Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN PRAKTIKUM FARMASETIKA SEDIAAN SEMISOLIDA

KRIM ASAM SALISILAT






Disusun oleh :

Awalia Annisafira (112210101065)
Fatimah A. Maulidiyah (112210101067)
Dewi nima (112210101069)
Elly Febri (112210101071)
Arif Rahman (112210101073)
Defitri Trimardani (112210101075)







LABORATORIUM FARMASETIKA
BAGIAN FARMASETIKA FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 TUJUAN
Membuat dan mengevaluasi sediaan krim asam salisilat

1.2 DASAR TEORI
Kulit
Kulit merupakan organ tubuh terbesar dan memiliki banyak fungsi penting,
diantaranya adalah fungsi proteksi, temoregulasi, responslimun, sintesis senyawa
biokimia, dan peran sebagai organ sensoris. Terapi untuk mengoreksi berbagai kelainan
fungsi tersebut dapat dilakukan secara topikal, sistemik, intralesi, atau menggunakan
radiasi ultraviolet.
Terapi topikal didefinisikan sebagai aplikasi obat dengan permulaan tertentu pada
kulit yang bertujuan untuk mengobati penyakit kulit atau penyakit sistemik yang
bermanifestasi pada kulit, namun keberhasilannya bergantung pada pemahaman kita
mengenai fungsi sawar kulit. Keuntungan utamanya adalah dapat memintas jalur
metabolisme obat pertama first pass metabolism di hati. Terapi topikal dapat juga
menghadapi resiko ketidaknyamaman seperti pada terapi yang diberikan secara intravena,
serta berbagai hal yang mempengaruhi penyerapan obat pada terapi, peroral, misalnya
perubahan pH, aktivitas enzim, dan pengosongan lambung. Keuntungan lain yaitu, karena
penyerapan sistem pada terapi topika dapat diabaikan maka efek samping maupun interaksi
obat pada terapi topikal yang terjadi.
Meskipun demikian, pengobatan topikal juga memiliki berbagai kelemahan misalnya :
1) dapat menimbulkan iritasi dan alergi (dermatit kontak), 2) permeabilitas berbagai obat
melalui kulit relatif rendah, sehingga tidak semua obat dapat diberikan secara topikal, dan
3) terjadinya denaturasi obat oleh enzim pada kulit.
Kulit terdiri atas lapisan epidermis dan dermis kulit terutama epidermis, berperan
penting dalam penyerapan obat melalui kulit. Epidermis tersusun oleh keratinosit,
melanosit, sel langerhans, dan sel merkel. Keratinosit, merupakan sel yang memiliki
kemampuan perproliferasi dan mengandung keratin yang diperlukan sebagai penunjang
struktur internal epidermis. Tiap lapisan pada epidermis mengekspresikan keratin yang
berbeda. Keratinosit yang matang dan mengalami di
Diferensisai ini adalah terbentuknya statum corneum.
Pembentukan stratum corneum merupakan fungsi yang sangat penting dan epidermis.
Startum corneum, atau juga sering disebut sebagai lapisan tanduk, mencegah terjadinya
hilangnya air, dan mencegah penyarepan zat/agen infeksi yang berbahaya bagi tubuh.
Strukturnya dapat disamakan dengan susunan batu bata dan semen, dengan korneosit
tersusun dibagian atas epidermis dan mengandung protein.
Dermis memiliki lapisan yang berfungsi menyongkong epidermis. Ketebalan 2-3 mm.
Pada lapisan tersebut terdapat pembuluh darah, saraf, dan struktur lain, yaitu folikel
rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebum yang berperan penting dalam proses
penyerapan melalui kulit.

Stratum Corneum
Stratum corneum merupakan lapisan kulit terluar yang salah satu fungsinya adalah
mempertahankan keseimbangan air dari dalam kulit agar kulit tidak menjadi kering.
Lapisan ini terutama terdiri dari sel-sel mati yang tidak memiliki inti. Sel-sel mati ini terus-
menerus diganti oleh sel-sel baru dari stratum germinativum. Setiap harinya sel-sel di
lapisan ini terkikis dan mati. Sel-sel di lapisan ini mudah rontok ketika diraba sehingga
seting ditemukan mengelupas.
Bila tidak ada stratum korneum maka akan sangat banyak kehilangan air krluar tubuh,
sehingga akan cepat mengalami dehidrasi. Stratum corneum dengan sel-sel yang saling
tumpang tindih dan lemak interselulernya, menghalangi terjadinya difusi air keluar tubuh.
Bila stratum corneum dihilangkan dengan mengelupasnya menggunakan plester, maka air
yang hilang akan meningkat 10 kali lipatnya atau lebih.
Stratum corneum juga merupakan sawar (rintangan) yang sangat efektif terhadap
penetrasi dari luar. Namun demikian, kemampuannya sebagai sawar akan berkurang bila
kadar airnya dinaikkan atau bila lemak yang dikandungnya dikurangi menggunakan pelarut
lemak. Keutuhan struktur stratum corneum juga melindungi terhadap adanya infasi
mikroorganisme.

Sediaan Topikal
Bahan aktif yang telah terlepas dari vetikulumnya akan berinteraksi dengan
permukaan kulit/stratum corneum. Bahan aktif yang telah berinterkasi dengan stratum
korneum akan segera berdifusi kedalamstratum korneum. Difusi yang terjadi
dimungkinkan karena adanya gradien konsentrasi. Pada awalnya, difusi bahan aktif
terutama berlangsung melalui folikel rambut (jalur transfolikulor). Setelah tercapai
kesetimbangan (steady state), difusi melalui stratum korneum menjadi lebih dominan.
(Asmara, 2012)
Secara ideal, dalam pembuatan suatu sediaan topikal, verikulum yang dipilih harus
mudah dalam aplikasinya, tidak menimbulkan iritasi, non toksik, non alergik, stabil secara
kimia, homogen, bersifat inert, dan secara kosmetik dapat diterima penggunaannya. Di sisi
lain verikulum yang dipilih juga memungkinkan bahan aktif tetap stabil dan mudah
dilepaskan dalam kulit setelah diaplikasikan. Pemilihan verikulum yang tepat dapat
meningkatkan bioavaibilitas obat aktif yang terkandung di dalamnya, sehingga perannya
tidak dapat diabaikan dan hampir sama penting dengan zat atau obat aktif yang dibawanya.
(Asmara 2012)
Beberapa parameter harus dipertimbangkan dalam pembuatan sediaan obat topikal,
antara lain fungsi dari tiap materi yang akan digunakan, jumlahmateri yang digunakan dan
aspek fisiko-kimia dari zat aktif. (Asmara 2012)
1. Fungsi dari tiap bahan yang digunakan.
Pengetahuan mengenai materi yang akan digunakan harus dimiliki oleh seorang
formulator/pembuat obat, termasuk dalam pembuatan obat topikal. Pengetahuan
tersebut mencangkup fungsi tiap materi dalam sebuah formulasi/sediaan, misalnya
fungsi sebagai verikulum , bahan pengemulsi. Penetration enhacer, bahan pembentuk
gel, dan berbgai fungsi lainya.
2. Jumlah materi yang akan digunakan
Dalam suatu verikulum multifase, misalnya krim. Jumlah tiap materi yang digunakan
harus diperhitungkan dengan tepat. Hal tersebut berkaitan dengan stabilitas sediaan
yang dibuat suatu verikulum multifase, tersusun oleh materi hidrofilik dan lipofilik.
Untuk menyatukan dua zat yang berbeda, afinitasnya terhadap aair dan minyak
tersebut. Diperlukan bahan pengemulsi. Jumlah materi yang digunakan, baik materi
hidrofilik maupun lipofilik akan memnentukan jumlah dan jenis bahan pengemulsi
yang dibutuhkan.
3. Sifat fisikokimia zat aktif dan verikulum
Sifat fisikokimia zat aktif maupun verikulum menentukan nilai koefisien partisi zat
aktif antara verikulum dan stratum corneum dan pada akhirnya menentukan
kemampuan zat aktif berdifusi ke dalam kulit. Tingkat kelarutan yang terlalu tinggi dan
zat aktif dalam verikulum sebaiknya dihindari, karena akan mencegah partisi bahan
aktif ke permukaan stratum korneum setelah diplikasikan.


