Anda di halaman 1dari 33

Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 1

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya, kelompok tutorial 5 dapat melaksanakan diskusi tutorial dengan lancar dan
dapat menyusun laporan hasil diskusi tutorial ini dengan baik sehingga dapat dikumpulkan
tepat pada waktunya.
Kami mengucapkan terima kasih kepada dr. Mayuarsih Kartika sebagai tutor, atas
bimbingan beliau pada kami dalam melaksanakan diskusi ini. Kami juga mengucapkan
terima kasih kepada teman-teman yang ikut berpartisipasi dan membantu kami dalam proses
tutorial tersebut.
Kami juga ingin meminta maaf yang sebesarnya atas kekurangan-kekurangan yang ada
di dalam laporan ini. Hal ini adalah semata-mata karena kurangnya pengetahuan kami. Oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk dapat
menyusun laporan yang lebih baik lagi di kemudian hari.





Mataram, 6 Juni 2014




Penyusun


Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 2

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................................ 1
Daftar Isi ......................................................................................................................... 2
I. Pendahuluan
Skenario .......................................................................................................... 3
Learning Objective.......................................................................................... 3
Mind Map........................................................................................................ 4
II. Pembahasan
Analisis Skenario Faringitis ............................................................................ 5
Diagnosis Banding Faringitis .......................................................................... 6
Etiologi Faringitis ........................................................................................... 25
Patogenesis Faringitis ..................................................................................... 27
Manifestasi Klinis Faringitis ........................................................................... 28
Pemeriksaan Faringitis .................................................................................... 29
Tatalaksana Faringitis ..................................................................................... 30
Prognosis Faringitis ........................................................................................ 31
Komplikasi Faringitis...................................................................................... 31
III. Kesimpulan ..................................................................................................... 32
Daftar Pustaka ................................................................................................................... 33


Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 3

BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO 1

Seorang anak laki-laki, berusia 7 tahun, dibawa ibunya ke puskesmas dengan keluhan
nyeri menelan. Nyeri menelan dirasakan sejak 2 hari yang lalu. Nyeri dirasakan semakin
memberat. Nyeri terutama dirasakan saat menelan makanan yang padat. Awalnya pasien
mengalami nyeri tenggorokan dan demam sejak 4 hari yang lalu. Demam dirasakan terus-
menerus. Sejak 2 hari yang lalu demam dirasakan semakin tinggi. Pasien tampak lesu dan
kurang nafsu makan. Pasien juga mengeluhkan nyeri di telinga sejak 1 hari yang lalu. Sejak 3
hari yang lalu sudah diberikan obat penurun panas, namun keluhan tidak membaik. Pasien
belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sedang, kesadaran compos mentis,
tekanan darah 90/60 mmHg, pernapasan 28 kali/menit, frekuensi denyut nadi 100 kali/menit,
dan suhu tubuh 38,2
0
C. Faring tampak hiperemis, edema, dan dinding posterior bergranular.
Tonsil membengkak, hiperemis, dan terdapat detritus. Didapatkan juga pembesaran kelenjar
getah bening leher yang nyeri tekan.

LEARNING OBJECTIVES (LO)
1. Diagnosis banding faringitis.
2. Manifestasi klinis faringitis infeksi virus dan bakteri.
3. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis faringitis.
4. Mengapa pada infeksi virus dapat menyebabkan batuk sedangkan pada bakteri tidak
menyebabkan batuk.


Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 4

MIND MAP




Laki-laki 7 tahun
Nyeri menelan
Nyeri tenggorokan
Demam tinggi
Lesu
Nafsu makan kurang
Nyeri telinga
TD 90/60 mmHg
RR 28x/menit
HR 100x/menit
Suhu 38,2
0
C
Faring hiperemis, edema, dinding
bergranular
Tonsil membengkak, hiperemis, ada
detritus
KGB besar di leher dan nyeri tekan
Analisis
Skenario
Diagnosis Banding
Faringitis
Etiologi
Patogenesis
Manifestasi
Klinis
Pemeriksaan
Tatalaksana Komplikasi Prognosis
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 5

BAB II
PEMBAHASAN

A. ANALISIS SKENARIO
Demam
Infeksi bakteri (pirogen eksogen) di saluran pernafasan makrofag menyerang
antigen mengeluarkan mediator inflamasi seperti IL-1, IL-2, TNF- (pirogen endogen)
merangsang sel endotel di hypothalamus (di termostat) melepaskan as.arakhidonat dibantu
enzim fospolipase A2 memacu sintesis PGE2 (prostaglandin E2) melalui jalur cox
(Cyclooxigenase) meningkatkan set point di hypothalamus suhu tubuh naik demam
Hubungan sakit tenggorok dengan demam
Mikroorganisme menyebabkan demam demam merusak epitel squamous di
tenggorokan sensorik terganggu menstimulasi sakit kornu dorsalis nyeri menelan
(sakit tenggorokan)
Mukosa hiperemis (+)
Infeksi saluran pernapasan atas kerusakan sel epitel lapisan mukosa aktivasi sel
mast pelepasan mediator inflamasi (histamine, leukotrien, prostaglandin) vasodilatasi
pembuluh darah hiperemis mukosa dan edema
Detritus (+)
Infiltrasi bakteri pada epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang,
sehingga keluarlah leukosit polimorfonuklear. Kumpulan dari leukosit yang tersisa, bakteri
yang mati, dan epitel yang terlepas inilah yang disebut detritus. Detritus ini biasanya tampak
sebagai bercak kuning pada korpus tonsil.
Granula (+)
Merupakan tanda adanya faringitis kronik karena granula merupakan jaringan limfoid
yang membentuk gumpalan-gumpalan di dinding faring.

Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 6

Pembesaran kelenjar leher
Penjalaran infeksi secara limfogen ke limfanodi yang terdekat. Di regio kepala leher
terdapat bagiam limfa nodi yang dapat membesar yaitu limfanodi servical profundi, limfanodi
servical superior, limfanodi submandibular.
Penonjolan adenoid
Terjadi hipertrofi yang menutup optae yang terjadi inflamasi akibat penjalaran infeksi
yang ditandai hiperemi adenoid. Mukosa faring hiperemi merupakan tanda terjadinya
penjalaran infeksi dan inflamasi meluas ke daerah faring. Adanya detritus merupakan
penanda sisa sisa infeksi.

B. DIAGNOSIS BANDING
1) Rhinitis
a) Definisi
Rhinitis akut (common cold)
Radang akut mukosa kavum nasi oleh infeksi (self limiting disease) yang sering
diikuti infeksi sekunder oleh bakteri yang bermanifestasi sebagai kumpulan gejala
dimana gejala lokal utama ditemukan pada saluran pernafasan atas dengan
predominan gejala-gejala hidung yang berlangsung selama kurang dari 2 minggu.
Rhinitis vasomotor
Mukosa hidung yang hiperaktif, diduga akibat gangguan keseimbangan fungsi
vasomotor dengan meningkatnya aktivitas parasimpatis.
Rhinitis alergika
Suatu reaksi abnormal (hipersensitif) yang bersifat khas, yang timbul pada penderita
atopi, bila terjadi kontak dengan suatu bahan (antigen/alergen) yang pada orang
normal tidak menyebabkan reaksi apapun. Reaksi yang dimaksud ialah bersin-bersin
paroksismal, pilek encer, dan hidung buntu.
Rhinitis medikamentosa
Kelainan hidung berupa gangguan respon normal vasomotor, akibat pemakaian obat-
obatan tetes hidung (vasokonstriktor/dekongestan) yang berlebihan dan dalam waktu
yang lama.

Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 7

b) Epidemiologi
Rhinitis adalah salah satu dari penyakit infeksi respiratori akut atas tersering pada
anak.
Anak-anak lebih sering mengalami rhinitis daripada dewasa dengan rata-rata
insidensi: anak-anak 6-8 kali pertahun sedangkan orang dewasa 2-4 kali pertahun.
Pada tahun pertama kehidupan anak laki-laki lebih sering mengalami rhinitis dari
pada anak perempuan.
Rhinitis dapat terjadi sepanjang tahun, tetapi insidensinya tergantung pada musim. Di
belahan bumi utara, insidens rinitis meningkat. Rhinitis tetap tinggi selama musim
dingin, dan menurun pada musim semi, sedangkan didaerah tropis, rinitis terutama
terjadi pada musim hujan.

c) Etiologi
Rhinitis akut (common cold):
Rhinovirus
Sangat jarang disebabkan oleh bakteri kecuali sebagai infeksi sekunder.
Rhinitis vasomotor:
Etiologi pasti belum diketahui
Obat-obatan yang menekan kerja saraf simpatis (ergotamin, cpz, anti hipertensi,
vasokonstriktor lokal)
Faktor fisik (asap rokok, udara dingin, kelembaban udara, bau merangsang)
Faktor endokrin (hamil, pubertas, oral pil KB, hipothyroidism, menstruasi,dll)
Faktor psikis (cemas, tegang).
Rhinitis alergika:
Etiologi dari rhinitis alergika adalah karena alergen yaitu suatu mukoprotein dan
bukan faktor fisik. Jadi tidak ada alergi karena faktor fisik (alergi dingin, air es,
dll), faktor fisik hanya memperberat saja.
Macam macam alergen :
Inhalan : debu rumah, debu kapuk, jamur, bulu hewan, dsb.
Ingestan : buah, susu, telur, ikan laut, kacang-kacangan, dsb.
Rhinitis medikamentosa:
Drug abuse (pemakaian obat topikal hidung yg lama dan berlebihan).
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 8

d) Patofisiologi
Rhinitis akut (common cold):
Pada stadium prodromal yang berlangsung beberapa jam, didapatkan rasa panas,
kering dan gatal di dalam hidung. Kemudian akan timbul bersin berulang-ulang, hidung
tersumbat dan ingus encer, yang biasanya disertai dengan demam dan nyeri kepala.
Permukaan mukosa hidung tampak merah dan membengkak. Sumbatan hidung
menyebabkan anak bernafas melalui mulut dan anak menjadi gelisah. Pada anak yang
lebih besar kadang-kadang didapat rasa nyeri pada otot, pusing dan anoreksia. Kongesti
hidung disertai selaput lendir tenggorok yang kering menambah rasa nyeri.
Stadium pertama biasanya terbatas tiga hingga lima hari. Secret hidung mula-mula
encer dan banyak, kemudian menjadi mukoid, lebih kental dan lengket. Penyakit dapat
berakhir di titik ini. Namun, pada kebanyakan pasien, penyakitnya berlanjut ke stadium
invasi bakteri sekunder dicirikan oleh suatu rinore purulen, demam dan sering kali sakit
tenggorokan. Mukosa yang merah, bengkak dan ditutupi secret mudah diamati intranasal.
Sensasi kecap dan bau berkurang. Mengendus dan menghembuskan napas secara
berulang menyebabkan kemerahan lubang hidung dan bibir atas. Stadium ini dapat
berlangsung hingga dua minggu, sesudahnya pasien akan sembuh tanpa menemui dokter.
Dokter biasanya hanya dihubungi bilamana terjadi komplikasi lanjut seperti pneumonia,
laryngitis, infeksi telinga tengah atau sinusitis purulen. Penyebaran flu yang disebabkan
oleh berbagai virus terutama melalui infeksi droplets dan bukan karena tertelan.

Rhinitis vasomotor:
Diperkirakan ada ketidakseimbangan sistem saraf otonom, yaitu antara aktivitas
kolinergik dan adrenergik dengan berbagai faktor yang mempengaruhi masing-
masing.
Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetil kolin, sehingga
terjadi dilatasi pembuluh darah dalam konka serta meningkatkan permeabilitas
kapiler dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan saraf simpatis mengakibatkan
sebaliknya.

Rhinitis alergika:
Gejala rhinitis timbul setelah paparan alergen berulang yang menyebabkan inflamasi
mukosa hidung dan diperantarai oleh IgE.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 9

Paparan alergen lepasnya mediator-mediator kimia efek dilatasi pembuluh
darah, peningkatan permeabilitas kapiler, iritasi ujung-ujung saraf sensoris, dan
aktivasi sel-sel Kelenjar gejala klinis.
Mediator yang utama dan terpenting adalah histamin yang memberikan sehingga
sekret diproduksi lebih banyak.
Karena terjadi peningkatan sekresi kelenjar, maka timbul sekresi yang encer.

Rhinitis medikamentosa:
Mukosa hidung adalah organ yang peka rangsang. Pemakaian obat topikal yang
berlebihan akan menyebabkan terjadinya fase dilatasi berulang (rebound dilatation)
dan menyebabkan obstruksi.
Dengan adanya gejala ini, pasien cenderung akan menggunakan vasokonstriktor lebih
banyak lagi, dan hal serupa akan timbul kembali dan semakin menjadi. Sehingga lama
kelamaan akan terjadi penambahan mukosa jaringan dan rangsangan sel-sel mukoid
sehingga sumbatan akan menetap dengan produksi sekret yang berlebihan.

e) Manifestasi klinis
Gejala rhinitis timbul setelah masa inkubasi yang sangat bervariasi antar virus. Gejala
klinis pada inveksi rhinovirus terjadi 10-12 jam setelah inokulasi intranasal, sedangkan masa
inkubasi virus influenza adalah 1-7 hari. Secara umum keparahan gejala meningkat secara
cepat, mencapai puncak dalam 2-3 hari, tetapi pada beberapa pasien gejala dapat menetap
hingga 3 minggu. Gejala pada anak sangat berbeda dengan dewasa adanya sekret hidung dan
demam merupakan gejala yang sering ditemukan selama tiga hari pertama. Sekret hidung
yang semula encer dan jernih akan berubah menjadi lebih kental dan purulens. Sekret yang
purulen tersebut tidak selalu menunjukkan adanya infeksi bakteri, tetapi berhubungan dengan
peningkatan jumlah sel PMN. Sekret berwarna putih atau kuning berhubungan dengan
adanya sel PMN, sedangkan sekret berwarna kehijauan disebabkan oleh aktifitas enzin sel
PMN.
Gejala lain meliputi nyeri tenggorok, batuk, bersin-bersin, tenggorokan gatal, hidung
meler, batuk, suara serak, lemas, sakit kepala, demam (biasanya ringan) rewel, gangguan
tidur, dan penurunan nafsu makan. Biasanya gejala awal berupa rasa tidak enak di hidung
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 10

