Anda di halaman 1dari 19

POLA KEHIDUPAN SOSIAL DAN PERILAKU PRODUKTIF

MASYARAKAT NELAYAN
(Kajian Materi Diklat)

Oleh: M. Islam
∗ ∗∗ ∗


Abstrak


This research will explains factors that change life style and productifity
of ”Kupang” fishermen from Balongdowo village, Candi, Didoarjo district. The
reaserch method used phenomeology approach. The researcher observed the
proces and interprate it and see everyhting from the subject point of view. The
data was collected from structural intervies, free interview, involved observation
and document studies. The data was analised through qualitative approach. The
research result showed that the Kupang fishermen lifestyle changed social
structurally, especially which covered workforcees. They used to be fishermen
and now, they are fishermen as thier prior job and industrial imployees as their
second one. The social life style changed cuased by industrialisation. So, their
social relationship changed to social transition one, from agricultural society to
industrial one.
Kata Kunci: Pola kehidupan sosial, perilaku produktif, masyarakat
nelayan.


A. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara maritim dengan wilayah laut yang sangat luas. Wilayah laut
yang luas ini telah menyebabkan banyak kegiatan ekonomi penduduk, secara langsung
dan tidak langsung berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya laut.khususnya mereka
yang bermukim di wilayah pantai.
Seperti halnya kegiatan perekonomian desa pada umumnya, perekonomian desa-desa
pantai di Kabupaten Sidoarjo juga bersifat usaha kecil. Kemampuan mengambil dan
menciptakan manfaat ekonomi dalam skala besar sangatlah terbatas. Selain itu adanya
kenyataan pengaruh musim yang sangat kuat. Sehingga sifat usaha musiman dan berskala
kecil tersebut menyebabkan nelayan tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol
baik produksi maupun harga produksi yang dihasilkan.
Oleh karena rendahnya kemampuan untuk mengontrol produksi maupun harga
produksi, masyarakat nelayan memiliki tingkat sosial ekonomi rendah. Usahanya yang
berskala kecil, sederhana, dan tradisional lebih banyak mengarah pada aspek sosial
budaya dibandingkan dengan aspek ekonominya. Kecuali itu, mereka hanya monoton
terikat pada pekerjaan menangkap ikan di laut. Demikian pula, pola-pola pekerjaan
sebagai nelayan membatasi aktivitas ke sektor pekerjaan lain yang pada gilirannya
mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran rumah tangganya.


Drs. H.M. Islam, M.Si. adalah Widyaiswara Muda pada Balai Diklat Keagamaan Surabaya.
Tidak demikian halnya yang terjadi pada masyarakat nelayan Desa Balongdowo.
Sekitar tahun 1984, masyarakat Desa Balongdowo dalam mencari ikan di laut masih
bersifat tradisional yaitu menggunakan perahu dayung. Namun, sekarang mereka
menggunakan perahu motor dalam menangkap ikan di laut. Seiring dengan masuknya
industri di desa tersebut, pola pekerjaan mereka juga turut berubah. Mereka tidak hanya
mencari ikan di laut tetapi juga sebagai karyawan pada suatu perusahaan. Kecuali itu,
mereka juga memiliki produktivitas yang tinggi dalam mengolah hasil penangkapan ikan
menjadi aneka ragam pangan Dengan diversifikasi pekerjaan dan perilaku produktif
dalam mengolah hasil laut, pendapatan masyarakat di Desa Balongdowo pun bertambah.
Peningkatan pendapatan masyarakat nelayan tersebut tentunya memperbaiki status
sosial ekonmi mereka, sehingga ciri-ciri umum sebagai masyarakat nelayan semakin
tidak nampak. Dalam artian bahwa kehidupan masyarakat nelayan di desa ini menjadi
makmur karena tergolong masyarakat industri. Kemakmuran masyarakat desa tersebut
tentunya juga membawa perubahan pola kehidupan sosial mereka.

B. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dapat dirmuskan permasalahan sebagai
berikut: bagaimanakah pola kehidupan sosial dan perilaku produktif masyarakat nelayan
Desa Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo.

C. Landasan Teori
Untuk menganalisis perubahan-perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat
nelayan khususnya yang terjadi di desa Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten
Sidoarjo, penulis mencoba memakai pendekatan teori yang diajukan oleh Ferdinand
Tonnies dan Talcott Parsons. Ferdinand Tonnies menggambarkan perubahan sosial yang
terjadi dalam masyarakat dengan sistem sosial yang disebut dengan Paguyuban
(gemeinschaft) dan Patembayan (gesellscaft). Secara umum kedua istilah tersebut dapat
diterjemahkan sebagai “komunitas” (Community) dan “masyarakat” (Society). Perubahan
sosial yang terjadi dalam masyarakat di gambarkan oleh Tonnies dengan sistem sosial
yang disebut dengan paguyuban (gemeinschaft) dan Patembayan (gesellschaft). Ia
mencoba membedakan antara Zweekwille, yaitu kemauan rasional yang hendak
mencapai suatu tujuan, dan Triebwille, yaitu dorongan bathin berupa perasaan.
Gemeinschaft (Veeger, 1993:128-129) adalah bentuk hidup bersama yang lebih
berkesesuaian dengan “Triebwille” meliputi sejumlah langkah atau tindakan, yangb tidak
berasal dari perhitungan akal budi melulu, melainkan dari watak, hati, atau jiwa orang
yang bersangkutan. Triebwille bersumber pada selera, perasaan, kecendrungan psikis,
kebutuhan biotis, tradisi atau keyakinan orang.
Triebwille paling menonjol di kalangan kaum petani, orang seniman, rakyat sedrhana,
khususnya wanita, dan generasi muda. Zweekwille lebih menonjol dikalangan pedagang,
ilmuan dan pejabat-pejabat. Umumnya orang-orang tua lebih bersikap rasional dan
berkepala dingin dari pada orang muda.
Distingsi tersebut ini langsung berpengaruh atas corak dan ciri interaksi orang dalam
kelompok atau masyarakat, sehingga kita dapat membedakan antara dua tipe masyarakat.
Gemeinschaft (Paguyuban, persekutuan hidup) adalah bentuk hidup bersama yang lebih
bersesuaian dengan “Triebwille”. Kebersamaan dan kerja sama tidak diadakan untuk
mencapai suatu tujuan diluar, melainkan dihayati sebagai tujuan dalam dirinya. Orangnya
merasa dekat satu sama lain dam memperoleh kepuasan karenanya. Suasanalah dianggap
lebih penting dari pada tujuan. Spontanitas diutamakan diatas undang-undang dan
keteraturan. Tonnies menyebut sebagai contoh keluarga, lingkungan tetangga, sahabat-
sahabat, serikat pertukangan dalam abad pertengahan, gereja, desa, dan sebagainya.
Gesellscaft (Patembayan atau perjanjian atau kontrak ; bentuk organisasi) itu tipe
asosiasi dimana relasi-relasi kebersamaan dan kesatuan antara orang berasal dari faktor-
faktor lahiriah, seperti persetujuan, peraturan, undang-undang dan sebagainya. Kata
Tonnies, ‘Teori Gasselschaft berhubungan dengan penjumlahan atau kumpulan orang
yang dibentuk atas cara buatan (artifical). Kalau dilihat sepintas, kumpulan itu mirip
dengan Gemeinschaft yaitu sejauh para anggota individual hidup bersama dan tinggal
bersama secara damai. Tetapi dalam Gemeinschaft mereka pada dasarnnya saling bersatu,
sekalipun ada faktor-faktor yang memisahkan, sedang dalam Gesellescaft pada dasarnya
mereka tetap terpisah satu sama lain, sekalipun ada faktor-faktor yang mempersatukan.
Paguyuban, (Horto, 1993:227-228), adalah sebuah sistem sosial yang kebanyakan
jalinan hubungan bersifat personal atau tradisional. Komunitas disatukan oleh ikatan
yang merupakan gabungan antara hubungan pribadi dengan kewajiban status. Penguasa
wilayah disenangi oleh para bawahannya, karena kewajiban mereka terhadap sang
penguasa untuk menjamin kesejahteraan mereka. Transaksi ekonomi yang menggunakan
uang ditentukan oleh harga yang pantas, tetapi orang – orang yang terlibat lebih sering
menerapkan sistem pelaksanaan kewajiban antara satu sama lainnya berdasarkan
kebiasaan yang berlaku.penggunaan dokumen tertulis masih jarang ditemukan, kontrak
formal belum dikenal, bentuk penawaran masih kurang, dan semua kegiatan dilakukan
menurut cara-cara tradisional yang dikenal dan dapat diterima oleh seluruh anggota
komunitas. Irama kehidupan berlangsung secara monoton (datar), kecuali pada hari-hari
perayaan yang berlangsung sesekali. Walaupun begitu, perasaan kesepian jarang dialami
dalam komunitas yang para anggotanya sudah saling bertetangga sepanjang hidup.dalam
konsep sistem patembayan, masyarakat tradisional digantikan oleh masyarakat kontrak.
Dalam masyarakat ini, baik ikatan pribadi, hak-hak tradisional maupun tugas-tugas
tidaklah penting. Hubungan antar manusia ditentukan oleh kontrak yang dituangkan
kedalam suatu perjanjian tertulis. Etika perilaku, yang diterima secara umum, sebagaian
besar diganti oleh perhitungan untung rugi yang rasional.
Jadi dalam masyarakat paguyuban hubungan kelompok primer bersifat dominan,
sedangkan dalam masyarakat patembayan hubungan kelompok sekunder bersifat
dominan.
Menurut Tonnies, industrialisasi akan mengakibatkan perubahan pola hubungan
masyarakat paguyuban yang berpola hububungan patembayan. Manyak kelompok primer
yang telah menjadi unit-unit sementara dan selalu berubah; kelompok – kelompok primer
itu disisihkan oleh kebutuhan – kebutuhan masyarakat patembayan yang selalu berubah.
Pendapat Tonnies itu kemudian dijabarkan oleh Talcott Parsons menjadi lima dilema
orientasi yang disebutnya variabel pola (Pattern variables) (Gopldthorpe:1992:13):
Afektifitas (kehangatan) lawan Netralitas terhadap afektifitas; Orientasi kepada pribadi
lawan orientasi kepada kolektifitas; Universalisme lawan artikularisme; Asal-usul
(ascription) lawan prestasi; ketegasan lawan kekaburan.
Proses perubahan sosial yang menyertai industrialisasi, menurut Talcott Parsons (31),
dapat ditafsirkan sebagai suatu pergeseran dalam pilihan yang berlaku pada empat
variabel pola diatas, yaitu dari kehangatan ke netralitas; dari partikularisme ke
universalisme, dari asal-usul ke prestasi; dari kekaburan ke ketegasan.
Netralitas terhadap kehangatan menjadi karakteristik dari hubungan-hubungan sosial
dalam masyarakat industri, yang cenderung menggerogoti eksklusivitas yang
partikularisme, seperti kebiasaan yang dalam beberapa masyarakat membatasi hak milik
atas tanah atau (membatasi) usaha untuk memperoleh pekerjaan tertentu kepada
kelompok-kelompok rasial atau kasta yang eksklusif, atau yang menolak kaum wanita
untuk mengikuti pendidikan atau melakukan pekerjaan tertentu. Pada masyarakat industri
yang sangat maju terdapat pola yang universalistis dan karier terbuka untuk bakat.
Pada masyarakat yang industrinya tidak begitu maju, menerima pegawai atau murid
atas dasar kekerabatan biasa disebut nepotisme dan dianggap tidak sesuai dengan tatanan
masyarakat modern. Sedangkan dalam masyarakat dengan industrialisasi penuh, yang
menjadi dasar untuk menerima pegawai adalah prestasi dan bukan asal-usul.
Pembagian kerja yang semakin rumit serta organisasi yang semakin komplek dalam
masyarakat industri, jelas berhubungan dengan pergeseran dari kekaburan ke ketegasan,
dari hubungan-hubungan sosial yang luas cakupannya dan meliputi segala sesuatu ke
hubungan-hubungan dimana si pelaku membatasi perhatiannya kepada orang lain pada
bidang tertentu dan tidak membiarkan perhatian-perhatian lain memasukinya.
Pergeseran dari empat variabel di atas merupakan gambaran perubahan kehidupan
sosial yang terjadi pascaindustri di kalangan masyarakat nelayan Desa Balongdowo
Kecamatan Candi Kabupaten Sidoarjo yang akan dibahas penulis dalam penelitian ini.
Untuk itu beberapa istilah berikut perlu mendapat penjelasan yang memadai.


