Anda di halaman 1dari 30

1

BAB I
LAPORAN KASUS
A. Identitas
Nama : Ny. Wasiani
Umur : 36 tahun
Alamat : Konsel
Pendidikan : SD
Stat. Perkawinan : menikah
Tanggal masuk : 21Mei 2014
No. Register : 39 51 82
B. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Benjolan di perut
2. Anamnesis Terpimpin
Pasien baru masuk rujukan poli kandungan dengan
diagnosa mioma uteri. Keluhan bejolan di perut bagian bawah,
tidak nyeri, pasien tidak tahu pasti kapan benjolan tersebut muncul
di perutnya, pasien baru menyadari ada benjolan setelah perutnya
semakin membesar yaitu sejak 3 bulan yang lalu. Pasien juga
mengeluhkan keluar darah haid yang banyak sampai 8 kali ganti
pembalut perhari disertai nyeri haid hebat yang dialami 1 tahun
yang lalu, lama haid 9 hari, teratur. selain gejala tersebut pasien
juga mengeluh sulit buang air kecil (+), mual(+), muntah(+),
pusing (+), nafsu makan menurun (+).BAB dalam batas normal.
Riw. Pos opname 1 bulan yang lalu.
2

3. Riwayat penyakit terdahulu (-)
4. Riwayat penyakit keluarga(-)
5. Riwayat KB
Pasien menggunakan kontrasepsi implan sejak tahun 1998-
2004. Tubektomi pada tahun 2012
6. Riwayat Obstetrik
Menarche pada usia 14 tahun, teratur, lama haid 5 hari,
siklus haid 28-30 hari
Menikah pada usia 14 tahun
Riwayat kehamilan
Anak pertama tahun 1992, cukup bulan, ditolong
oleh dukun, lahir spontan
Anak kedua lahir tahun 1997, cukup bulan, ditolong
oleh dukun, lahir spontan.
Anak ketiga lahir tahun 2002, cukup bulan, ditolong
oleh dukun
Anak keempat lahir tahun 2008, cukup bulan,
ditolong oleh dukun
C. Status generalis
1. Keadaan Umum : lemah, composmentis
2. Tanda Vital
TD :100/60mmhg
Nadi :98x/m
Pernapasan :21x/m
Suhu :36,7
o
c
3. Status Interna
Kepala : konjungtiva anemis (+/+) sklera ikterik
(-/-)
Jantung :bunyi jantung I/II murni reguler
Paru-paru :BP:Vesikular
BT :RH-/-, WH-/-
3

Abdomen : TFU 3JBP, nyeri tekan (-), massa tumor di
kuadran umbilikalis(+) konsistensi padat,
batas tegas, permukaan rata, tidak dapat
digerakkan dari dasar.
D. Status ginekologi
Pemeriksaan luar
Inspeksi :
Abdomen : ikut gerak nafas, distensi (-), bekas luka
operasi (+)
Genitalia eksterna :
Vulva : fluksus (-),massa (-), ulkus(-)
Palpasi : teraba massa di bagian regio umbilikalis(+)
konsistensi padat, batas tegas, permukaan rata,
tidak dapat digerakkan dari dasar.
PDV :
v/v :tak
portio :nyeri goyang (-)
OUE :tertutup
Uterus :lebih besar dari normal
Adnexa :kiri dan kanan sulit dinilai
Cavum douglasi : sulit dinilai
Pelepasan: darah (-) lendir (-)









4

E. Pemeriksaan penunjang


5


F. Diagnosis Kerja
Mioma uteri
Anemia mikrositik hipokrom
G. Rencana Tindakan
Observasi keadaan umum dan tanda vital
Transfusi PRC
Rencana elektif Laparatomi : histerektomi total

H. Follow Up
22 mei 2014
mual(+), muntah(-), pusing (+), nafsu makan menurun (+). BAB
dalam batas normal.
Ku: lemah, composmentis
TD:100/70mmHg
N:98x/m
P:20x/m
S:36,5
Konjungtiva anemis (+/+)
6

D/mioma uteri + anemia mikrositik hipokrom
T/ IVFD NacL 0,9%
Transfusi PRC
Cek ulang Hb
23mei 2014
mual(-), muntah(-), pusing (-), nafsu makan menurun (+). BAB dalam
batas normal
Ku:baik,composmentis
TD:100/70mmhg
N:98X/m
P:20x/m
Konjungtiva anemis (-/-)
Hasil Lab.

