Anda di halaman 1dari 203

DI REKTORI

Kement er i an Per hubungan


Ke me nt e r i a n Pe r hubunga n
2
Direktori
Kementerian Perhubungan
Sambutan
Menteri Perhubungan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Informasi merupakan kebutuhan pokok setiap orang bagi pengembangan pribadi dan lingkungan sosialnya. Oleh karena itu hak
untuk memperoleh informasi merupakan hak asasi manusia dan keterbukaan informasi publik merupakan ciri penting negara
demokratis yang menjungjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaran negara yang baik. Keterbukaan
informasi publik juga merupakan sarana dalam mengoptimalkan pengawasan publik terhadap penyelenggaraan negara dan
badan publik lainnya. Berkenaan dengan itu, Buku Direktori Kementerian Perhubungan merupakan jawaban untuk memberikan
informasi yang komprehensip mengenai program kebijakan umum pembangunan, peluang investasi dan prosedur perijinan
yang sangat dibutuhkan bagi masyarakat yang ingin bergerak di Sektor transportasi.
Transportasi merupakan salah satu pilar dalam mendukung pembangunan Indonesia karena berbagai alasan; Pertama
pembangunan Sektor transportasi meningkatkan interaksi dan membuka terjadinya pemahaman antar masyarakat. Kedua, dari
segi ekonomi pembangunan transporatsi membuka peluang terjadinya perdagangan antar wilayah sehingga dapat mengurangi
perbedaan harga antar wilayah. Ketiga, pembangunan transportasi meningkatkan mobilitas tenaga kerja sehingga mengurangi
konsentrasi keahlian dan ketrampilan pada beberapa wilayah. Sehubungan dengan hal tersebut, Kementerian Perhubungan
telah dan akan terus melaksanakan berbagai program pembangunan untuk mendukung pembangunan berbagai wilayah
Indonesia.
Dalam pelaksanaannya, penyelenggaraan berbagai program pembangunan transportasi di berbagai wilayah Indonesia
memerlukan partisipasi masyarakat dan para investor. Partisipasi masyarakat menjadi penting karena masyarakat sebagai
pengguna jasa transportasi dan stakeholder mempunyai kepentingan langsung terhadap penyelenggaraan jasa transportasi.
Sementara itu peran investor sangat dibutuhkan dalam pembiayaan pembangunan sarana dan prasarana transportasi mengingat
keterbatasan kemampuan Pemerintah dalam membiayai seluruh pembangunan sarana dan prasarana transportasi di seluruh
wilayah Indonesia.
Akhirnya saya berharap buku Direktori Kementerian Perhubungan dapat dijadikan referensi bagi semua pihak yang ingin
berinvestasi dan bergerak di Sektor Transportasi.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
MENTERI PERHUBUNGAN
E.E. MANGINDAAN
3
Direktori
Kementerian Perhubungan
Kata Sambutan Menteri Perhubungan
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Kebijakan umum 2010 2014
B. Tujuan 2010 - 2014
C. Strategi 2010 - 2014
BAB II KERANGKA DAN PELUANG INVESTASI SEKTOR PERHUBUNGAN
A. Kerangka dan Peluang Investasi Sektor Perhubungan
B. Kriteria Proyek Kerjasama Pemerintah Dan Swasta (KPS) Dan Peluang Investasi
BAB III PROSEDUR Perizinan PELAYANAN JASA PERHUBUNGAN
A. Subsektor Perhubungan Darat
B. Subsektor Perhubungan Laut
C. Subsektor Perhubungan Udara
D. Subsektor Perkeretaapian
BAB IV PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERHUBUNGAN
A. Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Darat
B. Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Laut
C. Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan Udara
BAB V PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN
A. Kerangka Hukum
B. Prosedur Pelayanan Informasi Publik di Kementerian Perhubungan
C. Pengaduan Masyarakat
D. Tindak Lanjut Penanganan Pelayanan Informasi Publik Dan Pengaduan Masyarakat
Lampiran
Inventarisasi Peraturan Bidang Transportasi
Peraturan Pelaksanaan Amanat keempat Undang-undang Transportasi
3
4
5
7
8
9
9
11 25
27 28
29
31 51
53 75
77 123
125 132
133
135 138
139 158
158 167
169
170
171 172
173 175
175 177
178
178 198
199 200
DAFTAR ISI
4
Direktori
Kementerian Perhubungan
5
Direktori
Kementerian Perhubungan
6
Direktori
Kementerian Perhubungan
A. Kebijakan Umum 2010-2014

Kebijakan umum Kementerian Perhubungan dalam pembangunan dan penyelenggaraan transportasi pada tahun 2010-
2014 adalah sebagai berikut:
1. Mendukung pergerakan kelancaran mobilitas penumpang dan distribusi barang/jasa untuk mendorong pengembangan
konektivitas antar wilayah dan meningkatkan daya saing produk nasional;
2. Mewujudkan ketahanan nasional dan wawasan nusantara guna memantapkan penalaran keutuhan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI);
3. Meningkatkan keselamatan dan keamanan transportasi guna memberikan pelayanan kepada masyarakat pengguna
jasa transportasi;
4. Memberikan ruang seluas-luasnya kepada daerah berdasarkan kewenangannya dan memberikan kemudahan
kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan angkutan massal;
5. Mendorong partisipasi peran serta swasta dengan memperhitungkan tingkat pelayanan agar tetap terjaga efisiensi,
pemerataan kepentingan daya beli masyarakat lainnya serta kepentingan operator terkait dengan jaminan
kelangsungan usaha;
6. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia transportasi guna mewujudkan penyelenggaraan transportasi yang
andal, efisien dan efektif;
7. Mendorong pengembangan teknologi transportasi yang ramah lingkungan sebagai antisipasi terhadap dampak
perubahan iklim.
B. Tujuan 2010-2014
Mewujudkan penyelenggaraan transportasi yang efektif dan efisien yang didukung SDM transportasi yang berkompeten
guna mendukung perwujudan Indonesia yang lebih sejahtera, sejalan dengan perwujudan Indonesia yang aman dan damai
serta adil dan demokratis.
7
Direktori
Kementerian Perhubungan
Penyelenggaraan kegiatan transportasi yang efektif berkaitan dengan ketersediaan aksesbilitas, optimalisasi kapasitas,
maksimalisasi kualitas serta keterjangkauan dalam pelayanan, sedangkan penyelenggaraan transportasi yang efisien
berkaitan dengan kemampuan pengembangan dan penerapan teknologi transportasi serta peningkatan kualitas SDM
transportasi yang berdampak kepada maksimalisasi dayaguna dan minimasi biaya yang menjadi beban masyarakat.
C. Strategi 2010-2014
Di dalam mewujudkan kebijakan umum serta mencapai tujuan tersebut di atas, ditempuh melalui 2 (dua) strategi pokok
pembangunan perhubungan:
1. Strategi dan Penataan Penyelenggaraan Perhubungan.
Strategi ini diarahkan untuk penataan penyelenggaraan perhubungan dilanjutkan dengan penataan Sistem Transportasi
Nasional sejalan dengan perubahan lingkungan strategis baik pada skala lokal, regional maupun global, penataan
penyeleggaraan perhubungan dilakukan melalui kegiatan pengembangan sarana dan prasarana perhubungan
dibarengi dengan pelaksanaan reformasi dan restrukturisasi kelembagaan dan peraturan di bidang perhubungan
(regulatory refrom), peningkatan profesionalisme Sumber Daya Manusia perhubungan dengan melibatkan peran
serta swasta dalam pengoperasian dan pembangunan infrastruktur perhubungan, serta mereposisi peran pemerintah
dari operator dan pemilik (owner) menjadi regulator dan fasilitator.
2. Strategi pembangunan perhubungan
Strategi Pembangunan Perhubungan diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan termasuk
keselamatan dan keamanan dalam kerangka penyediaan aksesbilitas jasa perhubungann kepada masyarakat baik di
seluruh pelosok tanah air di mancanegara.
8
Direktori
Kementerian Perhubungan
9
Direktori
Kementerian Perhubungan
10
Direktori
Kementerian Perhubungan
1. Peran Infrastruktur Transportasi dan KPS di
Indonesia
Perekonomian Indonesia terbukti telah bangkit kembali sejak krisis keuangan
global pada tahun 1990an. Pada tahun 2009, sebagai contoh, Indonesia telah
mengalami pertumbuhan GDP sebesar 4,5 persen, sementara banyak negara-
negara lain yang mengalami kontraksi ekonomi.
Untuk memberikan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional dan
perluasan lapangan kerja maka ditargetkan pertumbuhan ekonomi nasional
tahun 2010 2014 rata-rata berkisar antara 6,30% - 6,8% pertahun (sumber
: RPJMN 2010-2014) dan untuk itu dibutuhkan total investasi kumulatif selama
lima tahun berkisar antara Rp 11.913,2-Rp 12.462,6 triliun atau rata-rata berkisar
antara Rp. 2.382 Rp. 2.492 triliun per tahun. Dalam upaya pencapaian target
pertumbuhan ekonomi nasional tersebut maka sektor transportasi ditargetkan
tumbuh rata-rata sekitar 9,5% pertahun sehingga kebutuhan pembiayaan
operasional dan pembangunan (investasi) di sektor transportasi di luar jalan
selama kurun waktu 2010-2014 rata-rata sebesar Rp. 325,26 triliun per tahun,
dengan alokasi sumber pendanaan dari: APBN (rupiah murni dan pinjaman luar
negeri) rata-rata sebesar Rp. 30,67 triliun pertahun, investasi BUMN rata-rata
sebesar Rp. 2,681 triliun pertahun, sehingga gap pembiayaan sebesar rata-rata
sebesar Rp. 291,91 triliun pertahun diharapkan dapat diperoleh melalui investasi
swasta.
Pemerintah telah menyadari peran penting sektor swasta untuk memenuhi
kebutuhan ini dan karenanya telah menyediakan suatu sarana bagi pihak
swasta agar dapat ikut berperan serta dalam pembangunan infrastruktur melalui
Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS). Program KPS milik pemerintah
ini mencakup rentang infrastruktur yang luas, termasuk diantaranya adalah
infrastruktur sektor transportasi.
Transportasi sebagai salah satu mata rantai jaringan distribusi barang dan
mobilitas penumpang berkembang sangat dinamis, serta berperan di dalam
mendukung, mendorong, dan menunjang segala aspek kehidupan baik dalam
pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan.
Pertumbuhan sektor transportasi akan mencerminkan pertumbuhan ekonomi
secara langsung sehingga transportasi mempunyai peranan yang penting
A. Kerangka dan Peluang Investasi
Sektor Perhubungan
11
Direktori
Kementerian Perhubungan
dan strategis, baik secara makro maupun mikro. Keberhasilan sektor transportasi secara makro
dapat terlihat dari sumbangan nilai tambahnya dalam pembentukan Produk Domestik Bruto
(PDB), dampak ganda (multiplier effect) yang ditimbulkannya terhadap pertumbuhan sektor-sektor
lain dan kemampuannya meredam laju inflasi melalui kelancaran distribusi barang dan jasa ke
seluruh pelosok tanah air. Oleh karenanya ketersediaan infrastruktur transportasi yang handal dan
memadai merupakan hal yang sangat penting untuk diupayakan, dan KPS tentunya diharapkan
dapat menjadi bagian utama guna mewujudkan ketersediaan infrastruktur transportasi yang handal
dan memadai tersebut.
2. Pihak-Pihak Utama Dalam Kerangka KPS
Mengacu pada Buku Kerjasama Pemerintah dan Swasta (KPS) Panduan Bagi Investor Dalam
Investasi Di Bidang Infrastruktur yang dikeluarkan oleh Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian, berikut dijelaskan tentang pihak-pihak utama yang secara umum terlibat dalam
proyek infrastruktur KPS dan hubungan yang ada diantara mereka yang disesuaikan dengan sektor
transportasi. Pihak-pihak tersebut adalah:
a. Badan Usaha yang merupakan badan hukum Indonesia yang dimiliki oleh para Sponsor
Proyek, yang menandatangani Perjanjian Kerjasama (PK) atau Cooperation Agreement
dengan Badan Kontrak Pemerintah atau Government Contracting Agency (GCA). Badan
usaha dalam Panduan ini dan didalam peraturan-peraturan pemerintah disebut juga sebagai
Badan Usaha.
b. Bank-bank Komersial Asing dan Domestik menyediakan pendanaan berupa kredit untuk
Proyek. Bank domestik tersebut dapat menyediakan pendanaan berupa kredit untuk proyek-
proyek kecil, namun untuk proyek-proyek yang besar pada umumnya diperlukan pendanaan
dari pihak asing.
c. Bank Pembangunan Multilateral termasuk Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB),
dan afiliasinya seperti Asosiasi Penjamin Investasi Multilateral atau Multirateral Investment
Guarantee Association (MIGA). Pada situasi tertentu, badan ini dapat menyediakan
penambahan fasilitas kredit antara lain dalam bentuk jaminan risiko parsial atau partial risk
guarantees (PRGs) kepada perusahaan-perusahaan ataupun para kreditur proyek.
d. Para Sponsor Proyek merupakan para pemegang saham dari Badan usaha. Sponsor Proyek
ini dapat terdiri dari investor lokal ataupun asing dan pada umumnya mereka bertanggung
jawab untuk melakukan pengembangan proyek selain dari penempatan modal. Mereka
biasa disebut juga dalam Panduan ini sebagai pelaksana pembangunan atau disebut
developers.
e. Penjaminan Infrastruktur, yang dikenal sebagai PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII),
telah didirikan oleh Pemerintah Indonesia untuk menyediakan penjaminan-penjaminan atas
kewajiban-kewajiban pemerintah yang timbul berdasarkan perjanjian-perjanjian KPS.
12
Direktori
Kementerian Perhubungan
f. Dana Infrastruktur, yang dikenal sebagai Indonesian Infrastructure
Fund (IIF), didanai oleh Pemerintah Indonesia (melalui PT. Sarana
Multi Infrastruktur), bank pembangunan multilateral, Korporasi
Keuangan Internasional atau the International Finance
Corporation (IFC) dan Pemerintah Jerman untuk memberikan
kredit bagi kegiatan infrastruktur di Indonesia. Pihak-pihak
tersebut dapat menyediakan fasilitas kredit sebagian dari
jumlah pinjaman uang dibutuhkan oleh debitur.
g. Pihak Ketiga Pemberi Jasa, kemungkinan akan diikutsertakan oleh Badan Usaha untuk berbagai macam
kepentingan pembangunan dan pelaksanaan proyek, termasuk perekayasaan teknik, pengadaan dan konstruksi
(EPC), kegiatan operasional dan perawatan atau Operation and Maintenance (O&M) dan lain-lain. Jasa-jasa
ini akan dituangkan dalam perjanjian-perjanjian tersendiri yang dibuat antara Badan usaha dan pemberi jasa
tertentu tersebut.
h. Para Pengguna, adalah pembeli akan jasa penyelenggaraan transportasi yang disediakan oleh Badan Usaha
yang dapat merupakan masyarakat.
i. Badan Yang Mengeluarkan Lisensi dan Perizinan merupakan badan-badan Pemerintah diluar Kementerian
Perhubungan yang bertanggung jawab untuk melakukan pengelolaan lingkungan, investasi asing dan pendirian
perusahaan, sebagai contoh: Badan Koordinasi Penanaman Modal, (BKPM), Kementerian Lingkungan Hidup,
Kementerian Tenaga Kerja, Imigrasi, dan badan-badan lainnya yang diperlukan oleh Badan usaha untuk
memperoleh berbagai Izin dan persetujuan untuk melaksanakan kegiatan operasinya.
j. Badan Kontrak Pemerintah atau Government Contracting Agency (GCA) adalah Kementerian Perhubungan c.q
Direktorat Jenderal di lingkungan Kementerian Perhubungan untuk proyek-proyek KPS Nasional dan Kepala
Pemerintahan Daerah untuk proyek-proyek KPS daerah yang mengadakan tender-tender dan menjadi mitra
investor untuk proyek KPS tersebut. GCA akan mengadakan kontrak dengan Badan usaha untuk melaksanakan
proyek melalui suatu Perjanjian Kerjasama (PK) atau Cooperation Agreement atau akan menerbitkan Izin untuk
Badan usaha dalam rangka mengelola proyek KPS.
k. Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) merupakan komite antar kementerian yang
diketuai oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang bertanggung jawab untuk melakukan koordinasi
atas kebijakan yang terkait dengan upaya percepatan penyediaan infrastrukur termasuk yang akan melibatkan
pihak swasta. Berdasarkan peraturan yang berlaku, KKPPI diwajibkan untuk memberikan persetujuan terhadap
permintaan atas dukungan pemerintah (jaminan-jaminan) yang mendasari pertimbangan dan persetujuan
Menteri Keuangan.
l. Unit Pusat Kerjasama Pemerintah dan Swasta atau Public Private Partnership Central Unit (P3CU), merupakan
unit dalam Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang dikepalai oleh Direktur
Pengembangan Kerjasama Pemerintah dan Swasta. Unit ini mempunyai sejumlah fungsi termasuk diantaranya:
memberikan bantuan kepada KKPPI untuk menyusun kebijakan dan melakukan penilaian atas permintaan
dukungan bersyarat dari pemerintah, membantu Pemerintah untuk mempersiapkan penerbitan buku KPS yang
memuat daftar proyek yang berpeluang bagi penanam modal swasta, yang mendukung GCA untuk melakukan
persiapan proyek-proyeknya dan mengembangkan kemampuan dari badan-badan pemerintah dalam rangka
pelaksanaan KPS.
13
Direktori
Kementerian Perhubungan
m. Kementerian Keuangan (Unit Pengelolaan Risiko), Kementerian Keuangan memberikan persetujuan atas
pemberian jaminan pemerintah dan insentif-insentif pajak yang dapat ditawarkan oleh Pemerintah dalam proyek
KPS. Unit ini merupakan bagian dari Kementerian yang bertanggung jawab untuk mengkaji setiap permintaan
jaminan. Jaminan-jaminan yang telah disetujui akan dikelola oleh PT PII.
n. Penasehat P3CU dan Kementerian Keuangan, Upaya-upaya dari P3CU dan Kementerian Keuangan, untuk
mengembangkan suatu kerangka KPS yang baik dan untuk membantu GCA dalam menyiapkan proyek-
proyek yang menjanjikan, telah didukung oleh penasehat hukum, keuangan dan perekayasaan teknik yang
pendanaannya dilakukan oleh berbagai badan multilateral dan bilateral.
3. Kerangka Hukum
Interaksi antara berbagai pihak diatur oleh tiga perangkat undang-undang dan beberapa peraturan sebagai berikut
dibawah ini: Peraturan dasar KPS, peraturan khusus sektor transportasi, dan peraturan umum lainnya yang mengatur
tentang berbagai kegiatan usaha yang berkaitan dengan sektor transportasi di Indonesia.
Berdasarkan sistem hukum Indonesia, undang-undang mengatur hal-hal yang bersifat umum. Pelaksanaan dari suatu
ketentuan hukum pada umumnya diatur dalam Peraturan Pemerintah dan Peraturan Menteri. Peraturan-peraturan ini
pada umumnya mengatur tentang tahapan-tahapan dan prosedur khusus untuk melaksanakan ketentuan perundang-
undangan dan peraturan pemerintah terkait. Sedangkan, Peraturan Presiden (biasa juga disebut sebagai Perpres),
diterbitkan sebagai dasar untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan dan program-program Presiden, yang mana
harus sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Peraturan Presiden juga terkadang merupakan
panduan atas pelaksanaan lebih lanjut dari suatu peraturan maupun Peraturan Pemerintah yang sudah ada.
14
Direktori
Kementerian Perhubungan
Sejalan dengan visi modernisasi infrastruktur nasional yang membuka peluang investasi pihak swasta dalam
penyediaan infrastruktur, telah lahir paket Undang-Undang sektor transportasi yang baru yang diharapkan dapat
meningkatkan peran serta swasta dalam penyediaan infrastruktur transportasi di Indonesia. Namun demikian, tidak
semua peraturan perundangundangan sektor transportasi yang ada telah dilengkapi dengan Peraturan Pemerintahnya,
ataupun meskipun sudah diterbitkan Peraturan Pemerintahnya, namun Peraturan Menterinya belum diselesaikan.
Para investor harus mencermati status keberlakuan atas peraturan pada subsektor yang diminatinya, oleh karena
peraturan-peraturan tambahan sering kali baru diterbitkan kemudian dan untuk peraturan-peraturan yang adapun
sering kali dilakukan beberapa perubahan.
4. Simpul KPS Kementerian Perhubungan
Sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM 90 Tahun 2010 Tentang Pembentukan Simpul Kerjasama
Pemerintah Swasta (KPS) Kementerian Perhubungan, bahwa Simpul KPS Kementerian Perhubungan merupakan
unit kerja fungsional yang bertanggung jawab kepada Menteri. Simpul KPS merupakan pemberdayaan organisasi unit
kerja di lingkungan Kementerian Perhubungan sesuai tugas dan fungsinya masing-masing dalam penyediaan dan
pembangunan infrastruktur melalui mekanisme KPS. Simpul KPS mempunyai tugas untuk menyiapkan perumusan
kebijakan, sinkronisasi, koordinasi, pengawasan dan evaluasi
pembangunan proyek-proyek infrastruktur dengan skema KPS.
Dalam simpul KPS terdapat pengarah dan pelaksana. Pengarah
yang diketuai oleh Menteri Perhubungan dengan anggota para
direktur jenderal teknis. Pengarah memiliki tugas, yaitu:
a. Memberikan petunjuk dan pengarahan kebijakan yang terkait
langsung maupun tidak langsung dengan substansi program
dan pelaksanaan pembangunan KPS sektor transportasi di
lingkungan Kementerian Perhubungan kepada Pelaksana
dalam rangka efektifitas pelaksanaan tugas;
b. Memutuskan dan menetapkan kebijakan dan isu-isu strategis
terkait pelaksanaan KPS sektor transportasi di lingkungan
Kementerian Perhubungan yang dirumuskan oleh Pelaksana;
c. Memantau pelaksanaan tugas Pelaksana dan memberikan petunjuk dalam mengatasi setiap hambatan dan
permasalahan dalam pelaksanaan KPS sektor transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan;
d. Mengkoordinasikan pelaksanaan KPS infrastruktur sektor transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan
dengan Kementerian/Lembaga/pihak-pihak lain yang berkepentingan yang bersifat lintas bidang/sektoral.
Dalam melaksanakan tugasnya pengarah dibantu oleh pelaksana dengan ketua harian Kepala Pusat Kajian Kemitraan
dan Pelayanan Jasa Transportasi. Dalam pelaksana terdapat koordinator proyek kerjasama, koordinator prastudi
kelayakan proyek kerjasama, koordinator transaksi proyek kerjasama, dan koordinator manajemen pelaksana. Dalam
melaksanakan tugasnya pelaksana mempunyai tugas sebagai berikut:
15
Direktori
Kementerian Perhubungan
a. Mengkoordinasikan dan memonitor pelaksanaan KPS sektor transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan;
b. Menyiapkan perumusan kebijakan pelaksanaan KPS sektor transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan
untuk ditetapkan oleh Pengarah;
c. Membantu Penanggung Jawab Proyek Kerjasama (PJPK) dalam penyiapan dan pelaksanaan kebijakan KPS
sektor transportasi di lingkungan Kementerian Perhubungan;
d. Membantu Pengarah dalam koordinasi dengan Kementerian/Lembaga/pihak-pihak lain yang berkepentingan
berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya lintas sektoral/bidang.
5. Proses Pelaksanaan KPS Dengan Badan Usaha
Dalam Penyediaan Infrastruktur

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan nomor PM 90 Tahun 2010 Tentang Panduan Pelaksanaan Kerjasama
Pemerintah Dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur Transportasi, proses pelaksanaan KPS dengan
badan usaha adalah sebagai berikut:
a. Proyek Berdasarkan Inisiasi Pemerintah (Solicited), merupakan proses investasi penyelenggaraan proyek sektor
transportasi yang berdasarkan ide proyek dari inisiasi Kementerian Perhubungan dengan tahapan sebagai
berikut:
1) Perencanaan Proyek
a) Koordinasi kesesuaian proyek
Koordinator : Biro Perencanaan
Proses perencanaan diawali dari forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional
(Musrenbangnas) yang merupakan forum musyawarah implementasi perpaduan Rencana Strategis
(Renstra) Kementerian Perhubungan dan Renstra Pemerintah Daerah bidang Perhubungan, yang
kemudian tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dijadikan
acuan dalam penyusunan Renstra.
Renstra memuat strategi pembangunan transportasi nasional, kebijakan umum, program kementerian,
kewilayahan dan kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara
menyeluruh termasuk arah kebijakan fiskal dalam rencana kerja yang berupa kerangka regulasi dan
kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Penyusunan Renstra melibatkan proses konsultatif atas-
bawah (top-down) dan bawah-atas (bottom-up).
Renstra dijabarkan ke dalam Rencana Kerja (Renja) yang merupakan rencana pembangunan
tahunan Kementerian Perhubungan, yang memuat prioritas pembangunan transportasi, rancangan
kerangka ekonomi makro yang mencakup gambaran perekonomian secara menyeluruh termasuk
arah kebijakan fiskal, serta program Kementerian, kewilayahan dalam bentuk kerangka regulasi dan
secara spesifik memuat daftar proyek beserta pendanaan yang bersifat indikatif. Penyusunan Renja
berdasarkan Renstra yang dilengkapi dengan Prastudi Kelayakan.
16
Direktori
Kementerian Perhubungan
b) Menyusun Daftar Usulan Proyek
Koordinator : Biro Perencanaan
Penyusunan daftar Usulan Proyek Kerjasama (PK) Potensial dan Prioritas berdasarkan identifikasi
proyek yang tertuang dalam Renstra sedangkan daftar usulan proyek yang siap ditawarkan
berdasarkan identifikasi proyek yang tertuang dalam Renja. Daftar Usulan Proyek Kerjasama (PK)
Potensial dan Prioritas serta proyek yang siap ditawarkan disampaikan kepada Bappenas untuk
dimasukkan ke dalam PPP Book. Perencanaan proyek yang sudah tertuang dalam Renstra dan
Renja tersebut kemudian dibuat Prastudi Kelayakan.
2) Penyiapan Prastudi Kelayakan Proyek Kerjasama
Penyiapan Prastudi Kelayakan Proyek Kerjasama meliputi kegiatan :
a) Prastudi Kelayakan Proyek Kerjasama
Koordinator: Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa Transportasi dan Subsektor Terkait.
Prastudi Kelayakan merupakan suatu preliminary appraisal/site reconnaissance/survey studi suatu
kawasan (region) terhadap potensi permintaan (demand) yang berisi kajian :
(1) Kajian Hukum
- Analisis Kelembagaan
- Analisis Peraturan Perundang-undangan
(2) Kajian Teknis
- Analisis Teknis
- Penyiapan Tapak
- Rancang Bangun Awal (Basic Engineering Design)
- Lingkup dan Keluaran Proyek
(3) Kajian Kelayakan Proyek
- Kajian Kelayakan Proyek dalam Prastudi Kelayakan PK berisi:
- Analisis Biaya Manfaat Sosial (ABMS)
- Analisis Pasar
- Analisis Keuangan
- Analisis Risiko
(4) Kajian Lingkungan dan Sosial
- Analisis Awal Dampak Lingkungan
- Analisis Sosial
- Rencana Pemukiman Kembali
17
Direktori
Kementerian Perhubungan
(5) Kajian Bentuk Kerjasama dalam Penyediaan Infrastruktur
Bentuk kerjasama harus mencerminkan alokasi risiko, penanggung jawab pembiayaan dan
status pengelolaan aset kerjasama.
(6) Kajian Kebutuhan Dukungan Pemerintah dan/atau Jaminan Pemerintah
- Dukungan pemerintah
Dukungan pemerintah untuk PK bertujuan meningkatkan kelayakan keuangan PK.
Pemberian dukungan pemerintah antara lain diberikan dalam bentuk Perizinan, pelelangan
tanah, dukungan sebagian konstruksi, dan/atau bentuk lainnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dukungan pemerintah untuk PK diberikan dalam
bentuk kontribusi fiskal dan/atau non fiskal. Dukungan pemerintah diberikan kepada
PK yang layak secara ekonomi berdasarkan Analisis Biaya Manfaat Sosial. Dukungan
pemerintah diberikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dukungan pemerintah dalam bentuk fiskal terdiri dari:
Dukungan Langsung
Pembebasan Tanah
Dukungan Bersyarat
Insentif Pajak
Kawasan Ekonomi Khusus
Dukungan pemerintah dalam bentuk non fiskal terdiri dari:
Perizinan Transportasi Perkeretaapian
Perizinan Transportasi Penyeberangan
Perizinan Transportasi Laut
Perizinan Transportasi Udara
- Jaminan pemerintah
Jaminan Pemerintah untuk PK bertujuan untuk mengurangi risiko Badan Usaha.
Jaminan Pemerintah diberikan oleh Menteri Keuangan dan/atau Badan Usaha
Penjaminan Infrastruktur sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
18
Direktori
Kementerian Perhubungan
(7) Rancangan Rencana pengadaan badan usaha
(8) Rancangan ketetentuan (termsheet) Perjanjian Kerjasama
b) Konsultasi publik
Koordinator: Ditjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian, Ditjen Perhubungan Laut, Ditjen
Perhubungan Udara dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan.
Konsultasi publik adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk melibatkan warganegara dalam
merumuskan sebuah kebijakan atau peraturan. Konsultasi publik meliputi kegiatan komunikasi
informasi, identifikasi dan pembahasan terhadap berbagai isu strategis antara instansi pemberi kontrak
dengan pemangku kepentingan dalam perencanaan dan penyiapan proyek kerjasama. Konsultasi
publik harus dipahami sebagai salah satu bentuk partisipasi publik yang bertujuan untuk meningkatkan
akuntabilitas publik. Partisipasi publik tidak dapat terlaksana tanpa adanya transparansi informasi.
Konsultasi publik mencakup isu akuntabilitas Pemerintah Pusat/ Pemerintah Daerah, risiko, dampak
lingkungan dan dampak sosial harus dibahas pada saat tahap seleksi dan penetapan prioritas proyek
dan pada tahap penyiapan Prastudi kelayakan.
c) Evaluasi Proyek
Koordinator : Tim Kecil (terdiri dari Biro Perencanaan, Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa
Transportasi serta Sub sektor terkait)
Hasil Evaluasi Proyek adalah sebagai berikut :
(1) Bentuk Kerjasama
(2) Tinjauan Risiko adalah pengidentifikasian berbagai risiko dalam proyek dan hal-hal yang dapat
mengurangi risiko tersebut, dan usulan pengalihan risiko tersebut oleh berbagai pihak kepada
PK. Pada umumnya, tinjauan risiko ini dilakukan dan merupakan bagian dari Studi Kelayakan.
Beberapa risiko pokok yang teridentifikasi dalam proyek KPS di Indonesia dan pengelolaan dan
pengurangan risiko pada umumnya terdiri dari sebagai berikut :
- Pembebasan Tanah
- Tarif
- Permintaan
- Risiko Negara dan Risiko Politik
- Kelayakan Kredit Pembeli Utama (Off-taker)
19
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) Transaksi Proyek Kerjasama
a) Market sounding
Koordinator : Ditjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian, Ditjen Perhubungan Laut, Ditjen
Perhubungan Udara dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan.
Usulan proyek yang sudah dinyatakan layak dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu konsultasi publik
dan market sounding. Proses konsultasi publik dilakukan pada tahap penyusunan prastudi kelayakan
dengan pemangku kepentingan. Proses konsultasi publik dilakukan dalam bentuk penyebarluasan
informasi pada PPP Book.
Market Sounding dilakukan pada tahap sebelum proses pelelangan untuk menjaring minat dan
masukan calon dari mitra-mitra swasta tentang bagaimana proyek dapat distrukturisasi secara optimal.
Hasil Market sounding digunakan sebagai acuan dalam menentukan kelayakan PK untuk dilelangkan.
Jika market sounding tidak menghasilkan minat calon investor maka perlu dilakukan dokumen
perencanaan PK.
b) Pelelangan
Koordinator : Subsektor Terkait / Unit Layanan Pelelangan (ULP) (apabila ULP telah mendapatkan
tambahan penugasan pengadaan badan usaha). Semua proyek KPS infrastruktur di Sektor Transportasi
harus dilakukan melalui proses pelelangan yang kompetitif yang didahului proses struktural pada
umumnya termasuk proses pra-kualifikasi meliputi :
- Pembentukan panitia
- Pelelangan Pra-kualifikasi
- Dokumen Pelelangan
- Pembukaan dokumen penawaran
- Evaluasi dokumen penawaran
- Penetapan pemenang lelang.
c) Perjanjian/ Konsesi
Koordinator : Biro Hukum dan KSLN
Anggota : Ditjen Perhubungan Darat, Ditjen Perkeretaapian, Ditjen Perhubungan Laut, Ditjen
Perhubungan Udara dan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan
- Proses Pembentukan Badan Usaha
20
Direktori
Kementerian Perhubungan
- Proses Penandatanganan Perjanjian Kerjasama
- Perencanaan manajemen pelaksanaan perjanjian kerjasama.
4) Manajemen Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama
Koordinator : Badan Usaha / Swasta
Proses Pelaporan Manajemen Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama dilakukan oleh Badan Usaha / Swasta
kepada Subsektor terkait. Manajemen Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama meliputi kegiatan :
a) Pembangunan
- Pra Konstruksi
- Konstruksi
b) Pengoperasian
b. Proyek Berdasarkan Inisiasi Badan Usaha (Unsolicited, merupakan proses investasi penyelenggaraan proyek
sektor transportasi berdasarkan ide proyek dari Badan Usaha / Swasta, dengan tahapan sebagai berikut:
1) Perencanaan Proyek
Koordinator : Badan Usaha/Swasta
Perencanaan proyek pada Unsolicited dilakukan oleh Badan Usaha. Badan Usaha dapat mengembangkan
proyek kerjasama berdasarkan inisiasi swasta apabila proyek tersebut :
a) Belum termasuk/terdaftar dalam rencana pokok (master plan) di sektor terkait;
b) Dapat secara teknis terintegrasi dengan rencana pokok dari sektor terkait;
c) Secara ekonomi dan finansial dinilai layak; dan
d) Tidak memerlukan Dukungan Pemerintah dalam bentuk kontribusi fiskal, misalnya tidak perlu bantuan
secara langsung.
2) Penyiapan Studi Kelayakan Proyek (FS)
Koordinator : Badan Usaha/Swasta
Untuk proyek Unsolicited, pemrakarsa proyek diwajibkan untuk menyiapkan Pra-Studi Kelayakan dan
berhak untuk meminta agar biaya-biaya Studi Kelayakan tersebut dibayarkan oleh pemenang tender dalam
hal pemrakarsa proyek tidak berpartisipasi dalam tender proyek tersebut.
21
Direktori
Kementerian Perhubungan
Pra-Studi Kelayakan terdiri dari rancangan dasar proyek serta analisa keuangan dan dokumentasi lainnya
sebagaimana diatur dalam peraturan-peraturan yang berlaku, meliputi bentuk kerja sama yang diusulkan
serta tingkatan dan jenis dukungan pemerintah yang diperlukan, rencana pelaksanaan, hasil dari konsultasi
publik dan lain-lain, sebagaimana disebutkan dalam panduan ini.
Pra-Studi Kelayakan dilakukan untuk memenuhi peraturan-peraturan yang berlaku, menyediakan dasar
pertimbangan untuk menentukan keputusan dijalankannya proyek KPS dan menentukan besarnya dukungan
pemerintah yang diperlukan. Namun demikian, Pra-Studi Kelayakan bukan merupakan pengaturan tentang
hal-hal yang perlu diajukan oleh badan usaha ketika akan mengikuti tender proyek. Sementara dokumen-
dokumen tender yang terkait harus mengacu kepada hasil Pra-Studi Kelayakan, peserta tender pada
umumnya mempunyai keleluasaan untuk mengajukan solusi yang inovatif untuk dapat mengurangi biaya
dan/atau meningkatkan kualitas. Apabila dimungkinkan, dokumen-dokumen tender tersebut memuat hasil
yang diharapkan dari suatu proyek dan tidak sekedar memuat saran-saran yang diperlukan.
a) Pra-Studi Kelayakan Proyek
Pra-Studi Kelayakan Proyek mencakup komponen-komponen kajian sebagai berikut:
(1) Kajian Hukum
(2) Kajian Teknis
(3) Kajian Kelayakan Proyek
(4) Kajian Lingkungan dan Sosial
(5) Kajian Bentuk Kerjasama dalam Penyediaan Infrastruktur
(6) Rancangan Rencana pengadaan badan usaha
(7) Rancangan ketetentuan (termsheet) Perjanjian Kerjasama
b) Konsultasi publik
Koordinator : Badan Usaha/Swasta
Konsultasi publik adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk melibatkan warganegara dalam
merumuskan sebuah kebijakan atau peraturan. Konsultasi publik meliputi kegiatan komunikasi
informasi, identifikasi dan pembahasan terhadap berbagai isu strategis antara instansi pemberi
kontrak dengan pemangku kepentingan dalam perencanaan dan penyiapan proyek kerjasama.

