Anda di halaman 1dari 4

Autoimun

Kadang-kadang sistem kekebalan tubuh kehilangan toleransinya terhadap diri


sendiri dan melancarkan perlawanan terhadap molekul-molekul tertentu dalam tubuh yang
menyebabkan salah satu dari banyak penyakit autoimun. Pada penyakit eritromatasus lupus
sistemik (lupus), misalnya sistem kekebalan membangkitkan antibodi (yang dikenal sebagai
auto-antibodi) terhadap semua jenis molekul sendiri, bahkan histon dan DNA yang
dibebaskan oleh perombakan normal sel tubuh. Lupus ditandai dengan ruam kulit, demam,
artritis, dan kegagalan fungsi ginjal. Penyakit autoimun lain yang diperantarai antibodi yaitu
artritis reumatoid, mengakibatkna kerusakan danperadangan yang sangat menyakitkan pada
tulang rawan dan tulan-tulang pada persendian. Pada diabetes melitus yang bergantung pada
insuluin, sel-sel beta penghasil insulin di pankreas merupakan target respons autoimun yang
diperantarai oleh sel. Contoh terakhir adalah multiple sclerosis (MS), penyakit neurologis
kronis yang paling umum di negara-negara maju. Pada multiple sclerosis, sel T yang reaktif
terhadap mielin memasuki sistem saraf pusat dan merusak mielin neuron. Orang dengan MS
mengalami sejumlah abnormalitas neurologis yang serius.
Penyebab autoimun bervariasi dan kompleks, dan masih banyak yang harus dipelajari
mengenai penyakit ini. Satu penemuan yang membingungkan adalah pahwa pewarisan MHC
tertentu dikaitkan dengan kerentanan terhadap penyakit autoimun tertentu, seperti diabetes
melitus yang bergantung pada insulin.
Respons luas dari autoimun telah dibagi secara klinis ke dalam penyakit non-organ-
spesifik dan organ-spesifik. Hubungan reaksi autoimun destruktif ditunjukkan secara jelas
pada miastenia gravis, penyakit Grave, artritis reumatoid, sistemik lupus, eritematosus (SLE),
dan lain-lain.
Observasi terhadap fenomena autoimun telah menimbulkan generalisasi ini, antara lain:
1. Fenomena autoimun spesifik terjadi dengan frekuensi yang lebih besar pada keluarga
tertentu, yang menunjukkan ganggguan genetik yang dihubungkan dengan gangguan
dasar kontrol imnu timik.
2. Penyakit autoimun lebih umum pada wanita daripada pria, yang menunjukkan
hubungan antara hormon seks dan respon imun.
3. Individu lansia mempunyai prevalensi autoantibodi yang lebih besar, yang mungkin
hasil dari kesalahan genetik karena kelainan sistem imun sepanjang proses penuaan.
4. Virus dapat memainkan peran dalam kekambuhan autoimunitas karena
kemampuannya untuk mengganggu sistem imun pada suatu tingkatan mana pun.
5. Jaringan asing (protein dan jaringan yang tidak secara normal kontak dengan sel T
dan sel B) dapat dipajankan pada sel ini melalui penyakit atau gangguan.
6. Jaringan antigen-sendiri (self-antigen) diubah oleh penyakit atau cedera, sehingga
hospes tidak lagi mengenalnya sebagai diri sendiri (self).

A. Macam-macam penyakit autoimun
a. Lupus Eritematosus Sistemik
Lupus eritematosus sistemik (LES) adalah suatu penyakit autoimun kronis
yang ditandai oleh terbentuknya antibodi-antibodi terhadap beberapa ntigen diri
yang berlainan. Antibodi-antibodi tersebut biasanya adalah IgG atau IgM dan
dapat bekerja terhadap asam nukleat pada DNA atau RNA, protein jenjang
koagulasi, kulit, sel darah merah, sel darah putih, dan trombosit. Kompleks
antigen antibodi dapat mengendap di jaringan kapiler sehingga terjadi reaksi
hipersensitivitas tipe III, kemudian terjadi peradangan kronik.

