Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU DENGAN KANKER OVARIUM




(Di Ruang Kandungan F2 RSAL dr.Ramelan Surabaya)








Oleh:
YUNITA KHOIROTUS SALAMAH
NIM. 011211223009




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2013

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kanker ovarium (kanker indung telur) merupakan penyebab nomor satu dari
seluruh kematian yang disebabkan kanker pada saluran reproduksi. Penderita
kanker ini umumnya didiagnosis terlambat, karena belum adanya metode deteksi
dini yang akurat. Sehingga hanya 20-30% penderita kanker ovarium saja yang
dapat terdiagnosa pada stadium awal. Kanker ovarium erat hubungannya dengan
wanita yang mempunyai tingkat kesuburan yang rendah atau intenfertilitas dan
biasanya terjadi pada wanita nullipara, melahirkan pertama kali pada usia diatas
35 tahun dan wanita yang mempunyai keluarga dengan riwayat ovarium, kanker
payudara atau kanker kolon, sedangkan wanita dengan riwayat kehamilan pertama
terjadi pada usia di bawah 25 tahun, dengan penggunaan pil kontrasepsi dan
menyusui akan menurunkan kanker ovarium sebanyak 30 -60% (Aditya, 2009).
Di Indonesia tumor ganas ovarium banyak dijumpai dan merupakan
penyebab kematian ketiga setelah tumor ganas serviks dan tumor ganas payudara,
padahal five-years survival ratenya dalam 50 tahun terakhir ini tidak banyak
mengalami kemajuan yaitu berkisar antara 20-37%. Tumor ganas pada ovarium
ditemukan dengan proporsi sebesar 8% dari seluruh tumor ganas ginekologi.
Tumor ini dapat terjadi pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada usia
50 tahun yaitu sebesar 60%, sedangkan pada masa reproduksi kira-kira 30% dan
pada usia lebih muda sebanyak 10%. Akhir-akhir ini diperkirakan terjadi
peningkatan kasus dengan gambaran histopatologi antara neoplasma ovarian jinak
dan ganas, diklasifikasikan sebagai neoplaasma ovarium borderline yang
penanganannya masih belum disepakati oleh para ahli. Diperkirakan sekitar 9,2%
dari seluruh keganasan ovarium adalah neoplasma kelompok ini, yang angka
ketahanan hidupnya dapat mencapai 95% meskipun kemungkinan rekurensi dan
kematian dapat terjadi 10-20 tahun kemudian. Hal ini disebabkan karena
neoplasma kelompok ini tetap memiliki kemampuan metastasis ke organorgan
jauh diluar genitalia interna (Priyanto, 2007).


2

Di Indonesia, Keganasan ovarium merupakan salah satu kasus ginekologi
yang paling sering ditemukan pada perempuan dan menempati urutan ketiga
setelah kanker serviks dan kanker payudara. Terdapat 21.990 kasus keganasan
ovarium yang terdeteksi pada tahun 2011 dan sekitar 15.460 kasus di antaranya
berakhir dengan kematian.. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa kanker
ovary adalah jenis kanker yang paling sulit dideteksi dan diobati, hal ini
diakibatkan karena pada tahap awalnya kanker ovary menunjukkan sedikit sekali
gejala atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Kondisi ini yang menyebabkan
mereka yang terkena penyakit ini ketika di diagnosis lebih dari setengahnya sudah
berada pada tahap lanjutan sehingga kegagalan pengobatan atau perawatannya
lebih tinggi.
Salah satu pengobatan kanker ovarii yaitu dengan cara kemoterapi. Klien
yang sudah melakukan kemoterapi akan mengalami mual, muntah, nafsu makan
menurun, stomatitis, nefripenia, sehingga klien dengan kemoterapi baik sebelum
dan sesudah tindakan sangat memerlukan perawatan khusus sehingga efek dari
therapy tersebut dapat diminimalkan.
Dari fenomena tersebut penulis merasa tertarik untuk melakukan suatu
kajian studi kasus pada ibu kanker ovarium dengan kemoterapi khususnya di
Ruang F2 RSAL dr. Ramelan Surabaya

1.2 Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan dapat melakukan asuhan kebidanan pada ibu dengan
kanker ovarium sesuai dengan manajemen asuhan kebidanan.

1.3 Tujuan Khusus
1.3.1. Dapat menjabarkan definisi, etiologi, patofisiologi,tanda gejala,
klasifikasi, dan penanganan kanker ovarium
1.3.2. Dapat menjabarkan konsep dasar asuhan kebidanan pada ibu dengan
kanker ovarium
1.3.3. Dapat melakukan tinjauan kasus atau asuhan kebidanan pada ibu
dengan kanker ovarium

3

1.3.4. Dapat melakukan dokumentasi asuhan kebidanan pada kasus ibu
dengan kanker ovarium yang ada di klinik.
1.3.5. Dapat mengkaji dan melakukan pembahasan antara asuhan
kebidanan secara teori dan apa yang ada di lapangan.

1.4 Pelaksanaan
Kegiatan praktik klinik dilaksanakan di RSAL dr. Ramelan Jl. Gadung No
1 Surabaya pada tanggal 21 Desember sampai 3 Januari 2013.

1.5 Sistematika Penulisan
Agar dapat dipahami oleh pembaca maka penyusunan laporan ini terbagi
dalam beberapa bab yang sistematika. Penyusunannya adalah sebagai
berikut :
BAB 1 Pendahuluan
BAB 2 Tinjauan Pustaka
BAB 3 Tinjauan Kasus
BAB 4 Pembahasan
BAB 5 Penutup
Daftar Pustaka












4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Kanker Ovarium
2.1.1 Pengertian
Kanker ovarium merupakan tumor dengan histiogenesis yang beraneka
ragam, dapat berasal dari ketiga (3) dermoblast (ektodermal, endodermal,
mesodermal) dengan sifat-sifat histiologis maupun biologis yang beraneka ragam
(Smeltzer & Bare, 2002).
Terdapat pada usia peri menopause kira-kira 60%, dalam masa reproduksi
30% dan 10% terpadat pada usia yang jauh lebih muda. Tumor ini dapat jinak
(benigna), tidak jelas jinak tapi juga tidak jelas / pasti ganas (borderline
malignancy atau carcinoma of low maligna potensial) dan jelas ganas (true
malignant) (Priyanto, 2007).
Kanker ovarium sebagian besar berbentuk kista berisi cairan maupun padat.
Kanker ovarium disebut sebagai silent killer. Karena ovarium terletak di bagian
dalam sehingga tidak mudah terdeteksi 70-80% kanker ovarium baru ditemukan
pada stadium lanjut dan telah menyebar (metastasis) kemana-mana (Wiknjosastro,
2005).

