Anda di halaman 1dari 15

A.

CILINDER BORE GAUGE



1) Pengertian



Cylinder bore gauge termasuk dalam jenis alat ukur yang menggunakan jam ukur (dial gauge).
Dalam pengukuran komponen-komponen otomotif, alat ini biasanya digunakan untuk mengukur diameter
silinder dan komponen lain secara teliti. Diameter daerah pengukuran yang dapat dijangkau oleh cylinder
bore gauge berkisar antara 50 mm sampai dengan 300 mm.

Bore gauge adalah merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengukur diameter silinder. Pada
bagian atas terdapat dial gage dan pada bagian bawah terdapat measuring point yang dapat bergerak
bebas. Pada sisi lainnya terdapat replacement rod yang panjangnya bervariasi tergantung keperluan.
Dalam satu set, terdapat bermacam-macam ukuran reclacement rod dengan panjang tertentu. Disamping
itu juga terdapat replacement securing thread adalah semacam mur pengikat yang fungsinya untuk
mengunci agar replacement rod dan washernya tidak lepas pada saat bore gage digunakan.

Dalam penggunaannya cylinder gauge tidak dapat digunakan sendiri, tapi juga membutuhkan alat
ukur lainnya, yaitu jangka sorong/vernier caliper dan micrometer. Ketelitian alat ini adalah 0,01 mm.

2) Bagian Bagian

Cylinder bore gauge (dial bore gage) mempunyai beberapa bagian yaitu :

a) dial gauge
b) dial gauge securing position
c) replacement washer
d) replacement rod
e) replacement rod securing thread
f) measuring point



Measuring point ini dapat bergerak bebas dan jumlah gerakannya ditunjukkan oleh dial gauge.
Jarak antara measuring point dan replacement rod adalah sama dengan diameter benda yang diukur.

3) Cara Memegang

Cyllinder bore gauge terdapat bagian yang bernama grip. Grip adalah pemegang untuk
memposisikan ketepatan pengukuran. Ujung batang pengukur (measuring point) dapat bergerak bila
ditekan dan akan menggerakkan jarum pada dial gauge antara 0-2 mm dari harga standarnya. Rod end
akan diikat oleh mur pengikat tongkat pengukur (rod securing thread) tongkat pengukur (rod end) ini dapat
ditukar-tukar ukurannya menurut kebutuhannnya.



Guide plate dipergunakan untuk membantu menempatkan kedudukan dial gauge pada kedudukan
horizontal dan untuk mendapatkan harga pengukuran yang maksimum. Pada dial gauge model baru yang
dipergunakan pada bore gauge skala penunjukkan jarum terdiri dari angka 0 - 50 pada setengah lingkaran
dari arah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Masukkan bore gauge ke dalam cylinder dengan
posisi seperti gambar di bawah ini.

Posisi yang benar dalam melakukan pengukuran diamater dalam suatu silinder adalah pada posisi
ditengah-tengah seperti ditunjukan pada gambar.




Pada gambar A posisi b adalah bore gauge yang benar, dan apabila terjadi penyimpangan maka
jarum besar akan bergerak searah jarum jam. Bila terjadi penyimpangan ( d ) dan ( f ) maka jarum akan
berputar berlawanan dengan arah putaran jarum jam. Aplikasi bore gauge tidak seluas aplikasi inside
micrometer, karena bore gauge memiliki tangkai pemegang tools yang panjang dan sebuah dial gauge
untuk membaca hasil ukur, sehingga pada tempat-tempat yang sempit tidak bisa menggunakan bore
gauge, contohnya adalah bore untuk bushing camshaft.

Bore gauge lebih banyak digunakan untuk mengukur ID cylinder liner, ID Main bearing hole, ID
housing hydraulic cylinder atau ID lain yang tempatnya tidak sempit atau bebas.

4) Cara Kerja

Pengukuran diameter silinder dengan bore gage memerlukan alat ukur lain yaitu mistar geser (
jangka sorong) dan mikrometer. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk mengukur diameter silinder.

