat
apnu.
Gunakan tabel minum.
Hitung jumlah minum dan waktu pemberiannya.
Jika toleransi minum baik, tingkatkan kebutuhan perhari.
Pemberian susu dimulai dengan 2-4 mL setiap 1-2 jam melalui pipa lambung.
Beberapa BBLSR yang aktif dapat minum dengan cangkir dan sendok atau pipet
steril. Gunakan hanya ASI jika mungkin. Jika volume 2-4 mL dapat diterima tanpa
muntah, distensi perut atau retensi lambung lebih dari setengah yang diminum,
volume dapat ditingkatkan sebanyak 1-2 mL per minum setiap hari. Kurangi atau
hentikan minum jika terdapat tanda-tanda toleransi yang buruk. Jika target pemberian
minum dapat dicapai dalam 5-7 hari pertama, tetesan IV dapat dilepas untuk
menghindari infeksi.
Minum dapat ditingkatkan selama 2 minggu pertama kehidupan hingga 150-180
mL/kg/hari (minum 19-23 mL setiap 3 jam untuk bayi 1 kg dan 28-34 mL untuk bayi
1.5 kg). Setelah bayi tumbuh, hitung kembali volume minum berdasarkan berat badan
terakhir.
Antibiotik dan Sepsis
Faktor-faktor risiko sepsis adalah: bayi yang dilahirkan di luar rumah sakit atau
dilahirkan dari ibu yang tidak sehat, pecah ketuban >18 jam, bayi kecil (mendekati 1
kg).
Jika terdapat salah satu TANDA BAHAYA atau tanda lain infeksi bakteri berat
mulailah pemberian antibiotik.
Apnu
Amati bayi secara ketat terhadap periode apnu dan bila perlu rangsang pernapasan
bayi dengan mengusap dada atau punggung. Jika gagal, lakukan resusitasi dengan
balon dan sungkup.
Jika bayi mengalami episode apnu lebih dari sekali dan atau sampai membutuhkan
resusitasi berikan sitrat kafein atau aminofilin.
Kafein lebih dipilih jika tersedia. Dosis awal sitrat kafein adalah 20 mg/kg oral atau
IV (berikan secara lambat selama 30 menit). Dosis rumatan sesuai anjuran (lihat dosis
obat untuk bayi baru lahir).
Jika kafein tidak tersedia, berikan dosis awal aminofilin 10 mg/kg secara oral atau IV
selama 15-30 menit. Dosis rumatan sesuai anjuran.
Jika monitor apnu tersedia, maka alat ini harus digunakan.
Pemulangan dan pemantauan BBLR
BBLR dapat dipulangkan apabila :
Tidak terdapat TANDA BAHAYA atau tanda infeksi berat.
Berat badan bertambah hanya dengan ASI.
Suhu tubuh bertahan pada kisaran normal (36-37C) dengan pakaian terbuka.
Ibu yakin dan mampu merawatnya.
BBLR harus diberi semua vaksin yang dijadwalkan pada saat lahir dan jika ada dosis kedua
pada saat akan dipulangkan.
Konseling pada saat BBLR pulang
Lakukan konseling pada orang tua sebelum bayi pulang mengenai:
pemberian ASI eksklusif
menjaga bayi tetap hangat
tanda bahaya untuk mencari pertolongan
Timbang berat badan, nilai minum dan kesehatan secara umum setiap minggu hingga berat
badan bayi mencapai 2,5 kg.
4. Mengapa aspirasi mekonium dapat menyebabkan gawat nafas dan bagaimana cara
menegakkan diagnosa ?
Mekonium adalah kotoran intestinal yang berbentuk cairan kental berwarna hijau gelap yang terdiri
dari sel epitel usus, lanugo, lendir dan skeresi usus (misalnya: cairan empedu) yang dikeluarkan
pertama kali oleh bayi baru lahir.
Sindrom aspirasi meokinum seringkali merupakan tanda bahwa neonatus telah menderita
asfiksia sebelum dan sesudah kelahiran. Gawat nafas ini disebabkan oleh apirasi mekonium
oleh fetus dalam uterus atau oleh neonatus selama proses persalinan dan kelahiran.
Mekonium yang terinflamasi dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas dan reaksi inflamasi
intensif.
Faktor yang mendorong pengeluaran mekonium intrauterin adalah sebagai berikut