2.1.2 Klasifikasi
Ada 3 jenis kanker ovarium, yaitu:
1. Tumor epitel primer (tumor serosum, tumor mesinosum, kanker
endometriod, kanker sel jernih, tumor brenner, karsinoma diferensiasi). Jenis
tumor dengan insiden terbanyak sekitar 85% lebih banyak pada umur 50
tahun atau lebih
2. Gell cell tumor (dysgerminoma, tumor sinus endodermal, karsinoma
embrional, koriokarsinoma, teratoma). Lebih bnyak terjadi pada wanita
muda atau anak-anak
3. Sex-cord stromal tumor (tumor sel granulosa, androblastoma,
ginandroblastoma, fibroma)


5

2.1.3 Etiologi
Ovarium terletak di kedalaman rongga pelvis. Bila timbul kanker, biasanya
tanpa gejala pada awalnya sehingga sulit ditemukan, membuat diagnosis tertunda.
Ketika lesi berkembang dan timbul gejala, sering kali sudah bukan stadium dini.
Maka terdapat 60-70% pasien kanker ovarium saat didiagnosis sudah terdapat
metastasis di luar ovarium. Penyebab kanker ovarium hingga kini belum jelas,
tapi faktor lingkungan dan hormonal berperan penting dalam patogenesisnya.
Akan tetapi banyak teori yang menjelaskan tentang etiologi kanker ovarium,
diantaranya:
1. Hipotesis incessant ovulation, Teori menyatakan bahwa terjadi kerusakan
pada sel-sel epitel ovarium untuk penyembuhan luka pada saat terjadi
ovulasi. Proses penyembuhan sel-sel epitel yang terganggu dapat
menimbulkan proses transformasi menjadi sel-sel tumor.
2. Hipotesis androgen, Androgen mempunyai peran penting dalam
terbentuknya kanker ovarium. Hal ini didasarkan pada hasil percobaan
bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Dalam percobaan in-
vitro, androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epitel ovarium normal dan
sel-sel kanker ovarium.

2.1.4 Faktor Risiko
Menurut Bughman dan Hackley (2000) dan Otto (2005) faktor risiko yang
dapat menjadi penyebab kanker ovarium antara lain sebagai berikut:
1. Diit tinggi lemak
2. Perokok
3. Alkohol
4. Penggunaan bedak tabur pada daerah perineal
5. Riwayat kanker payudara, kolon atau endometrium
6. Nuliparitas
7. Infertilitas
8. Anovulasi
9. Kelompok usia 50-59 tahun
10. Genetik

6

11. Penggunaan KB hormon estrogen dalam jangka waktu lama tanpa
kombinasi progesteron
12. Riwayat kanker ovarium
13. Endometriosis
14. Menstruasi lebih awal
15. Menopause terlambat
16. Kehamilan pada usia tua

2.1.5 Patofisiologi
Tumor ganas ovarium diperkirakan sekitar 15-25% dari semua tumor
ovarium. Dapat ditemukan pada semua golongan umur, tetapi lebih sering pada
usia 50 tahun ke atas, pada masa reproduksi kira-kira separuh dari itu dan pada
usia lebih muda jarang ditemukan. Faktor predisposisi ialah tumor ovarium jinak.
Pertumbuhan tumor diikuti oleh infiltrasi, jaringan sekitar yang menyebabkan
berbagai keluhan samar-samar. Kecenderungan untuk melakukan implantasi
dirongga perut merupakan ciri khas suatu tumor ganas ovarium yang
menghasilkan asites (Brunner dan Suddarth, 2002).
Banyak tumor ovarium tidak menunjukkan tanda dan gejala, terutama tumor
ovarium kecil. Sebagian tanda dan gejala akibat dari pertumbuhan, aktivitas
hormonal dan komplikasi tumor-tumor tersebut.
1. Akibat Pertumbuhan
Adanya tumor di dalam perut bagian bawah bisa menyebabkan pembesaran
perut, tekanan terhadap alat sekitarnya, disebabkan oleh besarnya tumor atau
posisinya dalam perut. Selain gangguan miksi, tekanan tumor dapat
mengakibatkan konstipasi, edema, tumor yang besar dapat mengakibatkan
tidak nafsu makan dan rasa sakit.
2. Akibat aktivitas hormonal
Pada umumnya tumor ovarium tidak menganggu pola haid kecuali jika
tumor itu sendiri mengeluarkan hormon.
3. Akibat Komplikasi

7

a. Perdarahan ke dalam kista : Perdarahan biasanya sedikit, kalau tidak
sekonyong-konyong dalam jumlah banyak akan terjadi distensi dan
menimbulkan nyeri perut.
b. Torsi : Torsi atau putaran tangkai menyebabkan tarikan melalui
ligamentum infundibulo pelvikum terhadap peritonium parietal dan
menimbulkan rasa sakit.
c. Infeksi pada tumor
Infeksi pada tumor dapat terjadi bila di dekat tumor ada tumor kuman
patogen seperti appendicitis, divertikalitis, atau salpingitis akut
d. Robekan dinding kista
Robekan pada kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka
perdarahan dapat sampai ke rongga peritonium dan menimbulkan rasa
nyeri terus menerus.
e. Perubahan keganasan
Dapat terjadi pada beberapa kista jinak, sehingga setelah tumor diangkat
perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang seksama terhadap
kemungkinan perubahan keganasan (Wiknjosastro,2005).

Tumor ganas merupakan kumpulan tumor dan histiogenesis yang beraneka
ragam, dapat berasal dari ketiga (3) dermoblast (ektodermal, endodermal,
mesodermal) dengan sifat histiologis maupun biologis yang beraneka ragam, kira-
kira 60% terdapat pada usia peri menopause 30% dalam masa reproduksi dan 10%
usia jauh lebih muda.
Tumor ovarium yang ganas, menyebar secara limfogen ke kelenjar para
aorta, medistinal dan supraclavikular. Untuk selanjutnya menyebar ke alat-alat
yang jauh terutama paru-paru, hati dan otak, obstruksi usus dan ureter merupakan
masalah yang sering menyertai penderita tumor ganas ovarium (Harahap, 2003).






