Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Di era persaingan bisnis yang semakin ketat seperti sekarang ini, terutama
pada sektor industri yang ada di Indonesia membuat setiap perusahaan bersaing
untuk memajukan perusahaannya masing-masing. Sektor industri barang
konsumsi mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat dan
cepat. Hal ini dapat dilihat dari tingginya tingkat konsumsi masyarakat seiring
meningkatnya pendapatan kelas menengah dan perubahan gaya hidup mereka.
Produsen menawarkan kebutuhan mendasar pada para konsumen, seperti
makanan dan minuman. Retailer-retailer dengan konsep mini market belakangan
ini juga tumbuh pesat.
Pasar modal menjadi salah satu alat ukur perkembangan ekonomi suatu
negara. Lisa dan Clara (2009) dalam Septiana (2012) mendefinisikan pasar modal
adalah pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang dalam bentuk
ekuitas dan hutang yang jatuh tempo dari lebih satu tahun. Dalam setiap kegiatan
investasi, para investor pasti dihadapkan oleh suatu kondisi yang tidak pasti.
Dalam menanamkan modalnya, investor akan mempertimbangkan dengan sebaik-
baiknya ke perusahaan mana modal itu akan ditanamkan.
Setiap perusahaan berlomba-lomba menarik perhatian para investor
dengan menampilkan kondisi keuangan perusahaan yang baik. Dengan baiknya
kondisi keuangan suatu perusahaan tersebut, maka dapat meningkatkan nilai

2

perusahaan dimata investor dan akan membuat harga saham juga meningkat.
Harga saham menjadi sangat penting bagi sebuah perusahaan, karena dapat
dikatakan menjadi salah satu sumber pemasukan bagi perusahaan-perusahaan go
public.
Informasi mengenai kondisi keuangan sebuah perusahaan dapat dilihat
pada laporan keuangan perusahaan tersebut yang menggambarkan keadaan suatu
kinerja keuangan dalam periode tertentu yang berguna bagi para pemakainya
untuk pengambilan keputusan dimasa yang akan datang. Laporan keuangan
sebuah perusahaan harus dibuat dan disusun sesuai dengan aturan dan standar
yang berlaku. Hal ini perlu dilakukan agar laporan keuangan mudah dibaca dan
dimengerti serta dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak-pihak yang
memerlukannya. Banyak pihak yang memerlukan dan berkepentingan terhadap
laporan keuangan yang dibuat perusahaan, seperti pemerintah, kreditor, investor,
maupun para supplier (Kasmir, 2011).
Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang
dapat digunakan sebagai alat untuk mengkomunikasikan data keuangan atau
aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Hery, 2013).
Tujuan khusus laporan keuangan menurut APB Statement No. 4 adalah
menyajikan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya
secara wajar dan sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum
(GAAP). Sedangkan tujuan umum laporan keuangan menurut APB Statement
No.4 adalah:
3

1. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber daya ekonomi dan
kewajiban perusahaan,
2. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang
berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba,
3. Memungkinkan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan
laba,
4. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan aktiva dan
kewajiban, dan
5. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai
laporan.
Secara umum, laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan laba rugi,
laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
Walaupun semua isi dari laporan keuangan tersebut penting dan bermanfaat bagi
para penggunanya, namun terkadang perhatian para pemakai laporan keuangan
tersebut hanya tertuju pada informasi laba saja. Oleh karena itu manajer
cenderung melakukan tindakan manajemen laba dengan cara memanipulasi atau
merekayasa laba di perusahaannya agar laba yang dilaporkan selalu dalam
keadaan sehat dimata investor.
Salah satu alat yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen adalah
laba. Informasi laba bertujuan untuk menilai kinerja manajemen, membantu
mengestimasi kemampuan laba dalam jangka panjang, dan memperkirakan risiko-
risiko investasi. Kemampuan dan nilai perusahaan dalam mengelola aset-asetnya
dapat digambarkan dengan cara melihat bagaimana perusahaan dalam
4

