Anda di halaman 1dari 12

Pengendalian Vektor secara Kimiawi

Pengendalian Vektor secara Kimiawi


Cara ini dapat dilakukan untuk nyamuk dewasa maupun larva. Larvicides diaplikasikan pada
penampungan air di mana larvae atau pupae sedang berkembang, misalnya padang rumput, sumur,
parit irigasi, kolam, teluk, bak, dan pinggir jalan parit.[i] Untuk nyamuk dewasa dilakukan dengan
cara pengasapan (thermal fogging) atau pengabutan (colg Fogging = Ultra low volume).
Pemberantasan nyamuk dewasa Aedes aegypti tidak dengan menggunakan cara penyemprotan pada
dinding (residual spraying) karena nyamuk Ae.aegypti tidak suka hinggap pada dinding, melainkan
pada benda-benda yang tergantung seperti kelambu dan pakaian yang tergantung.
Untuk pemakaian di rumah tangga dipergunakan berbagai jenis insektisida yang disemprotkan ke
dalan kamar atau ruangan misalnya golongan organophospat atau pyrethroid synthetic. Untuk
pemberantasan larva dapat digunakan abate 1 % SG. Cara ini biasannya digunakan dengan
menaburkan abate ke dalam bejana tempat penampungan air seperti bak mandi, tempayan, drum
dapat mencegah adanya jentik selama 2-3 bulan.
Penyemprotan di dalam suatu rumah juga harus dilakukan secara selektif di tempat-tempat
tertentu, misalnya di atap jerami, bagian atas dinding dan atap, yang dimungkinkan sebagai resting
places beberapa vektor dan area di mana insektisida dapat bertahan selama kurun waktu yang lama.
Efek biologik dari insektisida hanya berlangsung singkat jika disemprotkan pada dinding yang
berlumpur, sehingga penyemprotan tidak dilakukan pada bagian tersebut. Investigasi sangat
diperlukan untuk mengetahui selektifitas penyemprotan pada populasi vector dan insidensi
malaria. [ii]
Dalam pengendalian vektor secara kimiawi digunakan berbagai bahan kimia untuk membunuh
ataupun menghambat pertumbuhan serangga. Di Indonesia hingga sekarang yang banyak dipakai
dalam pengendalian vektor malaria yang seringkali sekaligus dapat mengendalikan vektor filariasis,
adalah penggunaan insektisida yang ditujukan untuk membunuh nyamuk dewasa dengan cara
penyemprotan tempat menggigit dan tempat istirahat vektor. Hal ini seringkali tidak mencapai
sasaran, karena yang biasanya disemprot adalah rumah tinggal, sedangkan nyamuk menggigit atau
istirahat di luar rumah, dan pada filariasis infeksi seringkali terjadi jauh dari pemukiman misalnya di
ladang dan tepi hutan, yang tidak terjangkau oleh insektisida.
Selain dari itu, karena vektor filariasis di Indonesia menyangkut lebih dari 20 spesies nyamuk dengan
bionomik yang berbeda-beda pula, cara penyemprotan tidak dapat diseragamkan sebelum ada data
yang lengkap tentang bionomik vektor. Masalah lain adalah terjadinya resistensi vektor terhadap
insektisida pada vektor malaria, sehingga perlu diadakan alternatif-alternatif cara pemberantasan
lain atau menggunakan insektisida lain. Penyemprotan pada waktu ini terutama dilakukan terhadap
vektor malaria dan pengendalian vektor filariasis dapat terjadi sebagai efek samping.[iii]
Mengingat tempat perkembangbiakan larva vektor DBD pada penampungan air yang airnya
digunakan bagi kebutuhan sehari-hari terutama untuk minum dan masak, maka larvisida yang
digunakan harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: efektif pada dosis rendah, tidak bersifat
racun bagi manusia/mamalia, tidak menyebabkan perubahan rasa, warna, dan bau pada air yang
diperlakukan, dan efektivitasnya lama. Beberapa larvisida dengan kriteria seperti tersebut di atas
sebagian telah digunakan secara luas (operasional) dan sebagian lainnya masih dalam tahap uji
laboratorium atau uji lapangan skala kecil.
Penggunaan insektisida secara selektif akan mengurangi biaya dan tekanan seleksi bagi resistensi.
Hal ini juga akan membawa lebih banyak sumber daya untuk solusi yang lebih baik bagi program
pengendalian vektor malaria pada area yang peka. Reorientasi program penyemprotan skala besar
menjadi penyemprotan selektif akan mengurangi operasi penyemprotan. Hal ini akan berdampak
positif juga bagi alokasi sumber daya dan personil, yang dapat diakomodasi dengan mengadopsi
metode pengendalian vector lain yang dapat menggunakan tenaga ahli yang sudah terlatih dan dan
staf berpengalaman serta sumber daya material.
