Anda di halaman 1dari 24

Encu Rusmana (SMAN 3 Kota Jambi)

Kata Laser adalah sebuah singkatan dari bahasa Inggris yaitu Light Amplification by Stimulated
Emission of Radiation yang mempunyai arti pengerasan pancaran cahaya berdasarkan emisi
terstimulasi .Yang pokok dari emisi terstimulasi ini adalah cahaya (foton) menjalar dengan arah,
energi dan fase yang sama (koheren). Pada tahun 1958 laser telah diramalkan oleh Townes dan
Schawlow,dan untuk hal tersebut Townes mendapat hadiah Nobel tahun 1981. Baru pada tahun
1960, dua tahun setelah diramalkan dapat direalisasikan oleh Th Maiman, dengan laser terbuat dari
rubi.
Radiasi elektromagnet dapat berinteraksi dengan atom atau molekul yang mempunyai tingkat energi
dalam keadaan dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi karena memperoleh energi. Atom atau
molekul yang tereksitasi dapat kembali ke keadaan dasar dengan dua cara yaitu emisi spontan dan
emisi terstimulasi. Radiasi emisi spontan adalah Radiasi yang dipancarkan secara langsung oleh
atom atau molekul yang tereksitasi ketika menuju posisi level energi yang lebih rendah.
Atom tereksitasi = atom keadaan dasar + foton
Radiasi emisi stimulasi adalah radiasi yang dipancarkan ketika foton lain menumbuk atom atau
molekul tereksitasi. Energi foton harus sama dengan selisih level energi transisi atom atau molekul
tereksitasi. Foton yang dihasilkan sama dengan foton yang datang dan dapat mestimulasi emisi pada
atom tereksitasi yang lain.
Atom tereksitasi + foton = atom keadaan dasar + 2 foton
Probabilitas foton baru untuk menginduksi atom tereksitasi lain adalah sama dengan probabilitas
foton untuk diserap oleh atom dalam keadaan dasar. Reaksi rantai dapat terjadi bila jumlah atom
dalam keadaan tereksitasi lebih banyak daripada atom berkeadaan dasar. Untuk itu diperlukan paling
sedikit tiga level energi. Atom mula-mula dalam keadaan dasar E1, lalu tereksitasi ke keadaan
tereksitasi E3 karena energi dari luar. Dari E3 secara spontan jatuh ke keadaan metastabil E2 dalam
waktu kira-kira 1ns (10
-9
s) , keadaan E2 membutuhkan waktu kira-kira 1ms (10
-3
s) probabilitas untuk
ke keadaan dasar rendah. Oleh karena itu secara cepat atom terakumulasi pada keadaan metastabil
yang jumlahnya lebih banyak dari pada atom keadaan dasar. Setelah populasi berkebalikan reaksi
rantai radiasi emisi stimulus akan terjadi. Untuk memperbesar intensitas foton, cermin dipasang pada
kedua ujung, cermin penuh dan pada ujung yang lain cermin sebagian. Foton yang dihasilkan akan
dipantulkan bolak-balik sepanjang alat dan menginduksi atom-atom tereksitasi lain agar
menghasilkan foton yang lebih banyak. Sebagian foton akan keluar sebagai sinar laser pada ujung
yang diberi cermin sebagian.
Prinsip pengerasan cahaya dengan cara emisi terstimulasi tidak begitu saja dapat
direlisasikan.Karena atom atau molekul dalam keadaan dasar jika diberi foton akan diabsorbsi bukan
digandakan.Banyaknya foton yang diabsorbsi sebanding dengan kerapatannya.Karena absorbsi ini
sebagian akan mengemisi secara spontan.Emisi spontan tidak tergantung banyaknya foton, tetapi
bergantung populasi. Emisi terstimulasi terjadi jika kerapatan pada tingkat energi yang lebih tinggi
lebih besar dari keadaan dasar hal ini disebut keadaan inverse. Keadaan inverse ini dapat diperoleh
dengan cara memompa populasi secara optis atau listrik.
Ada beberapa macam laser misalnya : laser rubi dibuat oleh Mainman di tahun 1960, menggunakan
silinder rubi (kristal alumunium oksida dicampur 0,1 persen kromium). Atom kromium mempunyai tiga
level sistem energi.Juga ada laser Helium-Neon terdiri dari campuran helium (85 persen) dan neon
(15 persen) pada tekanan rendah. Dan juga ada laser ion argon serta laser karbondioksida.
Aplikasi laser diterapkan dalam berbagai bidang. Antara lain di kedokteran : pisau bedah yang steril,
pemotong pembuluh darah, pemasangan retina,penyembuhan sakit kulit. Untuk aplikasi teknologi :
memotong dan mengelas logam,persenjataan untuk peluru kendali, ,telekomunikasi,sumber cahaya
yang bisa berinterferensi sehingga terjadi laser disc. Dan pada bidang sains: Mengukur pergerakan
benda yang jauh, misal bulan, mengukur laju aliran gas dan zat cair, pemetaan, penentuan jarak yang
tepat dan banyak aplikasi yang lainnya.
Sumber gambar : http://cahbaguzz.wordpress.com
kirim ke teman
versi cetak
berbagi ke Facebook
berbagi ke Twitter
markah halaman ini


Ikator
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Unsur merupakan zat tunggal yang sederhana. Unsur dapat ditemukan dalam keadaan bebas
maupun di dalam tanah. Wujud dari unsur pun berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang
berwujud padat ada pula yang berwujud cair. Dari sistem periodik kita mengetahui bahwa ada
90 buah unsur yang terdapat dialam serta ditambah belasan unsur buatan. Selain memiliki
wujud yang berbeda, setiap unsur juga memiliki perbandingan berat dan jumlah atom yang
beraneka ragam. Ada yang besar, sedang maupun kecil.