22
Direktori
Kementerian Perhubungan
Konsultasi publik harus dipahami sebagai salah satu bentuk partisipasi publik yang bertujuan untuk
meningkatkan akuntabilitas publik. Partisipasi publik tidak dapat terlaksana tanpa adanya transparansi
informasi. Konsultasi publik mencakup isu akuntabilitas Pemerintah/ Pemerintah Daerah, risiko,
dampak lingkungan dan dampak sosial harus dibahas pada saat tahap seleksi dan penetapan prioritas
proyek dan pada tahap penyiapan Prastudi kelayakan.
c) Evaluasi Proyek
Koordinator : Tim Kecil (terdiri dari Biro Perencanaan, Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa
Transportasi serta Sub sektor terkait)
Hasil Evaluasi Proyek adalah sebagai berikut :
(1) Bentuk Kerjasama
(2) Tinjauan Risiko
d) Persetujuan sebagai Pemrakarsa.
Koordinator : Tim Kecil (terdiri dari Biro Perencanaan, Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa
Transportasi serta Sub sektor terkait)
Tim Kecil memberikan saran dan masukan serta pertimbangan dalam rangka persetujuan Badan
Usaha sebagai Pemkrakarsa antara lain sebagai berikut :
(1) Evaluasi terhadap badan usaha sebagai pemrakarsa.
(2) Evaluasi terhadap kesesuaian dokumen perencanaan, Rencana Induk masing masing sub
sektor, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
(3) Alternatif kompensasi yang ditawarkan.
e) Dukungan Pemerintah (Non Fiskal)
Koordinator : Tim Kecil (terdiri dari Biro Perencanaan, Pusat Kajian Kemitraan dan Pelayanan Jasa
Transportasi serta Sub sektor terkait)
Dukungan Pemerintah diberikan kepada PK yang layak secara ekonomi berdasarkan Analisis Biaya
Manfaat Sosial. Pemberian Dukungan Pemerintah antara lain diberikan dalam bentuk Perizinan,
pelelangan tanah, dukungan sebagian konstruksi, dan/atau bentuk lainnya sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dukungan Pemerintah untuk PK diberikan dalam bentuk kontribusi
non fiskal. Dukungan pemerintah non fiskal dalam bentuk Perizinan, adapun Perizinan Sektor
Transportasi adalah sebagai berikut :
(1) Perizinan Transportasi Perkeretaapian;
- Izin Usaha Sarana
- Persetujuan Spesifikasi Teknis Sarana
- Izin Operasi Sarana
23
Direktori
Kementerian Perhubungan
- Izin Usaha Prasarana
- Izin Pembangunan Prasarana
- Izin Operasi Prasarana
(2) Perizinan Transportasi Penyeberangan
- Izin Pembangunan Prasarana
- Izin Operasi Prasarana
(3) Perizinan Transportasi Laut
- Izin Pembangunan Prasarana
- Izin Operasi Prasarana
(4) Perizinan Transportasi Udara
- Izin Pembangunan Prasarana
- Izin Operasi Prasarana

3) Transaksi Proyek
a) Pelelangan
Koordinator : Subsektor Terkait / Unit Layanan Pelelangan (ULP) (apabila ULP telah mendapatkan
tambahan penugasan pengadaan badan usaha)
Semua proyek KPS di Kementerian Perhubungan harus dilakukan melalui proses pelelangan yang
kompetitif yang didahului oleh proses yang struktural yang pada umumnya termasuk proses pra-
kualifikasi meliputi :
(1) Pembentukan panitia
(2) Pelelangan Pra-kualifikasi
24
Direktori
Kementerian Perhubungan
(3) Dokumen Pelelangan
(4) Pembukaan dokumen penawaran
(5) Evaluasi dokumen penawaran
(6) Penetapan pemenang lelang.
b) Perjanjian/ Konsesi
Koordinator: Biro Hukum & KSLN
(1) Proses Pembentukan Badan Usaha
(2) Proses Penandatanganan Perjanjian Kerjasama
(3) Perencanaan manajemen pelaksanaan perjanjian kerjasama.
4) Manajemen Pelaksanaan Perjanjian
Koordinator : Badan Usaha/Swasta
Proses Pelaporan Manajemen Pelaksanaan Perjanjian Kerjasama dilakukan oleh Badan Usaha / Swasta
kepada Subsektor terkait.
a) Pembangunan
(1) Pra Konstruksi
(2) Konstruksi
b) Pengoperasian
25
Direktori
Kementerian Perhubungan
26
Direktori
Kementerian Perhubungan
1. Kriteria Proyek Kerjasama Pemerintah Dan Swasta (KPS)
Berdasarkan Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional No. 3 Tahun 2009 tentang Tata Cara
Penyusunan Daftar Rencana Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur,
Kriteria Proyek Kerjasama dikategorikan sebagai berikut :
a. Proyek Kerjasama Potensial, dengan syarat memenuhi :
1) Kesesuaian dengan RPJM Nasional/Daerah dan Rencana Strategis Kementerian/Lembaga/Pemerintah
Daerah;
2) Kesesuaian lokasi dengan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah;
3) Keterkaitan antar sektor infranstruktur dan antar wilayah;
4) Perkiraan potensi pemulihan biaya (cost recovery) dan ada studi pendahuluan.
b. Proyek Kerjasama Prioritas, dengan syarat memenuhi :
1) Tercantum dalam rencana Kerjasama;
2) Potensial/diusulkan oleh penanggungjawab Proyek Kerjasama untuk unsolicited project sesuai Perpres
67/2005, jo Perpres 13/2010 jo Perpres 56/2011;
3) Layak secara teknis, hukum dan financial berdasarkan pra studi kelayakan;
4) Telah dilakukan indentifikasi resiko dan alokasinya;
5) Telah dilakukan kajian modalitas/bentuk kerjasama yang akan digunakan;
6) Telah diidentifikasi kebutuhan dukungan Pemerintah (bila diperlukan).
c. Proyek Kerjasama Siap Ditawarkan, dengan syarat memenuhi :
1) Potensi minat badan usaha untuk berpartisipasi;
2) Kewajaran jadwal pelelangan dan kesiapan tim pelelangan;
3) Kelengkapan dokumen pelelangan;
4) Telah ada ketersediaan dan/atau persetujuan prinsip dukungan pemerintah (bila diperlukan).
2. Peluang Investasi Di Sektor Transportasi
Proyek Usulan Kementerian Perhubungan yang tercantum dalam PPP Book 2011.
No Usulan Proyek KPS Kategori Contracting Agency
SubSektor Perhubungan Laut
1 Expansion Tanjung Priok Port Kalibaru Siap Tawar Ditjen Perhubungan Laut
2 Tanah Ampo Cruise Terminal Siap Tawar Ditjen Perhubungan Laut
3 South Banten Airport Siap Tawar Bappeda Provinsi Banten
B.Kriteria Proyek Kerjasama Pemerintah dan Swasta
(KPS) dan Peluang Investasi
27
Direktori
Kementerian Perhubungan
Sub Sektor Perhubungan Laut
1 Development of Bulk Terminal Kuala Enok Potensial PT Pelabuhan Indonesia I
2
Expansion Tanjung Priok Port Cilamaya
Karawang
Potensial Dinas Perhubungan Jawa Barat
3 Development of Pelaihari Port Potensial Ditjen Perhubungan Laut
4 Development of Maloy International Port Potensial
Dinas Perhubungan Kalimantan
Timur
No Usulan Proyek KPS Kategori Contracting Agency
No Usulan Proyek KPS Kategori Contracting Agency
No Usulan Proyek KPS Kategori Contracting Agency
Sub Sektor Perhubungan Udara
1 Expansion Dewandaru Airport Potensial Bappeda Provinsi Jawa Tengah
2 Development of Kertajati International Airport Potensial Bappeda Provinsi Jawa Barat
3 Kulonprogo International Airport Potensial Dinas Perhubungan Provinsi
4 Development of Singkawang Airport Potensial
Dinas Perhubungan Provinsi
Kalimantan Barat
5 Development of New Bali Airport Potensial Ditjen Perhubungan Udara
6 Development of Tjilik Riwut Airport Potensial Ditjen Perhubungan Udara
7 Development of Samarinda Airport Potensial
Bappeda Provinsi Kalimantan
Timur
Sub Sektor Perkeretaapian
1
Rantau Prapat Duri Dumai Teluk Kuantan
Muaro Railways
Potensial Bappeda Provinsi Riau
2 Integrated Terminal Gedebage, Bandung Potensial Bappeda Kota Bandung
3
Muara Tuhup Kalipapak Balikpapan Coal
Railways and Terminal
Potensial
Dinas Perhubungan Propinsi
Kalimantan Timur
No Usulan Proyek KPS Kategori Contracting Agency
SubSektor Perhubungan Udara
1 Development of Pekan Baru Cargo Terminal Potensial Bappeda Provinsi Riau
2 Development of Karya Jaya Integrated Terminal Potensial Bappeda Provinsi Sumatera Selatan
28
Direktori
Kementerian Perhubungan
29
Direktori
Kementerian Perhubungan
30
Direktori
Kementerian Perhubungan
Direktorat Jenderal Perhubungan Darat
Jl. Medan Merdeka Barat, No. 8
Gedung Karya, Lt. 8 10
Jakarta Pusat, 10110
Telp. 021 3502971, 3811308 Ext. 1103
Fax. 021 3503013
A. Subsektor Perhubungan Darat
1. Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
a. Pemberian Izin Angkutan Penumpang
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Jalan;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan;
4) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2003 tentang
Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan Kendaraan Umum.
Persyaratan :
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk trayek tetap dan teratur adalah memiliki
Izin usaha angkutan dan Izin trayek.
1) Persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh Izin usaha angkutan :
a) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b) Memiliki Akta Pendirian Perusahaan bagi pemohon yang berbentuk
badan usaha, akta pendirian koperasi bagi pemohon berbentuk
koperasi dan tanda kependudukan untuk pemohon perorangan;
c) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
d) Memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
e) Pernyataan kesanggupan untuk memiliki atau menguasai 5 (lima)
kendaraan bermotor untuk pemohon yang berdomisili di Pulau Jawa,
Sumatera dan Bali;
f) Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan
kendaraan.
2) Persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh Izin trayek terdiri dari
persyaratan administratif dan teknis, sebagaimana dijelaskan sebagai
berikut :
a) Persyaratan Administratif
(1) Memiliki surat Izin usaha angkutan;
(2) Menandatangani surat persyaratan kesanggupan untuk
memenuhi seluruh kewajiban sebagai pemegang Izin trayek;
31
Direktori
Kementerian Perhubungan
(3) Memiliki atau menguasai kendaraan yang laik jalan yang dibuktikan dengan fotokopi Surat Tanda
Nomor Kendaraan (STNK) sesuai domisili perusahaan dan fotokopi Buku Uji Kendaraan;
(4) Menguasai fasilitas penyimpanan/ pool kendaraan bermotor yang dibuktikan dengan gambar
lokasi dan bangunan serta surat keterangan mengenai kepemilikan dan penguasaan;
(5) Memiliki atau bekerjasama dengan pihak lain yang mampu menyediakan fasilitas pemeliharaaan
kendaraan bermotor sehingga dapat merawat kendaraannya untuk tetap dalam kondisi laik
jalan;
(6) Surat keterangan kondisi usaha, seperti permodalan dan sumber daya manusia;
(7) Surat keterangan komitmen usaha seperti jenis pelayanan yang akan dilaksanakan dan standar
pelayanan yang diterapkan;
(8) Surat pertimbangan dari Gubernur, dalam hal ini Dinas Provinsi atau Dinas Kabupaten/ Kota
yang membidangi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
b) Persyaratan Teknis
(1) Pada trayek yang dimohon masih dimungkinkan untuk penambahan jumlah kendaraan;
(2) Prioritas diberikan bagi perusahaan angkutan yang mampu memberikan pelayanan angkutan
terbaik.
Selain persyaratan tersebut diatas, pemohon Izin trayek pemadu moda wajib melakukan kerjasama dengan
otorita/ badan pengelola seperti bandara, stasiun kereta api dan pelabuhan untuk pelayanan angkutan
pemadu moda dari dan ke kawasan yang memiliki otorita/ badan pengelola.
Pengajuan Permohonan :
1) Permohonan Izin Usaha Angkutan diajukan kepada :
a) Bupati atau Walikota sesuai domisili perusahaan, baik untuk kantor pusat maupun kantor cabang;
32
Direktori
Kementerian Perhubungan
b) Gubernur Daerah Khusus Ibu kota Jakarta untuk pemohon yang berdomisili di Daerah Khusus Ibu kota
Jakarta.
2) Permohonan Izin Trayek diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Darat untuk :
a) Angkutan Lintas Batas Negara;
b) Angkutan Antar Kota dan Antar Provinsi (AKAP);
c) Angkutan Antar Kota dan Antar Provinsi untuk Antar Jemput;
d) Angkutan Antar Kota dan Antar Provinsi untuk Pemadu Moda.
Penyelesaian Permohonan :
1) Pemberian Izin trayek dan Izin usaha diberitahukan atau ditolak setelah memperhatikan pertimbangan
selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima lengkap;
2) Izin insidentil diberikan kepada perusahaan angkutan yang telah memiliki Izin trayek untuk menggunakan
kendaraan bermotor cadangannya yang menyimpang dari trayek yang dimiliki, dengan ketentuan :
Masa berlaku izin :
1) Izin berlaku untuk jangka waktu 5 tahun;
2) Perubahan dan/ atau perpanjangan masa berlakunya, dilakukan dalam hal :
a) Pembaharuan masa berlaku Izin;
b) Penambahan trayek atau penambahan kendaraan atau penambahan frekuensi;
c) Pengurangan trayek atau pengurangan kendaraan atau pengurangan frekuensi;
d) Perubahan jam perjalanan;
e) Perubahan trayek (dalam hal terjadi perubahan rute, perpanjangan rute atau perpendekan rute);
f) Penggantian dokumen Perizinan yang hilang dan rusak;
g) Pengalihan kepemilikan perusahaan;
h) Penggantian kendaraaan meliputi peremajaan kendaraan, perubahan identitas kendaraan dan tukar
posisi operasi kendaraan.
33
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) Permohonan Izin insidentil hanya diberikan untuk satu kali perjalanan pulang pergi, dan berlaku paling lama
14 hari dan tidak dapat diperpanjang.
b. Pemberian Izin Angkutan Taksi Yang Melayani Bandara Soekarno Hatta
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan;
4) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan
Kendaraan Umum.
Persyaratan :
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk pemberian Izin penyelenggaraan angkutan tidak dalam trayek yang
melayani Taksi Bandara Soekarno Hatta.
1) Persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh Izin angkutan taksi yang beroperasi atau berstiker
Bandara Soekarno Hatta:
a) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b) Memiliki Akta Pendirian Perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan usaha, akta pendirian
koperasi bagi pemohon berbentuk koperasi dan tanda kependudukan untuk pemohon perorangan;
c) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
d) Memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
e) Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan kendaraan.
2) Persyaratan Administratif
a) Memiliki surat Izin usaha angkutan;
b) Menandatangani Surat Pernyataan Kesanggupan untuk memenuhi seluruh kewajiban sebagai
pemegang Izin operasi;
c) Memiliki atau menguasai kendaraan bermotor laik jalan, yang dibuktikan dengan fotokopi Surat Tanda
Nomor Kendaraan Bermotor sesuai domisili perusahaan dan fotokopi Buku Uji;
d) Menguasai fasilitas penyimpanan/ pool kendaraan bermotor yang dibuktikan dengan gambar lokasi
dan bangunan serta surat keterangan mengenai pemilikan atau penguasaan;
34
Direktori
Kementerian Perhubungan
e) Memiliki atau bekerjasama dengan pihak lain yang mampu menyediakan fasilitas pemeliharaan
kendaraan bermotor, sehingga dapat merawat kendaraannya untuk tetap dalam kondisi laik jalan;
f) Surat keterangan kondisi usaha seperti permodalan dan sumber daya manusia;
g) Surat keterangan komitmen usaha, seperti jenis pelayanan yang akan dilaksanakan dan standar
pelayanan yang diterapkan;
h) Surat pertimbangan dari Gubernur atau Bupati/ Walikota, dalam hal ini Dinas Provinsi atau Dinas
Kabupaten/ Kota.
3) Persyaratan teknis meliputi :
a) Operasi yang dimohon masih memungkinkan untuk penambahan jumlah kendaraan;
b) Prioritas diberikan bagi perusahaan angkutan yang mampu memberikan pelayanan angkutan yang
terbaik.
Prosedur Permohonan :
1) Pemohon menyampaikan permohonan kepada pejabat pemberi Izin;
2) Pejabat pemberi Izin wajib memberikan jawaban persetujuan atau penolakan terhadap permohonan yang
diajukan;
3) Dalam hal permohonan ditolak, pemberi Izin memberikan jawaban secara tertulis dengan disertai alasan
penolakan;
4) Berdasarkan permohonan sebagaimana yang diajukan, pemberi Izin melakukan analisis persyaratan
administratif dan teknis;
5) Apabila permohonan yang diajukan pemohon dapat diterima pejabat pemberi Izin, pemberi Izin memberikan
Izin trayek, berupa :
a) surat keputusan Izin trayek;
b) surat keputusan pelaksanaan Izin trayek;
c) lampiran surat keputusan Izin trayek berupa daftar kendaraan;
d) kartu pengawasan kendaraan;
e) surat pernyataan kesanggupan untuk mentaati seluruh kewajiban sebagai pemegang Izin trayek, yang
ditandatangani pemohon dan diketahui pejabat pemberi Izin.
Penyelesaian Permohonan dan Masa Berlaku :
Pemberian Izin trayek dan Izin usaha diberitahukan atau ditolak setelah memperhatikan pertimbangan selambat-
lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima lengkap.
Masa berlaku izin:
Masa berlaku penyelenggaraan ini adalah 5 Tahun.
35
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Pemberian Izin Angkutan Pariwisata (Bersertifikasi ISO 9001: 2008)
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan;
4) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 35 Tahun 2003 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang Dengan
Kendaraan Umum.
Persyaratan :
1) Persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin usaha angkutan :
a) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b) Memiliki Akta Pendirian Perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan usaha, akta pendirian
koperasi bagi pemohon berbentuk koperasi dan tanda kependudukan untuk pemohon perorangan;
c) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
d) Memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
e) Pernyataan kesanggupan untuk memiliki atau menguasai 5 (lima) kendaraan bermotor untuk pemohon
yang berdomisili di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali;
f) Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan kendaraan.
2) Persyaratan Administratif
a) Memiliki surat Izin usaha angkutan;
b) Menandatangani surat persyaratan kesanggupan untuk memenuhi seluruh kewajiban sebagai
pemegang Izin trayek;
c) Memiliki atau menguasai kendaraan laik jalan, yang dibuktikan dengan fotokopi Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK) sesuai domisili perusahaan dan fotokopi Buku Uji Kendaraan;
d) Menguasai fasilitas penyimpanan/ pool kendaraan bermotor yang dibuktikan dengan gambar lokasi
dan bangunan serta surat keterangan mengenai kepemilikan dan penguasaan;
e) Memiliki atau bekerjasama dengan pihak lain yang mampu menyediakan fasilitas pemeliharaaan
kendaraan bermotor sehingga dapat merawat kendaraannya untuk tetap dalam kondisi laik jalan;
36
Direktori
Kementerian Perhubungan
f) Surat keterangan kondisi usaha seperti permodalan dan sumber daya manusia;
g) Surat keterangan komitmen usaha seperti jenis pelayanan yang akan dilaksanakan dan standar
pelayanan yang diterapkan;
h) Surat pertimbangan dari Gubernur, dalam hal ini Dinas Provinsi atau Dinas Kabupaten/ Kota yang
membidangi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
3) Persyaratan Teknis
a) Pada trayek yang dimohon masih dimungkinkan untuk penambahan jumlah kendaraan;
b) Prioritas diberikan bagi perusahaan angkutan yang mampu memberikan pelayanan angkutan terbaik.
Pengajuan Permohonan :
1) Permohonan izin usaha angkutan diajukan kepada :
a) Bupati atau Walikota sesuai domisili perusahaan, baik untuk kantor pusat maupun kantor cabang;
b) Gubernur Daerah Khusus Ibu kota Jakarta untuk pemohon yang berdomisili di Daerah Khusus Ibu kota
Jakarta.
2) Permohonan izin operasi diajukan kepada :
Direktur Jenderal Perhubungan Darat yang dilengkapi dengan pertimbangan dari Gubernur dalam hal ini
Dinas Perhubungan LLAJ Provinsi untuk angkutan Pariwisata.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Izin operasi dan Izin usaha diberitahukan atau ditolak setelah memperhatikan pertimbangan
selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima lengkap. Perusahaan
yang telah mendapat Izin operasi diberikan kartu Pengawasan bagi setiap kendaraan yang ditandatangani oleh
Direktur Jenderal Perhubungan Darat.
Masa Berlaku Izin :
Izin operasi berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.
37
Direktori
Kementerian Perhubungan
d. Pemberian Izin Angkutan Barang Khusus
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan;
4) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 69 Tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Angkutan Barang Di
Jalan.
Persyaratan :
1) Persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin usaha angkutan :
a) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b) Memiliki Akta Pendirian Perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan usaha, akta pendirian
koperasi bagi pemohon berbentuk koperasi dan tanda kependudukan untuk pemohon perorangan;
c) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
d) Memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
e) Pernyataan kesanggupan untuk memiliki atau menguasai 5 (lima) kendaraan bermotor untuk pemohon
yang berdomisili di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali;
f) Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan kendaraan.
38
Direktori
Kementerian Perhubungan
2) Persyaratan Administratif dan Teknis
a) Memiliki surat Izin usaha angkutan;
b) Menandatangani surat persyaratan kesanggupan untuk memenuhi seluruh kewajiban sebagai
pemegang Izin trayek;
c) Memiliki atau menguasai kendaraan laik jalan yang dibuktikan dengan fotokopi Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK) sesuai domisili perusahaan dan fotokopi Buku Uji Kendaraan;
d) Menguasai fasilitas penyimpanan/ pool kendaraan bermotor yang dibuktikan dengan gambar lokasi
dan bangunan, serta surat keterangan mengenai kepemilikan dan penguasaan;
e) Memiliki atau bekerjasama dengan pihak lain yang mampu menyediakan fasilitas pemeliharaaan
kendaraan bermotor sehingga dapat merawat kendaraannya untuk tetap dalam kondisi laik jalan;
f) Surat keterangan kondisi usaha seperti permodalan dan sumber daya manusia;
g) Surat keterangan komitmen usaha seperti jenis pelayanan yang akan dilaksanakan dan standar
pelayanan yang diterapkan;
Prosedur Permohonan
Pemohon Izin mengajukan Izin usaha angkutan barang khusus kepada pejabat pemberi Izin sesuai domisili
perusahaan. Pejabat pemberi Izin wajib memberikan jawaban persetujuan atau penolakan terhadap permohonan
yang diajukan. Dalam hal permohonan ditolak, pemberi Izin memberikan jawaban secara tertulis disertai alasan
penolakan.
Penyelesaian Permohonan dan Masa Berlaku:
Pemberian Izin trayek dan Izin usaha diberitahukan atau ditolak setelah memperhatikan pertimbangan selambat-
lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima lengkap.
Masa Berlaku:
Masa berlaku izin penyelenggaraan ini adalah 5 (lima) Tahun.
e. Pemberian Izin Angkutan Alat Berat
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan;
Persyaratan :
1) Persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh izin usaha angkutan :
a) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b) Memiliki Akta Pendirian Perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan usaha, akta pendirian
koperasi bagi pemohon berbentuk koperasi dan tanda kependudukan untuk pemohon perorangan;
39
Direktori
Kementerian Perhubungan
c) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
d) Memiliki Surat Izin Tempat Usaha (SITU);
e) Pernyataan kesanggupan untuk memiliki atau menguasai 5 (lima) kendaraan bermotor untuk pemohon
yang berdomisili di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali;
f) Pernyataan kesanggupan untuk menyediakan fasilitas penyimpanan kendaraan.
2) Persyaratan Administratif dan Teknis
a) Memiliki surat Izin usaha angkutan;
b) Menandatangani surat persyaratan kesanggupan untuk memenuhi seluruh kewajiban sebagai
pemegang Izin trayek;
c) Memiliki atau menguasai kendaraan laik jalan, yang dibuktikan dengan fotokopi Surat Tanda Nomor
Kendaraan (STNK) sesuai domisili perusahaan dan fotokopi Buku Uji Kendaraan;
d) Menguasai fasilitas penyimpanan/ pool kendaraan bermotor yang dibuktikan dengan gambar lokasi
dan bangunan serta surat keterangan mengenai kepemilikan dan penguasaan;
e) Memiliki atau bekerjasama dengan pihak lain yang mampu menyediakan fasilitas pemeliharaaan
kendaraan bermotor sehingga dapat merawat kendaraannya untuk tetap dalam kondisi laik jalan;
f) Surat keterangan kondisi usaha, seperti permodalan dan sumber daya manusia;
g) Surat keterangan komitmen usaha seperti jenis pelayanan yang akan dilaksanakan dan standar
pelayanan yang diterapkan;
40
Direktori
Kementerian Perhubungan
Prosedur Permohonan
1) Pemohon Izin mengajukan Izin usaha angkutan alat berat kepada pejabat pemberi Izin sesuai domisili
perusahaan;
2) Pejabat pemberi Izin wajib memberikan jawaban persetujuan atau penolakan terhadap permohonan yang
diajukan;
3) Dalam hal permohonan ditolak, pemberi Izin memberikan jawaban secara tertulis disertai alasan
penolakan.
Penyelesaian Permohonan dan Masa Berlaku :
Pemberian Izin trayek dan Izin usaha diberitahukan atau ditolak setelah memperhatikan pertimbangan selambat-
lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima lengkap.
Masa Berlaku:
Masa berlaku izin penyelenggaraan ini adalah 5 (lima) Tahun.
f. Pengujian dan Sertifikasi Tipe Kendaraan Bermotor dan Penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa
Kendaraan Bermotor
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
2) Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah,
Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota;
3) Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi;
4) Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pendapatan Negara Bukan Pajak;
5) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 9 Tahun 2004 tentang Pengujian Kendaraan Bermotor.
41
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, dan kereta tempelan
sebelum disetujui untuk impor atau diproduksi dan atau dirakit secara massal atau dimodifikasi, wajib memiliki
pengesahan dan sertifikasi uji tipe kendaraan bermotor serta untuk karoseri adalah pengesahan rancang bangun
kendaraan bermotor.
1) Persyaratan Administrasi :
a) Data umum perusahaan pemohon uji tipe;
b) Data spesifikasi teknis kendaraan bermotor yang akan diuji;
c) NIK/ TPT yang diterbitkan oleh Ditjen IUBTT Kementerian Perindustrian;
d) SIUP;
e) NPWP;
f) Akte notaris;
g) Gambar teknis/ brosur kendaraan bermotor yang akan diuji.
2) Pemohon Uji Tipe harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
a) Pemohon adalah penanggung jawab perusahaan pembuat dan/ atau perakit dan/ atau pengimpor dan/
atau pemodifikasi kendaraan bermotor;
b) Mengisi formulir permohonan sebagaimana tertera pada contoh 1 lampiran Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor 9 Tahun 2004;
c) Menyampaikan data umum perusahaan, sebagaimana tertera pada contoh 1 lampiran Keputusan
Menteri Perhubungan Nomor 9 Tahun 2004;
d) Menyampaikan data spesifikasi teknis kendaraan bermotor sesuai jenis kendaraan bermotor atau
landasan kendaraan bermotor sesuai dengan jenis kendaraan bermotor yang diajukan sebagaimana
tertera pada contoh 1 lampiran Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 9 Tahun 2004;
e) Menyampaikan gambar teknik, foto dan brosur kendaraan bermotor atau landasan kendaraan
bermotor.
42
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) Pemohon penelitian Rancang Bangun dan Rekayasa Kendaraan bermotor harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a) Mengisi formulir permohonan sebagaimana contoh 7 lampiran Keputusan Menteri Perhubungan
Nomor 9 Tahun 2004;
b) Mengisi formulir permohonan sebagaimana contoh 8 lampiran Keputusan Menteri Perhubungan
Nomor 9 Tahun 2004;
c) Menyampaikan data perusahaan sebagaimana contoh 2 lampiran Keputusan Menteri Perhubungan
Nomor 9 Tahun 2004;
d) Menyampaikan data spesifikasi teknis kendaraan bermotor atau landasan kendaraan bermotor sesuai
jenis kendaraan yang diajukan, sebagaimana contoh 3 lampiran Keputusan Menteri Perhubungan
Nomor 9 Tahun 2004;
e) Menyampaikan gambar teknis yang meliputi tampak utama, detail, exploded view, sistem rem dan
kelistrikan;
f) Rekomendasi dari agen pemegang merk/ prinsipal bagi kendaraan-kendaraan bermotor yang
dimodifikasi sumbu;
g) Perhitungan-perhitungan teknis konstruksi meliputi antara lain rem, suspensi, axle, chassis, subframe
dan ban bagi kendaraan bermotor yang dimodifikasi.
Prosedur Penerbitan dan Permohonan :
1) Prosedur Penerbitan Sertifikat Uji Tipe
a) Pemohon (APM/ Importir) mengajukan surat permohonan kepada Dirjen Perhubungan Darat dengan
melampirkan berkas persyaratan yang terdiri dari:
(1) Data umum perusahaan pemohon uji tipe;
(2) Data spesifikasi teknis kendaraan bermotor yang akan diuji;
(3) NIK/ TPT yang diterbitkan oleh Ditjen IUBTT Kementerian Perindustrian;
(4) SIUP ;
(5) NPWP;
(6) Akte notaris;
(7) Gambar teknis/ brosur kendaraan bermotor yang akan diuji.
b) Surat dan berkas yang dilampirkan akan diterima, diperiksa kelengkapannya dan dicatat oleh staf
Subdit Sarana Angkutan Jalan (SAJ). Bila ada berkas persyaratan yang kurang maka permohonan
akan dikembalikan kepada pemohon.
c) Setelah berkas lengkap akan dibuatkan surat pengantar uji ke Balai PLJSKB untuk dilakukan pengujian
tipe, dan perintah pembayaran biaya uji tipe yang disetorkan ke nomor rekening BPLJSKB. Setelah
dilakukan pembayaran, maka pemohon harus berkoordinasi dengan Balai PLJSKB untuk melakukan
pengujian kendaraan bermotor selambat-lambatnya 21 hari sejak tanggal pembayaran biaya uji.
43
Direktori
Kementerian Perhubungan
d) Setelah berkoordinasi maka pemohon membawa kendaraan yang akan diuji beserta surat pengantar
uji dan bukti pembayaran biaya uji tipe ke Balai PLJSKB.
e) Setelah Kendaraan diuji dan pengujian selesai dilakukan, Balai PLJSKB akan membuat resume hasil
uji tipe yang akan dikirimkan ke Subdit SAJ untuk diproses.
f) Subdit SAJ akan memeriksa resume hasil uji tipe dari Balai PLJSKB, bila hasilnya lulus akan dibuatkan
Sertifikat Uji Tipe Kendaraan yang diajukan, yang disahkan oleh Dirjen Perhubungan Darat. Bila tidak
lulus, maka akan dibuatkan surat pemberitahuan tidak lulus uji tipe kepada Pemohon dan diberikan
kesempatan untuk melakukan uji ulang terhadap item pengujian yang tidak lulus tersebut dengan
terlebih dahulu melakukan perbaikan terhadap item tersebut.
2) Prosedur Permohonan Sertifikat Registrasi uji Tipe :
a) Setelah Sertifikat Uji Tipe diterima oleh Pemohon (APM/ Importir), maka Pemohon dapat mengajukan
Surat Permohonan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) kepada Dirjen Perhubungan Darat untuk
Kendaraan Bermotor dengant tipe yang sama, namun dengan Seri Nomor (Nomor Rangka dan Nomor
Mesin) kendaraan yang berbeda, dengan melampirkan berkas persyaratan yang terdiri dari:
(1) Daftar nomor rangka dan nomor mesin kendaraan yang akan dibuatkan SRUT;
(2) Fotokopi Sertifikat Uji Tipe;
(3) NIK/ TPT yang diterbitkan oleh Ditjen IUBTT Kementerian Perindustrian;
(4) Nama pejabat dan jabatan yang menandatangani SRUT;
(5) Surat kuasa pengambilan SRUT dari pimpinan perusahaan diatas materai Rp. 6000,-
(6) Nama dan jabatan dari pemegang surat kuasa yang mengambil/ mengurus SRUT.
b) Surat dan berkas yang dilampirkan akan diterima, diperiksa kelengkapannya dan dicatat oleh staf
Subdit SAJ. Bila ada berkas persyaratan yang kurang maka permohonan akan dikembalikan kepada
pemohon.
c) Setelah berkas lengkap, maka akan SRUT akan dibuatkan/ diproses.
d) Setelah SRUT selesai dibuat dan ditandatangani oleh pejabat perusahaan pemohon dan Direktur
LLAJ atas nama Dirjen Perhubungan Darat, maka staf subdit SAJ akan membuatkan Berita Acara
Penyerahan SRUT sesuai dengan nomor seri dan jumlah SRUT yang diberikan kepada pemegang
surat kuasa yang mengambil atau mengurus SRUT untuk ditandatangani (2 rangkap). Rangkap
pertama untuk diberikan kepada pemohon, dan rangkap kedua untuk disimpan sebagai arsip Subdit
SAJ dengan membubuhkan materai Rp. 6000,- pada tanda tangan Pemohon/ Pemegang Kuasa.
44
Direktori
Kementerian Perhubungan
e) Setelah Berita Acara Penyerahan SRUT ditandatangani maka SRUT akan diberikan kepada
Pemohon.
Selain pengujian tipe dan rancang bangun, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat juga memberikan pengesahan
dan sertifikasi pemasangan sistem pemakaian BBG pada kendaraan bermotor.
2. Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Sungai Danau dan
Penyeberangan
a. Surat Izin Usaha Angkutan Penyeberangan
Dasar Hukum :
1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
2) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan
Danau;
3) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan
Penyeberangan;
Persyaratan :
1) Perorangan Warga Negara Indonesia, Badan Hukum Indonesia berbentuk Perseroan Terbatas, Badan
Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau korporasi yang didirikan untuk itu;
2) Memiliki akta pendirian perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan hukum Indonesia atau Kartu
Tanda Penduduk bagi Warga Negara Indonesia perorangan yang mengajukan surat permohonan Izin
usaha angkutan penyeberangan;
3) Persyaratan tertulis sanggup untuk memiliki sekurang-kurangnya 1 unit kapal penyeberangan berbendera
Indonesia yang memiliki persyaratan keselamatan kelaiklautan kapal yang diperuntukkan bagi angkutan
penyeberangan dan kepastian rencana lintas yang akan dilayani;
4) Memiliki tenaga ahli dalam pengelolaan usaha angkutan penyeberangan;
5) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
6) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
45
Direktori
Kementerian Perhubungan
Pengajuan Permohonan :
Permohonan Izin Angkutan Penyeberangan diajukan kepada :
1) Bupati atau Walikota setempat, sesuai domisili perusahaan;
2) Gubernur/ Kepala Daerah Khusus Ibukota, untuk pemohon yang berdomisili di Daerah Khusus Ibukota
Jakarta.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian atau penolakan atas permohonan Izin usaha, diberikan oleh Pejabat pemberi Izin selambat-lambatnya
dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
Masa Berlaku Izin :
1) Izin usaha berlaku selama perusahaan yang bersangkutan masih menjalankan kegiatan usahanya dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Izin yang bersangkutan;
2) Izin usaha berlaku juga untuk cabang/ perwakilan perusahaan yang bersangkutan di seluruh Indonesia.
b. Persetujuan Pengoperasian Kapal Angkutan Penyeberangan
Dasar Hukum :
1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
2) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan
Danau;
3) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Penyeberangan;
Persyaratan :
Mengajukan permohonan kepada Pejabat yang berwenang menerbitkan persetujuan pengoperasian kapal
angkutan penyeberangan dengan memuat :
1) Surat Izin Usaha Angkutan Penyeberangan;
2) Bukti kesiapan kapal untuk dioperasikan, antara lain memiliki sertfikat kesempurnaan dari Direktorat Jenderal
Perhubungan Laut dan dikelaskan oleh Biro Klasifikasi Indonesia, serta kapal sesuai dengan spesifikasi
teknis lintas dan pelabuhan penyeberangan yang akan dilayani;
3) Lintas yang akan dilayani;
4) Nama dan spesifikasi kapal;
5) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
46
Direktori
Kementerian Perhubungan
Pengajuan Permohonan :
Permohonan persetujuan pengoprasian kapal angkutan penyeberangan diajukan kepada :
1) Menteri Perhubungan, untuk kapal yang melayani penyeberangan antar propinsi dan/ atau negara;
2) Gubernur, untuk kapal yang melayani penyeberangan antar Kabupaten/ Kota dalam provinsi;
3) Bupati/ Walikota, untuk kapal yang melayani penyeberangan dalam Kabupaten/ Kota provinsi.
Persyaratan Kapal Angkutan Penyeberangan:
1) Memenuhi persyaratan teknis laik laut dan standar pelayanan minimal kapal penyeberangan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku;
2) Memiliki fasilitas sesuai dengan spesifikasi teknis prasarana pelabuhan pada lintas yang dilayani;
3) Memiliki dan mempekerjakan awak kapal yang memenuhi persyaratan kualifikasi yang diperlukan untuk
kapal penyeberangan, dan dapat berbahasa Indonesia serta mengetahui kondisi wilayah operasi yang
dilayani;
4) Memiliki fasilitas bagi kebutuhan awak kapal maupun penumpang dan kendaraan beserta muatannya
sesuai dengan persyaratan teknis yang berlaku;
5) Mencantumkan identitas perusahaan dan nama kapal yang ditempatkan pada bagian sebelah samping kiri
dan kanan kapal;
6) Mencantumkan informasi/ petunjuk yang diperlukan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian atau penolakan atas permohonan persetujuan pengoperasian kapal angkutan penyeberangan,
diberikan oleh Pejabat pemberi persetujuan pengoperasian kapal angkutan penyeberangan selambat-lambatnya
dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
Masa Berlaku Izin :
Persetujuan pengoperasian kapal angkutan penyeberangan berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang.
c. Surat Izin Usaha Angkutan Sungai dan Danau
Dasar Hukum :
1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
2) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan
Danau;
3) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan
Penyeberangan;
47
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
Perorangan Warga Negara Indonesia, Badan Hukum Indonesia berbentuk Perseroan Terbatas, Badan Usaha
Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) atau korporasi yang didirikan untuk itu;
1) Memiliki akta pendirian perusahaan bagi pemohon yang berbentuk badan hukum Indonesia atau Kartu
Tanda Penduduk bagi Warga Negara Indonesia perorangan yang mengajukan surat permohonan Izin
usaha angkutan penyeberangan;
2) Memiliki tenaga ahli dalam pengelolaan usaha angkutan sungai dan danau;
3) Memiliki Surat Keterangan Domisili Perusahaan;
4) Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Pengajuan Permohonan :
Permohonan Izin Angkutan Sungai dan Danau diajukan kepada :
1) Bupati atau Walikota setempat, sesuai domisili perusahaan;
2) Gubernur/ Kepala Daerah Khusus Ibu kota, untuk pemohon yang berdomisili di Daerah Khusus Ibu kota
Jakarta.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian atau penolakan atas permohonan Izin usaha, diberikan oleh Pejabat pemberi Izin selambat-lambatnya
dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
Masa Berlaku Izin :
1) Izin usaha berlaku selama perusahaan yang bersangkutan masih menjalankan kegiatan usahanya dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Izin yang bersangkutan;
2) Izin usaha berlaku juga untuk cabang/ perwakilan perusahaan yang bersangkutan di seluruh Indonesia.
d. Persetujuan Pengoperasian Kapal Angkutan Sungai dan Danau
Dasar Hukum :
1) Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
48
Direktori
Kementerian Perhubungan
2) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sungai dan
Danau;
3) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 73 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan
Penyeberangan;
Persyaratan :
Mengajukan permohonan kepada Pejabat yang berwenang menerbitkan persetujuan pengoperasian kapal
angkutan sungai dan danau dengan memuat :
1) Surat Izin Usaha Pokoknya;
2) Memiliki kapal berbendera Indonesia yang memenuhi persyaratan teknis/ kelaikan;
3) Memiliki tenaga ahli di bidang angkutan sungai dan danau.
Pengajuan Permohonan :
Permohonan persetujuan pengoprasian kapal angkutan sungai dan danau diajukan kepada:
1) Gubernur, sebagai tugas dekonsentrasi untuk trayek angkutan sungai dan danau antar negara dan trayek
angkutan sungai dan danau antar kota antar propinsi;
2) Gubernur, untuk kapal yang melayani trayek sungai dan danau antar Kabupaten/ Kota dalam provinsi;
3) Bupati/ Walikota, untuk kapal yang melayani trayek sungai dan danau dalam Kabupaten/ Kota provinsi.
Persyaratan Kapal Angkutan Sungai dan Danau:
1) Memenuhi persyaratan teknis laik laut dan standar pelayanan minimal angkutan sungai dan danau sesuai
dengan ketentuan yang berlaku;
2) Memiliki fasilitas sesuai dengan spesifikasi teknis prasarana pelabuhan pada lintas yang dilayani;
3) Memiliki dan mempekerjakan awak kapal yg memenuhi persyaratan kualifikasi yang diperlukan untuk
angkutan sungai dan danau;
4) Memiliki fasilitas bagi kebutuhan awak kapal maupun penumpang, barang dan hewan sesuai dengan
persyaratan teknis yang berlaku;
5) Mencantumkan identitas perusahaan dan nama kapal yang ditempatkan pada bagian sebelah samping kiri
dan kanan kapal;
6) Mencantumkan informasi/ petunjuk yang diperlukan dengan menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa
Inggris.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian atau penolakan atas permohonan persetujuan pengoperasian kapal angkutan sungai dan danau,
diberikan oleh Pejabat pemberi persetujuan pengoperasian kapal angkutan sungai dan danau selambat-
lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
Masa Berlaku Izin :
Persetujuan pengoperasian kapal angkutan sungai dan danau berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat
diperpanjang.
49
Direktori
Kementerian Perhubungan
3. Bidang Sumber Daya Manusia
a. Sertifikasi Kompentensi Tenaga Penguji (Penguji PNS)
Dasar Hukum :
1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;
2) PP Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan Bermotor dan Pengemudi;
3) Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 71 Tahun 1993 tentang Pengujian Berkala Kendaraan Bermotor;
4) Peraturan Dirjen Perhubungan Darat Nomor SK. 1076/KP.108/DRJD/2005 tentang Kompetensi Kendaraan
Bermotor.
Persyaratan :
1) Penguji Kendaraan Bermotor Pelaksana Pemula harus memenuhi persyaratan:
a) memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Mesin/ Otomotif atau yang sederajat
dalam bidang kendaraan bermotor atau untuk yang memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) Jurusan Listrik dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Jurusan Paspal/ IPA, dengan syarat
wajib memiliki ijazah/ sertifikat kursus otomotif;
b) Memiliki pangkat Pengatur Muda, golongan ruang II/a;
c) Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sekurang-kurangnya golongan B-1;
d) Telah mengikuti dan dinyatakan lulus pendidikan dan latihan dasar penguji kendaraan bermotor.
e) Setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai
baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;
f) Sehat jasmani dan rohani.
2) Penguji Kendaraan Bermotor Pelaksana harus memenuhi persyaratan :
a) Memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Mesin/ Otomotif atau yang sederajat
dalam bidang kendaraan bermotor atau untuk yang memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) Jurusan Listrik dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Jurusan Paspal/ IPA, dengan syarat
wajib memiliki ijazah/ sertifikat kursus otomotif atau memiliki ijazah D-II PKB;
b) Memiliki pangkat Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b, Pengatur, golongan ruang II/c atau
Pengatur Tingkat I, golongan ruang II/d;
c) Memiliki pengalaman/ masa kerja di bidang pengujian kendaraan bermotor sekurang-kurangnya 2
(dua) tahun kecuali memiliki ijazah D-II PKB;
d) Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sekurang-kurangnya golongan B-1;
e) Telah mengikuti dan dinyatakan lulus pendidikan dan latihan dasar penguji kendaraan bermotor kecuali
memiliki ijazah D-II PKB;
f) Setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai
baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;
g) Sehat jasmani dan rohani.
3) Penguji Kendaraan Bermotor Pelaksana Lanjutan harus memenuhi persyaratan :
a) Memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Mesin/ Otomotif atau yang sederajat
dalam bidang kendaraan bermotor atau untuk yang memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan
50
Direktori
Kementerian Perhubungan
(SMK) Jurusan Listrik dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Jurusan Paspal/ IPA, dengan syarat
wajib memiliki ijazah/ sertifikat kursus otomotif atau memiliki ijazah D-II PKB;
b) Memiliki pangkat Penata Muda, golongan ruang III/a atau Penata Muda Tingkat I golongan ruang
III/b;
c) Memiliki pengalaman/ masa kerja di bidang pengujian kendaraan bermotor sekurang-kurangnya 2
(dua) tahun kecuali memiliki ijazah D-II PKB;
d) Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sekurang-kurangnya golongan B-1;
e) Telah mengikuti dan dinyatakan lulus pendidikan dan latihan dasar penguji kendaraan bermotor kecuali
memiliki ijazah D-II PKB;
f) Setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai
baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;
g) Sehat jasmani dan rohani.

