Anda di halaman 1dari 120

LABORATORIUM FARMASETIK

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL

INJEKSI PARENTERAL
(AMPUL)

Oleh :
KELOMPOK I / GOLONGAN JUMAT
FITYATUN USMAN
MIRANTI AZIS
SUBAEDAH
NOVIANTY YONATHAN
DARMA DOGA
EKA SUCININGSIH
ARMINI SYAMSIDI
RESKI
SHERLING LISANGAN

(N111 06 001)
(N111 06 002)
(N111 06 005)
(N111 06 006)
(N111 06 012)
(N111 06 043)
(N111 06 050)
(N111 06 070)
(N111 06 073)

ASISTEN : ANDI AFFANDI


MAKASSAR
2009

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sediaan parenteral merupakan sediaan steril. Sediaan ini diberikan
melalui

beberapa

rute

pemberian

yaitu

intravena,

intraspinal,

intramuskuler, subkutis dan intradermal. Apabila injeksi diberikan melalui


rute intramuskular, seluruh obat akan berada di tempat itu. Dari tempat
suntikan itu obat akan masuk ke pembuluh darah di sekitarnya secara
difusi pasif, baru masuk ke dalam sirkulasi. Cara ini sesuai untuk bahan
obat , baik yang bersifat lipofilik maupun yang hidrofilik. Kedua bahan obat
itu dapat diterima dalam jaringan otot baik secara fisis maupun secara
kimia. bahkan bentuk sediaan larutan, suspensi, atau emulsi juga dapat
diterima lewat intramskuler, begitu juga pembawanya bukan hanya air
melainkan yang non air juga dapat. Hanya saja apabila berupa larutan air
harus diperhatikan pH larutan tersebut. (1)
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang
diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam
kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki
pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran
mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi
mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian
yang dapat diterima (2). Ampul adalah wadah gelas yang tertutup rapat

biasanya dalam dosis tunggal padat atau larutan obat jernih atau
suspense halus yang ditujukan untuk penggunaan parenteral.(3)
Narium Fenobarbital diberikan dalam bentuk injeksi IV untuk
mengobati sindrom konvulsi akut(4). Asam folat dapat diberikan secara
Intramuscular, Intravena, atau Subkutan kedalam bentuk garam(5). Asam
folat digunakan pada perawatan dari megaloblastik dan makrositik anemia
dari wanita hamil dan anak-anak(6)
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara pembuatan injeksi ampul.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Membuat injeksi ampul Asam folat.
I.3 Prinsip Percobaan
Pembuatan injeksi ampul Asam Folat dengan cara menimbang,
mencampur, melarutkan bahan sesuai komposisinya dan menyaring,
menggunakan alat dan bahan yang telah disterilkan dengan cara yang
sesuai dan dilakukan dalam kondisi aseptik serta memerlukan sterilisasi
akhir dalam pengerjaannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Teori umum


II.1.1 Defenisi sediaan parenteral
1. Farmakope Indonesia edisi III: 13
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum
digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke
dalam kulit atau melalui kulit selaput lendir
2. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics: 283
Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril yang diberikan
dengan menembus satu atau lebih lapisan kulit
3. Scovilles The Art Of Compounding : 124
Injeksi adalah larutan yang dimaksudkan ke dalam tubuh dengan
menggunakan alat suntik.
4. Parenteral Technology Manual : 3
Parenteral merupakan rute pemberian obat yang dimasukkan ke dalam
tubuh dengan menggunakan alat suntik.
5. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition : 1545
Parenteral merupakan rute pemberian obat melalui injeksi di bawah
untuk menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa.

6. Formularium nasional; 317


Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum
digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke
dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir.
7. Pharmaceutical practice: 247
Injeksi parenteral adalah langsung diberikan ke dalam darah secara
bebas dan efek dikontrol atau ke bagian luar jaringan pembuluh darah
untuk efek local atau sistemik. Sebuah injeksi dapat diberikan secara
intravena untuk meningkatkan secara cepat konsentrasi obat dalam
plasma darah, tetapi konsentrasi segera turun dari transfer reversible obat
dari plasma darah ke dalam jaringan tubuh, sebuah proses yang diketahui
sebagai distribusi
8. American pharmacy:224
Sediaan parenteral (juga disebut parenteral) adalah obat obat steril,
larutan atau suspensi yang dikemas dalam cara yang sesuai adalah
pemberian melalui injeksi hipodermik tiap dari bentuk yang disiapkan atau
setelah penambahan pelarut yang sesuai atau agen pensuspensi.
9. Dispending Of Medication by Martin: 968
Pengobatan parenteral (injeksi) adalah bentuk sediaan steril yang
dimasukkan untuk pemberian di bawah satu atau lebih lapisan kulit atau
membran mukosa

10. Dispending Of Medication by King: 968


Pengobatan parenteral (injeksi) adalah bentuk sediaan steril yang
dimasukkan untuk pemberian di bawah satu atau lebih lapisan kulit atau
membran mukosa
11. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi : 399
Obat suntik didefenisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas
pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah
parenteral seperti yang umum digunakan menunjukkan pemberian lewat
suntikan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan disuntikkan
12. Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts:192
Parentral berasal dari kata yunani, para dan enteron berarti diluar
usus. Deskripsi ini hanya melarang rute oral dan rektal, sebenarnya dalam
penggunaannya berarti beberapa produk yang diinjeksi secara langsung
dalam sistem cairan tubuh (darah, limfa, intra atau ekstra cairan seluler).
Karena produk parenteral diinjeksi secara langsung dalam cairan tubuh
dan melewati banyak mekanisme pertahanan tubuh, sediaan ini harus
memiliki sterilitas dan spesifikasi pirogen
13. Formulasi steril : 39
Injeksi adalah sediaan stril berupa larutan, emulsi, suspensi atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum
digunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus atau
merobek jaringan ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir.

14. Textbook Of Pharmaceutic : 553


Injeksi parenteral adalah salah satu yang disuntikkan di bawah satu
atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa ke daerah khusus tubuh
15. Dispending Of Medication by Hoover : 255
Obat parenteral adalah sediaan bentuk steril yang digunakan melalui
injeksi di bawah atau melewati satu atau lebih lapisan kulit atau
membrane mukosa
16. Farmakope Indonesia edisi IV:317
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau
serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum
digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan jaringan ke
dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir
17. Kamus saku kedokteran Dorland edisi 25 :830
Parenteral:

bukan

melalui

saluran

pencernaan

tetapi

dengan

penyuntikan lewat jalur lain, seperti subkutan, muscular,dll.


18. Drug Information;guide for pharmacist 3rd; e- book
Campuran parenteral : larutan yang mengandung produk produk
obat untuk penggunaan intravena
19. Med Math; 75
Istilah parenteral tidak menunjukkan suatu cara spesifik itu adalah
istilah umum yang berari melalui suntikan. Bentuk obat untuk pemberian
secara parenteral termasuk larutan, suspensi dan serbuk. Bentuk obat

untuk penggunaan parenteral bersifat steril dan digunakan teknik steril


untuk menyiapkan dan memberikannya.
20. www.formulasi steril.com
Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan di bawah satu atau lebih
lapisan kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lender
21. Sterile Dosage Forms:1
Sediaan parenteral adalah sediaan yang disuntikkan pada satu atau
lebih lapisan pada jaringan kulit.
Kesimpulan :
Injeksi atau parenteral adalah sediaan farmasetis steril berupa
larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk yang harus dilarutkan atau
disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan(7,8,9,10,11,12), yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit
atau selaput lendir atau menembus suatu atau lebih lapisan kulit atau
membran mukosa (3,4, 7,8,10,11,13,14,15,16,17,18,19) menggunakan
alat suntik (20).
II.1.2 Perbedaan parenteral volume besar dan volume kecil
1. Dispending of Medication by Martin : 970 dan 973
Parenteral volume kecil dapat diklasifikasin seperti yang lain karena
volume material diinjeksikan ke dalam tubuh atau volume pengobatan
dalam wadah. Faktor ini selalu berhubungan dekat sejak unit bungkus
kecil biasanya cocok saat dosis kecil ditetapkan. Volume pengobatan

dalam wadah saat penarikan berkali kali dimaksudkn dari 1 unit bungkus
dibatasi oleh USP sampai 30 ml.
Parenteral volume besar diklasifikasikan seperti itu karena volume
cairan diinjeksikan dan volume cairan dalam tiap wadah. Volume wadah
brkisar 50 200ml, meskipun yang tersedia biasanya 150, 250, 500, dan
1000 ml.
2. Scovilles The Art Of Compounding : 191
Tiap larutan parenteral. Sebuah pengujian daftar obat yang tercakup
dalam USP XV dalam bentuk sediaan injeksi memperlihatkan 2 tipe
umum.:
a. Yang diinjeksikan dalam volume yang relatif kecil untuk tujuan terapetik
atau diagnositk.
b. Yang

diinjeksikan

dalam

volume

yang

relatif

besar

untuk

mengembalikan keseimbangan kalori atau elektrolit tubuh


3. Parenteral Technology Manual : 3
Penyuntikan adalah preparasi cairan obat yang disuntikkan ke dalam
tubuh, ke dalam atau melewati kulit atau melewati mukus dan membrane
serviks. Volume hingga 100 ml dikatakan volume parenteral kecil (SVPS).
Produk injeksi lain yang diberikan secara langsung ke dalam sirkulasi
darah vena disebut cairan infuse atau volume parenteral besar (LVPS)
4. Encyclopedia volume 11: 201 dan 207
Parenteral volume besar

Larutan

volume

besar

intravena

ditujukan

untuk

injeksi

dan

dimaksudkan untuk penggunaan intravena sediaan ini dikemas dalam


wadah berukuran 100 ml atau lebih. Larutan steril volume besar lain
meliputi penggunaan untuk irigasi atau dialisis. Sediaan ini dapat dikemas
dalam wadah wadah yang dirancang untuk untuk kosong dengan cepat,
berisi volume lebih dari 1000 ml. Sediaan ini dikemas dalam unit dosis
tunggal dalam wadah gelas atau plastic yang cocok, sebagai tambahan
harus steril, non pirogenik dan bebas dari partikulat. Karena diberikan
dalam volume besar, agen bakteriostatik tidak pernah digunakan. Sejak
toksisitas

dihasilkan

dari

pemberian

dalam

jumlah

besar

agen

bakteriostatik.
Parenteral volume kecil
Produk ini dikemas dalam vial, ampul, alat suntik, cartrid, botol dan
wadah lainnya dalam 100 ml atau kurang di bawah klasifikasi ini.
Parenteral

volume

besar

(LVPS)

harus

disterilisasi

akhir,

sedangkan (SVPS) dapat disterilisasi akhir atau melalui proses dan filtrasi
aseptic LVPS, biasanya meliputi intravena, dialysis, atau larutan irigasi
yang mengandung eletrolit, gula, asam amino darah dan proein darah dan
lemak lemak. LVPS harus diberikan melalui rute intravena. Faktanya
beberapa injeksi dengan volume lebih besar dari 10 ml harus diberikan
melalui pemberian intravena.
SVPS meliputi semua tipe lain dari produk parenteral untuk aplikasi
topical optalmik atau injeksi melalui rute rute yang bervariasi. Rute

utama; intramuscular, intravena, subkutan. Rute kedua; hipodermolisis,


intraabdominal(intraperitonial), intra arterial, intra artikular, intra kardial,
intra sistermal, intra dermal, intraksional, intra ocular, intra pleural, intra
tekal, intra uterin, intra ventikular.
5. Sterile Dosage Forms : 163
Larutan intravena volume besar mengacu pada injeksi untuk
pemberian intravena dan Larutan ini dikemas dalam wadah 100 ml atau
lebih.
6. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition: 157O
Injeksi ini besar untuk digunakan dengan infus I.V biasanya cairan
intravena dan digolongkan kedalam kelompok produk steril yang
disediakan sebagai parenteral volume besar. Terdiri dari injeksi volume
tunggal yang mempunyai volume 100 ml atau lebih dari dalam pewadahan
tidak ditambahkan bahan-bahan cairan intravena dikemas dalam wadah
100 sampai 1000 ml.
Kesimpulan :
Perbedaan
Volume
(15)
Tujuan
(3)
Wadah (21)
Cara
sterilisasi
(21)
Rute

Parenteral Volume besar


Diberikan pada volume
besar,
volume
wadah
berkisar 50 2000 ml
Mengembalikan
keseimbangan kalori atau
elektrolit tubuh / cairan
tubuh
Dikemas dalam unit wadah
dosis tunggal
Sediaan harus disterilisasi
akhir
Intravena

Parenteral Volume Kecil


Diberikan pada volume kecil,
volume
wadah
dibatasi
hingga 30 ml
Diberikan
untuk
tujuan
terapeutik atau diagnostic
tertentu
Dikemas dalam unit wadah
dosis ganda
Sediaan dapat disterilisasi
akhir atau proses filtrasi
maupun pengerjaan aseptis
Bervariasi tergantung tujuan

pemberian
(21)

terapetik/ organ target, dapat


berupa
intravena,
intramuscular, subkutan dan
rute lainnya

II.1.3 Rute- rute Injeksi


1. Dispending of Medication by Martin : 970
1. Parenteral Volume Kecil
a. Intradermal
Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan
"dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika
sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh
darah betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan
dibatasi

dengan

efek

sistemik

yang

dapat

dibandingkan

karena

absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam


kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap
mikroorganisme.
b. Intramuskular
Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute
intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal
daripada rute intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan.
c. Intravena
Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada
absorpsi, puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan
efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap.

d. Subkutan
Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit.
Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset
lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau
IM.
e. Rute Injeksi Lain
Selain empat rute parenteral primer, beberapa rute juga digunakan
untuk aksi khusus, kadang-kadang untuk aksi lokal dari pada efek
sistemik.
a) Rute intra-arterial; disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan
untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer
tubuh.
b) Intrakardial; disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika
kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung.
c) Intraserebral; injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi
lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal
neuroligia.
d) Intraspinal; injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi
tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit
neoplastik seperti leukemia.
e) Intraperitoneal dan intrapleural

2. Parenteral Volume Besar


Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan
subkutan yang secara normal digunakan.
a) Intravena
Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan
lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak

digunakan

IV

daripada melalui SC, (2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif
lebih cepat; (3) efek sistemik dapat segera dicapai; (4) level darah dari
obat yang terus-menerus disiapkan, dan (5) kebangkitan secara langsung
untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan
dalam situasi darurat disiapkan.
Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan
pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti
pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar; (2) perkembangan
potensial trombophlebitis; (3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari
kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik, dan (4) pembatasan cairan
berair.
b) Subkutan
Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif
ketika rute intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara
relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat.
Dibandingkan dengan rute intravena, absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri
dan tidak menyenangkan, jenis cairan yang digunakan lebih kecil

(biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat


tambahannya.
b. Parenteral Technology Manual : 6-11
1. Subkutan (s.c)
Injeksi yang dimasukkan ke dalam jaringan lunak tepat di bawah
permukaan kulit karena ketersediaan ruangan dalam jaringan terbatas,
volume injeksi tidak lebih dari 1 ml. Perhatian diinginkan untuk membuat
formulasi yang berhubungan dengan kondisi pH dan tonisitas.
2. Intramuskular (i.m)
Injeksi yang secara langsung dimasukkan ke dalam otot, biasanya
lengan atau daerah panggul. Rute ini juga digunakan jika obat mengiritasi
atau tidak larut dalam air atau minyak sehingga obat tersebut harus
digunakan dalam bentuk suspensi. Volume injeksi harus tetap kecil,
umumnya tidak lebih dari 2 ml.
3. Intravena (i.v)
Injeksi yang dimasukkan langsung ke dalam aliran darah. Hal ini
memungkinkan dengan hati-hati untuk memberikan volume kedil larutan
pekat yang secara normal akan mengiritasi jaringan. Rute ini diberikan
secara perlahan-lahan sehingga larutan diencerkan oleh darah mengalir
melewati titik dimana jarum disuntikkan. Rute ini juga digunakan untuk
pemberian volume besar dari penggantian dan larutan hiperalimentasi.

4. Intrakutan (i.c)
Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di
bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil
(0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin.
5. Intratekal
Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi
lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan
serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan
volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Volume
1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk
membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai
keadaan tubuh pasien.
6. Intra-artikular
Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat
antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.
7. Intrakardial
Secara langsung ke dalam jantung, merupakan suatu rute yang mana
digunakan untuk menginjeksi ke dalam aliran darah volume besar dari
larutan hipertonik atau larutan teriritasi seperti dekstrosa 70%. Proses ini
membutuhkan bantuan kateter. Kateterisasi meliputi proses pembedahan
dan secara umum hanya dilakukan dalam unit-unit tertentu dari rumah
sakit yang lebih besar.

8. Intraperitoneal (i.p)
Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin
rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.
9. Intrasisternal dan Peridural
Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal.
Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis
untuk injeksi.
Gambar Rute Injeksi

c. Pharmaceutical Drug Formulation : 26-29


1. Hiperdermoklisis
Deskripsi : kegunaan rute pemakaian subkutan untuk infus larutan
volume besar ke dalam jaringan subkutan, disebut hipodermoklisis.
Indikasi : Meskipun jarang digunakan sekarang, pemakaian cairan
secara hiperdermoklisis dapat diindikasikan jika kecepatan absorpsi
lambat diinginkan atau jika tidak ada vena yang cocok (misal untuk bayi
atau lanjut usia). Cairan seperti Ringer Laktat; dektrosa 2,5% dalam
0,45% larutan garam, dan garam normal dapat diinjeksikan untuk
mempertahankan atau pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Perhatian : Injeksi harus diberikan perlahan-lahan untuk mencegah
pembengkakan jaringan. Larutan hipertonis, cairan bebas elektrolit, asam
amino, emulsi lemak, dan lainnya berbeda dari pH tubuh secara signifikan
tidak digunakan. Infeksi lokal adalah umum dan mungkin menjadi
masalah. Bila larutan noneletrolit hipertonik disuntikkan, sejumlah besar
cairan dapat dibawa dari kompartemen vaskuler, menghasilkan penurunan
volume plasma dan shok.
2. Intra-arterial
Dekripsi : Injeksi atau infus ke dalam arteri yang membawa langsung
pada organ target.
Indikasi: Rute intra-arterial digunakan umumnya untuk tujuan diagnosis
seperti menginjeksikan bahan-bahan radiopak untuk studi roentgenografik
dari cadangan vaskuler pada berbagai organ atau jaringan (seperti

koroner, serebral, pulmonari, renal, enterik, atau arteri perifer). Hampir


semua arteri dicapai dengan kateterisasi arterial.
Penggunaan rute intra-arterial untuk tujuan pengobatan adalah jarang
dan terbatas pada umumnya untuk kemoterapi organ tertentu, seperti
mengobati kanker lokal tertentu (seperti melanoma malignant pada
ekstremitis bawah), dimana perfusi regional dengan konsentrasi tinggi dari
obat toksis (yang bila diberikan secara i.v dapat dihubungkan dengan
reaksi sistemik serius) yang dapat tercapai.
Perhatian: Rute ini sangat berbahaya karena produk-produk yang
menggunakan rute ini tidak diencerkan secukupnya ataupun disaring
untuk paru-paru, hati, ginjal sebelum kontak dengan jaringan perifer atau
organ vital yang terlindung oleh arteri. Produk yang terkontaminasi dengan
mikroorganisme

endotoksin

dan

atau

bahan

partikulat

dapat

menyebabkan komplikasi serius atau reaksi, seperti infeksi (baik intraarterial

atau

ekstra-arterial)

atau

tromboembolisme

arteri

atau

vasospasme, yang dapat menyebabkan iskemia, infarksi, atau gangren


pada jaringan atau organ. Sebagai tambahan, bila teknik pemasukannya
salah, kerusakan pada intima arteri dan dinding pembuluh dapat terjadi,
sehingga ekstravasi perdarahan serius ataupun aneurisme disserting
dapat terjadi. Jika udara diinfuskan dengan tidak sengaja, embolisme
udara dengan akibat iskemia dan atau infarksi jaringan dapat terjadi, dan
keadaan yang biasanya tidak muncul apabila sejumlah kecil udara
diinfuskan ke dalam sistem vena.

3. Intralesional
Deskripsi: Injeksi bahan obat langsung ke dalam atau di sekitar luka,
biasanya pada atau dalam kulit atau jaringan lembut, untuk mencapai efek
terapetik.
Indikasi : Injeksi bahan-bahan obat ke dalam atau sekitar luka
umumnya telah berguna jika diinginkan untuk menetralkan berbagai toksin
seperti tetanus dimana injeksi antitoksin ke dalam atau sekitar luka telah
digunakan. Terapi serupa ditemukan tidak berguna pada rabies, dimana
diinjeksikan

langsung

ke

dalam

atau

di

sekitar

tempat

gigitan.

Dermatologis umumnya menggunakan rute ini untuk mengobati psoriasis,


lichen simpleks, sarkoid, lichen planus hipertropikus, herpes zoster (dan
post-zoster neuralgia) dan jerawat sistik atau nedulus, dengan steroid
lokal. Keloid juga telah sering ditangani dengan injeksi lokal seperti ini,
tetapi biasanya dengan steroid berdosis tinggi.
Perhatian : Komplikasi yang paling sering terjadi yaitu infeksi, biasanya
dari organisme yang baru masuk pada nasokamial. Meskipun mengalami
kesulitan, tergantung pada tipe luka yang diinjeksikan, lingkungan steril
harus

disiapkan

sebelum

diinjeksikan.

Dengan

penyakit

infeksi,

penyebaran lokal dari proses yang diobati dapat terjadi.


