Anda di halaman 1dari 18

Ciri dan Umur Panen

Pemanenan dilakukan pada saat jagung telah mencapai masak fisiologis yaitu berkisar
100 hari setelah tanam tergantung dari jenis varietas yang digunakan. Pada umur demikian
biasanya daun jagung/klobot telah kering dan berwarna kekuning-kuningan.
Ciri jagung yang siap dipanen adalah:
a) Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.
b) Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai dengan
adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.
c) Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.
Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh. Saat itu
diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus dan dibakar, dipanen ketika
matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih berwarna hijau, dan bila biji dipijit tidak terlalu
keras serta akan mengeluarkan cairan putih. Jagung untuk makanan pokok (beras jagung),
pakan ternak, benih, tepung dan berbagai keperluan lainnya dipanen jika sudah matang
fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daun dan kelobot telah menguning. Apabila
bijinya dilepaskan akan ada warna coklat kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya
biji pada tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak meninggalkan bekas.
2.2. Cara Panen
Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan cara memutar tongkol
berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung. Pada
lahan yang luas dan rata sangat cocok bila menggunakan alat mesin pemetikan.
2.3. Periode Panen
Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat menyebabkan
penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan setelah pengeringan akan pecah,
terutama bila dipipil dengan alat. Jagung untuk keperluan sayur, dapat dipetik 15 sampai
dengan 21 hari setelah tanaman berbunga. Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai
jagung rebus, tidak harus menunggu sampai biji masak, tetapi dapat dilakukan 4 minggu
setelah tanaman berbunga atau dapat mengambil waktu panen antara umur panen jagung
sayur dan umur panen jagung masak mati.
Pemipilan
Salah satu kegiatan yang kritis dalam penanganan pascapanen di tingkat petani adalah
pemipilan karena kehilangan hasil pada tahap ini dapat mencapai 4%. Pemipilan merupakan
kegiatan melepaskan biji dari tongkol, memisahkan tongkol, dan memisahkan kotoran dari
jagung pipilan. Tujuannya adalah untuk menghindarkan kerusakan, menekan kehilangan,
memudahkan pengangkutan, dan memudahkan pengolahan selanjutnya. Oleh karenanya,
sebaiknya pemipilan dilakukan pada saat yang tepat, yaitu saat kadar air jagung berkisar 17-
20%. Penjemuran dalam bentuk pipilan memakan waktu 2-4 hari pada musim hujan dan 1-2
hari pada musim kemarau.
Pemipilan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu cara tradisional dan bantuan alat.
a. Pemipilan secara tradisional
Petani di pedesaan masih banyak memipil jagung secara tradisional, yaitu dengan
menggunakan tangan. Dengan cara ini, kapasitas pipilnya hanya sekitar 10-2- kg/jam.
Meskipun kapasitasnya kecil, namun cara pemipilan ini cukup efektif dalam memisahkan
tongkol dengan kotoran lain. Selain itu, kerusakan yang ditimbulkan relative kecil. Selain
dengan tangan, pemipilan tradisional yang lain adalah pemukulan jagung pada karung dengan
tongkat. Kapasitas pipilan jagung pada cara ini dapat ditingkatkan, tetapi kerusakan mekanis
yang ditimbulkan lebih besar. Kerugian lainnya adalah biji yang hilangpun meningkat karena
banyak yang tertinggal pada tongkol.
b. Pemipilan dengan alat.
Pemipilan jagung dengan bantuan alat dapat dilakukan baik dengan alat sederhana maupun
bermesin. Pemipilan dengan alat bermesin umumnya dilakukan petani dengan cara menyewa
mesin pemipil jagung yang dioperasikan di lahan penanaman atau dirumah-rumah petani.
Kapasitas pemipilan cara ini mencapai 1-2 ton/jam. Berbagai tipe alat pemipil yang tersedia
di pasaran diantaranya Kikian, Pemipil tipe Sulawesi Utara, Pemipil Sederhana tipe silinder,
pemipil tipe mungil, pemipil tipe ban, dll.
5. Pembersihan
Setelah jagung dipipil, terutama jagung yang dipipil dengan mesin atau alat pemipil
perlu dibersihkan dari kotoran-kotoran. Kotoran-kotoran yang tercampur dengan jagung pipil
misalnya tanah, potongan janggel, biji yang pecah, biji yang lapuk, dan batu. Pembersihan
jagung pipilan dari kotoran dapat dilakukan secara manual atau dengan menggunakan alat.
Pembersihan jagung pipilan secara manual dilakukan dengan menampi atau mengaduk-aduk
biji jagung dan menyapunya dengan sapu lidi. Pembersihan jagung pipil dengan
menggunakan alat berupa ayakan atau saringan. Pembersihan jagung pipil dengan
menggunakan ayakan atau saringan ini selain membersihkan juga dapat sekaligus untuk
sortasi (Wijandi, 2003).
6. Pengemasan Jagung
Pengemasan dengan karung harus mempunyai persyaratan bersih dan mulutnya
dijahit mulutnya, berat netto maksimum 75 kg dan tahan mengalami handling baik waktu
pemuatan maupun pembongkaran.
Di bagian luar karung (kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan aman yang tidak
luntur dan jelas terbaca antara lain :
a. Produce of Indonesia
b. Daerah asal produksi
c. Nama dan mutu barang
d. Nama perusahaan/ pengekspor
e. Berat bruto
f. Nomor karung
g. Tujuan
Ada beberapa tujuan pengemasan jagung, yaitu agar jagung bersih dari kotoran,
mengurangi serangan jamur dan hama (Purwono dan Hartono, 2002).
Pengemasan jagung disesuaikan dengan tujuan pasar jagung. Umumnya, kemasan yang
digunakan berupa karung dengan berat antara 25-50 kg, sedangkan eceran seberat 1-5 kg.
Adapun kemasan jagung untuk dipasarkan di supermarket umumnya menggunakan plastik
wrapping seberat 1kg yang berisi sekitar 6 buah tongkol jagung (Purwono dan Hartono,
2002).
7. Penyimpanan Jagung
Penyimpanan jagung dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara penyimpanan
jagung yang biasa dilakukan oleh para petani adalah dengan menyimpan jagung kering yang
masih ditongkol. Jagung tongkol kering ini diletakkan di atas perapian atau disimpan di
tempat yang kering, tidak terkena air hujan. Tempat penyimpanan jagung juga sebaiknya
tidak ada tikus. Selain menyimpan jagung yang masih melekat di tongkol, jagung juga
disimpan dalam bentuk pipilan kering. Jagung tongkol kering lebih tahan disimpan dalam
waktu lama dari pada jagung pipil kering.
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan apabila jagung akan disimpan dalam
gudang. Faktor-faktor tersebut adalah:
Kebersihan gudang: sebaiknya gudang dibersihkan dan disemprot dengan insktisida yang
aman untuk mencegah hama bubuk.
Kelembaban gudang : gudang yang lembab akan mendukung tumbuhnya mikroorganisme.
Alas : agar kadar air pada biji jagung terjaga, sebaiknya lantai gudang dialasi dengan denga
papan.
8. Pengangkutan Jagung
Setelah jagung dipanen dari tempat tanam, jagung diangkut ke tempat tertentu untuk
mendapatkan penanganan. Biasanya jagung diangkut masih dengan kulitnya atau diangkut
dalam bentuk jagung yang sudah kering. Pengangkutan jagung harus dilakukan dengan hati-
hati agar jagung tdak banyak mengalami kerusakan. Agar jagung tidak mengalami kerusakan
selama dalam pengangkutan, jagung perlu dikemas dengan karung atau dengan keranjang.
Kemasan jagung untuk pengangkutan sebaiknya diatur yang rapi agar daya tampung dalam
kendaraan semaksimal mungkin.



