Anda di halaman 1dari 9

"

PENERAPAN KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN (KKOP)


BERDASARKAN RENCANA TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN DI
KABUPATEN TANA TORAJA
(The Application of the Operationinal Safety Aviation Based on Building and
Environment Plan in Tanatoraja Regency)

Eko Hadi Purwanto
1
, Nurul Kamilah
2

1
Dosen Program Studi Teknik Informatika Universitas Ibn Khaldun Bogor
2
Dosen Program Studi Sistem Informasi UIN syarif Hidayatullah Jakarta
ehpurwa@gmail.com


ABSTRAK

Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Tana Toraja tahun 2011-2030
terdiri atas beberapa Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
dengan periode lima tahunan. RPJMD pertama yaitu pada tahun anggaran 2011-
2015. Proyek RPJMD tahun anggaran tahun 2012 mengagendakan banyak proyek,
diantaranya ada dua proyek yang saling terkait, adalah pembuatan Rencana Tata
Bangunan & Lingkungan (RTBL) Kawasan Bandara Baru dan Studi KKOP Bandara
Baru Pesawat Terbang Berbadan Besar. Karena kebijakan tertentu dilaksanakan
bersaman, yang seharusnya Studi KKOP dilaksanakan tahun 2011. Karena hasil
studi KKOP merupakan salah prasyarat pembuatan RTBL ini. Agar pembuatan
RTBL ini bisa dilaksanakan pada tahun 2012 ini juga, maka diperhatikan ketentuan
prasyarat tersebut dengan mengacu pada ketentuan setingkat terdahulu yaitu
Keputusan Menteri Perhubungan no. km 55 tahun 2010 tentang KKOP disekitar
Bandara Udara Lombok Baru. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan
pengumpulan data, analisa masalah, dan kemudian perancangan berupa sketsa
usulan, serta kunjungan sekilas ke lapangan. Hasil yang diperoleh ialah delineasi
built up area untuk penempatan tapak RTBL.

Kata kunci : KKOP, RTBL, struktur ruang, ketinggian bangunan

ABSTRACT
Regional Spatial Planning of Tanatoraja Regency consists of several years from
2011 to 2030 Medium Term Development Plan (RPJMD). The first consists of a five
year plan in which the fiscal year 2011-2015. In 2012 one among the budget
allocated on RPJMD was for developing a Planning for Building and Environment
(PBE) New Airport Zone and Area Studies Operational Fight Safety (SOFS) based
Regulation for New Airport for Large Aircraft. However KKOP activities in 2011
have not been implemented thus causing RTBL fiscal yaer 2012 could not be
implemented. Therefore, it must be made of material that meets the activitys
completion with reference to the provisions of the Decree of the Minister of
Transportation No. Km 55 of 2010 on KKOP around Lombok Baru Airport. The
research method consisted of data collection, problem analysis, design sketches and
proposals, and field work. The result was the delineation of a built up area for the
placement of tread RTBL.

Keyword: SOFS, PBE, spatial structure, building heght limit


PENDAHULUAN
Kabupaten Tana Toraja adalah salah satu
kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan yang
sangat terkenal sebagai daerah kunjungan wisata
yang penting di Indonesia. Ibu kota kabupaten ini
adalah Makale. Kabupaten Tana Toraja memiliki
#
luas wilayah 2.054,30 km2 dan berpenduduk
sebanyak 221.081 jiwa (2010). Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008, bagian
utara wilayah kabupaten ini dimekarkan menjadi
Kabupaten Toraja Utara.

Salah satu sarana yang penting bagi
pengembangan Kabupaten Tana Toraja menjadi
sasaran wisata adalah adanya bandara udara.
Bandara yang beroperasi saat ini adalah Bandara
Udara Pongtiku, yakni sebuah bandar udara yang
terletak di Kabupaten Tana Toraja, yang terletak
dalam wilayah Kecamatan Rantetayo. Bandara ini
memiliki ukuran landasan pacu 900 x 23 m.
berokasi pada jarak 9 km dari kota Makale,
Ibukota Kabupaten Tata Toraja. Bandar udara ini
rencana akan direlokasi karena tidak bisa lagi
dikembangkan.

