Anda di halaman 1dari 40

Apa itu Skripsi ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skripsi diartikan sebagai


karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan
akademis. Buat sebagian mahasiswa, skripsi adalah sesuatu yang lumrah. Tetapi
buat sebagian mahasiswa yang lain, skripsi bisa jadi momok yang terus
menghantui dan menjadi mimpi buruk. Banyak juga yang berujar "lebih baik sakit
gigi daripada bikin skripsi".

Skripsi adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi sebagai bagian untuk
mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi inilah yang juga menjadi salah satu
pembeda antara jenjang pendidikan sarjana (S1) dan diploma (D3).

Ada beberapa syarat yang musti dipenuhi sebelum seorang mahasiswa bisa
menulis skripsi. Tiap universitas/fakultas memang mempunyai kebijakan
tersendiri, tetapi umumnya persyaratan yang harus dipenuhi hampir sama.
Misalnya, mahasiswa harus sudah memenuhi sejumlah SKS, tidak boleh ada nilai D
atau E, IP Kumulatif semester tersebut minimal 2.00, dan seterusnya. Anda
mungkin saat ini belum "berhak" untuk menulis skripsi, akan tetapi tidak ada
salahnya untuk mempersiapkan segalanya sejak awal.

Skripsi tersebut akan ditulis dan direvisi hingga mendapat persetujuan dosen
pembimbing. Setelah itu, Anda harus mempertahankan skripsi Anda di hadapan
penguji dalam ujian skripsi nantinya. Nilai Anda bisa bervariasi, dan terkadang,
bisa saja Anda harus mengulang skripsi Anda (tidak lulus).

Skripsi juga berbeda dari tesis (S2) dan disertasi (S3). Untuk disertasi,
mahasiswa S3 memang diharuskan untuk menemukan dan
menjelaskan teori baru. Sementara untuk tesis, mahasiswa bisa menemukan teori
baru atau memverikasi teori yang sudah ada dan menjelaskan dengan teori yang
sudah ada. Sementara untuk mahasiswa S1, skripsi adalah "belajar meneliti".

Jadi, skripsi memang perlu disiapkan secara serius. Akan tetapi, juga nggak perlu
disikapi sebagai mimpi buruk atau beban yang maha berat.



Miskonsepsi Tentang Skripsi
Banyak mahasiswa yang merasa bahwa skripsi hanya "ditujukan" untuk mahasiswa-
mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata. Menurut saya pribadi, penulisan
skripsi adalah kombinasi antara kemauan, kerja keras, dan relationships yang
baik. Kesuksesan dalam menulis skripsi tidak selalu sejalan dengan tingkat
kepintaran atau tinggi/rendahnya IPK mahasiswa yang bersangkutan. Seringkali
terjadi mahasiswa dengan kecerdasan rata-rata air lebih cepat menyelesaikan
skripsinya daripada mahasiswa yang di atas rata-rata.

Masalah yang juga sering terjadi adalah seringkali mahasiswa datang berbicara
ngalor ngidul dan membawa topik skripsi yang terlalu muluk. Padahal, untuk
tataran mahasiswa S1, skripsi sejatinya adalah belajar melakukan penelitian dan
menyusun laporan menurut kaidah keilmiahan yang baku. Skripsi bukan untuk
menemukan teori baru atau memberikan kontribusi ilmiah. Karenanya, untuk
mahasiswa S1 sebenarnya replikasi adalah sudah cukup.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah bahwa penelitian, secara umum,
terbagi dalam dua pendekatan yang berbeda: pendekatan saintifik dan
pendekatan naturalis. Pendekatan saintifik (scientific approach) biasanya
mempunyai struktur teori yang jelas, ada pengujian kuantitif (statistik), dan juga
menolak grounded theory. Sebaliknya, pendekatan naturalis (naturalist approach)
umumnya tidak menggunakan struktur karena bertujuan untuk menemukan teori,
hipotesis dijelaskan hanya secara implisit, lebih banyak menggunakan metode
eksploratori, dan sejalan dengan grounded theory.

Mana yang lebih baik antara kedua pendekatan tersebut? Sama saja. Pendekatan
satu dengan pendekatan lain bersifat saling melengkapi satu sama lain
(komplementer). Jadi, tidak perlu minder jika Anda mengacu pada pendekatan
yang satu, sementara teman Anda menggunakan pendekatan yang lain. Juga, tidak
perlu kuatir jika menggunakan pendekatan tertentu akan menghasilkan nilai yang
lebih baik/buruk daripada menggunakan pendekatan yang lain.





Poin-Poin Penting dalam Penyusunan Skripsi
Belajar merupakan proses kontinu/berkesinambungan yang merupakan kombinasi
antara: menguasai sesuatu yang baru, menggunakan sesuatu yang sudah dikuasai,
dan mengajarkan sesuatu yang sudah dikuasai pada orang lain.
Semua manusia pada dasarnya melakukan tiga hal di atas selama hidupnya (belajar
berjalan, membaca, berbicara, dll). Tinggal ganti `sesuatu dengan fisika/topik
fisika/bidang ilmu yang kita minati. Itu menurut saya langkah yang paling alamiah
dan wajar untuk menjadi fisikawan. Hal di atas juga tidak didikte oleh latar
belakang (umur, agama, kelamin, pendidikan, dll).

Ini beberapa point penjabaran:

* Fisika (atau ilmu apa saja) itu luaassss sekali. Orang sepintar apa pun tidak akan
pernah bisa menguasai fisika (atau bidang ilmu lainnya) semuanya. Bahkan bagian
pokoknya saja masih luas. Jadi jangan pernah khawatir kalau tidak tahu sesuatu.

* Belajar itu proses kumulatif (akumulasi) sedikit demi sedikit. Yang sering sekali
dilupakan adalah karena mempelajari sesuatu yang kecil, lantas tidak dianggap
serius. Sekecil atau semudah apa pun yang mau dipelajari, sebaiknya dipelajari
dengan baik.

* Tujuan utama BUKAN menyelesaikan problem/topik besar (saya mau buat teori
kuantum gravitasi ! Saya mau jago fisika sampai nguasai segala macam teori
medan kuantum dan kosmologi ! Nah loh !), tapi bagaimana untuk selalu bisa
menggunakan ilmu/pengetahuan yang sudah dikuasai. Tidak perlu malu atau
minder kalau pengetahuan belum banyak. Hampir selalu ada hal-hal (kadang
penting) yang bisa dilakukan dengan pengetahuan, sesedikit apa pun.

* Belajar mandiri merupakan kemampuan yang harus dimiliki. Definisi belajar
mandiri bukan berarti sendirian (single-fighter/alone): sambil pegang buku
setumpuk coba di baca semua dan diselesaikan soalnya ! Tetapi bagaimana bisa
memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Perhatikan kata kuncinya: inisiatif
sendiri ! Sumber pengetahuan banyak: buku, jurnal, internet, paper, tanya orang
lain pun termasuk, eksperimen, coba-coba, iseng-iseng, denger kebetulan di
tengah kumpul-kumpul, melihat seminar! Jadi bagaimana dengan inisiatif sendiri
kita menggunakan semua sumber pengetahuan untuk mendapatkan ilmu.


* Baca-baca-baca-baca ! Banyak sekali pengetahuan yang sudah tertulis di
buku/paper dan kita tinggal membaca. Bagaimana mencari
buku/paper/jurnal/webpage yang tepat dimana tertulis sesuatu yang kita
butuhkan, adalah seni dan teknik yang tidak mudah tapi bisa dipelajari. Tools
seperti Google saja bisa sangat membantu untuk belajar. (Terus terang, Google
adalah tempat bertanya saya yang pertama kali umumnya kalau saya ada masalah,
masalah apa saja)

* Tanya-tanya-tanya-tanya ! Kuliah itu diadakan untuk bertanya. Bahan yang
dicatat di papan tulis sebagian besar disalin dari buku (kecuali kalau yang ngasih
kuliah jago banget dan punya ilmu baru).

o Kenapa kita harus bertanya ? Karena tidak akan pernah dosen/pengajar bisa
memberikan semuanya pada murid kalau cuman dosen/pengajar sendiri yang
ngomong di kelas. Mungkin dosen/pengajar menganggap mahasiswa tahu X,
padahal mahasiswa belum tahu. Mungkin dosen/pengajar tanpa sengaja
melewatkan materi Y, padahal materi Y penting, dan baru setelah ada yang tanya
tentang materi Y, sang dosen/pengajar sadar (Oh iya, saya lupa tentang Y, kuliah
berikut kita bahas). Mungkin tanya saja, adalah hak anda untuk bertanya, meski
belum tentu dijawab.
o Di Indonesia, yang satu ini sudah budaya mengakar: orang sulit bertanya. Thats
really bad. Akibat yang paling buruk karena orang jarang/tidak pernah bertanya:
orang tidak tahu bagaimana cara bertanya ! Padalah pertanyaan adalah kunci
mencari pengetahuan, baik pengetahuan baru atau lama.
o Komunikasi dan interaksi adalah kunci pengajaran, pembelajaran, dan
penyebaran ilmu.
* Terkait soal sebelumnya: karena orang tidak tahu bagaimana bertanya, orang
tidak bisa membedakan antara bertanya dan meminta orang lain untuk
mengerjakan perkerjaannya. Itu 2 hal yang berbeda, tapi tipis. Mula-mula kalau
anda baru belajar untuk bertanya (iya, tidak tahu bagaimana memformulasi
pertanyaan, jadi belajar bertanya), anda mungkin tidak tahu bedanya. Tapi kalau
sudah biasa bertanya (dan menjawab pertanyaan orang lain tentunya), anda akan
tahu, bedanya di mana. Anda bisa mengenali: Oh si A itu cuman malas doank, dia
nggak mau kerja. Oh si B itu dia ingin tahu, kalau sudah diberitahu dia akan coba
dan kerjakan sendiri.



Ketidakbisaan membedakan 2 hal di atas itu buruk sekali. Itu memicu kemalasan
di satu pihak yang pemalas (merasa dia bertanya, padahal dia minta orang lain
ngerjakan kerjaanya), dan juga memicu keseganan untuk bertanya di pihak yang
rajin (merasa takut kalau pertanyaan dia dianggap malas, padahal dia memang
ingin bertanya). Dua-duanya kontraproduktif untuk perkembangan ilmu.
* Tulis-tulis-tulis. Dulu saya malas nyatat dan nulis, tapi itu ternyata salah. Otak
saya terbatas kapasitasnya dan gampang lupa, jadi mendingan ditulis. Kalau anda
punya ide/pikiran atau apa, tulis. Tidak perlu rapi sekali asal jelas, tapi tulis.
Sebab siapa tahu ide/pikiran anda ternyata berguna kemudian. Kalau ada masalah,
tulis masalahnya. Kalau nemu buku/paper bagus, tulis siapa pengarangnya. Kalau
ketemu orang atau siapa yang kira-kira pintar dan baik dan bisa ditanya, tulis
email/alamatnya. Tulis-simpan-baca-lagi.