4. Intraokuler
Deskripsi : Ada 4 tipe injeksi intraokuler yang digunakan :
a. Chamber arterior: injeksi atau irigasi langsung ke dalam chamber
anterior mata.

b. Intravitreal : injeksi langsung ke dalam lubang vitreous pada mata.


c. Retrobulbar : injeksi di sekitar ( bukan ke dalam) bagian posterior
bulat.
d. Subkonjugtiva : meskipun termasuk di bawah intraokuler, injeksi
subkonjungtiva (dan retrobulbar) bukanlah injeksi intraokuler. Injeksi
semacam ini diberikan di bawah konjugtiva, sehingga obat-obat
berdifusi melalui limbus dan sklera ke dalam mata.
Indikasi : Setiap rute digunakan untuk pengobatan infeksi dan inflamasi
pada maya yang tidak diobati secara efektif oleh pengobatan secara
topikal atau sistemik, untuk anestesi globe (retrobulbar) dan untuk dilatasi
pupil dengan sikloplegik dan midriatik. Memasukkan obat ke dalam mata
adalah mengalami kesulitan, sebagai transpor intraokuler dan difusi
adalah miskin. Injeksi intraokuler adalah dilengkapi seringkali oleh infus
intravena obat terapetik. Pemilihan tipe injeksi intraokuler tergantung pada
penyakit yang ada dan lokasi yang tepat pada penyakit tersebut pada
mata.
Perhatian : Perhatian ekstra dan teknik tepat diinginkan untuk
meminimalkan atau mencegah kerusakan pada mata, terutama pada
endotelium kornea. Komplikasi yang dapat timbul tergantung pada seleksi
rute, adalah kerusakan saraf mata, perdarahan, pelepasan retina,
nekrosis retina, katarak dan injeksi obat langsung ke dalam sirkulasi
dengan efek sistemik. Infeksi selalu berbahaya dan harus sedapat
mungkin dicegah, sebab infeksi dapt menyebabkan kerusakan pada mata

yang cepat dan atau kebutaan. Volume larutan yang dapat diinjeksikan ke
dalam mata biasanya terbatas, umumnya tidak lebih dari 0,1-0,2 ml. Oleh
karena dibutuhkan pengetahuan yang baik tentang anatomi dan fungsi
mata maka ahli mata yang dapat melakukannya.
5. Intrapleural
Deskripsi : Biasanya diinjeksikan tunggal ke dalam lubang pleura.
Seringkali,

pipa

tidak

permanent

dimasukkan

ke

dada

melalui

pembedahan, rute ini dapat digunakan untuk tujuan irigasi atau untuk
injeksi obat berulang.
Indikasi : Seringkali, infeksi atau keganasan meliputi lubang pleura,
umumnya bila proses penyakit adalah kerusakan fungsi pernafasan, maka
digunakan rute ini. Enzim (seperti streptokinase dan streptodornase)
dapat diinjeksikan pada empyemas cair tebal yang todak dapat
dihilangkan oleh absorpsi atau repsorpsi secara alamiah. Bila bagian kiri
tidak terobati, empyemas dapat menyebabkan fibrasis, adhesi, penebalan
pleura dan restriksi pernafasan. Juga penyebaran karsinoma atau
mesothelomas pleura dapat diobati dengan injeksi intrapleural lokal dan
bahan-bahan antitumor atau sclerosis, terutama bila infus berulang
menjadi masalah.
Perhatian : Komplikasi yang paling sering disebabkan oleh infeksi
intrapleural

adalah

pneumothorax

(kolaps

paru-paru),

perdarahan

intrapleural dan atau infeksi superimposed. Hal yang terakhir lebih sering

terjadi saat pipa dada berada di dalam dada untuk periode waktu yang
panjang.
6. Intrauterin
Deskripsi

Diinjeksikan

atau

diinfuskan

melalui

jarum

yang

dimasukkan secara perkutan ke dalam rahim yang hamil.


Indikasi : Injeksi atau infus bahan-bahan tertentu seperti garam 20%,
prostaglandin E atau urea ke dalam rahim yang hamil digunakan setelah
16 minggu kehamilan untuk menginduksi kerja dalam aborsi medik atau
membawa fetus yang masih hidup. Meskipun kebanyakan aborsi
dilakukan menggunakan terknik operasi, maka di tangan ahli yang kurang
berpengalaman, aborsi medik melalui injeksi intrauterin ini berguna.
Sebagai

tambahan,

bahan-bahan

yang

berbeda

untuk

studi

roentgenografik dapat diinjeksikan untuk studi anomaly kongental yang


potensial.
Perhatian : Infeksi (amnionitis dan myometritis) adalah komplikasi yang
paling umum terjadi. Bila garam 20% tidak diinginkan untuk diinfuskan
secara i.v pada pasien, kematian dapat terjadi. Untungnya hal ini jarang
terjadi. Seringkali, sindrom koagulopati intravaskular terhambur dapat
terjadi, yang diakibatkan oleh semua masalah yang disebabkan rute ini.
Kemungkinan di tangan orang yang tidak berpengalaman, pembengkakan
rahim atai saluran kemih dapat diinjeksikan.
7. Intraventrikuler
Deskripsi : Diinjeksikan langsung ke dalam ventrikel lateral otak.

Indikasi : Rute ini utamanya digunakan selama pengobatan infeksi


(seperti meningitis bakteri atau fungi dan atau ventrikulitis) dan keganasan
(seperti infiltrasi leukemia dari meningitis atau karsinomatosa) melibatkan
membran dan cairan serebrospinal yang meliputi SSP. Rute ini digunakan
terutama dalam situasi dimana obat-obat yang digunakan berdifusi atau
lewat dengan buruk dari kompartemen vaskuler ke dalam ventrikel dan
ruang subarachnoid dan atau dimana efek samping sistemik dari bahan
partikulat diinginkan (seperti dalam pengobatan meningitis fungi dengan
amfoterisin atau dalam terapi infiltrasi leukemia dengan methothexate).
Perhatian : Oleh karena cairan serebrospinal adalah organ yang kritis
sebagai otak dan cordspinal dank arena salah satu fungsinya dipercaya
untuk menjaga atau melindungi cairan dari organ ini. Pemisahan cairan
atau membran termasuk deleterius dan mungkin mati. Adanya bahan
asing,

kimia,

dan

biologik,

jika

diinjeksikan

ke

sistem

dapat

mengendapkan inflamasi.
d. Textbook of Pharmaceutics : 553
Injeksi parenteral adalah salah satu yang disuntikkan di bawah satu
atau lebih lapisan kulit atau membran mukosa ke dalam daerah khusus
dari tubuh. Jenis-jenis berikut yang tersedia :
1. Intradermal atau injeksi intrakutan
Untuk diagnosa atau test penyakit tertentu, seperti diphtheria (shick
test), tuberculosis (Old Tuberculin, Derivat Protein Tuberculin Murni).
2. Injeksi Subkutan atau Hipodermik

Obat-obat vasokontriksi seperti adrenalin dapat ditambahkan untuk efek


lokal, seperti anestesi lokal.
3. Injeksi Intramuskular
Larutan berair dan berminyak dan juga bentuk suspensi diberikan
melalui rute intramuscular.
4. Intravena
Larutan berair, tetapi kadang-kadang emulsi minyak dalam air, (seperti
Phytomenadion Injection, BP). Volume besar 500 ml atau lebih
diberikan dalam bentuk infus i.v untuk mengganti cairan darah yang
hilang akibat shok, luka, operasi pembedahan, atau cairan tubuh hilang
oleh diarrhoeia, seperti pada kolera.
5. Injeksi Intra-arterial
Digunakan ketika aksi segera diinginkan pada daerah perifer.
6. Injeksi Intrakardial
Diinjeksikan secara langsung pada otot jantung atau ventrikel untuk
pengobatan darurat, bebas bahan partikulat.
7. Injeksi Intratekal atau Subarachnoid
Digunakan untuk anestesi spinal. Tidak mengandung bakterisida.
8. Injeksi Intrasisternal
Untuk pemberian antibiotik.
9. Injeksi Peridural
Injeksi peridural dapat dibuat dalam daerah torax, lumbar dan sakral.

e. Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical


Adjuncts : 193
Ada beberapa variasi tempat injeksi untuk produk parenteral.
Beberapa yang umum adalah :
1. Intravena (IV)
Diinjeksikan secara langsung dalam vena (produk biasanya larutan,
jarang emulsi halus, tetapi tidak pernah suspensi dari bahan padat)
2. Intramuskular (IM)
Diinjeksikan ke dalam otot skeletal (biasanya dalam daerah deltoid
atau gluteal)
3. Subkutan (SC)
Diinjeksikan ke dalam jaringan secara langsung di bawah kulit
4. Intradermal (ID)
Diinjeksikan ke dalam lapisan kulit
5. Intraspinal
Diinjeksikan ke dalam kolum spinal
f. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics : 283
1. Intramuskular
Sebuah injeksi intramuskular dimasukkan ke dalam lapisan otot.
Lapisan cairan obat diabsorbsi dengan cepat; bagaimanapun suspensi
dan larutan minyak diabsorbsi dengan lambat.
2. Intravena
Sebuah injeksi intravena dimasukkan ke dalam vena dengan sedikit
pengecualian hanya larutan cairan yang diberikan dengan cara ini.
3. Intraperitonial
Sebuah injeksi intraperitonial dimasukkan ke dalam rongga peritonial
yakni rongga abdominal dalam risena
4. Intratekal

Injeksi

ke

dalam

cairan

serebrospinal

yang

disebut

sebagai

subarachnoid, subdural, atau injeksi intraspinal, tergantung pada


daerah injeksi. Biasanya volume cairan serebrospinal setara dengan
volume larutan yang ditarik sebelumnya untuk injeksi.
g. Scovilles The Art Of Compounding : 193-194
1. Subkutan atau pemberian secara hipodermik, obat diinjeksikan ke
dalam jaringan bebas di bawah kulit
2. Injeksi intramuscular mengizinkan perkenalan obat ke dalam atau
diantara lapisan otot. Larutan obat diabsorbsi dengan cepat dari
tempat ini. Suspense atau larutan obat dalam minyak diabsorbsi
secara lambat dan tetap, dan memberikan aksi lama.
3. Injeksi intravena adalah cara pemberian larutan obat secara langsung
ke dalam vena, proses ini disebut sebagai infus, plebolisis atau
hemolisis
4. Pemberian intratekal, subcarachnoid atau subdural adalah injeksi
larutan ke dalam tempat/ ruang berisi cairan serebrospinal, banyak
obat tidak diabsorbsi ke dalam cairan serebrospinal atau absorbs
sangat lambat.
h. Dispending Of Medication by King : 169-170
1. Intravena (Iv)
Larutan diinjeksi secara langsung ke dalam vena sebagai larutan cair
atau emulsi minyak dalam air. Volume injeksi dapat berkisar kira kira
1- 1000ml. suatu volume kecil obat yang teratur atau suatu bolus,
dapat diinjeksikan melalui IV push menggunakan jarum suntik dan
spoit.
2. Intramuskular (IM)
Larutan, suspensi atau emulsi dapat diinjeksi ke dalam otot dengan
jarum suntik dan spoit.
3. Subkutan (ic)

Larutan diinjeksi secara subkutan (melalui hipodermal) adalah di


bawah kulit dalam sebuah volume kecil bolus (hingga 2 ml) dengan
sebuah jarum suntik dan spoit, karena aliran darah lambat dalam
jaringan subkutan. Onset dan aksi dan absorbs biasanya lebih lambat
dari injeksi IM atau IV
4. Intradermal (Id)
Sejumlah kecil larutan, biasanya kurang dari 0,2 ml diinjeksikan
diantara lapisan kulit, pembuluh darah sangat kecil pada daerah ini,
meskipun derajat vaskularitas tinggi. Absorbsi dari tempat ID, biasanya
pada lengan atau punggung adalah lambat dan terbatas tetapi berguna
ketika aksi lokal atau difusi terbatas tempat injeksi diinginkan
5. Intraarterial (IA)
Injeksi ke dalam arteri yang berguna ketika agent didistribusikan
secara langsung dan dalam konsentrasi tinggi ke organ besar atau
jaringan.
6. Intratekal (IT)
Banyak obat tidak mampu mencapai konsentrasi terapetik dalam
larutan serebrospinal (CSF) pada injeksi IV. Bahan ini biasanya
diinjeksi secara langsung secara intratekal, yakni secara langsung ke
dalam CSF obat kemudian seluruhnya mengalami perfusi ke ruang
CSF
7. Intraartikular
Injeksi dapat dimasukkan ke dalam tulang sendi rongga sinovial,
biasanya menghasilkan aksi lokal
8. Intrakardial
Injeksi dapat secara langsung ke dalam ruang jantung
i. Modern Pharmaceutical :442
1. Rute subkutan
Meletakkan dengan segera di bawah kulit suatu lapisan lemak,
permukaan

fascla,

memberikan

pemberian

yang

nyaman

dari

beberapa obat meliputi vaksin, insulin, skopolamin dan epinefrin.


Injeksi subkutan biasanya diberikan dalam volume hingga 2 ml
menggunakan - 2 22 gange jarum suntik. Obat yang diberikan
meliputi rute ini akan memiliki onset dari aksi lambat dari rute IM atau
IV dan total absorbs dapat juga lebih sedikit
2. Rute intramuscular
Rute ini adalah rute pemberian kedua setelah rute IV dalam kecepatan
onset dari aksi sistemik. Injeksi dimasukkan ke dalam striated muscle
fibres, diletakkan di bawah lapisan subkutan. Tempat dari injeksi ini
adalah gluteal (pantat), deltoid (lengan atas) dan otot vastus lateral
(paha lateral), biasanya volume yang diberikan berkisar dari 1,0 3,0
ml dan volume hingga 10,0 ml, kadang kadang diberikan (dalam
dosis terbagi) pada gluteal atau daerah paha
3. Rute intravena
Pengobatan intravena adalah injeksi secara langsung ke dalam salah
satu vena untuk mendapatkan kecepatan dan dapat diprediksi atau
menghindari iritasi jaringan lain. Rute pemberian juga memberikan
availabilitas maksimum dan menjamin penyaluran obat ke tempat aksi.
4. Rute Parenteral lain
a) Intra arterial : secara langsung ke dalam arteri (aksi segera terlihat
dalam daerah peripheral)
b) Intratekal : pemberian obat secara langsung ke dalam cairan
serebrospinal (dalam kanal spinal)
c) Intraepidural (ke dalam ruang epidural dekat kolum spinal)
d) Intrasisternal : secara langsung ke dalam daerah caudal dari otak
diantara cerebellum dan medulla oblongata

e) Intrartikular : secara langsung dimasukkan dalam tulang sendi,


biasanya adalah efek local, seperti aksi antiinflamasi steroid dalam
arthritis
f) Intrakardial : secara langsung dimasukkan ke dalam jantung ketika
hidup terancam
g) Intrapleural : secara langsung dalam rongga, pleural atau paru paru
(juga digunakan untuk penarikan cairan)
h) Intradermal (ID) : Pemberian meliputi injeksi ke dalam lapisan kulit.
j. Pharmaceutical practice: 248
a) Injeksi Intravena dan infus
Pemberian melalui rute ini memberikan kontrol yang teliti dan
konsentrasi obat dalam sirkulasi darah, vena yang dipilih untuk
pemberian formulasi tergantung beberapa faktor. Ini meliputi ukuran
dari pemberian jarum suntik atau kateter, jenis dan volume larutan
yang diberikan dan alat alat pemberian cairan. Cairan diberikan ke
dalam vena supervisial, biasanya pada bagian belakang tangan atau
pada hexus internal siku. Rute intravena digunakan secara luas pada
pemberian produk parenteral , tetapi tidak digunakan untuk pemberian
emulsi air, dalam minyak atau suspensi.
b) Injeksi subkutan
Injeksi ke dalam jaringan penghubung bebas dan adipose, diberikan di
bawah kulit. Pada tipe ini, volume injeksi tidak mencapai 1 ml. tetapi
injeksi meliputi perut, punggung atas, lengan atas dan pinggul atau
bagian lateral. Rute ini digunakan apabila obat tidak dapat diberikan
secara oral. Obat obat lebih cepat dan diprediksikan dapat diabsorpsi
dara pada ketika diberikan secara oral. Pemberian dengan rute ini

meliputi tempat injeksi, temperatur tubuh,usia pasien dan derajat


penyebaran tempat injeksi subkutan lebih lambat dan lebih sedikit
diprediksi daripada rute intramuskular
c) Injeksi Intramuskular
Larutan cairan volume kecil, larutan dalam minyak dan suspensi
diberikan secara langsung ke dalam tubuh pada otot relaksasi.
Beberapa tempat otot yang digunakan untuk injeksi meliputi otot
gluteal pada bokong. Otot deltoid pada bahu dan vastus lateralis pada
paha. Pada otot gluteal orang dewasa, sering digunakan dalam volume
yang lebih besar dapat ditoleransi. Pada bayi dan anak kecil vastus
lateralis pada paha biasanya libih dipilih daripada kelompok otot lain
dan ini yang digunakan. Untuk absorpsi cepat pada pengobatan, obat
deltoid pada bahu sering digunakan.
d) Injeksi Intradermal
Volume sekitar 0,1 ml diinjeksikan ke dalam kulit diantara dermis dan
epidermis. Absorpsi injeksi intradermal lambat. Rute ini sering
digunakan untuk tes diagnostik untuk alergi atau imunitas. Rute ini juga
digunakan untuk pemberian beberapa vaksin
e) Injeksi Intra arterial
Obat ini diberikan langsung pada arteri, memperlihatkan aliran cepat
dari darah dalam arteri, obat akan didispersi dengan cepat ke dalam
system darah. Bagaimanapun, manipulasi kesulitan membatasi
penggunaan injeksi intraarterial tetapi obat dapat diberikan melalui rute
ini. Untuk target organ spesifik atau jaringan diberikan melalui arteri.
f) Intrakardiak
Beberpa larutan cairan yang diberikan dalam keadaan emergensi
secara langsung ke dalam ventrikel atau otot kardiak untuk efek lokal
g) Injeksi Intraspinal

Beberapa larutan cairan diinjeksi dalam volume kurang dari 20 ml ke


dalam daerah partikular dari kolum spinal. Ini dikategorikan sebagai
intratekal, subarachnoid, intasisternal, epidural dan injeksi peridural.
Aliran spesifik dan injeksi dapat diatur untuk membatasi tempat aksi
obat.
h) Injeksi Intraartikular
Beberapa diberikan sebagai larutan cairan atau suspensi ke dalam
cairan sinovial dalam rongga tulang sendi. Ini sering digunakan untuk
pemberian lokal dari bahan antiinflamasi
k. Formularium Nasional : 317 318
1. Injeksi intraderma atau intrakuitis
Umumnya larutan atau suspensi dalam air, digunakan untuk diagnosa.
Volume lebih kurang 100 I sampai 200 I
2. Injeksi Subkutan atau hipoderma
Umumnya larutan isotonis dengan kekuatan sedemikian rupa hingga
volume lebih kurang 100 ml yang disuntikkan tidak lebih dari 1 ml.
Dapat ditambahkan vasokontraktor seperti epinefrina untuk melokalisir
efek obat. Jika tidak mungkin disuntikkan infus, volume injeksi 3 liter
sampai 4 liter sehari masih dapat disuntikkan secara subkutan dengan
penambahan hialuranidase ke dalam injeksi atau sebelumnya disuntik
hialuranidase. Cara ini disebut hipodermoklisa.
3. Injeksi intramuskulus

Larutan atau suspensi dalam air atau dalam minyak, volume sedapat
mungkin tidak lebih dari 4 ml. Penyuntikan volume besar dilakukan
dengan perlahan-lahan untuk mencegah rasa sakit.
4. Injeksi intravenus
Umumnya larutan dapat mengandung cairan noniritan yang dapat
bercampur dengan air, volume 1 ml sampai 10 ml. injeksi intravenus
yang diberikan dalam volume besar, umumnya lebih dari 10 ml,
disebut infuse. Emulsi minyak-air dapat diberikan intravenous jika
dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap ukuran butiran minyak.
Sediaan berupa emulsi air minyak, tidak boleh disuntikkan dengan
cara ini. Jika volume dosis tungggal lebih dari 15 ml, injeksi
intravenous tidak boleh mengandung bakterisida dan jika lebih dari 10
ml, harus bebas pirogen.
5. Injeksi intraterium
Umumnya larutan dapat mengandung cairan noniritan yang dapat
bercampur dengan air, volume 1 ml sampai 10 ml, digunakan jika efek
obat

diperlukan

segera

dalam

daerah

perifer.

