Anda di halaman 1dari 7

Nama : Rony budyanto

Prodi : PGSD A
NIM : 0905115036
Semester : 3



PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES PADA PEMBELAJARAN
IPA

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu
tentang gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya
penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-
konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat
sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman
yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

Tujuan mata pelajaran IPA dicapai oleh peserta didik melalui berbagai
pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri
ilmiah pada tataran inkuiri terbuka. Proses inkuiri ilmiah bertujuan
menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta
berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh
karena itu pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman
belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan
keterampilan proses dan sikap ilmiah. Pengembangan keterampilan proses
siswa dapat dilatihkan melalui suatu kegiatan pembelajaran yang
menggunakan pendekatan keterampilan proses.

Pendekatan keterampilan proses adalah proses pembelajaran yang
dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta,
membangun konsep-konsep dan teori-teori dengan keterampilan intelektual
dan sikap ilmiah siswa sendiri. Siswa diberi kesempatan untuk terlibat
langsung dalam kegiatan-kegiatan ilmiah seperti yang dikerjakan para
ilmuwan, tetapi pendekatan keterampilan proses tidak bermaksud
menjadikan setiap siswa menjadi ilmuwan. Pembelajaran dengan
pendekatan keterampilan proses dilaksanakan dengan maksud karena IPA
merupakan alat yang potensial untuk membantu mengembangkan
kepribadian siswa. Kepribadian yang berkembang merupakan prasyarat
untuk melangkah ke profesi apapun yang diminati siswa.
Proses dapat didefinisikan sebagai perangkat keterampilan kompleks
yang digunakan ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiah. Proses
merupakan konsep besar yang dapat diuraikan menjadi komponen-
komponen yang harus dikuasai seseorang bila akan melakukan penelitian.
Keterampilan berarti kemampuan menggunakan pikiran, nalar dan
perbuatan secara efisien dan efektif untuk mencapai suatu hasil tertentu,
termasuk kreativitas. Dengan demikian Pendekatan Keterampilan Proses
adalah perlakuan yang diterapkan dalam pembelajaran yang menekankan
pada pembentukan keterampilan memperoleh pengetahuan kemudian
mengkomunikasikan perolehannya. Keterampilan memperoleh pengetahuan
dapat dengan menggunakan kemampuan olah pikir (psikis) atau
kemampuan olah perbuatan (fisik). Banyak pakar-pakar pendidikan yang
mengklasifikasikan keterampilan proses IPA, diantaranya yang bergabung di
dalam American Association for the Advancement of Science (1970)
mengklasifikasikan menjadi keterampilan proses dasar dan
keterampilan proses terpadu. Keterampilan proses dasar

Observasi (pengamatan)
Measuring (pengukuran)
Inferensi (menyimpulkan)
Prediksi (meramalkan)
Clasifying (menggolongkan)
Communication (komunikasi)

Keterampilan proses terpadu
Pengontrolan variabel
Interpretasi data
Perumusan hipotesa
Pendefinisian variabel secara operasional
Merancang eksperimen

Keterampilan proses dasar merupakan suatu fondasi untuk melatih
keterampilan proses terpadu yang lebih kompleks. Seluruh keterampilan
proses ini diperlukan pada saat berupaya untuk mencatatkan masalah
ilmiah. Keterampilan proses terpadu khususnya diperlukan saat malakukan
eksperimen untuk memecahkan masalah.

1. Pengamatan

Pengamatan merupakan salah satu keterampilan proses dasar.
Keterampilan pengamatan menggunakan lima indera yaitu penglihatan,
pembau, peraba, pengecap dan pendengar. Apabila siswa mendapatkan
kemampuan melakukan pengamatan dengan menggunakan beberapa
indera, maka kesadaran dan kepekaan mereka terhadap segala hal
disekitarnya akan berkembang, pengamatan yang dilakukan hanya
menggunakan indera disebut pengamatan kualitatif, sedangkan pengamatan
yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur disebut pengamatan
kuantitatif. Melatih keterampilan pengamatan termasuk melatih siswa
mengidentifikasi indera mana yang tepat digunakan untuk melakukan
pengamatan suatu objek.

