Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM ANALISIS

FISIKOKIMIA
Penetapan Kadar Fe dalam Air

Rabu/ 13.00-16.00
Kelompok 3
Disusun Oleh :



M. Fariz Effendi 260110110147 Pembahasan
Agis Maulana Pratama 260110110148 Pembahasan
Hendry 260110110149 Tujuan, Prinsip dan
Kesimpulan
Ivo Ovia Airin 260110110150 Data Pengamatan
Dhean Vetra Anggara 260110110151 Teori Dasar
Nafilah Najla Widianti 260110110152 Alat dan Bahan
Karina Novita Sari 260110110153 Teori Dasar
Shintya Noor Amalya 260110110154 Editor
Alhamzah Rachmat F. 260110110155 Pembahasan
M. Faisal Febrian F. 260110110156 Pembahasan







LABORATORIUM ANALISIS FISIKOKIMIA
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2013


Penetapan Kadar Fe dalam Air
I. Tujuan
1. Menentukan serapan maksimum suatu larutan pada panjang gelombang
tertentu.
2. Membuktikan Hukum Lambert - Beer, di tuangkan dalam bentuk kurva.
3. Menentukan kadar Fe dalam berbagai jenis sampel air

II. Prinsip
1. Penentuan Panjang Gelombang Yang Menunjukkan Serapan Maksimum
Setiap zat menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu.
2. Hubungan Serapan Dengan Kadar Zat Dalam Larutan (Hukum Beer
Lambert). Jumlah cahaya yang di serap oleh suatu zat pada panjang
gelombang tertentu sebanding dengan kadar zat tersebut dalam larutan .
3. Penentuan Kadar Suatu Zat Dalam Larutan.
Kadar suatu zat dalam larutan dapat diketahui dengan membandingkannya
dengan kadar standar pada kurva standar.