Tidak

boleh

mengandung bakterisida.
6. Injeksi intratekal atau injeksi subarachnoid atau injeksi peridual
Larutan, umumnya tidak lebih dari 20 ml. tidak boleh mengandung
bakterisida dan diracik dalam wadah dosis tunggal.
7. Injeksi intrakor

Larutan, hanya digunakan untuk keadaan gawat, disuntikkan ke dalam


otot jantung atau ventrikulus. Tiadak boleh mengandung bakterisida.
8. Injeksi intraartikulus
Larutan atau suspensi dalam air, disuntikkan ke dalam cairan sendi
dalam rongga sendi.
9. Injeksi intrabursa
Larutan atau suspensi dalam air, disuntikkan ke dalam bursa
subarachnomilis atau bursa decranon.
10. Injeksi subkonjungtiva
Larutan atau suspensi dalam air untuk injeksi selaput lender mata
bawah, umumnya tidak lebih dari 1 ml.
L. Pengantar bentuk sediaan Farmasi : 400
Obat obat dapat di suntikkan ke dalam hampir seluruh organ atau
bagian tubuh termasuk sendi (intraarticular), ruang cairan sendi
(intrasynovial), tulang punggung ( intraspinal) ke dalam cairan spinal
(intratechal), arteri (intraarterial) , dan dalam keadaan gawat bahkan ke
dalam jantung (intracardiac). Tetapi, yang paling umum obat suntik di
maksudkan untuk di masukkan ke dalam vena (intravena, I.V), ke dalam
otot (intramuscular, I.M), ke dalam kulit (intradermal, I.D.,intrakutan) atau
di bawah kulit (subkutan,S.K.,sub Q, S.Q.,hipodermik,Hipo).
M. Formulasi Steril : 11-14
Cara pemberian obat parental sebagai berikut :

1. Subkutan atau di bawah kulit (s.c), yaiotu disuntikkan ke dalam tubuh


melalui bagian yang sedikit lemaknya dan masuk ke dalam jaringan di
bawah kulit; volume yang berikan tidak lebih dari 1 ml.
a. Larutan sebaiknya isotonis dan isohidris.
b. Larutan yang sangat menyimpang isotonisnya dapat menimbulkan
rasa nyeri atau nekrosis dan absorpsi zat aktif tidak optimal.
c. Onset of action obat berupa larutan dalam air lebih cepat dari pada
sediaan suspensi.
d. Determinan kevepatan absorpsi ialah total luas permukaan tempat
terjadinya penyerapan.
e. Absorpsi obat dapat diperlambat dengan menambahkan adrenaline
(cukup 1:100.00 200.000) yang menyebabkan konstriksi pembuluh
darah lokal, sehingga difusi obat tertahan atau diperlambat.
Contohnya injeksi Lidocaine Adrenalineuntuk cabut gigi.
f. Sebaiknya, absorpsi obat dapat dipercepat dengan penambahan
hyaluronidase, suatu enzim yang memecah mukopolisakarida dari
matriks jaringan yang menyebabkan penyebaran dipercepat.
g. Bila ada infeksi, maka bahayanya lebih besar daripada penyuntikan ke
dalam pembuluh darah karena pemberian subkutan mikroba menetap
di jaringan dan membentuk abses.
h. Zat aktif bekerja lebih ambat daripada secara i.v.
i. Pemberian s.c dalam jumlah besar dikenal
j.
a.
b.
2.

dengan

nama

hipodermoklise.
Contohnya :
Inj neutral insulin (Human Monocomponent) 40 iu/ml
Inj Fondaparinux Sodium 2,5 mg/0,5 ml prefiled syringe
Intramuskular (i.m), yaitu disuntikan ke dalam jaringan otot, umumnya

doi otot pantat atau paha.


a. Sediaan dalam bentuk larutan lebih cepat diabsorpsi daripada
suspensi pembawa air atau minyak.
b. Larutan sebaiknya isotonis.

c. Onset bervariasi tergantung besar kecilnya partike.


d. Sediaan dapat berupa larutan, emulsi, atau suspensi.
e. Zat aktif bekerja lambat (preparat depo) serta mudah terakumulasi,
seingga dapat menimbulkan keracunan.
f. Volume sediaan umumnya 2 ml sampai 20 ml dapat disuntikkan ke
dalam otot dada, sedangkan volume yang lebih kecil disuntikkan ke
g.
a)
b)
c)
3.
a.

dalam otot-otot lain.


Contohnya :
Injeksi penicilin G 3.000.000 unit
Injeksi serum antitetanus 10.000 atau 20.000 unit
Injeksi vitamin B kompleks
Intravena (i.v.), yaitu disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
Larutan dalam volume ecil (dibawah 5 ml) sebaiknya isotonis dan

isohidris, sedangkan volume besar (infus) harus isotonis dan isohidris.


b. Tidak ada fase absorpsi, obat langsung masuk ke dalam vena onset of
action segera.
c. Obat bekerja paling efisien, biovaibilitas 100%.
d. Obat harus berada dalam larutan air, bila emulsi lemak partikel minya
tidak boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit, sediaan suspensi
tidak dianjurkan.
e. Larutan hipertonis disuntikkan secara lambat, sehingga sel-sel darah
tidak banyak berpengaruh.
f. Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah, sehingga
menyebabkan hemolisa seperti saponin, nitrit, dan nitrobenzol.
g. Sediaan yang diberikan umumnya sediaan sejati.
h. Adanya partikel dapat menyebabkan emboli.
i. Pada pemberian dengan volume 10 atau lebih, sekali suntik harus
j.
4.
a.
1.
2.
3.

bebas pigoren.
Contohnya :
Injeksi ampicilin 500 mg, 1 gram
Infus sodium xhloride 0,9% 25 ml, 50 ml, 500 ml
Carapemberian parenteral lainnya :
Intraspinal, yaitu disuntikkan ke dalam sumsum tulang belakang.
Larutan harus insotonis dan isohidris.
Bila digunakan sebagai anestesi larutan hipertonis.
Contohnya :

Injeksi Xylocain heavy 0,5 % 2 ml (Bupivacaine HCl)


b. Peritoneal, yaitu kateter dimasukkan ke daam rongga perut dengan
operasi untuk tempat memasukkan cairan steril CAPD (Continous
1.
2.
3.
4.

Ambulatory Peritoneal Dialisis).


Larutan harus hipertonis.
Zat aktif diabsorpsi dengan cepat.
Volume diberikan dalam jumlah besar (1 atau 2 liter).
Infeksi mudah terjadi karena pemakian yang terus-menerus dan

penanganan yang tidak steril.


5. Biasa sebagai cuci darah dengan cara CAPD.
Contohnya : infus dianeal 1,5% atau 2,5% 2 liter.
c. Intraartikular, yaitu disuntikkan ke dalam sendi.
Larutan harus isotonis dan isohidris.
Contohnya : injeksi kenacort A 10 mg/ml amp 5 ml.
d. Intradermal, yaitu disuntikkan ke dalam kulit.
1. Larutan sebaiknya isotonis dan isohidris.
2. Volume yang disuntikkan kecil-kecil, antara 0,1 hingga 0,1 ml.
3. Biasa sebagai diagnostik mantoux tes atau tes alergi.
4. Contohnya : tes alergi antibiotik 1 ml.
Injeksi kenacort A 10 mg/ml amp 5 ml.
N. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy; 671
Ampul adapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher
ampul sehingga mementuk segel penutup atau segel atrik. Segel penutup
dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada gabian atas leher ampul
bulatan gelas dan menutup bagian terbuka. Segel tarik dibuat dengan
memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar didaerah ujungnya
kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapt
diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup.
Kesimpulan :
Rute rute Injeksi (8,10,14,15,17,22,23,24)
Rute

Tempat Injeksi

Vol
(ml)

Jarum suntik
yang umum
digunakan

Batas
Formulasi

Jenis
pengobatan
yang
diberikan

Inravena
LVPS

Subkutan

IIntramuskular

Intraarterial

Intratekal

Intraepidural

Intrasisternal

Intraartikular

Intrakardiak

Diinjeksi
secara 50 ml
langsung kedalam
salah satu vena
Diinjeksi
secara 100 &
langsung
ke lebih
dalam salah satu (unit
vena (Parenteral infus)
volume besar)
Diinjeksikan
di
2
bawah kulit dalam
lapisan
jaringan
subkutan
Diinjeksikan
ke
2
dalam otot, tempat
injeksi
biasa
adalah
gluteal
(bokong), deltoid
(lengan atas) dan
vustus
lateral
(paha atas)
Secara langsung 2 - 20
ke dalam arteri
(aksi
segera
terlihat
pada
daerah peripheral)
Secara langsung 1 4
ke dalam cairan
cerebrospinal
(dalam
kanal
spinal)
Ke dalam ruang 6 - 30
epidural
dekat
kolum spinal
Secara langsung
ke dalam daerah
caudal otak antara
cerebellum
dan
medulla oblongata
Secara langsung 2 - 20
dimaskukkan ke
dalam caudal otak
antara cerebellum
dan
medulla
oblongata
Secara langsung 0,2-1
ke dalam jantung
ketika
hidup

Veinpuncture
in 22 gauge

Larutan dan Hampir


beberapa
semua
emulsi
golongan obat
Venoclysis Larutan dan Hampir
in 19 gauge
beberapa
semua
emulsi
golongan obat
in 23 gauge

1
in
gauge

Dibutuhkan
Insulin, vaksin
tidak
harus
isotonis

22 Dapat berupa Hampir


larutan,emulsi semua
minyak
golongan obat
minyak atau
suspensi,
isotonik lebih
disukai

20 -22 gauge

Larutan dan Media


beberapa
radiopaque,
emulsi
antineoplastik,
antibiotik

24 48 gauge

Harus isotonis

5 in 16 18 Harus isotonik
gauge

Harus isotonik

1,5 2 inci
18 22 gauge

5 in, 22 gauge

Harus isotonik

Anestetik
lokal,
analgetik dan
bahan
neurolitik
Anestetik
local, narkotik,
agonis -2
steroid
antibiotik

Morfin,
anestetik
local,
AIS,
AINS,
antibiotik
Obat
kardiotonik,
kalsium.

Intrapleural

Intraperitonial

Intradermal

Intra okuler

terancam
(stimulasi
epinefrin
pada
pengobatan gagal
jantung)
Secara langsung
ke dalam rongga
pleural atau paruparu
(juga
digunakan untuk
menarik cairan)
Secara langsung
ke dalam rongga
perut/
rongga
abdominal dalam
visera
Secara langsung
ke dalam lapisan
kulit epidermis di
bawah
stratum
korneum
Ke
dalam
chamber anterior
mata
(injeksi
chamber
anterior(
secara
langsung
ke
dalam
lubang
vitreus
mata
(intravitreal),
injeksi
disekitar
bagian posterior
bulat (retrobular)
secara langsung
diberikan dibawah
konjungtiva
(injeksi
konjungtiva)

2-30

2-5 in
10-55 gauge

Anestetik
lokal, narkotik.

Vaksin rabies,
larutan
pencuci ginjal
0,10,5

in.
26 gauge

Sebaiknya
isotonic

0,10,2

II.1.4 Keuntungan dan kerugian sediaan parenteral


II.1.4.1 Keuntungan sediaan parenteral
a. Sterile Dosage Forms : 11

Bahan
diagnastik
vaksin
Antinfiamasi,
anestetik,
midmatik

1. Respon fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan,


yang menjadi pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal
jantung, asma, syok.
2. Terapi parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara
oral atau yang dapat dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin,
hormon dan antibiotik.
3. Obat-obat untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak sadar
harus diberikan secara injeksi.
4. Bila memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli
karena pasien harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga
dalam beberapa kasus, pasien tidak dapat menerima obat secara oral.
5. Penggunaan parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila
diinginkan seperti pada gigi dan anestesi.
6. Dalam kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk
parenteral tersedia, termasuk injeksi steroid periode panjang secara
intra-artikular dan penggunaan penisilin periode panjang secara i.m.
7. Terapi

parenteral

dapat

memperbaiki

kerusakan

serius

pada

keseimbangan cairan dan elektrolit.


8. Bila makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total
diharapkan dapat dipenuhi melalui rute parenteral.
2. Parenteral Technology Manual : 6
1. Aksi obat biasanya lebih cepat.
2. Seluruh dosis obat digunakan.

3. Beberapa obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif
ketika diberikan secara oral, dan harus diberikan secara parenteral.
4. Beberapa obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat
ditoleransi ketika diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat
dektrosa.
5. Jika pasien dalam keadaan hidrasi atau shok, pemberian intravena
dapat menyelamatkan hidupnya.
3. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics : 283
Beberapa

obat

mempunyai

keuntungan

dibandingkan

dengan

pemberian secara oral.


1. Pemberian rute ini adalah penting ketika jalur gastrointestinal tidak
dapat digunakan karena pembedahan atau kekurangan stabilitas,
seperti obat-obat penisilin dan penisilin G.
2. Respon fisiologis dari injeksi lebih cepat dan efektif dibandingkan
pemberian secara oral.
3. Dalam kasus darurat dimana pasien tidak sadar atau tidak menerima
obat oral, pemberian parenteral dapat memberikan efek yang segera
dan menentu.
4. Injeksi dapat menghasilkan efek lokal. Anestesi lokal digunakan oleh
dokter gigi untuk menginjeksi dekat batang dari serabut dan membantu
sensasi nyeri segera pada daerahnya.
4. Pharmaceutical practice: 247
Terapi parenteral digunakan untuk:

1. Menghasilkan efek yang dibatasi


2. Pemberiab obat jika rute oral tidak dapat digunakan
3. Pemberian obat pada pasien yang tidak sadar
4. Mengembalikan dengan cepat cairan dan elektrolit
5. Menjamin penyaluran obat ke jaringan target
5. Dispending Of Medication by Hoover : 258
1) Membutuhkan tanggung jawab dalam pembuatan, pembagian dan
kontrol pada pencampuran secara parenteral
2) Mengurangi kebutuhan perawat untuk mencampur, kesebaran merata
dan aktivitasnya
3) Membutuhkan standarisasi label pada pencampuran larutan untuk
membantu mengurangi kesadaran
4) Membutuhkan persiapan kontrol yang efektif pada penggunaan, obat
yang kadaluwarsa pada pencampurannya.
5)

Membutuhkan persiapan akurasi pada kalkulasi bahan dan dalam


proses pembuatannya

6) Membutuhkan control kondisi lingkungan dengan menggunakan LAF.


II.1.4.2 Kerugian sediaan parenteral
1) Sterile Dosage Forms : 11
1. Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan
membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pemberian
rute lain.

2. Pada pemberian parenteral dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk


pengerjaan secara aseptik dari beberapa rasa sakit tidak dapat
dihindari.
3. Obat

yang

diberikan

secara

parenteral

menjadi

sulit

untuk

mengembalikan efek fisiologisnya.


4. Yang terakhir, karena pada pemberian dan pengemasan, bentuk
sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute yang lain.
2) Parenteral Technology Manual : 11
1. Beberapa rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien,
terutama bila sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk
pemakaian i.v.
2. Dalam beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk
mengatur dosis.
3. Sekali digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya.
Jika pasien hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah
penggunaan, efeknya sulit untuk dikembalikan lagi.
4. Pemberian beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian
sebab udara atau mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek
sampingnya dapat berupa reaksi phlebitis, pada bagian yang
diinjeksikan.
3) Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics : 283
Beberapa orang tidak menyukai pemberian injeksi karena :
1. Umumnya, injeksi itu tidak nyaman.

2. Dibutuhkan orang-orang yang terlatih untuk pemberiannya.


3. Perhatian harus diberikan untuk injeksi intravena.
4. Reaksi sensitivitas lebih sering terjadi pada parenteral daripada bentuk
sediaan lain.
5. Terapi parenteral lebih mahal daripada bentuk yang lain karena
penggunaan dan produksinya.
4) Modern Pharmaceutical ; 441
Kerugian rute parenteral meliputi frekuensi nyeri dan rasa tidak
nyaman dari injeksi, dengan rasa takut psikologi terhadap jarum suntik,
tambahan pada kenyataan bahwa obat atau dosis yang tidak tepat sering
membahayakan atau tidak mungkin ditiadakan ketika telah diberikan
secara parenteral (terutama secara intravena) daripada oral.
5) Dispending Of Medication by King ; 167-168
a. Membutuhkan kontra proses lingkungan, keahlian dan teknik khusus
untuk formulasi, preparasi, penanganan dan penggunaan klinik
b. Rasa nyeri atau ketidaknyamanan secara psikologi diperoleh dengan
injeksi
c. Bahaya masalah introgenik dari terapi obat
d. Biaya relatif mahal
6) Dispending Of Medication by Martin ; 969
Kerugian parenteral meliputi dibutuhkannya teknik aseptik dalam
produksi

dan

pemberian,

membutuhkan

keahlian

khusus

untuk

pemberian, nyeri yang nyata atau rasa takut secara psikologi, dengan
injeksi dan biaya yang relatif mahal. Bagaimanapun, ada dua kerugian
yang jika tidak dikontrol atau diamati dengan seksama dapat menunjukkan

akibat fatal. Ini berkembang cepat dari reaksi alergenik pada individu yang
sensitif dan sebagai akibat dari efek kesalahan pada pemilihan atau dosis
obat terjadi. Ini sangat sulit jika tidak mungkin untuk mengembalikan efek
serupa.
7) American Pharmacy ; 225-226
a. Rasa takut sebagian besar orang pada jarum suntik hipodermik
b. Biaya pengobatan yang meningkat adalah faktor lain, sangat mahal
untuk memasarkan obat dalam bentuk injeksi daripada tablet atau
kapsul
c. Produk

injeksi

memerlukan

lebih

banyak

perhatian

dalam

pemeliharaan dari perlakuan bentuk dosis sederhana


d. Tidak dapat diberikan tanpa penggunaan perlengkapan khusus, dan
metode pemberian memerlukan latihan khusus.
8) Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts ; 192-193
Ada sedikit keraguan, dari sudut pandang psien, produk parenteral
merupakan salah satu bentuk pemberian yang kuang diinginkan. Ini
berdasarkan rasa takut yang umum karena sakit dari jarum.
9) Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition ; 1546
Diantara kerugian dari bentuk dosis ini memenuhi syarat pemberian
aseptis, resiko toksisitas jaringan dan iritasi lokal, nyeri nyata atau faktor
psikologi dan kesulitan dalam kesalahan pemeriksaan yang dilakukan.
Pada situasi lain, sedikit antagonis langsung farmakologi yang segera
ada, pemeriksaan yang salah tidak mungkin ada. Satu kerugian lain
adalah tiap hari atau frekuensi pemberian merupakan kesulitan bagi

pasien untuk mengunjungi ahli yang profesional atau belajar untuk


menginjeksi diri sendiri.
10) Dispending Of Medication by Hoover : 258
1) Kebutuhan teknik aseptic pada produksinya, pencampuran dan
pemberiannya
2) Membutuhkan keahlian khusus sebagai syarat untuk pembuatan
3) Nyeri fisiological dengan adanya injeksi
Kesimpulan :
Keuntungan :
1. Dapat digunakan pada obat yang tidak dapat diberikan pada rute oral.
(14,24,25)
2. Dapat diberikan pada pasien yang tidak kooperatif, mual atau muntah
dan tidak sadar.( 4,9,13,14,15,22,23,24,25)
3. Aksi obat dan respon fisiologis cepat.(4,13,14,22,25)
4. Dapat menghasilkan efek yang dibatasi dan efek sistemik, tergantung
tujuan terapi.(9,13,24,25)
5. Dapat digunakan untuk memperbaiki atau mengembalikan cairan dan
elektrolit tubuh.(24,25)
6. Dapat digunakan pada keadaan darurat untuk mempertahankan hidup
pasien.(15)
7. Rute pemberian bervariasi sehingga memunkinkan pemberian suatu
obat mencapai organ target atau tempat yang dibutuhkan.(16)
Kerugian :

1. Bentuk sediaan harus diberikan oleh orang yang ahli.(13,15,16,25)


2. Pemberian parenteral membutuhkan ketelitian yang cukup dalam
mengatur dosis.(14,23)
3. Membutuhkan pengerjaan secara aseptik.(4,15)
4. Rasa sakit yang tidak disukai oleh pasien kadang dapat terjadi.
(4,14,16, 22,23)
5. Reaksi sensitivitas lebih sering terjadi pada parenteral daripada bentuk
sediaan lainnya.(13)
6. Akibat yang dapat terjadi dari reaksi alergenik pada individu yang
sensitif dan kesalahan pada pemilihan dosis berakibat fatal karena
tidak mungkin untuk mengembalikan efek serupa.(25)
7. Biaya relatif mahal.(9,13,15,16,25)
8. Metode pembuatan rumit, sehingga sedikit farmasis yang dapat
membuat produk.(23)
9. Produk

injeksi

lebih

banyak

memerlukan

perhatian

dalam

pemeliharaan karena pasien harus mengunjungi ahli profesional atau


belajar untuk menginjeksi diri sendiri. (16)

II.1.5 Komposisi injeksi


a. Sterile Dosage Forms : 16

Obat-obat dalam larutan dalam pembawa yang cocok, dengan atau


tanpa bahan tambahan, ditujukan untuk penggunaan parenteral yang
dikenal sebagai injeksi. Injeksi dapat dikemas sebagai unit dosis tunggal
atau unit dosis ganda, volumenya dapat sejumlah setengah milliliter,
seperti injeksi Atropin Sulfat atau sebanyak 1 L seperti injeksi dektrosa.
b. Pharmaceutical Practice ; 250-255
Formulasi produk parenteral :
1) Pembawa untuk injeksi
Obat umumnya ada dalam suatu injeksi dalam konsentrasi rendah.
Pembawa memberikan proporsi sangat tinggi dari formulasi dan tidak
toksik juga tidak mempunyai aktivitas terapeutik. Air sering mengandung
variasi luas kontaminan seperti elektrolit, organisme dan partikulat, dan
gas tidak larut seperti karbondioksida dan klorin. Variasi luas dari
kontaminan

menyebabkan

masalah

dalam

preparasi

air

untuk

penggunaan injeksi. Ini disebut air untuk injeksi dan harus digunakan
sebagai pembawa untuk produk parenteral.
2) Pelarut bukan air
Air bercampur kosolven seperti gliserin dan propilenglikol, digunakan
sebagai pembawa dalam cairan parenteral volume kecil. Bahan ini
digunakan untuk meningkatkan solubilitas obat dan menstabilkan obat
yang didegradasi melalui hidrolisis.
3) Bahan tambahan
Variasi bahan tambahan seperti bahan antimikrobial, antioksidan,
buffer, pengkhelat dan bahan penambah atau pengatur tonisitas
digunakan dalam formulasi injeksi. Tujuannya adalah untuk menghasilkan
produk yang aman dan elegan.
a. Bahan antimikrobial

Beberapa ditambahkan pada produk jika dikemas dalam dosis ganda


vial. Bahan ini tidak digunakan dalam volume besar atau jika formulasi
obat memiliki kemampuan aktivitas antimikroba. Bahan antimikrobial
ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan organisme yang dapat
berupa kontaminasi selama penggunaan produk.
Bahan antimikroba harus steril dan efektif pada bentuk bebas,
aktivitasnya dapat secara cepat menurun melalui interaksi dengan
komponen bahan injeksi.
Penutup karet memperlihatkan penyerapan pengawet antimikroba dari
larutan injeksi. Penyerapan pengawet lebih signifikan dengan bahan alami
dan karet neopren dan lebih sedikit dengan penutup karet butyl.
b. Antioksidan
Banyak obat dalam larutan cair lebih mudah didegradasi melalui
oksidasi. Produk parenteral volume kecil dari obat sering mengandung
antioksidan. Bisulfit dan metabisulfit yang paling sering atau umum
digunakan sebagai antioksidan dalam larutan injeksi. Antioksidan harus
dipilih secara hati-hati untuk penggunaannya dalam injeksi untuk menjaga
interaksi dengan obat. Antioksidan memiliki potensi oksidasi yang lebih
rendah dari obat dan mencegah oksidasi atau memblok reaksi oksidatif.
Mungkin formula injeksi, ditambahkan antioksidan juga mengandung
pengkhelat.