Saat ini sedang direncanakan pembangunan
bandara baru, yang nantinya merupakan pindahan
dari Bandara Pongtiku. Bandara baru ini akan
meliputi areal seluas 225 hektare dengan panjang
runway 1.900 meter. Lokasi Bandara baru ini akan
berlokasi di Buntu Kunyi, Kecamatan
Mangkendek, Kabupaten Tana Toraja, berdekatan
dengan jalan Trans-Sulawesi dan berjarak hanya
sekitar 12 kilometer dari Ibu Kota Tana Toraja,
Makale.

Saat ini pembangunan Bandara Tana Toraja ini
telah menjadi salah satu prioritas Pemerintah
Provinsi Sulawesi Selatan untuk tiga tahun ke
depan, dan diharapkan akan dijadikan destinasi
tujuan wisata. Dikarenakan pencapaian ke Tana
Toraja melalui jalur transportasi darat
membutuhkan waktu yang cukup lama yakni
sembilan jam, maka kehadiran bandara baru yang
mana nantinya bisa terhubung dengan bandara
nasional lainnya, dan pada akhirnya akan
mempermudah pula kunjungan wisata ke Tana
Toraja.

Lahan yang akan dibangun bandara Tana Toraja
ini semula adalah lahan kosong, dengan kondisi
guna lahan disekitar terdiri atas lahan perumahan
dan lahan pertanian/ perkebunan.

Perubahan guna lahan akibat dibangunnya
Bandara Tana Toraja ini akan sangat
memengaruhi arah perkembangan kawasan sekitar
fasilitas tersebut, yang pada gilirannya akan
merubah karakter wilayah di sekitarnya. Dapat
diprediksi bahwa ruang di sekitar wilayah
pengembangan tersebut akan dengan segera
menjelma dan berubah menyesuaikan guna lahan
dominan dengan keberadaan bandara baru
tersebut. Hal ini akan mendesak berubahnya
fungsi ruang dan fungsi lahan, yang jauh berbeda
dari fungsi sebelumnya.

Pembangunan bandara baru yang akan merubah
guna lahan ini, akan membawa pula perubahan
sosial, ekonomi, budaya serta pola hidup
penduduk di sekitar kawasan pembangunan.
Perubahan akibat pembangunan dapat bersifat
positif maupun negatif. Untuk mereduksi
pengaruh negatif yang terjadi, diperlukan
perangkat yang dapat mengendalikan perubahan
tata ruang pada kawasan yang menjadi lokasi
pembangunan tersebut. Perangkat tata ruang yang
dapat menjangkau dalam skala mikro kawasan dan
dapat menjadi urban design development
guidelines adalah Rencana Tata Bangunan dan
Lingkungan (RTBL) di kawasan sekitar bandara
baru dengan pesawat berbadan besar.
1


Salah satu prasayarat pembuatan RTBL ini ialah
telah adanya KKOP dari hasil Studi pada Tahun
Anggaran (TA) 2011, namun ternyata Studi
KKOP Bandara Baru ini juga dilakukan
bersamaan pada TA.2012. Dengan demikian
diperlukan penelitian dengan ketentuan KKOP
setara, agar diperoleh dilinisasi lokasi penempatan
Tapak RTBL.

Merapihkan materi KAK yang ada diharapkan
bermanfaat sesuai dengan kutipan dari Kata
Pengantar Bung Hatta pada buku Bintoro
Tjokroamidjojo, M.A. Perencanaan Pembangunan.
Cetakan kedua. PT. Gunung Agung. 1979, seperti
berikut ini:
Rencana-rencana pembangunan di negara kita
telah berkali disusun dan dilaksanakan hingga
sekarang. Hasil perencanaan-perencanaan
pembangunan kita itu tidak selalu memuaskan
bahkan berbagai kegagalan telah kita alami.
Banyak pengalaman dan kesimpulan dapat
ditarik, dan ini semua seharusnya dapat
memberi pelajaran kepada kita.
Kita patut merasa sedih, bahwa hal yang
sangat penting dalam melaksanakan kewajiban
sosial, bahwa fakir miskin dan anak-anak
terlantar dipelihara oleh negara seperti
dinyatakan dalam pasal 34 UUD 1945, sampai
sekarang belum terlaksana seperti yang kita
cita-citakan. Juga pasal 33 UUD 1945 tentang
kesejahteraan sosial, maupun tentang makna
pasal ini sebagai landasan utama dari
perencanaan pembangunan ekonomi dan
sosial, masih banyak yang belum dilaksanakan
dalam praktik perencanaan pembangunan.
Perencanan pembangunan yang baik akan
mampu mengatur jalannya proses
pembangunan kearah tercapainya cita-cita
bangsa ini
Beliau berpesan tentang praktek pembangunan
yang ternyata masih ditemukan pada saat ini.
Semoga dengan adanya kemudahan pengadaan
Peta Dasar yang standar dari Badan Informasi
Geospasial, maka diharapkan praktek

