Anda di halaman 1dari 13

JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 68

PROSES HIRARKI ANALITIK DENGAN


EXPERT CHOISE 2000 UNTUK MENENTUKAN FASILITAS
PENDIDIDKAN YANG DIINGIKAN KONSUMEN


Siti Rohana Nasution
Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pancasila
Email : nasutionana@yahoo.co.id


Abstrak

Untuk mengetahui skala prioritas pilihan konsumen dalam rangka menemukan subkriteria yang
paling diminati dilakukan dengan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP). Hal
pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan penyeleksian awal yaitu konsistensi dalam
menjawab pertanyaan terhadap pertanyaan yang telah disebar kemudian dilakukanlah perhitungan
dengan cara pembobotan pada setiap kriteria dan subkriteria dengan menggunakan software
Expert Choice 2000 sehingga didapatkan pembobotan dari setiap subkriteria dan prioritas
pembobotan berdasarkan pilihan responden. Dalam pembobotan pada Expert Choice 2000 sangat
berpengaruh terhadap besarnya angka pembobotan dan kecilnya angka rasio inkonsistensi yang
masuk dalam daerah toleransi sebesar diharapkan dapat mencapai angka 10% atau (0.1)
sehingga dapat diketahui konsistensi jawaban dari responden dengan pembobotan tertinggi adalah
metode yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen. Hasil dalam analisis ini akan memprioritaskan
subkriteria dan dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk evaluasi pihak manajemen di masa
mendatang. Dengan memprioritaskan pembobotaan tertinggi yaitu metode terpilih maka
diharapkan perbaikan yang dilakukan secara berkesinambungan ini akan menghasilkan manfaat
yang besar buat pihak manajemen dalam pengelolaan organisasi untuk lebih menfokuskan pada
kebutuhan konsumen.

Kata Kunci : Analytic Hierarchy Process (AHP), Expert Choice.

PENDAHULUAN

Dewasa ini perkembangan pendidikan terlihat
amat pesat yang mengikuti perkembangan
teknologi yang telah ada sehingga menjadi
salah satu bagian dari agenda pemerintah
pada sistem pendidikan nasional. Menurut UU
SISDIKNAS Sistem pendidikan nasional
adalah untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia dan keseluruhan komponen
pendidikan yang saling terkait secara terpadu
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional
(UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 3, hal 3).

Sedangkan pendidikan menurut ketentuan
umum sisdiknas adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,
akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara (Sistem pendidikan nasional pasal 1
ayat 1, hal 3). Pendidikan menurut ketentuan
umum sisdiknas merupakan pendidikan
formal, nonformal, dan informal. Pendidikan
nonformal diartikan sebagai jalur pendidikan
di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan
berjenjang (UU SISDIKNAS pasal 1 ayat 12,
hal 4). Berarti secara sadar kita telah
mengetahui bahwa diperlukan usaha dan
tekad yang terencana untuk mengatasi
problem suasana kondusif pembelajaran
dalam pengembangan potensi-potensi yang
ada pada peserta didik. Dari sanalah
kemudian fungsi itu berjalan yaitu bahwa
pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa
yang mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung
jawab. (UU Sisdiknas, thn 2003 pasal 3).
69 JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013
Keterkaitan pendidikan formal dengan
nonformal sampai saat ini adalah sangat erat
bagaikan dua buah sisi mata uang yang tidak
bisa saling dipisahkan antara satu dengan
yang lainnya. Hal inilah yang
melatarbelakangi penulis untuk membuat
judul terkait dengan dunia pendidikan yang
menarik ini, lebih tepatnya pendidikan
nonformal yaitu bimbingan belajar, didukung
dengan kebutuhan perusahaan tempat
penulis bekerja untuk mengetahui informasi
seberapa kuatnya kriteria-kriteria unggulan
konsumen dalam pemilihan pendidikan
dengan menggunakan metode proses hirarki
analitik melalui bantuan perangkat lunak
program Expert Choise 2000.

Sedangkan pendidik sendiri terdefinisi
sebagai tenaga kependidikan yang
bekualifikasi sebagai guru, dosen, konselor,
pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai
dengan kekhususannya, serta berpartisipasi
dalam menyelenggarakan pendidikan
(Undang-Undang Sisdiknas thn 2003 pasal 1
poin 6). Kesatuan sistem diantara keduanya
sangat tidak bisa terpisahkan bagai dua sisi
mata uang, jika pendidikan ada tetapi
pendidiknya tidak ada maka sistem
pendidikan tidak akan berjalan. Sedangkan
bila yang terjadi sebaliknya kalaulah pendidik
ada tetapi pendidikan atau bahan ajar
(pedoman) tidak maka pengajaran pendidik
akan tidak terarah dan tak berkualifikasi
sehingga mutunya tidak dapat diukur.

Definisi ini kemudian telah disepakati oleh
pakar pendidikan sebagai keseluruhan
komponen pendidikan yang saling terkait
secara terpadu untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional (UU Sisdiknas, thn 2003
pasal 1 poin 3). Sehingga komponen yang
saling terkait tadi memiliki keterpaduan atau
kesatuan untuk bertekad memajukan
pendidikan dari mulai kalangan bawah hingga
kalangan atas. Agar tercapainya suatu
keseluruhan komponen pendidikan yang apik,
saling terkait dan terpadu maka diperlukanlah
perangkat-perangkat komponen yang
diharapkan dapat memajukan pendidikan
adalah sebagai berikut:
Kurikulum
Evaluasi pendidikan
Akreditasi
Sumber daya pendidikan (tenaga
kependidikan, dana, sarana dan
prasarana).
Dewan pendidikan
Komite sekolah
Warga Negara
Masyarakat
Pemerintah daerah
Menteri
Pemerintah pusat.

Dalam harmonisasi hubungan timbal balik
antara perangkat yang ada maka akan
tercapailah suatu tujuan pendidikan nasional
yang baik, yang telah lama direncanakan dan
dicanangkan oleh pemerintah mulai dari
sebelum Indonesia merdeka hingga sekarang.

Betapa erat kaitan antara pendidikan formal
dan nonformal. Begitu pula dengan bimbingan
belajar, yang menjadi salah satu preferensi
dari pendidikan nonformal. Sehingga
kehadirannya sangat mendukung fungsi
pendidikan dalam mencapai tujuan
pendidikan nasional yang dapat
mencerdaskan anak bangsa. Perlu
didukungnya tujuan pendidikan nasional
mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak.


ANALISIS AHP

Metode AHP dikembangkan oleh Thomas L.
Saaty, seorang ahli matematika. Metode ini
adalah sebuah kerangka untuk mengambil
keputusan dengan efektif atas persoalan yang
kompleks dengan menyederhanakan dan
mempercepat proses pengambilan keputusan
dengan memecahkan persoalan tersebut
kedalam bagian-bagiannya, menata bagian
atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki,
member nilai numerik pada pertimbangan
subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan
mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk
menetapkan variabel yang mana yang
memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak
untuk mempengaruhi hasil pada situasi
tersebut. Metode AHP ini membantu
memecahkan persoalan yang kompleks
dengan menstruktur suatu hirarki kriteria,
pihak yang berkepentingan hasil, dan dengan
menarik berbagai pertimbangan guna
mengembangkan bobot atau prioritas. Metode
ini juga menggabungkan kekuatan dari
perasaan dan logika yang bersangkutan pada
berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai
pertimbangan yang beragam menjadi hasil
yang cocok dengan perkiraan kita secara
intuitif sebagaimana yang dipresentasikan
pada pertimbangan yang telah dibuat. (Saaty,
1993).

JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 70
Menyusun Hierarki (Decomposition)
Menurut Saaty, ada tiga prinsip dalam
memecahkan persoalan dengan AHP, yaitu
prinsip; Menyusun hirarki (Decomposition),
prinsip menentukan prioritas (Comparative
Judgement), dan prinsip konsistensi logis
(Logical Consistency). Hirarki yang dimaksud
adalah hirarki dari permasalahan yang akan
dipecahkan untuk mempertimbangkan
kriteria-kriteria atau komponen komponen
yang mendukung pencapaian tujuan. Dalam
proses menentukan tujuan dan hirarki tujuan,
perlu diperhatikan apakah kumpulan tujuan
beserta kriteria-kriteria yang bersangkutan
tepat untuk persoalan yang dihadapi. Dalam
memilih kriteria-kriteria pada setiap masalah
pengambilan keputusan perlu memperhatikan
kriteria-kriteria sebagai berikut :

a. Lengkap
Kriteria harus lengkap sehingga mencakup
semua aspek yang penting, yang
digunakan dalam mengambil keputusan
untuk pencapaian tujuan. Dalam hal
pengambilan keputusan untuk kelayakan
pemilihan bimbingan belajar ini ada
beberapa pertimbangan kriteria-kriteria
utama yang dibandingkan yaitu;
Kualitasnya, Harga (price) dan Lokasi
bimbingan belajarnya.

b. Operasional
Operasional dalam artian bahwa setiap
kriteria ini harus mempunyai arti bagi
pengambil keputusan, sehingga benar-
benar dapat menghayati terhadap alternatif
yang ada, disamping terhadap sarana
untuk membantu penjelasan alat untuk
berkomunikasi.

c. Tidak berlebihan
Menghindari adanya kriteria yang pada
dasarnya mengandung pengertian yang
sama. Sehingga membuat kriteria yang
berdasarkan pada tujuan lebih fokus.

d. Menyederhanakan persoalan dalam
analisis
Decomposition Setelah persoalan
didefinisikan maka perlu dilakukan
decomposition, yaitu memecah persoalan
yang utuh menjadi unsur-unsurnya. Jika
ingin mendapatkan hasil yang akurat,
pemecahan juga dilakukan terhadap
unsur-unsurnya sehingga didapatkan
beberapa tingkatan dari persoalan tadi.
Karena alasan ini maka proses analisis ini
dinamai hirarki (Hierarchy). Pembuatan
hirarki tersebut tidak memerlukan
pedoman yang pasti berapa banyak hirarki
tersebut dibuat, tergantung dari pengambil
keputusan-lah yang menentukan dengan
memperhatikan keuntungan dan kerugian
yang diperoleh jika keadaan tersebut
diperinci lebih lanjut. Ada dua jenis hirarki,
yaitu hirarki lengkap dan hirarki tidak
lengkap. Dalam hirarki lengkap, semua
elemen pada semua tingkat memiliki
semua elemen yang ada pada tingkat
berikutnya. Jika tidak demikian maka
dinamakan hirarki tidak lengkap.

Ancangan dalam menyusun hirarki
bergantung pada jenis keputusan yang perlu
diambil. Jika persoalannya adalah memilih
alternatif, kita dapat mulai dari tingkat dasar
dengan menderetkan semua alternatif itu.
Tingkat berikutnya harus terdiri atas criteria
untuk mempertimbangkan berbagai
alternative tadi. Dan tingkat puncak haruslah
satu elemen saja, yaitu fokus atau tujuan
menyeluruh. Di sana kriteria-kriteria itu dapat
dibandingkan menurut pentingnya kontribusi
masing-masing. Dan hendaklah kriteria-
kriteria yang diambil sebagai bahan seminimal
mungkin.

Comparatif Judgement (Putusan
Perbandingan) prinsip ini berarti membuat
penilaian tentang kepentingan relatif dua
elemen pada suatu tingkat tertentu dalam
kaitannya dengan tingkat yang diatasnya.
Penilaian ini merupakan inti dari AHP, karena
akan berpengaruh terhadap prioritas elemen-
elemen. Hasil dari penilaian ini akan
ditempatkan dalam bentuk matriks yang
dinamakan matriks pairwise comparison.
Dalam melakukan penialaian terhadap
elemen-elemen yang diperbandingkan
terdapat tahapan-tahapan, yakni:
1. Elemen mana yang lebih (penting / disukai
/ berpengaruh / lainnya)
2. Berapa kali sering (penting / disukai /
berpengaruh / lainnya).

Agar diperoleh skala yang bermanfaat ketika
membandingkan dua elemen, perlu dipahami
tujuan yang diambil secara umum. Dalam
penyusunan skala kepentingan perbandingan
secara berpasangan menurut Saaty (1993)
menggunakan referensi patokan pada tabel 1.

Dalam penilaian kepentingan relative dua
elemen berlaku aksioma reciprocal, artinya
jika elemen i dinilai 3 kali lebih penting
dibanding j, maka elemen j harus sama
71 JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013
dengan 1/3 kali pentingnya dibanding elemen
i. Disamping itu, perbandingan dua elemen
yang sama akan menghasilkan angka 1,
artinya sama penting. Dua elemen yang
berlainan dapat saja dinilai sama penting. Jika
terdapat m elemen, maka akan diperoleh
matriks pairwise comparison berukuran m x n.
Banyaknya penilaian yang diperlukan dalam
menyusun matriks ini adalah n(n-1)/2 karena
matriks reciprocal dan elemen-elemen
diagonalnya sama dengan 1. Synthesis of
Priority Dari setiap matriks pairwise
comparison kemudian dicari nilai eigen
vectornya untuk mendapatkan local priority.
Karena matriks-matriks pairwise comparison
terdapat pada setiap tingkat, maka untuk
mendapatkan global priority harus dilakukan
sintesis antara local priority. Pengurutan
elemen-elemen menurut kepentingan relatif
melalui prosedur sintesis dinamakan priority
setting. Logical Consistency Konsistensi
memiliki dua makna, pertama adalah objek-
objek yang serupa dapat dikelompokkan
sesuai dengan keseragaman dan relevansi.
Arti kedua adalah menyangkut tingkat
hubungan antara objek-objek yang
didasarkan pada kriteria tertentu.

