Anda di halaman 1dari 8

1

TINJAUAN PUSTAKA


Inform Consent Kelainan Janin
Gusna Ridha
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Arjuna Utara no 6. Jakarta Barat
gusna.ridha@yahoo.com

Skenario 7
Seorang ibu tengah hamil 5 bulan datang ke poli kebidanan dilakukan USG, hasil dari
USG menunjukkan adanya kelainan Janin.
Pendahuluan
Di dalam dunia ini, kita sering menemukan masalah dalam menentukan apakah perbuatan
yang kita lakukan itu baik atau buruk, benar atau salah. Apabila kita melakukan sesuatu yang
dianggap salah oleh masyarakat, seringkali tindakan kita tersebut dikatakan tidak etis atau tidak
sesuai dengan etika. Apakah etika itu? Etika berasal dari kata Yunani ethos yang berarti akhlak, adat
kebiasaan, watak, perasaan, sikap yang baik, yang layak . Menurut Kamus Umum Bahasa
Indonesia, etika adalah ilmu pengetahuan tentang azas dan akhlak.
1,2

Di dalam dunia pekerjaan / profesi, tentunya sangat dibutuhkan etika itu. Di dalam dunia
kedokteran kita mengenal istilah etika kedokteran. Etika kedokteran merupakan seperangkat
perilaku dokter dalam hubungannya dengan pasien, sesama dokter, keluarga, masyarakat, dan
lainnya. Di dalam etika kedokteran, terdapat pula istilah bioetika.
2

Bioetik berasal dari kata bios yang berarti kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma
atau nilai-nilai moral. Bioetika atau bioetika medis merupakan studi interdisipliner tentang
2

masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala
mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang.
2

Pemeriksaan Prenatal
3

Ultrasound Screening (USG Screening)
Kegunaan utama USG (juga disebut sonografi) adalah untuk mengkonfirmasi usia
kehamilan janin (dengan cara yang lebih akurat daripada yang berasal dari ibu siklus haid
terakhir). Manfaat lain dari USG juga dapat mengambil masalah-masalah alam medis serius,
seperti penyumbatan usus kecil atau cacat jantung. Mengetahui ada cacat ini sedini mungkin
akan bermanfaat bagi perawatan anak setelah lahir. Pengukuran Nuchal fold juga sangat
direkomendasikan. Penting untuk diingat bahwa meskipun kombinasi terbaik dari temuan USG
dan variabel lain hanya prediksi dan tidak diagnostik. Untuk benar diagnosis, kromosom janin
harus diperiksa.
3

Amniosentesis
Prosedur ini digunakan untuk mengambil cairan ketuban, cairan yang ada di rahim. Ini
dilakukan di tempat praktek dokter atau di rumah sakit. Sebuah jarum dimasukkan melalui
dinding perut ibu ke dalam rahim, menggunakan USG untuk memandu jarum. Sekitar satu cairan
diambil untuk pengujian. Cairan ini mengandung sel-sel janin yang dapat diperiksa untuk tes
kromosom.
3

Amniocentesis biasanya dilakukan antara 14 dan 18 minggu kehamilan; beberapa dokter
mungkin melakukannya pada awal minggu ke-13. Efek samping kepada ibu termasuk kejang,
perdarahan, infeksi dan bocornya cairan ketuban setelah itu. Ada sedikit peningkatan risiko
keguguran: tingkat normal saat ini keguguran kehamilan adalah 2 sampai 3%, dan amniosentesis
meningkatkan risiko oleh tambahan 1 / 2 sampai 1%. Amniosentesis tidak dianjurkan sebelum
minggu ke-14 kehamilan karena risiko komplikasi lebih tinggi dan kehilangan kehamilan.
3




3

Chorionic Villus Sampling (CVS)
Dalam prosedur ini, bukan cairan ketuban yang diambil, jumlah kecil jaringan diambil
dari plasenta muda (juga disebut lapisan chorionic). Sel-sel ini berisi kromosom janin yang dapat
diuji untuk sindrom Down. Sel dapat dikumpulkan dengan cara yang sama seperti amniosentesis,
tetapi metode lain untuk memasukkan sebuah tabung ke dalam rahim melalui vagina.
3

