Anda di halaman 1dari 27

Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 1

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas Tutorial Mandiri Blok
Sistem Muskuloskeletal. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad
SAW, beserta keluarga dan para sahabat hingga akhir zaman.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa selesainya penulisan makalah ini tidak lepas dari
bantuan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karenanya, penulis mengucapkan terimakasih
kepada :
Bapak Ns. Rohman Azzam, M. Kep, Sp KMB selaku Koordinator.
Bapak Ns. Rohman Azzam, M. Kep, Sp KMB selaku fasilitator kelompok 3
Keperawatan Sistem Muskuloskeletal di PSIK FIK UMJ.
Kedua orang tua serta segenap keluarga tercinta yang telah mengasuh dan mendidik
penulis dengan tulus ikhlas dan penuh kasih sayang.
Teman-teman PSIK FIK Universitas Muhammadiyah Jakarta yang telah banyak
membantu penulis.
Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah membantu
dan memberi kemudahan pada penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Semoga amal dan budi baik mereka mendapat balasan yang sebanyak-banyaknya dari
Allah SWT.
Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini
memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.
Jakarta, 8 November 2013


Penulis
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 2

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan
luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat
diabsorpsinya. Farktur disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerak
menunduk fan bahkan kontraksi otot ekstrim. Kebanyakan kasus nyeri karena fraktur
sekarang diakibatkan oleh tingginya angka kecelakanan yang terjadi di jalan raya yang
diakibatkan oleh rendahnya kesadaran masyarakan dalam menggunakan alat-alat yang
memenuhi standar keselamatandalam berkendaraan, seperti menggunakan helm yang
bersandar untuk pengendara sepedah motor dan menggunakan sabuk pengaman untuk
pengendara mobil. Klien dengan fraktur femur datang dengan nyeri tekan akut,
pembengkakan nyeri saat bergerak dan spasme otot. Mobilitas atau kemampuan fisik
klien untuk melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari dan klien perlu belajar bagaimana
menyesuaikan aktivitas dan lingkungan untuk mengakomodasikan diri dengan
menggunakan alat bantu dan bantuan mobilitas.

B. Tujuan
Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah menyelesaikan modul ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami
tentang anatomi fisiologi, patofisiologi, dan manifestasi klinis pada pasien yang
mengalami fraktur.
Tujuan Instruksional Khusus
a. Menetapkan masalah keperawatan yang terjadi pada kasus yang diberikan
b. Menentukan tujuan dan criteria hasil dari setiap masalah keperawatan yang
muncul
c. Menentukan rencana tindakan untuk meyelesaikan masalah keperawatan yang
muncul.

Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 3

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Definisi
Fraktur adalah patah atau gangguan kontinuitas jaringan tulang (PUSDIKNAKES
DEPKES, 1995 : 75). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur jaringan tulang,
baik itu tulang rawan, sendi, tulang epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial
(Chairuddin, 2000 : 388). Fraktur adalah terputusnya kerusakan kontinuitas tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner dan Suddarhs, Ed. 8 Vol. 3 Hal : 2357).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya
kontinuitas jaringan tulang, baik yang bersifat total maupun parsial.

B. Etiologi Fraktur Secara Umum
- Fraktur terjadi ketika tekanan yang menimpa tulang lebih besar dari
pada daya tahan tulang akibat trauma.
- Fraktur terjadi karena penyakit tulang seperti tumor tulang, osteoporosis yang disebut
fraktur pathologis.
- Fraktur stress atau fatigue, fraktur yang fatigue biasanya sebagai akibat dari
penggunaan tulang secara berlebihan yang berulangulang.

C. PATOFISIOLOGI
Patah tulang biasanya terjadi karena benturan tubuh, jatuh atau trauma (Long,
1996: 356). Baik itu karena trauma langsung misalnya: tulang kaki terbentur bemper
mobil, atau tidak langsung misalnya: seseorang yang jatuh dengan telapak tangan
menyangga. Juga bisa karena trauma akibat tarikan otot misalnya: patah tulang patela dan
olekranon, karena otot trisep dan bisep mendadak berkontraksi. (Oswari, 2000: 147)
Sewaktu tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah dan ke
dalam jaringan lunak sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami
kerusakan. Reaksi peradangan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel-sel darah putih
dan sel mast berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darahketempat tersebut.
Fagositosis dan pembersihan sisa-sisa sel mati dimulai. Di tempat patah terbentuk fibrin
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 4

