Anda di halaman 1dari 17

Mata Kuliah geologi Teknik Sifat Mekanik pada batuan

Posted by mazrylkudo on February 23, 2012 in Materi Kuliah


SIFAT MEKANIK BATUAN
Sifat-sifat mekanik batuan meliputi :
->strength batuan,
->drillabilitas batuan,
->hardness batuan,
->abrasivitas batuan,
->tekanan batuan dan
->elastisitas batuan.
1. Strength Batuan
Arthur menyatakan bahwa strength pada batuan merupakan faktor yang sangat penting untuk
penentuan laju pemboran. Strength pada batuan adalah kemampuan batuan untuk mengikat
komponen-komponennya bersama-sama. Jadi dengan kata lain apabila suatu batuan diberikan tekanan
yang lebih besar dari kekuatan batuan tersebut, maka komponen-komponennya akan terpisah-pisah
atau dapat dikatakan hancur. Lebih lanjut lagi, criteria kehancuran batuan diakibatkan oleh adanya :
Stress (tegangan) dan Strain (regangan).
Tegangan dan regangan ini terjadi apabila ada suatu gaya yang dikenakan pada batuan tersebut.
Goodman, menyatakan variasi beban yang diberikan pada suatu batuan mengakibatkan kehancuran
batuan. Terdapat empat jenis kerusakan batuan yang umum, yaitu :
1.1. Flexure Failure
Flexure failure terjadi karena adanya beban pada potongan batuan akibat gaya berat yang
ditanggungnya, karena adanya ruang pori formasi dibawahnya.
1.2. Shear Failure
Shear failure, kerusakan yang terjadi akibat geseran pada suatu bidang perlapisan karena adanya suatu
ruang pori pada formasi dibawahnya.
1.3. Crushing dan Tensile Failure
Crushing dan tensile failure merupakan kerusakan batuan yang terjadi akibat gerusan suatu benda atau
tekanan sehingga membentuk suatu bidang retakan.
1.4. Direct Tension Failure
Direct tension failure, kerusakan terjadi searah dengan bidang geser dari suatu perlapisan.
2. Drillabilitas
Drillabilitas batuan (rock drillability) merupakan ukuran kemudahan batuan untuk dibor, yang
dinyatakan dalam satuan besarnya volume batuan yang bisa dibor pada setiap unit energi yang
diberikan pada batuan tersebut. Drillabilitas batuan dapat ditentukan melalui data pemboran (drilling
record).
E = energi mekanik yang dibutuhkan, lb-in
W = weigth on bit, lbf
r = jari-jari pahat, in
R = laju pemboran, ft/hr
N = kecepatan putar, rpm
V = volume batuan yang dihasilkan, in3
Selanjutnya dengan pengembangan model pemboran, drillabilitas batuan dapat ditentukan dengan
menggunakan roller cone bit.
3. Hardness
Hardness atau kekerasan dari batuan, merupakan ketahanan mineral batuan terhadap goresan. Skala
kekerasan yang sering digunakan untuk mendriskripsikan batuan diberikan oleh Mohs.
SKALA KEKERASAN MOHS
1. Talk
2. Gypsum
3. Calcite
4. Fluorite
5. Apatite
6. Orthoclase Feldspar
7. Quartz
8. Topaz
9. Corondum
10. Diamond
Gatlin, menyatakan batuan diklasifikasikan dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Soft rock (lunak) : clay yang lunak, shale yang lunak dan batuan pasir yang unconsolidated atau kurang
tersemen.
2. Medium rock (sedang) : beberapa shale, limestone dan dolomite yang porous, pasir yang
terkonsolidasi dan gypsum.
3. Hard rock (keras) : limestone dan dolomite yang padat, pasir yang tersemen padat/keras dan chert.
4. Abrasivitas
Merupakan sifat menggores dan mengikis dari batuan, sehingga sering menyebabkan keausan pada gigi
pahat dan diameter pahat. Setiap batuan mempunyai sifat abrasivitas yang berbeda-beda, pada
umumnya batuan beku mempunyai tingkat abrasivitas sedang sampai tinggi, batu pasir lebih abrasif
daripada shale, serta limestone lebih abrasif dari batu pasir atau shale. Ukuran dan bentuk dari partikel
batuan menyebabkan berbagai tipe keausan, seperti juga torsi dan daya tekan pada pahat.
5. Tekanan Pada Batuan
Merupakan tekanan-tekanan yang bekerja pada batuan formasi. Tekanan-tekanan tersebut harus
diperhatikan dalam kegiatan pemboran. Karena berpengaruh dalam cepat-lambatnya laju penembusan
batuan formasi. Secara umum, batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan mengalami tekanan :
a. Internal Stress yang berasal dari desakan fluida yang terkandung di dalam pori-pori batuan (tekanan
hidrostatik fluida formasi).
b. Eksternal Stress yang berasal dari pembebanan batuan yang ada di atasnya (tekanan overburden).
6. Elastisitas
Elastisitas dalah sifat elastis atau kelenturan dari suatu batuan.
SIFAT SIFAT FISIK BATUAN
1. Bobot isi asli ( Natural Density ) = Wn / ( Ww Ws )
2. Bobot isi kering ( dry density ) = Wo / ( Ww Ws )
3. Bobot isi jenuh ( saturated density ) = Ws / ( Ww Ws )
4. Apparent Specific gravity = (Bobot isi kering / bobot isi air )
5. True Specific gravity = [ Wo / (Wo-Ws) ] / bobot isi air
6. Kadar air asli = [ (Wn-Wo) / Wo ] x 100 %
7. Derajat Kejenuhan = {(Wn-Wo) / (Ww-Wo)} x 100 %
8. Porositas n = { (Ww-Wo) / (Ww-Ws) } x 100 %
9. Void Ratio : e = n / ( 1 n )

