Anda di halaman 1dari 19

artikel pariwisata

Just another Blog Civitas UPI weblog

« artikel pariwisata

SISTEM INFORMASI PROSES DISTRIBUSI PT COCA COLA


COMPANY INDONESIA

KATA PENGANTAR
Assalamualikum Wr.Wb

Puji dan syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat serta bimbingan
yang telah diberikan sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.

Secara umum, makalah ini merupakan upaya untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Informasi
Manajemen Pariwisata.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini penyusun hendak mengucapkan banyak terima kasih kepada :

1. Allah S.W.T, pencipta dan pengatur semesta alam. Hanya


karena limpahan berkah, rahmat, dan karunia-Nya sehingga
setelah melewati segala ujian, tantangan, dan perjuangan yang
cukup panjang penulis mampu menyelesaikan makalah ini
dengan baik.

2. Bapak Saripudin selaku dosen dari mata kuliah ini.

Dalam penyusunan makalah yang jauh dari sempurna ini, penyusun menyadari bahwa masih banyak terdapat
kekurangan. Penyusun memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Oleh karena
itu, penyusun sangat mengharapkan segala kritik dan saran yang seyogianya akan menjadi sebuah masukkan
berharga yang dapat membangun serta menambah wawasan, pengetahuan serta pengalaman penyusun.

Akhir kata semoga laporan ini dapat berguna khususnya bagi penyusun dan umumnya semua orang yang
membaca makalah ini.

Terima kasih.

Ba
ndu
ng,
Ap
ril
200
9

Peny
usun

Abstraksi
Semua organisasi ataupun perusahaan mempunyai aliran informasi. Aliran informasi ini diatur dan diarahkan
dalam suatu sistem informasi. Sistem informasi berperan dalam proses pengambilan keputusan operasional
harian sampai perencanaan jangka panjang.

Sistem informasi mempunyai ragam jenisnya masing masing. Namun, dalam makalah ini saya akan
membahas mengenai Sistem Informasi Distribusi dalam makalah ini dijelaskan bagaimana sistem PT. Coca
Cola mendistribusikan produknya sehingga sampai di tangan masyarakat dan masyarakat sangat mengenal
produk ini dan berhasil membuat atau menciptakan loyalitas pelanggan yang baik.

Sebagian besar produk-produk Coca Cola didistribusikan melalui lebih dari 120 pusat penjualan yang
tersebar di seluruh Indonesia. Produk-produk tersebut diangkut ke pusat-pusat penjualan tersebut oleh
armada truk berukuran besar dan kemudian didistribusikan ke pedagang-pedagang eceran oleh kendaraan
distribusi yang lebih kecil. Apabila truk-truk penjualan kami ditempatkan berderet, maka akan bisa
sepanjang lebih kurang 17 km. Hal inilah yang membuat perusahaan Coca Cola sebagai salah satu
perusahaan distribusi terbesar di Indonesia.

Diperkirakan lebih dari 80% produk-produk Coca Cola dijual melalui para pengecer
dan grosir dimana 90% diantaranya termasuk dalam kategori pengusaha usaha kecil,
dan mereka mempekerjakan kurang dari lima karyawan dengan omset penjualan per
tahun kurang dari Rp. 1 milyar.

Tim penjualan Coca Cola yang sangat besar tidak saja menjual produk-produk kami
kepada para pelanggan, tetapi mereka juga memberikan saran bagaimana sebaiknya
mereka menjual produk-produk Coca-Cola. Supervisor penjualan kami juga teratur
mengunjungi para pelanggan dan memberikan bimbingan, serta menampung
masukan yang disampaikan para pelanggan.

Sekian pembahasan secara ringkas dari makalah yang akan saya bahas. Semoga
abstrak yang saya ajukan ini dapat bermanfaat untuk pihak yang membaca nya.
BAB I
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Era globalisasi ini sangat erat kaitannya dengan persaingan. Berbagai macam perusahaan di dunia khususnya
Indonesia sangat bersaing dalam dunia bisnis. Era globalisasi ini sangat erat kaitannya juga dengan
kecanggihan dalam hal mengolah segala hal menggunakan teknologi yang jauh lebih canggih dibandingkan
era- era sebelumnya.

Perusahaan yang bersaing itu pasti mempunyai sistem informasi yang dapat mereka gunakan untuk
membantu mengolah input mereka menjadi output. Sistem informasi ini mencakup berbagai macam bidangg
salah satunya secara khusus akan dibahas dalam makalah ini yakni sistem informasi proses distribusi.

