Anda di halaman 1dari 16

PASCA PANEN RUMPUT LAUT

Oleh :
Nama : Cikha Farahdiba Iman
NIM : B1J011157
Kelompok : 11
Rombongan : III
Asisten : Dwi Utami






LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI





KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rumput laut merupakan salah satu hasil laut yang dapat menghasilkan
devisa negara dan merupakan sumber pendapatan masyarakat pesisir. Sampai
saat ini sebagian besar rumput laut umumnya diekspor dalam bentuk bahan
mentah berupa rumput laut kering, sedangkan hasil olahan rumput laut seperti
agar-agar, karaginan, dan alginat masih diimpor dalam jumlah yang cukup besar
dengan harga yang tinggi. Hasil pengolahan pasca panen rumput laut dari
Indonesia kebanyakan tidak sesuai dengan permintaan pasar karena mutu yang
masih dinilai rendah.
Pasca panen rumput laut setelah pemanenan memegang peranan sangat
penting dalam industri rumput laut. Kegiatan penanganan pasca panen
menentukan mutu rumput laut yang dihasilkan sebagai bahan baku untuk
pengolahan. Kegiatan ini harus dilakukan dengan seksama mulai dari cara
pemanenan, pencucian, pengeringan dan bahkan sampai pengemasan dan
penyimpanan. Kegiatan pengolahan akan menciptakan suatu produk baru yang
nilai tambahnya jauh lebih tinggi dari sekedar menjual bahan mentah. Rumput
laut dapat diolah menjadi bahan setengah jadi seperti ATC (Alkali Treated
Cottonii), ataupun SRC (semi refined carrageenan) baik dalam bentuk chip atau
tepung.
Secara umum, penanganan pasca panen rumput laut oleh petani hanya
sampai pada pengeringan saja. Rumput laut kering masih merupakan bahan baku
dan harus diolah lagi. Pengolahan rumput laut kering dapat menghasilkan agar,
karaginan, atau alginat tergantung kandungan yang terdapat dalam rumput laut.
Pengolahan ini banyak dilakukan oleh pabrik, walaupun sebenarnya dapat juga
dilakukan oleh petani. Apabila cuaca baik, dalam waktu 3-4 hari rumput laut
sudah kering, yang ditandai dengan warna ungu keputihan dilapisi kristal garam
dan tidak mudah patah. Rumput laut yang dihasilkan dari proses pengeringan
tersebut masih belum memenuhi standar.
Saat ini penanganan dan pengolahan pasca panen rumput laut perlu
diusahakan secara optimal, padahal sebetulnya teknologi penanganan dan
pengolahannya (terutama agar-agar kertas) cukup sederhana dan tidak
memerlukan modal yang besar dan peralatan yang canggih. Jika teknologi pasca
panen rumput laut dapat dikembangkan dan diterapkan dengan baik, maka
agroindustri yang bertujuan meningkatkan nilai tambah, menambah lapangan
kerja dan mengurangi impor produk jadi rumput laut dapat tercapai. Rumput
laut akan lebih bernilai ekonomis setelah mendapat penanganan lebih lanjut.

B. Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui tahapan proses pasca
panen rumput laut serta langkah-langkah pengeringan dan pemutihan.