8

2.1.6 Stadium
Stadium Penjelasan
Ia Terbatas pada satu ovarium, tidak ada asites, tidak ada tumor
di permukaan luar, kapsul utuh
Ib Tumbuh terbatas pada dua ovarium, tidak ada asites, tidak ada
tumor di permukaan luar, kapsul utuh
Ic Sama dengan Ia atau Ib, tetapi dengan tumor pada permukaan
luar atau kapsul pecah atau dengan asites
II Tumbuh pada satu atau dua ovarium dengan penyebaran ke
pelvis
IIa Penyebaran atau metastase ke uterus dan atau tuba
IIb Penyebaran ke jaringan pelvis yang lain
IIc Sama dengan IIa atau IIb, tetapi dengan asites
IIIa Tumor terbatas pada pelvis minor tetapi secara mikroskopis
terdapat penyebaran pada permukaan peritonium abdominal,
kelenjar getah bening negative
IIIb Tumor mengenai satu atau dua ovarium dengan inplan pada
permukaan peritonium abdominal tidak lebih dari 2 cm,
kelenjar getah bening negative
IIIc Inplan pada organ intra abdomen dengan diameter lebih dari 2
cm, dan atau kelenjar getah bening retro peritonial atau
inguinal positif
IV Pertumbuhan mengenai satu atau dua ovarium dengan
metastase jauh






9

2.1.7 Manifestasi Klinis
Kanker ovarium tidak menimbulkan gejala pada waktu yang lama. Gejala
umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik.
1. Stadium Awal
a. Gangguan haid (siklus tidak teratur, peningkatan ketegangan
premenstuasi, menoragi)
b. Nyeri tekan payudara
c. Konstipasi (pembesaran tumor ovarium menekan rectum)
d. Sering berkemih (tumor menekan vesika urinaria)
e. Nyeri spontan panggul (pembesaran ovarium)
f. Nyeri saat bersenggama (penekanan / peradangan daerah panggul)
g. Melepaskan hormon yang menyebabkan pertumbuhan berlebihan pada
lapisan rahim, pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan
rambut)

2. Stadium Lanjut
a. Asites
b. Penyebaran ke omentum (lemak perut)
c. Perut membuncit
d. Kembung dan mual (rasa begah saat makan dalam jumlah sedikit)
e. Gangguan nafsu makan
f. Gangguan BAB dan BAK
g. Sesak nafas
h. Dyspepsia
(Boughman & Hackley;2000)

2.1.8 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi yaitu :
1. Asites
Kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung ke struktur
yang berdekatan pada abdomen dan panggul dan melalui penyebaran

10

benih tumor melalui cairan peritoneal ke rongga abdomen dan rongga
panggul.
2. Efusi Pleura
Dari abdomen, cairan yang mengandung sel-sel ganas melalui saluran
limfe menuju pleura.

Komplikasi lain yang dapat disebabkan pengobatan adalah :
1. Infertilitas adalah akibat dari pembedahan pada pasien menopause
2. Mual, muntah dan supresi sumsum tulang akibat kemoterapi. Dapat juga
muncul masalah potensial ototoksik, nefroktoksik, neurotoksis
3. Penyakit berulang yang tidak terkontrol dikaitkan dengan obstruksi usus,
asites fistula dan edema ekstremitas bawah

2.1.9 Pemeriksaan Klinis
Pemeriksaan klinis untuk menentukan diagnosis kanker ovarium adalah
sebagai berikut:
1. Tes Darah CA 125
CA 125 merupakan protein yang terdapat pada permukaan sel kanker
ovarium dan beberapa jaringan sehat. Kandungan CA-125 meningkat sekitar
80% pada pasien yang terkena kanker ovarium epithelial. Akan tetapi
metode ini tidak terlalu akurat untuk mendiagnosa kanker ovarium karena
protein CA-125 juga dapat meningkat dalam kondisi non-kanker, seperti
saat terjadi endometriosis dan radang usus buntu.
2. Scan Ultrasound
Ada kemungkinan perlu dilakukan pemeriksaan dengan transvaginal
ultrasound, dengan memasukkan alat ultrasound ke dalam vagina.
Pemeriksaan juga dapat dilakukan melalui pemeriksaan ultrasound eksternal
di mana alat ultrasound diletakkan di atas perut. Gambar yang dihasilkan
kemudian akan menunjukkan ukuran serta tekstur dari ovarium, sekaligus
kista yang mungkin ada.
3. Pemeriksaan Pelvik

11

Dokter memeriksa permukaan vulva, uterus serta ovarium untuk mencari
perubahan abnormal.
4. Scan CT atau Scan MRI
Pemindaian visual pada bagian perut, dada dan pelvik ini dapat membantu
untuk mendeteksi tanda-tanda terjadinya kanker pada bagian tubuh yang
lain.
5. X-Ray dada
Diagnosa ini membantu untuk mendeteksi apakah bagian tubuh yang lain
seperti paru-paru, juga telah terkena kanker.
6. Bedah atau Biopsi
Pada dasarnya metode ini adalah metode pembedahan atau biopsi yang
diperlukan untuk membuktikan bahwa sel yang didiagnosa adalah kanker
dan berasal dari ovarium.

2.1.10 Penanganan
Adapun penanganan kanker ovarium adalah sebagai berikut:
Stadium Penanganan
Operasi Radiasi Kemoterapi
IIa, IIb, IIc + + +
IIIa, IIIb, IIIc +/- - +
IV +/- - +

1. Pembedahan
Merupakan pilihan utama, luasnya prosedur pembedahan ditentukan
oleh insiden dan seringnya penyebaran ke sebelah yang lain (bilateral)
dan kecenderungan untuk menginvasi korpus uteri.
2. Biopsi
Dilakukan di beberapa tempat yaitu omentum, kelenjar getah lambung,
untuk mendukung pembedahan.

