Anda di halaman 1dari 19

Interaksi Radiasi dengan Materi

Dampak Interaksi Radiasi dengan Materi
Radiasi nuklir baik yanng bersifat sebagai partikel-partikel ataupun
gelombang elektromagnet hanya dapat dideteksi melalui interaksinya dengan
material kimia yang menjadi sasarn radiasinya. Jika interaksinya sangat kecil,
maka radiasi itu tidak dapat atau sukar dideteksi, diukur intensitas radiasi, dan
diketahui kekuatan radiasinya, begitu pula sebaliknya. Dampak interaksi dapat
dibagi menjadi dua, yaitu :
 Secara Fisika, yaitu jika energi yang diserap oleh material kimia hanya
dapat membuat energi dalamnya bertambah sehingga keadaanya menjadi
tereksitasi tetapi tidak menhebabkan perubahan jenis material kimia
tersebut
 Secara Kimia terjadi bila interaksi antara molekul kimia dan radiasi
menyebabkan keadaan material kimia menjadi tereksitasi dan lebih lanjut
mengalami perubahan jenis nuklida atau molekul-molekulnya.

Interaksi Partikel Bermuatan dengan Materi
Partikel berat bermuatan seperti sinar alfa, proton, deutron, dan fragmen
fisi merupakan partikel inti atom yang bermuatan positif, massa dan muatan
menyebabkan partikel ini memiliki daya tembus yang sangat pendek tetapi daya
ionisasinya sangat kuat sepanjang lintasannya. Partikel alfa dihasilkan oleh
beberapa unsur berat radioaktif. Partikel alfa ini identik dengan inti atom helium

dan memiliki energi yang diskrit. Proton (H
+
) dan deutron (
1
2
D
+
) masing –
masing adalah inti atom hidrogen biasa dan inti atom hidrogen berat. Fragmen fisi
terbentuk ketika bahan dapat membelah seperti uranium – 235 dan plutonium -
239 menangkap neutron dan membelah menjadi fragmen – fragmen fisi.
Contohnya adalah reaksi yang terjadi pada reaktor nuklir. Fragmen fisi kehilangan
sebagian elektronnya sehingga pada mulanya memiliki muatan total sampa 20+.
Fragmen fisi memiliki energi yang sangat tinggi (di atas 100 MeV) dan kerapatan
ionisasi sangat tinggi.
Jarak tembus partikel-partikel tersebut dalam air sangat pendek. Untuk
partikel dengan energi 1 MeV, jarak tembusnya dalam air adalah 5 mikron untuk
partikel alfa, dan 30 mikron untuk proton. Jarak tembus fragmen fisi adalah
sekitar 0,1 mm ( 100 mikron)
Penurunan energi partikel bermuatan terutama disebabkan oleh peristiwa
ionisasi terhadap molekul medium yang dilalui. Kerapatan ionisasi yang
dihasilkan sangat tinggi terutama pada akhir – akhir lintasan.

Radiasi partikel alfa dan ion positif
Radiasi partikel alfa juga dianggap sebagai radiasi partikel ion positifnya
dari isotop nuklida helium

, sedangkan yang disebut ion positif dalam
pembahasan ini dapat berupa inti nuklida helium dan ion positif dari isotop
nuklida atau molekul – molekul lainnya yang mempunyai masa kecil , contohnya
atom Hidrogen (
1
1
H). Jika atom hidrogen menerobos ke dalam sebuah nuklida
atau molekul yang menjadi sasarn radiasinya , maka atom hidrogen akan
kehilangan sebagian atau atau seluruh energi radiasinya. Nukkoida – nuklida atau
molekul – molekul yang menyerap energi dari energi radiasi alfa dan ion positif
atau ion positif akan menjadi tereksitasi, lebih lanjut dapat terionisasi atau
bersifat radioaktif. Proses transfer energi radiasi partikel alfa atau ion positif pada
nuklida – nuklida atau molekul – molekul yang menjadi sasaran radiasi, dan
dampak terjadinya transfer energi tersebut akan diuraikan lebih rinci.

Proses Kehilangan Energi Gerak
Sebagaimana yang dikemukakan sebelumnya, bahwa selama menerobos
ke dalam material kimia yang menjadi sasaran radiasi, partikel – partikel alfa atau
ion positif tersebut melakukan transfer energi yang dibawanya kepada nuklida
atau molekul yang menjadi sasaran yang dilaluinya. Adanya transfer energi
menyebabkan jumlah energi radiasi alfa dan ion positif menjadi berkurang, dan
energi nuklida atau molekulnya yang menjadi bidang sasaran energinya
bertambah, bahkan ada nuklida atau molekul yang keadaanya menjadi tereksitasi.
Berkurangnya energi radiasi partikel alfa tersebut menyebabkan berkurang
kemampuannya menerobos nuklida atau molekul yang menjadi sasaran radiasi
pada tahapan berikutnya.
Berkurannya energi radiasi partikel alfa tidak hanya disebabkan oleh
adanya transfer energi tetapi juga disebabkan oleh adanya energi yang digunakan
untuk mengatasi daya coloumb yang ditimbulkan oleh proton dan elektron yang
ada dalam nuklida atau molekul yang menjadi sasaran radiasinya. Semakin
banyak jumlah nuklida yang berinterkasi dengan radiasi partikel alfa, maka akan
semakin besar pula jumlah energi yang dikeluarkan untuk mengatasi atau
melawan daya coloumb tersebut.
Proses penurunan energi radiasi partikel alfa yang disebabkan oleh adanya
daya coloumb adalah sebagai berikut. Jika radiasi partikel alfa yang telah
menerobos lapisan pertama dari keseluruhan lapisan nuklida atau molekul yang
menjadi sasaran radiasi itu masih memiliki energi gerak yang cukup untuk
menerobos, maka ia akan terus menerobos ke lapisan nuklida atau molekul yang
menjadi sasaran radiasi berikutnya. Gerak laju radiasi partikelnya akan berhenti
setelah ia tidak mempunyai energi gerak yang dapat digunakan untuk menerobos
lapisan nuklida atau molekul yang menjadi sasaran radiasi tersebut.

