Anda di halaman 1dari 58

LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I

1


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa kami dapat
menyelesaikan pembuatan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP) Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I Direktorat Jenderal Bina
Marga Tahun 2013 dengan lancar dan tepat waktu.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I Direktorat Jenderal Bina Marga Tahun 2013 ini disusun untuk memenuhi kewajiban
sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 1999
tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.

Penyusunan LAKIP Tahun 2013 mengacu kepada dokumen Renstra Direktorat Jenderal Bina
Marga Tahun 2010-2014, Rencana Kinerja Tahunan, Penetapan Kinerja Tahun 2013, DIPA Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I dan capaian kinerja sasaran dan kegiatan yang telah
dilaksanakan oleh seluruuh Satker di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Nasional I Direktorat
Jenderal Bina Marga pada Tahun 2013.

Dengan terselesaikannya LAKIP Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I tahun 2013 ini,
sehingga dapat terciptanya akuntabilitas kinerja di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I khususnya dan Kementerian Pekerjaan Umum pada umumnya serta kami
menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang
terlibat dalam penyusunan LAKIP termasuk kepada pihak-pihak yang memberikan masukan dan
koreksi guna penyempurnaannya.

Demikian LAKIP Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I Direktorat Jenderal Bina Marga
Tahun 2013 ini kami susun untuk dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

Medan, Januari 2014
Kepala Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional I


Ir. Zamharir Basuni, MMT
NIP. 19580514 198503 1 013

LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
2



DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR....................................................................................................... 1
DAFTAR ISI...................................................................................................................... 2
RINGKASAN EKSEKUTIF............................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................ 8
1.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi ................................................. 8
1.2 Kondisi dan Tantangan Pembangunan .................................................. 15
1.3 Rencanna Strategis................................................................................. 27
1.4 Sistematika Penyusunan LAKIP ... 29

BAB II RENCANA KINERJA TAHUNAN DAN PERJANJIAN KINERJA ... 31
2.1 Rencana Kinerja Tahunan..................................................................... 31
2.2 Perjanjian Kinerja.............................................. 32

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA.................................................................. 35
3.1 Evaluasi dan Analisis Kinerja........................................... 35
3.2 Evaluasi dan Analisis Anggaran........................................................... 50
3.3 Hal-Hal yang Memerlulkan Perhatian untuk Peningkatan Kinerja...... 54

BAB IV PENUTUP.................................................................................................... 56
4.1 Keberhasilan dan Kegagalan .... 56
4.2 Permasalahan dan Kendala Utama Serta Strategi Pemecahannya ... 56
4.3 Harapan 56

LAMPIRAN



LAMPIRAN
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
3


RINGKASAN EKSEKUTIF


1. Tujuan dan Sasaran
Berdasarkan Peraturan Presiden R.I. Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi,
Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara R.I. tugas Kementerian PU adalah
membantu Presiden dalam menyelenggarakan sebagian urusan pemerintahan di bidang pekerjaan
umum. Penjabaran tugas tersebut dalam lingkup kementerian telah dipertegas melalui Peraturan
Menteri PU 14/PRT/M/2006 tanggal 17 Juli 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pekerjaan umum dan unit-unit dibawahnya termasuk menetapkan tugas dan fungsi
masing-masing Unit kerja di lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga.Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional adalah unit pelaksana teknis yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Direktur Jenderal Bina Marga yang secara teknis dibina oleh Direktur terkait.
Adapun Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I terdiri atas 10 Satker di 2 Provinsi (Aceh dan
Sumatera Utara).
Analisis kinerja instansi secara keseluruhan diperlukan untuk dapat menginterpretasikan
keberhasilan dan kegagalan secara lebih luas, analisis akuntabilitas kinerja meliputi:
a. Uraian keterkaitan pencapaian kinerja sasaran dan kegiatan di dalam setiap program dan
sasaran tahunan sebagaimana ditetapkan dalam Review Renstra 2010-2014
b. Kondisi pencapaian program dan sasaran sesuai dengan kebijakan dalam Renstra.
c. Evaluasi kebijakan untuk mengetahui ketepatan dan efektivitas kebijakan.
d. Untuk mengetahui Persentase Pencapaian Rencana Tingkat Capaian di akhir tahun
berdasarkan Penetapan Kinerja yang telah di targetkan.
Penerapan akuntabilitas kinerja dan pelaporan di lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I pada tahun 2013 telah berjalan baik sesuai dengan yang diharapkan karena
keseluruhan elemen sistem AKIP sudah diterapkan sehingga terjadi Peningkatkan perwujudan
budaya akuntabilitas kinerja pada jajaran unit kerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
guna mewujudkan good governance yang dicita-citakan.





LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
4


2. Pencapaian
Berdasarkan hasil pengukuran kinerja, dilakukan evaluasi pencapaian kelompok
indikator kinerja kegiatan dan sasaran unutk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai
keberhasilan dan kegagalan pencapaian sasaran dalam suatu program. Evaluasi juga bertujuan
untuk mengidentifikasikan kendala yang dijumpai dan hal-hal yang harus diantisipasi dalam
rangka pencapaian misi dan sebagai umpan balik pelaksanaan program/kegiatan dimasa
mendatang.
Pada sasaran strategis meningkatnya kualitas layanan jalan nasional dan pengelolaan
jalan daerah, pencapaian kinerja kegiatan pada program penyelenggaraan jalan nasional, sebesar
100% dengan rincian pencapaian aoutput sebagai berikut :
Pada dasarnya pencapaian kegiatan dari masing-masing output indikator kinerja Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I untuk sasaran strategis meningkatnya kualitas layanan jalan
nasional dan pengelolaan jalan daerah telah memenuhi target yang telah ditetapkan pada
Penetapan Kinerja (PK) TA.2013 (100% tercapai)
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target Realisasi %
Meningkatnya
Kualitas Layanan
Jalan Nasional dan
Pengelolaan Jalan
Daerah




Outcome
Meningkatnya dukungan
penyelenggaraan jalan nasional
100,00 % 100,00 % 100,00%
Output
Jumlah Monitoring Dan Evaluasi
Pelaksanaan Jalan Dan Jembatan
6 Dokumen 6 Dokumen 100,00%
Jumlah dokumen Penyiapan
Bahan Usulan Program Tahunan
dan 5 Tahunan
1 Dokumen 1 Dokumen 100,00%
Jumlah Bahan Jalan & Jembatan 1 Ton 1 Ton 100,00%
Jumlah Bahan dan Peralatan Jalan
& Jembatan
1 Unit 1 Unit 100,00%
Jumlah Layanan Publik (PNBP) 12 Bulan
Layanan
12 Bulan
Layanan
100,00%
Jumlah Pemenuhan Unit Sarana
dan Prasarana Perkantoran
1 Unit 1 Unit 100,00%
Jumlah Layanan Perkantoran 12 Bulan 12 Bulan 100,00%
Jumlah dokumen Pengumpulan
Data Jalan dan Jembatan
2 Dokumen 2 Dokumen 100,00%
Jumlah dokumen DED dan
pengawasan
2 Dokumen 2 Dokumen 100,00%
Jumlah dokumen Penyiapan
Dokumen Lingkungan Jalan dan
Jembatan
4 Dokumen 4 Dokumen 100,00%
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/
Manajemen Mutu
1 Dokumen 1 Dokumen 100,00%
Meningkatnya kondisi mantap
jaringan jalan nasional
93,50 % 87,18 %
Output
Panjang jalan yg mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi
6 Km 6 Km 100,00%
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
5


Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi
1.280 M 1.280 M 100,00%
Panjang jembatan yg mendapat
penggantian
163 M 159 M 97,11%
Tingkat Penggunaan Jalan
Nasional
7,61 Milyar
Kendaraan
Kilometer
7,61 Milyar
Kendaraan
Kilometer

Output
Panjang Jalan yg mendapat
pemeliharaan rutin
3.599 Km 3.572 Km 99,23%
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan rutin
38.747 M 38.726 M 99,95%
Meningkatnya
Kapasitas Jalan
Nasional


Outcome
Panjang Peningkatan
Struktur/pelebaran Jalan
440 Km 370 Km 84,00%
Output
Panjang jalan yg mendapat
pelebaran
248 Km 192 Km 77,36%
Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan struktur
192 Km 178 Km 92,76%
Panjang Jalan Baru yang
Dibangun
9 Km 5 Km 55,29%
Output
Panjang jalan yg dibangun baru 3,5 Km 3,7 Km 104,86%
Panjang jembatan yang dibangun
baru
938,69 M 763,69 M 81,36%
Panjang Fly Over/Underpass/
Terowongan yg dibangun
480,00 M 480,00 M 100,00%
Panjang jalan bebas hambatan yg
dibangun
5 Km 1 Km 20,60%

3. Kinerja Keuangan
Pagu DIPA awal ABPN Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I adalah sebesar Rp.
2.999.811.771.000 di triwulan pertama TA.2013 terjadi penghematan APBN, sehingga DIPA
APBN menjadi Rp. 2.901.195.506.000 (terjadi penghematan sebesar Rp. 98.616.266.000).
Rendahnya penyerapan keuangan di akhir tahun 2013 disebabkan oleh adanya paket-paket yang
putus kontrak di Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Prov. Aceh, paket-paket yang
mengalami perpanjangan kontrak ke TA.2014 di Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I
& II Prov. Sumut, dan paket-paket dengan dana rekomposisi yang gagal lelang sehingga
dilanjutkan ke TA.2014 serta kegiatan pelaksanaan jalan bebas hambatan yang tidak dapat
terserap karena masalah pembebasan lahan.
Untuk Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Prov. Aceh tidak terserap Rp.
148.481.042.000, Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Prov. Sumut tidak terserap Rp.
51.621.257.000 dan Satker Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatab Medan Kualanamu tidak terserap
sebesar Rp. 213.621.342.000.


LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
6


Prov. Aceh
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Rencana 1,34 4,21 9,32 15,72 25,08 36,86 51,12 61,94 71,79 81,18 92,78 100,00
Realisasi - 1,70 11,91 15,03 27,17 34,33 46,21 48,65 54,09 64,49 71,11 86,22














Prov. Sumut
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Rencana 1,18 2,98 11,03 15,81 22,89 30,47 40,43 49,02 58,96 70,72 83,81 100,00
Realisasi 0,21 0,91 8,62 11,56 13,51 17,97 30,06 34,00 41,45 49,70 60,27 82,60














1,34
4,21
9,32
15,72 25,08
36,86
51,12
61,94
71,79
81,18
92,78
100,00
-
1,70
11,91
15,03
27,17
34,33
46,21
48,65
54,09
64,49
71,11
86,22
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
JAN FEB MAR APR MEI JUL JUN AGU SEP OKT NOV DES
PROV. ACEH
Rencana Realisasi
1,18
2,98
11,03
15,81
22,89
30,47
40,43
49,02
58,96
70,72
83,81
100,00
0,21
0,91
8,62
11,56
13,51
17,97
30,06
34,00
41,45
49,70
60,27
82,60
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
JAN FEB MAR APR MEI JUL JUN AGU SEP OKT NOV DES
PROV. SUMUT
Rencana Realisasi
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
7


BBPJN I
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des
Rencana 1,24 3,45 10,39 15,78 23,71 32,87 44,45 53,88 63,79 74,65 87,19 100,00
Realisasi
0,13 1,21 9,86 12,87 18,65 24,12 36,14 39,51 46,21 55,27 64,35 84,07















4. Kendala yang Dihadapi
Kendala yang dihadapi adalah kurang optimalnya realisasi rencana penyerapan keuangan
yang telah ditetapkan di awal tahun, hal ini disebabkan oleh kebijakan/peraturan yang berubah
di pertengahan tahun anggaran, pengehematan APBN di triwulan pertama dan proses Revisi
DIPA APBN yang memakan waktu cukup lama, sehingga berpengaruh terhadap penyerapan
keuangan.
Kendala kegiatan fisik yang sangat mempengaruhi kinerja BBPJN I adalah pada masalah
pelaksanaan jalan bebas hambatan Medan Kualanamu seperti kinerja kontraktor yang kurang
optimal (manajemen internal, penatapan lokasi quarry yang terlambat, tenaga kerja yang yang
kurang terampil), pembebasan lahan masih sebagian-sebagian, proses review desain yang cukup
memakan waktu





1,24
3,45
10,39
15,78
23,71
32,87
44,45
53,88
63,79
74,65
87,19
100,00
0,13
1,21
9,86
12,87
18,65
24,12
36,14
39,51
46,21
55,27
64,35
84,07
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
JAN FEB MAR APR MEI JUL JUN AGU SEP OKT NOV DES
BBPJN I
Rencana Realisasi
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
8


BAB I
PENDAHULUAN


Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP) Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I (BBPJN-I) disusun berdasarkan atas capaian kinerja dan akuntabilitas dalam
penyelenggaraan tugas pokok dan fungsi Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I yang
merupakan salah satu unit kerja di bawah Direktorat Jenderal Bina Marga, yang terbentuk
berdasdarkan peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2006 dan Nomor
21/PRT/M/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional di
Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Marga.
Berdasarkan Peraturan Pressiden R.I. Nomor 9 tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia, ditegaskan
bahwa tugas Departemen Pekerjaan Umum adalah membantu Presiden dalam menyelenggarakan
sebagian urusan pemerintahan di bidang pekerjaan umum.