Distribusi memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Distribusi adalah
proses penyampaian suatu produk dari tangan produsen yang notabene nya merupakan penghasil produk
tersebut untuk menyampaikannya ke tangan konsumen untuk dikonsumsi. Dengan adanya saluran distribusi
yang baik dapat menjamin ketersediaan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tanpa ada distribusi
produsen akan kesulitan untuk memasarkan produknya dan konsumen pun harus bersusah payah mengejar
produsen untuk dapat menikmati produknya. Banyak cara yang dilakukan oleh berbagai perusahaan untuk
menyampaikan produknya ke tangan konsumen. Dari mulai menggunakan cara yang konvensional, sampai
dengan menggunakan cara pendistribusian yang berbasis teknologi dan sistem informasi.

Dalam era globalisasi ini sudah banyak perusahaan yang mempertimbangkan keefektifan dan keefisienan
waktu dalam proses pendistribusiannya. Persaingan dalam dunia bisnis sangat mulai terasa dan sistem
pengendalian proses distribusi produk inilah yang menjadi salah satu aspek yang dapat dijadikan persaingan
dalam dunia bisnis. Tidak jarang perusahaan yang penjualannya tidak maksimal hanya dikarenakan proses
pendistribusiannya yang dinilai tidak pernah efisien dalam masalah waktu.

Keefisienan dan keefektifan dalam pendistribusian suatu produk mendorong para


distributor perusahaan melirik untuk mengimplementasikan Teknologi Informasi (TI)
dalam proses distribusi produknya. Tantangan utama bisnis distribusi adalah
inventory dan sales order processing. Mengelola puluhan produsen dengan ratusan
merek atau item produk yang harus didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia
memang bukan urusan yang mudah.
Jika DI memanfaatkan aplikasi Sistem Teknologi Informasi, pergerakan item barang
mulai dari warehouse ke pelanggan (toko, warung, supermarket, shopping center)
dapat dipantau secara ketat. Perusahaan dapat mengelola persediaan barang dalam
posisi aman dan seminimum mungkin. Jelas perusahaan dapat menekan biaya
inventory sebesar mungkin dengan pendekatan ini. Lebih dari itu, perusahaan tidak
akan kehilangan momentum karena nyaris tidak akan terjadi kekurangan barang tiba-
tiba karena larisnya barang tersebut di pasar.

1.2 Batasan Masalah


Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Sistem Pengendalian Proses Distribusi PT.
Coca Cola Amatil Indonesia yang telah menjadi perusahaan yang memiliki distribusi
terbesar di Indonesia. PT. Coca Cola Amatil Indonesia telah menerapkan system
Strategic Route Planning (SRP) dalam proses pendistribusian produknya.

1.3 Tujuan Penulisan


Mengetahui secara rinci bagaimana system PT. Coca Cola Amatil Indonesia menguasai
pangsa pasar dikarenakan sistem pengendalian distribusinya yang telah
menggunakan TI.

1.4 Metodologi Pembahasan

Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan studi literatur-literatur yang terkait dengan tema.
Kemudian akan dicoba untuk menerapkanstudi kasus yang berhubungan dengan topik bahasan.

1.5 Sistematika Pembahasan

Rancangan sistematika makalah ini terdiri atas beberapa bab yang akan dirinci sebagai berikut :

BAB 1 : Pendahuluan

Berisi mengenai latar belakang, batasan masalah, tujuan


penulisan, dan metodologi pembahasan.

BAB 2 : Sistem Informasi Manajemen

Berisi teori mengenai sistem informasi manajemen.


BAB 3 : Berisi menegenai penjelasan secara rinci sistem
distribusi yang digunakan oleh PT. Coca Cola Amatil
Indonesia

BAB 4 : Kesimpulan dan Saran

Berisi mengenai kesimpulan dari topik yang diangkat dalam


makalah ini, serta saran yang dapat diajukan untuk perusahaan
tersebut.

BAB II
Sistem Informasi Manajemen

2.1 Sistem Informasi[1]

Suatu sistem dapat didefenisikan sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari dua atau lebih komponen atau
subsistem yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.

Informasi dapat didefenisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan
lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian (event)yang nyata (fact) yang
digunakan untuk pengambilan keputusan. Sumber dari informasi adalah data. Data merupakan bentuk jamak
dari bentuk tunggal atau data-item. Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian
dan kesatuan nyata. Kejadian-kejadian (event) adalah sesuatu yang terjadi pada saat tertentu. Di dalam dunia
bisnis, kejadian-kejadian yang terjadi adalah perubahan dari suatu nilai yang disebut dengan transaksi.
Misalnya penjualan adalah transaksi perubahan nilai barang menjadi nilai uang atau nilai piutang dagang.
Kesatuan nyata (fact) adalah berupa suatu obyek nyata seperti tempat, benda dan orang yang betul-betul ada
dan terjadi.