Penyebab LES
Penyebab LES tidak diketahui, walaupun penyakit ini sering terjadi pada
orang-orang dengan kecenderungan mengidap oenyakit autoimun. Bukti yang
menunjang hal ini adalah tingginya angka kejadian kembar identik pada bayi kulit
hitam dibandingkan kulit putih. Kecenderungan terjadinya LES dapat
berhubungan dengan perubahan gen MHC spesifik dan bagaimana antigen sendiri
ditunjukkan dan dikenali. Wanita lebih cenderung mengalami LES dibandingkan
pria karena peran hormon seks. LES dapat dicetuskan oleh stress, sering berkaitan
dengan kehamilan atau menyusui. Pada beberapa orang, pajanan radiasi ultraviolet
yang berlebihan dapat mencetuskan penyakit. Penyakit ini biasanya mengenai
wanita muda selama masa subur. Penyakit ini dapat bersifat ringan selama
bertahun-tahun atau dapat berkembang dan menyebabkan kematian.

Gambaran Klinis
Poliartralgia (nyeri sendi) dan artritis peradangan sendi
Demam akibat peradangan kronik
Ruam wajah dalam pola malar (seperti kupu-kupu) di pipi dan hidung.
Kata lupus berarti serigala dan mengacu kepada penampakan topeng
seperti serigala.
Lesi dan kebiruan di ujung jari akibat buruknya aliran darah dan hipoksia
kronik
Sklerosis (pengencangan atau pengerasan) kulit jari tangan
Luka di selaput lendir mulut atau faring (sariawan)
Lesi berskuama di kepala, leher, dan punggung
Edema mata dan kaki mungkin mencerminkan keterlibatan ginjal dan
hipertensi.
Anemia, kelelahan kronik, infeksi berulang dan pendarahan sering terjadi
karena serangan terhadap sel darah merah dan putih serta trombosit.

Perangkat Diagnostik
Antibodi antinukleus tampak pada sekurangnya 95% penderita LES,
namun dapat terjadi pada non-penderita.
Antibodri terhadap DNA untai ganda adalah diagnostik LES.
Protein pada urin sebagai tanda ada kerusakan ginjal
Antibodi antineuron dapat terjadi

Komplikasi
Gagal ginjal adalah penyebab tersering kematian pada penderita LES.
Gagal ginjal dapat terjadi akibat deposit kompleks antibodi-antigen
pada glomerulus disertai pengaktifan komponen resultan yang
menyebabkan cedera sel, suatu contoh reaksi hipersensitivitas tope III.
Dapat terjadi perikarditis (peradangan kantung perikaridum yang
mengelilingi jantung)
Peradangan membran pleura yang mengelilingi paru dapat membatasi
pernapasan. Sering terjadi bronkitis.
Dapat terjadi vaskulitis di semua pembuluh serebrum dan perifer.
Komplikasi susunan saraf termasuk stroke dan kejang. Perubahan
kepribadian, termasuk psikosis dan depresi, dapat terjadi. Perubahan
kepribadian mungkin berkaitan dengan terapi obat atau penyakitnya.
Penatalaksanaan
Obat anti-inflamasi termasu aspirin atau obat anti-inflamasi nonsteroid
lainnya digunakan untuk mengobati demam dan artritis.
Kortikosteroid sistemik digunakan untuk mengobati atau mencegah
patologi ginjal dan susunan saraf pusat
Obat anti-inflamasi, seperti metotreksat dan obat sitotoksik
(azatiopirin) digunakan jika steroid tidak efektif atau gejala berat.
Obat antimalaria digunakan untuk mengobati ruam kulit, artritis, dan
penyakit lain.

Sumber ; Campbell, Neil A. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Gelora Aksara
Pratama.