1. Masyarakat Nelayan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor : 9 Tahun 1985 tentang Perikanan Bab 1
ketentuan umum pasal 1 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Nelayan adalah
orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan.
Kusnadi (1997:65, lihat Negel J. H. Smith, Man, Fishes, and the Amazon 1981: 30)
menyatakan bahwa tingkat sosial ekonomi yang rendah merupakan ciri umum kehidupan
nelayan. Tingkat kehidupan mereka sedikit di atas pekerja migran atau setaraf dengan
petani kecil. Bahkan menurut Retno Winahyu dan Sentiasih (“Pengembangan Desa
Petani”, dalam Mubyarto, 1993:137) bahwa nelayan ---khususnya nelayan kecil dan
tradisional --- dapat digolongkan sebagai lapisan sosial yang paling miskin jika
dibandingkan secara seksama dengan kelompok masyarkat lain di sektor pertanian.
Gambaran umum yang pertama kali bias dilihat dari kondisi kemiskinan dan kesenjangan
sosial ekonomi dalam kehidupan masyarakat nelayan adalah fakta-fakta yang bersifat
fisik berupa kualitas pemukiman. Kampung-kampung nelayan miskin akan mudah
diidentifikasi dari kondisi rumah hunian mereka. Rumah-rumah yang sangat sederhana:
berdinding anyaman bamboo, berlantai tanah pasir, beratap daun rimba, dan keterbatasan
pemilikan perabotan rumah tangga adalah tempat tinggal para nelayan buruh atau nelayan
tradisional. Sebaliknya, rumah-rumah yang megah dengan segenap fasilitas yang
memadai akan mudah dikenali sebagai tempat tinggal pemilik perahu, pedagang
perantara (ikan) atau pedagang ikan berskala besar, dan pemilik toko.
Selain gambaran fisik tersebut, untuk mengidentifikasi kehidupan nelayan miskin
dapat dilihat dari tingkat pendidikan anak-anak, pola konsumsi sehari-hari dan tingkat
pendapatan mereka. Karena tingkat pendapatan mereka rendah, maka adalah logis jika
tingkat pendidikan anak-anak mereka juga rendah. Banyak anak yang harus berhenti
sebelum lulus sekolah dasar atau kalaupun lulus, mereka tidak akan melanjutkan
pendidikannya ke sekolah menengah pertama. Disamping itu, kebutuhan hidup yang
paling mendasar bagi rumah tangga nelayan miskin adalah pemenuhan kebutuhan
pangan. Kebutuhan dasar yang lain, seperti kelayakan perumahan dan sandang dijadikan
sebagai kebutuhan sekunder. Kebutuhan akan pangan merupakan prasyarat utama agar
rumah tangga nelayan dapat bertahan hidup (Kusnadi, 1997:68)


2. Kehidupan Sosial Masyarakat Nelayan

Kimball Young (dalam Soerjono Soekanto, 1987 : 50-51) mengemukakan bahwa
interaksi sosial adalah kunci dari semua kehidupan sosial. Oleh karena itu, tanpa interaksi
sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama. Interaksi sosial merupakan hubungan-
hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang perorangan,
antara kelompok-kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu interaksi sosial dimulai;
pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan
mungkin berkelahi. Aktifitas-aktifitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi
sosial.
Di Indonesia masyarakat nelayan dikenal sebagai masyarakat terbelakang dalam segala
hal, mereka juga digolongkan sebagai masyarakat yang kurang mampu berkomunikasi
ataupun berinteraksi dengan lingkungannya secara baik, hal ini disebabkan oleh beberapa
hal:
a. Tingkat pendidikan dan keterampilan masih rendah, pola berfikir yang statis,
tradisional.
b. Tempat-tempat nelayan yang tersebar, terpencil dan jauh dari keramaian sehingga
tersisih dari kehidupan dan lingkungan yang lebih maju untuk mengadakan
kontak masih terbatas.
c. Mempunyai keluarga besar, sehingga hasil tangkapannya jarang mencukupi
keluarganya (Bulletin Warta Mina : 1981:34).

