Anda di halaman 1dari 13

Analisis Asam Mefenamat Menggunakan Metode

Spektrofotometri Inframerah dan Spektrofotometri UV



I. Tujuan
1. Menganalisis senyawa asam mefenamat menggunakan metode
spektroskopi inframerah
2. Penentuan kadar senyawa asam mefenamat dengan metode
spektrofotometri UV

II. Prinsip
1. Spektroskopi inframerah
Radiasi inframerah (2500-50000 nm atau 4000-2000 cm
-1
) dapat
menyebabkan terjadinya vibrasi dan / rotasi suatu gugus fungsional
dalam molekul sehingga gugus fungsi yang berlainan dalam suatu
struktur kimia masing-masing akan menunjukkan spektrum serapan
inframerah yang karakteristik.
2. Spektrofotometri UV
Jika suatu molekul dikenai suatu radiasi ultraviolet pada panjang
gelombang yang sesuai, maka molekul tersebut akan mengabsorpsi
cahaya uv yang mengakibatkan transisi elektronik yaitu promosi
elektron-elektron dari orbital keadaan dasar berenergi lemahke orbital
keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.
3. Hukum Lambert Beer
Menyatakan bahwa konsentrasi suatu zat berbanding lurus dengan
jumlah cahaya yang diabsorbsi, atau berbanding terbalik dengan
logaritma cahaya yang ditransmisikan.
A = a . b . c = log


= 2 log %T
Dimana :
A = absorban
a = absorbtivitas
b = jalannya sinar pada larutan
c = konsentrasi larutan
%T = persen transmitan

III. Kajian Teori
Spektrofotometri adalah suatu metode analisis yang berdasarkan
pada pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan
berwarna pada panjang gelombang yang spesifik dengan menggunakan
monokromator prisma atau kisi difraksi dan detector vacuum phototube atau
tabung foton hampa. Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, yaitu
suatu alat yang digunakan untuk menentukan suatu senyawa baik secara
kuantitatif maupun kualitatif dengan mengukur transmitan ataupun absorban
dari suatu cuplikan sebagai fungsi dari konsentrasi (Harjadi, 1990).
Spektrum elektromagnetik terdiri dari urutan gelombang dengan
sifat-sifat yang berbeda. Kawasan gelombang penting di dalam penelitian
biokimia adalah ultra lembayung (UV, 180-350 nm) dan tampak (VIS, 350-
800 nm). Cahaya di dalam kawasan ini mempunyai energi yang cukup
untuk mengeluarkan elektron valensi di dalam molekul tersebut
(Khopkar,2003).
Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya
monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke
kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang
diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian
menyampaikan ke layar pembaca (Sastrohamidjojo, 1992).
Spektroskopi UV-Vis adalah teknik analisis spektroskopi yang
menggunakan sumber radiasi elektromegnetik ultraviolet dan sinar tampak
dengan menggunakan instrumen spektrofotometer. Prinsip dari
spektrofotometer UV-Vis adalah penyerapan sinar tampak untuk ultra violet
dengan suatu molekul dapat menyebabkan terjadinya eksitasi molekul dari
tingkat energi dasar (ground state) ketingkat energi yang paling tinggi
(excited stated). Pengabsorbsian sinar ultra violet atau sinar tampak oleh
suatu molekul umumnya menghasilkan eksitasi elektron bonding, akibatnya
panjang absorbsi maksimum dapat dikolerasikan dengan jenis ikatan yang
ada didalam molekul. ( Hendayana, 1994 : 155)
Saat sinar mengenai larutan bening, maka akan terjadi 2 hal:
1. Transmisi
Transmitan larutan merupakan bagian dari sinar yang diteruskan
melalui larutan.
2. Absorpsi
Cahaya akan diserap jika energi cahaya tersebut sesuai dengan energi
yang dibutuhkan untuk mengalami perubahan dalam molekul.
Absorbansi larutan bertambah dengan pengurangan kekuatan sinar
(Permanasari,2011).

