Anda di halaman 1dari 32

PATOLOGI

(PATHOLOGY)
PATOLOGI
ANATOMI
PATOLOGI
KLINIK
PATOLOGI
FORENSIK
1
PATOLOGI KLINIK
Clinical Pathology
( Laboratory Medicine )

Ilmu yang mempelajari perubahan-perubahan yang
terjadi pada cairan tubuh yang disebabkan oleh penyakit
pemeriksaan laboratorium klinik
2
tujuan pemeriksaan laboratorium

menunjang pemeriksaan fisis


menegakkan diagnosis
3
penggunaan pemeriksaan laboratorium
1. pemeriksaan penyaring atau skrining
( rule in, rule out, case finding, check up )
2. pemeriksaan konfirmasi
( diagnostik, definitif )
3. pemeriksaan pemantauan ( follow up )
4. pemeriksaan penderita gawat ( emergency )
5. pemeriksaan untuk persiapan operasi
4
tes laboratorium
( parameter laboratorium )
terdiri dari beberapa metode

contoh : tes penentuan kadar Hb
1. metode sahli
2. metode cyanmethemoglobin
tes penentuan kadar kalium
1. metode flame photometer
2. metode ion sensitive electrode (ISE)
3. metode enzimatik
5
data laboratorium
kualitatif kuantitatif semikuantitatif

contoh : HBs Ag serum : pos
darah samar tinja : neg

glukosa urine : pos 3 (+++)
tes Widal, titer O : 1/320

kreatinin serum : 1,9 mg/dl
SGOT : 72 IU/l

KUALITATIF
SEMI KUANTITATIF
KUANTITATIF
6
INTERPRETASI HASIL ABNORMAL
1. berdasar nilai rujukan
( reference value, “ nilai normal “ )

contoh :
Hb pasien = 10,7 g/dl
nilai rujukan  12,5 - 17,5 g/dl
interpretasi : kadar Hb rendah ( anemia )

SGPT pasien = 68 IU/l
nilai rujukan  < 35 IU/l ( UV, 37
0
C )
interpretasi : meningkat ( sakit liver ? )
7
nilai rujukan
( reference value, “ nilai normal “ )
cara mendapatkan nilai rujukan :
40 orang yang “ tampak sehat “ diperiksa
untuk parameter tertentu ( mis. kolesterol )
Dari data yang didapat , dihitung nilai rerata
( mean ) dan deviasi standar ( SD )
nilai rujukan adalah : nilai rerata ± 2 SD
contoh : kolesterol
dari 40 orang yang diperiksa didapatkan mean = 170 mg/dl
SD = 20 mg/dl
nilai rujukan untuk kolesterol : 170 ± 2x 20
130 – 210 mg/dl
8
kelemahan menggunakan
nilai rujukan

distribusi orang sehat dan orang sakit
umumnya tumpang tindih
9
normal
(sehat)
abnormal
(sakit )
0
200
400
100 150 200 250 400 mg/dl
300 350
Kadar kolesterol serum
IDEAL
KENYATAAN
KENYATAAN
10
Contoh :
nilai rujukan untuk kreatinin serum
0,6 – 1,3 mg/dl
Bagaimana dengan nilai 1,2 mg/dl ? Normal ?
kalau sebelum sakit nilai kreatinin serum 0,6 mg/dl
maka pada saat sakit kreatinin meningkat 2 X ( 1,2 mg/dl )
atau klirens kreatinin ( GFR ) kira-kira 60 ml/mn
fungsi ginjal tinggal 50%

Nilai rujukan klirens kreatinin ( GFR ) = 120 ml/mn/1,73 m
2


11
2. berdasar nilai potong ( cut off value )

nilai “ cut off ” didasarkan atas hasil penelitian klinik
dari suatu tes laboratorium , metode ttt. terhadap
penyakit tertentu. Dari hasil penelitian didapatkan suatu
“ nilai “ yang dapat membedakan secara optimal antara
orang sehat dengan orang yang sakit

contoh : Glukosa darah 2 jam pp = 260 mg/dl
nilai “ cutoff “ untuk Diabetes melitus : 200 mg/dl
interpretasi : pasien menderita diabetes melitus