D/ mioma uteri
T/ Observasi Tanda Vital dan Keadaan Umum Pasien
- Pasien dianjurkan puasa
- Rencana Elektif laparatomi : Histerektomi Total

24 mei 2014
Ku : baik, Composmentis
7

TD :100/70 mmhg
N : 88x/m
S :36,7
P :20x/m
D/ mioma uteri
T/ IVFD RL
- Pasang kateter
- Informed Consent
- Elektif laparatomi : histerektomi total
24/5/2014
Pukul 13.00
Operasi selesai
Nyeri luka operasi (+), BAK (+), BAB (-)
Ku : baik
TD :100/60 mmhg
N : 89x/m
S :36,8
P :21x/m
T/ Instruksi Post Operasi
- Awasi tanda-tanda vital
- IVFD RL 28 TPM
- Inj. Cefotaxim 1gr/12 jam/iv
- Drips. Metronidazole 500mg/8 jm
- Inj. Ranitidine 1amp./12 jam/iv
- Inj. Tramadol 1 amp. /8 jam

25/5/2014
POH I
Nyeri luka operasi (+) BAK (+), BAB (-)
Ku : baik, composmentis
TD :100/70 mmhg
8

N : 86x/m
S :36,6
P :18x/m.
T/ Pasien boleh makan dan minum, mobilisasi bertahap
- Cefadroxil 500mg 2x1
- Metronidazole 500mg 3x1
- Asam Mefenamat 500mg 3x1
- SF 1X1
- Aff Kateter, Aff Infus
26/5/2014
POH 2
Nyeri luka operasi (-) BAK (+), BAB (+)
Ku : baik, composmentis
TD :100/70 mmhg
N : 86x/m
S :36,6
P :18x/m.
T/ Cefadroxil 500mg 2x1
- Metronidazole 500mg 3x1
- Asam Mefenamat 500mg 3x1
- SF 1X1
27/5/2014
POH 3
Nyeri luka operasi (-) BAK (+), BAB (+)
9

Ku : baik, composmentis
TD :100/70 mmhg
N : 84x/m
S :36,6
P :18x/m.
T/ Cefadroxil 500mg 2x1
- Metronidazole 500mg 3x1
- Asam Mefenamat 500mg 3x1
- SF 1X1
- Pasien boleh pulang











10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Mioma uteri adalah neoplasma jinak yang berasal dari lapisan otot uterus
dan jaringan ikat yang menumpangnya, sehingga dalam kepustakaan juga dikenal
istilah fibromioma, leiomioma, ataupun fibroid.
Mioma uteri adalah tumor jinak miometrium uterus dengan konsistensi
padat kenyal, batas jelas, mempunyai pseudo kapsul, tidak nyeri, bisa soliter atau
multipel. Tumor ini juga dikenal dengan istilah fibromioma uteri, leiomioma uteri,
atau uterine fibroid. Mioma uteri bukanlah suatu keganasan dan tidak juga
berhubungan dengan keganasan.
1,3,7,9,10

Faktor Risiko
1) Usia penderita
Wanita kebanyakannya didiagnosa dengan mioma uteri dalam usia 40-an
tetapi masih tidak diketahui pasti apakah mioma uteri yang terjadi adalah
disebabkan peningkatan formasi atau peningkatan pembesaran secara sekunder
terhadap perubahan hormon pada waktu usia begini. Faktor lain yang bisa
mengganggu insidensi sebenar kasus mioma uteri adalah kerana dokter
merekomendasi dan pasien menerima rekomendasi tersebut untuk menjalani
histerektomi hanya setelah mereka sudah melepasi usia melahirkan anak.
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma. Mioma belum pernah dilaporkan terjadi sebelum
menarke dan setelah menopause hanya 10% mioma yang masih bertumbuh.
2) Hormon endogen (Endogenous Hormonal)
Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari
hasil histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon
esterogen endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau
sedikit. Awal menarke (usia di bawah 10 tahun) dijumpai peningkatan resiko ( RR
11

1,24) dan menarke lewat (usia setelah 16 tahun) menurunkan resiko (RR 0,68)
untuk menderita mioma uteri.
3) Riwayat Keluarga
Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma
uteri mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan risiko untuk menderita
mioma uteri dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma
uteri. Penderita mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri
mempunyai 2 kali lipat kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myoma-related growth
factor) dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat
keluarga penderita mioma uteri.
4) Etnik
Dari studi yang dijalankan melibatkan laporan sendiri oleh pasien mengenai
mioma uteri, rekam medis, dan pemeriksaan sonografi menunjukkan golongan
etnik Afrika-Amerika mempunyai kemungkinan risiko menderita mioma uteri
setinggi 2,9 kali berbanding wanita etnik caucasia, dan risiko ini tidak mempunyai
kaitan dengan faktor risiko yang lain. Didapati juga wanita golongan Afrika-
Amerika menderita mioma uteri dalam usia yang lebih muda dan mempunyai
mioma yang banyak dan lebih besar serta menunjukkan gejala klinis. Namun
ianya masih belum diketahui jelas apakah perbedaan ini adalah karena masalah
genetik atau perbedaan pada kadar sirkulasi estrogen, metabolisme estrogen, diet,
atau peran faktor lingkungan. Pada penelitian terbaru menunjukkan yang Val/Val
genotype untuk enzim essensial kepada metabolisme estrogen, catechol-O-
methyltransferase (COMT) ditemui sebanyak 47% pada wanita Afrika-Amerika
berbanding hanya 19% pada wanita kulit putih. Wanita dengan genotype ini lebih
rentan untuk menderita mioma uteri. Ini menjelaskan mengapa prevalensi yang
tinggi untuk menderita mioma uteri dikalangan wanita Afrika-Amerika lebih
tinggi.
5) Berat Badan
Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko
menderita mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg berat
badan dan dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut
12

