Anda di halaman 1dari 19

Alat Musik Tradisional Indonesia, dan Modern

Siapa yang pernah tahu berapa jumlah pasti alat musik tradisional Indonesia.
Sungguh sebuah kekayaan intelektual milik budaya Indonesia yang tak ternilai
harganya. Namun dilain pihak banyak pula yang tidak mengetahui bahkan sama
sekali belum pernah mendengar alat musik tradisional tersebut dimainkan, ditengah
derasnya industri musik modern alat musik tradisional ini semakin terpinggirkan.

Angklung

Alat musik tradisional yang merupakan alat musik khas Indonesia memiliki banyak
ragam dari pelbagai daerah di Indonesia, namun banyak pula dari alat musik
tradisional Indonesia ‘dicuri’ oleh negara lain[57] untuk kepentingan
penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta
seni budaya dari Indonesia. Berikut 28 Jenis Alat musik tradisional Indonesia
yang dikutip dari wikipedia antara lain meliputi:

Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda,
terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan
oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam
susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah
salendro dan pelog.

Asal-usul

Anak-anak bermain angklung.

Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis
kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai
alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen
(bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan
dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu
dari ukuran kecil hingga besar.

Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di
Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun
lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan
untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai
penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa
semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya
pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung,
pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan
oleh anak- anak pada waktu itu.

Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup
masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai
makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci
sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama


di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan
dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar
cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun
bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut
misalnya:

Si Oyong-oyong
Sawahe si waru doyong
Sawahe ujuring eler
Sawahe ujuring etan
Solasi suling dami
Menyan putih pengundang dewa
Dewa-dewa widadari
Panurunan si patang puluh
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan
pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas
sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal
sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung
tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma)
dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara
penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare,
nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di
sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.

Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan
angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi,
kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran,
bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta
Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa,


lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari
Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan
musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik
permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai
mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai
komunitas.

Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan
terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan
orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di
huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan
bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang
dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa
ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh
ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak
ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak
boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya.
Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung,
yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan.
Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil
menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi,
Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong
Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung
Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna,
Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang,
Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang
dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam
formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan
gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh
laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat
dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal
kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk
keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung,


dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2
buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang
adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan,
yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di
Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk.
Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy
Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di
ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya
keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat
ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di
Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga
kampung tersebut.
Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau
kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan
dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor,
yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung
karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh
masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat.
Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu
berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka
termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka
mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan
Pangawinan (prajurit bertombak). Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi
kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami
perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan
acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor
adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini
mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal,
kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya
berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng


Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa
vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.

Angklung Gubrag
Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor.
Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam
kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan
ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).

Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining
mengalami musim paceklik.

Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung
sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan
Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah
Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa
sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi.
Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di
daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan
Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka
berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang
digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1


angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah
dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan
bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya
sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan
nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain
menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan
senjata tajam.

Lagu-lagu badeng: Lailahaileloh, Ya’ti, Kasreng, Yautike, Lilimbungan, Solaloh.


Buncis
Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di
Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara
pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis
digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya
pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan
lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam
penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan.
Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai
menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang
lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang
langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang
tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan
rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle..., dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian
buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2


angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok.
Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam
perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong.
Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau
degung. Lagu-lagu buncis di antaranya: Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir,
Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan
pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain
angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik mambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa
contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas: Angklung Buncis
(Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko
(Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog
dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung
Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang
dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari
pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau
pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi
tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil
pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara
orkestra besar.

Calung adalah alat musik Sunda yang merupakan prototipe (purwarupa) dari
angklung. Berbeda dengan angklung yang dimainkan dengan cara digoyangkan, cara
menabuh calung adalah dengan mepukul batang (wilahan, bilah) dari ruas-ruas
(tabung bambu) yang tersusun menurut titi laras (tangga nada) pentatonik (da-mi-na-
ti-la). Jenis bambu untuk pembuatan calung kebanyakan dari awi wulung (bambu
hitam), namun ada pula yang dibuat dari awi temen (bambu yang berwarna putih).

Pengertian calung selain sebagai alat musik juga melekat dengan sebutan seni
pertunjukan. Ada dua bentuk calung Sunda yang dikenal, yakni calung rantay dan
calung jinjing.

Calung Rantay
Calung rantay bilah tabungnya dideretkan dengan tali kulit waru (lulub) dari yang
terbesar sampai yang terkecil, jumlahnya 7 wilahan (7 ruas bambu) atau lebih.
Komposisi alatnya ada yang satu deretan dan ada juga yang dua deretan (calung
indung dan calung anak/calung rincik). Cara memainkan calung rantay dipukul
dengan dua tangan sambil duduk bersilah, biasanya calung tersebut diikat di pohon
atau bilik rumah (calung rantay Banjaran-Bandung), ada juga yang dibuat ancak
"dudukan" khusus dari bambu/kayu, misalnya calung tarawangsa di Cibalong dan
Cipatujah, Tasikmalaya, calung rantay di Banjaran dan Kanekes/Baduy.

