Anda di halaman 1dari 7

Isoniazid

Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang disingkat dengan INH. Isoniazid secara in vitro bersifat
tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dan tuberkulosid (membunuh bakteri).
Mekanisme kerja isoniazid memiliki efek pada lemak, biosintesis asam nukleat,dan glikolisis.
Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan
unsur penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan
menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh metanol dari mikobakterium.
Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak diperoleh
dalam waktu 12 jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid mengalami asetilasi dan pada
manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna
mempengaruhi kadar obat dalam plasma. Namun, perbedaan ini tidak berpengaruh pada
efektivitas dan atau toksisitas isoniazidbila obat ini diberikan setiap hari.
Efek samping
Mual, muntah, anoreksia, letih, malaise, lemah, gangguan saluran pencernaan lain, neuritis
perifer, neuritis optikus, reaksi hipersensitivitas, demam, ruam, ikterus, diskrasia darah, psikosis,
kejang, sakit kepala, mengantuk, pusing, mulut kering, gangguan BAK, kekurangan vitamin B6,
penyakit pellara, hiperglikemia, asidosis metabolik, ginekomastia, gejala reumatik, gejala mirip
Systemic Lupus Erythematosus.
fek samping apa yang ditimbulkan isoniazid???
Isoniazid menimbulkan efek samping yang cukup rendah kecuali karena alergi, efek-efek tak
diinginkan tersebut berkaitan dengan dosis dan lama pemakaian obat. Berikut adalah efek
samping yang ditimbulkan isoniazid yaitu:
a. Neuritis perifer
adalah efek samping yang paling sering timbul karena efisiensi piridoksin yang relative. Ini
disebabkan karena suatu kompetisi INH dengan piridoksal fosfat untuk enzim apotriptofanase.
Sebagian besar reaksi toksik diperbaiki dengan penambahan piridoksin. (catatan : INH dapat
mencapai konsentrasi dalam air susu ibu yang cukup tinggi untuk menyebabkan suatu defisiensi
piridoksin pada bayi kecuali si ibu diberikan vitamin tersebut).
b. Hepatitis dan Hepatotoksisitas Idiosinkrasi
hepatitis yang kemungkinan fatal adalah efek samping INH yang paling berat. Telah disarankan
bahwa ini disebabkan oleh suatu metabolit toksik monoasetilhidrazin ynag terbentuk selam
metabolism INH. Kejadian meningkat pada penderita-penderita dengan bertambahnya usia, juga
pada penderita-penderita yang mendapatkan rifampisin atau diantara mereka yang minum
alkohol setiap hari.


C. Efek Samping Lainnya
Abnormalitas mental, kejang-kejang pada penderita yang mudah kejang dan neuritis optikus
telah dilaporkan. Reaksi-eaksi hipersensitivitas seperti ruam dan demam.


Interaksi obat
INH dapat memperkuat efek samping fenitoin ( misalnya nistagmus, ataksia) sebab INH
menghambat metabolisme fenitoin. Resiko terutama terdapat pada penderita asetilator lambat.

Resistensi
Resistensi masih merupakan persoalan dan tantangan. Pengobatan TBC dilakukan dengan
beberapa kombinasi obat karena penggunaan obat tunggal akan cepat dan mudah terjadi
resistensi. Disamping itu, resistensi terjadi akibat kurangnya kepatuhan pasien dalam meminum
obat. Waktu terapi yang cukup lama yaitu antara 69 bulan sehingga pasien banyak yang tidak
patuh minum obatselama menjalani terapi.
Isoniazid masih merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe TBC. Efek
sampingnya dapat menimbulkan anemia sehingga dianjurkan juga untuk mengkonsumsi vitamin
penambah darah seperti piridoksin (vitamin B6).
TB vit B6 sudah mengandung isoniazid dan vitamin B6 dalam satu sediaan, sehingga praktis
hanya minum sekali saja. TB vit B6 tersedia dalam beberapa kemasan untuk memudahkan bila
diberikan kepada pasien anak-anak sesuai dengan dosis yang diperlukan. TB Vit B6 tersedia
dalam bentuk:
1. Tablet
Mengandung INH 400 mg dan Vit B6 24 mg per tablet
2. Sirup
Mengandung INH 100 mg dan Vit B6 10 mg per 5 ml, yang tersedia dalam 2 kemasan :
o Sirup 125 ml
o Sirup 250 ml

Perhatian:
Obat TBC di minum berdasarkan resep dokter dan harus sesuai dengan dosisnya.
Penghentian penggunaan obat TBC harus dilakukan atas seizin dokter.
Indikasi : Tuberkulosis (TBC), digunakan kombinasi dengan obat lain, terapi pencegahan
(profilaksis) tuberculosis.