1.1 TUGAS POKOK, FUNGSI DAN STRUKTUR ORGANISASI
Dalam menyelenggarakan tugas pokok dan fungsinya Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I membawahi 2 provinsi meliputi Provinsi Aceh (4 Satker) dan Provinsi Sumatera Utara
(6 Satker) dan didukung oleh unit-unit kerja yang berada di bawahnya.

a. Tugas dan Fungsi
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I mempunyai tugas melaksanakan perencanaan,
pengadaan, peningkatan kapasitas dan preservasi jalan nasional, penerapan sistem manajemen
mutu dan pengendalian mutu pelaksanaan pekerjaan, penyediaan bahan dan peralatan jalan dan
jembatan, serta penatausahaan organisasi balai besar.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam pasal 2, Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional I menyelenggarakan fungsi:
1) Penyiapan data dan informasi, penyiapan bahan penyusunan program penanganan,
pelaksanaan dan pengendalian perencanaan teknik jalan dan jembatan, persetujuan
justifikasi/pertimbangan teknis;
2) Pelaksanaan audit keselamatan jalan;
3) Pelaksanaan unit layanan pengadaan;
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
9


4) Pengendalian dan pelaksanaan analisis mengenai dampak lingkungan;
5) Pemantauan dan evaluasi standar pelayanan minimal jalan;
6) Pengendalian dan pelaksanaan analisis harga satuan pekerjaan jalan dan jembatan;
7) Pengendalian pelaksanaan dan pengawasan konstruksi jalan nasional termasuk jalan bebas
hambatan;
8) Pengendalian fungsi dan manfaat jalan nasional;
9) Pengandalian dan pelaksanaan pengadaan tanah jalan nasional;
10) Pengendalian dan pelaksanaan administrasi teknik/kontrak;
11) Pelaksanaan pengamanan fisik dan sertifikasi hasil pengadaan tanah jalan nasional;
12) Pengendalian pelaksanaan pencegahan dan penanggulangan bencana yang berdampak pada
jalan;
13) Penyediaan saran teknis penyelenggaraan jalan provinsi, kabupaten, kota dan desa;
14) Pelaksanaan penerapan sistem manajemen mutu pada kegiatan balai besar pelaksanaan jalan
nasional;
15) Pengadaan, pemanfaatan, penyimpanan, pemeliharaan dan pelayanan bahan dan peralatan
jalan dan jembatan, serta pengujian mutu konstruksi;
16) Penyusunan laporan akuntansi keuangan dan akuntansi Barang Milik Negara sebagai Unit
Akuntansi Wilayah; dan
17) Penatausahaan administrasi kepegawaian, keuangan, organisasi dan tata laksana kerja balai
dan urusan rumah tangga serta pelaksanaan koordinasi dengan instansi terkait.
Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 14/PRT/M/2011 tanggal 14 November
2011, tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum yang Merupakan
Kewenangan Pemerintah dan dilaksanakan Sendiri.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Kasatker Balai Pelaksanaan Jalan
Nasional menyelenggarakan Tugas sebagai berikut :
1) Menetapkan Rencana Umum Pengadaan
2) Mengumumkan secara luas rencana umum pengadaan paling kurang di website PU net.
3) Menetapkan Pejabat Pengadaan.
4) Menetapkan Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan.
5) Menetapkan Panitia Peneliti Kontrak.
6) Mengawasi Pelaksanaan Anggaran sesuai DIPA
7) Menyampaikan Laporan Keuangan dan laporan lainnya sesuai dengan ketentuan Perundang
undangan .
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
10


8) Menyelesaikan perselisihan antara PPK dengan ULP/Pejebat Pengadaan dalam hal terjadi
perbedaan pendapat.
9) Mengawasi Penyimpanan dan pemeliharaan seluruh dokumen Pengadaan Barang/Jasa dan
menerima hasil pekerjaan pengadaan Barang/jasa dilampirkan dokumen laporan dalam
bentuk hardcopy dan softcopy.
10) Mengirimkan dokumen laporan hasil pekerjaan dalam bentuk softcopy kepada Sekretaris
Jenderal melalui PUSDATA dan dalam bentuk hardcopy kepada unit pengelola BMN di
masing-masing Unit Kerja Eselon I.
11) Menetapkan Tim Teknis dan Tim Juri/Tim Ahli untuk pelaksanaan apabila diperlukan.
12) Melakukan seluruh tugas Satker terutama pelaksanaan rencana kerja yang telah ditetapkan
dan dituangkan didalam DIPA.
13) Memimpin pelaksanaan seluruh rencanan kerja yang telah ditetapkan dan dituangkan
didalam DIPA.
14) Memberikan pengarahan dan petunjuk petunjuk kepada pejabat intiSatker dibawahnya
untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan dan pencapaian keluaran/output yang telah
ditetapkan.
15) Mengusulkan pembantu Pejabat Inti Satker Sesuai Kebutuhan, yang selanjutnya ditetapkan
oleh Atasan Langsungnnya.
16) Menandatangani Surat Permintaan Pembayaran Uang Persediaan (SPP-UP) dan selanjutnya
menyampaikannya kepada Pejabat yang melakukan pengujian dan penandatanganan SPM.
17) Menandatangani Surat Keputusan/Surat Perintah Kerja/Kontrak (dalam hal Kasatker
merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen).
18) Dalam hal ini Kasatker tidak merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen.
Penandatanganan Surat Keputusan/surat Perintah Kerja/Kontrak dilakukan oleh Pejabat
Pembuat Komitmen .
19) Melaporkan setiap terjadinya kerugian negara menurut bentuk dan cara yang ditetapkan,
tepat pada waktunya kepada Penggunan Anggaran sesuai ketentuan Peraturan Perundang-
undangan.
20) Menyusun usulan rencana kegiatan Satker Tahunan yang merupakan bagian dari Rencana
Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKA-KL) untuk tahun berikutnya.
Tanggung Jawab Kasatker Balai Pelaksanaan Jalan Nasional I sebagai berikut :
1) Bertanggung jawab atas seluruh pelaksanaan kegiatan/rencana kerja yang tertuang an dalam
DIPA
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
11


2) Bertanggungjawab atas semua penerimaan/pemgeluaran anggaran Satker yang membebani
APBN
3) Bertanggungjawab atas kebenaran material setiap Surat Keputusan/surat Perintah
Kerja/kontrak yang ditandatanganinya serta akibat yang timbul dari SK/SPK/Kontrak
tersebut. (dalam merangkap sebagai Pejabat Pembuat Komitmen).
4) Bertanggungjawab terhadap realissasi keuangan dan pencapaian keluaran/output yang telah
ditetapkan.
5) Bertanggungjawab terhadap penatausahaan dan pemeliharaan Barang Milik/kekayaan
Negara satker.
6) BertanggungJawab atas tertib penatausahaan anggaran serta tertib pengadaan barang dan
jasa yang dialokasikan kepada Satker yang dipimpinnya sesuai peraturan yang berlaku.
7) BertanggungJawab kepada Pengguna Anggaran melalui Atasan Langsung/Pelaksana
Program.




















LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
12


b. Struktur Organisasi Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I merupakan Unit Organisasi Eselon IIB dengan
Tipe B terdiri atas :
1) Unit Kerja Eselon II B : 1 (satu) unit
2) Unit Kerja Eselon III B : 4 (empat) unit
3) Unit Kerja Eselon IV A : 9 (sembilan) unit
Dengan rincian sebagai berikut :
1) Bagian Tata Usaha, dengan 3 (tiga) Sub Bagian;
- Sub. Bagian Kepegawaian
- Sub. Bagian Keuangan dan Umum
- Sub. Bagian Barang Milik Negara
2) Bidang Perencanaan, dengan 2 (dua) seksi;
- Seksi Program dan Data
- Seksi Perencanaan Teknis dan Lingkungan
3) Bidang Pelaksanaan, dengan 2 (dua) seksi;
- Seksi Peningkatan Kapasitas
- Seksi Preservasi
4) Bidang Pengendalian Sistem Pelaksanaan, Pengujian dan Peralatan, dengan 2 (dua) seksi;
- Seksi Pengendalian Sistem Pelaksanaan
- Seksi Pengujian dan Peralatan
5) Kelompok Jabatan Fungsional.
Selain dari tugas dan fungsi sesuai dengan struktur organisasi tersebut. Kepala Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I juga sebagai Kepala Satuan Kerja Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional I dan atasan langsung dari Satuan Kerja :
Provinsi Aceh :
1) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN)
Provinsi Aceh
2) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I (PJNW I)
Provinsi Aceh
3) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II (PJNW II)
Provinsi Aceh
4) Satuan Kerja Perangkat Daerah Tugas Perbantuan (SKPD-TP) Provinsi Aceh

LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
13


Provinsi Sumatera Utara :
1) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Perencanaan dan Pengawasan Jalan Nasional (P2JN)
Provinsi Sumatera Utara
2) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I (PJNW I)
Provinsi Sumatera Utara
3) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah II (PJNW II)
Provinsi Sumatera Utara
4) Satuan Kerja Perangkat Daerah Tugas Perbantuan (SKPD-TP) Provinsi Sumatera Utara
5) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Pelaksanaan Jalan Nasional Metropolitan Medan (PJN
Metro)
6) Satuan Kerja Non Vertikal (SNVT) Pelaksanaan Jalan Bebas Hambatan Medan Kuala
Namu
Struktur Koordinasi dengan SNVT dan SKPD-TP :




















BALAI BESAR
PELAKSANAAN JALAN
NASIONAL I
PROVINSI
ACEH
PROVINSI
SUMATERA UTARA
SNVT P2JN
SNVT PJNW I
SNVT PJNW II
SKPD - TP
SNVT P2JN
SNVT PJNW I
SNVT PJNW II
BALAI I
SNVT METRO
SKPD - TP
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
14













Struktur Organisasi Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I :



























KEPALA
BALAI
BAGIAN
TATA USAHA
SUBBAG
KEPEG.
SUBBAG
KEUANGAN
& UMUM
SUBBAG
BARANG MILIK
NEGARA
BIDANG
PERENCANAAN
N
BIDANG
PELAKSANAAN
BIDANG
PENGENDALIAN SISTEM
PELAKSANAAN, PENGUJIAN
DAN PERALATAN
SEKSI
PROGRAM
DAN DATA
SEKSI
PERENCANA
AN TEKNIS
DAN
LINGKUNGAN
SEKSI
PENK.
KAPASITAS
SEKSI
PRESERVASI
SEKSI
PENGENDALIAN SISTEM
PELAKSANAAN
SEKSI
PENGUJIAN DAN
PERALATAN
KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
15


c. SDM Unit Kerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
Pegawai Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I dibagi berdasarkan jumlah pegawai
menurut golongan, jumlah pegawai menurut jabatan, jumlah pegawai menurut pendidikan,
berdasa status kepegawaian seperti tabel di bawah ini:
No
Status
Pegawai
Jumlah
Golongan Pendidikan
I II III IV SD SMP SMA D1 D3 S1 S2
1. PNS 830 31 350 415 34 16 15 283 0 30 276 59
2. Non - PNS 243 32 171 40 0 13 24 163 1 7 38 0
Total

Unit Kerja Eselon II B : 1 (satu) orang PNS
Unit Kerja Eselon III B : 4 (empat) orang PNS
Unit Kerja Eselon IV A : 9 (sembilan) orang PNS

1.2 Kondisi dan Tantangan Pembangunan
a. Kondisi dan Tantangan Pembangunan
Dalam penyelenggaraan sektor jalan terutama dikaitkan dengan jalan nasional terdapat
kondisi dan tantangan yang menjadi pokok-pokok pemikiran dan memerlukan adanya rencana
tindak yang sistematis untuk penyelenggaraan jalan kedepan. Beberapa aspek utama yang perlu
diperhatikan dan menjadi tantangan masa depan penyelenggaraan.

1) Penguatan Konektivitas Nasional
Selaras dengan visi pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang- Undang
Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005-2025,
maka visi Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia adalah Mewujudkan
Masyarakat Indonesia yang Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur. Melalui langkah MP3EI,
percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi akan menempatkan Indonesia sebagai Negara
maju pada tahun 2025, oleh karena itu Balai Besar Pelakasnaan Jalan Nasional I mempunyai
tugas dalam memberi dukungan program MP3EI.
Balai Besar Pelakanaan Jalan Nasional I memberi dukungan terhadap koridor ekonomi
dalam hal ini pembangunan KEK Sei. Mangke yang membutuhkan akses jalan menuju kawasan
industri dan akses jalan menuju Pelabuhan Kuala Tanjung
Suksesnya pelaksanaan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
tersebut sangat tergantung pada kuatnya derajat konektivitas ekonomi nasional (intra dan inter
wilayah) maupun konektivitas ekonomi internasional Indonesia dengan pasar dunia. Dengan
pertimbangan tersebut Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
16


(MP3EI) menetapkan penguatan konektivitas nasional sebagai salah satu dari tiga strategi utama
(pilar utama).
Konektivitas Nasional merupakan pengintegrasian 4 (empat) elemen kebijakan nasional
yang terdiri dari Sistem Logistik Nasional (Sislognas), Sistem Transportasi Nasional (Sistranas),
Pengembangan wilayah (RPJMN/RTRWN), Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT).
Upaya ini perlu dilakukan agar dapat diwujudkan konektivitas nasional yang efektif, efisien, dan
terpadu.
Sebagaimana diketahui, konektivitas nasional Indonesia merupakan bagian dari
konektivitas global. Oleh karena itu, perwujudan penguatan konektivitas nasional perlu
mempertimbangkan keterhubungan Indonesia dengan dengan pusat-pusat perekonomian
regional dan dunia (global) dalam rangka meningkatkan daya saing nasional. Hal ini sangat
penting dilakukan guna memaksimalkan keuntungan dari keterhubungan regional dan
global/internasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diintegrasikan beberapa komponen konektivitas
yang saling berhubungan kedalam satu perencanaan terpadu. Beberapa komponen dimaksud
merupakan pembentuk postur konektivitas secara nasional, yang meliputi: (a) Sistem Logistik
Nasional (SISLOGNAS), (b) Sistem Transportasi Nasional (SISTRANAS), (c) Pengembangan
Wilayah (RPJMN dan RTRWN), dan (d) Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT).
Rencana dari masing-masing komponen tersebut telah selesai disusun, namun dilakukan secara
terpisah. Oleh karena itu, Penguatan Konektivitas Nasional berupaya untuk mengintegrasikan
keempat komponen tersebut.
Berdasarkan tugas dan fungsi Balai yang mempunyai tugas utama melaksanakan
perencanaan, pengadaan, peningkatan kapasitas dan preservasi jalan nasional, penerapan sistem
manajemen mutu dan pengendalian mutu pelaksanaan pekerjaan, serta penyediaan bahan dan
perlatan jalan dan jembatan mempunyai tugas dalam tidak turun tangan mengenai permasalahan
yang ada di lapangan dalam hal ini yang pekerjaan yang dilaksanakan Satker/PPK.
Untuk menghadapi kondisi tersebut dan menjawab tantangan pembangunan perlu
dilakukan kesepakatan kerja (kalendering kegiatan) sebagai evaluasi kinerja.
Dalam rangka penguatan konektivitas nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi
dan pengembangan wilayah, maka pembangunan jalan lintas sebagai urat nadi transportasi
merupakan hal yang harus dilaksanakan dalam jangka panjang. Jaringan jalan lintas pada
dasarnya sudah termuat dalam PP No. 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN) yang dijabarkan dalam Keputusan Ditjen. Bina Marga No.
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
17


48/KPTS/Db/2011 tentang Jalan Lintas di Pulau Sumatera sebagaimana terlihat pada gambar
berikut.














