Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1 Kota Malang
Malang merupakan kota besar yang sedang berkembang. Setiap tahunnya Kota
Malang mengalami pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dengan jumlah
penduduk saat ini 820.243 jiwa (sensus, 2010). Pertambahan populasi penduduk
menyebabkan banyak faktor-faktor yang ikut berkembang. Salah satu faktornya adalah
faktor perekonomian yang mulai meningkat di setiap tahunnya karena kebutuhan masyarakat
yang beragam dan semakin bertambahnya arus urbanisasi dan kelahiran di Kota Malang.
Tingkat kepadatan penduduk juga akan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan transportasi untuk melayani kebutuhan masyarakat. Tingkat urbanisasi
berimplikasi pada semakin padatnya penduduk yang secara langsung maupun tidak langsung
mengurangi daya saing dari transportasi wilayah (Susantoro& Parikesit, 2004:14).















Masalah transportasi yang saat ini terjadi adalah kurangnya transportasi massal.
Akibat kurangnya moda transportasi dan kurang layaknya sarana prasana transportasi banyak
masyarakat yang enggan menggunakan transportasi massal. Masyarakat sekarang lebih
senang menggunakan moda transportasi pribadi seperti mobil dan motor karena mobilitas
masyarakat yang cukup tinggi. Walaupun keberadaan transportasi pribadi sangat cepat
bertambah dan berkembang, namun sarana dan prasarananya tidak sejalan dengan
peningkatan jumlah kendaraan. Kondisi jaringan jalan yang terbatas & tidak layak dan
peningkatan jumlah kendaraan pribadi yang tidak terkendali dapat berakibat kemacetan
panjang didalam kota maupun penghubung antar kota. Kota Malang sebagai kota besar di
Jawa Timur juga masih mengalami permasalahan transportasi tersebut. Kurang dan tidak
layaknya sarana prasarana transportasi massal membuat masyarakat kota Malang beralih ke
moda transportasi pribadi yang lebih efisien dan cepat. Namun seperti yang terlihat pada
jaringan jalan antar kota wilayah karanglo-Singosari, jaringan jalan di daerah tersebut cukup
terbatas yang mana padahal jaringan jalan tersebut merupakan jalan provinsi pengubung
ibukota provinsi Jawa Timur - Kota Malang dan sebagai pintu masuk menuju Kota Malang.
Karena terbatasnya lebar jalan tersebut berakibat pada kemacetan panjang di Karanglo-
Singosari. Mengetahui adanya permasalahan di wilayah tersebut sudah saatnya masyarakat
menggunakan moda transportasi lain yang lebih efisien dan cepat menuju Kota-kota lain
yaitu dengan menggunakan kereta api. Kereta Api yang efisien, cepat dan murah dapat
menjadi sebuah moda transportasi massal alternatif menuju luar Kota.

