Anda di halaman 1dari 2

A.

Adaptasi Organisme
Adaptasi diartikan merupakan kemampuan individu untuk mengatasi keadaan
lingkungan dan menggunakan sumber-sumber alam lebih banyak untuk mempertahankan
hidupnya dalam relung yang diduduki. Ini bahwa setiap organisme mempunyai sifat adaptasi
untuk hidup pada berbagai macam keadaan lingkungan. Ada beberapa jenis adaptasi yakni
adaptasi morfologis, adaptasi fisiologis dan adaptasi tingkah laku (Djamal, 1992).

B. Temperatur Tubuh Pada Poikilotermis
Suhu tubuh hewan poikilotermik ditentukan oleh keseimbangannya dengan kondisi
suhu lingkungan, dan berubah-ubah seperti berubah-ubahnya kondisi suhu lingkungan. Pada
hewan poikilotermik air, misalnya kerang, udang dan ikan, suhu tubuhnya sangat ditentukan
oleh keseimbangan konduktif dan konvektif dengan air mediumnya, dan suhu tubuhnya mirip
dengan suhu air. Hewan memproduksi panas internal secara metabolik, dan ini mungkin
meningkatkan suhu tubuh di atas suhu air. Namun air menyerap panas begitu efektif dan
hewan poikilotermik tidak memiliki insulasi sehingga perbedaan suhu hewan dengan air
sangat kecil (Soewolo, 2000).
Menurut Soewolo (2000), bahwa aktivitas poikilotermis tergantung kepada suhu
lingkungannya dan sehubungan dengan itu, hewan-hewan kelompok ini tidak akan
memerlukan energi terlalu besar untuk termoregulasinya karena laju metabolismenya juga
rendah dengan sedikit atau tanpa adanya produksi panas. Dalam kondisi dingin suhu
tubuhnya rendah dan di kondisi panas maka suhu tubuh akan meningkat. Suhu tubuh akan
meningkat karena efek lingkungan dan laju metabolisme juga akan dipercepat. Oleh sebab itu
tidak ada laju metabolisme yang pasti pada poikilotermis dan akan berubah-ubah sesuai
temperatur lingkungan. Poikilotermis meregulasi suhu tubuhnya dengan mekanisme fisika
hanya melalui:
a. Insulasi yang sedikit memungkinkan kehilangan panas lebih cepat dan mencegah
akumulasi panas yang tersimpan dalam tubuh.
b. Suhu tubuh di bagian dalam (core body temperature) yang diukur dari bagian rektal)
akan lebih rendah daripada suhu lingkungannya.
c. Pada lingkungan yang tinggi, panas tubuh akan dikurangi melalui evaporasi.
d. Pada suhu lingkungan yang rendah, tidak ada proses regulasi spesifik untuk
memproduksi panas karena tidak ada regulasi kimiawi.
Telah diketahui pula bahwa kecocokan antara suhu tubuh dengan suhu air akan lebih
mudah tercipta pada hewan-hewan kecil daripada hewan besar. Pada kondisi aktivitas yang
berkelanjutan, hewan berukuran besar akan memperlihatkan peningkatan signifikan dari suhu
tubuhnya. Ikan biasanya lebih mudah mengalami perubahan ketika suhu lingkungan berubah.
Ikan-ikan yang hidup di perairan dangkal atau di bagian permukaan air laut akan mengalami
fluktuasi temperatur yang drastis pada periode musiman. Sedangkan ikan-ikan yang ada di
daerah tropis atau di air yang dalam pada berbagai daerah lintang tidak menghadapai
fluktuasi temperatur, sehingga sangat sensitif terhadap perubahan suhu lingkungannya. Ikan
yang secara normal mengalami perubahan musiman dari aspek suhu tubuhnya akan
melibatkan perubahan-perubahan biokimiawi untuk menjaga perubahan suhu tubuh agar
tetap dalam kondisi normal (Santoso, 2009).
Pengaruh suhu rendah terhadap ikan adalah rendahnya kemampuan mengambil oksigen
(hypoxia). Kemampuan rendah ini disebabkan oleh menurunnya detak jantung. Pengaruh lain
adalah terganggunya proses osmoregulasi (pertukaran air dari dan ke dalam tubuh ikan).
Pada suhu yang turun mendadak akan terjadi degradasi sel darah merah sehingga proses
respirasi (pernafasan atau pengambilan oksigen) terganggu. Sebaliknya, pada suhu yang
meningkat tinggi akan menyebabkan ikan bergerak aktif, tidak mau berhenti makan, dan
metabolisme cepat meningkat sehingga kotoran menjadi lebih banyak. Kotoran yang banyak
akan menyebabkan kualitas air disekitarnya menjadi buruk. Sementara kebutuhan oksigen
meningkat, tetapi ketersediaan oksigen air buruk sehingga ikan akan kekurangan oksigen
dalam darah. Akibatnya ikan menjadi stress, tidak ada keseimbangan, dan menurun sistem
sarafnya (Lesmana, 2002).
Kenaikan suhu air ini disebabkan masuknya limbah air panas yang berasal dari
Pembangkit listrik. Penurunan suhu air juga merugikan bagi organisme. Bila terjadi
penurunan suhu air maka organisme berusaha melindungi diri dengan cara mensintesa
senyawa glikoprotein. Senyawa ini dapat mencegah pembekuan larutan yang terdapat dalam
tubuhnya. Namun penurunan suhu air laut yang terlalu rendah akan mengakibatkan kematian
organisme air (Hutagalung, 1988).