Calung Jingjing
Adapun calung jinjing berbentuk deretan bambu bernada yang disatukan dengan
sebilah kecil bambu (paniir). Calung jinjing terdiri atas empat atau lima buah, seperti
calung kingking (terdiri dari 12 tabung bambu), calung panepas (5 /3 dan 2 tabung
bambu), calung jongjrong(5 /3 dan 2 tabung bambu), dan calung gonggong (2 tabung
bambu). Kelengkapan calung dalam perkembangannya dewasa ini ada yang hanya
menggunakan calung kingking satu buah, panempas dua buah dan calung gonggong
satu buah, tanpa menggunakan calung jongjrong Cara memainkannya dipukul dengan
tangan kanan memakai pemukul, dan tangan kiri menjinjing/memegang alat musik
tersebut. Sedangkan teknik menabuhnya antar lain dimelodi, dikeleter, dikemprang,
dikempyung, diraeh, dirincik, dirangkep (diracek), salancar, kotrek dan solorok.

Perkembangan
Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal secara umum yaitu calung
jinjing. Calung jinjing adalah jenis alat musik yang sudah lama dikenal oleh
masyarakat Sunda, misalnya pada masyarakat Sunda di daerah Sindang Heula -
Brebes, Jawa tengah, dan bisa jadi merupakan pengembangan dari bentuk calung
rantay. Namun di Jawa Barat, bentuk kesenian ini dirintis popularitasnya ketika para
mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang tergabung dalam Departemen
Kesenian Dewan Mahasiswa (Lembaga kesenian UNPAD) mengembangkan bentuk
calung ini melalui kreativitasnya pada tahun 1961. Menurut salah seorang
perintisnya, Ekik Barkah, bahwa pengkemasan calung jinjing dengan pertunjukannya
diilhami oleh bentuk permainan pada pertunjukan reog yang memadukan unsur tabuh,
gerak dan lagu dipadukan. Kemudian pada tahun 1963 bentuk permainan dan tabuh
calung lebih dikembangkan lagi oleh kawan-kawan dari Studiklub Teater Bandung
(STB; Koswara Sumaamijaya dkk), dan antara tahun 1964 - 1965 calung lebih
dimasyarakatkan lagi oleh kawan-kawan di UNPAD sebagai seni pertunjukan yang
bersifat hiburan dan informasi (penyuluhan (Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K.,
Enip Sukanda, Edi, Zahir, dan kawan-kawan), dan grup calung SMAN 4 Bandung
(Abdurohman dkk). Selanjutnya bermunculan grup-grup calung di masyarakat
Bandung, misalnya Layung Sari, Ria Buana, dan Glamor (1970) dan lain-lain, hingga
dewasa ini bermunculan nama-nama idola pemain calung antara lain Tajudin Nirwan,
Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos, dan Hendarso.

Perkembangan kesenian calung begitu pesat di Jawa Barat, hingga ada penambahan
beberapa alat musik dalam calung, misalnya kosrek, kacapi, piul (biola) dan bahkan
ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar. Unsur vokal menjadi sangat
dominan, sehingga banyak bermunculan vokalis calung terkenal, seperti Adang
Cengos, dan Hendarso.

Gamelan
Langsung ke: navigasi, cari

Pemain Gamelan

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang,


gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana
merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata
Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh,
diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan
terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis
ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad
ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi
Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia.
Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada
zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya
dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya.
Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka,
dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di
Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama
menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik
kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.[rujukan?]

Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur,


Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling
bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang
digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan
elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut
dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan
menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah
Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti
skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Kolintang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kulintang)
Langsung ke: navigasi, cari

Satu set kolintang

Bermain kolintang

Kolintang atau kulintangadalah alat musik khas daerah Minahasa, Sulawesi Utara.
Kolintang dibuat dari kayu lokal yang ringan namun kuat seperti telur, bandaran,
wenang, kakinik kayu cempaka, dan yang mempunyai konstruksi fiber paralel.

Nama kolintang berasal dari suaranya: tong (nada rendah), ting (nada tinggi) dan tang
(nada biasa). Dalam bahasa daerah, ajakan "Mari kita lakukan TONG TING TANG"
adalah: " Mangemo kumolintang". Ajakan tersebut akhirnya berubah menjadi kata
kolintang.

Beberapa group terkenal seperti Kadoodan, Tamporok, Mawenang yang sudah eksis
lebih dari 35 tahun.Pembuat kolintang tersebar di Minahasa dan di pulau Jawa,salah
satu pembuat kolintang yang terkenal Petrus Kaseke
Cello
Violoncello

Violoncello, yang hampir selalu disingkat menjadi cello (pengucapan dalam


bahasa Indonesia sama, yaitu célô/sélô, adalah sebuah alat musik gesek dan anggota
dari keluarga biola. Orang yang memainkan cello disebut cellis. Cello adalah alat
musik yang populer dalam banyak segi: sebagai instrumen tunggal, dalam musik
kamar, dan juga sebagai fondasi dalam suara orkestra modern.