Kita telah mengetahui bahwa unsur alkali terdapat pada golongan I A sedangkan unsur alkali
tanah terdapat pada golongan II A. Unsur-unsur alkali terdiri dari logam Li, Na, K, Rb, Cs,
Fr. Unsur-unsur alkali ini memiliki kereaktifan yang besar. Sedangkan unsur-unsur alkali
tanah terdiri dari logam Be, Mg, Ca, Sr dan Ra. Unsur-unsur alkali tanah ini pada umumnya
ditemukan didalam tanah.

Melalui percobaan ini kita akan mengenal lebih jauh beberapa unsur yang tergabung dalam
golongan I A dan golongan II A dalam sistem periodik. Dengan percobaan ini kita akan
memperoleh pengetahuan tentang kereaktifan maupun sifat-sifat unsur tersebut, sehingga kita
kan mudah mengenalinya dalam kehidupan sehari-hari pada suatu sistem yang bereaksi. Oleh
karena itu, percobaan ini perlu untuk dilakukan.

Pada praktikum kali ini juga akan dibahas mengenai sifat-sifat unsur, jari-jari atom, energi
ionisasi, serta kereaktifan dari unsur alkali dan alkali tanah. Semua unsur golongan I A dan II
A relatif mudah melepaskan elektron terluarnya. Dengan perkataan lain unsur-unsur itu
mempunyai energi ionisasi yang rendah dari atas ke bawah. Jari-jari atomnya makin kecil,
makin rendah energi ionisasinya. Demikian pula dengan alkali tanah. Dengan demikian
logam tersebut merupakan pereduksi yang baik dan hampir semua dapat bereaksi dengan air.

1.2 Tujuan

- Mengetahui kelarutan garam sulfat dan hidroksida, pada golongan II A

- Mengetahui kereaktifan golongan I A dan II A

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
1). Logam-logam Alkali

Golongan logam alkali merupakan golongan dari logam yang aktif (paling aktif). Logam
tersebut menunjukkan energi ionisasi yang rendah, potensi elektrodenya besar dan negatif.
Kesimpulannya ialah, bahwa pada umumnya keragaman sifat dalam golongan ini mudah
diramalkan dari segi keberkalaan. Beberapa penyimpangan terutama ditunjukkan oleh
anggota utama, yaitu Li. Beberapa perbedan Litium dan senyawanya dibanding logam alkali
lain, antara lain :

- Kelarutan senyawa karbonat, fluorida, hidroksida, dan fosfatnya rendah.

- Kemampuannya membentuk nitrida (Li3N)

- Pembentukan oksida normal (Li2O) bukan peroksida atau superoksida

- Jika dipanaskan, terjadi penguraian senyawa karbonat dan hidrooksidanya menjadi
oksida.

Dalam logam alkali, perbedaan ini disebabkan oleh tingginya rapatan muatan pada Li+
dibanding ion logam alkali lainnya.

Potensi elektrode. Nilai yang besar dan negatif dari potensial elektrode menyatakan
kecenderungan terjadinya proses reduksi yang kecil. Sebaliknya, nilai yang besar dan negatif
ini menunjukkan kecenderungan untuk proses sebaliknya, yaitu oksidasi. Kemudahan
dioksidasi merupakan ciri logam aktif dan Li menunjukkan kecenderungan yang terbesar di
antara logam alkali untuk menjalani oksidasi menjadi ion satu positif dalam larutan air.
Oksidasi logam alkali X berjalan menurut langkah-langkah.

- Penyubliman padatan logam ke keadaan gas

- Pengionan atom logam dalam keadaan gas menjadi ion logam dalam keadaan gas

- Hidrasi ion melalui pelarutan X+(g) dalam air untuk menghasilkan X+ (aq)

2). Logam alkali tanah

Jari-jari logam meningkat dengan bertambahnya nama atom, jari-jari ion jauh lebih kecil dari
jari-jari logam karena ion membawa bersih +2. Ion logam II A (M2+) jauh lebih kecil dari
ion logam I A (M+) yang berhubungan karena adanya tambahan muatan positif yang tinggi.
Energi yang diperlukan untuk melepas dua elektron valensi dari atom logam alkali tanah
sangat besar. Melepas satu elektron dapat dilakukan dengan energi yang jauh lebih kecil.
Energi tambahan yang diperlukan untuk membentuk ion bermuatan dua dari ion bermuatan
satu pada ion logam alkali tanah dapat dilampaui oleh peningkatan energi kisi pada MCl2(p)
dibandingkan pada energi kisi pada MCl (p).

Ion golongan II A sulit direduksi menjadi logam bebas, karena harga potensial reduksinya
besar dan negatif. Tetapi sebagaimana untuk logam golongan I A proses elektrolisis
merupakan metode komersial yang paling penting dalam pembuatannya. Senyawa-senyawa
logam alkali tanah, kation alkali tanah mempunyai rapatan muatan positif yang tinggi.
Apabila bergantung pada anion tertentu kation tersebut akan memberikan energi kisi yang
tinggi dan garam-garamnya dapat sedikit larut atau tak larut dalam air. Dalam kasus lain
dimana energi kisi tidak terlalu tinggi, energi hidrasi yang tinggi dari kation mungkin
mengakibatkan kelarutan dalam air dan garamnya akan mengkristal dari larutan hidrat.
(Petrucci, 1987)

Dalam sistem periodik panjang unsur-unsur alkali tanah terletak pada golongan II A, yaitu
satu lajur disebelah kanan golongan logam alkali. Unsur golongan II A berisi Berilium (Be),
Magnesium (Mg), Calsium (Ca), Stronsium (Sr), Barium (Ba) dan Radium. Unsur ini bersifat
logam karena cenderung melepaskan elektron. Unsur ini disebut logam alkali tanah karena
oksidasinya bersifat biasa (alkalis) dan senyawa banyak terdapat pada kerak bumi. Seperti
halnya dengan unsur alkali, unsur alkali tanah sangat reaktif walaupun tidak sereaktif unsur
alkali. Unsur alkali tanah dengan dua elektron valensinya yang sangat mudah dilepaskan
menandakan bahwa unsur alkali tanah sangat bersifat elektropositif, karena unsur golongan
ini mudah melepaskan elektron valensinya. Maka unsur alkali tanah merupakan pereduksi
yang baik, walaupun tidak sebaik sifat pereduksi unsur alkali yang seperiode.