Tabel 1. Skala Banding Secara Berpasang
Intensitas
dari
kepentingan
pada skala
absolut
Definisi Penjelasan
1 Sama
pentingnya
Kedua aktifitas
menyumbangkan
sama pada tujuan
3 Agak lebih
penting yang
satu atas
lainnya
Pengalaman dan
keputusan
menunjukkan
kesukaan atas satu
aktifitas lebih dari
yang lain
5 Cukup penting Pengalaman dan
keputusan
menunjukkan
kesukaaan atas satu
aktifitas lebih dari
yang lain
7 Sangat penting Pengalaman dan
keputusan
menunjukkan
kesukaan kuat atas
satu aktifitas lebih
dari yang lain
9 Kepentingan
yang ekstrim
Bukti menyukai satu
aktifitas atas yang
lain sangat kuat
2,4,6,8 Nilai tengah
diantara dua
keputusan yang
berdekatan
Bila kompromi
dibutuhkan
Berbalikan Jika aktivitas i
mempunyai
niali yang lebih
tingggi dari
aktifitas j maka
j mempunyai
nilai berbalikan
ketika
dibandingkan
dengan i

Rasio Rasio yang
didapat
langsung dari
pnegukuran

Sumber : T.L.Saaty, (1993)

Mendefinisikan Masalah dan Menetapkan
Tujuan
Bila proses hirarki analitik digunakan untuk
memilih alternatif atau penyusunan prioritas
alternatif, maka pada tahap ini dilakukan
pengembangan alternatif. Dalam menyusun
prioritas, maka masalah penyusunan prioritas
harus mampu didekomposisi menjadi tujuan
(goal) dari suatu kegiatan, identifikasi pilihan-
pilihan (options), dan perumusan kriteria
(criteria) untuk memilih prioritas (Gambar 1).
Langkah pertama adalah merumuskan tujuan
dari suatu kegiatan penyusunan prioritas.
Dalam kasus perumusan strategi dalam
memilih bimbingan belajar, tujuan dari
memilih bimbingan belajar adalah untuk
meningkatkan pengetahuan konsumen
mengenai bimbingan belajar yang berkualitas
berdasarkan informasi atau data-data faktual
dan sekaligus merupakan evaluasi strategi
terhadap bimbingan belajar untuk maju dan
berkembang melalui keseluruhan kriteria dan
aspek yang ada. Untuk kasus pemilihan
bimbingan belajar, tujuan kegiatan adalah
untuk memilih serta mendapatkan bimbingan
belajar terbaik.

Menyusun Masalah dalam Struktur Hirarki.
Setiap permasalahan yang kompleks dapat
ditinjau dari sisi yang detail dan terstruktur. Di
bawah ini adalah bagan untuk menentukan
kriteria dalam mencapai tujuan, sebagai
berikut :
JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 72

Gambar 1. Dekomposisi Masalah

Maka identifikasi struktur hierarki dalam
penelitian pemilihan bimbingan belajar ini
berkaitan dengan judul yang penulis
harapkan. Setelah tujuan dapat ditetapkan,
maka langkah selanjutnya adalah
menentukan kriteria dari tujuan tersebut.
Untuk kasus memilih bimbingan belajar ini,
kriteria tujuan adalah (i) Harga yang
ditawarkan meliputi diskon, paket program
dan kemudahan dalam hal pembayaran
angsuran (ii) Kualitas meliputi fasilitas, alumni
lulusannya, metode belajar yang diberikan
dan staff pengajar (iii) Lokasi yang meliputi
suasana yang tenang, sarana transportasi
dan etersediaan lahan parker yang
ditawarkan kepada konsumen. Untuk
pemilihan bimbel, indikator yang digunakan
mencakup (i) kualitas pelayanan, (ii) harga
yang ditawarkan ; dan (iii) lokasi keberadaan
bimbel.

Menyusun Prioritas Untuk tiap Elemen
Masalah
Proses ini menghasilkan bobot elemen
terhadap pencapaian tujuan, sehingga
elemen dengan bobot tertinggi memiliki
prioritas penanganan. Langkah pertama pada
tahap ini adalah menyusun perbandingan
berpasangan yang ditransformasikan dalam
bentuk matriks, sehingga matriks ini disebut
matriks perbandingan berpasangan.

Setelah masalah terdekomposisi, maka ada
dua tahap penilaian atau membandingkan
antar elemen yaitu perbandingan antar criteria
dan perbandingan antar pilihan untuk setiap
kriteria. Perbandingan antar kriteria
dimaksudkan untuk menentukan bobot untuk
masingmasing kriteria. Di sisi lain,
perbandingan antar pilihan untuk setiap
kriteria dimaksudkan untuk melihat bobot
suatu pilihan untuk suatu kriteria. Dengan
perkataan lain, penilaian ini dimaksudkan
untukmelihat seberapa penting suatu pilihan
dilihat dari kriteria tertentu.
Dalam melakukan penilaian/perbandingan,
ahli yang mengembangkan AHP mengunakan
skala dari 1/9 sampai dengan 9. Jika pilihan A
dan B dianggap sama (indifferent), maka A
dan B masing-masing diberi nilai 1. Jika
misalnya A lebih baik/lebih disukai dari B,
maka A diberi nilai 3 dan B diberi nilai 1/3.
Jika A jauh lebih disukai dengan B, maka A
misalnya diberi nilai 7 dan B diberi nilai 1/7.
Penilaian ini tidak akan digunakan dalam
tulisan ini karena cara tersebut kurang logis.
Sebagaimana contoh, jika A nilainya 7 dan B
adalah 1/7, maka perbedaan antara A dengan
B hampir mendekati 700%.

Suatu alternatif penilaian yang digunakan oleh
Bourgeois (2005) yang memakai skala antara
0.1 sampai dengan 1.9 dinilai lebih logis
seperti disajikan pada Tabel 2.7. Jika A sedikit
lebih baik/disukai dari B, maka A diberi nilai
1.3 dan B dinilai 0.7, mengindikasikan jarak
sekitar 30% dari nilai 1. Jika A jauh lebih
disukai oleh B, maka nilai A menjadi 1.6 dan
B menjadi 0.4. Cara penilaian seperti ini akan
digunakan dalam tulisan ini.

Tabel 2. Skala Penilaian
Hasil Penilaian Nilai
A
Nilai
B
A sangat jauh lebih disukai dari
B
1.9 0.1
A Jauh lebih disukai dari B 1.6 0.4
A sedikit lebih disukai dari B 1.3 0.7
A sama dengan B 1.0 1.0
A sedikit kurang disukai dari B 0.7 1.3
A jauh kurang disukai dari B 0.4 1.6
A sangat jauh kurang di sukai
dari B
0.1 1.9
Sumber : Bourgeois (2005)

Dengan menggunakan penilaian seperti Tabel
2 maka perbandingan antar kriteria akan
menghasilkan Tabel 3 berikut ini. Untuk
memudahkan, dalam tabel diasumsikan
hanya ada empat kriteria. Dari tabel tersebut
dapat dirangkum sebagai berikut :

Tabel 3. Perhitungan antar criteria
Kriteria CR
1
CR
2
CR
3
CR
4
Jum Bobot
CR
1
- C
12
C
13
C
14
C
1
bc
1
= c
1
/c
CR
2
C
21
- C
23
C
24
C
2
Bc
2
= c
1
/c
CR
3
C
23
C
32
- C
34
C
3
Bc
3
= c
1
/c
CR
4
C
24
C
42
C
43
- C
4
Bc
4
= c
1
/c
Jumlah C
Sumber : www.scribd.com /Wayanerna (2007)


73 JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013
Keterangan :
1. Cij = Hasil penilaian/perbandingan antara
kriteria i dengan j.
Sebagai contoh : (C12, C13,,C43)
2. Ci = Penjumlahan nilai perbaris hasil
perbandingan antar kriteria ke I terhadap j
Sebagai contoh : (C12 + C13 +C14 = C1)
3. C = Penjumlahan semua nilai Ci, contoh :
(C = C1 + +C4)
4. bci = Kriteria bobot penilian ke i diperoleh
dengan membagi nilai Ci dengan C.