Cara pertama

1. Ukurlah diameter silinder dengan menggunakan jangka sorong, misal diperoleh hasil pengukuran
75,40 mm

2. Pilih replacement rod yang panjangnya lebih besar dari hasil pengukuran tersebut, misal 76 mm.

3. Pasang replacement rod pada bore gage.

4. Ukur panjang replacement rod dengan mikrometer luar seperti pada gambar dibawah dan
usahakan jarum dial gage tidak bergerak, misal diperolah hasil pengukuran 76,20



5. Masukan replacement rod kedalam lubang ( silinder ), goyangkan tangkai bore gage ke kanan dan
ke kiri seperti pada gambar sampai di peroleh penyimpangan terbesar ( posisi tegak lurus )


6. Baca besarnya penyimpangan yang ditunjukan dial gage, misal diperoleh 0,13 mm

7. Besarnya diameter silinder adalah selisih antara hasil pengukuran panjang replecement rod
dengan besarnya penyimpangan jarum bore gage. Jadi diameter silinder = 76,20 -0,13 = 76,07
mm

Cara pengukuran ke dua

1. Ukurlah diameter silinder dengan mistar geser, misalnya diperoleh hasil pengukuran : 75,40

2. Pilih replecement rod yang panjangnya lebih besar dari hasil pengukuran tersebut, misalnya 76
mm

3. Pasang replecement rod pada bore gage.

4. Set mikrometer luar pada 76 mm, kemudian tempatkan replacement rod antara avil dan spindel
micrometer

5. Set jarum dial gage pada posisi nol dengan cara memutar outer ring

6. Masukkan replecement rod kedalam lubang (silinder ), goyangkan tangkai bore gage ke kanan dan
kekiri sampai diperoleh penyimpangan terbesar ( posisi tegak lurus )

7. Baca besarnya penyimpangan yang ditunjukkan dial gage.

8. Apabila penyimpangan jarum dial gage :

9. disebelah kanan nol : diameter silinder = 76 penuimpangan

disebelah kiri nol : diameter silinder = 76 + penyimpangan

5) Contoh Soal

Hasil pengukuran dengan jangka sorong : 51,20 mm (pembulatannya 51 mm)
Maka replacement rod : 50 mm
Replacement washer : 1 mm
Hasil pengukuran dengan jangka sorong : 51,80 mm (pembulatannya 52 mm)
Replacement rod : 50 mm
Replacement washer : 2 mm

Pada saat memasang dial gauge yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

Dial gauge harus dipasang pada tangkainya dalam posisi sejajar atau tegak lurus measuring point.
Spindle dimasukkan ke dalam batangnya kira-kira setengah dari langkahnya. Periksalah bahwa pointer dari
dial gauge bergerak bila anda menekan measuring point.

Contoh penggunaan alat ukur

Ukur diameter dalam silinder dengan menggunakan jangka sorong. Baca hasilnya. Tentukan
replacement rod dan replacement washer berdasar hasil pengukuran dari jangka sorong. Misal hasil dari
pengukuran jangka sorong didapat : 91,00 mm. Maka pilihlah replacement rod yang 90 mm dan
replacement washer yang 1 mm.

Set mikrometer pada ukuran 91,00 mm. Masukan ke dalam replacement rod dan measuring point
ke dalam mikrometer dan dial gauge di set 0.

Masukkan cylinder gauge pada posisi diagonal ke dalam silinder, gerakan cylinder gauge sampai
diperoleh hasil pembacaan terkecil. Bila hasil pembacaan adalah 0,08 mm sebelum
0, berarti diameter silinder adalah 0,08 mm lebih besar dari 91 mm. Karena itu diameter silinder adalah
91,08 mm (91,00 + 0,08). Namun jika hasil pembacaannya adalah 0,08 setelah "0", berarti diameter silinder
adalah 0,08 lebih kecil dari 91 mm. Karena itu diameter silinder adalah 90,92 mm(91,00 - 0,08).