menghasilkan laba dalam operasinya. Laporan laba rugi adalah laporan yang
menyajikan ukuran keberhasilan operasi perusahaan selama periode waktu
tertentu. Lewat laporan laba rugi, investor dapat mengetahui besarnya tingkat
profitabilitas yang dihasilkan perusahaan. Istilah earnings management atau
manajemen laba sering dihubungkan dengan perilaku manajer atau para pembuat
laporan keuangan. Namun tindakan tersebut sangat merugikan bagi para investor.
Menurut Stice (2007) dalam Hery (2013), ada empat alasan yang membuat
manajer melakukan rekayasa laba, yaitu untuk memenuhi target internal,
memenuhi harapan pihak eksternal, memberikan perataan laba (income
smoothing), dan agar laporan keuangan seolah olah tampak baik (window
dressing) demi kepentingan penawaran saham perdana ke publik atau
mendapatkan pinjaman. Rekayasa laba juga dilakukan dengan tujuan untuk
memenuhi harapan pihak eksternal perusahaan, seperti investor dan kreditur.
Pihak eksternal ini memiliki kepentingan atas kinerja keuangan perusahaan,
dimana mereka menginginkan agar perusahaan dapat terus beroperasi dengan
hasil yang baik. Investor berkepentingan atas modal yang disetornya, sedangkan
kreditur menginginkan adanya jaminan pembayaran.
Prinsipal sebagai pemilik atau pemegang saham menginginkan tercapainya
tingkat profitabilitas yang tinggi tiap tahunnya guna meningkatkan kekayaannya,
sedangkan disisi lain agen sebagai manajer termotivasi untuk mensejahterakan
dirinya guna memenuhi kebutuhan ekonominya dengan cara melakukan perilaku
yang tidak semestinya. Terjadinya asimetri informasi inilah yang menyebabkan
seorang manajer melakukan manipulasi data dalam menyajikan informasi
5

akuntansi sesuai dengan harapan prinsipal, meskipun informasi tersebut tidak
menggambarkan kondisi riil perusahaan yang sebenarnya. Salah satu teknik yang
digunakan manajer adalah dengan melakukan praktik perataan laba (Amanza,
2012).
Motivasi untuk memenuhi target laba dapat membuat manajer atau
perusahaan mengabaikan praktik bisnis yang baik. Akibatnya, kualitas laba dan
pelaporan keuangan menjadi menurun. Beidleman (1973) dalam Belkaoui (2006)
menyatakan bahwa perataan dari laba yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai
pengurangan atau fluktuasi yang disengaja terhadap beberapa tingkatan laba yang
saat ini dianggap normal oleh perusahaan. Dengan pengertian ini, perataan laba
mencerminkan suatu usaha dari manajemen perusahaan untuk menurunkan variasi
yang abnormal dalam laba sejauh yang diizinkan oleh prinsip-prinsip akuntansi
dan manajemen yang baik.
Dascher (1970) dalam Hery (2013) menyatakan bahwa perataan laba dapat
dicapai dengan dua jenis, yaitu: (1) real smoothing, dan (2) artifical smoothing.
Real smoothing adalah perataan laba yang dilakukan melalui transaksi keuangan
sesungguhnya dengan mempengaruhi laba melalui perubahan dengan sengaja atas
kebijakan operasi. Sedangkan artifical smoothing atau sering juga disebut
accounting smoothing, yaitu perataan laba melalui prosedur akuntansi yang
diterapkan untuk memindahkan biaya dan atau pendapatan dari suatu periode ke
periode yang lain.
Selain real smoothing dan artifical smoothing, Barnea (1976) dalam Hery
(2013) membedakan tiga jenis perataan laba sebagai berikut:
6

1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi, dimana
pihak manajemen dapat menentukan atau mengendalikan waktu transaksi
melalui kebijakan manajemen sendiri;
2. Perataan melalui alokasi dari waktu ke waktu, dimana manajer memiliki
kewenangan untuk mengalokasikan pendapatan atau beban untuk periode
tertentu;
3. Perataan melalui klasifikasi, dimana manajemen memiliki kewenangan dan
kebijakan sendiri untuk mengklasifikasikan pos-pos laba rugi dalam kategori
yang berbeda.
Menurut Suwito dan Herawaty (2005) dalam Rahmawati (2012),
perusahaan yang ukurannya lebih besar diperkirakan memiliki kecenderungan
yang lebih besar untuk melakukan perataan laba. Berdasarkan political cost
hypothesis dalam teori akuntansi positif dikemukakan bahwa perusahaan besar
cenderung untuk melakukan pengelolaan atas laba di antaranya melakukan income
decreasing saat memperoleh laba tinggi untuk menghindari munculnya peraturan
baru dari pemerintah, contohnya menaikkan pajak penghasilan perusahaan.
Apabila ditinjau dari profitabilitas, perusahaan yang memiliki profitabilitas
tinggi (dilihat dari ROA dan Net Profit Margin yang tinggi) akan lebih leluasa
untuk melakukan perataan laba karena manajemen mengetahui kemampuan
perusahaan untuk mendapatkan laba pada masa mendatang. Manajemen akan
diuntungkan dengan profitabilitas yang stabil seperti mempertahankan posisi
jabatan apabila kinerja diukur dengan tingkat laba yang mampu dihasilkan
menurut Budiasih (2009) dalam Prabayanti (2011).
7