Dengan menggunakan prosedur yang sama,
maka dilakukan perbandingan antar pilihan
(OP) untuk masing-masing kriteria. Tabel 4
berikut mengilustrasikan perbandingan antar
pilihan atau subkriteria (4 pilihan) untuk
kriteria 1 (C1). Berikut ini adalah
perbandingan pilihan yang tersedia pada tabel
perbandingan criteria untuk C1, dengan
penjelasan sebagai berikut :

Tabel 4. Perbandingan antar Pilihan Kriteria
C1
C
1
OP
1
OP
2
OP
3
OP
4
Jml Bobot
OP
1
0
21
0
21
0
21
0
1
bo
11
=0
1
/0
OP
2
0
21
0
21
0
21
0
2
Bo
21
=0
2
/0
OP
3
0
21
0
21
0
21
0
3
Bo
31
=0
3
/0
OP
4
0
21
0
21
0
21
0
4
Bo
41
=0
4
/0
Jml 0
Sumber : www.scribd.com /Wayanerna (2007)

Keterangan :
1. Oij = Hasil penilaian/perbandingan antara
pilihan kriteria i ke k terhadap j. Sebagai
contoh : (O12, O13,,O43)
2. Oi = Penjumlahan nilai perbaris hasil
perbandingan antar kriteria ke i terhadap j
Sebagai contoh : (O1, O2, O3, dst)
3. O = Penjumlahan semua nilai Oi.
4. boij = Kriteria bobot nilai pilihan ke i untuk
kriteria ke j

Proses penilaian antar pilihan ini terus
dilakukan untuk semua kriteria. Sebagai
catatan, penilaian sebaiknya dilakukan oleh
ahlinya dan stakeholder utama. Biasanya,
jumlah ahli bervariasi, bergantung pada
ketersediaan sumberdaya. Penilaian dapat
dilakukan dengan menyebarkan kuesioner
kepada masing-masing ahli ataupun dengan
melakukan suatu pertemuan para ahli untuk
melakukan penilaian tersebut. Untuk studi
kasus ini tersedia tabel perbandingan criteria
untuk C1, penilaian dilakukan dengan
mengumpulkan para tenaga ahli.


Sintesis Penilaian
Sintesis hasil penilaian merupakan tahap
akhir dari AHP. Pada dasarnya, sintesis ini
merupakan penjumlahan dari bobot yang
diperoleh setiap pilihan pada masing-masing
kriteria setelah diberi bobot dari kriteria
tersebut. Secara umum, nilai suatu pilihan
adalah sebagai berikut :

bopi = nilai/ bobot untuk pilihan ke i

Formula tersebut juga dapat disajikan dalam
bentuk tabel. Untuk memudahkan,
diasumsikan ada empat kriteria dengan empat
pilihan seperti Tabel 5 berikut. Sebagai
contoh nilai prioritas/bobot pilihan 1 (OP1)
diperoleh dengan mengalikan nilai bobot pada
ktiteria dengan nilai yang terkait dengan
kriteria tersebut untuk pilihan 1 sebagai
berikut :

bop
i
= bo
11
* bc
1
+ bo
12
* bc
2
+ bo
13
* bc
3
+
bo
14
* bc
4
.......( 2 )

Hal yang identik dilakukan untuk pilihan 2, 3
dan 4. Dengan membandingkan nilai yang
diperoleh masing- masing pilihan, prioritas
dapat disusun berdasarkan besarnya nilai
tersebut. Semakin tinggi nilai suatu pilihan,
semakin tinggi prioritasnya, dan sebaliknya.

Tabel 5. Sintesa Pilihan
CR
1
CR
2
CR
3
CR
4
Prioritas
bc
1
bc
2
bc
3
bc
4
bop
1

OP
1
bo
11
bo
12
bo
13
bo
14
bop
1

Op
2
Bo
21
Bo
22
bo
23
Bo
24
bop
1

OP
3
Bo
31
Bo
32
bo
33
Bo
34
bop
1

OP
4
Bo
41
Bo
42
bo
43
Bo
44
bop
1

Sumber : www.scribd.com /Wayanerna (2007)

Konsistensi AHP
Jika aij mewakili derajat kepentingan faktor i
terhadap faktor j dan ajk menyatakan
kepentingan dari faktor j terhadap faktor k,
maka agar keputusan menjadi konsisten,
kepentingan dari faktor i terhadap faktor k
harus sama dengan aij.ajk atau jika aij.ajk =
aik untuk semua i,j,k maka matrix tersebut
konsisten. Permasalahan didalam
pengukuran pendapat manusia, konsistensi
tidak dapat dipaksakan. Jika A>B (misalnya 2
> 1) dan C>B (misalnya 3>1), tidak dapat
dipaksakan bahwa C>A dengan angka 6>1
meskipun hal itu konsisten. Pengumpulan
pendapat antara satu faktor dengan yang lain
adalah bebas satu sama lain, dan hal ini
JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 74
dapat mengarah pada ketidak-konsistensi
jawaban yang diberikan responden. Namun,
terlalu banyak ketidakkonsistensi juga tidak
iinginkan. Pengulangan wawancara pada
sejumlah responden yang sama kadang
diperlukan apabila derajat tidak konsistennya
besar.

Saaty, (1993) telah membuktikan bahwa
indek konsistensi dari matrik berordo n dapat
diperoleh dengan rumus :



Keterangan :
C.I = Indek konsistensi

mak
= Nilai eigen terbesar dari matrik
berordo n

Nilai eigen terbesar didapat dengan
menjumlahkan hasil perkalian jumlah kolom
dengan eigen vektor utama. Sebagai contoh,
menggunakan tabel 2.4 dan tabel 2.5, nilai
eigen terbesar yang diperoleh :

maks
= 8.2 x 0.14732 + 21 x 0.04494 +
3.47619 x 0.31338 +1.875 x 0.49436
= 4.16810

Karena matrix berordo 4 (yakni terdiri dari 4
faktor) , nilai indek konsistensi yang diperoleh:


Apabila C.I bernilai nol, berarti matrik
konsisten. batas ketidakkonsistensi yang
ditetapkan Saaty, diukur dengan
menggunakan Rasio Konsistensi (CR), yakni
perbandingan indek konsistensi dengan nilai
pembangkit random (RI) yang ditabelkan
dalam tabel 2.6. Nilai ini bergantung pada
ordo matrik n. Dengan demikian, Rasio
konsistensi dapat dirumuskan sebagai berikut:



Indeks Acak atau Random Index (RI) adalah
Indeks Konsistensi dari matriks resiprokal
yang ditentukan secara acak. Pada Tabel 2.6
dapat dilihat rata-rata RI untuk berbagai
ukuran matriks.





