Anda di halaman 1dari 9

JURNAL ILMIAH RANGGAGADING

Volume 9 No. 1, April 2009 : 9 - 17



ANALISIS KETENTUAN FISKAL TERHADAP LAPORAN
KEUANGAN KOMERSIAL UNTUK MENENTUKAN
BESARNYA PPh TERHUTANG
Studi Kasus pada Yayasan Pendidikan “YPKTH”

Oleh
*Bambang Pamungkas, *Daniel B. De Poere dan Amalia Ridwan

*Dosen Tetap Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Kesatuan Bogor


ABSTRACT

The objective of this research is to analyze fiscal stipulation toward commercial financial report of foundation, if it met
justice principle and other principles that form the background of circular publication and rules about the foundation.
The method used at this research is comparative method, trying to compare commercial financial report, that is
financial report according to principle and accounting stipulation that be in effect (PSAK) with fiscal financial report
according to principle and taxation stipulation (UU No. 17, 2000). From this reconciliation, it will be yielded fiscal
profit or revenue that will be a basis to count income tax that must be paid in one tax year.

Keywords: Foundation Financial Report, Company Fee Taxpayer, Fiscal Correction


PENDAHULUAN

Sejak dimulainya gerakan reformasi di
Indonesia, jumlah lembaga nirlaba terutama
yayasan menunjukan peningkatan yang
meningkat secara signifikan. Dengan
pendiriannya yang relatif mudah maka banyak
yang memanfaatkan bentuk yayasan untuk
berbisnis dengan tidak adil. Mereka memasuki
sektor komersial dengan badan hukum
berbentuk yayasan sehingga tidak terkena
pajak. Begitu pula dengan yayasan yang jelas-
jelas menghasilkan keuntungan, namun tetap
tidak tersentuh pajak karena badan hukumnya.
Dengan berbagai latar belakang tersebut,
meskipun dinilai sudah terlambat, Pemerintah
mengeluarkan peraturan mengenai salah satu
lembaga nirlaba yaitu Yayasan. Melalui UU
No.16 tahun 2001 tentang Yayasan dan SE-
34/PJ.4/1995 dan SE-39/PJ.4/1995 tentang
Penegasan Pajak Penghasilan bagi Yayasan dan
Organisasi Sejenis.
Peraturan perpajakan menyadari bahwa
yayasan merupakan badan hukum yang tidak
semata–mata mencari keuntungan semata
dalam kegiatan operasionalnya. Dengan
demikian, patut diberikan perlakuan khusus
untuk lembaga nirlaba ini di bidang
Perpajakan. Perlakuan khusus ini dapat berupa
banyak hal, mulai dari pembebasan pengenaan
pajak, pengenaan tarif khusus sampai dengan
keringanan-keringanan lain yang berlaku untuk
berbagai jenis pajak.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode penelitian
Komparatif. Teknik pengumpulan data yang
dilakukan penulis pada proses penelitiannya
PAMUNGKAS, DE POERE dan RIDWAN, Analisis Ketentuan Fiskal terhadap Laporan
10

dilapangan adalah sebagai berikut:
1. Studi Kepustakaan (Library Research)
adalah metode pengumpulan data teoritis
dengan cara membaca dan mempelajari
literatur-literatur yang berhubungan
dengan masalah yang diteliti.
2. Studi Lapangan (Field Research) adalah
suatu metode pengumpulan data dengan
cara melakukan peninjauan langsung pada
objek penelitian. Studi lapangan yang
dilakukan penulis adalah dengan cara
interview (wawancara) langsung di tempat
objek penelitian. Teknik ini adalah teknik
yang dilakukan dengan cara mengadakan
tanya jawab secara langsung kepada pihak-
pihak yang berkepentingan dengan
masalah yang dijadikan objek penelitian.
Tanya jawab ditujukan kepada pihak-pihak
yang bertanggung jawab atas penyajian
laporan keuangan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Analisis Ketentuan Fiskal terhadap
Laporan Keuangan Komersial pada
Yayasan Pendidikan “YPKTH” untuk
Menentukan Besarnya PPh Terhutang