Data merupakan bentuk yang masih mentah, belum dapat berceritera banyak, sehingga perlu diolah lebih
lanjut. Data diolah melalui suatu model untuk dihasilkan informasi. Data dapat berbentuk simbol-simbol
semacam huruf-huruf atau alphabet, angka-angka, bentuk-bentuk suara, sinyal-sinyal, gambar-gambar dan
sebagainya.

Data yang diolah melalui suatu model menjadi informasi, penerima kemudian menerimainformasi tersebut,
membuat suatu keputusan dan melakukan tindakan, yang berarti menghasilkan suatu tindakan yang lain
yang akan membuat sejumlah data kembali.
Data tersebut akan ditangkap sebagai input, diproses kembali lewat suatu model dan seterusnya membentuk
suatu siklus. Siklus ini oleh John Burch disebut dengan siklus informasi (information cycle) atau ada yang
menyebutnya dengan istilah siklus pengolahan data (data processing cycles).

Output

(information)
Data

(Ditangkap)
Proses

(Model) (Dasar Data)


Hasil

Tindakan

Keputusan

Tindakan
Penerima

(Receiver)
Input

(Data)
2.2 Sistem Informasi Manajemen[2]

Sistem informasi manajemen (manajement information systematau sering dikenal dengan singkatannya MIS)
merupakan penerapan sistem informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang
dibutuhkan oleh semua tingkatan manajemen. SIM (sistem informasi manajemen) dapat didefenisikan
sebagai kumpulan dari interaksi sistem-sistem informasi yang bertanggung jawab mengumpulkan dan
mengolah data untuk menyediakan informasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen di dalam
kegiatan perencanaan dan pengendalian.

Secara teori, komputer tidak harus digunakan didalam SIM, tetapi kenyataannya tidaklah mungkin SIM yang
komplek dapat berfungsi tanpa melibatkan elemen komputer. Lebih lanjut, bahwa SIM selalu berhubungan
dengan pengolahan informasi yang didasarkan pada komputer (computer-based information processing).

SIM merupakan kumpulan dari sistem-sistem informasi. SIM tergantung dari besar kecilnya organisasi dapat
terdiri dari sistem-sistem informasi sebagai berikut :

1. Sistem informasi akuntansi (accounting information system),menyediakan informasi dari

transaksi keuangan.

2. Sistem informasi pemasaran (marketing information system),menyediakan informasi

untuk penjualan, promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan

penelitian pasar dan lain sebagainya yang berhubungan dengan pemasaran.


3. Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information system).

4. Sistem informasi personalia (personnel information systems)

5. Sistem informasi distribusi (distribution information systems)

6. Sistem informasi pembelian (purchasing information systems)

7. Sistem informasi kekayaan (treasury information systems)

8. Sistem informasi analisis kredit (credit analiysis information systems)

9. Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems)

10. Sistem informasi teknik (engineering information systems)

BAB III
Sistem Informasi Proses Distribusi

3.1 Distribusi[3]

3.1.1Definisi Distribusi

Dilihat dari pengertiannya proses distribusi merupakan kegiatan ekonomi yang menjembatani kegiatan
produksi dan konsumsi. Berkat proses distribusi barang dan jasa dapat sampai ke tangan konsumen. Dengan
demikian kegunaan dari barang dan jasa akan lebih meningkat setelah dapat dikonsumsi. Distribusi juga
turut serta meningkatkan kegunaan menurut tempatnya (place utility) dan menurut waktunya (time utility).

3.1.2 Fungsi Distribusi

Distribusi sangat dibutuhkan oleh konsumen untuk memperoleh barang-barang yang dihasilkan oleh
produsen, apalagi bila produksinya jauh. Anda dapat melihat barang yang tidak dihasilkan di daerah Anda
tapi sekarang ada di tempat tinggal Anda.
Ada pun kegiatan yang termasuk fungsi distribusi terbagi secara garis besar menjadi dua.

a. Fungsi Distribusi Pokok


Yang dimaksud dengan fungsi pokok adalah tugas-tugas
yang mau tidak mau harus dilaksanakan. Dalam hal ini
fungsi pokok distribusi meliputi:

1. Pengangkutan (Transportasi)

Pada umumnya tempat kegiatan produksi berbeda dengan tempat tinggal


konsumen, perbedaan tempat ini harus diatasi dengan kegiatan
pengangkutan. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan
semakin majunya teknologi, kebutuhan manusia semakin banyak. Hal ini
mengakibatkan barang yang disalurkan semakin besar, sehingga
membutuhkan alat transportasi (pengangkutan).

