Anda di halaman 1dari 15

1

IMPLEMENTASI BACA TULIS AL-QURAN DALAM
MENINGKATKAN TAHFIDZ JUZ’AMMA
(Penelitian pada Siswa di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh Garut)

1. Latar Belakang Masalah
Al-Quran merupakan kitab suci umat Islam, dimana redaksi maupun susunannya
tidak pernah berobah dan tetap terpelihara sepanjang zaman. Dari awal hingga akhir
turunnya al-Quran, di samping itu seluruh ayat-ayatnya dinukilkan atau diriwayatkan
secara mutawatir baik secara hafalan maupun tulisan. Al-Quran turun kepada Nabi
Saw. tidak sekaligus, melainkan secara berangsur- angsur dalam masa yang relatif
panjang, yakni dimulai sejak zaman Nabi Saw. Diangkat menjadi Rasul dan berakhir
pada masa menjelang wafatnya, sehingga tidak heran bila al-Quran belum sempat
dibukukan seperti adanya sekarang.
Al-Quran turun kepada Nabi yang ummy (tidak bisa baca-tulis). Karena itu
perhatian Nabi hanyalah dituangkan untuk sekedar menghafal dan menghayatinya,
agar ia dapat menguasai al-Quran persis sebagaimana halnya al-Quran yang
diturunkan. Setelah itu ia membacakannya kepada orang-orang dengan begitu terang
agar mereka pun dapat menghafal dan memantapkannya. Al-Quran diturunkan
kepada Nabi yang ummi, maka otomatis untuk memelihara apa yang yang
diturunkannya kepadanya haruslah di hafal. Usaha keras Nabi Muhammad SAW,
untuk menghafal al-Quran terbukti setiap malam beliau membaca Al-Quran dalam
shalat sebagai ibadah untuk merenungkan maknanya. Rasulullah sangat ingin segera
2



menguasai al-Quran yang diturunkan, kepadanya belum selesai Malaikat Jibril
membacakan ayatnya, beliau sudah menggerakkan lidahnya untuk menghafal apa
yang sedang diturunkan, karena takut apa yang turun itu terlewatkan sehingga Allah
SWT., menurunkan firman-Nya sebagaimana yang terdapat dalam Q.S. al-Qiyamah
(75) : 16-19 sebagai berikut:

(
ِ
و
ِ
ب
َ
ل
َ
جْ عَت
ِ
ل َ كَنا
َ
س
ِ
ل
ِ
و
ِ
ب
ْ
كِ ر
َ
ح
ُ
ت ل ٦١ ( ُوَنآ ْ ر
ُ
ق
َ
و ُو
َ
ع
ْ
م
َ
ج اَنْ ي
َ
ل َ ع ّ ن
ِ
إ ) ٦١ ْ ع
ِ
ب
ّ
تا
َ
ف
ُ
هاَن
ْ
أ
َ
ر
َ
ق ا
َ
ذ
ِ
إ
َ
ف)
( ُوَنآ ْ ر
ُ
ق ٦١ ُوَنا
َ
ي
َ
ب اَنْ ي
َ
ل َ ع ّ ن
ِ
إ
ّ
م
ُ
ث )
Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk membaca Qur’an karena hendak
cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah
mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila
kami telah selesai mebacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian atas
tanggungna kamilah penjelasannya.
Ayat di atas bagaikan mengatakan janganlah engkau wahai Nabi Muhammad
menggerakkan lidahmu untuk membacanya sebelum Malaikat Jibril selesai
membacakannya kepadamu, jangan sampai engkau tidak menghafalnya atau
melupakan satu bagian darinya. Allah SWT., melarang ketergesa-gesaan agar tidak
terjerumus ke dalam pelanggaran. Kata jam‟ahu (penghimpunannya) dari ayat diatas
bermakna penghafalannya, oleh karena itu orang-orang yang hafal Quran disebut
Jumma‟ul Quran atau Huffadzul Quran (Manna al-Qotton, 1990:119).
Makna yang lain dari Jam’ahu adalah penulisan seluruh al-Quran. Nabi
Muhammad SAW., setelah menerima wahyu langsung menyampaikan wahyu
tersebut kepada para sahabatnya sesuai denagn hapalan Nabi, tidak kurang tidak
lebih. Sehingga sahabat pun banyak sekali yang hafiz Quran. Walaupun Nabi
Muhammad SAW dan para sahabat menghafal ayat-ayat al-Quran secara keseluruhan,
3