3. Nelayan dan Industrialisasi di Pedesaan

Industrialisasi, apabila diartikan secara sederhana menurut Robert H. Laur (1989:
41) dalam bukunya yang berjudul Perspektif tentang perubahan sosial, adalah
pembangunan ekonomi melalui transformasi sumber daya dan kualitas energi yang
digunakan. Realitas menunjukkan bahwa kebanyakan masyarakat agraris, tenaga manusia
dan hewan merupakan sumber energi utama.
Diharapkan dengan adanya industrialisasi, maka ada pembangunan (diversifikasi)
pekerjaan masyarakat nelayan agar tidak semata-mata mengandalkan penghasilan dari
kegiatan menangkap ikan. Dengan memperhatikan tenaga sosial ekonomi yang secara
konsisten sering dihadapi oleh rumah tangga nelayan, tampaknya pencarian atau
perolehan pekerja alternative sangat dibutuhkan agar nelayan dapat menjaga dengan baik
kelangsungan hidup rumah tangganya. Sekurang-kurangnya alternatif demikian dapat
membantu nelayan mengatasi belitan kemiskinan yang dihadapi setiap saat salah satu
potensi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan oleh penduduk nelayan untuk
meningkatkan taraf hidup menjadi lebih baik adalah industrialisasi dengan tidak
meniggalkan segala potensi sumber daya yang ada, yang pada gilirannya juga akan
mengakibatkan perubahan pola kehidupan sosial budaya dan ekonomi masyarakat
nelayan tersebut.
Kecuali itu untuk dapat meningkatkan taraf hidup bergantung pada kualitas
sumber daya manusia yang produktif. Sumber daya manusia yang produktif merupakan
modal dasar dalam pembangunan. Sebab produktivitas sumber daya manusia telah
menjadi tolak ukur serta indikator proses ekonomisasi bagi kemajuan ekonomi yang
hendak dicapai. Karenanya, membangun sumber daya manusia produktif agar menjadi
manusia yang mandiri adalah suatu hal yang sangat mendesak dan peningkatannya sangat
bergantung pada kemampuan tenaga manusia yang memanfaatkannya. Pula perilaku
produktif masyarakat sangat bergantung pada pandangan hidup dan sikap mental yang
selalu berusaha untuk meningkatkan kemampuan termasuk di dalamnya adalah aktivitas
dari pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinnya. Dan kemampuan akan berubah
menjadi suatu sikap bergantung pula pada tingkat kesesuaian sikap mental yang selalu
berusaha memperbaiki hidup.


4. Perilaku Produktif Nelayan

Perilaku produktif yang dimaksudkan dalam penelitian ini mempunyai arti
terbatas pada lingkungan organisasi kerja masyarakat nelayan di Desa Balongdowo.
Istilah produktif tidak terlepas dari pengertian produktivitas secara umum.
Produktivitas pada dasarnya adalah perbandingan terbaik antara input dan output (hasil)
dengan cara mengurangi ataupun mengikis seminimal mungkin sikap dan perilaku
seseorang yang mengarah pada kemalasan, pemangkiran, dan minimalis
(Kusriyanto,1991:197). Dalam hubungan dengan konsep pengembangan sumber daya
manusia (SDM), kerja produktif adalah situasi kerja yang di dalamnya melibatkan faktor-
faktor keamanan kerja yang tinggi, kemampuan kerja yang sesuai, berwawasan,
lingkungan yang nyaman, memiliki keterampilan yang memadai, hubungan kerja yang
harmonis, dan mampu mengkondisikan kerja secara manusiawi.
Dalam konteks perilaku produktif nelayan, bentuk produktivitasnya menyangkut
masalah-masalah yang bersifat internal. Nawawi dan Hadari (1990:98) mengartikan
tingkat produktivitas internal sebagai tingkat pencapaian target mengenai sesuatu yang
harus dihasilkan sebagai keluaran yang direncanakan selama jangka waktu tertentu.
Target tertentu tersebut dapat dicapai bila segala upaya yang berbentuk aktivitas-aktivitas
dinilai produktif. Untuk mewujudkan itu, indikasi yang harus diperhatikan meliputi
tingkat efektivitas melaut, waktu melaut, motivasi melaut, penyisihan sebagian
penghasilan, tingkat kerusakan lingkungan laut, diversifikasi pekerjaan, maupun
diversifikasi produksi hasil tangkapan laut.
Kecuali itu, perilaku produktif dapat meliputi relative advantage (keuntungan
relatif), trialability (pencobaan) yaitu kemauan masyarakat nelayan untuk mencoba
mengaplikasikan ide baru dalam bentuk skala kecil, motivasi kebutuhan yaitu dorongan
untuk pemenuhan kebutuhan hidup, waktu yaitu kesempatan yang dimiliki masyarakat
dalam membuat dan mengkreasi sendiri hasil laut menjadi aneka makanan tepung, dan
pembuatan keputusan dalam mengadopsi ide baru serta mengembangkannya dengan
skala yang cukup luas.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian diharapkan memberikan kontribusi pemikiran kepada
pemerintah Kabupaten Sidoarjo dalam membuat dan menentukan kebijakan yang
berkaitan dengan masyarakat nelayan kupang terutama tingkat taraf kehidupan ataupun
upaya pembenahan wilayah desa nelayan menjadi desa yang memiliki potensi desa
wisata bahari. Kecuali itu, penelitian ini diharapkan juga memberikan sumbangsih dalam
pengembangan illmu sosiologi.


E. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk penelitian diskriptif kualitatif. Penelitian ini
menggambarkan realitas sosial yang kompleks dengan menerapkan konsep-konsep teori
yang telah dikembangkan. Realitas sosial yang dimaksudkan pada penelitian ini adalah
kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan dengan titik berat pada gejala perubahan
sosial.
Lokasi penelitian ini adalah Desa Balongdowo Kecamatan Candi Kabupaten
Sidoarjo. Argumentasi pemilihan desa ini sebagai lokasi penelitian didasarkan pada
beberapa pertimbangan, karena Desa Balongdowo merupakan desa pantai yang berada di
wilayah Kabupaten Sidoarjo; dan merupakan sentra industri krupuk kupang dan petis
kupang.
Informan dalam penelitian ini adalah masyarakat nelayan yang tinggal di Desa
Balongdowo, para pemimpin informal setempat, buruh pabrik, pengusaha, dan para ketua
RT/RW desa setempat.
Proses pengumpulan data berlangsung selama kurang lebih empat bulan. Kegiatan
ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap observasi yang berlangsung selama tiga minggu
dan tahap inti pengumpulan data selama 13 minggu. Kegiatan pada tahap inti adalah
pengumpulan data yang dilakukan dengan wawancara mendalam serta data-data lain
yang menunjang.
Data yang telah terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan analisis data
kualitatif. Seluruh data yang diperoleh melalui wawancara tersebut kemudian
ditranskripsikan, diolah, dikategorisasikan dengan cara koding, pemeriksaan validitas
data, dan selanjutnya dianalisis dan diinterpretasikan.

F. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Perubahan Kehidupan Sosial
Yang dimaksud perubahan kehidupan sosial di sini adalah perubahan struktur
sosial. Menurut Wibert Moore (Lauer:1989 : 4). Struktur sosial adalah pola-pola perilaku
dan interaksi sosial. Moore juga memasukan ke dalam perubahan sosial berbagai ekspresi
mengenai struktur seperti norma, nilai dan fenomena kultural. Dalam penelitian ini,
peneliti lebih mengkhususkan pada proses perubahan sosial yang menyertai
industrialisasi, sehingga dengan demikian masuknya industrialisasi tentunya akan
merubah pola kehidupan sosial yang ada pada masyarakat tersebut. Disamping teori
tersebut di atas, perlu memperhatikan teori lain yakni Teori Interaksionisme Simbolik
(George Ritzer, 1985:62) mencoba menggambarkan bagaimana proses kehidupan
bermasyarakat itu terjadi. Menurut teori ini bahwa individu atau unit-unit yang tindakan
terdiri atas sekumpulan orang tertentu, saling menyesuaikan atau saling mencocokkan
tindakan mereka satu dengan yang lainnya melalui proses interpretasi. Dalam hal aktor
yang berbentuk kelompok, maka tindakan kelompok itu adalah merupakan tindakan
kolektif dari individu yang tergabung ke dalam kelompok itu. Bagi teori ini individual,
interaksi dan interpretasi merupakan tiga terminologi kunci dalam memahami kehidupan
sosial. Teori ini menolak pandangan paradigma fakta sosial dan paradigma perilaku sosial
(social behavior) dengan alasan yang sama. Keduanya tidak mengakui arti penting
kedudukan individu. Bagi paradigma fakta sosial, individu dipandangnya sebagai orang
yang terlalu mudah dikendalikan oleh kekuatan yang berasal dari luar dirinya seperti
kultur, norma dan peranan-peranan sosial. Sehingga pandangan ini cenderung
mengingkari kenyataan bahwa manusia mempunyai kepribadian sendiri. Sedangkan
paradigma perilaku sosial melihat tingkah laku manusia semata-mata ditentukan oleh
suatu rangsangan yang datang dari luar dirinya. Kenyataan bahwa manusia mampu
menciptakan dunianya sendiri, diingkari oleh kedua paradigma itu.
Oleh karena itu teori-teori tersebut di atas dianggap cukup memadai untuk
menjelaskan secara agak mendalam tentang perubahan pola kehidupan sosial masyarakat
nelayan Balongdowo pasca industri.
Sebelum tahun 1984, kehidupan masyarakat nelayan desa Balongdowo tidak jauh
berbeda dengan kehidupan masyarakat nelayan daerah-daerah lain pada umumnya.
Masyarakat nelayan sering diidentikkan dengan masyarakat miskin. Gambaran umum
yang pertama kali bisa dilihat dari kondisi kemiskinan sosial ekonomi dalam kehidupan
masyarakat nelayan adalah fakta-fakta yang bersifat fisik berupa kualitas pemukiman.
Kampung-kampung nelayan miskin akan mudah diidentifikasi dari kondisi rumah hunian
mereka. Rumah-rumah yang sangat sederhana: berdinding anyaman bambu, berlantai
tanah berpasir, beratap daun rumbia, dan keterbatasn pemilikan perabotan rumah tangga
adalah tempat tinggal para nelayan buruh atau nelayan tradisional.
Mengenai jenis alat apa yang digunakan untuk menangkap ikan di laut waktu itu
juga sangat tradisional dengan menggunakan Wela/Perahu Dayung sehingga waktu yang
mereka butuhkanpun cukup lama dan menguras tenaga. Rata-rata waktu yang mereka
gunakan sekali dayung adalah pendhak istilah mereka yakni dari pukul 19.00 WIB
pulang 07.00 WIB. Itupun menurut mereka tidak mendapatkan hasil tangkapan secara
maksimal. Ditambah lagi ciri umum yang melekat pada diri mereka bahwa mereka hanya
mengandalkan pekerjaan mencari ikan di laut. Pola-pola pekerjaan sebagai nelayan
membatasi aktivitas ke sektor pekerjaan lain, sehingga mempengaruhi pendapatan dan
pengeluaran rumah tangganya. Mereka sudah tidak sampai lagi memikirkan sandang
papan, dibenak mereka hanya memikirkan bagaimana caranya bisa hidup hari ini.
Dengan demikian keadaan semacam ini menunjukkan bahwa pada diri mereka melekat
ciri-ciri sebagai masyarakat nelayan atau dengan kata lain pola-pola berpikir serta
struktur sosialnya pun juga menunjukkan sebagai masyarakat paguyuban.
Berbeda dengan keadaan saat ini, tepatnya setelah tahun 1984 masyarakat nelayan
yang sering diidentikkan dengan kemiskinan sirna sudah. Hal ini disebabkan adanya
peningkatan kehidupan para nelayan itu sendiri. Untuk itu perlu peneliti sampaikan
bahwa perbandingan yang jelas antara kehidupan sosial masyarakat nelayan dahulu
sebelum 1984 dan sesudahnya, baik itu penghasilan, pendidikan maupun aspek lainnya.