Krim
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini dalam tradisioanal
telah digunakan untuk sediaan setangah padat yang meliliki konsistensi produk yang terdiri
dari imulsi minyak dalam air atau dispersi mikro kristal asam-asam lemak atau alkohol
berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk
penggunaan kosmetika atau estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian obat melalui
vagina. (Dep. Kes. 1999)
Krim oil in water mengandung lebih dari 31% formulasi ini bentuk yang lebih sering
dipilh dalam dermatoterapi. Selain itu dapat dengan mudah diaplikasikan pada kulit,
mudah dicuci, kurang berminyak, dan relatif mudah dibersihkan bila mengnai pakaian.
Fase minyak dalam sediaan ini juga menyebabkan rasa lembut saat diaplikasikan. Sediaan
kri dalam kandungan lemak yang rendah memiliki penetrasi lebih baik dibanding dengan
konsentrasi lemak yang lebih tinggi. (Asmara 2012)
Stabilitas krim rusak, jika terganggu sistem campurannya, terutama disebabkan
perubahan suhu dan perubahan komposisi yang disebabkan oleh penambahna salah satu
fase secaraberlebihan atau pencampuran dua tipe krim jika zat pengemulsinya tidak
tercampurkan satu sama lain. (Dep. Kes. 1979)
Bahan pengemulsi krim harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki.
Sebagai zat pengemulsi dapat digunakan emulgid, lemak bulu domba, setaseum,
setilalkohol, stearialkohol, metanolamit, stearat dan golongan sorbitan, polisorbat,
polietilenglikul, dan sabun. Bahan pengawet umumnya menggunakan metil paraben 0,12%
hingga 0,18% atau propil paraben 0,02% hingga 0,05%. Krim harus disampan dalam
wadah tertutup baik atau tube, di tempat sejuk, dan pada etiket juga harus tertentu Obat
Luar.
(Dep. Kes. 1979)









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PERSYARATAN MUTU
Sediaan yang dibuat harus memenuhi persyaratan mutu yang setara dengan ketentuan
USP dan memperhatikan kriteria pendaftaran obat dari Depkes RI. Persyaratan tersebut antara
lain:
a. Aman
Aman artinya sediaan yang kita buat harus aman secara fisiologis maupun
psikologis. Dengan dosis tertentu dapat menimalisir efek samping sehingga tidak lebih
toksik dari bahan aktif yang belum diformulasi. Bahan sediaan farmasi merupakan suatu
senyawa kimia yang mempunyai karakteristik fisika, kimia yang berhubungan dengan efek
frmakologis, perubahan sedikit saja pada karakteristik tersebut dapat menyebabkan
perubahan farmakodinamika suatu senyawa (USP XIII,p.34). Sediaan dalam taraf aman
bila kadar bahan aktif dalam batas yang telah ditetapkan. Pada sediaan yang kami buat,
diusahakan pHnya masuk rentang pH kulit (4,5-5,5).
b. Efektif
Efktif dapat diartikan sebagai dalam jumlah kecil mempunyai efektif yang optimal.
Jumlah atau dosis pemakaian sekali pakai, sehari dan selama pengobatan (1 kurun waktu)
harus mampu untuk mencapai reseptor dan memiliki efek yang dikehendaki. Sediaan krim
dikatakan memiliki efikasi yang baik jika dalam jumlah kecil dapat mereduksi bakteri
p.acnes yang dapat menyebabkan jerawat dikulit, sehingga jerawat dapat berkurang.
c. Stabil
Stabil Fisika:
Sifat fisika seperti organoleptis,keseragaman, kelarutan dan viskositas tidak berubah
(USP XXII : p.1703)
Stabil kimia
Secara kimia innert sehingga tidak menimbulkan perubahan warna, pH, dan Bentuk
sediaan (USP XXII:1703)
Stabil Mikrobiologi
Tidak ditemukan pertumbuhan mikroorganisme selama waktu edar. Selain itu sediaan
tidak terkontaminasi oleh bakteri Straphylococcus aureus dan P.aruginosa. Jika
mengandung preservatif harus tetap efektif selama waktu edar.
Stabil Toksikologi
Pada penyimpanan maupun pemakaian tidak boleh ada kenaikan toksisitas (USP
XXII, p.1703).
Stabil Farmakologi
Selama penyimpanan dan pemakaian efek terapeutiknya harus tetap sama ( USP XII,
p.1703).

2.2 PENGGUNAAN KLINIS ASAM SALISILAT TOPIKAL
Asam salisilat telah digunakan secara luas dalam terapi topikal. Beberapa penyakit kulit
yang dapat diterapi dengan asam salisilat, diantaranya sebagai berikut :
Psoriasis
Dermatitis sebaroik dan Pseriasis pada Skalp
Iktiosis
Hiperkeratosis lokalisata dan kalus
Veruka
Moluska kotagiosum
Dermatomikosis superfisialis
Acne vulgaris
Photoaging

2.3 EVALUASI PRODUK REFEREN
1. Salex Cream
Komposisi : mengandung 6% asam salisilat
Indikasi : Dermatologi : membantu menghilangkan keratin yang berlebih
pada hyperkeratosis. Verrucac dan berbagai resithyoses,keratosis palmaris dan
plantaris, keratosis pilaris, pityrasisrubrapillaris dan psoriasis (pada tubuh,kulit
kepala,telapak tangan dan telapak kaki).
Pediatric : membantu mengurangi keratin yang berlebih pada lesi hyperkeratosis
dorsal dan plantar, sebagai terapi tambahan untuk verroccplantores.
Dosis : Gunakan pada malam hari pada kulit yang sakit setelah dibersihkan, cuci
sisa obat pada pagi hari.
Kontra Indikasi : salicylism pada pasien dengan gangguan hati dan ginjal. Mual,
muntah, pusing, kehilangan pendengaran, rinnitus,lesu,hiperpnea,diare,dan gangguan
psikis.
2. Keralyt Salicylic Acid 12% cream
Komposisi : mengandung 12% asam salisilat
Indikasi : mengobati psoriasis, jerawat, kulit jagung, dan kulit kering bersisik.
Meningkatkan kelmbaban tubuh, membantu menghilangkan sel-sel kulit mati.
Dosis : Oleskan tipispada bagian yang sakit.
Efek samping : iritasi kulit, mengelupas. Rasa terbakar dan kemerahan.
3. SA 6% cream
Komposisi : mengandung 6% asam salisilat
Indikasi : Dermatologi : mengurangi keratin pada hyperkeratosis, verrucae danich
thyoses, keratosis palmaris dan plantaris, keratosis pilaris, pityrasis rubrapilaris, dan
psoriasis (pada tubuh,kulit kepala,telapak tangan dan telapak kaki)
Dosis : gunakan pada malam hari pada kulit yang sakit setelah dibersihkan. Cuci
sisa oabat pad pagi hari
Kontra Indikasi : pasien hypersensitif asam salisilat, anak dibawah 2 tahun.
Efek samping : salicylism pada pasien dengan gngguan hari dan ginjal. Mual,
muntah, pusing, kehilangan pendengaran, rinnitus, lesu, hyperpnea, diare dan
gangguan psikis. Sindrom reye pada anak-anak dan remaja varisela atau infuenza.
4. Salep 2-4
Komposisi : asam salisat 2 %
Sulfur 4%
Indikasi : scabies (kudis), eksim, pedikulosis,jerawat,jamur
Efek Samping : 3-4 kali sehari
Diolekan sedikit pada area sakit
5. Verril Agne Gel 10 gram
Komposisi : Asam salisilat 0.5%
Asam borat 1%
Recorcind 2%
Allantoin 0,1%
Triktorin 0,1%
Alkohol 25%
Indikasi : jerawat
Efek samping : Iritasi Kulit
Dosis : 2-3 kali sehari
6. Pagoda Salep
Komposisi : Asam salisilat 12%
Sulfur 10%
Asam Benzoat 5%
Camfer 3%
Mentol 10%
Indikasi : untuk mengobati penyakit kulit seperti gatal-gatal ditelapak tangan dan kaki,
selangkangan paha, kutu air, panu dan kudis.
7. Salep 88
Komposisi : Asam salisilat 60 mg
Asam benzoat 65 mg
Sulfur 60mg
Campora 30mg
Mentol 25mg
Vaselin albun ad 1000mg
Indikasi : untuk mengobati penyakit kulit seperti panu, kadas, kurap dan kutu air
Aturan pakai : oleskan 3xsehari secukupnya pada bagian yang luka dan gatal.