* Jangan dikira hanya ada 1 metode atau cara dalam fisika/ilmu. Ada kisah
tentang seorang dosen yang ngasih PR tentang medan magnet dari suatu
rangkaian listrik. Dari seluruh anak di kelas, hanya ada 1 yang bisa mengerjakan.
Kok bisa ? Ternyata problem itu tidak mudah untuk diselesaikan secara analitik
(diturunkan atau pakai integral atau apa), tapi rangkaian listrik itu bisa dibikin di
lab elektronik, dan medan magnetnya bisa diukur ! Satu anak yang dapet jawaban
adalah orang yang pergi ke lab dan membuat rangkaiannya di lab, lalu mengukur.

Fisikawan menggunakan segala macam cara dalam riset: Belajar merupakan proses
kontinu/berkesinambungan yang merupakan kombinasi antara: menguasai sesuatu
yang baru, menggunakan sesuatu yang sudah dikuasai, dan mengajarkan sesuatu
yang sudah dikuasai pada orang lain.
Semua manusia pada dasarnya melakukan tiga hal di atas selama hidupnya (belajar
berjalan, membaca, berbicara, dll). Tinggal ganti `sesuatu dengan fisika/topik
fisika/bidang ilmu yang kita minati. Itu menurut saya langkah yang paling alamiah
dan wajar untuk menjadi fisikawan. Hal di atas juga tidak didikte oleh latar
belakang (umur, agama, kelamin, pendidikan, dll).

Ini beberapa point penjabaran:

* Fisika (atau ilmu apa saja) itu luaassss sekali. Orang sepintar apa pun tidak akan
pernah bisa menguasai fisika (atau bidang ilmu lainnya) semuanya. Bahkan bagian
pokoknya saja masih luas. Jadi jangan pernah khawatir kalau tidak tahu sesuatu.


* Belajar itu proses kumulatif (akumulasi) sedikit demi sedikit. Yang sering sekali
dilupakan adalah karena mempelajari sesuatu yang kecil, lantas tidak dianggap
serius. Sekecil atau semudah apa pun yang mau dipelajari, sebaiknya dipelajari
dengan baik.

* Tujuan utama BUKAN menyelesaikan problem/topik besar (saya mau buat teori
kuantum gravitasi ! Saya mau jago fisika sampai nguasai segala macam teori
medan kuantum dan kosmologi ! Nah loh !), tapi bagaimana untuk selalu bisa
menggunakan ilmu/pengetahuan yang sudah dikuasai. Tidak perlu malu atau
minder kalau pengetahuan belum banyak. Hampir selalu ada hal-hal (kadang
penting) yang bisa dilakukan dengan pengetahuan, sesedikit apa pun.

* Belajar mandiri merupakan kemampuan yang harus dimiliki. Definisi belajar
mandiri bukan berarti sendirian (single-fighter/alone): sambil pegang buku
setumpuk coba di baca semua dan diselesaikan soalnya ! Tetapi bagaimana bisa
memperoleh pengetahuan atas inisiatif sendiri. Perhatikan kata kuncinya: inisiatif
sendiri ! Sumber pengetahuan banyak: buku, jurnal, internet, paper, tanya orang
lain pun termasuk, eksperimen, coba-coba, iseng-iseng, denger kebetulan di
tengah kumpul-kumpul, melihat seminar! Jadi bagaimana dengan inisiatif sendiri
kita menggunakan semua sumber pengetahuan untuk mendapatkan ilmu.

* Baca-baca-baca-baca ! Banyak sekali pengetahuan yang sudah tertulis di
buku/paper dan kita tinggal membaca. Bagaimana mencari
buku/paper/jurnal/webpage yang tepat dimana tertulis sesuatu yang kita
butuhkan, adalah seni dan teknik yang tidak mudah tapi bisa dipelajari. Tools
seperti Google saja bisa sangat membantu untuk belajar. (Terus terang, Google
adalah tempat bertanya saya yang pertama kali umumnya kalau saya ada masalah,
masalah apa saja)

* Tanya-tanya-tanya-tanya ! Kuliah itu diadakan untuk bertanya. Bahan yang
dicatat di papan tulis sebagian besar disalin dari buku (kecuali kalau yang ngasih
kuliah jago banget dan punya ilmu baru).

o Kenapa kita harus bertanya ? Karena tidak akan pernah dosen/pengajar bisa
memberikan semuanya pada murid kalau cuman dosen/pengajar sendiri yang
ngomong di kelas. Mungkin dosen/pengajar menganggap mahasiswa tahu X,
padahal mahasiswa belum tahu. Mungkin dosen/pengajar tanpa sengaja
melewatkan materi Y, padahal materi Y penting, dan baru setelah ada yang tanya
tentang materi Y, sang dosen/pengajar sadar (Oh iya, saya lupa tentang Y, kuliah
berikut kita bahas). Mungkin tanya saja, adalah hak anda untuk bertanya, meski
belum tentu dijawab.
o Di Indonesia, yang satu ini sudah budaya mengakar: orang sulit bertanya. Thats
really bad. Akibat yang paling buruk karena orang jarang/tidak pernah bertanya:
orang tidak tahu bagaimana cara bertanya ! Padalah pertanyaan adalah kunci
mencari pengetahuan, baik pengetahuan baru atau lama.
o Komunikasi dan interaksi adalah kunci pengajaran, pembelajaran, dan
penyebaran ilmu.
* Terkait soal sebelumnya: karena orang tidak tahu bagaimana bertanya, orang
tidak bisa membedakan antara bertanya dan meminta orang lain untuk
mengerjakan perkerjaannya. Itu 2 hal yang berbeda, tapi tipis. Mula-mula kalau
anda baru belajar untuk bertanya (iya, tidak tahu bagaimana memformulasi
pertanyaan, jadi belajar bertanya), anda mungkin tidak tahu bedanya. Tapi kalau
sudah biasa bertanya (dan menjawab pertanyaan orang lain tentunya), anda akan
tahu, bedanya di mana. Anda bisa mengenali: Oh si A itu cuman malas doank, dia
nggak mau kerja. Oh si B itu dia ingin tahu, kalau sudah diberitahu dia akan coba
dan kerjakan sendiri.

Ketidakbisaan membedakan 2 hal di atas itu buruk sekali. Itu memicu kemalasan
di satu pihak yang pemalas (merasa dia bertanya, padahal dia minta orang lain
ngerjakan kerjaanya), dan juga memicu keseganan untuk bertanya di pihak yang
rajin (merasa takut kalau pertanyaan dia dianggap malas, padahal dia memang
ingin bertanya). Dua-duanya kontraproduktif untuk perkembangan ilmu.
* Tulis-tulis-tulis. Dulu saya malas nyatat dan nulis, tapi itu ternyata salah. Otak
saya terbatas kapasitasnya dan gampang lupa, jadi mendingan ditulis. Kalau anda
punya ide/pikiran atau apa, tulis. Tidak perlu rapi sekali asal jelas, tapi tulis.
Sebab siapa tahu ide/pikiran anda ternyata berguna kemudian. Kalau ada masalah,
tulis masalahnya. Kalau nemu buku/paper bagus, tulis siapa pengarangnya. Kalau
ketemu orang atau siapa yang kira-kira pintar dan baik dan bisa ditanya, tulis
email/alamatnya. Tulis-simpan-baca-lagi.

* Jangan dikira hanya ada 1 metode atau cara dalam fisika/ilmu. Ada kisah
tentang seorang dosen yang ngasih PR tentang medan magnet dari suatu
rangkaian listrik. Dari seluruh anak di kelas, hanya ada 1 yang bisa mengerjakan.
Kok bisa ? Ternyata problem itu tidak mudah untuk diselesaikan secara analitik
(diturunkan atau pakai integral atau apa), tapi rangkaian listrik itu bisa dibikin di
lab elektronik, dan medan magnetnya bisa diukur ! Satu anak yang dapet jawaban
adalah orang yang pergi ke lab dan membuat rangkaiannya di lab, lalu mengukur.

Fisikawan menggunakan segala macam cara dalam cara-cara yang mungkin tidak
terbayang kalau kita masih baru, tapi ternyata sahih dari segi prinsip ilmiah.
* Jebakan/pitfall/trap dalam belajar atau kerja di fisika (serta bidang ilmu
lainnya) itu banyak. Tidak semua textbook/paper (seterkenal apa pun
pengarangnya) itu bagus dan benar. Tidak semua orang yang kerja di fisika itu
tahu fisika dengan benar (ini fakta - but life goes on). Dan hanya anda sendiri
yang bisa mencegah jatuh ke dalam jebakan tsb, dengan selalu bersikap kritis,
terbuka, dan ingin tahu. Saya sudah terjebak teksbook/penjelasan yang kurang
bagus, konsep/ide yang salah/kurang tepat, kata-kata atau pendapat orang lain
yang ternyata salah berkali-kali jadi kalau kelak anda mengalami nasib serupa
jangan patah semangat - semua orang bisa jadi mengalami hal sama.

Dunia fisika, misalnya, tidak se-innocent dan se-polos dan se-ideal dugaan anda.
(Wah, fisika/fisikawan itu idealis yah .. wah salah besar ini). Meng-idealisasi
fisika sejak awal adalah kesalahan fatal !
* Jangan takut salah ! Terutama bagi yang sudah senior atau apa, karena takut
tampak bodoh di depan murid. Lebih baik bilang tidak tahu daripada sok tahu !
Dengan sendirinya, juga jangan menyalahkan/mencela orang lain kalau orang lain
tidak tahu, tapi bantu !

* Luangkan waktu untuk mengajarkan apa yang sudah anda ketahui, dan menjawab
pertanyaan orang lain. Setiap orang yang bekerja dalam bidang ilmu adalah juga
pengajar (meskipun ybs tidak berprofesi sebagai guru atau profesor). Beberapa
hal positif dari menjawab pertanyaan: menyegarkan kembali pengetahuan di otak,
memberi saya cara pandang baru pada suatu masalah, memberi saya petunjuk dan
kesempatan menemukan jebakan/pitfall/trap terkait point 10 di atas, dan dengan
sendiri-nya solusi untuk jebakan/pitfall/trap tsb. Di tempat saya bekerja, dimana
ada 500 lebih orang (profesor, staf riset di lab, insinyur dan teknisi, dan
mahasiswa Ph.D.), bertanya dan menjawab pertanyaan adalah kebiasaan sehari-
hari semua orang, tidak hanya yang masih baru atau junior. Besar sekali
kemungkinannya bahwa situasi serupa akan juga ditemukan di tempat-tempat lain
di mana kegiatan riset dan akademiknya maju.