2. Pola Kehidupan Sosial Masyarakat Nelayan

Pola hidup kegiatan hubungan sosial masyarakat nelayan di desa Balongdowo ini
tidak terlepas dari kegiatan ekonomi mereka. Berbicara masalah ekonomi bagi
masyarakat nelayan itu artinya membicarakan tentang nasib masyarakat nelayan itu
sendiri. Artinya, selama ini muncul anggapan bahwa masyarakat nelayan adalah
masyarakat yang pasif dan mudah menyerah nasib (nrimo), merupakan ciri umum bagi
masyarakat nelayan adalah ketergantungan mereka akan laut sehingga mereka sangat
terikat dengan pekerjaan menangkap ikan di laut. Pekerjaan sebagai nelayan membatasi
aktivitas ke sektor lain, sehingga mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran rumah
tangganya. Anggapan seperti ini dijadikan dalih banyak ilmuwan yang meneliti tentang
kehidupan nelayan untuk mendiskriditkan nelayan. Sehingga terkadang dikatakanya
bahwa para nelayan itu kurang berusaha, kurang kreatif, karenanya mereka menjadi
miskin. Padahal beberapa kasus penelitian membuktikan bahwa para nelayan, mereka
giat dan rajin bekerja. Ia tidak pernah menyerah pada nasib. Yang membuat mereka
miskin adalah keterbatasn akan peralatan dan modal serta fasilitas. Hal ini dialami oleh
masyarakat nelayan desa Balongdowo dahulu sebelum tahun 1984. Namun setelah tahun
itu dengan pembaharuan peralatan perahu motor secara modernisasi, serta fasilitas-
fasilitas lainnya dan diiringi dengan masuknya industri maka kehidupan sosial
masyarakat nelayan desa Balongdowo menjadi meningkat.
Dilihat dari peningkatan pendapatan nampaknya berlaku secara merata di kalangan
mereka, hal ini di sebabkan karena mereka di dalam mencari ikan di laut selalu
berkelompok satu perahu motor berisikan dua belas orang dengan harga sewa Rp.
12.000,- satu kali perjalanan, sehingga yang membedakan di antara sesama nelayan
hanyalah pemilik perahu motor yang mendapatkan tambahan dari uang sewa.
Dengan adanya pembaharuan peralatan mencari ikan di laut dari perahu sampan ke
perahu motor, hal ini menyebabkan suatu tranformasi sosial, kalau dahulu mereka
mencari ikan di laut dengan perahu sampan hanya dengan empat orang, sekarang mereka
melaut menggunakan perahu motor dengan dua belas orang. Kalau dahulu sekali dayung
harus memerlukan waktu yang cukup lama yakni ”pendhak” istilah nelayan dari pukul
19.00 WIB kembali pukul 07.00 WIB saat ini hanya membutuhkan waktu lima jam yakni
pukul 19.00 WIB kembali pukul 24.00 WIB. Kalau dahulu hasilnya per orang hanya
berkisar Rp. 10.000,- hingga 20.000,- sekarang meningkat menjadi Rp. 30.000,- per
orang.
Perubahan itu semua adalah merupakan perubahan sosial, psikologis dan ekonomi.
Hal ini di tandai dengan meningkatnya kesejahteraan sosial masyarakat nelayan,
bertambahnya tenaga yang mencari ikan di laut dan tidak banyak menguras tenaga dan
menghasilkan banyak.
Gejala-gejala di atas menunjukkan bahwa masyarakat nelayan di desa ini, sudah
mengalami transformasi budaya yang di tandai dengan berubahnya pola berpikir mereka.
Mereka lebih senang menggunakan perahu motor dari pada perahu sampan hal ini lebih
efisien dan efektif. Mereka lebih menghormati waktu. Ini pertanda pola berpikir mereka
mengalami perubahan dari pola berpikir tradisional ke pola berpikir modern. Tentunya
dalam hal ini dampak lebih lanjut adalah perubahan kehidupan sosial masyarakat nelayan
kalau dahulu mereka bukan masyarakat konsumtif, sekarang mereka lebih banyak
konsuptif hal ini bisa di lihat gaya hidup mereka, lebih cenderung boros karena menurut
mereka uang mudah di cari. Kalau dahulu mereka guyub suatu misal kalau ada kegiatan
gotong royong mereka selalu hadir saat ini karena mereka juga hemat akan waktu dan
uang mudah di cari maka gotong royong/kerja bakti di belikan/ditumbas aken tiyang
menurut suraji salah seorang staf kelurahan. Dilihat dari sudut kegiatan agama
nampaknya justru semakin meningkat karena mereka punya keyakinan bahwa semakin
dekat dengan Allah maka semakin banyak rejeki/barokahi menurut modin di desa ini, hal
ini di tandai dengan begitu mudahnya kalau ada penarikan sumbangan khususnya untuk
kegiatan keagamaan bukan untuk kegiatan umum misalnya tujuh belas agustusan atau
yang lain-lain. Idhul Adha baru-baru ini (1420 H) mereka berkurban tujuh sapi dan 18
kambing dibanding dengan tahun-tahun lalu hanya mengeluarkan lima kambing atau
hanya empat kambing.
Kenyataan sosial di atas menunjukkan bahwa masyarakat nelayan di desa
Balongdowo sudah mempunyai kerakteristik seperti menuju pada masyarakat
patembayan walaupun tidak mutlak.


