Anda di halaman 1dari 19

ANATOMI BUAH DAN BIJI

1. Buah
Peristiwa pembungaan menyebabkan bakal buah berkembang menjadi
buah dan bakal biji berkembang menjadi biji. Zigot yang terdapat dalam biji juga
berkembang menjadi embrio. Pada saat yang sama, bunga mengalami perubahan
yang menyebabkan perkemabangan bakal buah menjadi buah. Buah juga dapat
berkembang tanpa perubahan dan tanpa perkembangan biji. Peristiwa itu disebut
partenokarpi dan banyak ditemukan, terutama pada spesies yang berbiji banyak,
seperti pisang semangka, nanas, dan tomat.
Buah serta biji bersama-sama mengembvangkan berbagai mekanisme
untuk menyebarkan biji. Pada taksa yang lebih primitif biji membentuk sejumlah
sifat yang membuatnya mandiri dan menggunakan berbagai agen yang membantu
penyebaran biji. Namun, pada Angiospermae yang lebih maju, buahlah yang
paling berperan dalam penyebaran, dan dengfan demikian, memindahkan biji.
Hubungan morfologi dan fungsional antara buah dan biji amat beragam dan peran
ekologi dari buah juga perlu diperhatikan. Maka, tidaklah mudah membuat
klasifikasi buah.
Buah adalah bakal buah yang telah dewasa. Defenisi yang lebih luas
adalah dengan menganggapbuah sebagai turunan dari ginesium dan jaringan
diluar karpel yang turut serta dan bersatu dalam buah yang akhirnya dibentuk.
1.1 Klasifikasi Buah
Klasifikasi buah secara morfologi biasanya didasarkan pada nama
jenis bungan dan jenis ginesium yang mengembangkannya dengan
memperhatikna hubungan antara karpel dan bangian bunga lainnya.
Dengan demikian, dibedakan buah Buah sederhana (simple fruit), buah
yang terbentuk dari satu bunga dengan satu bakal buah, yang berisi satu
biji atau lebih, dibedakan lebih lanjut menjadi: (a) buah kering (siccus),
yakni yang bagian luarnya keras dan mengayu atau seperti kulit yang
kering dan (b) buah berdaging (carnosus), yang dinding buahnya tebal
berdaging. Buah semu (accesory fruit), jika buah berkembang dari satu
atau beberapa bakal buah bersama-sama dengan jaringan yang bukan
merupakan bagian dari bakal buah. Buah agregat (aggregate fruit), jika
buah terbentuk dari satu bunga yang memiliki banyak bakal buah, tiap-tiap
bakal buah tumbuh menjadi buah tersendiri, lepas-lepas, tetapi akhirnya
menjadi kumpulan buah yang tampak seperti satu buah. Buah majemuk
(multiple fruit), buah terbentuk dari bunga majemuk, dari banyak bunga
(dan banyak bakal buah), yang pada akhirnya seakan-akan menjadi satu
buah saja.
Salah satu klasifikasi menurut Winkler ditahun 1939 adalah dengan
mengguanakan 4 sifat saja, yakni (1) Buah berganda, bila karpel suatu
kuntum bunga tak saling bersatu; (2) buah satuan, bila karpel bersatu; (3)
buah bebas jika berasal dari bakal buah superus; (4) buah piala jika berasal
dari bakal buah inferus yang tertanam dalam jaringan non-karpel yang
berbentuk piala (cangkir).
1.2 Dinding Buah
Dinding buah yang berasal dari dinding bakal buah disebut
perikarp. Namun, jika buah masih disertai jaringan yang tidak berasal dari
karpel, maka istilah perikarp dapat mencakup jaringan itu jika jaringan itu
berasosiasi dengan bakal buah. Pada bua yang berasal dari bunga epigin,
bagian perikarp dapat ndibedakan dari jaringan tambahan, namun pada
yang lain batasnya sulit dikenali.