Ketentuan fiskal adalah adalah
ketentuan atau aturan-aturan menurut prinsip
perpajakan. Dalam bab ini, penulis akan
mencoba menganalisis ketentuan fiskal yang
telah dijabarkan sebelumnya pada operasional
variabel terhadap laporan keuangan Yayasan
komersil Pendidikan ini sehingga akan
didapatkan beban pajak yang terhutang yang
sesuai menurut prinsip perpajakan. Pada
prakteknya Yayasan Pendidikan ini telah
melakukan perhitungan ini dan telah
didapatkan beban pajak yang terhutang, akan
tetapi setelah dikaji lebih lanjut terdapat
kekurangan dan ketidaksesuaian dengan
ketentuan-ketentuan yang ada pada
perhitungan dan pelaporan yang dilakukan
Yayasan Pendidikan ini. Oleh karena itu
penulis akan mencoba melakukan perhitungan
dan penyajian kembali dengan melakukan
analisis ketentuan fiskal yang ada dan berlaku
sekarang ini.
Dalam pembahasan ini penulis
mengalami kendala untuk menyajikan
perhitungan yang benar-benar tepat sesuai
teori-teori yang penulis dapatkan dari studi
pustaka maupun kegiatan pekuliahan, hal ini
dikarenakan adanya keterbatasan data yang
diperoleh penulis dari objek penelitian. Oleh
karena itu penulis mencoba melakukan asumsi-
asumsi dari data-data yang kurang sehingga
penulis dapat melakukan pembahasan yang
dapat dimengerti.

2. Ketentuan Fiskal yang berlaku untuk
Yayasan (organisasi nirlaba)

Beberapa ketentuan fiskal yang
berlaku untuk yayasan atau organisasi sejenis
yang berbasis nirlaba adalah UU No.17 tahun
2000 tentang Pajak Penghasilan dan surat
edaran SE-34/PJ.4/1995 dan SE-
39/PJ.4/1995 tentang Penegasan perlakuan
Pajak Penghasilan bagi yayasan atau organisasi
yang sejenis. Berikut ini penjelasan dan
pengaruh ketentuan fiskal tersebut bagi
laporan keuangan komersial Yayasan
Pendidikan ini:

3. UU No.17 tahun 2000 tentang Pajak
Penghasilan

Undang-undang ini adalah UU yang
terbaru setelah mengalami perubahan-
perubahan, mulai dari UU No.7 Tahun 1983
lalu diubah menjadi UU No.7 Tahun 1991 lalu
diubah lagi dengan UU No.10 Tahun 1994 dan
yang terakhir adalah UU No.17 Tahun 2000.
Undang-undang No.17 Tahun 2000 tentang
Pajak Penghasilan adalah standard dan acuan
bagi para Wajib Pajak untuk menghitung dan
menentukan beban pajak penghasilannya.
Berikut ini adalah pendapatan-
pendapatan dan biaya-biaya yang harus
dilakukan rekonsiliasi fiskal karena adanya
perbedaan-perbedaan pengakuan berdasarkan
prinsip pajak dan prinsip akuntansi yang ada,
yaitu:
1. Pendapatan dari Jasa Giro
Berdasarkan UU No.17 Tahun 2000
pasal 4 ayat (2), pendapatan dari jasa giro
merupakan objek pajak penghasilan tetapi
harus dikoreksi fiskal negatif untuk
mengurangi laba fiskal yang akan dikenakan
tarif pajak penghasilan, hal ini dikarenakan
Jurnal Ilmiah Ranggagading, Vol. 9 No. 1, April 2009
11