1. Penjualan (Selling)

Di dalam pemasaran barang, selalu ada kegiatan menjual yang dilakukan


oleh produsen. Pengalihan hak dari tangan produsen kepada konsumen
dapat dilakukan dengan penjualan. Dengan adanya kegiatan ini maka
konsumen dapat menggunakan barang tersebut.

1. Pembelian (Buying)

Setiap ada penjualan berarti ada pula kegiatan pembelian. Jika penjualan
barang dilakukan oleh produsen, maka pembelian dilakukan oleh orang
yang membutuhkan barang tersebut.

1. Penyimpanan (Stooring)

Sebelum barang-barang disalurkan pada konsumen biasanya disimpan


terlebih dahulu. Dalam menjamin kesinambungan, keselamatan dan
keutuhan barangbarang, perlu adanya penyimpanan (pergudangan).

1. Pembakuan Standar Kualitas Barang

Dalam setiap transaksi jual-beli, banyak penjual maupun pembeli selalu


menghendaki adanya ketentuan mutu, jenis dan ukuran barang yang akan
diperjualbelikan. Oleh karena itu perlu adanya pembakuan standar baik
jenis, ukuran, maupun kualitas barang yang akan diperjualbelikan tersebut.
Pembakuan (standardisasi) barang ini dimaksudkan agar barang yang akan
dipasarkan atau disalurkan sesuai dengan harapan.

1. Penanggung Resiko
Kita dapat melihat dari gambar di samping ada resiko yang mungkin
terjadi dari memikul barang tersebut. Barang itu bisa jatuh dan pecah,
maka rusaklah barang yang akan didistribusikan tersebut. Hal ini mungkin
saja terjadi pada kegiatan distribusi, maka seorang distributor tentunya
akan menanggung resiko. Pada jaman sekarang untuk menanggung resiko
yang muncul bisa dilakukan kerjasama dengan lembaga/perusahaan
asuransi.

b. Fungsi Distribusi Tambahan

Distribusi mempunyai fungsi tambahan yang hanya


diberlakukan pada distribusi barang-barang tertentu.
Fungsi tambahan tersebut di antaranya adalah sebagai
berikut.

1. Menyeleksi
Kegiatan ini biasanya diperlukan untuk distribusi hasil pertanian
dan produksi yang dikumpulkan dari beberapa pengusaha.
Misalnya produksi tembakau perlu diseleksi berdasarkan
mutu/standar yang biasa berlaku, produksi buah-buahan
diseleksi berdasarkan ukuran besarnya.

2. Mengepak/Mengemas
Untuk menghindari adanya kerusakan atau hilang dalam
pendistribusian, maka barang harus dikemas dengan baik.
Misalnya buah-buahan atau sayuran, baju, TV.

3. Memberi Informasi

3. Sistem Distribusi

Pengertian sistem distribusi adalah pengaturan penyaluran barang dan jasa dari
produsen ke konsumen. Sistem distribusi dapat dibedakan menjadi:

a. Sistem distribusi jalan pendek atau langsung

Adalah sistem distribusi yang tidak menggunakan saluran distribusi.

b. Sistem distribusi jalan panjang atau tidak langsung

Adalah sistem distribusi yang menggunakan saluran distribusi dalam kegiatan


distribusinya biasanya melalui agen.

4. Saluran Distribusi
Pengertian dari saluran distribusi atau perantara distribusi adalah sebagai orang atau
lembaga yang kegiatannya menyalurkan barang dari produsen sampai ke tangan
konsumen dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.

Saluran distribusi dapat kita bedakan menjadi dua golongan lembaga distribusi, yaitu
pedagang dan perantara khusus.

a. Pedagang

Pengertian pedagang adalah seseorang atau lembaga yang membeli dan menjual
barang kembali tanpa merubah bentuk dan tanggungjawab sendiri dengan tujuan
untuk mendapatkan keuntungan.

Pedagang dibedakan menjadi:

1. Pedagang Besar (Grosir atau Wholesaler) adalah pedagang


yang membeli barang dan menjualnya kembali kepada
pedagang yang lain. Pedagang besar selalu membeli dan
menjual barang dalam partai besar.