2.4 STUDI PRAFORMULASI BAHAN AKTIF
No Bahan Aktif Efek Utama Efek
Samping
Karakteristik Fisik Karakteristik
Kimia
Sifat Lain
1 Asam
Salisilat
Keratolitikum,
analgesik
antipiretik
(sangat
rendah)
Iritasi
lambung
Penampakan tidak
berwarna, menjadi
kuning pada larutan
dengan bau kenari
pahit
titik didih 197
0
C
kerapatan 4.2
tekanan uap 11 mmHg
pada 33
0
C
daya ledak 1.146
g/cm
3

titik nyala 76
0
C
Rumus molekul
C
7
H
6
O
3

Massa molar
138.12
Densitas 1.44
g/cm
3

Tkelarutan
dalam
kloroform,
etanol, methanol,
kloroform
0.19M, etnol
1.84M, methanol
2.65M

Panas jika
dihirup,
ditelan dan
terjadi
kontak
dengan kulit
Meniritasi
kulit, saluran
pernafasan
dan kulit
2 Metil
Salisilat
Analgesik Reaksi
hipersensitif
seperti sakit
atau gatal
dan muntah
Sukar larut dalam air,
larut dalam etanol dan
dalam asetat nglasial
Merupakan cairan
tidak berwarna
Titik didih 219-224
0
C
Mempunyai bau khas,
rasa manis dan pedas
Indeks bias 1.535
sampai 1.538
Rumus molekul
C
8
H
8
O
3

BM: 152.1494
Kapadatan :
1.174 g/cm
3


Metal
salisilat di
dapat dari
esterifikasi
asam salisilat
3 Natrium
Salisilat
Analgesic,
antipiretik,
anti inflamasi
Hepatotoksi
k, bersifat
iritatif
terhadap
Kepadatan 1.40 g/cm
3

Titik lebur 140
0
C
Kelarutan dalam air
600 gram/L (20
0
C)
Rumus molekul:
C
7
H
5
NaO
3

BM: 160.11
Penggunaan
untuk anak-
anak
sebaiknya
lambung,
pendarahan
hingga
perforasi
serta
menghambat
aktifitas
trombosit
dihindari
sebab
ditemukan
adanya
hubungan
penggunaan
Natrium
salisilat pada
anak-anak
dengan
sindrom
Reyes, yaitu
suatu
gangguan
kesehatan
yang jarang
terjadi
namun
bersifat fatal.

2.5 PEMILIHAN BENTUK SEDIAAN
a. Target organ yang dituju adalah : Permukaan kulit, lapisan epidermis, yaitu statrum
corneum
b. Tujuan terapi : Lokal
c. Kemungkinan rute penetrasi yang mungkin dilalui oleh bahan aktif adalah:
Untuk anti fungi dan anti bakteri tidak memerlukan penetrasi, jadi hanya pada stratum
corneum dengan mekanisme keratolitikum yaitu menghilangkan lapisan keratin pada
kulit terluar yang telah mati.
d. Bentuk sediaan yang dipilih adalah : cream o/w
Alasan:
Dipilih sediaan cream karena tujuan terapi dari bahan aktif adalah lokal, dan organ
yang dituju adalah permukaan kulit dengan mekanisme keratolitik sehingga dipilih
sediaan topikal.
Mekanisme kerja asam salisilat adalah keratolitik (mengeringkan) dengan cara
menghilangkan lapisan keratin pada kulit terluar yang telah mati, sehingga
dihindari cream yang memberikan efek emolient yang melembabkan, oleh karena
itu dipilih sediaan cream dengan basis oil in water.
Dipilih sediaan cream karena banyak dokter dan pasien lebih suka pada krim
daripada salep, untuk satu hal, umumnya mudah menyebar rata dan dalam hal krim
dari emulsi jenis minyak dalam air lebih mudah dibersihkan daripada kebanyakan
salep.

2.6 KARAKTERISTIK BAHAN
Zat Aktif
Asam salisilat



Pemerian: hablur putih, biassanya berbentuk jarum halus atau hablur halus putih,
rasa agak manis, tajam, dan stabil di udara. Bentuk sintesis warna putih dan tidak
berbau. Jika dibat dari metal salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau merah
jambu dan berbau lemah mirip mentol. (FI IV : 51). Asam salisilat mengandung
tidak kurang dari 99.5% C
7
H
6
O
3
(FI III, 56).
Kelarutan: 1 bagian asam salisilat larut dalam: 460 bagian air, 15 bagian air panas,
3 bagian alcohol, 45 bagian kloroform, 3 bagian eter, 135 benzena (Martindale).
Sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah larut dalam etanol dan dalam
eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam kloroform (FI IV : 51).
Kelarutan larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol (95%) P; mudah
larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut dalam larutan amonium asetat P,
dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat P, dan natrium sitrat P (FI III, 56). Suhu
lebur antara 158.5 dan 161 (FI III, 56).
Penggunaan: asam salisilat digunakan untuk pengobatan topical eratolitik,
pengobatan hiperkeratotik, pengobatan ketombe, ichtiosis, psoriasis, dan anti
acne. (Famakologi dan Terapi Edisi V, 234). Khasiat dan penggunaan
keratolitikum, anti fungi (FI III, 56).
Efek samping: dermatitis, iritasi kulit (jangka panjang), kematian (pemakaian
berlebihan pada anak-anak). Tidak boleh diberikan jangka panjang, konsentrasi
tinggi, di sebagian besar permukaan tubuh. Hindari kontak dengan mata,
mulut, membran mukosa lainnya. (Famakologi dan Terapi Edisi V, 234)
Konsentrasi: 2 6% (Martindale I, 1072)
Penetapan kadar timbang seksama 3 g, larutkan dalam 15 mL etanol (95%) P
hangat yang telah dinetralkan terhadap larutan merah fenol P, tambahkan 20 mL
air. Titrasi dengan natrium hidroksida 0.5 N menggunakan indikator larutan
merah fenol P
Penyimpanan dalam wadah tetutup baik (FI III, 56).

Bahan Tambahan
Acidi stearinici
C
18
H
36
O
2

Pemerian: kristal padat, putih atau kekuningan, atau serbuk putih kekuningan (FI
III, halaman 57).
Kelarutan: praktis tidak laut dalam air, 1 bagian larut dalam : 20 bagian alkohol; 2
bagian cloroform; 3 bagian eter (FI III,halaman 57)
Stabilitas: stabil, dapat ditambahkan antioksidan (Pharmaceutical Excipients),
disimpan dalam wadah tertutup rapat dalam wadah kering dan sejuk (FI
III,halaman 57).
Inkompatibilitas: Asam Stearat tidak cocok dengan hidroksida metal dan tidak
cocok dengan agen pengoksida. Stearat tidak larut dengan formula yang
mengandung banyak metal, basis salep dengan asam stearat akan mengering dan
bergumpal dalam kaitan dengan reaksi dengan komponen zinc dan calcium salts
(Pharmaceutical Excipients).
Titik lebur: 57 60C (BP), 56 72 C (JP), >54C (Handbook of exipient)
Densitas: 0,537 g/cm
3
(bulk), 0,571 g/cm
3
(tapped), 0,98 g/cm
3
(true)
(Pharmaceutical Excipients)
Konsentrasi: 1 20% (Pharmaceutical Excipients)
Kegunaan: Emulgator, pelarut, surfaktan nonionik atau anionik (Pharmaceutical
Excipients)
Cetyl Alkohol
Fungsi : Emolient dan emulsifying agent
Pemerian : Bentuk seperti lilin, serpihan putih, granul, tidak memiliki bau yang
kuat
Titik didih : 316 C-344 C (Excipients: 155)
Konsentrasi : 2-5%
Titik lebur : 45-52 C
Kelarutan : Larut dalam etanol, tidak larut dalam air
Inkompatibilitas: Inkompatibilitas dengan agen oksidasi yang kuat
Methyl Paraben (Excipient, 310)
Sinonim : Methyl Paraben, metil hidroksi benzoat, metil parahidroksi benzoat,
asam 4-hidroksi benzoat metil ester, metil p-hidroksi, benzoat, nipagin,
Uniphen P-23
Nama kimia : Methyl-4-hydroxybenzoat
Rumus Struktur :