Jarak Tempuh Radiasi alfa dan ion positif dan Ion positif
Jarak tempuh radiasi partikel alfa atau ion positif adalah jarak yang dilalui
oleh radiasi partikel alfa atau ion positif dari sumber radiasi sampai tempat
dimana partikel alfa atau ion positif itu berhenti melaju. Jarak yang ditempuh
oleh radiasi partikel alfa atau ion positif satu satu dengan yang lain yang berasal
dari sumber radiasi yang sama belum tentu sama. Hal ini dikarenakan oleh sifat
statistika dari tumbukan antar partikel alfa atau ion positif tersebut. Jika yang
meluruh itu radiasi alfa, maka akibat terjadinya tumbukan antar partikel alfa akan
menghasilkan partikel alfa sebagai ion positifnya (
2
He
4
)
+
yang sampai batas akhir
perjalananya belum mengikat elektronnya kembali.
Jarak tempuh radiasi partikel alfa atau ion positif merupakan jarak tempuh
rerata (Rr) yang harganya sangat dipengaruhi oleh energi radiasi (Er) dan
kecepatan medium tempat dimana radiasi partikel alfa atau ion positif melaju.
Jauhnya jarak tempuh berbanding lurus dengan besarnya energi radiasi, dan
berbanding terbalik dengan kerapatan medium tempat dimana radiasi partikel alfa
atau ion positif meluruh. Bentuk hubungan antara Rr dan Er dalam medium udara
dinyatakan dengan persamaan Rr = 0,318 x E
3/2
. Jarak tempuh radiasi partikel alfa
atau ion positif di udara antara 2,5 cm sampai dengan 9,0 cm. Dalam medium
yang lebih rapat jarak tempuh radiasi partikel alfa atau ion positif semakin
pendek, sebagai misal dalam aluminiium jarak tempuh radiasi alfa dan ion
positifnya antara 0,02 hingga 0,06 mm.
Jarak tempuh radiasi partikel alfa atau ion positifnya merupakan fungsi
dari kerapatan medium tempat dimana partikel alfa atau ion positif melaju. Untuk
itu membandingkan jarak tempuh laju partikel alfa atau ion positif satu terhadap
yang lain dalam berbagai jenis medium merupakan hal yang sulit dilakukan.
Persoalan ini dapat dipermudah dengan mengukur jarak tempuh dalam ketebalan
ekivalen dengan satuan mg/cm
2
yang merupakan jumlah masa nuklida nuklida
atau molekul molekul penyusun bidang sasaran yang dilalui oleh radiasi partikel
alfa atau ion positif tersebut. Ketebalan ekivalen (mg/cm
2
) = ketebalan
sebenatrnya x kerapatan x 1000. Oleh karena kerapatan udara pada STP harganya
sebesar 0,0012 g/cm
3
atau 0,0012 g/mL maka 1 cm udara memiliki ketebalan
ekivalen sebesar 1,2 mg/cm
2
. Suatu contoh partikel alfa atau ion positif yang
berenergi 4 MeV dengan jarak tempuh di udara 2,5 cm x 1,2 mg/cm
3
= 3 mg/cm
2

Pendeknya jarak tempuh radiasi partikel alfa atau ion positif menyebabkan
keberadaan radiasi partikel alfa atau ion positif tersebut sangat berbahaya bagi
kehidupan. Hal ini karena pendeknya jarak tempuh tersebut menyebabkan partikel
alfa atau ion positif mudah berhenti dan berinteraksi dengan nuklida – nuklida
atau molekul molekul pembangun organisme tubuh yang menjadi sasarn
radiasinya. Keberadaan nuklida- nuklida atau molekul – molekul yang tereksitasi
atau yang bersifat radioaktif dalam organisme tubuh makhluk hidup secara
langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi proses metabolisme yang
sangat peka terhadap pengaruh radiasi pada umumnya dan radiasi dari radioaktif
pada umumnya

Dampak Interkasi Radiasi Partikel Alfa dan ion posotif dengan Materi
Terjadinya interkasi antara radiasi patikel alfa atau ion positif dengan
nuklida-nuklida atau molekul-molekul penyusin bidang sasaran radiasi adalah
membentuk nuklida atau molekul baru yang tereksitasi di tingkatan nukleusnya.
Suatu contoh bila radiasi partikel alfa atau isotop nucleus
2
He
4
berintraksi dengan
isotop nuklida N-14 akan membentuk isotop nuklida F-18 yang tereksitasi yang
persamaan reaksinya dituliskan sebgai berikut:

7
N
14
+
2
He
4

9
F
18

Isotop nuklida F-18berada dalam keadaan tereksitasi maka tidak stabil, ia
segera meluruhkan radiasi positron atau +1e0, membentuk isotop nuklida O-18
dengan waktu paruh t
1/2
= 109,8 menit. Reaksi peluruhan positron dituliskan
sebagai berikut:
9
F
18
+
8
O
18
+ positron
Radiasi partikel positron +1e0 yang selalu mengorbit nucleus
menghasilkan 2 gamma yang berenergi 1,02 MeV. Peristiwa pemadaman radiasi
positron ini dapat ini dapat dituliskan dengan persamaan reaksi berikut

+1
e
0
+
-1
e
0
→ 2 gamma
Untuk menuju ke keadaan yang stabil nuklida atau molekul yang
tereksitassi dapat melakukannya dengan meluruhkan partikel-partikel proton
1
H
1

dan netron
0
n
1
, lebi jelasnya terlihat pada contoh dibawah ini:

9
F
18

8
O
17
+ proton
4
Be
9
+
2
He
4

6
C
13


6
C
13

6
C
12
+ netron
Bila komponen penyusun nuklida atau komponen ituyang mengalami
eksitasi adalah electron-elektronnya maka keberadaannya mnejadi tidak stabil.
Untuk kembali ke keadaan yang stabil elektron-elektron tersebut akan melakukan
perubahan-perubahan yang antara lain berwujud perubahan posisi, oreantasi dan
spinnya dalam mengorbit nucleus dalam sebuah nuklida. Jika hal yang dilakukan
oleh electron-elektron tersebut belum mencapai kestabilannya maka kemungkinan
terakhir yang ditempuh adalah meninggalkan nuklidanya. Peristiwa sebuah
nuklida yang melepaskan elektronnyadisebut peristiwa ionisasi, contoh sebagai
berikut:
H
2
O + → H
2
O
+
+
-1
e
0
Dalam hal ini adalah energy radiasi partikel alfa atau ion positif. Hasil
ionisasi molekul H
2
O
+
dan electron yang bermuatan negative
-1
e
0
. Bila radiasi
electron hasil ionisasi ini berinteraksi dengan nuklida atau molekul lain
makamasih dapat menimbulkan peristiwa ionisasi tahap dua, dan seterusnya yang
persamaan reaksinya dituliskan sebagai berikut:
H
2
O
+
+ → H
2
O
2+
+
-1
e
0
Dalam hal ini, adalah energy radiasi partikel electron yang dihasilkan
darireaksi ionisasi tahap pertama. Peristiwa ionisasi yang disebabkan oleh radiasi
alfasemula disebut ionisasi primer, dan yang disebabkan oleh radiasi electron
yang dihasilkan disebut ionisasi sekunder.
Dua partikel hasil ionisasi dari sebuah nuklida seterusnya dinyatakan
sebagai pasangan ion. Untuk menghasilkan sepasang ion di medium udara
diperlukan energy sekitar 34 eV, didalam medium gas-gas monoatomik
diperlukan energi antara 21,9 eV sampai 43,0 eV. Berdasarkan hal tersebut maka
bila sebuah radiasi partikel alfa yang berenergi 5 MeV memancar diudara
kemudian berinteraksi dengan nuklida-nuklida yang ada di dalamnyaakan
menghasilkan sejumlah pasangan ion yang besarnya = 5x10
6
eV : 34 eV / pasang
ion = 1,5x10
5
pasangan ion. Jumlah pasangan ion yang dihasilkan setiap mm dari
panjang jalan yang ditempuh oleh radiasi partikel alfa disebut ionisasi spesifik,
besarnya berbangding terbalik dengan energy radiasi partikel alfanya. Semakin
tinggi energy radiasinya maka semakin kecil jumlah pasangan ion yang
dihasilkan. Oleh karena energy radiasi berbanding lurus dengan jarak tempuhnya
maka ionisasi spesifik juga berbanding lirus dengan jarak tempuhnya.
Radiasi partikel alfa atau ion posotif yang berenergi tinggi bergerak
disekitar electron-elektron hanya dalam waktu singkat. Sewaktu ada di sekitar
electron-elektron itulah ia mampu menghasilkan pasangan ion dalam jumlah
sedikit. Setelah itu dengan energy kinetic yang semakin rendah ia bergerak
menjauhi electron-elektron tersebut. Tetappi dengan energy gerak yang semakin
berkurang itu radiasi partikel alfa atau ion positif mampu berinteraksi dengan
nuklida-nuklida atau molekul-molekul yang menjadi sasaran radiasi dalam waktu
yang lebih lama, sehingga dapat menghasilkan pasangan ion dalam jumlah yang
besar. Ionisasi spesifik yang ditimbulkan oleh radiasi partikel alfa atau ion positif
sebelum energinya berkurang hanya sekitar 2000 pasangan ion per mm,
sedangkan jumlah maksimum pasangan ion yang dihasilkan sejauh jarak tempuh
radiasi 5 mm adalah 7000 pasangan ion. Jumlah energy sisa yang dimiliki oleh
partikel alfa atau ion posotif pada saat jumlah pasangan ion yang dihasilkan
sekitar 7000 pasangan ion adalah sekitar 1 MeV.
Interaksi Radiasi Beta dengan Materi
Radiasi atau sinar beta dan berkas electron berkecepatan tinggi merupakan
radiasi energy tinggi. Sinar beta dipancarkan dari proses peluruhan beberapa
unsur radioaktif. Sinar beta memiliki energy yang kontinu sampai energy
maksimum. Energy rata-ratanya kira-kira 0,4 dari energy maksimumnya.
Spectrum sinar beta dapat dilihat pada gambar dibawah ini.