III. Teori Dasar
Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah satu dari
sekian banyak instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu senyawa
kimia. Spektrofotometer umum digunakan karena kemampuannya dalam
menganalisa begitu banyak senyawa kimia serta kepraktisannya dalam hal
preparasi sampel apabila dibandingkan dengan beberapa metode analisa (Herliani,
2008).
Pengukuran menggunakan alat spektrofotometri UV-Vis ini didasarkan
pada hubungan antara berkas radiasi elektromagnetik yang ditransmisikan
(diteruskan) atau yang diabsorpsi dengan tebalnya cuplikan dan konsentrasi dari
komponen penyerap. Berdasarkan hal inilah maka untuk dapat mengetahui
konsentrasi sampel berdasarkan data serapan (A) sampel, perlu dibuat suatu kurva
kalibrasi yang menyatakan hubungan antara berkas radiasi yang diabsorpsi (A)
dengan konsentrasi (C) dari serangkaian zat standar yang telah diketahui (Henry
dkk, 2002)
Prinsip dari spektrofotometri UV-VIS senyawa yang menyerap cahaya
dalam daerah tampak (senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah
dipromosikan dari pada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang lebih
pendek. Jika radiasi elektromagnetik dilewatkan pada suatu media yang homogen,
maka sebagian radiasi itu ada yang dipantulkan, diabsorpsi, dan ada yang
transmisikan. Radiasi yang dipantulkan dapat diabaikan, sedangkan radiasi yang
dilewatkan sebagian diabsorpsi dan sebagian lagi ditransmisikan. Nitrat dibentuk
dari Asam Nitrit yang berasal dari ammonia melalui proses oksidasi katalitik.
Nitrat adalah bentuk senyawa yang stabil dan keberadaannya berasal dari buangan
pertanian, pupuk, kotoran hewan dan manusia dan sebagainya. Nitrat dalam air
dengan suasana asam (dengan penambahan dan asam sulfanilat) membentuk
senyawa kompleks yang berwarna kuning. Warna kuning yang terjadi diukur
intensitasnya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm
(Herliani,2008).
Ada dua aspek yang dapat di ukur dengan alat spektroskopi UV-Vis yaitu
aspek kualitatif dan kuantitatif spektroskopi UV-Vis:
1. Aspek Kualitatif
Secara kualitatif, spektroskopi UV-Vis dapat menentukan panjang gelombang
maksimal, intensitas, efek pH dan pelarut.
2. Aspek Kuantitatif
Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada cuplikan dan
intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur besarnya radiasi yang diserap oleh
cuplikan ditentukan dengan membandingkan intensitas sinar yang diteruskan
dengan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies penyerap
(Anonim,2011).
Jika suatu molekul bergerak dari suatu tingkat energy tinggi ke tingkat
energy rendah maka beberapa energy akan dilepaskan. Energy ini dapat hilang
sebagai radiasi yang dapat dikatakan telah terjadi emisi radiasi. Jika satu molekul
dikenai suatu radiasi elektromagnetik pada frekuensi yang sesuai sehingga
molekul energi tersebut ditingkatkan ke level yang lebih tinggi, maka terjadi
peristiwa penyerapan (absorbsi) energi oleh molekul. Supaya terjadi absorbsi,
perbedaan energi antara dua tingkat energi harus setara dengan energi foton yang
diserap (Sastrohamidjojo, 1991).
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk absorbsi sinar tampak adalah
larutan harus berwarna. Spektroskopi UV-Vis digunakan untuk cairan berwarna
(Widyaningsih dan Faiqoh, 2012).
Bagian-bagian dari alat spektroskopi UV-Vis adalah:
- sumber cahaya
Sumber energy cahaya yang biasa untuk daerah tampak dari spectrum itu
maupun daerah ultraviolet dekat dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar
dengan kawat ranbut terbuat dari wolfram. Pada kondisi operasi biasa, keluaran
lampu wolfram ini memadai dari sekitar 235 atau 350 nm ke sekitar 3 m. energy
yang dipancarkan olah kawat yang dipanaskan itu beraneka ragam menurut
panjang gelombangnya.
- Monokromator
Ini adalah piranti optis untuk memencilkan suatu berkas radiasi dari
sumber berkesinambungan, berkas mana mempunyai kemurnian spectral yang
tinggi dengan panjang gelombang yang diinginkan. Radiasi dari sumber
difokuskan ke celah masuk, kemudian disejajarkan oleh sebuah lensa atau cermin
sehingga suatu berkas sejajar jatuh ke unsure pendispersi, yang berupa prisma
atau suatu kisi difraksi..
- Kuvet
Merupakan wadah sampel. Kuvet yang baik untuk spektroskopi UV-Vis
yang terbuat dari kuarsa, yang dapat melewatkan radiasi daerah ultraviolet ( < 350
nm). Kuvet yang baik tegak lurus terhadap arah sinar untuk meminimalkan
pengaruh pantulan radiasi. kuvet harus memenuhi syarat-syarat diantaranya
adalah tidak berwarna sehingga dapat mentransmisikan semua cahaya,
permukaannya secara optis harus benar-benar sejajar, harus tahan (tidak bereaksi)
terhadap bahan-bahan kimia, tidak boleh rapuh dan mempunyai bentuk yang
sederhana. Pada pengukuran di daerah UV, dipakai kuvet kuarsa, sedangkan kuvet
dari kaca tidak dapat dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV.Sedangkan
pengukuran di daerah sinar tampak (visible), dapat digunakan semua jenis kuvet
(Krisnandi IH, 2002).
- Detector
Detector berfungsi untuk menangkap sinar yang merupakan sinar terusan
dari larutan sampel.Di dalam amplifier sinar tersebut diubah menjadi signal
listrik.Prinsipnya mengubah energy foton diluar yang jatuh mengenai sampel
dan mengubah energy tersebut menjadi besaran yang dapat diukur (Anonim,
2011).

IV. Alat dan Bahan
A. Alat
- Kuvet
- Labuukur 10 Ml
- Mikropipetdan tip mikropipet
- Pipet tetes
- Spektrofotometer VIS

B. Bahan
- Aquadest
- FeroAmonium Sulfat, Fe(NH4)2(SO4)2.6H2O
- Hidroksilammonium Klorida
- Natriumasetat (NaOAc)
- Phenanthrolin
- Sampel air minumdarirumah
- Sampel air minumregistrasi

C. Gambar Alat

Kuvet Labuukur Mikropipet


Pipet tetes Spektrofotometer VIS
V. Prosedur

Pertama disiapkan preparasi sampel, Sampel standar berisikan: larutan
Fero Amonium Sulfat, Phenantrolin, hidroksilammonium klorida, natrium asetat.
Larutan Fero Amonium Sulfat diambil dengan volume yang beragam yakni 0,5
mL, 1 mL, 2 mL, 2,5 mL, 3 mL menggunakan mikropipet dan dimasukkan ke
dalam 5 buah labu ukur 10 mL yang berbeda. Setelah itu ditambah larutan lainnya
dengan komposisi yang sama di masing - masing labu ukur yakni Phenantrolin
500 mikroliter, hidroksilammonium klorida 100 mikroliter, natrium asetat 800
mikroliter dan add aquadest sampai 10 mL (tanda batas). Setelah Sampel standar
dibuat kemudian dilanjutkan dengan pembuatan blanko yang berisi Phenantrolin
500 mikroliter, hidroksilammonium klorida 100 mikroliter, natrium asetat 800
mikroliter tanpa larutan Fero Amonium sulfat dan add aquadest hingga tanda
batas.
Kedua disiapkan preparasi sampel yang akan diuji terlebih dahulu, sampel
uji yang digunakan menggunakan air minum dari rumah dan sampel air minum
registrasi . Sampel air minum diambil sebanyak 5 mL kemudian ditambah larutan
lainnya dengan komposisi yang sama pada setiap labu ukur yaitu Phenantrolin
500 mikroliter, hidroksilammonium klorida 100 mikroliter, natrium asetat 800
mikroliter dan add aquadest sampai 10 mL tanpa larutan fero ammonium sulfat
yang dimasukkan ke dalam labu ukur.
Sampel yang telah disiapkan diuji dengan instrument spektrofotometer vis
dengan menguji blanko terlebih dahulu. Lalu sampel standar dilakukan pengujian
dari volume terkecil hingga terbesar dan dilakukan pengujian terhadap sampel air
minum rumah dan registrasi. Sampel diukur dan dilakukan pembacaan hasil
absorbansi. Plot absorbansi terhadap panjang gelombang dan siapkan kurva
kalibrasi dengan mengukur absorbansi dari masing-masing larutan. Hitung
konsentrasi besi yang terdapat dalam sampel.

VI. Data Pengamatan
Penentuan maksimum
Volume 100uL
500 0,0196 0,0195 0,0192
502 0,0195 0,0192 0,0193
504 0,02 0,0194 0,0197
506 0,0204 0,0203 0,0201
508 0,0205 0,0203 0,0201
510 0,0207 0,0203 0,0201
512 0,0205 0,0204 0,0205
514 0,0203 0,02 0,0201
516 0,0202 0,0198 0,0197
518 0,0198 0,0197 0,0198
520 0,0197 0,0195 0,0194
522 0,0192 0,019 0,0189
524 0,0187 0,0183 0,0184
526 0,0178 0,0178 0,0177

Volume 200uL
500 0,0384 0,0386 0,0389
502 0,0388 0,0388 0,0397
504 0,0394 0,0392 0,0398
506 0,0398 0,0398 0,0405
508 0,0401 0,04 0,041
510 0,0402 0,04 0,0408
512 0,0406 0,0406 0,0412
514 0,0402 0,0401 0,0406
516 0,0398 0,0397 0,0402
518 0,0389 0,0391 0,0399
520 0,0386 0,0386 0,0391
522 0,0374 0,0374 0,038
524 0,0363 0,0362 0,0369
526 0,0352 0,0351 0,0356



Volume 500uL
500 0,0962 0,0958 0,095
502 0,097 0,0966 0,0957
504 0,0977 0,0977 0,0968
506 0,099 0,0988 0,0979
508 0,0994 0,0994 0,0983
510 0,0997 0,0995 0,0988
512 0,1005 0,1002 0,0991
514 0,0996 0,0994 0,0985
516 0,0987 0,0988 0,0978
518 0,0971 0,0971 0,0962
520 0,0959 0,0956 0,0947
522 0,0931 0,093 0,0921
524 0,0905 0,0905 0,0895
526 0,0875 0,087 0,0862

Volume 1 mL




















[nm] 1.[A] 2.[A] 3.[A]
500 0.1753 0.1752 0.1766
502 0.1768 0.177 0.1781
504 0.1785 0.1782 0.1798
506 0.1804 0.1806 0.1816
508 0.1813 0.1811 0.1825
510 0.1822 0.1821 0.1833
512 0.1827 0.1824 0.1839
514 0.1819 0.1818 0.183
516 0.1808 0.1804 0.1818
518 0.1774 0.1773 0.1783
520 0.1744 0.1742 0.1756
522 0.1698 0.1699 0.1712
524 0.165 0.1648 0.1658
526 0.1589 0.159 0.1602
542 0.0921 0.0921 0.0932
544 0.0841 0.0842 0.0852
546 0.0763 0.0763 0.0775
548 0.0661 0.0661 0.067
550 0.0595 0.0594 0.0609
Volume 2 mL



Volume 2.5 mL
















Volume 3mL
500 0.3386 0.339 0.3392
502 0.3429 0.3438 0.3425
504 0.3458 0.346 0.346
506 0.3488 0.3494 0.3491
508 0.3511 0.3513 0.3511
510 0.3522 0.3527 0.3524
512 0.3528 0.3537 0.3532
514 0.3519 0.3521 0.3518
516 0.3493 0.3501 0.3496
518 0.3427 0.3432 0.343
520 0.3367 0.3369 0.3366
522 0.3281 0.3287 0.3284
524 0.3184 0.3189 0.3185
526 0.3069 0.3075 0.307
500 0.4772 0.4764 0.477
502 0.4828 0.4825 0.4827
504 0.4875 0.4867 0.4863
506 0.4909 0.4909 0.491
508 0.4944 0.4937 0.4949
510 0.4965 0.4959 0.4961
512 0.4976 0.4966 0.4971
514 0.4957 0.4957 0.4963
516 0.493 0.4922 0.4928
518 0.4838 0.4832 0.4835
520 0.4748 0.4742 0.4745
522 0.4625 0.4624 0.463
524 0.449 0.4483 0.4489
526 0.4328 0.4325 0.4328
500 0.5152 0.5152 0.5149
502 0.5227 0.5213 0.5213
504 0.5257 0.5258 0.5263












Volume 4mL



















506 0.531 0.5301 0.53
508 0.5342 0.5337 0.5339
510 0.5358 0.5354 0.5359
512 0.5371 0.537 0.5363
514 0.5354 0.5346 0.535
516 0.532 0.5312 0.5318
518 0.5218 0.5213 0.5218
520 0.5124 0.5119 0.5119
522 0.4996 0.4991 0.4988
524 0.4846 0.484 0.4839
526 0.4669 0.4666 0.4671
500 0.7149 0.7164 0.7162
502 0.7243 0.7252 0.727
504 0.7306 0.7315 0.7308
506 0.7374 0.7382 0.738
508 0.7424 0.7427 0.7424
510 0.7448 0.7455 0.7453
512 0.7456 0.7478 0.7474
514 0.7445 0.7445 0.7443
516 0.7395 0.7401 0.7394
518 0.7249 0.7256 0.7265
520 0.7118 0.7124 0.7122
522 0.6946 0.6953 0.6941
524 0.6736 0.6741 0.6741
526 0.6491 0.6498 0.6495
528 0.622 0.6224 0.6223
PERHITUNGAN
Konsentrasi stok larutan standar Fe
2+
dari Ferro ammonium sulfat adalah 10 mg/L
atau 10 ppm.
a. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
100 L atau 0,1 mL pada volume total
larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

0,1 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (0,1 mL x 10 ppm) : 10 mL = 0,1 ppm
b. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
200 L atau 0,2 mL pada volume total
larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

0,2 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (0,2 mL x 10 ppm) : 10 mL = 0,2 ppm
c. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
500 L atau 0,5 mL pada volume total
larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

0,5 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (0,5 mL x 10 ppm) : 10 mL = 0,5 ppm
d. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
1 mL pada volume total larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

1 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (1 mL x 10 ppm) : 10 mL = 1 ppm
e. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
2 mL pada volume total larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

2 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (2 mL x 10 ppm) : 10 mL = 2 ppm
f. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
2,5 mL pada volume total larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

2,5 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (2,5 mL x 10 ppm) : 10 mL = 2,5 ppm
g. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
3 mL pada volume total larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

3 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (3 mL x 10 ppm) : 10 mL = 3 ppm
h. Konsentrasi larutan standar Fe
2+
4 mL pada volume total larutan 10 mL.
V
1
x M
1
= V
2
x M
2

4 mL x 10 ppm = 10 mL x M
2

M
2
= (4 mL x 10 ppm) : 10 mL = 4 ppm

Volume
Larutan
Standar
Konsentrasi
dalam ppm
(x)
Respon
Instrumen
(Absorbansi)
Koreksi
Respon
Instrumen
(y) X
2
y
2
x.y
0.1 ml 0,1 0,020467 0 0,01 0 0
0.2 ml 0,2 0,0408 0,020333 0,04 0,000413 0,0040666
0.5 ml 0,5 0,099993 0,079526 0,25 0,006324 0,039763
1 ml 1 0,183 0,162533 1 0,02642 0,162533
2 mL 2 0.353233 0,332766 4 0,110733 0,665532
2,5 ml 2,5 0,4971 0,476633 6,25 0,227179 1.1916
3 mL 3 0,5368 0,516333 9 0,2665998 1,548999
4 ml 4 0,746933 0,726466 16 0,527753 2,905864
Jumlah 13.3 2,31459 36,55 1,1654218 6,52
Rata-rata 1,6625 0,28932375

Perhitungan untuk mendapatkan persamaan kurva kalibrasi:

( )

()



( ) ()



( )( ) ( )




(() )

()


Jadi, persamaan garis yang didapat dari kurva kalibrasi adalah
dengan x adalah konsentrasi Fe dan y adalah
respon instrumen atau absorbansi.

Konsentrasi Fe dalam sampel 1 (sampel air teregistrasi):
( )()
( )() ppm atau 0,427 mg/L atau 0,427
g/mL.

Konsentrasi Fe dalam sampel 2 (sampel air tidak teregistrasi):
( )()
( )() ppm atau 1,8624 mg/L atau
1,8624 g/mL.




0,1
pp
m
0,2
pp
m
0,5
pp
m
1
pp
m
2
pp
m
2,5
pp
m
3
pp
m
4
pp
m
Rata-Rata
Absorbansi
0.02 0.041 0.1 0.183 0.353 0.497 0.537 0.747
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
R
e
s
p
o
n

i
n
s
t
r
u
m
e
n

(
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
)

Konsentrasi Larutan Standar (ppm)
Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fe
2+

Rata-
Rata
Abso
Sampel I 0.0003
Sampel II 0.023
0.0003
0.023
0
0.005
0.01
0.015
0.02
0.025
R
e
s
p
o
n

i
n
s
t
r
u
m
e
n

(
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i
)

Konsentrasi Larutan Standar (ppm)
Ker : Sampel I = Air minum teregistrasi
Sampel II = Air minum tidak teregitrasi
Grafik Absorbansi Sampel
Sampe
l I
Sampe
l II
VII. Pembahasan
Pada percobaan Analisis Fisikokimia kali ini, dilakukan uji menggunakan
metode kolorimetri yang bertujuan untuk menganalisis penentuan kadar besi
dalam sampel air minum (terigistrasi & tidak teregistrasi) dengan teknik
spektrofotometri Visible. Pada metode ini, yang digunakan sebagai sumber energi
adalah cahaya tampak, yakni spektrum elektromagnetiknya dapat ditangkap oleh
mata manusia. Tujuan penggunaan spektrofotometri visible karena logam besi
mempunyai panjang gelombang lebih dari 400nm, sehingga jika menggunakan
spektrofotometri UV, logam besi dalam sampel tidak terdeteksi. Prinsip kerja
spektrofotometri adalah menggunakan instrumen obat atau molekul dengan
radiasi elektromagnetik, yang energinya sesuai. Interaksi tersebut akan
meningkatkan energi potensi elektron pada tingkat aksitan. Apabila pada molekul
yang sederhana tadi hanya terjadi transisi elektronik pada suatu macam gugus
maka akan terjadi suatu absorbsi yang merupakan garis spektrum.
Dilakukan pembuatan larutan standar terlebih dahulu sebelum menentukan
kadar Fe dalam sampel pada metode spektrofotometri visibel ini. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan kurva kalibrasi yang nantinya akan digunakan untuk
menghitung kadar besi dalam sampel air. Mula-mula dimasukkan larutan standar
ferro amonium sulfat ke dalam masing-masing labu ukur 10 ml sebanyak 0,5 mL,
1 mL, 2 mL, 2,5 mL, dan 3 mL. Setelah itu ditambahkan hydroxylammonium
klorida pada setiap labu sebanyak 100 L. Analisis menggunakan visibel
memiliki syarat, yaitu sampel yang di analisis bersifat stabil membentuk
kompleks dan larutan berwarna. Maka, sampel air perlu ditambahkan
hydroxylammonium klorida untuk mereduksi Fe
3+
menjadi Fe
2+
, karena besi
dalam keadaan Fe
2+
akan lebih stabil dibandingkan besi Fe
3+
. Setelah itu pada
masing-masing tabung ditambahkan 1,1-phenanthroline sebanyak 500 L.
Penambahan itu bertujuan karena larutan besi tidak berwarna sehingga perlu
ditambahkan larutan 1,1-phenanthroline agar membentuk kompleks larutan
warna. Metode ini hanya dapat dilakukan apabila sample memiliki warna, ini
yang menjadi kekurangan tersendiri dari metode tersebut. Pada kasus ini sampel
tidak berwarna, maka ditambahkanlah pereaksi spesifik yang akan menghasilkan
senyawa berwarna. Pereaksi yang digunakan harus spesifik, yaitu hanya bereaksi
dengan analit yang akan dianalisa. Setelah itu natrium asetat ditambahkan
sebanyak 800 L dan dimasukkan aquades sampai 10 mL.
Pada konsentrasi yang terlalu pekat, kurva deret standar menjadi tidak linier.
Ini disebabkan karena pada konsentrasi yang terlampau tinggi, Kerapatan
antarpartikel akan semakin tinggi. Hal ini akan mempengaruhi distribusi muatan,
dan mengubah cara molekul melakukan serapan. Oleh karena itu terkadang pada
konsentrasi terlalu tinggi kurva tidak linier. Itulah sebabnya pada pembuatan deret
standar, absorbansi dianjurkan tidak melebih 1. Jadi absorbansi deret standar ada
di dalam range 0-1.
Setelah itu dibuat larutan blanko yang berisi hydroxylammonium klorida
1,1-phenanthroline, dan natrium asetat. Sampel yang digunakan dalam praktikum
ini adalah sampel air minum yang sudah teregitastrasi dan air minum yang belum
teregistrasi. Sampel air diambil sebanyak 5 mL kemudian ditambahkan larutan
lainnya yaitu 1,1-phenanthroline sebanyak 500 L, hydroxylammonium klorida
sebanyak 100 L, natrium asetat sebanyak 800 L, dan aquadest hingga volume
mencapai 10 mL kedalam labu ukur.
Setelah itu dengan menggunakan spektrofotometri vis di panjang
gelombang 400-700 nm, larutan standar terlebih dahulu diuji untuk dilihat
absorbansinya. Absorbansi menjadi besar jika panjang gelombangnya meningkat.
Tapi dalam kondisi tertentu, absorbansi akan kembali turun saat bertambahnya
panjang gelombang. Selalu diukur terlebih dahulu larutan blanko untuk setiap
pergantian pengukuran panjang gelombang dengan larutan blanko %
transmitansinya harus 100 . Larutan blanko yang digunakan adalah pereaksi yang
digunakan (tanpa sampel atau larutan Fe). Blanko berfungsi untuk mengukur
serapan pereaksi yang digunakan untuk analisis kadar Fe sehingga jumlah serapan
Fe sendiri adalah nilai absorbansi larutan standar atau sampel (mengandung
pereaksi dan Fe) dikurangi serapan pereaksinya. Maka dari itu absorbansi yang
didapat pada pengukuran ini adalah serapan untuk Fe dalam sampel.
Absorbansi dari Spektrofotometri Vis harus dilakukan pada panjang
gelombang yang memiliki daya absorbansi paling tinggi sehingga konsentrasi
terbesar yang dapat dideteksi terdapat pada titik ini, hal tersebut juga
memungkinkan bahwa absoransi untuk larutan encer masih dapat terdeteksi. Salah
satu syarat panjang gelombang yang digunakan adalah memenuhi hokum
Lambert-Beer yaitu dapat membentuk kurva absorbansi dan hal itu dimiliki oleh
panjang gelombang dengan absorbansi maksimal, selain itu panjang gelombang
ini juga memilki kepekaan maksimal karena terjadi perubahan absorbansi yang
paling besar. Pada saat menggunakan panjanng gelombang yang memiliki daya
absorbansi maksimal kemungkinan terjadinya kesalahan sangat minimal. Panjang
gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal, dibuat dengan cara membuat
kurva hubungan anatara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan
standar dengan konsentrasi tertentu. Pada panjang gelombang visible anatara 400
nm sampai 700 nm pada konsentrasi awal larutan standar Fe sebesar 0,5 mL
didapatkan hasil bahwa panjang gelombang yang memiliki absorbansi maksimal
terdapat pada panjang gelombang 512 nm, sehingga panjang gelombang ini
dijadikan sebagai standar untuk menghitung kadar larutan standar Fe dalam
berbagai konsentrasi.
Setelah dilakukan pengukuran didapatkan hasil absorbansi rata-rata larutan
standar Fe
2+
dari Ferro ammonium sulfat yaitu 0.020467 pada konsentrasi 0.1 mL,
0.0408 pada konsentrasi 0.2 mL, 0.099993 pada konsentrasi 0.5 mL, 0.183 pada
konsentrasi 1 mL, 0.353233 pada konsentrasi 2 mL, 0.4971 pada konsentrasi 2.5
mL, 0.5368 pada konsentrasi 3 mL. dan 0.746933 pada konsentrasi 4 mL.
Selanjutnya dilakukan pembuatan kurva kalibrasi antara konsentrasi Fe (sumbu x)
dengan besarnya anbsorbansi (sumbu y) sehingga setelah dilakukan perhitungan
didapatkan persamaan garis y = -11,76801 x + 5,0275. Konsentrasi Fe yang
terkandung dalam sampel selanjutnya akan dihitung dengan menggunakan
peramaan hasil dari absorbansi larutan baku yang telah dibuat berdasarkan
absorbansi yang dihasilkan oleh sampel.
Pengujian dilakukan dengan mengecek absorbansi sampel dengan
menggunakan instrument yang sama yaitu Spektrofotometri Vis, penggunaan alat
yang sama adalah ditujukan untuk mendapatkan kondisi yang sama untuk
dibandingkan dengan larutan standar yang sama-sama menggunakan alat tersebut.
Hasil absorbansi yang didapatkan untuk sampel air minum yang memiliki nomor
registrasi (Aqua Gelas) adalah 0.0003 pada panjang gelombang 512 nm dari 5 mL
larutan sampel dan untuk air minum yang tidak teregistrasi didapatkan absorbansi
sebesar 0.023 pada panjang gelombang 512 nm dari sampel larutan sebanyak 5
mL. Setelah absorbansi tersebut dimasukkan dalam persamaan didapatkan bahwa
kadar Fe dalam sampel air minum yang teregistrasi memiliki kadar 0,427 g/mL
sedangkan untuk sampel kedua yaitu air minum yang tidak teregistrasi memiliki
kadar 1,8692 g/mL.

VIII. Kesimpulan
1. Serapan maksimum dari air minum baik teregistrasi maupun tidak teregistrasi
berada pada panjang gelombang 512nm, dengan absorbansi rata-rata dari
2,5mL larutan sampel sebesar 0,023 untuk air minum tidak teregistrasi dan
0,0003 untuk air minum teregistrasi.
2. Hukum Lambert-Beer terbukti seperti yang terlampir pada kurva.
3. Kadar Fe dalam sampel aqua teregistrasi yaitu 0,427 mg/L sedangkan kadar
Fe dalam sampel aqua non registrasi yaitu 1,8624 mg/L


















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Spektofotometri. Online at http://www.chem-
istry.org/artikel_kimia/ kimia_analisis/spektrofotometri/ (diakses 25
November 2013)
Henry,A. Suryadi MT. Arry Y,. 2002. Analisis Spektrofotometri UV-Vis Pada
Obat Influenza Dengan Menggunakan Aplikasi Sistem Persamaan
Linier.KOMMIT. Universitas Gunadarma
Herliani, An an. 2008.Spektrofotometri. Pengendalian Mutu Agroindustri.
Program D4-PJJ.
Krisnandi IH. 2002. Pengantar Analisis Instrumental. Bogor: Sekolah Menengah
Analisis Kimia Bogor. Hlm 23 dan 35.
Widyaningsih E dan Faiqoh CE. 2012. Spektroskopi UV-Vis. Online at
winchemistry.blogspot.com/2012/06/colorimetri.html (diakses 25 November
2013)