1
Alinea satu s/d tujuh dikutip dari tujuh alinea awal
bagian Pendahuluan KAK RTBL di Sekitar Bandara
Baru Tana Toraja TA.2012
$
pembangunan jadi seperti yang diingatkan oleh
Beliau.

Dan kutipan pada buku yang sama dari
pengarangnya bahwa Perencanaan Pembangunan
diarahkan terhadap empat hal pada halaman XI,
sebagai berikut:
1. Uraian mengenai latar belakang falsafah
kemasyarakatan yang mendorong adanya
perencanaan.
2. Ajaran meliputi prinsip-prinsip dan cara-
cara yang bersifat umum perencanaan.
3. Bersifat teknik makro dam mikro dari
perencanaan. Pada umumnya bersifat
analisa kuantitatif.
4. Pembahasan tentang substansi rencana-
rencana dan kasus-kasus perencanaan
Keempat hal yang diarahkan oleh Pak Bintoro
akan mudah dielaborasi dengan tema-tema dari
kompetensi terkait berdasarkan Peta Dasar dari
BIG kedepannya.

BAHAN DAN METODE
Dua agenda RPMJD TA.2012 yang saling terkait,
namun pelaksanaan pada waktu yang bersamaan
menyebabkan tidak lagi sesuai hubungannya
antara kegiatan A dengan B seperti pada gambar 1
berikut ini:

Gambar 1. RTBL Bersamaan dengan KKOP
Kesesuaian diperoleh jika kegiatan B dilakukan
pada TA 2011, atau kegiatan B dilakukan sebelum
kegiatan A.

Kesesuaian keterkaitan didekati dengan kegiatan
B seolah telah ada hasil dengan memperhatikan
kegiatan C seolah telah menjadi materi tanggapan
pada pembuatan pekerjaan Usulan Teknis (Ustek),
yaitu dengan membuat geometri KKOP
berdasarkan KepMen Perhub No.Km55 Tahun
2010 tentang KKOP di Sekitar Bandara Udara
Lombok Baru.

Kegiatan E yaitu Recoinnaissance Investigation
2

atau penelitian penjajagan. Kegiatan ini dilakukan
sebagai cara untuk mengumpulkan materi yang

2
Ir. J.B Soemarga Someaatmadja, Dip. H.E. Delft,
1983. Diskusi Ilmiah: Dokumen Pelelangan dan
Dokumen Kontrak, Fakultas Teknik Universitas
Pancasila.
akan disusun dalam kegiatan sesudahnya yaitu
kegiatan pembuatan Kerangka Acuan Kerja
(KAK).

Materi penjajagan diperoleh dengan melakukan
penilaian sekilas ke lapangan oleh Tenaga Ahli
(TA) yang berpengalaman lebih dari 15 tahun
dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan. TA
dengan anggota team lainnya ke lapangan dengan
membawa berbagai gagasan yang dipersiapkan
sebelumnya. Di lapangan Tenaga Ahli ini
menjajagi mana materi berbagai gagasan yang bisa
dilanjutkan pada tahapan studi selanjutnya, seperti
pada tahapan Feasibility Study dan berikutnya
tahapan Design.

