Anda di halaman 1dari 7

Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 1

PERTEMUAN I
PENDAHULUAN
Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti pertemuan ini mahasiswa akan dapat menjelaskan metoda ilmiah dan
pentingnya pengukuran dalam fisika, serta menyelesaikan masalah penjumlahan vektor sederhana.
Pokok Bahasan
Metoda Ilmiah dan Pengukuran dalam Fisika
Sub Pokok Bahasan
1. Metoda Ilmiah
2. Pengukuran dan Satuan
3. Penjumlahan Vektor

1.1 Metoda Ilmiah
Fisika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari gejala-gejala alam. Dalam mempelajari
alam semesta ini, para fisikawan berusaha untuk melihat keteraturan dari gejala-gejala alam tersebut,
memformulasikannya, dan kemudian mengembangkan formulasi tersebut menjadi teori-teori yang
lebih baru yang dapat menjelaskan hasil-hasil pengamatan. Teori-teori yang sudah dihasilkan selalu
diuji dengan berbagai pengamatan lain sehingga jika pada suatu ketika hasil pengamatan tidak sesuai
teori yang telah ada, maka teori tersebut haruslah diperbaiki kembali.
Dalam pengembangan fisika, sebagaimana juga pada pengembangan sains pada umumnya,
manusia selalu terbentur pada keterbatasan teknis yang ada, yaitu tidak ada peralatan pengukuran
yang sempurna sehingga tidak ada pengukuran yang tidak mempunyai kesalahan. Dengan demikian,
suatu teori tidak pernah bisa diverifikasi secara mutlak. Keterbatasan yang lain adalah keterbatasan
akal manusia itu sendiri sehingga tidak ada teori fisika yang kebenarannya mutlak. Teori baru yang
diterima oleh fisikawan dalam beberapa kasus adalah karena secara kuantitatif lebih cocok dengan
eksperimen dibandingkan teori yang lama. Dalam banyak kasus, teori yang baru dapat diterima oleh
fisikawan karena dapat menjelaskan fenomena yang lebih luas dibandingkan teori yang lama.
Sebagai contoh teori klasik (Newtonian) menjelaskan dengan baik sekali berbagai kejadian
yang berkaitan dengan gerak partikel seperti yang kita lihat sehari-hari. Akan tetapi untuk gerak
partikel yang sangat cepat mendekati kecepatan cahaya, ternyata teori klasik tidak cocok lagi.
Kemudian Einstein mengemukakan teori relativitas khususnya yang dapat menjelaskan tidak hanya
gerak partikel pada kecepatan yang sangat tinggi, tetapi juga gerak partikel dengan kecepatan rendah.
Dengan demikian, teori relativitas khusus berlaku lebih umum dibandingkan teori klasik, atau dengan
kata lain teori klasik merupakan hal khusus dari teori relativitas khusus. Sebagai ilustrasi, untuk
penjumlahan kecepatan, teori klasik menyatakan:
= + (1.1)
sementara teori relativitas khusus menyatakan
=
+
1 +

2

(1.1)

