Anda di halaman 1dari 7

A.

JUDUL
Tingkat Kebisingan pada Ruang Dalam dan Luar.

B. TUJUAN
Untuk mengukur dan mengetahui perbedaan tingkat kebisingan yang disebabkan oleh
akustik ruang dalam dan luar.

C. ALAT DAN BAHAN
Alat tulis
Kertas tabel untuk mencatat
Sound Level Meter
Handphone sebagai timer

D. CARA KERJA
1. Menentukan ruangan yang akan digunakan untuk mengukur tingkat kebisingan ruang
dalam dan luar.
2. Menentukan ruang yang diteliti, yaitu posisi/lokasi, fungsi ruang, luasan, dan tinggi ruang.
3. Melakukan hipotesis awal untuk menganalisis permasalaha kualitas ruang dari ibyek
pengamatan.
4. Menentukan titik-titik pengukuran di ruangan, pada percobaan kali ini digunakan tiga titik
ruang dalam dan tiga titik ruang luar dengan memperhatikan jarak sumber terang.
5. Memulai pengukuran dengan menggunakan alat sound level meter. Mencatat hasil
pengukuran.
6. Mengulangi kembali pengukuran dengan durasi waktu yang dapat mewakili kondisi
ekstrim (minimal dan maksimal).

E. LANDASAN TEORI
Akustik Ruang adalah bentuk dan bahan dalam suatu ruangan yang terkait dengan
perubahan bunyi atau suara yang terjadi. Akustik sendiri berarti gejala perubahan suara
karena sifat pantul benda atau objek pasif dari alam. Akustik ruang sangat berpengaruh
dalam reproduksi suara, misalnya dalam gedung rapat akan sangat memengaruhi artikulasi
dan kejelasan pembicara. Akustik ruang banyak dikaitkan dengan dua hal mendasar, yaitu :
perubahan suara karena pemantulan dan gangguan suara ketembusan suara dari ruang lain.
Kebisingan (Noise) adalah sebagai bunyi yang tidak di inginkan, suara yang
mengganggu dan bunyi yang menjengkelkan. Menurut Mc-Graw Hill Dictionary of Scientific
and Technical Terms (Parker, 1994), noise adalah sound which is unwanted (bunyi yang
tidak dikehendaki). Sesungguhnya, gangguan yang ditimbulkan noise tidak harus berupa
bunyi yang keras. Bagi mereka yang sedang sakit gigi dan sangat membutuhkan istirahat,
bahkan bunyi tetesan air pun dapat menjadi gangguan. Noise senantiasa dihubungkan
dengan ketidaknyamanan yang diakibatkan olehnya. Belum banyak orang yang menyadari
bahwa munculnya noise juga dapat mengakibatkan penurunan kesehatan. Sebagai contoh,
orang yang sulit beristirahat karena di sekitar rumahnya selalu ramai dengan bunyi yang
tidak dikehendaki, lambat laun dapat menurun tingkat kesehatannya. Selanjutnya, masalah
psikologi pun dapat muncul akibat dari istirahat yang kurang mencukupi, sepert i cepat lelah
dan mudah marah (Nilson, 1991). Noise yang berasal dari bunyi yang keras bahkan dapat
secara langsung menurunkan kemampuan organ pendengaran, meskipun hal itu secara
bertahap.
Noise bersifat subjektif, sehingga batasan noise bagi orang yang satu bisa saja
berbeda dengan batasan noise bagi orang yang lain.
Jenis-Jenis Kebisingan
Jenis-jenis kebisingan yang sering ditemukan berdasarkan spektrum frekuensi dan
sifat sumber bunyi, bising dapat dibagi atas:
Bising terus menerus (continuous noise)
Bising terus menerus dihasilkan oleh mesin yang beroperasi tanpa henti, misalnya
blower, pompa, kipas angin, gergaji sirkuler, dapur pijar, dan peralatan pemprosesan. Bising
terus-menerus adalah bising dimana fluktuasi dari intensitasnya tidak lebih dari 6 dB dan
tidak putus-putus. Bising kontinyu dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:
a. Wide Spectrum adalah bising dengan spektrum frekuensi yang luas. bising ini
relatif tetap dalam batas kurang dari 5 dB untuk periode 0.5 detik berturut-turut, seperti
suara kipas angin, suara mesin tenun.
b. Norrow Spectrum adalah bising ini juga relatif tetap, akan tetapi hanya
mempunyai frekuensi tertentu saja (frekuensi 500, 1000, 4000) misalnya gergaji sirkuler, dan
katup gas.