dilaporkan menyebabkan pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone
dan menurunkan hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan
peningkatan estrogen secara biologikal yang bisa menerangkan mengapa terjadi
peningkatan prevalensi mioma uteri dan pertumbuhannya. Beberapa penelitian
menemukan hubungan antara obesitas dan peningkatan insiden mioma uteri.
Suatu studi di Harvard yang dilakukan oleh Dr. Lynn Marshall menemukan
bahwa wanita yang mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas normal,
berkemungkinan 30,23% lebih sering menderita mioma uteri. Ros dkk, (1986)
mendapatkan resiko mioma uteri meningkat hingga 21% untuk setiap 10 Kg
kenaikan berat badan dan hal ini sejalan dengan kenaikan IMT
6) Diet
Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri
dengan pemakanan seperti daging sapi atau daging merah bisa meningkatkan
insidensi mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi ini sangat
sukar untuk diintepretasikan karena studi ini tidak menghitung nilai kalori dan
pengambilan lemak tetapi sekedar informasi saja dan juga tidak diketahui dengan
pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen berhubung dengan mioma uteri.
7) Kehamilan dan paritas
Peningkatan paritas menurunkan insidensi terjadinya mioma uteri. Mioma
uteri menunjukkan karakteristik yang sama dengan miometrium yang normal
ketika kehamilan termasuk peningkatan produksi extracellular matrix dan
peningkatan ekspresi reseptor untuk peptida dan hormon steroid. Miometrium
postpartum kembali kepada berat asal, aliran darah dan bukuran asal melalui
proses apoptosis dan diferensiasi. Proses remodeling ini berkemungkinan
bertanggungjawab dalam penurunan ukuran mioma uteri. Teori yang lain pula
mengatakan pembuluh darah di uterus kembali kepada keadaan atau bentuk asal
pada postpartum dan ini menyebabkan mioma uteri kekurangan suplai darah dan
kurangnya nutrisi untuk terus membesar. Didapati juga kehamilan ketika usia
midreproductive (25-29 tahun) memberikan perlindungan terhadap pembesaran
mioma.

13

8) Kebiasaan merokok
Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang bisa
menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada jaringan seperti: penurunan
konversi androgen kepada estrone dengan penghambatan enzim aromatase oleh
nikotin.
2,4

Epidemiologi
Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun
mempunyai sarang mioma, pada wanita yang berkulit hitam ditemukan lebih
banyak. Mioma uteri belum pernah dilaporkan terjadi sebelum menarke,
sedangkan setelah menopause hanya kira-kira 10% mioma yang masih
bertumbuh. Diperkirakan insiden mioma uteri sekitar 20 30% dari seluruh
wanita. Di Indonesia mioma uteri ditemukan pada 2,39 11,7% pada semua
penderita ginekologi yang dirawat. Tumor ini paling sering ditemukan pada
wanita umur 35 45 tahun (kurang lebih 25%) dan jarang pada wanita 20 tahun
dan wanita post menopause. Wanita yang sering melahirkan akan lebih sedikit
kemungkinan untuk berkembangnya mioma ini dibandingkan dengan wanita yang
tak pernah hamil atau hanya 1 kali hamil. Statistik menunjukkan 60% mioma uteri
berkembang pada wanita yang tak pernah hamil atau hanya hamil 1 kali.
Prevalensi meningkat apabila ditemukan riwayat keluarga, ras, kegemukan dan
nullipara.
2

Etiologi
Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti mioma uteri dan diduga
merupakan penyakit multifaktorial. Dipercaya bahwa mioma merupakan sebuah
tumor monoklonal yang dihasilkan dari mutasi somatik dari sebuah sel neoplastik
tunggal. Sel-sel tumor mempunyai abnormalitas kromosom lengan 12q13-15.