Istilah dinding buah dipakai secara umum tanpa memperhatikan
apakah ada jaringan tambahan yang turut terlibat atau tidak. Jaringan pada
buah dapat dibedakan menjadi tiga lapisan yakni , eksokarp yang juga
dinamakn epikarp, atau kulit luar; mesokarp yang berupa daging dan
endokarp (bagian paling dalam yang sering keras). Namun, asal jaringan
dapat berbeda-beda, sebab ada yang berasal dari dinding bakal buah, dan
ada pula yang bersatu dengan jaringan tambahan. Penentuan asal jaringan
tidak mudah, terminologi yang didasarkan pada morfologi buah, seperti
polongan, buah kotak, buah batu, dan sebagainya. Penggolongan buah
berikut ini didasari histologi dinding buah, yakni buah kering serta buah
berdaging.
1.3 Buah Kering
Buah kering yang membuka:
Buah yang berkembang dari satu karpel
Buah Bumbung, bentuk seperti polongan dan membuka biasanya di
sisi ventral, misalnya: Delphinium.
Buah polongan, buah yang membuka menjadi dua katup melaui
alur ventral dan dorsal, misalnya: Leguminosae.
Buah sinkarp, berkembang dari bakal buah yang terdiri dari dua
karpel atau lebih.
Silikua (buah lobak), mirip polongan, terdiri dari dua karpel. Kedua
tepi setiap karpel berlekatan dan membentuk rusuk tebal. Dari
kedua sisi rusuk ini, yang ditempati plasenta dibagian dalam,
tumbuh selaput kerah dalam, yang saling bertemu dan membentuk
sekat semu. Biasanya terdapat pada, misalnya: Cruciferae.
Kapsula atau buah kotak, buah dibentuk oleh kedua karpel.
Struktur Anatomi
Dari contoh diatas tampak bahwa cara buah membuka buah
amat beragam. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa pada buah yang
berasal dari satu karpel,membukanya buah dapat terjadi (1) melalui
garis sambung antara kedua tepi karpel, (2) melalui garis dorsal
(punggung) pada karpel, dan (3) melalui garis sambung dan garis
dorsal. Pada buah sinkarp yang berplasentasi parietal, membukanya
buah bisa terjadimelalui garis sambung antara dua karpel atau melalui
garis sambung atara dua karpel atau memalui garis dorsal (punggung).
Pada buah sinkarp yang berplasentasi, pemisahan terjadi sepanjang
garis sambungan karpel yang berlekatan, yakni melalui sekat, dan
dapat diiringi oleh pemisahan jaringan dari sumbu ditengah.
Sebagai contoh buah kering yang membuka, dapat diamati
buah polongan sejumlah besar Fabaceae. Buah tersebut berasal dari
bakal buah superus yang terdiri dari satu karpel. Buah membuka pada
sambungan pelekatan karpel dan melalui punggungnya. Hipodermis
dan sklerenkim terdiri dari sel-sel yang panjang, namun sumbu
panjang setiapmacam sel arahnya tegak lurus sesamanya. Akibatnya,
lapisan luar dan dalam pada perikarp mengerut dalam arah yang
berbeda, dan tekanan yang terjadi memudahkan membukanya buah
yang mengering. Sifat lain yang nampaknya berhubungan dengan
pengerutan diferensial (pengerutan yang berbeda-beda) pada perikarp
beberapa legumen adalah orientasi mikrofirbil mengikuti pola heliks
bersudut kecil, pada sel yang lain bersudur besar. Pada saat dehidrasi
buah, tegangan pada legumen demikian besar sehingga katup
polongan (legumen) yang telah terpisah satu dari yang lain, memuntir.
Pada Phaseolus, epidermis berhubungan erat dan merupakan
sumber kerusakan tekstur pada buah yang diproses untuk dijual dalam
kaleng atau dibekukan sebab dapat dilepas dan meninggalkan
permukaan yang kasar, yang kurang disukai konsumen. Parenkim
dibawah hipodermis yang meluas sehingga sklerenkim berisi
kloroplas dengan butir pati. Parenkim ini mengelili jalinan ikatan
pembuluh kecil dekat sklerenkim yang menghubungkan berkas
pembuluh median (tengah) dengan yang lateral. Sklerenkim yang
berasosiasi dengan ikatan pembuluh, terutama dengan yang median
dan lateral, merupakan sumber dari sifat berserabut yang ditemukan
pada varitas tertentu. Sifat ini pun kurang disukai konsumen.

