Salah satu materi gagasan yang dipersiapkan
terlebih dahulu sebelum melakukan survei sekilas
ke lapangan ialah penerapan KKOP terhadap
beberapa Peta Skematik RTRW Tana Toraja
2011-2030. Peta Skematik memperhatikan Peta
Rupabumi Indonesia (b) berdasarkan UURI
No.4/2011 : Informasi Geospasial Pasal 7, yaitu:
Sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b
berupa:
a. Peta Rupabumi Indonesia
b. Peta Lingkungan Pantai Indonesia; dan
c. Peta Lingkungan Laut Nasional
dengan urutan seperti pada gambar 2 berikut ini:

Gambar 2. Metode Penjajagan
Dimulai dari langkah 1 berupa materi KAK dari
RPJMD TA.2012. Kemudian pada langkah 2 yaitu
melengkapi materi KAK dengan data posisi
geografis bandara baru dari Badan Pertanahan
Kabupaten Tana Toraja berupa file dwg. Lalu
langkah 3 dilakukan penggambaran geometri
KKOP dengan Geo-Tool (CAD). Langkah ke 4
menyiapkan geometri KKOP untuk diterapkan
pada lima peta tematik dari RTRW Kabupaten
Tana Toraja 2011-2030. Penerapan KKOP pada
peta temati dilakukan pada langkah 5, 6, 7, 8, 9
dan 10. Sehingga menghasilkan Built Up Area
pada langkah 10. Sampai langkah 10 kajian
dilakukan. Selanjutnya langkah 11 dan 12
dilakukan pada tahap kajian selanjutnya.

Diperhatikan kawasan sekitar bandara baru sesuai
dengan materi KAK seperti pada gambar 3 berikut
ini:
%

Gambar 3. Kawasan Sekitar Bandara Baru

Proses yang dilakukan itu dengan bahan yang peta
dasar dan peta tematik (peta rupa bumi Indonesia).
Metode yang digunakan terdiri atas akibat
berbagai kendala, ditemui ketidak-lengkapan
materi penjajagan (Reconnaissance Investigation),
sehingga pembuatan Kerangka Acuan Kerja
(KAK) tidak memenuhi materi kelayakan proyek
(pembaharuan terkini). Akibatnya penyusunan
program kerja terkendala, dan pada akhirnya
Rencana Aksi / Rinci cenderung sebagai pedoman
pelaksanaan pekerjaan yang kurang memadai atas
kondisi terkini di lapangan. Demikian
permasalahan yang dipecahkan dengan Metode
yang dipakai.

Gambaran sementara bandara baru seperti pada
gambar 4 berikut ini:

Gambar 4. Rencana Bandara Baru Pesawat
Berbadan Besar

Perhatikan pandangan A mengarah ke bangunan
terminal yang diharapkan terwujud tahun 2015.
Diperoleh dari BPN Tana Toraja berupa file dwg
yang sudah sesuai dengan posisi geografis seperti
pada gambar 5 berikut ini:

Gambar 5. Perletakan Patok Utama Bandara Baru

Ada delapan titik utama sekeliling bandara dengan
angka koordinat masing-masing sperti pada
gambar 6 berikut ini:

Gambar 6. Koordinat Patok Utama Bandara Baru

Menerapkan delapan koordinat tersebut pada
geometri KKOP dengan memperhatikan gambaran
tiga dimensinya seperti pada gambar 7 berikut ini:

Gambar 7. Kawasan Kecelakaan Operasi
Penerbangan

Selain gambaran keselurhan KKOP diatas, juga
diperhatikan penampang KKOP seperti pada
gambar 8 berikut ini:

&

Gambar 8. Penampang Kawasan Operasi
Penerbangan

Dari penampang KKOP itu diperhatikan batasan
tinggi bangunan, dan juga termasuk perbukitan
disekitarnya dan arah pengembangan wilayah
seperti pada gambar 9 berikut ini:

Gambar 9. Orientasi Pengembangan Daerah Urban
dan Rural

Dengan demikian dilakukan penerapan KKOP
dengan CAD sebagai berikut:
1. Aktifkan CAD dan insert file image peta
Struktur Ruang, Pola Ruang, Kawasan
Strategis, Topografi dan Kemiringan
Lereng.
2. Lalu scale masing-masing peta menurut
tanda skalanya
3. Terapkan geometri KKOP pada masing-
masing peta
4. Pada Peta Topografi arsir didalam garis
kontur yang ketinggiannya sama dengan
950 mdpl, yaitu 150 meter ditambah dari
800 mdpl menurut Panduan Ketinggian
KKOP
5. Geser bagian Jalan Lingkar Wisata yang
terkena KKOP
6. Buat garis bantu sejajar dengan tepi
landasan pacu dengan jarak 1500 m.
7. Boundary kandidat Built Up Area, lalu
arsir.