namun guna menjamin terpeliharanya wahyu Ilahi beliau tidak hanya mengandalkan
hafalan, tetapi juga tulisan. Sejarah menginformasikan bahwa setiap ada ayat yang
turun Nabi Muhammad SAW memanggil sahabat-sahabat yang dikenal pandai
menulis. Rasulullah mengangkat beberapa orang penulis (kuttab) wahyu seperti Ali,
Muawiyah, Ubay bin Ka‟ab dan Zaid bin Tsabit. Ayat-ayat al-Quran mereka tulis
dalam pelepah kurma, batu, kulit-kulit atau tulang-tulang binatang. Sebagian sahabat
ada juga sahabat yang menuliskan ayat-ayat tersebut secara pribadi. Namun karena
keterbatasan alat tulis dan kemanpuan sehingga tidak banyak yang
melakukannya.(Manna al-Qotton, 1990:123).
Pada era modern ini, kesadaran ummat Islam untuk mencetak para penghafal al-
Quran semakin tinggi, tidak hanya pondok pesantren-pesantren saja yang mendidik
santrinya untuk menghafal al-Quran, tetapi lembaga-lembaga pendidikan Islam
semisal TPQ TPA, Madrasah Diniyyah, bahkan hingga sekolah formal.menghafal al-
Quran merupakan sebagian dari usaha mempelajari al-Quran.
Pada tingkatan tertentu sebelum menghafal al-Quran harus mampu membaca al-
Quran dengan baik. Pengajaran membaca al-Quran tidak dapat disamakan dengan
pengajaran membaca dan menulis di sekolah dasar, karena dalam pengajaran al-
Quran, anak-anak belajar huruf dan kata-kata yang tidak mereka pahami artinya.Yang
paling penting dalam pembelajaran membaca al-Quran adalah keterampilan membaca
al-Quran dengan baik sesuai dengan kaidah yang disususun dalam ilmu Tajwid.
Orang yang tidak lancar membaca al-Quran bila memaksakan dirinya mengahafal al-
Quran, ia akan memayahkan dirinya sendiri dan memayahkan gurunya. Sedangkan
4



orang yang tidak fasih atau yang tajwidnya sangat rendah, ia akan menghadapi dua
pekerjaan sekaligus, yaitu menghafal sambil memperbaiki bacaan. Dan umumnya
orang yang sudah terlanjur hafal dengan bacaan yang jelek, ini sulit sekali diperbaiki
karena kesalahan-kesalahan itu sudah terekam/terukir dalam hati. Mungkin sementara
bisa dibenarkan di hadapan guru, akan tetapi nanti ketika dia baca sendiri akan
kembali salah seperti semula.
Orang yang hafal itu bila membaca al-Quran akan lebih banyak berkonsentrasi
kepada hafalan dari pada berkonsentrasi kepada bacaan atau tajwid. Namun yang
dimaksud dengan fashih dan baiknya tajwid ini tidak harus sempurna 100%, sebab
untuk mencapai sempurna itu membutuhkan waktu yang lama sekali. Calon
penghafal paling tidak sudah bisa membedakan antara satu huruf dengan huruf yang
lainnya khususnya huruf-huruf yang mirip dalam makhroj dan sifatnya, sudah
lumayan stabil dalam membaca panjangnya mad dengan segala macamnya, sudah
bisa membaca idh-har dan idghom sekalipun panjangnya dengung masih kurang pas.
Dan yang paling penting ialah faham dengan hukum waqof wal ibtida serta rumus-
rumusnya, yang terakhir inilah yang paling utama tetapi malah kurang mendapat
perhatian dari calon penghafal al-Quran. Kemudian untuk program menyempurnakan
dan memperhalusnya dapat dilakukan sambil menghafal atau setalah khatam
menghafal. Adapun cara mengantisipasi kendala tersebut ialah hendaknya calon
penghafal al-Quran diuji dengan ketat oleh guru hafalan atau calon penghafal itu
sendiri menanyakan kepada guru apakah ia sudah layak menghafal al-Quran atau
belum. Salah satu lembaga pendidikan Islam yang melaksanakan program menghafal
5