Pendekatan pengembangan jaringan jalan dalam rangka penentuan prioritas dilakukan
dengan pendekatan lintas. Adapun jaringan jalan lintas utama di Indonesia yaitu Lintas Timur
Sumatera, dengan di dukung Lintas Tengah, Lintas Barat, dan Lintas Penghubung. Untuk lintas
utama Indonesia sudah tersambung semuanya, namun lintas lainnya masih terdapat missing link
(Ruas Jalan Geumpang Pameu) di Prov. Aceh dan dalam kondisi tidak mantap Kedepan,
seluruh jalan lintas di Indonesia diharapkan tersambung dan dalam kondisi mantap.











LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
18


2) Kondisi Jaringan Jalan Nasional BBPJN I
Lintas
Panjang
(Km)
Baik Sedang R.Ringan R.Berat Mantap T. Mantap
Km % Km % Km % Km % Km % Km %
Prov. Aceh 1.803,35 1.166,70 64,70 532,58 29,53 45,92 2,55 58,15 3,22 1.699,28 94,23 104,07 5,77
Lintas Timur 533,03 437,99 82,17 88,62 16,63 4,32 0,81 2,10 0,39 526,61 98,80 6,42 1,20
Lintas Tengah 469,00 204,29 43,56 192,65 41,08 28,40 6,06 43,66 9,31 396,94 84,64 72,06 15,36
Lintas Barat 640,54 428,14 66,84 201,70 31,49 6,10 0,95 4,60 0,72 629,84 98,33 10,70 1,67
Penghubung
Lintas
94,97 56,15 59,12 32,93 34,67 4,10 4,32 1,79 1,88 89,08 93,80 5,89 6,20
Non Lintas 65,81 40,13 60,98 16,68 25,35 3,00 4,56 6,00 9,12 56,81 86,32 9,00 13,68
Prov. Sumut 2.249,63 584,76 25,99 1.249,00 55,52 207,89 9,24 207,98 9,25 1.833,76 81,51 415,87 18,49
Lintas Timur 564,55 243,87 43,20 307,18 54,41 12,60 2,23 0,90 0,16 551,05 97,61 13,50 2,39
Lintas Tengah 510,21 111,93 21,94 291,58 57,15 73,10 14,33 33,60 6,59 403,51 79,09 106,70 20,91
Lintas Barat 381,86 60,52 15,85 165,19 43,26 39,25 10,28 116,90 30,61 225,71 59,11 156,15 40,89
Penghubung
Lintas
472,86 109,12 23,08 289,42 61,21 50,24 10,62 24,08 5,09 398,54 84,28 74,32 15,72
Non Lintas 320,15 59,32 18,53 195,63 61,11 32,70 10,21 32,50 10,15 254,95 79,63 65,20 20,37
BBPJN I 4.052,98 1.751,46 43,21 1.781,58 43,96 253,81 6,26 266,13 6,57 3.533,04 87,17 519,94 12,83


3) Posisi Indonesia dalam Ranking Global dan Regional
Dewasa ini terdapat kesadaran global bahwa kunci utama kemajuan suatu bangsa
terletak pada tingkat daya saing (competitiveness level) dibandingkan dengan bangsa-bangsa
lain. Adapun konsep daya saing itu sendiri didefinisikan dan diukur dengan indeks daya
saing global
Gambar 2.2 tentang daya saing Indonesia yang bersumber dari Global
Competitiveness Index (GCI) World Economic Forum, menggambarkan posisi Indonesia
87,17%
12,83%
KEMANTAPAN JALAN BBPJN-I
Mantap Tidak Mantap
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
19


didalam tingkat kompetisi di Infrastruktur, Indonesia masih terendah di ASEAN. Bahkan
dari diagram ini terlihat bahwa Indonesia bahkan masih dibawah negara berkembang Asia.







Gambar 2.2 Posisi Indonesia dalam Infrastruktur berdasarkan GCI 2011
Sumber: World Economic Forum, 2011


Gambar 2.3 Perbandingan LPI Beberapa Negara
Sumber: World Bank, 2011

Pembangunan jalan bebas hambatan atau jalan tol, walaupun sudah diterbitkan UU
No. 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan
Umum, akan tetapi sampai saat ini masih terdapat kendala dalam pembebasan lahan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengakibatkan tidak tercapainya target
pembangunan jalan bebas hambatan (jalan tol). Kemajuan dari pembangunan jalan tol
tergolong lambat dan hanya sekitar 770 km yang sudah operasional terhitung dari awal
jalan tol di operasikan semenjak tahun 1978 (Kepmen PU No. 92/KPTS/M/2011) sampai
dengan akhir tahun 2011. Perlu adanya terobosan dalam percepatan penyelenggaraan jalan
tol. Apabila dibandingkan pembangunan jalan tol atau expressway di Indonesia dengan
lima negara ASEAN lainnya, seperti nampak pada Gambar 2.4 yang menggambarkan
0
0,5
1
1,5
2
2,5
3
3,5
4
4,5
LPI
Bea Cukai
Infrastruktur
Harga Kompetitif
Pelayanan
Tracking
Waktu
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
20


Backlog Experssway Development Indonesia masih diatas Vietnam, akan tetapi masih
dibawah Thailand, Filiphina, Cina dan
Malaysia.







Gambar 2.4 Posisi Indonesia dalam Pengembangan Jalan Tol
Sumber: World Bank, 2012
Biaya transportasi darat dibandingkan dengan empat negara lainnya seperti tampak pada
Gambar 2.5, juga terlihat bahwa Indonesia memegang rekor biaya transportasi darat tertinggi
di bandingkan empat negara lainnya.










Gambar 2.5 Perbandingan Biaya Transportasi Antar Pusat Ekonomi
Sumber: World Bank, 2012
Tingginya biaya transportasi darat adalah karena masalah konektivitas masih ada
beberapa link yang tidak mendukung konektivitas, baik karena missing link, ataupun non
direct route. Hal ini ditunjukkan pada bukti bahwa untuk menempuh perjalanan sekitar 100
km, apabila empat negara lainnya hanya memerlukan 1.5 s/d 2 jam, Indonesia memerlukan
waktu lebih dari dua jam. Apabila tingkat kecepatan rata-rata dibagi dalam 6 pulau besar,
maka hasilnya adalah sebagai berikut:
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
21



Gambar 2.6 Perbandingan Waktu Tempuh Antar Pulau Utama di Indonesia
Sumber: World Bank, 2012

Gambar tersebut menunjukkan bahwa di Pulau Jawa waktu tempuh saat ini diperkirakan
membutuhkan waktu 2.5 jam, di Pulau Sumatera sekitar 2.7 jam, sedangkan Kalimantan,
Sulawesi, Bali-NTT dan Papua-Maluku sekitar > 3 jam.

5) Posisi Indonesia dalam Kerjasama Regional
Sebagai bagian dari negara-negara di Asia Tenggara, Indonesia menyadari pentingnya
untuk berperan serta secara aktif dalam berbagai kerjasama di tingkat regional. Kondisi Asia
Tenggara sebagai salah satu kawasan yang stabil dan terus tumbuh secara ekonomi di tingkat
internasional menjadikan kawasan ini merupakan salah satu tujuan investasi utama sekaligus
motor pertumbuhan ekonomi global. Oleh karena itu, sebagai negara terbesar sekaligus
bagian dari masyarakat Asia Tenggara Indonesia perlu untuk terus memberikan kontribusi
sekaligus mengambil keuntungan dari berbagai proses kerjasama tingkat regional di Asia
Tenggara.
Sebagai bagian dari kerjasama ASEAN telah ditetapkan upaya untuk mewujudkan
ASEAN Community pada tahun 2015 dengan 3 (tiga) pilar yaitu: (i) Komunitas Politik-
Keamanan ASEAN; (ii) Komunitas Ekonomi ASEAN; dan (iii) Komunitas Sosial-Budaya
ASEAN. Dalam konteks ini, konektivitas merupakan salah satu aspek terpenting dalam
rangka mewujudkan visi dari Komunitas ASEAN tersebut. Dalam kerjasama ASEAN, di
Indonesia terdapat jaringan Trans Asia dan ASEAN Highway. Jaringan Trans Asia di
Indonesia terbentang mulai dari Pantai Timur Sumatera (AH-25), Pantai Utara Jawa hingga
Pantai Selatan Pulau Bali (AH-2). Sedangkan ASEAN Highway, meliputi Jaringan Trans
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
22


Asia ditambahkan lintas sebagian Lintas Selatan Pulau Kalimantan (AH-150), sebagian
Lintas Tengah Sumatera (AH-151), dan sebagian Lintas Tengah Jawa (AH-152).
`
Gambar 2.7 Jaringan Jalan Trans Asia-ASEAN Highway di Indonesia
Sumber: Ditjen. Bina Marga, 2012

Jaringan Trans Asia dan ASEAN Highway adalah jalan nasional dengan tahapan
pengembangannya dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama adalah penyelesaian
konfigurasi jaringan dan perancangan rute jalan nasional yang disepakati menjadi bagian
dari sistem jaringan Trans Asia dan ASEAN Highway. Tahap Kedua adalah pemasangan
marka jalan sesuai dengan standar yang disepakati dan Pelintasan Batas yang telah disepakati
sudah dapat beroperasi dan semua missing links dapat terhubungkan dan semua jalan yang
merupakan bagian dari rute ASEAN Highway telah sesuai dengan jalan Kelas III menurut
standar ASEAN Highway. Sedangkan tahap ketiga adalah peningkatan semua jalan yang
termasuk dalam rute ASEAN Highway menjadi sesuai jalan Kelas I untuk lalu lintas tinggi
dan Kelas II untuk jalan dengan lalulintas rendah yang diharapkan dapat dicapai pada 2020.
Disamping kerjasama pada tingkat ASEAN, kerjasama pada skala yang lebih sempit
yang tidak kalah pentingnya bagi Indonesia adalah antara Indonesia, Malaysia dan Thailand
yang dikenal sebagai Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) dan Brunei-
Indonesia-Malaysia-Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA). Kerjasama ini,
ditinjau dari perspektif transportasi, pada dasarnya berupaya untuk meningkatkan
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
23


konektivitas antar negara-negara yang menjadi anggotanya khususnya terkait dengan
infrastruktur jalan. Hal ini diwujudkan dengan mempercepat pelaksanaan proyek-proyek
pengembangan jalan pada wilayah-wilayah yang menjadi bagian dari koridor yang
dikembangkan.
Terkait dengan kerjasama IMT-GT, kontribusi Ditjen Bina Marga terutama adalah
pada pengembangan dan pengelolaan koridor penting yaitu Jalan Lintas Timur Sumatera
(Jalintim). Dalam hal ini sesuai dengan kesepakatan program IMT-GT sampai dengan tahun
2016 maka terdapat beberapa proyek penting di lingkungan Ditjen. Bina Marga yang perlu
mendapatkan perhatian di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I yaitu Peningkatan jalan
dan pelebaran koridor Banda Aceh Sigli Lhokseumawe Langsa Binjai Medan
sepanjang 450 km.
Penjelasan grafis mengenai proyek-proyek IMT-GT tersebut dapat dilihat pada gambar di
bawah ini.












Gambar 2.8 Proyek Ditjen Bina Marga dalam Mendukung IMT-GT sampai dengan 2016
Sumber: Based on Results of NCM & IMT-GT SCM & Consultations with Bappenas as of 5
July 2010) dalam IMT-GT update 2011
6) Preservasi Jalan
Preservasi jalan merupakan hal penting dalam penyelenggaran jalan untuk menjaga
kondisi jalan dalam keadaan mantap. Berdasarkan analisa yang dikemukakan oleh studi dari
Ditjen. Bina Marga dari total 1.243 kontrak preservasi diperoleh data-data berikut:
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
24


a) pemaketan kontrak terbilang dalam jumlah/besaran yang kecil, dan lebih dari separuh
kontrak pemeliharaan rutin anggarannya < US$. 100,000
b) mayoritas paket kontrak untuk pemeliharaan berkala anggarannya < US$. 500,000
c) dengan biaya US$. 4.455,- untuk pemeliharaan rutin dan US$. 159,920/km sampai
dengan US$. 100,000/km untuk pemeliharaan berkala tergolong mahal dibandingkan
dengan rata-rata pembiayaan rutin dan berkala internasional, empiris internasional
menunjukkan bahwa unit cost untuk pemeliharaan rutin adalah antara US$. 2,000 s/d
US$. 5,000 dan antara US$. 70,000 s/d US$. 100,000 untuk pemeliharaan berkala.
Dalam penyelenggaraan pemeliharaan rutin, masih banyak mempergunakan
swakelola, yang mengakibatkan besaran jumlah pekerja yang sistem pembiayaannya
dilakukan bulanan tanpa dihubungkan dengan pekerjaan yang telah dilakukan. Hal ini tentu
saja masih merupakan pemborosan dan perlu diperbaiki dengan mempergunakan penanganan
jalan berdasarkan kinerja atau biasa dikenal dengan istilah Performance-Based Contract
(PBC) yang saat ini baru akan dilakukan di TA.2014 pada ruas jalan Mebidangro yang
ditangani oleh Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Metropolitan Medan.