Grafik Hubungan Energi Partikel dengan Intensitas Spektrum Sinar Beta.
(Sumbu Tegak adalah intensitas atau jumlah partikel)

Jarak tembus sinar beta pada suatu berbanding lurus dengan besar
energinya dan berbanding terbalik dengan densitas materi. Sinar beta atau electron
dengan energy 1 MeV memiliki jarak tembus maksimum 5-6 mm dalam medium
air.
Efek maksimum dari sinar tidak terletak pada permukaan bahan yang
disinari. Sinar beta identik dengan berkas electron berkecepatan tinggi. Electron
berinteraksi dengan gaya Coluomb dengan electron orbital dari molekul yang
dilalui dan menyebabkan peristiwa ionisasi menghasilkan electron sekunder.
Electron sekunder masih memiliki energy yang cukup tinggi sehingga dapat
Energy partikel
(energy rata-rata)
menyebabkan ionisasi menghassilkan electron tersier demikian seterusnya.
Energy lektron terus berkurang setiap berinteraksi dengan molekul sepanjang
lintasannya, gerak melambat sampai akhirnya mencapai tingkatenergi electron
termal (0,025 eV). Electron termal sangat mudah dapat ditangkap oleh molekul
disekitarnya.
Densitas ionisasi yang disebabkan oleh sinar beta lebih tinggi
dibandingkan sinar gamma tetapi tidak terlalu tinggi kecuali pada akhir
lintasannya dimana gerakan electron sudah lambat sehingga menghasilkan
frekuensi tumbukan yang lebih tinggi. Walaupun jarang ada electron yang
berenergi tinggi berintraksi dengan inti atom dan menghasilkan sinar X yang
disebut Bremstrahlung.
Peristiwa interaksi antara nuklida-nuklida atau molekul-molekul yang
menjadi sasaran radiasi dengan radiasi beta atau partikel electron dalam banyak
hal adalah sama dengan interaksi antara material kimia tersebut dan radiasi alfa
atau partikel ion positif. Banyaknya kesamaan tersebut dikarenakan penurunan
energy radiasi partikel electron juga disebabkan oleh adanya transfer energy dan
daya tarik dan tolak Coluomb. Perbedaannya adalah besarnya daya coloumb yang
diterima olaeh radiasi alfa atau partikel ion positif lebih besar dari pada yang
diterma oleh radiasi beta. Hal ini dikarenakan jumlah dan jenis muatan yang
menolak kahadiran radiasi alfa atau partikel ion positif lebih besar dari pada yang
menolak datangnya radiasi beta. Transfer energy yang dilakukan oleh radiasi alfa
lebih besar dibandingkan dengan yang dilakukan oleh radiasi beta, sebab jumlah
masa partikel helium lebih besar dibandingkan dengan partikel electron, dan
waktu berinteraksi radiasi alfa atau ion positif dengan nuklida tau molekulyang
manjadi sasaran radiasinyaadalah lebih lama dari pada yang dilakukan oleh radiasi
beta. Hal ini disebabkan laju gerak radiasi beta atau partikel electron lebih tinggi
dari pada laju garak radiasi alfa atau partikel ion positif.
Secara umum reaksi primer yang terjadi akibat interaksi electron dengan
materi dapat digambarkan dalam bagan berikut:
















Bagan Reaksi Primer pada Interaksi Elektron dengan Materi

Electron cepat yang bergerak memasuki suatu medium mengalami
penurunan energy terutama karena mengalami tumbukan dengan molekul
medium. Molekul yang mendapat transfer energi mengalami eksitasi membentuk
molekul tereksitasiatau mengalami ionisasi menjadi ion positif dan electron. Ion
induk dapat bergabung kembali membentuk molekul tereksitasi. Atau sebaliknya
molekul tereksitasi dapat mengalami disosiasi membentuk ion positif dan ion
negative. Molekul tereksitasi dapat terurai atau homolisismembentuk radikal
bebas. Electron selanjutnyadapat mengalami beberapa kemungkinan seperti
tertangkapoleh molekul atau tesolvasi oleh molekul pelarut (jika mediumnya
larutan).