HASIL PEMBAHASAN
Beberapa hasil kajian diperoleh dengan
memperhatikan KKOP yang telah diterapkan pada
Struktur Ruang Provinsi Sulawesi Selatan seperti
pad agambar 10 berikut ini:

Gambar 10. KKOP Terhadap Struktur Ruang
Provinsi Sulawesi Selatan

Hasil tersebut diperbessar agar terlihat batas
adminsitrasi antar Kabuoaten seperti pada gambar
11 berikut ini:

Gambar 11. KKOP Mencakup Tiga Kabupaten
Tetangga

Ternyata KKOP melintasi batas administrasi
Kabupaten Tana Toraja ke Kabupaten Toraja
Utara, Kabupaten Luwu dan Kabupaten Enrekang.

Diperlukan pengaruh terapan KKOP terhadap
Struktur Ruang Kabupaten Tana Toraja seperti
pada gambar 12 berikut ini:

Gambar 12. KKOP Terhadap Struktur Ruang
Kabupaten Tana Toraja

Terlihat pengaruhnya terhadap kemungkinan
kecelakaan operasi pesawat terbang ketika take off
dan landing, sehingga perlu dipersiapkan metode
mitigasinya. Serta resiko yang perlu dipersiapkan
'
dengan seksama atas akibat yang kemungkinan
terjadi, terutama terhadap fasilitas dan kearsipan
ketata negaraan Kabupaten Tana Toraja yang ada
di Ibukota Kabupaten yaitu Kota Makale, serta
pada Pusat-pusat Kegiatan lainnya.

Diperhatikan pula penerapan KKOP terhadap Pola
Ruang Kabupaten Tana Toraja seperti pada
gambar 13 berikut ini:

Gambar 13. KKOP Terhadap Kawasan Strategis
Kabupaten Tana Toraja

Ada banyak pengaruh kemungkinannya terhadap
sepuluh fungsi lahan berikut kegiatannya.
Sehingga pihak yang terkait perlu dilibatkan
dengan berbagai cara koordinasi, misalkan pada
kegiatan Focus Group Discussion (FGD).

Memperoleh built up area bagi tapak RTBL
dengan memperhatikan luasan lahan yang
memenuhi syarat kemiringan lereng lebih kecil
dari 15% dan batasan tidak ada boleh bangunan
bukan terminal bandara pada jarak 1.500 meter
dari tepi Runway atau landasan pacu pesawat
terbang, seperti pada gambar 14 berikut ini:

Gambar 14. Lokasi Tapak RTBL

Diperoleh built up area pada posisi diluar jarak
sebesar 1500 meter dari tepi runway dan dengan
kelerengan < 15%.

Adanya pertimbangan KKOP mempengaruhi
perletakan jalan Lingkar Wisata yang berimpit
dengan Kawasan Kemungkinan Bahaya
Kecelakaan Pesawat terbang seperti pada gambar
15 berikut ini:

Gambar 15. Sebagian Jalan Berimpit dengan
Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan
Pesawat Terbang

Bagian jalan yang ditandai dengan garis ellipse
putus-putus diusulkan untuk digeser menjauh
runway sebesar 1500 dari tepi runway dan sejajar
dengan runway.

Selain pengaruh KKOP dengan lainnya, juga
dengan ketinggian bukit di sekitarnya yang
terkena batas ketinggian bangunan tidak boleh
lebih dari 150 meter, seperti pada gambar 16
berikut ini:

Gambar 16. Rekomendasi Pergeseran Jalan Lingkar
Wisata dan Pemangkasan Bukit

Syarat batas ketinggian 150 meter itu berakibat
pemangkasan puncak bukit yang ditandai dengan
garis arsir. Dan telah digambarkan Jalan Lingkar
Wisata di geser pada bagian yang terkena larangan
atas Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan
Pesawat.