7) Penyelenggaraan Jalan Tol
Penyelengaraan jalan tol masih merupakan pekerjaan rumah yang harus diselesaikan
secara seksama, pasti dan paling penting adalah keberanian untuk mengimplementasikan
aturan yang sudah ada. Gambar 2.4 menunjukkan bahwa pembangunan jalan tol masih
terbelakang dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Apabila di masa lalu, tidak
terakomodasinya Exit Clause yaitu karena pemegang konsesi tidak memenuhi
kewajibannya, maka pada masa reformasi ini pun setelah UU No. 38 Tahun 2004 tentang
jalan terbit, diikuti dengan PP No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol masih terdapat kendala
yang perlu ditengarai oleh pemerintah.
Kesulitan dalam pengadaan lahan, walaupun saat ini sudah ada keputusan tentang
pembebasan lahan baru, penegakkan hukum terhadap pembebasan lahan masih perlu
pembuktian pada program-program pembebasan lahan jalan tol.

a) Sumber Daya Manusia
Penilaian World Bank 2012 menyatakan bahwa dalam jumlah pegawai,
dibandingkan dengan panjang jalan masih sangat besar dibandingkan rata-rata
internasional tercatat sekitar 11.2 orang/per km, dan dibandingkan standar internasional
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
25


sekitar 2 orang/100km. Pada tahun 2011, dilakukan tes kemampuan kepada para Kepala
Satuan Kerja (Satker) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada aspek pengendalian
proyek dan kontrak di sepuluh Balai Penyelenggaraan Jalan Nasional. Hasil tes tersebut
mengecewakan karena hanya sedikit dari jumlah Kepala Satker dan PPK tersebut
mendapatkan angka lulus. Oleh karena itu, untuk itu dalam jangka pendek, diperlukan
adanya pelatihan dalam jangka pendek untuk mengembalikan atau meningkatkan daya
pengelolaan proyek dari mereka yang terkait langsung dengan proyek. Tingkat
kemampuan Satker/PPK yang rendah akan mengakibatkan kualitas pekerjaan yang
menurun, dan walaupun belum mendapatkan bukti autentik, kualitas stakeholder di
konstruksi industri juga perlu ditingkatkan.
b) Penggunaan Asphalt Buton dan Peralatan dalam Penyelenggaraan Jalan
Optimalisasi penggunaan asphalt buton untuk penyelenggaraan jalan masih belum
mendapat perhatian secara seksama, studi tentang asphalt buton yang dilakukan oleh
Pusat Penelitian dan Pengembangan Jalan dan Jembatan (Pusjatan) masih belum
dioptimalisasi dalam penggunaannya, masih banyak kendala yang perlu di atasi, akan
tetapi diperlukan adanya kemauan politik untuk menomorsatukan asphalt buton, dan
menggunakannya baik dalam skala pilot proyek provinsi ataupun dalam skala regional.
Peralatan untuk penyelenggaraan jalan juga memerlukan perhatian, penambahan dana
untuk penyelenggaraan jalan ternyata masih tidak selaras dengan keberadaan peralatan
terutama di daerah Indonesia bagian timur. Dengan peralatan yang minim, akan
mengakibatkan kualitas pekerjaan menjadi menurun.
c) Keselamatan Jalan
Tingginya angka kecelakaan merupakan salah satu isu kebijakan yang cukup
strategis dalam penyelenggaraan jalan. Pada saat ini diperkirakan tidak kurang dari
36.000 fatalitas terjadi setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas yang mana merupakan
jumlah yang cukup tinggi disamping menggambarkan kematian rakyat secara sia-sia.
Disadari bahwa hal ini terkait erat dengan kualitas prasarana jalan disamping berbagai
faktor lain seperti perilaku berkendara yang buruk, kurangnya rambu-rambu lalu lintas,
faktor cuaca, dan lainnya. Keselamatan jalan tidak hanya merupakan tanggung jawab dari
Ditjen. Bina Marga, namun juga Kementerian Perhubungan, Kepolisian dan Pemerintah
Daerah.


LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
26


d) Pengarus Utamaan Gender (PUG)
Sebagaimana yang diamanatkan dalam UU No. 17 tahun 2007 tentang RPJPN dan
Perpres No. 5 Tahun 2010 tentang RPJMN, yang diperasionalkan melalui Inpres No. 9
Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender Dalam Pembangunan Nasional, bahwa
seluruh kementerian/ lembaga serta pemerintah provinsi dan kabupaten/kota diamanatkan
untuk melaksanakan pengarusutamaan gender ke dalam siklus manajemen, yakni
perencanaan, pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi atas kebijakan dan program
yang berperspektif gender sesuai dengan bidang tugas dan fungsi, serta kewenangan
masing-masing. Instruksi Presidean tersebut juga telah ditindaklanjuti dengan penerbitan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 112/PMK.02/2009 tentang Petunjuk Penyusunan
dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/ Lembaga.
Oleh karena itu, PUG ini telah menjadi komitmen Kementerian Pekerjaan Umum yang
akan diterapkan dalam setiap penyusunan kebijakan, perencanaan dan penganggaran,
serta implementasinya melalui program dan kegiatan. Adapun tolak ukur gender dilihat
dari sisi akses, partisipasi, kontrol dan manfaat.
Upaya menuju pembangunan infrastruktur ke-PU-an yang ideal dapat dilihat dari 3 (tiga)
sudut pandang, yakni dari produk-produk yang dihasilkan, proses penyelenggaraan
pembangunan ke-PU-an dan permukiman, serta kebijakan/NSPK di lingkungan
Kementerian PU sebagai inputnya. Oleh karena itu, Kementerian PU ke depan harus lebih
meningkatkan PUG tersebut.

b. Kondisi dan Tantangan Pembangunan Tahun 2013
Secara umum, lingkungan strategis yang akan berpengaruh terhadap program
pembangunan bidang penyelenggaraan jalan dan jembatan adalah pengurangan tingkat
kemiskinan, pemerataan pembangunan antar wilayah, peningkatan ketahanan pangan dan
mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional, serta peningkatan profesionalisme dan
akuntabilitas dalam penyelenggaraan dan pembangunan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 631/KPTS/M/2009, maka panjang
jalan nasional Provinsi Aceh adalah sepanjang 1803,36 Km yang terdiri dari Lintas Timur
sepanjang 533,03 Km, Lintas Tengah sepanjang 469,00 Km, Lintas Barat sepanjang 640,54 Km,
Lintas Penghubung sepanjang 94,97 Km dan Non Lintas sepanjang 65,81 Km. Panjang jalan
nasional Provinsi Sumatera Utara adalah sepanjang 2249,64 Km yang terdiri dari Lintas Timur
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
27


sepanjang 564,55 Km, Lintas Tengah sepanjang 510,21 Km, Lintas Barat sepanjang 381,86 Km,
Lintas Penghubung sepanjang 472,86 Km dan Non Lintas sepanjang 320,15 Km.
Disamping dipengaruhi oleh lingkungan strategis seperti tersebut di atas, pembangunan
di bidang jalan dan jembatan juga dihadapkan dengan berbagai tantangan yang dapat
digambarkan secara umum dengan kondisi jalan Nasional di akhir tahun 2013 adalah Provinsi
Aceh panjang jalan 1803,36 KM kondisi mantap 94,23% (Kondisi Baik 64,70%, Kondisi Sedang
29,53%) tidak mantap 5,77% (Kondisi Rusak Ringan 2,55%, Kondisi Rusak Berat 3,22%) dan
Provinsi Sumatera Utara panjang jalan 2249,64 KM mantap 81,51% (Kondisi Baik 25,99%,
Kondisi Sedang 55,52%) tidak mantap 18,49% (Kondisi Rusak Ringan 9,24%, Kondisi Rusak
Berat 9,25%).
Secara keseluruhan kondisi jalan nasional di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
kondisi mantap 87,17% (Kondisi Baik 43,21%, Kondisi Sedang 43,96%) tidak mantap 12,83%
(Kondisi Rusak Ringan 6,26%, Kondisi Rusak Berat 6,57%). Dari data tersebut untuk mencapai
target kemantapan sesuai Renstra merupakan tantangan yang cukup besar, dimana dana yang
dianggarkan setiap tahunnya lebih rendah dari yang sudah di targetkan Renstra, selain itu juga
diakibatkan oleh penghematan APBN.
Tantangan lain yang dihadapi dalam penyelenggaraan jalan nasional meliputi :
1) Terbatasnya kemampuan pemerintah dalam membiayai pembangunan prasarana jalan
dibanding dengan kebutuhan yang ada. sehingga diperlukan upaya efisiensi dan efektifitas
penggunaan dana yang ada.
2) Upaya peningkatan kinerja penyelenggara jalan baik di tingkat pusat balai dan dinas PU/
Bina Marga/SKPD sehingga terjalin hubungan yang harmonis dalam upaya penyelenggaraan
jalan baik dalam keterpaduan seluruh program, perencanaan teknis, pelaksanaan
pemeliharaan, peningkatan dan pembangunan jalan dan jembatan.
3) Kurangnya tenaga teknis
Di tahun anggaran 2013 ini Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I melaksanakan kegiatan :

1.3 Rencana Strategis
a. Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran Strategis
Visi Direktorat Jenderal Bina Marga yaitu: Terwujudnya sistem jaringan jalan yang
andal, terpadu dan berkelanjutan di seluruh wilayah nasional untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi dan kesejahteraan sosial" dengan misi sebagai berikut:
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
28


1) Mewujudkan jaringan Jalan Nasional yang berkelanjutan dengan mobilitas, aksesibilitas,
dan keselamatan yang memadai, untuk melayani pusat-pusat kegiatan nasional, wilayah dan
kawasan strategis nasional.
2) Mewujudkan jaringan Jalan Nasional bebas hambatan antar-perkotaan dan di kawasan
perkotaan yang memiliki intensitas pergerakan logistic tinggi yang menghubungkan dan
melayani pusat-pusat kegiatan ekonomi utama nasional.
3) Memfasilitasi agar kapasitas Pemerintah Daerah meningkat dalam menyelenggarakan jalan
daerah yang berkelanjutan dengan mobilitas, aksesibilitas, dan keselamatan memadai.
Guna merealisasikan visi dan misi Direktorat Jenderal Bina Marga yaitu dengan
menetapkan gabungan sasaran strategis dan sasaran rinci yang masing-masing sasaran dikaitkan
dengan tujuan dan selanjutnya di jabarkan dalam sub sasaran, yaitu sebagai berikut :
Adapun sasaran strategis berdasarkan tujuan Direktorat jenderal Bina Marga yang akan
dicapai meliputi :
Meningkatnya Kualitas layanan jalan Nasional dan Pengelolaan jalan Daerah
Adapun tujuan Direktorat jenderal Bina Marga yang akan dicapai adalah Meningkatkan
keandalan sistem jaringan infrastruktur Pekerjaan Umum dan pengelolaan Sumber Daya Air
uontuok meningkatkan daya saing melaluyoi pertumbuhan nasional, ketahanan pangan,
ketahanan air dan ketahanan energi.

b. Kebijakan, Program dan Kegiatan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
Untuk dapat merealisasikan visi, misi dan tujuan telah ditetapkan sebagaimana diuraikan
di atas, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I mendukung tercapainya Renstra DJBM
menetapkan kebijakan, program dan sasaran kegiatan yang akan ditempuh, sebagaimana dalam
Renstra Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I tahun 2010-2014 (lihat dalam Lampiran I)
1) Kebijakan yang diambil dalam pencapaian tujuan dan sasaran adalah:
Pengembangan jaringan infrastruktur transportasi jalan bagi peningkatan kelancaran
mobilitas barang dan manusia serta aksesbilitas wilayah.
2) Kegiatan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I untuk mencapai
sasaran adalah:
a) Pengumpulan data jalan dan jembatan
b) DED dan pengawasan
c) Penyiapan dokumen lingkungan jalan dan jembatan
d) Pengujian/manajemen mutu
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
29


e) Pemeliharaan rutin jalan
f) Pemeliharaan rutin jembatan
g) Pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan
h) Pemeliharaan berkala/rehabilitasi jembatan
i) Penggantian jembatan
j) Monitoring dan evaluasi pelaksanaan jalan dan jembatan
k) Penyiapan bahan usulan program tahunan dan 5 tahunan
l) Bahan jalan dan jembatan
m) Bahan dan peralatan jalan dan jemabatan
n) Pemenuhan unit prasarana dan sarana perkantoran
o) Layanan publik
p) Layanan perkantoran
q) Pelebaran jalan
r) Rekonstruksi/peningkatan struktur
s) Pembangunan jalan baru
t) Pembangunan jembatan baru
u) Pembangunan fly over
v) Pembangunan jalan bebas hambatan
Sasaran kegiatan tersebut di atas didukung oleh program di Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I yaitu:
1) Meningkatnya kualitas layanan jalan nasional dan pengelolaan jalan daerah
2) Meningkatnya kapasitas jalan nasional











LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
30


1.4 Sistematika Penyusunan LAKIP
Uraian penyusunan penyusunan LAKIP secara garis besar diuraikan sebagai berikut :

1. Ringkasan Eksekutif, pada bagian ini berisi ringkasan secara menyeluruh LAKIP Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I.

2. Bab I Pendahuluan, pada bab ini berisi latar belakang, maksud dan tujuan penyusunan
LAKIP, tugas dan fungsi organisasi dan kondisi SDM Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional
I.

3. Bab II Rencana Kinerja Tahunan dan Perjanjian Kinerja, pada bab ini berisi penetapan
kinerja tahununan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I beserta Penetapan Kinerja.

4. Bab III Akuntabilitas Kinerja, pada bab ini berisi hasil pengukuran kinerja, evaluasi dan
analisis capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional
I pada tahun 2013

5. Bab IV Penutup, pada bab ini disajikan kesimpulan menyeluruh dari LAKIP Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional I dan rekomendasi perbaikan kinerja ke depan.