* Terakhir: Jangan percaya 100 persen pada pendapat/pikiran orang lain sebelum
dibaca/dipikirkan/dan dicoba sendiri. Termasuk kata-kata saya di atas. Coba
sendiri dan buktikan apakah kata-kata saya benar atau salah. Kalau benar ya
berarti good news, kalau salah berarti saya harus perbaiki. Practice ! Experiment
! Just try it !

Tahap-Tahap Persiapan dalam Menyusun Skripsi
Kalau Anda beruntung, bisa saja dosen pembimbing sudah memiliki topik dan
menawarkan judul skripsi ke Anda. Biasanya, dalam hal ini dosen pembimbing
sedang terlibat dalam proyek penelitian dan Anda akan "ditarik" masuk ke
dalamnya. Kalau sudah begini, penulisan skripsi jauh lebih mudah dan (dijamin)
lancar karena segalanya akan dibantu dan disiapkan oleh dosen pembimbing.

Sayangnya, kebanyakan mahasiswa tidak memiliki keberuntungan semacam itu.
Mayoritas mahasiswa, seperti ditulis sebelumnya, harus bersikap proaktif sedari
awal. Jadi, persiapan sedari awal adalah sesuatu yang mutlak diperlukan.

Idealnya, skripsi disiapkan satu-dua semester sebelum waktu terjadwal. Satu
semester tersebut bisa dilakukan untuk mencari referensi, mengumpulkan bahan,
memilih topik dan alternatif topik, hingga menyusun proposal dan melakukan
bimbingan informal.

Dalam mencari referensi/bahan acuan, pilih jurnal/paper yang mengandung unsur
kekinian dan diterbitkan oleh jurnal yang terakreditasi. Jurnal-jurnal top
berbahasa asing juga bisa menjadi pilihan. Kalau Anda mereplikasi jurnal/paper
yang berkelas, maka bisa dipastikan skripsi Anda pun akan cukup berkualitas.

Unsur kekinian juga perlu diperhatikan. Pertama, topik-topik baru lebih disukai
dan lebih menarik, bahkan bagi dosen pembimbing/penguji. Kalau Anda
mereplikasi topik-topik lawas, penguji biasanya sudah "hafal di luar kepala"
sehingga akan sangat mudah untuk menjatuhkan Anda pada ujian skripsi nantinya.

Kedua, jurnal/paper yang terbit dalam waktu 10 tahun terakhir, biasanya
mengacu pada referensi yang terbit 5-10 tahun sebelumnya. Percayalah bahwa
mencari dan menelusur referensi yang terbit tahun sepuluh-dua puluh tahun
terakhir jauh lebih mudah daripada melacak referensi yang bertahun 1970-1980.

Salah satu tahap persiapan yang penting adalah penulisan proposal. Tentu saja
proposal tidak selalu harus ditulis secara "baku". Bisa saja ditulis secara garis
besar (pointer) saja untuk direvisi kemudian. Proposal ini akan menjadi guidance
Anda selama penulisan skripsi agar tidak terlalu keluar jalur nantinya. Proposal
juga bisa menjadi alat bantu yang akan digunakan ketika Anda mengajukan
topik/judul kepada dosen pembimbing Anda. Proposal yang bagus bisa menjadi
indikator yang baik bahwa Anda adalah mahasiswa yang serius dan benar-benar
berkomitmen untuk menyelesaikan skripsi dengan baik.

Format Skripsi yang Benar
Biasanya, setiap fakultas/universitas sudah menerbitkan acuan/pedoman
penulisan hasil penelitian yang baku. Mulai dari penyusunan konten, tebal halaman,
jenis kertas dan sampul, hingga ukuran/jenis huruf dan spasi yang digunakan.
Akan tetapi, secara umum format hasil penelitian dibagi ke dalam beberapa
bagian sebagai berikut.

Pendahuluan. Bagian pertama ini menjelaskan tentang isu penelitian, motivasi yang
melandasi penelitian tersebut dilakukan, tujuan yang diharapkan dapat tercapai
melalui penelitian ini, dan kontribusi yang akan diberikan dari penelitian ini.

Pengkajian Teori & Pengembangan Hipotesis. Setelah latar belakang penelitian
dipaparkan jelas di bab pertama, kemudian dilanjutkan dengan kaji teori dan
pengembangan hipotesis. Pastikan bahwa bagian ini align juga dengan bagian
sebelumnya. Mengingat banyak juga mahasiswa yang gagal menyusun alignment
ini. Akibatnya, skripsinya terasa kurang make sense dan nggak nyambung.

Metodologi Penelitian. Berisi penjelasan tentang data yang digunakan, pemodelan
empiris yang dipakai, tipe dan rancangan sampel, bagaimana menyeleksi data dan
karakter data yang digunakan, model penelitian yang diacu, dan sebagainya.

Hasil Penelitian. Bagian ini memaparkan hasil pengujian hipotesis, biasanya
meliputi hasil pengolahan secara statistik, pengujian validitas dan reliabilitas, dan
diterima/tidaknya hipotesis yang diajukan.

Penutup. Berisi ringkasan, simpulan, diskusi, keterbatasan, dan saran. Hasil
penelitian harus disarikan dan didiskusikan mengapa hasil yang diperoleh begini
dan begitu. Anda juga harus menyimpulkan keberhasilan tujuan riset yang dapat
dicapai, manakah hipotesis yang didukung/ditolak, keterbatasan apa saja yang
mengganggu, juga saran-saran untuk penelitian mendatang akibat dari
keterbatasan yang dijumpai pada penelitian ini.
Jangan lupa untuk melakukan proof-reading dan peer-review. Proof-reading
dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan tulis (typo) maupun
ketidaksesuaian tata letak penulisan skripsi. Peer-review dilakukan untuk
mendapatkan second opinion dari pihak lain yang kompeten. Bisa melalui dosen
yang Anda kenal baik (meski bukan dosen pembimbing Anda), kakak kelas/senior
Anda, teman-teman Anda yang dirasa kompeten, atau keluarga/orang tua (apabila
latar belakang pendidikannya serupa dengan Anda).

Beberapa Kesalahan Pemula dalam Penyusunan Skripsi
Ketidakjelasan Isu. Isu adalah titik awal sebelum melakukan penelitian. Isu
seharusnya singkat, jelas, padat, dan mudah dipahami. Isu harus menjelaskan
tentang permasalahan, peluang, dan fenomena yang diuji. Faktanya, banyak
mahasiswa yang menuliskan isu (atau latar belakang) berlembar-lembar, tetapi
sama sekali sulit untuk dipahami.

Tujuan Riset & Tujuan Periset. Tidak jarang mahasiswa menulis sebagai salah
satu syarat untuk mencapai gelar kesarjanaan sebagai tujuan risetnya. Hal ini
adalah kesalahan fatal. Tujuan riset adalah menguji, mengobservasi, atau
meneliti fenomena dan permasalahan yang terjadi, bukan untuk mendapatkan
gelar S1.

Bab I: Bagian Terpenting. Banyak mahasiswa yang mengira bahwa bagian
terpenting dari sebuah skripsi adalah bagian pengujian hipotesis. Banyak yang
menderita sindrom ketakutan jika nantinya hipotesis yang diajukan ternyata
salah atau ditolak. Padahal, menurut saya, bagian terpenting skripsi adalah Bab I.
Logikanya, kalau isu, motivasi, tujuan, dan kontribusi riset bisa dijelaskan secara
runtut, biasanya bab-bab berikutnya akan mengikuti dengan sendirinya. (baca
juga: Joint Hypotheses)

Padding. Ini adalah fenomena yang sangat sering terjadi. Banyak mahasiswa yang
menuliskan terlalu banyak sumber acuan dalam daftar pustaka, walaupun
sebenarnya mahasiswa yang bersangkutan hanya menggunakan satu-dua sumber
saja. Sebaliknya, banyak juga mahasiswa yang menggunakan beragam acuan dalam
skripsinya, tetapi ketika ditelusur ternyata tidak ditemukan dalam daftar acuan.



Joint Hypotheses. Menurut pendekatan saintifik, pengujian hipotesis adalah
kombinasi antara fenomena yang diuji dan metode yang digunakan. Dalam
melakukan penelitian ingatlah selalu bahwa fenomena yang diuji adalah sesuatu
yang menarik dan memungkinkan untuk diuji. Begitu pula dengan metode yang
digunakan, haruslah metode yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah. Kalau keduanya terpenuhi, yakinlah bahwa skripsi Anda akan outstanding.
Sebaliknya, kalau Anda gagal memenuhi salah satu (atau keduanya), bersiaplah
untuk dibantai dan dicecar habis-habisan.

Keterbatasan & Kemalasan. Mahasiswa sering tidak bisa membedakan antara
keterbatasan riset dan kemalasan riset. Keterbatasan adalah sesuatu hal yang
terpaksa tidak dapat terpenuhi (atau tidak dapat dilakukan) karena situasi dan
kondisi yang ada. Bukan karena kemalasan periset, ketiadaan dana, atau
sempitnya waktu.

Kontribusi Riset. Ini penting (terutama) jika penelitian Anda ditujukan untuk
menarik sponsor atau dibiayai dengan dana pihak sponsor. Kontribusi riset
selayaknya dijelaskan dengan lugas dan gamblang, termasuk pihak mana saja yang
akan mendapatkan manfaat dari penelitian ini, apa korelasinya dengan penelitian
yang sedang dilakukan, dan seterusnya. Kegagalan dalam menjelaskan kontribusi
riset akan berujung pada kegagalan mendapatkan dana sponsor.
Menghadapi Ujian Skripsi

Benar. Banyak mahasiswa yang benar-benar takut menghadapi ujian skripsi (oral
examination). Terlebih lagi, banyak mahasiswa terpilih yang jenius tetapi
ternyata gagal dalam menghadapi ujian pendadaran. Di dalam ruang ujian sendiri
tidak jarang mahasiswa mengalami ketakutan, grogi, gemetar, berkeringat, yang
pada akhirnya menggagalkan ujian yang harus dihadapi.