Buah kering yang tak membuka:
Buah akenium, buah berbiji satu yang dibentuk oleh satu karpel.
Dinding buah dan dinding biji lepas satu dari yang lain, misal:
Asteraceae.
Kariopsis, atau buah padi-padian yaitu buah berbiji satu yang
dinding bijinya melekat pada dinding buah, misal: Gramineae
Buahsizokarp, berkembang dari bakal buah berkapel banyak yang
pada waktu masak terpisah-pisah menjadi sejumlah akenium, misal
pada Malva.
Struktur Anatomi
Struktur perikarp buah kering yang tak membuka sering
menyerupai kulit biji. Pada atreaceae, sebagian jaringan kulit biji yang
sesungguhnya dapat hilang, atau seperti pada kariopsis Gramineae,
bersatu dengan perikarp.
Pada kariopsis gandum, lapisan luar terdiri dari perikarp dan
sisa kulit biji. Pada perikarp, lapisan sel dari luar kedalam adalah:
epidermis luar yang dilapisi oleh kutikula; parenkim, satu lapisan atau
lebih dan sebagian tertekan; parenkim yang sebagian rusak; sel silang
yang memanjang dalam arah melintang terhadap sumbu buah dan
memiliki dinding tebal; dan sisa epidermis dalam berbentuk sel
berlignin dan memanjang sejajar sumbu panjang buah (sel tabung).
Pada waktu kulit biji berkembang, integumen luar berdisintegrasi,
integumen-dalam berubah dan tertekan. Integumen-dalam yang
tertekan itu berisi pigmen, bereaksi positif bagi senyawa lemak, dan
kedua sisinya dilapisi kutikula.
1.4 Buah Berdaging
Buah buni, perikarp biasanya tebal serta berair dan dapat dibedakan
tiga lapisan: eksokarp paling luar dan sering mengandung zat
warna buah, mesokarp, yakni lapisan tengah yang cukup tebal;
endokarp, yakni lapisan paling dalam berupa selaput. Di sebelah
dalam buah yang perikaprnya berdaging ini dapat ditemukan
sebutir atau sejumlah besar biji, misalnya, anggur, dan tomat. Buah
jeruk juga tergolong buah buni.






























Buah batu, perbedaannya dengan buah buni adalah bahwa
endokarpnya tebal dan keras, misalnya pada buah mangga dan
kelapa.
Struktur Anatomi
Pada buah berdaging, dinding terdiri dari perikarp atau bersatu
dengan jaringan tambahan. Bagian dalam atau luar dinding buah, atau
keseluruhannya, bisa menjadi berdaging dengan adanya diferensiasi
menjadi parenkim lunak dan sukulen (tebal berair). Selain dinding,
plasenta dan sekat (dalam bauh berlokus banyak) juga bisa menjadi
berdaging.


