Proses kehilangan energi radiasi gamma dan dampaknya
Radiasi gamma yang menerobos nuklida atau molekul yang menjadi sasaran
radiasinya akan kehilangan sebagian dari energinya sehingga energy radiasi
gamma menjadi berkurang. Pengurangan energy radiasi gamma tersebut tidak
ELECTRON CEPAT
ION POSITIF + ELEKTRON LAMBAT
(M
+
+ e
-
)
MOLEKUL TEREKSITASI
(M*)
RADIKAL
(M*)
ELEKTRON TERTANGKAP
ATAU TERSOLVASI
ionisasi eksitasi
Rekombinasi
Disosiasi
kontinue seperti yang terjadi pada radiasi alfa dan beta. Pengurangan energy
radiasi beta disebabkan oleh tiga hal. Hal pertama sebagai akibat peristiwa
fotolistrik, Yaitu suatu peristiwa dimana sewaktu radiasi gamma meradiasi
nuklida atau molekul yang menjadi sasaran radiasinya selalu diikuti dengan
transfer energy yang menyebabkan nuklida atau molekul yang menjadi sasaran
radiasi mendapatkan tambahan energy sehingga tereksitasi. Akibat eksitasi maka
elektron-elektron yang berada diorbital terdalam terlempar dan keluar dari orbit,
kekosongan yang terjadi segera diisi oleh elektron-elektron yang ada pada orbit
diluarnya dengan disertai oleh diradisikannya radiasi X dengan energy dE.
Besarnya dE = hV”- Ebe yang mana Ebe = adalah energy pengikat elektron
lintasan, dan hV” = adalah energy radiasi gamma. Suatu contoh, bila isotop
nuklida B-10 diradiasi dengan radiasi gamma akan membentuk isotop nuklida (B-
10)* yang tereksitasi. Untuk dapat kembali ketingkat energy yang lebih rendah
dan membentuk nuklida yang stabil maka isotop nuklida (B-10)* mengalami
reaksi nuklir yang menghasilkan isotop nuklida Be-10, radiasi X dan persamaan
reaksinya dituliskan sebagai berikut.
5
B
10
+ hV” → (
5
B
10
)*
(5B10)* → 4Be10 + radiasi X
Akibat lain terjadinya interaksi antara radiasi gamma dengan nuklida atau
molekul yang menjadi sasaran radisinya adalah terjadinya peristiwa ionisasi,
untuk lebih jelasnya ikutilah contoh berikut:
2He4 + hV” → (2He4)*
(2He4)* → (2He4)+ +
-1
e
o
Isotop nuklida He-4 setelah berinteraksi dengan radiasi gamma yang
berenergi hV” menghasilkan isotop (He-4)* yang tereksitasi. Untuk menuju ke
keadaan yang stabil ia akan mengalami peristiwa ionisasi menghasilkan ion
(
2
He
4
)
+
. Kemampuan radiasi gamma mengionkan nuklida atau molekul yang
menjadi bidang sasaran radiasinya adalah antara (1/10 s.d 1/100)x kemampuannya
radiasi beta, dan jauh lebih kecil lagi dibandingkan dengan kemampuan radiasi
alfa.
Hal kedua, kehilangan energi radiasi selama radiasi gamma menerobos
nuklida-nuklida atau molekul-molekul yang menjadi sasaran radiasinya
disebabkan karena sewaktu ia menerobos sasaran sinar radiasi selalu disertai
dengan pembauran energy yang tidak terarah sebagai dampak dari Efek Copton.
Terjadinya pembauran radiasi gamma bukan karena energi kinetiknya yang
rendah. Penambahan energi kinetik pada radiasi gamma tidak hanya
mempengaruhi jumlah energy yang dihamburkan, untuk lebih jelasnya lihatlah
contoh berikut.
M + hV → M*
M* → M + hV1”
Radiasi dengan energi hV
1
” adalah energi radiasi yang dibaurkan. Bagian dari
energi radiasi gamma yang diserap oleh elektron-elektron digunakan untuk
melakukan transisi dalam nuklida-nuklida atau molekul-molekul yang menjadi
bidang sasaran radiasi, besarnya adalah = hV” – hV
1
” .
Hal yang ketiga, kehilangan energi radiasi gamma selama menembus
nuklida-nuklida atau molekul-molekul yang menjadi sasaran radiasinya selalu
disertai dengan peristiwa penguraian radiasi gamma tersebut menghasilkan
pasangan radiasi elektron dan ppositron yang masing-masing berenergi sebesar
0,52 MeV. Bila radiasi gammanya berenergi tinggi maka kehilangan energi
radiasi gamma melalui cara pembentukan pasangan radiasi electron dan
positron adalah sangat menonjol. Conoh proses pembentukan pasangan energi
radiasi electron dan proton dapat dilihat pada paparan berikut ini.
M + hV” → M*
M* → M +
-1
e
o
+
+1
e
o
.
Material yang menjadi sasaran radiasi gamma, setelah diradiasi dengan energi
radiasi gamma hV” menjadi tereksitasi membentuk M*. Sewaktu kembali
kekeadaan semula M* memancarkan radiasi elektron
-1
e
o
dan positron
+1
e
o
dengan
menggunakan energi yang diserap dengan radiasi gamma.
Keboleh-jadian kehilangan energi radiasi gamma melalui ketiga cara di atas
sangat tergantunng pada besar kecilnya nomor isotop nuklida yang menjadi
sasaran radiasi. Kehilangan energi radiasi gamma akan bertambah besar dengan
bertambah besarnya nomor isotop nuklida yang menjadi sasaran radiasinya,
kecuali pada cara yang pertama untuk energi radiasi gamma yang rendah.
Berdasarkan hal tersebuut maka untuk isotop nuklida berat lebih efektif dalam
menyerap energi radiasi gamma dibandingkan dengan isotop nuklida ringan.
Jarak Tempuh Radiasi Gamma
Radiasi gamma merupakan gelombang elektromagnet yang tidak
mempunyai sifat materi sehingga dengan energi kinetik yang sama dengan sinar
radiasi alfa dan beta maka radiasi gamma dapat melaju jauh lebih cepat, dan jauh
lebih panjang jarak tempuhnya dibandingkan dengan radiasi alfa ataupun beta.
Jauhnya jarak tempuh radiasi gamma disebabkan karena radiassi gamma tidak
bermuatan listrik sehingga tidak dapat dipengaruhi oleh daya columb dari nuklida
atau molekul yang menjadi sasaran radiassinya. Penurunan energi kinetik yang
diserap oleh nuklida atau molekul yang dilalui cukup kecil karena sewaktu
berinteraksi dengan nuklida-nuklida atau molekul-molekul tersebut relative
singkat. Kecilnya penurunan energi kinetik radiasi gamma menyebabkan daya
tembus radiasi alfa dan beta, dan dampak yang ditimbulkan oleh radiasi gamma
lebih ringan daripada yang ditimbulkan oleh radiasi alfa atau beta yang berenergi
kinetik sama.
Dampak Interaksi Materi dengan Radiasi Gamma
Dari uraian di atas telah disebutkan bahwa nuklida-nuklida atau molekul-
molekul yang bila diradiasi dengan radiasi gamma akan menjadi tereksitasi
sehingga tidak stabil. Untuk mencapai keadaan yang stabil seperti semula ia akan
mengalami perubahan-perubahan baik ditingkat nukleus, nuklida atau ditingkat
molekulnya. Suatu data hasil penyinaran air destilat dengan radiasi gamma
menunjukkan bahwa air destilat menjadi lebih bersifat oksidatif dibandingkan
dengan sebelum diradiasi dengan radiasi gamma.berdasarkan hasil pengkajian
terdahulu dapat diperkirakan kemungkinan perubahan-perubahan yang terjadi
pada air destilat akibat pengaruh radiasi gamma. Hasil perkiraan tersebut sebagai
berikut.
Mula-mula energi radiasi gamma hV” yang diserap oleh molekul air H
2
O
digunakan untuk mengionkan, hasilnya (H
2
O)
+
yang tidak stabil, persamaan
reaksinya sebagai berikut:
H
2
O + hV” → (H
2
O)
+
+
-1
e
o