Bahan

pengkhelat

seperti

EDTA

atau

asam

silat

menghilangkan bekas elemen degradasi katalis oksidatif.


c. Buffer
pH ideal sediaan parenteral adalah pH 7,4. Jika pH diatas pH 9,
nekrosis jaringan dapat dihasilkan, sedangkan di bawah pH 3 nyeri dan
radang pembuluh darah pada jaringan dapat terjadi. Buffer digunakan

pada injeksi untuk mempertahankan pH dari kemasan produk. pH berubah


dapat

meningkat

melalui

interaksi

antara

produk

dan

wadah.

Bagaimanapun, buffer yang digunakan dalam injeksi harus dapat diterima


cairan tubuh untuk merubah pH produk setelah injeksi. Buffer asetat, sitrat
dan fosfat yang umum digunakan pada produk parenteral.
d. Bahan pengatur tonisitas
Larutan isotonik sama dengan tekanan osmotik plasma darah dan
tidak membahaykan membran sel darah merah. Larutan hipotonik
memiliki tekanan osmotik yang lebih rendah dari plasma darah dan
menyebabkan sel darah mengembang dan pecah karena cairan masuk ke
dalam sel melalui osmosis. Larutan hipertonik memiliki tekanan osmotik
yang lebih tinggi dari plasma, sebagai akibatnya sel darah merah
kehilangan cairan dan menyusut. Larutan cairan hipotonik dibuat isotonik
melalui penambahan NaCl, glukosa atau manitol.
c. Dipending Of Medication by King ; 180-182
Komponen produk :
1) Pembawa
Sejak sistem transpor tubuh manusia adalah cairan, obat alami
diinjeksikan secara normal ke dalam sistem cairan. Tetapi karena
kelarutan dan stabilitas bahan terapeutik tidak selamanya dapat
diformulasi ke dalam sistem, dibutuhkan sistem pelarut yang dapat
bercampur dengan air dan yang tidak bercampur dengan air. Untuk semua
produk, pembawa harus tidak toksik dalam jumlah yang diberikan.
Spesifikasi kemurnian harus tegas dan jelas.
a. Pembawa air

Air untuk injeksi (API) yang paling sering digunakan dan pembawa
paling penting untuk sediaan injeksi.
b. Pembawa bukan air
Pembawa bukan air meliputi bahan yang bercampur dengan air dan
yang tidak bercamput. Hanya sedikit pembawa yang mempunyai level
toksisitas cukup rendah atau sensitasi untuk injeksi. Sangat sedikit dari
bahan ini yang dapat diinjeksikan ke dalam aliran darah, dan terbatas
pada injeksi intramuskular atau subkutan dalam volume kecil.
2) Bahan larut
Bahan larut dalam formulasi parenteral meliputi bahan obat atau
substansi yang ditambahkan untuk mengawetkan atau efek lain, harus
dapat diterima dalam kualitas tinggi. Komersial dasar yang diperlukan
dapat membutuhkan pemurnian lebih lanjut untuk membuatnya sesuai
untuk penggunaan dalam produk parenteral. Spesifikasi kemurnian harus
tegas dan jelas untuk tiap bahan dan harus meliputi persyaratan untuk
potensi dan kemurnian bahan, tingkat spesifik bebas kontaminan,
karakteristik kelarutan sebagai perbedaan bentuk fisik komponen, bebas
dari kontaminasi mikroba, bebas dari kontaminasi pirogenik, dan bebas
dari kotoran besar.
Pada penambahan bahan obat, kebanyakan formulasi mengandung
satu atau lebih substansi tambahan untuk mengawetkan meliputi bahan
antibakteri, antifungal, antioksidan, pengkhelat, pelarut, buffer dan bahan
penambah tonisitas.
3) Antifungal atau antibakteri harus ditambahkan dalam formulasi wadah
dosis ganda dan digunakan dalam produk untuk metode sterilisasi
kecil. Bahan ini digunakan pada konsentrasi relatif rendah untuk

menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin terjadi


selama penggunaan.
4) Antioksidan digunakan untuk melindungi obat dari efek oksidasi dan
oksigen atau bahan lain di lingkungan.
5) Bahan pengkhelat sering digunakan

untuk

menambah

aksi

antioksidan melalui pembentukan kompleks ion logam yang akan


mengkatalisis oksidasi.
6) Buffer biasanya digunakan dalam formulasi untuk menstabilkan pH
selama proses dan penyimpanan, melalui perlindungan obat yang
sensifif dari variasi dalam konsentrasi ion hidrogen.
7) Formulasi ini juga ditambahkan bahan pengatur tonisitas larutan.
d. Dispending Of Medication by Martin ; 976-979
Komponen produk :
1) Pembawa
Sejak sistem transpor tubuh manusia adalah cairan, obat alami
diinjeksikan secara normal ke dalam sistem cairan. Tetapi karena
kelarutan dan stabilitas bahan terapeutik tidak selamanya dapat
diformulasi ke dalam sistem, dibutuhkan sistem pelarut yang dapat
bercampur dengan air dan yang tidak bercampur dengan air. Untuk semua
produk, pembawa harus tidak toksik dalam jumlah yang diberikan.
Spesifikasi kemurnian harus tegas dan jelas.
a. Pembawa air
Air untuk injeksi (API) yang paling sering digunakan dan pembawa
paling penting untuk sediaan injeksi.
b. Pembawa bukan air
Pembawa bukan air meliputi bahan yang bercampur dengan air dan
yang tidak bercamput. Hanya sedikit pembawa yang mempunyai level
toksisitas cukup rendah atau sensitasi untuk injeksi. Sangat sedikit

dari bahan ini yang dapat diinjeksikan ke dalam aliran darah, dan
terbatas pada injeksi intramuskular atau subkutan dalam volume kecil.
2) Bahan larut
Bahan larut dalam formulasi parenteral meliputi bahan obat atau
substansi yang ditambahkan untuk mengawetkan atau efek lain, harus
dapat diterima dalam kualitas tinggi. Komersial dasar yang diperlukan
dapat membutuhkan pemurnian lebih lanjut untuk membuatnya sesuai
untuk penggunaan dalam produk parenteral. Spesifikasi kemurnian harus
tegas dan jelas untuk tiap bahan dan harus meliputi persyaratan untuk
potensi dan kemurnian bahan, tingkat spesifik bebas kontaminan,
karakteristik kelarutan sebagai perbedaan bentuk fisik komponen, bebas
dari kontaminasi mikroba, bebas dari kontaminasi pirogenik, dan bebas
dari kotoran besar.
Pada penambahan bahan obat, kebanyakan formulasi mengandung
satu atau lebih substansi tambahan untuk mengawetkan meliputi bahan
antibakteri, antifungal, antioksidan, pengkhelat, pelarut, buffer dan bahan
penambah tonisitas.
3) Antifungal atau antibakteri harus ditambahkan dalam formulasi wadah
dosis ganda dan digunakan dalam produk untuk metode sterilisasi
kecil. Bahan ini digunakan pada konsentrasi relatif rendah untuk
menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang mungkin terjadi
selama penggunaan.
4) Antioksidan digunakan untuk melindungi obat dari efek oksidasi dan
oksigen atau bahan lain di lingkungan.

5) Bahan

pengkhelat

sering

digunakan

untuk

menambah

aksi

antioksidan melalui pembentukan kompleks ion logam yang akan


mengkatalisis oksidasi.
6) Buffer biasanya digunakan dalam formulasi untuk menstabilkan pH
selama proses dan penyimpanan, melalui perlindungan obat yang
sensifif dari variasi dalam konsentrasi ion hidrogen.
7) Dalam formulasi, juga digunakan bahan pengatur tonisitas dari
larutan. Penambahan bahan pengatur tonisitas menjadi kondisi
isotonis sangat penting untuk menjaga integritas sel darah merah,
pada pemberian secara intravena dari volume besar larutan atau
mencegah nyeri pada injeksi secara subkutan atau intramuskular,
pada syarat akhir.
e. Ensiklopedia vol.11; 226-230
1) Pelarut
Pelarut yang secara luas digunakan pada SVP adalah air untuk injeksi
(API) USP, sebagai pelarut digunakan dalam komponen formulasi dan
harus disterilisasi akhir. Ini disiapkan melalui destilasi atau osmosis balik
dan tingkat kemurnian air dari kontaminasi endotoksin.
2) Bahan penambah kelarutan
Bahan penambah kelarutan obat yang sedikit larut dalam air meliputi
jenis yang ditunjukkan dibawah ini, dengan perbedaan mekanisme untuk
meningkatkan kelarutan dalam air : kosolven, gliserin, PEG 300 dan 400,
propilenglikol, etanol, surfaktan : polisorbat 80 0,1-0,5%, pluronik 68 0,050,25%, agen pembentuk kompleks : -siklodekstrin, polivinil pirolidon.
Cairan bahan penambah kelarutan pada dasarnya termasuk kosolven
yang dapat bercampur dengan air, seperti etanol, propilenglikol, PEG 400,

dan gliserin. Pelarut bekerja dengan menurunkan tetapan dielektrik air


sehingga meningkatkan kelarutan hidrofobik atau obat hidrofilik yang
sukar larut. Bahan aktif permukaan meningkatkan kemampuan dispersi
dan kelarutan air dari bahan yang sukar larut karena susunan kimianya
yang unik yang memiliki baik bagian fungsi hidrofobik dan hidrofilik pada
molekul yang sama. Bagian hidrofobik mengadsorpsi permukaan molekul
obat, sedangkan bagian hidrofilik berinteraksi dengan molekul air.
Bahan penambah kelarutan dalam bentuk padatan meliputi
siklodekstrin yang bekerja melalui pembentukan kompleks yang larut
dalam larutan air. Molekul ini, seperti bahan aktif permukaan, adalah
amfifilik yaitu mengandung fungsi hidrofobik pada bagian interior dan
fungsi hidrofilik pada eksterior.
3) Bahan pengawet antimikrobial
Bahan penyelamat untuk mempertahankan sterilitas produk selama
penyediaan produk dan penggunaan. Bahan ini diberikan dalam preparasi
dosis ganda dari beberapa wadah karena kemungkinan terkecil terhadap
kontaminasi selama penggunaan. Ini juga digunakan meskipun terjadi
kontroversi dalam produk dosis tunggal yang dibuat secara aseptik untuk
memberi jaminan sterilitas tambahan. Ini dapat diterima selama
memperlihatkan bahwa bahan antimikrobial tidak digunakan untuk
menutupi ketidakcukupan teknik aseptik. Contohnya : fenol, m-kresol,
metil paraben, propil paraben, klorobutanol, benzil alkohol, benzalkonium
klorida, thimerosal.
4) Buffer
Buffer digunakan untuk mempertahankan pH larutan pada range
maksimum untuk memberi stabilitas obat dari degradasi hidrolitik. Sistem

buffer digunakan dalam SVPs meliputi asam lemah dan garam natrium.
Pemilihan buffer yang sesuai tergantung pada range pH dimana obat itu
dapat stabil.
Beberapa sistem buffer yang umum digunakan dalam produk parenteral
volume kecil :
pH
sistem buffer konsentrasi (%)
3,5 5,7
asam asetat asetat
12
2,5 6,0
asam sitrat sitrat
15
6,0 8,2
asam fosfat fosfat
0,8 2
8,2 10,2
asam glutamat glutamat
12
5) Antioksidan
Fungsi antioksidan melalui reaksi yang istimewa, lebih baik dari obat,
dengan molekul oksigen, jadi meminimalisir atau menghentikan reaksi
oksidasi. Reaksi oksidasi meliputi pembentukan radikal bebas yang
dikatalisis oleh faktor lingkungan, seperti cahaya, logam berat, panas,
peroksid, ion hidroksid dan udara. Banyak obat digunakan pada produk
SVP sensitif terhadap oksigen dan degradasi dengan cepat tanpa
perlindungan penambahan antioksidan. Perhatian lain yang harus
diperhatikan seperti perlindungan terhadap cahaya, panas, logam berat
dan peroksid; formulasi produk pada pH rendah adalah hal lain yang
harus diperhatikan.
6) Bahan penstabil protein
Aksi terapeutik protein dan peptida menjadi penting dalam formulasi
SVP. Bahan ini sangat reaktif dengan air, komponen formulasi lain,
komponen wadah, dan udara dalam wadah, dan sensitivitas yang tinggi
untuk merubah kondisi lingkungan seperti temperatur, pH, cahaya,
kelembaban, dan manipulasi secara mekanik reaksi degradasi baik kimia
maupun fisika. Protein dengan baik diketahui mengagregasi pada

temperatur berlebih (panas dan dingin) atau melalui pengocokan dan


penggunaan. Agregasi protein tidak hanya mempengaruhi protein kimia,
tetapi juga penampakan fisika dan kualitas. Beberapa jenis bahan
digunakan untuk meminimalis degradasi protein dan SVPs.
Sebagian besar bahan meliputi serum albumin : asam amino seperti
glisin, lisin, dan glutamin; bahan surfaktan terutama polixamer 188
(pluronik 68) dan polisorbat 80; polihidroksi seperti sorbitol, gliserol dan
PEG; karbohidrat seperti laktosa dan maltosa; dan antioksidan, bahan
pengkhelat, polivinil pirolidon, alkohol, dektrosa dan gelatin.
7) Penambah tonisitas
Banyak jenis bahan yang digunakan untuk menambah tonisitas SVP.
Yang paling umum adalah elektrolit seperti natrium klorida dan garam
natrium lain, dan nonelektrolit seperti gliserin dan laktosa. Normalnya,
formulator SVP pertama harus percaya bahwa konsentrasi obat dan
bahan lain membutuhkan kelarutan, stabilitas atau tujuan lain. Satu yang
dilakukan setelah formulasi, osmolaritas diukur dan jika hipotonik,
penambah tonisitas ditambahkan. Jika formulasi hipertonik, tetapi pada
level yang tidak dapat diterima untuk pemberian, formulasi membutuhkan
bahan cair atau bahan pereduksi.
8) Bahan lainnya
Bahan serbuk digunakan dalam preparasi Freeze-dried untuk
meningkatkan kontak padatan yang dihasilkan dari proses liofilisasi untuk
membantu pemeriksaan kualitas produk. Trio- dan lioprotektan digunakan
dalam preparasi Freeze-dried, terutama protein yang sensitif terhadap
prosedur pendinginan dan pengeringan. Bahan ini mencegah degradasi
protein selama pendinginan, pengeringan, dan selama penyimpanan.

Bahan pensuspensi memelihara obat yang disuspensi dalam pelarut


setelah pengocokan dan mensuspensi kembali. Bahan pengemulsi
menurunkan tegangan permukaan untuk membuat formulasi campuran
minyak dan pelarut air. Bahan semisolid meningkatkan kemampuan
dispersi obat dalam salep mata dan memberi basis salep. Contohnya :
a. bahan serbuk : manitol, laktosa, sukrosa, dekstrosa
b. bahan pensuspensi : Na-CMC, gelatin, sorbitol
c. trio- dan lioprotektan : sukrosa, polivinil pirolidon, metil selulosa, gelatin
d. basis salep mata : petrolatum
f. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi ; 406-410
1) Pelarut dan pembawa untuk obat suntik
a. Pembawa air
Pelarut yang paling sering digunakan pada pembuatan obat suntik
secara besar-besaran adalah air untuk injeksi (water for injection USP). Air
ini dimurnikan dengan cara penyulingan atau osmosis terbalik (reverse
osmose) dan memenuhi standar yang sama dengan purified water USP
dalam hal jumlah zat padat yang ada yaitu tidak lebih dari 1 mg per 100 ml
API USP dan tidak boleh mengandung zat penambah. Walaupun air untuk
obat suntik tidak disyaratkan steril tetapi harus bebas pirogen. Air tersebut
dimaksudkan untuk pembuatan produk yang disuntikkan yang akan
disterilkan setelah dibuat. Air untuk obat suntik harus disimpan dalam
wadah yang tertutup rapat pada temperatur di bawah atau di atas kisaran
temperatur dimana mikroba dapat tumbuh. Air untuk obat suntik
dimaksudkan

untuk

digunakan

dalam

waktu

24

jam

sesudah

penampungan. Tentunya harus ditampung dalam wadah yang bebas


pirogen dan steril. Wadah umumnya dari gelas atau dilapis gelas.
b. Pembawa bukan air

Walaupun pembawa air merupakan pembawa umum yang dipilih


sebagai pembawa obat suntik, tetapi penggunaanya dalam formulasi
mungkin dihindari karena kelarutan senyawa obat dalam air terbatas atau
senyawa obat mudah terhidrolisis. Bila faktor-faktor fisika dan kimia
membatasi penggunaan pembawa air secara keseluruhan, pembuat
formulasi harus beralih pada suatu pembawa bukan air.
Diantara pelarut bukan air yang sekarang digunakan sebagai produk
parenteral adalah minyak-minyak lemak nabati, gliserin, polietilen glikol,
propilenglikol, alkohol dan yang lebih jarang digunakan adalah etil oleat,
isopropil miristat dan dimetilasetamid. Semua ini dan pembawa bukan air
lainnya dapat digunakan asalkan aman dan tidak mempengaruhi efek
terapi sediaan atau bereaksi pada penentuan kadar dan pemeriksaanpemeriksaan lainnya dalam jumlah yang diberikan. Batasan-batasan
ditetapkan oleh USP untuk minyak lemak nabati yang dapat digunakan
pada produk parenteral. Antara lain harus tetap jernih bila diinginkan
sampai 10C untuk menjamin kestabilan dan kejernihan produk obat
suntik selama penyimpanan di lemari pendingin. Minyak harus tidak boleh
mengandung minyak mineral atau parafin karena zat-zat tersebut tidak
diabsorpsi jaringan tubuh.
2) Zat tambahan
USP mengizinkan penambahan zat-zat yang sesuai ke dalam sediaan
resmi yang digunakan sebagai obat suntik, dengan tujuan meningkatkan
kestabilan atau kegunaan, asalkan tidak dilarang sesuai yang tercantum
dalam monograf masing-masing, tidak berbahaya dalam jumlah yang
diberikan dan tidak mengganggu efek terapi sediaan alat penentuan kadar

dan pemeriksaan-pemeriksaan. Senyawa penambah kebanyakan adalah


pengawet antimikroba, dapar, penambah kelarutan, antioksidan, dan lainlain. Zat-zat yang dipergunakan hanya untuk pewarna dilarang keras
diberikan dalam produk parenteral.
Selain zat tambahan yang berefek menstabilkan, udara di dalam
produk obat suntik sering diganti dengan gas inert seperti nitrogen untuk
meningkatkan kestabilan produk dengan mencegah reaksi kimia antara
oksigen dalam udara dengan obat.
g. Farmakope Indonesia edisi III ; 14
1) Zat pembawa berair, umumnya air untuk injeksi digunakan sebagai
pembawa untuk injeksi berair. Injeksi NaCl, injeksi NaCl majemuk,
injeksi glukosa, campuran gliserol dan etanol atau zat pembawa berair
lainnya dapat juga digunakan. Zat pembawa berair harus memenuhi
uji pirogenitas.
2) Zat pembawa tidak berair, umumnya minyak untuk injeksi. Minyak
untuk injeksi (olea pro injectione) meliputi minyak lemak, ester asam
lemak tinggi alam maupun sintetik. Minyak injeksi harus memenuhi
syarat : (1) harus jernih pada suhu 10, (2) tidak berbau asing atau
tengik, (3) bilangan asam 0,2 0,9, (4) bilangan iodium 79 128, (5)
bilangan penyabunan 185 -204, (6) harus bebas minyak mineral.
3) Larutan dapar, umunya digunakan larutan dapar fosfat, larutan dapar
borat, dan larutan dapar lain yang mempunyai kapasitas dapar
rendah.
4) Zat pengawet, kecuali dinyatakan lain, zat pengawet yang cocok
dapat ditambahkan ke dalam injeksi yang diisikan ke dalam wadah

dosis ganda atau injeksi yang dibuat secara aseptik. Untuk zat yang
mempunyai sifat bakterisida, tidak perlu ditambahkan zat pengawet.
Kadar zat pengawet harus sedemikian rupa sehingga dapat
mencegah pertumbuhan jasad renik. Untuk injeksi berair umumnya
digunakan fenol 0,5% b/v, kresol 0,3% b/v, klorkresol 0,1% b/v,
klorbutanol 0,5% b/v dan fenil raksa (II) nitrat 0,001% b/v.
h. Modern Pharmaceutics ; 450-457
1) Bahan aktif
2) Bahan tambahan
a. Antioksidan
Garam-garam sulfurdioksida, termasuk bisulfit, metasulfit dan sulfit
adalah yang paling umum digunakan sebagai antioksidan. Selain itu
digunakan :
1. Asam askorbat
2. Sistein
3. Monotiogliseril
4. Tokoferol
b. Bahan antimikroba atau pengawet
1. Benzalkonium klorida
2. Benzil alkohol
3. Klorobutanol
4. Metakreosol
5. Timerosol
6. Butil p-hidroksibenzoat
7. Metil p-hidroksibenzoat
8. Propil p-hidroksibenzoat
9. Fenol
c. Buffer
1. Asetat
2. Sitrat
3. Fosfat
d. Bahan pengkhelat
1. Garam etilendiamintetraasetat (EDTA)
2. Gas inert
3. Nitrogen

4.
e.
1.
2.
3.
4.
5.
f.
1.
2.
g.
1.
2.