3. Perilaku Produktif dan Industrialisasi di Desa Balongdowo
a. Perilaku Produktif Masyarakat Desa Balongdowo

Masyarakat nelayan Desa Balongdowo memiliki perilaku produkif dalam hal
mendiversikasi hasil tangkapan kupang baik berjenis kupang merah maupun kupang
putih serta diversifikasi pekerjaan. Meski perilaku produktif ini bersifat relative
advantage (keuntungan relatif). Yaitu, kemauan untuk mencoba mengaplikasikan ide
baru dalam bentuk skala kecil ataupun skala luas guna memenuhi tuntutan kebutuhan
hidup. Motivasi dan adanya waktu luang yang dimiliki masyarakat nelayan kupang itulah
yang menyebabakan mereka mampu membuat dan mengkreasi hasil laut menjadi aneka
makanan tepung, seperti krupuk kupang dan ada lagi kecap dari bahan baku kupang.
Perilaku produktif tersebut dapat dilihat dari industrialisasi yang ada khususnya
home industri krupuk udang selain pengolahan kupang dan pendistribusiannya. Industri
ini berawal ketika hasil tangkapan kupang melimpah dengan menggunakan perahu motor.
Ada kurang lebih 60 buah industri kecil yang memproduksi krupuk kupang. Tenaga
industri yang ada sejumlah 537 orang. 150 orang diantaranya adalah buruh industri petis
kupang dan 235 diantaranya adalah buruh industri krupuk kupang dan sisanya adalah 195
terdiri dari buruh nelayan. Pada umumnya industri-industri tersebut memang berasal dari
daerah dari daerah setempat bahkan sebagian besar adalah kerabat dekat dan anggota
keluarga nelayan itu sendiri.
Dalam pengolahan kupang, peralatan yang digunakan berupa tungku pemasak,
dandang dan wajan besar, pengaduk dan lain-lainnya. Setelah kupang didaratkan dari
perahu kemudian dilakukan pencucian yang bertujuan untuk menghilangkan kotoran-
kotoran atau benda-benda asing seperti lumpur, kerikil dan lain-lain. Pencucian kupang
tersebut biasanya dilakaukan ditempat pendaratan yaitu di pinggir sungai.
Sebelum kupang merah direbus, dilakukan pencucian pertama biasanya disebut
“pules” yakni menghilangkan owol-owol dari kupang dengan cara merendam kupang
merah dengan air sumur dalam ember besar atau timba. Kemudian dengan menggunakan
potongan bambu yang bentuknya kecil dan runcing pada salah satu ujungnya yang
berdiameter 1 cm – 1,5 cm. Ujung bambu yang tidak runcing diberi kawat sehingga
bambu ini dapat diputar. Alat ini dikaitkan dengan owol-owol yang digenggam dengan
tangan kiri kemudian dengan tangan kanan pules diputar hingga kupang terlepas dari
owol-owolnya, kumpulan owol-owol yang telah terlepas dari kupang disebut kowol.
Setelah kupang dibersihkan kemudian direbus. Bicara perebusan untuk
pengolahan kupang putih dan kupang merah adalah sama, terdiri dari perebusan pertama
yang dilakukan dengan api kecil bertujuan membuka cangkang, kemudian dilanjutkan
dengan perebusan kedua menggunakan api besar dengan tujuan untuk melepaskan
cangkang dari daging kupang serta peningkatan suhu pengasapan. Untuk perebusan
kedua dipakai bambu atau kayu yang cukup kuat untuk mengaduk-aduk kupang. Untuk
membantu membuka dan melepaskan daging kupang dari kulitnya digunakan alat
pengocok telur. Pengadukan pada perebusan kupang merah memerlukan waktu yang
lebih lama daripada perebusan kupang putih karena daging kupang merah memerlukan
waktu yang lebih lama daripada perebusan kupang putih karena daging kupang merah
lebih sulit lepas dari kulit cangkangnya. Lamanya proses perebusan ini tergantung pada
banyak sedikitnya kupang. Selama proses ini kulit kupang siap membuka dan daging siap
memisah.
Setelah proses perebusan selesai, untuk memisahkan daging kupang dari
cangkangnya dilakukan pencucian kupang yang disebut dengan penggimbangan.
Penggimbangan kupang ialah pencucian kupang yang telah selesai direbus dengan irik
yang terbuat dari bambu, pada gentong besar yang berisi air sumur yang bersih. Pada
proses penggimbangan ini kupang diaduk-aduk dengan tangan sampai dagingnya terlepas
dari kulitnya, daging yang terlepas akan berada didasar gentong yang berisi air sedangkan
kulitnya akan tetap diatas irik, kemudian dibuang.
Semua tahap pengolahan kupang yang seperti yang sudah dijelaskan diatas
dikerjakan oleh istri nelayan dengan dibantu nelayan atau anggota keluarga yang lain.
Pekerjaan pengolahan ini memerlukan waktu yang lama dan waktunya pun tidak pasti
waktunya tergantung datangnya nelayan dari melaut. Kadang siang hari tetapi yang
paling sering pada malam hari bahkan kadang-kadang tengah malam.
Kupang ini mudah rusak sehingga pengolahannya harus cepat sehingga begitu
nelayan datang tidak perduli siang atau malam maka istri harus membersihkan dan
mengolah atau melepaskan kupang dari cangkangnya. Pekerjaan mengolah kupang ini
memerlukan waktu yang lama sekitar 5 – 4 jam. Pekerjaan produksi ini dilakukan oleh
istri nelayan disamping pekerjaan rumah tangga sehingga dibayangkan betapa beratnya
beban kerja yang harus ditanggung oleh istri nelayan.
Daging yang sudah bersih dari kulitnya siap untuk dijual kepada para konsumen.
Namun sebagian besar pengolah “memindang” kupangnya dahulu untuk memberi daya
awet yang cukup melalui cara perebusan dan membiarkan selama semalam dengan air
tawar.
Rata-rata masyarakat nelayan menjual sendiri kupang olahannya langsung kepada
pembeli yang berasal dari daerah lain yang datang membeli. Pembeli-pembeli ini
biasanya berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Tanggulangin, Tulangan,
Jember, dan lain-lain. Sementara itu juga yang mempunyai pembeli yang berasal dari
tetangga mereka yang menjadi penjual lontong kupang, pembeli-pembeli ini merupakan
langganan tetap. Seorang istri nelayan selalu mempunyai 2-3 langganan tetap.
Penjualan kupang tersebut selalu kepada langganan. Para istri nelayan tidak akan
menjual kupang olahan tersebut selain kepada langganan mereka. Sehingga apabila
langganan mereka yang berasal dari daerah lain tidak bisa datang maka tidak akan
mereka jual kepada orang lain.
Kupang olahan tersebut biasanya mereka simpan dengan di es. Untuk kupang
merah daya tahannya sampai satu minggu. Sedangkan kupang putih 1-2 hari. Lewat dari
2 hari kupang dapat busuk maka tidak dapat dijual kepada konsumen. Sehingga jika ada
tetangga mereka yang meminjam kupang tersebut untuk dijual kepada langganannya
maka akan mereka pinjamkan dari pada kupang tersebut busuk. Pengembaliannya besok
dalam bentuk kupang.
Pembeli kupang ini sering kali berasal dari daerah lain, mereka ini merupakan para
tengkulak atau penjual makanan lontong kupang. Pada saat perolehan kupang nelayan
banyak maka rata-rata istri nelayan kelompok pemilik perahu dapat menjual kupang putih
50-100 taker per harinya, sedangkan istsri nelayan kelompok pengepul dapat menjual
kupang merah 20-30 taker per harinya.
Dalam satu minggu istri nelayan tersebut kadang istirahat tidak mengolah kupang
sehari atau dua hari karena suaminya tidak melaut. Jika mereka tidak mengolah kupang
biasanya mereka memberitahu langganannya. Hal ini berbeda dengan istri nelayan yang
suaminya bekerja pada pengepul. Mereka mengola kupang hampir setiap hari hanya pada
waktu sakit atau lelah saja mereka istirahat tidak mengolah.
Untuk pembayarannya, menurut para informan bahwa langganan mereka tidak
pernah ngebon dan mereka selalu mendapat pembayaran kontan. Berapapun banyaknya
kupang selalu dibeli oleh langganan karena-karena kupang yang mereka beli selalu habis
terjual. Demikian pula jika kupang hanya sedikit juga selalu mereka beli. Pembeli-
pembeli ini sudah memahami kehidupan para nelayan yang tergantung sepenuhnya
terhadap sumber daya laut.
Mayoritas informan berpendapat bahwa mengolah dan menjual kupang sudah
merupakan kewajiban mereka dan istrinya. Namun, tanggung jawab penuh pengolah
kupang tetap pada istri. Oleh karena itu walaupun pekerjaan mengolah kupang itu
melelahkan dan suaminya tidak dapat membantu mengolah secara penuh mereka tidak
pernah mengeluh. Mereka sadar bahwa suaminya telah melaut dan lelah oleh karena itu
butuh istirahat agar dapat turun ke laut esok harinya.
Rantai distrinbusi kupang ini pendek biasanya dari produsen (nelayan) ke tengkulak
kemudian ke penjual lontong atau dari produsen langsung ke penjual lontong kupang.


