Anda di halaman 1dari 9

BAB 2

DESKRIPSI UMUM

2.1 Pengertian Sinusitis
Sinusitis akhiran umum dalam kedokteran itis berarti peradangan karena itu sinusitis adalah suatu
peradangan sinus paranasal. Sinusitis adalah penyakit yang terjadi di daerah sinus. Sinus itu sendiri
adalah rogga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga
sinus sendiri adalah untuk menjaga kelembapan hidung dan menjaga pertukaran udara di daeranh
hidung. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis yaitu :
- Sinus Frontal, terletak di atas meja dibagian tengah dari masing-masing alis
- Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat di sampig hisung
- Sinus Ethmooid, terletak di antara mata, tepat dibelakang tulang hidung
- Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid dan di belakang mata
Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan cilia. Fungsi
cilia ini adalah untuk mendorong lender yang diproduksi didalam sinus menuju kesaluran parnafasan.
Gerakan cilia mendorong lender ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari kkotoran ataupun
organism yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus yang menyebabkan lender terperangkap di
rongga sinus dan menjadi tempat tumbuhnya bakteri.

Jadi sinusitis terjadi apabila terjadi peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lender
erperangkap dirongga sinus dan menadi tempat tumbuhya bekteri.
Sinusitas sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :
- Sinusitas Akut : gejala dirasakan selama 2-8 minggu
- Sinusitas Kronis : biasanya gejala dirasakan lebih dari 8 minggu.

2.2 Penyebab Sinusitis
Sinusitis akut dapat disebabkan oleh kerusakan lapisan rongga sinus akibat infeksi atau tindakan bedah.
Sedangkan sinusitis subakut biasanya disebakan oleh infeksi atau tidakan bedah. Sedangkan sinusitis
kronis biasanya di sebabkan oleh infeksi bakteri.
Sinusitis dapat terjadi akibat dari beberapa faktordibawah ini :
- Bulu-bulu halus didalam rongga sinus (cilia) tidak bekerja secara maksimal akibat kondisi medis
tertentu
- Flu dan alergi menyebabkan lender diproduksi secara berlebihan atau menutupi rogga sinus
- Adanya kelainan pada sekat rongga hidun, kelainan tulang ataupun polip pada hidung dapat
menutupi rongga sinus.
Selain hal tersebut di atas, apapun yang dapat menyebabkan bengkak mendorong lendir dapat
menyebabkan sinusitas. Hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan pada suhu dan tekanan udara.
Alergi, penggunaan penyemprot hidung secara berlebihan, merokok, berenang, atau menyelam dapat
meningkatkan resiko terkena sinusitis.
Sinusitis bisa terjadi pada salah satu dari keempat sinus yang ada (maksilaris,etmoidalis, frontalis atau
sfenoidalis).
sakit kepala.
sakit kepala di dahi.
Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung di tekan, berkurangnya
indera penciuman dan hidung tersumbat.
puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.

2.3 Tipe Sinusitis
Sinusitis dapat dibagi menjadi dua tipe besar yaitu berdasarkan lamanya penyakit (akut, subakut,
khronis) dan berdasarkan jenis peradangan yang terjadi (infeksi dan non infeksi). Disebut sinusitis akut
bila lamanya penyakit kurang dari 30 hari. Sinusitis subakut bila lamanya penyakit antara 1 bulan sampai
3 bulan, sedangkan sinusitis khronis bila penyakit diderita lebih dari 3 bulan. Sinusitis infeksi biasanya
disebabkan oleh virus walau pada beberapa kasus ada pula yang disebabkan oleh bakteri. Sedangkan
sinusitis non infeksi sebagian besar disebabkan oleh karena alergi dan iritasi bahan bahan kimia. Sinusitis
subakut dan khronis sering merupakan lanjutan dari sinusitis akut yang tidak mendapatkan pengobatan
adekuat.
SINUSITIS AKUT
A. Gejala Subyektif
Biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan
batuk yang lama, lebih dari 7 hari.
Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, serta gejala lokal yaitu hidung
tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit
kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke
tempat lain.