O O
OH
H
3
C


Rumus Empiris : C
8
H
8
O
3
BM : 152.15
Fungsi : antimikrobial preservative
Pemerian : metil paraben, kristal tidak berwarna atau bubuk kristal putih.
Tidak berbau atau hampir tidak berbau dan mempunyai sedikit
rasa terbakar (panas).
Digunakan sebagai pengawet sediaan topikal (0,02%-0,3%)
Aplikasi :
Metil paraben banyak digunakan sebagai pengawet dalam kosmetik, makanan,
dan formulasi farmasetika. Dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan
paraben lain atau pengawet lain.
Metil Paraben efektif dalam range PH yang lebar dan mempunyai spectrum
antibakteri yang luas.
Aktivitas antibakterinya naik jika rantai alkil meningkat, tetapi kelarutan dalam air
menurun, tetapi campuran paraben digunakan untuk mendapatkan efek pengawet
yang efektif.
Kemanjuran sebagai pengawet naik dengan penambahan propilen glikol (2-5%),
atau mengkombinasikannya dengan antimikroba lain seperti imidurea.
Metil paraben (0,18%) dengan propil paraben (0,02%) biasa digunakan dalam
formulasi parenteral.
Sifat :
Aktivitas antimikrobanya pada PH 4-8. Kemanjuran pengawet turun dengan
meningkatnya PH (membentuk anion fenolat). Lebih aktif pada yeasts dan jamur
daripada bakteri dan lebih aktif pada bakteri gram (+) daripada gram ().
Aktivitas antimikrobanya naik dengan naiknya rantai alkil. Aktivitas
meningkat jika mengkombinasikannya. Yang biasa digunakan bersama adalah metil,
etil, propil, dan butyl paraben. Aktivitas juga meningkat dengan penambahan bahan
lain, seperti propilen glikol (2-5%), feniletil alcohol, dan asam edetic. Aktivitas juga
meningkata dengan penambahan pengawet lain seperti imidurea.
pKa : 8,4 pada 22
o
C
Titik lebur : 125-128
o
C
Kelarutan : Larut etanol (1:2), etanol 95% (1:3), etanol 50% (1:6), eter (1:10),
gliserin (1:60), mineral oil (tidak larut), peanut oil (1:200), propilen glikol (1:5), air
(1:400, 25
o
C; 1:50, 50
o
C; 1:30, 80
o
C)
Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan
Larutan encer metil paraben pada Ph 3-6 disterilkan dengan diautoclave
(120
o
C, 20 mnt), tanpa dekomposisi. Larutan encer pada PH 3-6adalah stabil (4 thn)
pada temperatur ruang, jika pada Ph >8 lebih cepat terhidrolisis. Metil paraben
disimpan dalam botol tertutup, tempat dingin dan kering.
Inkompatibilitas
Akan menurun kualitas antimokrobialnya dengan penambahan surfaktan nonionik,
seperti polysorbate 80. Namun, propylenglycol akan meningkatkan aktivitas anti
mikrobial apabila ditambahkan dallam surfaktan nonionik karena mencegah
interaksi antara metyl paraben dengan polysorbate 80.
Inkompatibel dengan magnesium trisilikat, talc, tragacant, sodium alginat, minyak
esensial, sorbitol, dan atropine. Juga bereaksi dengan macam-macam gula dan gula
alkohol.
Dapat mengabsorbsi pada wadah plastik namun tergantung plastik dan bahan
pembawa. Metylparaben akan berubah warna apabila bereaksi dengan besi dan
mengalami hidrolisis dengan basa lemah dan asam kuat.
Propil Paraben (Excipient 411)





Sinonim : Nipasol, propagin
BM = 180.20
Karakteristik :
a. Warna putih kristal, tidak berbau, tidak berasa
b. Stabil pada pH 4-6. Aktivitas antimikroba berada pada pH 4-8, aktivitas akan
menurun dengan adanya kenaikan pH
c. pKa 8.4 pada suhu 22
o
C
Kelarutan pada suhu 20
o
C :
Mudah larut pada aseton dan eter
Etanol (1:1.1), etanol 50% (1:5.6), gliserin (1:20), mineral oil (1:3330), minyak
kacang (1:70), propilen glikol (1:3.9), propilen glikol 50% (1:110), air
(1:2500)
Aplikasi:
Propyl paraben memiliki aktifitas antimikroba yang luas dalam sediaan
kosmetik makanan, minuman dan obat obatan. Propil paraben sendiri dapat digunakan
sendiri atau juga dapat dikombinasi dengan beberapa jenis paraben ester dan bahan
antiikroba lain. Namun penggunaannya banyak digunakan dalam sediaan kosmetik.
Paraben memiliki aktifitas anti bakteri yang luas dalam rentang pH yang cukup besar.
Paraben juga dapat efektif terhadap jamur dan mold. Kelarutan paraben jelek. Kadar
atau konsentrasi yang digunakan jika dikombinasi dengan methyl paraben 0,02%
propyl paraben dan 0.18% methyl paraben.
Kadar untuk penggunaan topical 0,01%-0,6%
Inkompatibilitas : Aktivitas menurun dengan adanya surfaktan nonionik, magnesium
aluminium silikat, magnesium trisilikat, yellow iron oxid, ultramarina blue
Penyimpanan : Tempat tertutup, sejuk dan kering.
Purified Water
Sinonim : Aqua, hydrogen oxide
Rumus struktur :
H
O
H

Rumus Empirik : H
2
O
BM : 18.02
Titik didih : 100
o
C
Titik lebur : 0
O
C
Fungsi : Pembawa, pelarut
Kelarutan : Dapat bercampur dengan kebanyakan pelarut polar
Viskositas : 0.89 mPa s (0.89 cP) pada 25
o
C
Temperatur kritis : 374,2
o
C
Tekanan kritis : 218,3 atm
Konduktivitas panas : 14,6 x 10-4 cal/sec/cm pada 25
o
C
Panas pembentukan : -55 Kcalories/mole pada 25
o
C
Stabilitas dan kondisi penyimpanan:
Air stabil dalam semua kondisi fisika (es, cairan, dan uap). Purified water secara
spesifik disimpan dalam kemasan terutup dan terlindungi dari cemaran
mikroorganisme dan kontaminan lain. Penggunaan air untuk sediaan lain memerlukan
kondisi penyimpanan yang berbeda pula.
Inkompatibilitas :
Air dapat bereaksi dengan obat dan eksipien yang lain yang dapat digunakan untuk
hidrolisis pada temperatur yang tepat.bereaksi dengan besi alkali dan benda benda
beroksida seperti calsium oksida dan magnesium oksida,dapat bereaksi dengan garam
anhidrat yang terbentuk dari macam-macam komposisi dan dengan senyawa organik
dan calsium carbide.
Etanol
Sinonim : Alkohol
Fungsi : Pelarut
Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap, dan mudah bergerak,
bau khas, rasa panas, mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
yang tidak berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform dan dalam eter
Bobot jenis : 0,8119-0,8139
Etanol adalah campuran etil alcohol dan air
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat sejuk,
jauh dari nyala api
Minyak Zaitun (Oleum olivae)
Minyak zaitun adalah minyak lemak yang diperoleh dengan pemerasan dingin biji
masak olea europaea L
Fungsinya : Zat tambahan
Pemerian : Cairan, kuning pucat atau kuning kehijauan, bau lemah, tidak tengik,
rasa khas pada suhu rendah sebagian atau seluruhnya membeku
Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%), mudah larut dalam kloroform, dalam
eter dan dalam eter minyak tanah
Bobot per ml : 0,9109 sampai 0,9139
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terisi penuh

2.7 ALASAN PEMILIHAN BAHAN
Bahan aktif
Asam Salisilat
1. Asam salisilat dipilih sebagai bahan aktif yang digunakan karena ditinjau dari
efektifitanya, stabilitas, dan toksisitas asam salisilat lebih baik dari bahan aktif
lainnya seperti Natrium salisilat dan metal salisilat
2. Asam salisilat memiliki efek samping yang ringan
3. Asam salisilat sangat cocok digunakan untuk pengobatan antifungi yang hanya
dikhususkan pada micosis superficial, seperti panu, kadas, kurap, kutu air,
dibandingkan asam benzoat karena punya efek keratolikum
4. Asam salisilat memiliki titik lebur yang tinggi sehingga cocok apabila
diformulasikan dalam bentuk sediaan cream dengan metode fusion
5. Asam salisilat diabsorbsi cepat dari kulit sehat, terutama bila dipanaskan sebagai
obat gosok atau salep (Farmakologi dan Terapi Edisi V, 234)

Bahan Tambahan
Asam Stearat
Asam strearat dapat membentuk lapisan tipis yang dapat mencegah penguapan air dari
kulit, sehingga air tidak dapat keluar dan menimbulkan efek emollient
Cetyl Alkohol
Cetyl alcohol dapat stabil dalam kondisi asam, alkalis, stabil terhadap cahaya, pada
udara tidak mengalami ketengikan
Metil Paraben
Untuk mencegah timbulnya kapang dan khamir, Metil Paraben efektif dalam range PH
yang lebar dan mempunyai spectrum antibakteri yang luas.
Propil Paraben
Pemakaiannya bersamaan dengan methil paraben untuk hasil lebih optimal.
Aktif pada PH 4-8 sehingga masuk dalam rentang PH sediaan
Etanol
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut.
Etanol relative lebih aman dan bisa dibuat sediaan untuk melarutkan senyawa organic
yang tidak dapat larut dalam air.
Asam salisilat mudah larut dalam etanol. Kelarutannya 1:2
Oleum Olivae
Oleum olivae atau minyak zaitun kaya antioksidan, vitamin A dan vitamin E. Nutrisi
tersebut membantu kulit untuk meregerasi dan menetralisir radikal bebas yang
dihasilkan oleh paparan terhadap asap, polusi, alcohol, dan racun di lingkungan
sekitarnya.