dengan c = 3x10
8
m/s merupakan kelajuan cahaya dalam ruang hampa.
Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 2
Ambillah u = 10 m/s dan v = 9 m/s, maka persamaan (1-1) menghasilkan w=19 m/s sementara
persamaan (1-2) menghasilkan w=18,99999999999981 m/s. kedua hasil tersebut praktis tidak dapat
dibedakan. Akan tetapi tinjaulah suatu kasus dengan u=0.5c dan v=c. Maka persamaan (1.1)
menghasilkan w=1.5c yang tidak sesuai dengan kenyataan. Sementara persamaan (1.2) menghasilkan
w=c yang sesuai dengan kenyataan. Dengan demikian jelaslah bahwa persamaan (1.2) berlaku lebih
umum dibandingkan persamaan (1.1), dan untuk kecepatan rendah, penyebut pada persamaan (1-2)
praktis berharga 1 sehingga persamaan (1.2) tereduksi menjadi persamaan (1.1), atau dengan kata lain
persamaan (1.1) merupakan penyederhanaan dari persamaan (1.2) untuk kecepatan-kecepatan rendah.
Dalam pengembangannya, ilmu fisika membutuhkan perangkat-perangkat. Secara umum ada
dua perangkat yang digunakan, yaitu perangkat pengamatan dan perangkat analisis.
1.1.1 Perangkat pengamatan
Perangkat pengamatan merupakan perangkat keras berupa alat-alat untuk mengukur besaran-
besaran fisis. Dalam mempelajari fisika di TPB ini, perangkat pengamatan yang tersedia adalah
berupa bangunan laboratorium fisika dasar, lengkap dengan peralatannya. Sedangkan penggunaannya
dalam bentuk praktikum yang terstruktur sesuai dengan bahan kuliah yang diberikan.
1.1.2 Peubah bebas dan peubah tidak bebas
Dalam suatu persoalan khusus seringkali kita dapatkan beberapa besaran saling berkait satu
sama lain membentuk hubungan fungsional. Sebagai contoh dalam persoalan kinematika, besaran-
besaran posisi, kecepatan dan percepatan suatu benda merupakan fungsi dari waktu, sementara dalam
persoalan kerja-energi kita dapatkan Energi Potensial dan Gaya Konservatif yang berkaitan
dengannya merupaka fungsi dari posisi. Dengan demikian dalam suatu persoalan khusus kita dapat
membagi besaran-besaran fisis menjadi dua kategori yaitu besaran-besaran fisis yang merupakan
peubah bebas dan besaran-besaran fisis yag merupakan peubah tidak bebas. Dalam persoalan
kinematika, waktu merupakan peubah bebas sedangkan posisi, kecepatan serta percepatan suatu benda
merupakan peubah-peubah tidak bebas (dalam hal ini merupakan fungsi dari waktu). Pada persoalan
kerja-energi, posisi merupakan peubah bebas sedangkan energi potensial dan gaya konservatif yang
berkaitan dengannya merupakan peubah-peubah tidak bebas.
1.2 Pengukuran dan Satuan
Pengukuran adalah proses membandingkan suatu besaran dengan suatu besaran lain yang
sejenis yang dipilih sebagai standar. Pengukuran besaran-besaran fisis merupakan suatu proses yang
penting dalam pengembangan ilmu fisika karena dengan pengukuran-pengukuran inilah kita dapat
memahami keterkaitan antara besaran-besaran fisis tersebut secara kuantitatif sehingga selanjutnya
dapat disusun berbagai prinsip atau hukum yang menjelaskan keterkaitan tersebut. Dalam pengukuran
suatu besaran fisis kita membandingkan besaran tersebut dengan suatu standar atau satuan besaran
yang dipilih. Sebagai contoh kita dapat mengukur besaran panjang dalam satuan-satuan seperti cm,
inci, meter, km. dengan demikian menyatan hasil pengukuran hanya dalam bentuk angka saja tidak
mempunyai arti sehingga satuan dari besaran yang kita ukur haruslah disertakan.
1.2.1 Ketidakpastian dalam Pengukuran
Dalam pengukuran-pengukuran besaran fisis ini tidak ada satupun yang hasilnya tepat secara
mutlak karena pada setiap pengukuran akan terjadi ketidakpastian yang muncul dari berbagai hal
diantaranya keterbatasan ketelitian peralatan, pengaruh dari sekitarnya seperti adana getaran,
perubahan keadaan ruang (suhu, tekanan dan kelembaban), serta keterampilan pengamat dalam
menggunakan allat ukur. Dengan demikian dalam setiap pengukuran perlulah untuk menyatakan
Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 3
ketelitian atau perkiraan ketidakpastian dari hasil pengukuran tersebut. Sebagai contoh jika kita
mengukur lebar meja dengan memakai mistar biasa kita dapat menuliskan hasilnya sebagai:
(72.3 0.1) cm.
72,3 merupakan angka yang terbaik yang kita dapatkan untuk pengukuran lebar meja tersebut
sedangkan 0.1 cm menunjukkan perkiraan ketidakpastian dalam pengukuran sehingga lebar meja
sebenarnya paling mungkin berada diantara 72.2 dan 72.4 cm.