atau tenggorokan. Kemudian penderita mulai bersin-bersin, hidung meler dan merasa sakit
ringan.
Biasanya tidak timbul demam, tetapi demam yang ringan bisa muncul pada saat
terjadinya gejala. Hidung mengeluarkan cairan yang encer dan jernih dan pada hari-hari
pertama jumlahnya sangat banyak sehingga mengganggu penderita. Selanjutnya sekret
hidung menjadi lebih kental, berwarna kuning-hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak.
Gejala biasanya akan menghilang dalam waktu 4-10 hari, meskipun batuk dengan atau tanpa
dahak seringkali berlangsung sampai minggu kedua.
f) Diagnosis
Penegakan diagnosis rhinitis relative mudah, tetapi perlu diwaspadai beberapa
diagnosis banding yang mempunyai gejala menyerupai rhinitis untuk menghindari terjadinya
undertreatment. Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah menentukan apakah rhinitis
tersebut memiliki komplikasi atau tidak.
Diagnosis rhinitis ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakit yang
diperoleh dari anamnesis lengkap. Perlu ditanyakan mengenai karakteristik rinorea, unilateral
atau bilateral, dan apakah pasien memiliki riwayat alergi. Kebiasaan merokok pada orang tua
juga penting ditanyakan, karena asap rokok yang terhirup dapat memperberat gejala rhinitis.
Selain itu, perjalanan penyakit juga perlu ditanyakan untuk melihat apakah telah terjadi
komplikasi pada pasien. Nyeri tenggorok kadang-kadang sulit dibedakan dengan gejala pada
faringitis karena streptokokus. Akan tetapi, hidung buntu dan nasal discharge yang
merupakan gejala utama rhinitis tidak dijumpai pada faringitis karena streptokokus.
Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan gambaran yang khas. Penegakan diagnosis
rhinitis lebih mudah dilakukan pada orang dewasa, sedangkan pada anak hal ini kadang-
kadang menjadi sulit karena anak tidak dapat menyebutkan keluhannya, apabila pada bayi
dimana demam biasanya merup[akan gejala pertama yang timbul pada awal infeksi. Pada
pemeriksaan fisik, warna secret hidung tidak dapat membedakan penyebab dari penyakit,
misalnya saja mukosa hidung pasien dengan rhinitis alergi biasanya edema, tetapi tidak
terlalu berwarna pucat. Beberapa gambaran klinis yang perlu dicari adalah keterlibatan otitis
media, nyeri pada wajah atau sinus, pembesaran kelenjar servikal, tanda-tanda gangguan
pernapasan (sesak, takipnue, wheezing, ronki, dan retraksi), juga tanda atopic. Pada setiap
anak dengan batuk-pilek selalu harus ditentukan apakah ada peningkatan laju pernapasan dan
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 11

tarikan dinding dada bagian bawah kedalam. Kedua tanda ini penting untuk deteksi dini
pneumonia.
Penelitian lain pada 65 anak menunjukkan bahwa 47% anak dengan rhinitis
mempunyai kelainan sinus pada pemeriksaan CT-scan atau MRI kepala yang secara
bermakna berhubungan dengan gejala rhinitis yang terjadi 2 minggu sebelumnya yang
diketahui dengan jelas apakah kelainan ini disebabkan oleh kegagalan sistem drainase sinus,
atau karena infeksi virus ke mukosa sinus. Kelainan pada telinga tengah juga sering terjadi
pada perjalanan penyakit rhinitis tanpa komplikasi. 2/3 anak berusia 2-12 tahun mempunyai
tekanan telinga tengah yang abnormal selama 2 minggu sejak onset terjadinya rhinitis.
Tekanan yang abnormal ini hanya terjadii sementara selama terjadinya rhinitis. Penyebabnya
masih belum jelas tetapi diperkirakan bahwa virus di nasofaring menyebabkan disfunfgsi
tuba eustasius, dan tekanan telinga tengah menjadi abnormal. Dugaan lain adalah virus juga
meginfeksi mukosa telinga tengah atau tuba eustasius.
g) Terapi
Non-farmakologi.
Apabila gejala klinis pada anak tidak terlalu berat, dianjurkan untuk tidak
menggunakan medikamentosa/obat-obatan. Terdapat beberapa usaha untuk mengatasi hidung
tersumbat, misalnya pada anak yang lebih besar dianjurkan untuk melakukan elevasi kepala
saat tidur. Pada bayi dan anak direkomendasikan untuk memberikan terapi suportif cairan
yang adekuat karena pemberian minum dapat mengurangi gejala nyeri atau gatal pada
tenggorokan.
Farmakologi
Bila gejala yang ditimbulkan terlalu mengganggu, dianjurkan untuk memberikan obat
untuk mengurangi gejala. Gejala yang membuat anak tidak nyaman biasanya adalah demam,
malaise, rinorea, hidung tersumbat dan batuk persisten.
Obat-obat simptomatis merupakan obat yang paling sering diberikan, terutama
ditujukan untuk menghilangkan gejala yang paling mengganggu. Pada bayi dan anak, terapi
simptomatis yang direkomendasikan adalah asetaminofen untuk menghilangkan demam yang
mungkin terjadi pada hari-hari pertama.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 12

Pemberian tetes hidung salin yang diikuti dengan hisap lender dapat mengurangi
secret hidung pada bayi. Pada anak yang lebih besar dapat diberikan semprot hidung salin.
Decongestan topical tidak dianjurkan untuk diberikan pada anak yang lebih kecil, karena
penggunaan berlebihan dapat menyebabkan rebound phenomenon dan memperlama gejala
yang dirasakan. Tetes hidung salin dapat digunakan: selain dapat mengatasi, pada bayi dan
anak dapat bermanfaat untuk mengencerkan secret di hidung dan menginduksi bersin.
Antihistamin
Penggunaan antihistamin pada rhinitis tidak mengubah perjalanan penyakit. Efek
sampingnya bahkan dapat memperparah penyakit, yaitu mulut terasa kering, hidung
tersumbat dan dapat terhadi agitasi. Selain sedasi, sefek samping antihistamin yang lain
adalah paradoxic excitability, depresi respirasi dan halusinasi. Karena berpotensi toksik dan
tidak terbukti bermanfaat, antihistamin hanya boleh diberikan pada anak berusia diatas 12
bulan, dan dengan pengertian bahwa satu-satunya efek yang diharapkan adalah efek sedasi.
Antitusif
Seperti halnya antihistamin, pemberian antitusif pada anak dengan rhinitis terbukti
tidak bermanfaat. Bahkan pada anak dengan penyakit reaktif saluran respiratori yang dipicu
oleh infeksi saluran respiratori karena virus, antitusif dapat menyebabkan terjadinya mucus
plugging dan memperburuk gejala. Baik kodein maupun dekstometorfan memiliki potensi
toksisitas termasuk distress respirasi. Karena memiliki efek toksik dan tidak terbukti
bermanfaat, penggunaan antitusif tidak direkomendasikan pada anak.
Dekongestan
Obat dengan efek simpatomimetik yang menyebabkan vasokontriksi mukosa hidung.
Dekongestan yang sering digunakan adalah pseudoephedrine hydrochloride, phenylephrine
hydrochloride, dan phenylpropanolamine hydrochlorine. Pada orang dewasa, obat-obat
tersebut terbukti efektif nebghilangkan kongesti nasal dan meningkatkan patensi, tetapi tidak
terbukti efektifitasnya pada anak. Efek samping decongestan meliputi takikardi, peningkatan
tekanan darah diastolic dan palpitasi.
Zinc
Efektifitasnya masih belum jelas. Menurut penelitian zinc tidak bermanfaat untuk
penderita rhinitis, bahkan efek samping seperti nausea, iritasi tenggorok, dan diare.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 13