berdasarkan ketentuan dasar hukum
perpajakan dalam PP No.131/200 dan KMK-
51/KMK.04/2001 yang menerangkan
mengenai objek pajak yang dikenakan PPh
Final atas penghasilan bunga tabungan, jasa
giro, dan diskonto. Jadi pendapatan jasa giro
merupakan pendapatan yang kena pajak pada
saat penerimaannya dan pajak atas pendapatan
bunga tabungan/jasa giro ini bersifat final yang
maksudnya pajak tersebut sudah dipotong atau
dibayarkan pada saat pendapatan ini diterima,
sehingga pada akhir periode atau dalam
penghitungan pajak penghasilan tahunan
Yayasan Pendidikan ini tidak perlu lagi
memperhitungan besar pajaknya.
Jumlah pendapatan jasa giro Yayasan
Pendidikan ini tidak terlihat di laporan
keuangannya. Pada Laporan Laba/Ruginya
hanya ada akun pendapatan lain-lain yang
didalamnya termasuk juga pendapatan jasa
giro, sehingga penulis mencoba
mengasumsikan jumlah jasa giro Yayasan
Pendidikan ini. Jumlah ini penulis dapatkan
dari akun Kas dan Bank pada Neraca Yayasan
Pendidikan ini yang berjumlah
Rp175.631.135,- dan mengasumsikan delapan
puluh lima persennya (85%) adalah saldo bank
yang dimiliki Yayasan Pendidikan ini.
Perhitungan ini penulis lakukan karena
Yayasan Pendidikan ini pun tidak melakukan
pemisahan pada jumlah akun Kas dan
Banknya. Sehingga akan didapatkan jumlah
saldo bank Yayasan Pendidikan ini pada akhir
tahun 2006 adalah sebesar Rp149.286.465,-.
Setelah didapatkan jumlah saldo banknya maka
penulis mencoba mengasumsikan lagi jumlah
jasa giro sebesar enam persen (6%) dari jumlah
saldo banknya dan didapatkan jumlah
Rp8.957.188,- untuk jumlah pendapatan jasa
giro Yayasan Pendidikan ini pada tahun 2006.
Jumlah ini akan dikurangkan dari laba fiskal
Yayasan Pendidikan ini pada perhitungan pajak
terhutangnya tahun 2006.
2. Biaya Penyusutan
Berdasarkan UU No.17 Tahun 2000
pasal 11, yang menjelaskan tentang biaya
penyusutan aktiva tetap berwujud yang
berumur lebih dari 1 (satu) tahun yang boleh
dibebankan setiap tahunnya berdasarkan
ketentuan perpajakan. Pada daftar perhitungan
biaya penyusutan ini, penulis mengalami
kendala yaitu dikarenakan Yayasan Pendidikan
ini tidak mencatat secara jelas tahun perolehan
untuk mendapatkan setiap aktiva tetapnya,
sehingga agar penulis dapat menyajikan koreksi
untuk biaya penyusutan pada Yayasan
Pendidikan ini, maka penulis mencoba untuk
mengasumsikan tahun perolehan setiap aktiva
tetapnya. Terdapat ketidaksesuaian dengan
perhitungan biaya penyusutan yang dilakukan
oleh Yayasan Pendidikan ini, ketidaksesuaian
tersebut terdapat pada aktiva tetap berwujud:
a. Bangunan
Berdasarkan ketentuan fiskal yang
terdapat pada UU No.17 Tahun 2000 pasal 11
ayat (1), bangunan adalah aktiva tetap
berwujud yang penyusutannya dihitung
berdasarkan metode garis lurus. Dengan
metode ini maka biaya penyusutan yang
dibebankan setiap tahunnya akan berjumlah
sama besar selama masa manfaat yang telah
ditentukan untuk aktiva tetap tersebut.
Yayasan Pendidikan ini menggunakan
metode saldo menurun untuk menghitung
biaya penyusutan bangunannya, Hal ini tidak
sesuai dengan ketentuan fiskal yang ada. Oleh
karena itu, Yayasan Pendidikan ini seharusnya
melakukan penyesuaian untuk metode
perhitungan biaya penyusutannya agar sesuai
dengan dengan ketentuan fiskal UU No.17
tahun 2000 pasal 11 ayat (1). Yayasan
Pendidikan ini juga harus melakukan koreksi
negatif yaitu untuk mengurangi jumlah
penghasilannya yang terkena pajak atau laba
fiskalnya agar sesuai dengan ketentuan fiskal
tersebut karena, dengan perhitungan biaya
penyusutan dengan menggunakan metode
saldo menurun, biaya penyusutan yang
dibebankan pada tahun 2006 lebih kecil dari
perhitungan biaya penyusutan apabila
menggunakan metode penyusutan garis lurus.
Berikut adalah tabel daftar perhitungan biaya
penyusutan bangunan dengan menggunakan
dua metode penyusutan yang berbeda, yaitu:

Tabel 1. Daftar Penyusutan Bangunan - Metode Saldo Menurun

PAMUNGKAS, DE POERE dan RIDWAN, Analisis Ketentuan Fiskal terhadap Laporan
12

TAHUN TARIF
HARGA
PEROLEHAN
BIAYA
PENYUSUTAN
AKUMULASI
PENYUSUTAN
NILAI BUKU
1995 5% 1.525.378.450 76.268.923 76.268.923 1.449.109.528
1996 5% 1.525/378.450 72.455.476 148.724.399 1.376.654.051
1997 5% 1.525.378.450 68.832.703 217.557.101 1.307.821.349
1998 5% 1.525.378.450 65.391.067 282.948.169 1.242.430.281
1999 5% 1.525.378.450 62.121.514 345.069.683 1.180.308.767
2000 5% 1.525.378.450 59.015.438 404.085.121 1.121.293.329
2001 5% 1.525.378.450 56.064.666 460.149.788 1.065.228.662
2002 5% 1.525.378.450 53.261.433 513.411.221 1.011.967.229
2003 5% 1.525.378.450 50.598.361 564.009.582 961.368.868
2004 5% 1.525.378.450 48.068.443 612.078.026 913.300.424
2005 5% 1.525.378.450 45.665.021 657.743.047 867.635.403
2006 5% 1.525.378.450 43.381.770 701.124.817 824.253.633










Tabel 2
Daftar Penyusutan Bangunan - Metode Garis Lurus

TAHUN
MASA
MANFAAT
HARGA
PEROLEHAN
BIAYA
PENYUSUTAN
AKUMULASI
PENYUSUTAN
NILAI BUKU
1995 20 1.525.378.450 76.268.923 76.268.923 1.449.109.528
1996 20 1.525.378.450 76.268.923 152.537.845 1.372.840.605
1997 20 1.525.378.450 76.268.923 228.806.768 1.296.571.683
1998 20 1.525.378.450 76.268.923 305.075.690 1.220.302.760
1999 20 1.525.378.450 76.268.923 381.344.613 1.144.033.838
2000 20 1.525.378.450 76.268.923 457.613.535 1.067.764.915
2001 20 1.525.378.450 76.268.923 533.882.458 991.495.993
2002 20 1.525.378.450 76.268.923 610.151.380 915.227.070
2003 20 1.525.378.450 76.268.923 686.420.303 838.958.148
2004 20 1.525.378.450 76.268.923 762.689.225 762.689.225
2005 20 1.525.378.450 76.268.923 838.958.148 686.420.303
2006 20 1.525.378.450 76.268.923 915.227.070 610.151.380