2. Pedagang Eceran (Retailer) adalah pedagang yang


membeli barang dan menjualnya kembali langsung kepada
konsumen. Untuk membeli biasa partai besar, tetapi menjualnya
biasanya dalam partai kecil atau per-satuan.

b. Perantara Khusus

Sama halnya dengan pedagang, kegiatan perantara khusus juga menyalurkan barang dari produsen sampai ke
tangan konsumen. Bedanya perantara khusus tidak bertanggungjawab penuh atas barang yang tidak laku
terjual. Perantara khusus meliputi:

1. Agen (Dealer) adalah perantara pemasaran atas nama


perusahaan. Menjualkan barang hasil produksi perusahaan
tersebut di suatu daerah tertentu. Balas jasa yang diterima
berupa pengurangan harga dan komisi.

2. Broker (Makelar) adalahperantara pemasaran yang


kegiatannya mempertemukan penjual dan pembeli untuk
melaksanakan kontrak atau transaksi jual beli. Balas jasa yang
diterima disebut kurtasi atau provisi.

3. Komisioner adalah perantara pembelian dan penjualan atas


nama dirinya sendiri dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri.
Balas jasa yang diterima disebut komisi.
4. Eksportir adalah pedagang yang melakukan aktivitasnya
dengan menyalurkan barang ke luar negeri.

5. Importir adalah pedagang yang melakukan aktivitasnya


dengan menyalurkan barang dari luar negeri ke dalam negeri.

3.2 Sistem Distribusi PT. Coca Cola[4]

Berhasil atau tidaknya suatu perusahaan dalam penjualannya tidak terlepas dari maksimal atau tidaknya
proses distribusi itu sendiri. Berbagai macam trik perusahaan untuk mengelola proses distribusinya. Salah
satunya adalah PT Coca Cola Amatil Indonesiayang menerapkan system Strategic Route Planning (SRP)
sebagai kunci sukses dalam proses pendistribusiannya yang mencapai seluruh Indonesia sehingga menjadi
perusahaan yang memegang pangsa pasar dalam bisnis minuman berkarbonasi (carbonate soft drink/
CSD) di Indonesia.

Sebelum menggunakan SRP sebagai sistem distribusinya, Coca Cola menggunakan Sistem Informasi
Geografis (SIG). Sistem Informasi Geografis atau disingkat SIG berbasis teknologi digital, banyak hal bisa
dikembangkan lebih baik dari sebelumnya. Penyajian informasi keruangan dalam bentuk peta tidak lagi
eksklusif kebutuhan orangorang yang berkecimpung dalam ilmu-ilmu keruangan (geografi, geologi,
landskap, dll).

Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System)[5]adalah sebuah sistem yang mampu
membangun, memanipulasi, dan menampilkan informasi yang memiliki referensi geografis (georeferences).
SIG dapat menyerap dan mengolah data dari bermacam sumber yang memiliki sekala dan struktur yang
berbeda. Selain itu SIG juga dapat melakukan operasi data -data keruangan yang bersifat komplek.

Definisi SIG di atas mencakup beberapa komponen, yaitu :

• Perangkat keras computer

• Perangkat lunak computer

• Data-data geografis

• Sumberdaya manusia

Gambaran SIG sebagai sebuah sistem meliputi :

• Input : mengumpulkan dan menyimpan data

• Proses : manipulasi, meng-update dan menganalisa

• Output : menampilkan atau menyajikan data h asil


pemrosesan
Dapat dimengerti apabila gejala ini timbul kepermukaan, mengingat yang
dibutuhkan ternyata tidak cukup dengan hanya mengandalkan informasi
dalam bentuk tabel dan angka-angka tetapi juga dalam bentuk peta. Sebagai salah satu bukti, informasi
keruangan dalam bentuk Peta Jakarta buatan Gunther W.Holtorf selalu laku keras di pasaran setiap kali terbit
edisi terbarunya.

Kebutuhan akan informasi keruangan yang cepat, tepat, akurat, mudah dan murah makinmengusik para ahli
sistem informasi sampai terbentuknya suatu sistem informasi keruangan berkomputer yang
dinamakan Sistem Informasi Geografis (SIG)[6]. Pada akhirnya SIG dan sistem informasi lainnya
menjadi semacam sisi-sisi dalam satu keping

mata uang informasi. SIG menghasilkan informasi dalam bentuk peta dengan segala

atributnya berupa data tabular dan citra.