Vitamin C
Penelitian dahulu menunjukkan bahwa pemberian vitamin C dosis tinggi dapat
mengurangi lamanya gejala rhinitis. Akan tetapi, data baru menujukkan bahwa vit.C tidak
bermanfaat untuk pencegahan maupun pengobatan rhinitis.
Antibiotic.
Pemebrian antibiotic pada rhinitis tidak bermanfaat. Antibiotic tidak dapat mencegah
terjadinya efek samping dan kejadian resistensi. Pemberian antibiotic hanya
direkomendasikan pada kondisi yang jelas berhubungan dengan infeksi sekunder bakteri,
seperti otitis media, rhinusitis dan pneumonia.
Faktor yang dipertimbangkan untuk pemberian antibiotic pada rhinitis adalah apabila
penyakit berlangsung selama lebih dari 10-14 hari tanpa ada perbaikan, karena pada rhinitis,
gejala tertentu seperti secret hidung masih dapat berlangsung hingga 14 hari. Pemberian
antibiotic tidak mempersingkat durasi sakit dan tidak mencegah timbulnya komplikasi.
Antivirus
Antivirus dikatakan efektif untuk influenza, tetapi tidak efektif untuk mengatasi
rhinitis. Akan tetapi, sulit untuk membedakan antara rhinitis dengan flu akibat influenza.
Penggunaan antivirus di Indonesia masih tidak umum, karena biayanya mahal bila
dibandingkan dengan efek yang dihasilkan, yaitu hanyamengurangi durasi penyakit selama
lebih kurang 24 jam. Selain itu juga karena pertimbangan bahwa nativirus hanya efektif bila
digunakan selama 36 jam pertama flu.
h) Komplikasi dan prognosis
Meskipun rhinitis dapat sembuh spontan dengan durasi yang pendek, komplikasi
karena bakteri dapat juga ditemui.
Otitis media
Merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada anak-anak. Penyakit ini terjadi sekitar 20%
pada anak dengan ISPA karena virus. Komplikasi ini paling sering terdiagnosis pada hari ke-
3 atau ke-4 setelah onset gejala infeksi saluran pernapasan atas.inveksi virus pada saluran
pernapasan atas sering menyebabkandisfungsi tuba eustachius, yang dianggap sebagai faktor
yang penting pada otitis media.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 14

Rinosinusitis
Infeksi sekunder bakteri pada sinus paranasalis perlu dipertimbangkan bila dijumpai gejala
nasal yang menetap selama lebih dari 10-14 hari. Rinosinusitis bacterial diperkirakan terjadi
pada 6-13% anak dengan infeksi saluran pernapasan atas karena virus.
Infeksi saluran pernapasan bawah
Komplikasi lain yang sering didapatkan adalah pneumonia, yang dapat terjadi akibat infeksi
skunder oleh bakteri, tetapi dapat pula karena penyebaran virus ke jaringan paru. Pneumonia
karena infeksi bakteri biasanya ditandai dengan onset baru demam yang timbul beberapa hari
setelah timbulnya gejala rhinitis. batuk yang menetap tanpa disertai onset baru demam
mungkin menunjukkan adanya infeksi saluran pernapasan bawah karena virus.
Ekserbasi asma
Penelitian menunjukkan bahwa infeksi Rhinovirus berperan pada terjadinya kurang lebih
50% ekserbasi asma pada anak.
i) Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah terjadinya penularan adalah dengan mencuci tangan
dengan sabun khusus setelah kontak dengan sekter pasien baik secara langsung maupun tidak
langsung. Pemberian imunisasi influenza serahin sekali dapat mencegah infeksi influenza dan
komplikasinya.

2) Otitis Media
Otitis media merupakan inflamasi pada telinga bagian tengah dan terbagi menjadi
Otitis Media Akut, Otitis Media Efusi, dan Otitis Media Kronik.
a) Etiologi
Pada kebanyakan kasus, otitis media disebabkan oleh virus, namun sulit dibedakan
etiologi antara virus atau bakteri berdasarkan presentasi klinik maupun pemeriksaan
menggunakan otoskop saja.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 15

Otitis media akut biasanya diperparah oleh infeksi pernapasan atas yang disebabkan
oleh virus yang menyebabkan oedema pada tuba eustachius. Hal ini berakibat pada akumulasi
cairan dan mukus yang kemudian terinfeksi oleh bakteri. Patogen yang paling umum
menginfeksi pada anak adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae,
Moraxella catarrhalis.
Otitis media kronik terbentuk sebagai konsekuensi dari otitis media akut yang
berulang meskipun hal ini dapat pula terjadi paska trauma atau penyakit lain. Perforasi
membrana timpani, diikuti dengan perubahan mukosa (seperti degenerasi polipoid dan
granulasi jaringan) dan tulang rawan (osteitis dan sclerosis). Bakteri yang terlibat pada
infeksi kronik berbeda dengan otitis media akut, dimana P. aeruginosa, Proteus species,
Staphylococcus aureus, dan gabungan anaerob menjadi nyata.
b) Epidemiologi
Infeksi ini banyak menjadi problem pada bayi dan anak-anak. Otitis media
mempunyai puncak insiden pada anak usia 6 bulan-3 tahun dan diduga penyebabnya
adalah obstruksi tuba Eustachius dan sebab sekunder yaitu menurunnya imunokompetensi
pada anak. Disfungsi tuba Eustachius berkaitan dengan adanya infeksi saluran napas atas
dan alergi. Beberapa anak yang memiliki kecenderungan otitis akan mengalami 3-4 kali
episode otitis pertahun atau otitis media yang terus menerus selama > 3 bulan (Otitis
media kronik).

c) Factor penularan dan resiko
Oleh karena sebagian besar otitis media didahului oleh infeksi pernapasan atas, metode
penularan adalah sama seperti pada infeksi pernapasan tersebut. Faktor risiko untuk
mengalami otitis media semakin tinggi pada anak dengan otitis-prone yang mengalami
infeksi pernapasan atas.
d) Manifestasi klinis
Otitis media akut ditandai dengan adanya peradangan lokal, otalgia, otorrhea,
iritabilitas, kurang istirahat, nafsu makan turun serta demam. Otitis media akut dapat
menyebabkan nyeri, hilangnya pendengaran, demam, leukositosis. Manifestasi otitis media
pada anak-anak kurang dari 3 tahun seringkali bersifat non-spesifik seperti iritabilitas, demam,
terbangun pada malam hari, nafsu makan turun, pilek dan tanda rhinitis, konjungtivitis.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 16

Otitis media efusi ditandai dengan adanya cairan di rongga telinga bagian tengah
tanpa disertai tanda peradangan akut. Manifestasi klinis otitis media kronik adalah
dijumpainya cairan (Otorrhea) yang purulen sehingga diperlukan drainase. Otorrhea semakin
meningkat pada saat infeksi saluran pernapasan atau setelah terekspose air. Nyeri jarang
dijumpai pada otitis kronik, kecuali pada eksaserbasi akut. Hilangnya pendengaran
disebabkan oleh karena destruksi membrana timpani dan tulang rawan.
e) Diagnosis
Otitis media didiagnosis dengan melihat membrana timpani menggunakan otoscope.
Tes diagnostik lain adalah dengan mengukur kelenturan membrana timpani dengan
Tympanometer. Dari tes ini akan tergambarkan ada tidaknya akumulasi cairan di telinga
bagian tengah. Pemeriksaan lain menggunakan X-ray dan CT-scan ditujukan untuk
mengkonfirmasi adanya mastoiditis dan nekrosis tulang pada otitis maligna ataupun kronik.
f) Terapi
Tergantung pada stadium penyakitnya
Stadium oklusi

o Tujuan: membuka tuba tekanan negatif telinga tengah
hilang
o Diberi obat tetes hidung : HCl efedrin 0,5% dalam
larutan fisiologik (<12 tahun), atau HCl efedrin 1%
dalam larutan fisiologik (>12 tahun, dan dewasa)
o Obati sumber infeksi