Dari daftar perhitungan biaya penyusutan diatas, terlihat adanya perbedaan jumlah biaya
Jurnal Ilmiah Ranggagading, Vol. 9 No. 1, April 2009
13

penyusutan pada tahun 2006. Ketika
perusahaan melakukan perhitungan dengan
menggunakan metode penyusutan saldo
menurun, biaya penyusutannya berjumlah
Rp43.381.770,- sedangkan apabila perusahaan
melakukan perhitungan menurut prinsip
perpajakan yaitu menggunakan metode
penyusutan garis lurus, biaya penyusutannya
berjumlah Rp76.268.923,-. Dari kedua jumlah
yang dihasilkan oleh perhitungan dengan
menggunakan dua metode penyusutan yang
berbeda, maka dihasilkan selisih dari kedua
biaya tersebut yaitu berjumlah Rp32.887.153,-
dan agar dalam perhitungan biaya penyusutan
bangunan Yayasan Pendidikan ini sesuai
dengan ketentuan fiskal dalam UU No.17 pasal
11 ayat (1), maka Yayasan Pendidikan ini harus
melakukan koreksi fiskal negatif yaitu
mengurangi laba komersialnya agar sesuai
dengan ketentuan perpajakan dan akan
diperoleh laba fiskal atau pendapatan kena
pajaknya sesuai dengan jumlah atau selisih
antara kedua perhitungan dari metode
penyusutan tadi, yaitu sebesar Rp32.887.153,-
b. Inventaris
Berdasarkan ketentuan fiskal yang
terdapat pada UU No.17 tahun 2000 pasal 11
ayat (2), biaya penyusutan untuk aktiva
berwujud bukan bangunan dapat juga dihitung
berdasarkan metode penyusutan saldo
menurun dan dengan menetapkan tarif
penyusutan sesuai UU No.17 tahun 2000 pasal
11 ayat (6) atas nilai sisa buku dan pada akhir
masa manfaat nilai sisa buku tersebut
disusutkan sekaligus.
Yayasan Pendidikan ini menggunakan
metode penyusutan saldo menurun dalam
melakukan perhitungan biaya penyusutan
untuk inventarisnya, akan tetapi ada kesalahan
dalam penetapan tarif yang digunakannya.
Berdasarkan UU No.17 tahun 2000 pasal 11
ayat (6), inventaris termasuk dalam kelompok
harta berwujud bukan bangunan kelompok II
sehingga tarif yang dikenakan untuk biaya
penyusutan metode saldo menurun adalah
sebesar lima puluh persen (50%). Tetapi
Yayasan Pendidikan ini hanya mengenakan
tarif dua puluh persen (20%) dalam
menghitung biaya penyusutannya, sehingga
Yayasan Pendidikan ini perlu melakukan
penyesuaian untuk perhitungan biaya
penyusutannya agar sesuai dengan dengan tarif
yang terdapat pada ketentuan fiskal UU No.17
tahun 2000 pasal 11 ayat (6). Yayasan
Pendidikan ini juga harus melakukan koreksi
fiskal positif, yaitu untuk menambah
pendapatan kena pajak atau laba fiskalnya agar
sesuai dengan ketentuan fiskal tersebut. Karena
dengan perhitungan biaya penyusutan
menggunakan metode penyusutan saldo
menurun dengan tarif dua puluh persen (20%),
maka biaya penyusutan yang dibebankan pada
tahun 2006 lebih besar dari perhitungan biaya
penyusutan menggunakan metode penyusutan
saldo menurun dengan tarif lima puluh persen
(50%). Berikut adalah tabel daftar perhitungan
biaya penyusutan inventaris dengan
menggunakan metode penyusutan saldo
menurun dengan perbandingan menggunakan
tarif yang berbeda, yaitu:

Tabel 3
Daftar Penyusutan Inventaris - Metode Saldo Menurun
TAHUN TARIF
HARGA
PEROLEHAN
BIAYA
PENYUSUTAN
AKUMULASI
PENYUSUTAN
NILAI BUKU
2004 20% 620.375.175 124.075.035 124.075.035 496.300.140
2005 20% 620.375.175 99.260.028 223.335.063 397.040.112
2006 20% 620.375.175 79.408.022 302.743.085 317.632.090