Pembersihan
Pembersihan adalah tindakan pertama setelah sayuran dipanen. Kegiatan ini memegang
peranan penting dalam proses selanjutnya. Tujuan utama pembersihan adalah untuk
menyingkirkan sumber sumber kontaminasi dan juga akan lebih menampilkan sosok sayuran
itu.
Saat dibersihkan, bagian bagian yang tidak penting dari sayuran dipotong ( tergantung
permintaan konsumen) dan komoditi lain yang terikut, misalkan tanah, disingkirkan.
Kemudian sayuran dicuci.
Tindakan pencucian merupakan suatu cara untuk mengurangi jumlah mikroorganisme yang
berada dipermukaan sayuran, terlebih bila syuran yang telah dipanen terkena debu atau hujan.
Pencucian juga bertujuan untuk menurunkan suhu sayuran sehingga memperpanjang
kesegaran sayuran dan mencegah pengkristalan jika akan dimasukkan dalam alat pendingin.
Pencucian sebaiknya dilakukan dengan air dingin yang telah ditanmbahkan zat germisidal
atau germisistatik agara kontanmniasi tidak berlangsung ke bagian bagian lain dan air yang
tertinggal pada syuran tidak dapat merangsang perkembangbiakan mikroorganisme ( bakteri
perusak) yang tertinggal saat pencucian.
Pengeringan
Pengeringan disini adalah sekadar mengeringkan air bekas cucian yang ada dipermukaan
jaringan sayuran. Tujuan pengeringan adalah untuk mempermudah pengemasan, terutama
pengemasan yang menggunakan plastic film. Selain itu, tujuannya untuk mengurangi
pembusukan akibat sisa air cucian yang menguap dan kelembaban jaringan sayuran yang
meningkat.
Pengeringan dapat dilakukan dengan lap yang terbuat dari bahan yang mudah menyerap air,
misalkan katun, bahan handuk, dan sebagainya. Cara pengeringan sperti itu umumnya
digunakan untuk sayuran buah, seperti timun, tomat, terong , dan lain lain. Sedangkan untuk
sayuran atau batang dapat digunakan kipas angin.
Sortasi
Setelah proses pembersihan, kegiatan selanjutnya adalah sortasi. Sortasi merupakan proses
pemisahan dan penggolongan tingkat kebagusan dan kesergaman hasil.
Sortasi dapat dilakukan dengan prinsip prinsip pemisahan, seperti beda ukuran berat, beda
ukuran bentuk, beda sifat permukanan, beda bobot jenis, beda warna, dan beda tingkat
kematangan/kemasakan.
Kegiatan sortasi biasanya dilakukan berdasarkan standar mutu yang ditetapkan, baik untuk
pasar dalam negeri maupun luarnegeri. Biasanya setiap kkonsumen menentukan sendiri
sendiri mutu sayuran yang akan dibelinya.