CVS biasanya dilakukan antara 10 dan 12 minggu pertama kehamilan. Efek samping
kepada ibu adalah sama dengan amniosentesis (di atas). Risiko keguguran setelah CVS sedikit
lebih tinggi dibandingkan dengan amniosentesis, meningkatkan risiko keguguran normal 3
sampai 5%. Penelitian telah menunjukkan bahwa dokter lebih berpengalaman melakukan CVS,
semakin sedikit tingkat keguguran.
3

Inform Consent Hasil Pemeriksaan
Inform Consent
Informed Consent terdiri dari dua kata yaitu informed yang berarti telah mendapat
penjelasan atau keterangan (informasi), dan consent yang berarti persetujuan atau memberi
izin. Jadi informed consent mengandung pengertian suatu persetujuan yang diberikan setelah
mendapat informasi. Dengan demikian informed consent dapat didefinisikan sebagai
persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai
tindakan medis yang akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan dengannya.
4

Menurut D. Veronika Komalawati, SH , informed consent dirumuskan sebagai suatu
kesepakatan/persetujuan pasien atas upaya medis yang akan dilakukan dokter terhadap dirinya
setelah memperoleh informasi dari dokter mengenai upaya medis yang dapat dilakukan untuk
menolong dirinya disertai informasi mengenai segala resiko yang mungkin terjadi.
5

Dalam memberikan pelayanan kesehatan, petugas medis harus terlebih dahulu
memberikan informed consent kepada pasien. Informed consent berasal dari hak legal dan etis
individu untuk memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap tubuhnya, dan kewajiban etik
dokter dan tenaga kesehatan lainnya untuk meyakinkan individu yang bersangkutan untuk
membuat keputusan tentang pelayanan kesehatan terhadap diri mereka sendiri.
5

4

Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga
Kesehatan pasal 22 ayat 1 disebutkan bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan
tugas profesinya berkewajiban untuk diantaranya adalah kewajiban untuk menghormati hak
pasien, memberikan informasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan,
dan kewajiban untuk meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan.
5

Ruang Lingkup Informed Consent
Ruang lingkup dan materi informasi yang diberikan tergantung pada pengetahuan medis
pasien saat itu. Jika memungkinkan, pasien juga diberitahu mengenai tanggung jawab orang lain
yang berperan serta dalam pengobatan pasien.
4

Di Florida dinyatakan bahwa setiap orang dewasa yang kompeten memiliki hak dasar
menentukan tindakan medis atas dirinya termasuk pelaksanaan dan penghentian pengobatan
yang bersifat memperpanjang nyawa. Beberapa pengadilan membolehkan dokter untuk tidak
memberitahukan diagnosis pada beberapa keadaan. Dalam mempertimbangkan perlu tidaknya
mengungkapkan diagnosis penyakit yang berat, faktor emosional pasien harus dipertimbangkan
terutama kemungkinan bahwa pengungkapan tersebut dapat mengancam kemungkinan pulihnya
pasien.
4-6

Pasien memiliki hak atas informasi tentang kecurigaan dokter akan adanya penyakit
tertentu walaupun hasil pemeriksaan yang telah dilakukan inkonklusif. Hak-hak pasien dalam
pemberian inform consentadalah:
4-6

Hak atas informasi
Informasi yang diberikan meliputi diagnosis penyakit yang diderita, tindakan medik apa yang
hendak dilakukan, kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk
mengatasinya, alternatif terapi lainnya, prognosanya, perkiraan biaya pengobatan.
Hak atas persetujuan (Consent)
Consent merupakan suatu tindakan atau aksi beralasan yg diberikan tanpa paksaan oleh
seseorang yang memiliki pengetahuan cukup tentang keputusan yang ia berikan ,dimana orang
tersebut secara hukum mampu memberikan consent. Kriteria consent yang syah yaitu tertulis,
5

ditandatangani oleh klien atau orang yang betanggung jawab, hanya ada salah satu prosedur yang
tepat dilakukan, memenuhi beberapa elemen penting, penjelasan tentang kondisi, prosedur dan
konsekuensinya.
Hal Hal Yang Dapat di Informasikan
5