Tabel 4
Daftar Penyusutan Inventaris - Metode Saldo Menurun

TAHUN TARIF
HARGA
PEROLEHAN
BIAYA
PENYUSUTAN
AKUMULASI
PENYUSUTAN
NILAI BUKU
PAMUNGKAS, DE POERE dan RIDWAN, Analisis Ketentuan Fiskal terhadap Laporan
14

2004 50% 620.375.175 310.187.588 310.187.588 310.187.588
2005 50% 620.375.175 155.093.794 465.281.381 155.093.794
2006 50% 620.375.175 77.546.897 542.828.278 77.546.897

Dari kedua daftar biaya penyusutan diatas,
terlihat adanya perbedaan jumlah biaya
penyusutan pada tahun 2006 yaitu pada
perhitungan biaya penyusutan dengan
menggunakan tarif dua puluh persen (20%),
biaya yang diperoleh sebesar Rp79.408.022,-
dan pada perhitungan biaya penyusutan
dengan menggunakan tarif lima puluh persen
(50%), biaya yang diperoleh sebesar
Rp77.549.897,- sehingga dari kedua
perhitungan ini maka terdapat selisih sebesar
Rp1.858.125,-. Agar dalam perhitungan biaya
penyusutan Inventaris Yayasan Pendidikan ini
sesuai dengan ketentuan fiskal dalam UU
No.17 pasal 11 ayat (6), maka Yayasan
Pendidikan ini harus melakukan koreksi fiskal
positif yaitu dengan mengurangi jumlah biaya
penyusutannya sehingga akan menambah
jumlah laba fiskal yang akan dikenakan tarif
pajak.

4. SE-34/PJ.4/1995 & SE-39/PJ.4/1995

Surat Edaran SE-34/PJ.4/1995 dan
SE-39/PJ.4/1995 adalah ketentuan yang
berisi tentang penegasan tentang perlakuan
Pajak Penghasilan bagi yayasan atau organisasi
yang sejenis mulai tahun pajak 1995. Surat
edaran ini adalah ketentuan tambahan dari
UU pajak penghasilan yang berlaku untuk
badan usaha nirlaba dan berisi mengenai
keringanan dan pengecualian-pengecualian
bagi Yayasan dan Organisasi sejenis
dikarenakan pada dasarnya yayasan dan
organisasi sejenis adalah badan usaha nirlaba
yang pada dasar pendiriannya tidak bertujuan
untuk mencari laba atau keuntungan semata.
Dalam akun penerimaan Yayasan
Pendidikan ini, terdapat akun penerimaan
diluar usaha. Karena keterbatasan penulis
dalam perolehan data dari Yayasan
Pendidikan ini, maka penulis mengasumsikan
bahwa dalam akun penerimaan diluar usaha
ini berisi pendapatan jasa giro dan sumbangan
yang diterima Yayasan Pendidikan ini. Dari
hasil perhitungan yang diasumsikan penulis
mengenai jumlah pendapatan jasa giro diatas,
maka jumlah sisa penerimaan diluar usaha
setelah dikurangi pendapatan jasa giro adalah
sebesar Rp7.700.000,-
Berdasarkan ketentuan SE-
34/PJ.4/1995 pasal 2, maka sumbangan yang
diterima oleh Yayasan Pendidikan tersebut
bukanlah objek pajak penghasilan. Oleh
karena itu, sumbangan sebesar Rp7.700.000,-
ini harus dikoreksi fiskal negatif, yaitu harus
mengurangi laba fiskal Yayasan Pendidikan ini
yang akan dikenakan tarif pajak.