(hematoma fraktur) dan berfungsi sebagai jala-jala untuk melekatkan sel-sel baru.
Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut callus.
Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru mengalami remodeling untuk
membentuk tulang sejati (Corwin, 2000: 299)
Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut saraf yang berkaitan dengan
pembengkakan yg tidak ditangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstremitas dan
mengakibatkan kerusakan saraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan dapat
mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dapat berakibat anoksia
jaringanyg mengakibatkan rusaknya serabut saraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini
dinamakan sindrom kompartemen (Brunner & suddarth, 2002: 2287).
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk
menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang
lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall,
1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks,
marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang
segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini
menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi
plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar
dari proses penyembuhan tulang nantinya (Black, J.M, et al, 1993)

D. Manisfestasi Klinis
Daerah paha yang patah tulanganya sangat membengkak ditemukan tanda function
laesa,nyeri tekan,dan nyeri gerak.tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau
angulasi anterior,endo/ekosortasi .ditemukan adanya perpendekan tungkai bawah.pada
faktur 1/3 tengah femur ,saat pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya
dislokasi sendi panggul dan robeknya ligamentum di daerah lutut. Selain itu periksa juga
keadaan nervus siatika dan arteri dorsalis pedis.
1. Patah tulang traumatik dan cedera jaringan lunak biasanya disertai nyeri.setelah
patah tulang dapat timbul spasme otot yang menambah rasa nyeri.pada fraktur
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 5

stres ,nyeri biasanya timbul pada aktivitas dan menghilang saat istirahat.fraktur
patologis mungkin tidak disertai nyeri
2. Mungkin tampak jelas posisi tulang atau ekstremitas yang tidak alami
3. Pembengkak kan di sekitar fraktur akan menyertai proses peradangan
4. Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan ,yang mengisyaratkan
kerusakan saraf. Denyut nadi di bagian distal fraktur harus utuh dan setara dengan
bagian nonfraktur. Hilangnya denyut nadi di sebelah distal mungkin
mengisyraratkan syok kompartemen (lihat bawah)
5. Krepitus (suara gemeretak)dapat terdengar sewaktu tulang digerakan akibat
pergesekan ujung-ujung patahan tulang satu sama lain

E. Komplikasi fraktur
1. Malunion adalah suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam
posisi yang tidak pada seharusnya, membentuk sudut atau miring.
2. Delayed union adalah proses penyembuhan yang berjalan terus tetapi dengan
kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
3. Nonunion adalah patah tulang yang tidak menyambung kembali.
4. Compartment syndroma adalah suatu keadaan peningkatan takanan yang
berlebihan di dalam satu ruangan yang disebabkan perdarahan masif pada suatu
tempat.
5. Shock,
6. Fat embalism syndromeadalaah tetesan lemak masuk ke dalam pembuluh darah.
Faktor resiko terjadinya emboli lemakada fraktur meningkat pada laki-laki usia
20-40 tahun, usia 70 sam pai 80 fraktur tahun.
7. Tromboembolic complicastion adalah trombo vena dalam sering terjadi pada
individu yang imobiil dalm waktu yang lama karena trauma atau ketidak
mampuan lazimnya komplikasi pada perbedaan ekstremitas bawah atau trauma
komplikasi paling fatal bila terjadi pada bedah ortopedil
8. I nfeksi
9. Avascular necrosis, pada umumnya berkaitan dengan aseptika atau necrosis
iskemia.
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 6

10. Refleks symphathethic dysthropy, hal ini disebabkan oleh hiperaktif sistem saraf
simpatik abnormal syndroma ini belum banyak dimengerti. Mungkin karena
nyeri, perubahan tropik dan vasomotor instability.

F. . Penatalaksanaan Medis
1. Pemeriksaan fisik
a. Mengidentifikasi tipe fraktur
b. Inspeksi daerah mana yang terkena
Deformitas yang nampak jelas
Edema, ekimosis sekitar lokasi cedera
Laserasi
Perubahan warna kulit
Kehilangan fungsi daerah yang cidera
c. Palpasi
Bengkak, adanya nyeri dan penyebaran
Krepitasi
Nadi, dingin
Observasi spasme otot sekitar daerah fraktur

2. Labolatorium
Kalsium Serum dan Fosfor Serum meningkat pada tahap penyembuhan
tulang.
Alkalin Fosfat meningkat pada kerusakan tulang dan menunjukkan kegiatan
osteoblastik dalam membentuk tulang.
Enzim otot seperti Kreatinin Kinase, Laktat Dehidrogenase (LDH-5),
Aspartat Amino Transferase (AST), Aldolase yang meningkat pada tahap
penyembuhan tulang.



Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 7

3. Diagnostik
X Ray
Bone Scans, Tomogram atau MRI Scans
Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler
CCT kalau banyak kerusakan otot

G. Asuhan Keperawatan
1. Diagnosa : Nyeri b/d spasme otot, gerakan fragmen tulang,kerusakan
sekunder terhadap fraktur
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan
nyeri pasien hilang atau berkurang
Kriteria Hasil :
Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan
Klien menyatakan nyerinya berkurang
Klien mampu beraktivitas tanpa mengeluh nyeri.
I ntervensi :
Pantau vital sign, intensitas nyeri dan tingkat kesadaran
R/ Untuk mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang
diharapkan.
Pertahankan tirah baring sampai fraktur berkurang
R/ Nyeri dan spasme otot dikontrol oleh immobilisasi.
Bantu pasien untuk posisi yang nyaman
R/ Posisi tubuh yang nyaman dapat mengurangi penekanan dan mencegah
ketegangan.
Pakai kompres es atau kompres panas (jika tidak ada kontraindikasi)
R/ Dingin mencegah pembengkakan dan panas melemaskan otot-otot dan
pembuluh darah berdilatasi untuk meningkatkan sirkulasi.
Berikan istirahat sampai nyeri hilang
R/ Istirahat menurunkan pengeluaran energi
Berikan obat analgetik sesuai dengan nyeri yang dirasakan pasien.
R/ Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 8

2. Diagnosa : Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka neuromuskuler,
terapi restriktif (imobilisasi tungkai)
Tujuan : Mobilisasi fisik terpenuhi
Kriteria Hasil :
Klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya yang lainnya yang masih ada.
Klien dapat merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk.
ROM, tonus dan kekuatan otot terpelihara.
Klien dapat melakukan ambulasi.
I ntervensi :
Kaji ketidakmampuan bergerak klien yang diakibatkan oleh prosedur pengobatan
dan catat persepsi klien terhadap immobilisasi.
R/ Dengan mengetahui derajat ketidakmampuan bergerak klien dan
persepsi klien terhadap immobilisasi akan dapat menemukan aktivitas
mana saja yang perlu dilakukan.
Latih klien untuk menggerakkan anggota badan yang masih ada.
R/ Pergerakan dapat meningkatkan aliran darah ke otot, memelihara
pergerakan sendi dan mencegah kontraktur, atropi.
Tingkatkan ambulasi klien seperti mengajarkan menggunakan tongkat dan kursi
roda.
R/ Dengan ambulasi demikian klien dapat mengenal dan menggunakan
alat-alat yang perlu digunakan oleh klien dan juga untuk memenuhi
aktivitas klien.
Ganti posisi klien setiap 3 4 jam secara periodik
R/ Pergantian posisi setiap 3 4 jam dapat mencegah terjadinya
kontraktur.
Bantu klien mengganti posisi dari tidur ke duduk dan turun dari tempat tidur.
R/ Membantu klien untuk meningkatkan kemampuan dalam duduk dan
turun dari tempat tidur.

3. Diagnosa : Kerusakan Integritas jaringan kulit b/d fraktur terbuka, bedah
perbaikan, pemasangan traksi pen, kawat, sekrup
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 9

Tujuan : Klien dapat sembuh tanpa komplikasi seperti infeksi.
Kriteria Hasil :
Kulit bersih dan kelembaban cukup.
Kulit tidak berwarna merah.
Kulit pada bokong tidak terasa ngilu.
Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu / penyembuhan lesi terjadi\
I ntervensi :
Observasi kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan,
perubahan warna, kelabu, memutih.
R/ Mendeteksi pembentukan edema dan observasi sirkulasi kulit dan
masalah yang disebabkan oleh adanya pemasangan bebat.
Ubah posisi tiap 2- 3 jam sekali
R/ Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan
resiko kerusakan kulit.
Bersihakan kulit dengan sabun dan air. Gosok perlahan dengan alkohol dan
atau/ bedak
R/ Sabun mengandung antiseptik yang dapat menghilangkan kuman dan
kotoran pada kulit sehingga kulit bersih dan tetap lembab.
Observasi untuk potensial area yang tertekan, khususnya pada akhir
pemasangan dan bawah bebatan
R/ Tekanan dapat menyebabkan ulserasi, nekrosis, dan / atau kelumpuhan
saraf
Gunakan tempat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
R/ Meningkatkan sirkulasi darah

4. Diagnosa : Gangguan perfusi Jaringan b/d penurunan aliran darah, edema
berlebihan, pembentukan trombus, hipovolemia
Tujuan : Mempertahankan perfusi jaringan secara adekuat
Kriteria hasil :
Nadi teraba kuat
Kulit hangat / kering
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 10