12
sensitivitas diagnostik meningkat
spesifisitas diagnostik meningkat
200 250
150 100 50
300
mg/dl
bukan DM
DM
sens. 100%
spes. 40%
sens. 25%
spes. 100%
sens. 65%
spes. 70%
sens. 40%
spes. 80%
DIPILIH SEBAGAI NILAI POTONG
13
interpretasi adanya perubahan bermakna
pada tes pemantauan
perubahan dianggap bermakna ( pada penentuan serial )
jika selisih hasil pemeriksaan ≥ 3 SD ( WHO )

contoh : pasien hiperkolesterolemia
sebelum pengobatan, kolesterol serum = 400 mg/dl
sesudah pengobatan, kolesterol serum = 380 mg/dl
apakah benar kadar kolesterol turun ?
impresisi tes kolesterol di laboratorium, SD = 15 mg/dl
3 SD = 45 mg/dl
selisih sebelum dan sesudah pengobatan = 20 mg/dl

interpretasi : perbedaan tidak bermakna, artinya tidak ada penurunan


14
faktor – faktor lain yang perlu diperhatikan
pada interpretasi
1. persiapan pasien ( puasa, obat, dll.)
2. cara pengambilan darah
( duduk,telentang,arteri,vena,kapiler,turniket )
3. cara penampungan sampel
( anti koagulan, aerob,anaerob,sinar ?
4. transportasi ( suhu ? )
5. penyimpanan ( suhu ? )
6. umur ( anak, dewasa, usia lanjut )
7. jenis kelamin
8. besar / kecil otot
15
keandalan metode pemeriksan laboratorium
kemampuan tes laboratorium
dalam membantu menegakkan
diagnosis suatu penyakit
secara benar

A. keandalan analitik ( laboratorium )
B. keandalan diagnostik ( klinik )

16
keandalan metode pemeriksan laboratorium
A. keandalan analitik

1. presisi / impresisi
2. akurasi / inakurasi
3. sensitivitas/detectabilitas
4. spesifisitas analitik


17
Presisi / impresisi
Presisi ( precision )
Beda hasil jika pemeriksaan diulang pada bahan yang sama
Sifat  kualitatif : presisi baik, lebih baik , jelek, lebih jelek

Impresisi ( imprecision )
Deviasi standar ( SD ) dari pemeriksaan ulang pada bahan yang sama
Sifat kuantitatif : nilai impresisi dinyatakan dalam SD atau CV
18
Akurasi / Inakurasi
Akurasi ( accuracy ) :
Beda antara hasil pemeriksaan dengan nilai benar ( true value )
Sifat kualitatif : akurasi baik, lebih baik, jelek, lebih jelek

Inakurasi ( inaccuracy ) : sifat  kuantitatif

rerata penentuan – nilai benar
nilai benar
x
100 %
19
Contoh :
Hasil pemeriksaan ulang kadar glukosa pada serum yang sudah
diketahui kadarnya = 100 mg/dl  ( “true value” )

112 mg/dl 114 rerata ( mean ) = 112,8 mg/dl
110 107 SD = 3,425 mg/dl
115 111 CV = 3,036 %
112 113
120 114

impresisi  SD = 3,425 atau CV = 3,036 %

inakurasi  112.8 – 100






100
X 100 % = 12,8 %
CV = SD/mean X 100%
Kesimpulan : presisi cukup baik , akurasi kurang baik
20

detektabilitas :

kemampuan tes untuk mendeteksi kadar yang terendah
batas deteksi ( detection limit ) = nilai hasil yang paling kecil yang
masih dapat dibedakan dengan blanko

sensitivitas  kemampuan untuk mendeteksi perbedaan kadar
untuk setiap peningkatan pembacaan

spesifisitas analitik :
kemampuan tes untuk tidak dipengaruhi oleh bahan lain selain
bahan yang diperiksa