Setelah menulis skripsi, Anda memang harus mempertahankannya di hadapan
dewan penguji. Biasanya dewan penguji terdiri dari satu ketua penguji dan
beberapa anggota penguji. Lulus tidaknya Anda dan berapa nilai yang akan Anda
peroleh adalah akumulasi dari skor yang diberikan oleh masing-masing penguji.
Tiap penguji secara bergantian (terkadang juga keroyokan) akan menanyai Anda
tentang skripsi yang sudah Anda buat. Waktu yang diberikan biasanya berkisar
antara 30 menit hingga 1 jam.

Ujian skripsi kadang diikuti juga dengan ujian komprehensif yang akan menguji
sejauh mana pemahaman Anda akan bidang yang selama ini Anda pelajari. Tentu
saja tidak semua mata kuliah diujikan, melainkan hanya mata kuliah inti (core
courses) saja dengan beberapa pertanyaan yang spesifik, baik konseptual maupun
teknis.

Grogi, cemas, kuatir itu wajar dan manusiawi. Akan tetapi, ujian skripsi
sebaiknya tidak perlu disikapi sebagai sesuatu yang terlalu menakutkan. Ujian
skripsi adalah konfirmasi atas apa yang sudah Anda lakukan. Kalau Anda
melakukan sendiri penelitian Anda, tahu betul apa yang Anda lakukan, dan tidak
grogi di ruang ujian, bisa dipastikan Anda akan perform well.

Cara terbaik untuk menghadapi ujian skripsi adalah Anda harus tahu betul apa
yang Anda lakukan dan apa yang Anda teliti. Siapkan untuk melakukan presentasi.
Akan tetapi, tidak perlu Anda paparkan semuanya secara lengkap. Buatlah
lubang jebakan agar penguji nantinya akan menanyakan pada titik tersebut.
Tentu saja, Anda harus siapkan jawabannya dengan baik. Dengan begitu Anda
akan tampak outstanding di hadapan dewan penguji.

Juga, ada baiknya beberapa malam sebelum ujian, digiatkan untuk berdoa atau
menjalankan sholat tahajud di malam hari. Klise memang. Tapi benar-benar
sangat membantu.

Jujur saja, saya (dulu) menyelesaikan skripsi dalam tempo 4 minggu tanpa ada
kendala dan kesulitan yang berarti. Dosen pembimbing saya adalah seorang
professor dengan jam terbang sangat tinggi. Selama berada dalam ruang ujian,
kami lebih banyak berbicara santai sembari sesekali tertawa. Dan Alhamdulillah
saya mendapat nilai A.

Bukan. Bukan saya bermaksud sombong, tetapi hanya untuk memotivasi Anda.
Kalau saya bisa, seharusnya Anda sekalian pun bisa.

Kiat memilih Dosen pembimbing
Dosen pembimbing (academic advisor) adalah vital karena nasib Anda benar-
benar berada di tangannya. Memang benar bahwa dosen pembimbing bertugas
mendampingi Anda selama penulisan skripsi. Akan tetapi, pada prakteknya ada
dosen pembimbing yang "benar-benar membimbing" skripsi Anda dengan intens.
Ada pula yang membimbing Anda dengan "melepas" dan memberi Anda
kebebasan. Mempelajari dan menyesuaikan diri dengan dosen pembimbing adalah
salah satu elemen penting yang mendukung kesuksesan Anda dalam menyusun
skripsi.

Tiap universitas/fakultas mempunyai kebijakan tersendiri soal dosen
pembimbing ini. Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing yang Anda inginkan.
Tapi ada juga universitas/fakultas yang memilihkan dosen pembimbing buat
Anda. Tentu saja lebih "enak" kalau Anda bisa memilih sendiri dosen pembimbing
untuk skripsi Anda.

Lalu, bagaimana memilih dosen pembimbing yang benar-benar tepat?

Secara garis besar, dosen bisa dikategorikan sebagai: (1) Dosen senior, dan (2)
Dosen junior. Dosen senior umumnya berusia di atas 40-an tahun, setidaknya
bergelar doktor (atau professor), dengan jam terbang yang cukup tinggi.
Sebaliknya, dosen junior biasanya berusia di bawah 40 tahun, umumnya masih
bergelar master, dan masih gampang dijumpai di lingkungan kampus.

Tentu saja, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Sebagai contoh, kalau Anda memilih dosen pembimbing senior, biasanya Anda
akan mengalami kesulitan sebagai berikut:

* Proses bimbingan cukup sulit, karena umumnya dosen senior sangat
perfeksionis.
* Anda akan kesulitan untuk bertemu muka karena umumnya dosen senior
memiliki jam terbang tinggi dan jadwal yang sangat padat.

Tapi, keuntungannya:

* Kualitas skripsi Anda, secara umum, akan lebih memukau daripada rekan Anda.
* Anda akan "tertolong" saat ujian skripsi/pendadaran, karena dosen penguji lain
(yang kemungkinan masih junior/baru bergelar master) akan merasa sungkan
untuk "membantai" Anda.
* Dalam beberapa kasus, bisa dipastikan Anda akan mendapat nilai A.




Sebaliknya, kalau Anda memilih dosen pembimbing junior, maka Anda akan lebih
mudah selama proses bimbingan. Dosen Anda akan mudah dijumpai di lingkungan
kampus karena jam terbangnya belum terlalu tinggi. Dosen muda umumnya juga
tidak "jaim" dan "tidak sok" kepada mahasiswanya.

Tapi, kerugiannya, Anda akan agak "sendirian" ketika menghadapi ujian skripsi.
Kalau dosen penguji lain lebih senior daripada dosen pembimbing Anda, bisa
dipastikan Anda akan "dihajar" cukup telak. Dan dosen pembimbing Anda tidak
berada dalam posisi yang bisa membantu/membela Anda.

Jadi, hati-hati juga dalam memilih dosen pembimbing.

Tips dan Trik Ujian Pendadaran
Ujian pendadaran atau sidang pendadaran adalah ujian akhir dari tahap studi
seorang mahasiswa. Baik S1, S2 maupun S3, sidang pengujian sudah menjadi
sesuatu yang lazim. Ujian pendadaran diperlukan untuk mengetahui apakah
seseorang dianggap memiliki kapabilitas yang cukup, sehingga ia layak
memperoleh gelar Sarjana, Master, atau Doktor. Bagi sebagian orang, ujian
pendadaran dianggap sebagai sebuah momok yang menakutkan. Benarkah
demikian ? Tentu bila kita tahu tips-tipsnya, ujian pendadaran tidak seseram
yang kita bayangkan.

Musim ini lagi musim pendadaran di kampus UGM untuk periode wisuda
November 2007. Beberapa teman sempat bertanya kepada saya tentang tips-
tips biar sukses pendadaran. Hmm..ada-ada aja deh nanyanya ? Emangnya SPMB
? Nggak banyak sih, tapi muga-muga bisa membantu teman-teman yang akan
pendadaran Desember atau Januari (untuk periode wisuda Februari di UGM)
atau periode wisuda 2008 untuk universitas lainnya. Ini dia :

1. Pastikan kita mendapatkan dukungan penuh dari dosen pembimbing. Caranya,
sering-sering aja ngobrol tentang skripsi dan konsultasikan materi yang mungkin
diujikan. Kalau perlu, tanpa harus menyebut langsung, gunakan kata-kata ini,
Kira-kira yang perlu saya perhatikan pas ujian pendadaran nanti dari materi ini
apa, pak ? Dijamin, dosen pembimbing Anda pasti akan memberikan penjelasan
yang bisa jadi adalah kisi-kisi hasil conference mereka dengan calon penguji
Anda. Oya, lakukan ini saat mendekati ujian pendadaran, 5 atau 4 hari sebelum
ujian.
2. Jujurlah dengan dosen pembimbing tentang materi slide dan demo Anda. Kalau
perlu, kirimkan via email slide materi yang akan Anda tampilkan dan mintalah
pendapat dari dosen pembimbing Anda. Itu kalau mereka rajian mainan internet.
Kalau tidak, cukup presentasi saja di depan mereka dan mintalah pendapat
mereka tentang slide Anda.

3. Siapkan dan kuasai semua yang berhubungan dengan naskah skripsi Anda.
Buatlah slide notes (poin yang akan dibicarakan) untuk tiap-tiap slide. Buat
seringkas dan sepadat mungkin. Slide akan lebih berkesan apabila Anda banyak
menampilkan gambar atau bagan dan Anda fasih menerangkannya dengan bahasa
Anda. Jangan copy paste naskah makalah langsung ke slide Anda, karena slide
bukan untuk menampilkan naskah, tapi intisari naskah Anda. Siapkan juga
beberapa kemungkinan pertanyaan dan jawaban yang mungkin muncul dari materi
tugas akhir Anda.

4. Siapkan demo Anda sebaik mungkin, kalau perlu gladi resik sebelum
pendadaran. Beberapa teman saya yang memanfaatkan koneksi wireless harus
begadang untuk memastikan koneksi di kampus lancar dan tidak bermasalah.
Kalau perlu, buatlah backup demo (apabila Anda melakukannya dengan komputer)
melalui capture video dengan software semacam Camtasia atau yang sejenis.
Pastikan tidak ada kesalahan sekecil apapun saat Anda melakukan demo alat /
perangkat lunak di saat sidang pendadaran.

5. Bawa semua alat peraga yang mungkin perlu, termasuk berkas-berkas dan buku
pendukung yang Anda butuhkan untuk menjelaskan teori Anda, apabila
diperlukan. Kalau perlu, bawalah pointer infra merah yang memudahkan
presentasi Anda.

6. Pastikan Anda mempersiapkan pakaian pendadaran (biasanya pakaian resmi
dengan dasi) dua hari sebelum pendadaran.

7. Pastikan Anda mempresentasikan tugas akhir Anda dengan tegas, perlahan-
lahan tapi jelas. Hindari kata-kata yang mengandung asumsi dan keragu-
raguan, seperti kata : mungkin, barangkali, dan sebagainya. Gantilah dengan
kata-kata : sejauh pemahaman saya, sejauh yang saya ketahui. Kata-kata yang
menimbulkan penafsiran keragu-raguan adalah peluang emas bagi dosen penguji
untuk memberikan pertanyaan yang mematikan.

8. Berusahalah tampil dengan mimik wajah seramah mungkin. Sejelek apapun,
atau setampan apapun Anda, tanpa senyuman tidak akan menimbulkan kesan yang
menyejukkan hati.