C. Tinjauan Pustaka
Peningkatan produksi rumput laut indonesia saat ini pada kenyataannya
belum diimbangi dengan peningkatan kualitas hasil produksi, dimana hasil
produksi rumput laut yang berasal dari pembudidaya belum sepenuhnya
memenuhi standar kualitas yang diinginkan oleh industri pengolah antara lain
mencakup umur panen, dan perlakukan panen yang masih belum
mempertimbangkan standar mutu. Salah satu langkah yang perlu segera
dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan membangun kesadaran tentang
pentingnya perlakuan panen dan secara benar yang mempertimbangkan
efektifitas, efisiensi dan jaminan kualitas produksi yang dihasilkan, sehingga
secara langsung akan mendorong keberlanjutan industri pengolah barang tentu
akan menjamin keberlangsungan kegiatan usaha pembudidaya rumput laut
(Cocon, 2012).
Rumput laut dikonsumsi sebagai bahan pangan karena mempunyai nilai
gizi tinggi. Rumput laut mengandung sejumlah protein, vitamin, dan beberapa
mineral essensial yang dibutuhkan manusia. Kandungan protein pada rumput
laut dapat mencapai 4% sampai dengan 25% dari berat kering. Kandungan asam
amino dalam protein dapat bervariasi tergantung dari faktor kimia dan faktor
biotik yang mempengaruhinya (Gessner dan Scramm, 1972).
Rumput laut dewasa ini telah dimanfaatkan oleh manusia menjadi hasil
olahan, bahan makanan, industri dan konsumsi. Olahan rumput laut sangat
bervariasi, dari yang mempunyai nilai komersial tinggi hingga bernilai konsumsi
rumah tangga. Pengolahan rumput laut antara lain menghasilkan keraginan,
agar, dan alginat. Dikalangan masyarakat umum, khususnya masyarakat nelayan,
rumput laut sering dikonsumsi langsung tanpa mengalami pengolahan.
Beberapa masakan yang menggunakan dasar rumput laut yaitu agar-agar, jelly,
dodol, selai, rumput laut goreng, tumis, dan lain-lain (Benford, 2000).
Rumput laut jenis alga merah merupakan jenis yang komersial dan alga
cokelat merupakan alga yang potensial untuk dikembangkan. Alga hijau yang
telah digunakan manusia sebagai sayur. Jenis rumput laut yang paling baik untuk
dibudidayakan adalah Gracillaria sp. karena mudah diperoleh dan menghasilkan
agar-agar tiga kali lipat dibandingkan dengan jenis yang lainnya (Insan dan
Widyartini, 2001).
Proses penanganan pasca panen dapat dilakukan dalam berbagai langkah
dan salah satunya dengan fermentasi, dimana proses fermentasi ini merupakan
proses yang akan menghasilkan perubahan pada rumput laut. Perubahan
tersebut dapat berupa warna, tekstur, atau tingkat kelembutan dan struktur atau
kandungan agar. Hasil yang diharapkan dilakukan fermentasi yaitu terjadi
perubahan warna rumput laut menjadi putih. Metode fermentasi digunakan
untuk mengkondisikan panas yang stabil dengan cara dijemur dalam keadaan
tertutup, sehingga senyawa agar tidak terlarut ke dalam air. Fermentasi pada
umumnya memiliki berbagai manfaat, antara lain untuk mengawetkan produk
pangan, memberi cita rasa terhadap produk pangan tertentu, memberi tekstur
tertentu pada produk pangan, dengan adanya perbaikan mutu produk pangan
fermentasi ini diharapkan nilai terima pangan oleh konsumen meningkat (Insan
dan Widyartini, 2001).

II. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah baskom, nampan atau
alas dan plastik.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Gracilaria
verrucosa, air tawar, air garam, air dan kapur tohor.

B. Metode
Metode yang dilakukan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Penjemuran Langsung.

Rumput laut dibersihkan.

Rumput laut dijemur dibawah sinar matahari atau menggunakan oven.

Dijemur 1-3 hari (Eucheuma 2-3 hari dengan kadar 30-35%
dan Gracilaria 1-2 hari dengan kadar 20-25%).

Setelah kering disimpan.

2. Penjemuran dengan pencucian air tawar.

Rumput laut dibersihkan.

Rumput laut dijemur 1-2 hari.

Rumput laut dicuci dengan air untuk melarutkan garam yang menempel.

Rumput laut dijemur sampai putih, kalau belum putih cuci lagi dengan air tawar.

Dijemur 1-2 hari sampai putih atau kekuningan.

Didokumentasikan dan disimpan.

3. Penjemuran dengan direndam dengan kapur tohor.

Rumput laut dibersihkan.

Dicuci dengan melarutkan garam yang menempel.

Direndam dengan air kapur tohor 1-2 jam.

Dijemur 1-2 hari sampai putih atau kekuningan.

Didokumentasikan dan disimpan.

4. Penjemuran dengan difermentasi atau didepigmentasi.

Rumput laut dibersihkan.

Dibungkus plastik dan direndam dalam bak air laut atau tawar selama 2-3 hari.

Rumput laut yang sudah menjadi putih transparan
atau jernih, dijemur di alas selama 2-3 hari.