Pengenalan Geologi Teknik
Geologi Teknik adalah aplikasi geologi untuk kepentingan keteknikan, yang menjamin pengaruh faktor-
faktor geologi terhadap lokasi, desain, konstruksi, pelaksanaan pembangunan (operation) dan
pemeliharaan hasil kerja keteknikanatau engineering works (American Geological Institute dalam
Attewell & Farmer, 1976).

Didalamnya mempelajari antara lain:
Mekanika Tanah dan Batuan
Teknik Pondasi
Struktur Bawah Tanah

Sebenarnya pengetahuan ini sudah dimengerti dan dipergunakan beberapa abad yang lalu baik di
indonesia maupun di negeri-negeri lain. Di indonesia misalnya pada pembuatan candi-candi pada waktu
itu sudah dapat memilih batu-batu berkualitas. Pemakaian ilmu geologi untuk bidang teknik sipi
dilakukan oleh ahli teknik sipil inggris bernama William Smith (1839) dikenal sebagai bapak geologi
inggris. Dengan pembuatan terowongan kereta api swiss, bendungan di california, (1928). Di indonesia
kira-kira 50 tahun yang lalu baru mulai ada kesadaran pentingnya geologi dalam pekerjaan-pekerjaan
sipil.


Gambar1.1 Ruang Lingkup Geologi Teknik

Peristilahan material bangunan sering terjadi masalah, oleh karena itu sebagai konsultan bidang geologi
teknik harus memahami istilah-istilah atau batasan-batasan yang benar menurut teknik sipil. Ada
perbedaan pengertian dalam bidang geologi maupun bidang teknik sipil tentang tanah dan batuan.