Argon
Bahan penambah kelarutan (kosolven)
Etil alkohol
Gliserin
Polietilen glikol
Propilen glikol
Lecithin
Surfaktan
Polioksietilen
Sorbitan monooleat
Bahan pengisotonis
Dekstrosa
NaCl

h. Bahan pelindung
1. Dekstrosa
2. Laktosa
3. Maltosa
4. Albumin serum manusia
i. Bahan penyerbuk
1. Laktosa
2. Manitol
3. Sorbitol
4. Gliserin
3) Pembawa
a. Pembawa air
Menggunakan air untuk injeksi
b. Pembawa nonair dan campuran
a. Minyak nabati
a) Minyak jagung
b) Minyak biji kapas
c) Minyak kacang
d) Minyak wijen
b. Pelarut bercampur air
a) Gliserin
b) Etil alkohol
c) Propilen glikol
d) Polietilenglikol 300
Kesimpulan :
komposisi injeksi (15,21,22,24,25)
a. zat aktif merupakan bahan yang memiliki aksi tempentik.

b. Bahan tambahan
Bahan tambahan yang ditambahkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Bahan
tambahan
Antimikroba

Tujuan tambahan
Pengawet
produk

dibutuhkan

parental

dosis

Contoh bahan
tambahan
dapa Benzolkonium
ganda klorida

Konsentrasi
(%)
0,01
1-2

untuk menghambat pertumbuhan Benzil alkohol

0,25-0,5

mikroorganisme

0,1-0,3

tidak

sengaja

penggunaan.
ditambahkan

yang
masuk

Pengawet
pada

secara Klorobutanol
selama Metakresol
dapat Butil

P.

0,015
Hidroksi

produk benzoat

parental dosis tunggal yang tidak Metil

P. Hidroksi

disterilisasi akhir sebagai langkah benzoat


jaminan

sterilitas,ini

mencegah

0,1-0,2
0,2
0,25-0,5
0,01

untuk Propil P. Hidroksi

pertumbuhan benzoat

beberapa mikroorganisme yang Fenol


masuk jika ada ketidakhati-hatian Thimerosal
Antioksidan

selama pengisian.
Antioksidan
memperthankan Asam askorbat
stabilitas

melalui

oksidasi

dan

kemampuan Sistein

habis

secara Monosiogliserol

berangsur-angsur dalam produk

0,01-0,05
0,1-0,5
0,1-1,0

Natrium bisulfit

0,1-1,0

Natrium

0,1-1,0

metabisulfit

0,05-0,5

Buffer

Buffer

digunakan

mempertahankan

pH

tokoferol
untuk Asetot
sediaan Sitrat

selama proses dan penyimpanan Fosfat

1-2
1-5
0,8-2,0

sehingga sediaan tetap stabil


Bulking agents

Pengkhelat

Bahan

pengkklat

Laktosa

1-8

Manifol

1-10

Sorbitol

1-10

Elisin
ditambahkan Garam dari asam

1-2
0,01-0,05

untuk membentuk kompleks dan etiloendiamin


dengan demikia logam menjadi tetraasetik (EDTA)
inaktif (seperti tembaga, besi dan
zink

yang

umumnya

mengkatalisis degradasi oksidatif


Pelindung

molekul obat)
Pelindung adalah bahan yang Sukrosa

2-5

ditambahkan

formulasi Laktosa

2-5

hilangnya Maltosa

2-5

untuk

dalam

melindungi

aktivitas yang disebabkan oleh Serumalbumin


beberapa

masalah

dihasilkan

melalui

yang
proses

pembuatan atau untuk menceah


hilangnya
adsorbsi

bahan

aktif melalui

dalamn

proses

0,5-2

Bahan

pengemasan bahan
Kelarutan obat dapat ditingkatkan Etilalkohol

1-50

penambahn

melalui

1-50

kelarutan

pemnambah

Surfaktan

penggunaan

melalui Polietiloglikol

1-50

penggunaan pelarut bukan air Propilenglikol

1-5

atau campuran sistem pelarut


Lecithin
Surfaktan adalah bahan aktif Polioksietilen

0,5-2,0
0,1-0,5

permukaan
untuk

kelarutan

bahan Elisorin

yang

digunakan Sorbitanmonooleat

mendispersi

tidak

larut

dispersikoloid

obat

air
dan

pembentukan

yang
seperti

mencegah

kristal

dalam

Bahan

suspense
Bahan ini penting untuk pengaute Dektrosa

pengatur

tonisitas sediaan. Larutan yang Natrium klorida

tonisitas

diberikan secara IV harus isotonik


atau

hampir

isotonik,

karena

perubahan tekanan osmotik pada


seldarah merah terutama larutan
diberikan
besar

dalam

dari

menyebabkan
Gas inert

100

0,05-0,25

jumlah

lebih

ml

dapat

kemolisis

atau

krenasi sel darah merah.


Cara lain untuk peningkatan Nitrogen
integritas produk dari obat sensitif argon

4-5
0,5-0,9

terhapap oksigen adalah melalui


pemindahan udara dalam lerutan
dengan

nitrogen

Wadah yang

atau

argon.

akan digunakan

dibersihkan dengan nitrogen atau


argon sebelum pengisian dan
dapat
sediaan

juga

menyempurnakan

denan

gas

sebelum

penyegelan

c. Pembawa
Pembawa dalam larutan injeksi dapat berupa
1) Pembawa iar
Air untuk injek (WFI) adalah yang paling luas digunakan sebagai
pelarut untuk preparasi parental. Sebagian besar cara untuk memperoleh
WFI adalah melalui destilasi dari deionisasii air. Air untuk injeksi harus
disiapkan dan disimpan dengan cara yang tapat untuk menjamin
kejernihan dan bebas dari pirogen. Selain air untuk injeksi, air bateriostatik
juga dapat digunakan, air bakteriostatik tidak digunakan pada wadah yang
lebih besar dari 30 ml.
2) Pembawa bukan air dan campuran pembawa.

Pembawa bukan air atau sistem campuran pearut air-bukan air


dibutuhkan untuk menstabilkan obat yang dapat dihidrolisis air (seperti
barbiturat) atau untuk meningkatkan kelarutan (seperti pada diaitoksin).
Pelarut atau pembawa bukan air harus disaring dan diuji untuk menjamin
bahwa bahan ini tidak menghambat aksi farmakologi, tidak kosik dan tidak
meniritasi dan cocok serta stabil dengan semua bahan formulasi.
Contohnya : minyak nabati, gliserin, etil alkohol, polietilen glikol,
propilenglikol.
II.1.6 Syarat syarat sediaan parenteral
a. Parenteral Technology Manual : 11
Rangkuman dari syarat-syarat utama dari produk injeksi :
Karena kritikal alami, sediaan parenteral harus disiapkan secara hatihati, mengontrol kondisi lingkungan dan pengemasan untuk menjamin
bahwa pada penggunaan produk :
a) Bebas dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahan-bahan steril
di

bawah

kondisi

yang

kurang

akan

adanya

kombinasi

mikroorganisme (proses aseptik).


b) Bahan-bahan bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik
lainnya.
c) Bahan-bahan yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut.
b. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics : 284
Semua bahan-bahan yang dimasukkan ke epidermis tubuh harus
bebas dari mikroorganisme, pirogen dan iritasi. Dalam injeksi volume

besar, pH dan tekanan osmotik, dan aliran harus secara fisiologi


bercampur dengan cairan tubuh.
c. Sterile Dosage Forms : 37
1) Sterilitas
Semua bentuk sediaan yang diberikan secara parenteral, larutan
optalmik dan beberapa dosis medis yang digunakan dalam hubungannya
dengan pemberian bahan yang harus steril, bebas dari semua
mikroorganisme hidup, kebebasan dari mikoorganisme hidup dijamin pada
awalnya dengan pembuatan produk dengan proses sterilisasi yang sah,
kemudian pengemasan produk dalam dalam suatu bentuk yang
meyakinkan penyimpanan dari sifat ini. Istilah steril adalah mutlak dan
seharusnya tidak pernah digunakan atau betul-betul dipertimbangkan
dalam suatu cara relatif baik sebagian atau hampir steril juga diharapkan
dalam penanganan berikutnya dari produk selama pemberian, teknik
aseptik dan manipulator akan menjamin pengeluaran berlanjut dari
mikroorganisme hidup. Teknik aseptik yang tepat untuk penyiapan dan
pemberian bentuk sediaan steril akan didiskusikan selanjutnya.
2) Bebas dari bahan partikulat
Bahan partikulat mengacu kepada bahan yang bergerak, tidak larut,
yang tanpa sengaja ada dalam sediaan parenteral. Kehadiran bahan
partikulat dalam sediaan larutan parenteral diperhatikan karena konsep
rute pemberiannya. Walaupun rute parenteral dapat menyiapkan lama
penyimpanan, penampilan, kebutuhan, dan metode efektif dari pemberian,

namun dipercaya bahwa bahan-bahan dari luar yang tidak disengaja


dapat berbahaya. Komposisi dari bahan partikulat yang tidak diinginkan
bervariasi. Dalam beberapa hal, komposisi ini dari berbagai sumber,
mengingat yang lain memiliki sumber khusus tersendiri. Bahan asing yang
ditemukan dalam sediaan parenteral meliputi selulosa, serat kapas, gelas,
karet, logam, partikel plastik, bahan kimia tidak larut, karet diatomae,
ketombe dan sebagainya.
Pengaruh Secara Biologis
Kejernihan, atau tidak adanya bahan partikel yang tampak selalu
dipertimbangkan

sebagai

persyaratan

untuk

produk

parenteral.

Bagaimanapun, awalnya ini adalah alasan fisiologis misalnya pengaruh


larutan terhadap bahan yang tampak terhadap pasien yang menerimanya
dalam injeksi akan merupakan gambaran kesimpulan produk yang
beredar di pasaran, dengan adanya bahan yang mengapung. Saat gelas
ampul mulai terkenal sebagai wadah pengemasan, hal ini dapat dicatat
bahwa kemungkinan partikel gelas akan masuk ke dalam larutan saat
ampul dibuka.
Sumber
Bahan partikel dapat masuk dalam larutan parenteral dengan
berbagai cara dan sumber :
1. Larutan itu sendiri dan bahan kimia yang dikandungnya.
2. Proses pabrikasi dan berbagai variabel seperti lingkungan, peralatan
dan personil.

3. Komponen kemasan dan kandungannya.


4. Alat dan peralatan yang digunakan saat pemberian produk.
5. Manipulasi yang melibatkan peralatan produk untuk pemberian sama
baiknya dengan lingkungan saat produk tersebut dibuat.
3) Bebas dari Pirogen
Sekarang dalam praktek pemberian obat secara parenteral, reaksi
piretik sering diamati. Reaksi-reaksi ini antara lain malaise, sakit kepala,
dan peningkatan suhu tubuh (demam). Istilah seperti "sait fever", "protein
fever", "serum fever", dan "salvarsan fever", umum digunakan untuk
mengartikan reaksi ini.

Definisi
Pirogen didefinisikan sebagai produk metabolit yang berasal dari
mikroorganisme

hidup,

atau

mikroorganisme

mati

yang

dapat

menyebabkan respon demam setelah penyuntikan. Pirogen diproduksi


oleh mikroorganisme gram-negatif yang sangat poten. Ekstrak pirogen
kering muncul menjadi stabil sepanjang waktu, bahkan larutan yang
terpirogenik kehilangan beberapa aktivitasnya sampai beberapa tahun.
4) Kestabilan
Dalam perkembangan sediaan steril, perkembangan atau perhatian
utama ditujukan pada kestabilan obat. Obat dalam sediaan cenderung
menjadi kurang stabil daripada obat dalam bentuk kering. Untuk
penggunaan parenteral, suatu larutan atau suspensi dibutuhkan atau

berupa faktor kestabilan obat dipertimbangkan secara hati-hati. Pemilihan


bahan tambahan membantu dalam peranannya pada kestabilan secara
fisika dan kimia. Untuk larutan kestabilan secara fisika memperlihatkan
pada kenampakan secara fisika dari produk saat penyimpanan.
Pembentukan

endapan

atau

warnanya

biasanya

mengindikasikan

ketidakstabilan. Penguraian obat tidak begitu nyata ditunjukkan oleh


perubahan secara visual, sutau larutan subpoten dapat tetap jernih dan
tidak berwarna.
5) Injeksi sedapat mungkin isotonis dengan darah (SDF : 164)
Walaupun

diinginkan

bahwa

cairan

intravena

isotonik

untuk

meminimalkan trauma pada pembuluh darah, larutan hipertonik atau


hipotonik dapat diberikan dengan sukses. Larutan nutrient hipertonik
konsentrasi tinggi digunakan pada hiperalimentasi parenteral. Untuk
meminimalkan iritasi pembuluh, larutan ini diberikan secara perlahan
dengan kateter pada vena besar seperti subclavian.
d. Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts : 192
Karena produk parenteral diinjeksikan langsung dalam cairan tubuh
dan melewati banyak mekanisme pertahanan tubuh, sediaan ini harus
memiliki sterilitas dan spesifikasi pirogen ini membutuhkan perlengkapan
khusus dan fasilitas dalam pembuatan. Selanjutnya produk dikurang untuk
persyaratan isotonisitas sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman pada
penggunaan.

e. Scovilles The Art Of Compounding : 190


Sejak larutan injeksi dimasukkan pada tubuh, ini membutuhkan
perhatian

penuh

dalam

preparasi

dengan

efek

samping

tidak

menguntungkan atau reaksi serius lain dihindari. Sediaan ini harus steril
dan bebas pirogen dan harus diberikan hanya melalui rute injeksi yang
diharapkan.
f.

Encyclopedia Volume II : 201 dan 223-226

a. Parenteral volume besar


Semua LVPs dibuat menjadi

1) Steril
Semua LVPs harus memiliki persyaratan sterilitas tanpa kompromi. Ini
dijamin melalui perlakuan produk awal ke proses sterilisasi valid, dan
pengemasan produk dalam bentuk yang menjamin sterilitas selama
penyediaan.
2) Non pirogenik
Pirogen atau endotoksin bakterial adalah metabolik produk
pertumbuhan mikroba. Ini adalah larut air, lipopolisakarida tidak dapat
dirusak melalui uap lembab sterilisasi atau filtrasi. Kontaminasi pirogen
pada produk parenteral biasanya berasal dari tiga sumber utama ; air
yang digunakan sebagai pelarut, wadah yang kontak dengan larutan yang
dimasukkan ke dalamnya selama preparasi, pengemasan, penyimpanan

atau pemberian atau bahan kimia yang digunakan dalam preparasi


produk.
3) Bebas dari bahan partikulat
Bahan pengotor tidak diinginkan, tidak diperlukan, dan secara klinik
tidak dibutuhkan untuk terapi. Usaha tetap harus dilakukan untuk
menghilangkan sumber dan kejadiannya. Selama penyimpanan, bahan
pengotor dapat dihasilkan melalui reaksi sejumlah komponen kimia dalam
larutan, reaksi komponen kimia dengan bahan wadah, atau degradasi
larutan. Kontrol dan deteksi bahan pengotor harus jadi perhatian dalam
industri farmasi.

4) Dikemas dalam wadah dosis tunggal.


5) Bebas dari pengawet.
6) Volume tidak lebih dari 1000 mL (diterima untuk larutan irigasi).
7) Tonisitas
Parenteral volume besar tidak diberikan menjadi isotonik, meskipun
banyak di antaranya. Bagaimanapun hipertonisitas dan tonisitas adalah
sering menjadi persyaratan untuk keefektifan terapeutik, larutan hipotonis
diinjeksi ke dalam sel biologi, air dari produk meresap ke membran sel
sebagai usaha untuk menyeimbangkan tekanan osmotik membran,
menyebabkan membran sel mengembang dan kemungkinan pecah ;
pengembangan ini menghasilkan efek hemolitik yang disebut hemolisis.
Jika larutan hipertonik diinjeksikan ke dalam sel biologis, air meesap dari

membran sel ke aliran larutan hipertonik dan menghasilkan penyusutan


sel yang disebut krenasi. Range yang luas dari tekanan osmotik dapat
ditoleransi (250-350 mOsm).
b. Parenteral volume kecil
1. Sterilitas
Steritas adalah mutlak bebas dari kontaminan mikroba. Pencapaian
sterilitas mencakup kombinasi dan koordinasi aktivitas dan prosesnya
yang bersih dan fasilitas desinfektan, kebersihan dan sterilitas peralatan.
Pengemasan dan semua hal yang berhubungan dengan produk, filtrasi
aseptik produk itu sendiri dan sterilisasi akhir produk. Keterangan instalasi
daerah Laminar Air Flow (LAF) di mana udara steril diberikan melalui
efisiensi tinggi dari filter partikulat udara (HEPA), monitoring lingkungan
terfasilitasi, perlengkapan,air, dan personil untuk ketelitian mikrobiologis
dan kontrol partikulat, pengembangan pelatihan personal dalam teknik
aseptik, validasi proses sterilisasi, pengujian penutup wadah untuk
mempertahankan produk steril, dan tersterilisasi untuk produk itu sendiri,
tidak hanya untuk menghasilkan produk, tetapi juga sampai waktu hidup
produk berakhir.
2. Bebas dari pirogen
Pirogen adalah produk metabolik pertumbuhan mikrobial. Diinjeksi
dalam jumlah yang cukup pada manusia, pirogen dapat bereaksi dengan
hipotalamus otak untuk meningkatkan temperature tubuh. Sebagai
tambahan, ini dapat menyebabkan efek samping fisiologis, pada dosis

tinggi, kematian. Pirogen adalah kecil, larut air, lipopolisakarida tahan


panas yang tidak dapat dirusak oleh uap sterilisasi atau dihilangkan
melelui filter membran 0,2 m. Pencegahan lebih baik dari pembersihan
adalah kunci pemusnahan pirogen. Pada dasarnya sumber kontaminasi
pirogen pada produk parenteral adalah air. Untungnya pirogen dirusak
melalui destilasi. Air digunakan untuk membersihkan wadah dan penutup
yang dapat juga jadi sumber pirogen. Bagaimanapun gelas disterilisasi
pada panas kering pada temperatur panas (>200C) cukup untuk merusak
pirogen. Penutup karet disterilkan melalui sterilisasi uap yang tidak dapat
merusak pirogen, dan oleh karena itu air digunakan untuk membersihkan
penumpukan karet sebagai bebas pirogen.bahan kimia yang digunakan
untuk formulasi parentetal harus dikristalisasi menggunakan air bebas
pirogen atau pelarut lain. Cara lain yang mungkin, meskipun biasanya
tidak praktis memusnahkan kontaminasi pirogen dari produk parenteral
adalah menggunakan filter-ultra (> 0,1 m) untuk menghilangkan unit
lipopolisakarida yang sangat kecil.
3. Bebas dari bahan partikulat
Bahan partikulas, sebagai kontaminan dalam SVPs menimbulkam
masalah dalam kualitas produk dan kemungkinan bahaya klinis meskipun
fakta langsung efek samping belum ditemukan. Pada dasarnya sumber
bahan partikulat adalah sistem penutup-wadah (gelas dan plastik).
Meskipun partikulat daoat murni berasal dari variasi sumber meliputi

lingkungan perlengkapan proses, bahan tidak larut, degradasi produk


obat, dan personal.
4. Stabilitas
Obat dalam SVPs umumnya tidak stabil. Banyak obat karena tidak
stabil maka tidak dapat dipasarkan sebagai larutan siap pakai. Obat
dengan stabilitas larutan yang cukup membutuhkan variasi formulasi.
Pengemasan dan kondisi penyimpanan untuk mempertahankan stabilitas
obat selama obat tersedia. Pada dasarnya cara degridasiobat meliputi
reaksi oksidasi, dan hidrofilik. Obat dapat juga bereaksi dengan wadah
dan bahan formulasi, menghasilkan degradasi fisika dan kimia. Oksidasi
menyerang gugus fungsi membentuk radikal bebas di bawah kondisi pasti
yang bereaksi dengan molekul oksigen. Formasi radikal bebas dikatalis
oleh beberapa faktor, meliputi cahaya, panas, ion logam, pit, peroksid dan
oksigen itu sendiri. Untuk alasan ini, banyak produk SVPs di masukkan
dalam wadah anti cahaya, membutuhkan penyimpanan pada ruangan
terkontrol atau temperatur rendah, diformulasi pada pH rendah,
mengandung antioksidan atau bahan pengkhelat, dan diproses dengan
penyegelan pada wadah, produk dilapisi dengan gas inert (biasanya
nitrogen) untuk menghilangkan oksigen dan wadah.
5. Isotonisitas
Parenteral volume kecil harus isotonis dengan darah, airmata, dan
cairan biologi lain dalam otot. Jaringan dan cairan spinal di mana produk
diinjeksi. Ini berarti bahwa sel biologi mengandung jumlah yang sama

dengan partikel larut (dalam larutan) dari larutan injeksi. Jika produk yang
diinjeksi mengandung lebih sedikit partikel larut 9larutan hipotonik)
daripada yang terkandung dalam sel biologi, air produk akan meresap ke
membran sel untuk menyeimbangkan tekanan osmotik. Pada membran
sel lainnya, menyebabkan sel mengembang dan mungkin pecah. Dalam
darah disebut hemolisis. Jika produk yang diinjeksi mengandung lebih
banyak partikel larut 9larutan hipertonik) daripada sel, air dari sel akan
melewati membran ke larutan cair hipertonik dan sel menyusut (krenasi).
Pada kasus lain, potensi bahaya sel dapat menyebabkan terjadinya
nyeri dan iritasi jaringan. Darah, otot, dan jaringan subkutan dapat
bertahan pada range tekanan osmotik dari larutan injeksi (250-350
mOsm/kg), di mana airmata dan cairan spinal lebih sensitif dengan
perbedaan tekanan osmotik dari larutan injeksi. Bagaimanapun, pada
prakteknya range osmolaritas SVPs dapat ditoleransi ketika diinjeksikan
ke dalam tubuh tanpa masalah yang serius.
g. American Pharmacy : 226-227
a. Kelarutan dan kesesuaian bahan-bahan sehingga tidak ada bahan
partikulat atau bahan iritan pada produk yang hadir atau terjadi selama
penyimpanan.
b. Konsentrasi ion hidrogen darn tekanan osmotik sebagai bahan-bahan
akan cocok secara biologi dengan jaringan di mana bahan ini
diinjeksikan. Pada injeksi volume kecil, pertimbangan tidak begitu
penting, pada injeksi volume besar, ini sangat kritis. Darah dapat