2.8 FORMULASI
Formula terpilih
R/ Asam salisilat 3 %
Asam stearat 15 %
Cetyl Alkohol 1 %
Metil Paraben 0,1 %
Propil Paraben 0,05 %
Etanol 70 % 3 %
Olive Oil 1 %
Aquadest ad 100 %
m.f. cream

Rancangan Formula
Bahan Fungsi
Kadar
(1 %)
1 Kemasan (10 g) 1 Bets (200 g)
Asam salisilat Zat aktif 3 % 0,3 g 6 g
Asam stearat Emulsifying Agent 15 % 1,5 g 30 g
Cetyl Alkohol Emulsifying Agent 1 % 0,1 g 2 g
Metil Paraben Pengawet 0,1 % 0,01 g 0,2 g
Propil Paraben Pengawet 0,05 % 0,005 g 0,1 g
Etanol 70 % Cosolvent 3 % 0,3 g 6 g
Olive Oil Emollient 1 % 0,1 g 2 g
Aquadest Pelarut ad 100 % 7,685 g 153,7 g


Penimbangan (+ 10%)
Bahan
1 Kemasan (10 g +
10 %)
1 Bets (200 g +
10%)
Asam salisilat 0,33 g 6,6 g
Asam stearat 1,65 g 33 g
Cetyl Alkohol 0,11 g 2,2 g
Metil Paraben 0,011 g 0,22 g
Propil Paraben 0,0055 g 0,11 g
Etanol 70 % 0,33 g 6,6 g
Olive Oil 0,11 g 2,2 g
Aquadest 8,453 g 169,070 g

2.9 PERHITUNGAN PENIMBANGAN
Asam salisilat
Konsentrasi = 3 %
3/100 x 10 g = 0,3 gram
Asam stearat
Konsentrasi = 15 %
15/100 x 10 g = 1,5 gram
Cetyl Alkohol
Konsentrasi = 1 %
1/100 x 10 g = 0,1 gram
Metil Paraben
Konsentrasi = 0,1 %
0,1/100 x 10 g = 0,01 gram
Propil Paraben
Konsentrasi = 0,05 %
0,05/100 x 10 g = 0,005 gram
Etanol 70 %
Konsentrasi = 3 %
3/100 x 10 g = 0,3 gram
Olive Oil
Konsentrasi = 1 %
1/100 x 10 g = 0,1 gram
Aquadest
Konsentrasi = 76,85 %
76,85/100 x 10 g = 7,685 gram

2.10 TAKARAN/ DOSIS ZAT AKTIF
a. Takaran/ dosis zat aktif:
Dosis 2 x sehari selama seminggu, untuk pengobatan keratolitikum.Dosis
lazim 2% - 6% bila diperlukan, untuk pengobatan Plantar Warts 60% asam
salisilat(Martindale I, 1072)
Antipsoriosis, antiseboroik, keratolitik digunakan 3% - 10%
Antiacne agent digunakan 3% - 6%(www.drug.com)
Dosis setempat: srbuk tabur, salep atau krim 3 10% (Kimia Medisinal II, 65)
Obat yang digunakan untuk Keratolitikum, Asam Salisilat: 4-10% (Ilmu
Meracik Obat)
b. Perhitungan dan alasan bobot tiap kemasan:
Bobot sekali pakai 200 mg 300 mg
Pemakaian sehari = 2 x (200 300) mg
= 400 mg 600 mg

Pemakaian 2 minggu = 14 x (400 600) mg
= (5600 8400) mg
= 5,6 8,4 gram 10 gram
2.11 SPESIFIKASI SEDIAAN
No. Keterangan Spesifikasi
1. Organoleptis
- Warna - Putih
- Bau - Tidak berbau
- Bentuk - Krim
2. pH 4,5-6,5
3. Viskositas 100 dPas
4. Homogenitas homogen





BAB III
METODE

3.1 ALAT DAN BAHAN
Alat :
- Beaker glass
- Batang pengaduk
- Mortir dan stamper
- Seperangkat timbangan
- Gelas ukur
- Sudip
Bahan :
Asam salisilat
Asam stearat
Setil alkohol
Propil paraben
Metil paraben
Minyak zaitun
Aquadest
Etanol

3.2 CARA KERJA


Ditimbang, dilebur dicawan ad larut










Setil alkohol, ol.olive, as.stearat
Campuran homogen (fase 1)





Masukkan beaker glass, dilebur




Dilarutkan pada beker gelas


Masukkan pada campuran fase 2, dilebur ad
larut






















Air panas, propil, metil paraben

Campuran homogen (fase 2)


Etanol + asam salisilat

Campuran homogen etanol + asam salisilat


Campuran homogen (fase 3)


Siapkan mortir panas


Masukkan campuran fase 1 dan fase 3 pada mortir panas bersamaan

Aduk perlahan ad membentuk massa krim

Masukkan tube

Beri etiket + label

Krim dalam kemasan

Masukkan kemasan

3.3. PROSEDUR EVALUASI

1. Uji Organoleptis Krim ( Indrawati, 2011 )
Uji yang dilakukan meliputi uji penampilan, warna dan bau secara visual

2. Uji pH ( Rao K, 2010 )
Alat : timbangan analitik, beaker glass, batang pengaduk, pH meter
Bahan : krim asam salisilat, aquadest
Timbang secara akurat krim sejumlah 5 +/- 0,01 gram krim
Masukkan ke dalam beaker glass
Tambahkan 45 ml aquadest
Aduk menggunakan batang pengaduk ad larut
Ukur pH larutan krim menggunakan pH meter pada suhu 27 C

3. Uji Homogenitas ( Astuti, 2007 )
Alat : pelat kaca
Bahan : krim asam salisilat
Ambil krim asam salisilat secukupnya
Oleskan pada permukaan pelat kaca
Raba

4. Uji Kelengketan Krim
Alat : alat uji kelengketan krim
Bahan : krim asam salisilat
Ambil sejumlah krim
Letakkan pada alat uji kelengketan
Beri beban sebesar 80 gram
Hitung waktu terlepasnya kedua lempengan alat uji setelah diberi beban pelepasan
sebesar 80 gram

5. Uji Daya Tercuci Krim ( Anggraini )
Alat : buret
Bahan : krim asam salisilat, air
Ambil sejumlah 1 gram krim
Oleskan pada telapak tangan
Cuci dengan sejumlah air
Air dilewatkan melalui buret dengan perlahan
Amati secara visual ada atau tidaknya krim yang tersisa ditelapak tangan
Catat volume air yang dipakai

6. Uji Pelepasan Asam Salisilat ( Uji Disolusi ) (Astuti, 2007)
Alat : gelas piala 1000 mL, sel disolusi, pengaduk dengan baling-baling, spektrofotometer
UV VIS (Shimadzu 1600 series) dan incubator
Bahan : krim asam salisilat, dapar fosfat pH 7,4
Cara :
Larutkan sejumlah tertentu asam salisilat pada medium disolusi
Uji dilakukan pada suhu 37 +/- 0,5
o
C
Diatur kecepatan baling-baling hingga dihasilkan kecepatan 100 rpm
Ambil sampel pada menit ke 5,10,20,40,60,80,100, dan 120 menit.
Ditentukan kadar asam salisilat yang terlarut menggunakan spektrofotometri pada
panjang gelombang 296 nm.