Gambar1.2 Tabel Istilah

Peran Ahli geologi dan teknik sipil digambarkan sebagai berikut:


Gambar1.3 Korelasi Geoteknik

Geologi Teknik (Batuan dan Tanah)
Batuan : Material kerak bumi yang terdiri atas mineral penyusun bertekstur, berstruktur
SIFAT : - padu;
- q
u
(UCS, unconfined compression strength) > 200 psi
(= 14 kg/cm
2
)


- bila terdiri dari satu butir, ukuran butirnya > boulder
(> 256 mm); berat > 40 kg

Tanah : Mineral penyusun (dengan/tanpa material organik) yang terdekomposisi (lapuk), berstruktur dan
bertekstur
SIFAT : - urai, lepas, lunak;
- q
u
(UCS, unconfined compression strength) < 200 psi;
- ukuran butirnya < boulder (< 256 mm); berat < 40 kg

(Shower & Shower, 1967)
FUNGSI BATUAN & TANAH

Mass properties : bekerja menyangga beban bangunan
atau beban di atasnya.
Material properties : mewakili mass properties


MASS MATERIAL PROPERTIES +
PROPERTIES FABRIC (KEMAS) +
BATUAN SEMENTASI
Fondasi : tanah/batuan fondasi mass properties

Bahan Konstruksi : dikenal istilah bahan isian tanah atau
batuan (earth/rock fill materials) material properties

GENESIS TANAH



Desintegrasi : Proses pemisahan/ penghancuran dari material besar menjadi material kecil-kecil

Transpostasi : Proses transportasi (oleh arus air: di sungai, laut; oleh angin: di gurun)

Redeposisi : Proses pengendapan sesuai dengan lingkungan perendapan (media air dan angin)

Dekomposisi : Prosesi pelapukan melibatkan fisika/kimia. Intensif di iklim basah, disusul erosi, transportasi
dan redeposisi (jika tanpa ini, akan menghasilkan tanah residu di tempat asal yang melekat pada batuan
asal)

Residual soil
pelapukan tanpa erosi, transport
dan redeposisi
Transpoted soil
pelapukan disertai erosi, transport
dan redeposisi
5 Zona tanah pelapukan
segar
terlapukkan sebagian
terlapukkan sedang
terlapukkan kuat
terlapukkan komplit
Faktor pembentuk tanah
S = f (C, T, t, O, R)

s=SOIL
C=iklim
T=topografi
t=waktu
O=organisma
R=batuan induk


GEOTEKNIK TAMBANG (Pendahuluan)
Didalam operasi penambangan, masalah kemantapan lereng akan ditemukan pada Penggalian Tambang
Terbuka (open pit ataupun open cut), bendungan untuk cadangan air kerja, di tempat tempat
penimbunan bahan buangan (tailing disposal) dan di penimbunan bijih (stockyard).

Apabila lereng yang terbentuk sebagai akibat dari proses penambangan (pit slope) maupun yang
merupakan sarana penunjang operasi penambangan (bendungan, jalan, dll) itu tidak stabil maka
kegiatan produksi akan terganggu.

Oleh karena itu suatu analisis kemantapan lereng merupakan suatu bagian yang penting untuk
mencegah terjadinya gangguan terhadap kelancaran produksi maupun terjadinya bencana yang fatal.

Dilihat dari jenis material, ada 2 macam lereng, yaitu :
Lereng batuan
Lereng Tanah

Dalam analisis dan penentuan jenis tindakan pengamanannya, lereng batuan tidak dapat disamakan
dengan lereng tanah, karena parameter material dan jenis penyebab longsor di kedua lereng tersebut
sangat jauh berbeda.

Masalah kemantapan lereng pada umumnya tergantung pada faktor penyebab sebagai berikut :
1. Lokasi, arah, frekuensi, kekuatan dan karakteristik dari bidang bidang lemah
2. Keadaan tegangan alamiah dalam massa batuan / tanah
3. Konsentrasi lokal dari tegangan
4. Karakteristik mekanik dari massa batuan / tanah
5. Iklim terutama jumlah hujan untuk di daerah tropis
6. Geometri Lereng

Tiga pendekatan utama dari analisis kemantapan lereng adalah :
1. Pendekatan mekanika batuan
2. Pendekatan mekanika tanah
3. Pendekatan yang memakai kombinasi keduanya

Beberapa metoda analisis kemantapan yang dapat digunakan antara lain :
1. Metoda analitik
2. Metoda grafik
3. Metoda keseimbangan limit
4. Metoda numerik (metoda elemen hingga, elemen diskret, eleman batas, dll)
5. Teori blok
6. Sistem pakar

Dalam menentukan kestabilan / kemantapan lereng, dikenal istilah Faktor Keamanan (Safety Factor),
yang merupakan perbandingan antara gaya gaya yang menahan, terhadap gaya gaya yang
menggerakkan tanah tersebut.

