Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK
EKSTRAKSI PIGMEN DAN ANALISA TLC-NYA










Oleh:
SHOFIYAWATI ELOK FH
131810401058



LABORATORIUM KIMIA ORGANIK
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER


Hasil
Bahan Jarak Keterangan Rf
Wortel 1,9 cm Lebih cepat 0,48
Kentang 1,8 cm Paling lambat 0,45
Daun seledri 1,85 Sedang 0,46

Praktikum kali ini yakni Ekstraksi Pigmen dan Analisa TLC-nya
menggunakan bahan dari buah, sayur atau umbi dengan tiga warna yang berbeda.
Wortel, kentang dan seledri adalah bahan yang digunakan pada percobaan kali ini.
Ketiga bahan tersebut mempunyai kandungan pigmen yang berbeda-beda. Wortel
(Daucus carota) merupakan sayuran umbi. Adanya warna jingga pada wortel
disebabkan oleh pigmen karoten. Salah satunya adalah Beta-karoten.-karoten
sangat berperan sebagai prekusor dari vitamin A. (Ravi, et al.,2010).
Bahan kedua yang digunakan adalah kentang (Solanum tuberosum) juga
merupakan sayuran umbi. Kentang yang biasa kita lihat berwarna kuning, warna
kuning pada kentang disebabkan karena adanya pigmen xantofil. Xantofil lebih
polar dibandingkan dengan klorofil dan karoten. Bahan yang ketiga adalah seledri
(Apium graveolens) merupakan sayuran berwarna hijau, sehingga didalam seledri
mengandung pigmen klorofil.
Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu bahan dari campurannya,
biasanya dengan menggunakan pelarut. Ekstraksi dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Ekstraksi menggunakan pelarut didasarkan pada kelarutan
komponen terhadap komponen lain dalam campuran. Pelarut polar akan
melarutkan solut yang polar dan pelarut non polar akan melarutkan solut yang non
polar atau disebut dengan like dissolve like. (Day, 1992).
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk suatu teknik
pemisahan yang pertama kali diperkenalakn oleh Tswett (Rusia) tahiun 1900 .
digunakan pertama kali untuk pemisahn pigmen (zat warna ) paa tumbuhan.
Sehingga dinamai kromatografi yang berasal dari kata kroma berarti warna dan
grafi yang berati gambar atau tulisan(Ibrahim dan sitorus,2013).
Kromatografi yang digunakan pada percobaan ini adalah Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) yang biasa juga dikenal sebagai TLC (Thin Layer
Kromatografi). TLC digunakan untuk preparatif atau memisahkan senyawa-
senyawa dalam jumlah kecil. TLC menghasilkan pemisahan yang lebih baik
dibandingkan dengan kromatografi kolom dan lebih efisien karena waktu yang
dibutuhkan lebih cepat. Prinsip Kromatografi Lapis tipis adalah pemisahkan
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang
digunakan. Kromatografi kromatografi lapis tipis memiliki fase diam berupa
sebuah lapis silika atau alumina dan fasa gerak pelarut atau campuran pelarut
(eluen) yang sesuai (Ibrahim dan sitorus,2013)
Langkah pertama pada praktikum ini adalah preparasi sampel, sampel
didapatkan dari sayur, buah atau umbi yang memiliki tiga warna yang berbeda.
Bahan yang digunakan yaitu wortel, kentang dan seledri. Sampel seharusnya
sudah dalam keadaan kering, karena untuk meminimalisir tercampurnya air yang
terkandung dalam sampel dengan pelarut yang akan digunakan untuk melarutkan
sampel. Gerus sampel dengan mortar dan pestle sampai halus. Setelah
penggerusan selesai kemudian langsung ditambahkan aseton 5 ml. Aseton
berfungsi sebagai pelarut ,yang bersifat semipolar akan menarik senyawa-senyawa
pigmen sampel yang mempunyai tingkat kepolaran yang berbeda.seperti klorofil,
karoten atau xantofil. Air dan aseton berbeda jauh kepolarannya sehingga air sulit
tercampur dengan aseton, Penambahan aseton dilakukan ketika sampel sudah
selesai digerus, ini dikarenaka sifat aseton yang volatil (mudah menguap). Setelah
penambahan aseton, padatan langsung dimasukkan kedalam tabung reaksi dan
diperas menggunakan kertas saring. Baru setelah itu didekantasi. Cairan ekstrak