Sesuai dengan sifat keperiodikan unsur-unsur dalam golongannya maka unsur-unsur alkali
tanah makin ke bawah letaknya dalam susuan berkala makin elektropositif. Karena makin ke
bawah letaknya makin banyak pula jumlah lintasannya sehingga jari-jarinya makin besar
pula. Sifat pereduksi logam alkali tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-jari ion logam
tanah lebih kecil dari alkali. (Surakkiti, 1989)

3). Sifat Alkali (golongan I A)

Sifat logam alkali bersifat penghantar panas dan listrik, mempunyai titik lebur relatif lebih
rendah dari logam lain. Hal ini disebabkan oleh logam alkali hanya melepas satu elektron,
sehingga ikatan logam dalam kristalnya lemah. Titik lebur makin menurun dari atas ke bawah
pada sistem periodik, karena penambahan jari-jari ion mengakibatkan gaya tarik ion positif
dalam kristalnya makin lemah.

Sifat penting logam alkali tanah adalah mempunyai spektrum emisi, yang dihasilkan bila
larutan garamnya dipanaskan dalam nyala bunsen, atau mengalirkan muatan listrik pada
uapnya. Warna spektrum itu dapat dipakai dalam analisis kualitatif yang disebut tes nyala.

Energi ionisasi logam alkali relatif lebih rendah sehingga termasuk logam yang sangat
reaktif. Karena kereaktifannya, unsur alkali tidak ditemukan dalam keadaan bebas di alam,
tetapi sebagai ion positif dalam senyawa ion. Kebanyakan senyawa larut dalam air sehingga
logam ini banyak terdapat dalam air laut. (Syukuri, 1999)

4). Sifat Alkali Tanah (golongan II A)

Kemiripan sifat logam alkali tanah disebabkan oleh kecenderungan melepaskan dua elektron
valensi, sehingga senyawanya memiliki bilangan oksidasi +2. Kerapatan bertambah dengan
naiknya nomor atom, karena pertambahan massa atom. Demikian juga jari-jari atom dan
ionnya, disebabkan bertambahnya jumlah kulit elektronnya. Tetapi, energi ionisasi, kalor
hidrasi dan potensial reduksinya berkurang dengan naiknya nomor atom. Hal ini disebabkan
oleh pertambahan jari-jari atom yang akan mengurangi daya tarik inti elektron atau partikel
negatif di luar atom tersebut.

Nilai potensial reduksi (E) alkali tanah semuanya bertanda negatif, artinya logam ini lebih
cenderung teroksidasi dibandingkan tereduksi. Semakin besar nomor atom, makin besar pula
kecenderungan teroksidasi, untuk menjadi ion yang stabil (M2+), logam alkali tanah harus
melepaskan dua elektron valensinya, sedangkan energi ionisasi II lebih besar daripada energi
ionisasi I. Akibatnya, sifat pereduksi logam alkali tanah lebih kecil dari logam alkali dan jari-
jari ion logam alkali tanah lebih kecil dari alkali.

Energi hidrasi ion alkali tanah lebih besar dari alkali. Karena energi itu bergantung pada jari-
jari ion dan besarnya muatan. Muatan ion alkali tanah lebih besar dari ion alkali, maka daya
tarik tersebut lebih kuat pada logam alkali tanah dibandingkan dengan logam alkali (Syukri,
1999).

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

- Tabung reaksi

- Pipet tetes

- Gelas kimia

- Pinset

- Hot Plate

- Penjepit tabung

- Stopwatch

3.1.2 Bahan

- Logam kromium

- Pita magnesium

- Indikator pp

- Larutan BaCl2 1 M

- Larutan CaCl2 1 M

- Larutan NaOH 1 M

- Larutan H2SO4 1 M

- Aquades

- Tissu

3.2 Prosedur Percobaan

3.2.1 Kelarutan garam hidrooksida

- Disiapkan 2 tabung reaksi

- Dimasukkan 1 pipet CaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi

- Ditambahkan 1 pipet NaOH 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi CaCl2 0,1 M
dan diamati

- Dimasukkan 1 pipet BaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi lainnya

- Ditambahkan 1 pipet NaOH 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi BaCl2 0,1 M dan
diamati

- Dibandingkan hasil antara CaCl2 + NaOH dengan BaCl2 + NaOH

3.2.2 Kelarutan Asam Sulfat

- Disiapkan dua tabung reaksi

- Dimasukkan 1 pipet CaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi

- Ditambahkan 1 pipet H2SO4 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi CaCl2 0,1 M dan
diamati

- Dimasukkan 1 pipet BaCl2 0,1 M ke dalam tabung reaksi lainnya

- Ditambahkan 1 pipet H2SO4 1 M ke dalam tabung reaksi yang berisi BaCl2 0,1 M dan
diamati

- Dibandingkan hasil antara CaCl2 + H2SO4 dengan BaCl2 + H2SO4

3.2.3 Kereaktifan Logam Mg

- Dimasukkan aquades ke dalam gelas kimia

- Dipanaskan gelas kimia yang berisi aquades di atas hot plate

- Diambil pita Mg secukupnya lalu dimasukkan ke dalam aquades yang dipanaskan
dengan menggunakan pinset dan diamati

- Dimasukkan indikator pp secukupnya ke dalam gelas kimia

- Diamati perubahannya

3.2.4 Kereaktifan logam Kalium

- Dimasukkan aquades ke dalam gelas kimia

- Diambil logam Kalium secukupnya dengan menggunakan pinset dan dimasukkan ke
dalam gelas kimia yang berisi aquades dan diamati

- Dimasukkan indikator pp secukupnya ke dalam gelas kimia

- Diamati perubahannya

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN





4.1 Hasil Pengamatan

No.