Pengaplikasiannya :
MENGUKUR BLOK SILINDER
1) Alat ukur yang di pakai adalah: vernier caliper, micrometer, micrometer stand, cylinder bore gauge.
2) Bersihkan Blok Silinder yang akan di ukur beserta alat ukurnya

3) Ukurlah diameter dalam silinder menggunakan vernier caliper, contoh hasil pengukuran dengan
vernier caliper adalah 77, 14 mm

4) Ambillah replacement rod yang sesuai dengan ukuran vernier caliper, dari table yang di baca pada
cylinder bore gauge di dapat ukuran 75 78, maka replacement rot yang dipakai adalah A4


5) Pasanglah replacement rod pada cylinder bore gauge

6) Pasanglah dial indicator pada cylinder bore gauge




7) Aturlah panjang replacement rod di dalam blok silinder

8) Ukurlah panjang antara measuring point dengan replacement rod menggunakan micrometer, dari
hasil pengukuran di dapat 77, 42

9) Ukurlah diameter silinder posisi X bagian atas, tengah dan bawah
- Posisi atas di dapat 27 garis x 0,01mm = 0,27 mm
Jadi hasilnya 77,42 0,17 = 77, 15 mm
- Posisi atas di dapat 29 garis x 0,01mm = 0,29 mm
Jadi hasilnya 77,42 0,29 = 77, 13 mm
- Posisi atas di dapat 31 garis x 0,01mm = 0,31 mm
Jadi hasilnya 77,42 0,31 = 77, 11 mm





10) Setelah selesai alat ukur di bersihkan dan di beri vaselin putih, kemudian letakkan pada
tempatnya.












B. SCREW PITCH GAUGE
1) Pengertian

Screw Pitch Gauge adalah alat yang digunakan untuk mengukur pitch (jarak antar ulir) yang ada
pada mur atau baut. Hal ini diperlukan supaya tidak terjadi kesalahan saat penggantian mur atau baut,
karena pitch ulir mempunyai standar ukuran tertentu yang berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhannya. Screw pitch dalam satu set terdapat beberapa bilah ukur dan tercantum angka ukuran
ulirnya. Terdapat dua satuan ukuran ulir yaitu inchi dan metrik. Proses pengukuran dilakukan beberapa kali
dengan memilih bilah ukur yang tepat supaya hasil pengukuran tepat.
2) Cara Kerja



Pertama adalah menentukan apakah ulir tersebut metrik atau inchi , metrik adalah yang memiliki sudut 60
Cara kerjanya adalah dengan mencocokkan setiap blade , setiap blade memiliki jarak ulir yang
berbeda , lalu kita terawang apakah masih ada celah saat sudah ditempelkan.

Jika tidak bisa masuk maka menggunakan ukuran blade yang lebih dibesar , jika masih ada celah
kita gunakan blade yang lebih besar