Stadium presupurasi

o Antibiotik (minimal selama 7 hari) : golongan penicilin
(lini pertama) (awalnya diberikan secara IM sehingga
didapat konsentrasi yang adekuat dalam darah tidak
terjadi mastoiditis terselubung, gangguan pendengaran
sebagai gejala sisa, maupun kekambuhan).
Jika alergi pensilin, beri eritromisin.
Dosis ampisilin anak: 50-100 mg/kgBB/hari dibagi
dalam 4 dosis
Atau amoksisilin (anak) 40 mg/kgBB/hari daibagi
dalam 3 dosis
Atau eritromisin (anak) 40 mg/kgBB/hari
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 17

o Obat tetes hidung
o Analgetika
Stadium supurasi

o Antibiotika
o Miringotomi (bila membran timpani masih utuh): dapat
menghindari ruptur, gejala klinis lebih cepat hilang
o Miringotomi ialah tindakan incisi pada pars tensa
membran itmpani agar terjadi drenase sekret dari
telinga tengah ke telinga luar
o Miringotomi memiliki banyak komplikasi (ex.
Perdarahan, trauma pada n. Facialis) tidak perlu
dilakukan bila terapi antibiotik yang adekuat dapat
diberikan

Stadium perforasi

o Obat cuci telinga H
2
O
2
3% selama 3-5 hari serta
antibiotik yang adekuat
o Biasanya Dalam 7-10 hari sekret akan hilang dan
perforasi dapat menutup kembali

Jika tidak terjadi resolusi

o Lanjutkan antibiotik hingga 3 minggu jika sekret
masih tetap banyak mungkin terjadi mastoiditis

Jika sekret terus keluar >3 minggu otitis media supuratif
subakut
Jika perforasi menetap dan sekret terus keluar >1,5-2 bulan
otitis media supuratif kronik (OMSK)






Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 18
























Anak (2 bl 12 tahun)
dengan OMA tanpa
komplikasi
Menilai nyeri pada pasien
Nyeri
(+)
Rekomendasikan pengobatan untuk
mengurangi nyeri pada pasien
Nyeri (-)
Diagnosis OMA:
- Tanda dan gejala dengan onset akut
- Efusi telinga tengah (+)
- Tanda dan gejala inflamasi telinga tengah
(+)
Apakah observasi merupakan
pilihan tepat terapi awal? *
Iya
Anak diobservasi selama 48-72 jam
dg jaminan follow-up yang tepat
Tidak
Apakah anak memiliki
demam 39,5C dan/atau
otalgia berat atau sedang?
Iya
Anak ditatalaksana dengan
terapi antibiotik yang tepat
Tidak
Amoxicillin dosis 80-90
mg/kg/hari sebagai
terapi awal antibiotik
pada sebagian besar
anak
Apakah pasien berespon terhadap intervensi tatalaksana awal (baik terapi antibiotik maupun
observasi)?
Iya Tidak
Follow-up pasien dg
tepat
Penaksiran ulang dan konfirmasi
lagi diagnosis OMA
Diagnosis OMA telah dikonfirmasi
(dipastikan)
Diagnosis OMA tidak dapat
dipastikan
Menilai kemungkinan
penyebab lain dari keluhan
pasien dan tangani dg tepat
Pasien dg terapi awal observasi: segera mulai terapi antibiotik
Pasien dg terapi awal antibiotik: ubah antibiotik dengan yang
lain
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 19

3) Sinusitis
a) Definisi
Sinusitis adalah suatu kondisi inflamasi yang melibatkan empat bagian struktur yang
mengelilingi rongga hidung. Meskipun sebagian besar kasus sinusitis melibatkan lebih dari
satu sinus, sinus maksilaris adalah yang paling umum terlibat; frekuensi selanjutnya adalah
sinus ethmoidales, frontales dan sphenoidales. Setiap sinus dilapisi oleh suatu lapisan epitel
yang memproduksi mucus, yang ditranspor oleh silia-silia melewati sinus ostium ke dalam
rongga hidung. Normalnya, mucus tidak berakumulasi di sinus, yang tetap steril meskipun
terletak dekat dengan saluran hidung yang mengandung bakteri.
Ketika terjadi obstruksi sinus ostia, atau ketika bersihan silia berkurang atau tidak ada,
secret dapat tertampung atau terbendung di ruang sinus, mengakibatkan gejala dan tanda khas
sinusitis. Secret yang tertampung itu dapat terinfeksi oleh berbagai macam pathogen,
termasuk virus, bakteri dan fungi. Sinusitis umumnya diklasifikasikan berdasarkan durasi
sakit (akut dan kronik), etiologi (infeksius dan noninfeksius), dan jika infeksius, apakah
disebabkan oleh virus, bakteri, atau fungi.
b) Etiologi
Ostium sinus tersumbat, atau rambut-rambut pembersih (ciliary) rusak sehingga
sekresi mucus tertahan dalam rongga sinus yang selanjutnya menyebabkan peradangan.
Pathogen yang paling umum ditemukan dari isolasi kultur dari sinus maxillaris pasien
dengan rhinosinusitis bakterial akut adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus
influenzae, dan Moraxella catarrhalis. Streptococcus pyogenes, Staphylococcus aureus, dan
bakteri-bakteri anaerob kurang umum berkaitan dengan rhinosinusitis bakterial akut.
S pneumoniae adalah kokkus gram positif, anaerob, dan catalase-negative, yang
ditemukan pada 20 43% kasus rhinosinusitis bacterial akut pada dewasa.
Peningkatan resistensi antimicrobial terhadap S pneumoniae adalah masalah serius.
Suatu studi surveillance tahun 1998 tentang saluran pernapasan menyatakan bahwa
sekitar 12.3% S pneumoniae yang diisolasi dari sinus paranasalis telah memiliki
resistensi intermediate terhadap penicillin; 37.4% telah resisten total (penicillin-
resistant). Sinus paranasalis memperlihatkan lokasi anatomic dengan tingkat
resistensi paling tinggi. Resistance terhadap macrolide, clindamycin, trimethoprim-
sulfamethoxazole (TMP-SMX), dan doxycycline lebih umum terjadi.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 20

H influenzae adalah basil gram-negative dan facultatively anaerobic. H influenza type
B adalah penyebab utama meningitis sampai menyebarnya penggunaan vaksin.
Nontypeable strains of H influenza bertanggung jawab terhadap 22-35% kasus
rhinosinusitis bacterial akut pada dewasa. M catarrhalis adalah diplokokkus gram-
negative, oxidase-positive, dan aerobic. M catarrhalis adalah pathogen yang
bertanggun jawab terhadap 2-10% kasus rhinosinusitis bacterial akut pada dewasa.
Produksi beta-lactamase adalah mekanisme resistensi antimicrobial pada M
catarrhalis dan H influenza. Dari isolasi mukus sinus paranasalis ditemukan 32.7%
beta-lactamasepositive untuk H influenza dan 98% untuk M catarrhalis.
Meskipun terhitung terlibat dalam 10% episode rhinosinusitis bacterial akut, S aureus
sekarang dikenal sebagai patogen meningkat frekuensinya dalam menyebabkan acute
bacterial rhinosinusitis.