PERLAKUAN

PENGAMATAN
1.
1. 2.
1. 3.
Kelarutan garam sulfat

- Diisi masing-masing tabung reaksi dengan CaCl 0,1 M dan BaCl2 0,1 M dipipet

- Ditambah 1 pipet H2SO4 1 M ke dalam masing-masing reaksi

- Diamati

Kelarutan garam hidroksida

- Diisi masing-masing tabung CaCl2 0,1 M BaCl2 0,1 M, 1 pipet

- Ditambah 1 pipet NaOH 1 M ke dalam masing-masing tabung.

a. Reaktifitas unsur

- Diambil aquades

- Dipanaskan

- Dimasukkan pita Mg

- Diamati

- Ditambahkan indikator pp

- Diamati perubahan yang terjadi

b.Kereaktifan logam K

- Masukkan H2O ke dalam gelas kimia

- Ambil logam Kalium ke dalam gelas kimia

- Diamati perubahan yang terjadi

- Ditambahkan 2 tetes indikator pp dan diamati

- CaCl2 + H2SO4 tidak menghasilkan endapan

- BaCl2 + H2SO4 menghasilkan endapan, berwarna putih keruh dan banyak endapan.







- CaCl2 + NaOH menghasilkan endapan berwarna putih keruh dan terdapat banyak
endapan termasuk endoterm

- BaCl2 + NaOH menghasilkan endapan, berwarna lebih jernih dan terdapat sedikit
endapan termasuk eksoterm

- Setelah dipanaskan dan dimasukkan pita Mg terdapat gelembung-gelembung

- Ditambahkan indikator pp berubah warna menjadi merah lembayung

- Setelah ditambahkan Kalium terjadi ledupan kecil dan mengeluarkan api

- Ditambah indikator pp menjadi berubah warna menjadi merah lembayung

4.3 Pembahasan

Unsur alkali adalah unsur-unsur golongan I A dalam tabel periodik unsur, yaitu Li (lithium),
Na (Natrium), K (Kalium), Rb (Rubidium), Cs (sesium) dan Fr (Fransium). Fransium
merupakan unsur radioaktif. Disebut logam alkali karena oksidanya larut dalam air dan
menghasilkan larutan yang bersifat sangat basa (alkalis).

Unsur alkali tanah adalah unsur-unsur golongan II A dalam tabel periodik unsur yaitu Be
(Berilium), Mg (Magnesium), Ca (Kalsium), Sr (Strontium), Ba (Barium), dan Ra (Radium).
Radium merupakan unsur radioaktif. Disebut alkali tanah sebab oksidanya bersifat basa.

Beberapa sifat fisik unsur-unsur logam alkali sebagai berikut :

- Jari-jari atom unsur alkali dalam tabel periodik bertambah dari atas ke bawah. Begitu
juga dengan jari-jari ion positifnya. Ion positif terbentuk apabila atom netral melepas
elektron, sehingga jari-jari ion positif lebih kecil daripada jari-jari atom.

- Merupakan logam lunak karena titik didih dan titik leleh rendah. Titik didih dan titik
leleh logam alkali dalam tabel periodik dari atas ke bawah semakin kecil.

- Logam alkali merupakan logam ringan karena masa jenis logam alkali kecil.

- Logam alkali adalah logam yang sangat lunak dan dapat diiris dengan pisau.

-

Selain sifat fisik logam alkali juga memiliki sifat kimia antara lain :

- Atom logam alkali mudah membentuk ion positif karena logam alkali mempunyai 1
elektron valensi (ns1)

- Daya oksidasi logam alkali sangat besar. Hal ini disebabkan jari-jari atom logam
alkali sangat besar sehingga sangat mudah melepaskan elektron dari atas ke bawah tabel
periodik unsur daya oksidasinya makin bertambah.

- Logam alkali merupakan reduktor (pereduksi) yang sangat kuat. Unsur-unsur logam
alkali sangat mudah melepaskan elektron.

- Energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan

- Spektra emisi dengan warna nyala yang khas.

Beberapa sifat fisik unsur-unsur logam alkali tanah adalah sebagai berikut :

- Jari-jari atom unsur alkali tanah dalam periodik bertambah dari atas ke bawah.
Demikian juga ion positifnya. Ion terbentuk apabila atom netral melepas elektron.

- Titik cair dan kekerasan melebihi logam alkali

Selain memiliki sifat fisik logam alkali tanah juga memiliki sifat-sifat kimia antara lain :

- Logam alkali tanah mudah membentuk ion positif karena logam alkali tanah
mempunyai 2 elektron valensi (ns2)

- Kereaktifan logam alkali tanah besar. Hal ini disebabkan jari-jari atom logam alkali
tanah besar, sehingga mudah melepas elektron. Dari atas ke bawah sifat kereaktifannya
semakin bertambah.

- Logam alkali tanah merupakan reduktor (pereduksi kuat)

- Energi ionisasi, afinitas elektron, dan keelektronegatifan cukup besar

- Garam logam alkali tanah menghasilkan nyala dengan warna tertentu.



Perbedaan Alkali dan Alkali Tanah

ALKALI

ALKALI TANAH

- Logam yang kuat, lunak, dan mengkilap

- Jari-jari atom besar

- Energi ionisasi rendah

- Afinitas elektron rendah

- Keelektronegatifan rendah

- Sangat reaktif

- Titik leleh rendah

- Titik didih rendah

- Densitas rendah

- Sifat basa lebih kuat daripada logam alkali tanah

- Logam yang lebih kuat dan lebih padat

- Jari-jari atom lebih kecil dibandingkan logam alkali seperiode

- Energi ionisasi lebih besar daripada logam alkali seperiode

- Afinitas elektron lebih besar daripada logam alkali seperiode

- Keelektronegatifan lebih besar daripada logam alkali seperiode

- Kurang reaktif dibanding logam alkali seperiode

- Titik leleh melebihi logam alkali

- Titik didih melebihi logam alkali

- Densitas melebihi logam alkali

- Bersifat basa

Secara umum sifat-sifat unsur dalam sistem periodik unsur :



Kereaktifan adalah kemampuan suatu unsur untuk bereaksi. Kereaktifan golongan I A (logam
alkali) dari atas ke bawah dalam tabel periodik unsur semakin besar / bertambah. Karena
pada logam semakin besar jari-jari maka akan semakin reaktif hal itu disebabkan semakin
besar jari-jari logam, maka elektron terluar semakin mudah untuk dilepaskan, sehingga
semakin reaktif. Jadi, Fr lebih reaktif dari Cs, Cs lebih reaktif dari Rb, Rb lebih reaktif dari
Na, Na lebih rektif dari Li dan Li lebih reaktif dari H.