Demikianlah built up area yang diperoleh akibat
pertimbangan penerapan KKOP, pemenuhan
kemiringan lereng lebih kecil dari 15%, seperti
pada gambar 17 berikut ini:
(

Gambar 17. Buit Up Area Untuk Tapak RTBL

Demikianlah pada ketinggian antara 800 s/d 9.500
mdpl diperoleh lokasi untuk penempatan tapak
RTBL sekitar 50 s/d 60 Ha yang bersifat
perkotaan, menurut Lampiran D.2. Kawasan
Perencanaan pada PerMen Pekerjaan Umum
No.06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum
Rencana Tata Bangunan Dan Lingkungan.
Diperoleh posisi RTBL seperti pada gambar 18
berikut ini:


Gambar 18. Posisi di lapangan
Peruntukan RTBL yang diperoleh dibentuk jadi
beberapa pola pemukiman, dan salah satunya
seperti pada gambar 19 berikut ini:


Gambar 19. Pemanfaatan Built Up Area
Pemanfaat Built Up Area dicirikan dengan arena
tradisional sebagai etalase budaya tradisional
seperti pada gambar 20 berikut ini:

Gambar 20. Taman Mini Toraja
Penempatan tapak RTBL sebagai hasil terapan
diatas kertas memerlukan berbagai tindakan di
lapangan seperti pada gambar 21 berikut ini:


Gambar 21. Usulan Tindakan
Seperti tindakan puncak bukit yang dipangkas
untuk memenuhi batas ketinggian dari KKOP, dan
jalan lingkar wisata yang digeser untuk memenuhi
batas kemungkinan kecelakaan pesawat terbang.

Agar RTBL yang direncanakan tidak bisa berdiri-
sendiri. Maka disekitar kawasan diusulkan
pendaerahan dengan berbagai peruntukan seperti
pada gambar 22 berikut ini:

Gambar 22. Penggunaan Lahan Sekitar Kawasan
Bandara Baru
Penggunaan lahan Zone I untuk tapak RTBL
seluas 60 Ha di dalam kawasan bandara baru
seluas 225 Ha. Lahan Zone II dan III untuk
Daerah Wisata Kuliner Toraja, dan Homestay
berbasis Ecotourism (konservasi alam & budaya).
Lahan Zona IV untuk Industri Kerajinan
Tradisional dan Pendidikan Seni Tradisional. Dan
Zona V, VI dan VII untuk Kawasan Kota Satelit
Wisata, Perhotelan Lapangan Golf, Taman
Hiburan dan Pertokoan.

Dengan demikian pariwisata budaya Tana Toraja
diharapkan utuh dalam mengembangkan diri-
)
sendiri, terutama jika urat nadi kegiatan dipenuhi
seperti pada gambar 23 berikut ini:

Gambar 23. Keterpaduan Intermoda & Multimoda
berskala Internasional
Keterpaduan di atas menghubungkan hierarchy
pusat-pusat pelayanan yang mendukung
kemudahan pencapaian.


PENUTUP
Kesimpulan
Penggunaan Geo-Tools ternyata bisa
mempermudah pekerjaan berbasis geometri
dengan hasil penajajagan yang perlu diteliti
kembali dan ditindaklanjuti pada tahap selanjutnya
yaitu Feasibility Study dan Design.

Saran
Terkait Sistem Informasi yang ada yaitu
identifikasi Pelaku Informasi berdasarkan buku
karangan Whitten, Jeffery L., Lonnie D. Bentlye.
Kevin C Dittman. Systems Analysis & Design
Methods. Six Edtition. McGraww Hill & Penerbit
Andi, 2004. Pada halaman.259, yang berkenaan
dengan pembuatan RTBL ini disarankan
identifikasi pelaku informasi sebagai berikut:
1. Pelaku kegiatan utama (primary business
actor), yaitu Pemegang Komitmen Utama
dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tana
Toraja, dan Pendamping/Pemegang
Komitmen Terkait dari Kabupaten Toraja
Utara, Kabupaten Luwu dan Kabupaten
Erekang. Dan perwakilan stakeholder
lainnya.
2. Pelaku Sistem Utama (Primary System
Actor), yaitu Pelaksana Komitmen
dibantu dengan perwakilan aktif dari
Pemegang Komitmen Utama
3. Pelaku Server Eksternal (external server
factor), yaitu Staf Administrasi dan
Tenaga Ahli dari pihak Pemegang
Komitmen Utama dan pendamping yang
akan mengendalikan pelaksanaan
pembangunan.
4. Pelaku Penerima Eksternal (external
receiving actor), yaitu Pelaku dari
lembaga terkait yang menerima dampak
positif atau negatif atas terlaksananya
proyek ini, juga yg terkait dengan
penggunaan dan pemeliharaan.
5. Time, yang periodik ketika pelaksanaan
pembangunan proyek dan utilization.