al-Quran adalah Madarasah diniyyah Annahdloh Garut, di Madrasah ini, para siswa
diwajibkan menghafal Juz‟Amma sebelum menghafal al-Qur‟an secara keseluruhan.
Berdasarkan fenomena diatas peneliti bermaksud meneliti tentang Implementasi
Baca Tulis Al-Quran dalam Meningkatkan Tahfidz Juz’amma di Madrasah
Diniyyah An-Nahdloh.
2. Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dikaji adalah:
1. Bagaimana implementasi baca tulis Al-Quran dalam meningkatkanTahfidz
Juz‟amma di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh?
2. Apa faktor penunjang dan penghambat implementasi baca tulis Al-Qur‟an
dalam meningkatkanTahfidz Juz‟amma di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh?
3. Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah difokuskan pada implementasi baca
tulis al-Qur‟an dalam meningkatkan tahfidz Juz‟Amma di Madrasah Diniyyah An-
Nahdloh Garut.
4. Tujuan Penelitian
Setiap kegiatan pastilah mempunyai tujuan tertentu. Dalam penelitian ini
bertujuan antara lain :
1. Untuk mengetahui implementasi baca tulis Al-Quran dalam meningkatkan
Tahfidz Juz‟amma di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung/penghambat apa saja yang
mempengaruhi implementasi baca tulis Al-Quran dalam
6



meningkatkanTahfidz Juz‟amma Di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh.
5. Manfaat Penelitian
1. Kegunaan teoretis
Secara teoretis, penelitian ini sebagai upaya pengembangan wacana keilmuan
dalam meningkatkan kualitas Lembaga Pendidikan Agama Islam
2. Kegunaan praktis
Secara praktis, penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi para pemangku
kebijakan, pengelola serta para pendidik Lembaga Pendidikan Agama Islam baik
formal maupun non formal secara umum didalam upaya meningkatkan pelaksanaan
pembelajaran al-Quran dan di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh khususnya didalam
upaya meningkatkan pelaksanaan pembelajaran tahfidz al-Quran.
6. Kerangka Pemikiran
Implementasi menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah pelaksanaan;
penerapan, sedangkan baca adalah mengeja atau melafalkan apa yg tertulis, melihat
serta memahami isi dari apa yg tertulis. Sedangkan tulisan berarti hasil menulis. Kata
“baca” dan “tulis” digabungkan akan membentuk sebuah kata turunan yaitu “baca
tulis” yang berarti suatu kegiatan yang dilaksanankan secara berurutan yaitu menulis
dan membaca. Al-Quran adalah adalah kalamullah atau kitab suci terakhir yang
diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw sebagai petunjuk hidup bagi seluruh
umat manusia dan yang dijamin kesucian dan keasliannya sampai hari akhir, serta
7



membacanya adalah merupakan ibadah kepada Allah Swt (Said Abdul Adhim,
2012:13)
Jadi yang dikehendaki dari pengertian baca tulis al-Quran tersebut adalah
kemampuan ganda yakni membaca dan menulis. Maksudnya, di samping dapat
membaca juga diharapkan mampu menulis dengan benar lafal dari ayat-ayat al-Quran
lalu bagaimana hubungan kedua kemampuan tersebut. Untuk sementara penulis dapat
mengemukakan bahwa kedua perkataan tersebut sangat erat hubungannya, karena
merupakan dasar untuk membaca dengan baik adalah menulis, demikian pula
sebaliknya bahwa dasar untuk menulis dengan baik adalah membaca secara teliti
lebih dahulu.
Hal ini dapat kita lihat buktinya bahwa seseorang dapat membaca dengan
lebih baik dan benar suatu naskah jika dia telah mengenal tulisannya atau bila dia
telah mampu menulisnya. Demikian juga seseorang kadang-kadang dapat menulis
dengan benar jika dia telah mampu membaca dengan lafal yang benar. Hal ini
merupakan gambaran betapa erat hubungan antara membaca dan menulis dan
kemudian berhubungan erat dengan keberhasilan sesorang didalam menghafal al-
Quran. Menghafal al-Quran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kerumitan di
dalamnya yang menyangkut ketepatan membaca dan pengucapan tidak bisa diabaikan
begitu saja, sebab kesalahan sedikit saja adalah suatu dosa. Apabila hal tersebut dibiarkan
dan tidak diproteksi secara ketat maka kemurnian al-Quran menjadi tidak terjaga dalam
setiap aspeknya (Abdul Aziz Abdul Rauf, 2004:20).
8