1.1.2 Stasiun KA Kota Baru Malang
Kereta api merupakan moda transportasi massal pertama yang beroperasi di
Indonesia. Pada tahun 1894 dibangun rel kereta api pertama di Indonesia mulai dari
Semarang menuju Solo, Kedungjati sampai Surabaya, serta Semarang menuju Magelang
dan Yogyakarta. Keberadaan sistem transportasi kereta api berperan penting dalam sistem
transportasi massal ke dalam dan luar kota. Dengan menggunakan kereta api menuju ke luar
kota menjadi lebih cepat dan murah dari pada menggunakan kendaraan pribadi. Kereta api
tidak terlepas dari stasiun sebagai tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api
untuk penumpang dan barang. Terdapat 2 stasiun kereta api yang masih beroperasi, yaitu
stasiun Kota Lama dan Stasiun Kota Baru. Yang mana stasiun kota baru merupakan stasiun
besar yang sudah berdiri sejak tahun 1941 berdasarkan karya J. van der Eb. Stasiun Kota
Baru berada di Jalan Trunojoyo yang merupakan kawasan konservasi Kota Malang. Sebagai
gerbang masuk kota Malang stasiun ini mempunyai identitas tentang bangunan arsitektur
kolonial belanda yang kuat sehingga menjadikan stasiun ini sebagai bangunan cagar budaya
yang perlu dilestarikan.
Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya jaman Stasiun Kota Baru saat ini
tidak mampu lagi menampung jumlah penumpang yang terus meningkat. Peningkatan
tersebut terjadi saat-saat kereta api datang dan berangkat serta saat liburan peningkatan
tersebut bisa mencapai 2 kali jumlah penumpang di hari-hari biasa. tidak adanya fasilitas-
fasilitas untuk kaum difabel dan masyarakat yang mengalami keterbatasan yang menambah
poin negatif Stasiun Kota Baru.
Salah satu masalah yang saat ini terjadi pada fasilitas publik di Indonesia adalah
tidak terpenuhinya fasilitas khusus yang baik dan layak bagi kaum difabel sehingga
membuat ruang gerak kaum difabel menjadi terbatas dan tersisihkan. Keberadaan mereka
saat ini masih dipandang sebelah mata karena keterbatasan mereka. Data Sensus Penduduk
Tahun 2010 menunjukkan bahwa jumlah kaum difabel di Indonesia mencapai 11,9 juta jiwa
dari 236 juta jiwa. Dapat dikatakan bahwa 5,04% kaum difabel tidak dapat mengakses
dengan baik ke dalam bangunan publik seperti stasiun, kereta api, bandara, dan lain
sebagainya. Dalam Undang-undang Nomor 4 tahun 1997 BAB IV pasal 9 dikatakan bahwa
“Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan
dan penghidupan” dan pasal 10 “(1) Kesamaan kesempatan bagi penyandang cacat dalam
segala aspek kehidupan dan penghidupan dilaksanakan melalui penyediaan aksesibilitas.
(2) Penyediaan aksesibilitas dimaksudkan untuk menciptakan keadaan dan lingkungan yang
lebih menunjang penyandang cacat dapat sepenuhnya hidup bermasyarakat.”. Namun dalam
kenyataannya segala kebutuhan aksesibilitas untuk difabel belum terpenuhi secara
menyeluruh dan tidak terealisasi dengan baik pada bangunan-bangunan publik.
Sulitnya aksesibilitas untuk kaum difabel dari dan ke dalam bangunan publik maka
muncul lah sebuah pendekatan desain yang sesuai dengan kondisi mereka yaitu desain
inklusif atau desain universal. Desain Inklusif adalah desain yang bisa digunakan untuk
semua orang, dan desain ini mempertimbangkan kebutuhan semua orang tanpa
membedakan usia, jenis kelamin dan kondisi. desain difokuskan ke kebutuhan universal,
bukan ke kebutuhan khusus. Sehingga dengan pendekatan desain ini maka masyarakat yang
dulunya terpecah menjadi beberapa kelompok mulai merasakan pentingnya persatuan.
Mereka (kaum difabel) berharap bahwa dengan bersatu, mereka bisa lebih global dan
menyeluruh. Perbedaan dan diskriminasi karena kasta, kredo, warna, kelamin, profesi, dan
sebagainya, secara lambat akan hilang, dan masyarakat bisa menjadi lebih inklusif, yaitu
semua orang dipertimbangkan dan dipersepsikan sebagai setara.
1.2 Identifikasi Masalah
Permasalahan yang diidentifikasi dalam penulisan ini adalah tidak adanya aksesibilitas untuk
kaum disabilitas pada Stasiun Kota Baru.

1.3 Rumusan Masalah
Bagaimana desain pengembangan Stasiun KA Kota Baru dengan fokus pada aksesibilitas
sirkulasi bagi pengguna berkebutuhan khusus?

1.4 Batasan Masalah
a. Objek studi desain yang dirancang merupakan pengembangan stasiun KA yang terdapat
fasilitas utama stasiun yaitu halaman depan, bangunan stasiun, emplasemen serta fasilitas
penunjang seperti pertokoan, parkir, perkantoran, dan pangkalan angkutan kota (taksi,
mikrolet, bejak, dan ojek).
b. Perancangan pada pengembangan stasiun ini tanpa penambahan jumlah track yang sudah
ada.
c. Teori yang digunakan adalah teori desain inklusif/desain universal yang membahas
tentang aksesibilitas untuk semua kalangan masyarakat dan teori perancangan stasiun.\
d. Objek pengguna aksesibilitas ini adalah kaum difabel dan masyarakat normal. Dalam
kajian ini objek pengguna kaum difabel adalah penyandang cacat tubuh (tuna daksa) dan
penyandang cacat penglihatan (tuna netra).

1.5 Tujuan
Menghasilkan desain pengembangan Stasiun KA Kota Baru dengan fokus aksesibilitas
sirkulasi bagi pengguna berkebutuhan khusus.

1.6 Manfaat
a. Bagi Akademis
Sebagai bahan informasi dan referensi bagi mahasiswa dalam merancang akesisibilitas
sebuah Stasiun KA dengan pendekatan desain inklusif.
b. Bagi Praksis
Dengan merancang Stasiun Kereta api Kota Baru ini, diharapkan perancang dapat
menyelesaikan segala permasalahan yang ada. Dan dapat dijadikan sebagai masukan
serta informasi yang bermanfaat bagi perancang tentang desain inklusif.









Aksesibilitas Stasiun
KA Kota Baru Malang
Fokus pada aspek desain
"aksesibilitas sirkulasi"
Diperlukan kebutuhan
aksesibilitas dengan konsep
desain Barrier Free.
Hasil desain
Aksesibilitas kaum
disabilitas (belum ada)
Aksesibilitas masyarakat
normal (sudah ada)
1.7 Kerangka Berfikir



















Gambar 1. Kerangka Berfikir