Anda di halaman 1dari 3

Nama: Dewa Ngurah Yudhi Prasada

NIM: 14/366731/PA/166731
Fakultas/Prodi: MIPA/Fisika

Tumpek Kandang dan Tumpek Wariga sebagai Wujud
Pelestarian Lingkungan

Tumpek Kandang dan Tumpek Wariga secara garis besar adalah upacara
yang dilakukan kepada hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di bumi ini.
Keberadaan hewan dan tumbuhan secara tidak langsung memberikan dampak
yang sangat besar kepada kehidupan manusia di muka bumi ini karena salah satu
kegunaan dari keberadaan setiap hewan dan tumbuhan adalah untuk memenuhi
segala kebutuhan pokok manusia mulai dari kebutuhan pangan, sandang, maupun
papan.
Namun seiring berkembangnya zaman tentu kebutuhan manusia akan
kebutuhan pokok semakin bertambah. Akibat dari kebutuhan pokok manusia yang
semakin bertambah maka eksploitasi terhadap alam yang terdapat hewan dan
tumbuh-tumbuhan di dalamnya akan semakin besar. Tumpek Kandang dan
Tumpek Wariga dilakukan dalam rangka menyeimbangkan kembali kondisi alam
agar hubungan manusia terhadap alam atau lingkungan semakin baik.
Tumpek Kandang jatuh setiap Hari Sabtu, Pancawara Kliwon, Wuku
Uye. Upacara Tumpek Kandang ini dilakukan setiap 210 hari sekali atau sekitar
tujuh bulan sekali. Upacara ini dilakukan untuk selamatan atau ungkapan terima
kasih atau rasa kasih kepada semua binatang, khususnya binatang ternak atau
hewan peliharaan. Dalam kehidupan manusia, hewan pada umumnya menjadi
bahan utama pangan manusia yang utama diambil dagingnya. Selain untuk
diambil dagingnya, pada hewan tertentu seperti sapi juga diambil susunya untuk
memenuhi kebutuhan gizi manusia. Selain menjadi bahan pangan, hewan juga
digunakan untuk memenuhi kebutuhan sandang manusia, seperti contohnya ulat
sutra yang menghasilkan benang sutra, dan juga bulu domba yang dijadikan
sebagai dasar kain wool. Dalam kehidupan para petani, sapi juga digunakan untuk
membantu membajak sawah. Sehinnga dalam kehidupan manusia, hewan
sangatlah membantu, oleh karena itu upacara tumpek kandang ini sendiri
dilakukan untuk menghargai apa yang telah hewan berikan kepada manusia
karena pada dasarnya hewan sama-sama memiliki atman seperti manusia. Selain
itu pelaksanaan Tumpek Wayang juga dilakukan untuk menetralisasi sifat-sifat
binatang dalam tubuh manusia karena manusia sendiri mengonsumsi hewan
untuk kebutuhan pangannya.
Tumpek Wariga jatuh setiap Hari Sabtu, Pancawara Kliwon, Wuku
Wariga. Upacara Tumpek Wariga juga jatuh setiap 210 hari sekali atau sekitar
tujuh bulan sekali. Tumpek Wariga adalah upacara pelestarian tumbuh-tumbuhan
karena tumbuh-tumbuhan juga memberikan peran penting dalam kehidupan
manusia. Peran tumbuh-tumbuhan bagi kehidupan manusia adalah sebagai bahan
pangan untuk manusia. Pada umumnya beberapa tumbuhan akan dipetik daun dan
buahnya sebagai bahan sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain itu tumbuh-
tumbuhan juga menjadi bahan utama dalam memenuhi kebutuhan papan manusia.
Tumbuhan yang memiliki kayu pada bagian kayunya akan diambil untuk menjadi
bahan dasar rumah, namun tidak hanya itu, kayu juga dapat dibuat untuk membuat
perlengkapan-perlengkapan lainnya seperti meja, kursi, hiasan dinding, dan
lainnya. Kertas juga diproduksi melalui bahan dasar kayu. Tidak hanya untuk
memenuhi kebutuhan pangan dan papan manusia, tumbuh-tumbuhan juga
mempunyai peran penting dalam mempertahankan keberadaan manusia di bumi
ini karena tumbuh-tumbuhan itu sendiri menghasilkan zat yang paling dibutuhkan
oleh manusia yaitu oksigen. Oleh karena itu, manusia patutnya berterima kasih
dengan keberadaan tumbuh-tumbuhan itu sendiri, oleh karena itu manusia wajib
melaksanakan upacara Tumpek Wariga sebagai rasa terima kasih manusia
terhadap keberadaan tumbuhan karena pada dasarnya tumbuhan dan hewan adalah
sama-sama memiliki atman seperti manusia.
Tumpek Kandang dan Tumpek Wariga ini sendiri merupakan salah satu
perwujudan dari filosofi Tri Hita Karana. Pada dasarnya hakikat ajaran Tri Hita
Karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia ini. Ketiga
hubungan itu sendiri adalah hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia
dengan lingkungan, dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Konsep
Tumpek Kandang dan Tumpek Wariga ini sendiri menekankan kepada konsep
ajaran Tri Hita Karana bagian hubungan manusia dengan lingkungan.
Pada era globalisasi yang modern, kebutuhan manusia akan kebutuhan
pokok semakin besar. Oleh sebab itu, manusia menggunakan berbagai macam
cara untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, cara-cara yang dilakukan manusia
tidak semuanya dilakukan dengan cara yang pantas dan terkesan seperti merusak
lingkungan. Beberapa cara yang dilakukan manusia namun merusak lingkungan
adalah penebangan hutan secara liar, pembakaran hutan, perburuan liar khususnya
terhadap satwa langka, dan lainnya. Dampak secara langsung yang dapat
dirasakan oleh manusia adalah pemanasan global, perubahan iklim, polusi,
timbulnya berbagai macam penyakit dan lainnya. Disini kita dapat memahami
bahwa apabila kita bertingkah laku seenaknya kepada alam, maka alam pun dapat
marah kepada manusia. Tingkah laku yang semena-mena dengan alam dan
lingkungan ini sendiri selain merugikan alam di sekitar kita juga merugikan
manusia. Oleh karena itu manusia harus menjaga konsep Tri Hita Karana
khususnya pada bagian hubungan manusia dengan alam itu sendiri.
Manusia dapat menjaga lingkungannya dengan cara yang sesungguhnya
sangat mudah namun sangat jarang untuk dapat melakasanakannya. Manusia
dapat melestarikan lingkungan dengan menggunakan konsep Tat Tvam Asi yang
memiliki arti Aku adalah engkau, dan engkau adalah aku. Konsep ini sendiri
dapat dipraktikan dengan menganggap kita ini adalah lingkungan dan lingkungan
ini adalah diri kita sendiri. Jadi sayangilah dan jagalah lingkungan sebagaimana
kita menyayangi dan menjaga diri kita sendiri sebagai manusia, karena
sesungguhnya setiap kerusakan lingkungan adalah kerusakan terhadap diri kita
sendiri sebagai manusia. Cara lain untuk melestarikan lingkungan adalah dengan
cara memanusiakan hewan dan tumbuhan beserta komponen lingkungan yang
lainnya seperti air, udara, tanah, dan komponen lainnya. Memanusiakan disini
memiliki makna memandang alam beserta komponen di dalamnya sebagai
manusia, dimana manusia sendiri tidak boleh disakiti maupun dianiaya. Cara ini
sebenarnya sama dengan konsep Tat Tvam Asi namun dilihat dari sudut pandang
yang berbeda.
Dengan ini sudah seharusnya manusia menyayangi dan mengasihi
sesama makhluk hidup karena dalam setiap makhluk hidup terdapat atman yang
juga terdapat dalam setiap diri manusia. Sudah menjadi keharusan bagi setiap
manusia untuk menjalani ajaran Tat Tvam Asi dimana manusia harus saling
mengasihi sesamanya dan terhadap lingkungan, dan juga menjunjung tinggi
konsep Tri Hita Karana karena pada dasarnya manusia tidak mampu hidup
sendiri. Oleh karena itu manusia harus menjaga tiga hubungan terhadap Tuhan,
lingkungan, dan sesama manusia. Dalam menjalin hubungan, manusia harus
berpedoman pada Tri Kaya Parisudha (tiga perbuatan yang harus disucikan)
yakni kesucian berpikir, berkata, dan bertindak. Dalam melestarikan makhluk
hidup lainnya manusia wajib melaksanakan upacara Tumpek Wariga yang
ditujukan kepada tumbuh-tumbuhan dan Tumpek Kandang yang ditujukan kepada
hewan. Melalui upacara tersebut manusia dapat memberikan rasa terima kasihnya
kepada lingkungan khususnya makhluk hidup di dalamnya yakni hewan dan
tumbuhan. Dengan melaksanakan semua hal tersebut, niscaya manusia dapat
memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan.

Daftar Pustaka
Pudja, Ida Bagus. 2013. Pendidikan Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi
Umum. Yogyakarta: UNY Press

Sumber Internet
http://www.wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/upacara-tumpek-kandang
http://id.wikipedia.org/wiki/Tri_Hita_Karana