:
- Insufusiensi plasenta
- Hipertensi maternal
- Preeklamsia
- Oligohidramnion
- Pengguaan obat-obatan semasa kehamilan, terutama tembakau dan kokain
- Infeksi maternal / korioamnionitis
- Hipoksia fetus
Dalam rahim pengeluaran mekonium dihasilkan dari rangsangan saraf dari saluran
gastrointestinal yang telah matang dan biasanya akibat dari stress hipoksia fetus. Begitu fetus
mencapai aterm, traktus gastrointestinal menjadi matang, dan stimulasi vagus dari kompresi
kepala atau saraf tulang belakang dapat menyebabkan peristaltik dan relaksasi sfingter anus
menyebabkan keluarnya mekonium.
Mekonium mengubah cairan amnion secara langsung, menurunkan aktivitas antibakteri dan
selanjutnya meningkatkan resiko infeksi bakteri perinatal. Mekonium juga mengiritasi kulit
fetus, karena itu meningkatkan insidensi eritema toksikum. Namun, komplikasi paling berat
dari pengeluaran mekonium intrauterin adalah aspirasi sebelum, selama, dan sesudah
kelahiran. Aspirasi menyebabkan hipoksia melalui 4 efek mayor1 : obstruksi jalan nafas,
disfungsi surfaktan, pneumonitis kimia, dan hipertensi pulmonal.
a. Obstruksi Jalan Nafas
Obstruksi jalan nafas total oleh mekonium menyebabkan atelektasis. Obstruksi parsial
menyebabkan udara terperangkap dan hiperdistensi alveoli, umumnya dikenal dengan istilah
ball-valve effect. Hiperdistensi alveoli terjadi dari ekspansi jalan nafas selama inhalasi dan
kolaps jalan nafas sekitar mekonium yang mengeras pada jalan nafas, menyebabkan tahanan
meningkat selama ekspirasi. Udara yang terperangkap (paru hiperinflasi) dapat pecah ke
pleura (pnemotoraks), mediastinum (pneumomediastinum), atau pericardium
(pneumoperikardium).
b. Disfungsi Surfaktan
Mekonium mendeaktivasi surfaktan dan dapat menghambat sintesis surfaktan.
Beberapa komponen mekonium, terutama asam lemak bebas (misalnya : palmatic, stearic,
oleic), memiliki tekanan permukaan yang lebih minimal dibanding surfaktan dan
menyebabkan atelektasis luas.
c. Pneumonitis Kimia
Enzim, asam empedu, dan lemak pada mekonium mengiritasi saluran nafas dan
parenkim, menyebabkan pelepasan sitokin (termasuk TNF, IL-6, IL-8, IL-13, IL-1AY) dan
menyebabkan pneumonitis luas yang dapat dimulai dalam beberapa jam setelah aspirasi.
Semua efek pulmonari ini dapat menghasilkan ventilation-perfusion (V/Q) mismatch.
d. Hipertensi Pulmonal Persisten pada Bayi Baru Lahir (PPHN)
Banyak bayi dengan sindrom aspirasi mekonium memiliki hipertensi pulmonal persisten pada
bayi baru lahir (PPHN) sebagai akibat dari stress intrauterin kronik dan penebalan pembuluh
darah pulmonal. PPHN kemudian menyebabkan hipoksemia yang sebabkan oleh sindrom
aspirasi mekonium. Akhirnya, walaupun mekonium steril, kehadirannya pada saluran nafas
dapat menjadi predisposisi terjadinya infeksi pulmonal pada bayi.

Patofisiologi pengeluaran mekonium dan sindrom aspirasi mekoium.
Pembersihan mekonium dari saluran nafas yang tidak adekuat sebelum nafas pertama dan
penggunaan ventilasi tekanan positif sebelum membersihkan jalan nafas dari mekonium
meningkatkan kecenderungan neonatus mengalami sindrom aspirasi mekonium.
Urin berwarna hijau dapat terjadi pada bayi baru lahir dengan sindrom aspirasi mekonium
kurang dari 24 jam setelah kelahiran. Pigmen mekonium dapat diserap oleh paru dan
dieksresikan melalui urin.
Diagnosis sindrom aspirasi mekonium membutuhkan adanya air ketuban atau neonatus
bercampur mekonium, distress pernafasan, dan kelainan radiografi.
Gejala distress pernafasan berat adalah sebagai berikut :
- Sianosis
- End-expiratory grunting
- Nafas cuping hidung
- Retraksi interkosta
- Takipnea
- Barrel chest
- Auskultasi ronki basah dan kering (pada beberapa kasus)
Kuku jari tangan, tali pusarm dan kulit berwarna kuning kehijauan dapat ditemukan.
Pada manifestasi klinis didapatkan :
- tercampurnya mekonium dalam cairan ketuban sebelum kelahiran
- kontaminasi mekonium pada neonatus setelah lahir
- jalan napas terhambat
- gagal napas yang mengarah pada peningkatan diameter anteroposterior dada
Pemeriksaan laboratorium yang dibutuhkan mencakup :
- analisa gas darah
- pemeriksaan radiologis : pada rontgen dada akan memperlihatkan infiltrat bercak, garis
kasar pada kedua bidang paru, diameter anteroposterior yang meningkat dan pemipihan
diafragma.
5. Bagaimana penatalaksanaan mekonium aspirasi sindrom ?
a. Pencegahan sindrom aspirasi mekonium :
Pencegahan merupakan hal paling penting. Ahli obstetri harus memonitor status fetus
dengan ketat untuk menidentifikasi adanya stress fetus. Ketika mekonium dideteksi,
amnioinfusion dengan salin steril dan hangat bermanfaat untuk mengencerkan mekonium
pada cairan amnion, karena itu meminimalkan keparahan aspirasi. Namun, temuan saat ini
tidak mendukung amnioinfusion untuk mencegah sindrom aspirasi mekonium. Suatu studi
menunjukkan bahwa amnioinfusion tidak menurunkan resiko sindrom aspirasi mekonium
sedang atau berat atau sindrom aspirasi mekonium yang berhubungan denan kematian.