7. Stabilitas (Indrawasih, 2011)
Uji stabilitas dilakukan dengan uji dipercepat
Alat : Alat pengatur suhu dan pH
Bahan : krim asam salisilat
Cara :
Disiapkan krim asam salisilat
Disimpan pada suhu kamar, suhu 40
0
C dan suhu 50
0
C
Dilakukan pengamatan selama 6 minggu terhadap organoleptis, ukuran partikel,
dan pH
Pemeriksaan terhadap bau dan warna tidak dilanjutkan bila sediaan mengalami
ketidakhomogenan
8. Uji Keseragaman Bobot (Rao K,2010)
Alat : Cawan porselen, water bath, penyaring whatmann , spektrofotometer UV
Bahan : asam salisilat, methanol
Cara :
Diambil sejumlah krim hingga mengandung 50 mg bahan obat (asam salisilat)
Dilarutkan dalam sejumlah kecil methanol
Diuapkan di atas waterbath hingga seluruh bahan larut
Disaring menggunakan kertas saring whatmann hingga diperoleh volume 50 mL
Dibuat larutan hingga mengandung atau memberikan konsentrasi 100 mcg/mL
Diambil sejumlah larutan
Dibuat larutan dengan berbagai konsentrasi dalam labu ukur 10 mL,tambahkan
larutan dengan methanol
Diukur absorbansi menggunakan spektrofotometer UV pada panjang gelombang
231,6 nm terhadap blanko

9. Pengujian Viskositas (Remington, 348)
Alat : VT 04
Bahan : krim asam salisilat
Cara :
Cairan dimasukkan antara cup dan bob sampai temperatur setimbang. Beban
ditempatkan pada penggantung. Catat waktu untuk berputar 100 x.

10. Pengujian Daya Sebar (Farmasi Fisik 2, 1036)
Alat : Extensometer
Bahan : Krim asam salisilat
Cara :
Krim sebanyak 1 gram diletakkan pada lempeng kaca berskala, lalu di atasnya ditutup
lempeng kaca dan diberi beban 5 gram, lalu didiamkan. Lalu beban ditambah dengan
beban 5 gram, dan amati penyebaran yang terjadi.

11. Uji Daya Penetrasi menggunakan sel difusi Franz ( Lucida, 2008)
Alat : spektrofotometri UV VIS , gelas kaca, penjepit , thermometer , thermostat ,
magnetic stirrer
Bahan : Kulit mencit , dapar fosfat pH 6,4 , krim asam salisilat
Cara :
Kompartemen cairan penerima pada alat sel difusa diisi dengan larutan 0,067 M dapar
fosfat pH 6,4 hingga penuh (115 mL)
Ditimbang sediaan krim sejumlah 250 mg
Oleskan krim secara merata pada kulit mencit yang diletakkan pada alat sel difusa
Tutup bagian tepi pengolesan menggunakan tutup gelas kaca yang dilengkapi dengan
thermostat dan thermometer untuk mengatur suhu (suhu air pada bejana kaca diatur
pada 37
0
C +- 1
0
C
Dihidupkan magnetic stirrer dan atur skala perputaran sebesar 100 rpm dengan suhu
37
0
C
Diambil cuplikan 5 mL dilakukan berturut-turut hingga 120 menit. Setiap cuplikan
diganti dengan larutan dapar fosfat pH 6,4 dengan volume dan suhu yang sama.
Penentuan kadar dilakukan dengan spektrofotometer UV Vis



























BAB IV
HASIL PENGAMATAN

4.1 DATA
1. Uji Organoleptis
Bentuk : Cream
Warna : Putih
Aroma : Tidak berbau

2. Uji pH
pH dry syrup amoxicillin kami adalah 6 . Memenuhi syarat karena masuk
rentang PH kulit 4,5-6,5

3. Uji Viskositas
Uji viskositas menggunakan rotor nomor 4 dan viskositasnya adalah 300 dpas.

4. Uji daya sebar
Replikasi 1 (10 g beban)
Horisontal : 3,9 cm
Vertikal : 3,7 cm
Diagonal : 3,8 cm
Replikasi 1 (20 g beban)
Horisontal : 4 cm
Vertikal : 4,1 cm
Diagonal : 4,2 cm
Replikasi 1 (50 g beban)
Horisontal : 4,4 cm
Vertikal : 4,4 cm
Diagonal : 4,5 cm






4.2 GAMBAR
No Gambar Keterangan
1

Krim yang dihasilkan
2

Uji evaluasi daya sebar
3

Uji evaluasi pH sediaan
4

Uji evaluasi viskositas
sediaan
5

Hasil akhir sediaan krim
dalam kemasan

























BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini kami melakukan formulasi sediaan cream dengan bahan aktif
asam salisilat. Sediaan cream adalah sediaan semisolida yang mengandung satu atau lebih
bahan aktif yang didispersikan pada basis yang sesuai. Krim adalah cairan kental atau emulsi
setengah padat, baik tipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Krim biasanya dipakai
sebagai emulien atau pemakaian obat pada kulit. Krim asam salisilat yang telah dibuat
ditujukan sebagai keratolitikum. Sediaan yang dipilih adalah sediaan cream dengan basis o/w
karena untuk tujuan keratolitik lebih efektif jika terapi dilakukan pada bagian yang diinginkan
saja sehingga tidak diperlukan efek sistemik. Keratolitik bekerja pada bagian stratum
korneum pada lapisan epidermis kulit dengan menghilangkan glukolipid yang melekatkan
keratin-keratin pada sel tanduk. Selain asam salisilat terdapat bahan aktif lain yang dapat
bekerja sebagai keratolitik yakni resorsinol dan sulfur. Asam salisilat dipilih sebagai bahan
aktif yang digunakan karena ditinjau dari efektifitas, stabilitas dan tosisitasnya asam salisilat
lebih baik dibandingkan dengan bahan aktif lain.
Kadar asam salisilat yang biasa digunakan untuk keratolitik adalah 2-6 % b/v
(Martindale I, 1072). Kadar yang digunakan untuk sediaan ini adalah sebesar 3 % b/v dari
keseluruhan jumlah sediaan.
Asam salisilat digunakan untuk pengobatan topical keratolitik, pengobatan
hiperkeratotik, pengobatan ketombe, ichtiosis, psoriasis, dan anti acne. Dalam hal ini krim
yang kami buat lebih ditujukan sebagai antifungi dan antibakteri dengan mekanisme kerja
keratolitikum (mengelupas lapisan kulit epidermis, stratum corneum yang terinfeksi bakteri
atau jamur).
Untuk antifungi tidak memerlukan penetrasi, jadi hanya pada stratum corneum.
Sedangkan untuk menimbulkan efek antibakteri sediaan melewati rute trans appendage
terutama dengan cara trans folikuler, karena sasarannya pada kelenjar sebaseus. Kemungkinan
bahan aktif juga melewati rute trans epidermis, baik secara inter sel maupun trans sel.

Rancangan Fomulasi
Formula I
Bahan Fungsi Bahan Persentase % (w/v) 10 gram
200
gram
Asam salisilat Bahan aktif 3 % 0,3 6
Asam stearat Emulsifying 15 % 1,5 30
agent, basis
Cetyl Alcohol Emulsifying agent 1 % 0,1 2
Metil Paraben Pengawet 0,1 % 0,01 0,2
Propil Paraben Pengawet 0,05 % 0,005 0,1
Etanol 70% Co-Solvent 3 % 0,3 6
Olive Oil Emolient 1 % 0,1 2
Aquadest ad Pelarut Ad 100 % 7,685 153,7

Perubahan Formulasi

(IMO Halaman 72) Formula Standart Vanishing Cream
Bahan Fungsi Bahan
Persentase %
(w/v)
1 Kemasan
(20 gram)
1 Bets
(100 gram)
Asam salisilat Bahan aktif 3 % 0,6 3
Asam stearat Emulsifying agent,
basis
15 % 3 15
Cerae Albi Stabilizing agent,
stiffening agent
2 % 0,4 2
Vaselin Albi Basis, emolient 8 % 1,6 8
TEA Alkalizing agent ,
pengemulsi
1,5 % 0,3 1,5
Propylene glikol Co-Solvent 8 % 1,6 8
Aquadest Pelarut 62,5 % 14 62,5



Penimbangan Formulasi Terpilih

Bahan Fungsi Bahan Kadar %
1 Kemasan (20
gram)
1 Bets
(100 gram)
Asam salisilat Bahan aktif 3 % (+10%) = 0,66 (+10%) =
3,3
Asam stearat Emulsifying agent,
basis
15 % (+20%) = 3,6 (+20%) = 18
Cerae Albi Stabilizing agent,
stiffening agent
2 % (+10%) = 0,44 (+10%) =
2,2
Vaselin Albi Basis, emolient 8 % (+20%) = 1,92 (+20%) =
9,6
TEA Alkalizing agent ,
pengemulsi
1,5 % (+20%) = 0,36 (+20%) =
1,8
Propylene glikol Co-Solvent 8 % (+20%) = 1,92 (+20%) =
9,6
Aquadest Pelarut 62,5 % 13 68