Tahapan selanjutnya electron yang dibebaskan akan diserap oleh molekul air
yang lain menghasilkan molekul air yang bermuatan negatif yang sifatnya tidak
stabil, dan persamaan reaksinya sebagai berikut:
H
2
O +
-1
e
o
→ (H
2
O)
-

Baik (H
2
O)
+
dan (H
2
O)
-
kedua-duanya bereaksi dengan molekul air yang lain
yang belum tereksitasi, hasilnya adalah ion-ion H
+
, OH
-
dan radikal bebas OH
o

dan H
o
yang sifatnya tidak stabil, persamaan reaksinya disajikan sebagai berikut:
(H
2
O)
+
+ H
2
O → (H
2
O)
+
+ OH
o
(H
2
O)
-
+ H
2
O → H
2
O.OH
-
+ OH
o
Radikal-radikal bebas yang terbentuk segera bereaksi dengan nolekul air
yang belum tereksitasi, hasilnya adalah H
2
O
2
dan
H
2
O + OH
o
→ H
2
O
2
+ H
o
H
2
O + H
o
→ H
2
+ OH
o
Reaksi kimia yang terjadi dalam air yang teradiasi oleh radiasi gamma
sebagaimana dicontohkan di atass berjalan secara berantai yang menghasilkan
radikal-radikal bebas H
o
dan OH
o
, ion-ion H
3
O
+
dan OH
-
, oksidator H
2
O
2
dan
reduktor H
2
yang keduanya bersifat reaktif.
Inetraksi Materi dengan Reaksi Netron
Netron diketahui tidak membawa muatan listrik sehingga kemampuan
berinteraksinya dengan elektron sangat kecil, dan terjadinya proses ionisasi yang
ditimbulkan oleh netron dapat diabaikan. Interaksi netron dengan nuklida-nuklida
dapat menimbulkan dampak pada nukleus dari suatu nuklida yang mana dapat
menyebabkan penghamburan secara elastis, penghamburan non elastis, dan
tejadinya reaksi nuklir seperti reaksi-reaksi (netron,gamma), (netron,proton),
(netron,alfa), (netron, 2 netron), dan fisi. Reaksi-reaksi nuklir ini telah dibahas
pada pembahasan terdahulu, pada bagian ini akan dibahas proses interaksi dan
dampak yang ditimbulkannya.
Netron dipancarkan dari proses fisi dalam reaktor nuklir atau ketika suatu
target tertentu ditembak dengan partikel alfa, partikel bermuatan yang dipercepat,
sinar –X energi tinggi, atau sinar gamma. Tidak seperti partikel yang bermuatan,
netron tidak berinteraksi dengan elektron orbital. Penurunan energinya terjadi
karena adanya tumbukan elastis dengan inti atom. Semakin ringan inti atom yang
ditumbuk semakin bebas energi yang ditransfer. Netron cepat memiliki daya
tembus beberapa centimeter dalam medium air. Setelah mengalami beberapa
tumbukan dengan molekul pada lintasannya, gerakan netron semakin lambat dan
akhirnya memilki tingkat energi termal (0,025 eV). Netron termal ini dapat
dengan mudah ditangkap oleh molekul disekitarnya. Penangkapan ini dapat
menyebabkabkan terjadinya eksitasi. Energi eksitasi dapat dipancarkan dalam
bentuk sinar gamma. Atom yang menangkap elektron dapat keluar dari
molekulnya dan disebut recoiling atom atau atom panas (hot atom). Atom panas
telah banyak menarik perhatian para ilmuan. Atom panas dapat bertindak seperti
partikel berat bermuatan.
Beberapa unsure tertentu, setelah menangkap netron, memancarkan partikel
alfa. Unsure yang demikian sering disebut pengubah energi (energi converters).
Sebagai contoh, boron-10 menangkap netron dan berubah menjadi litium-7 dan
partikel alfa.