Buah dengan Kulit yang Jelas
Eksokarp atau flavedo (jaringan kuning) terdiri dari epidermis luar
yang dilapisi kutikula dan parenkim subepidermal yang merapat serta
berisi kelenjar minyak dan sel berkristal. Mesokarp atau albedo
(jaringan putih) terdiri dari epidermis luar yang dilapisi kutikula dan
parenkim subepidermal yang merapat serta berisi kelenjar minyak dan
sel berkristal. Mesokapr atau albedo (jaringan putih) terdiri dari
parenkim beruang antarsel besar dan banyak. Jalinan ikatan pembuluh
ditemukan disin. Endokarp terdiri dari epidermis dalam dan beberapa
lapis parenkim yang rapat selnya. Sekat diantra lokulus merupaja
perluasan jaringam endokarp dan mesokarp.
Buah tanpa kulit Jelas
Jumlah karpelm pada tomnat adalah dua, namun dalam varietas yang
dibudidayakan biasanya berjumlah lebih. Bagian yang berdaging
mencakup perikarp sekat dan plasenta.jenus plasentasinya aksilar,
namun plasenta yang besar itu memenuhi ruang lokulus. Jaringan
plasenta juga memasuki ruang diantara bakal biji. Menjelang masak,
jaringan plasenta berdegradasi serta bersifat lendir. Mungkin selulosa
terlibat dalam proses itu. Perubahan warna sewaktu proses pemasakan
terjadi karena transformasi kloroplas menjadi kromoplas.
2. Biji
Biji merupakan sumber makanan yang penting bagi hewan dan manusia.
Diantara angiospermae, poaceae paling banyak menghasilkan pangan yang berasal
dari biji. Fabaceae menempati tempat kedua dalam kepentingan itu. Selain untuk
pangan, biji menjadi sumber minuman (kopi, coklat, bir), obat serat (kapas), dan
minyak yang digunakan dalam industri.
Pada awalnya biji duduk pada suatu tangkai yang keluar dari papan biji
atau tembuni (placenta). Tangkai pendukung biji itu disebut tali pusar (funiculus).
Bagian biji tempat pelekatan tali pusar dinamakan pusar biji (hilus). Jika biji
sudah masak biasanya tali pusarnya putus, sehingga biji terlepas dari tembuninya.
Bekas tali pusar umumnya nampak jelas pada biji. Pada biji ada kalanya tali pusar
ikut tumbuh, berubah sifatnya menjadi salut atau selaput biji (arillus).
2.1 Bagian-Bagian Biji
Bagian-bagian biji dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu:
bagian dasar biji dan bagian non dasar biji.
Bagian-bagian dasar biji
1. Embrio, adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya
gamet-gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio
yang berkembangnya sempurna terdiri dari struktur-struktur sebagai
berikut : epikotil (calon pucuk), hipokotil (calon batang), kotiledon
(calon daun) dan radikula (calon akar). Tanaman di dalam kelas
Angiospermae diklasifikasikan oleh banyaknya jumlah kotiledon.
Tanaman monokotiledon mempunyai satu kotiledon misalnya :
rerumputan dan bawang. Tanaman dikotiledon mempunyai dua
kotiledon misalnya kacang-kacangan sedangakan pada kelas
Gymnospermae pada umumnya mempunyai lebih dari 2 kotiledon
misalnya pinus, yang mempunyai sampai sebanyak 15 kotiledon. Pada
rerumputan (grasses) kotiledon yang seperti ini disebut scutellum,
kuncup embrioniknya disebut plumulle yang ditutupi oleh upih
pelindung yang disebut koleoptil, sedangkan pada bagian bawah
terdapat akar embrionik yang disebut radicule yang ditutupi oleh upih
pelindung yang disebut coleorhiza.
2. Jaringan penyimpan cadangan makanan Pada biji ada beberapa
struktur yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan
makanan, yaitu : Kotoledon, misalnya pada kacang-kacangan,
semangka dan labu. Endosperm, misal pada jagung, gandum, dan
golongan serelia lainnya. Pada kelapa bagian dalamnya yang berwarna
putih dan dapat dimakan merupakan endospermnya. Perisperm, misal
pada famili Chenopodiaceae dan Caryophyllaceae, Gametophytic
betina yang haploid misal pada kelas Gymnospermae yaitu pinus.
Cadangan makanan yang tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari
karbohidrat, lemak, protein dan mineral. Komposisi dan presentasenya
berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji bunga matahari
kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi
mengandung banyak karbohidrat.
3. Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nucleus dan
endosperm dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit
biji (testa) berasal dari integument ovule yang mengalami modifikasi
selama proses pembentukan biji berlangsung. Biasanya kulit luar biji
keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan bagian dalamnya tipis
dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari
kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan
insekta.Dalam hal penggunaan cadangan makanan terdapat beberapa
perbedaan diantara sub kelas monokotiledon dan dikotiledon dimana
pada : Sub kelas monokotiledon : cadangan makanan dalam
endosperm baru akan dicerna setelah biji masak dan dikecambhakan
serta telah menyerap air. Contoh jagung, padi, gandum. Sub kelas
dikotiledon : cadangan makanan yang terdapat dalam kotileodon atau
perisperm sudah mulai dicerna dan diserap oleh embrio sebelum biji
masak. Contoh kacang-kacangan, bunga matahari dan labu (Sutopo,
2002).



