Tabel 6. Rata-Rata RI Untuk Berbagai Ukuran
Matriks
Ukuran Matriks Rata-rata RI
1 0,0
2 0,0
3 0,58
4 0,9
5 1,12
6 1,24
7 1,32
8 1,41
9 1,45
10 1,49
11 1,51
12 1,48
13 1,56
14 1,57
15 1,59
Sumber: Saaty, (1993)

Sebagai contoh, melanjutkan nilai-nilai dari
responden yang tertera dalam tabel 2.6, nilai :


Bila matrik bernilai CR lebih kecil dari 10%,
ketidakkonsistenan pendapat masih dianggap
dapat diterima. Perhitungan diatas dilanjutkan
untuk level 3, sehingga diperoleh nilai
eigenvektor utama dan C.R. pada setiap level
dapat diperoleh. Bobot komposit
dipergunakan untuk menetapkan bobot dan
konsistensi keseluruhan. Rata-rata geometri
digunakan untuk merata-rata hasil akhir dari
beberapa responden. Program Expert Choice
(2000) merupakan perangkat lunak yang
dapat digunakan untuk membantu
perhitungan dengan metoda Analytic
Hierarchy Process (AHP).

Langkah-Langkah Proses Hirarki Analitik
Langkah-langkah Proses Hirarki Analitik
adalah sebagai berikut :
1. Mendefinisikan masalah dan spesifikasi
penyelesaian yang diinginkan.
2. Membentuk hirarki dari sudut pandang
manajerial keseluruhan.
3. Membentuk matriks perbandingan
berpasangan dari kontribusi relevan suatu
level elemen hirarki terhadap level elemen
hirarki di atasnya.
4. Mendapatkan penilaian yang diperlukan
untuk melengkapi matriks di langkah 3.
5. Dengan mengumpulkan data
perbandingan berpasangan, didapat
prioritas dan konsistensi diuji.
75 JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013
6. Lakukan langkah 3, 4, dan 5 untuk setiap
level dan pengelompokkan dalam hirarki.
7. Menggunakan komposisi hirarki (sintesis)
untuk membobotkan vektor prioritas
keseluruhan untuk elemen terbawah pada
hirarki.
8. Mengevaluasi konsistensi untuk
keseluruhan hirarki.

Kelemahan Proses Hirarki Analitik
Proses Hirarki Analitik mempunyai beberapa
kelemahan sebagai berikut :
1. Ambiguitas pada prosedur penanyaan
dan penggunaan skala rasio.
2. Ketidakpastian tidak diperhitungkan ketika
memetakan persepsi ke dalam bentuk
numerik.
3. Subyektivitas dan preferensi pengambil
keputusan masih merupakan pengaruh
besar pada keputusan akhir.
4. Proses AHP yang sederhana menjebak
orang menjadi pengguna yang dangkal,
maksudnya AHP langsung digunakan
tanpa mengkaji premis yang dituntut telah
memuaskan atau belum.

Tujuh Pilar AHP
Dalam konsep proses hirarki analitik, terdapat
tujuh pilar utama yang mempengaruhi
pertimbangan dalam melakukan penelitian
(Saaty, 1999), yaitu :

1. Skala rasio
Rasio adalah perbandingan dua nilai (a/b)
dimana nilai a dan b bersamaan jenis
(satuan). Skala rasio adalah sekumpulan
rasio yang konsisten dalam suatu
transformasi yang sama (multiplikasi
dengan konstanta positif). Sekumpulan
nilai (dalam satuan yang sama) dapat
distandardisasi dengan melakukan
normalisasi sehingga satuan tidak
diperlukan lagi dan obyek-obyek tersebut
dapat dengan lebih mudah dibedakan satu
sama yang lainnya.
2. Perbandingan berpasangan
Perbandingan berpasangan dilakukan
untuk memberikan bobot relatif antar
kriteria dan/atau alternatif, sehingga akan
didapatkan prioritas dari kriteria dan/atau
alternatif tersebut. Ada tiga pendekatan
untuk mengurutkan alternatif atau kriteria
yaitu relatif, absolut, dan patok duga
(benchmarking). Pendekatan digunakan
untuk kriteria-kriteria umum yang kritikal.
Pendekatan absolut digunakan pada level
bawah dari hirarki dimana biasanya
terdapat keterangan detail yang dapat
dikuantifikasikan dari masing-masing
kriteria. Pada pendekatan patok duga,
alternatif-alternatif dibandingkan dengan
alternatif referensi yang sudah diketahui,
kemudian alternatif-alternatif itu diurutkan
sesuai dengan hasil perbandingannya.
3. Kondisi-kondisi untuk sensitivitas dari
vektor eigen
Sensitivitas vektor eigen terhadap
perubahan kriteria membatasi jumlah
elemen pada setiap set perbandingan. Hal
ini membutuhkan homogenitas dari
elemen-elemen yang bersangkutan.
Perubahan haruslah dengan cara memilih
elemen yang kecil sebagai suatu unit dan
menanyakan berapa pengaruhnya
terhadap elemen yang lebih besar.
4. Homogenitas dan klusterisasi
Klusterisasi dipakai apabila perbedaan
antar elemen lebih dari satu derajat, guna
melebarkan skala fundamental secara
perlahan, yang pada akhirnya
memperbesar skala dari 1 sampai 9
sampai tak terhingga. Hal ini terutama
berlaku pada pengukuran relatif.
5. Sintesis
Sintesis diaplikasikan pada skala rasio
guna menciptakan suatu skala
unidimensional untuk merepresentasikan
keluaran menyeluruh, dengan
menggunakan pembobotan tambahan.
6. Mempertahankan dan membalikkan urutan
Pembobotan dan urutan pada hirarki
dipengaruhi dengan adanya penambahan
atau perubahan kriteria atau alternatif.
Seringkali terjadi fenomena pembalikkan
urutan (rank reversal) terutama pada
pengukuran relatif. Pembalikan urutan
adalah bersifat intrinsik pada pengambilan
keputusan sedemikian halnya dengan
kondisi mempertahankan urutan.
7. Pertimbangan kelompok
Pertimbangan kelompok haruslah
diintegrasikan secara hati-hati dan
matematis. Dengan AHP, dimungkinkan
untuk mempertimbangkan pengalaman,
pengetahuan dan kekuatan yang dimiliki
individu yang terlibat.