1. Sinusitis Maksilaris
Sinus maksila disebut juga Antrum Highmore, merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena
merupakan sinus paranasal yang terbesar, dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus
alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila.
Pada peradangan aktif sinus maksila atau frontal, nyeri biasanya sesuai dengan daerah yang terkena.
Pada sinusitis maksila nyeri terasa di bawah kelopak mata dan kadang menyebar ke alveolus (rongga
atau ceruk kecil, spt rongga dl rahang tempat akar gigi tertanam) hingga terasa di gigi. Nyeri alih
dirasakan di dahi dan depan telinga.
Wajah terasa bengkak, penuh dan gigi nyeri pada gerakan kepala mendadak, misalnya sewaktu naik atau
turun tangga. Seringkali terdapat nyeri pipi khas yang tumpul dan menusuk. Sekret mukopurulen dapat
keluar dari hidung dan terkadang berbau busuk.
2. Sinusitis Ethmoidalis
Sinusitus ethmoidalis akut terisolasi lebih lazim pada anak. Gejala berupa nyeri yang dirasakan di
pangkal hidung dan kantus medius, kadang-kadang nyeri dibola mata atau belakangnya, terutama bila
mata digerakkan. Nyeri alih di pelipis.
3. Sinusitis Frontalis
Gejala subyektif terdapat nyeri kepala yang khas, nyeri berlokasi di atas alis mata, biasanya pada pagi
hari dan memburuk menjelang tengah hari, kemudian perlahan-lahan mereda hingga menjelang malam.
Pasien biasanya menyatakan bahwa dahi terasa nyeri bila disentuh dan mungkin terdapat
pembengkakan supra orbita.
4. Sinusitis Sfenoidalis
Pada sinusitis sfenodalis rasa nyeri terlokalisasi di vertex, oksipital, di belakang bola mata dan di daerah
mastoid.

SINUSITIS SUBAKUT
Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit kepala
hebat, nyeri tekan) sudah reda.
Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit, suram atau gelap.
Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa (obat-obatan atau perawatan penyakit), bila perlu
dibantu dengan tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus.

SINUSITIS KRONIS
Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan
dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya
(keadaan mudah terjangkit oleh pnyakit).
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan
tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi, sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi
menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.
A. Gejala Subjektif
Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :
- Gejala hidung hidung biasanya sedikit tersumbat.
- Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan.
- Gejala telinga berupa pendengaran terganggu - Ada nyeri atau
sakit kepala.
- Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis.
- Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau bronkhiektasis atau
asma bronkhial.

2.4 Gejala Sinusitis
Gejala sinusitis yang paling umum adalah sakit kepala, nyeri pada daerah wajah, serta demam. Hampir
25% dari pasien sinusitis akan mengalami demam yang berhubungan dengan sinusitis yang diderita.
Gejala lainnya berupa wajah pucat, perubahan warna pada ingus, hidung tersumbat, nyeri menelan, dan
batuk. Beberapa pasien akan merasakan sakit kepala bertambah hebat bila kepala ditundukan ke depan.
Pada sinusitis karena alergi maka penderita juga akan mengalami gejala lain yang berhubungan dengan
alerginya seperti gatal pada mata, dan bersin bersin.
Gejala lain yang ditimbulkan dari sinusitis adalah :
- Rasa sakit atau adanya tekanan didaerah dahi, pipi, hidung dan diantara mata
- Sakit kepala
- Demam
- Hidung mampet
- Berkurangnya indra penciuman
- Batuk, biasanya akan memburuk saat malam
- Nafas berbau (halitosis)
- Sakit gigi
Gejala sinusitis pada anak-anak meliputi :
- Timbul flu atau penyakit pernafasan yang mekin memburuk
- Demam tinggi disertai dengan adanya lendir perafasan yang berwarna gelap
- Adanya pernafasan dengan atau tanpa adanya flu lebih dari 10 hari dan tidak membaik

2.5 Diagnosa Sinusitis
Sinusitis sebagian besar sudah dapat didiagnosa hanya berdasarkan pada riwayat keluhan pasien serta
pemeriksaan fisik yang dilakukan dokter. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan adanya kemerahan dan
pembengkakan pada rongga hidung, ingus yang mirip nanah, serta pembengkakan disekitar mata dan
dahi. Untuk penetapan diagnose sinusitis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan berikut :
- mencari adanya polip dihidung
- menyinari rongga sinus dengan cahaya (transiluminasi) utuk melihat adanya gv perdagangan
- mengetuk rongga sinus utuk melihat adanya infeksi
- melihat kedalam rongga sinus melalui pemeriksaan fiberoptik (disebut juga m dengan endoscopy).
Hali ini biasanya dilakukan oleh dokter spesialis THT.