Instrumen pada spektroskopi UV-Vis, yaitu :
1. Sumber Radiasi
Lampu deuterium (= 190nm-380nm, umur pemakaian 500 jam)
Lampu tungsten. Pengukurannya pada daerah visible 380-900 nm.
2. Sistem dispersi
Filter
Prisma
Difractions gratings
3. Sel kuvet
Merupakan tempat penyimpanan larutan sampel atau blanko.
4. Monokromator
Fungsi monokromator ialah sebagai penyeleksi panjang gelombang,
yaitu mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis
menjadi cahaya monokromatis.
5. Detektor
Merupakan alat untuk mendeteksi komponen yang terpisah dari
kolom. Peranan detektor adalah memberikan respon terhadap cahaya
pada berbagai panjang gelombang.
6. Rekorder
Fungsi rekorder mengubah panjang gelombang hasil deteksi dari
detektor yang diperkuat oleh amplifier menjadi radiasi yang
ditangkap.
7. Read Out (Sabarudin, 2000 : 112-133)
Spektroskopi infra merah digunakan secara luas untuk analisis secara
kualitatif dan analisis secara kuantitatif. (Underwood,2002)

Atom-atom didalam suatu molekul itu tidak diam melainkan
bervibrasi(bergetar).Ikatan kimia yang menghubungkan dua atom dapat
dimisalkan sebagai dua boa yang dihubungkan oleh suatu pegas.Bila
radiasi inframerah dilewatkan melalui suatu cuplikan maka molekul-
molekulnya dapat menyerap (mengabsorpsi) energi dan terjadilah transisi
di antara tingkat vibrasi dasar dan tingkat tereksitasi. Inframerah
merupakan radiasi elektomagnetik dari suatu panjang gelombang yang
lebih panjang dari gelombang tampak tetapi lebih panjang dari gelombang
mikro.Spestroskopi inframerah merupakan salah satu teknik spektroskopi
yang didasarkan pada penyerapan inframerah oleh senyawa.Karena
spectrum IR memiliki panjang gelombang yang lebih panjang dari
panjang gelombang yang lain maka energy yang dihasilkan oleh spectrum
ini lebih kecil dan hanya mampu menyebabkan vibrasi atom-atom pda
senyawa yang menyerapnya (Mathias,2005).
Daerah radisai sinar inframerah terbagi menjadi 3:
1. Daerah IR dekat (13000-4000 cm-1)
2. Daerah IR tengah (4000-200 cm-1)
3. Daerah IR jauh (200-10 cm-1) (Mathias,2005)

IV. Gambar dan Alat

1. Sumber Energi
Sumber radiasi yang biasa digunakan berupa Nernst Glower, Globar,
dan Kawat Nikhrom.
2. Monokromator
Digunakan untuk menghilangkan sinar yang tidak diinginan,
sehingga diperoleh sinar yang monokromatis, terdiri dari sistem
celah (masuk-keluar) tempat sinar dari sumber radiasi masuk ke
dalam sistem monokromator; alat pendispersi berupa prisma/kisi
difraksi akan menguraikan sinar menjadi komponen panjang
gelombang.
3. Wadah sampel
Berfungsi untuk menaruh/meletakkan/melekatkan sampel yang akan
dianalisis.
4. Detektor
Alat yang mengukur atau mendeteksi energi radiasi akibat pengaruh
panas. Berbeda dengan detector lainnya (misalnya phototube),
pengukuran radiasi infra merah lebih sulit karena intensitas radiasi
rendah dan energi foton infra merah juga rendah. Terdapat dua
macam detector yaitu thermocouple dan bolometer.
5. Rekorder
Alat perekam untuk mempermudah dan mempercepat pengolahan
data dari detector (Imam,2006).