Expert Choise
Expert Choice adalah sebuah aplikasi yang
khusus digunakan sebagai alat bantu
implementasi model-model dalam Decission
Support System (DSS) atau yang lebih
dikenal dengan sebutan Sistem Penunjang
Keputusan (SPK) dalam sebuah perusahaan
ataupun untuk keperluan akademik. Beberapa
kemudahan terdapat dalam Expert Choise
JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 76
dibandingkan dengan software-software
sejenis, kemudahan-kemudahan tersebut
antara lain:
Fasilitas Graphical User Interface (GUI)
yang mudah digunakan. Sehingga cocok
digunakan baik bagi kalangan perusahaan
ataupun bagi kalangan akademik yang
baru saja mempelajari tentang seluk belum
Sistem Penunjang Keputusan
Banyak fitur-fitur yang menyediakan
pemodelan Decission Support System
secara baik, tanpa perlu melakukan
instalasi atau setting ulang parameter-
parameter yang terlalu banyak.

Perangkat lunak ini dapat digunakan untuk
menentukan keputusan-keputusan yang sulit
untuk dipecahkan ataupun diputuskan oleh
para pengambil keputusan. Software ini
memiliki tingkat ke akuratan yang tinggi untuk
metode Proses Hirarki Anatilik (AHP),
bilamana didukung dengan data-data yang
konsisten.

Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data yang dimaksud melalui
beberapa tahapan, yaitu; pengindetifikasian,
penetapan perspektif kriteria utama
konsumen yang didasari atas kebutuhan
konsumen, dan kemudian data didapatkan
dari hasil wawancara dengan pihak
manajemen. Informasi yang didapat tentu saja
menjadi dasar penelitian yang kemudian akan
dibuat kuisioner dan diolah menggunakan
perangkat lunak. Setelahnya dilakukanlah
penetapan perpektif subkriteria yang didasari
atas observasi penelitian yang dilakukan di
daerah konsumen berada.

Dari pengumpulan data yang diterangkan di
atas selanjutnya pembuatan kuisioner ini
dilakukan, disebarkan yang kemudian dapat
diketahui hasil dari kuisioner yang di tujukan
kepada konsumen yang telah ditetapkan. Dari
jawaban konsumen tersebut dapat diketahui
konsistensi jawaban atas pilihannya, namun
untuk mengetahuinya diperlukan
penyeleksian awal terhadap hasil dari
jawaban kuisioner konsumen, sehingga
jawaban kuisioner yang dengan dibaca dan
dilihat saja sudah tidak konsisten maka
jawaban tersebut tidak dapat digunakan untuk
pengolahan data selanjutnya. Tetapi bagi
hasil jawaban kuisioner yang dikoreksi
konsisten atau masuk daerah ketidak-
kosistenan maka selanjutnya dapat diolah
menggunakan perangkat lunak Expert Choise
2000. Berdasakan fakta dilapangan tersebut
maka didapatkan dari jumlah keseluruhan
responden yang dimintai pendapatnya tidak
kesemuanya konsisten. Konsistensi ini diukur
melalui angka ketidak-konsistenan jawaban
yang tertera pada Expert Choise 2000 yang
berkisar tidak lebih dari 10% (0.1), hal ini
didasarkan pada literatur AHP (Saaty,1993).

Selain data-data yang telah ada, data lain
yang kemudian disuguhkan dalam penelitian
ini adalah data mengenai hasil dari
pengolahan data kuisioner dengan Expert
Choise 2000. Data ini digunakan untuk
mengolah keseluruhan responden yang
dimintai pendapatnya melalui kuisioner
tersebut.

Setelahnya dilakukan perhitungan analisis
rasio dengan tujuan untuk mendapatkan rasio
inkonsistensi pada hirarki pemilihan
bimbingan belajar, barulah kemudian rasio
inkonsistensi pada hirarki keputusan ini
didapatkan konsistensi keputusannya. Saat
pengumpulan data pada perangkat lunak
sudah didapatkan, maka proses dari
pembobotan berpasangan pada masing-
masing kriteria ataupun antar subkriteria bisa
diselesaikan.

Bila mana perhitungan dalam proses
pengolahan tadi tidak terdapat masalah dalam
konsistensinya maka kita bisa mengetahui
hasil akhir dari penelitian ini, yaitu berupa
pembobotan keseluruhan kriteria utama
maupun subkriteria berpasangan serta kriteria
mana saja yang paling diminati konsumen
dalam mempertimbangkan pemilihan
bimbingan belajar, dari nilai pembobotan
inkonsistensinya sehingga mempunyai tingkat
kepercayan yang tinggi terhadap hasil
penelitian ini.

Data Primer
Dari data primer yang didapatkan melalui
kuisioner dan wawancara pada selama satu
periode ( 12 Bulan) dengan responden yang
dituju adalah responden yang ikut bimbingan
belajar khususnya siwa yang membutuhkan
sarana pendidikan. Dari hasil survey
didapatkan rincian contoh penyebaran
kuisioner mengenai pelayanan yang diberikan
oleh produsen kepada konsumen dalam hal
ini pemakai jasa sarana pendidikan. Pada
penelitian pemilihan sarana pendidikan ini
dibedakan menjadi tiga kriteria dasar pilihan,
yaitu kualitas, harga dan lokasi. Sedangkan
hal-hal yang mendasarinya adalah
keingintahuan kami sebagai pihak manajerial,
77 JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013
tentang seberapa efektif dan efisienkah
bilamana perspektif kriteria mengenai harga
dan lokasi dipisahkan dari perspektif kualitas
yang sebenarnya. Sehingga kami dapat
mengetahui seberapa jauhkah peluang
mereka (konsumen) dapat memilih sarana
dan fasilitas pendidikan khususnya
pendidikan non forma; berdasarkan oleh tiga
perspektif kriteria yang telah dijelaskan di atas
tadi.

Sedangkan subkriteria pada kriteria kualitas
yang dipilih oleh pihak manajemen adalah
berdasarkan empat kategori, yaitu : kategori
pertama adalah fasilitas, yang dengan ini
masalah ketersediaan kelas, ketersediaan
modul, Problem Set dan yang lain-lain akan
terjawab. Kategori subkriteria kedua adalah
alumni, yang dengannya Brand Image dari
lembaga pendidikan akan naik karena mereka
telah merasakan pelayanannya, yang ketiga
adalah metode pembelajaran dengan ini
peserta didik akan lebih mengerti dan
memahami ilmu yang diterima oleh mereka.
Sedangkan yang terakhir, kategori subkriteria
ke empat pilihan kami adalah staff pengajar,
ini merupakan salah satu faktor yang diminati
oleh peserta didik (siswa) yang karenanya
kedekatan dan emosional dalam pencapaian
karakter siswa dapat dibangun dengan mudah
sehingga mendukung program-program dari
visi serta misi dari pihak manajemen..

Pada perspektif kriteria harga terdapat tiga
kategori subkriteria yang kami pilih, yaitu :
Kategori subkriteria pertama adalah diskon
yang kompetitif, yang dengannya ketertarikan
konsumen kepada bimbing belajar semakin
besar. Selanjutnya subkriteria kedua
merupakan paket-paket program yang
ditawarkan sehingga dengan produk ini
menjadi unggulan dari penyelenggaran
pendidikan non formal di masa mendatang.
Subkriteria terakhir adalah kemudahan dalam
pembayaran, menjadi salah satu faktor yang
diinginkan oleh konsumen ketika sedang
mengalami kesulitan keuangan sehingga
membutuhkan sedikit kesenggangan dalam
melakukan pembayaran tersebut.