Pada percobaan pertama ini bertujuan untuk mengetahui kelarutan garam sulfat pada
golongan II A, yang pertama dilakukan adalah menambahkan H2SO4 1 M pada BaCl 0,1 M
dan CaCl 0,1. Pada BaCl2 yang telah ditambahkan H2SO4, campuran itu menjadi keruh dan
banyak terdapat endapan putih. Sedangkan pada CaCl2 yang telah ditambahkan H2SO4
campurannya tetap berwarna putih jernih dan tidak terdapat endapan. Dari percobaan ini
dapat diketahui bahwa kelarutan garam sulfat dari golongan II A adalah kelarutannya akan
tambah / meningkat dari bawah ke atas.

Pada percobaan kedua ini bertujuan untuk mengetahui kelarutan garam hidroksida pada
golongan II A, yang pertama dilakukan adalah menambahkan NaOH 1 M pada BaCl2 0,1 M
dan CaCl 0,1 M. Pada larutan BaCl2 yang telah ditambahkan NaOH, larutan menjadi keruh
namun terbentuk endapan tidak terlalu banyak. Sedangkan pada larutan CaCl2 yang ditambah
NaOH larutan menjadi keruh dan terdapat banyak endapan. Sehingga dari percobaan ini
dapat diketahui bahwa kelarutan garam hidroksida pada golongan II A adalah kelarutannya
bertambah dari atas ke bawah.

Pada percobaan ketiga bertujuan untuk mengetahui kereaktifan logam Mg dan K. Logam Mg
dimasukkan ke dalam air yang telah dipanaskan. Dibutuhkan waktu yang cukup lama hingga
semua Mg larutan dalam air. Pada saat terjadi reaksi terdapat gelembung-gelembung H2.
Ketika dimasukkan indikator pp ke dalam larutan tersebut, larutan tersebut berwarna merah
lembayung. Hal ini menandakan bahwa larutan itu mengandung / bersifat basa. Percobaan
berikutnya digunakan logam K. Logam K dimasukkan ke dalam air. Reaksinya begitu cepat.
Pada saat reaksi terdapat percikan api. Percikan api itu berasal dari gas H2 yang terbentuk
langsung terbakar karena reaksi sangat eksoterm. Setelah ditambahkan indikator pp ke dalam
larutan, larutan berubah warna menjadi merah lembayung. Hal ini menandakan bahwa larutan
ini bersifat basa. Dari percobaan tersebut dapat diketahui bahwa golongan I A lebih reaktif
daripada golongan II A.

Terdapat beberapa faktor kesalahan yang menyebabkan hasil yang dapat kurang maksimal.
Seperti memasukkan indikator pp larutan Mg yang belum terlarut sempurna dengan air atau
Mg dimasukkan ke dalam air yang belum panas kemudian diberikan indikator pp hal tersebut
menyebabkan larutan tidak berubah warna menjadi merah lembayung dan tidak bisa
diidentifikasi apakah larutan itu bersifat basa.

Semua perlakuan yang dilakukan dalam percobaan ini mempunyai fungsi masing-masing.
Aquades yang digunakan untuk melarutkan Mg dipanaskan terlebih dahulu adalah untuk
meningkatkan kereaktifan Mg karena Mg kurang reaktif jika dibandingkan dengan K. Tetapi
aquades yang digunakan untuk melarutkan K tidak perlu dipanaskan karena K sangat reaktif
dan bereaksi hebat dengan H2O sehingga apabila aquades dipanaskan terlebih dahulu akan
menimbulkan ledakan.



BAB 5

PENUTUP





5.1 Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :

- CaCl2 memiliki kelarutan garam sulfat yang lebih besar dibanding kelarutan garam
sulfat BaCl2, karena saat H2SO4 ditambahkan pada BaCl2 menghasilkan endapan sedangkan
pada CaCl2 tidak menghasilkan endapan.

- Ca memiliki kelarutan hidrooksida yang kecil. Sedangkan Ba memiliki kelarutan
hidrooksida yang besar maka tidak mudah mengendap.

- Golongan I A memiliki kereaktifan yang sangat besar karena elektron valensi yang
dimiliki golongan I A hanya berjumlah 1.

- Golongan II A memiliki kereaktifan yang rendah karena elektron valensi yang dimiliki
golongan II A hanya berjumlah 2.

5.2 Saran

Sebaiknya dalam percobaan ini digunakan juga logam dari golongan I A dan II A
yang lain agar hasil yang didapat lebih beragam.

DAFTAR PUSTAKA





Pettruci, Ralph H. 1987. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Bogor : Erlangga