b. Industrialisasi di Desa Balongdowo

Desa Balongdowo, merupakan wilayah potensial untuk sektor kenelayanan. Di
samping itu sektor industri juga punya peranan penting dalam pembangunan di desa ini.
Justru sektor industri inilah yang menjadi faktor yang paling dominan terjadinya
perubahan pola kehidupan sosial masyarakat nelayan di desa ini. Hal ini dapat di lihat
munculnya industri-industri kecil di desa ini. Dalam waktu singkat sekitar tahun 1984
dengan meningkatnya hasil tangkapan ikan di laut karena menggunakan perahu motor,
maka muncul industri-industri kecil lebih kurang 60 buah. Tenaga industri yang ada
sejumlah 537 orang. 150 orang diantaranya adalah buruh industri petis kupang dan 235
diantaranya adalah buruh industri krupuk kupang dan sisanya adalah 195 terdiri dari
buruh nelayan. Pada umumnya industri-industri tersebut memang berasal dari daerah dari
daerah setempat bahkan sebagian besar adalah kerabat dekat dan anggota keluarga
nelayan itu sendiri. Walaupun masyarakat nelayan desa tersebut tergolong sebagai
masyarakat industri akan tetapi dalam kenyataan mereka dalam merekrut karyawan masih
belum mengutamakan prestasi (tingkat pendidikan dan keahlian) mereka bekerja masih
berdasarkan sistim kerabat/asal usul. Hal ini terlihat dari daerah asal karyawan sebagian
besar berasal dari desa tersebut. Mereka saat ini masih berpendidikan SD/SLTP dan
sebagian kecil tidak tamat SD.
Kenyataan sosial di atas mengisyaratkan bahwa hubungan sosial industri di desa ini
masih berpola hubungan sosial transisi, yaitu hubungan sosial agraris (nelayan di sini
masih digolongkan sebagai masyarakat tani) ke hubungan sosial industri dengan kata
lain bahwa hubungan tersebut masih belum sepenuhnya menjadi masyarakat industrialis.
Terutama di sini dalam merekrut karyawan, solidaritas komunal masih menjadi
dasar pertimbangan terhadap penyeleksian calon karyawan pada industri di desa ini.
Dalam sistem kerjapun, solidaritaas komunal masih nampak sekali, suatu misal jam
istirahat para karyawan masih longgar tidak seperti di industri pada umumnya. Mereka
kerja mulai pukul 08.00 WIB istirahat pukul 11.00 WIB dilanjutkan dengan sholat
dhuhur hingga pukul 14.00 WIB masuk kembali hingga 17.00. Bagi mereka yang masih
tergolong kerabat dekat biasanya dilanjutkan hingga larut malam
Dalam pembagian kerja dibagi menjadi dua yakni bagian produksi kupang dan
pekerjaan rumah tangga. Kegiatan produksi kupang ini meliputi kegiatan mengolah
kupang dari masih ada kulitnya sampai kupang lepas dari kulitnya sehingga siap untuk
dijual ke pembeli. Mayoritas istri nelayan kupang di daerah Balongdowo mengerjakan
kegiatan produksi kupang. Untuk istri nelayan dalam kelompok pemilik perahu biasanya
hasil tangkapannya diolah sendiri oleh istrinya sendiri, sedangkan istri nelayan yang
suaminya bergabung dengan pengepul mengolah kupang juga tetapi kupang dengan kulit
tersebut harus mereka beli dari tengkulak. Pengolahan kupang dalam masyarakat nelayan
Balongdowo memang masih bersifat kekeluargaan dengan melibatkan sanak saudara
masing-masing.
Pekerjaan nelayan kupang merupakan pekerjaan yang penuh dengan ketidakpastian
karena tergantung pada kondisi lingkungan laut, sehingga hal ini berakibat pada
pendapatan mereka yang menjadi pasti. Hal ini sangat disadari oleh para istri nelayan
tersebut sehingga mereka berusaha untuk membantu suami untuk dapat meningkatkan
pendapatan rumah tangganya. Hal ini terlihat dari 30 responden istri nelayan 27 orang
hanya mempunyai pekerjaan mengolah kupang dan tidak mempunyai pekerjaan
sampingan karena menurut mereka mengolah kupang itu sudah sangat melelahkan dan
membutuhkan waktu yang tidak sebentar sehingga mereka tidak berusaha mencari
pekerjaan sambilan. Sedangkan 3 orang mempunyai usaha took meracang. Usaha
meracang ini dilakukan di rumah responden yang biasanya jadi satu dengan serambi
depan rumah. Sehingga dalam menjalankan usahanya tidak perlu meninggalan rumah.
Menurut informasi yang didapat alasan responden membuka toko meracang karena
adanya usaha ini mereka masih punya kesempatan melakukan pekerjaan rumah tangga.
Untuk mengetahui besarnya pendapatan nelayan di desa Balongdowo memang tidak
gampang, karena untuk memberikan keterangan tentang besar pendapatan suaminya,
respoden isteri nelayan tidak dapat menetapkan dengan pasti karena pendapatan
suaminya tidak bisa dipastikan setiap harinya. Pendapatan dari suami responden tidak
selalu sama tergantung banyak sedikitnya kupang yang diperoleh setiap harinya. Apabila
perolehan suami banyak maka pendapatan keluargapun besar demikian pula sebaliknya
apabila perolehan suami sedikit maka pendapatan keluarga menjadi kecil. Dari alas an
penghasilan yang serba tidak menentu inilah yang menjadikan satu alasan penghasilan
suami itu tidak dapat dijawab secara pasti. Hal seperti itu juga mendorong istri-istri
nelayan itu untuk bekerja meningkatkan penghasilan. Salah satu responden dengan terus
terang mengatakan kebingungannya mengenai berapa penghasilan suami dalam setiap
harinya.
Pendapatan nelayan di Desa Balongdowo, didasarkan atas banyaknya kupang
perolehan suami responden. Besarnya pendapatan suami responden bervariasi yaitu
antara Rp. 30.000,- sampai Rp.60.000,- untuk penghasilan keluarga responden nelayan
dari kelompok pemilik perahu menurut mereka pada musim kemarau penghasilan suami
responden relatif sedikit minimal penghasilanya Rp.30.000,- bahkan kadang-kadang
mereka tidak mendapat penghasilan, tetapi hasil perolehan kupang relatif banyak
mencapai Rp. 60.000,- sedangkan penghasilan responden dari kelompok pengepul antara
Rp. 14.000,- sampai Rp. 21.000,- . Pada musim penghujan para nelayan merasa senang
karena hasil jerih payahnya tidak sia-sia, maksudnya hasil yang didapat seimbang dengan
tenaga yang dikeluarkan. Besar kecilnya pendapatan nelayan ini sangat tergantung pada
cuaca dan musim.
Lamanya bekerja, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar
dari istri nelayan telah cukup lama membantu untuk menambah penghasilan keluarga.
Keadaan ekonomi keluarga yang penghasilan suaminya tidak pasti menyebabkan istri
nelayan sebagai seorang ibu rumah tangga yang memegang peranan mengolah
pendapatan keluarga dituntut dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga para istri
nelayan ini berusaha semaksimal mungkin dengan kemampuannya untuk membantu
menambah penghasilan keluarga.
Istri nelayan sebagai ibu rumah tangga mempunyai peran yang besar dalam
mengatur ekonomi keluarga. Sebagai pengelola pendapatan keluarga seorang istri
dituntut untuk melakukan penghematan dan harus juga diupayakan sedemikian rupa
untuk menekan pengeluaran seminimal mungkin untuk memenuhi pola konsumsi yang
meliputi sandang, pangan, pendidikan, kesehatan dan lain-lainnya. Kebutuhan pokok dan
kebutuhan yang sifatnya mendesak harus bisa terpenuhi lebih dahulu daripada kebutuhan
yang lain. Karena bagaimanapun juga kesejahteraan keluarga sangat tergantung pada
terpenuhinya kebutuhan pokok sehari-hari.
Bertitik tolak pada uraian di atas perlu juga penulis mendiskripsikan pola
pengeluaran rumah tangga nelayan. Untuk pengupas perihal pengeluaran ini akan
diuraikan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Dalam penelitian ini yang dimaksud
dengan pengeluaran adalah pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari yang meliputi
pangan, pakaian dan pengeluaran untuk biaya pendidikan bagi responden yang masih
mempunyai anak usia sekolah.
Pengeluaran untuk kebutuhan pangan yang merupakan kebutuhan pokok sehari-hari
masyarakat. Pada umumnya responden sebagai sample dalam penelitian ini mempunyai
pola makan 3 kali sehari. Untuk sarapan pagi berdasarkan informasi yang didapat pada
umumnya responden membeli di warung. Pada siang hari istri nelayan memasak untuk
persiapan makan siang dan makan malam. Untuk responden istri nelayan yang terlibat
dalam kegiatan mengolah kupang maka untuk kegiatan memasak biasanya mereka lebih
sering membeli terutama pada waktu musim penghujan atau rendeng. Karena kupang
yang mereka olah jumlahnya besar sehingga mereka tidak waktu lagi untuk memasak.
Sementara itu untuk pengeluaran biaya perawatan kesehatan berdasarkan inforamsi
yang diperoleh, responden dan keluarganya jarang pergi ke dokter ataupun ke rumah
sakit. Jika ada anggota keluarga yang sakit, menurut responden cukup dibelikan obat di
warung, tetapi jika penyakit yang mereka derita tidak dapat sembuh barulah mereka akan
memeriksakan diri ke rumah sakit.
Pengeluaran untuk biaya pendidikan anak-anak responden. Dari data yang berhasil
dikumpulkan sebagian besar responden masih menyekolahkan anak-anaknya pada tingkat