dengan mudah menetralisasi volume kecil dari injeksi, yang tidak


isotonik atau isohidronik tetapi injeksi volume besar dapat
menyebabkan reaksi fatal.
c. Sepenuhnya bebas dari bahan partikulat, kecuali dalam suspensi atau
emulsi steril. Pada emulsi steril dan injeksi dan ukuran partikel harus
dikontrol secara berhati-hati sehingga tidak mampu membentuk
aglomerat. Preparasi seperti ini tidak dapat diinjeksi secara intravena
karena berbahaya menyebabkan penggumpalan intravaskular, dan
preparasi seperti ini tidak dapat diinjeksi ke dalam kanal spinal.
d. Sterilitas komplit atau mendekati dapat dibedakan melalui metode
kontrol yang cukup. Di mana sterilitas dapat dijamin oleh penggunaan
panas yang cukup, perlindungan maksimum dari pertumbuhan bakteri
(desinfektan kimia) dapat ditambahkan.
e. Bebas dari pirogen
f. Kecocokan pengobatan dengan wadah (gelas ampul) dan vial, dengan
penutup 9biasanya karet atau plastik).
h. Dispending Of Medication by King : 165
a. Sterilitas merupakan ketidakhadiran kontaminasi mikrobial hidup pada
produk parenteral untuk menjamin sterilitas, semua parenteral harus di
bawah proses aktif untuk merusak atau memusnahkan mikroorganisme.
b. tekinik aseptik menunjukkan beberapa prosedur atau kondisi proses
yang dirancang untuk memelihara bahan-bahan yang bebas dari
kontaminasi selama proses atau penggunaan. Tekinik aseptik dilakukan

pada daerah lingkungan yang dikontrol. Teknik aseptik sangat penting


dalam mencegah kontamiasi balik dari produk yang disterilisasi
sebelumnya selama proses lebih lanjut.
c. penyiapan campuran IV
pirogenitas menunjuk pada adanya penemuan pirogen. Ini berasal dari
hasil pertumbuhan mikrobial (endotoksin dan eksotoksin) yang mampu
mendatangkan respon pirogen yang tidak diketahui pada manusia, suatu
sindrom yang dikarakteristikkan oleh demam dan dingin. Walaupun jarang
mengancam hidup, reaksi dapat menimbulkan ketidaknyamanan, dan
pasien mungkin membutuhkan sedikit terapi analgesik-antipiretik.
Meskipun cara yang praktis untuk memusnahkan pirogen dari produk
akhir sangat terbatas, pirogen dapat dikeluarkan melalui penggunaan
persediaan depirogenasi, teknik aseptik, dan bahan bebas pirogen.
Bahan partikulat dalam parenteral adalah bergerak, bahan tidak larut
yang hadir tanpa disengaja. Kontaminasi dapat berasal dari banyak
sumber meliputi lingkungan, perlengkapan, persediaan, dan personil.
Untuk menjamin produk bebas partikulat, proses pemusnahan
(penjernihan melalui filtrasi) digunakan.
i. Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts: 192
Karena produk parenteral diinjeksi langsung dalam cairan tubuh
dan melewati banyak mekanisme pertahanan tubuh, sediaan ini harus
memiliki sterilitas dan spesifikasi pirogen. Ini membutuhkan perlengkapan

khusus dan fasilitas dalam pembuatan. Selanjutnya produk dirancang


untuk persyaratan isotonisitas sehingga meminimalkan rasa tidak nyaman
pada penggunaan.
j. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi : 402
Bebas pengawet untuk menghindari toksisitas karena pemberiannya
volume besar. Infus adalah dosis tunggal jadi semuanya harus masuk
dalam aliran darah otomatis jumlah atau konsentrasi pengawetnya makin
tinggi maka toksisitasnya makin besar. Obat-obat yang diberikan lewat i.v
biasanya harus berupa larutan air, bercampur dengan darah dan tidak
mengendap.

Kesimpulan :
Syarat-syarat injeksi
a. Sterilitas (3,9,14,16,21,23,25)
Semua sediaan parental harus streril karena sediaan ini diinjeksikan
secara langsung kedalam jaringan tubuh. Sterilitas adalah mutlak
bebas dari kontaminasi mikroba, kebebasan dari mikroorganisme
dijamin dengen pembuatan produk melalui suatu
aseptik,

kebersihan

dan

sterilitas

alat-alat

proses teknik

yang

digunakan,

penggunaan desinfektan atau pengawet (untuk dosis ganda, fultrasi


aseptik produk maupun sterilisasi akhir produk)
b. Bahan pirogen (3,9,14,16,21,23,25)

Rieogen didefinisikan sebagai produk metabolir yang berasal dari


mikroorganisme hidup atau mikroorganisme mati yang dapat beraksi
dengan hipotaemus otak dan dapat menyebabkna respon demam
setelah penyuntikan. Pirogen adalah kecil, larut air, lipopolisakarida
tahan panas yang tidak dapat dirusak oleh uap sterilisasi atau
dihilangkan. Melalui

filter membran O 2 dalam pirogen

dapat

menyebabkan efek samping fisiologis seperti malaire, sakit kepala dan


peningkatan suhu tubuh (demam). Isitilah seperti sait-fever, serumfever dan salvarsan fever umumnya digunkan untuk mengaritkan
reaksi ini. Dan pada proses dosis tinggi dapat menyebabkan
kematian. Kontaminasi pirogen pada produk parental biasanya
berasal dari 3 sumber utama yaitu :
1. Air yang digunakan sebagai pelarut
2. Wadah-wadah

yang

kontak

denan

larutan

selama

preparasi,

pengemasan, penyimpanan atau pemberian.


3. Bahan kimia yang digunakan dalam preparasi produk
4. Pencegahan lebih baik dari pembersihan adalah kunci utama
pemusnahan pirogen. Pirogen dapat rusak melalui destilasi, oleh
karena itu, penggunaan air bebas pirogen sebagai pelarut ataupun
untuk membersihkan alat-alat yang dugunakan diperlukan dalam
preparasi sediaan parental. Alat gelas disterilkan pada panas kering
pada temperatur pana (>200oC) cukup untuk merusak pirogen.
Sedangkan penutup karet disterilkan melalui sterilisasi uap yang tidak

dapat merusak piroen sehingga harus air bebas pirogen digunakan


untuk membersihkan penutup karet tersebut. Cara lain yang mungkin
meskipun biasanya tidak praktis memusnahkan kontaminasi pirogen
dariproduk parental adalah menggunakan filter-ultra (<0,1 m) untuk
menghasilkan unti lipopolisakarida yang sangat kecil.
c. Bebas partikulat.( 9,14,16,21,25)
Bahan partikulat dalam parentaral adalah bererak, bahan tidak larut
yang hadir tanpa disngaja. Bahan partikulat dapat masuk dalam
larutan parenteral dengan berbagai cara dan sumber :
1. Larutan itu sendiri dan bahan kimia yang dikandungnya
2. Proses publikasi dan berbagai variabel seperti lingkungan,
peralatan dan personil.
3. Alat dan peralatan yang digunakan saat pemberian produk.
4. Komponen kemasan dan kandungannya.
5. Manipulasi bahan partikulat dalam preparasi produk seperti
lingkungan dimana produk dpreparasi adanya bahan partikulat
suatu sediaan parenteral dapat menimbulkan masalah dalam
kualitas

produk

dan

kemungkinan

bahaya

klinis,

seperti

partikulat,

proses

penggumpalan intravaskular pada injeksi intravena.


6. Untuk

menjamin

produk-produk

bebas

pemusnahan (penjerniahan mulalui filtrasi) digunakan selama


pembuatan dan pengemasan larutan, lingkungan, personil dan
perlengkapan pengisian dapat mengkontribusi atau menghasilkan

bahan pertikulat. Lingkungan dan perlengkapan lebih mudah


dikontrol dari personel. Identifikasi bahan partikulat berguna dalam
menemukan dan menghilangkannya, partikeldengan diameter 50
m atau lebih dapat dideteksi melalui inspeksi visual untuk partikel
yang lebih kecil, teknik instrumen spesial harus digunakan.
d. Stabilitas.(9,21,25)
Sediaan steril dalam bentuk larutan umumnya lebih tidak stabil dari
bentuk

kering.

membutuhkan

Obat
variasi

dengan

stabilitas

formulasi.

larutan

Pengemasan

yang
dan

cukup
konolisis

penyimpanan untuk mempertahakan stabilitas obat selama obat


tersedia. Pada dasarnya cara degradasi obat meliputi reaksi oksidasi
dan hidrofilik. Obat juga dapat bereaksi dengan wadah dan bahan
formulasi. Menghasilkan degradasi disikan dan kimia. Oksidasi
menyerang gugus fungsi membentuk radikal bebas dibawah kondisi
pasti yang bereaksi dengan kondisi oksigen. Formulasi radikal bebas
dikatalis oleh beberapa faktor meliputi bahay, panas, ion logampH,
peroksial dan oksigen itu sendiri. Untuk alasan ini, banyakproduk SVD
dikemas dalam wadah anti cahaya membutuhkan penyimpanan pada
ruangan terkontrolatau tempertaur rendah. Arformulasi pada pH
rendah mengadung antiosidan atau bahan pengkelat dan diproses
dengan penyegelan pada wadah. Produk dilapisi dengan gas inert
(biasanya nitrogen) untuk meneghilangkan oksien dari wadah.
e. Isotonisitas (9,13,21,23,25)

Parenmteral volume kecil harus isotonis dengan darah, air mata dan
cairan biologiion dalam obat, jaringan dan cairan spinal dimana
produk diinjeksi. Ini berarti bahwa sel biologi mengandung jumlah
yang sama dengan partikel larut (dalam larutan) dari larutan injeksi.
Jika produk yang diinjeksi mengadung lebig sedikit partikel larut
(larutan hipotonik) daripada yang terkandung dalam sel biologi, air
produk akan meresap kemembran sel untuk menyeimbangkan
tekanan asmotik pada membran sel lainnya, menyebbkan sel
mengembang dan mungkin pecah. Daam darah disebut hemolisis jika
produk yang diinjeksi mengadung banyak partikel larut (larutan
hipertonik) dan pada sel, air dari sel akan melewati membran
kelarutan cair hipertonik dan menyusut (krenasi). Pasa kasus lain,
potensi bahaya sel dapat menyebabkan terjadinya nyeri dan iritasi
jaringan, darah, otoi, dan jarinan subkultan dpaat bertahan pada range
tekanan osmotik dari jaringan injeksi (250-300mosm/kg), dimana air
mata dan cairan spinal lebih sensitif dengan perbedaan tekanan
osmotik dari larutan injeksi. Bagaimanapun juga pada prakteknya
range osmolaritas SVPs dapat ditoleransi ketika diinjeksikan kedalan
tubuh tanpa maslah yang serius.
f. Isohidris untuk produk parenteral volume besar.
g. Bebas dari pengawet untuk sediaan dosis tunggal, sedangkan untuk
dosis ganda dapat menggunakan pengawet antimikroba untuk
mecegah kontaminasi selama penggunaan produk.

II.1.7 Pewadahan Sediaan Parenteral


1. Scovilles: The Art of Compounding ; 200-207
Ada 2 tipe utama wadah untuk injeksi, yaitu dosis tunggal dan dosis
ganda. Wadah dosis tunggal yang sering digunakan adalah ampul dimana
kisaran ukurannya adalah 1-100 mL. Pada kasus tertentu, wadah dosis
ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol serum. Kapasitas vial
serum 1-50 mL, bentuknya mirip ampul tetapi disegel dengan pemanasan.
Ditutup dengan penutup karet spiral. Botol serum juga dapat sebagai botol
tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 mL dan memiliki mulut besar
/ lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral. Labu atau tutup yang
lebih besar mengandung 250-2000 mL, digunakan untuk cairan parenteral
yang besar seperti NaCl isotonis, larutan Ringers dan dekstrosa
Wadah sebaiknya selalu diisi dengan volume larutan yang lebih
besar dari 50,0 mL, ini perlu karena beberapa larutan akan selalu melekat
pada sisi wadah dan tidak dapat terpisah, khususnya ketika penggunaan
vial silikon. Penggunaan vial dan ampul sebelumnya dibuat dengan silikon
membuat pergerakan lebih mudah karena cairan dengan vial tidak basah
dan bebas dari sini. Sejumlah besar larutan perlu untuk menambah akan
mengubah ukuran wadah dan viskositas larutan.
2. Encyclopedia : 231
a.

Gelas
Gelas digunakan untuk sediaan parenteral, dikelompokkan dalam

tipe I, II, dan tipe III (tabel). Tipe I adalah mempunyai derajat yang paling

tinggi, disusun

hampir ekslusif

dan

borosilikat (silikondioksida),

membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang
ekstrim. Gelas tipe I meskipun yang paling mahal ini lebih disukai untuk
produk

terbanyak

yang

digunakan

untuk

pengemasan

beberapa

parenteral. Gelas tipe II adalah gelas soda-lime (dibuat dengan Natrium


sulfit dan sulfida untuk menetralisir permukaan alkalioksida), sebaiknya
gelas tipe II tidak dibuat dari gelas soda-lime. Gelas tipe II dan III
digunakan untuk serbuk kering dan sediaan parenteral larutan berminyak.
Tipe dapat digunakan untuk produk dengan pH dibawah 7,5 sebaik
sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk tipe gelas yng
berbeda.
Formulator harus mengetahui dan sadar bahwa masing-masing tipe
gelas berbeda dan level bahan tambahannya (boron, sodium, potassium,
kalsium, besi dan Hg) yang berefek terhadap sifat kimia dan fisika. Oleh
karena itu, formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang
diperlukan dari pembuatan gelas adalah konsistensi dari data batch dan
spesifikasi ari bahan tambahan adalah konsistensi yang diteruskan.
Gelas untuk parenteral volume kecil
Tipe
I
II
III
IV

Defenisi Umum
Paling resisten,
gelas bersilikat
Gelas yang dibuat
dari soda-lime
Gelas soda-lime
Gelas soda-lime
tujuan umum

Test USP

Batas
Ukuran (mL)

mL 0,02 N asam

Gelas serbuk

Semua, 100/krg

1,0/0,17

Attack water

Lebih 100

0,2

Gelas serbuk

Semua

8,5

Gelas serbuk

Semua

15,0

Wadah gelas amber digunakan untuk produk yang sensitif terhadap


cahaya. Warna amber dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan
untuk formulasi gelas. Namun demikian, dapat lepas ke dalam formulasi
dan mempercepat reaksi oksidasi.
b.

Karet
Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral volume kecil

untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk pembedahan.


Formulasi ini, betul-betul kompleks. Tidak hanya mereka mengandung
basis polimer karet, tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan
pelunak, vulkanishing, pewarna, aktivator, percepatan, dan antioksidan.
Banyak bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi dan
pemurnian dan dapat bersumber dari masalah degradasi fisika an kimia
dalam produk parenteral. Seperti gelas, formulator harus bekerja dengan
tertutup dengan pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat
dengan spesifikasi yang tepat dan karakteristik untuk mempertahankan
kestabilan produk.
Paling banyak polimer produk digunakan dalam penutup sediaan
parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan
karet neopren digunakan jarang. Butil karet lebih disukai karena diinginkan
sedikit bahan tambahan, mempunyai penyerapan uap air rendah. Oleh
karena itu, baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban
dan sifat sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan
reaktivitas dengan produk farmasetik.

Masalah dengan penutup karet termasuk lepasnya bahan ke dalam


produk. Penyerapan bahan aktif atau pengawet antiikroba oleh elastomer
dan

coring

karet

untuk

pengulangan

mesersi

benang.

Coring

menghasilkan partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan


potensial produk.
Silikanisasi

penutup

karet

adalah

umum

digunakan

untuk

memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan


peletakan ke dalam vial. Akan tetapi, silikon tidak bercampur dengan obat
hidrofilik, khususnya protein. Kontak yang luas biasanya dengan karet
tersilikonisasi dapat menghasilkan agregasi protein. Pembuatan elastomer
mempunyai

perkembangan

formulasi

yang

tidak

menginginkan

penggunaan silikon untuk menggunakan dalam operasi produk kecepatan


tinggi.
c.

Plastik
Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk sediaan mata yang

diberikan oleh botol plastik fleksibel, orang yang bersangkutan memeras


untuk mengeluarkan tetesan larutan steril, suspensi dan gel. Wadah
plastik parenteral, volemu kecil lain produk mata menjadi lebih luas
dipakai karena pemeliharaan harga, eliminasi kerusakan gelas dari
kenyamanan penggunaan. Seperti formulasi karet , formulasi plastik dapat
berinteraksi dengan produk, menyebabkan masalah fisika dan kimia.
Formulasi plastik adalah sedikit kompleks daripada dan cenderung
mempunyai potensial lebih rendah untuk bahannya. Paling umum

digunakan plastik polimer untuk sediaan mata atau polietilen densitas


rendah. Untuk sediaan parenteral volume kecil yang lain, formulasi
poliolefin lebih luas digunakan sebaik polivinil klorida, polipropilen,
poliamida (nilon), polikarbonat dan kopolimer (spt etilenvinilasetet).
Sediaan parenteral volume kecil
Tipe

Bahan Tambahan

Penyerapan Uap Air

Butil
Natural
Neupren
Polisopren
Silikon

Sederhana
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sederhana

Rendah
Sederhana
Sederhana
Sederhana
Sangat tinggi

d.

Reaksi Potensial
Dengan Produk
Sederhana
Tinggi
Tinggi
Sederhana
rendah

Kontainer / Wadah
Tipe yang paling umum yang digunakan untuk sediaan parenteral

volume kecil adalah gelas atau vial polietilen dengan penutup karet dan
besi. Gelas ampul digunakan paling banyak untuk sistem pengemasan
parenteral volume kecil, tetapi jarang digunakan sekarang masalah
partikel gelas ketika leher ampul dibuka. Masing-masing pembedahan dan
wadah catridge mempunyai peningkatan popularitas dan penggunaan
karena kenyamanan mereka dibanding vial dan ampul. Vial dan ampul
menginginkan kemunduran produk kemasan. Injeksi, sebaliknya produkproduk dalam pembedahan dan catridge adalah siap untuk diberikan
keduanya diberikan untuk parenteral volume besar (LVP).
Wadah plastik digunakan untuk penggunaan produk mata. Salep
dengan tube logam digunakan untuk kemasan salepmata steril.
3.

American Pharmacy ; 230-231

Wadah terdiri dari 2 tipe umum yaitu ampul dan vial. Yang pertama
merupakan wadah gelas silindris tertutup pada bagian ujung, dan penutup
untuk memanjangkan leher pada yang lain. Setelah pengisian, leher
ditutup dengan penggunaan panas.
Vial adalah wadah gelas berbentuk botol kecil ujung ditutup dengan
karet

atau

penutup

plastik

yang

kemudian

biasanya

diletakkan

ditempatnya dengan segel logam. Dalam semua hal, gelas harus bening
dan berwarna terang supaya produk dapat diperiksa dengan penglihatan.
Semua golongan gelas tidak cocok untuk pembuatan ampul dan vial
dosis ganda. Pada kedudukan kontak lama dengan larutan aqueous,
gelas harus menjadi hasil angka yang cukup pada kelarutan silikat untuk
mengizinkan pemuatan kristal halus. Proses ini dikenal dengan silication
yang dipandang sangat tidak diizinkan dalam preparasi sediaan injeksi.
Tipe gelas lain akan menghasilkan sedikit besi atau elemen lain yang
dapat menyebabkan diskolasi atau presipitasi konstituen aktif. Untuk
alasan ini, antara dua United State Pharmacopeia dan National
Formulatory setuju pada standar untuk 4 tipe gelas yang disebut tipe I-IV.
Untuk tiap preparasi steril, tipe wadah telah direkomendasikan.
Wadah tipe I adalah yang berkualitas paling baik, yang dapat
digunakan untuk banyak preparasi parenteral. Wadah tipe II kapasitasnya
tidak bisa lebih dari 100 mL dan setelah pengisian tidak bisa disterilisasi
dengan panas. Wadah tipe III, terdiri dari berbagai ukuran, tapi tidak bisa
disterilsasi dengan panas setelah pengisian.

Wadah tipe IV, dibuat dari gelas soda-lime dan lebih dari 100 mL
kapasitasnya. Wadah ini biasanya digunakan oleh sebagian besar cairan.
Jadi, wadah tipe I dan IV digunakan dalam produk akan diautoklaf. Wadah
tipe I dapat dilakukan pengulangan autoklaf.
4.

Modern Pharmaceutics ; 470-471


Komponen wadah dari produk parenteral dipertimbangkan dengan

bagian produk karena dapat menyebabkan efek dramatik stabilitas


produk, potensi, dan keamanan. Bentuk dosis parenteral, yang terutama
larutan, biasanya dibutuhkan lebih lagi evaluasi detail komponen
pewadahan untuk kompabilitas produk dan stabilitas daripada perlakuan
bentuk dosis farmasetik lain. Komponen wadah umum yang langsung
berhubungan dengan produk mencakup beberapa tipe gelas, karet,
plastik, dan stanless steel sted (jarum suntik), semua itu dapat bereaksi
dengan obat. Pemeliharaan kemurnian mikrobiologis dan stabilitas
produk, adaptabilitas untuk pemeriksaan dan operasi produksi, resisten
pada

kerusakan

dan

kebocoran

dan

penggunaan

klinis.

Yang

menyenangkan adalah faktor yang harus dievaluasi, saat memilih wadah.