5. Pengaruh Ketentuan Fiskal terhadap
Laporan Keuangan Komersial

Berdasarkan ketentuan-ketentuan
fiskal yang berlaku untuk Yayasan Pendidikan
tersebut, maka ada beberapa koreksi fiskal
baik positif maupun negatif yang perlu
dihitung untuk mengurangi atau menambah
laba fiskal atau pendapatan kena pajak
Yayasan Pendidikan ini.
Dari koreksi-koreksi yang telah
diuraikan diatas, maka terdapat koreksi fiskal
positif, yaitu koreksi yang akan menambah
laba fiskal Yayasan Pendidikan ini yang
berasal dari perbedaan pengenaan tarif yang
ditetapkan oleh perusahaan dengan tarif yang
ditetapkan berdasarkan ketentuan perpajakan
pada perhitungan biaya penyusutan inventaris
yang menggunakan metode penyusutan saldo
menurun. Juga terdapat koreksi negatif, yaitu
koreksi yang akan mengurangi laba fiskal
Yayasan Pendidikan ini yang berasal dari
pendapatan jasa giro yang bersifat final
sehingga tidak terkena pajak lagi karena telah
dikenakan pajak pada saat penerimaannya,
ketidaktepatan Yayasan Pendidikan ini dalam
penggunaan metode penyusutan untuk
bangunan dimana Yayasan Pendidikan ini
menggunakan metode penyusutan saldo
menurun sedangkan menurut ketentuan
perpajakan metode penyusutan yang dapat
digunakan untuk menyusutkan bangunan
adalah dengan menggunakan metode
Jurnal Ilmiah Ranggagading, Vol. 9 No. 1, April 2009
15

penyusutan garis lurus dan sumbangan yang
diterima Yayasan Pendidikan ini yang bukan
merupakan objek pajak penghasilan karena
bentuk badan usaha Yayasan Pendidikan ini
yang bersifat nirlaba atau non komersil atau
tidak bertujuan mencari laba. Dari koreksi-
koreksi diatas, apabila dilakukan perhitungan
ulang maka dapat ditampilkan sebagai berikut:






Tabel 5
Laporan Keuangan Fiskal setelah Analisis

Laba / (Rugi) sebelum Pajak (Komersil) 74.012.464
Rekonsiliasi Fiskal
Koreksi Positif
1. Biaya penyusutan Inventaris = 1.858.125
Koreksi Negatif
1. Pendapatan Jasa Giro = (8.957.188)
2. Biaya penyusutan Bangunan = (32.887.153)
3. Sumbangan = (7.700.000)
(49.544.341)
Laba / Rugi (Fiskal) 26.326.248
Pembulatan 26.326.000
Tarif Pajak
10% x 26.326.000 = 2.326.000
15% x - = -
30% x - = -
Pajak Terutang 2.326.000
Kredit Pajak 3,629,217
Kurang/(Lebih) Bayar Pajak (996.617)

Terbilang:
(Sembilan Ratus Sembilan Puluh Enam Ribu Enam Ratus Tujuh Belas Rupiah)

Dari tabel diatas, terlihat adanya
perbedaan nilai akhir dari laba fiskal dan pajak
yang terhutang pada tahun 2006 yang disajikan
oleh Yayasan Pendidikan ini dengan penyajian
PAMUNGKAS, DE POERE dan RIDWAN, Analisis Ketentuan Fiskal terhadap Laporan
16

penulis setelah dilakukan analisis dari
ketentuan fiskal yang ada terhadap laporan
keuangan komersial Yayasan Pendidikan ini.
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan oleh
penulis tersebut, maka berpengaruh pada
jumlah beban pajak Yayasan Pendidikan ini
yang menjadi lebih kecil daripada jumlah beban
pajak yang dihitung oleh Yayasan Pendidikan
ini. Sehingga pada akhir tahun pajak setelah
jumlah beban pajak tersebut dikurangi dengan
kredit pajak yang telah dibayarkan Yayasan
Pendidikan setiap bulannya, maka hasilnya
adalah Yayasan Pendidikan ini mempunyai
lebih bayar pajak penghasilannya sebesar
Rp996.617,-.
Berdasarkan UU PPh No.17 Tahun
2000 pasal 28A, maka apabila pajak yang
terhutang pada tahun pajak ternyata lebih kecil
dari jumlah kredit pajak, maka berarti Yayasan
Pendidikan ini mempunyai kelebihan bayar.
Kelebihan pembayaran tersebut dapat
dikembalikan setelah dilakukan pemeriksaan
dan perhitungan dengan utang pajak berikut
sanksi-sanksinya. Kelebihan pembayaran ini
dapat dikembalikan dengan cara kompensasi
terhadap utang/beban pajak tahun berikutnya
atau dengan cara restitusi, yaitu kelebihan
pembayaran ini dikembalikan secara tunai.