4) Penguji Kendaraan Bermotor Penyelia harus memenuhi persyaratan:
a) Memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jurusan Mesin/ Otomotif atau yang sederajat
dalam bidang kendaraan bermotor atau untuk yang memiliki ijazah Sekolah Menengah Kejuruan
(SMK) Jurusan Listrik dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Jurusan Paspal/ IPA, dengan syarat
wajib memiliki ijazah/ sertifikat kursus otomotif atau memiliki ijazah D-II PKB;
b) Memiliki pangkat Penata, golongan ruang III/c atau Penata Tingkat I golongan ruang III/d;
c) Memiliki pengalaman/masa kerja di bidang pengujian kendaraan bermotor sekurang-kurangnya 2
(dua) tahun kecuali memiliki ijazah D-II PKB;
d) Memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sekurang-kurangnya golongan B-1;
e) Telah mengikuti dan dinyatakan lulus pendidikan dan latihan dasar penguji kendaraan bermotor kecuali
memiliki ijazah D-II PKB;
f) Setiap unsur penilaian prestasi kerja atau pelaksanaan pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai
baik dalam 1 (satu) tahun terakhir;
g) Sehat jasmani dan rohani.
51
Direktori
Kementerian Perhubungan
52
Direktori
Kementerian Perhubungan
B. Subsektor Perhubungan Laut
1. Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut
(SIUPAL)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; (Pasal 27 s/d Pasal
30)
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
(Pasal 93 s/d Pasal 110).
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang
Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut.
Persyaratan (Pasal 94 ayat (3) dan ayat (4), PP 20/2010) :
a. Persyaratan administrasi;
1) Surat permohonan perusahaan;
2) memiliki akta pendirian perusahaan;
3) memiliki NPWP;
4) fotocopy identitas penanggung jawab perusahaan;
5) surat keterangan domisili perusahaan dari instansi yang berwenang;
6) memiliki tenaga ahli di bidang ketatalaksanaan angkutan laut dan
kepelabuhanan, nautika (minimal ANT III), dan/atau teknika (minimal ATT
III) pelayaran niaga yang dibuktikan dengan salinan ijazah yang dilegalisir
oleh pejabat yang berwenang;
7) Khusus untuk usaha patungan (joint venture), komposisi saham minimal 51
% dikuasai badan usaha nasional;
8) Surat Pernyataan pakta integritas dari perusahaan untuk tidak memberikan
gratifikasi kepada PNS (bermaterai); dan
9) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) dari perusahaan atas
kebenaran seluruh dokumen yang disampaikan (bermaterai).
b Persyaratan teknis:
1) memiliki kapal motor berbendera Indonesia yg laik laut dengan ukuran paling
kecil GT 175 (seratus tujuh puluh lima Gross Tonnage);
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
Jl. Medan Merdeka Barat Nomor 8
Telp. 3811308 Pes. 4209, 4223, 4227
Jakarta 10110
53
Direktori
Kementerian Perhubungan
2) memiliki kapal tunda berbendera Indonesia yg laik laut dengan daya motor penggerak paling kecil 150
(seratus lima puluh) tenaga kuda (TK) dengan tongkang berukuran paling kecil GT 175 (seratus tujuh puluh
lima Gross Tonnage);
3) memiliki kapal tunda berbendera Indonesia yg laik laut dengan ukuran paling kecil GT 175 (seratus tujuh
puluh lima Gross Tonnage);
4) memiliki tongkang bermesin berbendera Indonesia yang laik laut dengan ukuran paling kecil GT 175 (seratus
tujuh puluh lima Gross Tonnage).
5) Khusus untuk join venture (PMA), memiliki 1 (satu) unit kapal berbendera Indonesia dengan ukuran paling
kecil 5000 GT dan diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.
Jangka Waktu :
14 (empat belas) hari kerja
2. Surat Izin Operasi Perusahaan Angkutan Laut Khusus (SIOPSUS)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran; (Pasal 27 s/d Pasal 30)
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan; (Pasal 93 s/d Pasal 110)
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Persyaratan :
a. Persyaratan administrasi:
1) Surat permohonan perusahaan;
2) memiliki akta pendirian perusahaan;
3) memiliki NPWP;
4) fotocopy identitas penanggung jawab perusahaan;
5) memiliki surat keterangan domisili perusahaan;
6) memiliki izin usaha dari instansi pembina usaha pokoknya;
54
Direktori
Kementerian Perhubungan
7) memiliki tenaga ahli Diploma III di bidang ketatalaksanaan angkutan laut dan kepelabuhanan, nautika
(minimal ANT III) dan/atau teknika (minimal ATT III) pelayaran niaga yang dibuktikan dengan salinan ijazah
yang dilegalisir oleh pejabat yang berwenang.
8) khusus untuk usaha patungan (joint venture), melampirkan surat keterangan/ rekomendasi dari instansi
yang berwenang sesuai dengan peruntukan usaha pokoknya;
9) Surat Pernyataan pakta integritas dari perusahaan untuk tidak memberikan gratifikasi kepada PNS
(bermaterai);
10) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) dari perusahaan atas kebenaran seluruh dokumen
yang disampaikan (bermaterai).
b. Persyaratan teknis:
- memiliki paling sedikit 1 (satu) unit kapal berbendera Indonesia yang laik laut dengan ukuran dan tipe kapal
disesuaikan dengan jenis usaha pokoknya yang dibuktikan dengan salinan grosse akta, surat ukur, dan
sertifikat keselamatan kapal;
Jangka Waktu :
14 (empat belas) hari kerja
3. Surat Keterangan Spesifikasi Kapal
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.(Pasal 21 ayat (1) huruf g).
Persyaratan :
a. Mengajukan surat permohonan yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut cq. Direktur Lalu
Lintas dan Angkutan Laut;
b. Foto Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Foto Copy Grosse Akta Kapal;
d. Foto Copy Surat Ukur Kapal;
e. Foto Copy Sertifikat Keselamatan Konstruksi Kapal.
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
55
Direktori
Kementerian Perhubungan
4. Rencana Pola Trayek (RPT) Untuk Kapal Liner (disesuaikan
dengan draft revisi KM. 33)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL;
c. Copy Spesifikasi kapal milik/charter/dioperasikan yang masih berlaku;
d. Laporan realisasi perjalanan kapal (voyage report).
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
5. Rencana Pola Trayek (RPT) Untuk Kapal Tramper
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
56
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL;
c. Copy Spesifikasi kapal milik/charter/ dioperasikan yang masih berlaku;
d. Laporan realisasi perjalanan kapal (voyage report).
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
6. Pemberitahuan Pengoperasian Kapal Milik/Charter (PPKM/PPKC)
Untuk Angkutan Laut Luar Negeri
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Crew list;
d. Sailing schedule;
e. Company Security Officer (CSO).
f. Khusus untuk kapal charter dilengkapi dengan charter party.
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
57
Direktori
Kementerian Perhubungan
7. Pemberitahuan Keagenan Kapal Asing (PKKA)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Letter of Appointment;
d. Ships particular kapal yang bersangkutan;
e. Crew list;
f. Sertifikat ISSC;(ditambahkan kepanjangan ISSC IOPP, Q88, CSO)
g. Khusus untuk kapal tanker melampirkan copy sertifikat IOPP, Q88, CSO.
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
58
Direktori
Kementerian Perhubungan
8. Surat Keterangan Status Liner
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan.
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Copy Letter of Appointment / Agency Agreement / Charter Party;
d. Copy Sailing Schedule;
e. Surat pernyataan kesanggupan untuk melayari status liner yang telah ditetapkan;
f. Ships particular;
g. Crew List;
h. Sertifikat CSO, ISSC;
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
9. Surat Keterangan Rencana Pola Trayek (RPT) Untuk Kapal
Angkutan Laut Khusus
Dasar Hukum
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
d. Surat Edaran Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut No.AL.59/31/05-03 tanggal 25 Juni 2003.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Copy Spesifikasi kapal milik/charter/ dioperasikan yang masih berlaku;
d. Laporan realisasi perjalanan kapal(voyage report);
e. Crew List.
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
59
Direktori
Kementerian Perhubungan
10.Izin Penggunaan Kapal Asing (IPKA)
Dasar Hukum :
a. UndangUndang Nomor 17 Tahun 2008 tahun Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2011 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun
2010;
d. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bkua Panjak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
e. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 48 Tahun 2011 tentang Tata Cara dan Persyaratan Pemberian Izin
Penggunaan Kapal Asing Untuk Kegiatan Lain Yang Tidak Termasuk Kegiatan Mengangkut Penumpang Dan/
Atau Barang Dalam Kegiatan Angkutan Laut Dalam Negeri.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Rencana kerja yang dilengkapi dengan jadwal dan wilayah kerja kegiatan yang ditandai dengan koordinat
geografis;
c. Memiliki charter party antara perusahaan angkutan laut nasional dengan pemilik kapal asing dan kontrak kerja
dan / atau Letter of Intent (LOI) dari pemberi kerja;
d. Copy Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut (SIUPAL);
e. Copy Sertifikat Tanda Kebangsaan/ Pendaftaran Kapal;
f. Copy Sertifikat Keselamatan dan Keamanaan Kapal;
g. Copy Sertifikat Pencegahan Pencemaran Kapal;
h. Copy Sertifikat Klasifikasi Kapal;
i. Copy Daftar/ Sijil Awak Kapal; dan
j. Copy Sertifikat Manajemen Keselamatan.
Jangka waktu :
14 (empat belas) hari kerja
60
Direktori
Kementerian Perhubungan
11.Clearance Approval For Indonesian Territory (CAIT)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
d. Keputusan Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Nomor KM.86/Um.209/ MPPT-88 tanggal17 September
1988;
e. Keputusan Direktur Jenderal Pariwisata Nomor Kep.11/K/IV/91 tanggal 8 April 1991;
f. Surat Edaran Direktur Jenderal Perhubungan Laut Nomor UM.48/4/13-01 tanggal 9 Maret 2001.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Sertifikat Pendaftaran Kapal;
c. Sertifikat Keselamatan Kapal;
d. Crew List;
e. Paspor nakhoda dan awak kapal.
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
12.Surat Persetujuan Pembukaan Kantor Cabang
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bkua Panjak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan.
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Surat pemberitahuan yang diajukan oleh kantor pusat perusahaan yang bersangkutan;
c. RPT kapal milik, charter dan/atau dioperasikan yang secara rutin menyinggahi pelabuhan sesuai dengan kantor
cabang yang akan dibuka;
d. Surat pengangkatan penanggung jawab kantor cabang yang dikeluarkan dan ditandatangani oleh pimpinan
kantor pusat;
e. Keterangan domisili kantor cabang yang akan dibuka;
61
Direktori
Kementerian Perhubungan
f. Fotocopy identitas kepala cabang perusahaan;
g. Laporan Realisasi perjalanan kapal (Voyage Report).
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
13.Rekomendasi Owners Representative (O/R)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
c. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KM-55/Men/1981.
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Surat penunjukkan sebagai perwakilan perusahaan angkutan laut asing yang diketahui oleh kedutaan besar
Republik Indonesia atau Konsulat di Negara yang bersangkutan;
d. Paspor dari instansi terkait (bagi WNA);
e. Izin kerja dari instansi terkait;
f. Riwayat hidup dari perorangan yang ditunjuk sebagai perwakilan;
g. Laporan kegiatan dari perusahaan angkutan laut asing yang diageni oleh perusahaan angkutan laut nasional ;
h. Pengajuan OR oleh perusahaan pelayaran yang ditunjuk sebagai agen umum oleh principal.
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
14.Certificate Of Owners Representative (COR)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
62
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KM-55/Men/1981 tentang Pelaksanaan Pembatasan
Penggunaan Tenaga Kerja Warga Negara Asing Pada Sektor Perhubungan.
e. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Copy SIUPAL/SIOPSUS;
c. Surat Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Republik Indonesia;
d. KTP bagi TKI;
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja
15.Surat Keterangan Perubahan Pada Siupal/Siopsus
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan
c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 33 Tahun 2001 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan
Angkutan Laut.
Persyaratan :
a. Surat permohonan perusahaan;
b. Akte perubahan nama perusahaan yang disahkan oleh kementerian terkait;
c. Akte perubahan perseroan (untuk perubahan penanggung jawab)
d. NPWP terbaru (untuk perubahan NPWP);
e. Surat keterangan domisili (untuk perubahan alamat);
Jangka Waktu :
1 (satu) hari kerja (persyaratan lengkap)
16.Izin Penetapan Lokasi Terminal Khusus
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Pasal 17 s/d Pasal 19, Pasal 105).
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM.53 Tahun 2002 tentang Tatanan Kepelabuhanan Nasional.
63
Direktori
Kementerian Perhubungan
d. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.51 Tahun 2011 tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri .
Persyaratan :
a. salinan surat izin usaha pokok dari instansi terkait;
b. letak lokasi yang diusulkan dilengkapi dengan koordinat geografis yang digambarkan dalam peta laut;
c. studi kelayakan yang paling sedikit memuat:
1) rencana volume bongkar muat bahan baku, peralatan penunjang dan hasil produksi;
2) rencana frekuensi kunjungan kapal;
3) aspek ekonomi yang berisi tentang efisiensi dibangunnya terminal khusus dan aspek lingkungan; dan
4) hasil survei yang meliputi hidrooceanografi (pasang surut, gelombang, kedalaman dan arus), topograji, titik
nol (benchmark) lokasi pelabuhan yang dinyatakan dalam koordinat geografis;
d. rekomendasi dari Syahbandar pada Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan setempat berkoordinasi dengan
Kantor Distrik Navigasi setempat mengenai aspek keamanan dan keselamatan pelayaran yang meliputi kondisi
perairan berdasarkan hasil survey sebagaimana dimaksud pada huruf c angka 4 setelah mendapat pertimbangan
dari Kepala Kantor Distrik Navigasi setempat; dan
e. rekomendasi Gubernur dan Bupati/Walikota setempat mengenai kesesuaian rencana lokasi terminal khusus
dengan rencana tata ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.
Jangka Waktu :
21 (dua puluh satu) hari kerja (14 hari kerja di Dirjen Hubla + 7 hari kerja di Kemenhub (persyaratan lengkap))

17.Izin Pembangunan Terminal Khusus
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan;
c. Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 51 Tahun 2011 tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri.
64
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. persyaratan administrasi, meliputi:
1) akta pendirian perusahaan;
2) izin usaha pokok dari instansi terkait;
3) Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
4) bukti penguasaan tanah;
5) bukti kemampuan finansial;
6) proposal rencana tahapan kegiatan pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang;
dan
7) rekomendasi dari Syahbandar pada Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan terdekat setelah mendapat
pertimbangan dari Kepala Distrik Navigasi setempat mengenai perencanaan alur-pelayaran dan Sarana
Bantu Navigasi-Pelayaran.
b. persyaratan teknis, meliputi :
1) gambar hidrografi, topografi, dan ringkasan laporan hasil survei mengenai pasang surut dan arus;
2) tata letak dermaga;
3) perhitungan dan gambar konstruksi bangunan pokok;
4) hasil survei kondisi tanah;
5) hasil kajian keselamatan pelayaran termasuk alur pelayaran dan kolam pelabuhan;
6) batas-batas rencana wilayah daratan dan perairan dilengkapi titik koordinat geografis serta rencana induk
terminal khusus yang akan ditetapkan sebagai daerah lingkungan kerja dan daerah lingkungan kepentingan
tertentu; dan
7) kajian lingkungan berupa studi lingkungan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dibidang lingkungan hidup.
Jangka Waktu :
Paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja.
65
Direktori
Kementerian Perhubungan
18.Izin Pengoperasian Terminal Khusus
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan;
c. Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 51 Tahun 2011 tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri.
Persyaratan :
a. rekomendasi dari Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan terdekat yang sekurang-kurangnya memuat:
1) keterangan bahwa pembangunan terminal khusus telah selesai dilaksanakan sesuai dengan izin
pembangunan yang diberikan oleh Direktur Jenderal dan siap untuk dioperasikan;
2) hasil pembangunan terminal khusus telah memenuhi aspek keamanan, ketertiban, dan keselamatan
pelayaran; dan
3) pertimbangan dari Distrik Navigasi setempat mengenai kesiapan alur-pelayaran dan Sarana Bantu Navigasi-
Pelayaran.
b. laporan pengelolaan dan pemantauan lingkungan selama masa pembangunan;
c. memiliki sistem dan prosedur pelayanan; dan
d. tersedianya sumber daya manusia di bidang teknis pengoperasian pelabuhan yang memiliki kualifikasi dan
kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat.
Jangka Waktu (PP No. 61 Tahun 2009 pasal 121 ayat 1) :
30 (tiga puluh) hari kerja
66
Direktori
Kementerian Perhubungan
19.Surat Izin Kerja Keruk (SIKK)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian;
c. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM.52 Tahun 2011 tentang Pengerukan dan Reklamasi.
Persyaratan :
a. pemenuhan persyaratan administrasi, meliputi:
1) akte pendirian perusahaan;
2) NomorPokok Wajib Pajak (NPWP);
3) Surat keterangan domisili perusahaan; dan
4) keterangan penanggungjawab kegiatan.
b. pemenuhan persyaratan teknis, meliputi:
1) keterangan mengenai maksud dan tujuan kegiatan pengerukan;
2) lokasi dan koordinat geografis areal yang akan dikeruk;
c. peta pengukuran kedalaman awal (predredge sounding) dari lokasi yang akan dikerjakan;
d. untuk pekerjaan pengerukan dalam rangka pemanfaatan material keruk (penambangan) harus mendapat izin
terlebih dahulu dari instansi yang berwenang;
e. hasil penyelidikan tanah daerah yang akan dikeruk untuk mengetahui jenis dan struktur dari tanah;
f. hasil pengukuran dan pengamatan arus di daerah buang;
g. hasil studi analisis mengenai dampak lingkungan atau sesuai ketentuan yang berlaku; dan
h. peta situasi lokasi dan tempat pembuangan yang telah disetujui oleh Otoritas Pelabuhan atau Unit Penyelenggara
Pelabuhan, yang dilengkapi dengan koordinat geografis.
i. surat pernyataan bahwa pekerjaan pengerukan akan dilakukan oleh perusahaan pengerukan yang memiliki izin
usaha serta mempunyai kemampuan dan kompetensi untuk melakukan pengerukan;
j. rekomendasi dari Syahbandar setempat berkoordinasi dengan Kantor Distrik Navigasi setempat terhadap aspek
keselamatan pelayaran setelah mendapat pertimbangan dari Kepala Kantor Distrik Navigasi setempat.

Jangka Waktu :
21 (dua puluh satu) hari kerja
67
Direktori
Kementerian Perhubungan
20.Surat Izin Kerja Reklamasi (SIKR)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian;
c. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan dan Reklamasi.
Persyaratan :
a. administrasi, meliputi:
1) akte pendirian perusahaan;
2) Nomor Pokok Wajib Pajak/NPWP;
3) surat keterangan domisili perusahaan; dan
4) keterangan penanggungjawab kegiatan.
b. teknis, meliputi:
1) keterangan mengenai maksud dan tujuan kegiatan reklamasi;
2) lokasi dan koordinat geografis areal yang akan direklamasi;
3) peta pengukuran kedalaman awal (predredge sounding) dari lokasi yang akan direklamasi;
4) hasil studi analisis mengenai dampak lingkungan atau sesuai ketentuan yang berlaku.
5) surat pernyataan bahwa pekerjaan reklamasi akan dilakukan oleh perusahaan yang memiliki izin usaha
serta mempunyai kemampuan dan kompetensi untuk melakukan reklamasi;
6) rekomendasi dari syahbandar setempat berkoordinasi dengan Kantor Distrik Navigasi setempat terhadap
aspek keselamatan pelayaran setelah mendapat pertimbangan dari Kepala Kantor Distrik Navigasi
setempat;
7) rekomendasi dari Otoritas Pelabuhan atau Unit Penyelenggara Pelabuhan dari pelabuhan setempat akan
kesesuaian dengan Rencana Induk Pelabuhan bagi pekerjaan reklamasi yang berada di dalam Daerah
Lingkungan Kerja dan Daerah Lingkungan Kepentingan pelabuhan; dan
8) rekomendasi dari bupati/walikota setempat akan kesesuaian dengan rencana umum tata ruang wilayah
kabupaten/kota yang bersangkutan bagi pekerjaan reklamasi di wilayah perairan terminal khusus.
Jangka Waktu :
21 (dua puluh satu) hari kerja
68
Direktori
Kementerian Perhubungan
21.Persetujuan Pengelolaan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang No.17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah No.61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan;
c. Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 51 Tahun 2011 tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri.
Persyaratan :
a. bukti kerjasama dengan penyelenggara pelabuhan;
b. data perusahaan yang meliputi akta perusahaan, Nomor Pokok Wajib Pajak, dan izin usaha pokok;
c. gambar tata letak lokasi terminal untuk kepentingan sendiri dengan skala yang memadai, gambar konstruksi
dermaga, dan koordinat geografis letak terminal untuk
d. kepentingan sendiri;
e. bukti penguasaan tanah;
f. proposal terminal untuk kepentingan sendiri;
g. rekomendasi dari Syahbandar pada pelabuhan setempat;
h. berita acara hasil peninjauan lokasi oleh tim teknis terpadu; dan
i. studi lingkungan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Jangka Waktu (PP No. 61 Tahun 2009 pasal 137 ayat 2) :
30 (tiga puluh) hari kerja
22.Izin Usaha Badan Usaha Pelabuhan
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Pasal 93 s/d Pasal 95).
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Pasal 71 s/d Pasal 73).
Persyaratan (PP 61 / 2009 Pasal 71 ayat (3)) :
a. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
b. Berbentuk badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, atau perseroan terbatas yang khusus didirikan
dibidang kepelabuhanan;
c. Memiliki akta pendirian perusahaan;
d. Memiliki keterangan domisili perusahaan;
69
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan tambahan:
a. Bukti kepemilikan sarana dan prasarana di bidang kepelabuhanan;
b. Bukti memiliki tenaga ahli di bidang kepelabuhanan yang bersertifikat;
c. Proposal rencana kegiatan.
Jangka Waktu :
21 (dua puluh satu) hari kerja
23.Izin Operasi Pelabuhan Daratan
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Pasal 72);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Pasal 105 s/d Pasal 109).
Persyaratan (PP 61 / 2009 Pasal 108 ayat 3) :
a. Pembangunan pelabuhan telah selesai dilaksanakan sesuai dengan izin pembangunan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 107 PP No. 61 Thn 2009;
b. Keamanan, ketertiban dan keselamatan pelayaran;
c. Tersedia pelaksana kegiatan kepelabuhanan;
d. Memiliki sistem dan prosedur pelayanan;
e. Tersedianya sumber daya manusia di bidang teknis pengoperasian pelabuhan yang memiliki kualifikasi dan
kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat;
f. Rekomendasi dari Penyelenggara Pelabuhan terdekat.
70
Direktori
Kementerian Perhubungan
Jangka Waktu (PP 61 / 2009 Pasal 108 ayat 4) :
30 (tiga puluh) hari kerja
24.Izin Penggunaan Terminal Khusus Untuk Kepentingan Umum
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Pasal 102 s.d pasal 108);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan (Pasal 124);
c. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 51 Tahun 2011 tentang Terminal Khusus dan Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri.
Persyaratan (PM Nomor 51 Tahun 2011 pasal 22 ayat 2) :
a. alasan penggunaan terminal khusus untuk kepentingan umum;
b. rekomendasi dari Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan mengenai fasilitas yang tersedia pada terminal
khusus dimaksud dapat menjamin keselamatan pelayaran, kelancaran, keamanan dan ketertiban dalam
pengoperasian terminal khusus digunakan untuk melayani kepentingan umum;
c. prosedur tetap pengoperasian terminal khusus yang akan dilaksanakan untuk melayani kepentingan umum
sesuai dengan pelayanan jasa kepelabuhanan untuk pelabuhan laut; dan
d. perjanjian kerjasama antara Kepala Unit Penyelenggara Pelabuhan dengan pengelola terminal khusus yang
bersangkutan.
.
Jangka Waktu (PM Nomor 51 Tahun 2011 pasal 22 ayat 2) :
21 (dua puluh satu) hari kerja
25.Pelimpahan Kewenangan Pelaksanaan Pemanduan

Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran (Pasal 198 ayat 3, dan ayat 5);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian (Pasal 114, Pasal 115);
c. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM. 53 Tahun 2011 tentang Pemanduan.
71
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Surat permohonan usulan dari BUP dan atau Tersus kepada Menteri Perhubungan cq Dirjen Hubla tembusan
kepada OP/UPP dan Syahbandar setempat dengan melampirkan ;
1) Surat Keputusan Penetapan Perairan Wajib Pandu dan atau Perairan Pandu Luar Biasa;
2) Data Teknis Sarana Bantu dan prasarana Bantu Pemanduan sesuai dengan Persyaratan;
3) Data SDM pandu sesuai dengan Persyaratan.
b. Surat Rekomendasi dari OPP dan UPP setempat kepada Dirjen Hubla Cq.Ditpeleng;
c. Peninjauan Lokasi dan Pemeriksaan Fisik terhadap Persyaratan teknis SDM dan Sarpras Pemanduan yang di
tuangkan dalam Berita acara hasil peninjauan lokasi oleh tim teknis terpadu.
d. Draft usulan Sistem dan Prosedur/Protap Pelayanan Pemanduan.
Jangka Waktu :
Paling lama 3 (tiga) bulan.
26.Penetapan Pelayanan Operasional 24 Jam di Terminal Khusus
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan (Pasal 98);
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 54 Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut (Pasal
21).
Persyaratan :
a. Kondisi alur meliputi kedalaman, pasang surut, sarana bantu navigasi pelayaran;
b. Kesiapan pelayanan pemanduan bagi pelabuhan yang telah ditetapka perairannya sebagai perairan wajib
pandu;
c. Kesiapan fasilitas pelabuhan minimal 1 (satu) berth;
d. Kesiapan gudang di luar pelabuhan apabila bongkar muat dilakukan dengan cara truk tossing;
e. Keamanan dan ketertiban
f. Kesiapan sumber daya manusia operasional;
72
Direktori
Kementerian Perhubungan
1) Petugas instansi Pemerintah pemegang fungsi keselamatan pelayaran;
2) Karantina;
3) Bea dan cukai;
5) Imigrasi;
yang dibuktikan dengan rekomendasi dari instansi yang bersangkutan sesuai ketentuan yang berlaku;
g. Kesiapan sarana transportasi darat;
h. Rekomendasi dari pejabat pelaksana fungsi keselamatan pelayaran.
Jangka Waktu :
Paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja
27.Penetapan Pelayanan Peti Kemas
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan (Pasal 100);
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 54 Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut. (Pasal
23).
Persyaratan :
a. Memiliki sistem dan prosedur pelayanan;
b. Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah dan kualitas yang memadai;
c. Kesiapan fasilitas tambat permanen untuk kapal generasi pertama;
d. Tersedianya peralatan penanganan bongkar muat petikemas yang terpasang dan yang bergerak (container
crane);
e. Lapangan penumpukan (container yard) dan gudang container freight station sesuai kebutuhan;
f. Keandalan sistem operasi menggunakan jaringan informasi on line baik internal maupun eksternal;
g. Volume cargo yang memadai.
Jangka Waktu :
30 (tiga puluh) hari kerja.
73
Direktori
Kementerian Perhubungan
28.Penetapan Peningkatan Kemampuan Pengoperasian Fasilitas
Pelabuhan Untuk Melayani Angkutan Curah Cair Dan/Atau Curah
Kering
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 TentangKepelabuhanan (Pasal 100)
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 54 Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut (Pasal
24).
Persyaratan :
a. Kesiapan fasilitas tambat permanen sesuai dengan jenis kapal;
b. Tersedianya peralatan penanganan bongkar muat curah;
c. kedalaman perairan minimal 5 Meter LWS;
d. Didukung kehandalan sistem operasi menggunakan jaminan informasi on line baik internal maupun eksternal;
e. Memiliki sistem dan prosedur pelayanan;
f. Memiliki sumber daya manusia dengan jumlah kualitas yang memadai.
74
Direktori
Kementerian Perhubungan
Jangka Waktu :
30 (tiga puluh) hari kerja.
29.Penetapan Terminal Khusus Yang Terbuka Bagi Perdagangan
Luar Negeri
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran (Pasal 111);
b. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhanan (Pasal 151);
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM. 54 Tahun 2002 Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Laut (Pasal
59).
Persyaratan :
a. Aspek Administratif;
b. Aspek Ekonomi;
c. Aspek Keselamatan Pelayaran;
d. Aspek Teknis Fasilitas Pelabuhan;
e. Fasilitas Kantor dan Peralatan Penunjang bagi Instansi Bea dan Cukai, Imigrasi dan Karantina;
f. Jenis komoditas khusus.
Jangka Waktu :
30 (tiga puluh) hari kerja (PP Nomor 61 Tahun 2008 Pasal 152).
75
Direktori
Kementerian Perhubungan
76
Direktori
Kementerian Perhubungan
C. Subsektor Perhubungan Udara
1. Pemberian Persetujuan Terbang (Flight Approval)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah nomor 40 Tahun 1995 Tentang Angkutan Udara;
c. Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jenis dan Tarif Atas
Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Departemen
Perhubungan;
d. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 Tahun 2008 Tentang
Penyelenggaraan Angkutan Udara;
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/195/IX/2008
Tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan Terbang (Flight Approval)
sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan Direktur Jenderal
Perhubungan Udara Nomor SKEP/251/XII/2008;
f. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/2759/XII/2010
Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan
Udara Nomor SKEP/195/IX/2008 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Persetujuan
Terbang (Flight Approval).
Persyaratan :
Kegiatan angkutan udara yang harus memiliki persetujuan terbang (flight approval)
terdiri atas :
a. Angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri dan luar negeri yang
dilaksanakan di luar persetujuan yang telah diterbitkan, meliputi:
1) Perubahan jadwal penerbangan, yang disebabkan oleh :
a) Gangguan operasional pesawat udara; atau
b) Gangguan operasional bandar udara, seperti pembangunan/
pengembangan fasilitas bandar udara, kecelakaan (accident),
kejadian (incident) di bandar udara pemberangkatan/tujuan.
2) Penambahan penerbangan (extra flight) apabila terdapat lonjakan
permintaan angkutan udara;
3) Perubahan rute yang telah ditetapkan (re-route) yang disebabkan
terganggunya operasional pesawat udara dan/atau terganggunya
pelayanan teknis pesawat udara di darat dan/atau terganggunya
operasional bandar udara;
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara
Jl. Medan Merdeka Barat Nomor 8
Telp. 3811308 Pes. 1372, 1315
Jakarta 10110
77
Direktori
Kementerian Perhubungan
4) Perubahan penggunaan tipe pesawat udara, untuk angkutan udara luar negeri. Dan untuk angkutan udara
dalam negeri, apabila mengakibatkan perbedaan kapasitas tempat duduk lebih dari 25%;
5) Penempatan pesawat udara (positioning flight) untuk melaksanakan rute penerbangan; atau
6) Melaksanakan angkutan udara niaga tidak berjadwal sebagai pelengkap dari Izin usaha angkutan udara
niaga berjadwal.
b. Angkutan udara niaga tidak berjadwal penumpang dalam negeri yang menggunakan pesawat udara dengan
kapasitas lebih dari 30 tempat duduk;
c. Angkutan udara niaga tidak berjadwal kargo dalam negeri yang menggunakan pesawat udara dengan berat
tinggal landas lebih dari 5700 kilogram;
d. Angkutan udara niaga tidak berjadwal penumpang dan atau kargo luar negeri;
e. Angkutan udara bukan niaga (general aviation) luar negeri;
f. Penerbangan lintas wilayah udara Indonesia (overflying) oleh pesawat udara asing;
g. Pendaratan teknis (technical landing) bukan untuk tujuan komersial oleh pesawat udara asing;
h. Penerbangan tanpa penumpang umum (ferry flight) untuk ke dan dari luar negeri.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara c.q Kepala Direktorat Angkutan Udara
paling lambat 3 x 24 jam sebelum dilaksanakan penerbangan;
b. Permohonan persetujuan terbang untuk Angkutan Udara Niaga Berjadwal dilengkapi dengan :
1) Pengisian formulir persetujuan terbang (Flight Approval);
2) Permohonan disertai data dukung yang terdiri atas :
a) Daftar tunggu (waiting list) untuk penerbangan tambahan (extra flight);
b) Dokumen kontrak charter untuk penerbangan charter;
c) Persetujuan dari instansi yang berwenang di bidang pertahanan (Security Cleareance) untuk
penerbangan luar negeri (international);
d) Persetujuan dari instansi yang berwenang di bidang hubungan luar negeri (Diplomatic Clearance)
untuk penerbangan luar negeri;dan
e) Data dukung lainnya yg dianggap perlu seperti data dukung rekomendasi dari Direktorat teknis terkait
tentang kemampuan landasan dan fasilitas bandara untuk pengoperasian tipe pesawat berkapasitas
besar.
c. Permohonan persetujuan terbang untuk Angkutan Udara Niaga Tidak Berjadwal dilengkapi dengan :
1) Dokumen kontrak charter untuk penerbangan charter;
2) Persetujuan dari instansi yang berwenang di bidang pertahanan (Security Cleareance) untuk penerbangan
luar negeri;
78
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) Persetujuan dari instansi yang berwenang di bidang hubungan luar negeri (Diplomatic Clearance) untuk
penerbangan luar negeri;
4) C of A dan C of R untuk pesawat beregistrasi Indonesia;
5) Data dukung lainnya yang diperlukan, sesuai dengan tujuan penerbangan.
Penyelesaian Permohonan :
Untuk persetujuan terbang (flight approval) diterbitkan dalam waktu selambat-lambatnya:
a. 1 x 24 jam, dalam hal persetujuan terbang (flight approval) diterbitkan di luar jam kerja; atau
b. 3 x 24 jam, dalam hal persetujuan terbang (flight approval) diterbitkan di hari libur.
Masa Berlaku :
Izin berlaku untuk 1 (satu) kali penerbangan.
2. Izin Usaha Perusahaan Angkutan Udara Niaga Berjadwal dan
Tidak Berjadwal
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan
Pajak yang Berlaku Pada Departemen Perhubungan;
c. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.
Persyaratan :
a. Memiliki akta pendirian badan usaha Indonesia yang usahanya bergerak di bidang angkutan udara niaga
berjadwal atau angkutan udara niaga tidak berjadwal dan disahkan oleh Menteri yang berwenang;
b. Menyampaikan surat persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal atau Badan Koordinasi Penanaman
Modal Daerah apabila yang bersangkutan menggunakan fasilitas penanaman modal;
c. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
d. Surat keterangan domisili yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang;
e. Menyampaikan tanda bukti modal yang disetor;
79
Direktori
Kementerian Perhubungan
f. Menyampaikan garansi / jaminan bank;
g. Menyampaikan rencana bisnis (business plan) untuk kurun waktu minimal 5 (lima) tahun yang sekurang-
kurangnya memuat :
1) Jenis dan jumlah pesawat udara yang akan dioperasikan :
a) Angkutan udara niaga berjadwal memiliki paling sedikit 5 (lima) unit pesawat udara dan menguasai
5 (lima) unit pesawat udara dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai dengan rute
yang dilayani;
b) Angkutan udara niaga tidak berjadwal memiliki 1 (satu) unit pesawat udara dan menguasai 2 (dua)
unit pesawat udara dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai dengan rute yang
dilayani;
c) Angkutan udara niaga khusus mengangkut kargo memiliki paling sedikit 1 (satu) unit pesawat udara
dan menguasai 2 (dua) unit pesawat udara dengan jenis yang mendukung kelangsungan usaha sesuai
dengan rute atau daerah operasi yang dilayani.
2) Rencana pusat kegiatan operasi penerbangan (operation base) dan rute penerbangan bagi perusahaan
angkutan udara niaga berjadwal sekurang-kurangnya menggambarkan :
a) Rencana pusat kegiatan operasi penerbangan (operation base);
b) Keseimbangan rute penerbangan;
c) Peta jaringan rute penerbangan;
d) Rute, frekuensi, rotasi diagram penerbangan dan utilisasi pesawat udara yang akan dilayani secara
bertahap selama 5 (lima) tahun;
3) Aspek pemasaran dalam bentuk potensi permintaan pasar angkutan udara (demand & supply) sekurang-
kurangnya memuat:
a) Peluang pasar angkutan udara secara umum maupun secara khusus pada rute penerbangan atau
daerah operasi yang akan dilayani, meliputi :
(1) Perkembangan jumlah permintaan penumpang atau kargo per tahun untuk jangka waktu
sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun terakhir pada rute penerbangan atau daerah operasi yang
akan dilayani;
(2) Potensi jumlah permintaan penumpang atau kargo per tahun untuk jangka waktu sekurang-
kurangnya 5 (lima) tahun ke depan pada rute penerbangan atau daerah operasi yang akan
dilayani;
(3) Rencana utilisasi pesawat udara secara bertahap selama 5 (lima) tahun ke depan bagi perusahaan
angkutan udara niaga tidak berjadwal; dan
80
Direktori
Kementerian Perhubungan
(4) Kondisi pesaing yang ada saat ini pada
rute penerbangan atau daerah operasi
yang akan dilayani.
b) Target dan pangsa pasar yang akan diraih,
meliputi :
(1) Segmen pasar yang akan dilayani sesuai
dengan bidang usahanya; dan
(2) Pangsa pasar (market share) per tahun
yang akan diraih pada masing-masing rute
penerbangan atau daerah operasi sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun ke depan.
4) Sumber Daya Manusia termasuk teknisi dan awak pesawat udara, sekurang-kurangnya memuat tahapan
kebutuhan sumber daya manusia langsung maupun tidak langsung menyangkut kualifikasi dan jumlah per
tahun untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun ke depan.
5) Kesiapan dan kelayakan operasi sekurang-kurangnya memuat :
a) Rencana pengadaan, pemeliharaan dan perawatan pesawat udara;
b) Rencana pengadaan fasilitas pendukung operasional pesawat udara;
c) Rencana pengadaan fasilitas pelayanan penumpang pesawat udara; dan
d) Rencana pemasaran jasa angkutan udara.
6) Analisis dan evaluasi dari aspek ekonomi dan keuangan sekurang-kurangnya memuat:
a) Rencana investasi untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun ke depan;
b) Proyeksi aliran kas (cashflow), rugi laba dan neraca untuk jangka waktu sekurang-kurangnya 5 (lima)
tahun ke depan;
c) Hasil perhitungan yang meliputi :
(1) Periode pengembalian (payback period);
(2) Nilai bersih saat ini (net present value);
(3) Tingkat kemampulabaan (profitability index);
(4) Tingkat pengembalian hasil intern (internal rate of return).
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan Izin usaha diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara, dengan tembusan
Menteri Perhubungan.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian atau penolakan atas permohonan Izin diberikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara secara tertulis
dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap.
81
Direktori
Kementerian Perhubungan
Masa berlaku :
Izin usaha angkutan udara niaga berlaku selama pemegang masih menjalankan kegiatan angkutan udara secara
nyata dengan terus menerus mengoperasikan pesawat udara sesuai dengan Izin yang diberikan dan di evaluasi
setiap tahun.
3. Izin Kegiatan Angkutan Udara Bukan Niaga
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan
Pajak yang Berlaku pada Departemen Perhubungan;
c. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.
Persyaratan :
a. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, lembaga tertentu,
orang perorangan, dan/atau badan usaha Indonesia lainnya.
b. Persetujuan dari instansi yang membina kegiatan pokoknya;
c. Akta pendirian badan usaha atau lembaga yang telah disahkan oleh menteri yang berwenang atau tanda bukti
identitas diri bagi pemohon orang perseorangan;
d. Pengesahan dan persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM;
e. Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP);
f. Surat keterangan domisili tempat kegiatan yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang; dan
g. Menyampaikan rencana kegiatan angkutan udara paling sedikit memuat :
1) Jenis dan jumlah pesawat udara yang akan dioperasikan, sekurang-kurangnya memuat :
a) Jenis dan jumlah pesawat udara yang akan dioperasikan;
b) Sumber dan cara pengadaan pesawat udara.
2) Pusat kegiatan operasi penerbangan;
3) Sumber daya manusia yang terdiri atas teknisi dan personil pesawat udara; dan
4) Kesiapan serta kelayakan operasi, sekurang-kurangnya memuat :
a) Rencana pengadaan, pemeliharaan atau perawatan pesawat udara;
b) Rencana pengadaan fasilitas pendukung operasional pesawat udara;
c) Sumber daya manusia yang tersedia.
82
Direktori
Kementerian Perhubungan
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan Izin usaha diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara, dengan tembusan
Menteri Perhubungan.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian atau penolakan atas permohonan Izin diberikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara secara tertulis
dalam jangka waktu paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak permohonan diterima secara lengkap.
Masa berlaku :
Izin kegiatan angkutan udara bukan niaga berlaku selama pemegang Izin masih menjalankan kegiatan angkutan
udara secara nyata dengan terus menerus mengoperasikan pesawat udara sesuai dengan Izin yang diberikan dan
di evaluasi setiap tahun.
4. Izin Usaha Angkutan Agen Penjualan Umum (GSA/General Sales
Agent)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 Tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan
Pajak yang Berlaku pada Departemen Perhubungan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Perubahan atas Peraturan Pemerinah Nomor 40 Tahun
1995 tentang Angkutan Udara;
d. Keputusan Menteri Perhubungan nomor KM 51 Tahun 2000 tentang Perwakilan dan Agen Penjualan Umum
(General Sales Agent/GSA) Perusahaan Angkutan Udara Asing.
Persyaratan :
a. Badan Hukum Indonesia berbentuk perseroan terbatas, Koperasi dan BUMN yang berbentuk perusahaan
perseroan;
b. Akta Pendirian Badan Usaha yang telah disahkan oleh menteri yang berwenang dan salah satu usahanya
bergerak dibidang penunjang angkutan udara;
c. Pengesahan dan persetujuan dari Kementerian Hukum dan HAM;
d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
e. Surat keterangan domisili perusahaan;
f. Surat persetujuan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal atau Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah
apabila menggunakan fasilitas penanaman modal;
g. Memiliki atau menguasai ruang kantor.
83
Direktori
Kementerian Perhubungan
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan Izin usaha Agen Penjualan Umum diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Perhubungan
Udara;
b. Persetujuan atau penolakan atas permohonan Izin diberikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap.
Masa Berlaku :
Izin berlaku selama pemegang Izin masih menjalankan kegiatan usaha Agen Penjualan Umum.
5. Izin Pembangunan Bandar Udara
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
e. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara; dan
f. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Berlaku Pada Departemen Perhubungan.
Persyaratan :
a. Pembangunan bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di
sekitarnya dikendalikan hanya dapat dilakukan setelah ditetapkan keputusan pelaksanaan pembangunan oleh
Menteri;
b. Pembangunan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan hanya
dapat dilakukan setelah ditetapkan keputusan pelaksanaan pembangunan oleh Bupati/Walikota;
c. Penyelenggara bandar udara melaksanakan pekerjaan pembangunan bandar udara paling lambat 1 (satu)
tahun sejak keputusan pelaksanaan pembangunan ditetapkan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
1) Untuk memperoleh keputusan pelaksanaan pembangunan bandar udara mengajukan permohonan kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal dengan melampirkan :
1) Salinan keputusan penetapan lokasi;
2) Rencana induk bandar udara;
3) Bukti penguasaan tanah;
84
Direktori
Kementerian Perhubungan
4) Dokumen rancangan teknis bandar udara yang meliputi rancangan awal dan rancangan teknis terinci sesuai
dengan standar yang berlaku;
5) Studi analisis mengenai dampak lingkungan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang.
2) Untuk memperoleh keputusan pelaksanaan pembangunan penyelenggara bandar udara mengajukan
permohonan kepada Bupati/Walikota setempat dengan melampirkan :
1) Salinan keputusan penetapan lokasi;
2) Rencana induk bandar udara;
3) Bukti penguasaan tanah;
4) Pertimbangan teknis dari Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi;
5) Dokumen rancangan teknis bandar udara yang meliputi rancangan awal dan rancangan teknis terinci sesuai
dengan standar yang berlaku;
6) Studi analisis mengenai dampak lingkungan yang telah disahkan oleh pejabat yang berwenang.
3) Direktur Jenderal menyampaikan hasil evalusai kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap;
4) Meneteri menetapkan pelaksanaan pembangunan dengan memperhatikan hasil evaluasi Direktur Jenderal
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah dokumen diterima secara lengkap;
5) Bupati/Walikota menetapkan pelaksanaan pembangunan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah
dokumen diterima secara lengkap.
6. Izin Penetapan Lokasi
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
e. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang berlaku pada Departemen Perhubungan.
Penetapan lokasi dilakukan dengan memperhatikan :
a. Rencana induk nasional bandar udara;
b. Keselamatan dan keamanan penerbangan;
c. keserasian dan keseimbangan dengan budaya setempat dan kegiatan lain terkait di lokasi bandar udara;
d. kelayakan ekonomis, finansial, sosial, pengembangan wilayah, teknis pembangunan, dan pengoperasian;
serta
e. kelayakan lingkungan.
85
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Surat Permohonan Pemrakarsa;
b. Laporan hasil Studi Kelayakan, yang sekurang-kurangnya memuat :
1) Kelayakan Pengembangan Wilayah;
2) Kelayakan Ekonomi dan Finansial;
3) Kelayakan Teknis Pembangunan;
4) Kelayakan Operasional;
5) Kelayakan Angkutan Udara;
6) Kelayakan Lingkungan.
c. Surat Rekomendasi Gubernur;
d. Surat Rekomendasi Bupati / walikota;
e. Surat Ketersediaan Lahan dari Bupati/walikota atau bukti kepemilikan dan/atau penguasaan lahan, harus
memenuhi ketentuan meliputi :
1) Tanah dan/atau perairan dan ruang udara pada lokasi yang telah ditetapkan untuk keperluan pelayanan
jasa kebandarudaraan, pelayanan keselamatan operasi penerbangan, dan fasilitas penunjang bandar udara
harus dikuasai pemrakarsa bandar udara;
2) Penetapan luas tanah danlatau perairan dan ruang udara sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus
didasarkan pada penatagunaan tanah dan/atau perairan dan ruang udara yang menjamin keserasian dan
keseimbangan dengan kegiatan dalam bidang lain di kawasan letak bandar udara; dan
3) Pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan bandar udara dan pemberian hak atas tanahnya
dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f. Surat Penegasan Rencana Pembiayaan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Penyelenggara bandar udara menyampaikan permohonan penetapan lokasi kepada Menteri Perhubungan
melalui Direktur Jenderal dengan melampirkan persyaratan administrasi;
b. Direktur Jenderal melakukan evaluasi terhadap usulan penetapan lokasi yang disampaikan oleh penyelenggara
bandar udara terhadap aspek :
1) Tatanan kebandarudaraan nasional;
2) Kelayakan ekonomi, teknis, operasional dan kelayakan dari segi angkutan udara;
86
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) Kelayakan/kelestarian lingkungan; dan
4) Pertahanan keamanan negara.
c. Direktur Jenderal menyampaikan hasil evaluasi kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap.
d. Menteri menetapkan lokasi bandar udara dengan memperhatikan hasil evaluasi Direktur Jenderal selambat-
lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah hasil evaluasi dari Direktur Jenderal diterima secara lengkap.

7. Izin Pengoperasian Bandar Udara
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
e. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara;
f. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Berlaku pada Departemen Perhubungan
Persyaratan :
a. Pengoperasian bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di
sekitarnya dikendalikan hanya dapat dilakukan setelah ditetapkan keputusan pelaksanaan pengoperasian oleh
Menteri;
b. Pengoperasian bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan hanya
dapat dilakukan setelah ditetapkan keputusan pelaksanaan pengoperasian oleh Bupati/Walikota;
c. Penetapan keputusan pelaksanaan pengoperasian dilakukan setelah memenuhi persyaratan :
1) Pembangunan bandar udara telah selesai dilaksanakan sesuai dengan keputusan pelaksanaan
pembangunan;
2) Keamanan dan keselamatan penerbangan serta ketertiban;
3) Tersedia fasilitas untuk menjamin kelancaran arus penumpang, kargo dan pos;
4) Pengelolaan lingkungan; dan
5) Tersedia pelaksana kegiatan di bandar udara.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Untuk memperoleh keputusan pelaksanaan pengoperasian bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara
bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya dikendalikan, penyelenggara bandar udara mengajukan
permohonan kepada Menteri melalui Direktur Jenderal dengan melampirkan :
1) Salinan keputusan pelaksanan pembangunan;
2) Salinan sertifikat operasi bandar udara.
b. Untuk memperoleh keputusan pelaksanaan pengoperasian bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang
udara di sekitarnya tidak dikendalikan, penyelenggara bandar udara mengajukan permohonan kepada Bupati/
Walikota setempat dengan melampirkan :
87
Direktori
Kementerian Perhubungan
1) Salinan keputusan pelaksanaan pembangunan;
2) Salinan sertifikat operasi bandar udara;
3) Pertimbangan teknis dari Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi.
c. Direktur Jenderal menyampaikan hasil evalusai kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap;
d. Meneteri menetapkan pelaksanaan pengoperasian dengan memperhatikan hasil evaluasi Direktur Jenderal
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah dokumen diterima secara lengkap;
e. Bupati/Walikota menetapkan pelaksanaan pengoperasian selambat-lambatnya 30 ( tiga puluh) hari kerja setelah
dokumen diterima secara lengkap.
8. Persetujuan dan Pengesahan Hasil Penelitian Kawasan Kebisingan
(BKK) di sekitar Bandar Udara
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara; dan
e. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Berlaku pada Departemen Perhubungan.
Persyaratan :
a. Kawasan kebisingan di bandar udara diukur dan ditentukan dengan bertitik tolak pada rencana induk bandar
udara;
b. Tingkat kebisingan ditentukan berdasarkan Weighted Equivalent Continuous Perceived Noise Level
(WECPNL);
c. Tingkat kebisingan terdiri dari :
1) Kawasan kebisingan tingkat I dengan nilai WECPNL lebih besar atau sama dengan 70 dan lebih kecil 75
( 70 WECPNl < 75 ), yaitu tanah dan ruang udara yang dapat dimantaatkan untuk berbagai jenis kegiatan
dan atau bangunan kecuali untuk jenis bangunan sekolah dan rumah sakit;
2) Kawasan kebisingan tingkat II dengan nilai WECPNL lebih besar atau sama dengan 75 dan lebih keeil 80 (
75 WECPNl < 80), yaitu tanah dan ruang udara yang dapat dimantaatkan untuk berbagai jenis kegiatan
dan atau bangunan kecuali untuk jenis kegiatan dan/atau bangunan sekolah, rumah sakit dan rumah tinggal;
dan
3) Kawasan kebisingan tingkat III dengan nilai WECPNL lebih besar atau sama dengan 80 (80 WECPNl),
yaitu tanah dan ruang udara yang dapat dimanfaatkan untuk membangun fasilitas bandar udara yang
dilengkapi insulasi suara dan dapat dimanfaatkan sebagai jalur hijau atau sarana pengendalian Iingkungan
dan pertanian yang tidak mengundang burung.
88
Direktori
Kementerian Perhubungan
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Penyelenggara bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara
di sekitarnya mengusulkan penetapan kawasan kebisingan di sekitar bandar udara kepada Menteri melalui
Direktur Jenderal;
b. Penyelenggara bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan
mengusulkan penetapan kawasan kebisingan di sekitar bandar udara kepada Bupati/Walikota setempat;
c. Direktur Jenderal melakukan evaluasi usulan penetapan kawasan kebisingan di sekitar bandar udara terhadap :
1) Rencana induk bandar udara/rencana pengembangan bandar udara;
2) Prakiraan jenis pesawat udara, frekwensi dan periode waktu operasi.
d. Kawasan kebisingan bagi bandar udara yang belum mempunyai rencana induk bandar udara ditentukan
berdasarkan perkiraan jenis pesawat udara, frekwensi dan periode waktu operasi;
e. Direktur Jenderal menyampaikan hasil evaluasi kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap;
f. Kawasan kebisingan di sekitar bandar udara, untuk tiap-tiap bandar udara pusat penyebaan dan bandar udara
bukan pusat penyebaran yang ruang udara disekitarnya dikendalikan ditetapkan dengan Keputusan Menteri
setelah mendengar pendapat Pejabat yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup selambat-lambatnya
14 (empat belas) hari kerja setelah dokumen diterima secara lengkap; dan
g. Kawasan kebisingan di sekitar bandar udara, untuk tiap-tiap bandar udara bukan pusat penyebaran yang
ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Walikota setelah mendengar
pendapat pejabat setempat yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dan pertimbangan teknis dari
Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah dokumen diterima
secara lengkap.
9. Persetujuan dan Pengesahan Hasil Penelitian Kawasan
Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Berlaku pada Departemen Perhubungan.
89
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Kawasan keselamatan operasi penerbangan ditentukan batas-batasnya dengan koordinat yang mengacu pada
bidang referensi World Geodetic System 1984 (WGS-84) dan batas-batas ketinggian diatas permukaan laut
rata-rata (Mean Sea Level) dalam satuan meter.
b. Kawasan keselamatan operasi penerbangan disekitar bandar udara meliputi :
1) Kawasan ancangan pendaratan dan lepas landas, yang merupakan kawasan perpanjangan kedua ujung
landasan di bawah Iintasan pesawat udara setelah lepas landas atau akan mendarat, yang dibatasi oleh
ukuran panjang dan lebar tertentu;
2) Kawasan kemungkinan bahaya kecelakaan. yang merupakan sebagian dart kawasan pendekatan
yang berbatasan langsung dengan ujung-ujung landasan dan mempunyai ukuran tertentu, yang dapat
menimbulkan kemungkinan terjadi kecelakaan;
3) Kawasan di bawah permukaan transisi. yang merupakan bidang dengan kemirtngan tertentu sejajar dengan
dan berjarak tertentu dart poras landasan, pada bagian bawah dibatasi oleh titik perpotongan dengan
garts-garis datar yang ditarik tegak lurus pada poros landasan dan pada bagian atas dibatasi oleh garis
perpotongan dengan permukaan horizontal dalam;
4) Kawasan di bawah permukaan horizontal-dalam, yang merupakan bidang datar dl atas dan sekitar bandar
udara yang dibatasi oleh radius dan ketinggian dengan ukuran tertentu untuk kepentingan pesawat udara
melakukan terbang rendah pada waktu akan mendarat atau setelah lepas landas;
5) Kawasan di bawah permukaan kerucut, yang merupakan bidang dari suatu kerucut yang bagian bawahnya
dibatasi oleh garis perpotongan dengan permukaan horizontal Iuar, masing-masing dengan radius dan
ketingglan tertentu dlhitung dan titik referensi yang ditentukan; dan
6) Kawasan di bawah permukaan horizontal-luar, yang merupakan bidang datar di sekitar bandar udara yang
dibatasi oleh radius dan ketinggian dengan ukuran tertentu untuk kepentingan keselamatan dan efisiensi
operasi penerbangan antara lain pada waktu pesawat melakukan pendekatan untuk mendarat dan gerakan
setefah tinggal landas atau gerakan dalam hal mengalami kegagalan dalam pendaratan.
c. Kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar udara ditentukan berdasarkan rencana induk
bandar udara;
90
Direktori
Kementerian Perhubungan
d. Kawasan keselamatan operasi penerbangan bagi bandar udara yang belum mempunyai rencana induk bandar
udara ditentukan berdasarkan panjang landasan sesuai rencana pengembangan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Penyelenggara bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara
disekitarnya dikendalikan mengusulkan penetapan kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar
bandar udara kepada Menteri melalui Direktur Jenderal;
b. Penyelenggara bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan
menguslkan penetapan kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar udara kepada Bupati/
Walikota setempat dengan melampirkan pertimbangan teknis dari Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi;
c. Direktur Jenderal melakukan evaluasi usulan penetapan kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar
bandar udara terhadap aspek :
1) Rencana induk/rencana pengembangan bandar udara;
2) Tatananan kebandarudaraan nasional;
3) Keamanan dan keselamatan penerbangan;
4) Rencana Tata Ruang Wilayah.
d. Direktur Jenderal menyampaikan hasil evaluasi kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap;
e. Kawasan keselamatan operasi penerbangan di sekitar bandar udara, untuk tiap-tiap bandar udara ditetapkan
dengan Keputusan Menteri selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah hasil evaluasi dari Direktur
Jenderal diterima secara lengkap;
f. Kawasan keselamatan operasi penerbangan disekitar bandar udara, untuk tiap-tiap bandar udara ditetapkan
dengan Keputusan Bupati/Walikota setempat selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah dokumen
diterima secara lengkap.
10.Persetujuan dan Pengesahan Hasil Penelitian Daerah Lingkungan
Kerja (DLKr) Bandar Udara
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
91
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Berlaku pada Departemen Perhubungan.
Pembuatan daerah Iingkungan kerja bandar udara dilakukan dengan memperhatikan:
a. Rencana induk bandar udara atau areal untuk penempatan fasilitas pokok dan fasilitas penunjang bandar
udara;
b. Penguasaan areal tanah dan/atau perairan oleh penyelenggara bandar udara; dan
c. Rencana umum tata ruang wilayah yang ditetapkan untuk daerah ditempat bandar udara berada.
Persyaratan :
Penetapan daerah lingkungan kerja bandar udara dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Bertitik tolak dari lokasi bandar udara yang telah ditetapkan sebelumnya;
b. Luas daerah lingkungan kerja bandar udara, ditetapkan dengan memperhatikan:
1) Rencana induk bandar udara atau rencana pengembangan bandar udara atau areal untuk penempatan
fasilitas pokok dan fasilitas penunjang bandar udara;
2) Penguasaan areal tanah dan/atau perairan oleh penyelenggara bandar udara;
3) Rencana umum tata ruang wilayah yang ditetapkan untuk daerah di tempat bandar udara berada;
c. Batas daerah lingkungan kerja bandar udara ditunjukkan dengan titik koordinat.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a) Penyelenggara bandar udara pusat penyebaran dan badar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara
disekitarnya dikendalikan menyampaikan usulan penetapan daerah lingkungan kerja bandar udara kepada
Menteri melalui Direktur Jenderal, dengan melampirkan :
1) Rekomendasi Gubernur dan Bupati/Walikota setempat sebagai hasil koordinasi di tingkat daerah;
2) Hasil evaluasi terhadap daerah lingkungan kerja bandar udara yang diusulkan oleh penyelenggara bandar
udara;
3) Peta yang dilengkapi dengan titik-titik koordinat batas daerah lingkungan kerja bandar udara;
4) Surat persetujuan dari Komandan pangkalan setempat untuk pangkalan udara yang digunakan bersama
untuk melayani penerbangan sipil.
92
Direktori
Kementerian Perhubungan
b) Penyelenggara bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan
menyampaikan usulan penetapan daerah lingkungan kerja bandar udara kepada Bupati/Walikota setempat,
dengan melampirkan :
1) Hasil evaluasi terhadap daerah lingkungan kerja bandar udara yang diusulkan oleh penyelenggara bandar
udara;
2) Peta yang dilengkapi dengan titik-titik koordinat batas daerah lingkungan kerja bandar udara;
3) Pertimbangan teknis dari Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi;
4) Surat persetujuan dari Komandan pangkalan setempat untuk pangkalan udara yang digunakan bersama
untuk melayani penerbangan sipil.
c) Direktur Jenderal melakukan evaluasi terhadap usulan penetapan daerah lingkungan kerja bandar udara yang
disampaikan oleh penyelenggara bandar udara terhadap aspek :
1) Rencana pembangunan, pengoperasian dan pengembangan bandar udara;
2) Fungsi dan kegunaan dari daerah lingkungan kerja bandar udara untuk menjamin keamanan dan
keselamatan penerbangan, kelancaran serta ketertiban dalam penyelenggaraan bandar udara.
d) Direktur Jenderal menyampaikan hasil evaluasi kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap, dengan melampirkan :
1) Rekomendasi Gubernur dan Bupati/Walikota setempat;
2) Rancangan Keputusan Menteri yang dilengkapi dengan peta dan batas daerah lingkungan kerja bandar
udara;
3) Surat persetujuan dari Komandan pangkalan setempat untuk pangkalan udara yang digunakan bersama
untuk melayani penerbangan sipil.
e) Menteri menetapkan daerah lingkungan kerja bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat
penyebaran yang ruang udara disekitarnya dikendalikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah
dokumen diterima secara lengkap;
f) Bupati/Walikota menetapkan daerah lingkungan kerja bandar udara pusat penyebaran yang ruang udara di
sekitarnya tidak dikendalikan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah dokumen diterima secara
lengkap dengan memperhatikan :
1) Rencana pembangunan, pengoperasian dan pengembangan bandar udara;
2) Fungsi dan kegunaan dari daerah lingkungan kerja bandar udara untuk menjamin keamanan dan
keselamatan penerbangan, kelancaran serta ketertiban dalam penyelenggaraan bandar udara.
93
Direktori
Kementerian Perhubungan
11.Persetujuan dan Pengesahan hasil penelitian Rencana Induk
Bandar Udara
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 11 Tahun 2010 tentang Tatanan Kebandarudaraan Nasional;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara;
e. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak
yang Berlaku pada Departemen Perhubungan;
f. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: SKEP/120/VI/2002 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Pembuatan Rencana Induk Bandar Udara.
Persyaratan :
a. Penyelenggara bandar udara menyusun rencana induk bandar udara yang berlaku untuk kurun waktu 20 (dua
puluh) tahun;
b. Rencana induk bandar udara sekurang-kurangnya memuat :
1) Prakiraan permintaan kebutuhan kebutuhan pelayanan penumpang dan kargo;
2) Kebutuhan fasilitas;
3) Tata letak fasilitas;
4) Tahapan pelaksanaan pembangunan;
5) Kebutuhan dan pemanfaatan lahan;
6) Daerah lingkungan kerja;
7) Daerah lingkungan kepentingan;
8) Kawasan keselamatan operasi penerbangan; dan
9) Batas kawasan kebisingan.
94
Direktori
Kementerian Perhubungan
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Penyelenggara bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara
disekitarnya dikendalikan mengusulkan penetapan recana induk bandar udara kepada Menteri melalui Direktur
Jenderal, dengan melampirkan rekomendasi Gubernur dan Bupati/Walikota setempat dan memperhatikan
pertimbangan dari instansi terkait lainya;
b. Penyelenggara bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya tidak dikendalikan
mengusulkan penetapan rencana induk bandar udara kepada Bupati/Walikota setempat, dengan melampirkan
pertimbangan teknis dari Gubernur sebagai tugas dekonsentrasi.
c. Direktur Jenderal melakukan evaluasi terhadap usulan penetapan rencana induk bandar udara yang di-
sampaikan oleh penyelenggara bandar udara terhadap aspek :
1) Tatanan kebandarudaraan nasional;
2) Keamanan dan keselamatan penerbangan;
3) Prakiraan permintaan jasa angkutan udara;
4) Prakiraan kebutuhan fasilitas bandar udara yang berpedoman pada standar/kriteria perencanaan yang
berlaku;
5) Rencana tata guna lahan dan tata letak fasilitas bandar udara baik untuk pelayanan kegiatan pemerintah
maupun pelayanan jasa kebandarudaraan serta kebutuhan tanah dan/atau perairan untuk pengembangan
bandar udara;
6) Pentahapan waktu pelaksanaan pembangunan yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan, rencana
tata guna lahan dan tata letak fasilitas bandar udara.
d. Direktur Jenderal menyampaikan hasil evaluasi kepada Menteri selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja
setelah dokumen diterima secara lengkap;
e. Menteri menetapkan rencana induk bandar udara dengan memperhatikan hasil evaluasi Direktur Jenderal
selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah hasil evaluasi dari Direktur Jenderal diterima secara
lengkap;
f. Bupati menetapkan rencana induk bandar udara selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja setelah dokumen
diterima secara lengkap dengan memperhatikan aspek :
1) Tatanan kebandarudaraan nasional;
2) Keamanan dan keselamatan penerbangan;
3) Prakiraan permintaan jasa angkutan udara;
4) Prakiraan kebutuhan fasilitas bandar udara yang berpedoman pada standar/kriteria perencanaan yang
berlaku;
5) Rencana tata guna lahan dan tata letak fasilitas bandar udara baik untuk pelayanan kegiatan pemerintah
maupun pelayanan jasa kebandarudaraan serta kebutuhan tanah dan/atau perairan untuk pengembangan
bandar udara;
6) Pentahapan waktu pelaksanaan pembangunan yang disesuaikan dengan kemampuan pendanaan, rencana
tata guna lahan dan tata letak fasilitas bandar udara.
g. Penyelenggara bandar udara wajib melakukan evaluasi sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun
terhadap rencana induk bandar udara yang telah ditetapkan oleh Menteri atau Bupati/Walikota;
95
Direktori
Kementerian Perhubungan
h. Setiap rencana pembangunan fasilitas bandar udara pusat penyebaran dan bandar udara bukan pusat
penyebaran yang ruang udara di sekitarnya dikendalikan yang tidak sesuai dengan rencana induk wajib
mendapat persetujuan dari Menteri setelah mendapat pertimbangan teknis dari Direktur Jenderal; dan
i. Setiap rencana pembangunan fasilitas bandar udara bukan pusat penyebaran yang ruang udara di sekitarnya
tidak dikendalikan yang tidak sesuai dengan rencana induk wajib mendapat persetujuan dari Bupati/Walikota
setempat.
12.Sertifikat Kecakapan Pemandu Parkir Pesawat Udara (SKP3U)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Drektur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/100/XI/1985 tentang Peraturan dan Tata Tertib
Bandar Udara;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 04/I/1997 Tentang Sertifikat Kecakapan
Pemandu Parkir Pesawat Udara, Sertifikat Kecakapan Operator Garbarata, dan Sertifikat Kecakapan Operator
Peralatan Pelayanan Darat Pesawat Udara.
Persyaratan :
a. Lulus pemeriksaan kesehatan (medical check-up)
b. Lulus pendidikan dan pelatihan pemandu parkir pesawat udara dan Appron Movement Control (AMC); dan
c. Lulus ujian evaluasi teori dan praktek yang diadakan oleh Direktorat Keamanan Penerbangan, Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan sertifikat kecakapan diajukan oleh instansi atau perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja kepada
Kepala Direktorat Keamanan Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Masa berlaku :
Berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkannya sertifikat kecakapan pemandu parkir pesawat udara dan
dapat diperpanjang.
96
Direktori
Kementerian Perhubungan
13.Sertifikat Kecakapan Operator Garbarata (SKOG)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Drektur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/100/XI/1985 tentang Peraturan dan Tata Tertib
Bandar Udara;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 04/I/1997 tentang Sertifikat Kecakapan Pemandu
Parkir Pesawat Udara, Sertifikat Kecakapan Operator Garbarata, dan Sertifikat Kecakapan Operator Peralatan
Pelayanan Darat Pesawat Udara.
Persyaratan :
a. Lulus pemeriksaan kesehatan (medical check-up);
b. Lulus pendidikan dan pelatihan operator garbarata dan Appron Movement Control (AMC); dan
c. Lulus ujian evaluasi teori dan praktek yang diadakan oleh Direktorat Keamanan Penerbangan, Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan sertifikat kecakapan diajukan oleh instansi atau perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja kepada
Kepala Direktorat Keselamatan Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Masa berlaku :
Berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkannya sertifikat kecakapan pemandu parkir pesawat udara dan
dapat diperpanjang.
14.Sertifikat Kecakapan Operator Peralatan Pelayanan Darat Pesawat
Udara (SKOP2DPU)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Drektur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/100/XI/1985 tentang Peraturan dan Tata Tertib
Bandar Udara;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 04/I/1997 tentang Sertifikat Kecakapan Pemandu
Parkir Pesawat Udara, Sertifikat Kecakapan Operator Garbarata, dan Sertifikat Kecakapan Operator Peralatan
Pelayanan Darat Pesawat Udara.
97
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Lulus pemeriksaan kesehatan (medical check-up);
b. Lulus pendidikan dan pelatihan operator peralatan pelayanan darat pesawat udara dan /atau Approve Movement
Control (AMC); dan
c. Pemohon sertifikat kecakapan diajukan oleh instansi atau perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja
kepada Kepala Direktorat Keselamatan Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permonan sertifikat kecakapan diajukan oleh instansi atau perusahaan tempat yang bersangkutan bekerja kepada
Kepala Direktorat Keselamatan Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Masa berlaku :
Berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkannya sertifikat kecakapan pemandu parkir pesawat udara dan
dapat diperpanjang.
15.Sertifikat Kecakapan Basic Air Traffic Service (BATS)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 171/VII/1997 tentang Sertifikat Kecakapan dan
Rating Pemandu Komunikasi Penerbangan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 12 Tahun 2009 (PKPS 69) tentang Persyaratan Lisensi, rating,
pelatihan dan kecakapan bagi personil pemandu lalu lintas udara.
Persyaratan :
a. Personil yang telah lulus diklat atau Diploma I BATS (Basic Air Traffic Service);
b. Usia pemegang sertifikat tidak boleh kurang dari 18 (delapan belas) tahun;
c. Lulus ujian (teori, praktek, kesehatan);
98
Direktori
Kementerian Perhubungan
d. Pengetahuan pemohon untuk tingkat pengetahuan yang sesuai bagi pemegang licence operator komunikasi
penerbangan, minimal pokok-pokok sebagai berikut :
1) Pengetahuan umum, tentang pelayanan lalu lintas udara dalam Negara;
2) Prosedur operasional, radio telephony, phraseology, jaringan telekomunikasi;
3) Peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang diterapkan oleh operator telekomunikasi penerbangan;
dan
4) Prinsip-prinsip peralatan komunikasi, kegunaan dan keterbatasan peralatan dalam stasiun aeronautika.
e. Pemohon harus memiliki pengalaman :
1) Menyelesaikan pelatihan dalam masa 12 (dua belas) bulan segera mengajukan permohonan dan telah
melakukan praktek kerja dibawah pengawasan personel berkualifikasi tidak kurang dari 2 (dua) bulan;
atau
2) Melakukan praktek kerja di bawah pengawasan personel berkualifikasi tidak kurang dari 6 (enam) bulan
selama masa 12 (dua belas) bulan segera mengajukan permohonan.
f. Keterampilan. Pemohon harus unjuk kompetensi dalam hal:
1) Mengoperasikan peralatan komunikasi; dan
2) Mengirim dan menerima pesan radio telephony secara efisiensi dan akurat.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Surat permohonan diajukan oleh yang bersangkutan kepada Direktur Navigasi Penerbangan;
b. Mengisi formulir pengajuan dan menyertakan kelengkapannya yang terdiri dari:
1) Fotokopi STTPL (Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Latihan) bidang komunikasi penerbangan sesuai
dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
2) Fotokopi KTP;
3) Surat keterangan sehat jasmani & rohani dari dokter pemerintah;
4) Pas foto berwarna ukuran 25 mm x 30 mm sebanyak 3 (tiga) lembar;
5) Sertifikat kecakapan yang lama (untuk perpanjangan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian sertifikat dilakukan selambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah pemohon dinyatakan lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
16.Sertifikat Kecakapan Flight Service Officer (FSO)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 171/VII/1997 tentang Sertifikat Kecakapan dan
Rating Pemandu Komunikasi Penerbangan;
99
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 12 Tahun 2009 (PKPS 69) Tentang Persyaratan Lisensi, rating,
pelatihan dan kecakapan bagi personil pemandu lalu lintas udara.
Persyaratan :
a. Personil yang telah lulus diklat Diploma II FSO (Flight Service Officer);
b. Usia pemegang sertifikat tidak boleh kurang dari 18 (delapan belas) tahun;
c. Lulus ujian (teori, praktek, kesehatan);
d. Pengetahuan pemohon untuk tingkat pengetahuan yang sesuai bagi pemegang licence operator komunikasi
penerbangan, minimal pokok-pokok sebagai berikut :
1) Pengetahuan umum, tentang pelayanan lalu lintas udara dalam Negara;
2) Prosedur operasional, radio telephony, phraseology, jaringan telekomunikasi;
3) Peraturan-peraturan dan regulasi-regulasi yang diterapkan oleh operator telekomunikasi penerbangan;
dan
4) Prinsip-prinsip peralatan komunikasi, kegunaan dan keterbatasan peralatan dalam stasiun aeronautika.
e. Pemohon harus memiliki penagalaman :
1) Menyelesaikan pelatihan dalam masa 12 (dua belas) bulan segera mengajukan permohonan dan telah
melakukan praktek kerja dibawah pengawasan personel berkualifikasi tidak kurang dari 2 (dua) bulan;
atau
2) Melakukan praktek kerja di bawah pengawasan personel berkualifikasi tidak kurang dari 6 (enam) bulan
selama masa 12 (dua belas) bulan segera mengajukan permohonan.
f. Keterampilan. Pemohon harus unjuk kompetensi dalam hal :
1) Mengoperasikan peralatan komunikasi; dan
2) Mengirim dan menerima pesan radio telephony secara efisiensi dan akurat.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Surat permohonan diajukan oleh yang bersangkutan kepada Direktur Navigasi Penerbangan;
b. Mengisi formulir pengajuan dan menyertakan kelengkapannya yang terdiri dari:
1) Fotokopi STTPL (Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Latihan) bidang komunikasi penerbangan sesuai
dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
2) Fotokopi KTP;
3) Surat keterangan sehat jasmani & rohani dari dokter pemerintah;
4) Pas foto berwarna ukuran 25 mm x 30 mm sebanyak 3 (tiga) lembar;
5) Sertifikat kecakapan yang lama (untuk perpanjangan).
100
Direktori
Kementerian Perhubungan
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian sertifikat dilakukan selambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah pemohon dinyatakan lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
17.Sertifikat Kecakapan Junior Air Traffic Controller (JATC)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 172/VII/1997 tentang Sertifikat Kecakapan dan
Rating Pemandu Komunikasi Penerbangan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 12 Tahun 2009 (PKPS 69) tentang Persyaratan Lisensi, rating,
pelatihan dan kecakapan bagi personil pemandu lalu lintas udara.
Persyaratan :
a. Lulus diklat bidang ATS;
b. Usia pemegang sertifikat 21 65 tahun;
c. Lulus ujian (teori, praktek, kesehatan, ICAO Language Proficiency)
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Surat permohonan diajukan kepada Direktur Navigasi Penerbangan
b. Surat permohonan dilengkapi dengan :
1) Mengisi formulir;
2) Foto copy ijazah ATC;
3) Surat keterangan memiliki kemampuan, ketrampilan dan pengalaman;
4) Surat keterangan sehat jasmani dari Dokter pemerintah;
5) Pas foto berwarna ukura 25 mm x 30 mm sebanyak 3 (tiga) lembar;
6) Foto copy sertifikat ICAO language proficiency.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian sertifikat dilakukan selambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah pemohon dinyatakan lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.