Sensasi normal
Sensori biasa
Tanda tanda vital stabil
Haluaran urin adekuat
I ntervensi:
Obsevasi kualitas nadi perifer distal terhadap cedera melalui palpasi / doppler.
Bandingkan dengan ekstermitas yang sakit
R/ Penurunan / tak adanya nadi dapat menggambarkan cedera vaskuler
Observasi aliran kapiler, warna kulit, dan kehangatan distal pada fraktur
R/ CRT > 3 detik, warna kulit pucat menunjukkan adanya gangguan
arterial, sianosis menunjukkan adanya gangguan vena
Lakukan tes saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari
pertama dan kedua dan observasi kemampuan untuk dorsofleksi ibu jari bila
diindikasikan.
R/ Panjang dan posisi saraf perineal meningkatkan risiko cedera pada
adanya fraktur kaki. Edema / sindroma kompartemen atau malposisi alat
traksi.
Pertahankan peninggian ekstermitas yang cedera kecuali dikontraindikasikan
dengan menyakinkan adanya sindrom kompartemen.
R/ Meningkatkan drainase vena / menurunkan edema.
Observasi tanda iskemia ekstermitas tiba tiba, misal penurunan suhu kulit dan
peningkatan nyeri.
R/ Dislokasi fraktur sendi dapat menyebabkan kerusakan arteri yang
berdekatan, dengan
akibat hilangnya aliran darah ke distal.

5. Diagnosa : Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil :
Luka bersih dan kering
Daerah sekitar luka tidak kemerahan dan tidak bengkak.
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 11

Tanda-tanda vital normal
Nilai leukosit normal (5000 10.000/mm
3
)

I ntervensi :
Observasi keadaan luka
R/ Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepat
ditanggulangi.
Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam melakukan setiap tindakan
keperawatan
R/ Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan atau
membunuh kuman sehingga infeksi tidak terjadi.
Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yang steril.
R/ Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan dengan
menggunakan
peralatan yang steril agar luka tidak terkontaminasi oleh kuman dari luar.
Monitor LED
R/ Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang
merupakan tanda-tanda infeksi.
Monitor tanda-tanda vital
R/ Peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi dan penurunan
tekanan darah merupakan salah satu terjadinya infeksi










Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 12

BAB 3
HASIL DISKUSI















A. Kata Kunci
1. Laki-laki usia 47 tahun
2. Keluhan sakit pada paha kanan akibat tertabrak sepeda motor sekitar sejam yang lalu
3. Hasil pengkajian : airway patent, breathing spontan ,sirkulasi terdapat perdarahan
melalui luka di area femur
4. Tulang femur tampak keluar merobek kulit seluas 5cm .
5. Vulnus laseratum di regio dorsalis pedis dextra
6. TTV:
TD : 90/70 mmHg
Nadi : 100x/menit lemah
RR : 16x/menit
Suhu : 37,6
o
c
7. Di UGD dilakukan balut tekan, di beri analgetik , injeksi antitetanus dan antibiotik
seta pembidaian
Seorang laki-laki berusia 47 tahun diantar ke ruang UGD dengan keluhan sakit pada paha
kanan akibat tertabrak sepeda motor sekitar 1 jam lalu. Hasil pengkajian airway patent,
breathing spontan, sirkulasi terdapat perdarahan melalui luka diarea femur. Sadar saat
kejadian. Tulang femur tampak keluar merobek kulit seluas 5cm. Vulnus laseratum di region
dorsalis pedis dextra, knee dextra. Pemeriksaan vital signs didapatkan TD 90/70 mmHg,
nadi 100x/menit teraba lemah, pernafasan 16x/menit, suhu 37,6 C. Di UGD dilakukan balut
tekan, diberi analgetik, injeksi antitetanus dan antibiotic serta dilakukan pembidaian. Pda
pemeriksaan fisik di regio femur dextra didapatkan eksternal rotation (eksorotasi), sweeling
(+), nyeri tekan (+). Staus neurovaskuler distal (NVD) baik dengan criteria CRT <2, arteri
dorsalis pedis (+), akral hangat, pucat (-), sensasi (+). Direncanakan akan dilakukan operasi
cito ORIF dengan menggunakan plate (boad plate 14 hole) dan screw (6 screw)
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 13

8. Pemfis : regio femur dextra eksorotasi , swelling + , nyeri tekan + , status
neurovaskuler dextra (NVD),CRT <2,arteri dorsalis pedis+ , akral hangat, pucat -,
sensasi +
9. Hasil rontgen : closed fracture shaft femur dextra
10. Rencana operasi cito orif menggunakan plate (broad plate 14 hole) dan screw (16
screw)