Bising terputus-putus (intermittent noise)
Adalah kebisingan saat tingkat kebisingan naik dan turun dengan cepat, seperti lalu
lintas dan suara kapal terbang di lapangan udara. Bising jenis ini sering disebut juga
intermittent noise, yaitu bising yang berlangsung secara tidak terus-menerus, melainkan ada
periode relatif tenang, misalnya lalu lintas, kendaraan, kapal terbang, dan kereta api.
Bising tiba-tiba (impulsive noise)
Merupakan kebisingan dengan kejadian yang singkat dan tiba-tiba. Efek awalnya
menyebabkan gangguan yang lebih besar, seperti akibat ledakan, misalnya dari mesin
pemancang, pukulan, tembakan bedil atau meriam, ledakan dan dari suara tembakan
senjata api. Bising jenis ini memiliki perubahan intensitas suara melebihi 40 dB dalam waktu
sangat cepat dan biasanya mengejutkan pendengarnya seperti suara tembakan, suara
ledakan mercon, dan meriam.
Bising berpola (tones in noise)
Merupakan bising yang disebabkan oleh ketidakseimbangan atau pengulangan yang
ditransmisikan melalui permukaan ke udara. Pola gangguan misalnya disebabkan oleh
putaran bagian mesin seperti motor, kipas, dan pompa. Pola dapat diidentifikasi secara
subjektif dengan mendengarkan atau secara objektif dengan analisis frekuensi.
Bising impulsif berulang
Sama dengan bising impulsif, hanya bising ini terjadi berulang-ulang, misalnya mesin
tempa.

Sound Level Meter (SLM) merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk
mengukur tingkat kebisingan. SLM ini biasanya digunakan untuk mengukur seberapa besar
suara bising mempengaruhi pekerja dalam melaksanakan tugasnya. Uji ini juga merupakan
pengukuran terhadap tingkat kebisingan yang mungkin tercipta dari suatu ruangan kerja

Gambar 1. Sound Level Meter
Sumber: mitralaser.itrademarket.com

Dalam melakukan pengukuran menggunakan Sound Level Meter, gelombang bunyi
yang terukur bisa jadi tidak sama dengan nilai intensitas gelombang bunyi yang sebenarnya.
Hal ini disebabkan karena beberapa faktor antara lain:
1. Adanya angin yang berhembus dari berbagai arah yang menyebabkan tidak
akuratnya nilai.
2. Apabila melakukan pengukuran di tempat yang banyak tumbuhan, suara yang
dikeluarkan sirine terserap oleh tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarya. Sehingga
pengukuran tidak maksimal.
3. Adanya pengaruh kecepatan angin, yang menyebabkan nilai intensitas gelombang
bunyi yang terukur lebih kecil dari hasil yang sebenarnya.

Karna hal-hal yang berpengaruh pada penjalaran gelombang bunyi yaitu kecepatan
angin dan benda-benda di sekitar sirine yang dapat menyerap gelombang bunyi.

F. HASIIL DATA PENGAMATAN
NO. WAKTU POSISI
ORDINAT
TINGKAT KEBISINGAN
RUANG DALAM
TINGKAT KEBISINGAN
RUANG LUAR
MIN MAX AVG MIN MAX AVG
1 07.53 1 57,2 68,8 63 54.4 66.5 60.45
08.00 2 54,9 76,0 65,45 55.5 71.4 63.45
08.08 3 56,8 69,6 63,2 57.3 72.8 65.05
2 12.50 1 64,2 78,6 71,4 71,7 80,2 75,95
12.57 2 64,7 72,4 68,55 69,5 79,3 74,65
13.04 3 61,2 74,4 67,8 70,9 79,8 75,35