21
B. keandalan diagnostik

1. sensitivitas diagnostik
2. spesifisitas diagnostik
3. nilai ramal positif
4. nilai ramal negatif
5. efisiensi


22
Contoh : pemeriksaan Glukosa urine
untuk diagnosis penyakit Diabetes Melitus
Dari 100 penderita dengan diagnosis pasti DM ---- Positif 80 ( TP )
Negatif 20 ( FN )
Dari 100 orang yang pasti bukan DM ------------ Positif 5 orang ( FP )
Negatif 95 orang ( TN )
TP 80
Sensitivitas Diagnostik = ------------ X 100% = ----------- X 100% = 80%
TP + FN 80 + 20
TN 95
Spesifisitas Diagnostik = ----------- X 100% = ------------- X 100% = 95%
TN + FP 95 + 5
TP 80
Nilai Ramal Positif = ------------ X 100% = ------------ X 100% = 94%
TP + FP 80 + 5
TN 95
Nilai Ramal Negatif = ------------ X 100% = ------------ X 100% = 82,6%
TN + FN 95 + 20
TP + TN 80 + 95
Efisiensi = --------------------------- 100% = ----------------- X 100% = 87,5%
TP + FP + TN + FN 80+5+95+20
Keterangan :
TP = True positive
FP = False positive
TN = True negative
FN = False negative
23
sensitivitas diagnostik meningkat
spesifisitas diagnostik meningkat
200 250
150 100 50
300
mg/dl
bukan DM
DM
sens. 100%
spes. 40%
sens. 25%
spes. 100%
sens. 65%
spes. 70%
sens. 40%
spes. 80%
DIPILIH SEBAGAI NILAI POTONG
24
pemilihan jenis tes
jenis / metode tes yang digunakan di
klinik harus memiliki

keandalan analitik
keandalan diagnostik

cukup tinggi
25
pengembangan jenis dan metodologi
tes laboratorium
penelitian di ilmu kedokteran
laboratorium / patologi klinik


penemuan tes baru
yang memiliki keandalan analitik / diagnostik
yang lebih tinggi
26
mutu hasil laboratorium ?
adalah : kemampuan laboratorium dalam
mempertahankan
secara terus – menerus :

presisi dan akurasi
yang baik


untuk semua tes yang dihasilkan

27
Sumber kesalahan hasil laboratorium



permintaan dokter reagen salah ketik
persiapan pasien standar salah nama
pengambilan sampel kalibrasi salah hitung
penampungan sampel alat rusak salah interpretasi
tertukar antar pasien tertukar sampel salah kirim
pengiriman sampel QC ?
labeling
PRA ANALITIK ANALITIK PASCA ANALITIK
28
meminimalkan kesalahan
kesalahan pra analitik dan pasca analitik sulit untuk
dilacak ( di deteksi )

Cara meminimalkan kesalahan :

sistem barcode
transportasi dengan pneumatic tube
LIS / HIS ( komputerisasi )
perbaikan managemen
komunikasi antara klinisi dan laboratorium

29
meminimalkan kesalahan
kesalahan pada area analtik dapat
dilacak ( di deteksi ) dengan sistem QC
( pemantapan mutu internal )

cara meminimalkan kesalahan :
sistem barcode
otomatisasi
mutu SDM ↑


30
pemantapan mutu laboratorium klinik

kendali mutu internal pemantapan mutu
internal eksteranal
( Internal Laboratory Quality Control ) ( External Laboratory Assesment )

dikelola oleh laboratorium dikelola oleh instansi di luar
sendiri laboratorium ( Pemerintah,
organisasi profesi, perusahaan
swasta )

mengendalian presisi dan akurasi menilai kesamaan (komparabilitas)
(mengeluarkan hasil yang dapat hasil dari beberapa laboratorium
dipercaya ----- reliable ) ( menilai akurasi )
31
32