B. Kata yang tidak dimengerti
1. Airway pantent
Jawab: Airway patent adalah salah satu jalan nafas yang terbuka dan jelas. Dimana
pasien bisa menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida

2. Breathing spontan
Jawab: Bernafas spontan: 3 contoh gerak organ yang dipengaruhi hipotalamus:
gerakan jantung memompa darah, kemudian gerakan peristaltik usus dalam mencerna
makanan, dan gerakan paru-paru yang mengakibatkan kita bernapas secara spontan.
ketiga gerakan itu terjadi tanpa adanya perintah dari manusia, jadi gerakan itu terjadi
secara spontan. Kesimpulannya Jadi bernafas spontan itu yaitu bernafas dengan cara
spontan/normal

3. Vulnus laseratum
Jawab: (luka robek) di sebabkan karena benturan dengan benda tumpul, dengan cirri
luka tepi, lka tidak rata dan perdarahan sedikit luka dan meningkatnya resiko infeksi
(luka yang bentuknya tidak berturan )

4. Region dorsalis pedis dextra
Jawab: bagian punggung kaki sebelah kanan

5. I njeksi aintitetanus
Jawab: Injeksi anti tetanus adalah pemberian serum anti tetanus. Injeksi anti tetanus
ada 2 macam yaitu : anti tetanus seru (ATS) yang secara langsung mencegah tetanus,
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 14

dan vaksin tetanus toxoid yang tidak mencegah secara langsung namun membentuk
kekebalan terhadap tetanus

6. Pembidaian
Jawab: Pembidaian adalah penanganan patah tulang yang paling utama adalah
dengan melakukan pembidaian. Pembidaian adalah berbagai tindakan dan upaya
untuk mengistirahatkan bagian yang patah.
Tujuan pembidaian :
1. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung tulang yang patah
2. Mengurangi terjadinya cedera baru disekitar bagian tulang yang patah.
3. Memberi istirahat pada anggota badan yang patah.
4. Mengurangi rasa nyeri.
5. Mempercepat penyembuhan
Beberapa macam jenis bidai :
1. Bidai keras.
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang kuat
dan ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna dalam
keadaan darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi syarat
di lapangan.
Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.

2. Bidai traksi.
Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya
dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah
tulang paha.
Contoh : bidai traksi tulang paha




Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 15

3. Bidai improvisasi.
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang.
Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan
improvisasi si penolong.
Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain

4. Gendongan/Belat dan bebat.
Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela (kain
segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan
pergerakan daerah cedera.
Contoh : gendongan lengan.
Pedoman umum pembidaian.
Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti pedoman
umum.
1. Sedapat mungkin beritahukan rencana tindakan kepada penderita.
2. Sebelum membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan
bila ada.
3. Selalu buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka
perhiasan di daerah patah atau di bagian distalnya.
4. Nilai gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum
melakukan pembidaian.
5. Siapkan alat-alat selengkapnya.
6. Jangan berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai dalam
posisi ketika ditemukan.
7. Jangan berusaha memasukkan bagian tulang yang patah.
8. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur
lebih dulu pada anggota badan penderita yang sehat.
9. Bila cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit sendi tersebut.
Upayakan juga membidai sendi distalnya.
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 16

10. Lapisi bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan.10. Isilah bagian yang
kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
11. Ikatan jangan terlalu keras dan jangan longgar.
12. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak,
kemudian sendi atas dari tulang yang patah.
13. Selesai dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan
dengan pemeriksaan GSS yang pertama.
14. Jangan membidai berlebihan.

7. Regio femur dextra didapatkan eksternal rotation (eksorotasi)
Jawab: Bagian Paha Sebelah Kanan

8. Swelling +
Jawab: Swelling adalah pembengkakan, benjolan, tumor, edema akibat adanya
penumpukan cairan.

9. Status neurovaskuler distal (NVD)
Jawab: Neurovaskuler adalah sistem sirkulasi yang memperdarahi saraf.Distal
dalah bagian terjauh dari tubuh. Jadi neurovaskuler distal adalah sistem perederaha
darah yang memperdarahi saraf yang jauh dari tubuh
Contoh nya capilary refill time (CRT)

10. Operasi cito ORI F
Jawab: ORIF adalah singkatan untuk fiksasi pengurangan terbuka internal.
Pengurangan fiksasi internal yang terbuka adalah metode pembedahan memperbaiki
tulang retak. Umumnya, ini melibatkan baik penggunaan piring dan sekrup atau
intramedulla (IM) batang untuk menstabilkan tulang.
Guna untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak
mengalami pergeseran.
Indikasi ORIF :
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 17