Berkaitan dengan SIG yang didukung oleh kemajuan di dalam sistem pemetaan yang dulunya kita kenal
berupa peta kertas atau peta gambar hasil proses scaning (raster map) berkembang menjadi peta digital
(digital map) yang di dalamnya bisa ditambahkan informasi lain yang terkait dengan geografi seperti
informasi demografi, pendapatan perkapita, jaringan infra struktur jalan sebagai akses distribusi, dan lain-
lain. Informasi informasi ini disimpan terintegrasi dengan peta digital untuk bahan simulasi/manipulasi
dalam perancangan operasi distribusi, dan dapat ditampilkan setiap saat sesuai keinginan.

SIG sebagaimana sistem -sistem lain mempunyai tiga sub sistem, yaitu sub sistem masukan (input), proses,
dan hasil. Ketersediaan data berupa data keruangan digital dengan segala atributnya berupa data tabular
merupakan syarat terbentuknya sub sistem input, kemudian data tersebut diolah sesuai dengan tujuan dalam
sub sistem proses yang pada akhirnya menghasilkan apa yang diharapkan dalam sub sistem output (hasil)
berupa informasi.

Jika dilihat dari kenyataannya, setelah dilihat dari riset blind test(mencicipi rasa dengan tidak menunjukkan
merek produknya) beberapa kali, Pepsi (pesaing utama coca cola) lebih banyak dipilih oleh masyarakat
ketimbang Coca Cola. Jelas dalam hal ini, Coca Cola kalah dalam segi rasa dibandingkan dengan Pepsi. Lalu
mengapa dalam realitasnya Coca Cola lah yang men\menangkan persaingan dengan Pepsi? Hanya ada daua
buah factor yang menyebabkannya yaitu kekuatan merek (brand) dan kekuatan distribusinya.

Kekuatan merek Coca Cola tidak perlu dibahas lagi. Banyak yang sudah mengetahui saat ini Coca Cola
merupakan merek yang paling mahal (most valuable brand) di dunia. Hanya saja kekuatan dari sisi
distribusinya belum banyak yang mengetahuinya. Rahasia keunggulan distribusinya tak lain sistem teknologi
informasi (TI) yang digunakannya .

PT. Coca Cola Amatil Indonesia saat ini sudah mengganti sistemnya dengan menggunakan sistem
Strategic Route Planning (SRP) yang merupakan system dimana di Indonesia belum ada perusahaan yang
menggunakan system tersebut. Sederhananya Strategic Route Planning (SRP) merupakan solusi TI yang
memungkinkan perusahaan merumuskan strategi routing secara tepat. Seperti halnya sebuat area dengan
jumlah penduduk tertentu sebaiknya PT. Coca Cola melayani dengan berapa armada, bagaimana jalur
masing masing armada agar lebih efisien dan efektif , wilayah mana yang masih kosong dan bisa dipenetrasi
oleh wiraniaga (salesman) CCAI . Semuanya itu dapat diketahui Strategic Route Planning (SRP)secara
terkomputerisasi. Singkatnya , ini merupakan system aplikasi yang bisa memproses digital
mapping sistribusi produk- produk Coca Cola.

Bagi perusahaan penjualan (sales company) seperti PT. Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI), SRP jelas
sangat dibutuhkan dalam proses bisnis.

Tujuannya adalah:

• meningkatkan pendapatan (revenue generation)

• meningkatkan pelayanan pelanggan

• meminimalkan biaya (efisiensi)

• meningkatkan utilisasi asset

Strategic Route Planning (SRP) bukan sekedar teknologi berbasis global positioning systems (GPS)
sebagaimana yang banyak digunakan oleh perusahaan lain. GPS hanya sekedar melihat atau memfoto proses
sementara , SRP menggabungkan antara GPS dengan hitung- hitungan aritmatika. GPS diperlukan untuk
meng-capture letak atau posisi masing- masing gerai darisitu kemudian dimasukkan ke dalam sistem SRP
dan diolah untuk merumuskan pola kunjungan atau rute terbaik. Dari SRP , manajemen CCAI mengetahui
bahwa misalnya bila CCAI mempunyai 20 truk kanvas, rute mana saja yang paling efektif dan efisien yang
harus dilewati masing- masing truk hingga tidak ada gerai yang terlewatkan.

Pada saat ini pertempuran yang sangat sengit terjadi di pasar minuman ringan kemasan botol adalah antara
minuman berkarbonasi (Coca-Cola, Fanta, Sprite) dengan Sosro (teh) yang merupakan produksi lokal yang
mempunyai image sangat kuat, dan melalui iklan-iklan yang kreatif menjadi cukup mengakar di masyarakat.
Disamping itu persaingan tersebut juga dibarengi oleh strategi pemasaran yang kuat terutama pada segi
saluran distribusi (delivery channel) dan distribusi fisik (physical distribution). Untuk itu diperlukan suatu
strategi pendistribusian produk minuman ini agar lebih mudah dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
tersebut.