Pewadahan parenteral meliputi ampul (gelas-segel), karet berpenutup vial
dan botol, tas plastik dan botol, gelas dan spoit plastik dan spoit
berkombinasi vial. Wadah gelas mempunyai sifat yang dapat diterima
secara luas untuk produk parenteral karena relatif inertnessnya. Pada
tahun baru-baru ini, rumah sakit memilih utnuk dosis unit dan
pemeliharaan klinis memberi hasil pada peningkatan pewadahan produk

dalam spoit yang dapat dibuang dan pengembangan polivinilklorida,


poliester, dan wadah plastik untuk intravena cairan. Sistem pewadahan ,
seperti wadah plastik dua ruang dan add vomtage, dikembangkan untuk
mengkombinasi campuran obat dan larutan yang tidak stabil. Beberapa
antibiotik yang tidak stabil dalam larutan sekarang tersedia, sehingga
prosuk

frosen

dalam

wadah

plastik.

Sistem

ini

ditandai

untuk

pemeliharaan efisiensi biaya sama seperti minimalisir kontaminan


potensial ketika penyediaan sediaan.
5.

Dispending Of Medication by Martin : 980

1) Gelas
Gelas dibuat silicon dioksida dikombinasikan dengan jenis bahan
tambahan yang mengubah sifat fisika dan kimia seperti titik lebur
perluasan koefisien termal, warna, transparansi, dan reaksi kimia. Tipe
gelas U.S.P dihubungkan dengan reaktivitas kimia gelas seperti kadar
alkali yang dibebaskan gelas oleh air dalam tes gelas dua. Tes serbuk
gelas dilakukan sampel dasar gelas dan uji air pelindung pada wadah
lengkap. Gelas borosilikat melepas sedikit bahan alkali dalam air daripada
gelas soda lime yang mengandung relatif tinggi bahan natrium, kalsium
dan oksida.
Wadah gelas dibentuk pada etakan peleburan gelas atau dibentuk dari
gelas tabung. Prosedur akhir menghasilkan bahan pencair, lebih seragam
tetapi

prosedur cetak menghasilkan wadah

penampakannya karena perbedaan cetakan.

yang

lebih seragam

Tipe-Tipe Gelas
Tipe
I

II
III
IV
2)

Deskripsi
Umum

Batasan
Ukuran(mL mL dari 0,02N
)
asam
Gelas serbuk Semua
1,0
Tipe Tes

Paling
resisten,
gelas
borosilikat
Gelas
Perlindungan
dibuat dari
air
soda lime
Soda lime
Gelas serbuk
Gelas soda Gelas serbuk
lime-tujuan
umum
Plastik

100 atau
kurang
lebih 100
Semua
Semua

0,7
0,2
8,5
15,0

Unit struktur dasar plastic adalah polimer linear, biasanya


hidrokarbon

tersaturasi,

kadang-kadang

memiliki

satu

atau

lebih

penggantian hydrogen dengan halide, seperti klorin pada polivinil klorida.


Sebagian besar plastic secara selektif memperbolehkan penerimaan
molekul kimia dan banyak yang permeable terhadap gas. Karena melebur
pada temperature tinggi, hanya sedikit yang dapat disterilkan pada
pemanasan autoklav. Banyak plastic mengandung bahan tambahan
seperti bahan pengenyal, antioksidan bahan antistatic dan lubrikan yang
kemudian dilepaskan dari plastic ke dalam produk.
Polimer yang sering digunakan untuk wadah meliputi : polietilen
density tinggi dan wadah polivinil lkorida, propilen, dan polikarbonat.
6. Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts ; 193

Produk parenteral tersedia dalam beberapa wadah yang berbeda.


Masing-masing dibuat dengan maksud yang spesifik. Contohnya ampul,
adalah wadah gelas silinder dosis tunggal dengan sebuah leher jepit yang
rusak sekali pakai, tersedia dari ukuran range dari 0,5-1000 mL, ampul
dengan alasan apapun tidak dapat disimpan sehabis dibuka wadah dosis
tunggal lain spoit diisi lebih dulu yang dapat dibuang (siap pakai) dan
botol bulat lebar dan penutup karet berisi 500-1000 mL cairan intravena
(seperti dekstrosa, dll).
Vial dosis ganda yang seperti namanya secara tidak langsung,
adalah menunjukkan untuk penarikan isi banyak, merupakan jenis lain
wadah dengan penutup karet untuk produk parenteral. Pada waktu
menggunakan spoit dan jarum suntik digunakan untuk menyuntikkan
udara sama dengan volume cairan yang ditarik. Ini mencegah formasi
vakum yang akhirnya mengaspirasi kontaminasi bahan dari luar vial.
Karena masalah stabilitas dan kemungkinan kontaminasi penggunaan
dosis ganda, USP membatasi ukuran vial dosis ganda sampai 30 mL dan
selanjutnya diharuskan bahwa larutan birisi pengawet antimikrobial
(spesifikasi tidak diperlukan dalam produk dosis tunggal).
7.

Sterille Dosage Form ; 299


Produk parenteral dikemas dalam ampul, vial, botol, tas plastik, dan

alat suntik sekali pakai. Meskipun pda penggunaan lama, gelas ampul
mempunyai

sedikit

keuntungan

dibanding

unit

karenanya dirancang untuk satu kali penggunaan.

pengemasan

lain

8. Dispending Of Medication by King : 980


1. Gelas
Gelas dibuat silicon dioksida dikombinasikan dengan jenis bahan
tambahan yang mengubah sifat fisika dan kimia seperti titik lebur
perluasan koefisien termal, warna, transparansi, dan reaksi kimia. Tipe
gelas U.S.P dihubungkan dengan reaktivitas kimia gelas seperti kadar
alkali yang dibebaskan gelas oleh air dalam tes gelas dua. Tes serbuk
gelas dilakukan sampel dasar gelas dan uji air pelindung pada wadah
lengkap. Gelas borosilikat melepas sedikit bahan alkali dalam air daripada
gelas soda lime yang mengandung relatif tinggi bahan natrium, kalsium
dan oksida.
Wadah gelas dibentuk pada etakan peleburan gelas atau dibentuk dari
gelas tabung. Prosedur akhir menghasilkan bahan pencair, lebih seragam
tetapi

prosedur cetak menghasilkan wadah

yang

lebih seragam

penampakannya karena perbedaan cetakan.


Tipe-Tipe Gelas
Tipe
I

II
III
IV

Deskripsi
Umum
Paling
resisten,
gelas
borosilikat
Gelas
dibuat dari
soda lime
Soda lime
Gelas soda
lime-tujuan
umum

Batasan
Tipe Tes
Ukuran(mL mL dari 0,02N
)
asam
Gelas serbuk Semua
1,0

Perlindungan 100 atau


air
kurang
lebih 100
Gelas serbuk Semua
Gelas serbuk Semua

0,7
0,2
8,5
15,0

2.

Plastik
Unit struktur dasar plastic adalah polimer linear, biasanya

hidrokarbon

tersaturasi,

kadang-kadang

memiliki

satu

atau

lebih

penggantian hydrogen dengan halide, seperti klorin pada polivinil klorida.


Sebagian besar plastic secara selektif memperbolehkan penerimaan
molekul kimia dan banyak yang permeable terhadap gas. Karena melebur
pada temperature tinggi, hanya sedikit yang dapat disterilkan pada
pemanasan autoklav. Banyak plastic mengandung bahan tambahan
seperti bahan pengenyal, antioksidan bahan antistatic dan lubrikan yang
kemudian dilepaskan dari plastic ke dalam produk.
Polimer yang sering digunakan untuk wadah meliputi : polietilen
density tinggi dan wadah polivinil lkorida, propilen, dan polikarbonat.
Kesimpulan :
Pewadahan Sediaan Parenteral
1. Plastik (4,14,15,16,21,22,25)
2. Gelas (4,13,14,15,16,21,22,25)
Secara prinsip disusun dari silikon dioksida atau bahan seperti Na, K,
Ca, Mg, Al, Ba dan Fe
Adapun tipe tipe gelas berdasarkan USP
a. Tipe I yang disusun oleh silikon dioksida dan baron dioksida, cocok
untuk semua produk walaupun kadang kadang tidak bisa digunakan
sulfur dioksida. Biasa disebut borosilikat gelas.
b. Tipe II (Gelas soda Lime)

Disusun oleh sodium oksida dan kalsium oksida dalam konsentrasi


tinggi. Tipe II cocok untuk larutan yang memiliki pH di bawah 7
c. Tipe III (Soda Lime)
Soda dengan tipe II tapi lebih banyak kandungan migratory oksidanya.
Digunakan untuk larutan anhidrat atau bahan bahan kering.
d. Tipe IV
Gelas soda lime yang tidak bisa digunakan sebagai wadah sediaan
parenteral.
II.1.8 Definisi Ampul
1. Scovilles The Art Of Compounding :201
Ampul adalah wadah gelas yang tertutup rapat biasanya dalam
dosis tunggal padat atau larutan obat jernih atau suspense halus yang
ditujukan untuk penggunaan parenteral.
2. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics : 287
Ampul adalah wadah gelas yang disegel kedap udara merupakan
dosis tunggal pada pengobatan.
3. Pengantar Bentuk Sediaan Farnasi : 246
Wadah dosis tunggal adalah wadah yang dikemas kedap udara
dengan kualitas obat steril yang digunakan untuk penggunaan parenteral
sebagai dosis tunggal dan ketika dibuka dapat disegel kembali dengan
jaminan sterilitasnya masih tetap dijaga.
4. American pharmacy : 230

Ampul merupakan wadah gelas silindris bertutup pada bagian


akhir dari penutup untuk memanjangkan leher pada bagian lain. Setelah
pengisian, leher ampul ditutup melalui penggunaan panas.
5. Prescription Pharmacy Dosage Formulation and Pharmaceutical
Adjuncts : 193
Ampul adalah wadah gelas silindris dosis tunggal dengan sebuah
leher jepit yang rusak sekali pakai. Tersedia pada ukuran range 0,5-100ml.
ampul tidak bisa disimpan setelah dibuka.

6. Pharmaceutical practice : 249


Gelas ampul merupakan wadah berdinding tipis dibuat dalam tipe
I gelas dengan borosilikat. Injeksi dikemas dalam gelas ampul kemudian
disegel panas.
7. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition : 1354
Ampul dimaksudkan untuk sebagai wadah yang kedap udara
untuk suatu dosis tunggal obat sempurna menghalangi tiap perubahan
antara isi ampul yang disegel dengan lingkungannya.
8. Textbook Of Pharmaceutic : 557
Ampul adalah wadah gelas tipis dosis tunggal dengan kapasitas
dari 0,5 50 ml
Kesimpulan:
Ampul adalah wadah gelas silindir berdinding tipis yang memiliki
leher jepit yang rusak sekali pakai (9,13,17,20,23,24,)dan digunakan untuk

dosis tunggal (2,3,13,17,20,23) dengan volume berkisar antara 0,5-100 ml


pada keadaan tertentu (3,17) yang kedap udara dan tertutup rapat
sehingga mengurangi kontaminasi lingkungan dengan isi ampul.(2)
II.1.9 Cara pengisian ampul
1. Scovilles The Art Of Compounding : 206
Untuk pengisian ampul, jarum hipodermik panjang adalah penting
karena lubangnya kecil. Jarum harus dimasukkan ke dalam ampul sampai
di bawah. Leher ampul, tetapi tidak cukup jauh untuk masuk ke dalam
larutan yang dimasukkan ke dalam ampul. Jarum harus dikeluarkan dari
ampul tanpa menggunakan tetes larutan pada dinding primer dari leher
ampul. Metode ini digunakan untuk mencegah pengurangan dan
pengotoran jika ampul disegel.
2. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition: 1343
Suatu cairan bisa dibagi lagi dari suatu wadah baik sampai wadah
masing-masing dosis dengan lebih mudah dan lebih seragam daripada
suatu zat padat dicapai dengan mesin berkemampuan kineja ringan, tetapi
cairan kental, lengket atau memiliki kerapatan tinggi membutuhkan mesinmesin yang jauh lebih kasar (tidak rata) untuk menahan tekanan yang
dibutuhkan untuk mendispersikannya.
3. American pharmacy : 223
Pengisian ampul atau vial dilakukan melalui alat mekanis yang
dirancang untuk tujuan ini. Tanpa memperhatikan bentuknya, alat ini hadir
kembali. Alat ukur diletakkan pada jarum suntik hipodermik atau serupa

pipa logam kecil dimana cairannya tidak dimasukkan kedalam wadah


melalui leher. Terkadang alat ini terdiri dari Luer-type Syringe diletakkan
pada jalan katup dan sebuah jarum suntik. Selama pengisap Syringe
ditarik kembali tuang pengisi cairan ditarik dari wadah besar, ketika
pengisap mengubah arah katup utama larutan stock menutup dan cairan
dipaksa mengisi pipa didalam ampul.
4. Textbook Of Pharmaceutic : 558
Untuk penggunaan ampul dipatahkan pada bagian leher dan segel
dilepaskan secara hati-hati untuk mencegah pertahanan gelas yang rusak
kedalam sediaan. Leher ampul yang panjang cukup memberikan
pengaruh kuat jika ampul terbuka. Sterilisasi awal tidak esensial jika
kandungan dihubungkan dengan proses pemanasan akhir setelah
penyegelan, tapi jika kandungan termolabil, ampul kosong harus
disterilkan setelah diisi. Harus diingat bahwa ampul harus kering. Lebih
baik untuk mensterilkan dalam udara panas oven. Tapi jika digunakan
untuk larutan berair dapat disterilkan dengan autoklaf. Untuk botol kecil,
pengisian dilakukan dengan spoit, sedangkan untuk batchyang agak
besar pengisian menggunakan buret dan jarum hypodermis yang tertutup
dengan kap yang biasa digunakan. Leher ampul sangat baik sangat baik
disegel dengan pembakar Twin-Jet. Pada skala besar, mesin pengisian
otomatis,penyegelan,pelebelan dibutuhkan.
5. Remingtons Pharmaceutical Science 18th Edition :1561

Meskipun banyak alat yang tersedia untuk pengisian wadah


dengan cairan ini dilakukan untuk pengisian berulang. Volume cairan
melewati lubang pipa pengisi yang dimasukan kedalam wadah. Ukuran
pipa pengisis bervariasi dari dari 20 gauge jarum hipodermik hingga pipa
setengah m atau lebih dalam diameter. Ukuran memberikan perbedaan
karateristik fisik cairan, kecepatan pengisian yang diinginkan dan diameter
isi leher wadah. Pipa harus masuk dalam leher dan mengantarkan cairan
masuk ke dalam leher, mencegah penumpahan, memperbolehkan
pengisian yang cukup untuk mengeluarkan udara meninggalkan wadah
sehingga cairan masuk. Pipa pengisian sebesar diameter mungkin dapat
memberikan hambatan akhir cairan. Untuk cairan volume kecil, pengisian
mungkin dihasilkan dari tembakan penyedot alat semprot dan penyaluran
cairan bergerak. Alat pengisap digunakan untuk cairan yang viskositasnya
besar. Mekanisme lain meliputi putaran baik pada leher corong/gabungan
karet diafragma, untuk volume besar, jumlah pengisian diukur dalam
wadah melalui tekanan isi dalam wadah, kekuatan yang diberikan untuk
memindahkan cairan yang diberi melalui gravitasi, tekanan pompa/pompa
vakum.
6. Dispensing of Medication by Martin : 992
Operasi pengisian dapat dilakukan perlengkapan yang relative
sederhana pada skala kecil, menggunakan Syringe hipodermik diletakkan
pada penggerak. Alat ini memindahkan pengisap dan volume cairan

secara teratur kedalam unit wadah. Kecepatan tinggi perlengkapan


otomatis dapat mengisi sebanyak 300 atau lebih mudah setiap menit.
7. Dispending of Medication by King : 185
Operasi pengisian dapat dilakukan perlengkapan yang relative
sederhana pada skala kecil, menggunakan Syringe hipodermik diletakkan
pada penggerak. Alat ini memindahkan pengisap dan volume cairan
secara teratur kedalam unit wadah. Kecepatan tinggi perlengkapan
otomatis dapat mengisi sebanyak 300 atau lebih mudah setiap menit.

Kesimpulan :
Cara Pengisian Ampul
1. Cairan (3,4,9,15,16)
Pengisian wadah volume kecil dapat dilakukan dengan sebuah alat
semprot hipodermik dan jarum suntik, cairan ditarik dengan alat semprot
dan diletakkan melalui jarum suntik kedalam wadah sampai dibawah leher
ampul. Jarum harus dikeluarkan dari ampul tanpa terjadi penetesan
larutan pada dinding ampul.
2. Padatan (3,4,9,15,16)
Beberapa padatan steril dibagi kembali dalam wadah dengan cara
menimbang secara sendiri-sendiri. Sebuah skop biasanya digunakan
untuk membantu dalam memperkirakan jumlah yang dibutuhkan, tapi

jumlah yamg diisi pada wadah akhir ditimbang pada neraca. Cara ini
prosesnya lambat, ketika padatan diperoleh dalam bentuk granula
sehingga aliran lebih mudah. Metode pengisian lain dapat digunakan.
Pada umumnya ini meliputi ukuran dan volume, material granular yang
telah dikalibrasi dengan massa berat yang diinginkan pada mesin, sebuah
lubang teratur dalam lingkungan roda diisi dengan vakum dan isinya
ditarik oleh vakum hingga lubang terbalik dibagian atas wadah. Bahan
padat kemudian dikeluarkan kedalam wadah melalui penggunaan udara
steril.

II.1.10 Cara penyegelan ampul


1. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy, Third Edition : 671
Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas dari leher
ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Segel
penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian atas
leher ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka. Segel tarik
dibuat dengan memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar di
daerah ujungnya kemudian menarik ujungnya hingga membentuk kapiler
kecil yang dapat diputar sebelum bagian yang meleleh tersebut ditutup.
2. Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics : 287
Ampul dapat disegel secara manual melalui penggunaan api
sumbu dibawah ujungnya dan tarik ujungnya melalui sentuhan dengan

tangkai gelas. Gelas yang kuat dihasilkan dengan peleburan disekitar


butiran dan segel dari ampul. Untuk menghasilkan segel pad a ampul
dapat digunakan pasipyer untuk menyegelnya. Dimana ini dilatakkan
ditengah dan diputar dalam api penyegelan sampai ujung gelas melebur
dan membentuk manik penyegelan.
3. Scoville's:The Art of Compounding : 209
Ampul disegel melalui pemutaran secara lambat dan teratur, ujung
ampul pada ujung nyala api sekitar 3 in panjang hingga gelas melebur
bersama dan penyegel terbuka. Operator harus yakin bahwa gelas
melebur dan dialirkan bersama membentuk massa padat dan tidak adsa
kapilaritas bagian tengah yang dapat menyebabkan kebocoran isi. Jika
ampul yang ditinggalkan pada api terlalu panjang atau jika api terlalu
besar sehingga isi panas, tekanan akan dihasilkan dalam ampul
menyebabkan gelombang dibentuk pada peleburan galas. Gelombang
dihindari karena dapat merusak penyegelan, dan selalu melemahkan
segel.
Metode penyegelan lain adalah membentuk ujung peleburan
gelas melalui gunting tank khusus atau batang gelas membentuk terusan
tube. Saat leburan gas dibentuk, terusan tube dirusak dan ujung kecil
pada ampul dengan mudah disegel dan diakhiri pada api.
4. American pharmacy : 233
Meskipun ampul dapat disegel melalui pemutaran leher panjang
pada api Bunsen biasa, cara ini lambat dan tidak menghasilkan segel

yang baik. Kecepatan penyegelan dapat ditingkatkan melalui penggunaan


hembusan alat pembakar atau seragam alat pembakar pada titik rendah
dibawah ujung dan dilepas ujung ekstra, gelas dengan gunting tang atau
melalui penyentuhan dengan batang gelas dan meninggalkannya. Tali
gelas yang dihasilkan akan mencair kelingkaran manik-manik dan
membentuk segel.
Penyegelan otomatis dapat menggunakan prinsip yang sama. Jet
halus dari api mengenai permukaan ujung gelas dari beberapa arah,
melebur gelas secara merata dan memperbolehkannya terbentuk
bersama dengan lingkaran manik-manik segel. Pada beberapa model,
ujung ampul disentuh melalui pemanasan api yang merusak. Permukaan
cukup panjang membantu membentuk segel. Dalam hal lain, isi ampul
harus dimasukkan dengan perhatian bahwa tidak ada sisa tetesan pada
leher ampul selama penyegelan, beberapabahan akan menyebabkan
karbonisasi dan penghitaman ampul pada titik penyegelan. Kejadian
seperti ini tidak terjadi ketika alat pengisian otomatis digunakan karena
alat ini dapat diatur dengan ketelitian yang tinggi dalam ukuran dan posisi
pengisian.
5. Dispending of Medication by Martin : 993
Sesegera mungkin setelah pengisian selesai, unit pengemasan
secara individual ditutup (disegel). Untuk ampul ini meliputi fusi temperatur
tinggi dari gelas untuk segel pembuka pada wadah. Untuk cartridge, vial
dan botol meliputi penyisipan/pemberian tutup karet. Langkah ini

dilakukan oleh mesin otomatis. Untuk menjamin bahwa penutup karet


tidak tercabut dari wadah, sebuah tutup aluminium biasanya melindungi
disekeliling penutup dan bibir wadah memberikan segel tutup yang padat.
6. Dispending Of Medication by King : 185
Sesegera mungkin setelah pengisian selesai, unit pengemasan
secara individual ditutup (disegel). Untuk ampul ini meliputi fusi temperatur
tinggi dari gelas untuk segel pembuka pada wadah. Untuk cartridge, vial
dan botol meliputi penyisipan/pemberian tutup karet. Langkah ini
dilakukan oleh mesin otomatis. Untuk menjamin bahwa penutup karet
tidak tercabut dari wadah, sebuah tutup aluminium biasanya melindungi
disekeliling penutup dan bibir wadah memberikan segel tutup yang padat.
7. Remington's Pharmaceutical Science, 18th ; 1563
Wadah yang telah diisi disegel sesegera mungkin untuk mencegah isi
dikontaminasi oleh lingkungn. Ampul disegel melalui peleburan bagian
leher gelas. Dua tipe penyegelan yang dilakukan pada umumnya; tiap
seals (segel-tutup) atau puul-seals (segel-tarik). Tiap seals (segel-tutup)
dibuat melalui peleburan gelas secukupnya. Pada bagian ujung leher
ampul membentuk butir-butir atau manik-manik dan tutup terbuka. Ini
dapat dibuat lebih cepat pada temperatur tinggi api gas oksigen. Untuk
menghasilkan manik-manik yang seragam, leher ampul harus dipanaskan
secara teratur pada semua sisi. Ini mungkin disempurnakan dengan
membakar sisi berlawanan dari ampul tak bergerak atau melalui
pemutaran ampul pada api tunggal. Perhatian diperlukan untuk mengatur
suhu api dan jeda pemanasan memperoleh penutupan sempurnadari

pembuka dengan manik-manik gelas. Pemanasan yang berlebihan akan


menghasilkan pemuaian gas dalam ampul melawan segel manik halus
dan menyebabkan penggelembungan bentuk. Jika ini meledak, ampul
tidak lama disegel. Jika tidak, dinding gelembung akan menipis dan
pecah.