Bila Faktor Keamanan lebih tinggi dari satu, umumnya lereng tersebut dianggap stabil.

Gerakan tanah atau dapat di definisikan sebagai berpindahnya massa tanah atau batuan pada arah
tegak, mendatar atau miring, dari kedudukannya semula.

Adapun jenis gerakan tanah atau batuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Longsoran (sliding)
2. Runtuhan (falling)
3. Nendatan
4. Amblasan (subsidence)
5. Rayapan (creep)
6. Aliran (flow)
7. Gerakan Kompleks

Pengertian longsoran diperjelas oleh Coates (1977) dengan membuat daftar berikut:
1. Longsoran mewakili suatu kategori dan suatu fenomena, included under the general heading of mass
movement
2. Gravitasi adalah gaya utama yang dilibatkan
3. Gerakan harus cukup cepat, karena rayapan (creep) adalah begitu lambat sebagai longsoran
4. Gerakan dapat berupa keruntuhan (falling), longsoran / luncuran (sliding), dan aliran (flow)
5. Bidang atau daerah gerakan tidak sama dengan patahan.
6. Gerakan akan ke arah bawah dam menghasilkan bidang bebas, jadi subsidence tidak termasuk.
7. Material yang tetap di tempat, mempunyai batas yang jelas dan biasanya melibatkan hanya bagian
teratas dari punggung lereng.
8. Material yang tetap di tempat dapat meliputi sebagian dari regolith dan / atau bedrock.
9. Fenomena frozen ground biasanya tidak termasuk kategori ini.

Longsoran atau luncuran dalam arti yang sebenarnya :
Dihasilkan umumnya pada suatu material yang kurang rapuh.
Gerakan ini terjadi sepanjang satu atau beberapa bidang luncuran.
Gerakan ini bisa berupa rotasi atau translasi yang tergantung pada keadaan material serta strukturnya.

Jika luncurannya merupakan rotasi, maka biasanya akan menghasilkan longsoran busur atau lingkaran.
Tetapi bila gerakan ini merupakan translasi, maka akan menghasilkan longsoran bidang. Gabungan
kedua gerakan ini akan menghasilkan longsoran busur dan bidang.

Runtuhan (falling) dapat terjadi dari bidang bidang diskontinu pada suatu lereng yang tegak, pada
rayapan dari lapisan lunak (misalnya marl lempung) atau gulingan blok sebagai contoh runtuhan yang
terjadi di Gunung Granier En Savoie pada tahun 1248 (Hantz, 1988).

Keruntuhan dari jurang batu kapur dengan ketinggian sekitar 1000 m, mengikuti gelinciran / longsoran
dari marl dan menggerakkan suatu volume yang sangat besar, yaitu sekitar 500.000.000 m3 yang
menyebar sepanjang 7 km dengan luas 20 km2 dan membunuh ribuan penduduk.

Rayapan (Creep)
Gerakan yang kontinu dan relatif lambat, kita tidak dapat melihat dengan jelas bidang rayapan.
Contoh daerah yang sering mengalami kejadian ini adalah Pangadegang, cianjur selatan. Disana,
daerah yang bergerak mencakup sekitar 100 km. selain itu, terjadi juga di daerah Ciamis utara, dan
Banjarnegara di Jawa Tengah

Aliran
Gerakan ini berasosiasi dengan transportasi material oleh air atau udara dan dipicu oleh gerakan
longsoran sebelumnya.
Kecepatan gerakan ini bisa sangat tinggi

Terzaghi (1950) and brunsden (1979) mengklasifikasikan penyebab gerakkan massa tanah atau batuan
sebagai penyebab eksternal, internal, dan kombinasi keduanya.