Meskipun methicillin-resistant S aureus (MRSA) masih
muncul dalam batas episode yang kecil dari kasus rhinosinusitis S aureus,
peningkatan kejadian resistensi terhadap S aureus membutuhkan perubahan dalam
rekomendasi pengobatan di masa yang akan datang.
Dalam kejadian yang lebih jarang, sinusitis disebabkan oleh fungi, umumnya adalah
spesies Mucorales dan Aspergillus atau Candida. Infeksi fungi lebih umum terjadi
pada orang dengan diabetes dan mereka dengan immunocompromised.

c) Gambaran klinik
Riwayat
Riwayat rhinitis alergi, rhinitis vasomotor, rhinitis medikamentosa, polip nasal dan
immmunodefisiensi harus ditanyakan untuk mengevaluasi adanya rhinosinusitis.
Rhinosinusitis lebih umum pada individu dengan defek congenital yang mempengaruhi
imunitas humoral dan motilitas silia, dan juga pada orang dengan cystic fibrosis dan pada
orang dengan AIDS. Cari riwayat diabetes atau transplantasi organ jika diperkirakan terjadi
sinusitis fungal invasive.
Riwayat alami infeksi rhinovirus, seperti yang telah dideskripsikan oleh Gwaltney et
al, berlangsung antara 1 33 hari. Satu perempat pasien mengalami gejala sampai lebih dari
14 hari.
Pasien dengan infeksi saluran pernapasan bagian atas uncomplicated biasanya
melaporkan beberapa gejala berikut: bersin, rhinorrhea, kongesti nasal,
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 21

hyposmia/anosmia, rasa tertekan atau sakit pada wajah unilateral, postnasal drip, sakit
tenggorokan, batuk, , ear fullness, demam dan myalgia.
Meskipun criteria diagnostic untuk rhinosinusitis telah diusulkan, tidak ada gejala
atau tanda tunggal yang memiliki nilai diagnostic yang kuat untuk rhinosinusitis
bacterial. Namun, rhinosinusitis bacterial akut dapat diprediksi pada pasien yang
memperlihatkan infeksi saluran pernapasan akut karena virus yang tidak membaik
setelah 10 hari atau memburuk setelah 5 7 hari.
Gejala rhinosinusitis bacterial akut termasuk hal-hal berikut:
o Nyeri atau rasa tertekan pada wajah (khususnya unilateral)
o Hyposmia/anosmia
o Kongesti nasal
o Rhinorrhea
o Postnasal drip
o Demam
o Batuk
o Fatigue
o Maxillary dental pain
o Ear fullness/pressure
Perubahan pada warna atau karakteristik sektersi nasal bukan tanda yang spesifik
untuk rhinosinusitis bacterial.
Diagnosis rhinosinusitis sebelumnya bukan merupakan sebuah predictor untuk
rhinosinusitis bakterial akut.
Fisik
Sekresi nasal purulent
Sekresi faring posterior purulent
Erythema mukosa
Edema periorbital
Tenderness overlying sinuses
Air-fluid levels on transillumination of the sinuses (60% reproducibility rate for
assessing maxillary sinus disease)
Erythema wajah
Gejala khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika
penderita bangun pada pagi hari. Sinusitis akut dan kronik memiliki gejala yang sama, yaitu
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 22

nyeri tekan dan pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang
timbul berdasarkan sinus yang terkena:
Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi dan sakit
kepala.
Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi.
Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit
kepala di dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila
pinggiran hidung ditekan, berkurangnya indera penciuman dan hidung tersumbat.
Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan
bisa dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang
menyebabkan sakit telinga dan sakit leher.
Gejala lainnya adalah:
o Tidak enak badan
o Demam, demam dan menggigil menunjukkan bahwa infeksi telah menyebar
ke luar sinus.
o Letih, lesu
o Batuk, yang mungkin semakin memburuk pada malam hari
o Hidung meler atau hidung tersumbat.
o Selaput lendir hidung tampak merah dan membengkak, dari hidung mungkin
keluar nanah berwarna kuning atau hijau.
d) Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala, foto rontgen sinus dan hasil
pemeriksaan fisik. Untuk menentukan luas dan beratnya sinusitis, bisa dilakukan
pemeriksaan CT scan.
Pada sinusitis maksilaris, dilakukan pemeriksaan rontgen gigi untuk mengetahui
adanya abses gigi.
e) Penatalaksanaan
Sinusitis akut
Untuk sinusitis akut biasanya diberikan:
o Dekongestan untuk mengurangi penyumbatan
o Antibiotik untuk mengendalikan infeksi bakteri (terapi awal umumnya dengan
amoksisilin atau kotrimoksazol)
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 23

o Obat pereda nyeri untuk mengurangi rasa nyeri.
Dekongestan dalam bentuk tetes hidung atau obat semprot hidung hanya boleh
dipakai selama waktu yang terbatas (karena pemakaian jangka panjang bisa
menyebabkan penyumbatan dan pembengkakan pada saluran hidung). Untuk
mengurangi penyumbatan, pembengkakan dan peradangan bisa diberikan obat
semprot hidung yang mengandung steroid.
Sinusitis kronik
Diberikan antibiotik dan dekongestan. Untuk mengurangi peradangan biasanya
diberikan obat semprot hidung yang mengandung steroid. Jika penyakitnya berat, bisa
diberikan steroid per-oral (melalui mulut). Hal-hal berikut bisa dilakukan untuk
mengurangi rasa tidak nyaman:
o Menghirup uap dari sebuah vaporizer atau semangkuk air panas
o Obat semprot hidung yang mengandung larutan garam
o Kompres hangat di daerah sinus yang terkena.
Jika tidak dapat diatasi dengan pengobatan tersebut, maka satu-satunya jalan untuk
mengobati sinusitis kronik adalah pembedahan.
Age
Group
Diagnostic Criteria Treatment Recommendations
a


Adults Moderate symptoms (e.g., nasal
purulence/ congestion or cough)
for >7 d or
Severe symptoms of any duration,
including unilateral/focal facial
swelling or tooth pain
Initial therapy
Amoxicillin, 500 mg PO tid or 875 mg PO
bid, or


TMP-SMX, 1 DS tablet PO bid for 1014 d
Exposure to antibiotics within 30 d or >30%
prevalence of penicillin-resistant S.
pneumoniae
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 24

Age
Group
Diagnostic Criteria Treatment Recommendations
a




Amoxicillin, 1000 mg PO tid, or
Amoxicillin/clavulanate (extended release),
2000 mg PO bid, or
Antipneumococcal fluoroquinolone (e.g.,
levofloxacin, 500 mg PO qd)


Recent treatment failure
Amoxicillin/clavulanate (extended release),
2000 mg PO bid, or


Amoxicillin, 1500 mg bid, plus clindamycin,
300 mg PO qid, or
Antipneumococcal fluoroquinolone (e.g.,
levofloxacin, 500 mg PO qd)
Children Moderate symptoms (e.g., nasal
purulence/congestion or cough)
for >1014 d or
Severe symptoms of any duration,
including fever (>102F),
unilateral/focal facial swelling or
pain
Initial therapy
Amoxicillin, 4590 mg/kg qd (up to 2 g) PO
in divided doses (bid or tid), or


Cefuroxime axetil, 30 mg/kg qd PO in
divided doses (bid), or
Cefdinir, 14 mg/kg PO qd
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 25

Age
Group
Diagnostic Criteria Treatment Recommendations
a




Exposure to antibiotics within 30 d, recent
treatment failure, or >30% prevalence of
penicillin-resistant S. pneumoniae
Amoxicillin, 90 mg/kg qd (up to 2 g) PO in
divided doses (bid), plus clavulanate, 6.4
mg/kg qd PO in divided doses (bid) (extra-
strength suspension), or


Cefuroxime axetil, 30 mg/kg qd PO in
divided doses (bid), or
Cefdinir, 14 mg/kg PO qd