G. ANALISA DATA
Pengamatan dilakukan pada tanggal 05 Juni 2014. Pengamatan akustik ruang yang
mempengaruhi tingkat kebisingan pada sebuah ruangan dalam (indoor) dan luar (outdoor)
ini dilakukan pada ruang kuliah 203 jurusan Arsitektur Universitas Sebelas Maret Surakarta
untuk ruangan di dalam (indoor) dan selasar yang berada di depan ruang 203 sebagai sampel
penelitian untuk ruang terbuka (outdoor).
Dilakukan dua kali percobaan di waktu yang dapat menggambarkan kondisi ekstrim,
penelitian pertama dilakukan pada pagi hari mulai pukul 07.53 hingga 08.08 dan penelitian
kedua dilakukan pada siang hari pukul 12.50 hingga 13.04. Penelitian dilakukan pada tiga
titik pengukuran yang berbeda baik di dalam 203 maupun diluarnya. Pengukuran di dalam
dan di luar dilakukan pada waktu yang bersamaan pada setiap titiknya. Pada percobaan pagi
hari, tidak ada mahasiswa yang di dalam ruangan dan tidak banyak kegiatan didalamnya.
Kemudiaan pada siang hari, aktivitas didalamnya terdapat banyak mahasiswa yang akan
menjalani kuliah dan banyaknya aktivitas di luar ruangan sehingga kedaan dalam luar
ruangan menjadi lebih bising.
Berikut merupakan denah tempat dari ruangan yang digunakan beserta titik-titik
percobaan:




Sesuai pada tabel hasil pengamatan di atas, dapat dilihat pada pengukuran di pagi
hari, terdapat hasil pengamatan yang tidak stabil. Maksud stabil disini adalah hasil dari
pengamatan di dalam ruangan dan di luar ruangan tidak dapat ditarik kesimpulan yang
manakah yang mempunyai tingkat kebisingan lebih besar. Pada titik satu, terlihat hasil
pengukuran di dalam mempunyai tingkat kebisingan yang lebih dibandingkan yang di luar,
sedangkan pada titik kedua pagi nilai rata-rata masih dipegang tertinggi oleh bunyi ruang di
dalam, sedangkan pada titik ketiga nilai rata-rata bunyi tertinggi dipegang oleh ruangan luar.
Hal ini terjadi karena keadaan pada pagi hari di luar ruangan belum terlalu banyak aktivitas,
sementara di dalam ruangan terdapat beberapa mahasiswa yang juga sedang melakukan
aktivitas praktikum sehingga pada beberapa titik bunyi tingkat kebisingan lebih besar pada
bagian dalam ruangan. Selain itu juga bagian luar ruangan berdekatan dengan pepohonan
yang tinggi yang menjulang dari bawah, sehingga bunyi dari kendaraan di bawahnya dan
bunyi disekitarnya dapat terserap oleh utmbuh-tumbuhan tersebut sehingga hasil
pengukuran menjadi kurang akurat.
Pada siang hari, kegiatan yang terjadi di dalam dan ruangan sudah mulai berjalan. Di
dalam ruangan terdapat mahasiswa yang berkumpul menunggu kuliah sedangkan di bagian
luar ruangan terdapat orang-orang yang berjalan dan bunyi-bunyi kendaraan bermotor dari
jalan dibawah melalu void pada ruangan luar pengukuran. Pada pengukuran di siang hari,
Gambar 2. titik percobaan pada
ruangan 203
Gambar 3. titik-titik percobaan pada
ruang luar (outdoor)
tingkat kebisingan lebih besar adalah pada ruangan luar, hal ini disebabkan karena aktivitas
dan bunyi di luar yang lebih banyak dan beragam jika dibandingkan dengan yang di dalam
ruangan.

H. KESIMPULAN
Tingkat kebisingan bunyi ditentukan oleh banyak faktor antara lain banyaknya
aktivitas yang dilakukan di dalamnya dan keadaan akustik ruangannya. Pada keadaan normal
dimana kegiatan berlangsung pada jam kerja, tingkat kebisingan di luar ruangan lebih besar
jika dibandingkan dengan tingkat kebisingan di dalam ruangan.
Akustik ruangan menjadi tinjauan penting dalam merancang karena lagi-lagi ada
pertimbangan kesehatan dan kenyaman beraktivitas bagi manusia yang menjadi titik
fokuspemecahan masalah dalam desain. Akustik ruangan dan bangunan pada intinyaadalah
meminimalisir gangguan bunyi yang dampaknya negatif bagi pencapaian titik fokus
pemecahan masalah dalam desain.




















DAFTAR PUSTAKA

http://nimroatul.wordpress.com/2013/04/26/praktikum-akustik-noise-mapping/
http://id.scribd.com/doc/71233365/Tugas-7-Fisbang-Akustik-Ruang
http://id.wikipedia.org/wiki/Akustik_ruang
http://id.scribd.com/doc/81824583/lap-k3-slm
http://www.lontar.ui.ac.id/