Jika anak menderita sinusitis kronis atau yang berulang (sering kambuh) maka tes-tes berikut perlu juga
dilakukan :
- Tes alergi
- Tes HIV atau es untuk melihat rendahnya fungsi imun
- Tes untuk melihat fungsi cilia

2.6 Pengobatan Sinusitis
Untuk sinusitis yang disebabkan oleh karena virus maka tidak diperlukan pemberian antibiotika. Obat
yang biasa diberikan untuk sinusitis virus adalah penghilang rasa nyeri seperti parasetamol dan
dekongestan. Curiga telah terjadi sinusitis infeksi oleh bakteri bila terdapat gejala nyeri pada wajah,
ingus yang bernanah, dan gejala yang timbul lebih dari seminggu. Sinusitis infeksi bakteri umumnya
diobati dengan menggunakan antibiotika. Pemilihan antibiotika berdasarkan jenis bakteri yang paling
sering menyerang sinus karena untuk mendapatkan antibiotika yang benar benar pas harus menunggu
hasil dari biakan kuman yang memakan waktu lama. Lima jenis bakteri yang paling sering menginfeksi
sinus adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis, Staphylococcus
aureus, dan Streptococcus pyogenes. Antibiotika yang dipilih harus dapat membunuh kelima jenis
kuman ini. Beberapa pilihan antiobiotika antara lain amoxicillin, cefaclor, azithromycin, dan
cotrimoxazole. Jika tidak terdapat perbaikan dalam lima hari maka perlu dipertimbangkan untuk
memberikan amoxicillin plus asam klavulanat. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal 10 sampai 14
hari. Pemberian dekongestan dan mukolitik dapat membantu untuk melancarkan drainase cairan
mukus. Pada kasus kasus yang khronis, dapat dipertimbangkan melakukan drainase cairan mukus
dengan cara pembedahan.

Pengobatan lain yang bisa dilakukan :
- Suntikan alergi
- Menghindari mencetus alergi
- Semprotan hidung yang mengandung kortikosteroid untukmembantu mengurangi bengkak di
rongga sinus, terutama karena adanya olip ataupun alergi
Antibiotik dapat diberikan apabila terjadi hal-hal berikut ini :
- Anak dengan kondisi pilek biasaya disertai dengan batuk yang tidak kunjung membaik setelah 2-3
minggu
- Demam dengan suhu tubuh lebih dari 390 C
- Adanya bengkak yang parah di area sekitar mata
- Sakit kelapa atau sakit di daerah wajah