Penyortiran dan Penggolongan
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki
(sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk
menghindari serangan jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan
kualitas panenan.


6. Penyortiran dan Penggolongan Jagung
Biji-biji jagung dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki (sisa-sisa
tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, dll). Penyortiran untuk menghindari serangan
jamur, hama selama dalam penyimpanan dan menaikkan kualitas panenan. Golongkan jagung
menurut kwalitasnya, Jagung dengan kwalitas baik dapat di gunakan untuk bibit
tanaman jagung sedangkan jagung kwalitas jelek hanya bisa di gunakan untuk tepung jagung
atau pakan ternak.


Panen dan pasca panen tanaman memiliki ciri-ciri siap kelobot berwarna kuning,
biji sudah tua dan berwarna mengkilap pada buturan jagung sudah terbentuk jaringan
tetutup berwarna hitam, dan bila biji jagung tersebut ditekan dengan kuku tangan maka
pada bagian jagung tidak akan membekas, pada kondisi ini perkiraan kandungan air sudah
35%. Setelah dipanen jagung agar dibuka agar kadar air tongkol menurun sehingga
terhindar dari serangan jamur, pengeringan tongkol hingga kadar air 17-20% hingga
mudah dipipil dan segera di jemur hingga kadar air 15 %.
1. Ciri Umur Panen
Tanda tanda visual yang dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa jagung sudah
dapat dipanen, yang biasa disebut dengan tingkat kematangan optimal antara lain :
Biji nampak kering dan mengkilat
Apabila biji ditusuk dengan kuku, tidak nampak bekasnya
klobotnya telah menguning.
Tujuan dan pentingnya penetapan waktu panen, antara lain :
a. Meminimalisir risiko penundaan panen akibat musim hujan
b. Menangkal/menghambat tumbuhnya cendawan pada tongkol
c. Menangkal serangan hama pada biji dan ulat pada tongkol
d. Meminimalisir kehilangan saat pemipilan
e. Meminimalisir penyusutan di lapangan, dan sebagainya.
Dua hal yang mempengaruh waktu panen jagung yaitu derajat masak dan
iklim/cuaca. Derajat masak waktu panen merupakan aktivitas yang paling baik untuk
memanen jagung kebalikannya adalah kondisi kurang masak maupun pemanenan yang
terlambat. Sedangkan cuaca yang cerah (panas terik) merupakan saat panen yang baik
kebalikan pada cuaca buruk (hujan), panen tidak dapat dilaksanakan, terlebih lagi
apabila jagung akan dipetik bersama-sama dengan klobotnya.
2. Cara Memanen Jagung
Terdapat 2 (dua) cara pemanenan jagung yang dapat dilakukan oleh petani dari
cara yang praktis maupun yang kurang praktis :
a. Pemanenan bentuk tongkol tanpa klobot, merupakan pemenenan yang secara umum
paling banyak dikerjakan para petani dengan cara memotong tangkai tongkol dari
batang dengan menggunakan tangan secara langsung ataupun kadang kadang
dilakukan dengan memotong batang tanaman . Cara memotong tangkai tongkol dari
batang dengan menggunakan tangan ternyata efisien dan lebih praktis, mengingat
biaya dan pemakaian tenaga yang dikeluarkan lebih sedikit serta memakan waktu
yang tidak terlalu lama.
b. Pemanenan bentuk tongkol dengan klobot, merupakan cara pemanenan yang oleh
para petani untuk sementara ini dianggap kurang praktis. Melalui cara memanen
jagung ini biasanya akan tersisa daun dan batang yang dimanfaatkan sebagai pakan
ternak ruminansia.
3. Pemipilan
Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil. Pemipilan dapat dilakukan
dengan tangan atau dengan alat pemipilan bila jumlah produksi cukup besar. Pada
dasarnya memipil jagung adalah memisahkan antara biji dan tongkol. Terdapat
beberapa cara pemipilan yang biasa dilakukan antara lain :