C. FEELER GAUGE
1) Pengertian

Feeler gauge berfungsi untuk mengukur celah di antara dua bagian. Feeler gauge terbuat dari
lembaran plat baja dengan berbagai ukuran. Pada saat akan digunakan feeler gauge harus dalam kondisi
bersih, jika tidak akan mempengaruhi hasil pengukuran.
Feerler gauge sering disebut juga dengan thickness gauge, karena memang bentuknya seperti
bilah tipis dalam ukuran yang bermacam-macam. Mulai dari 0,05 mm sampai 1 mm. Namun ada juga yang
dimulai dari ukuran 0,03 mm dan 0,04 m.
Feeler gauge atau lidah ukur sering dipakai untuk mengukur celah yang sulit dijangkau oleh alat
ukur lainnya, misalnya celah katup, celah bantalan, celah samping ring piston, dsb. Feeler gauge sering
juga disebut dengan thicknes gauge.
2) Bahan dan Fungsi
Kaliper celah dibuat dari baja yang lentur dan berkualitas tinggi. Tiap set terdiri dari 10 buah kaliper
atau lebih, dijepit pada penjepitbaja dengan pena yang berfungsi sebagai gantungan pada saat kaliper itu
digunakan. Sebuah Kaliper celah yang berisi 10 kaliper masingmasing kalipernya mempunyai ukuran yang
tertera pada tiap-tiap kaliper, dimulai dari ukuran 0,05; 0,10; 0,15; 0,20; 0,30; 0,40; 0,50; 0,60; 0,70; dan
0,80 milimeter. Ada juga kaliper celah dengan ukuran dalam inch. Ukuran terkecil dari kaliper celah adalah
sekaligus menunjukkan tingkat ketelitian yang dapat dicapai dari alat ukur tersebut. Sehingga kaliper celah
dengan ukuran kaliper terkecil 0,05 mm akan mempunyai ketelitian 0,05 mm. Kaliper-kaliper ini mempunyai
panjang tiap kaliper kira-kira 100 mm dengan bentuk ujung yang bulat atau ada juga yang tirus pada sisi
lebarnya.
Kaliper celah adalah alat ukur yang biasa digunakan untuk memeriksa jarak-jarak yang kecil atau
ukuran celah-celah diantara dua permukaan. Karena daerah antara permukaan ini sangat sempit maka
diperlukan alat ukur tak berskala yang dapat digunakan untuk menentukan ukuran tersebut. Alat ini dipakai
secara luas dalam bidang pemesinan, fitting dan otomotif. Contoh penggunaannya adalah untuk menyetel
pisau mesin frais atau memeriksa kelonggaran katup pada mesin.
3) Cara Kerja

Pengukuran celah dilakukan dengan memasukkan salah satu kaliper yang sesuai dengan celah
yang di ukur. Jangan coba untuk memaksakan kaliper yang tidak sesuai atau terlalu sesak karena bias
menyebabkan kaliper bengkok dan mungkin akan terjadi perubahan bentuk yang tetap. Apabila kaliper
terlalu tebal bisa dipilih kaliper lain dengan ukuran di bawahnya. Ketelitian pengukuran dapat diperoleh
dengan menggabungkan beberapa kaliper. Apabila sebuah kaliper dapat masuk dengan longgar, coba
ditambahkan dengan kaliper yang dengan ukuran terkecil. Kaliper-kaliper tersebut dapat ditambahkan
sehingga didapatkan ukuran yang pas. Sehingga ukuran celah adalah jumlah dari ukuran kaliper yang
dapat masuk dengan pas tersebut.
4) Contoh
Contoh penggunaan feeler gauge yaitu pada pengukuran/penyetelan celah katup.
Pengukuran celah dilakukan dengan memasukkan salah satu kaliper yang sesuai dengan celah
yang di ukur. Jangan coba untuk memaksakan kaliper yang tidak sesuai atau terlalu sesak karena bias
menyebabkan kaliper bengkok dan mungkin akan terjadi perubahan bentuk yang tetap. Apabila kaliper
terlalu tebal bisa dipilih kaliper lain dengan ukuran di bawahnya. Ketelitian pengukuran dapat diperoleh
dengan menggabungkan beberapa kaliper. Apabila sebuah kaliper dapat masuk dengan longgar, coba
ditambahkan dengan kaliper yang dengan ukuran terkecil. Kaliper-kaliper tersebut dapat ditambahkan
sehingga didapatkan ukuran yang pas. Sehingga ukuran celah adalah jumlah dari ukuran kaliper yang
dapat masuk dengan pas tersebut.
Bila ukuran tidak tersedia maka kita bisa menggabungkan beberapa bilah feeler. Misalkan kita mau
menggunakan feeler dengan ukuran 0,45 mm. Sedangkan dalam feeler tidak tersedia ukuran tersebut
maka kita bisa menggabungkan dua buah feeler dengan ukuran 0,40 mm dan 0,05 mm. Tetapi usahakan
sedikit mungkin dalam penggabungannya.
Jika angka pada bilah tidak ada kita bisa gunakan micrometer untuk mengetahui ukuran ketebalan
bilah feeler tersebut.