Alasan kelompok kami melakukan perubahan formula dari formula I menjadi formula
standart karena beberapa alasan diantaranya karena pada Formula I tidak terdapat zat
pengemulsi yang spesifik (pengemulsi kuat) sehingga dikhawatirkan fase air dan fase minyak
tidak akan campur. Selain itu setil alcohol sebagai emulsifying agent ,konsentrasi yang
digunakan terlalu kecil dimana setil alcohol digunakan sebagai bahan pengemulsi seharusnya
pada konsentrasi 2-5%. Pada pembuatan krim ini, digunakan metode fussion (peleburan),
dimana sebelum fase minyak dan fase air dicampur bersamaan pada suhu yang sama (70
0
C)
dalam mortar panas , asam salisilat yang telah dilarutkan dalam etanol 70% dicampurkan
terlebih dahulu ke dalam fase air yang berisi metil paraben + propel paraben + aquadest.
Karena etanol bersifat mudah menguap , dikhawatirkan ketika asam salisilat yang telah
terlarut dalam etanol dimasukkan ke dalam fase air (fase air dalam kondisi panas) , etanol
akan menguap dan jumlahnya tak lagi cukup untuk melarutkan asam salisilat, sehingga akan
diperoleh sediaan krim yang tidak homogen , terdapat gumpalan-gumpalan padat asam
salisilat.

Karakteristik Bahan-bahan dalam Formula
Bahan Aktif
Asam salisilat



Pemerian: hablur putih, biassanya berbentuk jarum halus atau hablur halus putih,
rasa agak manis, tajam, dan stabil di udara. Bentuk sintesis warna putih dan tidak
berbau. Jika dibat dari metal salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau
merah jambu dan berbau lemah mirip mentol. (FI IV : 51)
Kelarutan: 1 bagian asam salisilat larut dalam: 460 bagian air, 15 bagian air panas,
3 bagian alcohol, 45 bagian kloroform, 3 bagian eter, 135 benzena (Martindale).
Sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah larut dalam etanol dan dalam
eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam kloroform (FI IV : 51).
Penggunaan: asam salisilat digunakan untuk pengobatan topical eratolitik,
pengobatan hiperkeratotik, pengobatan ketombe, ichtiosis, psoriasis, dan anti
acne. (Famakologi dan Terapi Edisi V, 234)
Efek samping: dermatitis, iritasi kulit (jangka panjang), kematian (pemakaian
berlebihan pada anak-anak). Tidak boleh diberikan jangka panjang, konsentrasi
tinggi, di sebagian besar permukaan tubuh. Hindari kontak dengan mata,
mulut, membran mukosa lainnya. (Famakologi dan Terapi Edisi V, 234)
Konsentrasi: 2 6% (Martindale I, 1072)

Bahan Tambahan
1. Asam Stearat (Handbook of Excipient)
Pemerian: kristal padat, putih atau kekuningan, atau serbuk putih kekuningan.
Kelarutan: praktis tidak laut dalam air, 1 bagian larut dalam :
20 bagian alkohol
2 bagian kloroform
3 bagian eter
Stabilitas: stabil, dapat ditambahkan antioksidan, disimpan dalam wadah
tertutup rapat dalam wadah kering dan sejuk
Inkompatibilitas : Asam Stearat tidak cocok dengan hidroksida metal dan tidak
cocok dengan agen pengoksida. Stearat tidak larut dengan formula
yang mengandung banyak metal, basis salep dengan asam stearat akan
mengering dan bergumpal dalam kaitan dengan reaksi dengan
komponen zinc dan calcium salts.
Titiklebur: 57-60C (BP), 56-72 C (JP), >54C (Handbook of exipient)
Densitas: 0,537 g/cm
3
(bulk), 0,571 g/cm
3
(tapped), 0,98 g/cm
3
(true)
Kegunaan: Emulgator, pelarut, surfaktan non ion ikatau anionik
Konsentrasi: 1-20%
2. Vaselinalbi(Handbook of Excipient)
Pemerian: putih atau kekuningan pucat, massa berminyak transparandalam
lapisan tipis setelah didinginkan padasuhu 0C
Kelarutan: tidak larut dalam air, sukar larut dalam metanol dingin atau panas
dan dalam etanol mutlak dingin, mudah larut dalam benzena, dalam
karbon disulfide, dalam kloroform, larut dalam heksan dan dalam
sebagian besarminyaklemak dan minyak atsiri
Stabilitas: dapat terjadi perubahan warna karena teroksidasi oleh cahaya, dapat
ditambahkan antioksidan
Inkompatibilitas : -
Titik lebur: 38-60 C (JP, USP)
Kegunaan: Emolien, basis salep
Konsentrasi: Emolien krim topical (10-30%), emulsi topical (4-25%), salep
topical (sampai 100%)

3. Cera albi (Handbook of Excipient)
Pemerian: Padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam keadaan
lapisan tipis, bau khas lemah, bebas bau tengik.
Kelarutan: Tidak larut dalam air, agak sukar larut dalametanol dingin, etanol
mendidih melarutkan asam serotat dan bagian darimyrisin, merupakan
kandungan malam putih. Larut sempurna dalam kloroform, eter,
minyak lemak, dan minyak atsiri. Sebagian larut dalam benzene
dingin dan dalam karbon disulfide dingin.
Stabilitas: dapat terjadi esterifikasi pada pemanasan diatas 150C, simpan dalam
wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Inkompatibilitas : tidak cocok dengan agen pengoksida
Titik lebur: 61-65C
Densitas: 0,95-0,96 g/cm
3

Kegunaan: Penstabil emulsi, stiffening agent
4. Propilenglikol(Handbook of Excipient)
Pemerian: cairan kentaljernih tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak
berbau, menyerap air pada udara lembab
Kelarutan: dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan
kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial,
tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak
Stabilitas: stabil dalam wadah tertutup rapat, sejuk. Pada temperatur tinggi,
dalam wadah terbuka akan teroksidasi menghasilkan produk sebagai
propionaldehid, asam laktat, asam piruvat, dan asam asetat. Stabil
secara kimia bila bercampur air, etanol, gliserin. Simpan dalam wadah
tertutup rapat, terlindung cahaya, dalam tampat kering dan sejuk.
Inkompatibilitas : Propylen glycol tidak cocok dengan reagen oksidasi yaitu
potassium permanganate.
Titik lebur: -59C
Densitas: 1.038 g/cm
3
pada 20C
Kegunaan: humectant, kosolven
Konsentrasi: humectant (15%), kosolven (5-80%)
5. TEA ( Trietanolamin )
Fungsi : Alkalizing agent, pengemulsi
Kelarutan : DidalamAsetonberbentukmiselpadasuhutertentu
1 : 24 Benzen, 1 : 63 Etil Eter berbentuk misel dalam
Methanol, air, Karbon Tetra Klorida.
Titik lebur : 20 21
o
C
Incompatibilitas : Reaksi dengan Asam mineral, membentuk garam kristal
dan Ester dalam Asam lemah tinggi, TEA membentuk
garam yang terlarut dalam air dan membentuk karakter
busa. TEA dapat beraksi dengan Coper membentuk garam
kompleks.
ADI : 5 15 g / kg BB
Pemerian : Jernih tak berwarna
Persyaratan : 2 4 %
6. Purified Water
Sinonim : Aqua, hydrogen oxide
Rumus struktur :
H
O
H


Rumus Empirik : H
2
O
BM : 18.02
Titik didih : 100
o
C
Titik lebur : 0
O
C
Fungsi : Pembawa, pelarut
Kelarutan : Dapat bercampur dengan kebanyakan pelarut polar
Viskositas : 0.89 mPa s (0.89 cP) pada 25
o
C
Temperatur kritis : 374,2
o
C
Tekanan kritis : 218,3 atm
Konduktivitas panas : 14,6 x 10-4 cal/sec/cm pada 25
o
C
Panas pembentukan : -55 Kcalories/mole pada 25
o
C
Stabilitas dan kondisi penyimpanan:
Air stabil dalam semua kondisi fisika (es, cairan, dan uap). Purified water
secara spesifik disimpan dalam kemasan terutup dan terlindungi dari cemaran
mikroorganisme dan kontaminan lain. Penggunaan air untuk sediaan lain
memerlukan kondisi penyimpanan yang berbeda pula.
Inkompatibilitas :
Air dapat bereaksi dengan obat dan eksipien yang lain yang dapat digunakan
untuk hidrolisis pada temperatur yang tepat.bereaksi dengan besi alkali dan
benda benda beroksida seperti calsium oksida dan magnesium oksida,dapat
bereaksi dengan garam anhidrat yang terbentuk dari macam-macam komposisi
dan dengan senyawa organik dan calsium carbide.