6. Lampiran.















LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
31


BAB II
RENCANA KINERJA TAHUNAN DAN PERJANJIAN KINERJA


2.1 Rencana Kinerja Tahunan (RKT)
Yang ingin dicapai dalam Rencana Kinerja Tahunan 2013 merupakan jabaran dari tujuan
dan sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Kinerja Direktorat Jenderal Bina Marga.
Rencana Kinerja tersebut dituangkan dalam tabel Rencana Kinerja Tahunan yang memuat
sasaran, program, kegiatan, indikator kinerja dan satuannya serta rencana tingkat capaian atau
target yang akan dapat dicapai pada akhir tahun 2013
Tujuan dan Sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan program tahun 2013,
dilaksanakan dengan melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatan sebagaimana tertuang dalam
Rencana Kinerja Tahunan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I DJBM Tahun 2013
Lampiran 3 Formulir RKT.
Untuk menentukan target yang akan dicapai dari masing-masing kegiatan dari sasaran
yang ingin dicapai, yang ditentukan dengan suatu indikator kinerja tertentu dari kelompok
indikator kinerja yaitu indikator output dan outcome.
Yang dapat dilihat pada tabel Rencana Kinerja Tahunan Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I, Direktorat Jenderal Bina Marga sebagaimana tercantum dalam Lampiran 3 Formulir
RKT.
Tabel 2.1
Rencana Kinerja Tahunan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
Meningkatnya Kualitas
Layanan Jalan Nasional
dan Pengelolaan Jalan
Daerah
Outcome
Meningkatnya dukungan penyelenggaraan jalan
nasional
100,00 %
Output
Jumlah Monitoring Dan Evaluasi Pelaksanaan
Jalan Dan Jembatan
1 Dok
Jumlah dokumen Penyiapan Bahan Usulan
Program Tahunan dan 5 Tahunan
1 Dok
Jumlah Bahan Jalan & Jembatan 1 Ton
Jumlah Bahan dan Peralatan Jalan & Jembatan 1 Unit
Jumlah Layanan Publik (PNBP) 12 Bln
Jumlah pemenuhan unit Prasarana & Sarana
Perkantoran
1 Unit
Jumlah Layanan Perkantoran 12 Bln
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
32


Jumlah dokumen pengumpulan data jalan dan
jembatan
1 Dok
Jumlah dokumen DED dan pengawasan 1 Dok
Jumlah dokumen Penyiapan Dokumen
Lingkungan Jalan dan Jembatan
1 Dok
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/ Manajemen Mutu 1 Dok
Outcome
Meningkatnya kondisi mantap jaringan jalan
nasional
93,50 %
Output
Panjang jalan yg mendapat pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
80 Km
Panjang jembatan yg mendapat pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
15.531 M
Panjang jembatan yg mendapat penggantian 462 M
Outcome
Tingkat Penggunaan Jalan Nasional 7,61 Milyar
Kenda
raan
Km
Output
Panjang Jalan yg mendapat pemeliharaan rutin 3.372 Km
Panjang jembatan yg mendapat pemeliharaan
rutin
8.052 M
Meningkatnya Kapasitas
Jalan Nasional
Outcome
Panjang peningkatan struktur/pelebaran jalan 674 Km
Output
Panjang jalan yg mendapat pelebaran 665 Km
Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan struktur
9 Km
Outcome
Panjang jalan baru yang dibangun 3 Km
Output
Panjang jalan yg dibangun baru 0 Km
Panjang jembatan yang dibangun baru 159 M
Panjang Fly Over/Underpass/ Terowongan yg
dibangun
0 M
Panjang jalan bebas hambatan yg dibangun 3 Km

2.2 Perjanjian Kinerja
Uraian kegiatan dalam mendukung tercapainya kinerja tahunan Balai Besar Pelaksanaan
Jalan Nasional I, serta untuk mengetahui rencana tingkat capaian kegiatan yang dilaksanakan,
dapat dilihat dalam tabel Rencana Kinerja Tahunan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
Tahun 2013 Lampiran 2 Formulir PK.

LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
33


Tabel 2.2
Penetapan Kinerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
Sasaran Strategis Indikator Kinerja Target
Meningkatnya Kualitas
Layanan Jalan Nasional
dan Pengelolaan Jalan
Daerah
Outcome
Meningkatnya dukungan penyelenggaraan jalan
nasional
100,00 %
Output
Jumlah Monitoring Dan Evaluasi Pelaksanaan
Jalan Dan Jembatan
6 Dok
Jumlah dokumen Penyiapan Bahan Usulan
Program Tahunan dan 5 Tahunan
1 Dok
Jumlah Bahan Jalan & Jembatan 1 Ton
Jumlah Bahan dan Peralatan Jalan & Jembatan 1 Unit
Jumlah Layanan Publik (PNBP) 12 Bln
Jumlah pemenuhan unit Prasarana & Sarana
Perkantoran
1 Unit
Jumlah Layanan Perkantoran 12 Bln
Jumlah dokumen pengumpulan data jalan dan
jembatan
2 Dok
Jumlah dokumen DED dan pengawasan 2 Dok
Jumlah dokumen Penyiapan Dokumen
Lingkungan Jalan dan Jembatan
4 Dok
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/ Manajemen Mutu 1 Dok
Outcome
Meningkatnya kondisi mantap jaringan jalan
nasional
93,50 %
Output
Panjang jalan yg mendapat pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
6 Km
Panjang jembatan yg mendapat pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
1.280 M
Panjang jembatan yg mendapat penggantian 163 M
Outcome
Tingkat Penggunaan Jalan Nasional 7,61 Milyar
Kenda
raan
Km
Output
Panjang Jalan yg mendapat pemeliharaan rutin 3.599 Km
Panjang jembatan yg mendapat pemeliharaan
rutin
38.747 M
Meningkatnya Kapasitas
Jalan Nasional
Outcome
Panjang peningkatan struktur/pelebaran jalan 440 Km
Output
Panjang jalan yg mendapat pelebaran 248 Km
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
34


Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan struktur
192 Km
Outcome
Panjang jalan baru yang dibangun 9 Km
Output
Panjang jalan yg dibangun baru 3,5 Km
Panjang jembatan yang dibangun baru 938,69 M
Panjang Fly Over/Underpass/ Terowongan yg
dibangun
480,00 M
Panjang jalan bebas hambatan yg dibangun 5,0 Km


























LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
35


BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA

3.1 Evaluasi dan Analisis Kinerja
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) adalah perwujudan
kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan
kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan
melalui sistem pertanggungjawaban secara periodik.
Sistem akuntabilitas kinerja merupakan tatanan, instrumen dan metode
pertanggungjawaban yang diselenggarakan melalui proses dan tahapan perencanaan statejik,
perencanaan kinerja tahunan, pengukuran kinerja dan pelaporan kinerja. Sistem tersebut
membentuk siklus akuntabilitas kinerja yang tidak terputus dan terpadu, yang merupakan
infrastruktur bagi proses pemenuhan kewajiban penyelenggara pembangunan dan pemerintahan
dalam mempertanggungjawabkan keberhasilan / kegagalan pencapaian visi dan misi organisasi.
Dengan demikian, maka akuntabilitas kinerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
tahun 2013 merupakan perwujudan pertanggungjawaban kinerja dari Penetapan Kinerja Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I tahun 2013 yang diturunkan dari rencana kinerja tahunan
rencana Stategis ( Renstra ) Direktorat jenderal Bina Marga tahun 2010-2014. Rangkaian proses
perencanaan strategis tahun 2013-2014, perencanaan kinerja tahun 2013, serta keseluruhan
proses pengukuran kinerja, dan pelaporan kinerja sebagai suatu sistem akuntabilitas kinerja,
dapat dilihat pada gambar 3.1.














Gambar 3.1 Proses Pengukuran dan Pelaporan Kinerja
PERENCANAAN STRATEGIS
(Jangka Menengah/5tahun)

PERENCANAAN KINERJA (Tahunan)
PENGUKURAN KINERJA
EVALUASI KINERJA
PELAPORAN KINERJA
L A K I P

LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
36


Sebagaimana telah diuraikan pada Bab II, siklus kinerja dimulai dari perencanaan
strategis, meliputi proses penetapan visi, misi, tujuan dan sasaran, seta rencana strategis Direkorat
Jenderal Bina Marga Tahun 2010-2014, yang kemudian dijabarkan lebih lanjut kedalam Rencana
Kinerja Tahunan dan ditetapkan dalam Penetapan Kinerja setelah ditetapkannya DIPA. Pada
akhir tahun anggaran dilaksanakan pengukuran kinerja, evaluasi dan analisis akuntabilitas
pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan yang dimuat dalam penetapan kinerja.
Sesuai dengan pedoman Lembaga Administrasi Negara Nomor 239/I/6/8/2003 tentang
Perbaikan Pedoman Penyusunan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, dijelaskan bahwa
akuntabilitas kinerja ini disajikan dalam uraian hasil pengukuran kinerja, evaluasi dan analisis
akuntabilitas kinerja dari hasil pelaksanaan penetapan kinerja tahun 2013, serta langkah-langkah
antisipatif yang memerlukan perhatian pada tahun mendatang.
Dalam Penetapan Kinerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I untuk mencapai visi
dan misi dalam Renstra maka ditetapkan 2 (dua) sasran yang hasrus dilaksanakan.Sasaran
tersebut didukung satu kegiatan yang memiliki indikator kinerja. Pencapaian kinerja yang
merupakan indikator kinerja outcome yaitu capaian sasaran dan output yaitu capaian kinerja
kegiatan. Kedua indikator kinerja inilah yang digunakan sebagai dasar pengukuran capaian
kinerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I dalam penyelenggaraan infrastruktur bidang
jalan dan jembatan.
Sasaran dan kegiatan dalam Renstra Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I yang
diemban Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I dapat dilihat dalam Tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1
Sasaran dan Kegiatan dalam RKT
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nsaional I
Sasaran Strategis Kegiatan Program Renstra Output
Meningkatnya Kualitas
Layanan Jalan Nasional
dan Pengelolaan Jalan
Daerah
Outcome Outcome
Tingkat Kemantapan Jalan Penyelenggaraan Jalan Tingkat Kemantapan Jalan
Output Output
Jumlah Monitoring Dan
Evaluasi Pelaksanaan Jalan Dan
Jembatan
Jumlah Monitoring Dan
Evaluasi Pelaksanaan Jalan Dan
Jembatan
Jumlah dokumen Penyiapan
Bahan Usulan Program
Tahunan dan 5 Tahunan
Jumlah dokumen Penyiapan
Bahan Usulan Program
Tahunan dan 5 Tahunan
Jumlah Bahan Jalan &
Jembatan
Jumlah Bahan Jalan &
Jembatan
Jumlah Bahan dan Peralatan
Jalan & Jembatan
Jumlah Bahan dan Peralatan
Jalan & Jembatan
Jumlah Layanan Publik (PNBP) Jumlah Layanan Publik (PNBP)
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
37


Jumlah pemenuhan unit
Prasarana & Sarana
Perkantoran
Jumlah pemenuhan unit
Prasarana & Sarana
Perkantoran
Jumlah Layanan Perkantoran
(BLU)
Jumlah Layanan Perkantoran
(BLU)
Jumlah dokumen pengumpulan
data jalan dan jembatan
Jumlah dokumen pengumpulan
data jalan dan jembatan
Jumlah dokumen DED dan
pengawasan
Jumlah dokumen DED dan
pengawasan
Jumlah dokumen Penyiapan
Dokumen Lingkungan Jalan
dan Jembatan
Jumlah dokumen Penyiapan
Dokumen Lingkungan Jalan
dan Jembatan
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/
Manajemen Mutu
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/
Manajemen Mutu
Outcome Outcome
Meningkatnya kondisi mantap
jaringan jalan nasional
Meningkatnya kondisi jalan
mantap
Output
Panjang jalan yg mendapat
pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
Panjang jalan yg mendapat
pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan
berkala/rehabilitasi
Panjang jembatan yg mendapat
penggantian
Panjang jembatan yg mendapat
penggantian
Outcome Outcome
Tingkat Penggunaan Jalan
Nasional
Tingkat Penggunaan Jalan
Nasional
Output Output
Panjang Jalan yg mendapat
pemeliharaan rutin
Panjang Jalan yg mendapat
pemeliharaan rutin
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan rutin
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan rutin
Meningkatnya Kapasitas
Jalan Nasional
Outcome Outcome
Panjang peningkatan
struktur/pelebaran jalan
Panjang peningkatan
struktur/pelebaran jalan
Output Output
Panjang jalan yg mendapat
pelebaran
Panjang jalan yg mendapat
pelebaran
Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan
struktur
Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan
struktur
Outcome Outcome
Panjang jalan baru yang
dibangun
Panjang jalan baru yang
dibangun
Output Output
Panjang jalan yg dibangun baru Panjang jalan yg dibangun baru
Panjang jembatan yang
dibangun baru
Panjang jembatan yang
dibangun baru
Panjang Fly Over/Underpass/
Terowongan yg dibangun
Panjang Fly Over/Underpass/
Terowongan yg dibangun
Panjang jalan bebas hambatan
yg dibangun
Panjang jalan bebas hambatan
yg dibangun


LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
38


Hasil pengukuran tingkat pencapaian kinerja sasaran-sasaran tersebut dapat dilihat dalam
lampiran Pengukuran Kinerja dan tabel
Pengukuran kinerja kegiatan fisik dan non fisik berupa kinerja output dilakukan terhadap
capaian kinerja output. Tingkat capaian kinerja output dilakukan dangan membandingkan
realisasi tingkt capaian terhadap target.
Tingkat capaian kinerja output adalah dari berbagai indikator kinerja output (Jumlah
dokumen pengumpulan data jalan dan jembatan, Jumlah dokumen DED dan pengawasan, Jumlah
dokumen penyiapan dokumen lingkungan jalan dan jembatan, Jumlah pelaksanaan
pengujian/manajemen mutu, Panjang jalan yang mendapat pemeliharaan rutin, Panjang jalan
yang mendapat pemeliharaan berkala/rehabilitasi, Panjang jembatan yang mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi, Panjang jembatan yang mendapat penggantian, Jumlah
monitoring dan evaluasi pelaksanaan jalan dan jembatan, Jumlah dokumen penyiapan bahan
usulan program tahunan dan 5 tahunan, Jumlah bahan jalan dan jembatan, Jumlah bahan dan
peralatan jalan dan jembatan, Jumlah layanan publik (PNBP), Jumlah layanan perkantoran
(BLU), Panjang jalan yang mendapat pelebaran, Panjang jalan yang mendapat
rekonstruksi/peningkatan struktur, Panjang jalan yang dibangun baru, Panjang jembatan yang
dibangun baru, Panjang fly over/underpass/terowongan yang dibangun, Panjang jalan bebas
hambatan yang dibangun terhadap target 100%.
Tujuan pemeliharaan jalan adalah untuk mempertahankan kondisi jalan mantap sesuai
dengan tingkat pelayanan dan kemampuannya pada saat jalan tersebut selesai dibangun dan
dioperasikan sampai dengan tercapainya umur rencana yang telah ditentukan.
Bertitik tolak dari kondisi mantap tersebut, pemeliharaan jalan perlu dilakukan secara
terus-menerus/rutin dan berkesinambungan khususnya pada jenis konstruksi jalan yang
menggunakan sistem perkerasan lentur (flexible pavement). Pemeliharaan jalan tidak hanya
pada perkerasannya saja, namun mencakup pula pemeliharaan bangunan pelengkap jalan dan
fasilitas beserta sarana-sarana pendukungnya.
Suatu perkerasan jalan sekuat apapun tanpa didukung oleh fasilitas drainase akan
dengan mudah menurun kekuatannya sebagai akibat dari melemahnya kepadatan lapisan
pondasi dan terurainya butiran agregat dari bahan pengikatnya. Pemeliharaan saluran tepi di
kiri-kanan badan jalan menjadi penting dan air harus senantiasa mengalir dengan lancar karena
genangan air hujan akan melemahkan struktur perkerasan secara menyeluruh. Sedangkan retak
rambut pada lapisan permukaan suatu perkerasan bila tidak segera ditutup akan semakin
membesar dan dimasuki air hujan yang berdampak terurainya ikatan antara butiran agregat dari
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
39


bahan pengikatnya, dan menjadi kerusakan yang lebih besar. Kondisi ini akan semakin cepat
bertambah parah lagi bila beban lalulintasnya padat dan berat.
Penanganan pemeliharaan jalan dapat dilakukan secara rutin maupun berkala.
Pemeliharaan jalan secara rutin dilakukan secara terus-menerus sepanjang tahun dan dilakukan
sesegera mungkin ketika kerusakan yang terjadi belum meluas. Perawatan dan perbaikan
dilakukan pada tahap kerusakan masih ringan dan setempat. Hal ini dilakukan sehubungan
dengan biaya perbaikannya yang relatif rendah dan cara memperbaikinyapun relatif
mudah/ringan.
Pemeliharaan jalan secara berkala dilakukan secara berkala dengan melakukan pula
peremajaan terhadap bahan perkerasan maupun bahan lainnya. Selain itupun, dilakukan perataan
kembali terhadap permukaan jalan. Baik pemeliharaan rutin maupun pemeliharaan berkala, tidak
dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan struktur.
Sehubungan dengan hal tersebut, pengendalian dan pengawasan pemeliharaan jalan perlu
dilakukan secara rutin maupun berkala agar kerusakan jalan beserta bangunan pelengkap dan
fasilitas pendukungnya sejak dini dapat diditeksi jenis dan volume serta cara penanganan yang
harus dilakukan segera. Selain itupun perlu diketahui lokasi kerusakannya, khususnya pada
lokasi tertentu yang selalu terjadi kerusakan berulang.
Pengendalian dan pengawasan pekerjaan pemeliharaan jalan menjadi penting dalam
upaya meningkatkan kemampuan dan pengembangan jaringan jalan yang telah mantap guna
melayani lalulintas transportasi darat dan daerah-daerah yang berkembang.
Pengukuran kinerja kegiatan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I yang merupakan
capaian indikator output dapat dilihat pada Tabel 3.2