Seleksi insektisida
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan seleksi terhadap insektisida untuk indoor
residual spraying antara lain:
a. Efektifitas residual. Pada area trasmisi perennial di mana indoor residual sprayingdengan
pestisida dipertimbangkan, maka efektifitas residual maksimal sesuai yang diinginkan
b. Keamanan. Toksisitas akut dan kronik dari suatu insektisida, persistensi lingkungan, dan
akumulasi residu pada tubuh manusia perlu diperhitungkan
c. Susceptibilitas vector. Susceptibilitas target populasi vektor terhadap insektisida adalah
penting
d. Pengaruh terhadap suatu penyakit. Kemampuan insektisida untuk mengurangi insidensi
penyakit harus dievaluasi dan dipastikan kembali
e. Excite repellency. Saat konsekuensi epidemiologik efek excito-repellent dari insektisida tidak
dimengerti secara benar-benar, maka efek tersebut harus dapat diperhitungkan saat operasional
penyemprotan. Hal tersebut akan tidak berguna jika nyamuk melarikan diri dari penyemprotan
insektisida sebelum terpapar dosis lethal. Tetapi jika repellency mengarah pada pengurangan
kemungkinan kontak manusia dengan vector (dengan membawa nyamuk dari manusia ke hewan di
luar rumah), maka hal itu baru dapat bermanfaat.
f. Biaya. Program harus ditentukan dan terdokumentasi. Hal ini meliputi biaya insektisida dan
frekuensi aplikasi, alat penyemprot, transportasi, dan tenaga kerja.
g. Manajemen resistensi insektisida. Ilmu penggunaan insektisida bukan saja digunakan dalam
bidang agrikultur, tetapi juga untuk mempelajari mekanisme resistensi target populasi vektor dan
perkembangan resistensi secara sempit maupun luas dapat dijadikan pedoman untuk seleksi
insektisida untuk meminimalkan masalah resistensi
h. Spesifikasi insektisida. Efikasi suatu produk yang digunakan dalam kesehatan masyarakat
tergantung pada kekayaan fisik dan kimiawi dari gabungan formulasi. Spesifikasi pestisida oleh WHO
dinyatakan bahwa penggunaan insektisida bervariasi pada beberapa spesifikasi penggunaan pada
agricultural. Hal ini penting bahwa untuk pengendalian vector malaria dan vector borne disease lain,
perlu diperimbangkan beberapa insektisida yang direkomendasikan oleh WHO. Penggunaan
insektisida dengan spesifikasi tertentu harus di bawah pengawasan institusi independen.
Faktor lain: bau, jarak penglihatan deposit penyemprotan, efikasi dihadapkan dengan gangguan
hama dan faktor lain yang mempengaruhi aksesibilitas penyemprotan rumah oleh masyarakat.[iv]

1. Larvasida
a. Temephos (Abate)
Larvisida ini terbukti efektif terhadap larva Ae. aegypti dan daya racunnya rendah terhadap mamalia.
Pada program penanggulangan vektor DBD di Indonesia, temephos sudah digunakan sejak 1976
dalam bentuk (formulasi) butiran pasir (sand granules) dengan dosis 1 ppm. Temephos adalah
organophosphate (OP) pestisida yang didaftarkan oleh EPA pada tahun 1965 untuk mengendalikan
larva nyamuk, dan itu adalah satu-satunya organophosphate dengan larvicidal digunakan. Temephos
cocok untuk daerah genangan air, kolam dangkal, rawa-rawa, rawa-rawa, dan intertidal zona.
Abate adalah nama dagang dari temephos produk yang digunakan untuk pengendalian nyamuk.
Khas insektisida OP lain, temephos menghambat tindakan kelompok enzim disebut
cholinesterases. Enzim-enzim yang paling penting dalam sistem saraf, yang otak, dan sistem
muskuloskeletal mengendalikan transmisi sinyal saraf. Rekomendasi ODFW Penggunaan
Temephos digunakan di kolam, atau hanya jika resistensi terhadap pestisida lain muncul.
b. Methoprene (OMS-1697)
Methoprene berhasil menekan kepadatan nyamuk Ae. aegypti yang menggigit hinggap pada orang
dan munculnya nyamuk tersebut selama satu bulan. Larvisida ini termasuk jenis penghambat
tumbuh serangga (insect growth regulator). Methoprene, pertama dicatat oleh EPA pada tahun
1975, meniru tindakan pertumbuhan serangga (mengatur hormon dan mencegah pematangan
normal larva serangga). Altosid briquets, pellet, butiran pasir, dan cairan adalah produk methoprene
digunakan dalam pengendalian nyamuk.
Methoprene sering digunakan pada kolam. Rekomendasi ODFW Penggunaan Vector Control
Methoprene: ketika digunakan pada aplikasi pengendalian vektor direkomendasikan pengenceran
dan waktu. Methoprene memiliki efek minimal untuk tidak berpengaruh pada ikan, satwa liar, dan
perairan ekosistem. Methoprene merupakan larvicide kimia karena dibuat dari bahan kimia daripada
sumber-sumber alam.
c. Diflubenzuron (OMS-1804)
Penggunaan larvisida ini pada tempat penampungan air (tempayan) berhasil mengendalikan
larva Ae. aegypti selama 18 minggu.
d. Triflumuron (OMS-2015)
Pada uji laboratorium, dosis 1 ppm berhasil menekan perkembangan pupa Ae. aegypti menjadi
dewasa selama 8 minggu. Uji lapangan pada dosis 0,075 ppm ternyata berhasil menurunkan
populasi Ae. aegypti sampai 2 minggu setelah perlakuan.
e. Vetrazin (OMS-2014)
Uji laboratorium dan lapangan ventrazin terhadap larva Ae. aegypti membuktikan bahwa LC50 nya
terhadap Ae. aegypti sebesar 0,48 mg/I (laboratorium) sedang efektivitasnya di lapangan sama
dengan methoprene. hadi suwasono

2. Malathion
Malathion adalah insektisida OP yang telah terdaftar untuk digunakan di Amerika Serikat sejak 1956.