Rekomendasi terbaru tidak lagi menyerankan intrapartum suction untuk bayi baru lahir
dengan cairan amnion bercampur mekonium.

Ketika terjadi aspirasi, intubasi dan penyedotan
jalan nafas dapat membersihkan mekonium yang teraspirasi.
Jangan melakukan teknik berikut untuk mencegah terjadinya aspirasi mekonium :
- Menekan dada bayi
- Memasukkan jari pada mulut bayi
The American Academy of Pediatrics Neonatal Resuscitation Program Steering
Committee and the American Heart Association telah mengembangkan pedoman tatalaksana
bayi yang terpapar dengan mekonium.Pedoman tersebut sedang terus direvisi. Pedoman saat
ini adalah sebagai berikut

:
- Jika bayi tidak bertenaga (upaya bernafas kurang, tonus otot yang lemah, dan/ atau
detak jantung <100x/menit) Gunakan laringoskopi langsung, intubasi, dan
segera sedot trakea setelah kelahiran. Penyedotan tidak lebih dari 5 detik. Jika
mekonium diambil dan tidak terdapat bradikardi, intubasi ulang dan sedot. Jika
detak jantung lemah, berikan ventilasi tekanan positif dan pertimbangkan
penyedotan ulang.
- Jika bayi bertenaga (upaya bernafas normal, tonus otot normal, dan detak jantung
>100x/menit) Jangan melakukan intubasi. Bersihkan sekret dan mekonium dari
mulut dan hidung dengan bulb syringe atau large bore suction catheter.
- Pada kedua kasus, setelah resusitasi awal hal yang perlu dilakukan berikutnya
adalah mengeringkan, merangsang, memposisikan, dan memberikan oksigen.

Algoritma penatalaksanaan bayi yang lahir dengan cairan amnion bercampur mekonium.

Perawatan selanjutnya dilakukan di ICU (NICU).
Pertahankan suhu ruang yang optimal untuk meminimalkan konsumsi oksigen.
Diperlukan penanganan minimal karena bayi-bayi ini mudah mengalami agitasi.
Agitasi meningkatkan right to left shunt, sehingga dapat menyebabkan hipoksia dan
asidosis.
Sedasi seringkali dibutuhkan untuk menurunkan agitasi
Kateter arteri umbilikalis harus dipasang untuk memantau gas darah tanpa
mengagitasi bayi.
Perawatan pernafasan kontinu. Terapi oksigen dengan hood atau tekanan positif
penting dalam mempertahankan oksigenasi arteri yang adekuat. Ventilasi mekanik
dibutuhkan pada sekitar 30% bayi dengan sindrom aspirasi mekonium. Hal ini
meminimalkan tekanan rata-rata jalan nafas dan menggunakan waktu inspirasi
sependek mungkin. Saturasi oksigen harus dipertahankan pada 90-95%.
Terapi surfaktan telah umum digunakan untuk menggantikan surfaktan yang tidak
aktif dan sebagai deterjen untuk menghilangkan mekonium. Walaupun penggunaan
surfaktan nampaknya tidak mempengaruhi tingkat kematian, ia dapat menurunkan
keparahan penyakit (penggunaan oksigenasi membran ekstrakorporeal)
k
, dan
menurunkan lama rawat inap.
Walaupun ventilasi konvensional umumnya digunakan, oscillation ventilation dan jet
ventilation merupakan terapi alternatif yang efektif. Hipervetilasi untuk menginduksi
hipokapnea dan mengkompensasi metabolik asidosis sudah bukan merupakan terapi utama
untuk hipertensi pulmonal karena hipokarbia dapat menurunkan perfusi otak (PaCO
2
< 30
mmHg). Alkalosis berkepanjangan menyebabkan kerusakan saraf, sehingga alkalosis harus
dihindari pada pasien ini.
Terapi ventilator dengan tekanan rata-rata jalan nafas dan volum tidal yang minimal harus
digunakan jika terdapat emfisema interstisial pulmonal atau pneumotoraks.
Pada hipertensi pulmonal persisten pada bayi baru lahir (PPHN), nitrit oksida inhalasi
merupakan vasodilator paru pilihan. Oksigen juga merupakan vasodilator yang poten.
Penghambat fosfodiesterase, termasuk sildenafil dan milirinone, digunakan sebagai terapi
tambahan untuk PPHN.
Perhatikan tekanan volum darah sistemik dan tekanan darah sistemik. Ekspansi volum, terapi
transfusi, dan vasopresor sistemik penting dalam mempertahankan tekanan darah sistemik
lebih tinggi dari tekanan darah paru, karena itu menurunkan right-to-left shunt pada pasien
dengan Patent Ductus Arteriosus (PDA).
Pastikan kapasitas pembawa oksigen adekuat dengan mempertahankan hemoglobin > 13g/dL.
Kortikosteroid tidak direkomendasikan. Tidak cukup bukti yang mendukung penggunaan
steroid pada sindrom aspirasi mekonium.
Tidak terdapat studi yang menunjukkan bahwa profilaksis antibiotik menurunkan insidensi
sepsis pada neonatus yang lahir melalui cairan amnion yng bercampur dengan mekonium.
Karena itu penggunaan antibiotik diberikan hanya pada pasien yang mengalami atau diduga
mengalami infeksi.
Walaupun Oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO) efektif dalam penanganan sindrom
aspirasi mekonium, ECMO berhubungan dengan hasil keadaan neurologis yan buruk.