Surakkiti. 1989. Kimia 3. Jakarta : Penerbit Intan Pariwara

S, Syukri. 1999. Kimia Dasar 3. Bandung : Penerbit ITB
C. Sifat Sistem Periodik
Untuk lebih memahami Unsur-unsur dalam Sistem periodik, silah kan klik:
hhtp://periodictable.com/ atau http://ptable.com
Sifat-sifat periodik unsur adalah sifat-sifat yang ada hubunganya dengan letak unsur pada
sistem periodik. Sifat-sifat tersebut berubah dan berulang secara periodik sesuai dengan
perubahan nomor atom dan konfigurasi elektron.
1. Jari-jari atom
Jari-jari atom adalah jarak elektron di kulit
terluar dari inti atom. Jari-jari atom sulit untuk ditentukan apabila unsur berdiri sendiri tanpa
bersenyawa dengan unsur lain. Jari-jari atom secara lazim ditentukan dengan mengukur jarak
dua inti atom yang identik yang terikat secara kovalen. Pada penentuan jari-jari atom ini, jari-
jari kovalen adalah setengah jarak antara inti dua atom identik yang terikat secara kovalen.
Dalam segolongan, jari-jari atom akan
semakin besar dari atas ke bawah. Hal ini terjadi karena dari atas ke bawah jumlah kulit
bertambah sehingga jari-jari atom juga bertambah.
Dalam seperiode, (dari kiri ke kanan) berjumlah kulit sama tetapi jumlah proton bertambah
sehingga jari-jari atom juga berubah. Karena jumlah proton bertambah maka muatan inti juga
bertambah yang mengakibatkan gaya tarik menarik antara inti dengan elektron pada kulit
terluar semakin kuat. Kekuatan gaya tarik yang semakin meningkat menyebabkan jari-jari
atom semakin kecil. Sehingga untuk unsur dalam satu periode, jari-jari atom semakin kecil
dari kiri ke kanan.
2. Energi ionisasi
Energi minimum yang dibutuhkan untuk
melepas elektron atom netral dalam wujud gas pada kulit terluar dan terikat paling lemah
disebut energi ionisasi. Nomor atom dan jari-jari atom mempengaruhi besarnya energi
ionisasi. Semakin besar jari-jari atom maka gaya tarik antara inti dengan elektron pada kulit
terluar semakin lemah. Hal ini berarti elektron pada kulit terluar semakin mudah lepas dan
energi yang dibutuhkan untuk melepaskan elektron tersebut semakin kecil. Akibatnya, dalam
satu golongan, energi ionisasi semakin kecil dari atas ke bawah. Sedagkan dalam satu
periode, energi ionisasi semakin besar dari kiri ke kanan. Hal ini disebabkan dari kiri ke
kanan muatan iti semakin besar yang mengakibatkan gaya tarik antara inti dengan elektron
terluar semakin besar sehingga dibutuhkan energi yang besar pula untuk melepaskan elektron
pada kulit terluar.

Hubungan energi ionisasi dengan nomor atom
Kurva tersebut menunjukkan unsur golongan 8A berada di puncak grafik yang
mengindikasikan bahwa energi ionisasinya besar. Hal sebaliknya terjadi untuk unsur
golongan 1A yang berada di dasar kurva yang menunjukkan bahwa energi ionisasinya kecil.
Atom suatu unsur dapat melepaskan elektronnya lebih dari satu buah. Energi yang
dibutuhkan untuk melepaskan elektron keua disebut energi ionisasi kedua dan tentu saja
diperlukan energi yang lebih besar. Energi ionisasi semakin besar apabila makin banyak
elektron yang dilepaskan oleh suatu atom.
3. Keelektronegatifan
Kelektronegatifan adalah kemampuan suatu
atom untuk menarik elektron dari atom lain. Faktor yang mempengaruhi keelektronegatifan
adalah gaya tarik dari inti terhadap elektron dan jari-jari atom.
Unsur-unsur yang segolongan : keelektronegatifan makin ke bawah makin kecil, karena gaya
taik-menarik inti makin lemah. Unsur-unsur bagian bawah dalam sistem periodik cenderung
melepaskan elektron.
Unsur-unsur yang seperiode : keelektronegatifan makin kekanan makin
besar.keelektronegatifan terbesar pada setiap periode dimiliki oleh golongan VII A (unsur-
unsur halogen). Harga kelektronegatifan terbesar terdapat pada flour (F) yakni 4,0, dan harga
terkecil terdapat pada fransium (Fr) yakni 0,7.
Harga keelektronegatifan penting untuk menentukan bilangan oksidasi ( biloks ) unsur dalam
sutu senyawa. Jika harga kelektronegatifan besar, berati unsur yang bersangkutan cenderung
menerim elektron dan membentuk bilangan oksidasi negatif. Jika harga keelektronegatifan
kecil, unsur cenderung melepaskan elektron dan membentuk bilangan oksidasi positif.
Jumlah atom yang diikat bergantung pada elektron valensinya.
4. Sifat Logam
Sifat-sifat unsur logam yang spesifik, antara lain : mengkilap, menghantarkan panas dan
listrik, dapat ditempa menjadi lempengan tipis, serta dapat ditentangkan menjadi kawat /
kabel panjang. Sifat-sifat logam tersebut diatas yang membedakan dengan unsur-unsur bukan
logam. Sifat-sifat logam, dalam sistem periodik makin kebawah makin bertambah, dan makin
ke kanan makin berkurang.
Batas unsur-unsur logam yang terletak di sebelah kiri dengan batas unsur-unsur bukan logam
di sebelah kanan pada system periodic sering digambarkan dengan tangga diagonal bergaris
tebal.
Unsur-unsur yang berada pada batas antara logam dengan bukan logam menunjukkan sifat
ganda.
5. Kereaktifan
Reaktif artinya mudah bereaksi. Unsur-unsur logam pada system periodik, makin ke bawah
makin reaktif, karena makin mudah melepaskan elektron. Unsur-unsur bukan logam pada
sistem periodik, makin ke bawah makin kurang reakatif, karena makin sukar menangkap
electron.
Kereaktifan suatu unsur bergantung pada kecenderungannya melepas atau menarik elektron.
Jadi, unsur logam yang paling reatif adalah golongan VIIA (halogen). Dari kiri ke kanan
dalam satu periode, mula-mula kereaktifan menurun kemudian bertambah hingga golongan
VIIA. Golongan VIIA tidak rekatif. Kecenderungan berbagai sifat periodik unsur-unsur
periode ketiga diberikan pada gambar di bawah ini
6. Afinitas Elektron
Afinitas elektron ialah energi yang dibebaskan
atau yang diserap apabila suatu atom menerima elektron.
Jika ion negatif yeng terbentuk bersifat stabil, maka proses penyerapan elektron itu disertai
pelepasan energi dan afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda negative. Akan tetapi jika
ion negative yang terbentuk tidak stabil, maka proses penyerapan elektron akan
membutuhkan energi dan afinitas elektronnya dinyatakan dengan tanda positif. Jadi, unsur
yang mempunyai afinitas elektron bertanda negatif mempunyai kecenderungan lebih besar
menyerap elektron daripada unsur yang afinitas elektronnya bertanda positif. Makin negative
nilai afinitas elektron berarti makin besar kecenderungan menyerap elktron.
Dalam satu periode dari kiri ke kanan, jari-jari semkain kecil dan gaya tarik inti terhadap
elektron semakin besar, maka atom semakin mudah menarik elektron dari luar sehingga
afinitas elektron semakin besar.
Pada satu golongan dari atas ke bawah, jari-jari atom makin besar, sehingga gaya tarik inti
terhadap elektron makin kecil, maka atom semakin sulit menarik elektron dari luar, sehingga
afinitas elektron semakin kecil.
Kembali klik disini