Hasil Pemeriksaan
Pasien memiliki hak untuk mengetahui hasil pemeriksaan yang telah dilakukan. Misalnya
perubahan keganasan pada hasil Pap smear. Apabila infomasi sudah diberikan, maka keputusan
selanjutnya berada di tangan pasien.
Risiko
Risiko yang mungkin terjadi dalam terapi harus diungkapkan disertai upaya antisipasi
yang dilakukan dokter untuk terjadinya hal tersebut. Jika seorang dokter mengetahui bahwa
tindakan pengobatannya berisiko dan terdapat alternatif pengobatan lain yang lebih aman, ia
harus memberitahukannya pada pasien. Jika seorang dokter tidak yakin pada kemampuannya
untuk melakukan suatu prosedur terapi dan terdapat dokter lain yang dapat melakukannya, ia
wajib memberitahukan pada pasien.
Alternatif
Dokter harus mengungkapkan beberapa alternatif dalam proses diagnosis dan terapi. Ia
harus dapat menjelaskan prosedur, manfaat, kerugian dan bahaya yang ditimbulkan dari
beberapa pilihan tersebut. Dokter harus menjelaskan prosedur, keberhasilan dan kerugian serta
komplikasi yang mungkin timbul.
Rujukan atau konsultasi
Dokter berkewajiban melakukan rujukan apabila ia menyadari bahwa kemampuan dan
pengetahuan yang ia miliki kurang untuk melaksanakan terapi pada pasien-pasien tertentu.
Pengadilan menyatakan bahwa dokter harus merujuk saat ia merasa tidak mampu melaksanakan
terapi karena keterbatasan kemampuannya dan ia mengetahui adanya dokter lain yang dapat
menangani pasien tersebut lebih baik darinya.
6

Prognosis
Pasien berhak mengetahui semua prognosis, komplikasi, sekuele, ketidaknyamanan,
biaya, kesulitan dan risiko dari setiap pilihan termasuk tidak mendapat pengobatan atau tidak
mendapat tindakan apapun. Pasien juga berhak mengetahui apa yang diharapkan dari dan apa
yang terjadi dengan mereka. Semua ini berdasarkan atas kejadian-kejadian beralasan yang dapat
diduga oleh dokter. Kejadian yang jarang atau tidak biasa bukan merupakan bagian dari informed
consent.
Aborsi Dari Pandangan Hukum Kesehatan Dan Falsafah
Undang undang RI N0. 23 tahun 1992 tentangkesehatan, pasal 15 ayat (1) menetapkan,
Dalam keadaan darurat dalam upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya
dapat dilakukan tindakan medis tertentu. Selanjutnya penjelasan tentang pasal dan ayat tersebut
berbunyi tibdakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun, dilarang
karena bertentangan dengan norma hokum, norma agama, norma kesusilaan, dan norma
kesopanan. Namun, dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau
janinnya, dapat diambil tindakan medis tertentu
7

Pertimbangan Aborsi Setelah Hasil Diagnosis Sebelum Lahir
Contoh contoh tentang kasus diatas adalah tentang kehamilan yang tidak diingainkan,
padahal umumnya janin yang dikandung kemungkinan besar adalah normal. Oleh karena itu,
para moralis yang menentang aborsi menganjurkan memecahkan masalah Unwanted Pregnancies
seperti itu dengan membiarkan bayi sampai lahir, lalu setelah lahir, jika setelah lahir bayi itu
tetap tidak diinginkan, dapat diserahkan pada pasangan yang tidak dikaruniai anak untuk mereka
adopsi.
7

Tetapi, bagaimana jika kehamilannya sendiri adalah normal, tapi yang tidak normal
adalah janinnya. Solusi sosial dimasa akan yang lalu adalah infanticide, bayi yang lahir lemah,
cacat fisik atau bayi normal perempuan yang cantik tp dinilai lebih rendah derajatnya daripada
bayi laki laki dicekik, dikubur hidup hidup, atau dibiarkan mati setelah dilahirkan. Dizaman ini
tidakan infanticide merupakan tindakan yang mutlak criminal pembunuhan.
7