Kontraindikasi : penyakit hati karena obat. (drug-induced hepatitis).
Perhatian : gangguan hati, malnutrisi, pecandu alcohol, gagal ginjal kronik, diabetes mellitus,
infeksi HIV (berisiko tinggi peradangan saraf <neuritis perifer>), epilepsy, riwayat psikosis.
Kehamilan : tidak diketahui efeknya pada wanita hamil.
Menyusui : perlu monitor pada bayi terhadap bahaya kejang dan gangguan saraf, baik ibu dan
bayi perlu mendapatkan tambahan vitamin B6.
Ajari pasien mengenali tanda-tanda gangguan hati : mual, muntah, lemas, kuning.

Dosis :
Pengobatan TBC (per oral)
Dewasa dan anak : 5 mg/kg perhari (maksimum 300 mg perhari) , 10 mg/kg tiga kali
seminggu
Pasien dengan keadaan berat (melalui suntikan intramuscular)
Dewasa : 200-300 mg satu kali sehari
Anak : 10-20 mg/kg perhari
Profilaksis:
Dewasa : 300 mg perhari selama 6 bulan
Anak : 5 mg/kg perhari (maximum 300 mg perhari) selama 6 bulan.

Sediaan : tablet 50mg, 100mg, 300 mg. tersedia sediaan bermerk yang kombinasi dengan
piridoksin.



Efek Samping :
Gangguan pencernaan seperti diare, mual, muntah, nyeri perut, konstipasi, mulut kering. Reaksi
hipersensitivitas seperti demam, ruam, nyeri sendi, eritema multiformis, dan purpura (terutama
seminggu pertama pengobatan). Gangguan saraf tepi, kelainan darah seperti agranulositosis,
anemia hemolitik, anemia aplastik. Neuritis optic, kejang, hepatitis, SLE syndrome, pellagra,
hyperrefleks, kesulitan berkemih, hiperglikemia, ginekomasti (pembesaran payudara).

Interaksi obat :
- Anestesi : meningkatkan efek kerusakan hati.
- Antacid : menurunkan penyerapan isoniazid
- Sikloserin : meningkatkan risiko kerusakan otak
- Antiepilepsi : isoniazid meningkatkan risiko keracunan oleh obat-obat antiepilepsi karena
isonizid menghambat metabolismee obat-obat tersebut. Karbamazepin dapat meningkatkan
risiko kerusakan hati.
- Ketokonazole : isoniazid menurunkan kadar ketokonazole dalam darah.
- Isoniazid menghambat metabolismee diazepam
- Kortikosteroid menurunkan kadar isoniazid dalam darah
- Estrogen : isoniazid dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi yang mengandung
estrogen.
- Teofilin : isoniazid meningkatkan kadar teofilin dalam darah.
- Vaksin : isoniazid menginaktifkan vaksin tifoid ora

mekanisme kerja
Tidak diketahui, namun diperkirakan terjadi penghambatan sintesis asam mikolat yang
menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri


bentuk sediaan

Tablet, Sirup








tanggung jawab perawat dalam pemberian obat isoniazid
Perawat bertanggung-jawab dalam pemberian obat-obatan yang aman. Caranya adalah perawat
harus mengetahui semua komponen dari perintah pemberian obat dan mempertanyakan perintah
tersebut jika tidak lengkap/jelas atau dosis yang diberikan diluar batas yang direkomendasikan.
Secara hukum perawat bertanggung iawab jika mereka memberikan obat yang diresepkan dan
dosisnya tidak benar atau obat tersebut merupakan kontraindikasi bagi status kesehatan klien.
Perawat wajib membaca buku-buku refrensi obat untuk mendapatkan kejelasan mengenai efek
terapiutik yang yang diharapkan, kontraindikasi, dosis, efek samping yang mungkin terjadi atau
reaksi yang merugikan dari pengobatan.
Menggambarkan 6 B dalam pemberian obat.
Supaya dapat tercapainya pemberian obat yang aman, seorang perawat harus dapat melakukan 6
hal yangt benar; klien yang benar, obat yang benar, dosis yang benar, waktu yang benar, rute
yang benar, dan dokumentasi yang benar.
Menggambarkan 2 hak klien yang berhubungan dengan pemberian obat.
a. Hak klien untuk mengetahui alasan pemberian obat.
Hak ini adalah prinsip dari pemberian persetujuan setelah mendapatkan informasi (informed
consent) yang berdasarkan pengetahuan individu yang diperlukan untuk membuat keputusan.
b. Hak klien untuk menolak pengobatan.
Klien dapat menolak untuk menerima suatu pengobatan. Adalah tanggung jawab perawat untuk
menentukan, jika memungkinkan, alasan penolakan dan mengambil langkah-langkah yang perlu
untuk mengusahakan agar klien mau menerima pengobatan. Jika tetap menolak, perawat wajib
mendokumentasikan pada catatan perawatan dan melapor kepada dokter yang menginstruksikan.
Memberikan pedoman keamanan dalam pemberian obat
Beberapa pedoman umum dalam pemberian obat dijelaskan dalam prosedur pemberian obat obat
yang benar yang terdiri dari 4 langkah (persiapan, pemberian, pencatatan, dan hal-hal yang tidak
boleh dalam pemberian obat)
Persiapan :
Cuci tangan sebelum menyiapkan obat
Periksa riwayat, kardek dan riwayat alergi obat
Periksa perintah pengobatan
Periksa label tempat obat sebanyak 3 kali
Periksa tanggal kadaluarsa
Periksa ulang perhitungan dosis obat dengan perawat lain
Pastikan kebenaran obat yang bersifat toksik dengan perawat lain atau ahli Farmasi
Tuang tablet atau kapsul kedalam tempat obat. Jika dosis obat dalam unit, buka obat disisi tempat
tidur pasien setelah memastikan kebenaran identifikasi pasien
Tuang cairan setinggi mata. Miniskus atau lengkung terendah dari cairan harus berada pada garis
dosis yang diminta
Encerkan obat-obat yang mengiritasi mukosa lambung (kalium, aspirin) atau berikan bersama-
sama dengan makanan
Pemberian :
Periksa identitas pasien melalui gelang identifikasi
Tawarkan es batu sewaktu memberikan obat yang rasanya tidak enak. Jika mungkin berikan obat
yang rasanya tidak enak terlebih dahulu baru kemudian diikuti dengan obat dengan rasa yang
menyenangkan
Berikan hanya obat yang disiapkan
Bantu klien mendapatkan posisi yang tepat tergantung rute pemberian
Tetaplah bersama klien sampai obat diminum/dipakai
Jika memberikan obat pada sekelompok klien, berikan obat terakhir pada klien yang memerlukan
bantuan ekstra.
Berikan tidak lebih dari 2,5 3 ml larutan intramuscular pada satu tempat. Bayi tidak boleh
menerima lebih dari 1 ml larutan intramuskuler pada satu tempat. Tidak boleh memberikan lebih
dari 1 ml jika melalui rute subkutan. Jangan menutup kembali jarum suntik.
Buang jarum dan tabung suntik pada tempat yang benar
Buang obat kedalam tempat khusus jangan kedalam tempat sampah
Buang larutan yang tidak terpakai dari ampul. Simpan larutan stabil yang tidak terpakai di dalam
tempat yang tepat (bila perlu masukkan ke dalam lemari es). Tulis tanggal waktu dibuka serta
inisial Anda pada label
Simpan narkotik kedalam laci atau lemari dengan kunci ganda
Kunci untuk lemari narkotik harus disimpan oleh perawat dan tidak boleh disimpan didalam laci
atau lemari.
Pencatatan :
Laporkan kesalahan obat dengan segera kepada dokter dan perawat supervisor. Lengkapi laporan
peristiwa
Masukkan kedalam kolom, catatan obat yang diberikan, dosis, waktu rute, dan inisial Anda.
Catat obat segera setelah diberikan, khususnya dosis stat
Lap[orkan obat-obat yang ditolak dan alasan penolakan.