Telah digunakan dalam pertanian, perumahan, area rekreasi publik, dan program pengendalian
vektor pada kesehatan masyarakat. Salah satu insektisida OP yang paling awal dikembangkan. Untuk
pengendalian nyamuk, malathion diterapkan sebagai ultra-low volume (ULV) semprot, baik oleh
truk-atau pesawat-mount penyemprot pada tingkat maksimum 0,23 (atau sekitar 2,5 fluida ons)
bahan aktif per hektar, yang meminimalkan risiko eksposur dan orang-orang dan lingkungan.
Malathion produk yang digunakan dalam pengendalian vektor meliputi: Fyfanon ULV (untuk dewasa)
dan Fyfanon 8 Emulsion (untuk larva). Rekomendasi ODFW Penggunaan Malathion: malathion,
seperti adulticides lain, apakah organophosphate atau lainnya, adalah non-spesifik. Sebagai ultra low
volume (ULV) semprot dengan konsentrasi yang relatif rendah pestisida dalam semprot, itu
dirancang untuk meminimalkan risiko arthropoda non-target dan hewan lainnya.

3. RHS-Residual House Spraying/Indoor Residual Spraying
Pengendalian vektor yang tidak selektif, seperti penggunaan DDT dan obat pembasmi serangga lain,
bukan lagi merupakan strategi yang direkomendasikan. Dengan adanya keuangan dan sumber daya
manusia, dikombinasikan dengan potensi resistensi vektor dan kepedulian terhadap lingkungan,
penyemprotan residual dalam rumah harus digunakan hanya di dalam situasi yang khusus atau saat
risiko tinggi. DDT sedang dihapus bertahap oleh karena penggunaan tersebar luas di lingkungan, dan
menghasilkan tekanan ekonomi dan politis.
Indikator epidemiologi digunakan untuk memutuskan apakah penerapan penyemprotan residual
dalam rumah harus ditinjau kembali untuk dipertimbangkan pola transmisi, yang bervariasi pada
waktu dan area yang berbeda. Lokasi utama yang dijadikan perimbangan untuk penyemprotan
adalah pada unit operasional yang sekecil mungkin, dengan target penyemprotan kondisinya baik.
Ukuran-ukuran untuk memutuskan apakah untuk start atau stop operasi penyemprotan adalah juga
diperlukan. Suatu analisa informasi epidemiological mengijinkan penyemprotan untuk ditargetkan
ke rumah jika resiko transmisi di tempat tersebut merupakan yang paling tinggi, seperti lokasi dekat
tempat berkembangbiak utama nyamuk itu.
Beberapa kriteria untuk aplikasi pengendalian selektif malaria dengan indoor residual spraying: hal
yang perlu dipertimbangkan dalam indoor residual spraying adalah potensi terjadinya resistensi
terhadap insektisida dan kerusakan lingkungan. Cara ini hanya direkomendasikan bagi area/daerah
yang benar-benar memiliki prioritas tinggi untuk dilakukan indoor residual spraying.
Pada tempat di mana dilakukan indoor residual spraying, maka area harus tergambar jelas mana
yang harus dicakup dan frekuensi serta waktu aplikasi harus ditentukan dengan baik dan benar.
Ketika suatu penyemprotan dilakukan, maka harus ada kriteria yang jelas untuk selang waktu
tertentu baru kemudian dapat dilakukan pengembangan penyemprotan di area baru, untuk
keberlanjutan penyemprotan dan untuk mengatur jarak waktu penyemprotan. Program
penyemprotan juga harus benar-benar cost-effective.
Ukuran area yang akan disemprot harus cukup besar untuk mencakup seluruh wilayah yang terkena
dampak. Ruang penyemprotan harus diulang 2-4 kali pada interval dari 3-5 hari dalam jangka waktu
1 hingga 2 minggu, dimulai segera setelah wabah dinyatakan. Ruang penyemprotan harus dilakukan
secara menyeluruh di bawah pengawasan teknis ketat dalam hal dosis, ukuran partikel dan
kepadatan. Ruang penyemprotan harus dilakukan bila nyamuk dewasa aktif, yaitu dalam waktu
sebelum tengah hari. Ruang penyemprotan harus diarahkan atau dipusatkan di dalam ruangan. [v]
Banyak vektor malaria adalah endophilic, beristirahat di dalam rumah setelah mengambil makan
darah. Nyamuk ini sangat rentan terhadap kontrol melalui penyemprotan residu dalam ruangan
(IRS). Seperti namanya, IRS melibatkan lapisan dinding dan permukaan lain dari sebuah rumah
dengan sisa insektisida. Selama beberapa bulan, insektisida akan membunuh nyamuk dan serangga
lain yang datang dalam kontak dengan permukaan ini. IRS tidak secara langsung mencegah orang
dari gigitan nyamuk. Sebaliknya, biasanya membunuh nyamuk setelah mereka makan, jika mereka
datang untuk beristirahat di permukaan yang telah disemprot, sehingga IRS mencegah penularan
infeksi ke orang lain. Agar efektif, IRS harus diterapkan pada proporsi yang sangat tinggi dari rumah
tangga di suatu daerah (biasanya> 70%).