2. Klasifikasi

Klaslifikasi adalah proses yang digunakan ilmuwan untuk mengadakan
penyusunan atau pengelompokkan atas objek-objek atau kejadian-kejadian.
Keterampilan klasifikasi dapat dikuasai bila siswa telah dapat melakukan dua
keterampilan berikut ini.
a. Mengidentifikasi dan memberi nama sifat-sifat yanng dapat diamati dari
sekelompok objek yang dapat digunakan sebagai dasar untuk
mengklasifikasi.
b. Menyusun klasifikasi dalam tingkat-tingkat tertentu sesuai dengan sifat-
sifat objek

Klasifikasi berguna untuk melatih siswa menunjukkan persamaan,
perbedaan dan hubungan timbal baliknya.

3. Inferensi

Inferensi adalah sebuah pernyataan yang dibuat berdasarkan fakta
hasil pengamatan. Hasil inferensi dikemukakan sebagai pendapat seseorang
terhadap sesuatu yang diamatinya. Pola pembelajaran untuk melatih
keterampilan proses inferensi, sebaiknya menggunakan teori belajar
konstruktivisme, sehingga siswa belajar merumuskan sendiri inferensinya.

4. Prediksi

Prediksi adalah ramalan tentang kejadian yang dapat diamati diwaktu
yang akan datang. Prediksi didasarkan pada observasi yang cermat dan
inferensi tentang hubungan antara beberapa kejadian yang telah
diobservasi. Perbedaan inferensi dan prediksi yaitu : Inferensi harus
didukung oleh fakta hasil observasi, sedangkan prediksi dilakukan dengan
meramalkan apa yang akan terjadi kemudian berdasarkan data pada saat
pengamatan dilakukan.

5. Komunikasi

Komunikasi didalam keterampilan proses berarti menyampaikan pendapat
hasil keterampilan proses lainnya baik secara lisan maupun tulisan. Dalam
tulisan bisa berbentuk rangkuman, grafik, tabel, gambar, poster dan
sebagainya. Keterampilan berkomunikasi ini sebaiknya selalu dicoba di
kelas, agar siswa terbiasa mengemukakan pendapat dan berani tampil di
depan umum.

6. Identifikasi Variabel

Variabel adalah satuan besaran kualitatif atau kuantitatif yang dapat
bervariasi atau berubah pada suatu situasi tertentu. Besaran kualitatif
adalah besaran yang tidak dinyatakan dalam satuan pengukuran baku
tertentu. Besaran kuantitatif adalah besaran yang dinyatakan dalam
satuan pengukuran baku tertentu misalnya volume diukur dalam liter dan
suhu diukur dalam . Keterampilan identifikasi variabel dapat diukur
berdasarkan tiga tujuan pembelajaran berikut.
a. Mengidentifikasi variabel dari suatu pernyataan tertulis atau dari
deskripsi suatu eksperimen.
b. Mengidentifikasi variabel manipulasi dan variabel respon dari deskripsi
suatu eksperimen.


c. Mengidentifikasi variabel kontrol dari suatu pernyataan tertulis atau
deskripsi suatu eksperimen.

Dalam suatu eksperimen terdapat tiga macam variabel yang sama
pentingnya, yaitu variabel manipulasi, variabel respon dan variabel
kontrol.
Variabel manipulasi adalah suatu variabel yang secara sengaja diubah atau
dimanipulasi dalam suatu situasi.
Variabel respon adalah variabel yang berubah sebagai hasil akibat dari
kegiatan manipulasi.
Variabel kontrol adalah variabel yang sengaja dipertahankan konstan agar
tidak berpengaruh terhadap variabel respon.

7. Definisi Variabel Secara Operasional

Mendefinisikan secara operasional suatu variabel berarti menetapkan
bagaimana suatu variabel itu diukur. Definisi operasional variabel adalah
definisi yang menguraikan bagaimana mengukur suatu variabel. Definisi ini
harus menyatakan tindakan apa yang akan dilakukan dan pengamatan apa
yang akan dicatat dari suatu eksperimen. Keterampilan ini merupakan
komponen keterampilan proses yang paling sulit dilatihkan karena itu harus
sering di ulang-ulang.

8. Hipotesis

Hipotesis biasanya dibuat pada suatu perencanaan penelitian yang
merupakan pekerjaan tentang pengaruh yang akan terjadi dari variabel
manipulasi terdapat variabel respon. Hipotesis dirumuskan dalam bentuk
pernyataan bukan pertanyaan, pertanyaan biasanya digunakan dalam
merumuskan masalah yang akan diteliti (Nur, 1996). Hipotesis dapat
dirumuskan secara induktif dan secara deduktif. Perumusan secara induktif
berdasarkan data pengamatan, secara deduktif berdasarkan teori. Hipotesis
dapat juga dipandang sebagai jawaban sementara dari rumusan masalah.

9. Interpretasi Data

Keterampilan interpretasi data biasanya diawali dengan pengumpulan
data, analisis data, dan mendeskripsikan data. Mendeskripsikan data artinya
menyajikan data dalam bentuk yang mudah difahami misalnya bentuk tabel,
grafik dengan angka-angka yang sudah dirata-ratakan. Data yang sudah
dianalisis baru diiterpretasikan menjadi suatu kesimpulan atau dalam bentuk
pernyataan. Data yang diinterpretasikan harus data yang membentuk pola
atau beberapa kecenderungan.

10.Eksperimen

Eksperimen dapat didefinisikan sebagai kegiatan terinci yang
direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau
menguji suatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil jika variabel yang
dimanipulasi dan jenis respon yang diharapkan dinyatakan secara jelas
dalam suatu hipotesis, juga penentuan kondisi-kondisi yang akan dikontrol
sudah tepat. Untuk keberhasilan ini maka setiap eksperimen harus
dirancang dulu kemudian di uji coba. Melatihkan merencanakan eksperimen
tidak harus selalu dalam bentuk penelitian yang rumit, tetapi cukup
dilatihkan dengan menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan
konsep-konsep didalam GBPP, kecuali untuk melatih khusus siswa-siswa
dalam kelompok tertentu. Contohnya Kelompok Ilmiah Remaja.




















Daftar Pustaka
1. American Association for the Advancement of Science (1969) "Science A
Process Approach" USA, AAAS / Xerox Corporation
2. Inner London Educational Authority (1980) "Science in Process", London,
HEB / ILLA
3. Michael and Guy, (1997) Thinking Chemistry, GCSE Edition Great Britain,
Oxford, Scotprint Ltd.
4. Mohamad Noor (1996) "Teori dan Pendekatan Keterampilan Proses dalam
Pembelajaran IPA" Jakarta, DEPDIKBUD, PAIIA
5. Monk, Martin (1991) "Developing Process Skill with Pencil and Paper
tasks" disajikan dalam Indonesian PKG Science Instructor, short course,
King's College London.
6. Poppy, (2005) " IPA" Kelas XI, Bandung, ROSDA
7. Ratna Wilis Dahar (1996) "Teori-Teori Belajar, Erlangga, Jakarta"

8. Suprapti dan Sudariman ( 2002). Ragam Metode Mengajar, Jakarta,
LAN
8. American Association for the Advancement of Science (1969) "Science A
Process Approach" USA, AAAS / Xerox Corporation
9. BSNP Depdiknas (2006), Standar Kompetensi Mata Pelajaran Fisika,
Kimia dan Biologi, Jakarta
10. Inner London Educational Authority (1980) "Science in Process",
London, HEB / ILLA
11.Mohamad Noor (1996) "Teori dan Pendekatan Keterampilan Proses
dalam Pembelajaran IPA" Jakarta, DEPDIKBUD, PAIIA
12.Monk, Martin (1991) "Developing Process Skill with Pencil and Paper
tasks" disajikan dalam Indonesian PKG Science Instructor, short course,
King's College London.
13.Ratna Wilis Dahar (1996) "Teori-Teori Belajar, Erlangga, Jakarta"