Beberapa unsur setelah menangkap netron menjadi bersifat radioaktif,
setelah menangkap netron ia menjadi tidak stabil dan memancarkan sinar
radioaktif. Sebagai contoh:

Sebelum membahas proses interaksi netron dengan nuklida-nuklida atau
molekul-molekul yang menjadi sasaran radiasinya maka lebih dahulu akan
dibahas sumber radiasi netron tersebut. Hal ini disebabkan netron tidak dapat
diradiasikan secara alami oleh nuklida-nuklida radioaktif. Radiasi netron hanya
dapat terjadi melalui rekasi-reaksi fusi berikut:
Radiasi netron dapat diperoleh dari hasil reaksi fisi nuklir yang dilakukan
dalam reaktor Van de Graaff, contohnya sebagai berikut:

4
Be
9
+
2
He
4

6
C
12
+
o
n
1

Bila isotop nuklida Be-9 ditembak dengan partikel alfa akan menghasilkan isotop
nuklida C-12 dan radiasi netron. Partikel alfa yang bergerak dengan laju yang
tinggi itu dapat berasal dari hasil peluruhan isotop nuklida radiosktif berat missal
isotop nuklida radioaktif Pb-210, Ac-227, Ra-226, dan Po-210.
Radiasi netron juga dapat diperoleh dari hasil menembakkan sebuah partikel
misal partikel deteron dengan laju yang tinggi pada isotop nuklida ringan
berelium menghasilkan radiasi netron, dan persamaan reaksinya sebagai berikut:

4
Be
9
+
1
He
2

5
B
10
+
o
n
1

Isotop nuklida Be-9 setelah ditembak dengan isotop nuklida H-2 yang
berenergi 1 MeV menghasilkan isotop nuklida B-10, radiasi netron dan sejumlah
energi panas. Reaksi fusi yang dilakukan dalam reaktor Van de Graaff ini
menghasilkan radiasi netron yang jumlahnya sekitar 10
8
netron per detik.
Radiasi netron juga dapat dihasilkan melalui reaksi fisi yang dimulai dengan
menembakkan partikel netron yang berenergi tinggi pada suatu isotop nuklida
sehingga menyebabkan terjadinya reaksi fisi yang salah satu hasilnya adalah
radiasi partikel netron, untuk lebih jelasnya perhatikanlah contoh berikut:
92
U
234
+
o
n
1