A . Pemipilan secara tradisional, dengan menggunakan tangan.
Pemipilan menggunakan tangan ini menyebabkan tidak adanya biji yang
tertinggal dalam tongkol dan dapat menghasilkan jagung pipil tanpa cacat.
B. Pemipilan dengan cara penumbukan, dengan cara
penumbukan ini memiliki kapasitas yang lebih besar dari cara pertama
seperti tersebut di atas, namun dengan suatu syarat bahwa jagung yang akan
ditumbuk dalam kondisi kering. Dengan cara ini biasanya tidak semua jagung dapat
terpipil habis bahkan sering dijumpai biji jagung pipil yang pecah atau rusak.
C. Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil dari kayu berbentuk semanggi.
Alat ini cukup efektif memipil jagung secara manual. Diameter lubang pada
alat pemipil ini disesuaikan dan dibuat sama dengan diameter jagung tongkol.
Tongkol jagung tanpa klobot yang akan dipipil, diusahakan melewati lubang
berbentuk semanggi seraya diputar kekiri dan kekanan.
D.Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil tipe sepeda atau tipe pedal, dilakukan
pada pemipilan jagung dalam jumlah yang relatif cukup besar.
E. Pemipilan dengan menggunakan mesin pemipil tipe silinder atau tipe pegas.
a. Mesin pemipil tipe silinder mempunyai kapasitas dan ukuran yang bermacam-
macam, mulai dari ukuran portable (kecil) sampai dengan ukuran stasioner
(besar).
b. Sedangkan mesin pemipil tipe pegas juga memiliki berbagai kapasitas dan ukuran.
Dirancang satu atau dua lubang (yang dapat digerakkan dengan tangan maupun
dengan motor); adapun yang dirakit berukuran empat atau enam lubang (khusus
digerakkan dengan motor dan tidak bisa digerakkan dengan tangan).
c. Pemipilan dengan menggunakan alat mesin yang disebut corn sheller dengan
kapasitas jauh lebih besar Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil.
Pemipilan dapat dilakukan dengan tangan atau dengan alat pemipil bila jumlah
produksi cukup besar. Pada dasarnya memipil jagung adalah memisahkan antara
biji dan tongkol. Terdapat beberapa cara pemipilan yang biasa dilakukan antara
lain :
1. Pemipilan secara tradisional, dengan menggunakan tangan.
Pemipilan menggunakan tangan ini menyebabkan tidak adanya biji yang
tertinggal dalam tongkol dan dapat menghasilkan jagung pipil tanpa cacat.
2. Pemipilan dengan cara penumbukan, dengan cara
penumbukan ini memiliki kapasitas yang lebih besar dari cara pertama seperti
tersebut di atas, namun dengan suatu syarat bahwa jagung yang akan ditumbuk
dalam kondisi kering. Dengan cara ini biasanya tidak semua jagung dapat
terpipil habis bahkan sering dijumpai biji jagung pipil yang pecah atau rusak.
3. Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil dari kayu berbentuk semanggi.
Alat ini cukup efektif memipil jagung secara manual. Diameter lubang pada
alat pemipil ini disesuaikan dan dibuat sama dengan diameter jagung tongkol.
Tongkol jagung tanpa klobot yang akan dipipil, diusahakan melewati lubang
berbentuk semanggi seraya diputar kekiri dan kekanan.
4. Pemipilan dengan menggunakan alat pemipil tipe sepeda atau tipe pedal,
dilakukan pada pemipilan jagung dalam jumlah yang relatif cukup besar.
5. Pemipilan dengan menggunakan mesin pemipil tipe silinder atau tipe pegas.
a. Mesin pemipil tipe silinder mempunyai kapasitas dan ukuran yang
bermacam-macam, mulai dari ukuran portable (kecil) sampai dengan
ukuran stasioner (besar).
b. Sedangkan mesin pemipil tipe pegas juga memiliki berbagai kapasitas dan
ukuran. Dirancang satu atau dua lubang (yang dapat digerakkan dengan
tangan maupun dengan motor); adapun yang dirakit berukuran empat atau
enam lubang (khusus digerakkan dengan motor dan tidak bisa digerakkan
dengan tangan).
c. Pemipilan dengan menggunakan alat mesin yang disebut corn sheller
dengan kapasitas jauh lebih besar
6. DRYING
Pengeringan jagung adalah kegiatan yang sangat penting. Pengeringan jagung
dapat dilakukan, dalam bentuk tongkol berkelobot, tongkol tanpa klobot dan pipilan.
a. Pengeringan jagung tongkol tanpa klobot Cara ini banyak dilakukan karena mudah
pelaksanaannya dan tidak diperlukan sarana khusus selama penjemuran disamping
meminimalisir penyusutan bobot karena tercecer/kehilangan, sehingga petani
menganggap cara ini cukup praktis, namun cara ini membutuhkan waktu yang lebih
lama dan ruangan yang lebih besar dibandingkan dengan bentuk lain. Pengeringan cara
ini dilakukan sampai kadar air mencapai 18-20%.
b. Pengeringan jagung tongkol berkelobot cara ini merupakan cara yang tidak dianjurkan
karena waktu lama dan hasil tidak baik.
c. Pengeringan jagung pipil, pengeringan cara ini dianjurkan dilakukan sampai kadar air
mencapai 14%. Adapun cara pengeringan jagung yang dikenal selama ini adalah
dengan 2 (dua) cara yaitu pengeringan alami dengan penjemuran, pengeringan buatan
dengan menggunakan teknik pengering menggunakan mesin pengering (grain dryer).
Pengeringan buatan maupun pengeringan secara alami dengan cara yang salah dapat
merusak jagung, sehingga menimbulkan cacat antara lain :
a. Case hardening terjadi karena suhu pengeringan langsung tinggi dan cepat,
sehingga bagian luar sudah kering (terlalu kering) sementara bagian dalam masih
basah; Akibatnya jagung tidak kering seluruhnya dan bagian dalam membusuk.
Apabila case hardening terjadi maka laju pengeringan terhambat karena lapisan
luar yang kering menghambat pengeringan bagian dalam.
b. Pengeringan terlalu cepat, terlalu lama atau suhunya terlalu tinggi dapat
mengakibatkan keretakan sampai pecah.
c. Apabila lapisan tumpukan jagung yang dikeringkan terlalu tebal akan terjadi water
front, misalnya pada pengering kotak tipe batch. Udara pengering (panas) dari
bawah kadang-kadang akan menyebabkan lapisan bawah mengering lebih awal
sehingga uap airnya mengalir ke atas. Pada kondisi ini gabah bagian atasnya relatif
lebih dingin, maka pada suatu lapisan terjadi kondensasi. Adapun garis yang
memisahkan lapisan basah dengan lapisan kering disebut water front. Apabila
jagung di lapisan atas dirasakan masih terasa basah, sementara itu di bagian bawah
sudah kering dan apabila pengeringan ditingkatkan (misalnya suhunya dinaikkan
lagi), maka bagian bawah kemungkinan akan gosong sedangkan di bagian atas
masih tetap basah. Maka untuk menghindari hal-hal tersebut, sebaiknya lapisan
jagung yang dikeringkan tidak terlalu tebal yaitu sekitar 50 cm. Ketebalan yang
dikeringkan yang efektif dapat diindikasikan dengan cara meletakan kertas di atas
hamparan yang bergerak kalau ada hembusan udara panas.
7. QULITY CONTROL
A.PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN
Jagung pipil yang telah dilakukan pembersihan dan telah digiling,
selanjutnya dapat dilakukan pengemasan dengan menggunakan kaleng, drum, karung
atau wadah lain. Selanjutnya apabila jagung giling tersebut tidak ingin dikonsumsi
secara langsung maka dapat dilakukan kegiatan penyimpanan. Kegiatan penyimpanan
dapat dilakukan sebelum jagung itu dipipil, mengingat jagung pipilan yang sudah
kering seyogyanya dilakukan penyimpanan di tempat yang bersih dan kering. Adapun
gudang tempat penyimpanan jagung pipilan maupun jagung yang telah digiling
hendaknya terlebih dahulu dilakukan pembersihan, kalau perlu dilakukan usaha
pencegahan terhadap hama bubuk (Calandra oyzae L.). Jangan lupa untuk meletakkan
balok-balok kayu yang disusun sedemikian rupa, untuk dipergunakan sebagai alas
penyimpanan jagung pipilan maupun jagung yang telah digiling, oleh karena baik
jagung pipilan ataupun jagung yang sudah digiling tidak boleh langsung
menyentuh/bersinggungan dengan lantai/tanah dan dinding. Agar kondisi jagung tetap
terjaga maka kadar air biji jagung hendaknya dipertahankan tidak lebih dari 14%, sebab
dalam hal penyimpanan jagung berkadar air tinggi akan merangsang mikroba, yang
dapat menaikkan suhu dalam karung yang menyebabkan biji jagung cepat rusak/busuk.
Oleh karena itu, untuk mempertahankan kadar air itu kadang-kadang masih dirasa perlu
untuk mengadakan kegiatan penjemuran ulang.
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MUTU
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi mutu jagung antara lain adalah sebagai berikut
1. Umur panen jagung Ditetapkan berdasarkan varietasnya, dimana berdasarkan
varietasnya jagung dikelompokkan dalam umur genjah, umur sedang/medium dan
umur dalam.
2. Pemanenan jagung yang kedaluwarsa (dengan umur terlalu tua) dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan karena pengaruh hujan atau panas di lapangan.
Sebaliknya jagung yang dipanen dengan kondisi kurang masak akan menghasilkan
butir muda yang mudah keriput terutama setelah dikeringkan. Oleh karena itu
pemanenen harus memperhatikan derajat masak jagung
3. Pengkelasan mutu (Grading) Grading merupakan usaha mengklasifikasi komoditas
jagung berdasarkan standar mutu yang berlaku. Tujuannya adalah untuk
mengetahui adanya perbedaan antara acceptibility (tingkat keterterimaan)
konsumen terhadap komoditas (jagung disatu pihak, yang perlu dijabarkan dalam
suatu standar yang telah disepakati dan dibakukan dilain pihak. Grading dan faktor
mutu jagung perlu dipahami terutama untuk menjamin kepastian (mengurangi
perselisihan pendapat/mis-understanding), disamping sebagai problem solution
dalam hal memberikan keadilan bagi pihak-pihak yang berkompeten.
4. Berbicara masalah grading dan faktor mutu jagung maka jelas diperlukan faktor-
faktor penentu mutu. Terdapat 2 (dua) standar faktor penentu mutu yaitu faktor
kualitatif dan faktor kuantitatif.
a. Faktor penentu mutu kuantitatif, meliputi berbagai item antara lain sebagai
berikut :
Hama : banyaknya hama (hidup) yang telah ditemukan dalam sample
Kotoran dan benda-benda asing : penelitian terhadap benda-benda yang ada
dalam sample seperti butir pecah atau retak, sisa tanaman, batu, tanah dan
bijian lain.
Kadar air : penelitian terhadap kadar air yang terdapat pada jagung yang
dinyatakan dengan persentase, sedang terhadap bobot komoditas jagung
berdasarkan
Butir pecah : butir komoditas jagung sehat yang menjadi pecah selama
perlakuan berukuran sama atau lebih besar atau lebih kecil dari 6/10 butir
utuh.
Butir retak : butir-butir komoditas jagung yang menjadi retak selama
perlakuan.
Butir rusak : butir butir komoditas jagung yang kerusakannya karena
berubah warna / bentuk, busuk (berbau tidak disukai), kerusakan
ikrobiologis/ biologis, kimiawi, fisis atau enszimatis dan berkecambah.
b. Faktor penentu mutu kualitatif, dalam hal ini ada suatu statemen yang
menyatakan sebagai berikut :
biji jagung benar-benar harus bebas dari gejala atau tanda-tanda terdapatnya
bahan Kimia yang membahayakan, baik secara organoleptis maupun secara
visual.
biji jagung harus benar benar bebas dari hama dan penyakit
biji jagung harus benar benar bebas dari bau apek, busuk, atau masam dan
bau asing lainnya.
8. PROCESSING
A. PEMBERSIHAN
Tujuan kegiatan pembersihan adalah dalam rangka untuk membersihkan
jagung yang telah dipipil dan membuang kotoran seperti sisa janggel, biji yang pecah
atau rusak atau hampa dan kotoran tanah. Terdapat 3 (tiga) cara pembersihan kotoran
jagung yang dapat dilakukan, yaitu antara lain :
a. Pembersihan secara manual
Pembersihan secara manual yaitu pembersihan dalam jumlah kecil dengan cara
mengaduk-aduk atau menampi biji jagung pipilan kemudian dibersihkan dengan
sapu lidi.
b. Pembersihan dengan menggunakan ayakan/saringan Ayakan/saringan dalam hal ini
berfungsi sebagai alat pembersih dan sortasi. Adapun pembersihan cara ini ternyata
mempunyai kapasitas lebih banyak dari pada pembersihan secara manual. Salah
satu hal yang mesti harus diperhatikan yaitu kemiringan kerangka saringan/ayakan
sebab kecepatan perjalanan butir ditentukan oleh besarnya sudut kemiringan bahan;
terlebih lagi unit saringan/ayakan ini bekerja dengan prinsip gerakan eksentrik
yang berasal dari mesin penggerak.
c. Pembersihan dengan menggunakan blower Pembersihan dengan menggunakan
blower (alat penghembus), yang kegiatannya biasa dilakukan dalam skala besar,
dimana dengan alat ini maka bahan-bahan dengan bobot dan berat jenis yang lebih
kecil dari jagung dapat ihembus/ditiup dan disortasi dari biji jagung Dalam proses
pembersihan ini, kotoran maupun debu yang sudah di sortasi akan dihisap oleh
aspirator (alat penghisap). Umumnya pembersih seperti ini di rakit satu kesatuan
dengan alat pemipil tipe Tresher serba guna dan Corn Sheller.
B. PENGGILINGAN

Panen Dan Pascapanen Kacang Tanah
Tahapan awal penanganan pasca panen yaitu menentuan saat panen kacang tanah Penentuan
saat panen kacang tanah dapat dilakukan berdasarkan: deskripsi varietas kacang tanah, umur
tanaman kacang tanah dan kenampakan fisik.
Penanganan pasca panen kacang tanah meliputi pengumpulan yang diikuti pengering an,
penyortiran dan penggolongan, penyimpanan, Pengemasan dan Pengangkutan.

Umur Panen dan Ciri kacang tanah yang siap panen
Umur panen tanaman kacang tanah tergantung dari jenisnya yaitu umur pendek 3-
4 bulan dan umur panjang 5-6 bulan.
Adapun ciri-ciri kacang tanah sudah siap dipanen antara lain:
a) Batang mulai mengeras.
b) Daun menguning dan sebagian mulai berguguran, polong sudah berisi penuh dan
keras.
c) Warna polong coklat kehitam-hitaman.

Cara Panen
Cara panen biasanya dengan mencabut tanaman kacang tanah kemudian polong (buahnya)
dicabut untuk selanjutnya dibersihkan dan terus dijemur dalam terik matahari sampai kering.
Jika akan memerlukan benih , bisa memilih yang bagus fisiknya dan tidak cacat, untuk
selanjutnya dilakukan penyimpanan.
Kalau akan dikonsumsi, kacang tersebut bisa langsung dipasarkan atau bisa juga biji yang
sudah dikupas dapat dibuat berbagai jenis produk makanan.

Produksi dalam satuan luas
Besarnya produksi dalam satu hektar kacang tanah bermacan-macam tergantung kesuburan
tanahnya dan varietasnya serta pemeliharaannya. Jumlah produksi saat panen, biasanya
sekitar 2 ton/ha polong kering.

Pascapanen kacang tanah meliputi:
Pengumpulan dan Pengeringan polong
Brangkasan yang belum dipipil jangan ditumpuk. Brangkasan tanaman bisa dipotong di
lapangan sehingga tinggal cabang dan polongnya saja dapat dijemur, sedang brangkasannya
dapat dikumpulkan. Kegiatan pemipilan ini dapat pula dilakukan setelah polong kering.
Setelah panen, pengeringan harus dilakukan sesegera mungkin setelah panen. Jika ditimbun
lama menyebabkan tumpukan benih menjadi panas, respirasi benih berlangsung cepat,
sehingga vigor awal benih menjadi rendah.
Pengeringan harus dilakukan dalam keadaan cuaca sangat baik. (panas terik).
Caranya: polong dihamparkan di atas lantai jemur/terpal dengan ketebalan 2-3 cm. lakukan
pembalikan setiap 1-2 jam. Lama penjemuran 4-5 hari dengan kadar air biji sekitar 12%
upayakan kadar air biji mencapai sekitar 10%

Penyortiran dan Penggolongan
Polong kacang tanah bisa dipilah-pilahkan menurut polong yang tua dan polong yang muda
untuk dipisahkan berdasarkan derajat ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk
untuk dibuang.
Caranya: ditampi atau diayak untuk memisahkan polong dari kotoran. Pisahkan polong
bernas. Kumpulkan polong yang baik, bernas dan seragam ukurannya.

Penyimpanan
a) Penyimpanan dalam bentuk polong kering, masukan polong kering kedalam karung goni
atau kaleng tertutup rapat lalu disimpan digudang penyimpanan yang tempatnya kering.
b) Penyimpanan dalam bentuk biji kering.
c) Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah. Jemur
biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukan ke dalam wadah.

Pengemasan dan Pengangkutan
produk mentah/polong mentah dapat dilakukan pengemasan dengan menggunakan plastic per
10 kg.Dapat juga berupa kemasan kue atau bentuk makanan yang sudah dimasak seperti
kacang rebus, kacang goreng dan berbagai jenis kue dari kacang tanah.
Kacang tanah dikemas dalam karung goni atau dari bahan lain yang sesuai kuat dan
Bersih, kemudian dijahit, berat setiap karung disesuaikan dengan besarnya karung. Namun
diperhitungkan agar tahan pada saat diangkat-angkat atau saat dilakukan pembongkaran.
Di bagian luar karung (kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan yang aman
yang tidak luntur dengan jelas terbaca antara lain:
a) Produksi Indonesia.
b) Daerah asal produksi.
c) Nama dan mutu barang.
d) Nama perusahaan/pengekspor.
e) Berat bruto.
f) Berat netto.
g) Nomor karung.
h) Tujuan.
Untuk pengangkutan pada prinsipnya yang penting kondisi komoditi tersebut tidak
rusak atau tidak berubah dari kualitas yang sudah disiapkan.

PENGUMPULAN

Kumpulkan brangkasan tanaman kacang tanah ditempat strategis.

PENYORTIRAN DAN PENGGOLONG

Pilah-pilah polong yang tua dan polong yang muda untuk dipisahkan berdasarkan derajat
ketuaannya, lalu seleksi polong yang rusak atau busuk untuk dibuang.

PENYIMPANAN

a) Penyimpanan dalam bentuk polong kering, masukan polong kering kedalam karung
goni atau kaleng tertutup rapat lalu disimpan digudang penyimpanan yang tempatnya
kering.
b) Penyimpanan dalam bentuk biji kering.
c) Kupas polong kacang tanah kering dengan tangan atau alat pengupas kacang tanah.
Jemur (keringkan) biji kacang tanah hingga berkadar air 9% lalu masukan ke dalam
wadah.

PENGEMASAN DAN PENGANGKUTAN

Pengemasan bisa dilakukan untuk produk mentah/polong mentah dalam bungkus plastik
per 10 kg. Dapat juga berupa kemasan kue atau bentuk makanan yang sudah dimasak
seperti kacang rebus, kacang goreng dan berbagai jenis kue dari kacang tanah.

Untuk pengangkutan pada prinsipnya yang pentuing kondisi komoditi tersebut tidak rusak
atau tidak berubah dari kualitas yang sudah disiapkan.