Subkriteria terakhir yang terdapat dalam
perspektif kriteria lokasi dibagi menjadi tiga
saja sesuai kebutuhan dari pihak pengelola
yaitu kategori subkriteria suasana yang
tercipta, yang dengannya kondisi kegiatan
pembelajaran di dalam ruangan maupun di
luar ruangan bisa berjalan kondusif sehingga
membuat mereka (peserta didik/siswa)
nyaman. Sedangkan kategori subkriteria yang
kedua adalah sarana transportasi, yang
dengannya memudahkan siswa dalam
mencapai tempat bimbingan belajar yang di
tuju baik dari rumah ataupun dari sekolah,
kategori ini pula yang seringkali jadi
pertimbangan konsumen. Kategori subkriteria
yang terakhir adalah lahan parkir,
ketersediaan lahan parkir ini seringkali juga
menjadi kendala tersendiri, karena letak
perkantoran yang satu dengan yang
sangatlah berdekatan dan berhadapan
langsung dengan jalan raya sehingga lahan
parkirnya menjadi minim dan menjadikannya
salah satu prioritas kami dalam
memasukkannya menjadi subkriteria dari
kriteria lokasi. berikut ini dalah bagan yang
disajikan dalam gambar hirarki pemilihan
bimbingan belajar yaitu sebgai berikut :



Gambar 2. Model Hirarki Penentuan Bobot
Kepentingan Kriteria dan Subkriteria

Berikut ini adalah lembar kuisioner yang
disebarkan :
Level 0 merupakan tujuan yang akan dicapai
melalui proses hirarki ini. Tujuan tersebut
terdiri dari satu elemen, yaitu menentukan
prioritas masing-masing sasaran kriteria
dalam analisa pemilihan bimbel. Kemudian
level 0 dijabarkan ke dalam level 1 yang
merupakan kriteria-kriteria utama yang
mempengaruhi tujuan hirarki. Dalam hal ini,
kriteria utama tersebut adalah ketiga
perspektif pemilihan bimbel, yaitu kriteria
kualitas, harga serta lokasi. Level 1 kemudian
dijabarkan ke dalam level 2, sebagai sub
kriteria dalam model hirarki. Sub kriteria
tersebut merupakan sasaran-sasaran dari
kriteria yang ada dalam setiap perspektif
pemilihan bimbel. Berikut ini adalah contoh
penyebaraan kuisioner yang telah dilakukan :
Untuk pertanyaan dibawah ini mohon beri
tanda O pada angka yang anda pilih
JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 78
berdasarkan pada kriteria-kriteria yang
menurut anda lebih penting. Adapun range
nilai yang terletak diantara 1 9 dimana nilai
9 merupakan nilai yang paling penting.

Nilai/
Tingkat
Definisi
1 Kedua Elemen sangat penting
3 Satu Elemen sedikit lebih penting
daripada elemen yag lain
5 Satu Elemen sesungguhnya
lebih penting daripada elemen
yag lain
7 Satu Elemen jelas lebih penting
daripada elemen yag lain
9 Satu Elemen mutlak lebih
penting daripada elemen yag lain
2, 4, 6, 8 nilai tengah diantara dua
penilaian yang berdampingan

Contoh Pengisian :

Diantara kriteria di bawah ini, mana yang
menurut anda lebih diutamakan dalam
memilih jenis kendaraan untuk pergi ke
kantor:


Selamat memilih dan terima kasih atas
partisipasinya :
Daftar Pertanyaan :

1. Diantara kriteria di bawah ini, mana yang
menurut anda lebih diutamakan dalam
memilih jenis kualitas pelayanan
bimbingan belajar :


2. Dalam hal faktor subkriteria di bawah ini,
mana yang menurut anda lebih
diutamakan dalam memilih jenis kualitas
bimbingan belajar :


3. Dalam hal faktor harga, pertimbangan
apakah dari sub kriteria di bawah ini yang
akan anda pilih :


4. Dalam hal faktor lokasi di bawah
ini,pertimbangan apakah dari sub kriteria di
bawah ini yang akan anda pilih :


Keterangan :
Fasilitas : Perangkat yang mendukung
lancarnya semua proses
pembelajaran.
Alumni : Lulusan bimbingan belajar
yang telah sukses dan
berhasil dengan berkat
bantuannya.
Metode : Perangkat proses
pembelajaran dalam
mengembangkan metode
belajar atau inovasi
terbarukan sehingga
membuat mereka paham dan
menyenangkan.
Staf Pengajar : Background atau lulusan
tenaga pengajar (mentor) yang
bimbingan belajar tersebut
telah sediakan seperti UI,
UGM, ITB, ITS, dan PTN/ PTS
lainnya.
Diskon : Keberanian pihak perusahaan
(bimbel) mengambil langkah
potongan harga bagi siswa
lama dan siswa baru untuk
strategi marketing.
Paket : Pilihan program-program yang
ditawarkan oleh pihak
perusahaan (bimbel) misalnya
paket regular, paket special,
dan paket special plus.
Kemudahan : Kemudahan dalam hal
pembayaran angsuran
investasi pendidikan siswa
yang bersangkutan.
Suasana : Terciptanya suasana belajar
yang kondusif, aman, nyaman
dan menyenangkan.
Sarana Transportasi : Akses transportasi
yang mudah untuk mencapai
tempat tujuan.



Paket
Kemudahan
Paket
Transportasi

79 JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013
Data Sekunder
Dalam pengambilan data sekuder dibawah ini
difokuskan pada literatur dunia pendidikan
dalam hal ini bimbingan belajar. Sehingga
data sekunder ini dapat mendukung hipotesa
penelitian yang dilakukan oleh penulis.

Informasi mengenai kondisi perkembangan
dunia pendidikan khususnya bimbingan
belajar berupa data yang didapatkan dari
media massa ataupun dari badan pemerintah
yang berkompeten dibidangnya. Untuk
melengkapinya penulis berupaya dengan
memakai data tambahan yaitu dengan melihat
sumber informasi yang dibutuhkan berupa
buku, lewat website atau situs internet.

Sumber Daya Manusia
Untuk meningkatkan kemampuan dan
ketrampilan karyawan, manajemen
menyelenggarakan pelatihan baik yang
berasal dari internal maupun eksternal
perusahaan. Beberapa pelatihan yang telah
ditetapkan selama satu tahun diantaranya
pelatihan supervisi tenaga kerja untuk
meningkatkan kemampuan di level praktis,
pelatihan 5S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan,
Santun), pelatihan komunikatif, pelatihan
hypno terapy yang berguna untuk
meningkatkan efisiensi, semangat kerja
dengan kondisi tempat kerja yang nyaman
dan bersih, serta meningkatkan keterampilan
atau kepahaman karyawan mengenai
program-program dan produk perusahaan.
Jenis-jenis pelatihan lainnya yang juga
diberikan pada karyawan baik yang bersifat
umum maupun teknis untuk meningkatkan
tingkat produktifitas kerja karyawan.