9. Perhatikan dengan benar pertanyaan dan pernyataan dari penguji Anda. Jawab
seperlunya saja dan katakan tidak tahu apabila Anda benar-benar tidak tahu
jawaban dari pertanyaan yang dirasa sangat sulit. Lebih baik menjawab jujur
daripada berpura-pura bohong untuk menutupi kebodohan. Pengalaman saya, bila
kita berpura-pura tahu, padahal tidak tahu, dosen akan menyadarinya dan akan
memberi pertanyaan susulan yang akan menyulitkan kita.

Apabila penguji memberikan kritikan atau saran, terima saja dan catatlah saran-
saran tersebut pada kertas. Keseriusan kita menanggapi saran penguji
memberikan nilai lebih pada approachment (penampilan) kita saat pendadaran.

10. Sebelum menjawab pertanyaan, ucapkan terima kasih kepada penguji atas
pertanyaan mereka.

11. Jangan lupa berdoa sebelum ujian dan yakinlah bahwa Allah SWT memberikan
hasil yang terbaik sesuai dengan ikhtiar kita.

Oke, mungkin itu dulu deh tips dan trik pendadaran. Good luck buat teman-teman
yang akan pendadaran dan berdoalah semoga ilmu kita bermanfaat untuk orang
lain.

Pasca Ujian Skripsi
Banyak yang mengira, setelah ujian skripsi segalanya selesai. Tinggal revisi,
bawa ke tukang jilid/fotokopi, urus administrasi, daftar wisuda, lalu traktir
makan teman-teman. Memang benar. Setelah Anda dinyatakan lulus ujian skripsi,
Anda sudah berhak menyandang gelar sarjana yang selama ini Anda inginkan.

Faktanya, lulus ujian skripsi saja sebenarnya belum terlalu cukup. Sebenarnya
Anda bisa melakukan lebih jauh lagi dengan skripsi Anda. Caranya?

Cara paling gampang adalah memodifikasi dan memperbaiki skripsi Anda untuk
kemudian dikirimkan pada media/jurnal publikasi. Cara lain, kalau Anda memang
ingin serius terjun di dunia ilmiah, lanjutkan dan kembangkan saja
penelitian/skripsi Anda untuk jenjang S2 atau S3. Dengan demikian, kelak akan
semakin banyak penelitian dan publikasi yang mudah-mudahan bisa memberi
manfaat bagi bangsa ini.

Bukan apa-apa, saya cuma ingin agar bangsa ini bisa lebih cerdas dan arif dalam
menciptakan serta mengelola pengetahuan. Sekarang mungkin kita memang
tertinggal dari bangsa lain. Akan tetapi, dengan melakukan penelitian, membuat
publikasi, dan seterusnya, bangsa ini bisa cepat bangkit mengejar ketertinggalan.

Proposal Penelitian Pengembangan
Kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk
memecahkan masalah-masalah aktual. Dalam hal ini, kegiatan pengembangan
ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau
temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah.

Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan
menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan
disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, karena karakteristik kegiatan
pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda.

Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya mencari jawaban terhadap suatu
permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan
atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan

Format Proposal Penelitian Pengembangan

1. Latar Belakang Masalah
Latar belakang masalah mengungkapkan konteks pengembangan projek dalam
masalah yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, uraian perlu diawali dengan
identifikasi kesenjangan-kesenjangan yang ada antara kondisi nyata dengan
kondisi ideal, serta dampak yang ditimbulkanoleh kesenjangan-kesenjangan itu.
Berbagai alternatif untuk mengatasi kesenjangan itu perlu dipaparkan secara
singkat disertai dengan identifikasi faktor penghambat dan pendukungnya.
Alternatif yang ditawarkan sebagai pemecah masalah beserta rasionalnya
dikemukakan pada bagian akhir dari paparan latar belakang masalah.


2. Rumusan Masalah
Sebagai penegasan dari apa yang telah dibahas dalam latar belakang masalah,
pada bagian ini perlu dikemukakan rumusan spesifik dari masalah yang hendak
dipecahkan. Rumusan masalah pengembangan projek hendaknya dikemukakan
secara singkat, padat, jelas, dan diungkapkan dengan kalimat pernyataan, bukan
dalam bentuk kalimat pertanyaan seperti dalam rumusan masalah penelitian.
Rumusan masalah hendaknya disertai dengan alternatif pemecahan yang
ditawarkan serta rasional mengapa alternatif itu yang dipilih sebagai cara
pemecahan yang paling tepat terhadap masalah yang ada.

3. Tujuan Pengembangan
Tujuan pengembangan dirumuskan bertolak dari masalah yang ingin dipecahkan
dengan menggunakan alternatif yang telah dipilih. Arahkan rumusan tujuan
pengembangan ke pencapaian kondisi ideal seperti yang telah diuraikan dalam
latar belakang masalah.

4. Spesifikasi Produk yang Diharapkan
Bagian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran lengkap tentang
karakteristik produk yang diharapkan dari kegiatan pengembangan. Karakteristik
produk mencakup semua identitas penting yang dapat digunakan untuk
membedakan satu produk dengan produk lain-nya.

Produk yang dimaksud dapat berupa kurikulum, modul, paket pembelajaran, buku
teks, alat evaluasi, model, atau produk lain yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah-masalah pelatihan, pembelajaran, atau pendidikan. Setiap
produk memiliki spesifikasi yang berbeda dengan produk lainnya, misalnya
kurikulum bahasa Inggris memiliki spesifikasi yang berbeda jika dibandingkan
dengan kurikulum bidang studi lainnya, meskipun di dalamnya dapat ditemukan
komponen yang sama.

5. Pentingnya Pengembangan
Bagian ini sering dikacaukan dengan tujuan pengembangan. Tujuan pengembangan
mengungkapkan upaya pencapaian kondisi yang ideal, sedangkan pentingnya
pengembangan mengungkapkan argumentasi mengapa perlu ada pengubahan
kondisi nyata ke kondisi ideal. Dengan kata lain, pentingnya pengembangan
mengungkapkan mengapa masalah yang ada perlu dan mendesak untuk
dipecahkan.
Dalam bagian ini diharapkan juga terungkap kaitan antara urgensi pemecahan
masalah dengan konteks permasalahan yang lebih luas. Pengkaitan ini
dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa pemecahan suatu masalah yang
konteksnya mikro benar-benar dapat memberi sumbangan bagi pemecahan
masalah lain yang konteksnya lebih luas.

6. Asumsi dan Keterbatasan Pengembangan
Asumsi dalam pengembangan merupakan landasan pijak untuk menentukan
karakteristik produk yang dihasilkan dan pembenaran pemilihan model serta
prosedur pengembangannya. Asumsi hendaknya diangkat dari teori-teori yang
teruji sahih, pandangan ahli, atau data empiris yang relevan dengan masalah yang
hendak dipecahkan dengan menggunakan produk yang akan dikembangkan.

Keterbatasan pegembangan mengungkapkan keterbatasan dari produk yang
dihasilkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi, khususnya untuk konteks
masalah yang lebih luas. Paparan ini dimaksudkan agar produk yang dihasilkan
dari kegiatan pengembangan ini disikapi hati-hati oleh pengguna sesuai dengan
asumsi yang menjadi pijakannya dan kondisi pendukung yang perlu tersedia dalam
memanfaatkannya.

7. Definisi Istilah
Pada bagian ini dikemukakan definisi istilah-istilah yang khas digunakan dalam
pengembangan produk yang diinginkan, baik dari sisi model dan prosedur yang
digunakan dalam pengembangan ataupun dari sisi produk yang dihasilkan. Istilah-
istilah yang perlu diberi batasan hanya yang memiliki peluang ditafsirkan
berbeda oleh pembaca atau pemakai produk. Batasan istilah-istilah tersebut
harus dirumuskan seoperasional mungkin. Makin operasional rumusan batasan
istilah makin kecil peluang istilah itu ditafsirkan berbeda oleh pembaca atau
pemakai.

8. Sistematika Penulisan
Paparan pada bagian ini dimaksudkan untuk menunjukkan cara pengorganisasian
keseluruhan skripsi, tesis, dan disertasi, baik untuk Bagian I, yang memuat
kajian analitis, atau-pun Bagian II, yang memuat produk yang dihasilkan dari
kegiatan pengembangan.

9. Landasan Teori
Bab ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kerangka acuan komperhensif
mengenai konsep, prinsip, atau teori yang digunakan sebagai landasan dalam
memecahkan masalah yang dihadapi atau dalam mengembangkan produk yang
diharapkan. Kerangka acuan disusun berdasarkan kajian berbagai aspek teoretik
dan empiris yang terkait dengan permasalahan dan upaya yang akan ditempuh
untuk memecahkannya. Uraian-uraian dalam bab ini diharapkan menjadi landasan
teoretik mengapa masalah itu perlu dipecahkan dan mengapa cara pengembangan
produk tersebut dipilih

Kajian teoretik mengenai model dan prosedur yang akan digunakan dalam
pengembangan juga perlu dikemukakan dalam bagian ini, terutama dalam rangka
memberikan pembenaran terhadap produk yang akan dikembangkan.

Di samping itu, bagian ini juga dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang
kaitan upaya pengembangan dengan upaya-upaya lain yang mungkin sudah pernah
ditempuh oleh ahli lain untuk mendekati permasalahan yang sama atau relatif
sama. Dengan demikian, upaya pengembangan yang akan dilakukan memiliki
landasan empiris yang mantap.

10. Metode Pengembangan
Metode Pengembangan hendaknya memuat butir-butir (1) model pengembangan,
(2) prosedur pengembangan, dan (3) uji coba produk. Dalam butir uji coba produk
perlu diungkapkan (a) desain uji coba, (b) subjek uji coba, (c) jenis data, (d)
instrumen pengumpulan data, dan (e) teknik analisis data.

a. Model Pengembangan
Model pengembangan dapat berupa model prosedural, model konseptual, dan
model teoretik. Model prosedural adalah model yang bersifat deskriptif, yaitu
menggariskan langkah-langkah yang harus diikuti untuk menghasilkan produk.
Model konseptual adalah model yang bersifat analitis yang memerikan komponen-
komponen produk yang akan dikembangkan serta keterkaitan antarkomponen
(misalnya model pengembangan rancangan pengajaran Dick dan Carey, 1985).
Model teoretik adalah model yang menunjukkan hubungan perubahan antar
peristiwa.