44
Ru
104
+
48
Cd
116
+ 5
o
n
1
Jumlah netron yang dihasilkan untuk sekali reaksi fisi yang dialami oleh isotop
nuklida radioaktif U-234 adalah sekitar 5 netron. Bila suatu reaksi fisi ini dapat
dikendalikan maka jumlah netron yang terbentukpun dapat dikendalikan.
Proses kehilangan energi radiasi netron.
Mekanisme transfer energi dari netron ke nuklida yang menjadi sasaran
sasaran radiasinya dilakukan dengan cara penghamburan elastis dan
penghamburan tidak elastis. Akibat terjadinya penghamburan elastis tersebut
terjadi transfer sejumlah besar energi radiasi netron ke nuklida-nuklida yang
menjadi sasaran radiasinya. Dampak dari adanya transfer sejumlah besar energi
ini menyebabkan nuklida-nuklidayang menjadi sasarannya tereksitasi.
Dalam penghamburan yang tidak eelastis akan terjadi kehilangan sejumlah
besar energi dari partikel netron cepat tersebut. Kehilangan energi akan
berdampak besar bila radiasi netron cepat tersebut ertabrakan dengan nukleus
berat. Akibat penghamburan yang tidak elastis ini energi yang dimiliki oleh
radiasi netron cepat akan turun ke dalam keadaan intermediet. Dlam keadaan
netron yang berenergi intermediet ini belum mampu menyebabkan nuklid yang
menadi sasaran radiasi menjadi tereksitasi.
Perlambatan Laju Radiasi Netron
Untuk mengefektifkan penggunaan netron cepat dalam menimbulkan
pengaruhnya pada sebuah nukleus maka energi radiasi netron cepat perlu
diturunkan sehingga lajunya menjadi lambat. Perlambatan radiasi netron cepat
hanya dapat dilakukan dengan menimbulkan terjadinya tabrakan elastis secara
berulang-ulang antara netron cepat dan nucleus ringan sampai diperoleh radiasi
netron yang energinya setara dengan netron lambat. Nucleus ringan yang mampu
memperlambat radiasi netron cepat disebut moderator. Moderator yang terbaik
ialah material kimia yang banyak mengandung nuklida hidrogen contohnya air
dan farafin.
Kemungkinan radiasi netron thermal dalam medium yang mengandung
nuklida hidrogen akan ditangkap oleh proton untuk membentuk deuterium sangat
kecil. Hal ini dikarenakan enampang lintang untuk netron yang akan berinteraksi
dengan proton yang ada dalam nuklida hidrogen lebih kecil dibandingkan dengan
penampang lintang untuk penghamburannya.
Dampak Interaksi Materi dengan Radiasi Netron
Sebuah nuklida yang tereksitasi sebagai akibat berinteraksi dengan radiasi
netron lambat akan mengalami reaksi nuklir. Dampak dari reaksi nuklir tersebut
dapat dihasilkan jenis nuklida baru, radiasi alpha, beta, gamma, proton, netron dan
sejumlah energi.
Jika radiasi netron lambat berinteraksi dengan isotop nuklida Na-23 akan
meghasilkan isotop nuklida radioaktif Na-24, dan radiasi gamma. Persamaan
reaksinya adalah sebagai berikut
11
Na
23
+ n
11
Na
24
+ gamma
Isotop nuklida radioaktif Na-24 kemudian meluruhkan radiasi beta, isotop
nuklida Mg-24. Reaksi nuklidanya sebagai berikut
11
Na
23

12
Mg
24
+ beta
Jika radiasi netron lambat berinteraksi dengan isotop nuklida N-14 akan
menghasilkan isotop nuklida radioaktif C-14, radiasi proton. Dan persamaan
reaksinya adalah sebagai berikut
7
N
14
+ n
6
C
14
+ proton
Begitu mudahnya reaksi netron lambat mempengaruhi nucleus suatu
nuklida sehingga menjadi radioaktif maka netron lambat sering digunakan untuk
membuat nuklida radioaktif.

Jarak Tembus Berbagai Jenis Radiasi
Tabel. Penetrsi dari radiasi yang memiliki energi 1 MeV
Jenis Radiasi
Jarak Penetrasi Pada Medium
Air (cm) Udara (cm)
Sinar x atau gamma 10 7000
Beta atau berkas elektron 0,5 4000
Alfa 0,0005 0,2
Proton 0,002 2,3
Netron 1,5 Besar
Fragmen Fisi 0,01 2,5

Satuan Radiasi
Ada beberapa cara untuk menyatakan satuan eneergi. Jumlah energy yang
diserap oleh suatu zat disebut dosis. Rad menyatakan 100 erg energy yang diserap
per gram zat yang diradiaasi. Satuan energy juga dapat dinyatakan dengan
electron volt per milliliter atau volt pergram.
Pada fase gas memungkinkan untuk menyatakan satuan radiasi dengan
pasanga ion. Nilai W adalah energy rata-rata yang diperlukan untuk membentuk
sepasang ion. Nilai ini sangat bervariasi antara 20-45 eV
Untuk sinar X atau sinar gamma penyiaran pada titik tertentu dinyatakan
dengan rotgen. Satu rotgen menghasilkan 2,58 x 10
-10
matan listrik (semua dalam
satu tanda) dalam satu kilogram udara. Penyinaran 1 Roentgen sama dengan
penyerapan dosis radiasi 86,9 erg/g. dalam kimia radiasi, rad lebih suka digunakan
daripada roentgen karena rad merupakan ukuran energy yang diserap oleh sistem.
Keamanan
Semua jenis radiasi memiliki efek membahayakan sistem biologis, oleh
karena itu sumber radiasi harus terlindungi dan seorang menghindari sejauh Aung
kin dari sumber radiasi dan sejarang mungkin kontak dengan radiasi. Beberaa
Negara memiliki hokum dan peraturan pemerintah tentang penggunaaan isoto dan
sumber radiasi. Ambang batas radiasi pada manusia ditetapkan sebesar 5 rem
pertahun dan 3 rem per 13 minggu (rem adalah singkatan dari rotgen equivalent
man yaitu dosis suatu radiasi yang menghasilkan dampak yang sama dengan 1
rotgen sinar X atau sinar gamma). Radiasi alami yang berasal dari kosmik dan
unsure radioaktif dalam tanah adalah sebesar 0,1 rem.
Orang yang bekerja di area radiasi harus menggunakan alat monitor dan
selalu menjaga jarak yang aman dari sumber radiasi.





















DAFTAR PUSTAKA

Retug,dkk.2005. Buku Ajar Radiokimia. IKIP Negeri Singaraja: Singaraja
Mc. Kay.1997. Principles of Radiochemistry. Butterworths:London
Keenan et al.1986. Kimia Untuk Universitas Jilid 2. Erlangga:Jakarta