2.7 Cara Mencegah Sinusitis

Yang paling mudah, jangan sampai terkena infeksi saluran nafas. Rajin-rajin cuci tangan karena tindakan
sederhana ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko tertular penyakit saluran pernafasan. Selain itu,
sedapat mungkin menghindari kontak erat dengan mereka yang sedang terkena batuk pilek.
Bila anda memakai AC, sering-seringlah membersihkan penyaringnya agar debu, jamur dan berbagai
substansi yang mungkin dapat mencetuskan alergi dapat dikurangi (walau tak mungkin dihilangkan
seluruhnya). Demikian juga dengan karpet dan sofa.
Tingkatkan daya tahan tubuh dengan cukup istirahat dan konsumsi makanan dan minuman yang
memiliki nilai nutrisi baik. Selain itu, jangan lupa untuk minum air dalam jumlah yang cukup. Kegiatan
minum ini seringkali dilupakan orang padahal air yang sehat merupakan salah satu sumber utama
kesehatan tubuh kita.
Berolahraga yang teratur, khususnya setelah waktu subuh di mana udara pagi saat itu masih jernih dan
bersih. Perbanyak menghirup udara bersih, dengan cara menghirup dan mengeluarkannya perlahan-
lahan. Hal ini sangat bermanfaat selain untuk menguatkan paru-paru juga untuk mengisi daerah sinus
dengan oksigen. Sehingga daerah-daerah sinus menjadi lebih bersih dan kebal terhadap berbagai infeksi
dan bakteri.
Dan yang tidak kalah pentingnya adalah segera kunjungi dokter bila terdapat gejala-gejala yang mungkin
merupakan gejala sinusitis. Diagnosa dan pengobatan secara dini dan tepat akan mempercepat
kesembuhan penyakit yang diderita.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sinusitis adalah penyakit yang terjadi di daerah sinus. Sinus itu sendiri adalah rogga udara yang terdapat
di area wajah yang terhubung dengan hidung. Fungsi dari rongga sinus sendiri adalah untuk menjaga
kelembapan hidung dan menjaga pertukaran udara di daeranh hidung. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4
jenis yaitu :
- Sinus Frontal, terletak di atas meja dibagian tengah dari masing-masing alis
- Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat di sampig hisung
- Sinus Ethmooid, terletak di antara mata, tepat dibelakang tulang hidung
- Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid dan di belakang mata
Sinusitis akut dapat disebabkan oleh kerusakan lapisan rongga sinus akibat infeksi atau tindakan bedah.
Sedangkan sinusitis subakut biasanya disebakan oleh infeksi atau tidakan bedah. Sedangkan sinusitis
kronis biasanya di sebabkan oleh infeksi bakteri. Sinusitis dapat dibagi menjadi dua tipe besar yaitu
berdasarkan lamanya penyakit (akut, subakut, khronis) dan berdasarkan jenis peradangan yang terjadi
(infeksi dan non infeksi). Disebut sinusitis akut bila lamanya penyakit kurang dari 30 hari. Sinusitis
subakut bila lamanya penyakit antara 1 bulan sampai 3 bulan, sedangkan sinusitis khronis bila penyakit
diderita lebih dari 3 bulan. Sinusitis subakut dan khronis sering merupakan lanjutan dari sinusitis akut
yang tidak mendapatkan pengobatan adekuat.
Gejala lain yang ditimbulkan dari sinusitis adalah :
- Rasa sakit atau adanya tekanan didaerah dahi, pipi, hidung dan diantara mata
- Sakit kepala
- Demam
- Hidung mampet
- Berkurangnya indra penciuman
- Batuk, biasanya akan memburuk saat malam
- Nafas berbau (halitosis)
- Sakit gigi
Berolahraga yang teratur, khususnya setelah waktu subuh di mana udara pagi saat itu masih jernih dan
bersih. Perbanyak menghirup udara bersih, dengan cara menghirup dan mengeluarkannya perlahan-
lahan. Hal ini sangat bermanfaat selain untuk menguatkan paru-paru juga untuk mengisi daerah sinus
dengan oksigen. Sehingga daerah-daerah sinus menjadi lebih bersih dan kebal terhadap berbagai infeksi
dan bakteri.
3.2 Saran
Dalam Makalah ini terdapat penjelasan tentang Sinusitis, supaya semua mahasiswi dapat
memahami Sinusitis dan mengetahui bagaimana Sinusitis bagi manusia, baik ciri-ciri, cara pengobatan,
klasifikasi, maupun cara pencegahannya.
DAFTAR PUSTAKA
Damayanti dan Endang, Sinus Paranasal, dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor. Buku Ajar Ilmu Kedokteran
THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2002, 115 119.
Endang Mangunkusumo, Nusjirwan Rifki, Sinusitis, dalam Eviati, nurbaiti, editor, Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2002, 121 125.
Peter A. Hilger, MD, Penyakit Sinus Paranasalis, dalam : Haryono, Kuswidayanti, editor, BOIES, buku ajar
Penyakit THT, penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 1997, 241 258.

Kamus Besar Bahasa Indonesia
Ballenger. J. J., infeksi Sinus Paranasal, dalam : Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorok Kepala dan
Leher, ed 13 (1), Binaputra Aksara, jakarta, 1994, 232 241.
Cody. R et all, Sinusitis,dalam Andrianto P, editor, Penyakit telinga Hidung dan Tenggorokan, Penerbit
buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1993, 229 241.

Anda mungkin juga menyukai