1.2.2 Standar
Sampai lebih dari 200 tahun yang lalu satuan-satuan pengukuran tidak distandarkan. Hal ini
menimbulkan kesulitan dalam komunikasi ilmiah. Untuk besaran panjang saja orang yang berbeda
dari tempat yang berbeda menggunakan satuan yang berbeda misalnya jengkal, yard, langkah, li,
bahkan untuk panjang satu kaki (foot) ternyata bervariasi dari satu tempat ke teampat lain. Untuk
mengatasi hal ini maka sejak tahun 1791 dilakukan usaha-usaha untuk menstandarkan satuan-satuan
ini serta menyempurnakannya dari waktu ke waktu.
Standar mutakhir dipilih pada tahun 1960. Satuan standar untuk panjang adalah meter yang
didefinisikan sebagai 1,650,763.73 kali panjang gelombang cahaya jingga yang dipancarkan oleh gas
krypton 86. Satuan standar untuk waktu adalah sekon yang didefinisikan sebagai waktu yang
dibutuhkan oleh atom-atom cecium untuk bervibrasi sebanyak 9,192,631,770 kali dengan modus
vibrasi tertentu. Satuan standar untuk massa adalah kilogram yaitu dalam hal ini adalah sebuah
silinder platinum-iridium yang disimpan di Lembaga Berat dan Ukuran Internasional di dekat Paris,
Perancis.
1.2.3 Besaran Dasar, Besaran Turunan dan Sistem Satuan Internasional
Seperti kita ketahui, dari berbagai gejala alam kita dapati besaran-besaran fisis yang
jumlahnya banyak sekali itu satu sama lain berkaitan. Dengan demikian satu besaran fisis dapat
dinyatakan dalam beberapa besaran fisis lainnya. Melihat hal ini, untuk menyederhanakan persoalan
perlulah dipilih seperangkat besaran fisis yag dijadikan besaran dasar yang dengan demikian besaran-
besaran fisis lainnya dapat dinyatakan sebagai kombinasi dari besaran-besaran dasar tersebut. Dalam
Konferensi Umum mengenai Berat dan Ukuran ke 14 tahun 1971 ditetapkan tujuh besaran dasar yang
merupakan dasar bagi Sistem Satuan Internasional yang biasanya disingkat dengan SI (berasal dari
bahasa Perancis Le Systeme International dUnites). Ketujuh besaran dasar ini ditunjukkan dalam
Tabel 1-1.
No. Nama Besaran Satuan dalam SI Simbol Satuan
1 Panjang meter m
2 Massa kilogram kg
3 Waktu sekon s
4 Arus listrik ampere A
5 Suhu termodinamika kelvin K
6 Banyaknya zat mole mol
7 Intensitas penerangan candela cd
Tabel 1-1. Satuan-satuan dasar SI
Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 4
Dengan telah ditentukannya tujuh besaran dasar tersebut, maka besaran yang lain merupakan
besaran turunan. Sebagai contoh besaran volume dari suatu balok adalah perkalian dari panjang, lebar
dan tebal balok yang masing-masing merupakan besaran panjang. Maka satuan dari volume adalah
m
3
. Rapat massa adalah massa persatuan volume, maka satuan rapat massa adalah kg/m
3
. Kecepatan
adalah perubahan posisi tiap satuan waktu, maka satuannya dalah m/s.
1.2.4 Dimensi dan Analisis Dimensi
Seperti sudah disebutkan di atas, besaran-besaran turunan dibentuk dari kombinasi besaran
besaran dasar. Dalam mekanika besaran-besaran dasar ini hanya ada tiga yaitu besaran panjang, massa
dan waktu. Untuk suatu besaran turunan kombinasi besaran-besaran dasar ini dapat diperlihatkan
dalam bentuk simbol simbol dimensi besaran dasar yaitu [L] untuk dimensi panjang, [M] untuk
dimensi massa dan [T] untuk dimensi waktu. Sebagai contoh volume balok adalah perkalian dari
panjang, lebar dan tebal balok yang ketiga-tiganya merupakan besaran panjang. Maka dimensi
volume
[V]=[L][L][L]=[L]
3

Analisis dimensi suatu besaran turunan dapat dilakukan berdasarkan bentuk perumusan
maternatis besaran tersebut. Dengan demikian analisis dimensi dapat digunakan untuk menentukan
satuan suatu besaran atau untuk meneliti kebenaran suatu perumusan atau persamaan yang melibatkan
beberapa besaran fisis.
Contoh soal 1-3
Tentukan dimensi dan satuan besaran-besaran (a) momentum yang dirumuskan sebagai = m dan
(b) gaya yang dirumuskan sebagai perubahan momentum per satuan waktu.
Jawab:
a. Dimensi momentum: = m = MLT
1

Satuan momentum: kg m/s
b. Dimensi gaya: F = pt
1
= MLT
1
T
1
= MLT
2

Satuan gaya: kg m/s
2


1.2.5 Pemakaian imbuhan pada nilai suatu besaran fisis
Suatu besaran fisika bisa berharga kecil sekali, tapi bisa juga besar sekali. Sebagai contoh
diameter suatu atom itu sangat kecil sekitar 1/10.000.000.000 m atau 10
-10
m sedangkan radius bumi
sangat besar sekitar 6.380.000 m atau 6,310
6
m. Untuk bisa mengakomodasi hal ini, dapat
digunakan imbuhan yang menunjukkan pangkat dari 10.





Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 5
Kelipatan Imbuhan Singkatan Kelipatan Imbuhan Singkatan
10
18
eksa E 10
-18
atto a
10
15
peta P 10
-15
femto f
10
12
tera T 10
-12
piko p
10
9
giga G 10
-9
nano n
10
6
mega M 10
-6
mikro
10
3
kilo k 10
-3
mili m
10
2
hekto h 10
-2
senti c
10
1
deka da 10
-1
desi d


1.3 Penjumlahan Vektor

1.3.1 Vektor dan Skalar
Jika sebuah partikel berpindah dari posisi P ke posisi Q, perpindahan dapat dinyatakan
sebagai anak panah dari P ke Q (lihat gambar 3-1). Jejak lintasan partikel itu sendiri tidak harus
merupakan garis lurus dari P ke Q. anak panah hanya mnggambarkan hasil gerak secara keseluruhan
dan bukan gerakan sesungguhnya. Garis putus-putus berliku dari P ke Q pada Gambar 3-1
menunjukkan lintasan gerak dari partikel tersebut. Jadi lintasan gerak tidak sama dengan
perpindahan.

Gambar 3.1. Perpindahan dan lintasan gerak suatu partikel. Anak panah menunjukkan perpindahan
sedangkan garis putus-putus berliku menunjukkan lintasan gerak.
Kalau kita membicarakan perpindahan, maka informasi yang harus kita punyai ada dua yaitu
seberapa besar perpindahan itu dan kemana arahnya. Karena itu perpindahan dicirikan dengan
panjang dan arahnya. Besaran-besaran yang memiliki sifat seperti pergeseran disebut besaran
vektor. Jadi secara umum, vektor adalah besaran yang dapat dinyatakan secara tepat oleh besar,
arah serta satuannya. perhitungan yang menyangkut besaran vektor bukanlah perhitungan aljabar
biasa. Contoh besaran vektor yang lain antara lain gaya, kecepatan, percepatan. Kalau kita
membicarakan lintasan gerak partikel tersebut maka yang relevan untuk dibicarakan adalah panjang
P
Q
Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 6
lintasan itu saja sedangkan arahnya tidak. Besaran yang dapat dinyatakan dengan tepat hanya oleh
sebuah bilangan dan satuannya saja disebut besaran skalar. Perhitungan yang menyangkut besaran
skalar dapat menggunakan aturan aljabar biasa. Contoh besaran skalar yang lain antara lain massa,
kecepatan, tekanan, dan waktu.

1.3.2 Penjumlahan Vektor Metoda Geometris
Jika seseorang bergerak lurus sejauh 20 m kemudian dari tempat yag baru ini bergerak lurus
lagi sejauh 30 m, maka panjang lintasan yang ditempuh adalah 50 m. Akan tetapi kalau dinyatakan
dimana posisi akhir orang tersebut, maka kita perlu memperhatikan arah-arah gerak orang tersebut.
Gambar 3.2 memperlihatkan situasi tersebut. Vektor a yang mewakili segmen gerak pertama sejauh
20 m dan vektor b mewakili segmen gerak yang kedua, sedangkan vektor c mewakili perpindahan
total dari gerak orang tersebut.

Gambar 3-2. Penjumlahan vektor-vektor a dan b secara geometrik, c = a + b
Dua vektor a dan b dapat dijumlahkan dengan meletakkan pangkal vektor b di ujung vektor
a, sedangkan hasilnya c = a + b adalah vektor yang pangkalnya di pangkal vektor a dan ujungnya di
ujung vektor b.
Dapat diperlihatkan secara geometrik bahwa penjumlahan vektor bersifat komutatif, yaitu
(a + b) = (b + a) seperti terlihat pada Gambar 3-3

Gambar 3-3. Penjumlahan vektor bersifat komutatif, a + b = b + a.
Operasi pengurangan vektor dapat dilakukan dengan mendefinisikan negatif dari suatu
vektor. Negatif dari vektor b adalah vektor b yaitu suatu vektor yang besarnya sama dengan besar
vektor b tapi arahnya berlawanan. Gambar 3-4 memperlihatkan pengurangan vektor secara
geometris.
a
b
a+b
a
b
b+a
a
b
c
Sidikrubadi Pramudito Pendahuluan I- 7

Gambar 3-4. Pengurangan vektor. a b = a + (-b)
1.3.2 Perhitungan Penjumlahan Vektor dengan Metoda Jajaran Genjang
Dengan metoda jajaran genjang, dua vektor yang dijumlahkan, kedua titik pangkalnya
diletakkan pada satu titik kemudian dibuat jajaran genjang dengan pembangunnya adalah anak-anak
panah dari kedua vektor tersebut seperti digambarkan pada Gambar 3-5.

Gambar 3-5. Penjumlahan vektor dengan metoda jajaran genjang, c = a + b. Sudut merupakan
sudut antara vektor a dan vektor b.
Dari hubungan trigonometri didapatkan besar vektor c,
=
2
+
2
+2cos



---oo0oo---

a
b
c=a+b
b

b
-b
a
-b
a
a - b