C. ETIOLOGI FARINGITIS
Berbagai bakteri dan virus dapat menjadi etiologi faringitis baik faringitis sebagai
penyakit tunggal maupun faringitis sebagai bagian dari penyakit lain. Virus merupakan
etiologi terbanyak faringitis akut terutama pada anak-anak berusia 3 tahun (prasekolah).
Virus penyebab respiratori seperti adenovirus, rhinovirus, dan virus parainfluenza dapat
menjadi penyebab faringitis. Virus Epstein Barr dapat menyebabkan faringitis, tetapi disertai
dengan infeksi mononucleosis seperti splenomegali dan limfadenopati generalisata. Infeksi
sistemik seperti virus campak, CMV, virus rubella, dan berbagai virus lainnya juga dapat
menunjukkan gejala faringitis akut.
Streptokokus beta hemolitikus grup A adalah bakteri penyebab terbanyak
faringitis/tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30% (di luar kejadian
epidemic) dan penyebab faringitis akut pada anak, sedangkan pada dewasa hanya sekitar 5-
10% kasus. Streptokokus beta hemolitikus grup A biasanya bukan merupakan penyebab yang
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 26

umum pada usia anak prasekolah, tetapi pernah dilaporkan menjadi outbreak pada tempat
penitipan anak.
Mikroorganisme seperti klamidia dan mikoplasma dilaporkan dapat menimbulkan
infeksi, tetapi sangat jarang terjadi. Di Negara Inggris dan Skandinavia pernah dilaporkan
infeksi Arcobacterium hemolitikum. Beberapa bakteri dapat melakukan proliferasi ketika
terjadi infeksi virus (copatogen bacterial) dan dapat ditemukan pada kultur, tetapi biasanya
bukan merupakan penyebab dari faringitis/tonsilofaringitis akut. Beberapa bakteri tersebut
adalah Staphillococus aureus, Haemophilus influenza, Moraxella catarrhalis, Bakteroides
fragils, Bakteroides melaninogenicus, spesies fusobacterium, dan spesies peptostreptococcus.
Berikut merupakan mikroorganisme yang dapat menyebabkan faringitis akut:
Mikroorganisme Kelainan yang ditimbulkan
- Bakteri
Streptococcus grup A
Streptococcus grup C dan G
Campuran bakteri anaerob
Neisseria gonorrhoeae
Corynobacterium diphteriae
Arcanobacterium haemoliticum
Yersinia enterocolitica
Yersinia pestis
Francissela tularensis

- Virus
Virus rhino
Viris corona
Virus adeno
Virus herpes simpleks 1 dan 2
Virus parainfluenza
Virus coxsackie A
Virus Epstein barr
Virus sitomegalo
HIV

Faringitis, tonsillitis, demam scarlet
Faringitis, tonsillitis, demam scarlatiniform
Vincens angina
Faringitis, tonsillitis
Difteri
Faringitis, scarlatiniform
Faringitis, enterocolitis
Plague
Tularemia


Common cold/rhinitis
Common cold
Pharyngoconjunctival fever
Faringitis, gingivostomatitis
Cold, croup,
Herpangina
Infeksi mononucleosis
Mononucleosis
Infeksi HIV primer
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 27

Virus influenza A dan B
- Mikoplasma
Mycoplasma pneumonia
- Klamidia
Chlamidia psittaci
C. pneumoniae
Influenza

Pneumonia, bronchitis, faringitis

IRA, pneumonia
Pneumonia, faringitis


D. PATOGENESIS FARINGITIS
Nasofaring dan orofaring adalah tempat untuk organisme ini, kontak langsung dengan
mukosa nasofaring atau orofaring yang terinfeksi atau dengan benda yang terkontaminasi
seperti sikat gigi merupakan cara penularan yang kurang berperan, demikian juga penularan
melalui makanan. Penyebaran SBHGA memerlukan pejamu yang rentan dan difasilitasi
dengan kontak yang erat. Infeksi jarang terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun, mungkin
karena kurang kuatnya SBHGA melekat pada sel-sel epitel. Infeksi pada toddlers paling
sering melibatkan nasofaring atau kulit. Remaja biasanya telah mengalami kontak dengan
organisme beberpa kali sehingga terbentuk kekebalan. Oleh karena itu, infeksi SBHGA
jarang pada kelompok ini.
Faringitis akut jarang disebabkan oleh bakteri, di antara penyebab bakteri tersebut,
SBHGA merupakn penyebab terbanyak. Streptokokus grup C dan D telah terbukti dapat
menyebabakan epidemi faringitis akut, sering berkaitan dengan makanan (foodborne) dan air
(waterborn) yang terkontaminasi. Bakteri maupun virus dapat secara langsung menginvasi
mukosa faring yang kemudian menyebabkan respon peradangan local/ inflamasi. Rhinovirus
menyebabkan iritasi mukosa faring sekunder akibat sekresi nasal. Sebagian besar peradangan
melibatkan nasofaring, uvula dan palatum molle. Perjalanan penyakitnya ialah terjadi
inokulasi dari agen infeksius di faring yang menyebabkan peradangan lokal, sehingga
mneyebabkan eritema faring, tonsil atau keduanya. Infeksi streptokokus ditandai dengan
invasi lokal serta penglepasan toksin ekstraseluler dan protease. Transmisi dari virus yang
khusus dan SBHGA terutama terjadi akibat kontak tangan dengan sekret hidung
dibandingkan dengan kontak oral. Gejala akan tampak setelah masa inkubasi yang pendek
yaitu 24-72 jam.
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 28


E. MANIFESTASI KLINIS FARINGITIS
Gejala faringitis yang khas akibat bakteri Streptokokus berupa nyeri tenggorokan
dengan awitan mendadak, disfagia, dan demam. Urutan gejala yang biasanya dikeluhkan oleh
anak berusia di atas 2 tahun adalah nyeri kepala, nyeri perut, dan muntah. Selain itu juga
didapatkan demam yang dapat mencapai 40
o
C, beberapa jam kemudian terdapat nyeri
tenggorokan. Gejala seperti rinorea, suara serak, batuk, konjungtivitis, dan diare biasanya
disebabkan oleh virus. Kontak dengan pasien rinitis juga dapat ditemukan pada anamnesis.
Pada pemeriksaan fisik, tidak semua pasien tonsilofaringitis akut Streptokokus
menunjukkan tanda infeksi Streptokokus, yaitu eritema pada tonsil dan faring yang disertai
dengan pembesaran tonsil.
Faringitis Streptokokus sangat mungkin jika dijumpai gejala dan tanda berikut:
Awitan akut, disertai mual dan muntah
Faring hiperemis
Demam
Nyeri tenggorokan
Tonsil bengkak dengan eksudasi
Kelenjar getah bening leher anterior bengkak dan nyeri
Uvula bengkak dan merah
Ekskoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder
Ruam skarlatina
Petekie palatum mole
Akan tetapi, penemuan tersebut bukan merupakan tanda pasti faringitis streptokokus,
karena dapat juga ditemukan pada penyebab tonsilofaringitis yang lain.
Sedangkan bila ditemukan gejala dan tanda sebagai berikut ini, kemungkinan besar
bukan faringitis streptokokus:
Usia di bawah 3 yahun
Awitan bertahap
Kelainan melibatkan beberapa mukosa
Konjungtivitis, diare, batuk, pilek, suara serak
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 29

Mengi, ronki di paru
Eksantem ulseratif
Tanda khas faringitis difteri adalah membran asimetris, mudah berdarah, dan
berwarna kelabu pada faring. Membran tersebut dapat meluas dari batas anterior tonsil
hingga ke palatum mole dan atau ke uvula.
Pada faringitis akibat virus, dapat juga ditemukan ulkus di palatum mole dan dinding faring
serta eksudat di palatum dan tonsil, tetapi sulit dibedakan dengan eksudat pada faringitis
Streptokokus. Gejala yang timbul dapat menghilang dalam 24 jam, berlangsung 4-10 hari
(selft-limiting disease), jarang menimbulkan komplikasi, dan memiliki prognosis yang baik.