101
Direktori
Kementerian Perhubungan
18.Sertifikat Kecakapan Senior Air Traffic Controller (SATC)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 172/VII/1997 tentang Sertifikat Kecakapan dan
Rating Pemandu Komunikasi Penerbangan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 12 Tahun 2009 (PKPS 69) tentang Persyaratan Lisensi, rating,
pelatihan dan kecakapan bagi personil pemandu lalu lintas udara.
Persyaratan :
a. Lulus diklat bidang ATS;
b. Usia pemegang sertifikat 21 65 tahun;
c. Lulus ujian (teori, praktek, kesehatan, ICAO Language Proficiency).
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Surat permohonan diajukan kepada Direktur Navigasi Penerbangan;
b. Surat permohonan dilengkapi dengan :
1) Mengisi formulir;
2) Foto copy ijazah ATC;
3) Surat keterangan memiliki kemampuan, ketrampilan dan pengalaman;
4) Surat keterangan sehat jasmani dari Dokter pemerintah;
5) Pas foto berwarna ukuran 25 mm x 30 mm sebanyak 3 (tiga) lembar;
6) Foto copy sertifikat ICAO language proficiency.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian sertifikat dilakukan selambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah pemohon dinyatakan lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
19.Sertifikat Kecakapan Junior Aeronautical Information Service
Officer (JAISO)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 08/II/1999 tentang Sertifikat Kecakapan dan
Rating Pelayanan Informasi Aeronatika.
102
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Personil yang telah lulus pendidikan dan pelatihan Diploma II Pengatur Pelayanan Informasi Aeronautika atau
Diploma III Penilik Pelayanan Informasi Aeronautika;
b. Personil yang telah lulus diklat lain dibidang pelayanan informasi aeronautika (dalam dan luar negeri) yang
diakui oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara;
c. Usia pemegang sertifikat adalah 18 60 tahun;
d. Lulus ujian teori, ujian praktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Surat permohonan diajukan oleh Calon Petugas Pelayanan Informasi Aeronautika kepada Direktur Navigasi
Penerbangan;
b. Surat permohonan dilengkapi dengan :
1) Salinan STTPL bidang pelayanan informasi aeronautika yang sesuai dengan sertifikat kecakapan yang
dimohon;
2) Salinan KTP;
3) Surat keterangan sehatt jasmani dan rohani dari dokter pemerintah;
4) Pas photo terbaru 2 x 3 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
5) Sertifikat kecakapan yang lama (khusus bagi pemohon peningkatan dan perpanjangan Sertifikat
Kecakapan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian sertifikat dilakukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah pemohonan Sertifikat
dinyatakan lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
20.Sertifikat Kecakapan Senior Aeronautical Information Service
Officer (SAISO)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP 08/
II/1999 tentang Sertifikat Kecakapan dan Rating Pelayanan Informasi
Aeronatika.
Persyaratan :
a. Personil yang telah lulus pendidikan dan pelatihan Diploma II Pengatur
Pelayanan Informasi Aeronautika atau Diploma III Penilik Pelayanan
Informasi Aeronautika;
b. Personil yang telah lulus diklat lain dibidang pelayanan informasi
aeronautika (dalam dan luar negeri) yang diakui oleh Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara;
103
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Usia pemegang sertifikat adalah 18 60 tahun;
d. Lulus ujian teori, ujian praktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Surat permohonan diajukan oleh Calon Petugas Pelayanan Informasi Aeronautika kepada Direktur Navigasi
Penerbangan;
b. Surat permohonan dilengkapi dengan :
1) Salinan STTPL bidang pelayanan informasi aeronautika yang sesuai dengan sertifikat kecakapan yang
dimohon;
2) Salinan KTP;
3) Surat keterangan sehatt jasmani dan rohani dari dokter pemerintah;
4) Pas photo terbaru 2 x 3 cm sebanyak 3 (tiga) lembar;
5) Sertifikat kecakapan yang lama (khusus bagi pemohon peningkatan dan perpanjangan Sertifikat
Kecakapan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian sertifikat dilakukan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah pemohonan Sertifikat
dinyatakan lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
21.Sertifikat Kecakapan Petugas Penanganan Pengangkutan Barang
dan/atau Bahan Berbahaya dengan Pesawat Udara (Sertifikat
Kecakapan A)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 1989 tentang Penertiban Penumpang, Barang dan Kargo
yang diangkut Pesawat Udara Sipil;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/40/II/1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 1989 tentang Penertiban Penumpang, Barang dan Kargo
yang diangkut Pesawat Udara Sipil;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/275/XII/1998 tentang Pengangkutan Bahan
dan/atau Barang Berbahaya dengan Pesawat Udara;
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/293/XI/1999 tentang Sertifikat Kecakapan Petugas
Penanganan Pengangkutan Bahan dan/atau Barang Berbahaya dengan Pesawat Udara.
104
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani termasuk tidak buta warna;
b. Pendidikan minimal SLTA atau yang sederajat;
c. Lulus pendidikan dan pelatihan bidang penanganan bahan dan/atau barang berbahaya program A (Dangerous
Good Training Programme A);
d. Lulus ujian teori, ujian praktek dan pengujian kesehatan;
e. Sertifikat Kecakapan Petugas Penanganan Pengangkutan Bahan dan/atau Barang Berbahaya A (Sertifikat
Kecakapan A) untuk :
1) Shippers staff;
2) Airlines cargo acceptance staff;
3) Cargo agents staff;
4) Postal acceptance staff; dan
5) Packers.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan Sertifikat Kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara;
b. Surat permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani termasuk tidak buta warna dari dokter;
2) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
3) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
4) Fotokopi KTP; dan
5) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
22.Sertifikat Kecakapan Petugas Penanganan Pengangkutan Barang
dan/atau Bahan Berbahaya dengan Pesawat Udara (Sertifikat
Kecakapan B)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 1989 tentang Penertiban Penumpang, Barang dan Kargo
yang diangkut Pesawat Udara Sipil;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/40/II/1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan
105
Direktori
Kementerian Perhubungan
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 14 Tahun 1989 tentang Penertiban Penumpang, Barang dan Kargo
yang diangkut Pesawat Udara Sipil;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/275/XII/1998 tentang Pengangkutan Bahan
dan/atau Barang Berbahaya dengan Pesawat Udara;
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/293/XI/1999 tentang Sertifikat Kecakapan Petugas
Penanganan Pengangkutan Bahan dan/atau Barang Berbahaya dengan Pesawat Udara.
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani termasuk tidak buta warna;
b. Pendidikan minimal SLTA atau yang sederajat;
c. Lulus pendidikan dan pelatihan bidang penanganan bahan dan/atau barang berbahaya program B (Dangerous
Good Training Programme B);
d. Lulus ujian teori, ujian praktek dan pengujian kesehatan;
e. Sertifikat Kecakapan Petugas Penanganan Pengangkutan Bahan dan/atau Barang Berbahaya B (Sertifikat
Kecakapan B) untuk :
1) Warehouse staff; dan
2) Loading/Unloading sepervisor.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan Sertifikat Kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara;
b. Surat permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani termasuk tidak buta warna dari dokter;
2) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
3) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
4) Fotokopi KTP; dan
5) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar.
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
106
Direktori
Kementerian Perhubungan
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
23.Sertifikat Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan
Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (Sertifikat Kecakapan PKP-
PK Basic)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/94/IV/1998 tentang Persyaratan Teknis dan
Operasional Fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/57/IV/1999 tentang Pemindahan Pesawat
Udara dan Doc. ICAO 9137 AN 898 Part 1,5, dan 7;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/345/XII/1999 tentang Sertifikat kecakapan petugas
dan teknisi perawatan kendaraan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta petugas
salvage.
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani;
b. Lulus pendidikan dan pelatihan PKP-PK minimal Basic;
c. Pendidikan minimal SLTA berlaku bagi personil yang bertugas di unit PKP-PK mulai Tahun 1995; dan
d. Bagi pengemudi kendaraan PKP-PK wajib memiliki Surat Izin Mengemudi minimal B.I; dan
e. Lulus ujian teori, ujian paktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter;
2) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
3) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
4) Fotokopi KTP;
5) Fotokopi Kartu Pegawai;
6) Fotokopi surat Izin mengemudi minimal B I, bagi pengemudi kendaraan PKP-PK;
7) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar; dan
8) Fotokopi sertifikat kecakapan yang dimiliki (khusus untuk pemohon peningkatan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
107
Direktori
Kementerian Perhubungan
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
24.Sertifikat Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan
Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (Sertifikat Kecakapan PKP-
PK Yunior)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/94/IV/1998 tentang Persyaratan Teknis dan
Operasional Fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/57/IV/1999 tentang Pemindahan Pesawat
Udara dan Doc. ICAO 9137 AN 898 Part 1,5, dan 7;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/345/XII/1999 tentang Sertifikat kecakapan petugas
dan teknisi perawatan kendaraan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta petugas
salvage.
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani;
b. Lulus pendidikan dan pelatihan PKP-PK minimal Yunior;
c. Pendidikan minimal SLTA berlaku bagi personil yang bertugas di unit PKP-PK mulai Tahun 1995; dan
d. Bagi pengemudi kendaraan PKP-PK wajib memiliki Surat Izin Mengemudi minimal B.I; dan
f. Lulus ujian teori, ujian paktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter;
2) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
3) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
4) Fotokopi KTP;
5) Fotokopi Kartu Pegawai;
6) Fotokopi surat Izin mengemudi minimal B I, bagi pengemudi kendaraan PKP-PK;
108
Direktori
Kementerian Perhubungan
7) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar; dan
8) Fotokopi sertifikat kecakapan yang dimiliki (khusus untuk pemohon peningkatan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
25.Sertifikat Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan
Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (Sertifikat Kecakapan PKP-
PK Senior)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/94/IV/1998 tentang Persyaratan Teknis dan
Operasional Fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/57/IV/1999 tentang Pemindahan Pesawat
Udara dan Doc. ICAO 9137 AN 898 Part 1,5, dan 7;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/345/XII/1999 tentang Sertifikat kecakapan petugas
dan teknisi perawatan kendaraan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta petugas
salvage.
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani;
b. Lulus pendidikan dan pelatihan PKP-PK minimal Senior;
109
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Memiliki Mualim Pelayaran Terbatas bagi yang mengambil Rating RB;
d. Pendidikan minimal SLTA berlaku bagi personil yang bertugas di unit PKP-PK mulai Tahun 1995; dan
e. Bagi pengemudi kendaraan PKP-PK wajib memiliki Surat Izin Mengemudi minimal B.I; dan
f. Lulus ujian teori, ujian paktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter;
2) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
3) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
4) Fotokopi KTP;
5) Fotokopi Kartu Pegawai;
6) Fotokopi surat Izin mengemudi minimal B I, bagi pengemudi kendaraan PKP-PK;
7) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar; dan
8) Fotokopi sertifikat kecakapan yang dimiliki (khusus untuk pemohon peningkatan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
26.Sertifikat Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan
Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (Sertifikat Kecakapan PKP-
PK Advance)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/94/IV/1998 tentang Persyaratan Teknis dan
Operasional Fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/57/IV/1999 tentang Pemindahan Pesawat
Udara dan Doc. ICAO 9137 AN 898 Part 1,5, dan 7;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/345/XII/1999 tentang Sertifikat kecakapan petugas
dan teknisi perawatan kendaraan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta petugas
salvage.
110
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani;
b. Pendidikan minimal D.III PKP-PK atau yang sederajat;
c. Lulus pendidikan dan pelatihan PKP-PK minimal Advance;
d. Memiliki Mualim Pelayaran Terbatas bagi yang mengambil Rating RB;
e. Bagi pengemudi kendaraan PKP-PK wajib memiliki Surat Izin Mengemudi minimal B.I; dan
f. Lulus ujian teori, ujian paktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter;
2) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
3) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
4) Fotokopi KTP;
5) Fotokopi Kartu Pegawai;
6) Fotokopi surat Izin mengemudi minimal B I, bagi pengemudi kendaraan PKP-PK;
7) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar; dan
8) Fotokopi sertifikat kecakapan yang dimiliki (khusus untuk pemohon peningkatan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
27.Sertifikat Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan
Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (Sertifikat Kecakapan TPK-
PKPPK)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/94/IV/1998 tentang Persyaratan Teknis dan
Operasional Fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/57/IV/1999 tentang Pemindahan Pesawat
Udara dan Doc. ICAO 9137 AN 898 Part 1,5, dan 7;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/345/XII/1999 tentang Sertifikat kecakapan petugas
dan teknisi perawatan kendaraan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta petugas
salvage.
111
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani;
b. Lulus pendidikan atau pelatihan teknisi perawatan kendaraan PKP-PK sesuai dengan jenis kendaraan dan
tingkat perawaan;
c. Pendidikan minimal SLTA berlaku bagi personil yang bertugas di unit PKP-PK mulai Tahun 1995; dan
d. Lulus ujian teori, ujian paktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter;
2) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
3) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
4) Fotokopi KTP;
5) Fotokopi Kartu Pegawai;
6) Fotokopi surat Izin mengemudi minimal B I, bagi pengemudi kendaraan PKP-PK;
7) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar; dan
8) Fotokopi sertifikat kecakapan yang dimiliki (khusus untuk pemohon peningkatan).
112
Direktori
Kementerian Perhubungan
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
28.Sertifikat Kecakapan Petugas dan Teknisi Perawatan Kendaraan
Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (Sertifikat Kecakapan
Salvage)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/94/IV/1998 tentang Persyaratan Teknis dan
Operasional Fasilitas Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran;
c. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/57/IV/1999 tentang Pemindahan Pesawat
Udara dan Doc. ICAO 9137 AN 898 Part 1,5, dan 7;
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara No. SKEP/345/XII/1999 tentang Sertifikat kecakapan petugas
dan teknisi perawatan kendaraan pertolongan kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran serta petugas
salvage.
Persyaratan :
a. Sehat jasmani dan rohani;
b. Lulus pendidikan atau pelatihan salvage pesawat udara;
c. Pendidikan minimal SLTA berlaku bagi personil yang bertugas di unit PKP-PK mulai Tahun 1995; dan
d. Lulus ujian teori, ujian paktek dan pengujian kesehatan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara.
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari dokter;
2) Fotokopi sertifikat pendidikan dan pelatihan sesuai dengan sertifikat kecakapan yang dimohon;
3) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) terakhir;
4) Fotokopi KTP;
5) Fotokopi Kartu Pegawai;
6) Fotokopi surat Izin mengemudi minimal B I, bagi pengemudi kendaraan PKP-PK;
7) Pas foto terbaru dan berwarna, dengan latar belakang merah serta berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 (empat)
lembar; dan
8) Fotokopi sertifikat kecakapan yang dimiliki (khusus untuk pemohon peningkatan).
113
Direktori
Kementerian Perhubungan
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan diberikan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa berlaku :
Masa berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
29.Sertifikat Kecakapan Personil Keamanan Penerbangan
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/160/VIII/2008 tentang Sertifikat Kecakapan
Personil Pengamanan Penerbangan Sipil.
Persyaratan :
a. Usia minimal 18 tahun;
b. Sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna;
c. Pendidikan umum minimal Sekolah Menengah Umum/sederajat;
d. Untuk Sertifikat Kecakapan Junior Avsec telah memiliki Sertifikat Kecakapan Basic Avsec;
e. Untuk Sertifikat Kecakapan Senior Avsec telah memiliki Sertifikat Kecakapan Junior Avsec;
f. Lulus pendidikan dan pelatihan Avsec sesuai tingkat Sertifikat Kecakapan yang dimohon;
g. Lulus ujian teori dan praktek untuk mendapatkan Sertifikat Kecakapan.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan sertifikat kecakapan diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara;
b. Surat Permohonan dilengkapi dengan :
1) Surat keterangan sehat jasmani dan rohani serta tidak buta warna dari Balai Kesehatan Penerbangan
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara atau Dokter Umum;
2) Fotokopi Surat Tanda Tamat Belajar (STTB) atau ijazah terakhir yang yelah dilegalisir;
3) Fotokopi tanda lulus pendidikan dan pelatihan Avsec sesuai dengan Sertifikat Kecakapan yang dimohon;
4) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP);
5) Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK);
6) Pas photo berukuran 2 x 3 cm sebanyak 4 lembar, terbaru dan berwarna dengan berlatar belakang merah;
7) Fotokopi Sertifikat Kecakapan (khusus untuk pemohon peningkatan Sertifikat Kecakapan).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberian Sertifikat Kecakapan dilakukan dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak Pemohon dinyatakan
lulus ujian.
Masa Berlaku :
Sertifikat berlaku selama 2 (dua) tahun sejak tanggal dikeluarkan dan dapat diperpanjang.
114
Direktori
Kementerian Perhubungan
30.Sertifikat Kesehatan Personil Penerbangan (Sertifikat Kesehatan
Kelas Satu)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 75 Tahun 2000 tentang Standar Sertifikasi Kesehatan Personil
Penerbangan;
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/62/V/2004 tentang Sertifikat Kesehatan personil
Penerbangan;
f. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/131/VII/2007 tentang Perubahan atas
Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: SKEP/62/V/2004 tentang Sertifikat Kesehatan
Personil Penerbangan.
Persyaratan :
a. Lulus pengujian kesehatan;
b. Sehat setelah dilakukan pengujian ulang dan / pengujian kesehatan untuk terbang (medical flight test)
c. Sertifikat kesehatan kelas 1 diberikan kepada :
1) Airlines transport pilot;
2) Commercial pilot;
3) Flight navigator;
4) Flight engineer.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan untuk memperoleh sertifikat kesehatan dapat diajukan oleh perorangan atau institusi/perusahaan
yang mempekerjakan personil penerbangan;
b. Permohonan diajukan kepada Dirjen Perhubungan Udara melalui Kepala Balai Kesehatan Penerbangan
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan melampirkan:
1) Pas foto berwarna terbaru berukuran 4 cm x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar (khusus untuk permohonan
pemula);
2) Daftar isi riwayat kesehatan yang telah diisi;
3) Fotokopi sertifikat kesehatan terakhir;
4) Hasil pengujian kesehatan dari dokter umum yang telah memiliki izin penguji kesehatan.
115
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Untuk memperoleh sertifikat kesehatan dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
Masa berlaku :
Sertifikat kesehatan kelas I berlaku untuk jangka waktu 6 bulan.
31.Sertifikat Kesehatan Personil Penerbangan (Sertifikat Kesehatan
Kelas Dua)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 75 Tahun 2000 tentang Standar Sertifikasi Kesehatan Personil
Penerbangan;
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/62/V/2004 tentang Sertifikat Kesehatan personil
Penerbangan;
f. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/131/VII/2007 tentang Perubahan atas
Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: SKEP/62/V/2004 tentang Sertifikat Kesehatan
Personil Penerbangan.
Persyaratan :
a. Lulus pengujian kesehatan;
b. Sehat setelah dilakukan pengujian ulang dan / pengujian kesehatan untuk terbang (medical flight test)
c. Sertifikat kesehatan kelas II diberikan kepada :
1) Air traffic contoller;
2) Private pilot;
3) Sport pilot;
4) Student pilot;
5) Flight attendent.
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan untuk memperoleh sertifikat kesehatan dapat diajukan oleh perorangan atau institusi/perusahaan
yang mempekerjakan personil penerbangan;
b. Permohonan diajukan kepada Dirjen Perhubungan Udara melalui Kepala Balai Kesehatan Penerbangan
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan melampirkan:
1) Pasfoto berwarna terbaru berukuran 4 cm x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar (khusus untuk permohonan
pemula);
2) Daftar isi riwayat kesehatan yang telah diisi;
3) Fotokopi sertifikat kesehatan terakhir;
4) Hasil pengujian kesehatan dari dokter umum yang telah memiliki izin penguji kesehatan.
116
Direktori
Kementerian Perhubungan
c. Terhadap pemohon yang belum memiliki hasil pengujian kesehatan, dilakukan pengujian kesehatan;
d. Untuk memperoleh sertifikat kesehatan dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
Masa berlaku :
Sertifikat kesehatan kelas II berlaku untuk jangka waktu 12 (dua belas) bulan.
32.Sertifikat Kesehatan Personil Penerbangan (Sertifikat Kesehatan
Kelas Tiga)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
d. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 75 Tahun 2000 tentang Standar Sertifikasi Kesehatan Personil
Penerbangan;
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/62/V/2004 tentang Sertifikat Kesehatan personil
Penerbangan;
f. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/131/VII/2007 tentang Perubahan atas
Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor: SKEP/62/V/2004 tentang Sertifikat Kesehatan
Personil Penerbangan.
Persyaratan :
a. Lulus pengujian kesehatan;
b. Sehat setelah dilakukan pengujian ulang dan / pengujian kesehatan untuk terbang (medical flight test)
c. Sertifikat kesehatan kelas III diberikan kepada :
1) Flight operator officer;
2) Basic air traffic services;
3) Flight service officer;
4) Aircraft maintenance engineer;
5) Petugas pelayanan informasi aeronautika;
6) Teknisi elektronika penerbangan;
7) Teknisi listrik penerbangan;
8) Petugas pemandu parkir pesawat udara;
9) Petugas perolongan kecelakaan pesawat dan pemadam kebakaran (PKP-PK);
10) Operator garbarata;
11) Operator peralatan pelayanan darat pesawat udara;
12) Teknisi perawatan kendaraan dan peralatan PKP-PK;
13) Petugas salvage;
14) Petugas pengujian barang dan penumpang di bandar udara;
15) Petugas penanganan dan pengangkutan bahan dan/ atau barang berbahaya dengan pesawat udara.
117
Direktori
Kementerian Perhubungan
Prosedur Pengajuan Permohonan :
a. Permohonan untuk memperoleh sertifikat kesehatan dapat diajukan oleh perorangan atau institusi/perusahaan
yang mempekerjakan personil penerbangan;
b. Permohonan diajukan kepada Dirjen Perhubungan Udara melalui Kepala Balai Kesehatan Penerbangan
Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dengan melampirkan:
1) Pasfoto berwarna terbaru berukuran 4 cm x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar (khusus untuk permohonan
pemula);
2) Daftar isi riwayat kesehatan yang telah diisi;
3) Fotokopi sertifikat kesehatan terakhir;
4) Hasil pengujian kesehatan dari dokter umum yang telah memiliki izin penguji kesehatan.
c. Terhadap pemohon yang belum memiliki hasil pengujian kesehatan, dilakukan pengujian kesehatan;
d. Untuk memperoleh sertifikat kesehatan dikenakan biaya sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku.
Masa berlaku :
Sertifikat kesehatan kelas III berlaku untuk jangka waktu 12 (dua belas) bulan.
33.Penerbitan Sertifikat Operator Penerbangan (Air Operator
Certificate)
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1995 tentang Angkutan Udara sebagaimana telah diubah terakhir
dengan Peraturan Pemerintah nomor 3 Tahun 2003;
c. Peraturan Pemerintah nomor 3 Tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan Penerbangan;
d. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.
Untuk dapat berusaha dibidang angkutan udara, suatu perusahaan harus memiliki 2 (dua) Izin yaitu :
a. Izin usaha angkutan udara (lihat persyaratan Izin usaha angkutan udara);
b. Air Operator Certificate (AOC).
Persyaratan memperoleh AOC :
a. Memiliki Izin usaha angkutan udara;
b. Lulus dalam sertifikasi teknis dan operasional.
Sertifikasi teknis dan operasional dilakukan untuk memastikan dipenuhinya persyaratan-persyaratan teknis dan
operasional dalam Lampiran Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 22 Tahun 2002 tentang Civil Aviation
Safety Regulations (CASR) Part 121 atau Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 17 Tahun 2003 tentang
Civil Aviation Safety Regulations (CASR) Part 135. Pada dasarnya proses sertifikasi teknis dan operasional
dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan perusahaan penerbangan dalam memenuhi persyaratan sumber
daya yang meliputi :
118
Direktori
Kementerian Perhubungan
1) Kemampuan teknis dan operasional, terdiri dari :
a) Fasilitas kantor, hangar, penunjang pengoperasian;
b) Peralatan kantor, perawatan pesawat udara, penunjang pengoperasian;
c) Pesawat udara;
d) Sistem dan prosedur jaminan mutu, keselamatan dan keamanan;
e) Kualifikasi sumber daya manusia;
f) Manual/buku-buku panduan mutu, keselamatan dan kemanan;
2) Kemampuan keuangan, terdiri dari :
a) Mampu untuk memulai usahanya;
b) Mampu untuk bertahan selama 6 (enam) bulan ke depan sejak memulai kegiatan.
Prosedur pengajuan permohonan :
Permohonan diajukan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara selambat-lambatnya 60 (enam
puluh) hari sebelum hari dimulainya pengoperasian pesawat udara.
Penyelesaian Permohonan :
Penyelesaian proses sertifikasi AOC dilakukan melalui 5 fase, yaitu :
a. Pre-Aplikasi
Fase ini dilakukan untuk memastikan bahwa pemohon telah memiliki sumber daya sebagaimana yang
dipersyaratkan dalam Lampiran Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 22 Tahun 2002 tentang Civil
Aviation Safety Regulations (CASR) Pasrt 135. Apabila pemohon telah dinilai memenuhi persyaratan dan dapat
melanjutkan ke fase berikutnya, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan memberikan formulir-formulir
sebagai berikut :
1) Pre Application Statement of Interat (Pernyataan Keinginan Pemohon AOC);
2) Certification Job Aids (Panduan Kerja Sertifikasi);
3) Operation Specifications Questionnaire (Daftar Pernyataan Spesifikasi Operasi);
4) Contoh Formal Letter (Contoh Surat Permohonan Resmi).
Selanjutnya Direktur Jenderal Perhubungan Udara membentuk Tim Sertifikasi yang paling sedikit terdiri atas 2
orang inspektur operasi pesawat udara. Besar kecilnya Tim tergantung kepada berapa besar rencana perusahaan
tersebut yang akan diketahui pada fase Pre-Aplikasi. Tim dipimpin oleh Certification Project Manager, salah satu
dari inspektur operasi pesawat udara tersebut. Kepada pemohon juga diminta untuk membentuk Tim sebagai
mitra kerja Tim Sertifikasi AOC.
b. Aplikasi Formal
Pada fase ini, Pemohon mengirim surat permohonan resmi ke Ditjen Hubud sesuai dengan formulir yang telah
diberikan pada fase pre-aplikasi dengan melampirkan hal-hal sebagai berikut :
1) Schedule of Event;
2) Company Manuals (buku-buku panduan perusahaan);
3) Company Training Programs (buku-buku panduan diklat);
4) Management Qualificarion Resume (ringkasan kualifikasi personil kunci);
119
Direktori
Kementerian Perhubungan
5) Document of Purchase, Contract of Leasing (dokumen pembelian pesawat, kontrak atau sewa pesawat
udara);
6) Initial Compliance Statement (pernyataan awal pemenuhan persyaratan-persyaratan);
7) Neraca Keuangan, dengan posisi tidak boleh lebih dari 60 hari sebelum tanggal permohonan AOC;
8) Projeksi seluruh sumber-sumber dan penggunaan dana selama 6 (enam) bulan ke depan, dihitung dari
bulan dimana diperkirakan AOC akan diperoleh.
c. Evaluasi Pemenuhan Persyaratan Dokumen
Pada fase ini dilaksanakan evaluasi terhadap dokumen sebagai berikut yang merupakan rincian dari dokumen
pada fase Aplikasi Formal :
1) Compliance Statement;
2) Management Qualification;
3) Company Operating Manual;
4) Company Maintenance Manual;
5) Company Safety Manual;
6) Dangerous Goods Manual;
7) Station Manual;
8) Emergency Respone Manual;
9) Aviation Security Programs;
10) Training Program Manual;
11) Operations Specifications;
12) Aircraft Flight Manual;
13) Aircraft Operation Manual;
14) Quick Reference Handbook;
15) Minimum Equipment List;
16) Charge Data List;
17) Airport Runway Analysis;
18) Flight Attendant Manual;
19) Flight Operation Officer Manual;
20) Maintenance Technical Manuals;
21) Kontrak-kontrak pembelian, penyewaan, perawatan, fasilitas station, ground handling, dll.
d. Demo dan Inspeksi
Pada fase ini Tim Sertifikat AOC melakukan pemeriksaan fisik terhadap kebenaran pernyataan-pernyataan dalam
dokumen yang diserahkan Pemohon kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Di bidang pengoperasian
pesawat udara, dilakukan pemeriksaan fisik terhadap fasilitas pengoperasian di pangkalan utama maupun di
stasiun di bandar udara bandar udara yang disinggahi dan fasilitas diklat. Bidang operasi pesawat udara
dan perawatan pesawat udara secara bersama-sama memeriksa kelaikan pesawat udara, menyaksikan demo
evakuasi darurat dan melakukan proofing flight.
120
Direktori
Kementerian Perhubungan
e. Penerbitan Sertifikat AOC
1) Waktu Proses
Sesuai CASR 121.26 untuk memperoleh AOC, pemohon wajib mengajukan permohonan selambat-
lambatnya 60 hari sebelum hari dimulainya pengoperasian pesawat udara. Kebutuhan waktu 60 hari untuk
memproses penerbitan AOC ini ditetapkan dengan asumsi bahwa pemohon telah siap dengan seluruh
sumber daya yang diperlukan sesuai dengan persyaratan. Bagi Pemohon yang belum siap dengan sumber-
sumber daya tersebut harus memperhitungkan lead time sebelum mengajukan permohonan AOC. Hal ini
dikarenakan untuk mempersiapkan fasilitas, peralatan, buku-buku manual/panduan dapat memakan waktu
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
2) Surveillance
Setelah pemohon memperoleh AOC, dilaksanakan program pengawasan berkesinambungan (surveillance)
oleh Ditjen Hubud dengan cara menempatkan Principal Operation Inspector (POI) / Inspektur Penerbang
dan Principal Maintenance Inspector (PMI) / Inspektur Ahli Perawatan Pesawat Udara untuk memastikan
bahwa pemegang Sertifikat Operator Penerbangan melaksanakan kegiatannya sesuai dengan manuals
(buku-buku panduan) yang telah disetujui Ditjen Hubud.
3) Audit Mutu
Setiap 2 tahun sekali Ditjen Hubud melaksanakan audit mutu yang bertujuan untuk memastikan :
a) Sumber daya pemegang AOC, minimum masih sama dan masih memenuhi persyaratan-persyaratan
seperti pada saat memperoleh AOC (compliance);
b) Sistem dan prosedur jaminan mutu, keselamatan dan keamanan yang telah disetujui Ditjen Hubud
dijalankan (adherence);
c) Sistem dan prosedur jaminan mutu, keselamatan dan keamanan dijalankan, masih dapat memenuhi
kebetuhan;
d) Apabila temuan-temuan audit mengarah kepada indikasi adanya system breakdown (terputusnya
sistem dan prosedur jaminan mutu, keselamatan dan keamanan), sistem tersebut segera diperbaiki.
34.Izin Pengoperasian Elevated Heliport
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 24 Tahun 2009 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil
Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulation Part 139) Tentang Bandar Udara (Aerodrome);
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/41/III/2010 tentang Persyaratan Standar
Teknis dan Operasional (Manual of Standard 139) Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter
(Heliport); dan
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/100/VI/2010 tentang Petunjuk dan Tata Cara
Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139-06, Prosedur Pembangunan dan Pengoperasian Tempat
Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter.
121
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
Pemilik atau pengelola heliport waib memenuhi persyaratan standar teknis dan operasional Elevated Heliport
yang meliputi persyaratan fisik dan persyaratan operasional sebagaimana diatur dalam SKEP/41/III/2010 Tentang
Persyaratan Standar Teknis dan Operasional (Manual of Standard 139) Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas
Landas Helikopter (Heliport).
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara dengan melampirkan buku pedoman
pengoperasian heliport (Heliport Manual).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberitahuan atau penolakan Izin diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 hari sejak permohonan
diterima secara lengkap setelah diadakan evaluasi serta pemeriksaan teknis operasional oleh Tim Teknis Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara.
Masa berlaku :
Izin berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang selama prasarana dan fasilitasnya masih memenuhi
persyaratan operasional.
35.Izin Pengoperasian Surface Level Heliport
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 24 Tahun 2009 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil
Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulation Part 139) tentang Bandar Udara (Aerodrome);
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/41/III/2010 tentang Persyaratan Standar
Teknis dan Operasional (Manual of Standard 139) Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter
(Heliport); dan
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/100/VI/2010 tentang Petunjuk dan Tata Cara
Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139-06, Prosedur Pembangunan dan Pengoperasian Tempat
Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter.
Persyaratan :
Pemilik atau pengelola heliport waib memenuhi persyaratan standar teknis dan operasional Surface Elevated Heliport
yang meliputi persyaratan fisik dan persyaratan operasional sebagaimana diatur dalam SKEP/41/III/2010 Tentang
Persyaratan Standar Teknis dan Operasional (Manual of Standard 139) Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas
Landas Helikopter (Heliport).
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara dengan melampirkan buku pedoman
pengoperasian heliport (Heliport Manual).
122
Direktori
Kementerian Perhubungan
Penyelesaian Permohonan :
Pemberitahuan atau penolakan Izin diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari sejak
permohonan diterima secara lengkap setelah diadakan evaluasi serta pemeriksaan teknis operasional oleh Tim
Teknis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Masa berlaku :
Izin berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang selama prasarana dan fasilitasnya masih memenuhi
persyaratan operasional.
36.Izin Pengoperasian Helideck
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2001 tentang Kebandarudaraan;
c. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 24 Tahun 2009 tentang Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil
Bagian 139 (Civil Aviation Safety Regulation Part 139) Tentang Bandar Udara (Aerodrome);
d. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor SKEP/41/III/2010 tentang Persyaratan Standar
Teknis dan Operasional (Manual of Standard 139) Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter
(Heliport); dan
e. Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/100/VI/2010 tentang Petunjuk dan Tata Cara
Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian 139-06, Prosedur Pembangunan dan Pengoperasian Tempat
Pendaratan dan Lepas Landas Helikopter.
Persyaratan :
Pemilik atau pengelola heliport waib memenuhi persyaratan standar teknis dan operasional Helideck yang meliputi
persyaratan fisik dan persyaratan operasional sebagaimana diatur dalam SKEP/41/III/2010 Tentang Persyaratan
Standar Teknis dan Operasional (Manual of Standard 139) Volume II Tempat Pendaratan dan Lepas Landas
Helikopter (Heliport).
Prosedur Pengajuan Permohonan :
Permohonan diajukan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara dengan melampirkan buku pedoman
pengoperasian heliport (Heliport Manual).
Penyelesaian Permohonan :
Pemberitahuan atau penolakan Izin diberikan dalam jangka waktu selambat-lambatnya 14 hari sejak permohonan
diterima secara lengkap setelah diadakan evaluasi serta pemeriksaan teknis operasional oleh Tim Teknis Direktorat
Jenderal Perhubungan Udara.
Masa berlaku :
Izin berlaku selama 3 (tiga) tahun dan dapat diperpanjang selama prasarana dan fasilitasnya masih memenuhi
persyaratan operasional.
123
Direktori
Kementerian Perhubungan
124
Direktori
Kementerian Perhubungan
1. Penyelenggaraan Perkeretaapian
Dasar Hukum :
a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian;
b. Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan
Perkeretaapian;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan
Kereta Api.
Perkeretaapian merupakan satu kesatuan sistem yang terdiri atas prasarana, sarana,
dan sumber daya manusia, serta norma, kriteria, persyaratan, dan prosedur untuk
penyelenggaraan transportasi kereta api.
Perkeretaapian menurut fungsinya terdiri dari perkeretaapian umum; dan perkeretaapian
khusus.
a. Perkeretaapian Umum
Perkeretaapian umum adalah perkeretaapian yang digunakan untuk melayani
angkutan orang dan/atau barang dengan dipungut bayaran. Penyelenggaraan
perkeretaapian umum berupa penyelenggaraan prasarana perkeretaapian;
dan/atau sarana perkeretaapian. Penyelenggaraan prasarana dan/atau sarana
perkeretaapian umum dilakukan oleh Badan Usaha sebagai penyelenggara, baik
secara sendiri-sendiri maupun melalui kerja sama. Badan Usaha adalah Badan
Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, atau badan hukum Indonesia
yang khusus didirikan untuk perkeretaapian.
b. Perkeretaapian Khusus
Perkeretaapian khusus adalah perkeretaapian yang hanya digunakan untuk
menunjang kegiatan pokok badan usaha tertentu dan tidak digunakan untuk
melayani masyarakat umum. Menunjang kegiatan pokoknya misalnya badan
usaha penambangan batubara menyelenggarakan perkeretaapian khusus
untuk mengangkut hasil usaha pokoknya berupa batubara. Penyelenggaraan
perkeretaapian khusus berupa penyelenggaraan prasarana perkeretaapian dan
sarana perkeretapian.
c. Kegiatan Penyelenggaraan Perkeretaapian
Penyelenggaraan prasarana perkeretaapian meliputi kegiatan :
1) Pembangunan prasarana;
2) Pengoperasian prasarana;
3) Perawatan prasarana; dan
4) Pengusahaan prasarana.
D. Subsektor Perkeretaapian
Direktorat Jenderal Perkeretaapian
Jl. Medan Merdeka Barat Nomor 8
Telp. (021) 3811308 Pes. 1333, 1331
Jakarta 10110
125
Direktori
Kementerian Perhubungan
Penyelenggaraan sarana perkeretaapian meliputi kegiatan:
1) Pengadaan sarana;
2) Pengoperasian sarana;
3) Perawatan sarana; dan
4) Pengusahaan sarana.
2. Jenis Investasi yang Dapat Dilakukan di Sektor Perkeretaapian
a. Sebagai Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian Umum
Badan Usaha yang menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum wajib memiliki izin usaha, izin
pembangunan dan izin operasi.
Tahapan perizinan penelenggaraan prasarana perkeretaapian umum dilakukan sebagai berikut:
a. penetapan trase jalur kereta api umum oleh Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai kewenangannya;
b. penetapan Badan Usaha sebagai penyelenggara prasarana perkeretaapian umum yang dilaksanakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang kerjasama Pemerintah dengan Badan
Usaha dalam penyediaan infrastruktur;
c. perjanjian penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum antara Pemerintah dengan Badan Usaha,
paling sedikit memuat:
(1) lingkup penyelenggaraan;
(2) jangka waktu hak penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum;
(3) hak dan kewajiban termasuk risiko yang harus dipikul para pihak, yang didasarkan pada prinsip
pengalokasian risiko secara efisien dan seimbang;
(4) standar kinerja pelayanan serta prosedur penanganan keluhan masyarakat;
(5) sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi ketentuan perjanjian penyelenggaraan;
(6) penyelesaian sengketa;
(7) pemutusan atau pengakhiran perjanjian penyelenggaraan;
(8) fasilitas penunjang prasarana perkeretaapian;
(9) keadaan memaksa (force majeure); dan
(10) ketentuan mengenai penyerahan prasarana perkeretaapian dan fasilitasnya pada akhir masa hak
penyelenggaraan.
d. izin usaha;
e. izin pembangunan; dan
f. izin operasi.
1) Persyaratan Izin Usaha
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum:
a) Akte pendirian badan hukum Indonesia;
b) Nomor pokok wajib pajak;
c) Surat keterangan domisili perusahaan;
d) Rencana kerja;
e) Kemampuan keuangan;
f) Surat penetapan sebagai penyelenggara prasarana perkeretaapian umum;
g) Perjanjian penyelenggaraan prasarana perkeretaapian; dan
126
Direktori
Kementerian Perhubungan
h) Sumber daya manusia.
Badan Usaha yang telah memiliki izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum harus
melaksanakan kegiatan:
a) perencanaan teknis yang harus mendapat persetujuan Menteri;
b) analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau UKL dan UPL;
c) pengadaan tanah; dan
d) mengajukan izin pembangunan prasarana perkeretaapian umum sebelum memulai pelaksanaan
pembangunan fisik.
Kegiatan sebagaimana dimaksud di atas, harus selesai paling lama 3 (tiga) tahun sejak diterbitkannya izin
usaha.
Dalam hal waktu 3 (tiga) tahun telah terlampaui belum menyelesaikan kegiatan sebagaimana dimaksud di
atas dan tidak ada permohonan dari Badan Usaha untuk memperpanjang penyelesaian kegiatan, maka izin
usaha dicabut.
2) Persyaratan Izin Pembangunan
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin pembangunan prasarana perkeretaapian umum:
a) Rancang bangun yang dibuat berdasarkan perhitungan;
b) Gambar teknis;
c) Data lapangan;
d) Jadwal pelaksanaan;
e) Spesifikasi teknis yang telah disahkan oleh Menteri;
f) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau UKL dan UPL;
g) Metode pelaksanaan;
h) Izin mendirikan bangunan;
i) Izin lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
j) Telah membebaskan tanah sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) persen dari total tanah yang dibutuhkan.
Badan Usaha yang telah memiliki izin pembangunan melaksanakan kegiatan:
a) melaksanakan pembangunan prasarana perkeretaapian sesuai dengan rencana teknik;
b) melaksanakan kegiatan dalam rangka kelaikan prasarana perkeretaapian umum;
c) mengajukan izin operasi prasarana perkeretaapian umum.
3) Persyaratan izin operasi
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin operasi prasarana perkeretaapian umum:
a) Prasarana perkeretaapian yang telah dibangun telah sesuai dengan persyaratan kelaikan teknis dan
operasional prasarana perkeretaapian dan telah lulus uji pertama;
b) Memiliki sistem dan prosedur pengoperasian prasarana perkeretaapian;
c) Tersedianya petugas atau tenaga perawatan, pemeriksaan, dan pengoperasian prasarana
perkeretaapian yang memiliki sertifikat kecakapan; dan
d) Memiliki peralatan untuk perawatan prasarana perkeretaapian.
Sebelum melakukan permohonan izin usaha penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum, maka
terlebih dahulu dilakukan tahapan sebagai berikut:
a) Badan Usaha yang akan menyelenggarakan prasarana perkeretaapian umum sebelum diberikan izin
usaha oleh Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya, terlebih dahulu harus
ditetapkan sebagai penyelenggara prasarana perkeretaapian umum.
127
Direktori
Kementerian Perhubungan
b) Badan Usaha yang ditetapkan sebagai penyelenggara prasarana perkeretaapian umum diberikan hak
penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum.
c) Hak penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum dituangkan dalam perjanjian penyelenggaraan
prasarana perkeretaapian umum antara Menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai kewenangannya
dan Badan Usaha.
d) Perjanjian penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum paling sedikit memuat:
(1) Lingkup penyelenggaraan;
(2) Jangka waktu hak penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum;
(3) Hak dan kewajiban termasuk risiko yang harus dipikul para pihak, yang didasarkan pada prinsip
pengalokasian risiko secara efisien dan seimbang;
(4) Standar kinerja pelayanan serta prosedur penanganan keluhan masyarakat;
(5) Sanksi dalam hal para pihak tidak memenuhi ketentuan perjanjian penyelenggaraan;
(6) Penyelesaian sengketa;
(7) Pemutusan atau pengakhiran perjanjian penyelenggaraan;
(8) Fasilitas penunjang prasarana perkeretaapian;
(9) Keadaan memaksa (force majeure); dan
(10) Ketentuan mengenai penyerahan prasarana perkeretaapian dan fasilitasnya pada akhir masa
hak penyelenggaraan.
b. Sebagai Penyelenggara Sarana Perkeretaapian Umum
Badan Usaha yang menyelenggarakan sarana perkeretaapian umum wajib memiliki izin usaha dan izin
operasi.
1) Persyaratan izin usaha
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin usaha penyelenggaraan sarana perkeretaapian umum:
a) Memiliki akte pendirian badan hukum Indonesia;
b) Memiliki nomor pokok wajib pajak;
c) Memiliki surat keterangan domisili perusahaan;
d) Membuat surat pernyataan kesanggupan untuk memiliki paling sedikit 2 (dua) rangkaian kereta api;
e) Mempunyai rencana kerja; dan
f) Memiliki perjanjian kerja sama dengan penyelenggara prasarana perkeretaapian dalam hal Badan
Usaha hanya sebagai penyelenggara sarana perkeretaapian umum.
Badan Usaha yang telah mendapatkan izin usaha penyelenggaran sarana perkeretaapian dapat mengajukan
izin operasi sarana perkeretaapian setelah melaksanakan kegiatan:
a. penyiapan spesifikasi teknis sarana perkeretaapian;
b. studi kelayakan; dan
c. pengadaan sarana perkeretaapian.
Spesifikasi teknis sarana perkeretaapian sebagaimana dimaksud huruf a disusun oleh Badan Usaha
dengan berpedoman pada persyaratan teknis sarana perkeretaapian yang ditetapkan oleh Menteri dan
harus mendapat persetujuan Menteri.
Studi kelayakan sebagaimana dimaksud huruf b paling sedikit memuat analisis mengenai:
a. sosial ekonomi masyarakat;
b. angkutan;
c. perkiraan biaya pengadaan sarana perkeretaapian; dan
d. kelayakan teknik, ekonomi, dan finansial. 128
Direktori
Kementerian Perhubungan
2) Persyaratan izin operasi
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin operasi sarana perkeretaapian umum:
a) Memiliki studi kelayakan;
b) Memiliki paling sedikit 2 (dua) rangkaian kereta api sesuai dengan spesifikasi teknis sarana
perkeretaapian;
c) Sarana perkeretaapian yang akan dioperasikan telah lulus uji pertama yang dinyatakan dengan
sertifikat uji pertama;
d) Tersedianya awak sarana perkeretaapian, tenaga perawatan, dan tenaga pemeriksa sarana
perkeretaapian yang memiliki sertifikat kecakapan;
e) Memiliki sistem dan prosedur pengoperasian, pemeriksaan, dan perawatan sarana perkeretaapian; dan
f) Menguasai fasilitas perawatan sarana perkeretaapian.
c. Sebagai Penyelenggara Perkeretaapian Khusus
Badan usaha yang menyelenggarakan perkeretaapian khusus wajib memiliki persetujuan prinsip pembangunan
perkeretaapian khusus, izin pembangunan dan izin operasi.
1) Persetujuan prinsip pembangunan perkeretaapian khusus
Persyaratan dalam rangka memperoleh persetujuan prinsip pembangunan perkeretaapian khusus:
a) Akte pendirian badan usaha;
b) Nomor pokok wajib pajak;
c) Izin usaha;
d) Surat keterangan domisili perusahaan;
e) Peta lokasi prasarana perkeretaapian khusus; dan
f) Kajian kesesuaian antara kebutuhan perkeretaapian khusus dan usaha pokoknya.
Badan usaha yang telah memiliki persetujuan prinsip pembangunan perkeretaapian khusus harus
melaksanakan kegiatan:
a. perencanaan teknis;
b. analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau UKL dan UPL; dan
c. pengadaan tanah.
2) Izin pembangunan perkeretaapian khusus
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin pembangunan perkeretaapian khusus:
a) Surat persetujuan prinsip pembangunan perkeretaapian khusus;
b) Rancang bangun yang dibuat berdasarkan perhitungan;
c) Gambar-gambar teknis;
d) Data lapangan;
e) Jadwal pelaksanaan;
f) Spesifikasi teknis;
g) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau UKL dan UPL;
h) Metode pelaksanaan;
i) Surat izin mendirikan bangunan;
j) Surat izin lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
k) Rekomendasi dari bupati/walikota yang wilayahnya akan dilintasi oleh jalur kereta api; dan
129
Direktori
Kementerian Perhubungan
l) Bukti pembebasan tanah paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) dari luas tanah yang dibutuhkan.
Pemegang izin pembangunan wajib:
a. melaksanakan pembangunan prasarana dan pengadaan sarana paling lambat 2 (dua) tahun sejak izin
diterbitkan;
b. bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan yang timbul selama pelaksanaan pembangunan
prasarana; dan
c. melaporkan kegiatan pembangunan secara berkala setiap 6 (enam) bulan kepada pemberi izin
pembangunan.
3) Izin operasi perkeretaapian khusus
Persyaratan dalam rangka memperoleh izin operasi perkeretaapian khusus:
a) Pembangunan prasarana dan pengadaan sarana perkeretaapian khusus telah dilaksanakan sesuai
dengan persyaratan kelaikan dan telah lulus uji pertama;
b) Memiliki sistem dan prosedur pengoperasian, pemeriksaan, dan perawatan prasarana dan sarana
perkeretaapian khusus;
c) Tersedianya petugas prasarana dan awak sarana, tenaga perawatan, dan tenaga pemeriksa prasarana
dan sarana perkeretaapian khusus yang memiliki sertifikat kecakapan.
d. Sebagai Penyelenggara Pengujian Prasarana Perkeretaapian
Pengujian prasarana perkeretaapian dilakukan oleh Menteri. Dalam pelaksanaannya Menteri dapat melimpahkan
pengujian prasarana perkeretaapian kepada Badan Hukum yang mendapat akreditasi dari Menteri atau lembaga
yang mendapat akreditasi dari Menteri.
Persyaratan dalam rangka memperoleh akreditasi sebagai badan hukum/lembaga pengujian prasarana
perkeretaapian umum yaitu administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi paling sedikit memiliki akte
pendirian, nomor pokok wajib pajak dan keterangan domisili. Persyaratan teknis paling sedikit memiliki:
1) Tenaga penguji bersertifikat sesuai dengan jenis prasarana perkeretaapian;
2) Kantor dan tempat pengujian; dan
3) Fasilitas dan peralatan pengujian sesuai dengan jenis prasarana perkeretaapian.
e. Sebagai Penyelenggara Pengujian Sarana Perkeretaapian.
Pengujian sarana perkeretaapian dilakukan oleh Menteri. Dalam pelaksanaan Menteri dapat melimpahkan
pelaksanaan pengujian sarana perkeretaapian kepada Badan hukum yang mendapat akreditasi dari Menteri
atau lembaga yang mendapat akreditasi dari Menteri.
Persyaratan dalam rangka memperoleh akreditasi sebagai badan hukum/lembaga pengujian prasarana
perkeretaapian terdiri dari persyaratan administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi paling sedikit meliputi
berbadan hukum Indonesia, memiliki nomor pokok wajib pajak dan adanya keterangan domisili. Persyaratan
teknis paling sedikit memiliki:
1) Tenaga penguji bersertifikat keahlian;
2) Kantor dan tempat pengujian; dan
3) Fasilitas dan peralatan pengujian.
f. Sebagai Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Penguji Prasarana Perkeretaapian.
Pendidikan dan pelatihan tenaga penguji prasarana perkeretaapian diselenggarakan oleh Menteri dan dapat
dilimpahkan kepada badan hukum atau lembaga yang mendapat akreditasi dari Menteri.
130
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan dalam rangka memperoleh akreditasi sebagai badan hukum/lembaga pendidikan dan pelatihan
tenaga penguji prasarana perkeretaapian administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi paling sedikit
memiliki akte pendirian, nomor pokok wajib pajak dan keterangan domisili. Persyaratan teknis paling sedikit:
1) Menguasai atau memilliki fasilitas pendidikan dan pelatihan;
2) Memiliki tenaga pengajar; dan
3) Memiliki metode, kurikulum dan silabus pendidikan dan pelatihan.
g. Sebagai Penyelenggara Pendidikan dan PelatihanTenaga Penguji Sarana Perkeretaapian.
Pendidikan dan pelatihan tenaga penguji sarana perkeretaapian diselenggarakan oleh Menteri dan dapat
dilimpahkan kepada badan hukum atau lembaga yang mendapat akreditasi dari Menteri.
Persyaratan dalam rangka memperoleh akreditasi sebagai badan hukum/lembaga pendidikan dan pelatihan
tenaga penguji sarana perkeretaapian administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi paling sedikit memiliki
akte pendirian, nomor pokok wajib pajak dan keterangan domisili. Persyaratan teknis paling sedikit:
1) Menguasai atau memilliki fasilitas pendidikan dan pelatihan;
2) Memiliki tenaga pengajar; dan
3) Memiliki metode, kurikulum dan silabus pendidikan dan pelatihan.
h. Sebagai Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Petugas Pengoperasian Prasarana Perkeretaapian.
Petugas pengoperasian prasarana perkeretaapian meliputi pengatur perjalanan kereta api, pengendali perjalanan
kereta api, penjaga perlintasan kereta api, dan pengendali distribusi listrik.
Sertifikat kecakapan petugas pengoperasian prasarana perkeretaapian diterbitkan oleh Menteri, Badan hukum
yang mendapat akreditasi dari Menteri atau lembaga yang mendapat akreditasi dari Menteri. Badan hukum
untuk mendapatkan akreditasi harus memenuhi persyaratan teknis.
Lembaga untuk mendapatkan akreditasi harus memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. Persyaratan
administrasi paling sedikit memiliki akte pendirian, nomor pokok wajib pajak dan keterangan domisili. Persyaratan
teknis paling sedikit memiliki:
1) Fasilitas pendidikan kecakapan di bidang pengoperasian prasarana perkeretaapian;
2) Tenaga pendidik yang berkompeten di bidang pengoperasian prasarana perkeretaapian;
3) Metode pengajaran di bidang pengoperasian prasarana perkeretaapian;
4) Fasilitas pengujian kecakapan petugas pengoperasian prasarana perkeretaapian;
5) Tenaga penguji kecakapan petugas pengoperasian prasarana perkeretaapian; dan
6) Metode pengujian kecakapan petugas pengoperasian prasarana perkeretaapian.
i. Sebagai Penyelenggara Pendidikan dan Pelatihan Awak Sarana Perkeretaapian
Awak sarana perkeretaapian terdiri atas masinis dan asisten masinis. Sertifikat kecakapan awak sarana
perkeretaapian diterbitkan oleh Menteri, Badan hukum yang mendapat akreditasi dari Menteri atau lembaga
yang mendapat akreditasi dari Menteri.
Badan hukum untuk mendapatkan akreditasi harus memenuhi persyaratan teknis. Lembaga untuk mendapatkan
akreditasi harus memenuhi persyaratan administrasi dan teknis. Persyaratan administrasi paling sedikit memiliki
akte pendirian, nomor pokok wajib pajak dan keterangan domisili. Persyaratan teknis paling sedikit memiliki:
1) Menguasai fasilitas pendidikan kecakapan di bidang awak sarana perkeretaapian;
2) Memiliki tenaga pendidik yang berkompeten di bidang awak sarana perkeretaapian;
3) Memiliki metode pengajaran di bidang awak sarana perkeretaapian;
131
Direktori
Kementerian Perhubungan
4) Fasilitas pengujian kecakapan awak sarana perkeretaapian;
5) Tenaga penguji kecakapan awak sarana perkeretaapian; dan
6) Metode pengujian kecakapan awak sarana perkeretaapian.
3. Perizinan yang Menjadi Kewenangan Pemerintah Daerah (Terkait
Dengan Investasi Di Bidang Perkeretaapian)
a. Perizinan Sebagai Penyelenggara Prasarana Perkeretaapian Umum
Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dapat menerbitkan Perizinan untuk penyelenggaraan prasarana
perkeretaapian umum yang jaringan jalurnya melintasi kabupaten/kota dalam satu provinsi oleh gubernur dan
untuk penyelenggaraan prasarana perkeretaapian umum yang jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota
oleh bupati/walikota. Selain itu menerbitkan Perizinan di bidang penyelenggaraan prasarana perkeretaapian
umum yang meliputi izin usaha, izin pembangunan setelah mendapat persetujuan dari Menteri dan izin operasi
setelah mendapat persetujuan dari Menteri.
b. Perizinan Sebagai Penyelenggara Sarana Perkeretaapian Umum
Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dapat menerbitkan Perizinan untuk pengoperasian sarana
perkeretaapian umum yang jaringan jalurnya melintasi kabupaten/kota dalam satu provinsi oleh gubernur dan
untuk pengoperasian sarana perkeretaapian umum yang jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota oleh
bupati/walikota. Selain itu dapat menerbitkan Perizinan di bidang penyelenggaraan sarana perkeretaapian
umum berupa izin operasi.
c. Perizinan Sebagai Penyelenggara Perkeretaapian Khusus
Pemerintah Daerah sesuai kewenangannya dapat menerbitkan Perizinan untuk penyelenggaraan
perkeretaapian khusus yang jaringan jalurnya melintasi kabupaten/kota dalam satu provinsi oleh gubernur
dan untuk penyelenggaraan perkeretaapian khusus yang jaringan jalurnya dalam wilayah kabupaten/kota oleh
bupati/walikota. Selain itu dapat menerbitkan Perizinan di bidang penyelenggaraan perkeretaapian khusus yang
meliputi persetujuan prinsip pembangunan setelah mendapat persetujuan Menteri, izin pembangunan setelah
mendapat persetujuan dari Menteri dan izin operasi, setelah mendapat persetujuan dari Menteri.
132
Direktori
Kementerian Perhubungan
133
Direktori
Kementerian Perhubungan
Badan Pengembangan Sumber Daya
Manusia Perhubungan (BPSDMP)
Jl. Medan Merdeka Timur Nomor 5
Jakarta 10110
Telp.: +6221 3456585, 4865064, 3847403, 3847519
Fax : +6221 3847480
134
Direktori
Kementerian Perhubungan
A. Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan
Darat
1. Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) Bekasi
Jl. Raya Setu KM 3,5 Desa Cibuntu Kecamatan Cibitung Kabupaten Bekasi
kode pos 17001 Po Box. 153, telp/Fax (021) 8254640, 82608995, 82608996