14

Ada beberapa faktor yang diduga kuat sebagai faktor predisposisi
terjadinya mioma uteri, yaitu :
1. Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun,
ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor
ini paling sering memberikan gejala klinis antara 35-45 tahun.
2. Paritas : lebih sering terjadi pada nullipara atau pada wanita yang
relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertil
menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya mioma uteri yang
menyebabkan infertil, atau apakah kedua keadaan ini saling
mempengaruhi.
3. Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita
berkulit hitam, angka kejadiaan mioma uteri tinggi. Terlepas dari
faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat
keluarga ada yang menderita mioma.
4. Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen
dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah
menarke, berkembang setelah kehamilan dan mengalami regresi
setelah menopause.
4, 5,6

Patofisiologi
Mioma merupakan monoclonal dengan tiap tumor merupakan hasil dari
penggandaan satu sel otot. Etiologi yang diajukan termasuk di dalamnya
perkembangan dari sel otot uterus atau arteri pada uterus, dari transformasi
metaplastik sel jaringan ikat, dan dari sel-sel embrionik sisa yang persisten.
Penelitian terbaru telah mengidentifikasi sejumlah kecil gen yang mengalami
mutasi pada jaringan ikat tapi tidak pada sel miometrial normal. Penelitian
menunjukkan bahwa pada 40% penderita ditemukan aberasi kromosom yaitu
t(12;14)(q15;q24).
15

Meyer dan De Snoo mengajukan teori Cell Nest atau teori genioblast.
Percobaan Lipschultz yang memberikan estrogen kepada kelinci percobaan
ternyata menimbulkan tumor fibromatosa baik pada permukaan maupun pada
tempat lain dalam abdomen. Efek fibromatosa ini dapat dicegah dengan
pemberian preparat progesteron atau testoster. Pemberian agonis GnRH dalam
waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma.
Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon
mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Terdapat
bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal
dan insulin-like growth factor 1 yang distimulasi oleh estrogen. Anderson dkk,
telah mendemonstrasikan munculnya gen yang distimulasi oleh estrogen lebih
banyak pada mioma daripada miometrium normal dan mungkin penting pada
perkembangan mioma. Namun bukti-bukti masih kurang meyakinkan karena
tumor ini tidak mengalami regresi yang bermakna setelah menopause
sebagaimana yang disangka. Lebih daripada itu tumor ini kadang-kadang
berkembang setelah menopause bahkan setelah ooforektomi bilateral pada usia
dini.
1,5,8


Klasifikasi mioma uteri
Klasifikasi mioma dapat berdasarkan lokasi dan lapisan uterus yang
terkena.
1. Lokasi
Cerivical (2,6%), umumnya tumbuh ke arah vagina menyebabkan
infeksi.
Isthmica (7,2%), lebih sering menyebabkan nyeri dan gangguan traktus
urinarius.
Corporal (91%), merupakan lokasi paling lazim, dan seringkali tanpa
gejala.

16

2. Lapisan Uterus
Mioma uteri pada daerah korpus, sesuai dengan lokasi dibagi
menjadi 3 jenis, yaitu :
- Mioma Uteri Submukosa.`Mioma submukosa dapat tumbuh
bertangkai menjadi polip, kemudian dilahirkan melalui saluran
serviks disebut mioma geburt. Hal ini dapaat menyebabkan
dismenore, namun ketika telah dikeluarkan dari serviks dan
menjadi nekrotik, akan memberikan gejala pelepasan darah yang
tidak regular dan dapat disalahartikan dengan kanker serviks. Dari
sudut klinik mioma uteri submukosa mempunyai arti yang lebih
penting dibandingkan dengan jenis yang lain. Pada mioma uteri
subserosa ataupun intramural walaupun ditemukan cukup besar
tetapi sering kali memberikan keluhan yang tidak berarti.
Sebaliknya pada jenis submukosa walaupun hanya kecil selalu
memberikan keluhan perdarahan melalui vagina. Perdarahan sulit
untuk dihentikan sehingga sebagai terapinya dilakukan
histerektomi.
- Mioma Uteri Subserosa. Lokasi tumor di subserosa korpus uteri
dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat pula sebagai satu massa
yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Pertumbuhan ke
arah lateral dapat berada di dalam ligamentum latum dan disebut
sebagai mioma intraligamenter. Mioma yang cukup besar akan
mengisi rongga peritoneal sebagai suatu massa. Perlengketan
dengan usus, omentum atau mesenterium di sekitarnya
menyebabkan sistem peredaran darah diambil alih dari tangkai ke
omentum. Akibatnya tangkai makin mengecil dan terputus,
sehingga mioma akan terlepas dari uterus sebagai massa tumor
yang bebas dalam rongga peritoneum. Mioma jenis ini dikenal
sebagai jenis parasitik.
17