pendidikan SD, SLTP, maupun SLTA. Menurut beberapa responden yang mempunyai
anak yang sekolah di SLTP dan SLTA mengungkapkan bahwa pengeluarannya cukup
tinggi. Hal ini disebabkan di desa Balongdowo tidak ada sekolah SLTP maupun SLTA.
SLTP letaknya di desa lain, sedangkan SLTA letaknya di Sidoarjo yang jaraknya lebih
jauh lagi sehingga pengelurannya mereka lebih tinggi karena harus menanggung biaya
transport, biaya sekolah serta pembelian buku-buku pelajaran.
Untuk keluarga responden yang mempunyai anak ditingkat SD tidak pernah
meengeluarkan uang trasnportasi, karena untuk SD sudah tersedia di desa Balongdowo
ini. Karena itu pengeluaran untuk biaya pendidikan untuk anaknya yang masih sekolah
SD tidak terlalu tinggi.
Berbicara masalah interaksi sosial ekonomi salah satu hal yang tidak bisa
dilepaskan begitu saja adalah perihal arisan. Arisan bagi responden dianggap sebagai
tabungan. Pada umumnya pengeluaran untuk arisan pada masyarakat nelayan pencari
kupang ini lebih besar. Untuk membayar arisan mayoritas responden istri nelayan
mengeluarkan rata-rata sebesar Rp. 5.000,- sampai dengan Rp. 7.000,- dalam satu
harinya. Arisan-arisan yang diikuti oleh istri nelayan ini ada yang ditarik perhari,
mingguan dan ada yang ditarik satu bulan sekali.
Untuk jajan pengeluaran mereka juga besar karena anggota keluarga nelayan baik
anak-anak maupun orang dewasa mempunyai kebiasaan jajan meskipun mereka telah
makan nasi. Terutama pada waktu malam hari banyak sekali orang-orang yang duduk
depan rumah mereka untuk menunggu penjual makanan lewat dan kemudian
membelinya.
Selain pengeluaran untuk memenuhi kebutuah sehari-hari untuk biaya pendidikan
anak dan jajan keluarga. Masih ada lagi pengeluaran uang yang dilakukan oleh para istri
nelayan yaitu pengeluaran yang berupa sumbangan untuk tetangganya yang mempunyai
hajat. Pengeluaran keluarga responden ini akan lebih besar. Ada suatu kebiasaan dalam
masyarakat setempat untuk menaruh barang apabila tetangga mempunyai hajat. Barang
yang ditaruh biasanya berupa beras atau gula. Banyaknya barang yang ditaruh rata-rata
sekitar 5 kg – 6 kg per keluarga. Orang mempunyai hajat selalu mencatat banyaknya
barang yang ditaruh oleh tetangga-tetangganya karena barang ini diharapkan
dikembalikan lagi apabila tetangga yang menaruh tadi mengadakan hajatan. Hajatan yang
dilakukan oleh masyarakat setempat selalu diadakan secara besar-besaran.
Pada saat mengadakan hajatan biasanya mereka mendatangkan hiburan seperti
ludruk, orkes dangdut atau layar tancap. Selain mengadakan hajatan secara besar-besaran
masyarakat nelayan setempat juga mempunyai kebiasaan untuk membeli perhiasan
apabila mereka mempunyai uang berlebih terutama sehabis memeperoleh arisan.
Uang tidak dapat dipisahkan dengan pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga,
tetapi masalah kesulitan keuangan seringkali menjadi masalah yang sangat pribadi
dimanan tidak semua orang boleh mengetahuinya, hanya pihak-pihak tertentu saja yang
dianggap mempunyai hubungan yang sangat dekat yang boleh mengetahuinya. Dalam
mengatasi kesulitan ekonomi biasanya responden mempunyai cara tersendiri yaitu
dengan jalan menguangkan atau menggadaikan barang yang dimiliki misalnya :
menggadaikan atau menjual perhiasan. Dengan demikian masalah keuangan yang
dihadapi dapat diatasi dan kemungkinan untuk diketahui oleh orang lain lebih kecil.
Mereka cenderung menghindari mengatasi kekurangan keuangan dengan jalan berhutang
ke orang lain.
Di dalam masyarakat nelayan kupang Desa Balongdowo, istri mempunyai peran
yang besar didalam rumah tangga terutama dalam kegiatan produksi, distribusi dan
kegiatan pengelolaan penghasilan dan pengeluaran keluarga. Peran ekonomi istri dapat
membantu meningkatkan pendapatan rumah tangga. Mengenai pembagian kerja di dalam
keluarga nelayan menunjukkan pada pola peranan yang ada dalam keluarga. Kegiatan
istri nelayan dalam pekerjannya tidak memberikan perubahan yang berarti pada tugas-
tugas rumah tangga (domestik) seperti mencuci pakaian, memasak, mengasuh anak,
mencuci piring dan membersihkan rumah. Tugas domestik ini dilaksanakan sendiri
dengan bantuan anak-anaknya maupun anggota keluarga yang lain.
Dalam sistem distribusi prestise, status, dan kepemilikan industri merupakan salah
satu kriteria yang menentukan selain kriteria lainnya. Elit masyarakat komunal di desa ini
sebagai pemilik industri. Namun sebagaimana peneliti singgung di bab terdahulu bahwa
industri juga mempunyai dampak terhadap pelaksanaan pemenuhan kewajiban komunal
bagi masyarakat industri. Lapisan sosial industri biasanya sulit untuk dikerahkan sebagai
peserta upacara keluarga atau keagamaan, karena memang mereka dikenal sebagai
masyarakat yang terikat oleh waktu jam kerja. Hal ini nampak pada saat upacara adat
yang juga mereka anggap sebagai upacara keagamaan yakni apa yang disebut dengan
upacara Nyadran/Ngruwat yang datang dan ikut sebagian besar adalah masyarakat yang
bekerja sebagai nelayan bukan dari masyarakat yang bekerja di sektor industri.
Nyadran/Ngruwat, artinya mereka dengan kegiatan ini berharap supaya kupang di
laut menjadi banyak, kalau tidak melakukan ngruwat maka mereka tidak dapat
menangkap kupang dengan hasil yang maksimal. Di samping itu dengan ngruwat mereka
bermaksud ziarah ke makam leluhut yakni di makam Kepetingan. Upacara ngruwat
dilaksanakan pada bulan Ruwah (mau posoh menurut istilah mereka), yaitu mengirimkan
sesajen ke laut menggunakan perahu/sampan pada sebelum 1984 dan sekarang
menggunakan perahu motor. Kalau dahulu biaya sesajen dipikul oleh masyarakat yang
walaupun tidak menjadi nelayan. Sekarang biaya tersebut dipikul oleh dua belas orang
nelayan. Itu menunjukkan masyarakat nelayan saat ini telah mampu. Perbedaan yang lain
pengikut kegiatan ini kalau dahulu hanya orang tua saja sehingga terkesan sedikit sakral
akan tetapi sekarang justru yang paling banyak pengikutnya adalah muda mudi.
Ditinjau dari sudut pelestarian struktur kenelayanan nampaknya industrialisasi yang
ada di desa ini tidak mempengaruhi jumlah buruh nelayan yang ada. Artinya bahwa
dengan adanya industrialisasi tidak banyak yang beralih profesi menjadi buruh industri.
Justru ada semacam tuntutan yang mengarah pada keprofesionalisan ketenagaan. Artinya
bahwa yang sudah sejak dahulu bergelut ke nelayan mereka lebih memfokuskan ke
nelayan mereka saat ini masih tergolong menginjak tua mau alih profesi ke industri tidak
punya ketrampilan dan mereka yang industripun juga mau ke nelayan tidak punya
keterampilan tentang kenelayanan. Hanya saja dilihat dari segi pendapatan nampaknya
lebih banyak nelayan (per hari Rp. 25.000,- hingga Rp. 40.000,-) dibanding dengan kerja
industri yang walaupun borongan hanya berkisar pada Rp. 10.000,- hingga rp. 15.000,-.
Hanya saja karena buruh industri ini sebagian besar juga anggota keluarga nelayan maka
penghasilan ini dianggap sebagai penghasilan tambahan untuk keluarga nelayan.
Dalam pelaksanaan keputusan pemerintah desa, lapisan sosial nelayan yang
merangkap sebagai pemilik industri sangat menentukan kekuatan posisi berunding rakyat.
Mereka mempunyai peranan yang sangat besar dalam menangani masalah
ketenagakerjaan yang ada di desa ini. Kehidupan masyarakat nelayan terangkat karena
jasa mereka bertiga. Munculnya industri-industri di desa tersebut awalnya berkiblat pada
mereka, sehingga industri-industri yang ada di desa ini juga menjadi filter bagi penduduk
desa bahkan desa sekitarnya yang ingin mencari pekerjaan di kota. Hal ini dapat
mencegah meledaknya angka urbanisasi. Masyarakat elit pengusaha ini dapat dikatakan
sebagai pemegang kelancaran roda perekonomian di desa ini.
Kenyataan-kenyataan sosial di atas menunjukkan bahwa industrialisasi di desa ini
yang walaupun tidak mutlak, juga mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sosial
masyarakat nelayan di desa tersebut. Desa ini mengalami kemajuan yang sangat pesat
justru karena adanya berbagai industri karena bisa dijadikan sebagai pekerjaan alternatif
bagi keluarga nelayan, sehingga mereka mempunyai mata pencaharian ganda, yaitu
sebagai nelayan juga sebagai pekerja industri.
Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa, sektor industri di desa ini
mempunyai peranan yang besar terhadap jalannya roda perekonomian di desa ini. Dan
mengakibatkan perubahan kehidupan sosial yang tidak kecil terhadap kehidupan
masyarakat di desa ini. Dapat dikatakan bahwa transformasi sosial budaya telah terjadi di
desa ini, namun sebagaimana peneliti sampaikan masih belum sepenuhnya menjadi
masyarakat industrialis.