7

Teknologi kedokteran sejak lebih drpd 10 tahun yang lalu sudah demikian maju, sehingga
kemungkinan cacad pada janin dapat dideteksi secara akurat sejak kehamilan dini. Ini
dimungkinkan dengan pemeriksaan prenatal.
7

Masalah atau isu yang timbul setelah adanya teknologi diagnosis sebelum lahir adalah,
apa yang akan dilakukan setelah diketahui janin yang dikandung akan lahir dengan cacat
genetic atau cacat bawaan lain? Diantara cacat yang lain itu adalah juga kemungkinan besar
cacat ringan sampai berat pada janin sebagai akibat ibu hamil mendapat infeksi TORCH, HIV
Aids, dll.
7

Opsi yang paling dekat adalah aborsi sedini mungkin.. bagi kubu yang pro choice , tidak
ada dilemma moral untuk mengakhiri perkembangan benda tidak hidup yang disamping itu telah
diketahui cacad lagi. Bagi kubu pro life, berlaku argumentasi moral yang sama terhadap aborsi
dengan alasan yang lain sebelumnya. Argumentasi itu ditambah dengan alasan, juga manusia
yang cacat juga mempunyai hak untuk hidup. Disamping itu diperkuat dengan banyaknya contoh
bahwa anak yang cacat juga bisa mendapatkan prestasi yang baik dalam kehidupan keluarga,
sosial, pendidikandan keilmuan ketika mereka dewasa. Tpi dalam kasus janin yang cacat terdapat
poros tengah yang melunakkan pandangan para pro life, bahwa aborsi dapat disetujui jika dinilai
hidup janin yang cacat ini tidak sangat salah untuk diakhiri, misalnya karena cacatnya akan
sangat berat, baik fisik maupun mental serta ia dikemudian hari kana menjadi beban sosial
ekonomi bahi keluarga dan masyarakat.
7

Masih ada dua opsi lain tentang sikap dan tidakan setelah diketahui bahwa jani yang
dikandung akan lahir cacad, yaitu, mengusahakan memperbaiki atau mengurangi kelainan atau
kecacatan sebelum lahir dengan pengobatan pada ibun terapi genetic, atau operasi pada janin
waktu masih dalam kandungan. Atau mengadakan pengobatan atau perbaikan setelah bayi
dilahirkan, jika hidupnya cukup lama. Dua opsi terakhir ini tentu punya konsekuensi mental
psikologis, pada hidup kekeluargaan, sosial, ekonomi, keuangan, dan lain lain yang jauh lebih
berat daripada opsi aborsi dini.
7

Kesimpulan
Pada kasus ini, diperlukan keahlian dan pengetahuan kita dalam memberitahukan hasil
dari pemeriksaan. Karna hak pasien yang pertama adalah hak atas informasi. Dalam UU No 23
8

Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 53 dengan jelas dikatakan bahwa hak pasien adalah hak
atas informasi dan hak memberikan persetujuan tindakan medik atas dasar informasi
(informed consent). Jadi, informed consent merupakan implementasi dari kedua hak pasien
tersebut. Hak pasien tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dilindungi Undang-
Undang.
DAFTAR PUSTAKA
1. M.jusuf H & Amri Amir. Etika kedokteran & hukum kesehatan. Jakarta: EGC,2009.
2. Chang, William. Bioetika : sebuah pengantar. Yogyakarta : Kanisius, 2009. Hal 13-16.
3. Anonim. Diagnosis prenatal. 2013. Diunduh dari www.medicinesia.com/kedokteran--
dasar/sel-dan-biomolekuler/diagnosis-prenatal. pada tanggal 16 september 2013, pukul
12.19 WIB.
4. J. Guwandi. Informed consent. Jakarta : FKUI, 2004.
5. Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja. Bioetik dan hukum
kedokteran, pengantar bagi mahasiswa kedokteran dan hukum. Jakarta : Penerbit Pustaka
Dwipar, 2005.
6. Anonim. Mengenal Informed Consent. 2012 diunduh dari : www.scribd.com pada
tanggal 16 September 2013, pukul 11.45 WIB
7. Jacobalis,Samsi. Perkembangan ilmu kedokteran, etika medis, dan Bioetika. Jakarta :
Sagung Seto, 2005. Hal 228, 238-40.