- Mioma Uteri Intramural. Disebut juga sebagai mioma
intraepitelial. Biasanya multipel apabila masih kecil tidak merubah
bentuk uterus, tetapi bila besar akan menyebabkan uterus
berbenjol-benjol, uterus bertambah besar dan berubah bentuknya.
Mioma sering tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali
rasa tidak enak karena adanya massa tumor di daerah perut
sebelah bawah. Kadang kala tumor tumbuh sebagai mioma
subserosa dan kadang-kadang sebagai mioma submukosa. Di
dalam otot rahim dapat besar, padat (jaringan ikat dominan), lunak
(jaringan otot rahim dominan). Secara makroskopis terlihat uterus
berbenjol-benjol dengan permukaan halus. Pada potongan, tampak
tumor berwarna putih dengan struktur mirip potongan daging ikan.
Tumor berbatas tegas dan berbeda dengan miometrium yang
sehat, sehingga tumor mudah dilepaskan. Konsistensi kenyal, bila
terjadi degenerasi kistik maka konsistensi menjadi lunak. Bila
terjadi kalsifikasi maka konsistensi menjadi keras. Secara
histologik tumor ditandai oleh gambaran kelompok otot polos
yang membentuk pusaran, meniru gambaran kelompok sel otot
polos miometrium. Fokus fibrosis, kalsifikasi, nekrosis iskemik
dari sel yang mati. Setelah menopause, sel-sel otot polos
cenderung mengalami atrofi, ada kalanya diganti oleh jaringan
ikat. Pada mioma uteri dapat terjadi perubahan sekunder yang
sebagian besar bersifat degenerasi. Hal ini oleh karena
berkurangnya pemberian darah pada sarang mioma. Perubahan ini
terjadi secara sekunder dari atropi postmenopausal, infeksi,
perubahan dalam sirkulasi atau transformasi maligna.
1,5,6,7

18


Gambar 1. Jenis-jenis mioma uteri.
Gejala klinis
Hampir separuh kasus mioma uteri ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan ginekologik karena tumor ini tidak mengganggu. Gejala yang timbul
sangat tergantung pada tempat sarang mioma ini berada serviks, intramural,
submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang terjadi.
Gejala tersebut dapat digolongkan sebagai berikut :
a. Perdarahan abnormal. Gangguan perdarahan yang terjadi umumnya adalah
hipermenore, menoragia dan dapat juga terjadi metroragia. Beberapa
faktor yang menjadi penyebab perdarahan ini, antara lain adalah :
Pengaruh ovarium sehingga terjadilah hyperplasia endometrium
sampai adeno karsinoma endometrium.
Permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa.
Atrofi endometrium di atas mioma submukosum.
Miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena adanya
sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat
menjepit pembuluh darah yang melaluinya dengan baik.
19

b. Rasa nyeri. Rasa nyeri bukanlah gejala yang khas tetapi dapat timbul
karena gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan. Pada pengeluaran mioma submukosum
yang akan dilahirkan, pula pertumbuhannya yang menyempitkan kanalis
servikalis dapat menyebabkan juga dismenore.
c. Gejala dan tanda penekanan. Gangguan ini tergantung dari besar dan
tempat mioma uteri. Penekanan pada kandung kemih akan menyebabkan
poliuri, pada uretra dapat menyebabkan retensio urine, pada ureter dapat
menyebabkan hidroureter dan hidronefrosis, pada rectum dapat
menyebabkan obstipasi dan tenesmia, pada pembuluh darah dan pembuluh
limfe dipanggul dapat menyebabkan edema tungkai dan nyeri panggul.
d. Infertilitas dan abortus. Infertilitas dapat terjadi apabila sarang mioma
menutup atau menekan pars intertisialis tuba, sedangkan mioma
submukosum juga memudahkan terjadinya abortus oleh karena distorsi
rongga uterus. Rubin (1958) menyatakan bahwa apabila penyebab lain
infertilitas sudah disingkirkan, dan mioma merupakan penyebab infertilitas
tersebut, maka merupakan suatu indikasi untuk dilakukan
miomektomi.
1,3,6,7,9,10

Diagnosis
A. Anamnesis
Dalam anamnesis dicari keluhan utama serta gejala klinis mioma lainnya,
faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi.
B. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Mioma uteri dapat
diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk yang
tidak teratur, gerakan bebas, tidak sakit.
C. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium
Akibat yang terjadi pada mioma uteri adalah anemia akibat
perdarahan uterus yang berlebihan dan kekurangan zat besi.
20

Pemeriksaaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah Darah
Lengkap (DL) terutama untuk mencari kadar Hb. Pemeriksaaan
lab lain disesuaikan dengan keluhan pasien.
b. Imaging
I. Pemeriksaaan dengan USG akan didapat massa padat dan
homogen pada uterus. Mioma uteri berukuran besar terlihat
sebagai massa pada abdomen bawah dan pelvis dan kadang
terlihat tumor dengan kalsifikasi.
II. Histerosalfingografi digunakan untuk mendeteksi mioma
uteri yang tumbuh ke arah kavum uteri pada pasien infertil.
III. MRI lebih akurat untuk menentukan lokasi, ukuran, jumlah
mioma uteri, namun biaya pemeriksaan lebih mahal.
1,5,6,11