IRS dengan DDT dan dieldrin adalah metode pengendalian malaria utama yang digunakan selama
Kampanye Pemberantasan Malaria Global (1955-1969). Keberhasilan IRS dalam mengurangi kasus
malaria di Afrika Selatan lebih dari 80% telah menghidupkan kembali minat pada alat pencegahan
malaria ini. Hal ini juga menyulut kembali perdebatan mengenai mungkin atau tidak DDT harus
memiliki tempat dalam pengendalian malaria. Dengan dukungan dari Global Fund untuk memerangi
AIDS, Tuberkulosis dan Malaria serta Presiden Malaria Initiative, beberapa negara telah memulai
program IRS-banyak menggunakan DDT di gudang mereka-insektisida untuk pengendalian malaria.
Metode ini menggunakan aplikasi residual insektisida (secara aktif melawan insekta dewasa). Cara
ini suitable untuk vektor yang memiliki waktu istirahat cukup panjang pada tempat peristirahatan.
Pada pengendalian malaria, metode ini dilakukan indoor. Residual spraying menggunakan hand-
compression sprayer atau knapsack motorised sprayer yang diaplikasikan saat malam atau pagi hari.



4. Molecular Film
Pengendalian vektor dengan molecular film salah satu contohnya adalah AGNIQUE MMF yang
merupakan larvicide dan pupicide dengan bahan aktif Poly (oxy-1 ,2-ethanediyl). AGNIQUE MMF
adalah biodegradable dengan alkohol ethoxylated surfaktan. AGNIQUE MMF monomolecular
menghasilkan film yang tak terlihat dengan cepat menyebar di atas permukaan air pada habitat
naymuk. Film ini mengganggu tegangan permukaan air tempat pengembangan larva nyamuk dan
siklus kepompong menyebabkan mereka tenggelam.
MMF AGNIQUE sangat efektif dan memiliki kemampuan unik untuk menyebar dengan cepat di
permukaan air. Ketika jumlah yang tepat telah diterapkan, tidak akan ada istirahat atau kesenjangan
dalam film sehingga mencegah munculnya nyamuk. Karena lapisan tipis, larva masih dapat
menembus film untuk mendapatkan udara yang memungkinkan bagi mereka untuk bertahan sampai
5 hari.
Angka kematian tergantung pada tahap siklus hidup. Larva biasanya terbunuh dalam waktu 48
sampai 72 jam, namun tergantung beberapa spesies dan di bawah kondisi lingkungan tertentu. Suhu
air akan mempengaruhi laju oksigen yang digunakan untuk pematangan larva, sehingga
memperlambat kontrol. Uji lapangan menunjukkan MMF Agnique ampuh untuk 5-21 hari. [vi]
MMF AGNIQUE dapat diterapkan untuk semua habitat nyamuk pada genangan air dengan
menggunakan metode penyemprotan konvensional. Tipikal habitat di mana produk yang telah
terbukti efektif mencakup lahan basah, rawa-rawa garam, kolam renang tidak terpakai, rawa-rawa,
dan parit-parit pinggir jalan, hutan, sawah dan banyak lagi. Tingkat aplikasi yang disarankan
pengendalian nyamuk yang efektif pada tingkat satu liter per hektar dari air permukaan. Daerah
yang persediaan air terbatas hanya memerlukan sejumlah kecil Agnique MMF.
Keuntungannya antara lain tidak perlu waktu aplikasi ke tahapan hidup tertentu (mengendalikan
semua tahap kehidupan dewasa) dan meliputi seluruh area permukaan tanpa harus secara fisik
menerapkannya secara merata; memberikan kontrol residu 7-21 hari untuk mengurangi biaya; tidak
ada racun kimia; non-beracun untuk ikan dan organisme air lainnya; tidak ada bau; non-phytotoxic;
tidak berpengaruh pada oksigen terlarut, pH atau konduktivitas air; tidak meninggalkan residu.
Keuntungan yang signifikan adalah bahwa nyamuk tidak dapat mengembangkan resistensi terhadap
AGNIQUE MMF karena kontrol adalah melalui cara fisik. Keuntungan lain dari cara fisik adalah
efektivitasnya pada semua jenis nyamuk. [vii]
Beberapa kabupaten pengendalian vektor menggunakan film molekul, seperti Agnique
MMF (ethoxylated alkohol). Ini membentuk selaput tipis di permukaan air. Bertindak dengan
mencekik kepompong dan permukaan-larva bernapas. Ini juga menenggelamkan nyamuk dewasa
yang mencoba untuk mendarat di air diperlakukan oleh senyawa.