KESIMPULAN

Setelah pembahasan dan uraian yang
telah penulis, maka penulis dapat menarik
beberapa kesimpulan mengenai penelitian yang
dilakukan pada Yayasan Pendidikan
”YPKTH”, yaitu:
1. Yayasan Pendidikan ini merupakan badan
usaha nirlaba atau organisasi non
komersial, yang kegiatan dan tujuan utama
pendiriannya tidak semata-mata untuk
mencari dan mengumpulkan
keuntungan/laba. Yayasan Pendidikan ini
belum membuat pencatatan dan laporan
keuangan komersialnya berdasarkan pada
ketentuan PSAK No.45 mengenai
pelaporan keuangan organisasi nirlaba.
Yayasan Pendidikan ini masih membuat
laporan keuangan komersialnya seperti
perusahaan komersial pada umumnya
yang berdasarkan pada ketentuan PSAK.
No1 mengenai penyajian laporan
keuangan.
2. Yayasan Pendidikan ini sudah
menghitung, melaporkan dan membayar
pajak penghasilannya berdasarkan
ketentuan yang berlaku bahwa yayasan
juga merupakan subjek pajak penghasilan
sehingga laba /penghasilan yang
diperolehnya dari kegiatan komersial juga
merupakan objek pajak penghasilan.
Yayasan Pendidikan ini tidak melakukan
pencatatan hutang pajak pada tahun 2006
pada laporan keuangan komersialnya, yang
berasal dari perhitungan pajak penghasilan
yang menjadi beban pajak Yayasan
Pendidikan ini. Meskipun Yayasan
Pendidikan ini sudah mengakui adanya
hutang pajak (kurang bayar) pada saat
pembuatan laporan keuangan fiskalnya.
3. Yayasan Pendidikan ini tidak melakukan
dan tidak mengakui adanya koreksi fiskal
pada laporan keuangan fiskalnya, sehingga
Yayasan Pendidikan ini menganggap laba
yang dihasilkan dari laporan keuangan
komersilnya sudah sesuai dengan
ketentuan perpajakan. Setelah dilakukan
analisis oleh penulis, maka hasil yang
diperoleh adalah bahwa ada beberapa
koreksi fiskal yang perlu dilakukan oleh
Yayasan Pendidikan ini, yang
mengakibatkan pada akhir tahun 2006
Yayasan Pendidikan ini seharusnya
mempunyai lebih bayar beban pajak
penghasilannya.

DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral Pajak. 2006. Petunjuk
Pengisian SPT Tahunan Pajak Penghasilan
Wajib Pajak Badan, Departemen
Keuangan RI, Jakarta.
Erly Suandy. 2003. Perencanaan Pajak, Edisi
Revisi, Salemba Empat, Jakarta.
Hornby A.S. 2000. Oxford Advanced Learner’s
Dictionary of Current English, Sixth
Edition, Oxford
Mardiasmo. 2003. Perpajakan, Edisi Revisi,
Andi, Yogyakarta.
PSAK No. 45, Pelaporan Keuangan Organisasi
Nirlaba
Rimsky K. Judisseno. 2004. Perpajakan, Edisi
Jurnal Ilmiah Ranggagading, Vol. 9 No. 1, April 2009
17

Revisi, PT Gramedia Pusaka Utama,
Jakarta.
Riyanto Wujarso, dan Pahala Nainggolan, AK.,
MM. 2004. Perpajakan untuk Yayasan dan
Lembaga Nirlaba Sejenis, PPM, Jakarta.