Penyebab Eksternal :
1. Perubahan geometri lereng : pemotongan kaki lereng, erosi, perubahan sudut kemiringan, panjang,
dll.
2. Pembebasan beban : erosi, penggalian
3. Pembebanan : Penambahan material, penambahan tinggi.
4. Shock dan vibrasi : buatan, gempa bumi
5. Penurunan permukaan air.
6. Perubahan kelakuan air : hujan, tekanan pori, dll.

Penyebab Internal :
1. Longsoran, progresif : mengikuti ekspansi lateral, fissuring, dan erosi
2. Pelapukan.
3. Erosi seepage : solution, piping

Klasifikasi dari longsoran pada umumnya dapat didasarkan pada faktor-faktor sebagai berikut :
1. Jenis dari material
2. Morfologi dari material
3. Karakteristik geomekanik
4. Kecepatan dan lama dari gerakan
5. Bentuk dari permukaan longsoran (bidang,baji,busur)
6. Volume yang dilibatkan
7. Umur dari longsoran
8. Penyebab longsoran
9. Mekanisme longsoran

Kemantapan suatu lereng dinyatakan dengan FAKTOR KEAMANAN (safety factor), yang merupakan
perbandingan antara besarnya gaya penahan dengan gaya penggerak longsoran.

Apabila harga FK untuk suatu lereng > 1,0 (gaya penahan > gaya pengerak), maka lereng tersebut
dikategorikan mantap. Tetapi apabila harga FK < 1,0 (gaya penahan < gaya penggerak), maka lereng
tersebut berada dalam kondisi tidak mantap dan mungkin akan terjadi longsoran pada lereng yang
bersangkutan.

Jenis longsoran pada lereng dapat dibagi menjadi 4 (empat) macam :
1. Longsoran Lereng Busur
2. Longsoran Lereng Guling
3. Longsoran Lereng Baji
4. Longsoran Lereng Bidang

Longsoran Busur pada massa tanah, ukuran, atau batuan dengan sistem kekar, yang rapat, mempunyai
jumlah keluarga kekar dengan orientasi acak.

Longsoran Bidang pada massa batuan dengan satu keluarga kekar dengan orientasi positif terhadap
kemiringan muka lereng.

Longsoran Membaji pada massa batuan dengan dua keluarga kekar yang masing-masing orientasinya
terpotong dengan garis potong bidang-bidangnya yang mempunyai orientasi positif terhadap
kemiringan muka lereng.

Longsoran Guling pada batuan kuat dengan satu keluarga kekar yang orientasinya relatif tegak dan jarak
antara kekarnya relatif pendek.

Tahap tahap penyelesaian masalah dan pembuatan keputusan.
Walaupun demikian hal ini lebih sesuai untuk kasus dimana lereng tambang tidak stabil dan usaha
usaha perbaikan dari lereng, maka ada 3 unsur yang penting :
Penilaian Situasi = Kategori lokasi
Analisis Masalah = Identifikasi mekanisme dan analisis
Analisis Keputusan = Perancangan lereng

Batuan Beku, batuan sedimen tertentu dan batuan metamorf tertentu, yang masih segar dan belum
mengalami proses pelapukan, umumnya memberikan kemantapan yang baik, terutama kalau batuan
tersebut tersebar luas (MONOLITOLOGI).

Batuan Beku umumnya terdiri dari mineral mineral kristalin yang tersusun sedemikian rupa sehingga
batuan tersebut kuat dan kompak karena kristal kristalnya terikat satu sama lainnya dengan baik. Kuat
tekan maupun kuat tarik batuan ini umumnya sangat tinggi.

Batuan Sedimen yang terkonsolidasi dengan baik, sehingga ikatan antara masing masing butirnya kuat,
juga mempunyai kekuatan batuan yang tinggi. Tetapi sedimen yang belum terkonsolidasi (lepas) tidak
mempunyai kekuatan batuan yang tinggi. Kekuatan batuan sedimen juga dipengaruhi oleh kekuatan
mineral mineral penyusunnya.