Agnique ini efektif untuk 5-22 hari. Ini dapat digunakan pada air minum, tetapi belum disetujui untuk
digunakan pada produk makanan. Hal ini paling baik digunakan untuk pengendalian larva dalam
wadah buatan, genangan air disebabkan oleh aktivitas manusia, ban bekas, dan sejenisnya. Ini dapat
digunakan di genangan air di sekitar tepi rawa-rawa dan lahan basah.
Rekomendasi ODFW Penggunaan Molecular Film: ODFW tidak menetapkan kebijakan pembatasan
atau molekul film, seperti Agnique. Sebagian besar kabupaten pengendalian vektor menggunakan
produk ini untuk mengendalikan larva dan kepompong pada croplands pada badan air alami. Hal ini
harus dilakukan dengan hati-hati, karena akan mengganggu siklus hidup invertebrata air, termasuk
permukaan menyesakkan pernapasan invertebrata, berpotensi membuat serangga dewasa
tenggelam saat mendarat di permukaan air untuk bertelur.

5. Pengasapan (fogging) atau Pengkabutan (cold aerosol)
Lalat adalah salah satu hama serangga terbang yang cukup penting, di samping mengganggu
kenyamanan hidup manusia, lalat diketahui dapat menularkan beberapa penyakit seperti diarhe,
dysentery, cholera, thypoid dan lain-lain. Pengendalian kimiawi adalah cara-cara dengan
menggunakan racun serangga (insektisida) untuk membunuh larva lalat (belatung) di tempat
penimbunan sampah organik atau di tempat perkembangbiakan lalat, dan juga membunuh lalat
dewasa dengan cara penyemprotan residu di tempat lalat dewasa hinggap.
Pengasapan (fogging) atau pengkabutan (cold aerosol) juga dapat dilakukan pada saat-saat lalat aktif
terbang di pagi atau sore hari. Reduksi populasi dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan
insektisida, contoh: Solfac (cyfluthrin) atau Quick Bayt (imidacloprid). Reduksi populasi kecoa secara
kimiawi (penyemprotan dengan Solfac). [viii]
1) Thermal fogging
Sejumlah senyawa sintetik pyrethroid serta malathion atau fenitrothion dalam rumusan yang
berbeda telah diuji, setelah mencampur dengan minyak solar, dengan atau tanpa campuran
pyrethroid. Pendekatan ini penetrasi di daerah perkotaan yang ramai atau di mana vegetasi
padat. Ayunan kabut mesin dan kendaraan-mount generator sekali didistribusikan secara luas di
Daerah Asia Tenggara.
Fogging dapat memutuskan rantai penularan DBD dengan membunuh nyamuk dewasa yang
mengandung virus. Namun, fogging hanya efektif 1-2 hari. Selain itu, jenis insektisida yang digunakan
untuk fogging juga harus diganti-ganti untuk menghindari resistensi dari nyamuk. Departemen
Kesehatan selalu mengawasi jenis insektisida yang digunakan. Masyarakat bisa
melakukan fogging swadaya dengan membeli obat nyamuk semprot maupun penyedia jasa
penyemprotan. Obat nyamuk dapat disemprot di pagi dan sore hari baik di dalam rumah dan
halaman. [ix]
Daerah fogging atau penyemprotan terutama disediakan untuk situasi darurat: menghentikan
epidemi atau cepat mengurangi populasi nyamuk dewasa ketika mereka telah menjadi hama yang
parah. Semprotan fogging dan daerah harus benar bertepatan dengan waktu puncak kegiatan
nyamuk dewasa, karena nyamuk istirahat sering ditemukan di daerah-daerah yang sulit bagi
insektisida untuk mencapai (misalnya, di bawah daun, di celah-celah kecil).
Insektisida digunakan dalam kabut termal diencerkan dalam pembawa cairan, yang berbasis
minyak. Gas panas digunakan untuk memanaskan semprotan pestisida, penurunan viskositas
pengangkut minyak, dan penguapan. Ketika meninggalkan nozzle uap hits dingin udara dan
mengembun membentuk awan putih padat kabut. Sebagian besar tetesan lebih kecil dari
20 m. Ukuran tetesan dipengaruhi oleh interaksi antara perumusan, laju aliran, dan suhu di nozzle
(biasanya> 500 C).