G. Simpulan dan Saran

1. Simpulan
Penelitian tentang perubahan pola kehidupan sosial dan perilaku produktif
masyarakat nelayan di Desa Balongdowo melahirkan kesimpulan sebagai berikut
:
a. Perubahan pola kehidupan desa Balongdowo. Kenyataan sosial semacam ini dapat
dilihat pada aktivitas-aktivitas sosial pada masyarakat tersebut. Suatu misal pada
saat upacara komunal , masyarakat yang mata pencahariannya ganda sebagai
pengusaha industri mereka tidak dapat menyertai kegiatan-kegiatan komunal
karena mereka terikat akan waktu. Berbeda dengan mereka yang hanya mata
pencahariannya sebagai nelayan saja masih mempunyai kesempatan untuk
mengikuti upacara komunal. Namun demikian perubahan seperti ini tidak terlalu
menyolok, karena solidaritas komunal di desa ini masih terpelihara dengan baik.
b. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan pola kehidupan sosial
seperti tersebut di atas adalah karena adanya modernisasi alat tangkap pencarian
ikan di laut. Dengan adanya perubahan alat tangkap dari perahu/sampan ke perahu
motor maka pendapatan mereka meningkat. Seiring dengan perubahan alat
tangkap tesebut masuknya industrialisasi di desa tersebut juga membawa
pengaruh pada kesejahteraan sosial masyarakat nelayan di desa tersebut.
c. Di antara faktor-faktor tersebut di atas, industrialisasi merupakan faktor yang
paling dominan menyebabkan terjadinya perubahan pola kehidupan sosial pada
masyarakat nelayan. Karena dengan adanya industrialisasi mata pencaharian
mereka menjadi ganda, sehingga dengan demikian penghasilan merekapun
semakin meningkat. Tentunya dampak lebih lanjut adalah terjadinya perubahan
pola kehidupan sosial pada masyarakat tersebut.
d. Berkembangnya sektor industri, memunculkan perilaku produktif masyarakat
Balongdowo dalam hal inovasi dan kreativitas sebagai upaya mendiversikasi
aneka makanan kupang, seperti lontong kupang. Selain itu juga ada krupuk
kupang, petis kupang, kecap berbahan kupang.

2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini peniliti mengusulkan:
a. Agar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo ataupun investor memberikan sumbangan
untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan memberikan pendidikan
ketrampilan, teknologi, dan modal sehingga nelayan kupang dapat meningkatkan
taraf hidupnya. Serta memberikan beasiswa atau biaya pendidikan khusus kepada
anak-anak nelayan.
b. Berkaitan dengan upacara Nyadran yang memiliki potensi wisata religi,
disarankan agar pemerintah Kabupaten Sidoarjo membangun dan
mengembangkan infrastruktur wisata bahari menuju Pantai Ketingan secara lebih
baik sehingga dapat dipakai sebagai salah satu IKON Kabupaten Sidoarjo dalam
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.


Daftar Pustaka

Abdulsyani, 1987. Sosiologi Kelompok dan Masalah Sosial. Jakarta: Fajar Agung
Azwar, Saifuddin. 1988. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogjakarta: Liberty.
Banoewidjojo, Mulyadi. 1983. Pembangunan Pertanian. Surabaya: Usaha Nasional
Budiman, Arif. 1995. Teori Pembangunan Dunia Ke Tiga. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama
Danusaputro, Munadjat. 1991. Perlindungan dan Pelestarian Sumberdaya Perikanan di
Wilayah Pantai Dalam Hubungannya Dengan Selat Malaka. Seminar Nasional
Kehidupan Nelayan dan Aspek Hukumnya di Wilayah Pantai Pesisr Timur
Sumatera Utara. Fakultas Hukum USU – Medan
Depdagri. 1999. Profil Desa / Kelurahan Desa Balongdowo, Buku I. Jakarta
Faisal, Sanapiah. 1990. Penelitian Kualitatif:Dasar-dasar dan Aplikasi. Edisi I. Malang:
Yayasan Asih Asah Asuh (YA3)
Firmansyah, Muhammad. 2005. “Jaringan Sosial Dalam Pola Distribusi hasil
Tangkapan Nelayan”. Library @ lib.unair. ac.id.
Garna, Judistira, K. 1992. Teori-teori Perubahan Sosial. Bandung: PPs Universitas
Pajajaran.
George Junus Adi Tjondro. 1994. “Dampak Industrialisasi Terhadap Lingkungan dan
Upaya Warga Masyarakat Dalam Menghadapinya.” Yogjakarta: Kanisius. dalam
Mardimin (ed).
Goldthorpe,J.E. 1992. Sosiologi Dunia ke Tiga, Kesenjangan, dan Pembangunan.
Jakarta: Gramedia Pustaka utama.
Harun, Muhammad Djalil. 1987. Hambatan-hambatan Pengembalian Kredit Nelayan.
Horton, Paul B. 1993. Sosiologi I. Jakarta: Airlangga.
Kakansing, W. 1995. “Pengaruh Komunikasi Kelompok Kecil Yang Dilakukan Oleh PPL
Pertanian dan Pemuka Pendapat Terhadap Perubahan Perilaku Petani dalam Bertani
Ladang.” Tesis. Bandung: PPS Unpad.
Karim, Muhammad Rusli (ed). tt. Seluk Beluk Perubahan Sosial. Surabaya: Usaha
Nasional
Kusnadi. 1987. Pusat Studi Komunitas Pantai.
Lauer, Robert H. 1989. Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Jakarta: Bumi Aksara.
Long, Norman. 1992. Sosiologi Pembangunan Pedesaan. Jakarta: Bumi Aksara.
Mardimin, Johanes (ed). 1994. Jangan Tangisi Tradisi, Transformasi Budaya Menuju
Masyarakat Indonesia Modern. Yogjakarta: Kanisius.
Mubyarto. 1984. Nelayan dan Kemiskinan: Studi Ekonomi Antropologi di Dua Desa
Pantai. Jakarta: CV. Rajawali.
Poloma, Margaret., M. 1994. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Soedarmayanti. 1995. Sumberdaya Manusia Dan Produktivitas Kerja. Bandung: Ilham
Jaya.
Soedarmayanti. 1996. Tata Kerja dan Produktivitas Kerja: Suatu Tinjauan Dari Aspek
Ergonomi atau Kaitan Antara Manusia Dengan Lingkungan Kerja. Bandung:
Mandar Maju.
Soekartiwi. 1994. Pembangunan Pertanian. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Subagio. 1991. Asosiasi Sosiobudaya Antara Kemiskinan dan Fertilitas: Studi Kasus
Nelayan Desa Blanakan. Bogor: PPS Institut Pertanian Bogor.
Suwarsono dan Alvin, Y. 1994. Perubahan Sosial dan Pembangunan. Jakarta: PT.
Pustaka LP3Es.
Syarif, Rusli. 1991. Produkitivitas. Bandung: Angkasa.
Tulus Tambunan. 1995. “Pola Pembangunan Ekonomi di Pedesaan.” Prisma. No.8
Agustus
Veeger, KJ. 1993. Realitas Sosial. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.[]