Disimpan di gudang, biasanya kadar air mencapai 20-25%.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil





Gambar 1. Gracilaria verrucosa Gambar 2. Gracilaria verrucosa
Sebelum perlakuan setelah dibersihkan






Gambar 3. Gracilaria verrucosa Gambar 2. Gracilaria verrucosa
saat direndam air tawar saat dijemur






Gambar 3. Gracilaria verrucosa
Setelah dijemur




B. Pembahasan
Dari hasil praktikum diketahui hasil rumput laut pasca panen metode
yang paling ideal adalah fermentasi. Menurut Insan dan Widyartini (2001), Hasil
yang diharapkan setelah dilakukan fermentasi yaitu terjadi perubahan warna
rumput laut menjadi putih, dengan kandungan dari rumput laut tidak banyak
hilang. Menurut Fahrul (2008), rumput laut yang telah bersih dijemur di atas
para-para bambu atau diatas plastik, terpal atau jaring sehingga tidak
terkontaminasi oleh tanah atau pasir, pada kondisi panas matahari baik rumput
laut akan kering dalam waktu 3-4 hari. Kadar air pada rumput laut yang harus
dicapai dalam pengeringan berkisar 14-18 % untuk jenis Glacillaria sp, sedangkan
31-35 % untuk jenis Eucheuma sp. Selama pengeringan kedua jenis rumput laut
diatas tidak boleh terkena air tawar, baik air hujan maupun air embun. Rumput
laut kering yang kurang baik akan mempengaruhi rendemen yang dihasilkan.
Penanganan untuk mendapat rumput laut yang baik dapat dilakukan dengan
menggunakan fermentasi. Fermentasi adalah proses untuk mengubah suatu
bahan menjadi produk yang bermanfaat bagi manusia. Proses fermentasi
merupakan proses yang akan menghasilkan perubahan pada rumput laut.
Perubahan tersebut dapat berupa perubahan warna, tekstur atau tingkat
kelembutan dan struktur atau kandungan agarnya.
Rumput laut (seaweed) adalah ganggang berukuran besar (makroalga)
yang merupakan tanaman tingkat rendah dan termasuk kedalam divisi
thallophyta. Dari segi morfologinya, rumput laut tidak memperlihatkan adanya
perbedaan antara akar, batang dan daun, Secara keseluruhan, tanaman ini
mempunyai morfologi yang mirip, walaupun sebenarnya berbeda. Bentuk-
bentuk tersebut sebenarnya hanyalah thallus belaka. Bentuk thallus rumput laut
ada bermacam-macam, antara lain bulat, seperti tabung, pipih, gepeng, dan
bulat seperti kantong dan rambut dan sebagainya (Aslan, 1998). Rumput laut
tumbuh hampir diseluruh bagian hidrosfir sampai batas kedalaman 200 meter. Di
kedalaman ini syarat hidup untuk tanaman air masih memungkinkan. Jenis
rumput laut ada yang hidup diperairan tropis, subtropis, dan diperairan dingin. Di
samping itu, ada beberapa jenis yang hidup kosmopolit seperti Ulva lactuca,
Hypnea musciformis, Colpomenia sinuosa, dan juga yang digunakan dalam
praktikum kali ini yaitu Gracilaria verrucosa. Rumput laut hidup dengan cara
menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan fotosintesis. Jadi
pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti
gerakan air, suhu, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta pencahayaan sinar
matahari (Puncomulyo, 2006).
Rumput laut jenis Gracilaria sp. oleh nelayan sering disebut agar-agar atau
bernilai ekonomis penting karena penggunaannya sangat luas dalam berbagai
bidang industri. G. verrucosa memiliki kandungan agar-agar sebanyak 28,4%.
Selain untuk pembuatan agar, G. verrucosa banyak dimanfaatkan sebagai bahan
makanan (Soegiarto et al., 1978). G. verrucosa merupakan rumput laut dari
phylum rhodophyta. Sebagai bahan dasar dari industri makanan, kedua rumput
laut tersebut dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan maupun minuman
yang bernilai ekonomis tinggi. Sedikit kreativitas, rumput laut tersebut dapat
diolah menjadi manisan, dodol, selai, minuman es rumput laut dan makanan
ringan lainnya (Marliyati, 1992). Keistimewaan rumput laut Gracilaria sp. adalah
dapat dibudidayakan tambak.
Penelitian terbaru menunjukkan 160 spesies dari genus Gracilaria yang
memiliki fungsi anti-bakterial, anti-inflamantori, anti-protozoa, antifungi,
antiviral, dan mengandung toksik hanya 19 spesies. Gracilaria verrucosa
merupakan salah satu spesies yang memiliki kemampuan multifungsi diantara
spesies dari genus Gracilaria lainnya. Kandungan metanol dan polisakarida pada
G.verrucosa merupakan antioksidan yang berperan dalam tubuh dan biasa