Dalam bagian ini perlu dikemukakan secara singkat struktur model yang
digunakan sebagai dasar pengembangan produk. Apabila model yang digunakan
merupakan adaptasi dari model yang sudah ada, maka pemilihannya perlu disertai
dengan alasan, komponen-komponen yang disesuaikan, serta kekuatan dan
kelemahan model itu.
Apabila model yang digunakan dikembangkan sendiri, maka informasi yang
lengkap mengenai setiap komponen dan kaitan antarkomponen dari model itu
perlu dipaparkan. Perlu diperhatikan bahwa uraian model diupayakan
seoperasional mungkin sebagai acuan dalam pengembangan produk.

b. Prosedur Pengembangan
Bagian ini memaparkan langkah-langkah prosedural yang ditempuh oleh
pengembangan dalam membuat produk. Prosedur pengembangan berbeda dengan
model pengembangan. Apabila model pengembangannya adalah prosedural, maka
prosedur pengembangannya tinggal mengikuti langkah-langkah seperti yang
terlihat dalam modelnya. Model pengembangan juga bisa berupa konseptual atau
teoretik. Kedua model ini tidak secara langsung memberi petunjuk tentang
bagaimana langkah prosedural yang dilalui sampai ke produk yang dispesifikasi.
Oleh karena itu, perlu dikemukakan lagi langkah proseduralnya.

c. Uji coba produk
Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya
tarik dari produk yang dihasilkan.

Dalam bagian ini secara berurutan perlu dikemukakan desain uji coba, subyek uji
coba, jenis data, instrumen pengumpulan data, dan teknik analisis data.

1) Desain Uji Coba
Secara lengkap, uji coba produk pengembangan biasanya dilakukan melalui tiga
tahapan, yaitu uji perseorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan. Dalam
kegiatan pengembangan, pengembang mungkin hanya melewati dan berhenti pada
tahap uji perseorangan, atau dilanjutkan dan berhenti sampai tahap uji kelompok
kecil, atau sampai uji lapangan. Hal ini sangat tergantung pada urgensi dan data
yang dibutuhkan melalui uji coba itu.

Desain uji coba produk bisa menggunakan desain yang biasa dipakai dalam
penelitian kuantitatif, yaitu desain deskriptif atau eksperimental. Yang perlu
diperhatikan adalah ketepatan memilih desain untuk tahapan tertentu
(perseorangan, kelompok kecil, atau lapangan) agar data yang dibutuhkan untuk
memperbaiki produk dapat diperoleh secara lengkap.


2) Subjek Uji Coba
Karakteristik subjek uji coba perlu diidentifikasi secara jelas dan lengkap,
termasuk cara pemilihan subjek uji coba itu. Subjek uji coba produk bisa terdiri
dari ahli di bidang isi produk , ahli di bidang perancangan produk, dan/atau
sasaran pemakai produk. Subjek uji coba yang ahli di bidang isi produk dapat
memiliki kualifikasi keahlian tingkat S1 (untuk skripsi), S2 (untuk tesis), dan S3
(untuk disertasi). Yang penting setiap subjek uji coba yang dilibatkan harus
disertai identifikasi karekteristiknya secara jelas dan lengkap, tetapi terbatas
dalam kaitannya dengan produk yang dikembangkan.

Teknik pemilihan subjek uji coba juga perlu dikemukakan agak rinci, apakah
menggunakan teknik rambang, rumpun, atau teknik lainnya yang sesuai.

3) Jenis Data
Uji coba produk dimaksudkan untuk mengumpulkan data yang dapat digunakan
sebagai dasar untuk menetapkan tingkat keefektifan, efisiensi, dan/atau daya
tarik dari produk yang dihasilkan. Dalam konteks ini sering pengembang tidak
bermaksud mengumpulkan data secara lengkap yang mencakup ketiganya. Bisa
saja, sesuai dengan kebutuhan pengembangan, pengembang hanya melakukan uji
coba untuk melihat daya tarik dari suatu produk, atau hanya untuk melihat
tingkat efisiensinya, atau keduanya. Keputusan ini tergantung pada pemecahan
masalah yang telah ditetapkan di Bab I: apakah pada keefektifan, efisiensi, daya
tarik, atau ketiganya.

Penekanan pada efisiensi suatu pemecahan masalah akan membutuhkan data
tentang efisiensi produk yang dikembangkan. Begitu pula halnya dengan
penekanan pada keefektifan atau daya tarik. Atas dasar ini, maka jenis data
yang perlu dikumpulkan harus disesuaikan dengan informasi apa yang dibutuhkan
tentang produk yang dikembangkan itu.

Paparan mengenai jenis data yang dikumpulkan hendaknya dikaitkan dengan
desain dan pemilihan subjek uji coba. Jenis data tertentu, bagaimanapun juga,
akan menuntut desain tertentu dan subjek uji coba tertentu. Misalnya,
pengumpulan data mengenai kecermatan isi dapat dilakukan secara perseorangan
dari ahli isi, atau secara kelompok dalam bentuk seminar kecil, atau seminar yang
lebih luas yang melibatkan ahli isi, ahli desain, dan sasaran pemakai produk.


4) Instrumen Pengumpulan Data
Bagian ini mengemukakan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data
seperti yang sudah dikemukakan dalam butir sebelumnya. Jika mengunakan
instrumen yang sudah ada, maka perlu ada uraian mengenai karakteristik
instrumen itu, terutama mengenai keshahihan dan keterandalannya. Apabila
instrumen yang digunakan dikembangkan sendiri, maka prosedur
pengembangannya juga perlu dijelaskan.

5) Teknik Analisis Data
Teknik dan prosedur analisis yang digunakan untuk menganali-sis data uji coba
dikemukakan dalam bagian ini dan disertai alasannya. Apabila teknik analisis yang
digunakan sudah cukup dikenal, maka uraian tidak perlu rinci sekali. Akan tetapi,
apabila teknik tersebut belum banyak dikenal, maka uraian perlu lebih rinci.

11. Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan
dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan
tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan.
Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan
disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar
rujukan.

Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:

1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa
gelar akademik,

2. tahun penerbitan

3. judul, termasuk subjudul

4. kota tempat penerbitan, dan

5. nama penerbit.



Proposal Penelitian kajian pustaka
Telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada
dasarnya bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan
pustaka yang relevan. Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan
cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang
kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru.

Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlukan sebagai sumber ide untuk
menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan
deduksi dari pengetahuan yang sudah ada, sehingga kerangka teori baru dapat
dikembangkan, atau sebagai dasar pemecahan masalah.

Format Proposal Kajian Pustaka

1. Latar Belakang Masalah
Bagian ini berisi uraian atau gambaran umum yang dapat diperoleh dari koran,
majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan
mengenai hal-hal yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti.

Gambaran umum ini dapat bersifat mendukung atau menunjang pendapat peneliti
atau pun bersifat tidak mendukung atau menolak harapan peneliti. Selain itu juga
dipaparkan uraian pemantapan terhadap pemahaman masalah, misalnya mengapa
masalah yang dikemukakan dipandang menarik, penting, dan perlu ditelaah.

2. Rumusan Masalah
Bagian ini merupakan pengembangan dari uraian latar belakang masalah yang
menunjukkan bahwa masalah yang akan ditelaah memang belum terjawab atau
belum dipecahkan secara memuaskan. Uraian tersebut didukung berbagai
publikasi yang berhubungan dengan masalah yang dikaji, yang mencakup aspek
yang dikaji, konsep-konsep yang berkaitan dengan hal yang akan ditulis, dan teori
yang melandasi kajian. Pembahasan ini hanya berisi uraian yang memang relevan
dengan masalah yang akan dikaji serta disajikan secara sistematis dan terpadu.

Selanjutnya dituliskan pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab melalui telaah
pustaka (dalam bentuk kalimat tanya), yang memuat variabel/hubungan
antarvariabel yang akan dikaji. Kata tanya yang digunakan berupa apa, mengapa,
bagaimana, sejauh mana, kapan, siapa, dan sebagainya bergantung pada ruang
lingkup masalah yang akan dibahas.
3. Tujuan Penelitian
Bagian ini memberikan gambaran yang khusus atau spesifik mengenai arah dari
kegiatan kajian kepustakaan yang dilakukan, berupa keinginan realistis peneliti
tentang hasil yang akan diperoleh. Tujuan kajian harus mempunyai kaitan atau
hubungan yang relevan dengan masalah yang akan diteliti. Sebagai contoh adalah
mengkaji kehidupan orang-orang yang terkenal dalam suatu bidang studi untuk
mengetahui pengalaman-pengalaman mereka, bagaimana usaha mereka untuk
meneliti dan menemukan apa yang sekarang dianggap sebagai hal yang biasa saja.

4. Kegunaan Penelitian
Bagian ini memberikan gambaran yang khusus atau spesifik mengenai arah dari
kegiatan kajian kepustakaan yang dilakukan, berupa keinginan realistis peneliti
tentang hasil yang akan diperoleh. Tujuan kajian harus mempunyai kaitan atau
hubungan yang relevan dengan masalah yang akan diteliti. Sebagai contoh adalah
mengkaji kehidupan orang-orang yang terkenal dalam suatu bidang studi untuk
mengetahui pengalaman-pengalaman mereka, bagaimana usaha mereka untuk
meneliti dan menemukan apa yang sekarang dianggap sebagai hal yang biasa saja.

5. Metode Kajian
Metode kajian menjelaskan semua langkah yang dikerjakan penulis sejak awal
hingga akhir. Pada bagian ini dapat dimuat hal-hal yang berkaitan dengan
anggapan-anggapan dasar atau fakta-fakta yang dipandang benar tanpa adanya
verifikasi dan keterbatasan, yaitu aspek-aspek tertentu yang dijadikan kerangka
berpikir. Selanjutnya dilakukan analisis masalah dan variabel yang terdapat
dalam judul kajian. Analisis masalah menghasilkan variabel dan hubungan
antarvariabel. Selanjutnya dilakukan analisis variabel dengan mengajukan
pertanyaan mengenai masing-masing variabel dan pertanyaan yang berkaitan
dengan hubungan antarvariabel. Analisis ini diperlukan untuk menyusun alur
berpikir dalam memecahkan masalah.

Perlu ditekankan bahwa tulisan tentang metode kajian hendaknya didasarkan
atas kajian teori dan khasanah ilmu, yaitu paradigma, teori, konsep,
prinsip,hukum, postulat, dan asumsi keilmuan yang relevan dengan masalah yang
dibahas.

6. Definisi Istilah
Bagian ini memberikan penjelasan mengenai istilah-istilah yang digunakan agar
terdapat kesamaan penafsiran dan terhindar dari kekaburan. Bagian ini juga
memberikan keterangan rinci pada bagian-bagian yang memerlukan uraian,
misalnya alat peraga, sekolah, alat ukur, lokasi atau tempat, nilai, sikap,
penghasilan, keadaan atau kondisi, keadaan sosial ekonomi, status, dan
sebagainya.

7. Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan
dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan
tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan.
Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan
disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar
rujukan.

Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:

1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa
gelar akademik,
2. tahun penerbitan
3. judul, termasuk subjudul
4. kota tempat penerbitan, dan
5. nama penerbit.

Jenis-jenis Penelitianilmiah
Penelitian dapat digolongkan / dibagi ke dalam beberapa jenis berdasarkan
kriteria-kriteria tertentu, antara lain berdasarkan: (1) Tujuan; (2) Pendekatan;
(3) Tempat; (4) Pemakaian atau hasil / alasan yang diperoleh; (5) Bidang ilmu
yang diteliti; (6) Taraf Penelitian; (7) Teknik yang digunakan; (8) Keilmiahan; (9)
Spesialisasi bidang (ilmu) garapan. Berikut ini masing-masing pembagiannya.

Berdasarkan hasil/alasan yang diperoleh:

1. Basic Research (Penelitian Dasar), Mempunyai alasan intelektual, dalam rangka
pengembangan ilmu pengetahuan;
2. Applied Reseach (Penelitian Terapan), Mempunyai alasan praktis, keinginan
untuk mengetahui; bertujuan agar dapat melakukan sesuatu yang lebih baik,
efektif, efisien.

Berdasarkan Bidang yang diteliti:

1. Penelitian Sosial, secara khusus meneliti bidang sosial: ekonomi, pendidikan,
hukum, dsb.
2. Penelitian Eksakta, secara khusus meneliti bidang eksakta: Kimia, Fisika,
Teknik, dsb.

Berdasarkan Tempat Penelitian :

1. Field Research (Penelitian Lapangan), langsung di lapangan;
2. Library Research (Penelitian Kepustakaan), dilaksanakan dengan menggunakan
literatur (kepustakaan) dari penelitian sebelumnya;
3. Laboratory Research (Penelitian Laboratorium), dilaksanakan pada tempat
tertentu / lab, biasanya bersifat eksperimen atau percobaan;

Berdasarkan Teknik yang digunakan :

1. Survey Research (Penelitian Survei), tidak melakukan perubahan (tidak ada
perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti.
2. Experimen Research (Penelitian Percobaan), dilakukan perubahan (ada
perlakuan khusus) terhadap variabel yang diteliti.

Berdasarkan Keilmiahan :

1. Penelitian Ilmiah
Menggunakan kaidah-kaidah ilmiah (Mengemukakan pokok-pokok pikiran,
menyimpulkan dengan melalui prosedur yang sistematis dengan menggunakan
pembuktian ilmiah/meyakinkan. Ada dua kriteria dalam menentukan kadar/tinggi-
rendahnya mutu ilmiah suatu penelitian yaitu:

1. Kemampuan memberikan pengertian yang jelas tentang masalah yang diteliti:
2. Kemampuan untuk meramalkan: sampai dimana kesimpulan yang sama dapat
dicapai apabila data yang sama ditemukan di tempat/waktu lain;




Ciri-ciri penelitian ilmiah adalah:

1. Purposiveness, fokus tujuan yang jelas;
2. Rigor, teliti, memiliki dasar teori dan disain metodologi yang baik;
3. Testibility, prosedur pengujian hipotesis jelas
4. Replicability, Pengujian dapat diulang untuk kasus yang sama atau yang
sejenis;
5. Objectivity, Berdasarkan fakta dari data aktual : tidak subjektif dan
emosional;
6. Generalizability, Semakin luas ruang lingkup penggunaan hasilnya semakin
berguna;
7. Precision, Mendekati realitas dan confidence peluang kejadian dari estimasi
dapat dilihat;
8. Parsimony, Kesederhanaan dalam pemaparan masalah dan metode
penelitiannya.

2. Penelitian non ilmiah (Tidak menggunakan metode atau kaidah-kaidah ilmiah)

* Berdasarkan Spesialisasi Bidang (ilmu) garapannya : Bisnis (Akunting,
Keuangan, Manajemen, Pemasaran), Komunikasi (Massa, Bisnis, Kehumasan/PR,
Periklanan), Hukum (Perdata, Pidana, Tatanegara, Internasional), Pertanian
(agribisnis, Agronomi, Budi Daya Tanaman, Hama Tanaman), Teknik, Ekonomi
(Mikro, Makro, Pembangunan), dll.
* Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) : variabel adalah hal yang menjadi
objek penelitian, yang ditatap, yang menunjukkan variasi baik kuantitatif maupun
kualitatif. Variabel : masa lalu, sekarang, akan datang. Penelitian yang dilakukan
dengan menjelaskan / menggambarkan variabel masa lalu dan sekarang (sedang
terjadi) adalah penelitian deskriptif ( to describe =
membeberkan/menggambarkan). Penelitian dilakukan terhadap variabel masa
yang akan datang adalah penelitian eksperimen.

Penelitian secara umum :

o Penelitian Survei:

* Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
* Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok, daerah dsb.
* Melakukan evaluasi serta perbandingan terhadap hal yang telah dilakukan
orang lain dalam menangani hal yang serupa;
* Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara sensus maupun secara
sampel;
* Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan keputusan;
* Penelitian ini dapat berupa :

1. Penelitian Exploratif (Penjajagan). Terbuka, mencari-cari, pengetahuan
peneliti tentang masalah yang diteliti masih terbatas. Pertanyaan dalam studi
penjajagan ini misalnya : Apakah yang paling mencemaskan anda dalam hal
infrastruktur di daerah Kalbar dalam lima tahun terakhir ini? Menurut anda,
bagaimana cara perawatan infrastruktur jalan dan jembatan yang baik.
2. Penelitian Deskriptif. Mempelajari masalah dalam masyarakat, tata cara yang
berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi, sikap, pandangan, proses yang
sedang berlangsung, pengaruh dari suatu fenomena; pengukuran yang cermat
tentang fenomena dalam masyarakat. Peneliti mengembangkan konsep,
menghimpun fakta, tapi tidak menguji hipotesis.
3. Penelitian Evaluasi. Mencari jawaban tentang pencapaian tujuan yang
digariskan sebelumnya. Evaluasi di sini mencakup formatif (melihat dan meneliti
pelaksanaan program), Sumatif (dilaksanakan pada akhir program untuk
mengukur pencapaian tujuan).
4. Penelitian Eksplanasi (Penjelasan). Menggunakan data yang sama, menjelaskan
hubungan kausal antara variabel melalui pengujian hipotesis.
5. Penelitian Prediksi. Meramalkan fenomena atau keadaan tertentu;
6. Penelitian Pengembangan Sosial. Dikembangkan berdasarkan survei yang
dilakukan secara berkala: Misal: Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di
Kalbar, 1998-2003;

o Grounded Research

Mendasarkan diri pada fakta dan menggunakan analisis perbandingan; bertujuan
mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori,
mengembangkan teori; pengumpulan dan analisis data dalam waktu yang
bersamaan. Dalam riset ini data merupakan sumber teori, teori berdasarkan
data. Ciri-cirinya : Data merupakan sumber teori dan sumber hipotesis, Teori
menerangkan data setelah data diurai.



TUJUAN PENELITIAN :
Secara umum ada empat tujuan utama :

1. Tujuan Exploratif (Penemuan) : menemukan sesuatu yang baru dalam bidang
tertentu
2. Tujuan Verifikatif (Pengujian): menguji kebenaran sesuatu dalam bidang yang
telah ada
3. Tujuan Developmental (Pengembangan) : mengembangkan sesuatu dalam bidang
yang telah ada
4. Penulisan Karya Ilmiah (Skripsi, Tesis, Disertasi)


PERANAN PENELITIAN

1. Pemecahan Masalah, meningkatkan kemampuan untuk menginterpretasikan
fenomena-fenomena dari suatu masalah yang kompleks dan kait-mengkait;
2. Memberikan jawaban atas pertanyaan dalam bidang yang diajukan,
meningkatkan kemampuan untuk menjelaskan atau menggambarkan fenomena-
fenomena dari masalah tersebut;
3. Mendapatkan pengetahuan / ilmu baru :

PERSYARATAN PENELITIAN :

1. Mengikuti konsep ilmiah
2. Sistematis/Pola tertentu
3. Terencana

Penelitian dikatakan baik bila :

1. Purposiveness, Tujuan yang jelas;
2. Exactitude, Dilakukan dengan hati-hati, cermat, teliti;
3. Testability, Dapat diuji atau dikaji;
4. Replicability, Dapat diulang oleh peneliti lain;
5. Precision and Confidence, Memiliki ketepatan dan keyakinan jika dihubungkan
dengan populasi atau sampel;
6. Objectivity, Bersifat objektif;
7. Generalization, Berlaku umum;
8. Parismony, Hemat, tidak berlebihan;
9. Consistency, data/ungkapan yang digunakan harus selalu sama bagi
kata/ungkapan yang memiliki arti sama;
10. Coherency, Terdapat hubungan yang saling menjalin antara satu bagian
dengan bagian lainnya.

PROSEDUR / LANGKAH-LANGKAH PENELITIAN :

Garis besar :

1. Pembuatan rancangan;
2. Pelaksanaan penelitian;
3. Pembuatan laporan penelitian

Bagan arus kegiatan penelitian :

1. Memilih Masalah; memerlukan kepekaan
2. Studi Pendahuluan; studi eksploratoris, mencari informasi;
3. Merumuskan Masalah; jelas, dari mana harus mulai, ke mana harus pergi dan
dengan apa
4. Merumuskan anggapan dasar; sebagai tempat berpijak, (hipotesis);
5. Memilih pendekatan; metode atau cara penelitian, jenis / tipe penelitian :
sangat menentukan variabel apa, objeknya apa, subjeknya apa, sumber datanya di
mana;
6. Menentukan variabel dan Sumber data; Apa yang akan diteliti? Data diperoleh
dari mana?
7. Menentukan dan menyusun instrumen; apa jenis data, dari mana diperoleh?
Observasi, interview, kuesioner?
8. Mengumpulkan data; dari mana, dengan cara apa?
9. Analisis data; memerlukan ketekunan dan pengertian terhadap data. Apa jenis
data akan menentukan teknis analisisnya
10. Menarik kesimpulan; memerlukan kejujuran, apakah hipotesis terbukti?
11. Menyusun laporan; memerlukan penguasaan bahasa yang baik dan benar.

Prinsip metodologi penelitian ilmiah
Mengingatkan saya sewaktu pertama kali mendapat tugas untuk mengerjakan
proposal pada mata kuliah Metodologi Penelitian. Karena banyak hal (misal bolos
kuliah), akhirnya sewaktu bertemu bagian metodologi, saya hanya bisa bingung,
Apa yang harus saya isi pada bagian ini? Apa bisa mengarang indah?