Tabel 3.2
Pengukuran Kinerja Kegiatan
Sasaran
Strategis
Indikator Kinerja Target Realisasi
Persentase
Capaian
Ket

Tingkat Kemantapan Jalan 100,00 % 100,00 % 100,00%
Output
Jumlah Monitoring Dan Evaluasi
Pelaksanaan Jalan Dan Jembatan
6 Dok 6 Dok 100,00%
Jumlah dokumen Penyiapan Bahan
Usulan Program Tahunan dan 5
Tahunan
1 Dok 1 Dok 100,00%
Jumlah Bahan Jalan & Jembatan 1 Ton 1 Ton 100,00%
Jumlah Bahan dan Peralatan Jalan
& Jembatan
1 Unit 1 Unit 100,00%
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
40


Jumlah Layanan Publik (PNBP) 12 Bln 12 Bln 100,00%
Jumlah pemenuhan unit Prasarana
& Sarana Perkantoran
1 Unit 1 Unit 100,00%
Jumlah Layanan Perkantoran
(BLU)
12 Bln 12 Bln 100,00%
Jumlah dokumen pengumpulan data
jalan dan jembatan
2 Dok 2 Dok 100,00%
Jumlah dokumen DED dan
pengawasan
2 Dok 2 Dok 100,00%
Jumlah dokumen Penyiapan
Dokumen Lingkungan Jalan dan
Jembatan
4 Dok 4 Dok 100,00%
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/
Manajemen Mutu
1 Dok 1 Dok 100,00%
Outcome
Meningkatnya kondisi mantap
jaringan jakan nasional
93,50 % 87,17 % 93,29%
Output
Panjang jalan yg mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi
6 Km 6 Km 100,00%
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi
1.280 M 1.280 M 100,00%
Panjang jembatan yg mendapat
penggantian
163 M 159 M 97,11%
Outcome
Tingkat Penggunaan Jalan Nasional 7,61 Milyar
Kendar
aan Km
7,36
Milyar
Kenda
raan
Km

Output
Panjang Jalan yg mendapat
pemeliharaan rutin
3.599 Km 3.572 Km 99,23%
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan rutin
38.747 M 38.726 M 99,95%
Meningkatnya
Kapasitas Jalan
Nasional
Outcome
Panjang peningkatan
struktur/pelebaran jalan
440 Km 370 Km 83,61%
Output
Panjang jalan yg mendapat
pelebaran
248 Km 192 Km 77,36%
Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan struktur
192 Km 178 Km 91,72%
Outcome
Panjang jalan baru yang dibangun 9 Km 5 Km 55,29%
Output
Panjang jalan yg dibangun baru 3,5 Km 3,7 Km 104,86%
Panjang jembatan yang dibangun
baru
938,69 M 763,69 M 81,36%
Panjang Fly Over/Underpass/
Terowongan yg dibangun
480,00 M 480,00 M 100,00%
Panjang jalan bebas hambatan yg
dibangun
5,0 Km 1 Km 20,60%

Pada kebijakan pengembangan jaringan infrastruktur transportasi jalan bagi peningkatan
kelancaran mobilitas barang dan manusia serta aksesibilitas wilayah, pencapaian kinerja kegiatan
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
41


pada program penyelenggaraan jalan nasional, sebesar 100% dengan ilustrasi sasaran sebagai
berikut :
1. Dalam pencapaian sasaran Meningkatnya kualitas layanan jalan nasional dan pengelolaan
jalan daerah, pencapaian kinerja kegiatan fisik jalan dan jembatan, perencanaan dan
pengawasan, pemrogrman dan pembiayanaan penyelenggaraan jalan dapat diuraikan sebagai
berikut :
a. Penyiapan dokumen lingkungan jalan dan jembatan, dengan pencapaian kinerja sebesar
100% yaitu tersusunya sebanyak 4 dokumen dari 4 dokumen yang ditargetkan dengan
realisasi penyerapan keuangan sebesar 90,00%. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan
Hidup No.05 tahun 2012 yang menyatakan setiap kegiatan perbaikan jalan yang tidak
mengadakan pembebasan lahan lebih dari 40 ha tidak diwajibkan melaksanakan AMDAL
maka dilakukan Kajian Upaya Pengelolaan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Agar
setiap dampak lingkungan yang mungkin ditimbulkan oleh kegiatan peningkatan dan
pelebaran ruas jalan dapat dikelola dan dipantau dengan sebaik-baiknya maka dilakukanlah
penyiapan dokumen lingkungan jalan dan jembatan.

b. Pelakasanaan pengujian/manajemen mutu, dengan pencapaian kinerja sebesar 100% yaitu
tersusunya sebanyak 1 dokumen dari 1 dokumen yang ditargetkan, dengan uraian sistem
manajemen mutu, penyelenggaraan laboratorium dan sistem manajemen peralatan dengan
realisasi penyerapan keuangan sebesar 89,65%.

c. Monitoring dan evaluasi pelaksanaan jalan dan jembatan, dengan pencapaian kinerja
sebesar 100% yaitu tersusunya sebanyak 1 dokumen dari 1dokumen yang ditargetkan,
dengan uraian kegiatan penatausahaan keuangan dan umum, penatausahaan kepegawan,
leger jalan, sistem informasi publik, inventarisasi aset Negara, pengawasan pekerjaan
JUCA IP-545, KMP, evaluasi pelaksanaan fisik dan pelaporan, pengawasan pelaksanaan
pekerjaan, kegiatan UPCA dan kegiatan pracetak dengan realisasi penyerapan keuangan
sebesar 36,86%. Rendahnya penyerapan keuangan ini diakibatkan tidak terserapnya
kegiatan pengawasan pekerjaan JICA IP-545 sebsesar Rp. 14.497.759.000 (hanya terserap
Rp. 4.283.241.000 dari Rp. 18.781.000.000)


LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
42


d. Penyiapan bahan usulan program dan 5 tahunan, dengan pencapaian kinerja sebesar 100%
yaitu tersusunya sebanyak 1 dokumen dari 1 dokumen yang ditargetkan dengan uraian
kegiatan pengendalian desain program kegiatan tahunan penyusunan DIPA/RKAKL dan
monitoring dan evaluasi dimana realisasi penyerapan keuangan sebesar 94,36%.

e. Bahan jalan dan jembatan, dengan pencapaian kinerja sebesar 100% yaitu tersusunya
sebanyak 1 ton dari 1 ton yang ditargetkan dengan realisasi penyerapan keuangan sebesar
75,57%. Bahan jalan dan jembatan yang dimaksudkan adalah pengadaan bahan di PPK
UPCA dan Pracetak untuk kegiatan pekerjaan jalan dan jembatan.

f. Bahan dan peralatan jalan dan jembatan, dengan pencapaian kinerja sebesar 100% yaitu
tersusunya sebanyak 1 unit dari 1 unit yang ditargetkan dengan realisasi penyerapan
keuangan sebesar 94,62%. Pada awalnya kegiatan pengadaan alat berat/alat bantu ini terdiri
dari 5 kegiatan yaitu pengadaan alat pemadat, alat laboratorium, flat bed truck, alat
transportasi dan alat bantu jembatan, namun di triwulan pertama 2013 terjadi penghematan
APBN dimana anggaran yang dipotong adalah dari pengadaan ini kecuali pengadaan alat
laboratorium.

g. Layanan Publik, dengan pancapaian kinerja sebesar 100% dan realisasi penyjerapan
keuangan sebesar 93,54%

h. Pemenuhan kebutuhan prasarana dan sarana perkantoran, dengan pencapaian kinerja
sebesar100% yaitu terlaksananya sebanyak 1 unit dari 1 unit yang ditargetkan dengan
realisasi penyerapan keuangan sebesar 96,59%

i. Layanan perkantoran, dengan pencapaian kinerja 100% dengan realisasi penyerapan
keuangan sebesar 93,15%.

j. Pengumpulan data jalan dan jembatan, dengan pancapaian kinerja sebesar 100% yaitu
tersusunya sebanyak 2 dokumen dari 2 dokumen yang ditargetkan, dengan uraian survey
dan investigasi jalan dan jembatan yang terdiri dari survey leger jalan, survey BMS, survey
IRMS, survey NAASRA, survey ATC Permanent (PTMS), survey banklemen beam (BB),
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
43


survey Road Condition (RCS), survey ATC Temporary dan
penyusunan/pengumpulan/pengolahan/updating/analisa data statistik.

k. Perencanaan teknis dan pengawasan teknis jalan dan jembatan, dengan pencapaian kinerja
sebesar 100% yaitu tersusunya sebanyak 2 dokumen dari 2 dokumen yang ditargetkan,
dengan uraian pengawasan teknik jalan dan jembatan serta perencanaan teknik (DED) jalan
dan jembatan

l. Pemeliharaan rutin jalan, dengan pencapaian kinerja sebesar 99,23% yaitu terlaksanannya
sepanjang 3.572 Km dari 3.599 Km yang ditargetkan. Pemeliharaan rutin jalan adalah
kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi pada ruas-ruas
jalan dengan kondisi pelayanan mantap. Menurunnya penanganan pemeliharaan rutin di
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I ini disebabkan pada program kegiatan awal tahun
2013 terjadi salah penempatan ruas seperti pada Satker Pelaksanaan Jalan Nasional
Wilayah I memprogramkan pemeleiharaan rutin untuk ruas jalan Metropolitan Medan yang
seharusnya diprogramkan pada Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Metropolitan Medan.

m. Pemeliharaan rutin jembatan, dengan pencapaian kinerja sebesar 99,95% yaitu
terlaksanannya sepanjang 38.726 M dari 38.747 M yang ditargetkan. Pemliharaan rutin
jembatan adalah kegiatan merawat serta memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi
pada jembatan-jembatan dengan kondisi baik. Pekerjaan pemeliharaan rutin pada jembatan
dibatasi dalam hal pembersihan tumbuh-tumbuhan, melancarkan aliran di saluran dan
perbaikan kerusakan kecil. Menurunnya penanganan pemeliharaan rutin di Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional I ini disebabkan pada program kegiatan awal tahun 2013 terjadi
salah penempatan ruas seperti pada Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I
memprogramkan pemeleiharaan rutin untuk ruas jalan Metropolitan Medan yang
seharusnya diprogramkan pada Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Metropolitan Medan.

n. Pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan, dengan pencapaian kinerja sebesar 100% yaitu
terlaksananya pemeliharaan berkala jalan sepanjang 6 Km dari 6 Km yang ditargetkan.
Pemeliharaan berkala jalan adalah kegiatan penanganan pencegahan terjadinya kerusakan
yang lebih luas dan setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain agar penurunan
kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan rencana
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
44



o. Pemeliharaan berkala/rehabilitasi jembatan, dengan pencapaian kinerja sebesar 100% yaitu
terlaksanannya sepanjang 1.280 M dari 1.280 M yang ditargetkan. Pemeliharaan berkala
jembatan mencakup pekerjaan pemeliharaan secara berkala seperti pengecatan, perbaikan
lapisan lantai jembatan dan sebagainya serta perbaikan-perbaikan kecil pada jembatan,
bangunan pengaman dan perkuatan struktur jembatan.

p. Penggantian jembatan, dengan pencapaian kinerja sebesar 97,11% yaitu terlaksanannya
sepanjang 159 M dari 163 M yang ditargetkan. Penggantian jembatan ini diperlukan karena
untuk rehabilitasi dperbaikan besar yang berarti adalah pekerjaan pemeliharaan dalam
skala yang lebih besar dan mengarah pada penggantian dan perbaikan besar pada lantai
beton atau perbaikan besar pada bangunan bawah yang mana memerlukan pemasangan
turap (cofferdam) serta perbaikan betonan dengan jumlah yang cukup banyak.