Fraktur, dimana tanpa operasi tidak dapat dicapai reposisi
Fraktur dengan posisi unstable, cenderung redisplacement pasca reposisi
(antebrachi)
Fragmen fraktur sulit union dan perlu waktu lama (colllum femur)
Fraktur pathologis
Fraktur multiple
Fraktur pada pasien yang memerlukan kemudahan perawatan (paraplegics,
multiple injuries dan orang tua)
- Keuntungan Perawatan ORIF
Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur
Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf disekitarnya
Stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai
Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi
Potensi untuk mempertahnkan fungsi sendi yang mendekati normal serta
kekuatan otot selama perawatan fraktur

Kerugian Perawatan ORIF
Setiap anastesi dan operasi mempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat
dari tindakan tersebut. Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi
dibandingkan pemasangan gips atau traksi. Penggunaan stabilisasi logam interna
memungkinkan kegagalan alat itu sendiri. Pembedahan itu sendiri merupakan trauma
pada jaringan lunak, dan struktur yang sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan
terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi.
C. Pertanyaan
1. J elaskan mekanisme terjadinya nyeri tekan pada pasien fraktur ?
Jawaban: Nyeri mungkin disebabkan oleh spame otot berpindah tulang dari
tempatnya dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan. Nyeri terus menerus
dan bertambah sampai fragmen tulang di imobilisasi spasme otot yang menyertai
fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang di rancang untuk meminimalkan
gerakan antar fragmen tulang.
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 18

2. J elaskan mekanisme terjadi eksorotasi pada pasien ?
Jawaban: Pada saat terjadi fraktur terbuka, patahan tulang akan merusak jaringan,
otot dan merobek kulit menyebabkan terjadinya pelepasan abnormal pada sendi dan
terjadi pengurangan viskositas cairan sendi glonohumoral. Gerakan aktif pada lingkup
gerak sendi yang mempunyai efek kontraksi otot sehingga terjadilah eksorotasi pada
region femur dextra

3. Apa gunanya balut tekan ? jelaskan apa yg di maksud balut tekan?
Jawaban: Gunanya yaitu untuk menghentikan perdarahan akut , balut tekan
merupakan material yang du gunakan untuk memegang kassa, sehingga kassa tidak
bergeser dari tempat yang di harapkan dan sekaligus memberikan tekanan sumber
perdarahan

4. Apa yang menyebabkan swelling? J elaskan!
Jawaban:
1. Penurunan konsentrasi protein plasma menyebabkan penurunan tekanan
osmotic plasma.penurunan ini menyebabkan filtrasi cairan yang keluar dari
pembuluh lebih tinggi, sementara jumlah cairan yang direabsorpsi kurang dari
normal, dengan demikian terdapat cairan tambahan yang tertinggal diruang
ruang interstisium.
2. Peningkatan permeabilitas dinding kapiler menyebabkan protein plasma yang
keluar dari kapiler ke cairan interstisium disekitarnya lebih banyak. Sebagai
contoh, melalui pelebaran pori pori kapiler yang dicetuskan oleh histamin
pada cedera jaringan atau reaksi alergi . Terjadi penurunan tekanan osmotik
koloid plasma yang menurunkan kearah dalam sementara peningkatan tekanan
osmotik koloid cairan interstisium yang diseabkan oleh kelebihan protein
dicairan interstisium meningkatkan tekanan kearah luar.
3. Peningkatan tekanan vena , misalnya darah terbendung di vena, akan disertai
peningkatan tekanan darah kapiler, kerena kapiler mengalirkan isinya kedalam
vena. peningkatan tekanan kearah dinding kapiler ini terutama berperan pada
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 19

edema yang terjadi pada gagal jantung kongestif. Edema regional juga dapat
terjadi karena restriksi lokal aliran balik vena.
4. Penyumbatan pembuluh limfe menimbulkan edema,karena kelebihan cairan
yang difiltrasi keluar tertahan di cairan interstisium dan tidak dapat
dikembalikan ke darah melalui sistem limfe. Akumulasi protein di cairan
interstisium memperberat masalah melalui efek osmotiknya