Akhirnya saya sedikit mengerti tentang metodologi: (mudahnya kurang lebih
begini)

Jika seorang berbicara tentang cara seorang peneliti melakukan percobaan
lapangan, dimana dalam menentukan plot di lapangan, ia pertama-tama membagi
daerah dalam 4 (empat) buah blok. Kemudian blok-blok tersebut dibagi 4
(empat). Diteruskan dengan memberikan perlakuan pada masing-masing blok
tersebut, dan seterusnya. Maka yang dibicarakan di sini adalah Prosedur
Penelitian. Jika kita membicarakan bagaimana secara berurut suatu penelitian
dilakukan yaitu dengan alat apa dan prosedur bagaimana suatu penelitian
dilakukan, maka yang dibicarakan adalah Metode Penelitian.

Berikut ini saya kutipkan beberapa prinsip metodologi dari Titin Supenti dalam
Sukses Membuat Proposal .

Prinsip Metodologi
Metodologi merupakan bagian epistemologi yang mengkaji perihal urutan
langkah-langkah yang ditempuh supaya pengetahuan yang diperoleh memenuhi
ciri-ciri Ilmiah. Metodologi juga dapat dipandang sebagai bagian dari logika yang
mengkaji kaidah penalaran yang tepat. Jika kita membicarakan metodologi maka
hal yang tak kalah pentingnya adalah asumsi-asumsi yang melatarbelakangi
berbagai metode yang dipergunakan dalam aktivitas ilmiah. Asumsi-asumsi yang
dimaksud adalah pendirian atau sikap yang akan dikembangkan para ilmuwan
maupun peneliti di dalam kegiatan ilmiah mereka.

Beberapa prinsip metodologi oleh beberapa ahli, diantaranya:

A. Rene Descartes
Dalam karyanya Discourse On Methoda, dikemukakan 6 (enam ) prinsip
metodologi yaitu:

1. Membicarakan masalah ilmu pengetahuan diawali dengan menyebutkan akal
sehat (common sense) yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang. Akal sehat
menurut Descartes ada yang kurang, adapula yang lebih banyak memilikinya,
namun yang terpenting adalah penerapannya dalam aktivitas ilmiah.

2. Menjelaskan kaidah-kaidah pokok tentang metode yang akan dipergunakan
dalam aktivitas ilmiah maupun penelitian. Descartes mengajukan 4 (empat)
langkah atau aturan yang dapat mendukung metode yang dimaksud yaitu: (1)
Jangan pernah menerima baik apa saja sebagai yang benar, jika anda tidak
mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya. Artinya, dengan
cermat hindari kesimpulan-kesimpulan dan pra konsepsi yang terburu-buru dan
jangan memasukkan apapun ke dalam pertimbangan anda lebih dari pada yang
terpapar dengan begitu jelas sehingga tidak perlu diragukan lagi, (2)
Pecahkanlah setiap kesulitan anda menjadi sebanyak mungkin bagian dan
sebanyak yang dapat dilakukan untuk mempermudah penyelesaiannya secara
lebih baik.(3) Arahkan pemikiran anda secara jernih dan tertib, mulai dari objek
yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, lalu meningkat sedikit demi
sedikit, setahap demi setahap ke pengetahuan yang paling kompleks, dan dengan
mengandaikan sesuatu urutan bahkan diantara objek yang sebelum itu tidak
mempunyai ketertiban baru. (4) Buatlah penomoran untuk seluruh permasalahan
selengkap mungkin, dan adakan tinjauan ulang secara menyeluruh sehingga anda
dapat merasa pasti tidak suatu pun yang ketinggalan. (5)Langkah yang
digambarkan Descartes ini menggambarkan suatu sikap skeptis metodis dalam
memperoleh kebenaran yang pasti.
3. Menyebutkan beberapa kaidah moral yang menjadi landasan bagi penerapan
metode sebagai berikut: (1) Mematuhi undang-undang dan adat istiadat negeri,
sambil berpegang pada agama yang diajarkan sejak masa kanak-kanak. (2)
Bertindak tegas dan mantap, baik pada pendapat yang paling meyakinkan maupun
yang paling meragukan. (3) Berusaha lebih mengubah diri sendiri dari pada
merombak tatanan dunia.
4. Menegaskan pengabdian pada kebenaran yang acap kali terkecoh oleh indera.
Kita memang dapat membayangkan diri kita tidak berubah namun kita tidak
dapat membayangkan diri kita tidak bereksistensi, karena terbukti kita dapat
menyangsikan kebenaran pendapat lain. Oleh karena itu, kita dapat saja
meragukan segala sesuatu, namun kita tidak mungkin meragukan kita sendiri yang
sedang dalam keadaan ragu-ragu.
5. Menegaskan perihal dualisme dalam diri manusia yang terdiri atas dua
substansi yaitu RESCOGITANS (jiwa bernalar) dan RES-EXTENSA (jasmani
yang meluas). Tubuh (Res-Extensa) diibaratkan dengan mesin yang tentunya
karena ciptaan Tuhan, maka tertata lebih baik. Atas ketergantungan antara dua
kodrat ialah jiwa bernalar dan kodrat jasmani. Jiwa secara kodrat tidak mungkin
mati bersama dengan tubuh. Jiwa manusia itu abadi.

B. Alfred Julesayer
Dalam karyanya yang berjudul Language, Truth and Logic yang terkait dengan
prinsip metodologi adalah prinsip verifikasi. Terdapat dua jenis verifikasi yaitu:

1. Verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana
kebenaran suatu proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara
meyakinkan.
2. Verifikasi dalam arti yang lunak, yaitu jika telah membuka kemungkinan untuk
menerima pernyataan dalam bidang sejarah (masa lampau) dan ramalan masa
depan sebagai pernyataan yang mengandung makna.
3. Ayer menampik kekuatiran metafisika dalam dunia ilmiah, karena pernyataan-
pernyataan metafisika (termasuk etika theologi) merupakan pernyataan yang
MEANING LESS (tidak bermakna) lantaran tidak dapat dilakukan verifikasi
apapun

C. Karl Raimund Popper
K.R. Popper seorang filsuf kontemporer yang melihat kelemahan dalam prinsip
verifikasi berupa sifat pembenaran (justification) terhadap teori yang telah ada.
K.R. Popper mengajukan prinsip verifikasi sebagai berikut:

1. Popper menolak anggapan umum bahwa suatu teori dirumuskan dan dapat
dibuktikan kebenarannya melalui prinsip verifikasi. Teori-teori ilmiah selalu
bersifat hipotetis (dugaan sementara), tak ada kebenaran terakhir.
Setiap teori selalu terbuka untuk digantikan oleh teori lain yang lebih tepat.
2. Cara kerja metode induksi yang secara sistematis dimulai dari pengamatan
(observasi) secara teliti gejala (simpton) yang sedang diselidiki. Pengamatan yang
berulang -ulang itu akan memperlihatkan adanya ciri-ciri umum yang dirumuskan
menjadi hipotesa. Selanjutnya hipotesa itu dikukuhkan dengan cara menemukan
bukti-bukti empiris yang dapat mendukungnya. Hipotesa yang berhasil
dibenarkan (justifikasi) akan berubah menjadi hukum.
K.R. Popper menolak cara kerja di atas, terutama pada asas verifiabilitas, bahwa
sebuah pernyataan itu dapat dibenarkan berdasarkan bukti-bukti verifikasi
pengamatan empiris.
3. K.R Popper menawarkan pemecahan baru dengan mengajukan prinsip FALSIFA
BILITAS, yaitu bahwa sebuah pernyataan dapat dibuktikan kesalahannya.
Maksudnya sebuah hipotesa, hukum, ataukah teori kebenarannya bersifat
sementara, sejauh belum ada ditemukan kesalahan-kesalahan yang ada di
dalamnya. Misalnya, jika ada pernyataan bahwa semua angsa berbulu putih
melalui prinsip falsifiabilitas itu cukup ditemukan seekor angsa yang bukan
berbulu putih (entah hitam, kuning, hijau, dan lain-lain), maka runtuhlah
pernyataan tersebut. Namun apabila suatu hipotesa dapat bertahan melawan
segala usaha penyangkalan, maka hipotesa tersebut semakin diperkokoh
(CORROBORATION).

Akhirnya, semoga peristiwa mengarang indah seperti yang saya lamunkan dapat
dihindari dan sekelumit eceran informasi ini bisa mengisi penelitian yang benar
indah.

Proposal penelitian kualitatif (skripsi)
Image Penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara
holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan
memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif
bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan
induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam
penelitian kualitatif.

Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena
itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat
kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh
keotentikan.

Format Proposal Penelitian Kualitatif :

1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa
peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. (Lihat juga
membuat pendahuluan skripsi )

2. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik
pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah
rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan
dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-
pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan
di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-
alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.
Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian
kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali
dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah
diadakan studi pendahuluan di lapangan.

3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini,
sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.

4. Landasan Teori
Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai
dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk
memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan
pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran
landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam
penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir
pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam
penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada
sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu teori.

5. Kegunaan Penelitian
Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi
pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata
lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas
masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan
bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.

6. Metode Penelitian
Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara
operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi
penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan
keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

a. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa
pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu
landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis,
interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik).
Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah
etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris,
penelitian tindakan, atau penelitian kelas.

b. Kehadiran Peneliti
Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen
sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi
fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh
karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak
diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran
penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh,
pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan
apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau
informan.

c. Lokasi Penelitian
Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan
memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi
hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika
perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-
hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan
kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan
pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan
baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan
rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal
orang-orang kunci.

d. Sumber Data
Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data
dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang
dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan
informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara
bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data
dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).

Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan
penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel
adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan
rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek,
informan, dan waktu.

e. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya
observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua
dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh
mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki
fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi
struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara
sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format
ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini.
Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan
triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.

f. Analisis Data
Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara
sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan
lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan
pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola,
pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam
penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan
data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis
komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan
statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang
analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan
logika. (lihat analisis )

g. Pengecekan Keabsahan Temuan
Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh
keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka
perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan
kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam,
triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan
sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan
anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke
latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability),
dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .

h. Tahap-tahap Penelitian
Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian
pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan
laporan.

7. Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan
dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan
tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan.
Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan
disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar
rujukan.

Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:

1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa
gelar akademik,

2. tahun penerbitan

3. judul, termasuk subjudul

4. kota tempat penerbitan, dan

5. nama penerbit.