digunakan dalam bahan makanan berupa agar-agar. Selain itu, ekstrak
kandungan dari beberapa genus Gracilaria mampu meminimalisir efek HIV
dengan membunuh retrovirus (De Almeida et al., 2011).
Rumput laut jenis Gracilaria sp. paling baik dibudidayakan karena mudah
diperoleh dan harganya murah. Salah satu dari jenis ini yang terkenal adalah
Gracilaria verrucosa. Ciri-ciri fisik dari G.verrucosa adalah membuat thallus yang
memipih atau silindris, membentuk rumpun dengan tipe percabangan yang tidak
teratur, dichotomous, alternate, pinate, pada ujung pangkal percabangan
thallusnya meruncing, permukaannya halus atau berbintil-bintil dan garis tengah
thallus berkisar 0,5-4,0 mm dengan panjang yang dapat mencapai 30 cm atau
lebih. Ciri khusus secara morfologis memiliki duri yang tumbuh berderet
melingkari thallus dengan interval yang bervariasi sehingga membentuk ruas-
ruas thallus diantara lingkaran duri (Aslan, 1998). Klasifikasi Gracilaria verrucosa
menurut Bold dan Wynne (1985) :
Kingdom : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Gracilariaceae
Genus : Gracilaria
Spesies : Gracilaria verrucosa
Akhir dari suatu kegiatan budidaya adalah panen dan pasca panen. Kualitas
rumput laut dipengaruhi oleh teknik budaya, umur panen dan penanganan pasca
panen. Rumput laut siap panen saat berumur sekitar 1-1,5 bulan setelah tanam.
Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari supaya rumput laut yang dipanen
sempat dijemur dahulu sebelum disimpan. Hal ini mengurangi kerusakan kualitas
sebelum dijemur kembali keesokan harinya. Penanganan pascapanen dimulai
sejak rumput laut dipanen, yaitu meliputi pencucian, pengeringan, pembersihan
kotoran atau garam (sortasi), pengepakan, pengangkutan, dan penyimpanan
(Fahrul, 2006). Menurut Bold dan Wynne (1985), langkah-langkah pengolahan
pasca panen menjadi bahan baku atau rumput laut kering adalah :
1. Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batu-batuan, kemudian
dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lain.
2. Setelah bersih rumput laut dijemur sampai kering. Bila cuaca cukup baik
penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar hasilnya berkualitas tinggi,
rumput laut dijemur di atas para-para di lokasi yang tidak berdebu dan tidak
boleh bertumpuk. Rumput laut yang telah kering ditandai dengan telah
keluarnya garam.
3. Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai bahan baku agar
rumput laut kering dicuci dengan air tawar, sedangkan untuk bahan baku
karagenan dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput laut dikeringkan lagi
kira-kira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah pengeringan sekitar
28%.Bila dalam proses pengeringan hujan turun, maka rumput laut dapat
disimpan pada rak-rak tetapi diusahakan diatur sedemikian rupa sehingga
tidak saling tindih. Untuk rumput laut yang diambil karagenannya tidak boleh
terkena air tawar, karena air tawar dapat melarutkan karaginan.
4. Rumput laut kering setelah pengeringan kedua, kemudian diayak untuk
menghilangkan kotoran yang masih tertinggal. Lakukan pengepakan dan
penyimpanan, yaitu rumput laut yang bersih dan kering dimasukkan ke dalam
karung goni. Caranya dengan dipadatkan atau tidak dipadatkan. Bila
dipadatkan dalam satu karung dapat berisi 100 kg, sedangkan tidak
dipadatkan hanya berisi 60 kg. Rumput laut yang dapat diekspor di bagian
karungnya dituliskan nama barang (jenis), nama kode perusahaan, nomor
karung dan berat bersih. Pemberian keterangan ini hanya untuk memudahkan
proses pengecekan dalam pengiriman.
Konsep fermentasi rumput laut menurut Anggadiredja et al. (2006), yaitu
Rumput laut jenis Gracilaria sp. yang telah dipanen perlu dicuci dengan air
tambak hingga lumpur dan kotoran lainnya yang melekat terlepas, sesaat
sebelum diangkat dan dikeringkan. Rumput laut dikeringkan dengan cara dijemur
di atas para-para bambu atau diatas plastik tepal sehingga tidak terkontaminasi
oleh tanah dan pasir. Rumput laut kering yang kurang baik akan mempengaruhi
rendemen yang dihasilkan. Penanganan untuk mendapat rumput laut yang baik
dapat dilakukan dengan menggunakan fermentasi. Fermentasi adalah proses
untuk mengubah suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat bagi manusia
(Benford, 2000).