Saluran distribusi telah memasuki babak baru dalam arena persaingan bisnis. Saluran bukan hanya
digunakan untuk menjamin ketersediaan produk, tapi juga untuk kepentingan lain, sebagai media
membangun merk. Semakin strategisnya peran saluran membuat banyak perusahaan kini serius menangani
saluran distribusinya. Perusahaan perusahaan bahkan berusaha agar saluran distribusi miliknya bisa
berkembang menjadi keunggulan bersaing menghadapi para pesaing.

SRP yang dipakai oleh CCAI bernama Roadshow 2.0 dari vendor Descartes , perusahaan software asal
Amerika Serikat.
Untuk menjalankan solusi SRP, bagian TI CCAI bekerjasama dengan penggunaannya dari sisi unit bisnis
yang juga dinamai Divisi SRP. Divisi ini yang mempunyai tugas untuk mencari pasar ceruk (niche
market)baru dan terus memperbaharui peta distribusi. Maka, jika ada kawasan perumahan baru yang tiba-
tiba perlu dilayani akan terpantau dalam analisis tim SRP. Tim ini juga bertugas untuk mensurvey kelayakan
sekaligus langsung memetakan cara meleyani suatu wilayah atau pasar baru (dengan bantuan solusi TI).
Caranya , tim SRP menganalisis beban kerja tiap rute dan dicari cara yang paling mungkin untuk melayani.
Alternatifnya, bisa dilayani dari salah satu rute di sekitarnya, atau bisa pula investasi truk baru. Pendeknya
tim SRP-lah yang secara rutin melekukan digital mapping terhadap distribusi produk- produk Coca Cola,
sehingga kemungkinan adanya pasar yang terlewatkan sangat kecil . Inilah yang membuat pemasaran Coca
Cola yang belum dimiliki oleh perusahaan lain.

Sebagian besar produk-produk Coca Cola didistribusikan melalui lebih dari 120 pusat penjualan yang
tersebar di seluruh Indonesia. Produk-produk tersebut diangkut ke pusat-pusat penjualan tersebut oleh
armada truk berukuran besar dan kemudian didistribusikan ke pedagang-pedagang eceran oleh kendaraan
distribusi yang lebih kecil. Apabila truk-truk penjualan Coca Cola ditempatkan berderet, maka akan bisa
sepanjang lebih kurang 17 km. Hal inilah yang membuat CCAI menjadi salah satu perusahaan distribusi
terbesar di Indonesia.

Diperkirakan lebih dari 80% produk-produk Coca Cola dijual melalui para pengecer dan grosir dimana 90%
diantaranya termasuk dalam kategori pengusaha usaha kecil, dan mempekerjakan kurang dari lima karyawan
dengan omset penjualan per tahun kurang dari Rp. 1 milyar.

Tim penjualan CCAI yang sangat besar tidak saja menjual produk-produk kami kepada para pelanggan,
tetapi mereka juga memberikan saran bagaimana sebaiknya mereka menjual produk-produk Coca-Cola.
Supervisor penjualan kami juga teratur mengunjungi para pelanggan dan memberikan bimbingan, serta
menampung masukan yang disampaikan para pelanggan.

Kebijakan penjualan dan distribusi secara menyeluruh diarahkan oleh National Office di Cibitung, Bekasi,
namun penerapan kebijakan tersebut dilaksanakan oleh para manajer operasional dan regional yang handal
dan berpengalaman beserta staf mereka.

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Kesimpulan
Perusahaan dalam peningkatan jumlah penjualannya untuk lebih menguasai pangsa pasar tidak boleh hanya
mengandalkan kualitas produk yang dihasilkannya saja tetapi harus mementingkan segi distribusinya. Cara
distribusi yang masih konvensional hanya akan membuat suatu perusahaan kalah bersaing dengan
perusahaan lainnya. Dalam era globalisasi ini Sistem Teknologi dan Informasilah yang sangat mendukung
segala kesuksesan suatu perusahaan. Kita dapat mengambil studi kasus dari perusahaan Coca Cola Indonesia
yang menjadi pemegang pangsa pasar dalam bisnis minuman berkarbonasi (carbonated soft drink) karena
mengimplementasikan sistem Strategic Route Planning (SRP) pada system distribusinya.