12

3. Second look Laparotomi
Untuk memastikan secara radioterapi atau kemoterapi lazim dilakukan
laparotomi kedua bahkan sampai ketiga.
4. Kemoterapi
Merupakan salah satu terapi yang sudah diakui untuk penanganan
tumor ganas ovarium. Sejumlah obat sitestatika telah digunakan
termasuk agens alkylating seperti itu (cyclophasphamide,
chlorambucil) anti metabolic seperti : Mtx / metrotrex xate dan 5
fluorouracit / antibiotikal (admisin).
Merupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat
sitostatika yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-
sel kanker (Hidayat, 2008) :
a. Prinsip Kerja Obat Kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker
Sebagian besar obat kemoterapi (sitostatika) yang digunakan saat
ini bekerja terutama terhadap sel-sel kanker yang sedang berproliferasi,
semakin aktif sel-sel kanker tersebut berproliferasi maka semakin peka
terhadap sitostatika hal ini disebut Kemoresponsif, sebaliknya semakin
lambat prolifersainya maka kepekaannya semakin rendah, hal ini
disebut Kemoresisten.
Obat kemoterapi ada beberapa macam, diantaranya adalah :
Obat golongan Alkylating agent, platinum Compouns, dan
Antibiotik Anthrasiklin obat golongan ini bekerja dengan antara
lain mengikat DNA di inti sel, sehingga sel-sel tersebut tidak bisa
melakukan replikasi.
Obat golongan Antimetabolit, bekerja langsung pada molekul basa
inti sel, yang berakibat menghambat sintesis DNA.
Obat golongan Topoisomerase-inhibitor, Vinca Alkaloid, dan
Taxanes bekerja pada gangguan pembentukan tubulin, sehingga
terjadi hambatan mitosis sel.
Obat golongan Enzim seperti, L-Asparaginase bekerja dengan
menghambat sintesis protein, sehingga timbul hambatan dalam
sintesis DNA dan RNA dari sel-sel kanker tersebut.

13


b. Pola Pemberian Kemoterapi
Adapun pola pemberiannya adalah sebagai berikut:
Kemoterapi Induksi
Ditujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau
jumlah sel kanker, contoh pada tomur ganas yang berukuran besar
(Bulky Mass Tumor) atau pada keganasan darah seperti leukemia
atau limfoma, disebut juga dengan pengobatan penyelamatan.
Kemoterapi Adjuvan
Biasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti
pembedahan atau radiasi, tujuannya adalah untuk memusnahkan
sel-sel kanker yang masih tersisa atau metastase kecil yang ada
(micro metastasis).
Kemoterapi Primer
Dimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas,
diberikan pada kanker yang bersifat kemosensitif, biasanya
diberikan dahulu sebelum pengobatan yang lain misalnya bedah
atau radiasi.
Kemoterapi Neo-Adjuvan
Diberikan mendahului/sebelum pengobatan /tindakan yang lain
seperti pembedahan atau penyinaran kemudian dilanjutkan dengan
kemoterapi lagi. Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa
tumor yang besar sehingga operasi atau radiasi akan lebih berhasil
guna.

c. Cara pemberian obat kemoterapi
Intra vena (IV)
Kebanyakan sitostatika diberikan dengan cara ini, dapat berupa
bolus IV pelan-pelan sekitar 2 menit, dapat pula per drip IV
sekitar 30 120 menit, atau dengan continous drip sekitar 24
jam dengan infusion pump upaya lebih akurat tetesannya.
Intra tekal (IT)

14

Diberikan ke dalam canalis medulla spinalis untuk
memusnahkan tumor dalam cairan otak (liquor cerebrospinalis)
antara lain MTX, Ara.C.
Radiosensitizer, yaitu jenis kemoterapi yang diberikan sebelum
radiasi, tujuannya untuk memperkuat efek radiasi, jenis obat
untukl kemoterapi ini antara lain Fluoruoracil, Cisplastin,
Taxol, Taxotere, Hydrea.
Oral
Pemberian per oral biasanya adalah obat Leukeran,
Alkeran, Myleran, Natulan, Puri-netol, hydrea,
Tegafur, Xeloda, Gleevec.
Subkutan dan intramuskular
Pemberian sub kutan sudah sangat jarang dilakukan, biasanya
adalah L-Asparaginase, hal ini sering dihindari karena resiko
syok anafilaksis. Pemberian per IM juga sudah jarang
dilakukan, biasanya pemberian Bleomycin.
Topikal
Intra arterial
Intracavity
Intraperitoneal/Intrapleural
Intraperitoneal diberikan bila produksi cairan acites hemoragis
yang banyak pada kanker ganas intra-abdomen, antara lain
Cisplastin. Pemberian intrapleural yaitu diberikan kedalam
cavum pleuralis untuk memusnahkan sel-sel kanker dalam
cairan pleura atau untuk mengehntikan produksi efusi pleura
hemoragis yang amat banyak , contohnya Bleocin.

d. Tujuan Pemberian Kemoterapi
Pengobatan
Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.
Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas
hidup.

15

Mengurangi komplikasi akibat metastase.

e. Persiapan dan syarat kemoterapi
Persiapan
Sebelum pengobatan dimulai maka terlebih dahulu dilakukan
pemeriksaan yang meliputi:
(1) Darah tepi; Hb, Leuko, hitung jenis, Trombosit.
(2) Fungsi hepar; bilirubin, SGOT, SGPT, Alkali phosphat.
(3) Fungsi ginjal; Ureum, Creatinin dan Creatinin Clearance
Test bila serum creatinin meningkat.
(4) Audiogram (terutama pada pemberian Cis-plastinum)
(5) EKG (terutama pemberian Adriamycin, Epirubicin).
Syarat
(1) Keadaan umum cukup baik.
(2) Penderita mengerti tujuan dan efek samping yang akan
terjadi, informed concent.
(3) Faal ginjal dan hati baik.
(4) Diagnosis patologik
(5) Jenis kanker diketahui cukup sensitif terhadap kemoterapi.
(6) Riwayat pengobatan (radioterapi/kemoterapi) sebelumnya.
(7) Pemeriksaan laboratorium menunjukan hemoglobin > 10
gram %, leukosit > 5000 /mm, trombosit > 150 000/mm.

f. Efek samping kemoterapi
Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :
Efek amping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang
timbul dalam 24 jam pertama pemberian, misalnya mual dan
muntah.
Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang
timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu
kemudian, misalnya netripenia dan stomatitis.

16

Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects)
yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa bulan,
misalnya neuropati perifer, neuropati.
Effek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang
timbul dalam beberapa bulan sampai tahun, misalnya
keganasan sekunder.