Batuan Metamorf yang terdiri dari satu macam mineral yang kuat dan mempunyai ukuran butiran yang
homogen juga mempunyai kekuatan yang tinggi (kuarsit, marmer). Sedangkan batuan metamorf yang
bertekstur sekis atau gneiss mempunyai kekuatan yang tidak sama pada arah arah yang berbeda
(anisotrop) karena dipengaruhi oleh orientasi kristal.

Kesalahan dimensi lereng (tinggi dan sudut lereng) :
- Hadirnya struktur geologi
- Hadirnya air tanah dan air permukaan
- Adanya pengikisan oleh angin
- Adanya proses pelapukan
- Adanya beban dinamis
http://wahyu-di-q.blogspot.com/2011/10/geoteknik-tambang-pendahuluan.html

Tanah Menurut Profesi Keteknikan
Posted on March 1, 2011 by geomaticsipb
Definnisi tentang tanah yang di pergunakan oleh seorang insinyur sipil agak bersifat kesepakatan
dan berbeda dengan definisi yang di gunakan oleh seorang ahli geologi , ahli ilmu tanah, ataupun
orang awam. Seorang insinyur sipil menganggap tanaha termasuk semua bahan, organik dan
anorganik, yang ada di atas lapisan batuan tetap. Di dalam menafsirkan dan mempergunakan
pekerjaan disiplin lain,insinyur harus selalu ingat bahwa terdapat banyak perbedaan dasar dalam
terminologi dan definisi yang di gunakan untuk mengklasifikasikan dan menjelaskan perilaku
tanah secara fisis dan kimia. Terminologi dan definisi yang di gunakan dalam catatan ini adalah
terminologi dan definisi yang umum di pakai pada profesi keteknikan.
Berdasarkan asalnya , tanah dapat di klasifikasikan secara luas menjadi tanah organik dan tanah
anorganik. Tanah organik adalah campuran yang mengandung bagian-bagian yang cukup berarti
berasal dari lapukan dan sisa tanaman dan kadang -kadang dari kumpulan kerangka dan kulit
organisme kecil. Tanah anorganik berasal dari pelapukan batuan secara kimia ataupun fisis.
Tanah inorganik yang tetap berada pada tempat terbentuknya dinamakan tanah residual . Apabila
tanah telah di pindahkan ke lokasi lain oleh gravitasi ,air ,ataupun angin, dinamakn tanah
pindahan (transported soil).
Pengetahuan tentang sejarah sesuatu deposit tanah, secara garis besar dapat banyak
mengungkapkan sifat-sifat teknis tanah . Sifat-sifat teknis pada dasarnya merupakan fungsi dari
sifat-sifat kimia dan fisi dari bahan induknya , tipe pelapukan yang telah membentuk tanah ,
apakah deposit berupa tanah residual atau tanha pindahan, cara kepindahan dan deposisinya bagi
tanah pindahan, sejarah tegangan dari deposit tanah , sejarah kimia dari air pori , dan sejarah dari
posisi permukaan air . Meskipun diperlukan persyaratan pengambilan sample dan pengujian
yang terinci guna evaluasi yang tepat dari sifat-sifat teknis tanah, banyak informasi yang dapat di
peroleh dari pengetahuan tentang tipe tanah dan sejarahnya . Bagian berikutnya akan menyajikan
contoh-contoh karakteristik teknis secar garis besar dari beberapa tanah.
http://geomaticsipb.wordpress.com/2011/03/01/tanah-menurut-profesi-keteknikan/

Pengertian Tanah dan Batuan
Pengertian menurut berbagai hal :
Pengertian tanah menurut ahli geomofologi ( THOMBURY)
Tanah adalah bagian dari permukaan bumi yang ditandai oleh lapisan yang sejajar dengan permukaan
bumi, sebagai modifikasi oleh proses-proses fisik, kimiawi, maupun biologis yang bekerja dibawah
kondisi bermacam-macam yang bekerja selama periode tertentu.
Pengertian tanah menurut ahli geologi ( FREDRICH FALLON )
Tanah merupakan lapisan bumi teratas yang terbentuk dari batuan yang telah lapuk.
Pengertian tanah menurut ahli fisika bumi ( AD. THAER 1906 )