Dalam sistim periodik logam alkali terdapat pada kolom pertama paling
kiri sering juga disebut dengan Golongan IA, terdiri dari: lithium (Li),
sodium (Na), potassium (K), rubidium (Rb), cesium (Cs) dan francium
(Fr). Disebut logam alkali karena oksidanya dapat bereaksi dengan air
menghasilkan larutan yang bersifat basa (alkaline). Sebagai contoh:
Na
2
O
(s)
+ H
2
O
(l)


2Na
+
(aq)
+ 2OH
-

(aq)

Unsur-unsur logam alkali merupakan logam yang sangat reaktif.
Kereaktifan tersebut berkaitan dengan elektronvalensinya. Logam alkali
mempunyai 1 elektron pada kulit terluarnya, untuk mencapai kestabilan
maka logam golongan ini lebih cenderung untuk melepas 1 elektron
tersebut sehingga logam ini mempunyai bilangan oksidasi +1.
Kereaktifan logam alkali bertambah besar sesuai dengan pertambahan
jari-jari atomnya.
Kecendrungan logam alkali sangat beraturan, dari atas ke bawah, jari-
jari atom dan massa jenis bertambah, sedangkan titik leleh dan titik
didih berkurang. Sementara energi ionisasi dan keelektroneatifan
berkurang. Li merupakan reduktor yang paling kuat dibanding unsur-
unsur segolongannya, sementara Li memiliki energi ionisasi yang
terbesar (terjadi penyimpangan), hal ini disebabkan karena potensial
reduksi dan energi ionisasi merupakan dua hal yang berbeda dan tidak
terdapat keterkaitan satu sama lain.
Salah satu ciri khas dari logam alkali adalah memiliki sprektum emisi.
Sprektum ini dihasilkan bila larutan garamnya dipanaskan dalam nyala
Bunsen. Ketika atom diberi energi (dipanaskan) elektronnya akan
tereksitasi ke tingkat yang lebih tinggi. Ketika energi itu dihentikan,
maka elektronnya akan kembali lagi ke tingkat dasar sehingga
memancarkan energi radiasi elektromagnetik. Berikut warna nyala
logam alkali:


Terdapatnya:
Na, K terdapat dalam jumlah yang cukup banyak di air laut , kerak
bumi, dan komponen dari tumbuh-tumbuhan.
Li, Rb, Cs terdapat dalam jumlah yang relatif sedikit di air laut
dan kerak bumi.
Fr jarang ditemukan karena merupakan hasil peluruhan bahan
radioaktif
227
Ac dengan waktu paro 21 menit.


Isolasi:
Na diperoleh dari elektrolisis leburan garam kloridanya yang
dilakukan dengan menggunakan downs cell seperti gambar
berikut:


http://corrosion-doctors.org/Electrochem/Cell.htm
Elektrolisis lelehan NaCl dilakukan didalam sel silinder dengan menambahkan CaCl
2

guna menurunkan titih leleh dari NaCl dari 801
0
C menjadi 580
0
C. Akan tetapi dari
elektrolisis tidak diperoleh Ca. Hal ini disebabkan karena Ca lebih sulit tereduksi
dibanding Na karena potensial reduksi Ca lebih rendah dibanding Na.
Suhu optimum beroperasinya downs cell 772
0
C, sementara titik
leleh KCl 850
0
C dan pada suhu tersebut K akan berwujud gas
sehingga K tidak mungkin dipisahkan / diisolasi dengan
menggunakan downs cell. Oleh karena itu logam K, Rb, Cs
diisolasi dengan mereaksikan garam kloridanya dengan Na
Na(g) + MCl (l) M(g) + NaCl(l)

Sifat Fisika
1. logam alkali berbentuk padatan kristalin.
2. merupakan penghantar panas dan listrik yang baik.
3. mempunyai titik leleh yang rendah yang dapat dijelaskan dengan
elektron sea ikatan logam. Dimana, semakin besar jari-jari ion
maka semakin kecil daya tarik muatan positif dengan lautan
elektron sehingga ikatan logam mudah putus.


Sifat Kimia
1. merupakan reduktor paling kuat
2. tersolvasi jika dimasukkan kedalam larutan amonia (NH
3
).
Ketika logam dimasukkan kedalam larutan amonia maka elektron
dari logam akan tersolvasi oleh atom-atom H dari NH
3
, dimana
tidak terjadi serah terima elektron antara logam dengan atom H.
3. jika direaksikan dengan oksigen menghasilkan senyawa oksida,
peroksida dan superoksida. Li
2
O (oksida), Na
2
O
2
(peroksida), KO
2

(superoksida). Na
2
O
2
bereaksi dengan air menghasilkan H
2
O
2,
sedangkan KO
2
digunakan sebagai konverter CO
2
pada alat
bantuan pernafasan.
4. mudah bereaksi dengan air, sehingga logam harus disimpan dalam
minyak tanah.
2L + 2H
2
O 2LOH + H
2

Logam akan berikatan dengan OH
-
. Semakin kuat sifat logamnya
maka semakin kuat sifat basanya.
5. Reaksi dengan unsur-unsur Halogen
Unsur halogen bersifat sebagai pengoksidasi. Reaksi ini
menghasilkan garam halida.
2L(s) + X
2
2LX
6. Reaksi yang berlangsung akan menghasilkan senyawa hidrida.
Senyawa hidrida adalah senyawa yang mengandung atom
hidrogen dengan bilangan oksidasi negatif.
2L(s) + H
2
(g) 2LH(s)