2. Dalam pencapaian sasaran Meningkatnya kapasitas jalan nasional, pencapaian kinerja
kegiatan fisik jalan dan jembatan, dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pelebaran jalan dengan pencapaian kinerja sebesar 77,36% yaitu terlaksanannya sepanjang
192 Km dari 248 Km yang ditargetkan. Peningkatan kapasitas merupakan penanganan jalan
dengan pelebaran perkerasan, baik menambah maupun tidak menambah jumlah lajur.

b. Peningkatan struktur jalan, dengan pencapaian kinerja sebesar 91,72% yaitu
terlaksanannya sepanjang 178 Km dari 192 Km yang ditargetkan. Kerusakan pada struktur
perkerasan jalan dapat terjadi dengan kondisi yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat
kerusakannya; berat, sedang, ataupun ringan. Disarankan pada saat kondisi kerusakan
ringan dapat segera diperbaiki dengan cara pemeliharaan rutin, agar kerusakan tidak
berkembang lebih lanjut atau semakin parah yang berakibat semakin mahal biaya untuk
perbaikannya. Sesuai dengan jenis perkerasan jalan yang umumnya dilaksanakan, maka
kerusakan yang terjadi umumnya mengikuti jenis perkerasan itu masing-masing. Pada
perkerasan lentur dengan lapisan penutup, jenis kerusakan yang sering timbul antara lain
adalah lubang, bergelombang/keriting, alur, penurunan/ambles, retak buaya, retak garis,
terkelupas, dll. Oleh karena itu kondisi jalan yang seperti ini dilakukan peningkatan
struktur untuk memperlancar arus lalulintas. Rendahnya realisasi pelaksanaan diakibatkan
oleh paket-paket yang putus kontrak di Prov. Aceh. Tindakan yang sudah diklakukan
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
45


adalah melaksanakan Show Cause Meeting (SCM) tingkat Kasatker dan Tingkat Balai
untuk masing-masing paket yang mengalami masalah keterlambatan.





Kondisi 0% Kondisi 50% Kondisi 100%
Sebagai contoh pekerjaan yang selesai 100% adalah Peningkatan Struktur Jalan Krueng
Mane Bukit Rata dengan manfaat Meningkatkan kenyamanan kepada para pengguna
jalan dalam melakukan perjalanan dan dapat meningkatkan perekonomian penduduk
sekitar

c. Pembangunan jalan baru dengan pencapaian kinerja sebesar 104,86% yaitu terlaksanannya
sepanjang 3,7 Km dari 3,5 Km yang ditargetkan. Terjadinya penambahan panjang
pembangunan jalan baru dikarenakan lahan yang dibebaskan sudah bertambah sehingga
dilakukan revisi panjang penanganan agar lahan yang sudah bebas dapat dikerjakan.
Pembangunan jalan baru pada Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I dimaksudkan
bukan pembangunan jalan yang baru dibangun, tetapi dari Jalan Kabupaten yang
dikerjakan Kementerian PU karena jalan tersebut merupakan jalan akses non tol menuju
Bandara Internasional Kualanamu.











Jalan Akses Non Tol
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
46


d. Pembangunan jembatan baru dengan pencapaian kinerja sebesar 81,36% yaitu
terlaksanannya sepanjang 763,69 M dari 938,69 M yang ditargetkan.






Kondisi 0% Kondisi 50% Kondisi 100%
Pada gambar di atas adalah salah satu contoh paket kegiatan pembangunan jembatan baru
Blang Malo 1 (Permanen) pembangunan jembatan ini dilakukan akibat banjir bandang.
Jembatan ini berfungsi untuk memperlancar arus lalulintas dari suatu daerah ke daerah lain
serta mendukung pertumbuhan ekonomi.

e. Pembangunan fly over/underpass/terowongan dengan pencapaian kinerja sebesar 100%
yaitu terlaksanannya sepanjang 480 M dari 480 M yang ditargetkan. Tujuan dari
dibangunnya flyover yaitu:
1) Mengurangi maupun menghindarkan kemungkinan terjadinya kecelakaan yang berasal
dari berbagai kondisi titik konflik;
2) Menjaga kapasitas dari Simpang agar dalam operasinya dapat dicapai pemanfaatan
Simpang yang sesuai dengan rencana;
3) Dalam operasinya dari pengaturan simpang harus memberikan petunjuk yang jelas dan
pasti serta sederhana, mengarahkan arus lalu lintas pada tempatnya yang sesuai.
Adanya Simpang susun akan memberikan peranan yang sangat penting dalam
pengembangan wilayah, lalu lintas, serta aktivitas sosial dan ekonomi, maka
penempatannya harus direncanakan sejak tahap awal bersamaan dengan perencanaan
jaringan jalan raya agar jaringan jalan keseluruhan dapat memberikan manfaat maksimal
terhadap kebutuhan masyarakat akan transportasi. Dengan demikian penetapan lokasi
simpang susun, bukan hanya memperhatikan tata guna lahan dan fasilitas lalu lintas yang
ada, tetapi juga harus meliputi semua perencanaan wilayah dan perencanaan di masa yang
akan datang.
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
47


Pada pembangunan flyover di Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I dibangun di Kota
Medan tepatnya di Ringroad dimana arus lalu lintas di persimpangan ini sangat padat
sehingga sering menimbulkan konflik.


















f. Pembangunan jalan bebas hambatan dengan pencapaian kinerja sebesar 20,60% yaitu
terlaksanannya sepanjang 1 Km dari 5 Km yang ditargetkan. Penyebab keterlambatan ini
disebabkan oleh :
1) Kinerja kontraktor yang kurang optimal disebabkan oleh manajemen internal,
penempatan lokasi quarry yang terlambat dan tenaga kerja terampil yang terbatas di
Sumatera Utara.
2) Pembebasan lahan yang spot-spot (tidak menerus), lahan yang sudah bebas masih
sebagian.
3) Review design/penyesuaian memerlukan proses penelitian soft soil serta penyesuaian
geometrik dengan pembebasan lahan.
Adapun manfaat dari pembangunan jalan bebas hambatan ini adalah untuk
menghubungkan jalan bebas hambatan yang sudah ada yaitu jembatan Belmera (Belawan-
Lokasi
Simpang Jamin Ginting
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
48


Medan-Tg. Morawa) ke Bandara Internasional Kualanamu, agar mengurangi kepadatan
lalulintas menuju Bandara yang masih melalui jalan nasional. Oleh karena itu jalan bebas
hambatan ini nantinya dapat memperlancar arus lalulintas terutama jalan akses menuju
Bandara Internasional Kualanamu.


Setiap sasaran memiliki satu indikator kinerja output yang didukung oleh satu kegiatan
yang memiliki beberapa indikator kinerja output. Dari pengukuran kinerja pada kegiatan
(indikator kinerja ouput) inilah keberhasilan suatu sasaran, program, dan kebijakan dinilai.
Hasil pengukuran kinerja kegiatan untuk sasaran, dan kegiaan dapat dilihat pada lampiran
2 dalam formulir Penatapan Kinerja sedangkan hasil pengukuran cpaian sasaran dapat diperoleh
dari lampiran 4 formulir Pengukuran Kinerja.
Akhir tahun anggaran 2013 merupakan bagian tahun dari pelaksanaan renstra tahun 2010-
2014 pada masa pemerintahan SBY-Budiono pada Kabinet Indonesia Bersatu II.






LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
49


Sasaran
Strategis
Indikator Kinerja
Capaian Kinerja TA.2012 Capaian Kinerja TA.2013
Target Realisasi Target Realisasi
Meningkatnya
Kualitas
Layanan Jalan
Nasional dan
Pengelolaan
Jalan Daerah
Outcome
Tingkat Kemantapan Jalan 91,78 % 91,78 % 100,00 % 100,00 %
Output
Jumlah Monitoring Dan Evaluasi
Pelaksanaan Jalan Dan Jembatan
1 Dok 1 Dok 6 Dok 6 Dok
Jumlah dokumen Penyiapan Bahan
Usulan Program Tahunan dan 5
Tahunan
1 Dok 1 Dok 1 Dok 1 Dok
Jumlah Bahan Jalan & Jembatan 400 Ton 400 Ton 1 Ton 1 Ton
Jumlah Bahan dan Peralatan Jalan &
Jembatan
1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit
Jumlah Layanan Publik (PNBP) 12 Bln 12 Bln 12 Bln 12 Bln
Jumlah pemenuhan unit Prasarana &
Sarana Perkantoran
1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit
Jumlah Layanan Perkantoran (BLU) 12 Bln 12 Bln 12 Bln 12 Bln
Jumlah dokumen pengumpulan data
jalan dan jembatan
2 Dok 2 Dok 2 Dok 2 Dok
Jumlah dokumen DED dan
pengawasan
2 Dok 2 Dok 2 Dok 2 Dok
Jumlah dokumen Penyiapan
Dokumen Lingkungan Jalan dan
Jembatan
- Dok - Dok 4 Dok 4 Dok
Jumlah Pelaksanaan Pengujian/
Manajemen Mutu
2 Dok 2 Dok 1 Dok 1 Dok
Outcome
Meningkatnya kondisi mantap
jaringan jakan nasional
91,78 92,05 % 93,50 % 87,17 %
Output
Panjang jalan yg mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi
53,05 Km 54,32 Km 6,00 Km 6,00 Km
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan berkala/rehabilitasi
648 M 650 M 1.280 M 1.280 M
Panjang jembatan yg mendapat
penggantian
365 M 494 M 163 M 159 M
Outcome
Tingkat Penggunaan Jalan Nasional 7,36
Milyar
Kendaraa
n Km
7,36
Milyar
Kendaraa
n Km
7,61
Milyar
Kendaraa
n Km
7,36
Milyar
Kendaraa
n Km
Output
Panjang Jalan yg mendapat
pemeliharaan rutin
3.735 Km 3.723 Km 3.599 Km 3.572 Km
Panjang jembatan yg mendapat
pemeliharaan rutin
19.937 M 19.937 M 38.747 M 38.726 M
Meningkatnya
Kapasitas Jalan
Nasional
Outcome
Panjang peningkatan
struktur/pelebaran jalan
391 Km 393 Km 440 Km 370 Km
Output
Panjang jalan yg mendapat pelebaran 218 Km 220 Km 248 Km 192 Km
Panjang jalan yg mendapat
rekonstruksi/peningkatan struktur
174 Km 201 Km 192 Km 178 Km
Outcome
Panjang jalan baru yang dibangun 20 Km 23 Km 9 Km 5 Km
Output
Panjang jalan yg dibangun baru 7,96 Km 7,96 Km 3,5 Km 3,7 Km
Panjang jembatan yang dibangun
baru
417,44 M 417,44 M 938,69 M 763,69 M
Panjang Fly Over/Underpass/
Terowongan yg dibangun
575 M 475 M 480,00 M 480,00 M
Panjang jalan bebas hambatan yg
dibangun
1 Km 0 Km 5,0 Km 1 Km

LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
50


3.2 Evaluasi dan Analisa Angggaran
Untuk memperoleh gambaran keberhasilan/kegagalan pelaksanaan tugas Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional I, ditetapkan metode pengukuran kinerja untuk mendapatkan
gambaran secara rinci pencpaian kinerja kegiatn dan sasaran, serta hal-hal yang mendukung
keberhasilan dan kegagalan dalam mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah
ditetapkan.
Pengukuran kinerja merupakan suatu proses penilaian yang sistematik dan bertahap untuk
menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang
telah ditetapkan dalam perencanaan stratejik dan perencanaan kinerja tahunan. Pengukuran
kinerja tahun 2013 dilaksanakan terhadap kinerja realisasi aktual penetapan kinerja tahun 2013
sebagai ikhtisar rencana kinerja tahunan. Pengukuran dilakukan terhadap kelompok indikator
kinerja kegiatan baik berupa indikator keluaran (output), dan indikator hasil (outcome),
sebagaimana diuraikan pada bab sebelumnya. Pengukuran kinerja mencakup beberapa hal yaitu
1. Pengukuran kinerja pada unit paling rendah yaitu terhadap kegiatan atau kelompok kegiatan
yang mendukung suatu sasaran. Untuk mengukur pencapaian kinerja dilakukan
pembandingan antara rencana target capaian masing-masing indikator kinerja dari Penetapan
Kinerja dengan realisasi yang dapat dilaksanakan pada akhir tahun kegiatan. Hasil dari
pengukuran kinerja tersebut dimuat dalam formulir Pengukuran Kinerja.
2. Penilaian tingkat pencapaian sasaran strategis tahun 2010 adalah mengacu kepada masing-
masing indikator sasaran yang ditetapkan dalam penetapan kinerja dan dokumen Renstra
Direktorat Jenderal Bina Marga dengan mempergunakan formulir Pengukuran Kinerja.












EVALUASI KINERJA
L A K I P
Tujuan Strategis
Sasaran Strategis
Produk
PENGUKURAN
KINERJA
PELAPORAN
KINERJA
Strategi mencapai
tujuan dan sasaran
Kebijakan
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
51


Adapun tolok ukur pengukuran disepakati didasarkan pada output dan outcome.
Pengertian output merupakan keluaran dari pelaksanaan kegiatan (software) dalam lingkup
pengaturan dan pembinaan. Pengertian outcome meliputi hasil, termasuk manfaat atau dampak
pelaksanaan kegiatan dan berdimensi waktu tahunan, sehingga outcome yang dapat diukur pada
tahap ini diharapkan yang bersifat immediate outcome.
Dari segi pendanaan, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I setiap tahunnya
mengalami kenaikan, bahkan pada tahun 2013 telah terjadi pelonjakan anggaran dibandingkan
dengan alokasi anggaran tahun-tahun sebelumnya. Alokasi anggaran selama 5 (lima tahun) dapat
dilihat dalam tabel 3.3 di bawah ini.
Tabel 3.3
Alokasi Anggaran tahun 2010-2013 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
No Uraian/Tahun DIPA Awal/PK
(x Rp. 1.000)
Revisi DIPA
(x Rp. 1.000)
Relisasi Anggaran
(x Rp. 1.000)
1. 2010 1.665.521.563 1.991.663.140 1.852.570.681
2. 2011 2.156.900.000 2.151.594.183 1.903.644.216
3. 2012 2.481.305.205 2.641.802.797 2.308.366.810
4. 2013 2.999.811.771 2.901.195.506 2.438.936.317
Total 9.303.538.539 9.686.255.626 8.503.5181.024