Intensitas efek samping tergantung dari karakteristik obat, dosis
pada setiap pemberian, maupun dosis kumulatif, selain itu efek
samping yang timbul pada setiap penderita berbeda walaupun
dengan dosis dan obat yang sama, faktor nutrisi dan psikologis juga
mempunyai pengaruh bermakna.
Efek samping yang selalu hampir dijumpai adalah gejala
gastrointestinal, supresi sumsum tulang, kerontokan rambut. Gejala
gastrointestinal yang paling utama adalah mual, muntah, diare,
konstipasi, faringitis, esophagitis dan mukositis, mual dan muntah
biasanya timbul selang beberapa lama setelah pemberian sitostatika
dab berlangsung tidak melebihi 24 jam.
Gejala supresi sumsum tulang terutama terjadinya penurunan
jumlah sel darah putih (leukopenia), sel trombosit
(trombositopenia), dan sel darah merah (anemia), supresi sumsum
tulang belakang akibat pemberian sitistatika dapat terjadi segera
atau kemudian, pada supresi sumsum tulang yang terjadi segera,
penurunan kadar leukosit mencapai nilai terendah pada hari ke-8
sampai hari ke-14, setelah itu diperlukan waktu sekitar 2 hari untuk
menaikan kadar laukositnya kembali. Pada supresi sumsum tulang
yang terjadi kemudian penurunan kadar leukosit terjadi dua kali
yaitu pertama-tama pada minggu kedua dan pada sekitar minggu ke
empat dan kelima. Kadar leukosit kemudian naik lagi dan akan
mencapai nilai mendekati normal pada minggu keenam. Leukopenia
dapat menurunkan daya tubuh, trombositopenia dapat

17

mengakibatkan perdarahan yang terus-menerus/ berlabihan bila
terjadi erosi pada traktus gastrointestinal.
Kerontokan rambut dapat bervariasi dari kerontokan ringan
sampai pada kebotakan. efek samping yang jarang terjadi tetapi
tidak kalah penting adalah kerusakan otot jantung, sterilitas, fibrosis
paru, kerusakan ginjal, kerusakan hati, sklerosis kulit, reaksi
anafilaksis, gangguan syaraf, gangguan hormonal, dan perubahan
genetik yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker baru.
Kardiomiopati akibat doksorubin dan daunorubisin umumnya
sulit diatasi, sebagian besar penderita meninggal karena pump
failure, fibrosis paru umumnya iireversibel, kelainan hati terjadi
biasanya menyulitkan pemberian sitostatika selanjutnya karena
banyak diantaranya yang dimetabolisir dalam hati, efek samping
pada kulit, saraf, uterus dan saluran kencing relatif kecil dan lebih
mudah diatasi.

Penanganan lanjut
a. Sampai satu tahun setelah penanganan, setiap 2 bulan sekali
b. Sampai 3 bulan setelah penanganan, setiap 4 bulan
c. Sampai 5 tahun penanganan, setiap 6 bulan
d. Seterusnya tiap 1 tahun sekali












18

2.2 Konsep Dasar Asuhan Kebidanan pada Ibu dengan Kanker Ovarium
I. Pengkajian Data
1. Data Subyektif (S)
a. Biodata
Nama :
Umur : Terdapat pada usia peri menopause kira-kira 60%,
dalam masa reproduksi 30% dan 10% terpadat
pada usia yang jauh lebih muda
Pendidikan : Makin rendah pendidikan ibu, maka pengetahuan
ibu tentang penyakitnya makin kecil sehingga
kesadaran untuk deteksi dini dan memeriksakan
diri ke pelayanan kesehatan kurang
b. Keluhan utama
Pada Stadium Awal biasanya ibu mengeluhkan adanya gangguan
haid (siklus tidak teratur, peningkatan ketegangan premenstuasi,
menoragi), Nyeri tekan payudara, Konstipasi (pembesaran tumor
ovarium menekan rectum), Sering berkemih (tumor menekan
vesika urinaria), Nyeri spontan panggul (pembesaran ovarium),
Nyeri saat bersenggama (penekanan / peradangan daerah
panggul), pembesaran payudara atau peningkatan pertumbuhan
rambut. Pada Stadium Lanjut keluhan yang ada adalah Perut
membuncit, Kembung dan mual (rasa begah saat makan dalam
jumlah sedikit), Gangguan nafsu makan, Gangguan BAB dan
BAK, Sesak nafas, Dyspepsia
c. Riwayat kebidanan
menstruasi lebih awal, menopause terlambat, Anovulasi,
kehamilan masa tua, nuliparitas dan infertilitas dapat menjadi
faktor risiko kanker ovarium
d. Riwayat KB
Penggunaan KB hormon estrogen dalam jangka waktu lama tanpa
kombinasi progesteron dapat meningkatkan risiko kanker ovarium


19

e. Riwayat kesehatan
Riwayat adanya tumor ovarium jinak, endometriosis dan pernah
menderita kanker ovarium, kanker payudara, kanker kolon dan
kanker endometrium dapat menjadi faktor pemicu tumbuhnya
tumor ovarium ganas (kanker ovarium)
f. Riwayat penyakit keluarga
Adanya ibu atau saudara perempuan yang menderita kanker
ovarium dapat menjadi faktor risiko terkena kanker ovarium
g. Pola kebiasaan sehari-hari
1) Nutrisi
Diet tinggi lemak dapat memicu kanker ovarium.
Pada ibu kanker ovarium, dapat terjadi mual, makan sedikit
perut terasa penuh dan adanya gangguan nafsu makan
2) Aktivitas
Pada wanita dengan kanker serviks merasakan sesak
napassehingga kemungkinan mengganggu aktivitas
3) Istirahat
Pada ibu dengan kanker serviks biasanya mengalami keluhan
sesak, sehingga ibu memerlukan istirahat dengan posisi bantal
agak ditinggikan
4) Personal hygiene
Ibu dengan pemberian bedak tabur pada daerah perineal akan
meningkatkan risiko kanker ovarium
5) Eliminasi
Pada ibu kanker ovarium sering berkemih pada stadium awal.
Pada stadium lanjut terdapat gangguan BAB dan BAK
6) Seksual
Ibu dengan kanker ovarium biasanya mengalami nyeri saat
bersenggama
7) Kebisaan
Ibu perokok dan pengkonsumsi alkohol meningkatkan risiko
kanker ovarium