Ditinjau dari net profit margin yang merupakan bagian dari profitabilitas
perusahaan melalui pengukuran antara rasio laba bersih setelah pajak dengan total
penjualan di mana laba bersih setelah pajak sering digunakan oleh investor
sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi yang berhubungan dengan
perusahaan sehingga sering dijadikan tujuan perataan laba oleh manajemen untuk
mengurangi fluktuasi laba dan menunjukan kepada pihak luar bahwa kinerja
manajemen perusahaan tersebut telah efektif menurut Azhari (2010) dalam
Rahmawati (2012).
Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan untuk mengetahui faktor-
faktor yang dapat mempengaruhi perataan laba oleh perusahaan. Pada penelitian
yang dilakukan oleh Rahmawati (2012) yang melakukan penelitian tentang
pengaruh ukuran perusahaan, net profit margin, dan debt to equity ratio,
menyebutkan bahwa ternyata hanya variabel ukuran perusahaan yang berpengaruh
signifikan terhadap praktik perataan laba. Sedangkan variabel net profit margin
dan debt to equity ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan
laba. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Amanza (2012)
menunjukkan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif signifikan terhadap
tindakan perataan laba.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ratnasari (2012) menyatakan bahwa
profitabilitas, ukuran perusahaan, dan leverage operasi mempengaruhi
kemungkinan terjadinya praktik perataan laba. Lain halnya dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Dewi (2011) yang menyebutkan bahwa profitabilitas tidak
berpengaruh signifikan terhadap tindakan perataan laba.
8

Nyoman (2013) dalam penelitiannya diperoleh hasil bahwa profitabilitas,
dan net profit margin berpengaruh positif signifikan terhadap tindakan perataan
laba. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati (2012)
menyebutkan bahwa variabel net profit margin tidak berpengaruh signifikan
terhadap praktik perataan laba.
Hasil penelitian-penelitian yang disebutkan di atas masih belum
menunjukkan hasil yang konsisten satu sama lain, sehingga peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian yang lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi
tindakan perataan laba. Penelitian ini menguji faktor-faktor yang diduga
berpengaruh terhadap perataan laba antara lain ukuran perusahaan, profitabilitas
perusahaan, dan net profit margin.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis bermaksud melakukan
penelitian dengan judul “Analisis Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Praktik Perataan Laba Pada Perusahaan Sektor Industri Barang Konsumsi
Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan
diangkat adalah sebagai berikut:
1. Apakah faktor ukuran perusahaan berpengaruh terhadap terjadinya praktik
perataan laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar
di BEI?
9

2. Apakah faktor profitabilitas perusahaan berpengaruh terhadap terjadinya
praktik perataan laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang
terdaftar di BEI?
3. Apakah faktor net profit margin berpengaruh terhadap terjadinya praktik
perataan laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar
di BEI?

1.3 Batasan Masalah
Agar penelitian yang dilakukan menjadi lebih terarah dan tidak
menyimpang, maka penelitian membatasi permasalahan ini yaitu faktor-faktor
yang diduga berpengaruh terhadap perataan laba antara lain ukuran perusahaan,
profitabilitas perusahaan, dan net profit margin. Perusahaan yang menjadi sampel
pada penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan sektor industri barang konsumsi
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4 Tujuan Penelitian
1. Untuk menganalisa pengaruh faktor ukuran perusahaan terhadap praktik
perataan laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar
di BEI.
2. Untuk menganalisa pengaruh faktor profitabilitas terhadap praktik perataan
laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar di BEI.
10

3. Untuk menganalisa pengaruh faktor net profit margin terhadap praktik
perataan laba pada perusahaan sektor industri barang konsumsi yang terdaftar
di BEI.


1.5 Manfaat Penelitian
1. Bagi Manajemen
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam
memutuskan apakah perusahaan perlu melakukan praktik perataan laba.
2. Bagi Pihak Eksternal
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai
beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tindakan perataan laba, sehingga
pengguna laporan keuangan lebih mewaspadai laporan keuangan yang
dihasilkan perusahaan.
3. Bagi Akademisi
Penelitian ini memberikan informasi bagi perkembangan ilmu pengetahuan
untuk menambah wawasan tentang perataan laba (income smoothing) dan
menambah literatur yang ada mengenai perataan laba.