Tahfidz Juz‟amma merupakan salah satu bentuk kegiatan dari menghafal al-
Quran yang dikhusukan pada juz ketiga puluh. seseorang yang hafal juz‟amma belum
bisa disebut hafal al-Quran. Tahfidz berarti menghafal, menghafal dari kata dasar hafal
yang dari bahasa arab hafidza – yahfadzu - hifdzan, berarti lawan dari lupa, yaitu selalu
ingat dan sedikit lupa (Mahmud Yunus, 1990:105). Pada KBBI disebutkan bahwa hafal
adalah telah masuk dalam ingatan atau dapat mengucapkan di luar kepala, sedangkan
menghafal adalah berusaha meresapkan kedalam pikiran agar selalu ingat.
Seorang hafidz harus hafal al-Quran seluruhnya. Maka apabila ada orang yang telah
hafal kemudian lupa atau lupa sebagian atau keseluruhan karena lalai atau lengah tanpa
alasan seperti ketuaan atau sakit, maka tidak dikatakan hafidz dan tidak berhak
menyandang.predikat”penghafal al-Quran (Abdu al-Rabb Nawabudin, 1988:17).
Menurut Abdul Aziz Abdul Ra‟uf definisi menghafal adalah “proses mengulang sesuatu,
baik dengan membaca atau mendengar”. Pekerjaan apapun jika sering diulang, pasti
menjadi hafal.”( (Abdul Aziz Abdul Rauf, 2004:20).
Berdasarkan uraian diatas maka secara operasional tahfidz Juz‟amma pada
penelitian ini adalah proses mengulang surat-surat di juz ketigapuluh pada al-Quran,
baik dengan membaca atau mendengar sehingga meresap kedalam pikiran dan dapat
mengucapkan di luar kepala.
7. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Dalam hal ini penulis menggunakan deskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan
9



data tentang implementasi baca tulis al-Quran dalam upaya meningkatkan Tahfidz
Juz‟amma Di Madrasah Diniyyah an-Nahdloh yang dikumpulkan berupa kata-kata,
gambar dan bukan angka. Data yang berasal dari naskah, wawancara, catatan
lapangan, dokumen dan sebagainya kemudian dideskripsikan sehingga dapat
memberikan kejelasan terhadap kenyataan atau realitas (Sudarto, 1997: 66).
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah subyek dari mana data implementasi baca
tulis al-Quran dalam upaya meningkatkan Tahfidz Juz‟amma diperoleh (Suharsimi
Arikunto
,
2002 :107). Untuk memperjelas sumber data, maka perlu dibedakan menjadi 3
macam yaitu :
a. Person, sumber data berupa orang. Yaitu sumber data yang bisa memberikan
data berupa jawaban lisan melalui wawancara atau tertulis melalui angket.
Dalam wawancara penelitian ini melibatkan pengasuh Madrasah Diniyyah an-
Nahdloh, santri dan ustadz.
b. Place, sumber data berupa tempat. Yaitu sumber data yang menyajikan
tampilam berupa keadaan diam dan bergerak. Diam, misalnya ruangan, alat,
wujud benda dan lainnya. Bergerak seperti kinerja, kegiatan, aktivitas dan lain-
lain. Keduanya merupakan objek untuk penggunaan observasi. Didalam
penelitian ini adalah Madrasah Diniyyah An-nahdloh Garut.
c. Paper, sumber data berupa simbol. Yaitu sumber data berupa huruf, angka,
gambar dan simbol lainnya yang cocok untuk penggunaan metode dokumentasi.
3. Metode Pengumpulan Data
10



Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Observasi
Observasi atau disebut pula dengan pengamatan meliputi kegiatan
pemusatan perhatian terhadap suatu obyek dengan menggunakan seluruh alat
indera (Suharsimi Arikunto
,
2002 :146). Metode ini digunakan untuk
mengamati secara langsung terhadap implementasi baca tulis al-Quran dalam
upaya meningkatkan Tahfidz Juz‟amma, serta keadaan umum di Madrasah
Diniyyah an-Nahdloh
b. Interview
Interview adalah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
(interviewer) untuk memperoleh info dari terwawancara
(interviewee).
(
Soerjono Soekanto, 1987: 126)

Metode ini digunakan untuk
memperoleh data tentang implementasi baca tulis al-Quran dalam upaya
meningkatkan Tahfidz Juz‟amma.
c. Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah metode untuk mencari data otentik yang
bersifat dokumentasi, baik data ini berupa catatan harian, memori dan catatan
penting. Dokumentasi ini dimaksudkan adalah semua data yang tertulis
(Koentjaraningrat
,
1996:104). Metode ini digunakan untuk mengumpulkan
data yang berkaitan dengan topik kajian yang berasal dari dokumen-dokumen
Madrasah Diniyyah Annahdloh.
4. Metode Analisis Data
11



Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis
catatan hasil observasi, wawancara dan lainnya untuk meningkatkan pemahaman
peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi yang
lain, sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu
dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning) (Noeng Muhadjir,
1996:124).
Data yang telah terkumpul dengan menggunakan metode deskriptif
kualitatif kemudian dianalisis dengan langkah-langkah :
a. Menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber.
b. Mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jalan abstraksi yaitu usaha
membuat rangkuman inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu.
c. Menyusun data dalam satuan-satuan atau mengorganisasikan pokok-pokok
pikiran tersebut dengan cara cakupan fokus penelitian dan mengujikannuya
dengan deskriptif.
d. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data atau memberi makna pada hasil
penelitian dengan cara menghubungkan teori.
e. Mengambil kesimpulan.
Untuk itu dalam analisis kualitatif deskriptif ini penulis gunakan untuk
menganalisis tentang implementasi baca tulis al-Quran dalam upaya
meningkatkan Tahfidz Juz‟amma di Madrasah Diniyyah An-Nahdloh dari hasil
observasi lapangan, wawancara, dan dokumen-dokumen yang berhubungan
dengan obyek penelitian.
12



8. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian di Madrasah Madrasah Diniyyah An-Nahdloh yang beralamat di
Jl.Bratayudha Kel. Kota kulon Kec. Garut Kota Kab. Garut. Penelitian di laksanakan
antara bulan Juni 2014 sampai dengan bulan Desember 2014 dengan alokasi sebagai
berikut :
Jadwal Kegiatan Pelaksanaan
Juni Juli Agustus September
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1. Pra Pelaksanaan Penelitian
a. Survei
b. Menentukan Judul
c. Seminar
2. Penelitian
a. Pengumpulan
Data

b. Pengolahan Data
c. Proses Bimbingan
3. Penyusunan data









13



Daftar Pustaka

Abdul Rauf, Abdul Aziz. 2004. Kiat Sukses menjadi Hafidz Qur’an Da’iyah,
Bandung: Syaamil Cipta Media, cet.ke- 4.
Ahsin W. 2000. Bimbingan Praktis Menghafal Al-Qur’an, Jakarta : Bumi Aksara.
Al-Lahim. 2008. Khalid bin Abdul Karim, Mengapa Saya Menghafal Al-Qur’an,
.Surakarta : Daar An-Naba.
Al-Qotton, Mannaa Kholil. 1990. Mabahis fi ‘Ulumi al-Qur’an, Mansyurot al-„Ashr
al-Hadits.
As-Sirjani, Raghib. 2007. Cara Cerdas Hafal Al-Qur'an, Solo : Aqwam, cet. ke-1.
Az-Zarnuji, Syekh. T.th. Ta’lim al-Muta’allim Thoriq al-Ta’allum. Semarang: Toha
Putra.
Departemen Agama RI. T.th, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta:Toha Putra
Hasan, M. Iqbal. 2002. Pokok-Pokok Materi Metode Penelitian dan Aplikasinya,
Jakarta : Ghalia Indonesia.
Koentjaraningrat. 1996. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Sarasin.
Koordinasi TKQ-TPQ-TQA.
Muhammad, Ahsin Sakho, T.th Kiat-Kiat Menghafal Al-Qur’an, Jawa Barat : Badan
Nawabudin, Abdurrab. 1991. Teknik Menghafal Al-Qur’an, Bandung : Sinar Baru.
Noeng Muhadjir. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.

14


Qori, M. Taqiyul Islam. 1998. Cara Mudah Menghafal Al-Qur’an, Jakarta : Gema Insani.
Ramayulis. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia.
Said Abdul Adhim. 2012. Khairukum man ta’allamal Qur’an: Mafatihut Tadabbur wan Najah: Afala ya
Tadabarunal Quran: Kaifa Nafhamul Qur’an, diterj. Muhammad Amin, Nikmatnya Membaca Al-
Quran: Manfaat dan Cara Menghayati Al-Quran Sepenuh Hati, Solo: Aqwam.
Sanjaya W. 2006. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan Jakarta:
Kencana Prenada Media Group.
Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010.
Soerjono Soekanto. 1987. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Rajawali.
Sudarto. 1997. Metodologi Penelitian Filsafat, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Sudjana N. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Penerbit Alfabeta.
Suharsimi Arikunto.2002. Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka
Cipta.
Sukmadinata N.S. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suyono & Hariyanto, 2011. Belajar dan Pembelajaran, Teori dan Konsep, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Syah, Muhibbin. 2011. Psikologi Belajar. cet.XI; Jakarta: Rajawali Pers
Syarifuddin A. 2011. Ushul Fiqh 1. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Tafsir A. 2006. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Tafsir A. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ulwan, Abdullah Nasih. 1992. Pendidikan Anak menurut Islam ; Kaidah-kaidah Dasar.
Bandung.Remaja Rosda Karya

14


Yunus, Mahmud. 1990 Kamus Arab-Indonesia. Jakarta : PT. Hidakarya Agung.