Bagian-bagian non dasar biji
1. Kulit Biji (spermodermis), berasal dari selaput bakal biji
(integumentum). Oleh sebab itu biasanya kulit biji dari tumbuhan biji
tertutup (Angiospermae) terdiri atas dua lapisan, yaitu :
a) Lapisan Kulit Luar (testa), ada yang tipis, ada yang kaku
seperti kulit, ada yang keras seperti kayu atau batu. Bagian ini
merupakan pelindung utama bagian biji yang di dalam.
Lapisan luar ini dapat memperlihatkan warna dan gambaran
yang berbeda-beda: merah, biru, perang, kehijau-hijauan, ada
yang licin rata, mempunyai permukaan keriput.
b) Lapisan Kulit Dalam (tegmen), tipis seperti selaput, dinamakan
juga kulit ari. Pada pembentukan kulit biji dapat pula ikut serta
bagian bakal biji yang lebih dalam daripada integumentumnya,
misalnya lain bagian jaringan nuselus yang terluar. Biji yang
kulitnya terdiri atas dua lapisan itu umumnya adalah biji
tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Pada tumbuhan biji
talanjang (Gymnospermae), biji malahan mempunyai tiga
lapisan seperti pada biji belinjo (Gnetum gnemon K), padahal
bakal biji tumbuhan biji telanjang umumnya hanya
mempunyai satu integementum saja. Ketiga lapisan kulit biji
seperti pada melinjo itu masing-masing dinamakan:
a. Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging, pada
waktu masih muda berwarna hijau, kemudian berubah
menjadi kuning, dan akhirnya merah.
b. Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat dan
keras, berkayu, menyerupai kulit dalam (endocarpium)
pada buah batu.
c. Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput,
serigkali melekat erat pada inti biji Pada kulit luar biji itu
masih dapat ditemukan bagian-bagian lain, misalnya:
1) Sayap (ala), alat tambahan berupa sayap pada kulit luar biji, dan
dengan demikian biji mudah dipencarkan oleh angin, ch. pada
spatodea (Spathodea campanulata P.B.), kelor (Moringa oleifera
Lamk).
2) Bulu (coma), yaitu penonjolan sel-sel kulit luar biji yang berupa
rambut-rambut yang halus, memudahkan biji ditiup oleh angin, ch.
pada kapas (Gossypium), biduri (Calotropis gigantean Dryand).
3) Salut biji (arillus), yang biasanya berasal dari pertumbuhan tali pusar,
misalnya pada biji durian (Durio zibethinus Murr).
4) Salut Biji semu (arillodium), seperti salu biji, tetapi tidak berasal dari
tali pusar. Melainkan tumbuh dari bagian sekitar liang bakal biji
(micropyle). Macis pada biji pala sebenarnya adalah suatu salut biji
semu.
5) Pusar biji (hilus), yaitu bagian kulit luar biji bekas perlekatan dengan
tali pusar, biasanya kelihatan kasar dan mempunyai warna yang
berlainan dengan bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas kelihatan pada
biji tumbuhan berbuah polong, misalnya ; Kacang panjang (Vigna
Sinensis Edl), kacang merah (Phaseolus vulgaris L). Dll.Liang biji
(micropyle), ialah liang kecil bekas jalan masuknya buluh serbuk sari
ke dalam bakal biji pada peristiwa pembuahan. Tepi liang inii
seringkali tumbuh menjadi badan berwarna keputih-putihan, lunak,
yang disebut karunkula (caruncula). Jika badan yang berasal dari tepi
liang ini sampai merupakan salut biji, maka disebut salut biji semu
(arillodium).
6) Bekas-bekas pembuluh pengangkutan (chalaza), yaitu tempat
pertemuan integumen dengan nuselus, masih kelihatan pada biji
anggur (Vitis vinifera.L).
7) Tulang biji (raphe), yaitu tali pusar pada biji, biasanya hanya
kelihatan pada biji yang berasal dari bakal biji yang mengangguk
(anatropus), dan pada biji biasanya tak begitu jelas lagi, masih
kelihatan misalnya pada biji jarak (Ricinus communis L).



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Buah serta biji bersama-sama mengembangkan berbagai mekanisme untuk
menyebarkan biji. Pada taksa yang lebih primitif biji membentuk sejumlah sifat
yang membuatnya mandiri dan menggunakan berbagai agen yang membantu
penyebaran biji. Namun, pada Angiospermae yang lebih maju, buahlah yang
paling berperan dalam penyebaran, dan dengfan demikian, memindahkan biji.
Hubungan morfologi dan fungsional antara buah dan biji amat beragam dan peran
ekologi dari buah juga perlu diperhatikan. Maka, tidaklah mudah membuat
klasifikasi buah.
Buah adalah bakal buah yang telah dewasa. Defenisi yang lebih luas
adalah dengan menganggapbuah sebagai turunan dari ginesium dan jaringan
diluar karpel yang turut serta dan bersatu dalam buah yang akhirnya dibentuk.
Biji merupakan sumber makanan yang penting bagi hewan dan manusia.
Diantara angiospermae, poaceae paling banyak menghasilkan pangan yang berasal
dari biji. Fabaceae menempati tempat kedua dalam kepentingan itu. Selain untuk
pangan, biji menjadi sumber minuman (kopi, coklat, bir), obat serat (kapas), dan
minyak yang digunakan dalam industri.
Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakla biji. Pada saat
pembuahan, tabung sari memasuki kantung embrio melalui mikropil dan
menempatkan dua buah inti gamet jantan padanya. Satu diantarnya bersatu
dengan inti sel telur dan yang lain bersatu dengan dua inti polar atau hasil
penyatuannya, yakni inti sekunder. Penyatuan gamet jantan dengan sel telur
menghasilkan zigot yang tumbuh menjadi embrio. Penyatuan gamet jantan yang
lain dengan kedua inti polar menghasilkan inti sel endosperm pertama yang
membelah menjadi jaringan endosperm.
Pada awalnya biji duduk pada suatu tangkai yang keluar dari papan biji
atau tembuni (placenta). Tangkai pendukung biji itu disebut tali pusar (funiculus).
Bagian biji tempat pelekatan tali pusar dinamakan pusar biji (hilus). Jika biji
sudah masak biasanya tali pusarnya putus, sehingga biji terlepas dari tembuninya.
Bekas tali pusar umumnya nampak jelas pada biji. Pada biji ada kalanya tali pusar
ikut tumbuh, berubah sifatnya menjadi salut atau selaput biji (arillus).
DAFTAR PUSTAKA