Deskripsi
Cellis

Nama cello adalah singkatan dari kata dalam bahasa Italia violoncello, yang berarti
"violone kecil". Violone adalah sebuah instrumen yang kuno, sebuah viol besar, yang
mirip dengan bass modern.

Cello paling erat terkait dengan musik klasik Eropa. Ia adalah bagian dari orkestra
standar dan memberikan suara bas dalam sebuah kuartet gesek, serta bagian dari
banyak kelompok musik kamar. Sejumlah besar concerto dan sonata telah digubah
untuknya. Alat musik ini kurang lazim dalam musik pop, namun kadang-kadang
ditampilkan dalam rekaman-rekaman pop dan rock.

Di antara karya-karya Barok yang paling terkenal untuk cello adalah karya J. S. Bach
Unaccompanied Suites for Cello, yang biasanya dikenal sebagai Bach Cello Suites.
Sebuah contoh lagu era klasik adalah karya Haydn Cello Concerto #1 in C major.
Repertoar standar era romantik termasuk Cello Concerto in B minor oleh Antonín
Dvořák, Cello Concerto in E minor oleh Elgar, dan dua sonata oleh Brahms.
Komposisi-komposisi modern dari awal abad ke-20 termasuk sonata-sonata cello
tanpa iringan oleh Paul Hindemith (opus 25) dan Zoltán Kodály (opus 8). Rekaman-
rekaman di dalam genre Avant Garde telah menghidupkan kembali keluwesan alat
musik ini. Contohnya adalah Night of the Four Moons oleh George Crumb.
Konstruksi

Konstruksi sebuah cello

Ukuran cello lebih besar daripada biola atau viola namun lebih kecil daripada bass.
Seperti anggota-anggota lainnya dari keluarga biola, cello mempunyai empat dawai.
Dawai-dawainya biasanya ditala pada nada (dari tinggi ke rendah) A, D, G, dan C
(A3, D3, G2, dan C2 dalam notasi tala ilmiah). Ia seperti viola namun satu oktaf lebih
rendah, dan satu seperlima oktaf lebih rendah daripada biola (lihat #Penalaan dan
rentangan). Ia dimainkan dalam posisi berdiri di antara kedua kaki si pemusik yang
duduk, dan ditegakkan pada sepotong metal yang disebut endpin. Si pemain
menggesekkan penggeseknya dalam posisi horisontal melintang di dawai.

Cello adalah sebuah instrumen yang rumit yang terdiri atas banyak bagian. Meskipun
pada umumnya dia dibuat ari kayu, beberapa bagiannya dapat dibuat dari baja atau
logam-logamlainnya dan/atau bahan komposit. Dawai-dawai modern dibuat dari baja,
usus, nilon atau bahan-bahan inti sintetis lainnya, yang dilapisi dengan berbagai
gulungan logam.

Badan
Kerangka utama cello biasanya dibuat dari kayu, meskipun beberapa cello modern
dibuat dari bahan serat karbon. Sebuah cello tradisional biasanya mempunyai bahan
atas dari kayu spruce, dengan maple untuk bagian belakang, sisi, dan lehernya, Kayu-
kayu yang lain, seperti poplar atau willow, kadang-kadang digunakan untuk bagian
belakang atau sisinya. Cello yang lebih murah seringkali bagian atas dan belakangnya
dibuat dari kayu lapis.

Ukuran
Cello-cello berukuran standar disebut "ukuran penuh". Namun ada pula cello dengan
ukuran-ukuran yang lebih kecil, dari yang 'tujuh-perdelapan" dan "tiga-perempat"
hingga "seperenambelas". Cello yang berukuran lebih kecil sama saja dengan cello-
cello standar dalam konstruksi, rentangan nada, dan penggunaannya, namun
diperkecil ukurannya untuk memudahkan anak-anak dan orang dewasa yang lebih
pendek tubuhnya. Cello yang berukuran "setengah" sebetulnya bukan setengah dari
yang 'ukuran penuh", melainkan hanya lebih kecil sedikit. Demikian pula dengan
ukuran-ukuran lainnya. Banyak cellis lebih kecil tubuhnya lebih suka memainkan
cello "tujuh-perdelapan" karena rentangan tangan dalam posisi-posisi yang lebih
bawah tidak terlalu sulit. Meskipun jarang, cello-cello yang lebih besar daripada yang
"ukuran penuh" (empat-perempat) juga ada. Cellis yang ukuran tangannya besar
mungkin lebih menyukai cello yang lebih besar ini. Cello-cello yagn dibuat oleh para
empu dari abad ke-17 dan 18 (mis. Stradivarius dan Guarneri) cenderung sedikit lebih
kecil daripada apa yang kini dianggap ukuran penuh.
MAKALAH
Alat Musik Tradisional Indonesia
dan Modern

Nama : LUSY
THERESIA

Kelas IXC

SMP NEGERI 1 CIBARUSAH

2009 - 2010

Anda mungkin juga menyukai