Berdasarkan hasil pengukuran kinerja, dilakukan evaluasi pencapaian kelompok indikator
kinerja kegiatan dan sasaran unutk mendapatkan gambaran lebih lanjut mengenai keberhasilan
dan kegagalan pencapaian sasaran dalam suatu program. Evaluasi juga bertujuan untuk
mengidentifikasikan kendala yang dijumpai dan hal-hal yang harus diantisipasi dalam rangka
pencapaian misi dan sebagai umpan balik pelaksanaan program/kegiatan dimasa mendatang.
Analisis tentang pencapaian akuntabilitas kinerja instansi secara keseluruhan diperlukan
untuk dapat menginterpretasikan keberhasilan dan kegagalan secara lebih luas. Analisis
akuntabilitas kinerja meliputi:
1. Keterkaitan pencapaian kinerja sasaran dan kegiatan di dalam setiap program dan kebijakan
pada pennetapan kinerja tahun 2013 dengan tujuan dan sasaran tahunan sebagaimana
ditetapkan dalam Renstra Jenderal Bina Marga 2010-2014.
2. Pencapaian kinerja kegiatan sesuai dengan program dalam Rencana Kinerja Tahunan dari
Penetapan Kinerja, hasil pencapaian kinerja kegiatan dapat dilihat pada formulir Penetapan
Kinerja Lampiran 2.
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
52


3. Pencapaian kinerja sasaran dan tujuan sesuai dengan kebijakan, program dan kegiatan dapat
dilihat pada Formulir Pencapaian Kinerja Lampiran 4.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada saat ini masih ditemui adanya beberapa kendala
umum dan tantangan dalam mewujudkan akuntabilitas kinerja. Kendala umum tersebut antara
lain adalah :
1. Rendahnya penyerapan DIPA TA. 2013 khusunya PHLN
2. Terjadinya pengehamatan/revisi DIPA/POK berulang kali
3. Proses lelang yang memakan waktu cukup lama
4. Terbatasnya waktu yang tersisa untuk proses pencairan dana karena sebagaian besar waktu
proses revisi DIPA
Sedangkan tantangan yang mempengaruhi pencapaian akuntabilitas kinerja Balai Besar
Pelaksanaan Jalan Nasional I meliputi tantangan pada perencanaan strategis dan pada
penyusunan rencana kinerja tahunan. Pada penyusunan rencana kinerja tahunan tahun 2013 telah
disesuaikan dengan target dalam Renstra tahunan yang untuk tahun 2013 disusun berdasarkan
DIPA awal tahun 2013. Formulir RKAKL belum memuat informasi kinerja secara baik (tidak
ada indikator sasaran dan outcome) menjadi salah satu tantangan dalam penyusunan RKT dan
PK tahun 2013.
Pada tahap analisis ini dapat disimpulkan bahwa di dalam penyusunan Renja KL/RKA-
KL/DIPA telah mangacu kepada sasaran dan kegiatan utama dalam Renstra. Namunn demikian
perlu ditinnjau rencana target tahunan sasaran dan kegiatan dalam Renstra karena meskipun
terselenggaranya kegiatan penyiapan program dan administrasi sifatnya merupakan rolling
program tetapi target tahunannya tetap menjadi acuan dalam penusunan RKA-KL/DIPA.
Ditinjau dari aspek keuangan, dimana keseluruhan dana APBN Tahun Anggaran 2013
(DIPA Revisi) adalah sebesar Rp. 2.901.195.506.000 yang terdiri dari dana rupiah murni (APBN)
dan dana pinjaman luar negeri (PLN) yang porsinya masing-masing adalah sebesar Rp
2.473.690.865 untuk APBN dan Rp. 427.504.640.000 untuk pinjaman luar negeri.
Adapun dana awal (DIPA awal) kegiatan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I
sebagaimana dalam Penetapan Kinerja (PK) sebesar Rp. 2.999.811.771.000 dan DIPA Revisi
Rp. 2.901.195.506.000
Relisasi keuangan secara total sampai dengan 31 Desember 2013 adalah sebesar Rp.
2.435.925.007.410 Ditinjau dari tingkat penyerapan keuangan terhadap DIPA awal sebesar
81,20% Apabila dilihat dari tingkat penyerapan anggaran, terhadap DIPA Revisi 84,07%
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
53


Rata-rata prosentase realisasi keuangan terhadap Revisi DIPA Akhir sebesar 84,07%,
sehingga terhadap sisa anggaran sebesar 15,93% (Rp. 462.259.189.000) yang mengidikasikan
adanya keterlambatan penyerapan keuangan.
Beberapa pertimbangan dan alasan sehubungan tidak maksimalnya penyerapan keuangan
tahun anggaran 2013, antara lain karena :
1. Pada Paket Consulting Services for Project Loan for Aceh Reconstruction Project JICA IP-
545 dengan Nilai Kontrak Rp. 18.781.000.000 dana yang tidak terserap adalah Rp.
14.497.759.000 (77,19%) terhadap Satker atau 17,43% terhadap Balai I, hal ini dikarenakan
dana yang dianggarkan tidak terserap.
2. Akibat schedule pelaksanaan pekerjaan yang landai pada awal pelaksanaan paket-paket
pekerjaan yang diakibatkan penghematan APBN dan menunggu proses revisi DIPA.
3. Lamanya proses persetujuan revisi DIPA mengakibatkan penggunaan dana sisa lelang tidak
optimal dan waktu pelaksanaan menjadi sangat singkat.
4. Pada awalnya kegiatan pengadaan alat berat/alat bantu terdiri dari 5 kegiatan yaitu pengadaan
alat pemadat, alat laboratorium, flat bed truck, alat transportasi dan alat bantu jembatan,
namun di triwulan pertama 2013 terjadi penghematan APBN dimana anggaran yang dipotong
adalah dari pengadaan ini kecuali pengadaan alat laboratorium.

Tabel 3.4
Rekapitulasi PAGU DIPA TA. 2013
No Unit Kerja
Pagu Dipa Awal Pagu Dipa Revisi
RPM PLN Total RPM PLN Total
1 2 3 4 5 = 3+4 6 7 8=6+7
1 Balai Besar
Pelaksanaan
Jalan
Nasional
2.696.193.874 303.617.897 2.999.811.771 2.473.690.866 427.504.640 2.901.195.506

Rata-rata prosentase realiasi keuangan terhadap Dipa Awal adalah sebesar 81,20%
sedangkan terhadap Dipa Revisi Akhir adalah sebesar 84,07%





LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
54


Tabel 3.5
Realisasi Pelaksanaan Anggaran TA. 2013
No Unit Kerja
Pagu Dipa
Revisi (Rp.)
Realisasi Persentase
Realisasi
RPM PLN Total
1 2 3 4 5 6 7
1 Balai Besar
Pelaksanaan
Jalan
Nasional I
2.901.195.506 2.278.541.652 160.394.665 2.438.936.317 84,07%

Dalam aspek keuangan realisasi adalah sebesar 84,07% terhadap target 100%, yang tidak
tercapai adalah target sebesar 15,93%. Hal ini bukan berarti kinerja Balai Besar pelaksanaan
Jalan Nasional I tidak tercapai secara optimal, melainkan karena adanya beberapa kendala dan
faktor-faktor lain atas tidak terserapnya dana secara optimum khusunya kegiatan-kegiatan
dengan sumber dana loan.

3.3 Hal-hal yang Memerlukan Perhatian untuk Peningkatan Kinerja
Realisasi pelaksanaan kegiatan yang belum mencapai sasaran pada umumnya
dihadapkan dengan masiih adanya kendala dalam proses administrasi keungan pada tahun 2013,
sekaligus menandai perlunya peningkatan kinerja Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I,
sekaligus menandai perlunya peningkatan kinerja yang masih harus menjadi perhatian adalah
meliputi bagaimana peningkatan kualitas dan jangkauan jaringan jalan semakin dapat
ditingkatkan.
Untuk itu, terdapat beberapa hal yang memerlukan perhatian didalam upaya
meningkatkan kinerja, antara lain melalui percepatan pelaksanaan program dan anggaran pada
tahun mendatang yang berbasis kinerja. Upaya-upaya yang perlu medapat perhatian, diantaranya
sebagai berikut :
1. Manajemen
a. Penyiapan organisasi Satker
b. Standar Prosedur Operasi (SOP) untuk :
Pelaksanaan kegiatan
Pengelolaan keuangan secara umum khususnya pinjaman luar negeri
c. Monitoring, evaluasi dan pengendalian
2. Perencanaan
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
55


a. Komitmen terhadap pencapaian kinerja
b. Komitmen terhadap penggunaan anggaran sesusai prioritas (sense of urgency perlu
ditingkatnkan)
c. Keseragaman dalam pembuatan dokumen perencanaan
d. Kurangnya pemahanan terhadap spesifikasi teknis
3. Pengadaan
a. Kurangnya personil yang bersertifikasi untuk pengadaan barang dan jasa
b. Masih banyak yang belum memahami perubahan-perubahan peraturan tentang
pengandaan Barang dan Jasa Milik Pemerintah dari Keppres 80/2003 ke PP No. 54 Tahun
2010
4. Pelaksanaan
Masih lemah/kurangnya kemampuan konsultan
5. Pengawasan
Kemampuan teknis pengawasan staf satker belum memadai
6. Evaluasi
a. Belum adanya pemahaman yang komprehensif terhadap indikator-indikator kinerja
b. Efisiensi penggunaan anggaran
c. Masih minimnya refensi/SOP untuk melakukan evaluasi kinerja
d. Perlunya pembuatan time table kegiatan Ka. Balai, Kabid/Kabag di awal tahun sehingga
dapat di evaluasi di akhir tahun menganai capaian yang telah dilakukan













LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
56


BAB IV
PENUTUP

4.1 Keberhasilan dan Kegagalan
a. Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I telah mengupayakan penerapan prinsip-prinsip good
governance dan fungsi manajemen kinerja secara taat asas melalui penerapan seluruh elemen
Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP), yang meliputi: Renstra, Rencana Kinerja
Tahunan, Penetapan Kinerja, Pengukuran Kinerja, LAKIP. Pada tahun 2010 Renstra yang
dijadikan acuan adalah review Renstra Kementerian Pekerjaan Umum yang ditetapkan tahun
2013 sebagai arah pembangunan bidang jalan dan jembatan tahun 2010-2014.
b. LAKIP Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I tahun 2013 ini disusun sebagai laporan
kinerja pelaksanaan anggaran berbasis kinerja dan merupakan laporan kinerja tahun keempat
dari pelaksanaan tugas Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I pada periode 2010-2014
dalam kabinet Indonesia Bersatu II
c. Berdasarkan Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja-KL) yang disusun mengacu
kepada Rencana Kinerja Tahunan (RKT) tahun 2013 sebagai turunan Program Jangka
Menengah Nasional, telah disusun Rencana Kerja (Renja) Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I yang kemudian ditetapkan menjadi DIPA tahun 2013, termasuk didalamnya DIPA
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I.
d. Tindak lanjut dari pengesahan DIPA tahun 2013 tersebut, adalah ditetapkannya Penetapan
Kinerja tahun 2013 sebagai ikhtisar Rencana Kinerja Tahun 2013 yang memuat kebijakan,
program, dan sasaran kegiatan beserta indikator kinerja output.
e. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat capaian kinerja kegiatan (output) tahun 2013 secara
keseluruhan tercapai (seluruhnya kegiatan terlaksana dengan baik), dengan rata-rata tingkat
capaian kinerja kegiatan sebesar 100%.
f. Sedangkan capaian realisasi keuangan adalah sebesar 84,07% dari kegiatan perencanaan
pemograman dan pembiayaan penyelenggaraan jalan

4.2 Permasalahan dan Kendala Utama Serta Strategi Pemecahannya
a. Permasalahan dan kendala yang cukup berarti tidak ada, hanya diperlukan perencanaan yang
matang untuk penganggaran program tahun berikutnya agar tidak sering terjadi Revisi DIPA
ketika anggaran sedang berlangsung.
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
57


b. Perlunya rencana/program di masing-masing bidang/bagian mengenai kegiatan yang akan
dilakukan dalam satu tahun unutk kemudian di evaluasi oleh Kepala Balai di akhir tahun
mengenai kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan

4.3 Harapan
a. Demikian halnya dengan upaya penyempurnaan dalam penyusunan LAKIP perlu terus
ditingkatkan dengan mengacu kepada Renstra Kementerian Pekerjaan Umum dan Direktorat
Jenderal Bina Marga dan rencana kinerja tahunan, termasuk pada upaya ini adalah perlunya
dikembangkan metode pengukuran kinerja dan penetapan indikator kinerja output agar lebih
spesifik, terukur dan jelas serta lebih baku dan operasional sesuai dengan urusan dan sifat
substansi bidang jalan dan jembatan
b. Disamping itu, diperlukan peningkatan sosialiasi keseluruhan elemen dalam siklus sistem
akuntabilitas kinerja agar dapat dilaksanakan secara konsisten, yaitu dimulai dari sosialisasi
mengenai Renstra sampai dengan evaluasi LAKIP. Hal tersebut dipelukan selain mengingat
peraturan perundang-undangan terkait dengan SAKIP relatif baru
c. Sesuai dengan ketentuan yang diberlakukan bahwa pelaksanaan tugas Balai di masa
mendatang harus berbasis kinerja sejalan dengan penerapan Undang-undang keuangan negara
dan sistem perencanaan perlu mengintegrasikan informasi pengaggaran pada RKA/DIPA dan
unit satuan dalam formulir RKA-KL dan DIPA sesuai dengan informasi yang memuat tujuan,
kebijakan, program dan sasaran kegiatan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I, serta
penerapan kinerja yang memuat indikator kinerja untuk memudahkan penyusunan data basse
pencapaian Renstra dan pengukuran kinerja
d. Dengan penerapan sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang memenuhi kaidah
dan ketentuan tersebut, maka hal tersebut dapat dipergunakan sebagai piranti penajaman dan
penyempurnaan Perencanaan Strategis dan peningkatan kinerja pelaksanaan tugas di
lingkungan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional I sekaligus sebagai acuan penyusunan
sasaran program dan kegiatan dalam rencana kinerja tahunan Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I
e. Untuk itu, sesuai dengan hasil evaluasi terhadap LAKIP Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I baik menyangkut metide maupun proses perencanaan dan pengukuran kinerjanya
perlu seluruh elemen sistem AKIP secara konsisten diterapkan agar penyusunan dan pelaporan
LAKIP, baik LAKIP Satminkal maupun Unit Kerja, dapat lebih disempurnakan lagi untuk
meningkatkan penerapan sistem AKIP dimasa mendatang
LAKIP 2013 BALAI BESAR PELAKSANAAN JALAN NASIONAL - I
58


f. Penerapan sistem AKIP yang baik tersebut akan sangat berperan dalam meningkatkan
perwujudan budaya akuntabilitas kinerja pada jajaran aparat Balai Besar Pelaksanaan Jalan
Nasional I guna mewujudkan good governance.