20

2. Data Obyektif (O)
a. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik - buruk
Kesadaran : Composmentis - somnolens
Tanda-tanda vital :
Suhu : Normal antara 36
0
C-37
5 0
C
Nadi : Normal 60-90 x/menit
Tekanan darah : Normal 110/70 120/80 mmHg
Pernafasan : Normal 18-24x/menit, pada stadium lanjut
mengalami sesak
BB : BB dapat turun
b. Pemeriksaan fisik
Inspeksi
Pada inspeksi mata (konjunctiva) dan muka dapat pucat jika
ibu disertai anemia
Rambut dapat terjadi kerontokan pada saat ibu menjalani
kemoterapi
Kulit dapat menjadi lebih gelap saat menjalani kemoterapi
Pada inspeksi genitalia
Terdapat darah diantara 2 siklus menstruasi, dapat terlihat
adanya bedak pada daerah perineal.
Palpasi
Terdapat nyeri tekan pada payudara
Perut nyeri tekan dan membesar
Auskultasi
Terdapat bunyi weezing saat bernapas
Perkusi
Terdapat bunyi pekak pada ibukanker ovarium dengan efusi
pleura
Terdapat meteorismus pada perut




21

c. Pemeriksaan khusus
Tes Darah CA 125
terdapat pada permukaan sel kanker ovarium dan beberapa
jaringan sehat. Kandungan CA-125 meningkat sekitar 80%
pada pasien yang terkena kanker ovarium epithelial. Akan
tetapi metode ini tidak terlalu akurat untuk mendiagnosa
kanker ovarium karena protein CA-125 juga dapat meningkat
dalam kondisi non-kanker, seperti saat terjadi endometriosis
dan radang usus buntu.
Scan Ultrasound
Ada kemungkinan perlu dilakukan pemeriksaan dengan
transvaginal ultrasound,. Gambar yang dihasilkan kemudian
akan menunjukkan ukuran serta tekstur dari ovarium
sekaligus kista yang mungkin ada.
Pemeriksaan Pelvik
Terjadi perubahan abnormal.
Scan CT atau Scan MRI
Pemindaian visual pada bagian perut, dada dan pelvik ini
dapat membantu untuk mendeteksi tanda-tanda terjadinya
kanker pada bagian tubuh yang lain.
X-Ray dada
Diagnosa ini membantu untuk mendeteksi apakah bagian
tubuh yang lain seperti paru-paru, juga telah terkena kanker.
Bedah atau Biopsi
Pada dasarnya metode ini adalah metode pembedahan atau
biopsi yang diperlukan untuk membuktikan bahwa sel yang
didiagnosa adalah kanker dan berasal dari ovarium.
Darah lengkap
Dapat terjadi leukositopenia, trombositopenia dan anemia
pada ibu kanker ovarium yang menjalani kemoterapi



22

2. Analisa Data (A)
Diagnosa : Ny.... dengan kanker ovarium stadium....
Masalah : Masalah yang mungkin terjadi adalah:
Rasa takut
Stress

3. Penatalaksanaan (P)
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini
R/Memberi pengetahuan tentang keadaannya saat ini
2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung serat dan antioksidan
R/serat memudahkan ibu untuk BAB ketika konstipasi dan
antioksidan tinggi meningkatkan imunitas dan memperlambat
pertumbuhan sel kanker
3. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan tidur dengan posisi
bantal ditinggikan atau setengah duduk
R/ Istirahat yang cukup akan membantu pemulihan tubuh dan
posisi setengah duduk dapat melonggarkan jalan napas dan
mengurangi sesak
4. Melakukan informed consent
R/Sebagai salah satu bentuk persetujuan tindakan medis untuk
pasien
5. Melakukan rujukan untuk pemeriksaan lebih lanjut
R/Dengan pemeriksaan diketahui diagnosis pasti kanker ovarium
dan stadiumnya
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapie
R/Sebagai fungsi dependent
7. Kolaborasi dengan laborat
R/mengetahui kondisi ibu terutama untuk syarat pemberian terapi
8. menganjurkan ibu kontrol rutin
R/Monitor keadaan pasien



23

BAB 3
TINJAUAN KASUS

Pengkaji : Yunita Khoirotus Salamah
Tanggal pengkajian : 22 Desember 2013
Pukul : 10.00 WIB
Tanggal MRS : 18 Desember 2013
Pukul :
Tempat : Ruang Kandungan F2 RSAL dr.Ramelan Surabaya

A. Subyketif (S)
1. Identitas / Biodata
Nama Ibu : Ny. S Nama Suami : Tn Y
Umur : 25 tahun Umur : 24 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/ bangsa : Jawa/Indonesia Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan Swasta Pekerjaan : Karyawan Swasta
Alamat rumah : Jl. Gunung Anyar tengah Gg 7B No.14

2. Anamnesa
a. Keluhan
Ibu mengeluh batuk, perut terasa berat, dan punggung nyeri, sesak
nafas
b. Riwayat Menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus : Normal 30 hari
Banyak : 2-3 pembalut
Lama : 6-7 hari, saat terkena kanker, 10-15 hari
Sifat darah : merah, encer
Dismenorrhea : kadang-kadang
Flour albus : tidak ada

24

c. Riwayat Pernikahan
Jumlah Suami : 1 orang
Usia Menikah : 25 tahun
Lama Menikah : 7 bulan

d. Riwayat Obstetri lalu
Ibu belum pernah hamil dan melahirkan
e. Riwayat KB
Ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
f. Riwayat Kesehatan Dahulu
Bulan November 2013 ibu mengeluh perutnya membesar,
kemudian memeriksakan diri ke RS Bersalin Pondok Candra, hasil
USG terbukti ada pembesaran di daerah ovarium ibu, dokter
menyatakan itu adalah kista dan sudah pecah ke usus
Tanggal 5 November 2013 ibu menjalani operasi kista dipondok
candra dan ada temuan tumor ganas ovarium. Setelah operasi ibu
dianjurkan kembali 2 minggu lagi untuk kemoterapi akan tetapi ibu
terlambat 1 minggu untuk kemoterapi dan kondisi perutnya
membesar lagi
Selanjutnya ibu dirujuk dari RSB Pondok Candra ke RSAL dr.
Ramelan
Di RSAL dr. Ramelan 26 November 2013 ibu diinfus dan
distabilkan kondisinya kemudian pada hari ke -3 dilaksanakan
kemoterapi, 3 hari kemudian ibu pulang
g. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu masuk rumah sakit tanggal 18 Desember 2013 dengan keluhan
perut membesar mulai 1 bulan yang lalu, nyeri pinggang, tidak
nafsu makan, dan sulit BAB. Ibu juga diambil cairannya dalam
perut (ascites) sebanyak 1,5 liter, tanggal 19 Desember 2013 ibu
sesak dan dipasangkan oksigen selama 1 hari
h. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita kanker