5. Apa saja yang diperiksa padastatus neurovaskuler distal (NVD)dilakukan dimana
saja? Dan normalnya gimana ?
Jawaban:
Neurovaskularisasi bagian distal fraktur meliputi : pulsasi arteri, warna kulit,
pengisian cairan kapiler, sensasi, suhu.
Pulsasi arteri dapat dilakukan di arteri femoralis, arteri poplitea, arteri tibialis
posterior, arteri dorsalis pedis, arteri radialis, dll. Prinsipnya pulsasi arteri
dapat diraba jika arteri tersebut memiliki dasar yang keras. Pada kasus ini
pemeriksaan dilakukan di arteri dorsalis pedis.
Warna kulit normal : tidak pucat. Pasien ini warna kulitnya normal.
Pengisian cairan kapiler (Capillary Refill Time). Pengisian yang dilakukan
cepat pada daerah dasar kuku untuk memonitor dehidrasi dan jumlah aliran
darah ke jaringan. Jika aliran darah baik kedaerah kuku, warna kuku kembali
normal kurang dari 2 detik. Pada kasus ini CRT nya normal.

6. Kenapa pasien di beri obat analgetik, antitetanus dan antibiotik ? J elaskan
kegunaan nya ?
Jawaban:
Di beri obat analgetik : untuk menghilangkan rasa nyeri (pada kasus nyeri
tekan) contoh : ketorolak
Di beri antitetanus dan antibiotic: untuk mencegah adanya infeksi contohnya:
anti tetanus (ATS)
Antibiotic : ceftriaxon
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 20

Di beri pembidaian untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang
patah tidak bergerak(imobilisasi)

7. Kenapa ketika pasien yang dilakukan operasi cito orif, menggunakan plate (broad
plate 14 hole) dan screw(6 screw)?apa fungsi dari plate dan screw ?
Jawaban: Metode operatif ini merupakan metode yang paling cocok, karena
beberapa fraktur sulit direduksi dengan manipulasi karena tarikan otot yang sangat
kuat dan membutuhkan traksi yang lama. Untuk fungsinya sesuai dengan fungsi dari
operasi cito ORIF (Open Reduction with Internal Fixation) yaitu untuk
mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu.

8. Termasuk ke dalam jenis fraktur dan derajat berapa pada kasus ini ?jelaskan!
Jawabannya:
faktur terbuka yaitu bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar
karena adanya perlukan di kulit. Derajat III : Terjadi kerusakan jaringan lunak yang
luas meliputi struktur kulit, otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.

ASUHAN KEPERAWATAN KASUS

Data Masalah Keperawatan Etiologi
P : Tertabrak sepeda motor sekitar 1
jam yang lalu.
Q : -
R : Nyeri tekan (+) , swelling (+) ,
vulnus laseratum di region dorsalis
pedis dextra, knee dextra.
S : -
T : Saat kejadian tertabrak
Gangguan rasa nyaman;
Nyeri
Kerusakan jaringan lunak ,
spasme otot
DS : -
DO :
Resiko infeksi Trauma jaringan / prosedur
invasive
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 21

- Tampak vulnus
laseratum di region
dorsalis pedis dextra,
knee dextra.
- Tulang femur tampak
keluar merobek kulit
seluas 5cm
- Diberikan antibiotik
DS : Klien mengatakan :
- keluhan sakit pada paha
kanan akibat tertabrak
sepeda motor sekitar 1
jam yang lalu.
DO :
- ekstrenal rotation
(eksorotasi)
- Direncanakan akan
dilakukan operasi cito
ORIF dengan
menggunakan (broad
plate 14 hole) dan
screw (6 screw)
- Tulang femur tampak
keluar keluar merobek
kulit seluas 5cm
Gangguan mobilitas fisik Kerusakan musculoskeletal

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan lunak , spasme otot ditandai
dengan:
P : Tertabrak sepeda motor sekitar 1 jam yang lalu.
Q : -
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 22

R : Nyeri tekan (+) , swelling (+) , vulnus laseratum di region dorsalis pedis
dextra, knee dextra.
S : -
T : Saat kejadian tertabrak
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di harapkan
nyeri hilang / dapat terkontrol .
Kriteria Hasil :
P : -
Q : -
R : Nyeri tekan terkontrol , swelling (-) , vulnus laseratum di region dorsalis
pedis dextra, knee dextra sembuh.
S : -
T : -

Intervensi :
Pantau vital sign, intensitas nyeri dan tingkat kesadaran
R/ Untuk mengenal indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang
diharapkan.
Pertahankan tirah baring sampai fraktur berkurang
R/ Nyeri dan spasme otot dikontrol oleh immobilisasi.
Bantu pasien untuk posisi yang nyaman
R/ Posisi tubuh yang nyaman dapat mengurangi penekanan dan mencegah
ketegangan.
Pakai kompres es atau kompres panas (jika tidak ada kontraindikasi)
R/ Dingin mencegah pembengkakan dan panas melemaskan otot-otot dan
pembuluh darah berdilatasi untuk meningkatkan sirkulasi.
Berikan istirahat sampai nyeri hilang
R/ Istirahat menurunkan pengeluaran energi
Berikan obat analgetik sesuai dengan nyeri yang dirasakan pasien.
R/ Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri yang dirasakan oleh klien
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 23


2. Resiko I nfeksi berhubungan dengan trauma jaringan / prosedur invasive
ditandai oleh
DS : -
DO :
- Tampak vulnus laseratum di region dorsalis pedis dextra, knee dextra.
- Tulang femur tampak keluar merobek kulit seluas 5cm
- Diberikan antibiotic

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam di harapkan
Ny.As dapat mencapai penyembuhan luka sesuai waktu dan bebas drainase.

Intervensi :
Observasi keadaan luka
R/ Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepat
ditanggulangi.
Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam melakukan setiap tindakan
keperawatan
R/ Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan atau
membunuh kuman sehingga infeksi tidak terjadi.
Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yang steril.
R/ Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan dengan
menggunakan peralatan yang steril agar luka tidak terkontaminasi oleh
kuman dari luar.
Monitor LED
R/ Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang
merupakan tanda-tanda infeksi.
Monitor tanda-tanda vital
R/ Peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi dan penurunan tekanan
darah merupakan salah satu terjadinya infeksi

Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 24

3. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan musculoskeletal
ditandai dengan :
DS : Klien mengatakan :
- keluhan sakit pada paha kanan akibat tertabrak sepeda motor sekitar
1 jam yang lalu.
DO :
- ekstrenal rotation (eksorotasi)
- Direncanakan akan dilakukan operasi cito ORIF dengan
menggunakan (broad plate 14 hole) dan screw (6 screw)
- Tulang femur tampak keluar keluar merobek kulit seluas 5cm

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan terdapat
peningkatan mobilitas .

Kriteria hasil : Klien mampu melakukan aktivitas secara mandiri.

Intervensi :
1. Kaji tingkat im- mobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien
tentang immobilisasi ter- sebut.
(Rasional: Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi
tidak proposional)

2. Mendorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca
kora, dll ).
(Rasional: Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi,
memusatkan perhatian, meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien dan
membantu dalam mengurangi isolasi sosial.)

3. Menganjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang
cedera maupun yang tidak.
Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 25

(Rasional: Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk me-
ningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah
kontraktur/atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan)

4. Membantu pasien dalam perawatan diri
(Rasional: Meningkatkan ke- kuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien
dalam me- ngontrol situasi, me- ningkatkan kemauan pasien untuk sembuh)

5. Auskultasi bising usus, monitor kebiasa an eliminasi dan menganjurkan agar
BAB teratur.
(Rasional: Bedrest, penggunaan analgetika dan perubahan diit dapat
menyebabkan penurunan peristaltik usus dan konstipasi)

6. Memberikan diit tinggi protein , vitamin , dan mineral.
(Rasional: Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan BB,
karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB)














Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 26

BAB 3
PENUTUP
Kesimpulan
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas struktur jaringan tulang, baik itu tulang rawan,
sendi, tulang epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Fraktur terjadi ketika tekanan
yang menimpa tulang lebih besar dari pada daya tahan tulang akibat trauma, penyakit tulang
seperti tumor tulang, osteoporosis yang disebut fraktur pathologis, penggunaan tulang secara
berlebihan yang berulangulang. Berbagai penyebab dapat menimbulkan fraktur sehingga terjadi
patahan pada tulang. Jika satu tulang sudah patah, maka jaringan lunak disekitarnya juga rusak,
periosteum terpisah dari tulang dan terjadi perdarahan yang cukup berat. Terbentuk bekuan darah
pada daerah tersebut, yang akan membentuk jaringan granulasi dimana sel-sel pembentuk tulang
primitive (osteogenik) berdiferensiasi menjadi kondroblas dan osteoblas.


Ma k a l a h Mo d u l F r a k t u r | 27

DAFTAR PUSTAKA

Hoppenfeld, Stanley. Dkk. 2000. Terapi dan rehabilitas fraktur. Jakarta : Buku kedokteran
EGC.
Mansjoer, Arif. 2000. Kapita selekta kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Jakarta.
Mansjoer,arief. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius
Price,Sylvia. 1995. Patofisiologis ,Konsep Klinis dan Proses Proses Penyakit Ed 6.
Jakarta : EGC
Doenges, Marilynn, DDK. 2000. Rencana asuhan keperawatan. Jakarta : EGC.