F. PEMERIKSAAN FARINGITIS
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium. Sulit untuk membedakan antara faringitis streptokokus dan faringitis virus
hanya berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Baku emas untuk penegakan diagnosis
faringitis bakteri atau virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari hapusan tenggorokan.
Apusan tenggorokan yang adekuat pada area tonsil diperlukan untuk menegakkan adanya S.
pyogens. Untuk memaksimalkan akurasi, diambil apusan dari dinding faring posterior dan
regio tonsil, lalu diinokulsikan pada media agar domba 5% dan piringan basitrasin
diaplikasikan, kemudian ditunggu selama 24 jam.
Pada saat ini terdapat metode yang cepat untuk mendeteksi antigen streptokokus grup
A (rapid antigen detection test). Metode uji cepat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas
yang cukup tinggi (sekitar 90% dan 95%) dan hasilnya dapat diketahui dalam 10 menit,
sehingga metode ini setidaknya dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan kultur.
Secara umum, bila uji tersebut negatif, maka apusan tenggorokan seharusnya dikultur pada
dua cawan agar darah untuk mendapatkan hasil yang terbaik untuk S. pyogens. Pemeriksaan
kultur dapat membantu mengurangi pemberian antibiotik yang tidak perlu pada pasien
faringitis.



Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 30

G. TATALAKSANA FARINGITIS
Usaha untuk membedakan faringitis bakteri dan virus bertujuan agar pemberian
antibiotik sesuai indikasi. Faringitis SBHGA merupakan satu-satunya faringitis yang memilki
indikasi kuat adan aturan khusus dalam oenggunaan antibiotik (selain difteri yang disebabkan
oleh Cyanobacterium Diptheriae).
Pemberian antibiotik tidak diperlukan pada faringitis virus karena tidak akan
mempercepat waktu penyembuhan atau mengurangi derajat keparahan. Istirahat cukup dan
pemberian cairan yang sesuai merupakan terapi suportif yang dapat diberikan. Selain itu,
pemberian gargles (obat kumur) dan lozenges (obat hisap) pada anak yang cukup besar dapat
meringankan keluhan nyeri tenggorok. Apabila terdapat nyeri yang berlebih atau demam,
dapat diberikan parasetamol atau ibuprofen. Pemberian aspirin tidak dianjurkan terutama
pada infeksi influenza, karena insidens sindrom Reye kerap terjadi.
Terapi Antibiotik Faringitis
Pemberian antibiotik pada faringitis harus berdasarkan pada gejala klinis dan hasil
kultur positif pada pemeriksaan apus tenggorokan. Akan tetapi, sampai saat ini masih
terdapat pemberian antibiotik yang tidak rasional untuk kasus overdiagnosis faringitis
menjadi faringitis akut streptokukus dan memberikan antibiotik karena khawatir dengan salah
satu komplikasinya berupa demam rematik.
Antibiotik pilihan pada terapi faringitis akau streptokokus grup A adalah Penisilin V
oral 15-30mg/kgBB/hari selam 10 hari atau benzatin penisilin G IM dosis tunggal dengan
dosis 600.000 IU (BB<30KG) dan 1.200.000 IU (BB>30kg). Amoksisilin dapat digunakan
sebagai pengganti penisilin pada anak yang lebih kecil, karena selain efeknya sama,
amoksisilin juga memilki rasa yang lebih enak. Amoksisilin dengan dosis 50mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2 dosis selam 6 hari, efektivitasnya sama dengan penisilin oral selama 10 hari.
Untuk anak yang alergi penisilin dapat diberikan eritromisin etil suksinat 40 mg/kgBB/hari,
eritromisin estolat 20-40 mg/kgBB/hari, dengan pemberian 2 atau 4 kali sehari selam 10 hari.
Antibiotik golongan sefalosforin generasi I dan II dapat juga memberikan efek yang sama,
tetapi pemakaiannya tidak dianjurkan, karena selain mahal resiko resistensinya juga lebih
besar.
Kegagalan terapi adalah terdapatnya Streptokokus persisten setelah terapi selesai. Hal
ini terjadi pada 5-20% populasi, dan lebih banyak pada populasi dengan pengobatan penisilin
Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 31

oral dibandingkan suntik. Penyebabnya dapat karena komplians yang kurang, infeksi ulang,
atau adanya flora normal yang memproduksi beta laktamase. Kultur apus tenggorokan hanya
dilakukan pada keadaan risiko tinggi, misalnya pasien dengan riwayat dema reumatik atau
infeksi streptokokus berulang.
Apabila hasil kultur kembali positif, beberapa kepustakaan menyarankan terapi
dengan obat pilihan klindamisisn 20-30 mg/kgBB/hari selama 10 hari. Amoksisilin
klavulanat 40mg/kgBB/hari terbagi menjadi 3 dosis selama 10 hari atau atau benzatin
penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU (BB<30KG) dan 1.200.000 IU
(BB>30kg). Akan tetapi bila setelah terapi kedua kultur tetap positif, kemungkinan pasien
merupakan pasien karier, yang memilki risiko tinggi terkena demam reumatik. Golongan
tersebut tidak memerlukan terapi.

H. PROGNOSIS FARINGITIS
Prognosis pada pasien dengan faringitis dapat baik jika segera ditangani dengan
penatalaksanaan yang adekuat. Jika diagnosis segera ditegakkan, komplikasi faringitis dapat
dihindarkan dengan pemberian medikamentosa yang sesuai dengan penyebab terjadinya
faringitis.

I. KOMPLIKASI FARINGITIS
Kejadian komplikasi pada faringitis akut virus sangat jarang. Beberapa kasus dapat
berlanjut menjadi otitis media purulen bakteri. Pada faringitis bakteri dan virus dapat
ditemukan komplikasi ulkus kronik yang cukup luas.
Komplikasi faringitis bakteri terjadi akibat perluasan langsung atau secara hematogen.
Akibat perluasan langsung, faringitis dapat berlanjut menjadi rinosinusitis, otitis media,
mastoiditis, adenitis servikal, abses retrofaringeal atau parafaringeal atau pneumonia.
Penyebaran hematogen SHBGA dapat menyebabkan meningitis, osteomielitis, atau artritis
septik sedangkan komplikasi non supuratif berupa demam reumatik dan glomerulonefritis.


Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 32

BAB III
KESIMPULAN

Faringitis merupakan reaksi inflamasi pada daerah faring. Pada pemeriksaan,
faringitis memiliki diagnosis banding berupa rhinitis, sinusitis, dan otitis media. Untuk
menegakkan diagnosis tersebut, diperlukan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan
lanjutan seperti kultur juga diperlukan untuk mengetahui secara pasti apa penyebab dari
penyakit tersebut. Setelah diagnosis ditegakkan, medikamentosa dapat diberikan jika
diperlukan.


Skenario 1 Kelompok Tutorial 5 Page 33

DAFTAR PUSTAKA

Adam, G.L., Boies Jr, L. C., Hilger, P. A. 1989. Boies Fundamentals of Otolaryngology 6
th

Edition. Philadelphia: WB Saunders.
Soepardi, E.A., Iskandar, N. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan
Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Naning, Roni, dkk. 2013. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta: IDAI.