Program Diklat Pembentukan Dasar (Program Diploma)
a. Pendidikan Program D III LLAJ
1) Kompetensi lulusan pendidikan Program Studi Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (LLAJ) adalah :
a) Kompetensi utama lulusan adalah mampu mengidentifikasi aspek aspek yang berkaitan dengan
permintaan dan pelayanan transport dibidang jalan; melakukan perencanaan transportasi; menidentifikasi
biaya operasi kendaraan dan menyusun tarif pentarifan; mengidentifikasi dan menentukan alternatif
pemecahan masalah terkait opersional jalan; melakukan manajemen operasional angkutan umum;
melakukan survey dan analisis data lalu lintas;merencanakan dan mendisain prasarana lalu lintas
dan angkutan umum; mengatur lalu lintas; mengidentifikasi daerah rawan kecelakaan; analisis dan
mengusulkan pencegahan kecelakaan; memahami karateristik dan rekayasa kendaraan.
b) Kompetensi pendukung lulusan adalah mampu bekerja dengan menggunakan teknologi dan terampil
di bidang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan (LLAJ) baik secara pelayanan/administratif maupun teknis.
c) Kompetensi lainnya/pilihan lulusan mampu berbahasa inggris dan memiliki kemampuan etika profesi
yang baik dalam menjalankan tugasnya.
2) Lama Pendidikan
Lama Pendidikan Program Studi Diploma III LLAJ adalah selama 3 (tiga) tahun sama dengan 6 (enam)
semester, dimana pada semester 4 taruna diwajibkan untuk mengikuti program KKL (kuliah Kerja Lapangan)
dan pada semester 6 diwajibkan untuk mengikuti PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang tersebar pada
beberapa di wilayah Indonesia dengan hasil akhir berupa Laporan umum untuk kelompok dan KKW (Kerta
Kerja Wajib) sebagai tuags akhir perseorangan yang nantinya akan dipresentasikan dan dipertahankan di
Sidang Kelulusan Akhir Program
135
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) Persyaratan Peserta
Rekrutmen taruna Sekolah Tinggi Transportasi Darat dilakukan oleh Panitia Seleksi Penerimaan Calon
Taruna (Sipencatar) yang dibentuk setiap tahun melalui Surat Keputusan Ketua STTD. Kegiatan penerimaan
taruna baru diarahkan pada kegiatan sosialisasi kedaerah, pemasangan spanduk, penyebaran brosur, iklan
layanan masyarakat di media elektronik (radio) dan pengiriman surat himbauan ke Dinas/Instansi-instansi
pemerintah dan Sekolah-sekolah menengah SMU/SMK/MA, dan lain-lain.
b. Pendidikan Program D III Perkeretaapian
1) Lama Pendidikan:
Lama Pendidikan Program Studi Diploma III Perkeretaapian adalah selama 3 (tiga) tahun sama dengan 6
(enam) semester, dimana pada semester 4 taruna diwajibkan untuk mengikuti program KKL (kuliah Kerja
Laoangan) dan pada semester 6 diwajibkan untuk mengikuti PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang tersebar
di beberapa wilayah Jawa dan Sumatera dengan hasil akhir berupa Laporan umum untuk kelompok dan
KKW (Kerta Kerja Wajib) sebagai tuags akhir perseorangan yang nantinya akan dipresentasikan dan
dipertahankan di Sidang Kelulusan Akhir Program
2) Persyaratan Peserta :
Rekrutmen taruna Sekolah Tinggi Transportasi Darat dilakukan oleh Panitia Seleksi Penerimaan Calon
Taruna (Sipencatar) yang dibentuk setiap tahun melalui Surat Keputusan Ketua STTD. Kegiatan penerimaan
taruna baru diarahkan pada kegiatan sosialisasi kedaerah, pemasangan spanduk, penyebaran brosur, iklan
layanan masyarakat di media elektronik (radio) dan pengiriman surat himbauan ke Dinas/Instansi-instansi
pemerintah dan Sekolah-sekolah menengah SMU/SMK/MA, dan lain-lain.
c. Pendidikan Program D IV Transportasi Darat (Reguler)
1) Lama Pendidikan :
Lama Pendidikan Program Studi Diploma IV Transportasi Darat adalah selama 4 (empat) tahun sama dengan
8 (delapan) semester, dimana pada semester 6 taruna diwajibkan untuk mengikuti program KKL (kuliah
Kerja Lapangan) dan pada semester 8 diwajibkan untuk mengikuti PKL (Praktek Kerja Lapangan) yang
tersebar pada beberapa di wilayah Indonesia dengan hasil akhir berupa Laporan umum untuk kelompok
dan Sripsi sebagai tugas akhir perseorangan yang nantinya akan dipresentasikan dan dipertahankan di
Sidang Kelulusan Akhir Program.
2) Persyaratan Peserta :
Rekrutmen taruna Sekolah Tinggi Transportasi Darat dilakukan oleh Panitia Seleksi Penerimaan Calon
Taruna (Sipencatar) yang dibentuk setiap tahun melalui Surat Keputusan Ketua STTD. Kegiatan penerimaan
taruna baru diarahkan pada kegiatan sosialisasi kedaerah, pemasangan spanduk, penyebaran brosur, iklan
layanan masyarakat di media elektronik (radio) dan pengiriman surat himbauan ke Dinas/Instansi-instansi
pemerintah dan Sekolah-sekolah menengah SMU/SMK/MA, dan lain-lain.
136
Direktori
Kementerian Perhubungan
d. Pendidikan Program D IV Transportasi Darat (Extension)
1) Lama Pendidikan :
Program Studi Diploma IV Transportasi Darat Extention adalah selama 1(tahun) tahun sama dengan 2
(dua) semester, dimana pada semester 2 taruna diwajibkan untuk mengikuti program KKL (kuliah Kerja
Lapangan) dan pada semester 2 diwajibkan untuk membuat Skripsi sebagai tugas akhir perseorangan
yang nantinya akan dipresentasikan dan dipertahankan di Sidang Kelulusan Akhir.
2) Persyaratan Peserta :
a) Lulusan Diploma III LLAJ, Diploma III Perkeretaapian dan Diploma III LLASDP dari Sekolah Tinggi
Transportasi Darat.
b) Lulusan D III/ 51 Teknik Sipil, Teknik Elektro, Teknik Mesin yang telah menjadi PNS minimal dengan
masa kerja 1 (satu) tahun sejak diangkat dengan dilengkapi Surat Rekomendasi dari Dishub/ Dinas
LLAJ setempat / Dinas pegawai yang bersangkutan bertugas.
c) Usia maksimal 35 tahun.
d) Tinggi badan minimal Pria 160 Cm, Wanita 155 Cm.
2. Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Darat (BPPTD) Tegal
Jalan Semeru Nomor 3 Tegal Jawa Tengah.
Telp. +62-283351061 / 358031, Fax. +62-283325220
Program Diklat
Diklat D-II Pengujian Kendaraan Bermotor (D-II PKB)
Diploma II Penguji Kendaraan Bermotor (PKB) berdasarkan Surat Kepala Badan Diklat No. DL.001/B.639/X/Diklat
2006 serta Keputusan Ketua STTD No. SK.23/ X /KP.007/STTD 2006. Jenis diklat ini dirancang untuk menghasilkan
tenaga profesional di bidang pengujian kendaraan bermotor.
Pesertanya :
Lulusan SMU,IPA,SMK Teknik mesin/Otomotif/Listrik
137
Direktori
Kementerian Perhubungan
3. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Transportasi Darat (BPPTD) Bali
Jl. Batuyang No. 109x Batubulan Gianyar-Bali
Telp. (0361) 291103-298734 Fax. (0361) 295340
Website: www.bpptd-bali.diklat.dephub.go.id
Email: diklatphb_bali@yahoo.com
Program pendidikan dan Pelatihan yang diselenggarakan meliputi :
Diklat awal Diploma II Penguji Kendaraan Bermotor (PKB) berdasarkan Surat Kepala Badan Diklat No.DL.001/
B.639/X/Diklat 2006 serta Keputusan Ketua STTD No. SK.23/ X /KP.007/STTD 2006. Jenis diklat ini dirancang
untuk menghasilkan tenaga profesional di bidang pengujian kendaraan bermotor.

Pesertanya :
Lulusan SMU,IPA,SMK Teknik mesin/Otomotif/Listrik
4. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Transportasi Darat (BPPTD) Palembang
Jl. Sabar Jaya 116 Perajin Mariana, Banyu Asin-Palembang, Sumatera Selatan
Telp: +62-711-7084320, Fax: +62-711-312339
Program pendidikan dan Pelatihan yang diselenggarakan meliputi Program D-III Ahli Madya Lalu Lintas Angkutan
Sungai, Danau dan Penyeberangan (D-III LLASDP) dan Diklat Manajemen Operasional Pelabuhan Penyeberangan
(MOPP).
138
Direktori
Kementerian Perhubungan
B. Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan
Laut
1. Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran
Jl. Marunda Makmur, Kelurahan Marunda,
Cilincing Jakarta Utara 14150
Telepon (021) 88991618, Faximile (021) 44834345
Program Diklat Pembentukan Dasar (Program Diploma)
a. Diklat Pembentukan :
1) Diploma IV Bidang Studi Nautika;
2) Diploma IV Bidang Studi Teknika;
3) Diploma IV Bidang Studi Ketatalaksanaan, Angkutan Laut dan Kepelabuhan (KALK).
Yang mengacu kepada kompetensi ANT III/ ATT III sesuai standar IMO Model course 7.03 dan 7.04 serta Ahli
ketatalaksanaan angkutan laut dan kepelabuhan dengan lama pendidikan selama 4 tahun (6 semester (3 tahun)
dan praktek berlayar 1 tahun).
Persyaratan peserta :
1) Warga negara Indonesia, pemuda pemudi beragama;
2) Umur maksimal 23 tahun;
3) Tinggi badan dan berat badan memenuhi persyaratan;
4) Belum pernah menikah dan sanggup tidak menikah selama pendidikan;
5) Berbadan sehat, tidak buta warna, tidak berkacamata dan berpengelihatan serta pendengaran yang baik;
6) Memiliki ijazah/ STTB;
7) Sanggup tinggal di asrama selama pendidikan.
b. Diklat Teknis Profesi Kepelautan :
1) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat I Nautika dan Nautika dengan Lulusan berijazah ANT/ ATT
139
Direktori
Kementerian Perhubungan
I. Diklat ini mengacu kepada ketentuan aturan II/2 dan kode STCW seksi A-II/2 dari amandemen 1995
konvensi STCW. Ketentuan ketentuan tersebut mencakup keseluruhan pengetahuan, keterampilan dan
pengalaman minimal yang harus dimiliki untuk memperoleh sertifikat kompetensi ANT I di kapal kapal
yang berukuran 5000 GT atau lebih dengan lama pendidikan 3 bulan
Persyaratan Peserta :
a) Memiliki sertifikat ANT II;
b) Memiliki Sea Service (masa berlayar) minimal 2 tahun terhitung mulai sertifikat keahlian pelaut
diterbitkan;
c) Memiliki standar kesehatan pelaut;
d) Lulus seleksi penerimaan.
2) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat II Nautika dan Nautika dengan Lulusan berijazah ANT/ ATT II.
Diklat ini mengacu kepada ketentuan aturan II/2 dan kode STCW dari amandemen 1995 konvensi STCW.
Ketentuan tersebut mencakup keseluruhan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman minimal yang
harus dimiliki untuk memperoleh sertifikat sebagai nahkoda atau chief officer (Mualim I) di kapal kapal
yang berukuran 3000 GT atau lebih dengan lama diklat 9 bulan.
Persyaratan peserta :
a) Memiliki sertifikat ANT III;
b) Memiliki Sea Service (masa berlayar) minimal 2 tahun terhitung mulai sertifikat keahlian pelaut
diterbitkan;
c) Memiliki standar kesehatan pelaut;
d) Lulus seleksi penerimaan.
3) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat III Nautika dan Nautika dengan Lulusan berijazah ANT/ ATT III.
Diklat ini mengacu kepada ketentuan aturan I/3 dan kode STCW. Seksi A II/3 dari amandemen 1995
konvensi STCW. Ketentuan tersebut mencakup keseluruhan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman
minimal yang harus dimiliki untuk memperoleh sertifikat sebagai ANT/ ATT III bagi perwira di kapal kapal
yang berukuran 500 GT yang berlayar di perairan kawasan Indonesia dengan lama diklat 9 bulan.
Persyaratan peserta :
a) Memiliki sertifikat ANT IV;
b) Memiliki Sea Service (masa berlayar) minimal 2 tahun terhitung mulai sertifikat keahlian pelaut
diterbitkan;
c) Memiliki standar kesehatan pelaut;
d) Lulus seleksi penerimaan.
c. Diklat Keterampilan
Diklat Ketrampilan Keahlian Pelaut (DKKP) adalah diklat yang diselenggarakan untuk menunjang diklat
kompetensi. DKKP untuk setiap pelaut disesuaikan dengan jabatan dan jenis kapal dimana bekerja. Diklat
tersebut antara lain :
140
Direktori
Kementerian Perhubungan
1) Basic Safety Training (BST);
2) Advanced Fire Fighting (AFF);
3) Survival Craft and Rescue Boat (SCRB);
4) Medical First Aid (MFA);
5) Medical Care (MC);
6) Tanker Familiarization (TF);
7) Oil Tanker Training Programme (OT);
8) Liquified Gas Tanker Training Programme (LGT);
9) Chemical Tanker Training Programme (CT);
10) Radar ARPA;
11) ORU GMDSS;
12) SSO;
13) ECDIS;
14) BRM;
15) IMDG;
16) OFFSHORE LIFE BOAT COXWAIN;
17) HEALTH AND SAFETY TRAINING.
2. Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya
Kampus I
Jalan Raya Hang Tuah No. 5 Surabaya 60155
Jawa Timur Indonesia.
Telp. ( 031) 352 3685 , 355 8785. Fax ( 031) 3546028.
Kampus II
Jalan Gunung Anyar Boulervard No. 1 Surabaya.
a. Diklat Pembentukan
1) Bidang Keahlian Nautika Tingkat III (DP-III) Nautika (Crash Program) Mendidik dan melatih para peserta
diklat agar memiliki kopetensi sebagai perwira navigasi di wilayah samudera, penanganan dan pengaturan
muatan serta pengadilan kapal, dan mampu menjadi nahkoda pada kapal < 1.500 GT Near Coastal
Voyage.
141
Direktori
Kementerian Perhubungan
2) Bidang Keahlian Teknik Tingkat III (DP-III) Teknika (Crash Program) Mendidik dan melatih para peserta
diklat agar memiliki kompetensi sebagai perwira mesin di wilayah perairan samudera, penanganan dan
pemeliharaan permesinan dalam rangka melancarkan pengoperasian kapal, dan mampu menjadi kepala
kamar Mesin (KKM) pada kapal < 3.000 Kw Near Coastal Voyage (NCV).
Lama Pendidikan :
1,5 tahun di kelas (In class training);
1 tahun praktek berlayar (onboard training).
Persyaratan Perserta :
a) Berijasah minimal SMU / MA Jurusan IPA, SMKP + ANT-IV /ATT-IV, SMK jurusan listrik, elektro,
mesin, perkapalan;
b) Berusia maksimal 25 tahun saat masuk pendidikan;
c) Berbadan sehat termasuk mata dan telinga yang dibuktikan dengan surat keterangan dokter yang
ditunjuk;
d) Tinggi badan minimal 160 cm bagi pria dan 155 cm bagi wanita;
e) Belum menikah dan sanggup tidak menikah selama pendidikan;
f) Membawa surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) yang masih berlaku;
g) Surat keterangan bebas Narkoba dari Rumah sakit pemerintah atau polri.
3) Bidang Keahlian Nautika Tingkat IV (DP-IV) Nautika
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai perwira Navigasi di daerah
pelayaran nusantara, sebagai penanganan dan pengaturan muatan serta pengadilan operasi kapal dan
mampu menjadi Nahkoda untuk kapal < 500 GT NCW (Near Coastal Voyage).
4) Bidang Keahlian Teknik Tingkat IV (DP-IV) Teknika
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai perwira permesinan dan
kelistrikan kapal, perawatan dan perbaikan mesin kapal, serta mengendalikan operasi kapal dan personal
di kapal pelayaran nusantara hingga ukuran mesin < 750 Kwh.
Lama pendidikan :
2 tahun (4 semester) teori di kelas;
1 tahun (2 semester) praktek di kapal.
Persyaratan Peserta :
a) Berusia maksimal 22 tahun pada saat masuk pendidikan;
b) Minimal Lulusan SLTP / yang sederajat;
c) Berbadan sehat termasuk kesehatan mata dan telinga yang dibuktikan dengan surat keterangan
dokter yang ditunjuk;
d) Tinggi badan minimal 160 cm bagi pria & 155 cm bagi wanita;
e) Surat keterangan Catatan kepolisian (SKCK) dari POLRI;
f) Belum menikah dan sanggup tidak menikah selama proses pendidikan;
142
Direktori
Kementerian Perhubungan
g) Surat keterangan bebas narkoba dari Rumah Sakit pemerintah / kepolisian) Lulus seleksi
penerimaan.
5) Bidang Keahlian Nautika Tingkat Dasar (DP-D) Nautika
Mendidik dan melatih para diklat agar memiliki kompetensi sebagai ABK untuk dapat melaksanakan tugas
jaga navigasi pada tingkat penunjang.
6) Bidang Keahlian Teknika Tingkat Dasar (DP-D) Teknika
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai ABK untuk dapat melaksanakan
pengoperasian, perawatan dan perbaikan permesinan kapal serta data pengendali operasi kapal pada
tingkat penunjang.
Lama Pendidikan :
3 bulan teori dan praktek di kampus, 3 bulan praktek di kapal.
Persyaratan Peserta :
a) Berusia maksimal 40 tahun pada saat masuk pendidikan;
b) Minimal Lulusan SLTP / yang sederajat;
c) Berbadan sehat termasuk kesehatan mata dan telinga yang dibuktikan dengan sertifikat kesehatan
dari rumah sakit yang ditunjuk;
d) Tinggi badan minimal 160 cm bagi pria & 155 cm bagi wanita;
e) Surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) dari POLRI;
f) Belum menikah dan sanggup tidak menikah selama proses pendidikan;
g) Surat keterangan bebas narkoba dai rumah sakit pemerintah / kepolisian;
h) Lulus seleksi penerimaan.
b. Diklat Penjenjangan
1) Bidang keahlian Nautika Tingkat III (DP-III) Nautika / Teknika
Meningkatkan kompetensi dan keahlian peserta didik sebagai perwira navigasi di wilayah perairan samudera,
penanganan dan pengaturan muatan serta pengendalian kapal, dan mampu menjadi nahkoda pada kapal <
1.500 GT Near Coastal Voyage atau sebagai perwira mesin di wilayah perairan samudera, penanganan dan
pemeliharaan permesinan dalam rangka memperlancar pengoperasian kapal dan mampu menjadi Kepala
Kamar Mesin (KKM) pada kapal < 3.000 Kw Near Coastal Voyage (NCV).
Lama Pendidikan : 9 bulan
Persyaratan :
a) Pengalaman Ijazah ANT/ATT IV harus 2 tahun dari tanggal penerbitan Ijazah, kecuali ijazah dari
diklat Pemutkahiran;
b) Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani dari dokter umum/praktek;
c) Legalisir Buku Pelaut dari Syahbandar, yang berisikan sign on dan sign off yang ditandatangani oleh
Nahkoda Kapal;
143
Direktori
Kementerian Perhubungan
d) Surat Keterangan Masa Berlayar di kapal niaga (bukan kapal Negara) dengan pengalaman minimal 2
tahun dari Syahbandar;
e) Perjanjian kontrak dari Perusahaan (sign on dan sign off).
2) Bidang Keahlian Nautika Tingkat IV (DP-IV) Nautika / Teknika
Meningkatkan kompetensi dan keahlian peserta didik sebagai perwira Navigasi di daerah pelayaran
nusantara dan internasional, penanganan dan pengaturan muatan serta pengendalian operasi kapal
dan mampu menjadi Nahkoda untuk kapal < 500 GT NCW (Near Coastal Voyage) atau sebagai perwira
Permesinan dan kelistrikan kapal, perawatan dan perbaikan mesin kapal, serta mengendalikan operasi
kapal dan personal di kapal pelayaran nusantara dan internasional hingga ukuran mesin <750 Kwh.
Lama Pendidikan : 9 bulan
Persyaratan :
a) Pengalaman ljasah ANT/ATT - IV harus 2 tahun dari tanggal penerbitan ljasah kecuali Ijasah dan diklat
Pemutakhiran;
b) Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani dari dokter umum/praktek;
c) Legalisir Buku Pelaut dan Syahbandar, yang berisikan sign on dan sign off yang ditandatangani oleh
Nakhoda Kapal;
d) Surat Keterangan Masa Berlayar di kapal Niaga (bukan kapal Negara) dan pengalaman minimal 2 th
dan Syahbandar;
e) Perjanjian Kontrak dari Perusahaan (Sign on dan Sign off).
3) Bidang Keahlian Nautika Tingkat - V (DP-V) Nautika / Teknika
Meningkatkan kompetensi dan keahlian peserta didik sebagai perwira Navigasi di daerah pelayaran
nusantara, <500 GT NCW (Near Coastal Voyage) dan sebagai perwira Permesinan dan kelistrikan kapal,
perawatan dan perbaikan mesin kapal, serta mengendalikan operasi kapal dan personal di kapal pelayaran
nusantara hingga ukuran mesin <750 Kwh.
Lama Pendidikan : 3 bulan
Persyaratan :
a) Pengalaman Ijazah ANT / ATT D harus 2 tahun dari tanggal penerbitan Ijazah, kecuali ijazah dari
diklat Pemutkahiran;
b) Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani dari dokter umum/praktek;
c) Legalisir Buku Pelaut dari Syahbandar, yang berisikan sign on dan sign off yang ditandatangani oleh
Nahkoda Kapal;
144
Direktori
Kementerian Perhubungan
d) Surat Keterangan Masa Berlayar di kapal niaga (bukan kapal Negara) dengan pengalaman minimal 2
tahun dari Syahbandar;
e) Perjanjian kontrak dari Perusahaan (sign on dan sign off).
4) Bidang Keahlian Nautika Dasar (DP-D) Nautika / Teknika
Meningkatkan kompetensi dan keahlian peserta didik sebagai ABK untuk dapat melaksanakan tugas jaga
navigasi dan dapat melaksanakan pengoperasian, perawatan dan perbaikan permesinan kapal serta data
pengendali operasi kapal pada tingkat penunjang.
Lama Pendidikan : 1 bulan
Persyaratan :
a) Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani dari dokter umum/praktek;
b) Basic Safety Training (BST);
c) Legalisir Buku Pelaut dari Syahbandar yang berisikan sign on dan;
d) sign off yang ditandatangani oleh Nahkoda Kapal;
e) Surat Keterangan Masa Berlayar di kapal niaga (bukan kapal Negara) dengan pengalaman minimal 6
bulan dari Syahbandar;
f) Perjanjian kontrak dari Perusahaan (sign on dan sign off);
3. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Barombong
Jln. Permandian Alam No.1 Barombong Makassar,
Sulawesi Selatan
Telepon : +62-411-317322
Fax : +62-411-326435
E-mail : bplpd@indosat.net.id
a. Program Diklat Pembentukan Diklat Pelaut (DP IV)
1) Bidang Keahlian Nautika Tingkat IV (ANT-IV)
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai perwira Navigasi di daerah
pelayaran nusantara, penanganan dan pengaturan muatan serta pengendalian operasi kapal dan mampu
menjadi Nakoda untuk kapal < 500 GT NCV (Near Coastal Voyage)