yang sebelumnya telah diperas menggunakan kertas saring diletakkan ditabung
reaksi, tabung reaksi diletakkan tegak dan dibiarkan dalam waktu yang lama, hal
ini bertujuan untuk memperoleh hasil dekantasi yang sesuai. Jangan lupa untuk
segera menutup tabung dengan alumunium foil agar tidak banyak aseton yang
menguap. Dekantasi dengan waktu yang lama akan menyebabkan air yang ada
dalam campuran ekstrak dengan aseton akan memisah sempurna. Sehingga ketika
penotolan sampel dapat diambil ekstrak yang terlarut dengan aseton tanpa
terkontaminasi oleh air.
Setelah itu, chamber TLC disiapkan dan diisi fasa geraknya yakni pelarut
Aseton:Heksana (3:7) , fungsi aseton dalam hal ini sebagai pelarut kertas pigmen
sehingga warna pigmen yang diteteskan pada plat dapat keluar karena pengaruh
aseton, sedangkan fungsi heksana sebagai pelarut organik non polar yang
berfungsi dalam penentuan warna pigmen. Disiapkan juga fasa diamnya, fasa
diam pada TLC ini biasanya berupa lempengan tipis silika atau alumina dengan
ukuran yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Prosedurnya adalah lempengan
silika diberi garis horizontal dengan jarak 0,5 dari dasar lempengan, sampel yang
akan dipisahkan ditotolkan pada ekstrak menggunakan pipa kapiler lalu
dimasukkan kedalam chamber yang telah terisi pelarut delam keadaan tegak, hal
ini berfungsi agar penyerapan berjalan bersama. ( Rohman,2009). Tetesan sampel
diusahakan sekecil mungkin dengan meneteskan berulang kali, dengan dibiarkan
mengering sebelum tetesan berikutnya dikerjakan (Adnan, 1997).
Amati pergerakan pelarut hingga batas atas, setelah itu plat diambil
menggunakan pinset dan diamati pigmennya menggunakan sinar UV. Kemudian
hitung faktor retensi dari masing-masing pergerakan pigmen tersebut. Nilai Rf
tertinggi ada pada Wortel yang mengandung pigmen B-karoten, stelah itu Seledri
yang mengandung Klorofil dan yang terkhir adalah kentang yang mengandung
Xantofil. Pergerakan tercepat terjadi pada wortel, hal ini disebabkan karena B-
karoten lebih non polar dibandingkan dengan Klorofil dan xantofil. Karena B-
karoten mempunyai polaritas yang lebih rendah dibandingkan yang lainnya
sehingga B-karoten cenderung lebih menyukai fasa gerak daripada fase diam
sehingga B-karoten mempunyai pergerakan yang lebih cepat dibandingkan yang
lain. Sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa senyawa yang lebih
nonpolar akan terdistribusi lebih baik pada pelarut yang bergerak sehingga akan
melaju lebih cepat dibandingkan senyawa yang lebih polar karena lebih tertahan
pada pelat silika (Oktavianawati,2014). Sebaliknya xantofil mempunyai polaritas
tertinngi lebih suka menempel bersama fase diam daripada ikut bergerak keatas
bersama solvent. Hal ini sudah dapat dipastikan bahwa Klorofil akan berada pada
posisi antara B-karoten dan Xantofil, atau diantara wortel dan kentang.

Kesimpulan
1. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) atau TLC adalah teknik Pemisahan
molekul berdasrkan pada perbedaan polar.
2. Pigmen yang terdapat pada sampel antara lain, pada sampel wortel warna
orange merupakan B-karoten, pada kentang warna kuning merupakan
xantofil serta selendi warna hijau mengandung pigmen klorofil.
Referensi
Adnan, N. 1997. Teknik Kromatografi untuk analisis bahan makanan. Andi:
jogjakarta.
Day, R.A dan Underwood, A.L., 1992, Analisis Kimia Kuantitatif, edisi
5.Erlangga:Jakarta.
Ibrahim, S dan Sitorus M. 2013. Teknik Laboratorium kimia Organik. Graha lmu:
jogjakarta.
Oktavianawati, I.2014.Petunjuk Praktikum Kimia Organik. Universitas
Jember:Jember
Ravi, M., De, Sai L., Azharuddin, S., Paul, Solomon F. D., (2010), The
beneficial effects of spirulina focusing on its immunomodulatory and
antioxidant properties, Nutrition and Dietary Supplements 2010, 2, pp.
7383, Dove Medical Press Ltd.
Rohman, A. 2009. Kromatografi untuk analisis obat. Graha ilmu: jogjakarta.