4.2 Saran

Menurut saya sistem informasi distribusi Coca Cola sudah sangat tepat karena menggunakan
sistem Strategic Route Planning (SRP).Sistem tersebut sangatlah mantap karena belum ada perusahaan lain
terutama perusahaan produksi minuman yang menggunakan sistem tersebut. Saran saya untuk PT. Coca
Cola agar selau mengembangkan segala kemampuan yang dimiliki untuk mengembangkan sistem yang
dimiliki ataupun membuat kembali ataupun menciptakan sistem yang baru yang mungkin dapat membawa
PT. Coca Cola kea rah yang jauh lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Distribusi.[Online].Tersedia:http//www.dikmenum.go.id.[Maret2009]

Luthfie ,Nukman.(2006). Membangun Bisnis Distribusi berbasis Teknologi Informasi.


[Online]. Tersedia:http://www.pratesis.com[Maret 2009]

Minantyo,Hari.(2007).Sistem Informasi Manajemen Coca Cola.


[Online].Tersedia:http:// hariminantyo.blogspot.com.[Maret 2009]

Sembiring, Anita Christine.(2006). Penentuan Rute Distribusi Produk Yang Optimal


Dengan Menggunakan Algoritma Heuristik Pada PT. Coca-Cola Bottling Indonesia.
[Online].Tersedia://one.indoskripsi.com.[Maret 2009]

Setiadi,Anjar.( 2006). Metric System Deesign Using SCOR 6.0 Method on One Way
Package (OWP) Product Distribution to Modern Food store in Jakarta (Case Study of
Coca Cola Bottling Indonesia – National Plant, Cibitung).
[Online].Tersedia:http://digilib.itb.ac.id.[Maret 2009]

SIM Coca Cola.[Online].Tersedia:http// it-alliance.blogspot.com.[Maret 2009]

Sistem Distribusi.[Online].Tersedia:http://www.coca-colabottling.co.id.[Maret 2009]


Sumardjo .(2008). The Performance Analysis Distribution Channel Route Supporting
by Geography Information System at PT. Coca Cola Indonesia Distribution.[Online].
Tersedia:.http://elibrary.mb.ipb.ac.id [Maret 2009]

teori-sistem-informasi.[Online].Tersedia:http//www.pdf-search-engine.com.[Maret
2009]

TI

CCAI
Divisi

SRP

Mencari Niche market


GPS

(Global positioning systems)

Mengcapture lokasi gerai


Proses Distribusi Informasi

PT. Coca Cola Indonesia

This entry was posted on Tuesday, June


23rd, 2009 at 5:25 pm and is filed
underUncategorized. You can follow any
responses to this entry through the RSS
2.0 feed. You can leave a response,
or trackback from your own site.

Leave a Reply

Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website

Submit Comment

artikel pariwisata is proudly powered by WordPress MU running on Blog Civitas UPI. Create a new blog and
join in the fun!
Entries (RSS) and Comments (RSS).

Marketing atau Pemasaran adalah suatu perpaduan dari aktivitas-aktivitas yang saling
berhubungan untuk mengetahui kebutuhan konsumen serta mengembangkan promosi,
distribusi, pelayanan dan harga agar kebutuhan konsumen dapat terpuaskan dengan baik
pada tingkat keuntungan tertentu.
Dengan adanya pemasaran konsumen tidak perlu lagi memenuhi kebutuhan pribadi secara
sendiri-sendiri dengan melakukan pertukaran antara konsumen dengan pelaku pemasaran
sehingga akan ada banyak waktu konsumen untuk kegiatan yang dikuasai atau disukai.

Fungsi-Fungsi Pemasaran :

1. Fungsi Pertukaran

Dengan pemasaran pembeli dapat membeli produk dari produsen baik dengan menukar
uang dengan produk maupun pertukaran produk dengan produk (barter) untuk dipakai
sendiri atau untuk dijual kembali.

2. Fungsi Distribusi Fisik

Distribusi fisik suatu produk dilakukan dengan cara mengangkut serta menyimpan produk.
Produk diangkut dari produsen mendekati kebutuhan konsumen dengan banyak cara baik
melalui air, darat, udara, dsb. Penyimpanan produk mengedepankan menjaga pasokan
produk agar tidak kekurangan saat dibutuhkan.

3. Fungsi Perantara

Untuk menyampaikan produk dari tangan produsen ke tangan konsumen dapat dilakukan
pelalui perantara pemasaran yang menghubungkan aktivitas pertukaran dengan distribusi
fisik. Aktivitas fungsi perantara antara lain seperti pengurangan resiko, pembiayaan,
pencarian informasi serta standarisasi / penggolongan produk.