A. Alat


Kuvet Pencetak Pelat KBr

Pemegang Cakram Spektrofotometri

Spektroskopi IR
Bahan
1. Asam mefenamat BPFI
2. Asam mefenamat sampel
3. Kalium bromida
4. Metanol
V. Prosedur
a. Analisis dengan instrumen spektrofotometri uv-vis
Sebanyak 5 mg asam mefenamat BPFI ditimbang lalu dilarutkan
dalam 25 ml pelarut (metanol) sehingga didapatkan konsentrasi awal
asam mefenamat BPFI sebesar 200 ppm. Larutan tersebut dipipet
dengan volume yang berbeda ( 0.125 ml, 0.25 ml, 0.5 ml, 0.75 ml, 1 ml )
ke dalam lima labu ukur 10 ml hingga diperoleh larutan baku dengan
lima variasi konsentrasi ( 2.5 ppm, 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan 20
ppm). Ke dalam masing masing labu ukur tersebut ditambahkan
metanol hingga volume 10 ml. Larutan baku tersebut diukur
absorbansinya dengan menggunakan spekrofotometer uv-vis pada
panjang gelombang 285 nm ( maks asam mefenamat), sebelumnya
dilakukan pengukuran absorbansi terhadap blangko yang hanya berisi
pelarut. Nilai absorbansi dicatat dan dicari korelasi antara absorbansi
dengan konsentrasi melalui pembuatan kurva kalibrasi serta ditentukan
persamaan regresi linear.
Pengukuran absorbansi sampel dilakukan dengan cara : sebanyak
50 mg sampel asam mefenamat ditimbang lalu dilarutkan dalam 50 ml
metanol sehingga kosentrasi sampel awal yang dibuat adalah 1000 ppm.
Dari larutan tersebut dipipet 5 ml ke dalam labu ukur kemudian
ditambahkan metanol hingga batas 20 ml. Dilakukan pengukuran
absorbansi blamgko kemudian larutan sampel dimasukkan ke dalam
kuvet lalu diukur absorbansinya dengan spektrofotometer uv-vis.

b. Analisis dengan Instrumen Spektroskopi Infared
Sedikit sampel padat dan bubuk KBr murni (kira-kira 200 mg)
digerus hingga homogen di mortir agate. Campuran ini kemudian
ditempatkan dalam cetakan dan ditekan dengan menggunakan alat
tekanan mekanik. Tekanan ini dipertahankan beberapa menit, kemudian
sampel (pelet KBr yang terbentuk) diambil dan kemudian ditempatkan
dalam tempat sampel pada alat spektroskopi inframerah untuk dianalisis.
Spektrum Infrared Asam Mefenamat (literatur)







Keterangan spektrum:
gugus amina sekunder (-NH stretch) 3300 cm
-1

inti aromatis (C=C stretch) 1646 cm
-1
dan 1578 cm
-1

gugus amin aromatik (sp
2
C-N) 1259 cm
-1

gugus metil (sp
2
C-H stretch) 3100 3200 cm
-1

VI. Pembahasan
Analisis penentuan kadar asam mefenamat dalam sampel pada
praktikum ini menggunakan teknik spektrofotometri UV-Vis. Prinsip dasar
alat ini adalah spektrometri yaitu metode analisa kimia berdasarkan
serapan oleh molekul terhadap gelombang elektromagnetik (cahaya).
Sehingga berhubungan dengan absorbansi dan transmitansi. Absorbansi
adalah cahaya yang dapat diserap oleh sampel dan transmitansi adalah
cahaya yang diteruskan panjang gelombang maksimum, menentuakn kurva
standar dan menentukan konsentrasi sampel.
Asam mefenamat merupakan obat analgetik golongan NSAID.
Pemerian asam mefenamat adalah serbuk hablur putih atau hampir putih,
melebur pada suhu lebih kurang 230 disertai penguraian. Asam
mefenamat agak sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam air.
Asam mefenamat ini mempunyai struktur kimia dengan nama 2-(2,3-
dimethylphenyl) asam aminobenzoic.