Ke lima pelaku informasi diatas terkait dengan
lingkup proyek atau skala proyek dalam buku
karangan William Pe!a, et al. 1977. Problem
Seeking. Second Edition. CBI Publishing,
Houston, Texas. Pada halaman 147, maka
disarankan memperhatikan kriteria atau materi
dari tingkat kesulitan proyek yaitu RTBL ini
termasuk pada fourth level of programming,
sebagai berikut:
1. Consideration extended to include
political considerations.
2. Bureaucratic process
3. Small, large firms with sense of public
service
4. Urban development problems
5. Research to withstand public scrutiny
6. Complex client structure
7. Political decision making
8. Advocacy group

Rekomendasi
Penggunaan Geo-Tool dengan CAD cukup
lakukan digitizing on screen untuk memperoleh
informasi yang ada di Peta Tematik, akibat
penerapan geometri KKOP.

Seperti diketahui informasi pokok namun
menyeluruh dari RTRW cukup sebagai dasar
pertimbangan dalam tahapan Reconnaissance
Investigation.

Hasil studi Reconnaissance Investigation
merupakan materi-materi KAK. Dengan demikian
usulan materi inovasi dari penyedia jasa dalam
Usulan Teknis / Proposal akan mempertajam
gagasan, bukan menambah atau merubah lingkup
proyek.

Perubahan lingkup proyek seringkali sulit
ditangani dengan seksama, apalagi kesulitan
bertambah sebagai akibat kondisi yang situasional
dalam waktu pelaksanaan proyek yang sangat
terbatas yaitu, sekitar empat sampai dengan enam
bulan.

PUSTAKA
Bappeda Kabupatan Tanatoraja. (2009). Rencana
Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi
Selatan 2009-2029. Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda),
Kabupaten Tanatoraja, Tanatoraja.
*

Bappeda Kabupatan Tanatoraja. (2011). Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Tanatoraja 2011-2030. Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah (Bappeda),
Kabupaten Tanatoraja, Tanatoraja.

PerMen PU (2007). Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No.06/PRT/M/2007 tentang
Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan
Dan Lingkungan, Lampiran D.2. Kawasan
Perencanaan.

PerMen PU (2010). Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum No.55 Tahun 2007 tentang
Kawasan Keselamatan Operasi
Penerbangan di Sekitar Bandar Lombok
Baru.
Pemkab Tanatoraja (2012). Kerangka Acuan
Kerja Rencana Tata Bangunan Dan
Lingkungan Kawasan Sekitar Bandara
Baru Kabupaten Tana Toraja. Badan
Perencanan dan Pembangunan Daerah
Kabupaten Tanatoraja.


Pe!a W., WW. Coudill and J.W Fock (1977).
An Architectural Programming Primer.
Second Edition. CBI Publishing, Houston,
Texas.

Jeffery LW. , D Lonnie and KCD Bentlye. (2004).
Systems Analysis & Design Methods. Six
Edtition. McGraww Hill & Penerbit Andi.

Tjokroamidjojo B, M.A. (1978). Perencanaan
Pembangunan. Cetakan Kedua. PT Gunung
Agung. Jakarta.

Santos, J. (2013). Autodesk, AutoCAD 2013. 3D
Drafting ond Design. Dimuat pada
http://www.freestuff-database.com/ebook/
1344569-auotodesk-2013-practical-3d-
drafting-and-design-by-Joe-Santos.html
(Diakses 15 oktober 2013)

Somaatmadja J.B.S. (1983). Diskusi Ilmiah:
Dokumen Pelelangan dan Dokumen
Kontrak, Fakultas Teknik Universitas
Pancasila.

Anda mungkin juga menyukai