145
Direktori
Kementerian Perhubungan
2) Bidang Keahlian Teknika Tingkat IV (ATT-IV)
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai perwira Permesinan dan
kelistrikan kapal, perawatan dan perbaikan mesin kapal, serta mengendalikan operasi kapal dan personal
di kapal pelayaran nusantara hingga ukuran mesin <750 Kwh.
Lama Pendidikan:
2 tahun (4 semester) teori di kelas;
1 tahun (2 semester) praktek di kapal.
Persyaratan Peserta:
a) Warga Negara Republik Indonesia, minimal memiliki ijazah SLTP atau sederajat;
b) Usia pada tanggal 01 September 2011 tidak kurang dari 15 tahun serta tidak lebih 22 tahun;
c) Tinggi badan minimal 156 cm untuk pria dan 154 cm untuk wanita;
d) Tidak bertato/beranting-anting (melubangi daun telinga dan hidung);
e) Pendaftar datang sendiri ditempat pendaftaran untuk mengambil/mengisi formulir dan menyerahkannya
kembali dengan melampirkan :
(1) Formulir pendaftaran yang telah diisi 1(satu) lembar;
(2) Foto copy ijazah terakhir/surat keterangan lulus yang diligalisir 2 (dua) lembar;
(3) Foto copy akte kelahiran 2 (dua) lembar;
(4) Surat keterangan catatan kepolisian (SKCK), asli dan foto copy 2 (dua) lembar;
(5) Surat keterangan belum menikah dari KUA 2 (dua) lembar;
(6) Surat pernyataan bersedia tinggal di asrama dan bersedia tidak menikah selama mengikuti
pendidikan dan pelatihan, diketahui oleh orang tua/wali bermaterai Rp.6000,- 2 (dua) lembar;
(7) Surat pernyataan orang tua/wali bersedia menanggung seluruh biaya pendaftaran dan biaya
selama mengikut diklat di BP2IP Barombong bermaterai Rp.6000,- 2 (dua) lembar;
(8) Pas photo berwarna ukuran 3 x 4.
b. Program Diklat Penjenjangan Diklat Pelaut (DP IV)
Bidang Keahlian Tingkat Dasar
1) Bidang Keahlian Nautika Tingkat Dasar (ANT-D)
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai ABK untuk dapat melaksanakan
tugas jaga navigasi pada tingkat penunjang.
2) Bidang Keahlian Teknik Tingkat Dasar (ATT-D)
Mendidik dan melatih para peserta diklat agar memiliki kompetensi sebagai ABK untuk dapat melaksanakan
pengoperasian, perawatan dan perbaikan permesinan kapal serta data pengendali operasi kapal pada
tingkat penunjang.
Lama Pendidikan :1 bulan teori dan praktek di kampus
146
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan :
a) Memiliki pengalaman layar dari Administrator pelabuhan kelas I, sebagai perwira Deck maupun perwira
mesin dikapal niaga minimal 2 Tahun;
b) Memilki sertifikat Keterampilan Khusus Pelaut : BST, PSCRB, MEFA dan AFF;
c) Khusus bagi calon peserta yang belum memiliki sertifikat KKP : PSCRB, MEFA ,dan AFF. diberi
kesempatan untuk mengikuti diklat tersebut di BP2IP Barombong dengan biaya murah dengan
pemberian diskon hingga 30%;
d) Fotokopi Buku pelaut;
e) Fotokopi KTP;
f) SKCK dari kepolisian RI;
g) Pas foto warna ukuran 34 cm baju putih dasi hitam latar belakang biru (ANT)Merah (ATT)10 lembar.
Bidang Keahlian Tingkat IV
1) Bidang Keahlian Nautika Tingkat IV
Sebagai Nakhoda (Master) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000GT pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia.
2) Bidang Keahlian Tehnika Tingkat IV
Sebagai KKM (Chief Engineer) di kapal niaga dengan batasan diatas 750KW dan kurang dari 3000KW
pada daerah pelayaran Indonesia atau pada kapal niaga dengan batasan kurang dari 750KW pada daerah
pelayaran lokal.
Lama Pendidikan : 6 bulan teori dan praktek di kampus
Persyaratan :
a) Memiliki pengalaman layar dari Administrator pelabuhan kelas I, sebagai perwira Deck maupun perwira
mesin dikapal niaga minimal 2 tahun;
b) Memilki sertifikat Keterampilan Khusus Pelaut : BST, PSCRB, MEFA dan AFF;
c) khusus bagi calon peserta yang belum memiliki sertifikat KKP : PSCRB, MEFA ,dan AFF diberi
kesempatan untuk mengikuti diklat tersebut di BP2IP Barombong dengan biaya murah dengan
pemberian diskon hingga 30%.
d) Fotokopi Buku pelaut
e) Fotokopi KTP
f) SKCK dari kepolisian RI.
g) Pasfoto warna ukuran 3 4 cm baju putih dasi hitam latar belakang biru (ANT)Merah (ATT). Sebanyak
10 Lembar.
147
Direktori
Kementerian Perhubungan
4. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Sorong
Jl. Tanjung Saoka No 1 Sorong Papua Barat
Telp/fax : (0951) 328808
e-mail : bp2ip_sorong@yahoo.com
Blogspot : bp2ipsorong.blogspot.com
a. Diklat Pembentukan
1) Ahli Nautika Tingkat IV (ANT-IV);
2) Ahli Teknika Tingkat IV (ATT-IV);
Lama pendidikan : 3 Tahun ( 2 tahun teori dan 1 tahun prakter berlayar).
Persyaratan :
a) Usia minimal 15 tahun;
b) Berijasah minimal SLTP atau sederajat;
c) Sehat jasmani dan rohani;
d) Belum menikah.
b. Diklat Penjenjangan
1) Ahli Nautika Tingkat IV (ANT-IV);
2) Ahli Teknika Tingkat IV (ATT-IV);
3) Ahli Nautika Tingkat V (ANT-V);
4) Ahli Teknika Tingkat V (ATT-V);
5) Ahli Nautika Tingkat Dasar (ANT-D);
6) Ahli Teknika Tingkat Dasar (ATT-D).
Persyaratan :
Diklat Pelaut IV (ANT-IV / ATT-IV)
a) Usia minimal 17 tahun;
b) Berijasah minimal SLTP atau sederajat;
c) Memiliki ijasah kepelautan ANT-V / ATT-V;
148
Direktori
Kementerian Perhubungan
d) Memiliki sertifikat keterampilan yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut;
e) Memiliki masa layar 2 tahun;
f) Memiliki buku pelaut;
g) Memiliki dokumen identitas diri;
h) Sehat jasmani maupun rohani;
i) Lama diklat : 9 bulan.
Diklat Pelaut V (ANT-V / ATT-V)
a) Usia minimal 17 tahun;
b) Berijasah minimal SLTP atau sederajat;
c) Memiliki ijasah kepelautan ANT-D / ATT-D;
d) Memiliki sertifikat keterampilan yang telah ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut;
e) Memiliki masa layar 2 tahun;
f) Memiliki buku pelaut;
g) Memiliki dokumen identitas diri;
h) Sehat jasmani maupun rohani;
i) Lama diklat : 3 bulan.
Diklat Pelaut Tingkat Dasar (ANT-D / ATT-D)
a) Usia minimal 17 tahun;
b) Berijasah minimal SLTP atau sederajat;
c) Memiliki masa layar 6 bulan;
d) Memiliki buku pelaut;
e) Memiliki dokumen identitas diri;
f) Sehat jasmani maupun rohani;
g) Lama diklat : 1 bulan;
5. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Tangerang
Jln. Raya Karang Serang Nomor: 1, Kecamatan Sukadiri,
Kabupaten Tangerang 15530 Propinsi Banten
Telepon 021 59370327, 59370328, 59370329 Fax 021 59370330
149
Direktori
Kementerian Perhubungan
a. Diklat Pembentukan :
1) Diklat Pelaut IV Pembentukan (DP-IV Pembentukan);
2) Diklat Pelaut Dasar (DP-D);
3) Diklat pembibitan Officer Plus (OP) 60.
b. Diklat Teknis Profesi Kepelautan (DTPK).
c. Diklat Keterampilan Khusus Pelaut (DKKP) .
d. Diklat Substansi Kepelautan.
e. Diklat Teknologi Pelayaran Nusantara I (DTPN-I) :
1) Jurusan Nautika :
a) Sebagai Perwira Jaga (Deck Watchkeeping Officer) di kapal niaga untuk setiap ukuran kapal pada
daerah pelayaran kawasan Indonesia;
b) Sebagai Mualim 1 (Chief Officer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000GT pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
c) Sebagai Nakhoda (Master) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 GT pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia.
2) Jurusan Teknika :
a) Sebagai Masinis 3 (Third Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
b) Sebagai Masinis 2 (Second Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
c) Sebagi KKM (Chief Engineer) di kapal niaga dengan batasan diatas 750 kW dan kurang dari 3000 kW
pada daerah pelayaran Indonesia atau pada kapal niaga dengan batasan kurang dari 750 kW pada
daerah pelayaran lokal.
f. Diklat Teknologi Pelayaran Nusantara II (DTPN-II)
1) Jurusan Nautika :
a) Sebagai Perwira Jaga (Deck Watchkeeping Officer) di kapal niaga untuk ukuran kapal kurang dari 500
GT pada daerah pelayaran kawasan Indonesia atau di kapal niaga untuk ukuran kapal kurang dari
3000 GT pada daerah pelayaran lokal;
b) Sebagai Mualim 1 (Chief Officer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 500 GT pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia dan daerah pelayaran lokal;
c) Sebagai Nakhoda (Master) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 500 GT pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia.
2) Jurusan Teknika :
a) Sebagai Masinis 3 (Third Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
b) Sebagai Masinis 2 (Second Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 750 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
c) Sebagi KKM (Chief Engineer) di kapal niaga dengan kurang dari 750 kW pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia dan daerah pelayaran lokal.
150
Direktori
Kementerian Perhubungan
g. Diklat Teknologi Pelayaran Dasar (DTPD):
1) Jurusan Nautika
Juru mudi, AB deck atau kelasi untuk setiap jenis dan ukuran kapal pada semua daerah pelayaran.
2) Jurusan Teknika
Oiler, AB engine atau wiper untuk setiap jenis dan ukuran kapal pada semua daerah pelayaran.
h. Diklat Teknis Profesi Kepelautan (TPK) Tingkat IV :
1) Jurusan Nautika
a) Sebagai Perwira Jaga (Deck Watchkeeping Officer) di kapal niaga untuk setiap ukuran kapal pada
daerah pelayaran kawasan Indonesia;
b) Sebagai Mualim 1 (Chief Officer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 GT pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
c) Sebagai Nakhoda (Master) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 GT pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia.
2) Jurusan Teknika
a) Sebagai Masinis 3 (Third Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia.;
b) Sebagai Masinis 2 (Second Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
c) Sebagai KKM (Chief Engineer) di kapal niaga dengan batasan diatas 750 kW dan kurang dari 3000 kW
pada daerah pelayaran Indonesia atau pada kapal niaga dengan batasan kurang dari 750 kW pada
daerah pelayaran lokal.
i. Diklat Teknis Profesi Kepelautan (TPK) Tingkat V
1) Jurusan Nautika
a) Sebagai Perwira Jaga (Deck Watchkeeping Officer) di kapal niaga untuk ukuran kapal kurang dari 500
GT pada daerah pelayaran kawasan Indonesia atau di kapal niaga untuk ukuran kapal kurang dari
3000 GT pada daerah pelayaran lokal;
b) Sebagai Mualim 1 (Chief Officer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 500 GT pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia dan daerah pelayaran lokal;
c) Sebagai Nakhoda (Master) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 500 GT pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia.
2) Jurusan Teknika
a) Sebagai Masinis 3 (Third Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 3000 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
b) Sebagai Masinis 2 (Second Engineer) di kapal niaga dengan ukuran kurang dari 750 kW pada daerah
pelayaran kawasan Indonesia;
c) Sebagi KKM (Chief Engineer) di kapal niaga dengan kurang dari 750 kW pada daerah pelayaran
kawasan Indonesia dan daerah pelayaran lokal.
j. Diklat Ketrampilan Pelaut Dasar (KPD) :
1) Jurusan Nautika
Juru mudi, AB deck atau kelasi untuk setiap jenis dan ukuran kapal pada semua daerah pelayaran.
2) Jurusan Teknika
Oiler, AB engine atau wiper untuk setiap jenis dan ukuran kapal pada semua daerah pelayaran.
151
Direktori
Kementerian Perhubungan
6. Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar
Jalan Tentara Pelajar No. 173 Makassar 90172, Sulawesi Selatan
Telepon 0411 (316975) Fax. (0411) 316974

a. Diklat Pembentukan :
1) Program studi Nautika
Program studi nautika memberikan program diklat untuk membentuk lulusan menjadi perwira pelayaran
niaga bagian dek, sesuai chapter II Regulation STCW 1978 Amandemen 1995 tingkat kompetensi Ahli
nautika tingkat II (ANT-II) dan setelah memenuhi persyaratan pengawakan kapal niaga berwenang menjabat
sebagai Nakhoda/perwira pada kapal pelayaran samudera.
2) Program studi Teknika
Program studi teknika memberikan program diklat untuk membentuk lulusan menjadi perwira pelayaran
niaga bagian mesin, sesuai chapter III Regulation STCW 1978 Amandemen 1995 tingkat kompetensi Ahli
teknika tingkat II (ATT-II) dan setelah memenuhi persyaratan pengawakan kapal niaga berwenang menjabat
sebagai Kepala Kamar Mesin pada kapal pelayaran samudera.
b. Program studi Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan
Program studi Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan memberikan program diklat untuk membentuk
lulusan menjadi Ahli Manajemen Angkutan Laut dan Kepelabuhanan yang siap bertugas di pelabuhan dengan
menguasai administrasi, pengoperasian pelabuhan, atau menjadi manajer bisnis pelayaran.
c. Diklat Pelaut II, yaitu program diklat yang diarahkan kepada peserta didik profesi pelaut yang akan meningkatkan
kompetensi kepelautan dari ijazah Ahli Nautika/Tekni ka Tingkat III menjadi Ahli Nautika/Teknika Tingkat II
(mengacu pada Regulation II/2.1 STCW 1978 Amandemen 1995).
d. Diklat Pelaut III, yaitu program diklat yang diarahkan kepada peserta didik profesi pelaut yang akan meningkatkan
kompetensi kepelautan dari ijazah Ahli Nautika/Teknika Tingkat IV menjadi Ahli Nautika/Teknika Tingkat III
mengacu pada Regulation III/1, III/3.2, III/2.1 dan STCW 1978 Amandemen 1995).
152
Direktori
Kementerian Perhubungan
7. Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang
JL. Singosari 2A (024) 8311527-8311528, Fax (024)8311529
Website : pip-semarang.ac.id
Email : info@pip-semarang.ac.id
a. Program Diklat Diploma IV :
1) Program Studi Nautika;
2) Program Studi Tehnika;
3) Program Studi Ketatalaksanaan Angkutan Laut dan Kepelabuhanan (KALK).
b. Program Diklat Teknis Kepelautan :
1) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat-II Nautika (TPK-II Nautika);
2) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat-III Nautika (TPK-III Nautika);
3) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat-IV Nautika (TPK-IV Nautika);
4) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat-II Teknika (TPK-II Tehnika);
5) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat-III Teknika (TPK-III Tehnika);
6) Diklat Teknis Profesi Kepelautan Tingkat-IV Teknika (TPK-IV Tehnika).
8. Balai Besar Pendidikan Penyegaran Peningkatan Ilmu Pelayaran
Jl. Danau Sunter Utara Blok G Sunter Podomoro, Jakarta Utara (14350)
Telepon: +6221- 6510754, 6519773, 6519775
Fax: +6221- 6510722