Penatalaksanaan
Penanganan mioma menurut usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor. Tidak
semua mioma uteri memerlukan terapi pembedahan. Kurang lebih 55% dari
semua kasus mioma uteri tidak membutuhkan suatu pengobatan apapun, apalagi
jika ukuran mioma uteri masih kecil dan tidak menimbulkan keluhan. Penanganan
mioma uteri tergantung pada usia, paritas, lokasi dan ukuran tumor, dan terbagi
atas :
A. Penanganan konservatif
Cara penanganan konservatif dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6
bulan.
2. Monitor keadaan Hb
3. Pemberian zat besi
4. Penggunaan agonis GnRH, agonis GnRH bekerja dengan
menurunkan regulasi gonadotropin yang dihasilkan oleh hipofisis
anterior. Akibatnya, fungsi ovarium menghilang dan diciptakan
keadaan menopause yang reversibel. Sebanyak 70% mioma
21

mengalami reduksi dari ukuran uterus telah dilaporkan terjadi
dengan cara ini, menyatakan kemungkinan manfaatnya pada pasien
perimenopausal dengan menahan atau mengembalikan
pertumbuhan mioma sampai menopause yang sesungguhnya
mengambil alih. Tidak terdapat resiko penggunaan agonis GnRH
jangka panjang dan kemungkinan rekurensi mioma setelah terapi
dihentikan tetapi hal ini akan segera didapatkan dari pemeriksaan
klinis yang dilakukan Penanganan operatif
Indikasi operasi atau pembedahan pada penderita mioma uteri adalah :
- Perdarahan pervaginam abnormal yang memberat
- Ukuran tumor yang besar
- Ada kecurigaan perubahan ke arah keganasan terutama jika
pertambahan ukuran
- tumor setelah menopause
- Retensio urin
- Tumor yang menghalangi proses persalinan
- Adanya torsi
Jenis operasi yang dilakukan pada mioma uteri dapat berupa :
A. Miomektomi
Miomektomi adalah pengambilan sarang mioma tanpa pengangkatan
rahim/uterus. Miomektomi lebih sering di lakukan pada penderita mioma
uteri secara umum. Suatu studi mendukung miomektomi dapat dilakukan
pada wanita yang masih ingin be reproduksi tetapi belum ada analisa pasti
tentang teori ini tetapi penatalaksanaan ini paling disarankan kepada
wanita yang belum memiliki keturunan setelah penyebab lain
disingkirkan.
B. Histerektomi
Histerektomi adalah tindakan operatif yang dilakukan untuk mengangkat
rahim, baik sebahagian (subtotal) tanpa serviks uteri ataupun seluruhnya
22

(total) berikut serviks uteri. Histerektomi dapat dilakukan dengan 3 cara,
yaitu dengan pendekatan perabdominal (laparotomi), pervaginam, dan
pada beberapa kasus secara laparoskopi. Tindakan histerektomi pada
mioma uteri sebesar 30% dari seluruh kasus. Tindakan histerektomi pada
pasien dengan mioma uteri merupakan indikasi bila didapatkan keluhan
menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi pada traktus urinarius, dan
ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu. Histerektomi
perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu total abdominal
histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH).
Masing-masing prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. STAH dilakukan untuk menghindari risiko operasi yang lebih
besar, seperti perdarahan yang banyak, trauma operasi pada ureter,
kandung kemih dan rektum. Namun dengan melakukan STAH akan
menyisakan serviks, dimana kemungkinan timbulnya karsinoma serviks
dapat terjadi. Dengan menyisakan serviks, menurut penelitian didapatkan
data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah dibandingkan dengan
yang menjalani TAH sehingga akan tetap mempertahankan fungsi seksual.
Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat menjadi
sumber timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana
keadaan ini tidak terjadi pada pasien yang menjalani STAH.
Tindakan histerektomi juga dapat dilakukan melalui pendekatan
vagina, dimana tindakan operasi tidak melalui insisi pada abdomen.
Histerektomi pervaginam jarang dilakukan karena uterus harus lebih kecil
dari telor angsa dan tidak ada perlekatan dengan sekitarnya. Secara umum,
histerektomi vaginal hampir seluruhnya merupakan prosedur operasi
ekstraperitoneal, dimana peritoneum yang dibuka sangat minimal sehingga
trauma yang mungkin timbul pada usus dapat diminimalisasi. Selain itu,
kemungkinan terjadinya perlengketan paska operasi juga lebih minimal.
Masa penyembuhan pada pasien yang menjalani histerektomi vaginal lebih
cepat dibandingkan dengan yang menjalani histerektomi abdominal.
23

Kriteria menurut American College of Obstetricians Gynecologists
(ACOG) untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
- Terdapatnya 1 sampai 3 mioma asimptomatik atau yang dapat teraba
dari luar dan dikeluhkan oleh pasien.
- Perdarahan uterus berlebihan, meliputi perdarahan yang banyak dan
bergumpal gumpal atau berulang-ulang selama lebih dari 8 hari dan
anemia akibat kehilangan darah akut atau kronis.
- Rasa tidak nyaman di pelvis akibat mioma uteri meliputi nyeri hebat
dan akut, rasa tertekan punggung bawah atau perut bagian bawah
yang kronis dan penekanan pada vesika urinaria mengakibatkan
frekuensi miksi yang sering.
7,1