25


i. Pola Kehidupan Sehari-hari
Nutrisi
Ibu makan 3x perhari dengan menu seimbang. Ibu mengalami
penurunan nafsu makan sehingga makannya jarang habis. Ibu
minum kurang lebih 1 liter perhari
Eliminasi
BAK 5-6x perhari, BAB sulit
Istirahat
Kurang lebih 6 jam perhari dan terkadang pola tidurnya terganggu
Personal Higine
Ibu mandi 2x perhari ganti pakaian dan celana dalam 2x sehari
Seksual
Seminggu 2x dan semenjak diketahui ibu terkena kanker, tidak
pernah
Kebiasaan
Ibu tidak merokok dan tidak pernah mengkonsumsi alkohol

2. Data Obyektif (O)
a. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital :
Suhu : 36,8
0
C
Nadi : 80 x/menit
Tekanan darah : 140/80
Pernafasan : 20x/menit

b. Pemeriksaan fisik
Mata dan muka : Konjunctiva pucat
Dada : Terdengar bunyi weezing , terdapat bunyi
pekak

26

Perut : terlihat membesar, nyeri tekan, terdapat
meteorismus
Genitalia : fluor albus (-)
Ekstremitas :tangan kiri terpasang infus NS 14
tetes/menit

c. Pemeriksaan khusus
tanggal pemeriksaan : 22 Desember 2013
X-Ray dada
Hasil menyatakan ibu mengalami efusi pleura
Darah lengkap
Hasil menyatakan ibu mengalami leukositopenia (2200/mm
3
),
anemia terkoreksi (10,7 gr%), trombosit 289.000/ mm
3


4. Analisa Data (A)
Diagnosa : Ny S usia 25 tahun Ca Ovarium perbaikan KU
Masalah : Masalah yang mungkin terjadi adalah:
Cemas

5. Penatalaksanaan (P)
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini
Ibu dan keluarga mengerti dengan kondisi pasien
2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan
menu rumah sakit
Ibu habis 1 porsi penuh
3. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan tidur dengan posisi
bantal ditinggikan atau setengah duduk
Ibu terlihat masih belum tidur dan berbaring dengan posisi
setengah duduk
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi

27

Dokter memberikan terapi injeksi ceftriaxon 2x1gr IV, injeksi
Ranitidin 2x1 ampul IV, injeksi Ondancentron 3x1 ampul IV,
Kenacort 3x1, Vipalbumin 1x1
7. Kolaborasi dengan laborat
Cek Darah lengkap atas advise dokter SpOG
8. Kolaborasi dengan dokter spesialis paru, kolaborasi akan
dilaksanakan hari senin tanggal 23 desember 2013

CATATAN PERKEMBANGAN I

Tanggal pengkajian : 23 Desember 2013
pukul : 12.00 WIB

S : Ibu merasa sesaknya berkurang
O : a. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital :
Suhu : 36
0
C
Nadi : 74 x/menit
Tekanan darah : 130/80
Pernafasan : 18x/menit
b. Pemeriksaan fisik
Mata dan muka : Konjunctiva pucat
Dada : Terdengar bunyi weezing , terdapat bunyi
pekak
Perut : terlihat membesar, nyeri tekan, terdapat
meteorismus
Genitalia : fluor albus (-)
Ekstremitas :tangan kiri terpasang infus NS 14
tetes/menit


28

A : Diagnosa : Ny S usia 25 tahun Ca Ovarium perbaikan KU
Masalah : Masalah yang mungkin terjadi adalah:
Cemas
P :
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini
Ibu dan keluarga mengerti dengan kondisi pasien
2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan
menu RS
Ibu telah mengkonsumsi 1 porsi penuh
3. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan tinggi protein
untuk meningkatkan leukosit ibu seperti putih telur atau ikan gabus.
Di meja ibu terlihat beberapa butir telur rebus dan ibu
mengkonsumsinya
4. Menganjurkan dan membantu ibu untuk istirahat cukup dan tidur
dengan posisi bantal ditinggikan atau setengah duduk
Ibu terlihat berbaring dengan posisi setengah duduk
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi
Dokter memberikan terapi injeksi ceftriaxon 2x1gr IV, injeksi
Ranitidin 2x1 ampul IV, injeksi Ondancentron 3x1 ampul IV,
Kenacort 3x1, Vipalbumin 1x1
6. Kolaborasi dengan dokter spesialis paru
Ibu telah dipungsi pleuranya, cairan sebanyak 550cc. Diberikan
asmef 3x500mg
7. Kolaborasi dengan laborat
Cek Darah lengkap atas advise dokter SpOG








29

CATATAN PERKEMBANGAN II
Tanggal pengkajian : 24 Desember 2013
pukul : 06.00 WIB

S : Ibu tidak bisa BAB
O : a. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital :
Suhu : 36,8
0
C
Nadi : 82 x/menit
Tekanan darah : 120/80
Pernafasan : 22x/menit
b. Pemeriksaan fisik
Mata dan muka : Konjunctiva pucat
Dada : Terdengar bunyi weezing , terdapat bunyi
pekak
Perut : terlihat membesar, nyeri tekan, terdapat
meteorismus
Genitalia : fluor albus (-)
Ekstremitas : tangan kiri terpasang infus NS 14
tetes/menit
c. pemeriksaan penunjang
Hb 11gr%, leukosit 5000/mm
3
,

trombosit 290.000/ mm
3


A : Diagnosa : Ny S usia 25 tahun Ca Ovarium perbaikan KU
Masalah : Masalah yang mungkin terjadi adalah:
Gangguan BAB
P :
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini
Ibu dan keluarga mengerti dengan kondisi pasien