Volume semprot diterapkan dalam pengendalian vektor 5-10 liter per hektar, dengan maksimum
absolut 50 litres perhectare. Emisi gas panas diperoleh dari mesin knalpot, gesekan plat/mesin
knalpot atau dari pulsa jet mesin. Keuntungan: mudah terlihat kabut begitu penyebaran dan
penetrasi dengan mudah dapat diamati dan dipantau konsentrasi rendah bahan aktif dalam
campuran semprot. Kekurangan:volume besar pelarut organik digunakan sebagai pelarut yang
mungkin mengakibatkan bau dan pewarnaan; biaya tinggi; Rumah tangga mungkin objek dan kabut
menghambat penetrasi ke rumah-rumah dengan menutup jendela dan pintu; risiko api dari mesin
beroperasi pada suhu yang sangat tinggi; dapat menyebabkan bahaya lalu lintas di wilayah
perkotaan.[x]
Kabut termal yang dihasilkan oleh peralatan di mana insektisida yang dilarutkan dalam minyak yang
sesuai dengan titik nyala tinggi adalah ketika vapourized disuntikkan ke kecepatan tinggi aliran gas
panas. Malathion yang paling umum digunakan insektisida, biasanya diterapkan oleh tangan-
dilakukan termalSwingfog generator atau untuk daerah yang lebih besar, dengan kendaraan
terpasang generator. Fogger tangan dilakukan biasanya memiliki pulsa mesin jet. Aplikasi harus
dilakukan pagi-pagi sebelum arus konveksi termal mengangkat kabut dari permukaan
tanah. Program kabut termal harus menggunakan aplikasi mengulangi setiap empat hari untuk
mempertahankan Ae. Aegypti pada tingkat rendah. Thermal fogging secara luas digunakan oleh
organisasi pengendalian vektor di seluruh wilayah.[xi]

2) Cold Aerosol atau penyemprotan ultra-low-volume (ULV)
Teknis kelas malathion atau fenitrothion pada tingkat 0,5 liter per hektar. Daerah yang lebih kecil, di
antara generator aerosol diuji dan direkomendasikan adalah kendaraan terpasang ULV generator,
back-pak dengan ULV kabut nozzle atau portabel blower.
Pengendalian nyamuk demam berdarah dengue Aedes aegypti dengan insektisida biasanya
dilakukan secara ULV. Penyemprotan ULV secara umum memiliki kelebihan dibanding thermal
fogging antara lain lebih ekonomis (volume yang digunakan lebih sedikit) dan tidak mengganggu
aktivitas penduduk. Di area yang tidak memungkinkan penggunaan vehicle-mounted ULV karena
jalan lingkungannya tidak dapat dilalui kendaraan roda empat maka dapat digunakan portable ULV.
Kedua cara penyemprotan tersebut di atas selain berpengaruh terhadap populasi Ae.
aegypti sebagai sasaran utama juga berpengaruh terhadap Cx. quinquefasciatus.
Malathion yang tergolong jenis organofosfat sudah digunakan dalam pengendalian vektor demam
berdarah dengue sejak tahun 1972. Guna mencegah kemungkinan terjadinya resistensi akibat
penggunaan jenis (golongan) insektisida tertentu secara terus menerus maka perlu dilakukan rotasi
dan penggunaan insektisida lain yang berbeda cara kerjanya. Permethrin tergolong dalam insektisida
piretroid sintetik dan merupakan racun syaraf yang bekerja bila terjadi kontak baik dengan larva
maupun nyamuk.[xii]
Mesin ULV (Hurricane) Model 2796 Ultra (Ex. Curtis Dyna Fog USA). Mesin pengkabutan/cold
fogger/mist dari desinfektan di udara Electric Portable Aerosol Applicator, sangat efektif untuk
sterilisasi (desinfeksi) dalam rangka pengendalian infeksi nosokomial. Aplikasi didalam ruangan
(kamar operasi, isolasi, bangsal perawatan dll), juga bisa digunakan untuk pengendalian vektor (lalat,
kecoa, nyamuk). [xiii]
Dalam pengendalian demam berdarah, terutama selama epidemi, ruang semprotan insektisida
dalam bentuk ultra low volume (ULV) aerosol dipraktekkan. World Health Organization (WHO) juga
mencatat bahwa ruang spray efektif terhadap nyamuk dewasa di dengue kegiatan pengendalian,
selain larvicides. [xiv]
Salah satu metode yang paling umum untuk mengendalikan vektor Artropoda, terutama nyamuk
adalah aplikasi insektisida baik oleh penyemprotan pada tanah atau udara. Penyemprotan Ultra-low-
volume (ULV) adalah metode yang paling sering yang digunakan untuk mengendalikan vektor.
Ketika memilih aplikasi peralatan dan insektisida, aplikator bergantung pada operasi peralatan
direkomendasikan parameter, seperti yang diberikan oleh produsen, bersama dengan aplikasi
ukuran tetesan yang direkomendasikan secara rinci pada label untuk memastikan bahan kimia yang
paling efektif dalam aplikasi. [xv]
Penggunaan udara ULV spray terbatas pada topografi daerah yang memiliki fitur yang akan
memungkinkan pengoperasian yang aman dari pesawat semprot. Penggunaannya juga terbatas
pada waktu dan musim tahun ketika faktor-faktor iklim yang cocok. Ketika suhu udara telah melebihi
80 F dan ketika telah melebihi kecepatan angin 10 mph, ULV semprotan sudah sering gagal
mencapai kontrol memuaskan populasi nyamuk dewasa. Di daerah-daerah yang memiliki topografi
yang berbeda atau kondisi iklim, mungkin perlu untuk memodifikasi dosis dan/atau ukuran tetesan
untuk mencapai hasil yang memuaskan. Ukuran area disemprot adalah faktor penting dalam efek
semprot pada populasi nyamuk.[xvi]
Kabut dingin butiran halus air dibentuk dengan cara melewatkannya melalui nosel bertekanan tinggi
atau dengan melewati aliran lambat melalui pusaran kecepatan tinggi udara. Beberapa peralatan
dilengkapi dengan nozzle kecepatan tinggi. Semprotan tetesan dihasilkan tanpa panas
eksternal. Kabut dingin volume spray dijaga agar tetap minimum. Formulasi insektisida ultra-low-
volume biasanya digunakan untuk aplikasi tersebut.