Komplikasi
Perubahan sekunder pada mioma uteri yang terjadi sebagian besar bersifat
degenerasi. Hal ini oleh karena berkurangnya pemberian darah pada sarang
mioma. Perubahan sekunder tersebut antara lain :
1. Atrofi : sesudah menopause ataupun sesudah kehamilan mioma
uteri menjadi kecil.
2. Degenerasi hialin : perubahan ini sering terjadi pada penderita
berusia lanjut. Tumor kehilangan struktur aslinya menjadi
homogen. Dapat meliputi sebagian besar atau hanya sebagian kecil
dari padanya seolah-olah memisahkan satu kelompok serabut otot
dari kelompok lainnya.
3. Degenerasi kistik : dapat meliputi daerah kecil maupun luas,
dimana sebagian dari mioma menjadi cair, sehingga terbentuk
ruangan-ruangan yang tidak teratur berisi agar-agar, dapat juga
terjadi pembengkakan yang luas dan bendungan limfe sehingga
menyerupai limfangioma. Dengan konsistensi yang lunak ini tumor
sukar dibedakan dari kista ovarium atau suatu kehamilan.
24

4. Degenerasi membatu (calcereus degeneration) : terutama terjadi
pada wanita berusia lanjut oleh karena adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan garam kapur pada sarang
mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan
pada foto rontgen.
5. Degenerasi merah (carneus degeneration) : perubahan ini terjadi
pada kehamilan dan nifas. Patogenesis : diperkirakan karena suatu
nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada pembelahan
dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah berwarna merah
disebabkan pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah
tampak khas apabila terjadi pada kehamilan muda disertai emesis,
haus, sedikit demam, kesakitan, tumor pada uterus membesar dan
nyeri pada perabaan. Penampilan klinik ini seperti pada putaran
tangkai tumor ovarium atau mioma bertangkai.
6. Degenerasi lemak : jarang terjadi, merupakan kelanjutan
degenerasi hialin.
Komplikasi yang terjadi pada mioma uteri :
1. Degenerasi ganas.
Mioma uteri yang menjadi leiomiosarkoma ditemukan hanya 0,32-
0,6% dari seluruh mioma; serta merupakan 50-75% dari semua sarkoma
uterus. Keganasan umumnya baru ditemukan pada pemeriksaan histologi
uterus yang telah diangkat. Kecurigaan akan keganasan uterus apabila
mioma uteri cepat membesar dan apabila terjadi pembesaran sarang
mioma dalam menopause.
2. Torsi (putaran tangkai).
Sarang mioma yang bertangkai dapat mengalami torsi, timbul
gangguan sirkulasi akut sehingga mengalami nekrosis. Dengan demikian
terjadilah sindrom abdomen akut. Jika torsi terjadi perlahan-lahan,
gangguan akut tidak terjadi.
25

3. Nekrosis dan infeksi.
Sarang mioma dapat mengalami nekrosis dan infeksi yang
diperkirakan karena gangguan sirkulasi darah padanya.
1,7


















26

BAB III
ANALISIS KASUS
Diagnosis mioma uteri tidak selalu mudah ditegakkan meskipun kita
ketahui apabila mioma uteri dengan ukuran yang cukup besar dapat dengan
mudah ditegakkan. Beberapa diagnosis lain dapat mengaburkan diagnosis mioma
uteri. Pada kasus ini mioma uteri ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisis, pemeriksaan penunjang.
Pasien ini adalah seorang wanita usia 36 tahun. Merupakan salah satu
faktor predisposisi dimana tumor ini paling sering memberikan gejala klinis antara
umur 35-45 tahun. Diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan
pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang
setelah kehamilan dan mengalami regresi setelah menopause.
Gejala yang timbul sangat tergantung pada tempat sarang mioma (serviks,
intramural, submukus, subserus), besarnya tumor, perubahan dan komplikasi yang
terjadi. Gejala yang ditimbulkan dapat digolongkan menjadi empat yaitu
perdarahan abnormal, rasa nyeri, gejala dan tanda penekanan, serta infertilitas dan
abortus. Pada kasus ini, beberapa dari gejala tersebut. Didapatkan pada Ny.W.
Perdarahan abnormal berupa hipermenorhea dapat disebabkan oleh beberapa
faktor antara lain pengaruh ovarium sehingga terjadilah hiperplasia endometrium,
permukaan endometrium yang lebih luas daripada biasa, atrofi endometrium
diatas mioma submukosum, miometrium tidak dapat berkontraksi optimal karena
adanya sarang mioma diantara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit
pembuluh di antara serabut miometrium, sehingga tidak dapat menjepit pembuluh
darah yang melaluinya dengan baik. Rasa nyeri yang dikeluhkan pasien dapat
disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah pada sarang mioma, yang disertai
nekrosis setempat dan peradangan. Gejala sulit BAK karena adanya penekanan
oleh mioma uteri pada uretra.
Pemeriksaan status generalis menunjukkan keadaan umum serta tanda vital
pasien dalam batas normal sehingga menunjukkan gangguan perdarahan serta
27