Alat yang digunakan dalam praktikum
1. Timbangan analitik
2. Mortir
3. Stamper
4. Beker gelas
5. Gelas ukur
6. Batang pengaduk
7. Sudip
8. Cawan porslen
9. Kaca arloji
10. Penjepit kayu
Bahan yang digunakan dalam praktikum
1. Asam salicilat 3%
2. Asam stearat 15 gram
3. Cera alba 2 gram
4. Vaselin album 8 gram
5. TEA 1.5 gram
6. Propilen glikol 8.0 gram
7. Aqua destilasi panas 62.5
Cara kerja yang dilakukan yaitu
siapkan mortir panas yaitu dengan merendamkan air panas dalam mortir
termasuk stampernya juga, kemudian kami menyiapkan dengan menimbang bahan-
bahan yang akan digunakan terdiri dari asam salicilat, asam stearat, cera alba, vaselin
album, TEA, propilen glikol, dan aquadestilasi panas. Setelah ditimbang kami
membedakan antara face air dan face minyak dengan mengelompokkan bahan-bahan
yang termasuk face air dikempokkan semua dan bahan-bahan yang termasuk face
minyak dikelompokkan semuanya.
Setelah dillakukan penimbangan semuanya, kami mengelompokkan bahan
yang termasuk face air terdiri dari : asam salicilat dan aqua panas, diaduk hingga
homogen atau sampai larut. Kemuadian untuk face minyaknya terdiri dari : asam
stearat, cera alba, vaselin album, TEA, propilen glikol, semua bahan ini dijadikan satu
pada cawan dan dilebur diatas water bad hingga larut semuanya.
Kemudian untuk pencampurannya diusahakan suhu antara mortir hangat,
bahan face air dan bahan face minyak suhunya sama agar mudah dalam proses
pencampurannya dan juga agar tidak pecah (termasuk juga asar tidak menyabun).
Kemudian dicampurkan semuanya bersama-sama antara face air dan face
minyak dicampurkan bersama dalam mortir hangat kemudian diaduk pelan-pelan
hingga panasnya mulai mendingin entah panas dari mortir ataupun bahannya. Setelah
dingin barulah terbentuk krim / vinising krim.
Fase minyak
Terdiri dari asam stearat, cera alba, vaselin album, TEA, dan propilen glikol.
Proses peleburan dilakukan dengan mengurutkan zat yang memiliki titik lebur paling
tinggi yaitu asam stearat pada suhu 78C selama 1 menit 5 detik, cera alba pada suhu
74,8C selama 1 menit 44 detik dan vaselin putih pada suhu 64,8C selama 2
menit49 detik. Leburan yang telah jadi tetap dipanaskan pada suhu 60C untuk
menghindari terjadinya pembekuan kembali.
Fase air atau melarutkan bahan aktif
Fase air dibuat dengan cara melarutkan asam salicilat dan aqua destilasi panas.
Lakukan pencampuran hingga semua asam salicilat larut aqua panas. dalam
Pencampuran dengan air panas dilakukan apabila semua kelompok bahan telah siap
untuk dicampurkan.



Hasil Formulasi
NO PARAMETER SPESIFIKASI HASIL
1 Organoleptis
Warna
Bau
Bentuk

Putih
Tidak berbau
Krim o/w

Putih
Tidak berbau
Krim o/w
2 Indikator pH 5-7 6
3 VT 04 200-300 d.Pas 300 d.Pas spindel 2
4 Daya sebar Beban 10 gram
horisontal: 3.9 cm
vertikal: 3.7 cm
diagonal: 3.8 cm
Beban 20 gram
horisontal: 4.0 cm
vertikal: 4.1 cm
diagonal:4.2 cm
Beban 50 gram
horisontal: 4.4 cm
vertikal: 4.4 cm
diagonal: 4.5 cm

Dalam sebuah sediaan tentunya diperlukan strandart atau parameter penilaian
apakah sediaan tersebut telah memenuhi spesifikasi yang diinginkan atau tidak. Oleh
karena itu dilakukan beberapa pengujian krim :
1. Uji organoleptis
Warna : putih
Bau : tidak berbau
Bentuk : Krim o/w

2. Uji Ph
Untuk mengukur pH digunakan kertas pH indikator langsung pada sediaan.
Caranya oleskan sediaan salep mada kertas indikator. Maka akan terjadi perubahan
warna dan dicocokkan dengan standar warna pada pH tertentu. Dalam skala kecil
diperoleh pH 6.
Hal ini berarti pH sediaan krim yang kami buat sesuai dengan kriteria yang
diinginkan dan dapat masuk rentang pH 5-7.

3. Uji viskositas
Uji viskositas ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kekentalan dari
sediaan krim. Kekentalan atau viskositas sediaan termasuk salah satu hal yang harus
diperhatikan dalam pembuatan sediaan krim. Untuk uji viskositas mengunakan alat
VT 04. Caranya sediaan dimasukkan antara cup dan bob sampai temperatur
setimbang. Beban ditempatkan pada penggantung. Uji viskositas didapatkan hasil
300 d.Pa. pada spindle 2
4. Uji daya sebar
Uji daya sebar digunakan alat Extensometer. Caranya krim sebanyak 1 gram
diletakkan pada lempeng kaca berskala, lalu di atasnya ditutup lempeng kaca dan
diberi beban 10 gram, lalu didiamkan. Lalu beban ditambah dengan beban 5 gram,
dan amati penyebaran yang terjadi hingga konstan.

Perhitungan Waktu Kadaluarsa asam salisilat
Diketahui:
Asam salisilat mengikuti orde 1 (Djouder,R. 2012)
Memiliki laju konstanta (k) : 3,56.
-

-
(Meritnation.com)

Waktu kadaluarsa orde 1 t90 = 0,105/k
t90 = 0,105/ 3,56.
-

-

= 2,949.

second = 355,6 hari 356 hari










BAB VI
KESIMPULAN

Setelah dilakukan praktikum pembuatan Krim Asam Salisilat dapat disimpulkan bahwa
pembuatan krim bergantung pada beberapa parameter-parameter, seperti sifat fisika kimia dari
bahan aktif, basis, maupun bahan tambahan dan target dan area penggunaan salep, juga
kondisi patofisiologis dari kulit pasien.
Dalam pembuatan Krim Asam Salisilat dibutuhkan bahan-bahan tambahan seperti
emulgator, dan pengawet untuk menambah stabilitas, konsistensi, dan acceptability dari
pasien. Setelah dilakukan beberapa uji sediaan, dapat disimpulkan bahwa sediaan kami secara
organoleptis memenuhi spesifikasi , bentuk krim o/w, warna putih, tidak berbau dengan pH 6.
Uji viskositasnya sediaan kami memenuhi persyartan dengan konsistensi seperti salep yaitu
300dpa. Maka dapat dikatakan bahwa sediaan krim asam salisilat yang kami buat layak untuk
diproduksi masal atau skala industri.





















DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh.1996. Ilmu Meracik Obat, Teori dan Praktik. Yogyakarta: Gajah Mada University
Press
Anief, Moh.2002. Formulasi Obat Topikal dengan Dasar Penyakit Kulit. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press
Anonim. 2002. Britis Pharmacopeia Volume II Book 2. London : The Stationery Office.
Anonim. 2002. United States Pharmacopeia Book 2. United Stated Pharmacopeia Convention
Inc.. Rockville.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi,Edisi ke 4. Jakarta: Universitas
Indonesia Press
Kibbe. 2000. Handboox Of Pharmaceutical Excipient third edition. USA : American
Pharmaceutical Association
Reynolds, James E.F. 1982. Martindale the Extra Pharmacopoeia 28
th
Edition. London: The
Pharmaceutical Press
Sirait, Midian, dkk. 1979. Farmakope Indonesia III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Soeosilo, Slamet, dkk. 1995. Farmakope Indonesia IV. Jakarta: Departmen Kesehatan
Republik Indonesia