Tanah adalah bahan- banhan yang remah dan lepas-lepas yang merupakan akumulasi berbagai bahan
terutama terdiri atas unsur- unsur Si, Ca, Al, Mg, dan unsur-unsur lainya.
Geografi tanah mempelajari penyebaran jenis tanah di muka bumi dan faktor yang menentukan
penyebaran, yang dipelajari mencakup sifat-sifat tanah, genesa tanah, klasifikasi tanah, penyebarannya
dan terapanya dalam kehidupan sehari- hari
Komponen- komponen tanah
Tanah terdiri dari:
Bahan organik ( 5 %)
Bahan mineral ( 45 %)
Air ( 20-30 % )
Udara ( 20-30 % )

Mekanika Tanah
1

Mekanika Tanah adalah bagian dari Geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu Teknik Sipil,
dalam bahasa Inggris mekanika tanah berarti soil mechanics atau soil
engineering dan Bodenmechanik dalam Bahasa Jerman.
Istilah mekanika tanah diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui
bukunya Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage (Mekanika Tanah berdasar pada Sifat-
Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas prinsip-prinsip dasar dari ilmu mekanika tanah modern, dan
menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini, sehingga Terzaghi disebut sebagai Bapak Mekanika
Tanah.
Definisi Tanah
Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari:
1. Agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak terikat secara kimia satu sama lain.
2. Zat Cair.
3. Gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara butiran mineral-mineral padat tersebut.
Tanah berguna sebagai pendukung pondasi bangunan dan juga tentunya sebagai bahan bangunan itu
sendiri (contoh: batu bata).

Werner 1918 pakar geologi modern dalam Jofee 1949 tidak memisahkan antara ilmu tanah dengan
geologi, dan berpendapat bahwa tanah adalah lapisan hitam tipis yang menutupi bahan padat kering
terdiri atas bahan bumi berupa partikel kecil yang remah, sisa vegetasi dan hewan. Tanah adalah
medium dalam tumbuhan bertempat kedudukan, berakar, tumbuh, dan berubah. Sprengel 1837 , tanah
adalah suatu massa bahan berasal dari mineral yang mengandung hasil dekomposisi tumbuhan dan
hewan. Faktor dekomposisi batuan untuk menjadi tanah adalah air, oxigen, karbondioksida dari udara,
vegetasi dan aliran air.
Friedrich Fallou 1855 sendiri dalam Joffe 1949 secara geologi umum tanah dapat dianggap sebagai hasil
pelapukan oleh waktu yang menggerogoti batuan planet kita, dan lambat laun mengadakan
dekomposisi masa tanah yang kompak. Dalam hal ini tanah dibagi dua katagori ialah tanah yang lapuk
dan tanah alluvial. Ricthofen salah satu pengikut Fallou 1882 dalam Joffe 1949 dengan pengalamannya
dalam geologi dan geografi menyatakan bahwa tanah adalah bentukan permukaan bumi yang lepas,
semacam penyakit batuan alam. Tahun 1870 Dokuchaiev dalam Glinka 1927 menyatakan bahwa tanah
adalah bantukan mineral dan organik dipermukaan bumi, sedikit banyak selalu diwarnai oleh humus,
dan secara tetap menyatakan dirinya sebagai hasil kegiatan kombinasi bahan, seperti jasad, baik yang
hidup maupun yang mati, bahan induk, iklim dan relief.

Menurut USCS
Batuan dan tanah mempunyai perbedaan. Menurut Shower (1967), batuan dan tanah dibedakan
dalam beberapa hal, yaitu:

Batuan merupakan material kerak bumi yang terdiri atas mineral penyusun bertekstur, berstruktur.
Sifat-sifat yang menyolok :
padu ( cemented )
qu ( = unconfined compressive strength ) > 200 psi 14 kg/cm2
(psi= pound/square inch atau lb/in2 )
bila terdiri dari satu butir, ukuran butirnya boulder ( 256 mm)
beratnya > 40 kg )

Tanah merupakan mineral penyusun yang atau tanpa material organik sisa tumbuhan dan fauna
yang terdekomposisi (lapuk), berstruktur dan bertekstur. Sifat-sifat yang menyolok :
urai, lepas, lunak ( loose, uncemented, soft )
qu < 200 psi
ukuran butirnya < 256 mm (catatan: lihat Klasifikasi Tanah)
beratnya < 40 kg

Tanah Residual
-Tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor penentu tanah seperti: Batuan induk, iklim, topografi,
organisme, dan waktu.
-Tanah dapat dibedakan dalam dua kelompok besar, yang berasal dari pelapukan (fisika dan kimia)
dan yang berasal dari bahan organik.
-Tanah lapukan secara genesis dikenal antara lain tanah jenis residual dan transported.

Jika hasil pelapukan masih berada di tempat asalnya (insitu), disebut residual soil. Residual soil
umumnya terkena dekomposisi (pelapukan akibat proses kimia, biologi dan fisika) dengan tanpa
melalui transportasi atau tetap berada sekitar batuan dasar. Batuan dasar berubah (melapuk)
menjadi tanah mulai dari segar hingga terlapukkan. Residual soil pada daerah iklim sedang dan
agak-kering biasanya kaku dan stabil serta tidak meluas kearah kedalaman. Pada daerah iklim
lembab dan hangat dengan penyinaran matahari yang lama, tanah tersebut kemungkinan meluas
dan dalam hingga beberapa ratus meter. Tanah residual pada kondisi tertentu dapat menimbulkan
masalah pondasi dan jenis konstruksi lainnya seperti konstruksi jalan.
Pengertian Tanah dan batuan lainnya :

Tanah adalah dari akumulasi yang kehilangan material akibat pelapukan yang mentupi land-surface
bumi sampai kedalaman rangkain dari fraksi hingga inci bahakan samapi berkaki-kaki ketinggian. Urutan
tanah hingga ke bedrock adalah soil, subsoil, dan bedrock. Berdasarkan horizon A,B,C,dan D yaitu :
Horizon A : urutan teratas yang mengandung zat organik, kuat terhadap pelapukan, dan mengandung
zat kimia Ca, Fe, Mg, dan lain-lain.
Horizon B : urutan kedua yang merupakan daerah dengan deposisi besar yang mengandung fine clay dan
silt particles.
Tanah pada mulanya adalah hasil percampuran bervariasi dari properties zat organik (humus) dan zat
non-organik (pelapukan batuan dari mineral-mineral batuan). Tanah dipengaruhi pelapukan dan
vegetasi yang umumnya akibat iklim. Zona tanah yaitu :
Zonal : dikontrol iklim yang memiliki curak hujan tinggi yang equilibrium dengan regime weathering,
adanya yang mudah lapuk dan tahan lapuk. Umumnya yang tahan terhadap pelapukan adalah yang
mengandung CaCO
3
atau dengan curah hujan rendah
.

Intrazonal : jumlah zat yang tidak biasa terdiri dari air, larutan garam, dan oksida besi.
Azonal : tanah yang belum matang.
Menurut civil engineering tanah adalah unconsolidated, sesuatu yang ringan, dan material yang dapat
dibentuk.

Batuan adalah sesuatu yang mengadung zat mineral, consolidated, dan tak ter-consolidated yang bagian
dari kerak bumi. Jika terdiri dari satu spesie mineral disebut monomineralic dan jika lebih satu spesies
mineral disebut aggregate of mineral spesies. Menurut civil engineer adalah keras, solidated, load-
bearing, dan untuk diledakan
http://azizfrrahman101.blogspot.com/2011/03/pengertian-tanah-dan-batuan.html