nyeri sudah berlangsung lama dan tubuh telah melakukan penyesuaian diri. Pada
pemeriksaan fisik, ditemukan konjunctiva tampak anemis. Anemia merupakan
akibat paling sering dari mioma. Hal ini disebabkan perdarahan uterus yang
banyak dan habisnya cadangan zat besi. Kadang-kadang mioma menghasilkan
eritropoeitin yang pada beberapa kasus menyebabkan polisitemia. Pada
pemeriksaan abdomen, palpasi daerah suprapubik kesan uterus membesar, padat,
serta permukaannya rata. Pada mioma uteri, perlunakan tergantung pada derajat
degenerasi dan kerusakan vaskuler. Uterus sering dapat digerakan, kecuali apabila
keadaan patologik pada adneksa Pada pemeriksaan pelvis, serviks dalam batas
normal. Namun, pada keadaan tertentu, mioma submukosa yang bertangkai dapat
mengawali dilatasi serviks dan terlihat pada osteum servikalis. Hasil VT tidak
ditemukan adanya kelainan ataupun nyeri pada dinding vagina, porsio, adneksa
dan cavum Dauglasi sulit dinilai. Namun perabaan pada parametrium didapatkan
massa padat dengan permukaan licin, terfiksir tapi tidak nyeri. Uterus konsistensi
keras dengan ukuran sesuai umur kehamilan 15-16 minggu. Pemeriksaan
penunjang dengan USG pada pasien ini didapatkan gambaran uterus yang
membesar dengan kesan mioma uteri. Penatalaksanaan mioma uteri berdasarkan
besar kecilnya tumor, ada tidaknya keluhan, umur dan paritas penderita. Pada
pasien ini dilakukan tindakan operatif mengingat pasien memiliki keluhan
subjektif berupa perdarahan pervaginam abnormal yang berat, yang terlihat dari
hasil pemeriksaan Hb yang rendah. Pada pasien ini dilakukan tindakan
histerektomi. Tindakan histerektomi pada pasien dengan mioma uteri merupakan
indikasi bila didapatkan keluhan menorrhagia, metrorrhagia, keluhan obstruksi
pada traktus urinarius, dan ukuran uterus sebesar usia kehamilan 12-14 minggu.
Histerektomi perabdominal dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu total abdominal
histerektomi (TAH) dan subtotal abdominal histerektomi (STAH). Masing-masing
prosedur histerektomi ini memiliki kelebihan dan kekurangan. STAH dilakukan
untuk menghindari risiko operasi yang lebih besar, seperti perdarahan yang
banyak, trauma operasi pada ureter, kandung kemih dan rektum. Namun dengan
melakukan STAH akan menyisakan serviks, dimana kemungkinan timbulnya
karsinoma serviks dapat terjadi. Dengan menyisakan serviks menurut penelitian
28

didapatkan data bahwa terjadinya dyspareunia akan lebih rendah dibandingkan
dengan yang menjalani TAH sehingga akan tetap mempertahankan fungsi seksual.
Pada TAH, jaringan granulasi yang timbul pada vagina dapat menjadi sumber
timbulnya sekret vagina dan perdarahan pasca operasi dimana keadaan ini tidak
terjadi pada pasien yang menjalani STAH.

















29

DAFTAR PUSTAKA

1. Hanifa, dkk. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo d/a Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI. 2009.

2. Schwartz MS. Epidemiology of uterine leiomiomata.[cited 22 mei 2014].
Available from URL http://digilib.unsri.ac.id/jurnal/healthsciences/
mioma-uteri/mrdetail/906/. 2001.

3. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo. 2009.

4. William H. Parker, M.D. Etiology, symptomatology, and diagnosis of
uterine myomas. Los Angeles, California: Department of Obstetrics and
Gynecology, UCLA School of Medicine. 2008.

5. Edward E. Wallach, MD, and Nikos F. Vlahos, MD. Uterine Myomas: An
Overview of Development, Clinical Features, and Management.
Baltimore, Maryland: Department of Gynecology and Obstetrics,The
Johns Hopkins Medical Institutions. 2004.

6. Manuaba Ida Bagus Gde. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC. 2001.

7. Anonim.Biomolekuler mioma uteri. [cited 22 Mei 2014]. Available from:
URL http://digilib.unsri.ac.idf. 2008.

8. Manuaba Ida Bagus Gde. 2003. Penuntun Kepanitraan Klinik Obstetri dan
Ginekologi. Ed. II. Jakarta: EGC. 2003.


9. Manuaba Sri Kusuma Dwi Suryaputra, dkk. Buku Ajar Ginekologi.
Jakarta: EGC. 2009.

10. Lacey, C.G., Benign Disorders of the Uterine Corpus, Current Obstetric
and Gynecologic Diagnosa and Treatment. California: Aplleten & Lange,
Norwalk Connectient. 2007.

30