Dalam hal peningkatan kualitas sarana
kegiatan belajar-mengajar untuk karyawan,
telah memperbaharui serta menambah
fasilitas ruang pelatihan karyawan selain itu
untuk meningkatkan komunikasi antar
karyawan maka manajemen juga senantiasa
memperbaharui sistem informasi dalam
bimbingan belajar.

Bukan sebuah kearifan local lagi bilamana
seingkali kita bisa pulang lebih lama atau
bahkan bisa lebih cepat daripada itu. Oleh
sebab itu evaluasi kinerja menjadi penting,
selama kearifaan tadi dikomunikasikan
dengan pihak atasan dan tidak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap etos kerja
mungkin bagi sebagian orang menjadi tidak
masalah.

Identifikasi Analisa Bimbingan Belajar
Agar dapat mengetahui dan mengidentifikasi
strategi yang dimiliki oleh BBI Salemba
melalui penelitian ini, maka langkah-langkah
yang akan dilakukan adalah :
- Mengetahui literature AHP
- Menganalisa kuisioner menggunakan AHP
dengan program Expert Choise (2000)

Lingkungan Bimbingan Belajar
Secara umum terdapat 2 (dua) faktor yang
secara individu dan bersama-sama saling
berpengaruh terhadap dinamika
perkembangan bimbingan belajar, yaitu :
1. Pelanggan (Customer)
Selama ini pelanggan utama produk dari
pengelola penyelenggara pendidikan,
adalah siswa siswi dari beberapa sekolah
formal yang membutuhkan pengkayakan
materi pmebelajaran yang memegang
market share khusus. Adanya
kecenderungan dari pelanggan untuk
memperoleh kualitas produk dan layanan
konsumen akan membuat pihak
pengelola, harus selalu menjaga
hubungan yang baik dengan pelanggan.
2. Pemasok (Supplier)
Perusahaan masih mempunyai tingkat
ketergantungan yang tinggi kepada
pemasok, terutama ketergantungan tools
dan teknologi yang dimiliki pemasok.
Selama ini pilihan pemasok masih
kurang banyak sehingga lebih
menguntungkan jika menjalin kerjasama
yang harmonis dengan pemasok. Posisi
pemasok sendiri ialah pihak pengelola
yang merupakan pusat dari
penyelenggaranan pendidikan non
formal.


KESIMPULAN

1. Kesatuan (Unity) Proses Hirarki Analitik
memberikan model yang tunggal, mudah
dimengerti, fleksibel untuk masalah yang
luas dan tidak terstruktur.
2. Kompleksitas (Complexity) Proses Hirarki
Analitik mengintegrasikan pendekatan
deduktif dan sistem dalam memecahkan
masalah kompleks.
3. Ketergantungan (Interdependence)
Proses Hirarki Analitik berhubungan
dengan interdependence dari elemen-
elemen sistem dan tidak berdasarkan
berpikir linear.
4. Penyusunan Hirarki (Hierarchic
Structuring) Proses Hirarki Analitik
JURNAL TEKNIK FTUP, VOLUME 26 NOMOR 2 JUNI 2013 80
merefleksikan kecenderungan natural
pikiran untuk menyusun elemen-elemen
sistem ke dalam level yang berbeda dan
mengelompokkan elemen-elemen yang
sama pada setiap level.
5. Pengukuran (Measurement) Proses
Hirarki Analitik memberikan skala untuk
mengukur satuan yang tidak dapat diukur
(intangibles) dan metode untuk
menentukan prioritas.
6. Konsistensi (Consistency) Proses Hirarki
Analitik menghitung konsistensi logis dari
penilaian yang digunakan dalam
menentukan prioritas.
7. Sintesis (Synthesis) Proses Hirarki
Analitik memberikan estimasi
keseluruhan dari lebih dipilihnya setiap
alternatif.
8. Timbalbalik (Tradeoffs) Proses Hirarki
Analitik ikut mempertimbangkan prioritas
relatif dalam suatu sistem dan membuat
orang mampu memilih alternatif terbaik
berdasarkan tujuan mereka.
9. Penilaian dan Konsensus (Judgment and
Consensus) Proses Hirarki Analitik tidak
berdasarkan konsensus tetapi
mensintesis representasi hasil dari
penilaian yang bermacam-macam.
10. Pengulangan Proses (Process
Repetition) Proses Hirarki Analitik
membuat orang mampu untuk
menyempurnakan definisi mereka
terhadap masalah dan meningkatkan
penilaian dan pemahaman mereka
melalui repetisi.


DAFTAR PUSTAKA

1. Alonso, J. A., dan Lamata, M. T., 2006,
Consistency In The Analytic Hierarchy
Process: A New Approach, International
Journal of Uncertainty, no 4, volume 14,
hal. 445-459.
2. Anton, H. dan Rorres, C., 2004, Aljabar
Linear Elementer versi aplikasi, Edisi
Kedelapan, Jakarta : Erlangga.
3. Chen, P., Peter Chu dan Michelle Lin,
2002, On Vargass proof of Consistency
Test For 3x3 Comparison Matrices AHP,
Journal of the Operations Research, no.
3, vol. 45, hal 233-242 Forman, Ernest H
dan Mary Ann Selly, 2001.
4. Decision by Objectives Genest, C dan
Louis P R., 1994, A Statistical Look at
Saatys.
5. Method of Estimaing Pairwise
Preferences Expressed on a Ratio Scale,
Journal of Mathematical Psychology, vol.
38, hal 477-496.
6. Gole, A. W. dan Kusrini, 2007, Sistem
Pendukung Keputusan Penentuan
Prestasi Pegawai Nakertrans Sumba
Barat Di Waikabubak, Seminar Nasional
Aplikasi Teknologi Informasi,
Yoggyakarta.
7. Iryanto, 2004, Perbandingan
Berpasangan Dalam Proses Analitik
Hirarki, no. 2, Volume 5, hal. 9-13.
8. Joesoef, J. R., 2002, Analytic Hierarchy
Process (AHP) dan Penentuan Produk,
Kinerja Jurnal Bisnis dan Ekonomi,
Volume 6, hal. 30-38. ik Industri, no. 1,
vol. 2, hal. 1-12.
9. Saaty, Thomas L., 1990, An Exposition
Of The AHP In Reply To The Paper
Remarks On The Analytic Hierarchy
Process, Management Science, no. 3,
Vol. 36, hal 259-268.
10. Saaty, Thomas L., 2008, Decision
making with the analytic hierarchy
process, International Journal of Services
Sciences, Volume 1, hal. 83-97.
11. Saaty, Thomas L., 1994, How to Make a
Decision : The Analytic Hierarchy
Process, Institute for Operations
Research and the Management Science,
no. 6, vol. 24, hal 19-43. III, hal. 77-87.
Zeshui, XU, 2004.
12. A Practical Method For Improving
Consistency of Judgment Matrix In The
AHP, Journal of System Science and
Complexity, no. 2, vol. 17, hal 169-175.