Pemanasan yang tidak cukup akan menyababkan kapilaritas

kebagian tengah manik-manik. Sebuah segel ampul yang tidak sempurna


akan menyebabkan kebocoran. Pull-seals (segel-tarik) dibuat melalui
pemnasan leher ampul dibawah ujung. Sisia ujung yang sisa untuk
memegang dengan gunting tang atau mekanis lain. Ampul diputar pada
api dari alat pembakar tunggal. Ketika gelas ditembakkan, ujung dipengan
kuat dan ditarik dengan cepat dari badan ampul yang berlanjut
kepemutaran. Jika tali pipa kecil terbentuk, pemutaran dihentikan.
Kesimpulan :
Ada 2 cara penyegelan ampul
1. Segel tutup (2,3,4,9)
Segel tutp dibuat dengan cara memanaskan pada api tunggal bagian
ujung ampul yang terbuka hingga melebur dan membentuk tutup pada
bagian yang terbuka tersebut.
2. Segel tarik (2,3,4)
Segel tarik dibuat dengan cara memanaskan bagian atas leher ampul
yang diputar pada api tunggal ketika gelas telah melebur, ujungnya dijepit
kuat dan ditarik dengan cepat dari badan ampul dengan menggunakan
penjepit tang/pinset sehingga terbentuk segel
II.1.11 Uji Kebocoran

1. Dispensing of Medication by Martin : 992


a. Wadah untuk injeksi harus disegel rapat-rapat untuk mempertahankan
integritas produk. Ini jelas isi ampul dapat keluar, kontaminasi dapat
masuk. Uji untuk kebpcoran wadah yang relative sederhana dilakukan
pada semua gelas ampul. Prosedur biasa adalah merendam ampul
dalam larutan air bercat, seperti larutan 1% metilen biru dan kemudian
memindahkan chamber, jika wadah tidak disegel rapat-rapat, ketika
vakum dilepaskan, cat tertarik kedalam wadah. Setelah pencucian dari
luar, cat akan terlihat.
b. Dispending of Medication by King : 1193
Wadah untuk injeksi harus disegel rapat-rapat untuk mempertahankan
integritas produk. Ini jelas isi ampul dapat keluar, kontaminasi dapat
masuk. Uji untuk kebpcoran wadah yang relative sederhana dilakukan
pada semua gelas ampul. Prosedur biasa adalah merendam ampul dalam
larutan air bercat, seperti larutan 1% metilen biru dan kemudian
memindahkan chamber, jika wadah tidak disegel rapat-rapat, ketika
vakum dilepaskan, cat tertarik kedalam wadah. Setelah pencucian dari
luar, cat akan terlihat.
c. Remington's Pharmaceutical Science, 18th ; 1568
Ampul yang telah disegel malalui pelebutan harus diuji untuk
menentukan apakah ada atau tidak jalan untuk keluar; jika ada, semua
atau satu bagian isi dapat bocor keluar dan merusak wadah, atau
mikroorganisme

atau

kontaminasi

lain

dapat

masuk.

Perubahan

temperatur selama penyimpangan menyebabkan pemuaian dan kontraksi

ampul dan isi, dan akan menunjukkan jika ada jaan-keluar, sama halnya
jika ukuran sangat kecil.
Uji ini biasanya dilakukan dengan menghasilkan tekanan negatif
dalam segel ampul yang tidak sempurna ketika ampul dicelupkan dalam
dasar larutan cat. Yang sering digunakan, kira-kira 1 % larutan metilen
biru. Uji ini dilakukan melalui peletakan ampul vakum dalam vakum
chamber, ampul direndam dalam sebuah bak cat. Prosedur lain yang
sering digunakan adalah hanyak mengantoklaf ampul dalm sebuah bak
cat. Modifikasi dari cairan ini adalah untuk memindahkan ampul dari
antoklaf panas ddan dengan cepat direndami dalam bak dingin larutan
cat. Setelah pembilasan larutan cat akan mengeluarkan warna dari cat cat
yang akan nampak dalam kebocoran. Kebocoran tentunya dibuang.
d. Modern Pharmacentical; 484
Ampul yang telah disegel melalui peleburan harus diuji untuk
memastikan kerapatan segel yang dihasilkan. Uji kebocoran dilakukan
dengan mencelupkan ampul dalam larutan berwarna, seperti 1% metilen
biru, dan menggunakan paling sedikit 25 in (ca, 64 cm) vakum selama 15
menit. Vakum pada tangki kemudian dilepas secepat mungkin untuk
meletakkan tegangan maksimum pada segel yang lemah. Kemudian,
ampul dicuci. Ampul yang tidak sempurna akan mengandung larutan biru.
e. The Theory and Practise of Industrial Pharmacy; 1354
Ampul dimasukkan sebagai wadah yang kedap udara untuk suatu
dosis tunggal obat, sehingga secara sempurna menghalangi tiap
perubahan antara isis ampul yang disegel dan lingkunganya. Adanya poripori

kapiler

atau

retakan

halus

dapat

menyebabkan

masuknya

mikroorganisme atau kontaminasi lain yang berbahaya kedalam ampul,

atau isinya dapat bocor, keluar dan merusak penampilan kemasan.


Kebocoran biasanya dideteksi dengan menghasilkan suatu tekanan
negatif dalam ampul yang ditutup tidak sempurna, biasanya dalam ruang
vakum. Selagi ampul tersebut dibenamkan dalam larutan yang diberi
warna (biasanya 0,5%-1% metilen biru). Tekanan atmosfer berikutnya
kemudian menyebabkan zat warna berpentrasi ke dlaam lubang, dapat
dilihat setelah bagian luar ampul dicuci untuk membersihkan zat
warnanya. Vakum (27 in hg atau lebih) harus dengan tajam dilepaskan
setelah 30 menit. Hanya setetes kecil zat warna bisa berpenetrasi
kedalam lubang yang kecil.
Kesimpulan:
Ampul yang telah disegel melalui peleburan harus diuji untuk
memastikan kerapatan segel yang dihasilkan.(4,15,22) Uji kebocoran
dilakukan dengan mencelupkan ampul dalam larutan berwarna (biasanya
0,5%-1% metilen biru) dan diletakkan dalam ruang vakum (27 in hg atau
lebih) selama 30 menit.(2,4) Setelah itu, vakum dilepaskan secepat
mungkin sehingga menghasilkan tekanan udara maksimum yang dapat
mendesak larutan berwarna untuk berpenetrasi kedalam ampul yang
segelnya lemah (kurang rapat) sehingga jika segel ampul tidak sempurna
maka ampul akan mengadung larutan berwarna biru.(2,4,15,16,22)
II.1.12 Keseragaman Volume
1. Farmakope Indonesia edisi III : 19

Volume isi netto tiap wadah harus sedikit berlebih dari volume yang
ditetapkan. Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar di
bawah ini.
Volume pada

Volume tambahan yang dianjurkan


Cairan encer
Cairan kental
etiket
0,5 ml
0,10 ml
0,12 ml
1,0 ml
0,10 ml
0,15 ml
2,0 ml
0,15 ml
0,25 ml
5,0 ml
0,30 ml
0,50 ml
10,0 ml
0,50 ml
0,70 ml
20,0 ml
0,60 ml
0,90 ml
30,0 ml
0,80 ml
1,20 ml
50,0 ml atau lebih
2%
3%
2.
Ansel Indonesia; 434-435
Karena tidak mungkin dalam prakteknya memindahkan seluruh
volume wadah dosis tunggal atau volume terakhir dari wadah berganda
kedalam alat suntik, maka diperbolehkan meebihkan isi ampul atau vial
sedikit dari yang tertulis dietiket. Tabel berikut memuat kelebihan volume
yang diperbolehkan oleh USP untuk memenuhi pengambilan dan
pemberian volume seperti yang tertulis dietiket.
Kelebihan yang diperbolehkan untuk produk parental resmi
Ukuran di etiket (ml)

Kelebihan volume
untuk cairan yang
encer (ml)

Kelebihan volume
untuk cairan yang
kental (ml)

0,5
1,0
2,0
5,0
10,0
20,0
30,0
50,0 atau lebih

0,10
0,10
0,15
0,30
0,50
0,60
0,80
2%

0,12
0,15
0,25
0,50
0,75
0,90
1,20
3%

Etiket pada wadah produk parenteral harus mencantumkan :


1. Nama sediaan
2. Untuk sediaan cair perbandingan kadar obat atau jumlah obet yang
ada dalam volume yang ditentukan, atau untuk sediaan obat kering,
jumlah zat aktif yang ada dari volume cair yang ahrus ditambahkan
3.
4.
5.
6.

esediaan kering untuk membentuk larutan atau suspensi


Cara pemberian
Pernyataan kondisi penyimpangan dan tanggal kadaluarsa
Nama pabrik dan penyalur
Nomor lot (batch) pembuatann dimana bila diminta untuk menyatakan
semua proses pembuatan sediaan tersebut
Obat suntik utnuk penggunaan pada hewan dinyatakan atau ditullis

utnuk efek tersebut. Sediaan yang ditunjukkan kegunaan sebagai laruan


dialisis, hemofiltrasi atau irigasi harus memenuhi syarat-syarat untuk obat
suntik. Kecuali yang berhubungan dengan volume yang terdapat pada
wadah, dan harus memuat pernyataan yang menunjukkan bahwa larutan
bukan dimasudkan utnuk disuntikkan. Seluruh wadah sesuai label harus
cukup besar baik memanjang maupun melingkar agar memungkinkan
pengamatan isi wada. Bila ada obat suntik yang secara pengamatan mata
menampakkan partikel-partikel lain, selain zat suspensi yang normal harus
ada, obat tersebut harus disingkirkan.
3.

Scoville's:The Art of Compounding : 207


Wadah harus selalu diisi dengan volume yang lebih yang tertera pada

label. Ini dibutuhkan bahwa berapa larutan selalu melekat pada sisi wadah
dan tidak dapat dikeluarkan, khusunya ketika silikon tidak digunakan.
Penggunaan vial dan ampul yang prapava si dengan silikon menyebabkan
pemindahan isi dengan mudah karena cairan dalam vial tidak basah dan

mempu pada gelas tetapi pengosongannya lebih mudah dan cepat. Jumlah
lebih dari larutan yang dibutuhkan untuk penambahan bervariasi menurut
ukuran wadah dan viskositas larutan.
Ukuran di etiket (ml)

Kelebihan volume
untuk cairan yang
encer (ml)

Kelebihan volume
untuk cairan yang
kental (ml)

0,5
1,0
2,0
5,0
10,0
20,0
30,0
50,0
100,0

0,10
0,10
0,15
0,30
0,50
0,60
0,80
1,00
2,00

0,12
0,15
0,25
0,50
0,75
0,90
1,20
1,50
3,0

Kesimpulan :
Kelebihan volume (3,7,20)
Volume isi netto tiap wadah sedikit berlebih dari volume yang ditetapkan.
Kelebihan volume yang dianjurkan tertera dalam daftar dibawah ini :

Ukuran di etiket (ml)

Kelebihan volume
untuk cairan yang
encer (ml)

Kelebihan volume
untuk cairan yang
kental (ml)

0,5
1,0
2,0
5,0
10,0
20,0
30,0
50,0 atau lebih

0,10
0,10
0,15
0,30
0,50
0,60
0,80
2%

0,12
0,15
0,25
0,50
0,75
0,90
1,20
3%

II.1.13 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Distribusi Obat Yang


Diinjeksikan Secara Subkutan atau Intramuskular Ke Dalam
Sirkulasi Umum
Pharmaceutical Dosage Formulation Vol 1: 40-41
a. Kelarutan Obat
Obat-obat perlu dilarutkan secara sempurna sebelum mereka dapat
melewati obat atau hambatan jaringan dan masuk ke dalam sistem
sirkulasi. Ada 2 tipe kelarutan yang penting yaitu kelarutan dalam
pembawa dari bentuk sediaan dan kelarutan dalam cairan tubuh. Untuk
obat-obat yang diberikan dalam bentuk larutan, kelarutan dari sediaan
dicegah. Akan tetapi obat yang diberikan dalam bentuk suspensi,
kecepatan disolusi obat dari pembawa bentuk sediaan, sebaik kelarutan
dalam jaringan cairan pada daerah yang disuntikkan, secara lebih besar
menentukan kecepatan absorpsi dari obat. Kecepatan disolusi dari obat
yang diinjeksikan dalam bentuk suspensi tergantung dari ukuran partikel
obat, pH cairan pada daerah yang disuntikkan, sifat polimorfis dari bentuk
kristal obat, dan koefesien difusi obat. Viskositas yang lebih tinggi,
koefesien dari obat dikurangi. Sekali obat dalam larutan dari bentuk
sediaan, kelarutannya dalam cairan pada jaringan subkutan atau otot
tergantung pada koefesien partisi dan derajat ionisasi sebagai tanda oleh
pH cairan yang ada pada daerah yang disuntikkan.
b. Koefesien Partisi Obat

Kelarutan dalam lemak rendah dari obat, lebih rendah koefesien


partisinya, dan lebih lambat kecepatan absorpsinya ke dalam aliran darah
dari tempat yang diinjeksikan.
c. Kecepatan Aliran Darah Pada Daerah Yang Disuntikkan
Fakta yang telah diketahui bahwa aliran darah yang lebih besar
dalam jaringan kapiler ke dan dari tempat dimana ia diinjeksikan, maka
akan semakin tinggi kecepatan absorpsi dari obat. Injeksi ke dalam otot
lateral paha atau bokong dihubungkan dengan absorpsi obat yang lebih
lambat dan rendah (karena vaskular yang kurang dan bahan lemak lebih
tinggi) daripada injeksi dalam otot. Faktor-faktor yang meningkatkan aliran
darah, seperti latihan, meningkatkan absorpsi obat setelah injeksi
intramuscular atau subkutan. Sebaliknya, faktor-faktor yang dapat
mengurangi aliran darah, seperti obat vasokonstriksi seperti epinefrin, jika
diberikan secara concurrently pada daerah yang diinjeksikan mengurangi
kecepatan absorpsi obat.
d. Degradasi Obat Pada Daerah Yang Diinjeksikan
Distribusi dari bahan aktif obat secara biologis dikurangi jika obat
dimetabolisme atau dalam cara lain didegradasi pada daerah terinjeksi.
e. Ukuran Partikel Dari Obat
Ukuran partikel obat yang tersuspensi mempengaruhi kecepatan
disolusinya dalam bentuk sediaan. Ukuran partikel yang lebih besar,
kecepatan disolusi lebih lambat, luas permukaan obat kurang tersedia
untuk interaksi dengan cairan tubuh. Obat-obat yang sedikit larut, seperti

diazepam, fenitoin, dan digoxin, meskipun perlahan-lahan larut dalam


bentuk kosolvennya, mereka tidak larut dalam cairan berair tubuh.
Pengendapan partikel dapat dilarutkan kembali, tetapi kecepatan
disolusinya lambat.
f. Bahan-bahan Formulasi
Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat
untuk dapat disuspensikan kembali (seperti derivate selulosa), untuk
melarutkan (seperti gliserin)dan atau untuk peningkatan kestabilan
(antioksidan) yang secara potensial dapat mempengaruhi distribusi obat
dari daerah pemberian. Demikian efek-efek dapat dimanifestasikan dalam
berbagai cara, seperti kompleksi yang mengurangi kecepatan disolusi
obat, dan sebagai peningkat viskositas.
Kesimpulan :
Faktor -faktor yang mempengaruhi distribusi obat (26)
a. Kelarutan
Obat-obat yang larut sempurna lebih mudah masuk kedalam sistem
sehingga lebih mudah terdistribusi.
b. Koefisien partisi obat
Jika koefisien obat terhadap minyak rendah maka lebih lambat
kecepatan distribusinya kedalam aliran darah dari tempat yang
diinjeksikan
c. Kecepatan aliran darah yang disuntikkan

Kecepatan aliran darah yang lebih besar dalam jaringan kapiler dari
tempat dimana obat diinjeksikan maka akan semakin tinggi kecepatan
distribusi obat.
d. Degradasi obat pada daerah yang diinjeksikan
Jika obat dapat dimetabolisme atau degradasi pada darah yang
terinjeksi, maka distribusi bahan aktif obat akan berkurang.
e. Ukuran partikel obat
Ukuran partikel yang lebih besar, kecepatan disolusi lebih lambat, luas
permukaan obat kurang tersedia dalan interaksinya dengan cairan
tubuh, sehingga distribusi obat akan lambat.
f. Bahan-bahan formulasi
Bahan-bahan yang ditambahkan untuk formulasi sediaan obat dapat
mempengaruhi distrubis obay dari daerah pemberian. Pengaruh yang
dihasilkan tergantung dari bahan-bahan yang ditambahkan, ada bahan
yang dapat meningkatkan distrubusi obat dan ada bahan yang dapat
mengurangi distribusi obat. Bahan penambah kelarutan (seperti
gliserin) atau peningkat kestabilan 9antioksidan) dapat meningkatkan
distribusi obat. Sedangkan bahan-bahan peningkat viskositas dapat
mengurangi distribusi obat dan daerah injeksi ke sistem sirkulasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dinda, (2009), Medica Farma. Injeksi (online) http://www.medica
Farma.com diakses 30 maret 2009
2. Lachman, L, et all, (1986), The Theory and Practise of Industrial
Pharmacy, Third Edition, Lea and Febiger, Philadelphia
3.

Jenkins, G.L., (1969), Scoville's:The Art of Compounding, Burgess


Publishing Co, USA.

4.

Gennaro, A.R., (1998), Remington's Pharmaceutical Science, 18th


Edition, Marck Publishing Co, Easton.

5.

Martindale The Chomplete Drugs Reference e-book

6.

American Society Of Health-System Pharmacist,1998, AHFS Drug


Information, Customer Service Dept., USA

7. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI,


Jakarta.
8. Ditjen POM, (1978), Formularium Nasional, Edisi II, Depkes RI,
Jakarta.
9.

Sprowls, B.J., (1966), American Pharmacy 6th Edition, Lipincott


Company : Philadelphia

10.

Lucas, stefanus, (2006), Formulasi Steril , Andi, Yogyakarta.

11.

Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI,


Jakarta.

12. Med- Math


13. Parrot, Eugene C, (1980), Pharmaceutical Technology, Collage of
Pharmacy University of Iowa, Iowa City
14. Groves,J.Michael, (1988), Parenteral Technology Manual.College of
pharmacy.University of Illionis at Chicago
15. Martin., (1971), Dispensing of Medication, Marck Publishing Company,
Pensilvania
16.

King, R.E., (1984), Dispensing of Medication, Ninth Edition, Marck


Publishing Company, Philadelphia.

17.

Rawling,E.A., (2003), Bentley Textbook of Pharmaceutics, Eight


Edition, Bailliere, Tindall, London.

18. Formulasi steril, (2008), Sediaan Parenteral Ampul (online)


http://www.Formulasisteril.com diakses 29 Maret 2009
19. Hoover,L.T.,(1996), Dispending of Medication, Mack Publishing
Company,USA
20. Howard, C. Ansel, (1989), Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi
IV. UI Press. Jakarta
21. Swarbick, jamen, (2002), Encyclopedia Of Pharmaceutical
Technology Of Pharmaceutical Technology , 11th Edition, New
York
22. Gilbert,S. (2002). Modern pharmaceutics 4TD ED.Revised and
expanded, Marcel Dekker Inc. New York
23.

Joseph B. Sprowls, Jr.,PhD., (1970), Prescription Pharmacy, J.B


Lippincott Company, Philadelphia, Toronto.

24. Winfield.A.J, (2000), Pharmaceutical practice 3rd ed. Churchill


Livingstone.Edindurgh.London
25.

Torce, Salvatore dan Robert S King, (1974), Sterile Dosage Form,


Lea Febinger, Philadelphia.

26. Howard, C. Ansel. (1989). Pharmaceutical drug Formulation, USA


Press, America Serikat.
27. Katzung, (2001), Farmakologi Dasar dan klinik. Salemba Medika.
Jakarta
28. Tjay, Tan Hoan., (2000), Obat-obat Penting, Edisi V, Depkes RI,
Jakarta
29.

Ganiswara, S.B., (1995), Farmakologi dan Terapi, Edisi IV, Bagian


Farmakologi FKUI, Jakarta.

30.

ISFI, (2007), ISO Informasi Spesialite Obat.Penerbit Ikatan Sarjana


Farmasi Indonesia. Jakarta

31.

Nuswantari, D., (1998), Kamus Saku Kedokteran Dorland, Penerbit


Buku Kedokteran, EGC, Jakarta

32.

Kibbe,A.H., (1994), Handbook of Pharmaceutical Excipient, The


Pharmaceutical Press, London.

33.

Parfitt,K., (1994), Martindale The Complete Drug Reference, 32nd


Edition, Pharmacy Press.