Kegunaan
Karena memiliki titik leleh yang rendah, logam Na digunakan sebagai pendingin
dalam reaktor nulkir, dimana Na menyerap panas dari reaktor nuklir kemudian Na
panas mengalir melalui saluran menuju reservoar yang berisi air. Selanjutnya air
dalam reservoar menguap dan uapnya dialirkan pada pembangkit listrik tenaga uap.
Sebagai pengembang kue (NaHCO
3
), jika dibakar mengeluarkan gas CO
2
.
KO
2
digunakan sebagai konverter CO
2
pada alat bantuan
pernafasan. Gas CO
2
yang dihembuskan masuk kedalam alat dan
bereaksi dengan KO
2
menghasilkan O
2
.
Na dipakai sebagai lampu penerangan dijalan-jalan raya atau pada
kendaraan. sinar kuning natrium ini mempunyai kemampuan
untuk menembus kabut.
Logam Na digunakan dalam pembuatan tetra etil timbal, zat ini
mengurangi ketukan pada bensin.
NaCl (garam dapur); digunakan sebagai bahan baku pembuatan
NaOH, Na
2
CO
3
, logam Na, dan gas klorin.
http://chemistryisveryfantastic.blogspot.com/2009/06/logam-alkali.html
reaksi nyala
1. Percobaan Reaksi Nyala

a. Tujuan
Tujuan dari percobaan reaksi nyala ini yaitu, siswa dapat membuktikan bahwa suatu
unsur dapat memberikan warna nyala tertentu.


b. Dasar teori
Dasar teori yang ada dalam percobaan kali ini yaitu teori spectrum diskontinu.
Spektrum diskontinu atau spektrum garis adalah radiasi yang dihasilkan oleh atom
yang tereksitasi yang hanya terdiri dari beberapa warna garis yang terputus putus.


c. Alat dan bahan
Pembakar spirtus
Spatula
Pipet
Alkohol
Natrium Klorida
Barium Klorida
Kalium Klorida
Stronsium Klorida
Magnesium


d. Langkah-langkah
Siapan alat dan bahan.
Nyalakan pembakar spirtus.
Ambil salah satu unsur dengan spatula.
Beri sedikit alcohol.
Lalu bakar, setelah unsur terbakar lepaskan dari pembakaran.
Amati warna nyala yang dihasilkan.
Ulangi pada unsur lainnya.

e. Data hasil pengamatan
Nama unsur Rumus unsur Warna nyala
Gambar
Natrium Klorida NaCl orange

Kalium Klorida KCl ungu

Barium Klorida BaCl kuning

Stronsium Klorida SrCl merah

Magnesium Mg putih


f. Pernyataan


1. Suatu unsur dapat memberikan warna nyala tertentu karena setiap unsure
mempunyai tingkatan energy yang berbeda sehingga warna yang dihasilkan pun
berbeda.


2. Jika warna nyala suatu unsur diamati dengan menggunakan spekroskop maka
akan terlihat spectrum berupa garis-garis Sehingga unsur termasuk spectrum garis/
diskontinu


3. Apa yang terjadi jika merecon dibakar? Akan menghasilkan banyak warna,
tergantung bahan merecon itu sendiri. seperti merah yang berasal dari strontium
dan litium, warna kuning berasal dari natrium, warna hijau berasal dari barium dan
warna biru dari tembaga. Campuran bahan kimia itu dibentuk ke dalam kubus kecil-
kecil yang disebut star. Star inilah yang menentukan warna dan bentuk bila kembang
api itu meledak nantinya.

g. Kesimpulan.


Suatu unsure jika di bakar, akan menghasilkan warna yang berbeda. Hal itu,
menunjukan tingkatan energy yang berbeda pula.
Diposkan 9th September 2012 oleh irsan
http://irsanozsta.blogspot.com/2012/09/reaksi-nyala.html
Reaksi nyala
Reaksi uji nyala adalah suatu cara yang digunakan untuk analisis kualitatif
pendahuluan, yaitu untuk mengenal kandungan kation suatu batuan. Cara
pendahuluan ini dapat digunakan untuk acuan uji kation yang sebenarnya.
Bagaimanakah caranya? Jika hal ini dilakukan di industri, maka batuan yang
akan digunakan dicuci bersih dan dilakukan pemekatan terlebih dahulu.
Proses pemekatan umumnya menggunakan asam kuat. Dari proses ini
diharapkan zat pengotor yang tidak diinginkan dapat terbuang.
Di laboratorium untuk keperluan pengamatan sederhana pada pembelajaran
kimia, maka digunakan garam padat yang berupa serbuk. Pembakar yang
digunakan biasanya lampu spiritus dengan sumbu kompor, sehingga seringkali
sumbunya harus dibersihkan dari serbuk garam yang berjatuhan. Jika sulit
membersihkannya, dapat digunting saja bagian yang sekiranya akan
mengganggu pengamatan warna spektrum. Serbuk garam yang akan diuji
ditempelkan diujung paper clips yang telah dibentuk seperti alat bakar. Paper
clips ini satu untuk masing-masing garam, agar tidak tercampur.
Apa yang terjadi sebenarnya dengan kation pada serbuk garam itu saat
dikenakan api? Mengapa spektrum masing-masing kation dapat berbeda-beda?
Walaupun warnanya merah misalnya, mengapa warna merahnya itu juga tidak
sama? Apakah disebabkan oleh elektron yang memang selalu bergerak
mengelilingi inti atom> Apakah ada gerakan lain sebagai akibat dari
menyerapan energi dari api? Jika memang ada gerakan lain dari penyerapan
energi api, mengapa elektron itu memancarkan spektrum? Dari mana asalnya
spektrum itu? Apakah dari energi yang tadinya diserap oleh elektron?
Mengapa warna spektrum itu berbeda-beda untuk setiap kation? Apa yang
dapat disimpulkan dari uji nyala ini?
http://enitasw.blogspot.com/2013/01/reaksi-nyala.html