Keuntungan: jumlah pengencer yang seminimal mungkin, sehingga menurunkan biaya; beberapa
formulasi siap untuk digunakan sehingga mengurangi eksposur operator; dapat menggunakan
berbasis air yang menimbulkan bahaya kebakaran rendah dan lebih ramah lingkungan; karena
volume yang lebih rendah cair diterapkan, aplikasi lebih efisien; tidak ada lalu lintas bahaya sebagai
awan semprot hampir tidak kelihatan. Kekurangan: penyebaran dari awan semprot sulit untuk
mengamati dan keterampilan teknis yang lebih tinggi dan teratur kalibrasi diperlukan untuk efisien
pengoperasian peralatan. [xvii]

6. Focal penyemprotan
Berdasarkan informasi epidemiologi, penyemprotan fokus yang terbatas adalah direkomendasikan
untuk menutupi daerah sekitarnya masing-masing kasus dilaporkan dengue / DFH dalam radius 500
meter. Pendekatan ini didasarkan pada bionomics dari Aedes aegypti, memiliki rentang yang
terbatas penerbangan dari 500 meter atau kurang. Focal penyemprotan dengan 3-5% malathion
termal pengasapan dalam minyak diesel sudah pernah dijalankan secara luas di seluruh Indonesia,
khususnya di mana rumah-rumah yang tersebar. Ini ideal pendekatan untuk segera mengambil
tindakan terhadap wabah lokal.[xviii]

7. Minyak
Minyak dapat diterapkan pada permukaan air, mencekik larva dan kepompong. Sebagian besar
minyak yang digunakan saat ini adalah cepat biodegraded. Minyak, seperti film, adalah pestisida
yang digunakan untuk membentuk lapisan di atas air untuk tenggelam larva, kepompong, dan
muncul dewasa nyamuk. Mereka secara khusus berasal dari minyak bumi sulingan dan telah
digunakan selama bertahun-tahun di Amerika Serikat untuk membunuh kutu daun pada tanaman
dan kebun buah-buahan pohon, dan untuk mengendalikan nyamuk.Nama dagang untuk minyak
yang digunakan dalam kontrol nyamuk Bonide, BVA2, dan Golden Bear-1111 (GB-1111).
Oils, jika disalahgunakan, dapat meracuni ikan dan organisme air lainnya. Untuk alasan itu, EPA telah
menetapkan tindakan pencegahan khusus pada label untuk mengurangi resiko tersebut. Selain, US
Geological Survey (USGS) melakukan penelitian pada efek pada unggas air dalam lingkungan alam.
Rekomendasi ODFW Penggunaan Minyak: kecuali tidak ada alternatif biologi lainnya yang tersedia
(seperti sebelumnya tercantum larvicides dan pupicides), ODFW merekomendasikan bahwa
pengendalian vektor kabupaten tidak boleh menggunakan GB-1111, BVA 2 atau Bonide. BVA 2 juga
memiliki label peringatan berikut: produk ini beracun untuk ikan dan organisme perairan. [xix]

8. Space spraying
Space spraying digunakan untuk mengcover area yang cukup luas dan diaplikasikan outdoor dengan
menggunakan mist atau fog. Alat yang digunakan antara lain portable fogging machines, knapsack
mist-blower machines, vehicle-mounted fogging machines, atau dari aircraft untuk memancarkan
pestisida pada area uang cukup luas. Space spraying tidak sutabel untuk pengendalian malaria
karena sebagian besar anopheles beristirahat indoor. Metode ini membutuhkan para ahli dan
memerlukan dana cukup besar. Pemancaran insektisida dari pesawat lebih akurat daripada
menggunakan mesin dari atas tanah. Cara ini dilakukan saat pagi atau malam hari.[xx]
Pengendalian vector secara kimiawi diberlakukan jika pengendalian secara fisik dan bilogi gagal
untuk mengendalikan populasi nyamuk National Pollution Discharge Elimination System (NPDES)
mengijinkan aplikasi larvasida pada permukaan air. Prinsip penggunaan pestisida antara lain:
a. Penggunaan pestisida merupakan jalan terakhir untuk melengkapi pengendalian vector secara
biologi, phisik atau pengendalian secara alami.
b. Aplikasi pestisida tidak membahayakan organisma non target.
c. Penggunaan pestisida untuk perlakukan lokasi spesifik tempat nyamuk (yang sedang
menyebabkan gangguan atau menciptakan suatu masalah kesehatan masyarakat) berkembang biak
d. Penerapan pestisida yang selektif berdasarkan siklus hidup nyamuk
Penerapan pestisida seturut pemerintah pusat, peraturan, dan hukum, dan sesuai dengan aturan
pemakaian.



[i] Anonym. 2009. Programs
Chemical Control http://sjmosquito.org/programs/chemical-control.htm diakses pada tanggal 16
Oktober 2009
[ii] Anonym.