Tatalaksana bayi yang lahir melalui cairan amnion bercampur mekonium.

Walaupun penanganan air block syndrome (pneumotoraks atau pneumoperikardium) adalah dengan
memasang drainase toraks, namun terpai dengan fibrin glue efektif pada kasus kebocoran udara yang
persisten. Karena itu dapat dikonsultasikan pada bedah anak.
Evaluasi oleh ahli jantung anak juga penting untuk penilaian ekokardiografi untuk menilai struktur
jantung dan keparahan hipertensi pulmonal, dan right-to-left shunt. Evaluasi ahli neurologi juga
penting apabila terdapat kasus ensealopati neonatorum atau kejang.
Distress perinatal dan distress pernafasan berat menghalangi pemberian makan. Terapi cairan
intravena dimulai dengan infus dekstrosa yang adekuat untuk mencegah hipoglikemia. Cairan
intravena harus sedikit dibatasi (60-70 mL/kg/hari). Secara bertahap tambahkan elektrolit, protein,
lemak, dan vitamin untuk memastikan kebutuhan nutrisi adekuat dan mencegah defisiensi asam amino
dan asam lemak esensial.
Terapi surfaktan seringkali digunakan. Ekstrak paru alami diberikan untuk menggantikan surfaktan
yang telah hilang. Surfaktan juga bekerja sebagai deterjen untuk memecah mekonium yang tersisa,
sehingga menurunkan keparahan penyakit paru. Surfaktan digunakan pada pasien dengan sindrom
aspirasi mekonium, namun, keefektifan, dosis, dan produk yang paling efektif belum ditentukan.






















DAFTAR PUSTAKA

Clark MB. Meconium Aspiration Syndrome. 2014 [diakses pada 2014 Sept 26 ]. Diaksses
dari: http://emedicine.medscape.com/article/974110-overview
Guideline Neonatal resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. Kattwinkel J, Perlman
JM, Aziz K, Colby C, Fairchild K, GallagherJ, Hazinski MF, Halamek LP, Kumar P, Little
G, McGowan JE, Nightengale B, Ramirez MM, Ringer S, Simon WM, Weiner GM, Wyckoff
M, ZaichkinJ. Circulation. 2010;122:S909 S919.
Kosim MS, Yunanto A & Dewi R Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI;
2012
Pelayanan Obstetri dan neonatal emergensi komprehensif. 2008. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Swarnam K, Soarisham AS, Sivanandan S. Advances in the Management of Meconium
Aspiration Syndrome. International Journal of Pediatrics 2012; 2012:7
Vidyasagar, Bhat. Meconium aspiration syndrome. 2012 [diakses pada 2014 Sept 25].
Diakses dari : http://bestpractice.bmj.com/best-practice/monograph/1185/treatment/step-by-
step.html
World health organisation. Bayi berat lahir rendah. 2013. [diakses pada 25 september 2014].
Diakses dari : http://www.edukia.org/web/kbanak/4-10-bayi-berat-lahir-rendah-bblr/