Struktur asam mefenamat
Pada percobaan ini, panjang gelombang 285 nm digunakan sebagai
panjang gelombang untuk menganalisis kadar asam mefenamat karena
pada panjang gelombang ini absorbansi sinar mempunyai nilai maksimal.
Dengan kata lain, pada panjang gelombang ini, sinar yang dipancarkan
oleh spektrofotometer paling banyak diserap oleh larutan. Oleh karena itu,
pengukuran pada panjang gelombang 285 nm ini menghasilkan
pengukuran yang akurat. Panjang gelombang ini juga termasuk dalam
rentang panjang gelombang daerah ultraviolet.
Asam mefenamat dapat menyerap radiasi UV karena memiliki
gugus kromofor dan auksokrom dalam strukurnya. Gugus kromofor adalah
ikatan atau gugus fungsi spesifik dalam molekul yang bertanggung jawab
atas penyerapan cahaya pada panjang gelombang tertentu. Gugus
kromofor pada asam mefenamat adalah dua gugus benzyl (memiliki ikatan
rangkap terkonjugasi) dan gugus karbonil. Panjang gelombang serapan
maksimum (max) dan koefisien ekstingsi molar () akan bertambah
dengan bertambahnya jumlah ikatan rangkap terkonjugasi. Sedangkan
gugus auksokrom adalah gugus fungsi dalam suatu molekul yang dapat
mempengaruhi absorpsi radiasi gugus kromofor. Jika gugus auksokrom
terdelokalisasi ke gugus kromofor, maka intensitas absorbansi akan
meningkat dan terjadi pergeseran batokromik atau hipsokromik. Gugus
kromofor yang terdapat pada asam mefenamat antara lain gugus OH
(hidroksil) dan gugus amina (-NH).
Langkah penting dalam percobaan ini adalah pengukuran
absorbansi larutan baku untuk membuat kurva kalibrasi. Larutan baku
adalah larutan analit yg telah diketahui konsentrasinya. Larutan baku
dibuat agar dalam pengukuran menggunakan instrumen tidak melampaui
batas linearitas (LOL = Limit of Linearity) dari instrumen.
Pembuatan larutan standar asam mefenamat dilakukan dengan
cara: sebanyak 5 mg asam mefenamat BPFI ditimbang lalu dilarutkan
dalam 25 ml pelarut (metanol) sehingga didapatkan konsentrasi awal asam
mefenamat BPFI sebesar 200 ppm. Metanol digunakan sebagai pelarut
karena asam mefenamat larut dalam metanol dan praktis tidak larut dalam
air (berdasarkan BP). Namun metanol memiliki cut-off wavelength pada
210 nm. Cut-off wavelength merupakan panjang gelombang dimana
pelarut memberikan serapan jadi tidak boleh mengukur pada panjang
gelombang tersebut.
Larutan stok awal dipipet dengan volume yang berbeda ( 0.125 ml,
0.25 ml, 0.5 ml, 0.75 ml, 1 ml ) ke dalam lima labu ukur 10 ml hingga
diperoleh larutan baku dengan lima variasi konsentrasi ( 2.5 ppm, 5 ppm,
10 ppm, 15 ppm, dan 20 ppm). Ke dalam masing masing labu ukur
tersebut ditambahkan metanol hingga volume 10 ml. Larutan baku tersebut
diukur absorbansinya dengan menggunakan spekrofotometer uv-vis pada
panjang gelombang 285 nm ( maks asam mefenamat), sebelumnya
dilakukan pengukuran absorbansi terhadap blangko yang hanya berisi
pelarut (metanol). Dalam penempatan larutan baku pada kuvet (wadah
sampel) yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi galat spektrofotometri
adalah kuvet harus bersih, berkas jari tidak boleh menempel pada kuvet
karena dapat menyerap radiasi dan penempatan kuvet harus sama supaya
hasilnya reprodusibel. Nilai absorbansi dicatat dan dicari korelasi antara
absorbansi dengan konsentrasi melalui pembuatan kurva kalibrasi serta
ditentukan persamaan regresi linear.
Nilai absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya
antara 0.2 0.8. Anjuran ini didasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam
pembacaan A adalah 0.005 (kesalahan fotometrik).




























DAFTAR PUSTAKA

Eka. 2007. Metode Analisa Kimia-Spektrofotometri. Gramedia. Jakarta.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia. Jakarta.
Hendayana, Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrumen.Semarang Press.Semarang.
Imam. 2006. Kimia Analisa Semi Makro dan Mikro. Erlangga. Jakarta.
Khopkar, S.M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta . UI Press.
Mathias, Ahmad. 2005. Spektrofotometri. Exacta.Solo.
Permanasari,Anna. 2011. Spektrofotometri UV-Vis. Tersedia online di
http://anna-permanasari.staf.upi.edu/files/2011/03/Spektro-UV-Vis.pdf
[diakses tanggal 20 April 2013].
Sabarudin, Akhmad, dkk. 2000. Kimia Analitik. IKIP Semarang. Semarang.
Sastrohamidjojo, Hardjono. 1992. Spektroskopi Inframerah. Liberty Yogyakarta.
Yogyakarta.
Sutopo. 2006. Kimia Analisa. Exacta.Solo.
Underwood, dkk. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.











Analisis Asam Mefenamat Menggunakan Metode
Spektrofotometri Inframerah dan Spektrofotometri UV

















Disusun Oleh :
Nama Mahasiswa : Suradal Akuf Wibisono
Nomor Mahasiswa : 12330038


PROGRAM STUDY FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA & PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA 2014