2009. Encyclopedia > Mosquito.http://www.statemaster.com/encyclopedia/Mosquito diakses pada
tanggal 16 Oktober 2009
[iii] Sri Oemijati. 1990. Masalah dalam Pemberantasan Filariasis di Indonesia Cermin Dunia
Kedokteran No. 64,
1990http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/04_64MasalahdalamPemberantasanFilariasis.pdf/04_64
MasalahdalamPemberantasanFilariasis.pdf diakses pada tanggal 16 Oktober 2009
[iv] World Health Organization. 1995. Vector Control For Malaria and Other Mosquito-Borne
Diseases: Report of a WHO Study Group (WHO technical report series;
857) http://whqlibdoc.who.int/trs/WHO_TRS_857.pdf diakses pada tanggal 15 Oktober 2009
[v] WHO Vector Control. 2008. Management of Dengue
Epidemichttp://searo.who.int/en/Section10/Section332/Section366_1211.htm diakses pada tanggal
12 November 2009
[vi] Anonym. 2009. MMF Agnique
Surfactant http://www.bugsource.com/agnique_mmf_surfactant.html diakses pada tanggal 12
November 2009
[vii] Anonim. 2009. AGNIQUE MMF
monomolecularhttp://www.myadapco.com/viewproduct.jsp?id=Agnique%20MMF&cat=larvicidesdi
akses pada tanggal 12 November 2009
[viii] Anonym. 2009. Pengendalian Tikus, Nyamuk,
Kecoa.http://www.bayer.co.id/ina/cs_es_problems.php?p_id=2 diakses pada tanggal 16 Oktober
2009
[ix] Rita Kusriastuti. 2007. Fogging, upaya sia-sia dalam penanggulangan demam
berdarah? http://www.medicastore.com/med/artikel.php?id=195&CID= diakses pada tanggal 12
November 2009
[x] WHO Pesticide Evaluation Scheme (WHOPES). 2003. Space spray
aplication. http://whqlibdoc.who.int/hq/2003/WHO_CDS_WHOPES_GCDPP_2003.5.pdf diakses
pada tanggal 12 November
[xi] Norman G. Gratz . 1999. Space Sprays for the Control of Aedes aegypti in South-East Asia and the
Western Pacific. Dengue Bulletin Volume 23, Desember-
1999http://www.searo.who.int/en/Section10/Section332/Section521_2439.htm diakses pada
tanggal 12 November
[xii] Hadi Suwasono, Damar Tri Boewono, Hasan Boesri, Mujiyono, Raharjo. 2001. Efikasi Permethrin
dengan Aplikasi ULV terhadap Culex quinquefasciatus. Cermin Dunia Kedokteran No. 131,
2001http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/13_EfikasiParmethrindgnAplikasiULV.pdf/13_EfikasiParm
ethrindgnAplikasiULV.html diakses pada tanggal 12 November 2009
[xiii] Kristina, Isminah, Leny Wulandari. 2004. Demam Berdarah
Denguehttp://www.litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm diakses pada
tanggal 12 November 2009
[xiv] R. Srinivasan & M. Kalyanasundaram. 2006. Ultra low volume aerosol application of
deltacide. Indian J Med Res 123, Januari 2006, hlm 55-
60http://medind.nic.in/iby/t06/i1/ibyt06i1p55.pdf diakses pada tanggal 12 November 2009
[xv] Clint W. HOFFMANN, Todd W. WALKER, Bradley K. FRITZ. 2008. SPRAY CHARACTERIZATION OF
ULTRA-LOWVOLUME
SPRAYERShttp://www.afpmb.org/pubs/dwfp/publications/FY09/Hoffmann&7al,2009.pdf diakses
pada tanggal 12 November 2009
[xvi] C. S-Lofgren, RM Altman, BM GLANCEY. 2001. CONTROL OF ANOPHELINE SPECIES IN THE
CANAL ZONE WITH ULTRA-LOW VOLUME SPRAYS OF MALATHION AND FENTHION. Med. Entomol.,
Med. Hyg., 24: 193-19 $. 7: 85-91. http://www.killmosquito.org/studies diakses pada tanggal 12
November 2009
[xvii] Anonim. 2008. Control Solutions SynerPro PBO Piperonyl Butoxide Liquid
Conc. http://www.bugpage.com/xcart/control-solutions-synerpro_pbo_piperonyl-butoxide-liquid-
conc.-quart.html diakses pada tanggal 12 November 2009
[xviii] Daniel B. Fishbein. 2008. Epidemic Vector Control Burma Medical Association http://bma-
na.net/english/home/dhf_files/Vector.pdf diakses pada tanggal 12 November 2009
[xix] J. Zarnowitz, ODFW, Fish Division. 2004. ODFW Review of Vector Control District Plans: ODFW
Involvement: Protecting Fish, Wildlife and Their Habitats During Vector Control
Activitieshttp://www.dfw.state.or.us/fish/water/docs/ODFW_Vector_Control_Plan_Review_200412
07.pdf diakses pada tanggal 16 Oktober 2009
[xx] WHO. 2008. Principal Control
Measures.http://www.who.or.id/eng/contents/aceh/wsh/books/evc/evc-03.pdf diakses pada
tanggal 17 Oktober 2009