Prinsip teknik pengawetan rumput laut segar pada dasarnya adalah untuk
menghindari degradasi alginat. Setelah rumput laut dipanen, dilakukan
pencucian dengan air tawar dan sortasi untuk menghilangkan kotoran seperti
pasir, garam, tanah, batu, karang, kulit kerang dan rumput laut lainnya, sehingga
bersih dari lumpur dan kotoran yang melekat. Perendaman rumput laut dalam
KOH dapat menghindari terjadinya degradasi alginat, sehingga memberikan
mutu fisika kimia yang terbaik (Fateha, 2007).
Proses penanganan pasca panen yang lebih modern menurut Aslan (1998),
yaitu sebagai berikut :
1. Sortasi
Tahap ini dilakukan pembuangan kotoran yang menempel dan rumput laut
jenis lain yang tidak dikehendaki.
2. Pengeringan
Rumput laut yang telah dibersihkan kemudian dikeringkan dengan
menggunakan alat Batch Dryer selama 4-6 jam. Pengeringan dengan
memanfaatkan sinar matahari ini memerlukan waktu 2-3 hari. Standar
kandungan kadar air untuk marga Euchema adalah 15% dan 25% untuk marga
Gracilaria.
3. Pengayakan
Setelah proses pengeringan, pekerjaan dilanjutkan dengan tahap pengolahan
berikutnya, yaitu pengayakan. Tahap ini bertujuan untuk memisahkan kotoran
yang berupa pasir yang masih menempel. Proses air dikerjakan dengan
menggunakan mesin pengayak
4. Pengepresan
Proses pengolahan terakhir sebelum rumput laut dikirim ke luar negeri adalah
pengepresan yaitu dalarr bentuk briket. Saat pengepresan disemprotkan KelI
yang berkomposisi kalium, soda, yodium dengar konsentrasi 0,5%.
Pertumbuhan yang terjadi pada rumput laut tidak hanya disebabkan oleh
ketersediaan unsur N dan P saja, tetapi juga oleh faktor lingkungan seperti suhu,
salinitas dan pH. Menjaga media penelitian agar tetap optimum dilakukan
pergantian air sebesar 100% setiap tiga hari. Dengan adanya pertukaran air
setiap tiga hari sekali sebesar 100%, diharapkan suhu, salinitas dan pH tetap
dalam kisaran yang baik untuk pertumbuhan Gracilaria verrucosa. Suhu
mempunyai pengaruh terhadap aktivitas metabolisme dan perkembangan suatu
organisme. Suhu berkisar antara 29-31
o
C dan pada kisaran tersebut Gracilaria sp.
masih dapat tumbuh dengan baik. Ini sesuai dengan yang dikemukakan suhu
yang baik untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 26-33
o
C, bila suhu di
bawah 25
o
C akan terjadi penurunan pertumbuhan pada Gracilaria sp. Salinitas
yang terukur selama penelitian berkisar antara 30%. Pada kisaran tersebut
Gracilaria verrucosa masih dapat tumbuh dengan baik, hal ini sesuai dengan
pendapat yang menyatakan bahwa salinitas optimal bagi pertumbuhan
Gracilaria sp. adalah 20-35%. Perubahan salinitas akan menyebabkan adanya
turgor antara bagian dalam dan luar rumput laut. Penurunan dan peningkatan
salinitas di atas batas optimum tidak menyebabkan kematian, tetapi elastisitas
rumput laut menjadi berkurang, mudah patah dan pertumbuhan akan
terhambat. Power of Hydrogen (pH) air selama penelitian berkisar antara 6-8
(Juni, 2010).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas rumput laut saat pasca panen
adalah perubahan iklim, pada musim penghujan kualitas rumput laut akan
berkurang. Kandungan rumput laut Indonesia sepanjang tahun tersebut lebih
banyak kandungan airnya. Musim tanam berpengaruh pada kualitas rumput laut.
Sebaiknya pembudidayaan rumput laut tidak dilakukan pada musim penghujan
karena akan berakibat salinitas perairan menjadi rendah dan berakibat kurang
baiknya perkembangan rumput laut. Faktor eksternal yang mempengaruhi
kualitas rumput laut adalah kualitas perairan. Lokasi budidaya harus terlindung
dari hempasan langsung ombak yang kuat, lokasi budidaya harus mempunyai
gerakan air yang cukup dan kecepatan arus yang cukup, kejernihan air tidak
kurang dari 5 cm dengan jarak pandang secara horizontal, suhu air berkisar 27-
30C dengan fluktuasi harian maksimal 4C dan pH air antara 7-9 dengan kisaran
optimum 7,3-8,2. Penanganan pasca panen merupakan rangkaian kegiatan
agribisnis rumput laut yang sangat menentukan dalam menghasilkan kualitas
rumput laut. Kualitas rumput laut yang memenuhi persyaratan ekspor dan
pabrikan dalam negeri adalah untuk jenis Gracilaria spp. adalah kadar air 18-
22%, kotoran dan garam tidak lebih dari 2% dan rendemen 14-20% (Wisnu,
2011).


























IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
1. Tahapan proses pasca panen meliputi proses pengeringan rumput laut,
ekstraksi agar, karaginan dan alginate, serta pengolahan produk makanan siap
saji.
2. Beberapa proses pengeringan rumput laut, yaitu penjemuran langsung
dikeringkan, penjemuran dengan pencucian air tawar, penjemuran dengan
direndam dengan kapur tohor dan penjemuran dengan difermentasi.

B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah lebih baik langkah-langkah dilakukan
di daerah kampus atau laboratorium sebab saat dokumentasi data sangat susah
untuk dilakukan.














DAFTAR REFERENSI
Anggadiredja, Jana T., A. Zatnika, H. Purwoto dan S. Istini. 2006. Rumput Laut.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Aslan, L. M. 1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Benford, D. J. 2000. Carrageenan and Processed Euchema Seaweed, series 48.
Food Standards Agency, London.
Bold, H. C. and Wynne M. J. 1985. Introduction to Algae 2nd Edition. Prentice-Hall
Englewood Cliffs, New Jersey.
Cocon, 2012. Panen dan Pasca panen rumput laut Euchemma cottonii. Http://
www.scribd.com/doc/93325718/Modul-Praktis--Panen--Dan--Pasca-Panen.
Di akses tanggal 8 April 204.
De Almeida, Cynthia Layse F., Heloina de S. Falcao, Gedson R. de M. Lima, Camila de A.
Montenegro, Narlize S. Lira, Petronio F. de Athayde-Filho, Luis C. Rodrigues, Maria
de Fatima V. de Souza, Jose M. Barbosa-Filho and Leonia M. Batista. 2011.
Bioactivities from Marine Algae of the Genus Gracilaria. Int. J. Mol. Sci. 2011, 12,
4550-4573.
Fahrul. 2006. Pelatihan Budidaya Laut Coremap Fase II Kabupaten Selayar.
Yayasan Mattirotasi, Makassar.
Fateha. 2007. Teknik Penanganan Pasca Panen Rumput Laut Coklat, Sargassum
filipendula Sebagai Bahan Baku Alginat. Bul. Tek. Lit. Akuakultur, 6 (1).
Gessner and Scramm. 1972. Salinity Plant Enviromental Factor. Willey
Interscience, London.
Insan, A. I. dan D. S. Widyartini. 2001. Makroalga : Bahan ajar Algologi. Fakultas
Biologi Unsoed, Porwokerto.
Juni, Rr. Triastuti, Raindra Daksina dan Rochmah kurnijasanti. 2010. Pengaruh
Persentase Pertukaran Air pada Pertumbuhan Gracilaria verrucosa dalam
Budidaya Bak Terkontrol. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 2 (1).
Marliyati, S. A. 1992. Pengolahan Pangan Tingkat rumah Tangga. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. PAU Pangan dan Gizi IPB, Bogor.
Poncomulyo, dkk. 2006. Budidaya dan Penglolaan Rumput Laut. Agro Media
Pustaka, Jakarta.
Soegiarto, A. H. Mubarak, S. dan W. S. Atmaja. 1978. Rumput Laut (Algae),
Manfaat dan Budidaya. LON. LIPI, Jakarta.
Wisnu, Sujatmiko. 2011. Faktor Penentu Keberhasilan Budidaya Rumput Laut.
Http://teamaquacultureuntirta.wordpress.com/2011/07/-22/faktor--penen
tu-keberhasilan-budidaya-rumput-laut/ diakses tanggal 8 April 2014.