30

2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan
menu RS
Ibu telah mengkonsumsi 1 porsi penuh
3. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan tinggi protein
untuk meningkatkan leukosit ibu seperti putih telur atau ikan gabus.
Di meja ibu terlihat beberapa butir telur rebus dan ibu
mengkonsumsinya
4. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan tidur dengan posisi
bantal ditinggikan atau setengah duduk
Ibu terlihat berbaring dengan posisi setengah duduk
5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi
Dokter memberikan terapi injeksi Ranitidin 2x1 ampul IV, injeksi
Ondancentron 3x1 ampul IV, Vipalbumin 1x1mg, Asmef 3x500mg,
2 dulcolax supp
6. Memasukkan 2 dulolax supp pada anus ibu, ibu bersedia


CATATAN PERKEMBANGAN III
Tanggal pengkajian : 25 Desember 2013
pukul : 08.00 WIB

S : Ibu merasa kondisinya lebih baik
O : a. Pemeriksaan umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital :
Suhu : 36,8
0
C
Nadi : 82 x/menit
Tekanan darah : 120/80
Pernafasan : 22x/menit



31

b. Pemeriksaan fisik
Mata dan muka : Konjunctiva pucat
Dada : Terdengar bunyi weezing , terdapat bunyi
pekak
Perut : terlihat membesar, nyeri tekan, terdapat
meteorismus
Genitalia : fluor albus (-)
Ekstremitas :tangan kiri terpasang infus NS 14
tetes/menit
c. pemeriksaan penunjang
Tanggal pemeriksaan : 25 Desember 2013
pungsi pleura 550 cc

A : Diagnosa : Ny S usia 25 tahun Ca Ovarium perbaikan KU
P :
1. Menjelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini
Ibu dan keluarga mengerti dengan kondisi pasien
2. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan sesuai dengan
menu RS
Ibu telah mengkonsumsi 1 porsi penuh
3. Menganjurkan ibu untuk istirahat cukup dan tidur dengan posisi
bantal ditinggikan atau setengah duduk
Ibu terlihat berbaring dengan posisi setengah duduk
4. Mengganti infus dengan plug, ibu bersedia
5. Dilakukan foto torak PA + lateral kanan, hasil belum ada
6. Melepas plug ibu, ibu bersedia
7. Memberitahu ibu bahwa ibu sudah boleh pulang dan kontrol 15
hari lagi untuk kemoterapi, ibu mengangguk dan dapat mengulang
pemberitahuan petugas, ibu keluar rumah sakit pukul 14.40 WIB




32

BAB 4
PEMBAHASAN

Pada data subyektif diketahui usia ibu 25 tahun, hal ini sesuai dengan
teori bahwa 30% wanita usia reproduksi ada yang terkena kanker ovarium. Selain
itu, ibu menarche pada usia 13 tahun dan nuliparitas, hal ini merupakan faktor
risiko kanker ovarium
Pada anamnesa keluhan ibu, ibu mengalami batuk, perut terasa penuh dan
punggung sakit. Hal ini sesuai dengan teori terjadi karena membesarnya perut ibu
disertai efusi pleura.
Pada riwayat obstetri, ibu belum pernah hamil dan melahirkan atau disebut
nulipara. Bedasarkan teori, nulipara adalah salah satu faktor risiko kanker
ovarium.
Pada riwayat kesehatan ibu yang lalu dan sekarang ibu tidak pernah
terkena kanker payudara, kolon, endometrium yang merupakan faktorr isiko
kanker ovarium. Sedangkan Riwayat KB hormonal estrogen tanpa progesteron
dalam jangka lama menjadi faktor risiko kanker ovarium.
Pada pemeriksaan ditemukan adanya pucat pada muka dan konjunctiva
ibu. Ibu mengalami anemia. Pada dada terdapat bunyi weezing dan perkusi pekak
yang menandakan adanya cairan karena efusi pleura. Pada pemeriksaan perut,
terjadi pembesaran dan nyeri tekan. Semua tanda klinis ini sesuai dengan teori
yang ada pada kanker ovarium.
Pola Kebiasaan ibu sehari-hari mengalami masalah pada penurunan nafsu
makan dan gangguan BAB. Menurut teori memang ibu dengan kanker ovarium
biasanya mengalami kesulitan BAB
Penatalaksanaan yang telah diterima ibu di RSAL dr.ramelan adalah
berupa pemeriksaan penunjang untuk mengetahui apakah anemia, cek darah
lengkap dalam kebutuhannya menjadi syarat boleh di kemoerapi,





33

BAB 2
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Penyebab pasti kanker ovarium masih belum diketahui, namun
berdasarkan anamnesa yang dilakukan pada Ny. S dapat ditarik kesimpulan
bahwa kemungkinan penyebab dari kanker ovarium adalah faktor usia dan
nuliparitas serta menstruasi pertama yang lebih awal. Keluhan yang ada
dalah perutnya terasa berat, nyeri punggung, batuk. Hal ini terjadi karena ada
efusi pleura pada paru-prunya. Terapi yang sudah diberikan adalah
kemoterapi dan pemberian obat oral maupun injeksi. Pemberiaan kemoterapi
seri 2 ditunda karena anemia dan leukositopenia pada ibu.

5.2 Saran
1.2.1 Bagi Institusi
Diharapkan dapat menambah kepustakaan yang telah dimiliki dan
diharapkan juga dapat menambah kajian baru serta dapat dijadikan
bahan rujukan untuk penyusunan laporan yang akan datang.
1.2.2 Bagi Tempat Praktik
Dapat menjadikan laporan ini sebagai bahan masukan dalam
meningkatkan kualitas pelayanan
1.2.3 Bagi Mahasiswa
Dapat menjadikan laporan ini sebagai pertimbangan dasar atau bahan
data untuk penyusunan laporan selanjutnya.









34

DAFTAR PUSTAKA

Boughman dan Hackley. 2000. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta:EGC
Brunner, L dan Suddarth, D. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah (H.
Kuncara, A. Hartono, M. Ester, Y. Asih, Terjemahan). (Ed.8) Vol 1.
Jakarta : EGC.
Harahap R.E. Carcinoma Ovarii. 1984. Kanker Ginekologi edisi II.
Jakarta:Gramedia
Otto, E Shirley.2005. Buku Saku Keperawatan. Jakarta:EGC
Priyanto. 2007. http://www.scribd.com/doc/151019941/LP-CA-ovarium diunggah
pada 24 Desember 2013
Smeltzer, S. C, Bare, B. G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Volume 2. Edisi 8. Jakarta: EGC
Wiknjosastro, H. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka