Anda di halaman 1dari 2

Tungku hemat-energi: solusi alternatif mengurangi pemakaian kayu bakar

oleh: Panji Anom (YBL Masta)



Bagi ibu-ibu di Desa Sukomakmur, Kec. Kajoran, Magelang, berjalan kaki menanjak menuju
hutan selama 4 jam dan memanggul 50 kilogram ikatan kayu bakar adalah kegiatan yang sudah
biasa. Kegiatan yang dilakukan ini memenuhi kebutuhan kayu bakar untuk memasak dan juga
untuk dijual selama kurang lebih 3 hari. Harga 10 kg kayu bakar adalah Rp 20,000. Setiap bulan
2 kuintal kayu digunakan untuk memasak. Total kebutuhan satu keluarga terhadap kayu bakar
adalah 3 -5 ton per tahunnya. Tuntutan untuk menghidangkan makanan bagi keluarga telah
mengalahkan rasa lelah dan juga mengabaikan keseimbangan alam.

Dalam rangkaian Kampanye Pride di kawasan ini, salah satu usaha untuk mengurangi
pengambilan kayu bakar di hutan maka diperlukan suatu teknologi sederhana yang dapat siap
diadopsi oleh masyarakat di Sukomakmur. Tungku-hemat kayu bakar, merupakan satu solusi
yang terpikirkan oleh YBL Masta. Teknologi ini awalnya dikembangkan oleh Jaringan Kerja
Tungku Indonesia yang digagas oleh Yayasan Dian Desa dan juga sudah digunakan di
Wonosobo dan Klaten .

Pendekatan pun dilakukan melalui para ibu yang tergabung dalam kelompok PKK dan Dasa
Wisma. Rangkaian diskusi dilakukan sehingga terkumpullah 20 orang ibu dan 20 orang bapak
warga Desa Sukomakmur (6 dusun), dibantu 2 narasumber dan 5 fasilitator yang bersedia
berlatih bersama untuk membuat tungku hemat kayu bakar ini. Manfaat yang ditawarkan dengan
menggunakan tungku ini membuat para ibu bersemangat untuk mengembangkan teknologi ini.

Tungku ini idealnya terbuat dari tanah liat, namun karena materi ini tidak
tersedia di Sukomakmur maka semen menjadi bahan baku alternatif. Tungku dengan 2 lubang
berbentuk kotak dengan ukuran 30 cm X 70 cm X 20 cm. Perbedaan tungku ini dari tungku yang
biasa digunakan oleh ibu-ibu di Sukomakmur adalah dari konstruksi aliran energi, yang
dirancang sedemikian rupa sehingga terjadi pembakaran yang lebih efektif. Biaya produksi satu
buah tungku sekitar Rp 60,000. Sementara jika membeli tungku yang biasa, harganya adalah Rp
25,000 satu lubang api, padahal biasanya minimal satu dapur membutuhkan 3 lubang apai.
Sementara manfaat dan kelebihan yang ditawarkan adalah berkurangnya asap karena
pembakaran lebih efektif, serta berkurangnya penggunaan kayu bakar hingga 50%. Bagi para
ibu, ini bukan saja mengurangi pengeluaran harian, juga memberikan waktu yang lebih
berkualitas bagi anak dan keluarga, juga memberikan kesehatan yang lebih baik.

Rencana tindak lanjut dari para peserta pelatihan ini adalah menjadi kader di dusun masing-
masing yang bertanggung jawab untuk mensosialisasikan dan mengajarkan teknologi hemat
energi ini. Lebih jauh lagi, 1300 KK menyatakan ketertarikannya dan secara swadaya akan
membuat dan menggunakan tungku ini di setiap rumah di Sukomakmur.

Pak Budi, Sekretaris Desa Sukomakmur, saat ini telah 1 bulan menggunakan tungku ini. Dan
sudah menceritakan kepada orang-orang di sekitar rumah beliau.
"Wah, ini sudah satu minggu saya tidak naik ke tempat penyimpanan kayu! Biasanya 2 hari
sekali pasti naik ke atas untuk turunkan kayu untuk masak! Aneh juga ... sekarang jadi bisa
mengerjakan hal-hal lain dengan waktu yang ada ..... " sambil tertawa Pak Budi menceritakan
keuntungannya menggunakan tungku hemat energi ini. Dengan penuh semangat dan antusiasme
berkata "Bayangkan kalau semua warga Sukomakmur menggunakan tungku ini! Target saya
semua orang di desa akan menggunakan tungku ini, bukan saja menjadi lebih hemat dari segi
uangnya, tapi juga hutan kita yang tersisa itu bisa terjamin kelestariannya".

Adopsi teknologi baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, bukan saja meringankan dan
memberi kenyamanan bagi para ibu, memberikan waktu yang berkualitas bagi keluarga namun
juga dalam jangka panjang berkontribusi terhadap lestarinya hutan Potorono yang masih tersisa.