Diklat Keahlian Pelaut :
a. Diklat Pelaut ANT I;\
153
Direktori
Kementerian Perhubungan
Persyaratan:
1) Ijazah ANT- II;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum minimal D-III Pelayaran/Strata A Pelayaran/Akademi Pelayaran/D-IV Pelayaran;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ANT-II;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA, MC, RS, ARPA, GMDSS.
b. Diklat Pelaut ATT I
Persyaratan :
1) Ijazah ATT- II;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min. D-III Pelayaran/Strata A Pelayaran/Akademi Pelayaran/D-IV Pelayaran;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ATT-II;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA, MC.
c. Diklat Pelaut ANT II
Persyaratan :
1) Ijazah ANT- III;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min. D-III Pelayaran/Strata A Pelayaran/Akademi Pelayaran/D-IV Pelayaran/SMA;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ANT-III;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA, MC, RS, ARPA, GMDSS.
d. Diklat Pelaut ATT II
Persyaratan:
1) Ijazah ATT- III;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min. SMP/SMA sederajat Ijazah umum min. D-III Pelayaran/Strata A Pelayaran/Akademi
Pelayaran/D-IV Pelayaran;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ATT-III;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA, MC.
e. Diklat Pelaut ANT III
Persyaratan :
1) Ijazah ANT- IV;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
154
Direktori
Kementerian Perhubungan
5) Ijazah umum min SMA/SMP;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ANT-IV;
7) Sertifikat profesiensi;
8) BST, SCRB, AFF, MFA, RS, ARPA, GMDSS;
f. Diklat Pelaut ATT III
Persyaratan :
1) Ijazah ATT- IV;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min. SMP/SMA sederajat;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ATT-III;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA.
g. Diklat Pelaut ANT IV
Persyaratan :
1) Ijazah ANT- V;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min SMA/SMP;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ANT-V;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA, GMDSS.
h. Diklat Pelaut ATT IV
Persyaratan :
1) Ijazah ATT- V;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min. SMP/SMA sederajat;
6) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ATT-V;
7) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA.
i. Diklat Pelaut ANT V
Persyaratan:
1) Ijazah ANT-D;
2) Minimal Usia 18 th;
3) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
4) Buku Pelaut;
5) Surat Keterangan masa layar;
6) Ijazah umum min SMA/SMP sederajat;
7) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ANT-D;
8) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA.
155
Direktori
Kementerian Perhubungan
j. Diklat Pelaut ATT V
Persyaratan:
1) Ijazah ATT- D;
2) Minimal usia 18 tahun;
3) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
4) Buku Pelaut;
5) Surat Keterangan masa layar;
6) Ijazah umum min. SMP/SMA sederajat;
7) Surat Tanda Tamat Pendidikan Kelautan (STTPK) ATT-V;
8) Sertifikat profesiensi BST, SCRB, AFF, MFA.
k. Diklat Pelaut ANT D
Persyaratan:
1) Minimal Usia 18 tahun;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min SMA/SMP sederajat;
6) Sertifikat profesiensi BST.
l. Diklat Pelaut ATT D
Persyaratan :
1) Minimal Usia 18 tahun;
2) Sertifikat kesehatan mata dan telinga;
3) Buku Pelaut;
4) Surat Keterangan masa layar;
5) Ijazah umum min SMA/SMP sederajat;
6) Sertifikat profesiensi BST.
9. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Transportasi Laut (BP2TL) Jakarta
Jl. M. Kahfi II/88 RT.02/05 Cipedak Jagakarsa Jakarta Selatan 12630
Telepon: (021)7870223, 7869209;
Fax: (021) 7270186
156
Direktori
Kementerian Perhubungan
Menyelenggarakan diklat-diklat teknis kelautan untuk pegawai negeri sipil bidang transportasi laut di Kementerian
Perhubungan dan Dinas Perhubungan.
a. Diklat Teknis Bidang Perkapalan Dan Kepelautan
1) Marine Inspector Type A;
2) Marine Inspector Type B;
3) Marine Inspector Radio;
4) Marine Surveyor;
5) Pengukuran Kapal Dalam Negeri;
6) Pengukuran Kapal Internasional;
7) Pendaftaran & Kebangsaan Kapal;
8) Penilaian Kapal;
9) Penimbalan Kompas;
10) Penilikan Gambar dan Rancang Bangun Kapal.
b. Diklat Teknis Bidang KPLP
1) Kesyahbandaran Klas A;
2) Kesyahbandaran Klas B;
3) KPLP Tk. Tamtama;
4) KPLP Tk. Bintara;
5) KPLP Tk. Perwira;
6) Rescue Team Tk. Dasar;
7) ISPS Code ( PFSO);
8) Port State Control Officer (PSCO);
9) Pekerjaan Bawah Air;
10) Menyelam;
11) Konstable (Menembak);
12) Pencegahan & Penanggulangan Pencemaran Laut.
c. Diklat Teknis Bidang Lalu Lintas Angkutan Laut
1) Ketatalaksanaan Angkutan Laut;
2) Penanganan Muatan di Pelabuhan.
d. Diklat Teknis Bidang Pelabuhan & Pengerukan
1) Kepelabuhanan;
2) Kepanduan (Maritime Pilot);
3) Bongkar-Muat Barang di Pelabuhan;
4) Tally Pelabuhan.
e. Diklat Teknis Bidang Kenavigasian
1) SBNP Tk. Dasar;
2) SBNP Tk. Terampil;
3) SBNP Tk. Mahir.
f. Diklat Teknis Bidang Sekretariat Ditjen. Hubla
1) TTPL Tk. Pratama;
2) TTPL Tk. Madya;
157
Direktori
Kementerian Perhubungan
3) English Maritime;
4) PPNS.
g. Pelatihan/Penyuluhan Untuk SDM Dinas Teknis Bidang Perhubungan Laut Dan Instansi Terkait
1) DTBPL;
2) Dasar dasar Marine Inspector;
3) Dasar dasar Kesyahbandaran;
4) Pengukuran Kapal dibawah 7 GT.
C. Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan
Udara
1. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia
PO BOX 509 Curug, Tangerang, Banten 15001
Telp. (021) 598-2203/2204/2205, Fax. (021)5982234
a. Program Diklat Jurusan Penerbang
Diploma II Penerbang Sayap Tetap.
b. Program Diklat Jurusan Keselamatan Penerbangan
1) Diploma I Basic Air Traffic Sevices (D-I BATS);
2) Diploma II Pengatur Lalu Lintas Udara (D-II PLLU);
3) Diploma III Penilik Lalu Lintas Udara (D-III PLLU);
4) Diploma IV Ahli Lalu Lintas Udara (D-IV PLLU);
5) Diploma II Pengatur Komunikasi (D-II KP);
6) Diploma II Aeronautical Information Service/Pengatur Penerangan Aeronautika (D-II AIS/RPA);
7) Diploma III Aeronautical Information Service/Pengatur Penerangan Aeronautika (D-III AIS/PPA);
8) Diploma IV Aeronautical Information Service/Pengatur Penerangan Aeronautika (D-IV AIS/PPA);
9) Diploma III Pertolongan Kecelakaan Penerbangan (D-III PKP).
c. Program Diklat Jurusan Teknik Penerbangan
1) Diploma II Teknis Listrik Bandara (D-II RTL);
2) Diploma III Teknik Listrik Bandara (D-III PTL);
3) Diploma IV Teknik Listrik Bandara (D-IV ATLB);
158
Direktori
Kementerian Perhubungan
4) Diploma II Teknik Radio (D-II RTR);
5) Diploma III Teknik Radio (D-III PTNU);
6) Diploma IV Teknik Navigasi Radio (D-IV ATNU);
7) Diploma II Pengatur Teknik Pesawat Udara (D-II RTPU);
8) Diploma III Penilik Teknik Pesawat Udara (D-III PTPU);
9) Diploma IV Ahli Teknik Pesawat Udara (D-IV ATPU);
10) Diploma III Teknik Mekanikal Bandar Udara;
11) Diploma III Penilik Teknik Bangunan Dan Landasan (D-III PTBL).
d. Program Diklat Jurusan Manajemen Penerbangan
1) Diploma III Administrasi Perhubungan Udara (D-III APU);
2) Diploma III Operasi Bandar Udara;
3) Diploma III Operasi Pesawat Udara.
e. Program Diklat Lanjutan Dan Diklat Pendek
1) Diploma III Penerbangan Sayap Tetap (D-III ATPL);
2) Diploma III Penilik Lalu Lintas Udara (D-III PLLU);
3) Air Traffic Controller Radar (Radar PLLU);
4) Diploma III Penerangan Aeronautika (Diklat Lanjutan);
5) Pertolongan Kecelakaan Penerbangan Dan Pemadam Kebakaran Dasar (PKPPK-D);
6) Pertolongan Kecelakaan Penerbangan Dan Pemadam Kebakaran Yunior (PKP-PK Y);
7) Senior Pertolongan Kecelakaan Penerbangan Dan Pemadam Kebakaran (SPKP-PK);
8) Administrasi Pendidikan;
9) Penanganan Kargo Udara (Air Cargo Handling);
10) Pelayanan Informasi Bandara (Airport Information Center);
11) Penataran Instruktur;
12) Pengelolaan Suku Cadang Bandar Udara;
13) Pengangkatan Dan Penyelamatan Pesawat (Salvage);
14) Manajemen Bandara (Airport Management);
15) Pengoperasian Garbarata (Aviobridge Operation);
16) Penanganan Bagasi (Baggage Conveyor Handling);
17) Pengamanan Penerbangan Tingkat Dasar (Basic Aviation Security);
18) Pengamanan Penerbangan Tingkat Dasar Khusus (Basic Aviation Security);
19) Instrumen Dasar Pesawat (Basic Avionic);
20) Awak Kabin Pesawat (Cabin Attendant);
21) Kursus Dasar Jalur Transmisi (Transmission Line Basic Course);
22) Kursus Serat Optik (Fiber Optic Course);
23) Kursus Teknik Digital (Digital Technique Course);
24) Kursus Teknik Komunikasi (Communication Technique Course);
25) Kursus Teknik Navigasi I/II/III (NDB/VOR-DME/ILS);
26) Kursus Dasar Teknik Radar;
27) Bahasa Inggris Penerbangan;
28) Fasilitas Bandar Udara (Airport Facilities);
29) Instruktur Terbang (Flight Instructor Course);
159
Direktori
Kementerian Perhubungan
30) Pemangku Operasi Penerbangan (Flight Operation Officer);
31) Penanganan Kegiatan Darat (Ground Handling Officer);
32) Hygiene Dan Sanitasi Bandar Udara;
33) Kursus Keudaraan Tingkat Dasar;
34) Kursus Keudaraan Tingkat Lanjutan;
35) Kursus Keudaraan Tingkat Lanjutan II;
36) Komersial Bandar Udara (KBU).
2. Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Medan
Jl Penerbangan No.85 Padang Bulan KM.8,5 Medan, Sumatera Utara
Telepon: +62 - 61- 8360675/Fax +62 61 - 8367965
a. Program Diklat Pembentukan Dasar (Program Diploma)
1) Diploma I Basic Air Traffic Services (BATS)
Lama Pendidikan selama 1 (satu) tahun atau 2 Semester.
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan;
b) Pendidikan terakhir SLTA/ sederajat;
c) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan keterangan Dokter;
d) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
e) Bersedia mematuhi peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang
diketahui oleh kepala instansi masing-masing.
2) Diploma II Pengatur Komunikasi Penerbangan (RKP)
Lama Pendidikan selama 2 (dua) tahun atau 4 Semester.
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan/ UMUM;
b) Pendidikan terakhir D. I Basic ATS.Untuk Program Extension (Pegawai);
c) SLTA/ sederajat untuk umum;
d) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan keterangan Dokter;
e) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
160
Direktori
Kementerian Perhubungan
f) Bersedia mematuhi peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang
diketahui oleh kepala instansi masing-masing.
3) Program Diploma II Lalu Lintas Udara (Air Traffic Service)
Lama Pendidikan selama 2 tahun (4 Semester) termasuk didalamnya program On the Job Training selama
3 bulan.
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan/Umum;
b) Lulusan SLTA (IPA/IPS) atau sederajat dengan melalui jalur Sipencatar;
c) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Dokter;
d) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang bagi Pegawai Negeri Sipil/BUMN;
e) Bersedia untuk mentaati Peraturan dan Tata Tertib Diklat yang berlaku;
f) Menandatangani Surat Pernyataan yang diketahui oleh Kepala Instansi masing-masing.
4) Diploma III Penilik Lalu Lintas Udara (PLLU)
Lama Pendidikan selama 3 (tiga) tahun atau 6 Semester.
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan/ UMUM;
b) Pendidikan terakhir D.II RLLU Untuk Program Extension;
c) SLTA/ sederajat untuk umum melalui jalur Seleksi Penerimaan Calon Taruna (Sipencatar);
d) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan keterangan Dokter;
e) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
f) Bersedia mematuhi peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang
diketahui oleh kepala instansi masing-masing.
5) Diploma I Pendidikan Dasar Teknik Radio Bandara (PDTR)
Lama Pendidikan selama satu tahun (2 Semester).
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan;
b) Lulusan SLTA IPA atau sederajat;
c) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Dokter;
d) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
e) Bersedia untuk mentaati Peraturan dan Tata Tertib Diklat yang berlaku;
f) Menandatangani Surat Pernyataan yang diketahui oleh Kepala Instansi masing-masing.
6) Diploma II Pengatur Teknik Radio Bandara (RTR)
Lama Pendidikan selama satu tahun (2 Semester).
Persyaratan Peserta:
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan;
b) Pendidikan Terakhir Ijazah Diploma I PDTR untuk Program Extension;
c) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan surat keterangan Dokter;
d) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
161
Direktori
Kementerian Perhubungan
e) Bersedia mentaati peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang diketahui
oleh Kepala Instasi masing-masing.
7) Diploma III Teknik Navigasi Udara (TNU)
Lama Pendidikan selama 3 (tiga) tahun atau 6 semester termasuk pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan
selama 2 (dua) bulan.
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Departemen Perhubungan/Umum;
b) Pendidikan terakhir D.II RTR Untuk Program Extension;
c) SLTA IPA/sederajat untuk umum melalui jalur Seleksi Penerimaan Calon Taruna (Sipencatar);
d) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan Surat Keterangan Dokter;
e) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang bagi Pegawai Negeri Sipil/BUMN;
f) Bersedia untuk mentaati Peraturan dan Tata Tertib Diklat yang berlaku;
g) Menandatangani Surat Pernyataan yang diketahui oleh Kepala Instansi masing-masing.
8) Diploma I Pendidikan Dasar Teknik Listrik Bandara (PDTL)
Lama pendidikan selama satu tahun (2 Semester).
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Perhubungan;
b) Lulusan SLTA IPA atau sederajat;
c) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan keterangan Dokter;
d) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
e) Bersedia mematuhi peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang
diketahui oleh kepala instansi masing-masing.
9) Diploma II Pengatur Teknik Listrik Bandara (RTL)
Lama pendidikan selama satu tahun (2 Semester).
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Perhubungan;
b) Pendidikan terakhir Ijazah Diploma I PDTL untuk Program Extension;
c) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan keterangan Dokter;
d) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
e) Bersedia mematuhi peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang
diketahui oleh kepala instansi masing-masing.
10) Diploma III Penilik Teknik Listrik Bandara (PTL)
Lama pendidikan selama 3 tahun (6 Semester) termasuk pelaksanaan PKL.
Persyaratan Peserta :
a) Pegawai Negeri Sipil/BUMN Perhubungan/Umum;
b) Pendidikan terakhir D.II RTR Untuk Program Extension;
c) SLTA IPA/sederajat untuk umum melalui jalur Seleksi Penerimaan Calon Taruna (Sipencatar);
d) Sehat Jasmani dan Rohani yang dinyatakan dengan keterangan Dokter;
162
Direktori
Kementerian Perhubungan
e) Mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang;
f) Bersedia mematuhi peraturan Diklat yang berlaku dan menandatangani Surat Pernyataan yang
diketahui oleh kepala instansi masing-masing.
b. Program Pendidikan Dan Pelatihan Teknis (Short Course)
1) Pelayanan Informasi Bandara (Airport Information Officer);
2) Basic Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (Basic PKP-PK);
3) Junior Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (Junior PKP-PK);
4) Senior Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (Senior PKP-PK);
5) Pengamanan Penerbangan Tingkat Dasar (Basic Aviation Security);
6) Pengamanan Penerbangan Tingkat Junior (Junior Aviation Security);
7) New English Proficiency (NEP);
8) Manajemen Bandar Udara (MBU).
3. Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Surabaya
Jl Jemur Andayani I/73 Surabaya 60236
Telp. : 031-8410871 8472936
Fax. 031-8790005,
Email : atkp_surabaya@yahoo.co.id
Websute : www.atkpsby.ac.id
a. Program Diploma
1) Jurusan Teknik Penerbangan :
a) D I Pend. Dasar Teknik Listrik;
b) D II Teknik Listrik Bandar Udara;
c) D III Teknik Listrik Bandar Udara;
d) D I Pend. Dasar Teknik Radio;
e) D II Teknik Telekomunikasi Dan Navigasi Udara;
f) D III Teknik Telekomunikasi Dan Navigasi Udara;
g) D I Teknik Bangunan Dan Landasan;
h) D II Teknik Bangunan Dan Landasan;
163
Direktori
Kementerian Perhubungan
i) D III Teknik Bangunan Dan Landasan;
j) D III Teknik Perawatan Pesawat Udara;
k) D III Teknik Mekanikal Bandar Udara;
2) Jurusan Keselamatan Penerbangan :
a) D I Basic Air Traffic Service / ATS;
b) D II Lalu Lintas Udara;
c) D III Lalu Lintas Udara;
d) D II Aviation Security;
e) D III PKPPK;
f) D III Operasi Darat Bandar Udara;
g) D III Operasi Terminal Bandar Udara.
b. Program Non Diploma
1) Jurusan Teknik Penerbangan :
a) Teknik Perawatan Komputer (Hardware);
b) Teknik Digital;
c) Radar Principle;
d) Airport System Planning;
e) CNS/ATM Foundation Training For Technition;
f) Local Area Network;
g) Teknik Bangunan Dan Landasan;
h) Recurent Training Teknik Penerbangan.
2) Jurusan Keselamatan Penerbangan :
a) Marshalling;
b) Airport Information Officer (AIO);
c) Apron Movement Controller (AMC);
d) CNS/ATM Foundation Training For Operation Staf;
e) Recurent Training Keselatan Penerbangan;
f) Aviation Security;
g) PKP-PK;
h) Penanganan Cargo Udara (Air Cargo Handling);
i) Manajemen Bandara Udara;
j) Pengoperasian Garbarata;
k) Penanganan Bagasi;
l) Awak Kabin Pesawat (Cabin Attendant);
m) Fasilitas Bandar Udara (Airport Facilities);
n) Pemangku Operasi Penerbangan;
o) Ground Handling Officer (Penanganan Kegiatan Darat);
p) Komersial Bandar Udara;
q) Pengelolaan Suku Cadang Bandar Udara;
164
Direktori
Kementerian Perhubungan
r) Human Factor;
s) Flight Operation Officer (FOO);
t) Aviation English.
4. Akademi Teknik Dan Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar
Jl Poros Makassar Maros Km 25 Macoppa, Maros Sulawesi Selatan
Telp (0411) 373212,
Fax (0411) 373562
a. Program Diklat Diploma (Pembentukan) :
1) Diploma III Lalu Lintas Udara;
2) Diploma III Teknik Telekomunikasi Dan Navigasi Udara;
3) Diploma III Teknik Listrik Bandar Udara;
4) Diploma II Telekomunikasi Penerbangan;
5) Diploma III Penerbangan Aeronautika.
b. Program Diklat Non Diploma (Penataran) :
1) Diklat Rating Genset And ACOS;
2) Diklat Rating Air Conditioning (AC);
3) Diklat Rating Papi / Vasi System;
4) Diklat Ahli CCR;
5) Diklat Junior Pertolongan Kecelakaan Penerbangan Dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK);
6) Diklat Basic Aviation Security;
7) Diklat Junior Aviation Security;
8) Diklat Marshaller;
9) Diklat Manajemen Bandar Udara Tingkat Madya;
10) Diklat Pemrograman Visual Foxtro;
11) Diklat Digital;
12) Diklat Basic PKP-P;
13) Diklat Hygiene Dan Sanitasi;
165
Direktori
Kementerian Perhubungan
14) Diklat Airport Information Officer (AIO);
15) Diklat Keudaraan;
16) Diklat CNS / ATM;
17) Diklat New English Proficiency;
18) Diklat Flight Operation Officer (FOO);
19) Diklat Dangerous Goods;
20) Diklat Push Back;
21) Diklat Baggage Towing Tractor (BTT);
22) Diklat ATC Refresher.
5. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Penerbangan (BPP Pnb) Palembang
Jl. Adi Sucipto, Talang Betutu Palembang 30155 Sumatera Selatan
Telepon: +61-711-313339, 362166
Fax: +61-711-312339, 361551
Email : bpl_pnb_palembang ;
Website : www.bpp-pnb-palembang.net
Menyelenggarakan diklat-diklat teknis keudaraan bagi pegawai negeri sipil di sektor transportasi udara dan umum :
a. Diklat Manajemen Bandar Udara;
b. Diklat Keudaraan Tingkat Dasar;
c. Diklat Basic AVSEC;
d. Diklat Teknik Komputer;
e. Diklat Kawasan Bandar Udara;
f. Diklat Basic PKP-PK;
g. Diklat Keudaraan Tingkat Sarjana.
166
Direktori
Kementerian Perhubungan
6. Balai Pendidikan Dan Pelatihan Penerbangan (BPP Pnb) Jayapura
Tanjung Kayu Baru No. 6 Tanjung Ria Jayapura 99117
Telepon (0967).541049
Fax (0967) 541562
Menyelenggarakan diklat-diklat teknis keudaraan bagi pegawai negeri sipil di sektor transportasi udara :
a. Diklat Basic PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran);
b. Diklat Junior PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran);
c. Diklat Senior PKP-PK (Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran);
d. Diklat Basic AVSEC (Aviation Security);
e. Diklat Junior AVSEC (Aviation Security);
f. Diklat Senior AVSEC (Aviation Security);
g. Diklat Teknik Komputer;
h. Diklat Teknik Digital;
i. Diklat KKOP (kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan);
j. Diklat Hygiene dan Sanitasi;
k. Diklat Keudaraan Tingkat Dasar;
l. Diklat AIO (Airport Information Officer).
167
Direktori
Kementerian Perhubungan
168
Direktori
Kementerian Perhubungan
169
Direktori
Kementerian Perhubungan
A. Kerangka Hukum
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
2. Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4722);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 Tentang
Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5149);
4. Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi Kementerian Negara serta Susunan
Organisasi, Tugas, Fungsi Eselon I Kementerian Negara;
5. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian
perhubungan;
6. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 72 Tahun 2010 tentang Standar Prosedur Operasional dan Layanan Informasi
Publik di Lingkungan Kementerian Perhubungan;
7. Keputusan Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan Nomor KP 36 tahun 2011 tentang Pemberian
Honorarium Tim Pelaksana Kegiatan Pelayanan Informasi dan Pengaduan Masyarakat.
170
Direktori
Kementerian Perhubungan
B. Prosedur Pelayanan Informasi Publik di Kementerian
Perhubungan
1. Alur Pelayanan Permohonan Informasi Publik
Alur Prosedur Pelayanan Informasi
a. Prosedur Pelayanan Informasi Publik di Lingkungan Kementerian Perhubungan, sebagai berikut:
1) Setiap orang dapat memperoleh informasi dan dokumentasi Kementerian Perhubungan baik secara tertulis
maupun tidak tertulis;
2) Setiap permohonan informasi harus mengisi formulir permohonan informasi yang telah disediakan.
3) Petugas informasi akan mengevaluasi permohonan permintaan informasi terkait dengan:
a) Nama dan alamat Pemohon Informasi;
b) Subjek dan format informasi;
c) Cara penyampaian informasi yang diminta oleh Pemohon Informasi;
d) Alasan Kepentingan permintaan informasi.
4) Permohonan permintaan yang telah memenuhi persyaratan administrasi akan dicatat dalam buku register
dan kepada pemohon informasi diberikan tanda permintaan informasi;
5) Permohonan informasi diteruskan kepada Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi untuk didistribusikan
kepada unit kerja sesuai dengan tugas fungsinya masing-masing untuk menyiapkan jawabannya;
6) Jawaban Informasi disampaikan secara tertulis paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak permohonan
diterima oleh Petugas Informasi dan dapat diperpanjang 7 (tujuh) hari kerja dengan memberikan alasan
secara tertulis;
KEGIATAN
PIHAK TERLIBAT
PETUGAS
INFORMASI
PPID ATASAN PPID WAKTU
1. Menerima surat permohonan
(10 + 7) hari
dengan
pemberitahuan terlebih
dahulu apabila ada
perpanjangan
2. Memeriksa syarat-syarat
pengajuan permohonan
3. Meregister dan meneruskan
permohonan untuk diproses
4. Memproses permohonan
5. Menerima surat keberatan
30 hari
6. Memeriksa syarat-syarat
pengajuan surat keberatan
7. Meregister dan meneruskan
keberatan untuk diproses
8. Memproses keberatan
9. Melaksanakan keputusan tertulis
10. Mendokumentasikan
Inisiatif Badan Publik
11. Membuat laporan layanan
Informasi Publik
1 hari
1 hari
1 hari
1 hari
1 hari
1 hari
7 hari
7 hari
20 hari
1
1
2
2
4
3
171
Direktori
Kementerian Perhubungan
7) Permohonan informasi dapat dilakukan penolakan dengan pertimbangan informasi tersebut termasuk yang
dikecualikan atau bersifat rahasia;
8) Penolakan informasi dilakukan dengan Keputusan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi yang
disertai alasan penolakan;
9) Pemohon Informasi dapat mengajukan keberatan secara tertulis kepada atasan Pejabat Pengelola Informasi
dan Dokumentasi melalui Petugas Informasi berdasarkan alasan yang sesuai dengan ketentuan yang
berlaku;
10) Pengajuan keberatan dicatat dalam buku register keberatan dan diteruskan kepada atasan Pejabat
Pengelola Informasi dan Dokumentasi;
11) Atasan pejabat memberikan tanggapan atas kebertan yang diajukan oleh Pemohon Informasi dalam jangka
waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya keberatan secara tertulis;
12) Alasan tertulis disertakan bersama tanggapan apabila atasan pejabat menguatkan putusan yang ditetapkan
oleh bawahannya;
13) Pencatatan registrasi pemohon, proses pemberian informasi hingga pemberitahuan tertulis pengambilan
informasi maupun permintaan perpanjangan pemenuhan informasi maupun penolakan informasi,
didokumentasikan secara baik;
14) Laporan Pelaksanaan Pelayanan Informasi disusun setiap 3 (tiga) bulan.
b. Mekanisme Pendokumentasian Permohonan Informasi Publik
1) Pencatatan
Pencatatan dilakukan dengan prosedur administrasi yang berlaku di Kementerian Perhubungan. Pelayanan
Informasi Publik yang diterima baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
a) Data surat permohonan informasi,sebagai berikut :
(1) Nomor pendaftaran yang diisi berdasarkan nomor setelah permohonan Informasi Publik diregistrasi;
(2) Nama;
(3) Alamat;
(4) Pekerjaan;
(5) Nomor telepon/e-mail;
(6) Rincian Informasi yang dibutuhkan;
(7) Tujuan penggunaan informasi;
(8) Cara memperoleh informasi;
(9) Cara mendapatkan salinan informasi.
b) Permohonan permintaan yang telah memenuhi persyaratan administrasi, akan dicatat dalam buku
register dan kepada pemohon informasi diberikan tanda bukti permintaan informasi.
2) Diteruskan kepada unit kerja terkait
Permohonan informasi yang telah dicatat kemudian diteruskan kepada Pejabat Pengelola Informasi dan
Dokumentasi dan didistribusikan kepada unit kerja sesuai dengan tugas fungsinya masing-masing untuk
menyiapkan jawaban.
3) Pengarsipan
Penataan dokumen atau pengarsipan dokumen dilakukan dengan penyimpanan baik berupa bentuk fisik hardcopy,
pencatatan dalam pembukuan dan secara elektronik. Penyimpanan dokumen diatur dan disesuaikan dengan
sarana dan pra sarana yang ada serta berdasarkan prosedur pengarsipan yang berlaku.
172
Direktori
Kementerian Perhubungan
1. Pengelolaan Pengaduan Masyarakat di Information Center (IC)
a. Alur Pelayanan Pengaduan Masyarakat
C. Pengaduan Masyarakat
b. Prosedur Pelayanan Pengaduan Masyarakat
1) Petugas Informasi melakukan verifikasi data yang masuk melalui pengaduan masyarakat di email portal
www.dephub.go.id dan SMS centre.
2) Melakukan pencatatan pengaduan masyarakat, sebagai berikut:
a) Tanggal Pengaduan
b) Nama
c) Alamat
d) Nomor telpon
e) Rincian Isi Pengaduan
f) Klasifikasi Pengaduan
g) Sub sektor/ Unit kerja/ lokasi
3) Mengklasifikasikan pengaduan masyarakat berdasarkan unit kerja terkait dengan pengaduan.
dikategorisasikan berdasarkan sub sektor, badan, sekretariat dan inspektorat.
4) Penanggung jawab harian Information Center menindaklanjuti pengaduan masyarakat dengan menanggapi,
menjawab langsung dan meneruskan pengaduan pada unit kerja terkait.
5) Meneruskan dan menyampaikan pengaduan masyarakat kepada unit kerja terkait untuk dapat
ditindaklanjuti.
6) Unit kerja terkait memproses pengaduan masyarakat dengan menanggapi, menjawab dan
menindaklanjuti.
NO. KEGIATAN
PIHAK TERLIBAT
PETUGAS IC
PENANGGUNGJAWAB
HARIAN
SUBSEKTOR
& BADAN
1. Melakukan verifikasi data
2. Mencatat pengaduan masyarakat
3.
Mengklasifikasikan pengaduan berdasarkan
subsektor dan badan
4. Menindaklanjuti pengaduan masyarakat
5.
Menanggapi, menjawab langsung dan
meneruskan
6. Memproses pengaduan masyarakat
7. Menanggapi, menjawab dan menindaklanjuti
8.
Mencatat tanggapan, jawaban dan hasil tindak
lanjut
9. Mendokumentasikan
10. Laporan bulanan
173
Direktori
Kementerian Perhubungan
7) Hasil proses pengaduan masyarkat dikembalikan kepada penanggung jawab harian information center
untuk selanjutnya dijawab melalui media elektronik yang sama.
8) Keseluruhan alur prosedur pengaduan masyarakat dicatat dan didokumentasikan dan kemudian dilaporkan
secara berkala.
c. Mekanisme Pendokumentasian Pengaduan Masyarakat
Pengaduan Masyarakat yang diterima oleh Petugas IC ditangani secara cepat tepat tertib dengan cara sebagai
berikut :
1) Pencatatan
Pencatatan dilakukan dengan pengadministrasian yang berlaku di Kementerian Perhubungan. Pengaduan
Masyarakat yang diterima melalui website (www.dephub.go.id) dan SMS Center dilakukan pencatatan
sebagai berikut :
a) Data surat pengaduan meliputi :
(1) Nomor dan tanggal agenda
(2) Tanggal pengaduan
(3) Kategori / klasifikasi pengaduan
b) Identitas pelapor melputi :
(1) Nama pengirim
(2) Alamat
(3) No telepon
(4) Isi pengaduan
c) Lokasi kasus meliputi :
(1) Sub sektor / unit kerja
(2) Kabupaten / kota
2) Penelaahan
Pengaduan yang telah dicatat kemudian dan dikelompokkan berdasarkan jenis penyimpangan dengan
kode masalah sebagai berikut :
01. Penyalahgunaan wewenang
02. Pelayanan masyarakat
03. Korupsi / pungli
04. Kepegawaian / ketenagakerjaan
05. Pertanahan / perumahan
06. Hukum / pengadilan dan HAM
07. Kewaspadaan nasional
08. Tata laksana / regulasi
09. Lingkungan hidup
10. Umum
Langkah langkah penelaahan materi pengaduan masyarakat meliputi kegiatan kegiatan sebagai berikut :
1) Merumuskan inti masalah yang diadukan
2) Menghubungkan materi pengaduan dengan peraturan yang relevan
3) Meneliti dokumen dan / atau informasi yang pernah ada dalam kaitannya dengan pengaduan yang
baru saja diterima
174
Direktori
Kementerian Perhubungan
4) Menetapkan hasil penelaahan pengaduan masyarakat untuk proses selanjutnya
Hasil penelaahan pengaduan masyarakat dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu :
1) Ditanggapi / dijawab langsung oleh petugas IC
2) Diteruskan kepada unit kerja terkait
3) Tidak ditanggapi / diabaikan
3) Diteruskan kepada unit kerja terkait
Kegiatan meneruskan pengaduan masyarakat kepada unit kerja yang berwenang melakukan penanganan,
tindakan korektif dan tindakan hukum lainnya sesuai dengan kedudukan, tugas pokok, fungsi dan
kewenangannya berdasarkan ketetuan peraturan perundang undangan yang berlaku.
4) Pengarsipan
Penataan dokumen atau pengarsipan dokumen dilakukan dengan penyimpanan baik berupa bentuk fisik
hardcopy, pencatatan dalam pembukuan dan secara elektronik. Penyimpanan dokumen diatur berdasarkan
klasifikasi jenis masalah, unit kerja terlapor serta urutan waktu pengaduan yang penyimpanannya disesuaikan
dengan sarana dan pra sarana yang ada serta berdasarkan prosedur pengarsipan yang berlaku.
D. Tindaklanjut Penanganan Pelayanan Informasi Publik
Dan Pengaduan Masyarakat
1. Permohonan Informasi
a. Tindak Lanjut Pelayanan Informasi Publik
Setelah pemohon informasi mengisi formulir permohonan informasi, maka petugas pelayanan informasi
menindaklanjutinya dengan :
1) Diteruskan kepada unit kerja terkait
Kegiatan meneruskan pengaduan masyarakat kepada unit kerja yang berwenang dan menguasai informasi
yang diminta, sesuai dengan kedudukan, tugas pokok, fungsi dan kewenangannya berdasarkan ketetuan
peraturan perundang undangan yang berlaku.
2) Waktu Penyampaian Informasi
Setelah diteruskan dan dijawab oleh unit terkait, Petugas Informasi memberitahukan kepada pemohon
dengan formulir pemberitahuan. Dalam proses pemberian informasi dilakukan dalam waktu 7 hari dan
dapat penambahan waktu 3 hari apabila memamang dibutuhkan waktu tambahan dan tertulis dalam surat
pemberitahuan.
b. Tindaklanjut Keberatan Informasi
Setelah pemohon informasi mengajukan keberatan secara tertulis kepada Atasan PPID maupun mengisi formulir
pengajuan keberatan dengan disertai alasan, maka selanjutnya ditindaklanjuti dengan:
175
Direktori
Kementerian Perhubungan
1) Tanggapan
Atasan PPID memberikan tanggapan atas keberatan informasi dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga
puluh) hari kerja sejak diterima kebratan tertulis. Tanggapan dapat berisi alasan tertulis maupun penguatan
pemberian informasi dari PPID
2) Sengketa Informasi Melalui Komisi Informasi
Pemohon informasi dapat mengajukan penyelesaian sengketa ke Komisi Informasi dalam waktu paling
lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterima tanggapan tertulis dari atasan PPID.
3) Proses Penyelesaian Sengketa Informasi Melalui Komisi Informasi
Penyelesaian sengketa dilakukan paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah Komisi Informasi
menerima permohonan penyelesaian sengketa informasi. Komisi informasi akan melakukan mediasi, paling
banyak dua kali mediasi untuk mencapai kesepakatan atas sengketa informasi. Apabila mediasi tidak
berhasil akan dilakukan ajudikasi. Selanjutnya penyelesaian sengketa diproses oleh Komisi Informasi.
2. Pengaduan Masyarakat
Pengaduan masyarakat yang berkadar pengawasan wajib diselesaikan dengan melakukan pembuktian atas
kebenaran substansinya melalui kegiatan-kegiatan, sebagai berikut :
a. Pemeriksaan
b. Telaahan Lanjutan
Telaahan lanjutan dilakukan sebagai berikut :
1) Mempelajari dan merumuskan permasalahan;
2) Pemaparan hasil rumusan kepada pimpinan instansi untuk kasus-kasus yang signifikan;
3) Merumuskan bahwa pengaduan sudah mengarah kepada adanya pelanggaran terhadap peraturan yang
berlaku.
c. Konfirmasi
Kegiatan konfirmasi dilakukan sebagai berikut :
176
Direktori
Kementerian Perhubungan
1) Mengidentifikasi terlapor;
2) Mencari informasi tambahan dari sumber lain yang berkaitan dengan permasalahan yang diadukan sebagai
bahan pendukung.
d. Klarifikasi
Kegiatan klarifikasi dilakukan sebagai berikut :
1) Meminta penjelasan baik secara lisan maupun tertulis kepada pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan
yang diadukan;
2) Melakukan penilaian terhadap permasalahan yang diadukan dengan mengacu kepada peraturan perundang-
undangan yang berlaku;
3) Meminta dokumen pendukung atas penjelasan yang telah disampaikan oleh pihak-pihak yang telah
dimintakan penjelasan.
e. Waktu Penyelesaian
Penanganan pengaduan masyarakat harus dapat diselesaikan dalam jangka waktu paling lambat 90 (Sembilan
puluh) hari setelah surat pegaduan diterima, kecuali ada alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
f. Pelaporan
1) Laporan hasil pemeriksaan disusun secara sistematik, singkat, jelas dan dapat dipertanggungjawabkan
serta memuat kesimpulan dari hasil telaahan lanjutan, konfirmasi dan klarifikasi, pemeriksaan dengan data
pendukung serta saran tindak lanjut;
2) Hasil pemeriksaan atas pengaduan masyarakat yang disalurkan oleh Pusat Komunikasi Publik harus
dilaporkan kepada pimpinan Sekretaris Jenderal selaku Pengarah Information Center;
3) Hasil pemeriksaan pengaduan masyarakat segera disampaikan oleh petugas kepada :
a. Pimpinan unit kerja terlapor;
b. Pimpinan penerima pengaduan.
g. Perlindungan Terhadap Pelapor dan Terlapor
Selama proses pengaduan, unit kerja yang berwenang menangani pengaduan masyarakat wajib memberikan
perlindungan hukum dan perlakuan yang wajar baik kepada pelapor maupun terlapor.
177
Direktori
Kementerian Perhubungan
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
1. UU NO 23 Tahun 2007
Tentang Perkeretaapian
1) PP No 56 Tahun 2009
Tentang Penyelenggaraan
Perkeretaapian
1. KM 40 Tahun 2010 tentang Standar
Spesifikasi Teknis Lokomotif
2. KM 41 Tahun 2010 tentang Standar
Spesifikasi Teknis Kereta Yang Ditarik
Lokomotif
3. KM 42 Tahun 2010 tentang Standar
Spesifikasi Teknis Kereta Dengan
Penggerak Sendiri
4. KM 43 Tahun 2010 tentang Standar
Spesifikasi Teknis Gerbong
5. KM 44 Tahun 2010 tentang Standar
Spesifikasi Teknis Peralatan Khusus
6. KM 45 Tahun 2010 tentang Standar
Spesifikasi Teknis Penomoran Sarana
Perkeretaapian
INVENTARISASI PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG UNDANG TRANSPORTASI
LAMPIRAN-LAMPIRAN
A. PERKERETAAPIAN
178
Direktori
Kementerian Perhubungan
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
7. PM 92 Tahun 2010 tentang
Keahlian Tenaga Pemeriksa Sarana
Perkeretaapian
8. PM 93 Tahun 2010 tentang Keahlian
Tenaga Pemeriksa prasarana
perkeretaapian
9. PM 94 Tahun 2010 tentang
Keahlian Tenaga Perawatan sarana
perkeretaapian
10. PM 95 Tahun 2010 tentang Keahlian
Tenaga Perawatan prasarana
perkeretaapian
11. PM 96 Tahun 2010 tentang Sertifikasi
Keahlian Tenaga Penguji Sarana
Perkeretaapian
12. PM 97 Tahun 2010 tentang Sertifikasi
Keahlian Tenaga Penguji Prasarana
Perkeretaapian
179
Direktori
Kementerian Perhubungan
13. PM 9 tahun 2011 tentang Standar
Pelayanan Minimum untuk Angkutan
Orang Dengan Kereta Api.
14. PM 10 Tahun 2011 tentang Persyaratan
Teknis Peralatan Persinyalan
Perkeretaapian
15. PM. 11 Tahun 2011 tentang Persyaratan
Teknis Peralatan Telekomunikasi
Perkeretaapian
16. PM. 12 Tahun 2011 tentang Persyaratan
Teknis Instalasi Listrik Perkeretaapian.
17. PM 13 Tahun 2011 tentang Standar,
Tata Cara Pengujian dan Sertifikasi
Kelaikan Kereta dengan Penggerak
Sendiri.
18. PM. Nomor 14 Tahun 2011 tentang
Standar, Tata Cara Pengujian dan
Sertifikasi Kelaikan Lokomotif.
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
180
Direktori
Kementerian Perhubungan
19. PM. Nomor 15 Tahun 2011 tentang
Standar, Tata Cara Pengujian dan
Sertifikasi Kelaikan Kereta yang Ditarik
Lokomotif
20. PM. Nomor 16 Tahun 2011 tentang
Standar, Tata Cara Pengujian dan
Sertifikasi Kelaikan Peralatan Khusus
21. PM. Nomor 17 Tahun 2011 tentang
Standar, Tata Cara Pengujian dan
Sertifikasi Kelaikan Gerbong
22. PM. 18 Tahun 2011 tentang Sertifikat
Auditor Perkeretaapian
23. PM. 19 Tahun 2011 tentang Sertifikat
Kecakapan Penjaga Perlintasan
24. PM. 20 Tahun 2011 tentang Akreditasi
Badan Hukum atau Lembaga Pendidikan
dan Pelatihan Sumber Daya Manusia
Perkeretaapian
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
181
Direktori
Kementerian Perhubungan
25. PM 21 Tahun 2011 tentang Sertifikat
Kecakapan Pengatur Perjalanan Kereta
Api dan Pengendali Perjalanan Kereta
Api
26. PM. 22 Tahun 2011 tentang Sertifikat
Inspektur Perkeretaapian
27. PM. 23 Tahun 2011 tentang Sertifikat
Kecakapan Awak Sarana Perkeretaapian
28. PM. 28 Tahun 2011 tentang Persyaratan
Teknis Jalur Kereta Api
29. PM. 29 Tahun 2011 tentang Persyaratan
Teknis Stasiun
30. PM. 30 Tahun 2011 tentang Tata Cara
Pengujian Prasarana Perkeretaapian
31. PM. 31 Tahun 2011 tentang Standar
dan Tata Cara Pemeriksaan Prasarana
Perkeretaapian
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
182
Direktori
Kementerian Perhubungan
32. PM. 32 Tahun 2011 tentang Standar
dan Tata Cara Perawatan Prasarana
Perkeretaapian
33. PM. 33 Tahun 2011 tentang Jenis,
Kegiatan dan Kelas Stasiun Kereta Api.
34. PM. 36 Tahun 2011 tentang Pedoman
Perpotongan, Persinggungan dan/atau
Persambungan Jalur Kereta Api, Jalan
atau Bangunan Lain
35. PM. 43 Tahun 2011 tentang Rencana
Induk Perkeretaapian Nasional
2) PP No 72 Tahun 2009
Tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Kereta Api
36. PM. 38 Tahun 2010 tentang
Pedoman Perhitungan dan Penetapan
Tarif Angkutan Orang dengan Kereta
Api.
37. PM 9 Tahun 2011 Standar Pelayanan
Minimum untuk Angkutan Orang dengan
Kereta Api
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
183
Direktori
Kementerian Perhubungan
38. PM. 34 Tahun 2011 tentang
Tata Cara Perhitungan dan Penetapan
Tarif Angkutan Orang dan Barang
dengan Kereta Api
39. PM. 35 Tahun 2011 tentang Tata
Cara dan Standar Pembuatan Grafik
Perjalanan Kereta Api
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
184
Direktori
Kementerian Perhubungan
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
2. UU Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran
1) PP Nomor 61 Tahun 2009
Tentang Kepelabuhanan
1. Peraturan Menteri Perhubungan No KM
62 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Unit Pelaksana Pelabuhan
2. Peraturan Menteri Perhubungan No KM
63 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Otoritas Pelabuhan;
3. Peraturan Menteri Perhubungan No KM
64 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Syahbandar;
4. Peraturan Menteri Perhubungan No KM
65 Tahun 2010 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kantor Pelabuhan Batam;
5. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM 68 Tahun 2010 tentang Perubahan
Permenhub Nomor KM. 45 Tahun
2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan
Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan
Negara bukan Pajak yang berlaku pada
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
B. PELAYARAN
185
Direktori
Kementerian Perhubungan
6. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM
42 Tahun 2011 tentang Rencana Induk
Pelabuhan Tanjung Priok.
7. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 51 Tahun 2011 tentang Terminal
Khusus dan Terminal Untuk Kepentingan
Sendiri (TUKS).
2) PP Nomor 5 Tahun 2010 Tentang
Kenavigasian
1. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
: PM 25 Tahun 2011 tentang Sarana
Bantu Navigasi-Pelayaran;
2. Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor PM 26 Tahun 2011 tentang
Telekomunikasi-Pelayaran;
3. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 52 Tahun 2011 tentang Pengerukan
dan Reklamasi;
4. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 53 Tahun 2011 tentang Pemanduan;
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
186
Direktori
Kementerian Perhubungan
5. Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor PM 68 Tahun 2011 tentang Alur
Pelayaran di Laut
3) PP Nomor 20 Tahun 2010
Tentang Angkutan Di Perairan
1. Peraturan Menteri Perhubungan No
KM 01 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar
(Port Clearance)
2. Peraturan Menteri Perhubungan No KM
22 Tahun 2010 tentang Pengangkutan
Barang/muatan antar Pelabuhan Laut di
dalam Negeri.
3. Peraturan Menteri Perhubungan No KM
73 Tahun 2010 tentang Perubahan atas
Peraturan Menteri Perhubungan No KM
22 Tahun 2010 tentang Pengangkutan
Barang/muatan antar Pelabuhan Laut di
dalam Negeri.
4) PP Nomor 21 Tahun 2010
Tentang Perlindungan
Lingkungan Maritim
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
187
Direktori
Kementerian Perhubungan
5) PP Nomor 22 Tahun 2011
tentang Perubahan Atas PP
Nomor 20 Tahun 2010 tentang
Angkutan di Perairan, LN Nomor
43, TLN Nomor 5208
1. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 48 Tahun 2011 tentang Tata
Cara Dan Persyaratan Penggunaan
Kapal Asing Yang Tidak Termasuk
Untuk Melayani Kegiatan mengangkut
penumpang dan / Barang dalam
kegiatan angkutan laut Dalam Negeri
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
188
Direktori
Kementerian Perhubungan
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
1. UU No 1 Tahun 2009
tentang Penerbangan
1. Peraturan Menteri Perhubungan
No. KM 10 Tahun 2009 Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
171 (Civil Aviation Safety Regulations
Part 171) Tentang Penyelenggaraan
Pelayanan Telekomunikasi Dan Radio
Navigasi Penerbangan (Aeronautical
Telecommunication Service And Radio
Navigation Service Providers)
2. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM 11 tahun 2009 tentang peraturan
keselamatan penerbangan sipil bagian
172 (civil aviation safety regulations part
172) tentang penyelenggara pelayanan
lalu lintas penerbangan (air traffic service
providers).
3. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM. 12 Tahun 2009 Tanggal Tentang
Peraturan Keselamatan Penerbangan
Sipil Bagian 69 (Civil Aviation Safety
Regulations Part 69) Tentang
Persyaratan Licence, Rating, Pelatihan
Dan Kecakapan Bagi Personel Pemandu
Lalu Lintas Udara (Air Traffic Services
Personnel Licensing, Rating, Training,
And Proficiency Requirements).
189
Direktori
Kementerian Perhubungan
4. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM 13 Tahun 2009 Tanggal Tentang
Peraturan Keselamatan Penerbangan
Sipil Bagian 143 (Civil Aviation Safety
Regulations Part 143) Tentang Sertifikasi
Dan Persyaratan Pengoperasian Bagi
Penyelenggara Pelatihan Pelayanan
Lalu Lintas Penerbangan (Certification
And Operating Requirements For Ats
Training Provider).
5. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM 14 Tahun 2009 Tanggal 16 Februari
2009 Tentang Peraturan Keselamatan
Penerbangan Sipil Bagian 170 (Civil
Aviation Safety Regulations Part 170)
Tentang Peraturan Lalu Lintas Udara
(Air Traffic Rules).
6. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM 15 Tahun 2009 tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
11 (Civil Aviation Safety Regulations
Part 11) tentang Persyaratan Tata
Cara Untuk Mengamandemen Dan
Membatalkan Serta Mengabulkan Atau
Menolak Permohonan Pengecualian
Dan Kondisi Khusus Dari Peraturan-
Peraturan Keselamatan Penerbangan
Sipil (Procedural Requirements For
Amending And Repealing Of, And
Granting Or Denying Petition Of
Exemption, And Special Condition From
The Civil Avation Safety Regulations).
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
190
Direktori
Kementerian Perhubungan
7. Peraturan Menteri Perhubungan KM 25
Tahun 2009 Tentang Pendelegasian
Kewenangan Menteri Perhubungan
Kepada Direktur Jenderal Perhubungan
Udara Di Bidang Penerbangan
8. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
KM 61 Tahun 2009 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor KM 60 Tahun 2008 Tentang
Peraturan Keselamatan Penerbangan
Sipil Bagian 45 (Civil Aviation Safety
Regulations Part 45) Tentang Identifikasi
Dan Tanda Pendaftaran Pesawat Udara
(Identification And Registration Marking).
9. Peraturan Menteri Perhubungan No
KM. 8 Tahun 2010 Tentang Program
Keselamatan Penerbangan Nasional.
10. Peraturan Menteri Perhubungan No
KM. 9 Tahun 2010 Tentang Program
Keamanan Penerbangan Nasional
11. Peraturan Menteri Perhubungan No. KM
No. 11 Tahun 2010 Tentang Tatanan
Kebandarudaraan Nasional
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
191
Direktori
Kementerian Perhubungan
12. Peraturan Menteri Perhubungan No. KM.
13 Tahun 2010 tentang Batas Kawasan
Kebisingan Di Sekitar Bandar Udara
Internasional Jakarta Soekarno-Hatta
13. Peraturan Menteri Perhubungan No.
KM 14 Tahun 2010 Tentang Kawasan
Keselamatan Operasi Penerbangan
Di Sekitar Bandar Udara Internasional
Jakarta Soekarno-Hatta.
14. Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor : KM 16 Tahun 2010 Tentang
Peraturan Keselamatan Penerbangan
Sipil (Pkps) Bagian 63 (Civil Aviation
Safety Regulations (Casr) Part 63)
Tentang Persyaratan Personel Pesawat
Udara Selain Penerbang Dan Personel
Penunjang Operasi Pesawat Udara
(Licensing Flight Crew Members Other
Than Pilot, Flight Operation Officers, And
Certification Of Flight Attendant)
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
192
Direktori
Kementerian Perhubungan
15. Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor KM 18 Tahun 2010 tentang
Perubahan Kedua Atas Kepmenhub No
Km 41 Tahun 2001 Tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
91 (Civil Aviation Safety Regulation
Part 91) Tentang Peraturan Umum
Pengoperasian Pesawat Udara (General
Operating And Flight Rules)
16. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
KM 19 Tahun 2010 tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
05 (Civil Aviation Safety Regulation Part
05) Tentang Satuan Pengukuran (Unit Of
Measurements)
17. Peraturan Menteri Perhubungan No
KM. 20 Tahun 2010 tentang Safety
Management System
18. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
Km 26 Tahun 2010 Tentang Mekanisme
Formulasi Perhitungan Dan Penetapan
Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan
Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga
Berjadwal Dalam Negeri
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
193
Direktori
Kementerian Perhubungan
19. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
: KM 30 tahun 2001 tentang Perubahan
Kedua Atas Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor Km 42 Tahun 2001
Tentang Sertifikasi Penerbang Dan
Instruktur Terbang
20. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
KM 34 Tahun 2010 Tentang Perubahan
Kedua Atas Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor Km 18 Tahun 2007
Tentang Tarif Angkutan Udara Perintis
21. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
KM 52 Tahun 2010 Tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
174 (Civil Aviation Safety Regulations
Part 174) Tentang Pelayanan Informasi
Meteorologi Penerbangan (Aeronautical
Meteorological Information Services)
22. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
: KM 55 Tahun 2010 Tentang Kawasan
Keselamatan Operasi Penerbangan Di
Sekitar Bandar Udara Lombok Baru
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
194
Direktori
Kementerian Perhubungan
23. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
KM 56 Tahun 2010 Tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
60 (Civil Aviation Safety Regulations
Part 60) Tentang Persyaratan Alat Bantu
Pelatihan Sintetis (Synthetic Training
Devices)
24. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
KM 57 Tahun 2010 Tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
141 (Civil Aviation Safety Regulations
Part 141) Tentang Persyaratan
Sertifikasi Dan Operasi Untuk Sekolah
Penerbang (Certification And Operating
Requirement For Pilots Schools)
25. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
: KM 58 Tahun 2010 Tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
142 (Civil Aviation Safety Regulations
Part 142) Tentang Persyaratan Sertifikasi
Dan Operasi Pusat Pendidikan Dan
Pelatihan (Certification And Operating
Requirements For Training Centers)
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
195
Direktori
Kementerian Perhubungan
26. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor:
PM 41 Tahun 2011 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Otoritas Bandar Udara.
27. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM. 49 Tahun 2011 tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
172 (Civil Aviation Safety Regulation Part
172) tentang Penyelenggara Pelayanan
Lalu Lintas Penerbangan (Air Traffic
Provider)
28. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM. 55 Tahun 2011 tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
176 (Civil Aviation Safety Regulation
Part 1762) tentang Pencarian dan
Pertolongan (Search And Rescue)
29. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 57 Tahun 2011 tentang Peraturan
Keselamatan Penerbangan Sipil Bagian
171 (Civil Aviation Safety Regulation
Part 171) tentang Penyelenggara
Pelayanan Telekomunikasi Penerbangan
(Aeronautical Telecommunication
Service Providers)
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
196
Direktori
Kementerian Perhubungan
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
30. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 63 Tahun 2011 tentang Kriteria,
Tugas Dan Wewenang Inspektur
Penerbangan
31. Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor PM 64 Tahun 2011 tentang
Kriteria, Tugas Dan Wewenang Teknisi
Penerbangan
32. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 77 Tahun 2011 tentang Tanggung
Jawab Pengangkut Angkutan Udara
32. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
PM 92 Tahun 2011 tentang Perubahan
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor
77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab
Pengangkut Angkutan Udara
197
Direktori
Kementerian Perhubungan
D. LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN MENTERI
1. UU Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan
1. Peraturan Pemerintah Nomor 32
Tahun 2011 tentang Manajemen
dan Rekayasa, Analisis Dampak,
Serta Manajemen Kebutuhan Lalu
Lintas
2. Peraturan Pemerintah Nomor 37
Tahun 2011 tentang Forum LLAJ
198
Direktori
Kementerian Perhubungan
E. PERATURAN PELAKSANAAN DARI 4 UNDANG UNDANG TRANSPORTASI
No. UNDANG-UNDANG PERATURAN PEMERINTAH PERATURAN MENTERI
1. UU NO 23 Tahun 2007 Tentang
Perkeretaapian
2. UU Nomor 17 Tahun 2008
tentang Pelayaran
3. UU No 1 Tahun 2009 tentang
Penerbangan
4. UU Nomor 22 Tahun 2009
tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan
1) Peraturan Pemerintah Nomor 8
Tahun 2011 tentang Multimoda
Ditetapkan tanggal 4 Pebruari 2011
199
Direktori
Kementerian Perhubungan
1. UU NO 23 Tahun
2007 Tentang
Perkeretaapian
2. UU Nomor 17 Tahun
2008 tentang Pelayaran
3. UU No 1 Tahun 2009
tentang Penerbangan
4. UU Nomor 22 Tahun
2009 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan
Jalan
Telah di sampaikan oleh
Menteri Perhubungan
kepada Menteri Hukum
dan HAM dengan nomor
surat HK.005/281Phb-
2011 tanggal 9 Juni
2011 untuk proses
Harmonisasi
Telah disampaikan oleh
Menteri Perhubungan
kepada Menteri Hukum
dan HAM dengan surat
Nomor : HK 005/2/5
phb 2011 tanggal 13
Juni 2011 untuk proses
harmonisasi.
No. UNDANG-
UNDANG
PERATURAN
PEMERINTAH
PERATURAN
MENTERI
KETERANGAN
200
Direktori
Kementerian Perhubungan
Pusat Komunikasi Publik
Kementerian Perhubungan Republik Indonesia
Jl. Medan Merdeka Barat No. 8 Jakarta 10110 Indonesia
Telp/Fax : (021) 350 3385, 350 4631
Website : www.dephub.go.id
e-mail : puskompublik@dephub.go.id

Anda mungkin juga menyukai