Arthur J. Eames and Laurence H. Macdaniels. Plant Anatomy. McGraw-Hill, Inc.,
New York.
Faha, A. 1995. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta ; Gadjah Mada
University Press.
Hidayat, Estiti B. 1995. Anantomi Tumbuhan Berbiji. Institut Teknologi
Bandung, Bandung
Kartasapoetara, G.A., 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan.
Rineka Cipta. Jakarta.
Mulyani, S., 2006. Anatomi Tumbuhan. Kanisius. Yogyakarta.
Napitupulu, J.A., 1982. Pengantar Anatomi Tumbuhan. Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Nugroho, H., Purnomo, dan Isirep, S., 2005. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Raven, P.H., Johnson, G.B., Losos, J.B., and Singer, S.R., 2008. Biology Seventh Editition.
Higher Education, San Fancisco.

Setjo, S., Kartini, E., Saptasari, M., dan Sulisetio, 1999. Anatomi Tumbuhan.
Universitas Negeri Malang, Malang.
Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan Tentang Sel dan
Jaringan. PT Rineka Cipta, Jakarta.
Soediarto, A., Koesomaningrat, M.T., Natasaputra,M., dan Akmal, H., 1965.
Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. UGM Press. Yogyakarta.

Steenis, V.C.G.G.J., 2003. Flora. Pradnya Paramita. Jakarta.
Taggart, R., and C. Starr, 2000. Plant Structure and Function. Brooks Cole,
Australia.
Tjitrosoepomo, G., 2007. Morfologi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta.
Tjitrosomo, S.S., 1983. Botani Umum I. Angkasa Press. Bandung.





KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan paper tepat pada waktunya.
Adapun judul paper ini adalah Anatomi Buah dan Biji yang
merupakan salah satu pemenuhan tugas mata kuliah Anatomi Tumbuhan,
Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
mata kuliah Anatomi Tumbuhan yakni Ir. Meiriani, MP., Ir. Ratna Rosanti
Lahay, MP., Prof. Dr. Ir. Justin Alfred Napitupulu, M.Sc., Ir. Lisa Mawarni, MP.,
yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan paper ini.
Penulis menyadari bahwa paper ini masih banyak kekurangan oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
penulisan kedepannya. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih, semoga paper ini
bermanfaat bagi kita semua.


Medan, Mei 2014


Penulis





ANATOMI BUAH DAN BIJI
PAPER
OLEH:
ARMANDO SEPTIAN SIMBOLON
130301269
AGROEKOTEKNOLOGI

















ANATOMI TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014
KESIMPULAN
1. Adapun fungsi dari buah diantaranya yaitu tempat terbentuknya embryo yang
merupakan calon tumbuhan baru, yang nantinya akan tumbuh menjadi
tumbuhan baru.
2. Buah sejati adalah buah yang berasal dari bakal buah dan tidak melibatkan
perkembangan bagian-bagian bunga yang lain sedangkan buah semu adalah
buah yang berasal dari bakal buah dan bagian-bagian buah yang lain yang
yang justru menjadi bagian yang menyolok pada buah.
3. Buah ditinjau dari asal perkembangannya dibedakan atas tiga bagian, yakni
buah tunggal yang berasal dari bunga dengan satu bakal buah; buah ganda
yakni buah yang berasal dari satu bunga dengan beberapa bakal buah dan
buah majemuk, yakni buah yang berasal dari buah majemuk.
4. Lapisan dinding buah terdiri atas tiga bagian, yakni epicarpium, mesocarpium
dan endocarpium
5. Biji tersusun atas tiga komponen, yakni kulit biji (spermodermis), tali pusar
(funiculus) dan inti biji (Nucleus seminis)